Yu Darmi
VivaWin
Agen bola
Judi Bola Online
agen bola
agen bola  agen bola
Judi Bola Online
agen bola  agen poker dan domino
agen poker dan domino  agen bola
Judi Casino, Agen Bola Sbobet Ibcbet Agen Bola
Agen Bola
agen bola terpercaya
Agen Bola Online  Agen Bola Online
Agen Bola Online  Agen Bola Online
Agen Bola Online  Agen Bola Online
Agen Bola Online  Poker Online Dengan Jackpot Terbesar dan Pertama di Indonesia
Agen Bola Online  Agen Bola Online
Agen Bola Online  ding dong 36d live
Agen Bola  Agen Bola
Agen Bola  Agen Bola
Agen Bola  Agen Bola
Agen Bola

Baca Juga

  1. Yu Darmi
    By thealvino in forum Cerita Panas
    Balasan: 5
    Post Terakhir: 3 June 2013, 06:52 AM
  2. TBA Ma Yu Jie
    By iberwang in forum Gambar Asia
    Balasan: 18
    Post Terakhir: 20 October 2012, 08:16 PM
  3. * Yu Ayu *
    By kentotman in forum Gambar Cewek Indonesia IGO
    Balasan: 33
    Post Terakhir: 5 August 2012, 08:39 PM
  4. Mbak yu
    By ngocokers in forum Gambar Cewek Indonesia IGO
    Balasan: 38
    Post Terakhir: 10 February 2012, 09:29 PM
  5. Yu Ayanami
    By penkolandago in forum Gambar Asia
    Balasan: 16
    Post Terakhir: 20 October 2010, 03:47 AM
Results 1 to 13 of 13

Thread: Yu Darmi

Short link : (test)
Share di Facebook
  1. #1
    Suhu Semprot
    Daftar
    Nov 2011
    Posts
    3.011
    Thanks
    33
    Thanked 1.202 Times in 235 Posts
     THREAD STARTER 

    Yu Darmi

    Agen Bola Online
    Kami kembali berpelukan di atas tempat tidur. Suasana semakin menghangat karena yu Darmi menindih tubuhku yang telentang. Tangannya mengelus dadaku yang bidang dan terus bergerak turun ke selangkanganku.
    Kurengkuh tubuh yu Darmi hingga sejajar dengan posisiku dan kukulum bibirnya dengan mesra. Lidahku disambut dorongan lidahnya saat kususupkan ke dalam mulutnya.
    ”Ugh...terus yuuuu...ough....” aku melenguh nikmat saat tangan yu Darmi yang bergerak di selangkanganku mulai meremas dan mengurut batang kemaluanku dengan lembutnya.
    Bibir yu Darmi dengan ganasnya mulai menyedot lidahku. Tanganku yang bebas segera bergerak ke arah bagian tuuh yu Darmi yang selalu menjadi obsesiku, yaitu pantatnya yang menggemaskan.
    Dengan gemas aku mulai meremas bongkahan pantatnya yang menggiurkan hingga dada yu Darmi yang gempal semakin ketat menekan dadaku. Kemudian dengan perlahan kudorong tubuh yu Darmi hingga akhirnya posisinya sekarang berbaring terlentang dan aku gantian menindihnya.
    Kubaringkan badannya ke ranjang, yu Darmi di bawah dan aku di atas menindihnya. Lalu kuciumi, kusedot-sedot dan kugigit-gigit kecil puting susunya, tanganku meremas dadanya yang lain, jariku secara refleks mulai memutar-mutar dan mencubit-cubit kecil puting susunya.
    "aaahh..", desahnya.. Kubuka mulutku selebar-lebarnya dan dengan sedikit memaksa kutelan daging buah dadanya sebanyak mungkin di dalam mulutku. Aku ingin "menelan" semua dadanya. Kuremas, Kugigit, kujilat dan kusedot, semua itu kulakukan berulang-ulang kali sampai aku puas.
    "ssshhh..aahhh..aah..aah..", desahannya semakin membuat nafsuku menggebu-gebu.
    Setelah puas dengan dadanya, aku mulai turun menciumi perutnya yang masih rata karena belum pernah melahirkkan. Lidahku mulai menjilat-jilat pusarnya, kedua tanganku tetap memegangi dadanya, tangan yu Darmi secara otomatis mulai memegang kepalaku, mengikuti kemana kepalaku bergerak.
    Akhirnya aku sampai di depan memeknya, yang ternyata sudah basah, aku mencium bau harum dan lembut dari memek dan di sekitar pangkal pahanya.
    Aku sudah tidak tahan lagi, langsung saja kujilat dan kugigit-gigit kecil itilnya, aku memainkan lidahku dengan cepat di duburnya, naik-turun dari pantat ke itilnya, berulang-ulang sampai daerah itu basah oleh ludahku.
    "aaaaaaaaahhhh......aduh masss....tempekku diapakno.....", suara desahannya semakin kerap terdengar.
    Aku tak menggubris desisan-desisan dari bibir yu Darmi yang rendah. dan semakin kuat. Lidahku terus bergerak liar di selangkangannya.
    Kujilati memek nya seperti sedang menjilat es krim, es krim yang tidak akan pernah habis. Setelah itu aku berlutut di ranjang dan mengangkat pantatnya tinggi-tinggi, sehingga kedua lututnya berada di dekat dengan kepalanya, selama dalam posisi kepala dan kaki dibawah tapi pantatnya terangkat seperti itu, kedua tangannya hanya bisa memegang pantatnya, menarik kekanan dan kekiri, sehingga lubang vagina dan lubang pantatnya dapat kulihat dengan jelas.
    Tangan kiriku memegang perutnya, dengan badan kutahan punggungnya supaya posisinya tidak berubah. Dan dengan jari tengah serta telunjuk tangan kanan, kumasukkan kedalam vaginanya, kedua jariku bermain-main, berputar kiri-kanan, dan keluar masuk di lobang vaginanya.
    "aaaahh... aaaahh..aaaahhh.. eennaaaakkk...", kata yu Darmi sambil memejamkan mata, membuatku semakin bersemangat memainkan lubang kemaluanya.
    "jangan berhentii.... trussss.... aaaahh..."
    Setelah cukup lama aku bermain-main dengan memeknya, akhirnya tubuh yu Darmi seperti kejang-kejang, dan bergerak-gerak dengan cepat serta kuat, sampai aku sedikit kewalahan menahan posisinya.
    "aaaah.. aaaa..aaaaaaaaaaaaahh..", jerit yu Darmi, sembari tubuhnya mengejang-ngejang. Beberapa saat kemudian tubuhnya melemas. Tangannya pun jatuh terkulai keranjang, yu Darmi terlihat seperti orang yang sudah KO.
    Aku biarkan yu Darmi untuk mengatur napasnya. Akupun berbaring di sisinya dan memeluknya dengan mesra. Yu Darmi segera mengecupku dengan mesra dan berbisik lirih di telingaku.
    ”Aduh mass....tadi itu tempekku diapakno ta? Kok enak banget...” bisik yu Darmi tanpa malu-malu.
    ”Itu namanya jilmek yu” aku membalas sambil menggoda.
    ”Jilmek kuwi apa ta mas? Kok istilahnya ada-ada saja?” yu Darmi jadi penasaran dengan istilah yang baru kukatakan tadi.
    ”Jilmek itu jilat memek yu....Apa kang Sarjo enggak pernah seperti itu?” aku menjawab sambil tersenyum sambil mengelus payudaranya dan mulai memilin putingnya dengan lembut.
    ”Wadhuh.....boro boro kang Sarjo mau seperti itu. Dia itu sudah sejak lima tahunan yang lalu malah sudah jarang sekali ngajak begituan kok mas”
    Aku jadi kaget mendengar hal ini. ”Lha memangnya kenapa yu?” aku jadi penasaran mendengarnya.
    ”Dulu kan kami pernah ke dokter mau nanya kenapa saya kok enggak hamil-hamil. Lalu setelah diperiksa ternyata kata dokter spermanya kang Sarjo itu lemah. Nah sejak itu ia jadi seperti orang minder dan tidak mau ngajak begituan lagi”
    ”Lha terus kalau yu Darmi lagi kepengin bagaimana?” aku tambah penasaran.
    ”Itulah mas....paling-paling kalau aku sudah kepengin banget yang kupaksa kang Sarjo untuk begituan. Tapi hasilnya ya aku jadi tambah pusing soalnya kang Sarjo sudah keluar duluan terus tidur..”
    ”Yo wis ta yu...sing sabar...kan ada aku. Nanti kalau yu Darmi kepengin bisa ngajak aku kan tiap hari kita ketemu di kiosku.”
    ”Mas Ardi ini kok ada-ada saja....dasar bocah gendheng...” jawabnya

  2. The Following User Says Thank You to thealvino For This Useful Post:

    jingok_dulu (24 August 2014)

  3. #2
    Suhu Semprot
    Daftar
    Nov 2011
    Posts
    3.011
    Thanks
    33
    Thanked 1.202 Times in 235 Posts
     THREAD STARTER 
    Tangan Yu Darmi segera meremas lembut batang kemaluanku yang masih keras yang menempel ketat di pinggulnya. Rupanya ia sudah mulai bergairah lagi.
    ”Sudah mau lagi yu...” bisikku mesra di telinganya.
    ”Alaahh... mas Ardi ini...aku kan Cuma kasihan sama adiknya ini lho yang dari tadi berdiri terus dan ndesel-ndesel nyari lawannya” katanya sambil memencet batang penisku.
    Mungkin terinspirasi oleh permainan oralku pada lubang kemaluannya tadi, Yu Darmi segera menggeser tubuhnya ke bawah hingga wajahnya menghadap selangkanganku. Lalu dengan sigap bibirnya mulai mengulum ujung kemaluanku. Mula-mula ia tampak kaku karena mungkin belum terbiasa melakukan oral seks. Aku menyemangatinya dengan mengelus-elus rambutnya dan menekan kepalanya sehingga batang kemaluanku semakin terdorong masuk ke dalam mulutnya. Dengan pelan kutarik lagi kepalanya sehingga batang kemaluanku bergerak keluar masuk di dalam mulutnya.
    Setelah beberapa kali kubantu dengan dorongan di kepalanya akhirnya yu Darmi menjadi semakin mahir. Bahkan lidahnya mulai bergerak-gerak menyusuri batang kemaluanku dari ujung hingga ke pangkalnya.
    ”Aduh...yuuu...terushhh...oughh...” Aku melenguh kenikmatan saat lidah yu Darmi mulai menyapu-nyapu pangkal batang kemaluanku bahkan sekali-kali lidahnya menyentuh dekat lubang anusku. Geli sekali rasanya.
    Dengan isyarat tarikan tanganku di bagian pundaknya, perlahan-lahan yu Darmi mulai merubah posisi tubuhnya. Tubuh bagian bawahnya digeser ke atas sehingga kini tubuhnya menjadi merangkak di atasku. Dan kini selangkangannya persis menghadap ke wajahku. Kedua lututnya diletakkannya di sisi kanan dan kiri wajahku sehingga ia mengangkangiku.
    Aku sangat bernapsu melihat bukit kemaluannya yang berada tepat didepan wajahku. Lalu dengan serta-merta kudekatkan wajahku ke selangkangannya dan mulai mencium dan menjilati gundukan bukit kemaluannya. Kini kami saling jilat dengan posisi 69 dengan yu Darmi berada di atas tubuhku.
    Lidahku menjilati klitorisnya dengan rakus seperti orang kelaparan yang bertemu makanan sementara Yu Darmi menghisap kontolku dengan lembut dan sesekali menjilati kepala penisku yang membuat merasa seperti tersengat listrik.
    "Uhh.. sshh..", aku mendesah ketika hisapan yu Darmi senakin kuat.
    Semakin cepat lidahku menggelitik klentitnya semakin ganas pula dia mengulum penisku.
    Lidahku semakin ganas mengais-ngais kelentit yu Darmi yang semakin membengkak hingga ia meghentikan kenyotannya pada batang kemaluanku. Ia nampaknya sangat menikmati jilatanku pada kelentitnya. Tangannya semakin kuat mencengkeram buah pantatku dan kepalanya sedikit mendongak seolah sedang menahan sesuatu.
    ”Aduh...masss....aku....gak kuattt...masss...” Aku tahu yu Darmi hampir orgasme lagi. Tapi aku sengaja menggodanya dengan menghentikan rangsanganku pada klitorisnya. Lalu aku segera menarik tubuh yu Darmi dan kuposisikan sejajar dengan tubuhku dengan yu Darmi tetap menindih tubuhku. Aku berbaring terlentang sementara yu Darmi memposisikan diri berjongkok di atas perutku. Terlihat dua buah bukit payudaranya menggantung indah indah yang membuat darahku berdesir hebat. Sementara di selangkangannya terdapat gundukan bukit yang lebat dengan bulu-bulunya yang membuat rudalku semakin mengeras.
    Yu Darmi yang tadi sudah hampir mencapai orgasmenya dan kuputus secara tiba-tiba segera mengatur posisinya dengan meletakan pantatnya di atas kemaluanku. Kedua kakinya dilipat sejajar pahaku lalu tangannya menuntun batang kemaluanku dan meletakan ujungnya di antara bibir bukit kemaluannya yang sudah sangat licin. Setelah dirasa pas perlahan-lahan yu Darmi menekan pantatnya hingga secara perlahan batang kemaluanku mulai tertelan ke dalam bukit kemaluannya.
    ”Ugh...” tanpa aba-aba kami melenguh bersamaan. Batang kemaluanku serasa dipilin oleh lubang kemaluan yu Darmi yang hangat dan sangat licin. Lubang kemaluannya serasa sempit sekali seperti perawan saja layaknya.
    Tubuh yu Darmi terdiam beberapa saat ketika tubuh kami benar-benar menyatu. Aku merasa betapa batang kemaluanku yang melesak ke dalam lubang kemaluannya terasa seperti diremas-remas oleh denyutan lubang kemaluan yu Darmi yang hangat dan licin. Aku menikmati sekali sensasi ini.
    Kami saling bertatap mesra dengan yu Darmi menduduki selangkanganku. Lalu perlahan-lahan yu Darmi mulai mencondongkan tubuhnya ke depan dan mendekatkan payudaranya ke mulutku. Aku segera menyambut payudaranya yang masih sekal dan kencang. Meskipun kulit yu Darmi agak kecoklatan, tetapi kedua bukit payudaranya lebih putih dibandingkan warna kulit di bagian tubuh lainnya. Ini mungkin karena bagian itu selalu terkurung rapat oleh BH yang selalu dipakainya.
    Yu Darmi mulai menggerakkan pantatnya diayunkan naik turun dengan simultan. Aku membantu gerakan pantat yu Darmi dengan kedua tanganku yang memegang kedua bongkahan pantatnya dan ikut mempercepat ayunan pantatnya. Sementara lidahku tetap sibuh mengulum puting payudaranya yang disorongkannya ke wajahku.
    “Ogh…hhhhh… ohhhhhhhh…!” yu Darmi tak henti-hentinya mendesah-desah keenakan. Kedua tanganku semakin ketat mencengkeram pinggul yu Darmi untuk membantu mengatur gerakan naik-turun pantatnya.
    Yu Darmi semakin liar menghentak-hentakkan pantatnya, meliuk-liuk di atas tubuhku, seperti seekor ular betina yang tengah membelit mangsanya. Terkadang ia juga membuat goyangan memutar-mutar pantatnya sehingga jepitan memeknya terasa mantap. Batang kontolku terasa seperti di pelintir dan dipijit-pijit di dalam lubang kenikmatan itu. Terasa sangat hangat dan nikmat. Ooouuuhhh…
    Semakin lama gerakan tubuh yu Darmi semakin liar tak terkendali. Tulang pubisnya menekan kuat ke tulang pubisku dan tubuhnya berkejat-kejat. Saat itu aku merasakan betapa ujung batang kejantananku melesak semakin dalam dan mentok sampai dinding terdalam rongga lubang kemaluannya. Nafas kami juga semakin memburu, seperti bunyi lokomotif tua yang berjalan dengan sisa-sisa tenaganya.
    “Oh, mass….aku … gak kuat…lagi…oughhhhh!” Yu Darmi melenguh panjang dan tangannya semakin ketat menekan kepalaku ke dadanya. Aku merasakan betapa dinding lubang kemaluannya berdenyut-denyut dan mencengkeram batang kemaluanku yang terjepit di dalam kehangatannya.
    Tubuhnya terus berkejat-kejat di atas perutku. Aku yang ingin membahagiakan yu Darmi secara total segera merespon saat-saat orgasme yu Darmi dengan ikut memutar pinggulku secepatnya.
    “Oughhhh…ouhhhh…ohhhhhhhhhh” kudengar yu Darmi melenguh menahan nikmat yang amat sangat sambil memejamkan matanya seolah sedang menahan sesuatu. Tubuhnya berkelojotan selama beberapa saat lalu ambruk di atas tubuhku. Napasnya kudengar masih ngos-ngosan seperti habis berlari-lari. Payudaranya yang montok terasa nyaman menekan dadaku.
    Tanganku segera kulingkarkan ke punggungnya dan mengelusnya dengan mesra. Yu Darmi menciumi pipiku dan bibirku dengan mesranya.
    “Terima kasih mas Ardi…sampeyan sudah memenuhi rasa dahagaku selama ini” ia terus menciumi bibirku dengan sangat mesranya.
    Batang kemaluanku yang masih keras tetap terjepit erat di dalam lubang kamaluannya yang hangat. Lalu dengan perlahan kudorong tubuh yu Darmi agar terduduk lagi. Kini ia duduk tegak di atas tubuhku dengan batang kemaluanku masih terjepit lubang kemaluannya.
    Napsu yu Darmi mungkin mulai terbangkit lagi. Hal ini nampak dari gerakan pinggulnya yang mulai bergerak perlahan maju mundur dan bergoyang ke kiri dan ke kanan. Gerakan-gerakan yang dilakukan yu Darmi sungguh erotis karena dilakukan sambil menengadahkan kepala dan memejamkan mata sambil mulutnya sedikit ternganga.
    Kedua telapak tangannya menapak di dadaku sebagai pijakan dalam menggoyangkan pinggulnya. Goyangan pinggulnya kontan saja menimbulkan sensasi tersendiri pada batang kemaluanku yang masih erat terjepit dalam kehangatan lubang kemaluan yu Darmi. Batang kemaluanku seperti digiling oleh kehangatan dinding lubang kemaluan yu Darmi yang sudah sangat licin. Aku menggigit bibir menahan kenikmatan yang mulai menjalar dari ujung batang kemaluanku itu.
    “Ughh….yu….ter..rushhh…yu….akkhhhhh” aku melenguh seolah tak sadar. Aku harus menggigit bibir untuk menahan kenikmatan yang amat sangat.
    Tubuh Yu Darmi yang bergoyang liar di atas perutku nampak demikian indah. Kedua bukit payudaranya yang montok berayun indah seirama goyangan tubuhnya. Aku tak tahan melihat pemandangan itu segera saja tanganku bergerak ke arah kedua bukit payudaranya dan mulai meraba dan meremasnya dengan gemas.
    “Shhh…masshhhh…ohhh…massshhh….aku….aku….akhhh hh” yu Darmi semakin liar mengayunkan pantatnya di atas perutku sehingga tulang kemaluannya menekan semakin ketat ke tulang kemaluanku. Tubuhnya tersentak dan berkejat-kejat menandakan bahwa ia kembali memperoleh orgasmenya untuk yang kesekian kalinya. Aku merasakan betapa jepitan lubang kemaluannya pada batang kemaluanku berkedut-kedut. Ia terus bergerak liar selama beberapa saat dan akhirnya terdiam. Wajahnya menengadah ke atas dan matanya terpejam. Napasnya ngosngosan dan tubuhnya sudah mengkilap karena basah oleh keringat padahal di luar hujan sangat deras.
    “Gimana yu…enak to?” aku menggodanya sambil terus meremas kedua bukit payudaranya.
    “Aduh mass…baru kali ini aku merasakan yang begini ini…” bisik yu Darmi sambil tersenyum manis sekali.
    “Aku belum keluar lho yu…masih kuat kan?”
    “Aduh…aku capai sekali mas… bentar ya sayang biar mbakyumu istirahat sejenak”.
    Beberapa saat kemudian setelah yu Darmi tampak bisa mengatur napasnya kembali kuminta ia berganti posisi. Ia lalu bangkit dari duduknya hingga batang kemaluanku terlepas dari jepitan lubang kemaluannya.
    Yu Darmi lalu berbaring dan meletakkan bantal untuk mengganjal pantatnya sambil mengangkangkan kedua pahanya lebar-lebar. Lalu dengan tak sabar aku segera menempatkan diri di antara kedua pahanya dan mencucukkan batang kemaluanku yang sudah sangat licin oleh cairan kenikmatan yu Darmi ke lubang kemaluannya.
    Setelah arahnya tepat aku segera mendorong pantatku hingga batang kemaluanku kembali menyeruak lubang kemaluannya yang sudah sangat licin. Slep....seluruh batang kemaluanku masuk dengan lancarnya ke dalam jepitan lubang kemaluannya. Aku diam selama beberapa saat untuk merasakan sensasi kedutan-kedutan lubang kemaluan yu Darmi yang hangat.
    Kudekatkan wajahku ke wajahnya dan mulai mencium bibir yu Darmi yang lalu disambutnya dengan hangat. Kudorong lidahku ke dalam mulut yu Darmi sambil kuayunkan pantatku hingga batang kemaluanku bergerak keluar masuk dalam jepitan lubang kemaluannya.
    Aku terus menghunjamkan batang kemaluanku di dalam lubang kemakuan yu Darmi yang menyambut setiap ayunan pantatku dengan goyangan yang seirama. Perlahan lahan aku mulai merasakan betapa dorongan kenikmatan mulai meledak-ledak. Air maniku serasa terkumpul di batang kemaluanku dan siap menyembur keluar. Aku terus mengayunkan pantatku semakin cepat.
    ”Ugh...ugh....terush...yuu....” aku menyuruh yu Darmi untuk mempercepat goyangannya. ”Di luar apa di dalam yu....ohhhh” aku masih ingat kalau yu Darmi bukan istriku jadi aku minta ijin sebelum kukeluarkan air maniku.
    ”Di dalam saja mass.....akhhhh” yu Darmi pun sepertinya sudah hampir sampai sepertiku.
    Aku semakin bersemangat mengayunkan batang kemaluanku. Yu Darmi semakin kencang memutar pantatnya hingga batang kemaluanku seperti dipilin dan rasanya nikmat sekali.
    ”Aduh...masshhh...akhhhh....” yu Darmi merintih nikmat dan tangannya mencengkeram pantatku agar semakin ketat menekan.
    ”Aughh...yuuu.....aku....kelll...uarhhh...arghhh.. .” aku menggeram sambil menekan batang kemaluanku sedalam-dalamnya. Kugigit leher yu Darmi kuat kuat sambil menghentakkan tubuhku.
    Cret....cret...cret...crett...cret....akhirnya kukeluarkan seluruh isi yang tadi mendesak di dalam batang kemaluanku. Kusemburkan seluruh air maniku ke dalam rahim yu Darmi hingga tiada yang tersisa. Yu Darmi pun memperoleh orgasmenya lagi pada saat yang bersamaan dengan semburan air maniku di dalam lubang rahimnya.
    Lemas sekali rasanya tubuhku setelah pendakian yang penuh nikmat ini. Akhirnya aku terdiam dan ambruk di atas perut yu Darmi. Kupeluk erat tubuh telanjang yu Darmi. Tubuh kami sama-sama basah oleh keringat. Batang kemaluanku tetap kubiarkan terjepit dalam lubang kemaluannya hingga sebagian air maniku tertumpah keluar karena terlalu penuh.
    Napas kami berangsur-angsur mulai pulih. Aku merasa betapa batang kemauanku yang mulai mengendur sedikit-demi sedikit terdorong keluar dari lubang kemaluan yu Darmi. Plop!!! Kami terhentak saat batang kemaluanku terlepas dengan sendirinya.
    Yu Darmi tersenyum dan mencium bibirku sebagai tanda terima kasih. Kami tetap berpelukan sambil bertelanjang bulat selama beberapa saat. Aku sempat melirik jam dinding di atas TV dan ternyata jam sudah mendekati pukul 19.00. Sudah lama sekali kami bergulat dalam birahi di kamar penginapan itu.
    ”Aduh...yu bagaimana ini...hujan masih saja turun padahal sudah cukup malam begini...”
    ”Ya kita nginap saja di sini to mas” yu Darmi malah menawarkan untuk menginap di penginapan itu.
    ”Kalau aku sih seneng aja to yu ...tapi bagaimana dengan kang Sarjo?”
    ”Alaah...gak usah dipikir...pasti kang Sarjo mengira aku langsung pulang soalnya besok pagi kan aku harus jualan”
    ”Iya juga ya....lalu bagaimana jualannya besok?”
    ”Masalah jualan kan bisa diatur...biar aku tak telpon kang Sarjo dulu”
    Yu Darmi lalu menelpon kang Sarjo dengan hpnya. Ia bilang kalau semua surat-surat sudah beres dan besok tinggal menyerahkan ke RS. Aku pun menelpon istriku dan bilang padanya kalau aku malam ini tidak pulang karena harus menemani kang Sarjo. Istriku yang tahu pertemananku dengan kang Sarjo tidak keberatan kalau aku harus menemani kang Sarjo. Padahal aku saat ini sedang menemani istrinya kang Sarjo!!
    Kami akhirnya tertidur saking lelahnya setelah pergumulan panjang itu. Sementara hujan di luar semakin deras sehingga menambah kehangatan di dalam kamar ini. Tubuh telanjang kami saling berpelukan bak pengantin baru.
    Kira-kira jam 02.00 aku terbangun karena kebelet pipis dan haus. Kulihat yu Darmi masih terlelap dengan pulasnya didalam pelukanku. Dengan tetap bertelanjang bulat aku melepaskan pelukanku dan beranjak ke kamar mandi yang ada di dalam kamar.
    Aku kembali ke ranjang tempat kami bersetubuh tadi untuk meneruskan tidurku. Kulihat tubuh yu Darmi yang telanjang bulat tertidur meringkuk menghadap ke tembok. Indah sekali tubuh yu Darmi. Pinggangnya yang ramping sangat serasi dengan pinggulnya yang berbentuk seperti biola Spanyol. Bongkahan pantatnya bulat membola begitu indah dan merangsang. Tanpa kusadari batang kemaluanku mulai mengeras kembali melihat kemolekan tubuhnya.
    Perlahan-lahan aku kembali berbaring di sebelahnya. Tubuh telanjang yu Darmi kupeluk dari belakang hingga batang kemaluanku yang sudah mengeras menempel ketat di sela-sela bongkahan pantatnya yang sangat indah itu. Gila!!! Hangat sekali rasanya. Pantas gairahnya begitu menggebu saat bersetubuh tadi. Rupanya dibalik kelembutannya, yu Darmi menyimpan kehangatan yang begitu menggelora. Sayang sekali kalau disia-siakan begitu saja!
    Lalu tanpa disuruh tanganku mulai bergerak menjamah tubuh indah yu Darmi. Kutelusupkan tanganku dari bawah lengannya dan kudekap bukit payudaranya yang kenyal. Tanganku terus bergerak meraba dan meremas bukit payudaranya.
    “Mhhh...” kudengar yu Darmi mulai melenguh dalam tidurnya. Ia mungkin mulai merasakan rabaan dan remasan tanganku di bongkahan bukit payudaranya.
    Perlahan-lahan aku mulai merasakan betapa puting payudaranya mulai mengeras. Nah lo!! Ia rupanya mulai terangsang lagi. Aku semakin bersemangat menggerakkan tanganku meraba dan meremas bukit payudaranya secara bervariatif. Lidahku pun tak mau tinggal diam. Kujilati kuduknya yang jenjang dan ditumbuhi bulu-bulu halus.
    Rupanya gesekan lidahku yang panas dan rabaanku di bukit payudaranya telah mengusik tidurnya yang sangat lelap.
    “Ohhh....ughh..!” ku dengar yu Darmi mendesah karena perlakuanku itu. Aku semakin bernapsu untuk mencumbunya. Batang kemaluanku yang menekan ketat bongkahan pantatnya semakin mengeras saat ia menekan pantatnya ke belakang. Lidahku terus bergerak dari leher terus turun menyusur sepanjang tulang belakangnya. Tubuh yu Darmi semakin menggeliat dan seluruh bulu-bulu di tubuhnya berdiri karena mungkin ia kegelian.
    Tanganku terus meremas dan meraba bukit payudaranya dengan semakin gemas. “Oughh...” yu Darmi tak henti-hentinya mendesah karena rangsangan yang kulakukan. Tangannya kemudian bergerak ke belakang dan mulai memegang batang kemaluanku yang menempel ketat di belahan pantatnya yang hangat. Dengan perlahan ia mulai mengurut dan meremas batang kemaluanku.
    “Ohhsss...” kini aku yang mulai mendesah menahan nikmat akibat remasan tangan yu Darmi yang halus di sepanjang batang kemaluanku. Remasan tangan yu Darmi semakin cepat saat tanganku yang tadinya bermain-main di bukit payudaranya bergeser turun dan mulai menggosok gundukan bukit kemaluannya yang penuh ditumbuhi rambut yang cukup tebal. Jariku mulai menyusuri celah hangat di tengah bukit kemaluannya yang sudah mulai basah.
    “Ter..rushh..ouchhh...ssttt..eshhh” yu Darmi berkali-kali mendesah seperti orang kepedasan saat jari-jariku dengan lincah berputar-putar di atas tonjolan kecil di ujung atas lubang kemaluannya yang sudah sangat licin. Tubuhnya meliuk-liuk dan kadang-kadang pantatnya didorong ke depan seolah-olah menyongsong dan mengejar jari-jariku.
    Aku pun semakin terangsang saat kocokan tangan yu Darmi semakin cepat mengocok batang kemaluanku dan kadang-kadang ditekankannya ke bukit kemaluannya dari sela-sela bongkahan pantatnya. Ia melakukannya sambil mengangkat salah satu kakinya dan menopangkannya ke pahaku.
    “Ughh...” aku melenguh nikmat ketika ujung batang kemaluanku digosok-gosokkan ke bibir kemaluannya yang merekah hangat. Pantat yu Darmi didorong ke belakang sehingga ujung kemaluanku yang dipegangnya agak melesak ke dalam bibir kemaluannya. Hangat sekali rasanya!
    Tanganku terus berputar memainkan tonjolan daging di bukit kemaluannya. “Ohhhh...terr..usshhh ...ohhhhh” yu Darmi terus mendesis dan semakin liar menggerakkan pantatnya. Jari-jariku terus bergerak liar menggosok dan memutar tonjolan daging kecil itu.
    Tubuh yu Darmi semakin liar bergerak dalam pelukanku “Akhhhh.....” dengan diiringi lenguhan panjang, tubuh yu Darmi yang kupeluk terus berkelojotan. Akibatnya begitu hebat bagiku. Ujung kemaluanku yang sedikit melesak dalam kehangatan lubang kemaluannya menjadi semakin tergesek nikmat. Aku merasakan sensasi yang hebat. Aku seperti tersiksa dalam nikmat sampai akhirnya tubuh yu Darmi terdiam dalam pelukanku. Napasnya menggemuruh seperti baru saja berlari keliling lapangan. Aku biarkan ia mengatur napasnya sambil tetap kupeluk erat tubuh telanjangnya. Sementara batang kemaluanku masih menempel ketat di belahan bibir kemaluannya yang sudah sangat basah dan licin.
    Selang beberapa saat kemudian kubalikkan tubuh yu Darmi ke menghadap ke arahku. Kini kami saling berbaring berhadapan dalam keadaan telanjang bulat di atas tempat tidur empuk. Aku yang belum mencapai orgasme segera melumat bibir yu Darmi yang sedikit terbuka. Ia segera membalas lumatan bibirku dengan menggesek-gesekkan lidahnya menyapu bibirku. Kami kembali saling berpagutan di pagi yang dingin itu.
    Tanganku yang bebas segera bergerak ke arah bukit payudaranya dan mulai meremas bukit payudara yu Darmi yang hangat dan empuk itu.
    “Mphh....” yu Darmi menggumam saat tanganku dengan lincah memainkan puting payudaranya. Tangan yu Darmi pun tak mau tinggal diam. Tangannya segera bergerak ke arah selangkanganku dan mulai meremas dan mengocok batang kemaluanku yang sudah sangat keras dengan lembutnya.
    “Ughhh...” aku melenguh nikmat merasakan kelembutan jemari yu Darmi yang bergerak lembut sepanjang batang kemaluanku. Bahkan tangannya sesekali meremas kantung pelirku sehingga menimbulkan kenikmatan yang tiada tara. Kami saling berpagutan dan saling meremas selama beberapa saat.
    Karena tak kuat lagi menahan gejolak napsu akibat remasan yu Darmi di batang kemaluanku, aku segera mendorong tubuhnya hingga posisinya kini terbaring telentang. Aku mengubah posisiku hingga sekarang aku menindih tubuh telanjangnya yang menggairahkan. Bibirku mulai bergerak turun ke lehernya yang jenjang. Kujilati seluruh kulit lehernya yang licin hingga ia menggelinjang dan mulutnya tak henti-hentinya mendesah seperti orang kepedasan.
    “Ohh...shh...stth...ohhsss..” yu Darmi terus merintih sementara kedua tangannya dirangkulkannya di balik punggungku. Lidahku terus menjelajahi setiap jengkal kulit lehernya yang putih jenjang sambil sesekali kugigit pelan-pelan. Rupanya perbuatanku ini membuat ia kembali terangsang hingga tubuhnya terus menggelinjang dalam dekapanku.
    Perlahan namun pasti, lidahku terus bergerak ke bawah hingga ke arah bukit payudaranya yang montok dan kenyal itu.
    “Hap...” dengan gemas kulahap bukit payudaranya hingga mulutku penuh. Kusedot dan kumainkan puting payudaranya dengan lidahku hingga yu Darmi semakin mendesis.
    “Ohh...ter..rushhh mass…ohhh” mulutnya tak henti-hentinya mendesis saat puting payudaranya kumainkan dengan lidahku. Kedua tangannya menekan belakang kepalaku hingga semakin ketat menekan bukit payudaranya. Tanganku pun tak mau tinggal diam. Tanganku bergerak turun ke bawah menyusuri bagian samping pinggang yu Darmi i yang ramping hingga ke arah pinggulnya dan meremas-remasnya dengan gemas.
    Tanganku terus bergerak menyusuri pinggul yu Darmi turun ke arah lututnya dan perlahan-lahan naik ke pahanya yang mulus dan kencang. Desisannya semakin keras saat tanganku mulai menyentuh gundukan bukit di selangkangannya yang sudah sangat basah setelah orgasme tadi. Gesekan tanganku di selangkangannya rupanya telah membangkitkan kembali gairah napsu yu Darmi.
    Jilatan lidahku terus menyusuri inci demi inci seluruh permukaan perutnya yang masih cukup kencang. Tubuh yu Darmi melonjak-lonjak dalam dekapanku saat kusedot-sedot perut bagian bawahnya dengan cara menghentak-hentak. Ia terus menggeliat menahan geli sementara perutnya nampak mengejang. Napasnya menderu seperti orang baru berlari keliling lapangan.
    “Shh….ouch… shh…aakhhhh…”
    Tubuh yu Darmi menggeliat semakin liar dalam dekapanku saat lidahku mulai menyentuh gundukan bukit di selangkangannya yang sudah sangat basah.
    “Aduhh….oooughh…” yu Darmi semakin menceracau saat lidahku dengan buasnya mulai menyusuri celah hangat di belahan bukit kemaluannya. Tangannya segera merangkul bagian belakang kepalaku dan menekankannya keselangkangannya. Kedua pahanya semakin dikangkangkannya selebar mungkin untuk memberiku akses penuh menjelajah bukit kemaluannya.
    Lidahku terus mengais-ngais di celah hangat bukit kemaluannya hingga kutemukan tonjolan daging di bagian ujung atas bukit kemaluannya yang tembam itu. Hal ini membuat yu Darmi semakin blingsatan. Ia berusaha menarik tubuhku agar menghentikan hisapan bibirku di klitorisnya.
    Aku yang sudah sangat bernapsu tak mau begitu saja menyerah pada keinginannya. Tanganku segera memegang tangannya dan menekannya ke kasur hingga ia tak bisa berkutik. Akhirnya ia hanya pasrah saat kusedot dan kukilik-kilik klitorisnya dengan lidahku hingga ia pun menggelepar.
    “Akhhh…massss….akhhhhhh…” tubuhnya mengejang dan kedua pahanya menjepit kepalaku. Ia kembali memperoleh orgasmenya untuk yang kedua kali di pagi buta itu.
    Aku yang belum memperoleh orgasme segera menempatkan tubuhku sejajar dengannya. Kucocokkan batang kemaluanku yang sudah sangat kencang ke lubang hangat di gundukan bukit kemaluannya. Dengan perlahan kodorong pantatku sehingga batang kemaluanku menyeruak ke dalam jepitan lubang kemaluan yu Darmi yang sudah sangat licin.
    Blesss….seluruh batang kemaluanku akhirnya tertelan di dalam lubang kemaluan yu Darmi. Aku diamkan selama beberapa saat untuk merasakan sensasi menyatunya tubuh kami. Kupeluk tubuh telanjang yu Darmi dengan erat. Kedua kaki yu Darmi segera disilangkan di belakang punggungku dengan tumitnya ditekankan pada pantatku. Hangat sekali rasanya tubuh yu Darmi. Hujan yang lebat mengguyur di luar semakin menambah kehangatan kami.
    Yu Darmi terdiam beberapa saat, lalu tahu-tahu kurasakan batang kemaluanku seperti disedot oleh lubang kemaluannya yang hangat dan licin.
    ”Ough....” aku tersentak rasanya mau meledak tubuhku merasakan denyutan di lubang kemaluan yu Darmi. Batang kemaluanku seperti dijepit oleh tanggam yang empuk dan hangat dan tidak bisa kugerakkan. Aku merasakan seperti ada
    cincin yang mengikat ujung kepala kemaluanku di dalam lubang kemaluan yu Darmi.
    Mendapat rangsangan itu perlahan ahan aku mulai mengayunkan pantatku naik turun di atas tubuh yu Darmi. Ayunan pantatku menyebabkan batang kemaluanku mulai bergerak keluar masuk menyodok-nyodok lubang kemaluan yu Darmi. Aku merasa nikmat sekali setiap kali ujung kemaluanku masuk ke dalam jepitan cincin hangat di dalam lubang kemaluan yu Darmi.
    Aku mulai mengayunkan pantatku naik turun. Batang kemaluanku
    menggesek-gesek dinding lubang kemaluan yu Darmi. Mula-mula lambat lalu semakin lama semakin cepat. Ada rasa nikmat luar biasa setiap kali aku menusukkan batang kemaluanku dan menariknya lagi. Aku semakin cepat dan semakin keras
    mengocok lubang kemaluan yu Darmi.
    ”Ugh...ugh....” aku terus memacu semangatku menggenjot lubang kemaluan yu Darmi yang semakin licin.
    Lama-kalamaan aku merasakan lubang kemaluan yu Darmi semakin licin dan cenderung becek karena terlalu banyak cairan keluar dari lubang kemaluannya. Aku segera mencabut batang kemaluanku dan mengelap lubang kemaluan yu Darmi dengan ujung seprei agar sedikit lebih kering.
    Kemudian kuposisikan yu Darmi agar merangkak di kasur dengan perut kuganjal bantal. Indah sekali pemandangan yang kulihat. Pantat yu Darmi yang penuh dan bulat mencuat ke atas dengan lubang kemaluan yang menggembung seperti yoyo. Wajahnya menelungkup ke kasur dan ia merangkak dengan bertelekan kedua lututnya.
    Aku segera menempatkan diriku di belakang yu Darmi dan berdiri di atas lututku. Aku kemudian mencucukkan batang kemaluanku ke lubang kemaluannya dari arah belakang.
    Blesss....kembali batang kemaluanku menerobos kehangatan liang kemaluan yu Darmi. Kali ini dari arah belakang. Kodorong terus pantatku hingga tulang kemaluanku menumbuk bongkahan pantatnya dan ujung kemaluanku menumbuk mulut rahimnya. Aku kembali merasakan ada semacam cincin hangat yang menjepit ujung kemaluanku di dalam sana. Kudiamkan batang kemaluanku terjepit selama beberapa saat.
    Kulihat kepala yu Darmi terdongak ke atas ketika ujung kemaluanku menumbuk mulut rahimnya. Kemudian perlahan-lahan yu Darmi mulai menggerakkan pantatnya memutar sehingga kembali batang kemaluanku seperti dipilin oleh kehangatan lubang kemaluannya. Aku pun ikut mengimbangi ayunan pantat yu Darmi dengan memutar pantatku berlawanan arah.
    ”Ouch.....masss....terusshh masss....” yu Darmi mulai merintih dan salah satu tangannya bergerak ke belakang meraih pantatku dan ditariknya agar lebih ketat menekan ke depan.
    Aku paham apa yang diinginkannya. Aku segera menambah tekanan dengan mendorong pantatku ke depan. Kedua tanganku segera meraih pinggulnya dan menarik ke belakang.
    Tubuh kami terus berkutat dan saling memutar pantat berlawanan arah. Mataku mulai membeliak merasakan betapa batang kemaluanku seperti digiling oleh kehangatan lubang kemaluan yu Darmi itu.
    ”Terus yuuuu...ough....ter....russhhh” aku menggeram dan mencengkeram pinggul yu Darmi semakin ketat. Aku merasakan betapa dorongan semakin kuat muncul dari perutku dan mulai mengalir ke batang kemaluanku.
    ”Uhhh...ayo maaasshhh....aduhhh....” yu Darmi semakin liar memutar pantatnya dan tubuhnya mulai menegang.
    ”Ughh...yu...aku...aargh....” aku merasakan bahwa sesuatu meledak dari ujung kemaluanku. Yu Darmi pun mulai berkejat-kejat.
    ”Akhhh...massshhh”...ia merintih seolah sedang melepaskan sesuatu yang amat nikmat.
    Crut...crrrt...crrt...aku merasakan air maniku tertumpah tanpa dapat dicegah lagi. Kali ini sangat dalam menyiram mulut rahim yu Darmi. Kami terus bergerak menuntaskan sisa-sisa kenikmatan. Akhirnya tubuhku ambruk menindih punggung yu Darmi. Tubuh kami pun tidak bergerak. Hanya napas kami yang terdengar masih menggebu-gebu seperti habis mengangkat beban yang sangat berat.
    Kubiarkan saja batang kemaluanku terjepit di dalam kehangatan lubang kemaluan yu Darmi. Kupeluk tubuh telanjangnya dan kucium pipinya dengan mesra.
    ”Terima kasih yu....sampeyan benar-benar hebat” kubisikkan pujian di telinganya dengan mesra.
    ”Sampeyan juga hebat mas Ardi...aku sampai lemas sekali” ia pun membalas mesra sambil tangannya mengelus-elus pantatku.
    Lama-lama batang kemaluanku terlepas dengan sendirinya dari jepitan lubang kemaluannya. Aku melihat betapa air maniku sebagian menetes dari lubang kemaluan yu Darmi dan membasahi bantal yang kugunakan untuk mengganjal perutnya. Aku segera mengambil ujung seprei dan membersihkan bukit kemaluannya dari cairan sisa-sisa pergumulan tadi.
    Sesaat kemudian kugulingkan tubuh telanjang yu Darmi hingga berbaring terlentang. Aku sendiri pun berbaring di sisinya. Kami kembali tertidur sambil berpelukan dalam keadaan masih telanjang bulat.
    Kami terbangun saat terdengan adzan shubuh. Dengan malas kami pun mandi bersama dan mengakhiri kebersamaan di pagi itu dengan persetubuhan di kamar mandi.
    Setelah mengantar yu Darmi ke rumahnya untuk mengambil susu, kami pun kembali ke kota ku. Aku menurunkan yu Darmi di terminal dan kembali ke rumahku.
    Seminggu kemudian kami pun berkesempatan untuk melakukan hubungan badan di penginapan yang sama. Hal itu terjadi setelah kami mengantar kang Sarjo pulang dari rumah sakit. Dengan berdalih mau menyelesaikan pembayaran, yu Darmi ikut pulang belakangan denganku sedangkan kang Sarjo sudah dibawa pulang terlebih dahulu oleh kakak yu Darmi yang mempunyai mobil.
    Kami menyelesaikan administrasi rumah sakit secepat mungkin dan kembali mampir di penginapan yang sama sebelum mengantar pulang yu Darmi. Saat itu kami hanya dapat menyelesaikan satu ronde permainan sebelum kuantar yu Darmi pulang ke desanya.

  4. #3
    Semprot Holic
    Daftar
    Dec 2012
    Lokasi
    sumatra
    Posts
    374
    Thanks
    0
    Thanked 0 Times in 0 Posts
    kalo gak salah ni ya suhu, tapi suhu

  5. #4
    Banned
    Daftar
    Jun 2011
    Lokasi
    The City of HEROES
    Posts
    4.759
    Thanks
    0
    Thanked 202 Times in 36 Posts
    User di-banned, maka konten otomatis dihapus.
    User is banned, content is deleted automatically.

  6. #5
    Kakak Semprot
    Daftar
    Feb 2013
    Posts
    175
    Thanks
    0
    Thanked 1 Time in 1 Post
    Wah natural sekali. Enak bacanya.

  7. #6
    Suhu Semprot
    Daftar
    Nov 2011
    Posts
    3.011
    Thanks
    33
    Thanked 1.202 Times in 235 Posts
     THREAD STARTER 
    NANTI saya lanjut lagi.....

  8. #7
    Suhu Semprot
    Daftar
    Nov 2011
    Posts
    3.011
    Thanks
    33
    Thanked 1.202 Times in 235 Posts
     THREAD STARTER 
    Tiga minggu kemudian aku dan istriku diundang kang Sarjo dan yu Darmi untuk acara syukuran yang rencananya akan diadakan pada malam harinya. Aku tidak tahu syukuran untuk apa, tetapi sebagai teman yang sangat dekat aku tetap menghadirinya. Istriku tidak bisa ikut karena harus menjaga anakku yang masih kecil dan menjaga kios keesokan harinya.
    Sore itu aku berangkat sendiri ke rumah kang Sarjo yang kebetulan tetangga desa dengan rumah orang tuaku. Aku berencana untuk menginap di rumah orang tuaku dan kembali keesokan harinya. Istriku pun menyetujuinya karena rumah orang tuaku memang dekat dengan desa kang Sarjo.
    Acara syukuran kang Sarjo sangat meriah. Hampir seluruh warga desa menghadirinya, dan aku pun sudah mengenal mereka semua karena memang masa kecilku kuhabiskan di desa sebelah. Setelah acara selesai kang Sarjo memintaku untuk menginap di rumahnya. Aku pun tak mampu menolaknya sehingga aku tetap tinggal ketika orang-orang sudah mulai berpamitan.
    Aku sempat menemani ngobrol dengan beberapa orang yang bermain kartu di depan rumah kang Sarjo yang memang dipasang tenda. Namum tiba tiba hujan turun dengan lebatnya sehingga semua orang yang sedang main kartu bubar semua dan pulang ke rumah masing-masing. Akhirnya karena sudah tidak ada orang aku pun segera masuk ke kamar yang disediakan untukku.
    Kamar yang disediakan kang Sarjo buatku terletak di lantai atas karena kamar yang di bawah sudah diisi oleh keluarga yu Darmi dan untuk kang Sarjo sendiri. Kamar itu merupakan satu-satunya kamar yang ada di lantai atas yang terletak di bagian belakang rumah. Di depan kamar itu biasanya digunakan sebagai teras dan jemuran. Aku masih merokok di teras saat kudengar seseorang menaiki tangga ke lantai atas.
    ”Masih belum tidur to mas?” ternyata yang naik adalah yu Darmi. Malam itu ia tampak anggun dengan gaun tidur baby doll. Tubuhnya yang padat menjadi kelihatan sangat merangsang dengan pakaian seperti itu.
    ”Oh..eh...be..belum yu” aku sempat terbengong dan tergagap.
    ”Kenapa kok bengong, seperti melihat setan saja” yu Darmi ternyata datang membawakan aku segelas kopi yang masih panas.
    ”Eh..anu..soalnya melihat sampeyan seperti ini jadi bengong...lha kang Sarjo apa masih di bawah?” tanyaku asal saja untuk menghilangkan kekakuan.
    ”Oo...tadi sehabis minum obat kang Sarjo langsung tidur. Maklum obatnya itu mengandung penenang soalnya kalau malam kakinya masih suka nyeri jadi harus minum obat penenang agar bisa tertidur”
    ”Ooo begitu ta...lha yu Darmi apa enggak ngantuk” aku melirik saat ia meletakkan gelas di meja didepanku. Mataku sempat menangkap bukit payudaranya yang sempat terbuka saat ia membungkuk.
    ”Belum...soalnya aku kangen...eh...hayoo liat apa” kata yu Darmi pelan sambil menggoda saat mengetahui aku melirik ke arah dadanya.
    ”Oh...eh..anu...enggak lihat apa-apa kok” aku sempat tergagap karena malu ketahuan melirik dadanya.
    ”Enggak apa apa kok...kalau mau lihat juga boleh...lagian aku ke sini mau menyampaikan sesuatu yang sangat penting.”
    ”Penting apa to yu...” aku sedikit bingung dengan mimiknya yang sudah mulai serius.
    ”Begini...pertama aku dan kang Sarjo sangat berterima kasih sama sampeyan. Kedua aku ke sini karena kangen sekali dengan sampeyan..” bisik yu Darmi sambil terus duduk di pangkuanku.
    Kontan saja adik kecilku yang tadi sudah mengeras melihat penampilan yu Darmi yang merangsang menjadi semakin tegang saat pantat yu Darmi yang penuh menduduki kejantananku. Tanganku segera bergerak ke arah dadanya dan memeluknya. Yu Darmi pun dengan manja segera menyandarkan tubuhnya ke dadaku yang memeluknya dari belakang.
    ”Terima kasih apa to yu...” bisikku sambil mencium lehernya yang penuh bulu-bulu halus.
    ”Ya terima kasih soalnya sekarang aku sudah positif bisa hamil”
    Deg....jantungku serasa berhenti mendengar apa yang dikatakan yu Darmi. ”Hamil...maksud yu Darmi?” aku sempat bingung dengan perkataannya itu.
    ”Ya hamil...meteng alias bunting...masak kok jadi heran begitu” bisik yu Darmi manja.
    ”Lho kok bisa? Katanya sperma kang Sarjo lemah” aku masih juga belum mengerti.
    ”Ya bisa hamil to...wong namanya perempuan disetubuhi laki-laki ya bisa hamil to mas...masak heran juga....aku ini hamil hasil hubungan kita kemarin” bisik yu Darmi manja sambil membimbing tanganku untuk mengelus perutnya yang memang sedikit keras.
    Deg...aku jadi semakin kaget dan tak bisa bilang apa apa.
    ”Kenapa kaget? Sampeyan ini memang ayah yang tidak tahu diuntung kok...bisanya Cuma bikin anak tapi tidak mau mengakuinya...” ia masih terus menggodaku sambil menggoyang pantatnya yang menindih batang kemaluanku.
    ”Ja....jadi...yu Darmi hamil a...anak sa..saya? Lalu...kang Sarjo ba...bagaimana?”
    ”Ya secara biologis sampeyan ini memang ayahnya....tetapi secara hukum ini tetap calon anaknya kang Sarjo...”
    ”Ter...terus bagaimana yu?” aku masih bingung dengan arah pembicaraannya.
    ”Ya ndak bagaimana-bagaimana....Justru kang Sarjo sangat berterima kasih sama sampeyan”
    ”Lho....kok?”
    ”Lho kok....bagaimana? Dari dulu memang kang Sarjo kepingin punya anak, tetapi karena spermanya lemah...ia ...ia malah mendorong aku untuk berhubungan dengan lelaki lain agar bisa hamil. Dan kang Sarjo sendiri yang memilih sampeyan sebagai donornya”
    ”Ja...jadi kang Sarjo sudah tahu?”
    ”Ya sudah tahu to...justru ia sangat berterima kasih sama sampeyan, makanya sampeyan diminta nginap di sini. Aku pun sudah sangat kangen dan ingin memberikan sesuatu yang istimewa buat mas Ardi malam ini. Pokoknya apa pun yang mas Ardi inginkan, mbakyumu pasti memenuhinya”
    Aku jadi terbengong-bengong dengan seluruh perkataan yu Darmi itu. Jadi selama ini aku menyetubuhi yu Darmi memang sudah diijinkan oleh kang Sarjo. Bahkan ia menganggap diriku sebagai pendonor sperma bagi istrinya agar hamil. Dan sekarang istrinya sudah dapat hamil dari benih yang kutanamkan dalam rahimnya. Sungguh gila...Tapi apa boleh buat semua sudah terjadi, dan yu Darmi pun sudah hamil yang merupakan benih dari ku. Berarti secara biologis aku mempunyai istri dua orang tetapi secara hukum Cuma satu....ah masa bodoh lah yang penting aku bisa menikmati tubuh yu Darmi kapan saja aku mau... peduli amat ah....Si amat aja enggak peduli kok!
    Tak tahan dengan aroma tubuh yu Darmi yang begitu merangsang, aku segera memeluk dan menciumi kuduknya. Seluruh bulu-bulu yu Darmi tampak merinding saat lidahku mulai menyapu belakang lehernya.
    ”Hmmhhhh....” yu Darmi mendesah sambil menekan pantatnya di pangkuanku.
    ”Ke kamar saja ya yu....” aku yang sudah tidak tahan menahan napsu dan karena dingin segera mengajak yu Darmi untuk masuk kamar yang memang disiapkan untukku.
    Yu Darmi tidak menjawab tetapi ia langsung bangun dan menyeretku masuk ke kamar. Ia juga seperti sudah tak sabar, begitu pintu kamar dikunci ia pun segera menghabur ke dalam pelukanku. Bibirnya segera menyerbu bibirku dan didorongnya lidahnya ke dalam mulutku.
    Lidahnya kusambut dengan lidahku sehingga lidah kami saling berkutat saling dorong dan saling sedot. Tanganku segera kulingkarkan ke tubuh yu Darmi dan kuarahkan ke bagian tubuh yang selalu menjadi obsesiku, yaitu bongkahan pantatnya yang bulat menantang itu. Kuremas kedua bongkahan pantatnya dengan gemas karena menahan rindu dendam setelah tiga minggu tidak menyetubuhinya.
    ”Hmmggh...’ Yu Darmi melenguh dalam pelukanku. Tubuhnya menggerinjal dan perutnya menekan lebih kuat ke depan hingga batang kemaluanku yang sudah keras menjadi tergencet di antara perutku dan perut yu Darmi.

    Kami saling berpelukan dengan kedua tanganku yang tak henti-hentinya meremas bongkahan pantatnya dengan gemas. Bibir kami semakin ketat menyatu dan saling dorong mendorong serta menyedot lidah kami sehingga membuatku serasa mengawang.

    Tanganku terus meremas bongkahan pantat Yu Darmi yang mengkal. Tubuhnya menggelinjang dan mulutnya tak henti-hentinya mendesah dan mengerang saat tanganku yang nakal sesekali menyentuh lobang anusnya.
    ”Aduhh...mas...geli...”ia memekik agak keras.
    ”Jangan keras-keras Yu...” bisikku
    ”Enggak apa-apa mas...toh enggak bakalan ada yang dengar suara kita” balas Yu Darmi manja.
    Aku memang khawatir kalau lenguhan Yu Darmi yang cukup keras terdengan oleh orang-orang yang masih duduk-duduk di ruang tamu dan teras depan. Yu Darmi menenangkan diriku kalau suaranya tidak akan terdengar dari bawah karena letak kamar atas memang agak jauh di bagian belakang rumah sehingga relatif sangat aman.
    Aku yang sudah sangat bernafsu segera melucuti pakaian yang melekat di tubuh Yu Darmi. Satu per satu pakaian Yu Darmi kulepaskan hingga tinggal bh dan cd yang masih melekat di tubuhnya yang montok itu.
    Aku menghentikannya saat ia akan menanggalkan cd dan bh-nya. Aku sangat terpesona memandang lekuk tubuhnya hanya dalam balutan cd yang berwarna putih transparan dan bh yang putih tipis pula.
    ”Jangan Yu..... aku ingin memandang tubuh yu Darmi sepuasku dulu...” bisikku sambil menghentikan tangannya yang hendak melepas bh dan cd nya itu.
    ”Ah....aku malu mas...mosok badan gendut begini mau dilihat segala...” katanya sambil terjengah agak malu dan tangannya secara otomatis menutupi selangkangannya.
    ”Justru itu Yu... aku ingin memuaskan mataku menatap tubuh sampeyan yang indah itu...coba Yu Darmi berlenggak-lenggok kaya penyanyi dandut tadi yu...” aku yang penasaran mencoba memintanya melakukan hal-hal sesuai dengan imajinasiku yang liar.

    Entah karena sudah bernafsu atau memang ingin memuaskanku Yu Darmi pun menuruti perintahku. Ia melanggak-lenggok dan meliuk-liukkan pinggulnya seperti sedang menari dangdut. Dan aku pun sungguh terpesona memandang liukan tubuhnya yang setengah telanjang itu. CD nya yang berwarna putih transparan seakan mencetak gundukan hitam bukit kemaluannya yang ditumbuhi rambut cukup tebal. BH-nya yang ketat seolah tak mampu lagi menahan payudaranya yang membusung. Perutnya memang nampak mulai sedikit membesar. Jadi tak salah kalau ia mulai mengandung anak biologisku!!

    Aku pun mulai melepas pakaianku satu per satu sambil tetap memandang liukan tubuhnya sampai akhirnya aku sudah bugil sama sekali. Aku lalu duduk di tepi tempat tidur spring bed sambil memandang goyangan tubuhnya.

    Melihat aku sudah telanjang bulat, Yu Darmi pun menghentikan liukan tubuhnya dan duduk bersimpuh di depanku. Dielusnya batang kemaluanku yang sudah keras sedari tadi.
    ”Ih....adikmu ini kok cepat sekali bangunnya ta mas...” bisiknya manja sambil menggenggam batang kemaluanku dan mulai mengurutnya dengan lembut.
    ”He..he..hee...... kan sudah kubilang tadi tubuh Yu Darmi sangat seksi makanya adikku ini bangun...”

    Hap...tiba-tiba mulut Yu Darmi segera melahap ujung batang kemaluanku dan lidahnya yang panas mulai menyapu-nyapu lubang di ujung kemaluanku.

    ”Shh....ough...” aku hanya sempat melenguh tertahan menahan geli yang amat sangat di ujung kemaluanku. Tanganku segera memegang rambutnya dan mengelusnya dengan mesra.

    Yu Darmi terus mengulum dan menjilati batang kemaluanku dari ujung hingga ke pangkalnya. Lidahnya yang panas menggelora seakan merayap sepanjang batang kemaluanku. Aku semakin meggerinjal menahan gejolak napsuku yang semakin mendesak.

    ”Aduh...Yu....enn..akkhh...ohhh...” aku terus menggeram saat Yu Darmi memaju mundurkan kepalanya sehingga batang kemaluanku keluar masuk mulutnya. Lalu tanganku segera melepas kait bh di punggunya sehingga kedua bukit payudaranya terbebas dari penutupnya. Aku pun segera meremas kedua bukit payudaranya dengan gemas. Jari-jariku segera memainkan kedua puting payudaranya hingga perlahan tapi pasti kedua puting payudaranya mulai mengeras.

    Napsuku semakin berkobar dan menuntut penyelesaian. Lalu kudorong kepala Yu Darmi dan kuangkat tubuhnya hingga berdiri. Sekarang aku melucuti satu-satunya kain yang masih menempel ketat di tubuhnya, yaitu CD nya yang putih transparan itu. Kutarik cd-nya ke bawah hingga menampakkan isi di baliknya. Ia segera membantuku melepas cd nya melewati kedua kakinya hingga kini ia sudah telanjang bulat di depanku.

    Kudekatkan tubuh telanjang itu sehingga kini bukit dadanya yang bebas tergantung ada di depan wajahku. Tanpa membuang waktu mulutku secara bergantian segera melahap bukit payudaranya satu per satu. Tanganku yang terbebas segera meluncur ke bongkahan pantatnya yang selalu menjadi obsesiku itu.
    ”Sh..sh....Ough...mashhh...akhhh” giliran Yu Darmi yang mendesah dan menggeliat saat bukit payudaranya kusedot dengan gemas sementara kedua bongkahan pantatnya kuremas dengan gemasnya.
    Tangan Yu Darmi pun tak tinggal diam. Tangannya segera mengarah ke selangkanganku dan mulai mengurut dan meremas batang kemaluanku yang sudah sangat keras itu dengan lembutnya.

    Setelah puas memainkan payudaranya, aku segera berdiri dan kududukkan tubuh telanjang Yu Darmi di pinggir tempat tidur. Sekarang aku yang duduk bersimpuh di depan Yu Darmi.
    Lalu kudorong tubuh Yu Darmi hingga berbaring di atas tempat tidur dengan kedua kaki menjuntai ke lantai. Sungguh indah pemandangan yang ada di hadapanku. Bukit kemaluannya tampak membusung indah dengan tonjolan daging kecil berwarna merah jambu yang menyembul indah.

    Tanpa membuang waktu kudekatkan wajahku ke gundukan bukit kemaluan Yu Darmi. Tercium aroma kewanitaan dari kemaluan Yu Darmi yang sudah agak basah itu. Aromanya begitu merangsang bagiku.

    Kusapukan lidahku secara perlahan menyusuri celah sempit di tengah bukit kemaluan Yu Darmi. Tubuhnya terhentak dan pantatnya bergoyang liar di sisi tempat tidur.
    ”Shhhh...ouch....akhhh...” ia menggumam tak jelas saat lidahku mulai menyapu-nyapu tonjolan kecil di celah gundukan bukit kemaluannya.

    Secara otomatis kedua tangannya segera meraih belakang kepalaku dan menekankannya ke bukit kemaluannya. Aku semakin bersemangat menggesek-gesekkan lidahku di belahan bukit kemaluannya.

    ”Akhh.....ouch...ter...terushhh...ohhhhh” kudengar jeritan lirih keluar dari mulut Yu Darmi saat kusedot tonjolan daging kecil di sela bukit kemaluannya itu. Tubuhnya menggerinjal liar dan berkelojotan dengan perutnya yang sedikit membusung berkejat-kejat. ”Aduhhh....ooohhh...”

    Beberapa saat kemudian tubuhnya terdiam. Napasnya masih kelihatan memburu setelah pendakian singkat tanpa penetrasi yang kulakukan. Ia sudah mencapai puncak pendakiannya di malam itu. Ia menikmati orgasmenya yang pertama di rumahnya sendiri dengan sepengetahuan suaminya. Wajahnya tampak bersinar bahagia meskipun matanya terpejam.

    Aku yang masih menuntut penuntasan segera menempatkan diriku di tengah kedua pahanya yang terbuka lebar. Kuambil sebuah bantal dan kutempatkan di bawah pantatnya sehingga membuat bukit kemaluannya semakin membusung.

    Kucocokkan ujung batang kemaluanku di tengah gundukan bukit kemaluannya yang sudah sangat basah dan licin, dengan kakinya yang tetap menjuntai ke lantai.
    ”Ugh....” napasku tertahan saat batang kemaluanku mulai menerobos jepitan liang kemaluannya yang basah dan hangat.

    Lendir kemaluannya yang sangat pekat menjadikan batang kemaluanku terjepit erat di dalam lubang kemaluannya. Aku jadi teringat saat istriku hamil muda dulu juga rasanya begini. Mungkin ini akibat dari kehamilan Yu Darmi sehingga cairan asmaranya begitu pekat. Nikmat sekali rasanya menyetubuhi wanita hamil!!

    ”Hkkhh...” Yu Darmi seolah tercekik saat ujung kemaluanku menumbuk sesuatu di dalam lubang kemaluannya. Aku pun berdiam diri sejenak menikmati kedutan-kedutan lubang kemaluan Yu Darmi yang panas. Kami terdiam beberapa saat sambil berpelukan.

    ”Ayo...ter..terushh...masss..” bisik Yu Darmi begitu melihatku terdiam dalam pelukannya.
    ”Sebentar Yu...” aku yang ingin menikmati kedutan-kedutan jepitan lubang kemaluan Yu Darmi tetap berdiam diri.

    Yu Darmi yang tampak tak sabar segera menggeser pantatnya ke kanan dan ke kiri. Hal ini membuat batang kemaluanku seperti diremas oleh kehangatan jepitan lubang kemaluan Yu Darmi.

    Aku pun segera mengimbangi gerakan tubuh Yu Darmi. Aku menarik dan mendorong pantatku maju mundur dengan pelan sambil menikmati seluruh sensasi yang ditimbulkan.
    ”Hh.....terushhh..ohhhh...” Yu Darmi terus merintih dan semakin liar menggoyangkan pantatnya.
    Aku pun ikut terbawa arus. Aku mulai mempercepat tusukanku sehingga batang kemaluanku semakin cepat menggesek lubang kemaluannya. Aku merasakan kedutan-kedutan lubang kemaluan Yu Darmi yang semakin cepat.
    ”Ter...terushhh...masshh...mashhh...ooohhhh” Yu Darmi semakin keras melenguh dan semakin liar memutar pantatnya.

    Aku merasakan betapa desakan napsu mulai menjalar ke ujung batang kemaluanku. Aku terus memacu pantatku semakin cepat.

    ”Ughh....ugh....” napasku kian memburu mendekati puncak pendakian yang hampir tercapai.
    ”Ter..rushhhh....ouchhh....” Yu Darmi semakin liar menggerakkan pantatnya dan tangannya mencengkeram punggungku. Tubuhnya berkejat-kejat dan keringatnya pun sudah membasahi tubuhnya.

    ”Aghhh....ter...rushhh...Yuuuuu...” aku pun menggumam dengan keras. Kuhunjamkan batang kemaluanku ke dalam lubang kemaluannya sedalam-dalamnya.

    Crrtt...crttt...crtt... Akhirnya aku tak mampu lagi menahan jebolnya laharku. Aku menumpahkan seluruh carian kenikmatanku ke dalam lubang kemaluan Yu Darmi. Aku terus bergerak menumpahkan seluruh kenikmatanku lalu tubuh kami terdiam. Aku ambruk di atas tubuh Yu Darmi. Kedua tubuh kami sangat basah oleh keringat padahal malam cukup dingin saat itu.

    Tangan Yu Darmi mengelus-elus punggungku dengan mesranya. Napasnya mulai teratur setelah pergumulan keras yang kami lakukan tadi. Wajahku masih menempel ketat di kedua bukit payudaranya sehingga aku dapat mendengar detak jantungnya yang mulai teratur.

    Sedikit demi sedikit batang kemaluanku mulai terdorong keluar dari jepitan lubang kemaluan Yu Darmi.

    ”Ughhh....” kami sama-sama melenguh saat batang kemaluanku yang sudah mulai melemas terlepas dari jepitan kehangatan lubang kemaluan Yu Darmi. Aku pun menjatuhkan tubuhku dan berbaring di samping tubuh telanjang Yu Darmi. Lalu kupeluk tubuhnya dan kucium pipinya dengan mesranya.

    ”Terima kasih Yu....kangenku sudah terobati sekarang” bisikku di telinganya. Tanganku pun mengelus gundukan bukit payudaranya dan turun ke perutnya yang sedikit membusung akibat hamil muda.

    ”Sesuai janjiku tadi...pokoknya apa pun kemauan mas akan aku turuti asal mas puas dan bahagia....pokoknya malam ini aku sepenuhnya jadi milik mas....” bisik Yu Darmi mesra sekali.

    Kami terus berpelukan sampai akhirnya aku terlelap karena kelelahan setelah bertempur satu ronde dengan Yu Darmi tadi. Aku terbangun saat malam mulai berganti menjelang pagi. Kulirik jam dinding yang ada di kamar. Saat itu sudah jam 02.30 menjelang pagi hari.

  9. #8
    Suhu Semprot
    Daftar
    Nov 2011
    Posts
    3.011
    Thanks
    33
    Thanked 1.202 Times in 235 Posts
     THREAD STARTER 
    Pada episode sebelumnya aku diundang ke rumah Kang Sarjo. Aku menjadi tamu agung di rumahnya karena berhasil menghamili istrinya. Aku menikmati pelayanan istimewa yang diberikan suami istri itu. Aku terlelap dalam tidur setelah bergumul dengan Yu Darmi di rumah suaminya sendiri!!! Aku terbangun di dini hari itu dan ......

    Di luar kudengar sayup-sayup masih banyak orang yang ramai bermain judi kecil-kecilan. Biasa di desa kalau ada hajatan pasti selalu diramaikan dengan acara judi kecil-kecilan. Aku tidak bisa ikut bergabung dengan mereka karena aku harus menikmati hadiah istimewa ini dari Kang Sarjo dan Yu Darmi.

    Dengan masih mengantuk aku berjalan gontai ke kamar mandi yang menyatu dengan kamar ini. Hebat..ternyata kamar di rumah Yu Darmi pun dilengkapi dengan air panas otomatis. Aku pun membersihkan diri dengan mandi di bawah kucuran air hangat. Segar sekali rasanya.

    ”Lho kok mandinya pagi-pagi sekali?” Yu Darmi tiba-tiba ikut masuk ke kamar mandi. Tubuhnya masih telanjang bulat dan kelihatan begitu merangsang bagiku. Kontan saja si kecil yang tadinya mengkerut karena kedinginan perlahan-lahan mulai bangun.

    “Nah tuh...si kecil mulai menggeliat lagi rupanya?” bisik Yu Darmi sambil meremas batang kemaluanku yang semakin mengeras dalam genggamannya.
    “Iya nih...soalnya liat ada musuh mendekat ...makanya siap bertarung dia” kataku tak mau kalah. Kuseret tubuh telanjangnya ke bawah kucuran air hangat hingga ia pun ikut mandi.

    Kupeluk tubuh telanjang Yu Darmi dan kucium bibirnya di bawah kucuran air hangat di pagi dini hari itu. Ia pun membalas lumatan bibirku dengan tak kalah ganasnya. Tanganku segera merayap ke bagian tubuhnya yang paling kusuka, pantatnya yang sekal.


    Kami saling meraba dan menggosok tubuh satu sama lain di kamar mandi di bawah kucuran air hangat. Kutarik tubuh Yu Darmi ke depanku dengan punggung yang menempel dadaku. Tanganku yang penuh busa sabun segera meluncur ke bukit payudaranya.
    “Hhh......” Yu Darmi melenguh kenikmatan saat tanganku dengan liar menyabuni kedua bukit payudaranya. Tubuhnya ditekan ke belakang sehingga pantatnya yang bulat menempel ketat batang kemaluanku.

    Hangat sekali rasanya saat batang kemaluanku yang sudah mengeras terjepit di tengah kedua buah pantat Yu Darmi yang sekal. Yu Darmi menggoyangkan pantatnya dengan nakal sehingga batang kemaluanku yang terjepit di tengah bongkahan pantatnya semakin tergerus nikmat. Tanganku pun bergerak turun dari dada ke perutnya yang sedikit membuncit.

    “Ouch....sshhhhh....” Yu Darmi mendesis tertahan saat tanganku yang penuh busa sabun mulai menggosok gundukan bukit kemaluannya. Pantatnya semakin didorong ke belakang menambah tekanan pada batang kemaluanku.

    Tanganku terus bermain-main di gundukan bukit kemaluan Yu Darmi hingga akhirnya tubuhnya menggelinjang hebat. “Akhhh....ter...rushhh maasshhhh” Yu Darmi merintih sambil tubuhnya mengejang.

    Tanganku semakin liar menggosok tonjolan kecil di sela bukit kemaluannya yang sudah sangat licin. Tubuh Yu Darmi terus menggerinjal selama beberapa saat hingga akhirnya tubuhnya tersandar lemas di dadaku seolah tak bertenaga lagi.

    Akhirnya acara saling memandikan usai sudah dengan satu kali orgasme untuk Yu Darmi. Aku yakin pertempuran babak kedua akan segera dimulai. Betapa tidak...tubuh kami sudah segar kembali setelah mandi tadi dan kini batang kemaluanku sudah mengeras lagi sebagai tanda kalau napsu sudah mulai bergelora kembali.

    “Nah sekarang aku akan memenuhi janjiku untuk memuaskan mas...” bisik Yu Darmi setelah kami mengeringkan diri dengan handuk yang memang sudah tersedia.

    Tubuhku segera didorong ke tempat tidur oleh Yu Darmi hingga aku terbaring telentang. Yu Darmi menempatkan dirinya duduk di samping tubuh telanjangku. Tangannya membelai seluruh tubuhku dengan lembut. “Mas diam saja ya...pokoknya mbakyumu akan melayani mas ...”

    Tangan Yu Darmi mulai mengelus dadaku. Wajahnya didekatkan ke wajahku dan ia pun mulai mencium bibirku. Dengan lembut didorongnya lidahnya menyusup ke dalam mulutku dan mulai mendorong lidahku. Aku pun membalas kuluman bibirnya dengan tak kalah gemasnya.

    Setelah puas melumat bibirku, lidah Yu Darmi bergeser turun ke leherku dan mulai menjilatinya. Sementara itu tangan Yu Darmi mulai bergerak turun ke perutku dan sejenak bermain di sana hingga akhirnya turun ke selangkanganku.

    Tangannya mulai meraba dan mengelus batang kemaluanku yang sudah keras sedari tadi. Batang kemaluanku digenggam dengan lembut lalu diremas dan diurutnya dengan lembut.
    ”Ugh...akh...” aku melenguh pelan menahan nikmat. Tanganku mulai bergerak ke arah bukit payudaranya yang menggantung indah. Kuremas kedua bukit payudaranya dengan kedua tanganku.

    Yu Darmi terus melanjutkan eksplorasinya. Inchi demi inchi lidahnya terus bergeser ke bawah hingga bagian bawah perutku. Otot-otot perutku serasa dibetot saat mulut Yu Darmi dengan ganasnya menyedot daerah di bawah pusarku. Tangan Yu Darmi tetap memainkan batang kemaluanku yang sudah sangat keras.

    ”Shh...shh...” aku terus menggumam menikmati layanan prima yang diberikan oleh Yu Darmi.

    Puas dengan bagian bawah perutku, lidah Yu Darmi terus turun ke bawah. Kini lidahnya mulai merayap sepanjang batang kemaluanku. Aku yang kehilangan pegangan segera menarik pantat Yu Darmi ke atas sehingga kini ia merangkak dengan mengangkangi wajahku. Bukit kemaluannya yang terkuak lebar kini sudah didepan wajahku.

    Mulut Yu Darmi sendiri sedang sibuk di bagian bawah tubuhku. Bibirnya yang sedikit tebal sedang sibuk menghisap dan melumat batang kemaluanku. Aku pun tak mau ketinggalan, kutarik pantatnya ke bawah hingga bukit kemaluannya menekan wajahku.

    ”Ohhh....” Yu Darmi sedikit melepaskan kulumannya pada batang kemaluanku saat lidahku menjulur dan mulai menyapu-nyapu celah hangat di bukit kemaluannya.

    Kami terus berkutat saling melumat dan menjilat satu sama lain dengan posisi terbalik. Yu Darmi yang merangkak di atasku menjilati kemaluanku dengan posisi mengangkangi wajahku. Aku yang tadi sudah orgasme jadi lebih tahan lama pada babak berikutnya. Berbeda dengan Yu Darmi. Ia sudah mulai mendesis-desis menahan kenikmatan saat lidahku menggesek-gesek tonjolan kecil di tengah bukit kemaluannya.

    ”Shh...shhh...ohhh...masshhh...ohhhh” ia terus saja mendesis ketika kusedot tonjolan daging itu dengan gemasnya. Tubuhnya mulai berkelojotan dan batang kemaluanku pun terlepas dari kuluman bibirnya.

    ”Ter...russshhh...ohhhh” Yu Darmi mendesis tubuhnya terus berkejat-kejat. Pantatnya semakin ketat menekan wajahku dan digesek-gesekannya bukit kemaluannya semakin cepat ke wajahku. Tangannya mencengkeram kedua pahaku dengan kuatnya dan tubuhnya berkelojotan semakin liar.
    ”Akhhhh.....” akhirnya dengan diiringi lenguhan panjang ia pun melepaskan orgasmenya yang kedua di pagi dinihari itu. Tubuhnya ambruk di atas tubuhku.

    Tubuhnya terkulai seolah tak bertenaga. Kubiarkan ia beristirahat sejenak untuk memulihkan tenaganya. Tanganku tetap mengusap-usap bongkahan pantatnya yang selalu menjadi obsesiku ini. Sesekali tanganku meremas kedua bongkahan pantatnya dengan gemasnya. Tangan Yu Darmi pun tetap memijat dan mengurut batang kemaluanku yang terus berdiri tegak.

    Bukit kemaluannya yang masih di depan wajahku mengeluarkan aroma kewanitaan yang sangat keras setelah ia mencapai orgasmenya. Kulihat celah bukit kemaluannya mengeluarkan semacam cairan kental yang bening yang meleleh keluar. Lalu dengan iseng kutusuk celah hangat di bukit kemaluannya dengan jariku.

    ”Hhehh....” Yu Darmi menggelinjang dan lubang di bukit kemaluan dan anusnya nampak mengedut. ”Nakal juga kamu mas.....awas nanti...” katanya dengan manja.

    ”Sekarang mbakyumu gantian akan memuaskanmu mas...” bisik Yu Darmi manja.

    Ia pun membalikkan posisi tubuhnya. Ia berjongkok dengan kedua lututnya di sebelah kanan dan kiri pinggulku. Kedua pahanya sekarang mengangkangi bagian bawah perutku. Tangannya membimbing batang kemaluanku dan mengarahkannya ke celah di tengah gundukan bukit kemaluannya yang licin dan hangat.

    ”Ough.....” kami melenguh bersamaan saat Yu Darmi menurunkan pantatnya dengan perlahan. Batang kemaluanku mulai menyeruak ke dalam jepitan lubang kemaluan Yu Darmi yang hangat.

    Kami terdiam beberapa saat setelah seluruh batang kemaluanku terjepit erat dalam kehangatan lubang kemaluan Yu Darmi. Mata kami saling berpandangan mesra menikmati sensasi saat-saat menyatunya tubuh kami.

    Kutekan kepala Yu Darmi hingga wajahnya mendekat ke wajahku dan kulumat bibirnya dengan lembut. Yu Darmi pun membalas lumatan bibirku dengan sedikit membuka bibirnya dan membiarkan lidahku menerobos masuk ke mulutnya. Kami terus saling berpagutan mesra selama beberapa saat dengan batang kemaluanku yang masih terjepit erat dalam kehangatan lubang kemaluan Yu Darmi.

    Puas saling memagut, Yu Darmi pun bangkit dan kini posisinya terduduk di atas kemaluanku. Kepalanya terdongak ke atas dengan mata terpejam. Ia pun mulai menggerakkan pantatnya maju mundur seperti sedang naik kuda.

    ”Ohhh....” tanpa sadar Yu Darmi merintih sambil terus memacu gerakan pantatnya semakin cepat. Tanganku pun membantu goyangannya dengan memegang kedua bongkahan pantatnya dan menarik maju mundur seiring dengan gerakan ayunan pantatnya.

    Yu Darmi semakin bersemangat mengayunkan pantatnya maju mundur di atas tubuhku. Hal ini membuat bukit payudaranya berguncang indah. Aku tak tahan melihat guncangan bukit payudara Yu Darmi. Aku pun bangkit dan mengganjal punggungku dengan beberapa bantal sehingga posisiku hampir setengah duduk. Lalu kudekatkan wajahku ke bukit payudara Yu Darmi dan Slurp....Mulutku melumat bukit payudara Yu Darmi dengan ganasnya.

    ”Ouch...shh...shh...” desisan Yu Darmi semakin keras. Gerakan ayunan pantatnya semakin tak beraturan.

    Aku ikut mengimbangi ayunan pantat Yu Darmi yang bergerak maju mundur di atas tubuhku dengan memutar pinggulku dan menekan pantat Yu Darmi agar lebih ketat menekan tulang kemaluanku. Mulutku terus beraksi menyedot puting bukit payudara Yu Darmi yang berguncang indah seirama dengan ayunan pantatnya.

    ”Ter..rushhh...masshhh...oohhhh” kudengar Yu Darmi merintih menahan kenikmatan. Aku pun semakin mempercepat putaran pinggulku hingga tempat tidur tempat kami bergumul seolah-olah berderak menahan beban tubuh kami.

    ”Akhhh.....hhhh” Yu Darmi merintih panjang dan tubuhnya berkejat-kejat. Ia terus berkelojotan selama beberapa saat dan akhirnya terdiam. Tubuhnya ambruk di atas perutku. Napasnya kudengar masih memburu namun kepalanya terkulai di samping kepalaku. Aku sendiri masih asyik melumat puting payudaranya dengan gemas.

    Di bawah sana kurasakan betapa lubang kemaluan Yu Darmi berkedut-kedut menjepit batang kemaluanku yang masih keras karena aku memang belum memperoleh orgasmeku.
    ”Terima kasih mashh...sampeyan sudah memberikan kenikmatan yang luar biasa buat mbakyumu ini” bisik Yu Darmi sambil mengecup pipiku dengan mesra.
    ”Sama-sama mbak...tapi aku masih belum nih....” bisikku
    ”Sabar sayang...biar mbakyumu istirahat sebentar ya....pokoknya mbakyumu akan menuruti semua keinginanmu malam ini...”

    Yu Darmi segera bangkit dari pangkuanku dan menggulingkan tubuhnya ke sampingku. Kini posisinya telentang dengan kedua belah paha yang terbuka lebar menanti gempuranku.

    Aku segera bangkit dan meletakkan sebuah bantal untuk mengganjal pantat Yu Darmi. Dengan adanya bantal itu kini gundukan bukit kemaluan Yu Darmi kelihatan semakin membusung.
    Aku pun segera memposisikan diri di antara kedua paha Yu Darmi yang terbuka lebar. Kuarahkan ujung batang kemaluanku ke tengah gundukan bukit kemaluannya yang masih sangat licin.
    ”Hkkk...hh” napasku tertahan saat ujung batang kemaluanku mulai menerobos liang hangat di celah gundukan bukit kemaluan Yu Darmi.

    Tanpa membuang waktu, aku pun segera mengayunkan pantatku maju mundur dengan posisibersitumpu di kedua lututku. Sedangkan kedua lutut Yu Darmi kuletakkan dikedua siku tanganku.

    Clop...clop...clop....terdengar bunyi raturan setiap kali aku mendorong pantatku. Mungkin ini karena lubang kemaluan Yu Darmi sudah terlalu banyak cairan sehingga keluar bunyi semacam itu. Tapi aku tak peduli. Apa yang kuinginkan hanyalah segera mencapai puncak kenikmatanku. Yu Darmi pun selalu mengimbangi ayunan pantatku dengan memutar pinggulnya.

    Hampir 10 menit aku menusuk lubang kemaluan Yu Darmi dengan posisi itu, namun puncak kenikmatanku belum tercapai juga. Ini mungkin karena tadi aku sudah orgasme sehingga pada permainan kedua titik orgasmeku menjadi lebih lama.

    ”Yu dari belakang ya...” bisikku di telinga Yu Darmi. Aku pun segera mencabut batang kemaluanku dari jepitan lubang kemaluan Yu Darmi.
    Yu Darmi segera berbalik dan posisinya kini setengah merangkak. Di bawah perutnya kuberi dua buah bantal agar pantatnya semakin menungging ke atas.

    Aku segera menempatkan diri di belakang Yu Darmi. Kuarahkan batang kemaluanku ke celah bukit kemaluannya dari arah belakang lalu kudorong dengan pelan.

    Lubang kemaluan Yu Darmi yang sudah sangat licin memudahkan penetrasi yang kulakukan. Aku kembali mengayunkan pantatku maju mundur menggempur lubang kemaluan Yu Darmi dengan berpegangan pada kedua buah pantatnya yang sangat sekal.

    Yu Darmi terus mengimbangi ayunan pantatku dengan memutar pinggulnya. Aku mulai merasakan batang kemaluanku serasa dipilin oleh jepitan lubang kemaluan Yu Darmi yang hangat itu.

    Aku terus menggempur lubang kemaluan Yu Darmi sampai-sampai terdengar bunyi beradunya pantat Yu Darmi dengan tulang kemaluanku dengan suara yang cukup keras Plak...Plak...Plak...

    Kulihat lubang anus Yu Darmi berkedut-kedut setiap kali aku menusuk lubang kemaluannya. Hal ini membuat aku penasaran ingin merasakan jepitan lubang yang satu itu....
    Aku segera mencabut batang kemaluanku dari jepitan lubang kemaluan Yu Darmi. ”Yu....boleh aku pakai lubang yang ini...” bisikku di telinga Yu Darmi sambil mengelus lubang anusnya.

    ”A...aku be..belum pernah mass...”
    ”Kalau belum pernah makanya dicoba ya mbak...” pintaku sedikit membujuk.
    ”Sa..sakit enggak?”
    ”Ya...kayak orang lagi diperawani lah...setelah perawannya hilang enggak sakit lagi kan” jawabku asal-asalan dengan menganalogikan hal yang sama saat bersetubuh pertama kali.
    ”Bo..boleh...asal pelan-pelan yach....”
    Aku segera menyiapkan diri untuk serangan anal penetration ini. Aku berlutut di belakang tubuh Yu Darmi yang masih dalam posisi menungging. Kuolesi batang kemaluanku dengan air ludahku dan kubasahi lubang anus Yu Darmi dengan ludahku pula.

    Setelah kurasa cukup, kucocokkan ujung kepala kemaluanku di lubang anus Yu Darmi yang berkedut-kedut. Kudorong pantatku dengan perlahan-lahan sehingga ujung kepala kemaluanku mulai menerobos lubang anus Yu Darmi.

    ”Ouch.....” Yu Darmi sedikit merintih dan kulihat lubang anusnya berkedut-kedut dan sedikit melesak ke dalam karena tusukan batang kemaluanku. Aku segera menghentikan doronganku dan membiarkan lubang anus Yu Darmi beradaptasi dengan benda asing yang memasukinya.

    Sesaat kemudian kutarik pantatku sehingga batang kemaluanku sedikit keluar dari jepitan otot lubang anus Yu Darmi. Kudorong lagi pantatku hingga batang kemaluanku kembali melesak ke dalam jepitan lubang anus Yu Darmi. Kali ini aku mendorong agak jauh sehingga bertambah dalam batang kemaluanku masuk ke lubang itu. Kutarik dan kudorong pantatku berulang-ulang dengan pelahan sehingga batang kemaluanku semakin dalam melesak dalam jepitan lubang anus Yu Darmi.

    ”Akhhh...sakkhhhitt...ohhh” Yu Darmi mengerang kesakitan saat batang kemaluanku sudah masuk hampir separuhnya. Kuhentikan doronganku sejenak. Setelah ia terbiasa dengan benda asing yang memasuki lubang anusnya, kutarik pelan. Kulihat lubang anus Yu Darmi sedikit monyong keluar saat batang kemaluanku kutarik sedikit. Dan lubang anusnya tampak melesak seiring dengan masuknya batang kemaluanku.

    Yu Darmi terus merintih saat kudorong batang kemaluanku lebih jauh. Untuk mengalihkan perhatiannya dari rasa sakit, kuelus bukit kemaluan Yu Darmi sambil menarik dan mendorong pantatku. Cara ini ternyata manjur. Yu Darmi sudah mulai menikmati elusan tanganku di bukit kemaluannya sehingga rasa sakit di lubang anusnya sedikit teralihkan.

    Aku terus berjuang mendorong dan menarik batang kemaluanku agar terbenam seluruhnya ke dalam lubang anus Yu Darmi. Tanganku tak tinggal diam, kumasukkan jari tengahku ke dalam lubang kemaluan Yu Darmi yang sudah mulai licin kembali.

    Yu Darmi mulai menggoyang pantatnya akibat tusukan jariku di lubang kemaluannya. Hal ini memudahkan bagiku untuk mendorong batang kemaluanku lebih jauh ke dalam lubang anusnya. Aku semakin bersemangat. Kukorek-korek lubang kemaluannya dengan jariku sambil mendorong batang kemaluanku. Dan akhirnya berhasil juga!!

    ”Ugh...” kami sama-sama tercekat saat seluruh batang kemaluanku amblas ke dalam jebitan lubang anus Yu Darmi. Kami sama-sama terdiam selama beberapa saat. Aku merasakan betapa otot-otot lubang anus Yu Darmi berkontraksi seperti meremas dan memijat batang kemaluanku.

    Aku mulai merasakan adanya dorongan yang mulai menggelegak di sepanjang batang kemaluanku yang siap untuk meledak. Kupercepat gesekan jariku di dalam lubang kemaluan Yu Darmi sehingga tubuhnya menggerinjal semakin liar.

    ”Ouchh....ter..rushhh maassshhh” Yu Darmi seperti histeris saat kupercepat gesekan jariku sedangkan batang kemaluanku menancap kokoh di lubang anusnya.

    Tubuh Yu Darmi mulai berkejat-kejat dan lubang anusnya semakin berkedut memijat dan menjepit batang kemaluanku. ”Oohhh....shhh....” rupanya ia sudah memperoleh orgasme untuk yang kesekian kalinya.

    Pantatnya terus diputar yang membuat batang kemaluanku seperti digiling oleh jepitan otot yang hangat dan lembut. Mataku seolah terbeliak menahan kenikmatan yang tiadak tara. Baru kali ini aku merasakan nikmatnya penetrasi lewat lubang anus.

    Yu Darmi semakin gila menggoyang dan memutar pantatnya. Aku pun semakin cepat menggesekkan jariku di dalam lubang kemaluannya. Kami terus berkutat bergumul memburu nafsu yang hampir meledak. Aku sudah tak mampu lagi menahan gejolak yang siap meledak. Tubuhku terasa kejang dan otot-otot perutku serasa ditarik. Perasaanku seperti melayang.

    ”Aarghhhh...” aku menggeram dengan kuat dan tubuhku kejat-kejat saat batang kemaluanku memuntahkan air kenikmatanku ke dalam lubang anus Yu Darmi.

    Crrrt....crrt..crrrt...crrrt...crrt...

    Tubuhku berkejat-kejat selama beberapa saat. Lalu aku pun ambruk di atas punggung Yu Darmi. Lemas sekali rasanya. Tubuhku seolah tak bertenaga. Tubuh kami sudah sangat basah oleh keringat tapi aku tak peduli...aku sudah terlalu lemas.

    ”Terima kasih Yu.... baru kali ini aku merasakan kenikmatan seperti ini” bisikku di telinga Yu Darmi. Kukecup bibirnya dengan penuh kasih sayang.

    ”Ini hadiah ’keperawananku’ buatmu mas....” balas Yu Darmi sambil mengecup bibirku pula.

  10. #9
    Semprot Kecil
    UG - FR

    Daftar
    Jan 2012
    Posts
    82
    Thanks
    0
    Thanked 0 Times in 0 Posts
    Lanjut tuan

  11. #10
    Semprot Baru teloireng's Avatar
    Daftar
    Dec 2010
    Lokasi
    dimana ada meqi bertebaran
    Posts
    48
    Thanks
    55
    Thanked 0 Times in 0 Posts
    ceritanya mengalir alami....lanjutkan....

  12. #11
    Semprot Holic nanaoreo's Avatar
    Daftar
    May 2012
    Posts
    307
    Thanks
    72
    Thanked 24 Times in 2 Posts
    mantap bro ayo sikat

  13. #12
    Pendekar Semprot
    UG - FR
    domped's Avatar
    Daftar
    Nov 2010
    Lokasi
    Aremania City
    Posts
    1.630
    Thanks
    133
    Thanked 158 Times in 5 Posts
    Ayo yu dar
    diputerrrr, di jiladdddd, dimasukinn...!

  14. #13
    Semprot Baru
    Daftar
    Jul 2011
    Posts
    29
    Thanks
    0
    Thanked 0 Times in 0 Posts
    Live Score
    Lanjrotkannnn............ Jgn lama lama gan

Bookmarks

Posting Permissions

  • You may not post new threads
  • You may not post replies
  • You may not post attachments
  • You may not edit your posts
  •  
Agen Bola Online
Jav Toys  Pusat Toys