[CERBUNG] Motor - Halaman 2
VivaWin
Agen bola
Judi Bola Online
agen bola
agen bola  agen bola
Judi Bola Online
agen bola  agen poker dan domino
agen poker dan domino  agen bola
Judi Casino, Agen Bola Sbobet Ibcbet Agen Bola
Agen Bola
agen bola terpercaya
Hentai Toys Agen Bola Online
Agen Bola Online
Agen Bola Online
Agen Bola Online  Agen Bola Online
Agen Bola Online  Agen Bola Online
Agen Bola Online  ding dong 36d live
Agen Bola  Agen Bola
Agen Bola  Agen Bola
Agen Bola  Agen Bola
Agen Bola  Agen Bola

Baca Juga

  1. Customer Service dealer motor
    By Dim_dim in forum Gambar Cewek Indonesia IGO
    Balasan: 53
    Post Terakhir: 18 November 2014, 01:49 AM
  2. Cewek anggota gang motor
    By me_R in forum Gambar Cewek Indonesia IGO
    Balasan: 99
    Post Terakhir: 23 October 2014, 06:58 AM
  3. Kenyot Payudara, Motor Melayang
    By ding in forum Lounge Picture
    Balasan: 52
    Post Terakhir: 15 October 2014, 09:46 PM
  4. [NOT NUDE] SPG motor seksi indonesia
    By wasaka in forum Gambar Asia
    Balasan: 11
    Post Terakhir: 2 July 2014, 03:09 PM
  5. Adu Hebat Naik Motor.
    By Sperma in forum Cerita Lucu
    Balasan: 24
    Post Terakhir: 6 May 2013, 10:02 AM
Halaman 2 dari 8 FirstFirst 1234 ... TerakhirTerakhir
Results 21 to 40 of 142

Thread: Motor

Short link : (test)
Share di Facebook
  1. #21
    Semprot Kecil otakrusak's Avatar
    Daftar
    Nov 2013
    Lokasi
    In your dream
    Posts
    84
    Thanks
    1
    Thanked 8 Times in 2 Posts
     THREAD STARTER 
    Agen Bola Online
    laper dulu ahh

  2. Indo Sniper
  3. #22
    Semprot Kecil otakrusak's Avatar
    Daftar
    Nov 2013
    Lokasi
    In your dream
    Posts
    84
    Thanks
    1
    Thanked 8 Times in 2 Posts
     THREAD STARTER 

    Motor 08 Scoopy 1b

    Motor 08
    Scoopy 1b

    Menyadari Ina mulai terlelap, Bahdin berpikir mencari sasaran lain,
    Perlahan bangkit melepaskan diri dan berdiri. Menyelimuti tubuh indah telanjang itu dengan kain sarung butut.

    Keluar kamar sambil telanjang mendapati Marni, yang baru selesai masak dan sedang merapihkan makanan di pantri.

    “Mbak…pijet dong…tanggung nih…” Sedikit kaget Marni mendapati dihampiri Bahdin yang telanjang bulat, tapi dirinya geli dan senang. Sambil masak memang pikirannya berkecamuk menimbang berbagai kemungkinan yang akan terjadi, disadarinya apa yang terjadi diruang sebelah, tapi kini mendadak lelaki tu datang kepadanya memohon sesuatu.

    Tanpa ragu-ragu digandengnya Bahdin ke ruangdepan, yang diisi oleh set hometheater dan sebuah “sofa pendek berfungsi ganda sebagai tempat tidur. Didorongnya Bahdin untuk duduk. Dengan gemulai dan cepat dilepaskannya bajunya, celana pnajangnya sekaligus celana dalamnya, menyisakan bra yang menutup dadanya.

    “Mbak bingkisannya sih cantik…tapi….belum bisa-apa-apa, jadinya malah kesiksa sendiri nih…”

    Geli Marni mendengarnya, sekaligus senang, dirinya membetulkan posisi duduk Bahdin, ditariknya kaki lelaki itu untuk duduk melonjor, sehinggak kedua lututnya tertekut dengan tapak menumpu dilantai. Ina melangkah mengangkang di atas perut Bahdin, lututnya bertumpu di ujung sofa, dikangkangkannya pahanya lebar-lebar, diarahkannya tongka keras yang terus mengacung itu, kemulut rahimnya, dengan menarik nafas diturunkannya tubuhnya menekan keras. Karena belum ada pelumas, seret, tetapi dalam tiga kali tekanan amblas.

    Beberapa detik dibiasakan kemaluannya menggenggam tongkat itu.

    Sesaat kemudian dimulailah kembali acara memijat sekaligus tarian eksotis Marni, telanjang diatas tubuh Bahdin. Tarian Marni penuh kelembutan, dirinya menggapai kenikmatan dengan menggenggam tiangpancang di kewanitaannya.

    Betapa berbahagia nya Marni, pada puncak pencapaiannya, didapatinya Bahdin juga berhasil sampai juga. Kalau dirinya dari awal betempur belum tentu Marni bisa menuntaskan lelaki itu, tetapi dua kejadian ini dia berhasil menuntaskan setelah sebelumnya Bahdin bertempur dengan wanita lain.

    Berpadunya puncak birahi dua insan merupakan saat-saat tiada tandingannya, bagai pertemuan awan dan hujan. Cukup lama keduanya senyap memadukan jiwaraga mereka, memadukan pasangan jiwa.

    sSs

    “Sebentar mbak” Bahdin masuk kekamar kosong yang menajdi ruang setrika, diambilnya dari lemari dua daster, diserahkannya satu ke Marni, sambil nyengir “Pakaian dinas” Dengan jahil sambil telanjang Bahdin mengumpulkan pakaian Marni dan membawanya kekamar, dia juga kembali ke ruang tamu dikumpulkanya pakaian yang berserakan, dikenakan celana pendek dan kaos butunya sambil mengamankan seluruh pakaian Ina, meletakkan daster satu lagi di tempat tidur dimana gadis itu sedang lelap telanjang kelelahan.

    Marni sedikit banyak mulai memahami kesukaan Bahdin, yaitu wanita yang mengenakan daster, sambil tersenyum geli dikenakannya daster tanpa apapun dibaliknya. Usai memberisihkan diri dikamar masndi, dilanjutkannya kembali pekerjaannya yang tertunda.

    “Masak apa mbak?”

    “Cuma nasi goreng, belanjanya cepet-cepet, nggak bisa beli banyak”
    Dimata Bahdin, wanita yang mengenakan daster terlihat sangat merangsang, berkali kali dengan gairah iseng, Bahdin meraba dan mengusap berbagai tonjolan yang ada dibalik kain tipis daster itu.

    Sedikit banyak, tegangan Marni naik juga berkali-kali disenggol dan diraba.

    “Mas kan belum sarapan, panggil Ina aja, kita sarapan siang”
    Ina yang terlelap kurang dari dua jam, kaget mendapati dirinya yang telanjang dibangunkan lelaki asing.

    “Ina, bangun, diajak makan, pakai ini” Bahdin menyerahkan daster batik sederhana.
    “Baju saya mana mas “

    “Udah..pakai ini aja dulu, yukkk udah ditunggu”

    Sedikit kaku mereka bertiga, makan masakan Marni yang seadanya, Ina dan Marni saling melempar lirikan. Ina malu betul, karena Marni pasti tahu kejadian yang dialaminya.

    Usai makan, mereka bertiga kembali keruang tamu, dimana barusan terjadi pertempuran pertama kali Bahdin dan Ina, merah muka Ina mengingat kejadian tadi.

    Secara sembunyi-sembunyi Bahdin mensyukuri nikmat yang diperolehnya dipagi yang cerah ini, dilayani dua wanita, yang satu ayu dengan segala kelembutannya, yang satu lagi cantik manis dengan kemudaannya, apalagi kedua hanya berbalut daster tipis sederhana tanpa penutup apapun dibaliknya, menerawangkan secara jelas bagian-bagian tubuh penting, seoerti putting susu, lipatan paha, bentuk payudara. Apalagi dengan duduk bersimpuh, daster sebatas lutut, terpaksa kadang harus tertarik keatas menyingkap sedikit kemulusan paha kedua wanita itu.

    Bahdin berinisiatif mengarahkan pembicaraan kesana sini, yang segera mencairkan suasana diantara mereka bertiga.

    “Ina yang penting sudah bisa ikut, saya, tapi saya minta tolong yaa diajarin accounting, daripada harus kursus diluar jam kerja”
    “Beres mbak, sekali lagi terimakasih mbak dan Mas Bahdin”

    “Ina tadi kamu menyinggung tentang karir, walaupun kamu sudah asisten kepala akuntansi gudang, terus terang saja karir dikantor kita kamu masih kecil sekali kemungkinan. Tidak cukup pintar, pendidikan, atau cantik, kamu perlu pendukung kuat. Saya bukan pendukung kuat tapi karena kebetulan dipercaya seorang bos, saya bisa mendukung Marni. Saya utarakan ini sebelum Ina berharap terlalu jauh”

    “Jadi mas nggak bisa mendukung saya juga, bareng mbak Marni” Ina mendesak karena memang kecerdasan diri dengan modal pendidikan tingginya membuat ambisi pribadinya tinggi. Marni sedikit kesal mendengarnya, baru kenal banyak minta.

    “Jelas tidak kuat, yang bisa saya lakukan adalah memperkenalkan Ina kepada atasan yang saya kenal baik, sebagai pendukung lebih tepat nya sebagai mentor” Marni senang mendengar konsistensi dan ketegasan lelaki ini, cintanya melambung ke satu tingkat lagi.

    “Kalau begitu, itulah yang Ina minta tolong”

    Wah, gimana ya saya ngomongnya, untuk menjadi aprentis dari seorang mentor, Ina harus memiliki kejodohan dalam hal tertentu, dikantor kita adalah kepercayaan dan keahlian.

    “Kalau saya ngomong banyak dipercaya boss, karena jabatan saya rendah, banyak ngomong nggak ada pengaruhnya, jadi sering dipercaya”, Bahdin merendahkan diri. Kalau cewe agak sulit masuk kelingkungan atas karena nggak karuan cara kerjanya, rapat sana-rapat sini, keluar kota, antar pulau dan antar negara. Kalo manajer cewe diajak karaoke sambil mabok bagaimana? kalau nonton striptes bagaimana?

    Sedangkan seks lebih merupakan intermeso, pelengkap, refreshing. Banyak hal yang harus Ina latih kembangkan untuk menjadi kualifikasi aprentis. Yang paling gampang meningkatkan adalah urusan seks. Blak-blakan Bahdin mengungkapkan

    Sedikit banyak Ina memahami uraian ini, sekaligus mengkonfirmasi analisanya berbagai kejadian diperusahaan bekerja. Dengan tanpa pikir panjang “Mas kembali Ina minta tolong”

    “Mbak gimana pendapat Mbak? Pikiran Marni tidak terlalu jauh, dirinya barusan senang sekali dengan berkerja sama dg Ina, bisa melayani Bahdin dengan baik. Saling berkerja sama dengan orang sekolahan ditempat kerja yang dangat kompetitif, tentu jauh lebih baik.

    “Mas, bantulah Ina, jangan tanggung-tanggung”

    “Baiklah kalau begitu, mungkin Ina kurang memahami maksud saya, ini pelajaran pertama…”
    “Mbak…urut dong…” Kaget juga Marni mendengarnya, tapi senang saja dirinya langsung merapat, tangannya menelusup mudah ke celana kolor, menjumpai sepasang biji pelir, yang langsung dibelainya dengan mesra, diusap-usapnya, digaruknya pangkal biji terebut. Bahdin membalasnya dengan mengusap-usap dari luar daster kekenyalan sepasang payudara, menimbulkan sengat geli. Dengan cepat tongkat itu mulai mengeras, dan mengeras. Dalam satu sentakan Marni melepaskan daster yang dikenakannya, langsug telanjang bulat dihadapan Bahdin dan Ina. Segera tangannya melucuti kaus dan kolor lelaki itu, mendorongnya berbaring beralaskan bantal.

    Dengan cepat dirinya duduk mengangkangi perut lelaki, mengarahkan dan mendesakkan tubuhnya kebawah, langsung membenamkan tongkat keras tiu tanpa berlama-lama. Dengan lembut dan gemulai Marni mulai menggerakkan pinggulnya secara sistematis, bak menari-nari diatas perut Bahdin, tarian erotis yang kontan membuat matanya merem melek merasakan nikmat. Gerakan erotis Marni semakin bervariatif, kali ini bertambah satu model gerakan. Yang terlihat adalah betapa Marni dengan bergairah menggapai-gaiap kenikmatannya tanpa diatahan-tahan.

    Ina bengong memandanginya, walaupun barusan dirinya lah yang disetubuhi lelaki itu ditempat yang sama, mau tak mau dirinya shok mendapati pemadangan ini’

    Sambil tidur telentang berbantalkan bantal besar “Ini pelajaran pertama tentang seks, Ina harus bisa menemukan kesenangan pasangan, dan lakukanlah. Dalam hal ini saya senang merasakan mbak Marni beroleh kenikmatan, itulah kesenangan saya, Mbak Marni mengetahui hal ini, makanya dia tanpa sungkan-sungan demikian” Ina melihat Marni kian meliuk-liukan tubuhnya terutama karena memperoleh deraan nikmat yang luar biasa.

    Ina masing bengong “ Waduh diajarin kok bengong?, ini saya buka kartu biar cepat”

    Ina menganalisa apa maksud pelajaran ini ‘mencari tahu kesenangan pasangannya’ Kemudian dengan sedikit gamang Ina begeser duduk bersimpuh disamping Bahdin yang sedang berbaring digasak tarian erotis Marni.

    'if you go somewhere, if you will be somebody.... pay attention'

    “Mas…” diraihnya jemari Bahdin yang nganggur diarahkannya menyelusup kebalik dasternya menuju ke payudaranya, meminta susu itu untuk dijarah. Dengan patuh Bahdin segera menggasak bukit kenyal yang ranum itu. Mau tak mau Bahdin tidak lagi bisa bersantai-santai, dihadapannya ada dua wantia yang minta digarap.

    Sejenak merasakan nikmatnya payudaranya digasak Bahdin, dengan gemulai Ina, melepaskan dasternya, semakin merapatkan duduknya bersimpuh, dengan sedikit agresif, wajahnya merangsek maju, mencaricari lidah Bahdin dan melumatnya dalam-dalam. Kali ini ina langsung memulai tarian lidahnya berinisatif memenuhi gelora hatinya.

    Sebelah tangah Bahdin kembali menggasak paydara tadi, yang kontan membuat tubuh gadis telanjang itu terjengkit.

    “Mencermati pelajaran barusan, Ina yang menunduk segera meraih sebelah tangan Bahdin yang masih menganggur dituntunya ke pangkal pahanya, yang tadi diingatnya memberikan sensasi nikmat ynag luar biasa. Ditekannya rasa malu dalam dirinya, dilepaskannya tuntutan birahinya mendesak tangan itu cepat beraksi seperti tadi.

    Jadilah kini tongkat kerasnya dihajar habis-habisan oleh Marni, sedangkan dirinya dipaksa memuaskan dahaga seorang gadis muda, efek pelajaran yang diberikannya.
    Kelihaian Bahdin tidak diragukan lagi, berlama-lama membelai, mengelus dan memijat klit Ina, ditambah, remasan dan pelintiran dipayudara, segera saja menggeleparkan gadis itu.

    Dibelakangnya terdengar Marni yang kini mulai terengah-engah, berjuang menarikan gerakan erotis sembari didera badai kenikmatan, Sekali sekali terdengan desahan nikmatnya.

    Menyadari bahwa Marni tidak malu-malu, Ina memberanikan diri untuk tidak menahan desahan nikmatnya dia wilayah pekanya sedang digasak. “Mashhh…mmmmm…mas..mmm’’ Desahnya terhalang oleh kuluman kuat Bahdin.

    Selang beberapa saat, tubuh Marni mulai menggelepar, mendekati ujung pendakiannhya, demikian pula Ina, klit dan payudaranya digasak jemari lihai menggelorakan gairahnya menuntut pemuasan lebih tinggi. Tapi ohhh. Harus antri “Mashh..oohhh….mashh ohhh…” menghibakan tuntutan pelampiasan, pinggulnya sedari tadi sudah menggelinjang liar, melarikan diri dari serangan ganas jemari Bahdin di klitnya.

    Melihat Ina yang dengan cepat lepas kendali, Bahdin mengambil keputusan, ditahannya pinggul Marni yang sedang dahsyat-dahsyatnya berjuang erotis. Memahami isyarat, Marni melepaskan diri, dengan cepat Bahdin merebahkan tubuh telanjang Ina, berbantalkan bantal besar, dikangkangkannya lebar pahanya, ditempatkan pinggulnya disana. Segera saja kejantananya dimasukkan keliang itu, masih sulit walaupunt tidak sesulit tadi. Tapi hanya separuh

    “Ohhh…’ Ina melepaskan desah kelegaannya’ Dirasakan batang keras kini sudah memenuhi liangnya. Ketika Bahdin menekan lebih keras untuk semakin dalam, kontan Ina menjengkit menahan nyeri sembari tangannya menahan perut Bahdin.

    Menyadari hal ini, dengan santai Bahdin menggasak tubuh indah yang masih muda itu, gerakan maju mundurnya tidak dengan tekanan dalam tapi dalam tempo agak cepat, menggerus-gerus seluruh sisi dalam kewanitaan Ina. Melambungkan kembali Ina kelangit penuh pesona.

    Marni menggigit bibir menahan rasa merapatkan tubuhnya memohon pengertian, dengan patuh dituruti Bahdin, dengan lahap deselomotinya payudara yang sedari tadi terabaikan, dikulumnya dengan hisapan panjang dan dalam, memkasa Marni untuk menggigit bibirnya. Sebelah tangannya meraih bokong telanjaagn wanita itu mendekapnya, sebelah tangannya lagi langsung menghajar klit nya.

    Upaya Bahdin kira-kira seperti setelah nasi matang, tetap menjaga kehangatan nasi di dalam rice cooker, dipertahankannya gairah erotis yang sudah membumbung dalam diri Marni. Sembari pinggulnya dengan santai menghajar berulang-ulang gadis muda yang telentang di bawahnya, melesakkan kejantanannya mengerus berulang-ulan sisi dalam kewanitaan.

    Dalam waktu singkat kembali Ina meledakkan kenikmatannya, tubuhnya melenting kejang menggeliat, tanpa jeda terus digasak kejantanan Bahdin, tanpa rasa iba, gasakan tiang keras itu konstan menjelujuri bolakbalik dengan cepat kewanitaannya walaupun puncak nikmat telah dilalui bermenit-menit, yang meluluhlantakkan jiwa dan raganya, bermenit-menit berlalu, terus menggasak, hingga akhirnya Ina mengibakan permohonan “Mas…suah mas…sudah….mas sudah,,,”

    Dengan patuh Bahdin menuruti pinta Ina, dengan segera mengalihkan sasaran tembaknya. Didorongnya lembut tubuh telnjang Marni, berbaring miring, dikangkangkannya sebelah kakinya lebar-lebar diletakkannya dipanggulnya, sambil berjongkok dengan sebelah kaki dengan cepat ditancapkannya batang kerasnya di liang yang sudah menganga lebar.

    “Mashhhhhhhh....: Marni melenguh panjang terpuaskan kegamangannya sedari tadi klitnya diplintir-plintir, tanpa penuntasan lebih lanjut. “Ayohhh.....mas”

    Tanpa sungkan Bahdin langsung menghajar liang itu dengan ganas, dihujamnya pinggulnya agak cepat dan bertenaga. Kali ini Bahdin menghujam dalam-dalam dengan bebas, tidak seperti di Ina yang hanya setengah dalam. Marni hanya bisa menggelinjang keenakan, tangannya meremasi bantal cinta melampiaskan kenikmatan yang mendera.
    “Nghhh.....nghhhhh...” mendesis sesekali Bahdin mencabut batang kerasnya tapi dengan cepat langsung mencobloskan kembali

    Terpana kini Ina memandang penyiksaan dihadapannya. Berjuang bangkit ditengah deraan lemas tubuhnya, sembari ikut berlutut didekapkannya ketelanjangan dirinya dipunggung Bahdin yang tengah menghajar Marni. Pipinya disandarkan dibahu Bahdin, buahdadanya didesakan rapat dipunggung, sembari mengintip siksa derita yang dialami Marni. Dengan kreatif sebelah tangannya menjangkau kebawah, buah pelir, membelainya lembut.

    Bangga hati Bahdin merasakan hal ini, keperkasaannya kian menjadi
    Bermenit menit dengan telaten batang itu meluluhlantakan Marni, sembari Ina memulihkan lolos tulang tubuhnya.

    “Mashhhhhhh....” Marni Tak lama berselang akhirnya Marni mengejang panjang dipuncak nikmatnya, menjerit lirih, tangannya mencari-cari pegangan hanya mampu mencengkeram keras bantal.

    Setelah kejangan panjang tubuh Marni, Bahdin melepaskan juntaian kaki lemas dari bahunya, tanpa sedikitpun melepaskan batang kerasnya.

    Bahdin merebahkan dirinya menelungkup Marni, pinggulnya menekan lembut pangkal paha Marni yang terpaksa harus terkangkang. Ina secara ekspresif ikut-ikutan menelungkui punggung telanjang Bahdin, menggesekkan bulu hitam pangkal pahanya dibongkahan pantat.
    Kaget juga Bahdin mendapati dirinya ditindih tubuh telanjang gadis cantik, khawatir Marni keberatan menahan beban, kedua sikunya ditumpukan di karpet. Jadilah adegan sosis.

    Entah pengaruh berat badan Ina, terjadilah tekanan kuat batang diliang Marni, memaksanya kembali mendesah, Marni kembali menggelinjang. Sisa orgasmenya belum selesai, terjangkit kembali.

    Tanpa sungkan diulangnya hujamannya, kali ini sulit, karena menanggung beban tubuh Ina. Tapi efeknya sama saja, batang keras itu menggerus dahsyat posisi klit Marni,
    “Ohhhh.....” semakin lolos terasa tubuh Marni, menggelinjang menghindari tekanan dahsyat diliangnya, sia-sia.

    Sekian detik siksaan tak kunjung berakhir, memaksa Marni memohon “Masshhh... sudahjj....masshhh.... sudah...” Bahdin menghentikan hujamannya, mengecup wajah nakal yang mengintip dibahunya.

    “Mmmmm nakal kamu yaa...awasss” ujarnya pada Ina

    Ina cekikian menggulingkan tubuh telanjangnya. Bebas dari dekapan dari atas Bahdin menyergap Ina, meraih dan memeluk tubuh indah yang telanjang.

    “Hmmm anak nakal ....” Lidahnya langsung menyosor leher Ina yang kontan menggelinjangkan diri diserang rasa geli.

    “Ampun mas...geli...” ampun .... geli...” Keduanya sejenak bercengkrama melupakan korban Marni yang tengah terpejam terengah=engah mencari nafas memulihkan tenaga.

    Terasa tanggung setengah memaksa diselipkannya pinggulnya diantara kedua kaki Ina, memaksa gadis itu mengangkang, sembari lidahnya menjilati leher dan kuping Ina. Ina kini menggelinjang semakin kuat diserang rasa geli, setengah manja pura-pura menolak untuk melepaskan diri.

    “Ampun geli...mas Bahdin jahat....sudah .... sudah....” Rasa geli bertubi-tubi tanpa sengaja mengembalikan kuatnya gelinjangan Ina.

    “Ok ... tapi terima hukuman... mau nggak....”
    “Iyya mas...ohhh... gelii... iya...”

    “Itu si adik minta diperhatikan...”
    “Ohh iya mas...” tangan Ina menjangkau kebawah menemukan batang keras, meremasnya

    “Mmmhhh ....” tak berkurang gelitikan lidah Bahdin menjelujuri kuping Ina
    “Mas.... geli.... sudah....dongg”

    “Taruh ditempatnya dong... kasihan kedinginan...” dengan kuat dihisapnya cuping telinga sigadis
    “HHhhhhhhh gelii...iyahhh mashhh ....” dengan wajah memerah disentuhkannya topi batang itu keliang wanitanya”
    “Mhhhhhh ... permisiiiii ...” sembari mengecup bibir, ditekannya pinggulnya mengikuti arahan genggaman keras sigadis.

    “Ngghhhhh.......” Gelinya kontan menjadi nikmat, saat kepala batang yang panas memasuki kwanitaannya.
    “Bersedia dihukum?” Bahdin setengah bercanda
    “Ngggg ... ampun mas...” Kontan lidah Bahdin kembali mengelitiki

    “Ohhh.... “ tak sadar menggelinjang menahan geli . batang keras semakin melesak dalam”
    “Iyahhh.... trima hukuman..hhhh” terasa nikmat pura-pura jual mahal “tapi jangan hukuman kejam ya masss.... hhh”

    “Huhhhh .... sudah nakal, dihukum nawar ....nih.....” Segera Bahdin mulai memompa dengan ritme lambat.

    “Sstttt...hhhhh....sstt....hhhh” Ina mendesah Tiap kali batang keras itu maju mundur menjejali kewanitaannya

    Semakin lama hujaman pinggul Bahdin semakin diperdalam, tapi ketika mencapai tiga perempat Bahdin mencermati Ina mengkerenyit mulai menahan sakit. Dengan disiplin Bahdin menahan kedalaman hujamannya, tapi kini temponya mulai dipercepat.

    Kembali terjadi rintihan-rintaihan. Desahan nikmat seorang gadis dihajar berulang-ulang.
    Marni sudah mulai membuka matanya menonton sambil berbaring lemas. Diperhatikannya hujaman Bahdin pada Ina tidak seganas pada dirinya, otaknya sedikit menganalisa “Hmmmm mungkin karena Bahdin kasihan kepada Ina yang masih muda belia, sehingga harus ditahan-tahan...” Analisa yang lumayan akurasinya.

    Marni Menggeser tubuhnya, tangannya menjangkau batang keras yang tengah santai menghujami kewanitaan Ina.Digenggamnya sekuat tenaga dengan tangan mungilnya.
    Marni Mulai meremas-remas batang yang tak kunjung lelah maju mundur menggasaki.
    Seolah mendapati bemper penahan, kini Bahdin mulai memperkuat tenaga hujamannya, toh Ina tak bakalan terlalu dalam. Dicermatinya desahan-desahan Ina semakin menjadi ditengah hujamannya yang semakin keras.

    Walaupun dihujam keras, tapi karena diganjal tangan mungil yang meremas batangnya, kedalammnya agak terbatas.

    Dirasakannya mulai menjelang puncak, Bahdin mulai buas menghujamkan pinggulnya, semkain cepat dan semakin keras.
    “Stttttttt....shhhhh....aghhh....” tak nyana Ina menjerit agak keras, saat dirinya tak sanggup lagi menahan puncak nikmat, tubuhnya kembali mengejang panjang, ditengah kebuasan batang Bahdin menggasaki dirinya. Tak disadari jemari Marni susah payah menjadi bemper menahan kejamnya batang keras berulang-ulang mencoba menggasak lebih dalam.

    “Ohhhh......” kembali dan kembali Ina melenguh tak kunjung mendapati redanya hujaman dikewanitaaannya, hingga akhirnya kembali lemas.

    Saat itu Bahdin sudah nanar, diujung pendakiannya, tetapi mendapati pasangannya sudah lunglai lemas, semangat hujamannya berkurang. Marni kontan menyadari itu...

    “Sini mas.......” Marni menelentangkan diri telanjangnya mengundang Bahdin. Berbaring berbantalkan bantal cinta yang besar
    Bahdin segera melepas dirinya dari Ina yang tengah lunglai lemas, segera menghampiri dan memasuki tubuh Marni. Yang kontan disambut dengan ciuman panjang dalam dekapan dikepalanya.

    “Ayo mas... yang kerasshhhhhhh” Marni memaksakan diri liangnya akan menyangkak hujaman dahsyat.
    Kontan tanpa sungkan Bahdin kembali menghajar, untunglah kali ini pindah ke liang lain.

    Menahan huaman dahsyat, Marni kuat-kuat mendekap punggung Bahdin. Sembari membisikkan dorongan untuk tidak menahan-nahan.
    “Ayo masss........terushhhh” Marni menarik nafas panjang menahan dahsyatnya hujaman yang kian dalam dan kian cepat.

    Terguncang=guncang tubuh Marni didesak berulang-ulang, tanpa disadari pahanya dikangkangkan sedemikian lebar mengurangi beban derita.

    “Mbakkhhhh.....hkkk..... aku....hkhhhhhhh” diakhir hujaman bertenaga dan bertubi-tubi, akhirnya Bahdin pun meledak, kejang, memuncratkan cairan nikmat diliang rahim Marni. Terasa berdenyut-denyut dan panas di ruang rahimnya.

    Dengan penuh kasih sayang Marni mendekap tubuh lelaki yang kini ambruk menelungkupinya, dibelainya dengan mesra punggung telanjang, ditengah nafas tengah memburu.
    Ketika badai mulai reda, Bahdin menggulingkan tubuhnya berbaring disisi Marni. Ina juga turut merapat, Kedua tubuh wanita telanjang ini saling miring menjepit tubuh lelaki,

    Dalam keheningan ketiganya meresapi momen yang baru saja berlalu.

    Apalagi bagi Ina terasa sebagai pengalaman yang aneh bin ajaib. Angannya kini melambung membayangkan keberhasilan karirnya. Matanya terpejam sembari tersenyum membayangkan dirinya menduduki jabatan manajer.

    Bagi Marni, sangat berbeda, rasa syukur memperoleh nikmat batin dan memberikan layanan maksimal bagi belahan jiwanya.

    Sebaliknya Bahdin mulai merancang strategi apa yang harus diambil memenuhi permintaan gadis cantik yang kini telanjang didekapannya.

    Bersambung ke Motor 09
    Scoopy 2

  4. #23
    Semprot Kecil otakrusak's Avatar
    Daftar
    Nov 2013
    Lokasi
    In your dream
    Posts
    84
    Thanks
    1
    Thanked 8 Times in 2 Posts
     THREAD STARTER 
    haus, minum dolooo

  5. #24
    Semprot Kecil otakrusak's Avatar
    Daftar
    Nov 2013
    Lokasi
    In your dream
    Posts
    84
    Thanks
    1
    Thanked 8 Times in 2 Posts
     THREAD STARTER 

    Motor 09 Scoopy 2a

    Motor 09
    Scoopy 2a


    Ritual baru mingguan terus berulang memantapkan hubungan batin ketiganya. Tak kalah penting saat ketiganya telanjang tergeletak lemas, terjadi diskusi pembelajaran tentang permasalahan dan kecurangan yang terjadi di pabrik dimasa lalu. Didorong keingintahuan Marni dan landasan teori Ina, Bahdin terus diberondong kedua wanita itu dengan berbagai pertanyaan teknis. Jadilah kini Bahdin yang diperbudak kedua wanita ini. Sudah diserap saripatinya, disedot pula ilmu dan pengalamannya.

    Marni dan Ina belajar sangat efektif dengan metode ini, weekend teori dan diselingi kesegaran jasmani, hari wekdays praktek lapangan. Berbeda dengan jaman mahasiswi dulu Ina yang hobi membolos, kali ini maunya minta jam tambahan.

    Sebulan berlalu, ditengah posisi barunya sedikit banyak Marni mendapati tekanan berat, selain akibat membereskan pekerjaan yang berantakan ditinggal Darmawan pendahulunya, kemampuan akademisnya terbatas, pengalamannya yang masih sedikit, manajerialnya minus. Bermodalkan kepribadian tegas, tak malu belajar bertanya, private teacher, dan kelompok belajarnya, mendampinginya menganalisa hal baru dan memutuskan bersama-sama, mengantisipasi beragam kecurangan yang dulu kerap terjadi.

    Hal baru lain, Marni terkaget-kaget mendapati transfer gaji yang baginya jumlahnya tak masuk akal. Tak disangka gaji level manajer admin pabrik mencapai 20juta. Marni sebenarnya belum diberi full gaji, masih 70%, sisanya nanti setelah evaluasi triwulanan.

    Lain halnya dengan Ina, kecerdasannya mendorongnya mempelajari teknik oral sex. Ina menyadari secara sendirian belum mampu membuat Bahdin tuntas tas tas. Melalui learning by googling dipelajarinya teknik hisap, pijatan, peras,pelintir, kocok apakah itu batang, kepala, buah zakar dan perinium.

    Karmin, selaku direktur keuangan, pada awalnya menetapkan Marni sebagai pengganti manajer yang diduga melakukan kecurangan, atas masukan Bahdin, hanya sekedar pengangkatan sementara. Karena CV Marni sangat tidak memadai. Kinerja Marni dipantau secara ketat, tiap hari lewat file online di server perusahaan.

    Karmin tak menyangka Marni kinerjanya tak jelek-jelek amat. Tujuan utama terpenuhi mencegah muncul order permintaan ribuan part dengan data stock yang akurat, karena berhasil mengupdate kartu stock dg data server, selain itu, berkali-kali dirinya dikejutkan oleh catatan dan pembukuan Marni, hasil kerja yang tak jauh berbeda dengan manajer yang sudah berpengalaman. Memang masih banyak perlu dipoles tetapi secara prinsip cukuk memadai, bahkan punya nilai plus : tepat waktu.

    Tak putus heran dipanggilnya Bahdin melalui jalur formal, sekretarisnya ke Manajer admin pabrik yang baru. Keberangkatan Bahdin dari pabrik ke pusat diketahui seluruh staff admin pabrik.

    “Bahdin, hebat juga yach kerjaan manajermu itu” Kamin memaksudkan Marni, pegawai baru yang disodorkan Bahdin. “Kok bisa yaaa?” Sekolahnya kan Cuma D3 tak tamat, lain jurusan, pegawai baru pula”

    “Tenang aja Bos, bodo-bodo begini ane juga tau kebutuhan bos, sekolah pas-pasan tapi karena sering bos ajak ngobrol sedikit banyak ane tau arah perusahaan, apalagi ane orang lapangan”.
    “Tapi nggak mungkinlah Marni bisa begitu canggih, apa rahasianya?”

    “Sebenarnya gini boss, itu kerjaan berdua, Marni dengan Ina, kan keduanya ane yg ngusulin. Ina menang sekolahan, Marni menang karakter, dikombinasi keduanya kompak. Tapi yang paling penting boss: jamin dua ratus persen bisa dipercaya dan loyal. Orang bodoh gampang diajarin, orang loyal susah dicari. Percaya deh, perempuan kagak bakalan macem-macem. Yang penting jangan diomelin. Kalo bos marah, jangan pakai mulut, cubit aja”

    “Oooo gitu tohh, lha kalo nanti tandemnya dipisah bagaimana?”

    “Naaa gini boss, kecurangan yang dulu terjadi kan karena sistem kantor pusat gagal mendeteksi, kecurangan digudang/lapangan dan dipabrik, karena disusun tanpa menyadari kondisi lapangan sudah berubah jauh. Kagak nyambung gituuu, Nah sekarang bos bakalan punya kandidat manajer akuntansi di kantor pusat, tinggal bos bimbing aja. Nggak bisa dibiarin tuh manajer lama membiarkan bobol parah seperti lalu. Percuma gaji gede dia harus .... apa itu istilah boss ... awareness .... antisipatif”

    “Wah ingat juga omongan saya. Hmmm betul juga....bole dee usulmu, yg mana calonnya, Marni atau Ina”
    “Menurut saya sih boss, manajer admin pabrik lebih simple, harus tegas dibanding kantor pusat, jadi lebih baik Ina yg sekolahnya tinggi yg ke pusat. Bos yang bimbing, anaknya penurut dan pintar, anak orang kaya jadi kecil kemungkinan macam-macam. Marni yang galak biarin dilapangan buat marahin ane yang suka ngabur”

    “Oke kalau gitu, dari pada head hunting, hasilnya belum tentu, lebih baik fresh intern sendiri. Pake konsultan job rekrutmen jarang ada yang bermutu, banyakan kutu loncat, belum apa-apa minta fasilitas ini itu, kerjanya belum jelas. Wedew idemu bole juga tuh utk dikembangkan, yaitu bea siswa bagi karyawan berprestasi. Hmm dalam waktu dekat berarti Ina harus diajari corporate culture?

    “Apaan tuuu bosss...”
    “Gitu dee..., mulai minggu depan diskedulkan tentir tiap minggu: wajib buat Ina, Marni kalo memungkinkan saja hadir karena udah pegang posisi, tapi kamu juga.harus dateng, Cape saya ngomong sendiri, kamu yang banyak ngajarin tentang teknis, saya nambahin dikit2 tentang corporate culture err poitik perusahaan gitu dehhh, ntar sambil dengerin tahu sendiri. Konfirmasi dulu orangnya bersedia nggak?, Jangan sampai kalau udah diproses tak mau alasan ini itu”

    Keluar dari ruang, tak lupa mampir ke Stefani cewe cantik galak, penjaga pintu, sekretaris direkstur finance, membisikan "mungkin minggu depan selasa ada meeting, disini, empat lima orang, butuh ini, ini, ini, ini, ini"

    Stefanie sang sekretaris, cuekin saja. karena belum ada instruksi dari bossnya.

    Sepulangnya dari pusat, Bahdin langsung menuju ruangan Marni, yang besar mewah dan ber AC, lengkap dengan sofa utk tamu. Melewati aula besar diantara belasan meja staff, dan empat kubikal untuk aoffcer, yang rata2 wajahnya menunjukkan pertanyaan, ada apa nii pengawas mesin baru pulang setelah dipanggil direktur pusat, siapa lagi yang kena pecat, paasti manajer baru?.

    Walaupun sudah setubuh dan sejiwa di dalam pekerjaan, Bahdin selalu menempatkan diri jadi bawahan yang sopan, menunggu dipersilahkan masuk duduk menunggu.

    Sampai sekarang Marni selalu tergeli-geli, melihat menunggu baru dipersilahkan masuk oleh sekretarisnya, lalau dirinya mempersilahkan Bahdin duduk dihadapannya, tapi demikianlah ajaran Bahdin, agar wibawa Marni menjulang tinggi dimata orang lapangan. Walaupun pintu terbuka pembicaraan dalam ruang Marni tidak terdengar bagi staf lain, selain karena luasnya gedung admin pabrik, juga suara berisik dari luar.

    “Mbak, boss kagum hasil kerja mbak, nggak percaya gitu”
    “Masa sihh... nggak percaya”
    “Yach emang gitu dech selalu nggak percaya kalo dibilangin yang betul, mau taruhan lagi?”

    “Nggak...nggakkk, Marni sudah kapok kalah terus. “Mana buktinya”
    “Tunggu aja, paling diemail” “Saya juga sudah nyodorin Ina ke Pak Karmin, beliau manggut aja”

    “Tunggu bentar .... “ Dipencetnya interkom “Tolong panggilkan Ina tolong keruangan saya dengan membawa laporan part terakhir, ditunggu Pak Kamin besok pagi”

    Panggilan interkom meja sekretaris itu terdengar oleh staf yg lain, yang kontan bersorak dalam hati, asik manajer baru bakalan sibuk lagi berdua Ina, jadi bisa pada pulang lebih cepat. Maklumlah sebulan ini mereka berdua hampir setiap hari berjuang mati-matian memperbaiki kondisi semrawut, dan lembur sampai jauh malam. Sengaja pintu ditutup karena berdiskui masalah peka.

    Dengan anggun Ina memasuki ruangan, menutup pintu dan menguncinya. Dengan gemulai dihampirinya Bahdin, dibelainya tengkuk lelaki itu, ditundukkan wajahnya, dikecupnya lembut bibir Bahdin.

    “Tumben mas datang keruangan”
    “Dik duduk deh... tu ada berita baru”

    “Nggak ahh sini aja, kangen ama mas Bahdin,“ Padahal belum tiga hari lalu digasak, Dengan sengaja Ina mempertontonkan kekenesannya, dipepetkannya pinggangnya kepundak Bahdin, sengaja manja.

    “Emang kamu aja yang kangen” Tak mau kalah Marni bangkit dari duduknya menghampri keduanya, dan ujug-ujug menjatuhkan tubuhnya dipangkuan Bahdin, sembari dirangkulnya wajah Bahdin, dihadiahinya kecupan semera mungkin.

    “Wah... mbak awas kursinya njomplang” Bahdin kaget dimesrai sedemikian rupa oleh dua wanita yang kini kian menjelma semakin ayu. Maklum gaji tinggi memungkinkan penampilan semakin menarik.

    Marni bangkit diseretnya Bahdin ke sofa, Ina pun tersertet ikut, mereka duduk bertiga disofa panjang, Bahdin dijepit rapat.

    “Ayo cerita ulang dan lengkap, sekaligus didepan dik Ina”
    “Iya mas...ada apa? Tanya Ina dengan rasa ingin tahu

    “Lapor, Pak Kamin memuji kerja mbak berdua, Mbak Marni akan didefinitipkan posisinya sebagai manajer administrasi pabrik, silahkan pesan sedan terbaru maks 2000cc, supir kalo perlu. Mbak Ina mulai minggu depan tambahan tugas, tentir khusus oleh Pak Kamin, err. Istilahnya apa tadi... mandataory... lima jam tiap minggu usai jam kerja, selama lima bulan. Mbak Ina yg sarjana ke pusat, Mbak Marni yg galak harus dilapangan, laporan selesai.”

    Terperengah keduanya mendengar kalimat panjang bernada canda ini.
    “Betul mas?” Ujar Ina dengan tak percaya, akhirnya tembus juga masuk ke kantor pusat. Kalau sudah masuk, karier lebih terbuka, dari staff, junior, oficer, senior, asisten, dan Manajer. Denger-denger officer di atas 10 juta.

    “Ya sudah kalo nggak percaya, mau taruhan”
    “Nggak .... percaya kok: keduanya berebut menciumi wajah Bahdin, berlomba-lomba menunjukkan rasa terima kasih

    “Mbak boleh pinjam Mas Bahdin, saya mau cerita ke mama berita ini, kalau Ina ngomong sendiri nggak bakalan dipercaya”

    “Ya udah” Geli Marni melihat kemanjaan Ina.
    “Tapi sekarang ya mbak mumpung masih belum sore, agar mas Bahdin bisa pulang tidak terlalu malam kena macet” Ina sembari mengejapkan matanya dengan manja

    “Waduh... belum diangkat sudah nggak disiplin, bagaimana nanti kalau sudah diangkat?” Marni menggoda.
    “Ah kan tiap hari lembur terus sebulan ini, bolehlah kompensasi sekali ini” Kedua wanita ini berceloteh manja seolah tidak memperdulikan adanya lelaki yang mereka apit.

    “Ayo mas ... antar Ina lapor mama” tanpa ba bi bu Ina bangkit menyeret Bahdin yang tegagap.

    “Eitttt... bentar dulu .....” Tak kalah manjanya Marni bangkit berdiri dan kembali duduk dipangkuan Bahdin. Didekapnya wajah Bahdin, dikulumnya bibirnya dengan mesra “Terima kasih ya mas, hati-hati dijalan bawa anak gadis orang”

    Menggunakan sepeda motor butut keramat, selepas dari area pabrik, kontan Ina mendekap mesra dari belakang, terwujudlah cita-citanya selama ini. Karena motor lumayan cepat tiba dirumah Ina, yang besar didaerah elit Tebet, maklum pensiunan perusahaan perkebunan terkenal.

    “Ma, kenalkan ini mas Bahdin, .....” Panjang lebar Ina menceritakan berita baik kepada mamanya. Karena memang anak mami manja, mamanya tau banyak kegundahan putrinya sekian lama kerja diperusahaan besar tapi mentok karir.

    Tetapi sebulan ini mama dan papaknya sering jemput lembur malam, sampai jam sembilan, yang dilakukan dengan sukacita, karena putrinya pun sangat bersemangat, bercerita prospek karir yang mungkin membaik, lepas dari operator karyawan kontrak masuk ke staf administrasi tetap. Kalau lolos semacam peiode percobaan, akan definitip. Karena dibantu kawannya kawan.

    Setelah cerita berita baik, dan mengenalkan ini mahluk yang membantu, Bu Broto beramah-ramah, ”Terimakasih Nak Bahdin, silahkan ngobrol dulu, barangkali mau menunggu bapaknya Ina pulang, hari ini jadwal golf pulang jam delapan. Bapaknya pasti ingin ketemu, tapi masih lama juga ya pulangnya, seraya memandang masih jam 4, Ibu mau lihat kebun dibelakang”

    Berangkat dari keramahan, Ina memperlihatkan seisi rumah yang besar itu, dan sengaja diniatkan diakhir tur, “Nah ini kamar Ina, .... setengah menyeret masuk, dan mengunci pintu, langsung gadis cantik mendekap Bahdin, melumat bibir dalam kuluman panjang dan bernafsu.

    Tak cukup dengan itu tubuhnya yang memeluk rapat mendorong binal hingga keduanya terjerembab ke kasur empuk. Memang jadi kebiasaan anak manja membantingkan tubuh kekasur, karena kasurnya busa mahal yang super elastis.

    Kaget dan senang Bahdin mendapati dirinya menjadi sasaran binalnya lumatan bibir mungil yang indah. Ditindih tubuh ramping semampai mana mungkin membuat Bahdin keberatan.

    Dengan santai tapi lugas, kedua belah lengannya langsung menyelusup kebalik pinggang celana panjang Ina, bahkan menyelinap ke cd- nya, menyergap ketelanjangan dua bongkahan bokong yang kenyal. Santai saja Bahdin melayani kuluman bernafsu Ina, tapi sebaliknya kedua tangannya dengan kurang ajar meremasi bokong sigadis. Suatu serangan balik yang lebih ganas, mengagetkan sanubari Ina, mau takmau memaksa pingulnya menggelinjang.

    Tak mau kalah Ina meningkatkan lumatannya membekap erat kedua pipi Bahdin, memperagakan kelincahan lidahnya menari-dari menelusuri rongga mulut silaki. Berkali-kali dirinya menggelinjang kegelian, dan mulai merasakan gangguan karet celana yang menjepit keras akibat diselusupi kedua lengan. Tanpa melepaskan ciumannya Ina melepas kaitan kancing celana panjangnya, lepas terasa jepitan karet pinggang celananya. Kian bebas

    Bahdin bergerilya, kian kerap pinggul menggelinjang apalagi sesekali dengan sadis Bahdin membalas kuluman ganas bibir dengan mencucukkan jarinya ke lubang anus.
    Kini pinggul itu menggelinjang teratur mau tak mau mengimbangi arah gusuran jari nakal mencucuki lubang anus dan liang wanitanya. Secara pasti celana panjangnya melorot kepaha, demikian juga cd-nya.

    Sebelah jemari Bahdin mulai dapat menjelajahi sisi dalam kedua paha Ina, seblah tangannya semakin ganas memeras-meras bongkahan daging bergantian. Menjadikan Ina kini seperti ikan lele tubuh bawahnya menggelepar kiri dan kanan, sedangkan tubuh atasnya berkutat melumati bibir dan wajah Bahdin. Nafasnya mulai ngos-ngosan.

    Memancing lebih jauh, tanpa sadar Ina memelorotkan lebih jauh celana dan cd nya sehingga lepas, yang sedari tadi sudah melorot separuh. Menampakan pemandangan anehbokong dan sepasang paha mulus telanjang dengan pakaian atas lengkap dengan kerudung, menelungkup menggelepar diatas tubuh lelaki, akibat diremas-remas tak putus putusnya.

    Membiarkan kenikmatan yang kian mendera, membuat nafas ina kian terengah, hingga akhirnya tak mampu lagi mempertahankan ciuman dahsyatnya. Kini wajahnya hanya mampu mendusel sisi wajah lelaki yang ditindihnya, menggeliatkan tubuhnya berulang-ulang menahan geli nikmat serangan dibongkahan bokongnya..

    Kini Ina tersadar, rencana awalnya tidak demikian “Mass.. tunggu dulu mas....” Dirinya bangkit berjongkok menunggangi paha Bahdin, memegang tangan Bahdin agar menghentikan serangan.

    “Kenapa mbak ...” Menghentikan serangan, tapi tanpa bersedia melepaskan mangsa bongkahan pantat telanjang

    “Nggg Ina mau praktek...diam ya mass” Kedua tangan Ina cepat berjuang melepaskan ikat pinggang dan kaitan kancing celana Bahdin. Saat berupaya memelorotkannya, mau tak mau memaksa Bahdin untuk semakin beringsut ketengah pembaringan dan mengangkat pinggulnya agar gadis itu lebih mudah melorotkan celananya.

    Tanpa berupaya melepaskan penutup tubuh lainnya, Ina langsung tancap gas, tangannya menyergap batang keras yang sudah tegang sedari tadi, digelinjangi pinggul Ina. Kontan Dikulumnya topi baja yang menantang, membuat Bahdin otomatis terkaget-kaget. Sembari mulai mengocok dan menjilati, Ina memperbaiki posisinya bersimpuh lutut terlipat dengan wajah menghadapi menara monas yang menjulang.

    “Kalau nggak enak bilang ya mas, Ina lagi belajar niii...mmmmm” Ina menjelaskan disela praktik nya mengulum batang, Memang ini niatan dikepala Ina sebulan ini, menapak kegiatan ekstrakurikuler mingguan mereka bertiga. Entah mungkin karena masih demikian muda dengan jam terbang seks masih rendah, Ina tergolong paling mudah duluan tumbang dalam tiap pertrungan erotis. Ina mulai browsing teknik sex oral, tapi belum pernah kesampaian praktik teorinya, karena selalu tak berdaya setiap mulai dihajar Bahdin, selain sulit juga memonopoli batang yang cuma satu-satunya.

    Masih belum hilang kaget Bahdin, yang terpana, menelengkan sikunya memandang adiknya dimesrai seorang gadis cantik, separuh bawah tubuhnya telanjang lagi. Dibiarkannya gadis cantik ini berpraktik, ditumpuknya dua bantal mengganjal punggunya membuat posisinya rileks menjadi kelinci percobaan sekaligus menonton adegan sensual. Tangan kirinya membelai-belai penuh kasih sayang kepala yang terbalut jilbab hijau muda, dihiasi asesori kecil menambah kecantikan Ina. Tangan kanannya menjangkau jauh menggapai ketelanjangan bongkahan pinggul telanjang yang terlipat bersimpuh.

    Mulailah Ina mempraktikan teknik menjilat helm baja, memerah batang keras, memijat lembut bola menggantung, menyelomoti dalam-dalam batang itu ketenggorokannya dan melepaskannya dengan menjauhkan wajahnya sembari mengemot kuat. Berganian teratur berulang-ulang.

    “Aduuuu .. jangan digigit” sesekali lepas kontrol selomotannya tergaruk gigi Ina.
    “Mmmmhhhh...maaf mas....slrrrppppp” Praktik Ina mulai lancar

    “Adddddhhh...” kembali Bahdin menjengkit nyeri saat Ina terlalu nafsu memeras gemas bola zakarnya.

    Dalam lima menit pertama beberapa kali, Bahdin terkejang kesakitan, tapi menit berikutnya semakin berkurang. Bangga Bahdin memandangi wajah cantik kini mulai berbintik keringat berlatih praktik kerja memesrai adik kecilnya.

    Bosan menjarah bongkahan pantat, tangan kanan Bahdin mulai merayapi gandulan yang tertutup bra,menyelusup kebawah baju terusan. Tak puas rasanya Bahdin membelai daging yang terbalut bra tebal. Entah Ina merasa nikmat tanggung atau mempermisikan, tanpa sedetikpun melepaskan kemotan batang, kedua tangannya bergerak cepat melepas kaitan bra, yang langsung membebaskan buah dadanya bergantungan.

    Talapak tangan Bahdin mulai menyusup kedalam bra yang kini longgar mengerjai lembut susu yang tergantung, meremas, menggaruk halus, dan memilin puting. Langsung saja membuat tubuh Ina mulai bergetar. Kemotannya sedikit terganggu.

    Terjadi kembali lomba kecil diantara mereka, Ina berlomba menjilat, mengocok, memeras, memijat dan mengemot. Bahdin menggasak lembut kedua susu yang bergelantungan, yang kini mulai menggeliat-geliat. Tangan kiri Bahdin mulai menyerang, kukunya menggaruk dan memijat lembut sepanjang punggung telanjang Ina, berulang-ulang menjelajahi seluruh wilayah yang terjangakunya.

    Bermenit berlalu Ina mulai dirasuki nafsu yang kian membara, kombinasi sekian lama praktik oral sex dan jarahan jemari Bahdin disekujur tubuhnya. Membuat Ina mulai tak kuat mengemot dengan kuat, digantikan desisan lembut tiap kali pentil susunya dipilin kuat. Tak kuat mengemot akibat kehabisan nafas, Ina mulai mengecup pangkal batang yang ditumbuhi bulu hitam tebal, hanya tangannya yang bertahan mengocok dan memijat.

    Tak tahan juga akhirnya Ina didera nikmat berahi, sontak menegakkan tubuh, berdiri dan mengangkangi, dan kemudian jongkok tangannya mengarahkan batang menjulang ke liangnya yang ternyata sudah basah sedari tadi, diturunkan tubuhnya menekan perlahan, menahan nafas menghadapi sensasi kepala tiang mulai menelusup masuk. Ditariknya nafasnya dalam-dalam dan kembali mendorong tubuhnya menekan kebawah.

    Mengamblaskan separuh lebih batang keras. Lemas lunglai dirasakan Ina. Kedua tangannya bertumpu pada dada Bahdin mencegahnya ambruk.

    Penuh kecermatan, Bahdin mengetahui lemasnya Ina. Bertopang tangan, menegakkan punggungnya, dan kini memangku sigadis yang telah terpancang tiang diliangnya. Didekapnya kuat-kuat tubuh mungil, dihadiahinya dengan kecupan mesra berulang-ulang, menumpahkan perasaan sayang sedalam-dalamnya.

    Reses sejenak itu menyempatkan Ina menanggalkan blus dan juga bra yang sudah lepas dari tadi.

    Bahdin mengerti bahasa tubuh Ina, sicantik minta dirinya dihajar keras.

    “Shhh.....” Ina mendesis panjang saat pentil susunya kini dikemot kuat. Tubuhnya menggelinjang saat lengan Bahdin yang memeluk tubuhnya, jemarinya sanggup menjangkau susunya yang lain.

    Perlombaan mulai berubah menadi penyiksaan birahi sepihak, Bahdin semakin lihat mengkombinasikan remasan, pelintiran, garukan pada buah dada indah dengan kemotan kuat dan panjang, terutama dibelahan dada, dipangkal susu dan dipangkal ketiak. Sekali-sekali digigitnya ketiak yang dihiasi bulu halus, ditimpali dengan kemotan kuat pentil susu.

    “Hhhhh....” berulang-ulang Ina melenguh dan mengegelinjangkan badannya, menjadikan tiang keras itu otomatis mengaduk liang kewanitaanya.

    Dengan cepat kini Ina memulai pendakian puncak birahinya, secara naluri pinggulnya menggeliat-geliat menghindar dari nikmat yang mendera, tanpa berdaya melepaskan diri, semakin menggeliat semakin membara. “Ohhh...ohh...ohh....” gerakan pinggulnya kini sudah liar tak terkendali, menyentak-nyentak , memutar menggilas-gilas tiang yang mengganjal.

    Sampai saat ini posisi batang tenggelam separuh lebih inilah yang paling efektif memacu
    Ina, cepat menggapai puncak orgasmenya. Bahdin menyadari betul hal itu, oleh karenanya dirinya sama sekali tidak menghajarkan keatas pinggulnya. Yang ada malah Ina nantinya kesakitan.

    “Masshhhhhh ....” dengan jeritan panjang Ina melepaskan puncak nikmatnya, pinggulnya kejang meresapi berlalunya , didekapnya kuat-kuat kepala Bahdin ke belahan dadanya, mencari pegangan lemas tubuhnya.

    Bahdin tak menyiakan momen yang paling disukainya ini. Direngkuhnya bokong yang membulat, dibopongya, segera direbahkan tubuh langsing semampai, tanpa sedikitpun melepaskan kejantanannya. Ditindihnya tubuh yang lemah, ditumpukan berat badannya kebagian atas tubuh Ina. Tak berdaya kedua kaki Ina terkangkang lebar, terganjal pinggul Bahdin. Langsung saja Bahdin mulai menggasak sisi-sisi liang kewanitaan. Pinggulnya tidak menghujam dalam-dalam, tapi mengorekkan batang keras dengan kuat ke berbagai sisi liang.

    “Oggghhhhh......” tanpa sadar Ina menjeritkan sesuatu dari sanubarinya yang terdalam, didera sensasi baru.

    Bergantian, atas bawah kiri kanan dengan ritme perlahan tapi kuat menekan. Dalam kelunglaiannya Ina kembali menggelepar tak sadar mencoba menghindarkan pangkal pahanya digasak dan digasak, tapi sia-sia. Setiap saat menekan bagian atas liang diarea klitoris, Ina menggelinjang keras, menggeserkan tubuhnya berusaha lepas, tapi didekap Bahdin kaut-kuat.

    Inilah momen terindah Bahdin, selama Bahdin masih bertenaga menggelinjang, terus digasaknya dengan batang kerasnya bertenaga. Hal inilah yang dengan cepat menghabiskan sisa tenaga Ira, hingga pada akhirnya “mashhhh...hhhh....ohh...mashhh... sudah..... sudah....”

    Bila mendengar komando ini tentu saja Bahdin segera mematuhinya. Dan dimulailah ritual berikutnya.

    Dengan sengaja menumpukan berat tubuhnya diatas ketelanjangan Ina. Bahdin mencermati wajah sigadis yang matanya terpejam dengan nafas ternengah-engah. Dikecupinya wajah cantik yang berhiaskan butir-butir keringat, jilatan lidah menggantikan tisu menyeka peluh. Dinikmatinya asin keringat sigadis, berbarengan menikmati kedutan-kedutan halus liang itu memijat kejantanannya.

    Walaupun menahan berat tubuh kerempeng Bahdin, bagi tiap gadis terasa sangat romantis.
    Bermenit-menit berlalu, hingga Ina membuka matanya menerima tatapan mesra Bahdin.

    Tak seperti pacarnya dulu, seusai mengeluarkanlahar panas, pacarnya berbaring telentang entah melamunkan apa. Sebaliknya Ina mendapati Bahdin memuja dirinya lewat pandangan matanya, dengan wajah yang sedemikian rapat. Bobot tubuh menghimpit hangat, belaian dikepalanya, sesekali lidah Bahdin menggelitiki bagian-bagian wajah, dan yang menggemaskan tiang pancang tetap tertanam dibawah sana, memaksa Ina mengangkankan kakinya lebih lebar lagi. Pejal rasanya liangnya dipenuhi batang panas.

    “Mas.. belum?”

    “Nggak usah dipikirin, saya paling suka memesrai seperti barusan tadi” masih tetap membuat Ina heran tak habis pikir, karena diketahuinya umunya lelaki cepat2 tembak dan lupakan.
    “Ina lemas sekali mas, cape nii mas... lepas yaa?”

    Bahdin mengulirkan tubuhnya telentang, setengah telanjang, tuing... sesuatu kini bebas mengacung

    “Mas bobo yuuu....” Dalam kekenesannya Ina yang telanjang bulat, merapatkan tubuhnya menumpangkan pahanya dipaha Bahdin. Memang fisik gadis anak orang kaya tidak setangguh anak kampung, apalagi diruang kamar ber ac, lelah bekerja seharian, dan bertempur erotis.

    Bahdin yang sama sekali tidak ngantuk dan masih segar bugar hanya mampu memiijit lembut paha mulus yang menumpang di kakinya. Sebekah tangannya merangkul leher Ina, menikmati lembutnya ketelanjangan punggung. Mana bisa Bahdin tidur, wong dia khawatir dipergoki, kan ini wilayah yang sama sekali baru baginya, pandangannya menerawang keseluruh isi kamar, cukup luas, mewah dan rapih.

    Sejam lebih berlalu, dipuncak kekhatirannya dipergoki, Bahdin menatap jam dinding jam enam, Dibangunkanya tubuh telanjang yang mendekapnya. Malas-malasan Ina membuka matanya, tersenyum menyadari momen barusan.

    “Ibu mu tidak ...” wajahnya menyiratkan kekhawatiran

    “Tenang mas ...sore gini biasanya mama ngurusin tanaman, hobi berat. Setelah itu mandi, kecapaian tidur sampai papa pulang. , papah pulang driving golf diatas jam delapan apalagi kalau macet”

    “Ngggg mandi yuu mashhh” tanpa malu-malu sigadis telanjang centil menyeret Bahdin kekamar mandi, membuka kemeja dinas pabrik yang sedari tadi masih dikenakan.

    Kamar mandi yang mewah, Ina menyalakan shower air hangat, menarik lengan Bahdin, mendekapnya mesra dibawah pancuran air hangat. “Wah... pengalaman baru niii... sedaaapppp” batin Bahdin. Kontan sikecil bangun dari tidurnya, mengacung tegak, mengganjal panas perut Ina yang mendekap rapat.

    Ina mengambil busa mandi meneteskannya dengan sabun cair, dan mulai sekujur tubuh Bahdin, dan sengaja berlama-lama di batang keras yang sedari tadi sudah meluluhlantakkan dirinya. Ganti Bahdin yang melumuri sabun ketelanjangan Ina, bergeser dari siraman shower. Setelah berlumuran sabun, dengan semangat 45 Bahdin mulai menggosoki seluruh tubuh semampai.

    Pengalaman baru ini sangat berkesan baginya, mandi bersama gadis cantik, dengan shower panas, Gosokan lembutnya berulang-ulang perlahan keseluruh bagian tubuh. Kedua telapaknya giat bekerja sama. Ina pun tak mau kalah menggosok tubuh kerempeng. Tapi hanya sebelah tangan, sebab sebelah tangan yang lain dirangkulkan keleher Bahdin, karena tak tahan sekujur tubuhnya dibaluri sabun oleh tangan kasar. Demikian cerianya Bahdin menemukan mainan baru, tak menyadari yang digosoknya sudah mulai menggelinjang geli.

    Apalagi saat tak diniatkan Bahdin, membalur kedua buah dada yang ranum menantang. Putingnya sudah sedari tadi keras, terusap berkali-kali, Yang menambah parah gelinya Ina adalah efek licinya sabun.

    Mungkin Bahdin sudah lebih sepuluh kali membaluri sekujur tubuh Ina, saking semangatnya, sampai keujung kaki, kepangkal leher, sisi telinga dll, sedangkan Ina belum tuntas. Hingga ketika semakin tak tahan Ina kini memfokuskan gosokannya pada batang keras mengacung

    Sungguh kesalahan fatal, karena kontan menyadarkan Bahdin kondisi gairah gadis telanjang yang dibalurinya sedari tadi. Nafas Ira sudah mendengus, tubuhnya agak lemas merangkulkan tangan dilehernya berpegangan. Bak dikomando Bahdin langsung memfokuskan baluran tapak tanganya di sekujur dada Ina, sebelah tangan yang lain konsentrasi disisi dalam pangkal paha.
    Wowwww terasa bulu hitam disana sudah lembat lengket.

    Terjengkit-jengkit tiap kali tangan kasar Bahdin menggosok paha dalamnya kiri kanan, sedangkan sisi ibu jarinya dengan sengaja ditekankan di pangkal pahanya, menyentuh pusat sensitifitasnya. Baluran berkali –kali di kedua gundukan susu ranum, efeknya berlipatganda dibandingkan remasan konvensional, licinnya sabun memang sangat merangsang. Berganti-ganti badan Ina menggelinjang tiap kali kedua area pekanya disentuh, kian melemaskan dirinya. Kocokan dibatang sudah melemah.

    Bahdin memang cermat, menyadari lemasnya sigadis cantik. Dibalikkannya tubuh Ina didekapnya dari belakang, batangnya yang menjulang, sengaja diselipkan diantara belahan paha Ina.

    :Ohhh...” Ina mendesah lega mendapati batang panas mengganjal mulut rahimnya. Dengan sensual tangan kirinya menjangkau leher Bahdin mencari cari pegangan, sedangkan tangan kanannya kini leluasa menjamah batang mengganjal.

    Kini kedua tangan Bahdin lebih bebas lagi menjarah. Kedua belah tangan itu kini mengusap lembut berkali=kali kekenyalan sepasang payudara ranum yang kencang menantang, ditambah licinnya sabun menyentakkan sanubari Ina terbang keawang-awang. Ketika dirasaknya nafas panas ditelinganya, Ina menolehkan wajahnya kebelakang, yang kontan disergap Bahdin dengan kecupan bibir yang dahsyat. Sebelah tangan Ina yang bergantung keatas dileher membantu mendekapkan wajah Bahdin, tak sanggup dirinya membalas kuluman dirongga mulutnya, karena sedari tadi dirinya sudah terengah-engah.

    Ina tak menyadari sekujur tubuhnya digasak bersamaan, ciuman, message payu dara, dan tongkat keras yang mengganjal panas. Menjelang pendakiannya hanya satu yang dapat dilakukannya sekuat tenaga menautkan sebelah kakinya kekaki yang lain, mencengkeramkan kuat-kuat kedua pangkal pahanya, menghajar batang kurang ajar itu.

    “Shhhhhh.....” sedikit lega dirasakan Ina, tiap kali dirinya menjepitkan kuat=kuat pangkal pahanya. Tapi itu hanya sementara, yang terjadi adalah mulai terpacunya gairah pendakian.

    “Sshhh.....shhh....shhh....shh....” berkali-kali dirinya mendesis, kala pahanya menjepit, keenakan sendiri. Jepitannya kian liar, dengusan nafasnya sudah tak terkendali. Matanya semakin terpejam, wajahnya bergerak liar. Kedua tanganya merangkul leher dibelakannya menguatkan pegangan, memacu ke puncak birahi

    “Mashhh......ohhh.....mashhhh...ohhh...” menjelang puncak, dahaganya kian membara jepitan terkuaatnya mulai tak mampu menajga akselerasi diri Ina menggapai puncak birahi.
    “Mashhh.....masukin...mashhh”. Dengan patuh Bahdin turut komando, Bahdin melangkah separuh membopong Ina, kedinding dekat closet, dibalikannya tubuh lunglai, disenderkan kedinding, diletakkan sebelah tapak kaki Ina ditoilet. Diselipkan tangan kirinya kibawah lutut yang tertekuk. Tanpa ragu pingulnya merapatkan diri, diarahkan rudalnya ketitik sasaran yang terasa lembab membara. Tanpa ba bi bu didesakkan kuat pinggulnya disana, kontan mencobloskan batang keras kedalam liang itu.

    “Ogghhhhh...” Ina mendesah panjang dan lega, kedua lengannya ditautkan erat-erat, terburu nafsu pinggulnya langsung menggeliat-geliat melanjutkan akselerasi pendakian.
    “Nghhh....nghhh.....nghhhh...” mulailah teriakan irih histeris setiap dirinya memacu pingulnya menyentak liar tak terkendali. Memang miskin pengalaman, dalam posisi Ina hanya gerakan binal yang mampu dilakukan Ina.

    Bahkan Bahdin memutuskan tak perlu membantu, hanya sekedar menekan kuat terus menerus, toh sudah cukup Ina menari liar.

    Tak sampai semenit, Kembali Ina menjerit panjang... tiba dipuncak birahinya. Tubuhnya terkejang-kejang lima belas detik, kedua tangannya lunglai memeluk leher, nafasnya ngos-ngosan, mata sayu terpejam.

    Seperti biasa, Bahdin tak menyiakan momen kesukaannya ini, saat tubuh sgadis sedang lemas-lemasnya, Bahdin mulai melakukan serangan. Kedua tanganya mencengkeram bokong indah, pinggulnya menarik mundur dan dengan perlahan ditekannya masuk, dengan sengaja digeruskannya batang kerasnya kesisi atas liang, kontan membuat Ina kembali kejang.

    Ditariknya perlahan, untuk kembali ditekan masuk keras menekan sisi-sisi lkewanitaan Ina. Mungkin dua detik tiap gerakan bertenaga, sangat lambat.

    “Mashhhh ...... ahhhhh.....”Ina kembali mendesah-desah tiap kali liangnya digerus keras, disamping tubuhnya menggelinjang kuat, matanya semakin sayu tertutup rapat.

    Lebih tiga menit Bahdin kembali menyiksa Ina, meluluhlantakan seisa=sia tanaganya. Dirinya lemah bergayut terus menerus digasak kewanitaanya. Hingga akhirnya total lemas, menggelinjangpun tak mampu. Bahdin menyadari hal ini, dan mengentikan aksinya

    Bahdin dengan lembut membopong tubuh langsing, yang memang kedaa lengan Ina sudah terkalung dileher Bahdin, dilumatnya bibir ternganga dihadapanya. Bahdin membopong dan melangkah kebawah shower, membiarkan diguyuri air panas, membasuh busa sabun diskujur tubuh. Terasa Ina sedikit bergerak, Bahdin menurunkan bopongan kaki Ina kelantai, meraih bokongnya dan mendekapkan erat, tanpa lupa menye;opkan batang keras keposisinya yang paling pas, dibelahan pangkal Ina.

    Bahdin membiarkan posisi itu berlama-lama, memberi kesempatan air hangat membasuh bersih sekujur tubuh mereka. Tak ada lagi dipikiran Ina untuk membersihkan sisa sabun, lemas rasanya. Hanya dirasakan lelaki kerempeng mendekap erat dirinya dibawah siraman air hangat. Hmmm momen indah, yang bakalan sulit terlupakan. Lebih lima menit berlalu.

    Selanjutnya Bahdin melepaskan dekapannya menggandeng Ina, menjangkau handuk dan mengelap seluruh tubuh Ina. Terakhir sambil berjongkok, tanpa lupa berlama-lama mengusapkan handuk kepangkal paha sigadis.

    Gantian Ina yang melap, tapi satu bagian sangat mengganggu dirinya, batang itu tetap keras menjulang, sembari disekanya diperhatikannya dengan cermat. Ketika dirasakannya sudah cuku kering, mendadak diselomotinya batang itu. Dikulumnya lembut topi baja, dikocoknya kuat batang keras, sembari tangan kiri memijat bola pelirnya.

    Kembali terulang praktik oral, kaget juga Bahdin mendapati kondisi ini, tapi dibiarkannya Ina berkreasi, tanganya merba-raba kehalusan pipi gadis cantik ini. Rambutnya basah kurang enak dibelai.

    Lima menit berlalu,Ina dalam posisi jongkoknya mengoral Bahdin.Dirasakan posisi jongkok kurang optimal, diseretnya Bahdin kembali ke pembaringan. Praktik oral kembali dilanjutkan, tapi kali ini dari posisi mengamping, wajah Ina duduk setengah berbaring diujung kasur menghadapi acungan batang keras diwajahnya.

    Teknik oral Ina semakin membaik, sekian lama tidak terjadi kesalahan teknis. Sekian lama terasa tenaganya sudah agak pulih. Mengingat kejadian tadi, Ina berkreasi lain, dirinya merangkak menelungkupi tubuh telentang Bahdin, yang segera disambut dengan kecupan bibir penuh mesra. Tapi bukan itu maksud Ina, sedikit dikangkangkanya pahanya membiarkan batang mengacung menyelip disana, Langsung kedua pahanya dijepitkan kuat-kuat.

    “Mmhhh mbak.... ada-ada saja....” sembari menghadiahi dengan kecupan ganas
    Ditengah tenaga yang sudah pulih, kini Ina memulai teknik baru kedua. Kali ini berbeda, karena setiap kali dirinya menjepit sedikit banyak terasa klitnya menggerus batang.
    Kepitan pahanya mulai bervariasi, semakin lama semakin Ina mengecar nikmat tiap kali mengepit.

    Ina mendesah sendiri, mengepit sendiri, memutar, memeras, bahkan mulai mampu mengocok. Bahdin nenyemangatinya dengan meremas bokong binal menggelinjang-gelinjang. Menikmati tariannya.

    Bagi Bahdin dirasakan hal baru, mulai terasa denyut-denyut dibatangnya, tanda dimulai pendakian birahinya.

    Tapi gerakan baru ini belum terbiasa bagi ini, dan cepat melelahkan dirinya, yang kini sudah terengah-engah, kepitannya melemah. Dengan terpaksa tubuhnya melorot lagi, berupaya mencari nafas, menjilati topi baja, yang sedari tadi digasaknya sekuat tenaga. Kedua tangannya kembali mengoral, kali ini minus kempotan karena kehabisan nafas. Ina menyadari kocokannya merasakan denyutan-denyutan keras dibatang kenyal.

    “Mbak...sini...mbak” Cuek saja dengan nakal Ina membiarkan Bahdin
    “Mbakkkkk......” tetap cuek

    “MMhhhh awass... ya....”

    “Hi...hi...hi....” dengan kenes Ina membiarkan tubuhnya dijangkau Bahdin, yang langsung menelantangkan lembut dirnya, dan langsung disergap ditindih, tanda tadeng aling aling membenamkan pinggulnya di antara paha Ina.

    “Ta...baless nich...” setengah kasar Bahdin menghujamkan batangnya diliang itu, amblas cukup dalam

    “Amphhhhh....” tak sanggup ina melanjutkan candanya, pusat kepekaannya kembali dihujam.

    Bahdin menegakkan tubuhnya, menopangkan berat badannya dikdua lengannya yang lurus menupu disisi tubuh ina. Hanya pinggulnya yang rapat mendesak pangkal paha Ina.

    Kembali menyeruak dakian nikmat yang tadi tertunda akibat lelah, langsung saja Ina berpacu kencang, melonjakkan pinggulnya, memutar berulang-ulang.
    Bahdin menimpali dengan tusukan ringan tapi cepat, mengimbangi kebinalan Ina.

    “Masssshh...” Merasakan makin memuncak, Ina menjepitkan kedua kakinya di paha Bahdin Lonjakannya kian liar, hingga

    “Hhhhhhhhhhh.......” dengan dengusan panjang Ina mencapai puncak nikmat.
    Bahdin merapatkan tubuhnya, menaruh berat badannya di pinggangnya, menekan kuat. Dikulumnya kuat bibir terbuka, dengan bertenaga dan kuat dtekan=tekannya kejantanan berkali-kali mengiringi gadisini mengarungi puncak-puncak kenikmatan.

    Ina sudah tak lagi mertanya atau khawatir pasangannya klimaks atau tidak. Selama ini dirinya selalu tandem dengan Marni mulai memahami mahluk aneh ini.
    Hhhh.... Mbak Marni harus segera dipanggil nii..

    bersambung ke

    Motor 10
    Scoopy 2b

  6. #25
    Semprot Kecil otakrusak's Avatar
    Daftar
    Nov 2013
    Lokasi
    In your dream
    Posts
    84
    Thanks
    1
    Thanked 8 Times in 2 Posts
     THREAD STARTER 
    ngerokok dulu ahhh

  7. #26
    Semprot Kecil otakrusak's Avatar
    Daftar
    Nov 2013
    Lokasi
    In your dream
    Posts
    84
    Thanks
    1
    Thanked 8 Times in 2 Posts
     THREAD STARTER 

    Motor Bab 10 Scoopy 2b

    Motor
    Bab 10 Scoopy 2b


    Sesuai permintaan anak Manja, usai jam kantor Marni menyusul dengan taksi, dan nanti bisa pulang bonceng motor Bahdin. Walaupun kerjaan menumpuk, ditinggalkannya, teringat kata Ina, istirahat sejenak, besok dilanjutkan lagi tempurnya. Seperti diduga kena Macet. Diinitpnya argo, angka yang sebulan lalu bakalan bikin dirinya deg-degan. Memang jauh lebih enak boncengan motor butut.

    Ina merencanakan diner keluarga sederhana dadakan, pesan delivery. Merayakan berita baik.

    Marni yang baru pertama kali berkunjung kagum pada besarnya rumah ini, walaupun tua tapi terawat, lebih lagi penghuninya tak sombong. Mama papa Ina langsung mengajak ke meja makan, karena sudah dekat ditunggu.

    Sembari makan, Ina ngoceh tentang berita baru. Papa Mama Ina, sudah paham Marni adalah bos putri mereka, tapi tak habis pikir, kok Kelakuan Ina sama seperti menghadapi kakak sendiri.

    Terlebih lagi sangat heran mengamati sosok lelaki yang penampilannya pas-pasan, pertama kali ini bertemu muka dengan orang yang sudah disebut lama, yang bantu buka jalan. Pak Broto pulang golf dirve, sudah lihat ada motor butut, menduga tamu kolega putrinya.

    Selaku orang yang biasa kehidupan modern, muter di luar negeri, sangat menghargai privacy, tidak bertanya, walaupun penuh tanda tanya. Pak Broto menganalisa hubungan apa anaknya dengan blue collar ini, istilah untuk orang lapangan, tampak dari seragam pabrik. Apakah pacar atau apa? Tak ingin menduga-duga, biarkan saja. Toh nanti terungkap juga.

    Setelah Ina bercerita, dirinya bakalan masuk ke kantor pusat. Pak Broto yang paham urusan birokrasi dan prosedur minta lebih detil perkembangan apa, Ina tak bisa menjawab, menatap Bahdin.

    “Err begini pak, kebijakan perusahaan rekrutmen staf ke jenjang manajer panjang, mulai dari asesmen, test, rekrut, interviu, background riset, dan yg remeh tapi penting selain referensi adalah rekomendasi. Kebetulan tiga bulan lalu Ada kasus yang dirahasiakan menyangkut kolusi antar manajer senior, yang diusut diam-diam, satu persatu, mencegah kerugian lebih besar dan risiko litigasi. Direksi memilih reorganisasi rahasia, tidak melibatkan prosedur normal, terbatas hanya direksi, tak melibatkan personalia. Dan mencoba jalur tak biasa, rekrut didik dari fresh intern, juga dari puluhan ribu buruh. Kebetulan Marni dan Ina ada pada waktu dan tempat yang pas, jadi fit strategi baru direksi. Hal Ini tidak lagi rahasia, saya berani ngomong karena barusan siang tadi, sudah di memokan.”

    “Pak Darmawan yang digantikan Marni diberhentikan sebenarnya alasan bukan seperti yang diumumkan. Itu hal kecil, yang sebenarnya diumpetin, menyangkut nama baik perusahaan, masak udah ISO 9000 bobol, dan juga takut yang lain rekayasa data. Disitulah Marni masuk, cut off rekayasa data kolusi. Sebulan ini dievaluasi, strategi baru dinilai sangat sukes, menyelesaikan masalah tanpa masalah, Cuma kesian aja mereka lembur terus”

    “Khusus Ina, secara kriteria rekrutmen tak masuk, belum pengalaman 10 tahun, rotasi pegang tiga atau empat unit kerja, bahasa asing kurang dll, tapi bos melihat potensi lain, motivasi, teamwork, loyalitas, dan integritas, dan yang utama ada kondisi darurat. Sehingga Ina dan Marni sebagai pilot project wajib belajar ekstra keras – office hours, terlebih Ina yang bakalan banyak hibungan dengan afiliasi luar negeri.

    Ini uniknya pendidikan pegawai biasanya khsusus, diluar jam kerja atau cuti belajar. Sedang dicoba, didalam jam kerja. Khusus Ina akan dimentor langsung direksi lima bulan, tentang corporate culture sekaligus assist untuk reviu kerjaan Pak Lexi.”

    “Ina kandidat accounting kan, kok berat bener syaratnya“ Marni keheranan
    “Betul accounting, ya begitu syaratnya kata boss. Kan bukan saya yang bikin aturan” Bahdin bercanda.

    “Hmmm pantesan susah ke pusat, staff acounting aja gitu ribet kualifikasinya” Ine ngeluh

    “Errrr..... kok staff, siapa yang bilang ?"

    “Lho memang apa mas??” Ina keheranan, sedari tadi sudah senang dirinya jadi staff acounting head office.

    “Kasarnya...Ina shadow-nya Selaku atasan, Pak Karmin ambil alih kerjaan Pak Lexi, yang akan pensiun. Sekarang cek up di LN, sakit mendadak, dan akan pensiun dini tiga bulan. Pak Karmin tak punya waktu urus kerjaannya Pak Lexi. Boss bilang Ina harus bisa mengerjakan diam-diam dibelakang layar, bertindak atas namanya. Prosedur rekrutmen nanti tiga bulan lagi, semu, seolah berjalan normal memancing munculnya tikus yang ngumpet, keliatan dari rekomendasi”

    “Hah....Ina mengerjakan kerjaan Pak Lexi, itu kan Manager Accounting Head Office, dibawah Finance di bawah Pak Karmin” Ina kaget, untuk urusan accounting itu yang paling prestise. Jadi staff di sana sudah bagus, diatasnya oficer, senior, diatasnya lagi asisten , baru manajer.
    “Er... bukan mbak ?”

    “Gimana sih Mas? “ Marni makin bingung
    “Tuu kan susah ngomongnya, Marni menggantikan Darmawan bulan lalu, dianggap berhasil, tadi definitip.
    Ina menggantikan Lexi, sekarang, kalo Ina mau. Tapi definitipnya nanti tiga bulan lagi, kalo diangap berhasil dan kalo udah running dan suasana redam. Nggak ada di SOP, tak melibatkan personalia, rahasia, karena darurat aja.

    Untunglah tak ada lalat, kalau ada, sudah keselek tuh dua cewe cantik.

    “Kamu kan dulu pernah kursus Jepang, Jerman dan Perancis ? saat Papa shortcourse ke sana”
    “Oo iya, udah kaku nih lidah, nantilah Ina perlancar lagi”

    Selaku pensiunan bumn besar jabatan strategis, kecerdasan beliau tak diragukan, tetapi mencermati cerita, walaupun banyak tanda tanya, orang ini jelas tak bisa diremehkan, posisi rendah tapi pegang info stratejik, menguasai masalah dan rekomendasi jitu. Kok motornya butut ??? Itu yang paling bikin heran. Pak Broto membatin, memang benar penampilan tak bisa selalu dijadikan ukuran.

    Tak termimpikan jadi manajer, kok bisa ya? Nggak mungkin. Tapi itu Marni sudah terbukti jadi. Lama Ina terbengong, Pak Broto bertanya hal-hal lain berbincang membandingkan dengan masa dulu aktif.

    Mama Ina senang sekali lihat Putrinya bahagia, sama seperti Pak Broto suaminya, tidak terlalu ngusili urusan putri tunggalnya yang dianggapnya sudah dewasa, sudah mandiri. Dari dulu dia pengennya kost mandiri, tapi dibujuk dan ditahan untuk nemanin. “Sudah Pak, kasihan tamunya dari kerja cape langsung diculik, Ina sudah sana kedepan ajak ngobrol”

    Berbasa-basi Pak Broto beranjak kekamar.

    “Mbak, ajak mas ke kamar saya, kasian tuu...., saya ada yang mau ditanya mama”

    Marni dan Bahdin melangkah keruang depan, selepas dari pandangan penghuni, langsung saja Marni menyeret ke kamar Ina yang arahnya tadi sudah ditunjukk. Geli Bahdin dalam hati. Sebulan ini dua wanita muda ini, kian kompak, kian manja. Kalau sedang bertiga, aneh-anah saja pintanya, saling berlomba minta dimanja.

    “Enak ya naik motor cepat, saya kena macet... cape...pusingg...l” Masuk kekamar, Marni langsung aja mengganggap itu kamarnya sendiri, tempat tidurnya sendiri. Mematikan lampu, sehingga remang, mengandalkan sinar lamun taman dari jalusi jendela.
    Melepas pakaian luarnya, gemulai dipandangan Bahdin, tinggal cd dan bra. Merangkak ketempat tidur merebahkan diri telungkup “...urutin dong masss pegel ....”

    Bahdin sudah tahu keinginannya tentang gaya ini, Lazy Sex. Lembur dikantor, disergap kewajiban mengurus anak, mengurus rumah tangga, Setiap minggu, ada kesempatan Marni meminta ini. Bahdin melangkah ke meja rias, dicarinya sesuatu ... hmmm ada baby oil

    Cepat dirinya menelanjangkan tubuh, dan membalur tangannya dengan baby oil.

    Dihampirinya Marni berbaring lurus menelungkup dengan hanya cd dan bra. Biasanya Bahdin senang sekali berlama-lama mengurut yang artinya juga menikmati kelembutan kulit wanita ayu. Tapi dikamar ini yang terasa rada asing, selain itu waktu menjelang malam, waktu terbatas.

    Apa yang diharap lain didapat, Marni merasakan kaitan branya dilepas, cd nya langsung dipeloroti, manut saja dirinya membantu mengangkat pinggul memudahkan lolos. Surprise, mendadak dirasakannya jilatan di bongkahan bokongnya, menelusuri belahan, dan lekuk pinggul belakang, naik keatas terasa lidah kasar menjelujuri punggung. Pijat kucing

    Kontan geli menyengat menggelinjangkan Marni. Sambil menjilati tangan Bahdin memijat, dengan tangan berbalur baby oil area punggung sumber kepenatan. Lidahnya mencuekkan bagian yang lain, berkonsentrasi diwilayah bawah tubuh Marni. Dari belakang dijjilatinya sisi paha belakang dan dalam, sesekali digigit ringan. Paha Marni merapat, lututnya rapat menekuk kegelian, tak sengaja mengangkat bokongnya. Tanpa menyikan kesempatan tangan kirinya menelusup kebawah perut, menjangkau bibir liang, empat jarinya memegang disana, tangan kadannya memerah sisi dalam pangkal batang paha sambil menyentuh-nyentuh bibir kemaluan.

    Marni mendapatkan sekaligus pijat kebugran dan mandi kucing. Semakin kegelian camour rasa nyaman, Marni semakin mengangkat pinggulnya tinggi, Bahdin sigap meraih bantal mengganjal bawah perut agar pinggul itu tetap tinggi.

    Semakin intens bibir kemaluannya digarap dari atas dan bawah, depan dan belakang. Semakin kurang ajar, sebelah tangan tangan kanan migrasi, jemari Bahdin bergantian menekan bibir kemaluan bawah ke liang anus, menggunakan jari tengah dan jempol.

    Semakin bokong meninggi, semakin pinggul melengkung, ditahan jemari Bahdin dikedua lipatan paha. Beban tubuh atas Marni menumpu di kedua tangan, pipi menempel dikasur, pinggul terangkat tinggi menahan dera geli dan nikmat. Posisi Marni kini hampir seperti menungging. Keasikan menggeliat semakin membubungkan pinggul, mengabaikan bahaya mengancam

    Kembali Bahdin menunjukkan kesabarannya, berkutat hanya disekitar itu, benar-benar memprioritaskan, Liang yang kini sudah basah berlendir. Jemari Marni hanya mampu meremas-remas kasur, menahan gemas dan nikmat yang mendera. Mengacaukan sperei yang tadi susah payah di rapihkan Ina.

    Tanpa sedikitpuan melepaskan korekan jemari dari atas dan bawah, Bahdin setengah berlutut, Tangan kirinya menekan kuat pinggang Marni agar semkin turun, tangan kananya mengarahkan rudal menyentuh liang yang kini cukup terekspose. Sedari tadi liangnya dikorek, Marni tak menyadari kejutan baru, kewanitaannya yang tereskpose menantang dirudal batang yang keras. Sambil berjongkok, Bahdin menempelkan kepala meriamnya di liang yang sudah banjir. Marni akan mendapatkan kejutan menyenangkan, dihajar gaya baru.

    Bahdin langsung menekan kuat, hanya mampu melesakkan topi baja.
    “Aduhhhh....” jerit Marni, campur antara kaget, nyeri dan nikmat, sama sekali tak menyadari bakalan dicoblos secepat ini. Karena sedari tadi memang menikmati kenyamanan di punggung dan kenikmatan siksaan dipusat kepekaannya..

    Bahdin mengerahkan tenaga lagi, sembari sebelah tangan tetap menekan memijat pinggang kebawah, tangan yang lain menahan bokong tak bergerak, amblas sepertiga

    “Ahhhhhh.....” mengeluh, tidak kaget lagi, hanya sedkit nyeri dan cubitan nikmat

    Sekali lagi Bahdin menekan paksa, mengamblaskan lebih separuh “Shhhhh....” Marni melenguh....
    Sejenak Bahdin diam, membiarkan relung kewanitaan Marni, membiasakan diri disumpal batang keras.

    Sedikit lega, tak sadar Marni merentangkan tangannya lebar lebar, seperti orang mau disalib, sia sia mencari cengkraman, selain spreit yang dicengkram. Marni masih tak bisa menggerakan pinggulnya yang dicengkeram Bahdin dengan kuat.

    Perlahan kini Bahdin menarik mundur pinggulnya, hampir lepas sebatas helm, dan dengan perlahan didesakkan kembali masuk kedepan. Berulang-ulang perlahan-lahan, melontarkan Marni yang mendesah-desah kelangit ketujuh. Dengan ritmik pasti semakin ringan Bahdin menghajar liang Marni dari belakang, menghantar Marni yang tak berdaya mencapai klimaksnya.

    Disergap teknik baru penetrasi kilat dari belakang, cepat membuat ibu muda ini KO. Mungkin karena tak ada persiapan, kaget, mungkin juga karena lelah fisik akibat lembur. Marni orgasme dengan cepat, rekor baru. Marni mengedan panjang, tubuhnya kejang. Bahdin menghujam kuat dan dalam, jena sejenak, membiarkan tubuh itu mengejang.

    Setelah kejangnya berkurang, kembali Bahdin memompa kuat bertenaga, tapi ritmenya sangat perlahan, “Hhhhh........hhh......hhh......hhhh......” Bahdin menuntun Marni menjelajahi klimaksnya, dengan hujaman batang keras maju dan mundur. Bahdin mengatur hujaman mengikuti ritme desahan nafas Marni, Tapi semakin lama tenaga desakannya semakin dperbesar, kian mengamblaskan, sehingga akhirnya tiap menghujam mampu mementoki ujung rahim Marni.

    “Mashhh......mashhhh....mashhhh....” Marni merintih-rintih diperlakukan demikian, Bahdin tak membiarkan dirinya beristirahat sejenakpun. Lesakan batangnya mendalam dan kuat menekan berbagai sisi liangnya bergantian. Batang keras itu menghujam perlahan seiring rintihan menggairahkan.

    Entah, sejak kapan Ina sudah kembali masuk ke kamar, temaram. Mendengar Marni merintih-rintih, Ina menghampiri bed yang tentu hapal sekali posisinya. Merapat, kian jelas Marni yang tengkurap agak menungging digasak dari belakang. Hebat terlihat kekasihnya mendesakkan pinggul perlahan seiraman Marni merintih, ohh.... indahnya.

    Seperti anak kecil melihat tetangganya pegang mainan baru, Ina terangsang ikutan, cepat dilepaskan bajunya, telanjang bulat, tergesa memasuki medan pertempuran. Bahdin sudah menyadari kehadiran sosok lain. Sangat senang sambil bekerja keras menghujam berulang-ulang, melirik, mendapatkan sosok lain gemulai meloloskan pakaiannya. Temaram kamar, menyajikan pemandangan eksotis, siloute tubuh ramping bergerak gemulai bak menari.

    Ina dengan nakal meraih kemesraan dengan caranya sendiri. Tanpa mengganggu Marni yang tengah merintih-rintih, mengerahkan semangat tenaga mengarungi puncak kenikmatan berulang-ulang, Ina dengan nakal, tanpa ijin sana-sini, apalagi ijin RT, ikutan menelungkup datas tubuh Bahdin yang sedang goyang pinggul patah-patah.

    “Ughhh..... semprull” kaget Bahdin mendadak diboboti tubuh lain. Untunglah bobot gadis ramping itu sekitar 50kg, bukannya beban, tetapi kesenangan baru. Bokong telanjangnya merasakan Punuk itu sengaja ditekankan, hangat. Terpaksa Bahdin ekstra keras saat mengangkat pinggulnya, karena harus mengangkat pinggul diatasnya. Tetapi yang sangat menyenangkan adalah, mendadak punggungnya dihadiahi hanyatnya daging kenyal menekan, mesra.

    Ina bak memperoleh ayunan, membiarkan dirinya meresap kehangatan sambil terayun-ayun. Mendekapkan sepasang bukit ranum nya yang menggandul, punuknya dibokong, dan pahanya menjepit kuat.

    Semakin cilaka beban ditanggung Marni, hujaman mendadak terasa kian berat, Susah payah disangkakknya hujaman yang tiada berkesudahan menlimpahinya gelombang kenikmatan berturut-turut.

    Ina membiarkan tandemnya habis-habisan menguras tenaga lawan, dirinya bersantai merem-melek. Tapi kian lama cepat birahinya bangkit, kembali bergairah. Merasakan Marni kian tak berdaya, Ina sigap bertindak

    Ina bangkit bersimpuh, dan seperti pahlawan penolong, melepaskan tubuh lelaki yang memperkosa tubuh lunglai ditindihannya, memaksa terlenteng, mengangkang, dan langsung mengamblaskan batang penjahat itu dalam tahanan liang kewanitaanya. Ina mendesah, menggeliatkan tubuh membiasakan kesesakan mendadak, melebarkan rentangan lututnya, mencari posisi yang melegakan, berulang memaksa amblas kian dalam. Tak ubahnya penjahat memberontah dimasukkan ketahanan, batang itupun seolah melawan menolak masuk ke penjara yang sempit dan pengap. Kedua tangannya bertumpu disisi wajah sosok penjahat yang ditindihnya yang siap diberi pelajaran.

    Jadilah Ina menunggangi Bahdin, sedikit membungkuk, payudara nya yang ranum bergantungan indah di wahah Bahdin, indah mempesona.

    Walaupun sebulan ini tiap minggu rutin bertarung, tetap saja kejutan menyesakkan seolah menyerap persediaan nafasnya. Mengatur nafas menarik nafas panjang. Mulailah Ina memacu kuda itu perlahan-lahan. Kalau kuda, pinggul penunggang melunjak karena punggung kuda yang bergerak, ini berbeda, penunggangnya yang muali melonjak lembut perlahan.

    Ina berniat balas menghajar lawannya, yang secara logika kehabisan tenaga, barusan menghabisi tandemnya Marni, sSeperti tarung gulat berpasangan. Tetapi dasar masih muda Ina kurang teori, dengan posisi dirinya diatas menunggang, sama saja membiarkan Bahdin kembali memulihkan tenaga. Seperti moh ali bersandar di ring menyimpan tenaga dipukuli joe frezier.

    Bila saja Ina, telentang mengundang, hampir dipastikan Bahdin segera kelojotan, wong tadi saja sudah mulai terasa batangnya mengkilik-kilik, tapi tak tega melakukan KDRT pada Marni yang sudah gelepar tak sadar.

    Bahdin nyegir dalam hati, sangat dekat menatap wajah geleng kiri geleng kanan, yang meringis menahan rasa dan mata terpejam-pejam, mengerahkan daya menguleg kejantanannya. Dua menit berlalu, Ina mulai mendesah, nafasnya mulai memburu. Mengerahkan tenaga. Bukit ranumnya menggeletar indah

    --
    Bila selama ini melepaskan gairah, telanjang berisisian di ruang tamu Bahdin, beralaskan karpet tua, kini jauh berbeda, dikamar mewah putri pensiunan pejabat bumn.

    Plliow takl
    “Pak Karmin minta konfirmasi kesediaan Ina, lisan saja cukup. Sebelum menjawab coba pikirkan matang
    “Apa mas. “ Ina heran

    “Ingatkan pertama dulu kerumah, saya tanya mau karir atau mau pindah, dan saya hanya bisa kawal satu orang, pelan-pelan saya cari yang bisa ngawal Ina?”
    “Iya...iya ingat”

    “Ya itu, Pak Karmin, karena dia percaya saya orang kecil, pelan-pelan sebulan ini tebar racun, eee umpan”
    “Ooooo...”

    “Nah sebelum jawab, Ina pikir dulu. Mbak jelasin tuh, susah saya ngomongnya”
    Bla...bla...bla... Marni menjelaskan
    “Mas Bahdin bagaimana ?” kini ada faktor baru yang jadi pertimbangan Ina, faktor non teknis, khawatir Bahdin cemburu. Kian tumbuh rasa khusus dalam dirinya.

    “Waduh... wong saya sudah susah payah menembus jalan, kok malah ditanya balik. Kalau saya emoh, kan tinggal saya bilang nggak dapet, selesai, tak usah cari-cari”

    Bingung Ina mengartikan hubungan intimnya dengan Bahdin, demikian juga Marni. Tapi Marni dapat menduga sesuai asumsi bahwa Bahdin memang tak memiliki pamrih. Air mengalir.

    Bahdin menyangka Ina khawatir diekploitasi atau sex harrasment atau diperbudak seks. “ Ina, Pak Karmin itu orang baik, makanya mau ngomong dengan orang kecil. Yang penting jujur. Udah tua anaknya aja seumuran Ina. Level budaya inner circle korporasi memang begitu, udah saya kasih tahu dari awal. Kalo nggak nerima, mending jangan masuk dari awal”

    “Wah pada salah sangka. Tidak mas, Ina tidak masalah dengan Pak Karmin, Ina takut kamu cemburu, lola ! (Bahdin dibilang loading lama). Dik kamu juga jangan salah sangka dengan Bahdin. Kita kan ngantor bareng, Ina masih muda ngejar karir, kalao saya kebutuhan hidup, entah dia kagak jelas, cinta dengan mesin pabrik. Karir yang kamu dahulukan, kita mendukung penuh.” Marni menjelaskan campur meledek.
    “Tul....” Bahdin nyengir

    “Iya deh mas Ina bersedia, dengan segala risikonya”

    “Ingat, setelah Ina masuk, loyalitas kamu letakkan pada Pak Karmin, bukan ke saya, bukan keperusahaan. Sekarang mungkin kamu belum paham, tapi nanti mungkin ada kejadian : maunya Pak Karmin, saya tentang, kamu harus loyal dia.

    Kasarnya: kalo dia suruh kamu palsukan cek ngerugikan perusahaan, turuti saja. Tapi itu contoh ekstrim, dia orang baik pasti cocok dengan orang baik, dia juga loyal keperusahaan jadi kecil kemungkinan curangi perusahaan”

    “Mbak juga, udah nggak boleh lagi naik motor butut. Jaga prestise perusahaan. Cepat dee minta supir ke personalia, atau rekrut sendiri.”
    Bagi marni urusan lain bisa dipelajari, tapi kebiasaan jadi bos, adalah hal tak terbayangkan.

    bersambung ke

    Motor Bab 11
    Skuter Piaggio 1

  8. #27
    Semprot Kecil otakrusak's Avatar
    Daftar
    Nov 2013
    Lokasi
    In your dream
    Posts
    84
    Thanks
    1
    Thanked 8 Times in 2 Posts
     THREAD STARTER 
    untung koneksi lagi kenceng, upload nya gampang

  9. #28
    Semprot Kecil otakrusak's Avatar
    Daftar
    Nov 2013
    Lokasi
    In your dream
    Posts
    84
    Thanks
    1
    Thanked 8 Times in 2 Posts
     THREAD STARTER 

    Motor 11 Skuter Piaggio 1a

    Motor 11
    Skuter Piaggio 1a


    Stefani, sekretaris Direktur Karmin, lulusan Asmi, dipilih jadi sekretaris direksi perusahaan multi nasional karena banyak hal: yang pasti penampilan eksotis, mungkin darah bule campur dayak. Karakter lainnya percaya diri, kepribadian mernarik, serdas dan tanggap, pengalaman dan kinerja baik.

    Diantara tamu bos-nya, Bahdin orang lapangan, termasuk sedikit orang yang bisa menghadap tanpa butuh perjanjian. Berbeda dengan umumnya tamu atau staf yang menghadap yang hampir dipastikan sarat kepentingan, Bahdin hanya datang kalau dipanggil atau ada kondisi darurat, sama sekali tak punya pretensi.

    Stefani selaku sekretaris wajib menaksir dan mengantisipasi kebutuhan bos-nya, itu adalah point utama job sekretaris. Kalau tidak mampu, bakalan di rotasi. Membaca kebutuhan bosnya banyak sulitnya dari mudahnya, apalagi mayoritas urusan rahasia.

    Seringkali Pak Karmin tak menjelaskan cukup detil, karena diuber waktu, padahal jajaran direksi hampir pasti perfeksionis. Kondisi ini tantangan para sekretaris direksi, sehingga diantara mereka berkembang mekanisme gosip tukar menukar informasi, informal lunch.

    Stefani menyukai Bahdin, karena loyalitasnya, usai menghadap, selalu membocorkan tips yang relevan. Stefani loyal pada jabatan direktur, Bahdin loral pada personalnya, sehingga Stefanie rutin dapat bocoran.

    Pada agendanya mendadak masuk email tadi malam, ada jadwal baru: rapat reguler sore after ofice hour, di ruang rapat. Bosnya tak menjelaskan rapat apa, tapi untunglah kemarin Bahdin menjelaskan ini itu, bahkan tips perangkat yang dibutuhkan. Informasi yang kemarin dicuekin. Tapi sepagian ini dirinya mengawasi IT menyiapkan note book untuk tele conference dg pabrik dan menyiapkan bahan company profle, seluruh afiliasi. Mengundang dan mengkonfirmasi kehadiran.

    Inilah yang disebut antisipatif, Stefani mengandalkan informasi dari Bahdin menyapkan dan merancang sarana prasarana kegiatan dadakan bosnya, yang lupa kasih pengarahan.

    Kamis
    Pk 17.20, Bahdin bersama Ina, sudah tiba dihadapan sekretaris Karmin. Bisa tiba ontime dari pabrik, jalanan padat, mengandalkan motor butut sodok sana selip sini. Ina yang baru kedua kali ini naik motor, menindih kecemasannya, dengan menempel ketat dipunggung.

    Ina baru kali pertama masuk ke lantai bagian finance,keluar lift lantai 16, Bagian Finance menyita 4 lantai full, gedung jangkung. Dulu, dua tahun lalu interviu hanya dilantai dua.

    Bahdin memperkenalkan Ina, staff pabrik, yang diminta datang menjelaskan data pabrik. Stefani memperhatikan keduanya, terutama mahluk cantik langsing belia berseragam admin pabrik. Sudah jadi policy masing-masing unit di pabrik ada seragam berlabel unit masing-masing, jadi semua langsung tahu, staf lain berasal dari unit mana.

    “Bahdin, tuh udah gue siapin peralatannya, coba cek ada yang kurang nggak?” Stefine kalau bicara dengannya pakai bahasa gaul, bosan formal terus. Langsung menuju ruang rapat direktur, masuk dari pintu luar. Meja rapat kapasitas 12 orang dilengkapi peralatan presentasi terkini. Note book baru sudah on, dan siap on line dengan pabrik. Ada small window, user pabrik yang siap tele conference. File presentasi di open, tayang di dinding bukan screen tapi 4 tv lcd besar yang integral. Recording standby. Tumpukan profile.’

    “Oh iya mbak, minumnya self service, itu tinggal dipilih sukanya” Stefani ramah pada Ina “Kalau dengan Pak Karmin, jangan sampai beliau suruh lagi, Din lo yang ingatin ya. Memang rapat apaan sich”

    “Ah lo sendiri kan tau, biar bos yang jelasin. Kalau tak dijelasi berarti tak perlu tahu ‘need to know’. Kalo orang yang lain tanya jawab saja rapat rutin, verifikasi data pabrik. Secret gitu loo”

    “Ooo iya, udah siap, biar gue laporan. Bener ni gue nggak perlu standby?”
    “Hah loe dikasih enak kagak mau, ya terserah kalo mo nungguin rapat, malah asik ada yang nyiapin ini itu” “Lo ijin tak bisa lembur, ke dokter kek, kursus kek.., yang penting elo atur makan malam bos apaan, kolo gw sich gampang tinggal nasi goreng dikantin.
    “Tapi...”

    “Neng...neng, kalo sekretaris lembur artinya direksi sedang kerja formal, mancing orang tanya. Kalo lo kagak ada, paling dikira sedang ngelamun jorok”. Stefani cepat menangkap. Segera melapor keruang direktur, dan tak berapa lama Pak Karmin masuk, melalui pintu ruangannya, bukan dari pintu luar, seperti tadi Bahdin masuk.

    “Pak, sudah saya siapkan...bla...bla...bla... makan malam salad sudah dipesan. Mohon maaf saya tak bisa lembur, karena kebetulan ada janji. Ohh iya, Ibu Marni sudah standby via teleconference, ibu bisa memonitor real time rapat bapak. Apakah masih ada yang kurang”

    “Bagus, lebih dari yang saya harapkan, oke silahkan..”

    Sebenarnya sedari kemarin Stefanie ragu omongan Bahdin, tapi dilihatnya Karmin puas, dirinya lega. Bahkan dirinya ijin, dicuekin saja. Sekretaris dilevel direksi, minta ijin adalah tabu. Etikanya selama bos ada sekretaris harus hadir. Bener omongan Bahdin, dirinya diharapkan menghilang, entah alasan apa. Hmm ada apa nii? Naluri intelnya bekerja.

    Pak Karmin sudah menyiapkan silabus sederhana, pointer topik apa saja diharapkan Bahdin celoteh.

    Bahdin mulai celoteh apa saja yang diketahui tentang topik 1, sesekali Karmin menambahi informasi teoritis, latar belakang, macro atau stratejik. Ina mencatat, Marni pantau lewat online. Recording jalan terus. Tak terasa sejam lebih berlalu.

    Selanjutnya Karmin meminta Ina buka folder yang sudah disiapkan, menjelaskan isi beberapa file dan meminta Ina menelusuri sumber data. Setelah itu tinggal pergi, kembali keruangan, membiarkan Ina gelagepan dan Bahdin bengong. Untunglah Ina bisa online diskusi dengan Marni, bekerjasama keduanya melacak sumber data, dan memverifikasi. Makanan yang datang terabaikan, karena serius. Sedangkan Bahdin enak saja tidur di sofa pojok.

    20.30 Pak Karmin masuk, sudah siap akan pulang, melihat Ina akan bangunkan Bahdin “Sstt biarkan saja, orang pabrik kerja tak kenal waktu, jadi harus pandai colong waktu istirahat. Bagaimana reviunya ?”

    Ina menjelaskan, sebagian data ada dari sumber yang sudah terdeteksi, tapi ada sebagian yang belum ketemu.

    “Ok. Ini sesi pertama. Seminggu dua atau tiga kali. Data tadi coba direkonstruksi, tak perlu saya jelaskan lagi pentingnya hal ini agar tidak bocor, sebelum waktunya. Materi dan data nanti masukkan kelaci kunci. Rapihkan ruangan sebelum pergi, Terima kasih, selamat malam” Karmin sengaja tak menjelaskan job Ina, menguji karakter nya, untuk cari tahu.

    Marni seolah hadir, lewat teleconference. “Mbak, dari pabrik naik taksi aja, ketemu di rumah, saya pulang bareng Mas Bahdin, nanti mbak pulang seperti biasa. Mas Bahdin nakal, saya diajak ngebut”

    “Emang dia begitu, maunya didekep terus, kalau nggak jalanya suka aneh aneh, gajlukan lah, polisi tidur lah, rem mendadak”

    Penatnya tak terasa, Ina sangat bersemangat. Sampai detik terakhir pun masih denial, tak percaya. Tapi setelah mentorin langsung oleh direktur, mau tak mau percaya juga. Dengan kecupan panjang dibangunkannya Bahdin.

    Berboncengan motor butut, dari kantor pusat di kawasan Sudirman, meluncur ke Casablanca ke tebet. “Tampaknya kalau reguler seperti ini kasihan Marni, anaknya bakalan terlantar, seminggu dua tiga kali pulang malam, belum lagi lembur rutin urusan pabik”

    “Jadi bagaimana yaa?”
    “Kalau aku sii, kontrak aja apartemen, dekat sini. Selama hari kerja anaknya dibawa kesitu, baby siter. Online kan bisa di apartemen, kalau lembur jarak pulang lebih dekat. Jumat baru pulang kerumah”

    Sampai dirumah, kembali Pak Bu Broto melihat anaknya pulang boncengan motor butut. Ina cerita kejadian barusan, wong anak mami. Sebenarnya dirinya shok lihat anaknya boncengan motor, tapi diberondong kemanjaan putrinya suka cita, Bu Broto ikutan sumringah, tidak jadi ngomel.

    Pak Broto pun yang ramah tamah persilahkan tamu kucel ini masuk nemani ngobrol, kian respek. Obrolan di meja makan kemarin lusa yang terasa ‘to good to be true’. Kini mulai terbukti. Mulai bertanya mahluk apa didepannya ini, jangan jangan motor itu motor bertuah. Pak Broto kesulitan menganalisa menemukan alasan rasional kemuskilan karir anaknya.

    “Mah, Ina mau kontrak apartemen aja,...bla...bla...bla....” menjelaskan skedul ketat mentoring dan workgoup tiga lima bulan dengan Marni yang punya anak balita.

    “Kalau cuma begitu, kenapa tidak disini saja, itu ada paviliun tamu, ruang kerja Bapamu nganggur. Kalau bukan kamu yang pakai siapa lagi?” Bu Broto keberatan, nawar, tapi harga mati. Pak Broto juga senada.

    “Hmmm nanti deh, saya diskusi dulu dengan ybs” Ina mempertimbangkan tawaran orang tuanya.

    Sejam, baru Marni tiba, maklum jauh dari jakarta utara, ke jakarta selatan. Berbasa-basi dengan orang tua Ina. Bu Broto nembak, sebelum Ina sempat kolaborasi dengan Marni.

    “Nak Marni, katanya sudah mulai reguler training dan workshopnya, lembur seminggu tiga kali. Kasihan anaknya, ibunya lembur terus, lebih baik hari kerja di bawa kesini, anggap lah kost, pakai baby sitter, kalau kerja workshop pakai ruang papanya Ina” Marni kaget, ujug2 ada ide demikian. Ina pun geleng-geleng, memang keras kepala dirinya bersumber dari ibunya, Lembut tapi kalau udah punya mau pantang mundur.

    “Bakalan merepotkan sekali tante, apalagi anak-anak pasti heboh, pasti nanti terganggu, belum lagi anak saya lasak, maklum biasa di kampung”

    “Ah yang penting Ina tidak ke apartemen, tetap disini, yang lain menyesuaikan, maaf ya mbak, ibu ngotot, maklum putri satu-satunya kalau tidak ketengokan tiap hari suka was-was”

    “Iya ..iya tante ...” Marni mengiyakan tak ngerti duduk masalahnya, lalu pamit

    Boncengan motor butut. Dibawah pandangan tiga pasang mata dengan pikiran berbeda.
    Bu Broto melirik putri disampingnya, cukup peka, binar mata dan bahasa tubuh anaknya, cinta?. Hal yang sama tertangkap pada diri Marni. Ada apa? tak sanggup menganalisa, insufficient data. Tak berani ambil simpulan.

    Pak Broto yang sebulan lalu rutin jemput putrinya lembur dari kawasan Cilincing, memahami sekali titik kritis karir putrinya dan perjuangan berat yang harus dilakukan. Mulai tebaca strategi yang mereka lakukan, team work. Tapi masih bingung Manajer pabrik perusahaan multinasional boncengan motor butut.

    Sembari didekap saling berbagi hangat, Bahdin menjelaskan rencana Ina. Marni senang saja, bila bisa punya waktu lebih ke anaknya. Bahdin tambah ide, dari pada baby sitter, Ida, iparnya saja, sekaligus ngurus anaknya sendiri. Toh suaminya luar kota terus. Hari kerja ikutan kost, baby sit, berikan gaji standar sembari ngurus anaknya sendiri. Weekend pulang. Ide cemerlang, Anaknya ada teman, dipegang saudara sendiri, pasti terjamin.

    "Kalau begitu Sabtu besok, mulai coba aja, ngetes Bu Broto kerepotan tidak. Nanti saya bilang Rusdi dan Ibu, kalau Ida sih pasti mau"

    “Mbak jangan lupa rekrut supir, kalau saya usul sich yang fasih Inggris. Selama di mobil, mbak wajib nomong inggris, englihs hour. Pasti dee efektif, bakalan cepat jago cas cis cus.”

    “Saya risih semobil ama cowo, apa bisa supirnya cewe?” Maklum biasa naik angkot rame-rame.

    “Wah nggak lazim, tapi dicoba aja. Tempel aja di papan pengumuman, kan banyak yang pasang iklan, dicari cewe, sim a, inggris aktif pasif, walk in nterviu. Tanpa nama, kasih no hp. Ribuan buruh, masa sih nggak ada sodara yang kualifikasi begitu?”

    Sabtu
    Mendadak rumah besar Keluarga Broto yang biasa sepi, mendadak heboh, dua balita Anton dan Fitri berlarian tak bisa dilarang kegiangan menemukan area luas mainan baru. Ida kerepotan membuntuti. Bu Broto segera bangkit naluri keibuannya, terkekeh digangguin ansk kecil. Pak Broto pun enjoy saja menikmati keributan kecil. Menunggu cucu sendiri tak kunjung datang, lumayan ada cucu orang.

    Marni dan Ina setelah menset Ruang Kerja, langsung membahas posisi Lexi, struktur org, job desc, formulir, arus dokumen, kewenangan, rentang kendali dll. Lemburan mulai kali ini kedepan adalah mengkarbit Ina. Hari itu juga diputuskan, besok sore pindahan kecil, agar rencana selama hari kerja di rumah Ina segera terlaksana.

    Sedangkan Bahdin, menggeletak dirumah kecilnya, bebas dari gangguan, menikmati masa bujangnya, tidur sepanjang hari.

    Selasa
    Sesi kedua. Stefani kembali heran, 17.20, didatangi lagi dua orang berseragam pabrik menghadap direktur, bosnya lupa beritahu skedul. Tapi ditahannya rasa heran, langsung mengantar ke ruang rapat agar tak memancing perhatian.

    Stefani bukan tipe sekretaris sok kuasa, usil mau tahu bahkan cenderung simpati. Dia tahu berat perjuangan dipanggil untuk konsul ke pusat. Jarang orang pabrik ke pusat, kalau berturut-turut bakalan memancing pertanyaan, apalagi kalo staf, kalau manajer wajar dipanggil mendadak, itupun pasti wajahnya cemas siap-siap desemprot.

    “Din, ini bakalan reguler?”
    “Heh...hehh..... nggak tau dah...tanya aja boss” Kemarin Stefani sudah coba tanya, tapi dijawab singkat saja, memang direksi tak perlu harus menjelaskan, discreet seorang sekretaris. Tapi sebaliknya sekretaris dituntut inisiatif dan antisipatif. Mungkin silabus akademi sekretaris perlu ditambahkan mata kuliah paranormal.

    “Seberapa reguler per minggu nya? Kalau seminggu dua kali, lebih baik sekali dihotel, banyak hotel yang dekat, biasa dipakai untuk workgroup empat lima orang. Mengurangi perhatian.”

    “Wah bagus tuh, usul aja ke bos, pasti dia suka”
    “Lo aja yang bilang” takut dipersalahkan usulan buruk.
    “Kalo gw bilang bagus biasanya sich boss OK, apa pernah sebaliknya?, ya udah buruan minggat, ditungguin pacar noo.Kayak kemaren, ijin tak bisa lembur, tak usah ajukan alasan” Bahdin, mendorong Stephani dapat credit.

    Stefani, kembali ke mejanya, dan masuk melapor, tamu sudah datang, semua sudah disiapkan. Dan mengusulkan alternatif meeting di Hotel X, untuk berikutnya, itu hotel searah jalur pulang Pak Karmin.

    “Ok diatur saja, yang penting koneksi untuk Ibu Marni. Mereka suruh tunggu saya sebentar on-lne 15 menit, langsung saja mengerjakan. Kamu kalo mau pulang, silahkan” Stefahni berbenah puang dan mampir ke ruang rapat.

    “Silahkan saja dimulai, bapak on line 15 menit. Meeting berikutnya mungkin di Hotel X, nanti saya konfirmasi lagi” Formal menjelaskan kepada keduanya. Terutama Bu Marni yang sudah standby. “Mbak jangan lupa, langsung minumannya self service, tak perlu disuruh lagi, kalau lagi tak ingin munum pura2 saja ambil aqua. Pak Karmin to the point, sekali bicara diharapkan tak perlu mengulang, menuntut tinggi efisiensi” Memberi tips ke mahluk cantik, sinyal positif uluran persahabatan.

    Selanjutnya mengkorek info lebih lanjut, diseretnya Badin ke pojok menjauh dari Ina dan terutama video cam. Bisik-bisik.“Ada apaan sich, gw jangan dibiarin gelap begini dong, kasihan kenapa” Dikalangan staf/manajer belum ada riak, tapi dilevel sekretaris direksi yang wajib bergosip, sudah terdengar gejolak, rotasi manajer dan ngandang.

    Biasanya sekertaris direksi yang sejumlah 6 orang, rotasi antara 18-24 bulan. Kalau dianggap kurang, di off -kan dulu ditaruh di humas agar refresh. Kalau favorif bagi direktur yang bersangkutan akan dipertahankan atas permintaan ybs. Posisi sekretaris adalah elit, karena siapapun yang akan menghadap harus melalui mereka. Para Manajer selalu memanjakan atau memaintain relasi dengan para sekretaris, agar terbantu. Seperti misalnya” call me kalau bos available, bos lagi mood?, bos lagi dimana dengan siapa kapan pulang, surat udah keluar” hal-hal kecil rahasia. Akibatnya sekretaris banyak mempeoleh perhatian, mulai tiket, voucher, discount, oleh2 dll.

    Masuk ngandang, istilah ditaruh di pi ar, public relation, yang mereka anggap grounded, dog house. Untuk kembali ke rotasi, perjuangan berat, keberuntungan, dan harus merapat ke personalia.

    “Kenapa mboo, kok tegang amat, amat aja nggak tegang” Stefanie tinggi ramping, bening diatas artis lokal, singel. Sesuai kualifikasi nya dengan gaji setara dollar, tampak serius, Dilirik Ina dariseberang meja yang memulai reviu data kerjaan Pak Lexi.

    “Kegiatan ini ada hubungan dengan isu heboh? Gw kayaknya bakalan ngandang ni”
    “Ahh masa, emang elu salah apa?” Walaupun orang pabrik, tahu istilah, karena kerap dipanggil Pak Karmin, minimal sebulan sekali, jadi mereka sering ketemu, dan kalo lagi nunggu bos meeting, banyak waktu luang ngobrol, tukar informasi.

    “Nggak salah, Cuma nggak bisa spesial aja dengan boss, standar, jadi bakalan kena rotasi. Gw kan udah dua kali muter, tuu ada tiga kandidat dikandang, bening banget, minimal kan ada gantian. Kalo nggak favour boss, gw bakalan refreshing dulu”

    “Wah mana gw ngerti poliitik internasional, gw kan orang pabrik. Oli dan baut tanya ke gw”

    “Gw ikutan dung, lo lagi ngerjain apaan sii, kok penting bener, sampe demikian secret?, rutin lagi. Stefani memanfaatkan waktu, bossnya lagi on-line mendesak terus, mancing info. Kalo dilihat oang luar bakalan heboh, cewe cantik penampilan ekslusif memepet buruh pabrik, kedinding.

    “Ah itu wewenang bos” Walaupun sekolah ngepas, lingkungan bawah, Bahdin tetap tidak sok tahu pamer info yang bukan kewenangannya, discreet atawa jaga mulut. Inilah salah satu hal yang membuat level direktur bebas ngobrol atau diskusi bahkan minta saran dengannya. Sudah digepe cewe cantik masih tahan harga. Kalo lelaki lain bakalan udah crot dari tadi.

    “Ah lo nggak kesian, percuma kita udah kenal lama” Padahal selama ini, Stefani yang banyak dapat bocoran atau manfaat dari Bahdin.

    “Bukan neng, lo tau sendiri, urusan begini Cuma boss yang bisa buka. Gua buka sebatas urusan gw”

    “Ssttt....udah satu setengah tahun ini gue seilidiki ... maunya boss, nggg...udah gw pancing nggak ngaruh ...” Ina melirik, kekasihnya dibisiki, wuiii, cemburu campur bangga, panas campur ingin tahu. Bahdin yang dekil dibutuhkan cewe penting cantik bener.

    “Hah elu sekretaris emang suka aneh2, tiap orang kan beda. Direktur yang lain mungkin ada, tapi boss mungkin beda”

    “Nahhhh tu dia, elu berati tau mau nya boss, ayoo...” merasa akrab Stefani mencubit, terus gepe, tak lepas dari lirikan Ina.

    “Ya...ya.. kapan-kapan kita ngobrol tentang itu"

    Kamis
    Sesi ketiga, di hotel X,

    17.20 Bahdin, Marni dan Ina sudah standby di loby. Dari pabrik rebutan siapa yang digonceng, akhirnya sepakat naik taksi. Diintipin supir taksi, orang kucel diapit mesra dua mahluk cantik. Untung aja kaca spion nggak lihat sampai bawah. Tuh tangan pada kemana-mana.

    Stefani datang hampir berbarengan, padahal yang seharusnya datang adalah Pak Karmin.

    “Bu Marni, mari bu ...” Stefani usai dari loby cek-in mengikuti roomboy yang membawakan peralatan. “Bapak bilang nanti menyusul, maksimal sejam, mendadak ada telp. Ini materi tambahan dari Bapak”

    Dikamar suite deluxe, ada loby, kamar kerja, kamar tidur. Cocok dipakai lembur tim kecil. Ina dan Stefani rebutan mengeset peralatan. Maklum ada Ibu manajer.

    “Kalau Ibu ingin refreshing sudah di book kamar sebelah, makan tinggal pesan di room service, bill diteken saja, nanti saya yang urus, masih ada lagi Bu,... kalau tidak ada saya tunggu di depan tunggu Bapak. Apakah masih ada lagi?” Simpel dan baik, persiapan sekretaris pro.

    Stefani masih menebak-nebak sosok Marni manajer baru yang pendiam kharisma berwibawa, isunya adalah anak tiri owner bule. Ditaruh gara2 ada masalah kronis di pabrik. Menyenangkan melihat mahluk sebangsa minoritas perempuan bisa pegang posisi penting di tempat yang didominasi lelaki. Apalagi penampilan seragam pabrik demikian kreatif sangat modis tapi tidak norak. Kalau penampilan ini ke kantor bakalan jadi bahan omongan, karena orang dengan seragam pabrik bahan ledekan orang pusat.

    Sebulan lebih pegang manajer admin pabrik, keayuan Marni kian berkilau. Aura wibawanya meningkat drastis dibawah bimbingan Ina. Walaupun bahan seragam pabrik, tapi model dan jahitannya disainer papan atas. Bila selama ini manajer pria, seragam dan jahitan standar, selaku manajer wanita, kreasinya beda, penampilan adalah urusan nomor satu. Sepenuhnya ulah Ina, yang senang bisa otorisasi panggil disainer ke kantor pabrik, atas beban kantor. Marni manut saja jadi boneka barbie, dijadikan kelinci percobaan anak gedongan.

    Kalau Bahdin memberi tips, silence is golden. Bukannya sok bjiak tapi, agar kalau bodo, tidak cepat ketahuan.

    Karena memang kerja, Marni dan Ina langsung berkutat dengan data dan laporan, terutama berkas baru bawaan Setfani. Sedangkan Bahdin terpaksa nunggu boss, nemani Stefani di loby kamar.

    “Gw sebenarnya ingin bantu, tapi nggak diajak dan tak tahu apa masalah”
    “Tentang itu, urusan boss”

    “Tapi kalo gw tebak, keknya mereka kerja ada hubungannya dengan gosip Lexi cs dehh.”
    “Cs??, maksudnya Pak Lexi ada cs nya”, Bahdin tertarik dengan detil cs, padahal Stefani ngomongin Lexi yang sedang medikal cek-up.

    “Iya lah, Pak Z di purchasing dan, Y di bussines development, itu yg udah lama diobrolin para sekretaris, mungkin ada yang lain, tapi yang rada ketara mereka itu.” Detil info yang tak muncul dipermukaan, karena dijaga Lexi cs sangat ketat. Tapi beredar dikalangan sekretaris terutama karena sering dapat cindera mata dari mereka yang terkadang sama senada.Kerena para sekretaris suka pamer cindera mata, menemukan kesamaan.

    “Sebentar...” Bahdin melangkah masuk, interupsi kerja dan pelototin notebook Ina, sejenak scroll akhirnya menunjuk layar file tertentu. Tak terdengan pembicaraan apa, tapi Stefani mengintip dari celah pintu terbuka, dihadapan Ibu Marni, Ina sejenak terlihat becanda mesra, karena kebetulan wajah mereka merapat, saat sama fokus menatap layar.

    Akhirnya Bahdin kembali keluar.

    Marni dan Ina, salah satu job nya adalah rekonstruksi data dari berbagai sumber data yang luar biasa banyaknya. Kebingungan mau mulai dari mana, tiada starting point. Kini Bahdin mengajukan intuisinya memulai dari data dan laporan dua bagian itu, di crosscek ke arus material masuk pabrik yang Bahdin ketahui.

    “Ehh kenapa...” Stefani kian menyadari seriusnya isu Lexi terkait tim kecil yang dipimpin Karmin.
    “Terima kasih infonya, banyak menolong mereka tuu. Karena sudah bantu, apa yg bisa gw bales” Bahdin serius. Info itu adalah credit bagi Stefani yang secepat mungkin diajukan ke boss, setelah terlebih dulu diverifikasi.

    “Hmmm....” Bisnis tukar info, adalah keahlian sekretaris. Dipertimbangkan cermat. “Sedang ada krisis, diam-diam artinya highly confidential, boss pakai kalian artinya sangat dipercaya, tu dua orang baru artinya fresh eye. Tampaknya kalian long term, artinya kiris parah. Klik lama tak bakalan tinggal diam, posisi gw pasti kena imbas intrik yang berkembang. Opsi gw hanya, merapat ke personalia atau ke boss. Gw kan udah lama dengan bos, loyalitas sudah ada, supaya aman gw ikut tim lo, gw bisa bantu apa? Gw belum tahu. Utk itu gw harus ditarik boss, gimana caranya? Pak Karmin gimana sich ama cewe?”

    “Baiklah, ini hasil pengamatan, belum tentu benar. Kalo gw duga sich, bos udah nggak terlalu pengen lagi ama cewe seperti dulu, mungkin faktor umur, tidak sebanding dengan risiko. Itu satu, kedua jaim, ketiga kalo lagi mau mending psk kelas atas, service jamin yahuuud. Tapi dia masih gw lihat spa atau masase kalo meeting luar kota. Disini elo bisa masuk. Bisa pijet nggak, pijet terapi? Pijet plus? Tinggal mulainya aja sulit, dia pasti jaga image, menghindar godain staf, risiko sexual harrasment. Timing juga nggak pas, lagi kritis gini, mana dia kepikiran”

    “Wah pijet?? cowo gw pasti muji sich. Pijet plus? Handjob dan blow job?, testimoni menyatakan ok banget“

    “Hmm gw juga kalo loe pijet bakalan keringat dingin, semok bener.Bayangan lo aja kalo lewat, gw bisa crot berkali2.” Becanda kian memanas, menjurus parno. “ Jangan disamaain ama boss, yang tinggi jam terbangnya. Dibanding dengan yang pro elo gimana? Elo nyandak nggak?”
    “Hmm iya yachh... jadi gimana dong”

    Becanda kian memanas, cekikikan, menahan agar suara tidak tembus ke dalam.
    “Kalo ngakunya jago, coba try out dulu, skor berapa. Kalo delapan kurang, boleh deh maju ke boss, kalo Cuma enam, malu-maluin. Kalo maju sendiri terserah, tapi gw jangan terlibat, oga dee, rusak reputasi.”

    “Yang ngasih nilai siapa?, cowo gw?”
    “Heh..heh..., cowo loe punya pengalaman nggak? paling elementer.”

    “Wooo, sory ya, cowo gw mah kampiun urusan begitu, klepek-klepek ditangan gw, udah lama dia ngebet kawin agar bisa nagih terus tiap malem, tapi gw nggak mau karir lagi bagus, tiap dia ngambek gw service aja” Mana ada cewe yang rela dinilai skill kurang. Tapi lupa, skill yang dibahas adalah urusan per lendiran. Ditambah lagi kejebak membela pacarnya.

    “Ooo jadi cowo loe pengalaman urusan pijet plus, gw pengen tahu, langanan dia kemaja aja”
    “Wah cowo gw mana berani ketempat begituan, bau santri tau”

    “Santri, Halahhhh jadi kampiun tangan sendiri? Anak sd juga jago” Stefani kejebak omongan sendiri.

    “Emang loe jago? Pacar aja nggak punya” Stefani kehabisan argumen, bangkit emosi balas nyerang.
    “Nah itu betul, pacar gw nggak ada, jadi gw bisa bebas, coba sana coba sini. Kelas rel sampai bintang lima. Minimal lebih variasi dah dibanding cowo loe, Cuma tau pijetan enyaknya ama lo pacarnya”

    Entah kenapa cewe kalao ada cowo yang punya jam terbang tinggi dunia malam, selalu terpancing untuk menaklukan, mungkin terdorong niatan mengembalikan kejalan yang benar.”

    “Errr... kalo loe yang nilai bagaimana” Merah juga Stefani ajukan usul.
    “Ogah dee, ntar ditabokin cowo loe” Nyengir Bahdin, ni cewe kepancing juga.

    “Hmmm, ini tuntutan karir. Artis aja baru bikin portfolio udah berani foto bugil. Waktu audisi teken siap adegan panas. Gw kan kenal loe pegang rahasia, boss aja percaya.”
    “Weleh udah jam berapa ni, mana boss” Bahdin menghindar, alihkan topik. Trik yang tak luput dari pengamatan.

    “Ohh iya sebentar..” Stefani meng sms boss, mengingatkan ‘15 mnt’
    Mendadak hpnya bunyi, avatar bosnye, Stefani beranjak keluar kamar, terlibat pembicaraan. Bahdin tak mau mendengar, masuk ke ruang kerja.

    “Mas, indikasinya betul, tampaknya data dari kedua bagian itu adalah data yang real, data awal, yang lain adalah rekayasa atau koreksi atau variance atau tambahan, terlihat dalam sampel beberapa part untuk satu bulan. Partnya ada ribuan, masanya 6 tahun, jadi groundworknya berat, padahal Cuma boleh kita berdua. Info dari mana Mas” Marni bertanya, “Dari Stefanie?”

    “Pastilah mbak, kemarin mereka berdua rapat rapet, saya dicuekin kaya kambing conge, tuh lihat aja bedua cekikikan kita keringetan” Bahdin nyegir, diobok-obok kedua mahluk cantik ini.

    “Dia nggak bisa dilibatkan, bantu input data?” Marni usul “Sekretaris kan kepercayaan?”
    “Hah.... nggak dah.., dengan mbak berdua aja udah ampun, tambah lagi dia. Macan galak. Tak ku ku ....”

    “Lho ini kan kerjaan berat, kalo nggak dikeroyok kapan selesainya?” Marni mempertimbangkan hal ini adalah uji kompetensi bagi Ina dalam waktu tiga bulan harus bisa ajukan verdict. “Beruntung banget udah dapat start awal tips Sterani, tapi klerikal nya banyak banget, Kalo nggak selesai, Ina kan terancam posisinya?” Ina tak komen karena terutama nyangkut kepentingannya. Tapi tatapannya penuh harap, seperti anak kecil nunggu es krim mc donal.

    Bahdin garuk-garuk kepala dipelototin dua mahluk cantik “Masalahnya bukan di saya mbak ku sayang... Pak Karmin mau nggak narik dia?”

    “Mas Bahdin, Ina percaya mas punya trik khusus karena kedekatan dengan Pak Karmin” Ina yang cerdas sudah paham lelaki ini sangat penurut kalau tahu caranya. Ina juga mulai menyukai kepribadian Stefani yang tak sungkan beri tips. “Coba libatkan Stefani yaaa” Ina pasang muka kenes nya mesra. Bahdin garuk kepala.

    Sceene terakhir terdengar Stefani, yang tak sengaja mendengar saat akan ketuk pintu yang celah terbuka. Tok tok tok

    “Bapak, tertahan urusan mendadak. Saya diminta ngebrief afiliasi yang di perancis. Bagaimana kalau makan malam dulu?” Semua setuju. Stefani call room service, sambil menunggu order Marni dan Ina meneruskan kerjanya.

    Walaupun tadi teralihkan topik pembicaraan, ditambah tak sengaja mendengar dukungan dari new comer, yang meminta mesra.

    “Din, loe yang nilai ya?”
    Sebenarnya udah diniatkan Bahdin mengajukan Stefani dengan point, indikasi klik bagian lain, thank’s to her, kalau nanti boss datang. Tapi kini macan galak, mulai nguber dirinya.

    Ada gap. Stefani tak paham sudah diniatkan, tanpa perlu diminta. Khas cowo penurut, play along, semok bener.

    Bahdin bila becanda parno sangat lihai, tapi saat mengarah realisasi, gelagapan, reaktif menghindar. “Mo dimana?, gw takut ke apartemen loe, kepergok bisa ditabokin cowo loe, kerumah gw rt nya galak, mau di rel?”

    “Hah... oon bener, tuh ada kamar, sayang tiga juta semalem” Stefani mengadapi lawan submisif makin gahar. Kalau saja ibu-nya mendengar omongan ini, bakalan semaput. Cewe kok gatelan.

    “Wah ada Bu Marni dan Bu Ina, bahayaaaa” masih alasan menghindar. Bahdin masih shock mendadak diuber sekretaris yang anggun ini.

    “Yaa tunggu mereka pulang, kan emang tugas gw wakili bos jamu mereka” Stefani berfikir keras, maksimal hand job dan blow job, tak apalah. Ditambah lagi selama ini Bahdin satu-satunya cowo yang tidak jelalatan matanya, bahkan untuk memulihkan PD udah dandan habis tak juga dilirik, cari pembenaran mungkin hombreng.

    Makan bersama, suasana kian mencair. Mendengar sendiri Marni Ina mendukung dirinya, Stefani selaku yang senior, lihai mengarahkan suasana ke informal, mendadak akrab, tapi tanpa sedikitpun mengorek rahasia. Marni Ina banyak mendapat masukan, gosip, isu ringan tentang kondisi suasana kerja dari sudut pandang wanita karir. Karena pada dasarnya ketiganya ramah, bepekerti baik dan berkepribadian menarik, chemistrinya timbul. Katalisnya adalah Direktur dan krisis perusahaan.

    Dilanjutkan Stefanie, ekspose perusahan afiliasi di Perancis, 40 menit. Sesuai arahan boss, dirinya mencetuskan istilah asing, bukan untuk pamer, tapi membiasakan Marni dan Ina mengenal istilah asing perancis. Tapi tak dinyana, Ina sesekali merespon istilah perancisnya dan geografis, karena memang pernah kursus singkat dan ke pergi sana.

    Bahdin menimpali aspek teknis. Spt biasa, Brefing di rekam, dan disave di folder.
    Usai briefing, rehat sejenak. “Ibu kalau mau refresh di sini saja, toh Bapak tidak jadi datang, kalau mau dipakai menginap silahkan” Stefani mengaju ke Marni yang kini adalah pejabat paling tinggi rankingnya.

    Marni tidak mungkin menginap, padahal sangat kepingin rasain kamar tiga juta, tapi kasihan anak dan tak bawa baju salin. Kalau Ina sudah biasa hotel bintang lima, apalagi rumahnya dekat.

    “Wah kalo nggak ada yang makai, saya saja, rejeki tak boleh ditolak, besok tinggal berangkat kerja. Baju pake lagi” Bahdin mengingat motornya ditinggal dipabrik, besok bisa telat berangkat kerja tanpa motor.

    “Hmm Ina bagaimana kalo cek datanya besok dikantor, toh briefingnya sudah selesai?, atau kalo masih kuat nanti dirumah. Mas Bahdin biar disini.” Stefani wanita peka menangkap detil Ibu Marni tak sengaja bersikap mesra.

    “Kalau begitu sebentar saya kerecepsionis, batalkan kamar sebelah mudah2an bisa, lumayan saving budget untuk next time”

    Sepeninggal Stefani, “Hmm kalau tak ada dia saya temani mas deh, ya udah mbak, kita susul, nggak enak diurusin” Sejenak ketiganya bercengkrama sambil merapihkan peralatan dan berkas.Marni Ina seolah mengabaikan Bahdin, dengan langsung pulang, padahal sudah ngatur kejutan kecil.

    Marni dan Ina turun, mendapatkan Stefani di recepsionis masih menunggul bill, pamit. Tiba masih setengah sembilan karena dekat, masih sore ukuran metropolitan. Marni lega masih sempat nengok anak sebelum tidur.

    sSs

    "Ida, Tolong antarkan baju ganti ke hotel X, naik taxi, anak-anak biar aku yang urus. Bilang juga mungkin besok pagi benar, dijemput bareng ke kantor"
    Marni bermaksud Bahdin ada temannya malam ini, sekaligus memberi kesempatan Ida merasakan Hotel mewah.

    Sedangkan Ina, usai mandi langsung berkutet dengan data. Memfollow up file tadi siang

  10. #29
    Semprot Kecil otakrusak's Avatar
    Daftar
    Nov 2013
    Lokasi
    In your dream
    Posts
    84
    Thanks
    1
    Thanked 8 Times in 2 Posts
     THREAD STARTER 
    motong post lewat batasan 50.000 char

  11. #30
    Semprot Kecil otakrusak's Avatar
    Daftar
    Nov 2013
    Lokasi
    In your dream
    Posts
    84
    Thanks
    1
    Thanked 8 Times in 2 Posts
     THREAD STARTER 

    Motor 11 Skuter Piaggio 1b

    Motor 11
    Skuter Piaggio 1b

    Stefani kembali ke kamar suite, mendadak suasana kondusif. Stefani tak ingin kehilangan momentum, apalagi ada peluang. Berdua di kamar hotel suite deluxe nan mewah, sendirian. Ditambah lagi, bila tadi Bahdin ceriwis berbalasan becanda parno, sekarang tampak gelagapan. Bahdin terbata-bata, mendapatkan macan galak, kembali kekamar saat yang lain pulang.

    “Ayo alasan apa lagi, jangan-jangan emang loe hombreng yaa?”
    “Ahh... siapa yang bilang.” Panas Bahdin dibilang homo. “Ee, oke dehh, tapi gimana teknisnya..”

    “Halah ..udah coba rasakan ... baru nilai.. ponten berapa.. gitu aja refoot”

    “Ya udah... mulai start, anggap gw boss mau pijet plus, tapi jual mahal, jaga image"

    “Cepetan berbaring ...” Walaupun kelihatan galak, sebenarnya grogi juga Stefani dalam hatinya, untunglah cowo ini culun.
    “Teeeetttt, poin minus” Bahdin mulai play along.

    “Lho kenapa ..?”
    “Loe kira anak kecil disuruh bobo siang? Gw ini boss, service ada prosesnya, basa basi dong, tanya kek pegel, stress, ngilu apaan kek”. Ngomel, Bahdin duduk di bed king size. Di bukanya bed cover yang terasa dingin kena ac.

    “Waduh ribet, udah cepetan buka baju”
    “Teettt, poin minus “ Bahdin perlahan grogi membuka kancing
    “Kenapa lagi?”
    “Bantu bukain baju dengan baik”
    “Ok...ok..., ini kan sekedar test, kalo beneran pasti dongg” Bahdin membuka baju tinggal cd, merangkak ketempat tidur telungkup.

    Stefani yang ramping langsing, naik ke bed, agak susah karena span ketat yang digunakannya, terpaksa disorong ke atas lutut. Selaku gadis cantik, sejak SMP sudah jadi primadona, inceran cowok. Pengalaman seks sudah sejak SMA, pacar pun gonta ganti.

    Stefani pun sering merasa aneh, kok pacaran jarang awet? Saat ngejar-ngejar luar biasa romantis, tapi biasanya kalo sudah mendalam, cinta membara cepat meredup, putus. Pacarnya sekarang relatif awet, sejak SMA, bolak balik sambung putus, naik turun seperti ingus anakkampung.

    Bagi Stefani tidak terlalu masalah ngamar dengan cowo.
    Mulailah memijit, mengerahkan segenap ilmu dan teknik yang diketahuinya. Dasar memang tak biasa pijat, ditambah tenaganya pas-pasan, belum sepuluh menit udah pegal, kecapean. Dapat dimaklumi cewe cantik, biasa di uber dan diservice para cowo.

    “Udah balik badan, copot”
    Berbalik telentang, walaupun grogi dicopotnya cd, tapi cepat mengambil bantal menutup onggokan daging lemas.

    Tanpa ba bi bu, langsung saja, Stefanie membelai-belai daging layu itu, dibawah bantal. Tetap layu, disingkirkannya bantal, mulai konsentrasi membelai dikombinasi dengan memijat bola, idem. Jarang terjadi pacarnya telanjang tanpa bangun penisnya. Kalo lemes pun biasanya paska ejakulasi. Bingung dirinya menghadapi kasus ini. Diotaknya Cuma tahu kocok dan kemot batang yang keras. Kebingunan dirinya menghadapi yang loyo. Coba dikemot pun tak ngaruh.

    Lima menit berlalu, keringat mulai menetes, wajahnya kian memancarkan kebingungan. Diperparah Bahdin kian cuek, sedari tadi merem seolah tidur. Lima menit berikutnya pun idem.

    Bahdin, play along, muncul kreativitasnya
    “Udah, time out .... hmmm ponten tiga kurang”

    “Wah nggak fair, apa dasarnya? “ Wajah cantik merah kecapean protes keras.
    “Nilai dasar 5 karena tetap loyo tak bisa bangunkan, dikurangi dua poin tadi, tak ada basa basi mancing atau ngundang, tak mesra saat nyopot baju, perlengkapan minim”

    “Hah... lo aja yang loyo.., juga jangan diitung dong pengurangan nilai.” Sekretaris eksekutif yang terbiasa dipuji para manajer, sekarang dihina buruh pabrik.
    “Keputusan juri mutlak tak dapat diganggu gugat” Bahdin balas ngeledek “Wong emang Cuma biasa ngadepin abg dan santri, jangan nyalahin orang dung” emosi juga dibilang loyo. Memang lucu keduanya dalam kondisi serius campur parno, saling menyalahkan.

    Topik bergeser, panas dibilang se level abg, udah berapa belas cowo-nya patah hati dia buat. “Emang lo loyo, ngkali”
    “Sialan loe menghina, gw buktikan baru rasa, gw khawatir kalo minta tambo terus ditambah bakalan refoot ditabokin cowo loe.” Keduanya saling meledek kian panas.

    “Ehh rasanya tadi ni urusan tentang minta tolong kok jadi begini?”
    “Abisan, udah cape nggak ada hasil, masa ponten tiga?"

    “He...he...he....” Lo aja diajarin nggak mau nangkep
    “Loe ngajarin apaan?”

    “Hmmm gimana yaa....gini deh...kalo emosi nggak kondusif, gw mandi dulu lengket nii, sekalian nyiram kepala panas” Menyambar pakaiannya, Bahdin melangkah kekamar mandi. “Loe lupa kan, tadi waktu gw bilang start, penilaian udah mulai, tapi loe nggak siap, bahkan ajukan berbagai alasan, bahkan terakhir ofensif. Nanti test diulang lagi, distart sejak gw keluar selesai mandi”

    “Lupa apaan..” Emosi belum hilang tapi lelaki itu udah kabur ke dalam kamar mandi. Cepat dirinya tersadar. Oo iya dirinya kan yang seharusnya men-service. Kalau ada masalah dihadapi bukan menghina. Terkekeh geli dirinya sendiri. Menyalahkan diri, sudah dibantu kok malah ngomel. Lelaki loyo kan emang nantinya permasalahan yang bakalan dihadapi. Kepala mendingin, mulai dirancangnya strategi menghadapi bossnya, orang tua, yang disimulasi kan oleh Bahdin.

    Dirinya bangkit, menuju mini bar, diperiksanya ada pilihan apa, diingatnya Pak Karmin tak suka minuman keras, bir pun jarang dilihatnya. Belakangan menyukai teh, teh ijo, oolong, item, benalu, ginseng. Tapi simulasi seolah bahdin, yang suka bir.

    Bahdin tak lama di kamar mandi, dasar cowo lapangan, mandi koboi, cepat saja, keluar dengan jubah mandi, menemukan kamar kosong, rupanya diteras. Bahdin menyusul. Suite deluxe memiliki view terbaik, pemandangan jakarta di waktu malam. Stefani sedang duduk santai menikmati gemerlap lampu, sebotol bir dingin dan minuman ringan sudah tersedia dimeja kecil.

    “Pak gantian aku juga merasa lengket, mandi dulu.” Stefani yang cerdas mulai melakoni ujian. Gaya bahasanya berubah formal dan mesra. Sembari menuangkan bir kegelas sengaja dirinya merapat tapi sewajar mungkin.

    Stefani mandi dengan cepat, tak ingin meninggalkan lama, keluar juga mengenakan jubah mandi. Langsung beda penampilannya. Ke teras mendapati Bahdin sedang menikmati suasana malam

    “Kok beda ya pak, dari kantor sering lihat pemandangan serupa, tapi kok sekarang beda?” Stefani berdiri disamping , mengambil botol bir, memaksa minum bir yang tak disukainya, tapi langsung dari botol, sinyal mengundang.

    “Betul beda, pasti karena didampingi kamu yang cantik, semua jadi tambah mempesona” Bahdin serius, menyambut, tangannya menjangkau pinggang ramping berbalut jubah mandi, menarik merapat.

    “Ah bapak bisa saja” Stefansi respon merapat dengan sisi dada kenyalnya disentuhkan ke sisi kepala Bahdin.
    “Betul, bukan sekedar cantik, tapi sangat menggairahkan” Bahdin menimpali dengan menarik tubuh itu jatuh kepangkuan, mendekap erat

    “Ah Bapak, “ Sterfani menempelkan pipinya.
    “Andaikan bisa selamanya ...” Bahdin lakonnya kian gombal, membekap tubuh ramping dipangkuannya kian ketat. Stefani menggeser wajahnya dan mengulum lembut bibir leaki itu, sejenak keduanya saling berciuman mesra dibalkon hotel bintang lima.

    Stefani mendesak lebih jauh, lidahnya menjulur dalam, aktif menggeluti lidah pasangannya, lembut dan bergairah. Kedua tangannya kuat mengalung dileher. Bahdin mulai membalas dengan menelusupkan tangan di balik jubah mandi menangkup payudara mungil yang hangat. Tergetar tubuh itu saat tapak mulai meremas lembut. Kuluman lidahnya kian bergairah. Stefani mengulum dan melumat bibir seiring giatnya jemari meremas payudara bergantian dengan memilin puting yang cepat mengeras.

    Stefani mendesis, setiap pilinan dipentilnya sangat kuat, memaksa tubuhnya mengejang. Sebelah tangan bahdin menjangkau tali jubah mandi dan menariknya, membuat bagian depan tubuh ramping seksi itu terbuka. Kepala Bahdin sedikit menunduk dan menemukan kenyalnya payudara yang mengundang gairah. Diselomotinya dengan kemotan kuat, balassan permainan bibir.

    “Pakkkhhhh...” stefani medesah mesra. Menyambut rangsangan di payudaranya. Bahdin kian buas mengulum dan mengemot, sebelah tangannya ikutan meremas dan memilin, mulai memaksa gadis itu mengejang terangsang hebat.

    Gelinjangan liar tubuhnya tak sengaja membuat jubah mandi melorot, memampangkan keindahan tubuh ramping mempesona, mengkilau memantulkan cahaya lampu dan rembulan. Bergetar-getar indah menahan rangsangan hebat, bibir dan jemari lihat, mengobok-obok kenyalnya payudara mengkal ranum. Stefani sudah pasrah, menantikan langkah selanjutnya.

    Gentel Bahdin, membopong tubuh ringan yang pasrah itu, sambil bibir merekah pasrah dikecup dengan hisapan panjang sepenuh jiwa. Dibaringkan tubuh itu di bed, Bahdin melepaskan jubahnya melanjutkan rangsangannya yang tadi terputus. Bergetar-getar tubuh Stefanie, dada dan perutnya dikecupi bibir membangkitkan bara api.

    “Ohhh, ..” Stefani mendesah, lengannya ,menjangkau kepala yng membangkitan birahi dirinya, didekapnya kuat agar keras mengemuti payudaranya. Stefani melakonkan dengan penuh penghayatan. Akting adegan ranjang bukan urusan sulit buat cewe, cuma ah uh ah uh dan telentang, apalagi dapet bonus, lumayan Bahdin merangsang nikmat.

    Payudaranya dikemot kian keras kian membahana birahi dalam dirinya, memancving lelaki menindih, tubuhnya bergerak menyamping mendekap rapat, tangannya mendekap erat bokong. Perutnya langsung merasakaan panasnya ular pyton siap memangsa.

    Ditariknya tubuh rapat itu berguling keatas tubuhnya, sinyal yang sangat jelas. Terasa batang kenyal panas diperutnya.

    Teeet.
    Mendadak Bahdin menggulingkan tubuh.
    "Kenapa...kenapa...." Bingung campur sudah diubun-ubun menadadak interupsi

    "Errr, pendekatan udah bagus tinggal nanti kalo ke boss dicari hal khususnya, tapi yang lainnya gagal total"
    "Kenapa Pak?"
    "Kan pijet plus. Pancingan dan pedekate nya anggap sudah. Tapi urutnya mana? setelah diurut, baru urut plus, setelah itu baru yang lo tadi bilang jurus tangan jurus mulut, baru final. Tadi kan lo komplain loyo, tuu loyo nggak"

    Terpaksa gadis eksekutif ini bengong. Cowo culun itu rupanya serius tentir spesial dirinya. Sedangkan dia yang minta malah terlena nyosor pada hal lain.

    Pemandangan aneh, dua sosok telanjang di bed mewah kamar bintang lima. Nothing happen.
    Perlahan kewarasan Stefani kembali kinclong. "Ooo iya, gw lupa, sori yaa.., jadi gimana?"

    "Kalo pijet tadi udah kerasa dikit, parah mbook. Lo latihan dah ama cowo lo atau emak lo, ngurut beneran, kalo nggak, tembok aja diurut, latihan, biar tenaga lo nambah."
    Stefani tak bisa membantah, logis, penilaian obyektif "Ok terus.."

    "Mancingnya dan pendekatan, seperti tadi kata gw udah ok, tinggal lo cari aja titik boss tu apa. Tadi kan pake bir, cerdas. Pdkt udah cantik, anggun dan sensual, tak nampak noraknya" mekar lubang hidung yang udah bangir ini.

    "Rintihan lo udah yahud, natural, tinggal lo re-cek boss demennya yang gimana" Kalo ttg ini Stefani binggung nggak paham. Wong dia beneran keenakan.

    Yang laen sama sekali belum kelihatan.

    Ste, bangkit terduduk merenung penilaian juri tunggal, mencernanya. Got it, pekiknya dalam hati.
    "Ok, uji lagi yaa? , mumpung nii"

    "Wahhh, audisi udah dua kali masa mo tiga kali. AFI aja cuma sekali"
    "Alla, lo ama gw gitu amat, ayoo" kambuh lagi macan galak. Kalo udah begini Bahdin udah pasti ciut, apalagi , minta sambil melotot, lupa telanjang bulat. Kulitnya putihhhh buanget , darah bule tapi mengkilap kek pualam pengaruh dayak. Paling ramping, diantara motor, matic, scoopy, ternyata piaggio ini, paling ramping, tinggi, luar bias eksotis, eksklusif. World Class Top model.

    Sambil nyeringai nakal, Stefani memamerkan skillnya yang dibanggakannya membuat belasan cowoknya klepek-klepek. Mumpung batang itu masih menegang keras, maklumlah disuguhin pemadangan erotis ini, siapa yang bisa nahan.

    Mulailah Gadis eksotis ini mengocok, perlahan, sebelah tangannya sesekali meraba lembut biji. Bermenit-menit. Ditatap seolah ngeledek wajah Bahdin, seolah berkata "rasain lo, kocokan gw" bermenit kembali berlalu. Batang itu tak juga mengeluarkan sinyal denyutan. Hmm kocokannya diperkuat pijatannya di persering, masih statis tegang seperti tadi, tak ada perkembangan. Mulai muncul butir keringat di dahi. Padahal ac lumayan dingin. Mulai muncul tanda tanya.

    Stefani mengerahkan jurus pamungkasnya, ditundukkan wajahnya mulai menjilat, mengulum dan mengemot, kepala batang, kombinasi mengocok batang dan memijat biji. Bermenit berlalu idem. Keringat menetes. Mulai bangkit kepanikan.

    Bermenit berlalu, BIngung tak tahu berbuat apa. tak muncul jurus lain. Bahdin memegang kedua pipi halus lembut, menghentikan upayanya. Bahdin menegakkan tubuh, mengecup kasih dahi keringatan, dan mengulum lembut bibir menawan. Bahdin menaburkan penglipur lara.

    "Ok sudah...poin 6, standar"
    "Gi...gi...mana..penilaiannya." Rontok percaya diri gadis eksotis ini.
    Bahdin meraih bantal, menutup batang tegangnya, malu juga dirinya terkspose walaupun sekedar tentir sensual,

    "Tidak ada pengantar, lemah penjiwaan, minim teknik, lemah fisik genggaman dan daya hisap pas-pasan, dan minim kepekaaan, minim kretifitas" Bahdin menjelaskan pajang lebar tiap point. Stefani bengong mendengarnya. tapi sekuat tenaga menyerap ilmu erotis tersebut. Karena cerdas pulih percaya dirinya dan meniatkan mengeksplorasi lebih lanjut pengarahan terebut.

    "Wah... ternyata kompleks juga ya. Ayo lagi... audsi keempat "
    "Aduh boo, kapan lagi kek...apa tiada hari lain ?"
    "Halah... tanggung... mumpung ada peluang dan fasilitas gratis, lagi pula waktunya mendesak"
    "Ahh lo emang parah, kagak kesian ama orang.." Bahdin bingung cari alasan menolak melanjutkan
    "Kenapa emang?"
    "Memangnya gampang ngasih pelajaran erotis?"

    "Waduhhh tinggal ngajarin aja susah"
    "Iya susah lah mbooo, lo kagak tau diri apa?"
    "Nggak tau diri gimana ?" heran campur rada tersinggung dibilang tak tahu diri.
    "Lo kan cantik nggak ketulungan, semok dan seksi dari tadi dah gw bilang berulang-ulang, bayangan lo aja lewat gw udah bisa crot. Ini sedari tadi tiga kali ngulang ujian, ampun dah, udah keubun-ubun tauuu"

    Oooo itu toh, langsung sumringah wajahnya. tak pernah dirinya dipuji sebrutal ini. Kagum jadinya pada Bahdin yang sedari tadi konsisten, tak sekalipun keluar jalur, uji pijat erotis. Malahan dirinya berkali-kali lupa diri dan keluar jalur, tambah marah-marah tak beralasan. Dalam hati ujung terakhir malah menyangka Bahdin tidak tertarik pada dirinya, ternyata tidak

    "Iya..iya ...maaf... gw nggak sadar, ternyata lo lelaki normal ..., gimana nih selanjutnya ..."
    "Tau dahh...yang penting setop dulu ujiannya, laen kali atau cari yang laen"
    "Baiklah, terima kasih tak terhingga, pelajaran yang berharga. Tapi masih boleh minta yang lain kan?"
    "Nggak ahh... cepet pulang sono ... nggak tahan niii"
    "Emang kenapa kok cepet2 pulang" Stefani sengaja menggoda
    "Iya gw pulang, tapi minta dulu yang laen yaa"
    "Pokoknya jangan yang itu dulu, spaning nii"
    "Iya, nggak yang itu, yang lain, tapi janji dulu"
    "Iya...iya..."

    Stefanimerebahkan diri disisi Bahdin, wajahnya menghadap, dirapatkannya mengecup lembut.
    "Stefani kepengen juga Din, tapi yang pelan yaa.."

    Gadis eksotik itu menarik selimut menyelimuti ketelanjangannya, menggeliat memunggungi Bahdin menanti. Sejenak Bahdin bingung sekretaris direksi yang selama ini dikenalnya profesional, anggun penuh kuasa, kini minta disebadani.

    "Ayo dongg, malu nii..." dengan gayanya urakan, Stefani membujuk

    Dikiranya ni cewe bohay mau minta apa, ternyata yang itu, tentu saja Bahdin tak menolak pinta sensual apapun. Apalagi sedari tadi birahinya sudah keubun-ubun di jadikan praktek latihan pijat plus. Dirinya ikut menelusup. Dibawah selimut Bahdin memeluk dari belakang tubuh polos mempesona, yang menggairahkan, impian ratusan staf perusahaan.

    Bahdin mulai meletakkan kepala batangnya pada lubang liang yang hangat dari belakang. Stefani, yang baring menyamping, merenggangkan pahanya, menekuk sebelah lutut kian merapat keperut, memudahkan.

    Bahdin sedikit menekan, perlahan melesak, sedikit demi sedikit, kian dalam kian seret, karena sama sekali tak ada pemanasan. Tapi memang itulah yang diminta Stefani. Ketika sudah terasa agak sesak, tangan Stefani menahan perut Bahdin menekan lebih lanjut.

    Bahdin menebak apa yang diingini, sama sekali tak menggerakan pinggul, tapi semata membelai setengah mengurut sekujur tubuh, bukan area yang sensitif. Ini yang dikenal sebagai lazy sex.

    Sebelah tangan Bahdin fokus membelai rambut, sebelah lagi menikmati lembutnya kulit perut dan batang paha. Stefani bermalas-malasan menggeliatkan tubuh, sesekali mengulet seolah ngantuk. Tangannya sebelah menjangkau leher Bahdin, terlihat pose sangat menggairahkan. Tentu saja semua itu terjadi dibalik selimut, ditengah dinginnya suasana malam ber ac kencang.

    Lebih sepuluh menit Stefani menikmati rabaan Bahdin
    "Din, coba dari dulu yaa..." Stefani menggumam
    "Hah cowo lo bagaimana?"
    "Aahhh, mau tau privacy orang ajaa, kita kan bisa teman tapi mesra? masa kerja stress melulu?
    "Iya dee, lo sich nggak bilang-bilang",
    "Ah lo cowo kek bencong, nggak seperti yang laen nguber2, mana gw tau" Becanda seperti biasa, tapi kali ini, Stefaniyang kian panas, menjangkaukan wajahnya kebelakang mencari bibir, dan mengkulumnya kuat"

    "Hmmphhhh" Bahdin menghadiahinya dengan menangkup erat, payudara mengkal yang berukuran mungil. Kemengkalan ini beranding terbalik dengan kepekaannya, menggelinjang Stefani dibuatnya.

    Sengaja Bahdin tidak memompa, hanya kedua tanganna bekerja keras menjarah, merangsang nikmat Stefani yang kian menggeliat lembut erotis.

    Akhirnya pun gadis ini dengan mengejang dan merintih panjang, mencapai klimaks sangat lembut, perlahan surut dengan mendesah halus. Ditolehkannya wajah kebelakang dicarinya bibir Bahdin dikecupnya mesra

    “Ma kasih yaaa nggak nyangka lo gentel banget, coba cowo gw kayak lo..."
    "Emang cowo lo gimana?"
    "Hah... rata-rata maunya maen keras...tempo tinggi ... hardcore...lo ntar dulu yaaa... lagi enak niii..."

    Sepuluh menit berselang

    Stefani menggeliat bangun, menggeser selimut, berjongkok dengan kedua kaki bertumpu pada lutut dan masing-masing berada di samping kiri dan kanan tubuh Bahdin. Selangkangannya berada persis di atas batangnya.

    "Giliran gw niii ???" Bahdin menanyakan, yang dijawab dengan senyum sangat mempesona. Tubuhnya turun menekan kuat perlahan, mili demi mili menelan habis seluruh batangnya. Liang yang banjir bandang sedari tadi, ditambah variasi cowonya yang sudah belasan. tak mnyulitkan dirinya melelapkan batang itu.

    Stefani bergerak mulai menunggangi. Tubuhnya terkadang melonjak lembut bak kuda parade, kadang melonjak binal bak kuda pacu. Stefani memilih lakon psk binal yang sedang memberikan kepuasan kepada pelanggannya. Lonjakannya sekali-sekali menajadi meliuk seperti ular.

    Kian memanas, Stefansi menarikan terian erotis penyanyi danggut berbagai gaya, mulai gaya ngebor, gaya ngecor, gaya patah-patah, gaya getar dan entah gaya apalagi. Pokoknya malam itu Stefani mengeluarkan semua jurus yang dimiliki memamerkan pada konsultan pijat plus, skill yang dia kuasai.

    Bahdinnya mengagumi nilai plus ini, lonjakan pinggul, geliatan erotisnya dikombinasi dengan perasan otot kewanitaan, berkali-kali dilotarkan pujian "Ouugghh.. Stefani.., luar biasa!"

    Pinggulnya mengaduk-aduk kian lincah, mengulek liar tanpa henti. Tangan Bahdin mencengkeram kedua buah dadanya, daging mungil mengkal. Kelebihan lain adalah payudara yang mungil cenderung ekstra peka, terbukti gadis ini mengejang kuat tiap payudaranya dijarah, diremas dan dipilin-pilin.

    Bahdin bangkit setengah duduk. Bergairah wajahnya dibenamkan ke atas dadanya. Menciumi putting susunya. Menghisapnya kuat-kuat sambil meremas-remas. Keduanya saling berlomba memberi kepuasan. Keduanya tidak lagi merasakan dinginnya udara, Kedua tubuh mulai bersimbah peluh, membuat jadi lengket satu sama lain. Stefani berkutat mengaduk-aduk pinggulnya. Bahdin menggoyangkan pantatnya. Dirasakan tusukan batangnya semakin cepat seiring dengan liukan pinggulnya yang tak kalah cepatnya. Permainan kami semakin meningkat dahsyat.

    Sprei ranjangnya sudah tak karuan bentuknya, selimut dan bantal serta guling terlempar berserakan di lantai akibat pergulatan yang bertambah liar dan tak terkendali.

    Dirasakan Bahdin gadis eksotik itu mulai memperlihatkan tanda-tanda. Stefani semakin bersemangat memacu pinggulnya untuk bergoyang. Mungkin goyangan pinggulnya akan membuat iri para penyanyi dangdut saat ini.

    Stefani mengerahkan tenaga, dirinya kian kagum. Tak ada satupun cowo nya bila dirinya sudah mengerahkan tenaga maksimal, tidak tumbang. Bahdin berbeda. Dihimpunnya tekad dan semangatnya . Stefani terus memacu dan mulai mendesis-desis, nafasnya kian terengah. Stefani sudah tak perduli rintihan suaranya mulai terdengar kemana-mana. Kali ini Stefani harus menang! Upayanya ternyata tidak percuma. Dirasakan tubuh Bahdin mulai mengejang-ngejang. Ia mengerang panjang. Menggeram seperti harimau terluka. Stefani pun merintih persis kuda betina binal yang sedang birahi.

    "Eerrgghh.. oouugghh..!" Stefani berteriak panjang, tubuhnya menghentak-hentak liar. Tubuhnya terbawa goncangannya. Kedua pasang paha beradu kuat menimbulkan suara aneh, Bahdin memeluknya erat-erat agar jangan sampai lepas batangnya akibat lonjakan. Mendadak Stefani mengejang kuat-kuat. Stefanipun rasanya tidak kuat lagi menahan desakan dalam dirinya. Sambil mendesakan pinggulnya kuat-kuat, Stefani berteriak panjang saat mencapai puncak kenikmatan.

    "Oohh.. Bahdine.., ohggggg!" jeritnya tak tertahankan. Tulang-tulangnya serasa lolos dari persendiannya. Tubuhnya lunglai, lemas tak bertenaga terkuras habis dalam pergulatan sedemikian lama. Kedua lengannya memeluk leher Bahdinnya kuat-kuat, sembari melepaskan puncak nikmat ketiganya.

    Bahdin dengan sigap membalikkan posisi tubuhnya tanpa melepaskan batangnya. Langsung dengan tenaga baru menghujam perlahan tapi sangat bertenaga.
    “Nggghhhhh.....” Stefani hanya mampu mengeluh berkali-kali setiap kali batang keras menggerus berbagai sisi liang wanitanya. Semenit dua menit Bahdin memanjakan ksekretaris bosnya, memompa dengan kuat dan perlahan, sampai satu ketika mengeluhpun Stefani tak bisa, demikian lemas lunglai tak berdaya. Pelukannya pun lepas. Bahdinpun mengentikan hujamannya.

    “Stefani ...kamu sungguh ...” Bahdin membiarkan berat tubuhnya menindih tubuh telanjang, dikulumnya bibir lembut, dikecupnya berkali-kali dengan mesra. Bahdin menumpahkan kemesraannya pada wanita itu, teman tapi mesra.

    Dibiarkannya gadis itu istirahat, malam masih panjang....cukup banyak waktu untuk mengejar ketertinggalan masa lalu.

    sSs

    Trrrrrrreeeeeeeeettttttt, suara bel terdengar. Bahdin kaget, bangkit sambil memaki, sompret Hotel bintang lima apaan nii, ganggu orang senang. Tapi biarlah, toh ttm-nya masih loyo, injury time, dikenakannya jubah mandi.

    Bahdin surprise menemukan Ida di muka pintu, menyilahkan masuk. Tak pernah Ida masuk ke kamar hotel semewah ini.
    "Mas Ini baju gantinyaa, pesan mbak Marni mungkin besok pagi dejemput bareng kekantor"
    "Lho kok merepotkan, sendiri saja?"
    "Iya mass..."
    "Mau minum apa? ayo duduk dulu ..."

    Dari dalam kamar terdengar suara kresek-kresek, Ida bangkit kecurigaannya menatap aneh lelaki ini. Didalam taksi mulai bangkit memori di rumah sakit, ketika menyusuri lobi dan memasuki lift, kian menghangat suatu rasa. Bahdin yang berjubah kamar mandi salah tingkah, dipelototi perempuan. Tercipta keheningan menyengat.

    Mendadak dari kamar keluar sosok wanita ramping yang dandanannya masih semrawut, tapi tak dapat menyembunyikan kecantikannya. "Din, gw pulang dulu ya, mari mbak?" Khas pergaulan atas, Stefani pamit dengan sopan dan ramah menyapa wanita lain yang mengetok pintu kamar hotel larut malam, cuek saja, privacy masing-masing.

    Sebaliknya, Ida walaupun eks anak orang kaya, tapi termasuk tradisonal pergaulannya, konservatif pemikirannya. Sontak kambuh penyakit khas wanita, cemburu. Gairah membara berubah jadi kecewa, berubah jadi amarah. Ditahannya, toh tak ada haknya. Tapi amarahnya kian menjadi melihat cewe tadi penampilannya melebihi artis. Minder.

    "Mas, aku cuma ngantar ini, tak bisa lama-lama, kasihan anak-anak menunggu"
    Bahdin mencoba menahan tapi sia-sia, kehabisan kata-kata.

    Bahdin tentu saja membaca perubahan mimik, tapi memang disitu kelemahannya, gelagapan dihadapan cewe, tak bisa omong apa-apa. Jadilah Bahdin semaleman puyeng, udah di ubun-ubun tak punya penyaluran.

    Akibatnya puyeng tak bisa tidur, kembali kedua kali keubun-ubun, tidak tuntas. Baru bisa tidur subuh

    sSs

    Bersambung ke

    Motor Bab 12
    Skuter Piaggio 2

  12. #31
    Semprot Kecil otakrusak's Avatar
    Daftar
    Nov 2013
    Lokasi
    In your dream
    Posts
    84
    Thanks
    1
    Thanked 8 Times in 2 Posts
     THREAD STARTER 
    heeehhhhh dikit lagi...

  13. #32
    Kakak Semprot
    Daftar
    Jun 2012
    Posts
    163
    Thanks
    2
    Thanked 0 Times in 0 Posts
    wah kejar setoran ni.... ayo mana bab ter akhir nya

  14. #33
    Semprot Kecil otakrusak's Avatar
    Daftar
    Nov 2013
    Lokasi
    In your dream
    Posts
    84
    Thanks
    1
    Thanked 8 Times in 2 Posts
     THREAD STARTER 

    Motor 12 Skuter Piagio 2a

    Motor 12
    Skuter Piagio 2a


    Jumat
    Hari pertama Ina memberanikan diri membawa mobil bapaknya, karena ada teman. Masih jam tujuh Mereka menjemput Bahdin yang sudah tunggu dibawah. Marni tertawa menggoda 'asik ni yee'
    Ina mendengar punya persepsi, 'asik tidur di kamar mewah' ikutan ketawa
    Marni tak tahu, diam-diam Ida yang cemburu langsung pulang, tidur, tak bilang-bilang. Khas anak manja ngambek. Bahdin yang sial, no komen, karena memang tak tahu niatan Marni mengirim Ida, yang ternyata ngambekcemburu.

    "Mas, Ina semalaman ngusut data, dari sampel part, bahan, komponen selama periode tiga bulan, memang terbukti di rekayasa dari disain, spesifikasi, kuantiti, budgeting, purchasing, pemakaian, apkir dan sisa"

    "Kita harus memperluas sampel dan periode sepanjang tahun, seminggu dilembur mungkin kelar" Ina usul
    "Sekarang Jumat, Nggak gitu neng, segera rapihkan, kasih summary, bisa email siang ini nggak. Kita bales ngerjain boss, biar dia nggak bisa week end." Cemas Marni dan Ina diajarin ngerjain direktur. Mereka belum memahami, temuan indikasi awal harus segera dilapor secepatnya bila didukung bukti awal yang cukup, tak harus menunggu detil dan lengkap.

    Bahdin segera sms 'Pak ce mo lapor, segera email akan masuk"
    Pak Krmin merespon cepat seusai baca email minta pemaparan besok pagi secepatnya.
    Kembali Bahdin kasihan, jadwal Marni dengan anak bila besok kembali lembur, kembali rusak. Hmm tapi ...

    "Mbak besok tak usah pulang, bawa anak-anak aja ke hotel, kolamnya bagus, kita meeting pagi dengan boss"

    sSs

    Sabtu 08.00
    Marni tidak jadi pulang Jumat malam, karena besok rencana meeting. Rusdi yang mengalami minggu pertama sendirian dirumah, mulai merasakan resah. Berturut dia pulang menemukan rumah kosong melompong. Bila ada istri anak, dicuekin, bila tak ada dicari-cari, khas manusia.

    Marni minta Rusdi besok ke hotel rekreasi dengan anak, mumpung gratis, sementara dirinya rapat dulu. Ditawarkan seperti itu, Rusdi tak mampu komentar, batinnya, iseng-iseng ah nginjek hotel, sekalian mau tahu bener nggak sih lembur?"

    Selagi bengong, mendadak Deni, suami adiknya nongol, rupanya sengaja jemput Istri dan anaknya "Eh Den, tumben lo nongol, kapan dateng" Deni masih numpang dirumah mertua, artinya tinggal di orangtua Rusdi.

    "Kemarin, belum pada pulang? Eh bener ya, sekarang Ida dapat job baby sitter?"
    "Kata Marni sich gitu, dari pada harus cari baby siter baru mending manfatin Ida, toh beberapa bulan ini Ida yang ngurus Anton"
    "Ber gaji?" Agak tak lazim di gaji abang seniri, dipikirannya uangnya Rusdi diberikan ke Ida adiknya.
    "Iya dung.., eh tapi kayaknya hari ini nggak jadi pulang, besok rapat mendadak dihotel, gw disuruh kesana, rekreasi ada kolamnya, lo kalo mau ikut ayo, .."

    sSs

    Bahdin turun dapat smns dari Rusdi. DIloby standby Stefani, jadi lah Bahdin memperkenalkan.
    "Stefani ini Rusdi suaminya Ibu Marni. Acara mereka berantakan karena rapat mendadak. Tolong diantarkan ke anak=anak di kolam, saya balik lagi"

    Stefani berbasa basi dan mengantar dua sosok pemuda, Rusdi dan Deni yang melongo ada artis papan atas, menuntun jalan ke kolam. Postur tubuhnya yang tinggi ditambah high heel, tampak sangat eksotis, class eksekutuf, bagi pandangan playboy kampung yang terbiasa dengan dandanan casual.

    "Pak Rusdi, kalau pesan apa, billnya sebut kamar yyy dan Stefani nama saya, saya standby di loby" Stefani tak kalah hormatnya pada suami Ibu Manajer pabrik. Pupus syak wasangka Rusdi, demikian juga Deni, ibarat acara kondangan, penunggu pintunya saja, beningnya nggak ketulungan, benar-benar ada rapat penting.

    Anak-anak sedang main air dipagi yang cerah, langsung jejeritan melihat para bapaknya pada datang.

    Bahdin kembali ke suite, Ina sedang presentasi temuan awal. Marni mengkonfirmasi dari data administrasi pabrik yang dia tangani. Karmin menghela nafas, pantasan modusnya tak terdeteksi, melibatkan tiga bagian di tiga direktur lain. Bagian akuntansi dibawahnya yang memfinalkan. Ini agenda prioritas rapat direksi darurat.

    Karmin instruksi, temuan awal cukup dulu sampai disitu, fokus ke hal lain, terutama rutinitas bagian accounting. Selanjutnya Marni dan Ina, masing-masing diajak ngobrol ringan, mencoba mendalami karakter dan kepribadian, Karmin puas, dan membulatkan keputusannya memilih alternatif nyeleneh usulan Bahdin.

    Terakhir dengan Bahdin, sengaja Karmin beri instruksi via Bahdin, karena dia yang tahu gambaran besar sejak awal, jadi tak perlu dirinya harus instruksi panjang lebar bila langsung ke ybs. Terutama semuanya adalah alternatif nyeleneh dri Bahdin, jadi dia yang harus ngerti detailnya..

    "Bagus kerja mereka, cepat deteksi dan cepat lapor. Tampaknya Marni sudah bisa mapan. Bilangin ada kemungkinan diundang rapat direksi, pemaparan hal tadi"
    "Boss beruntung ada tips dari Stefani"

    "Dua minggu ini kerjaan Lexi ditakel Widodo, sudah saya instruksikan cermati keanehan, tapi tak ada laporan padahal stafnya banyak? apakah tak becus atau kongkalikong? Selama ini dia solid. Tampaknya hanya usul anehmu yang bisa jalan. Segera saja Ina ditarik"

    "Pasang aja Pak jadi asisten sekretaris, kedok sehingga tak mancing pertanyaan"
    "Betul juga, sekretaris dua, khusus alur berkas accounting yang saya takel langsung. Bagus idemu, tapi ada kendala, Stefani bisa dipercaya?"

    "Bisa dong, saya garansinya, jangan lupa tips stefani mengarahkan mereka fokus pada arah yang benar. Kalau tidak, sebulan juga belum tentu nemu. Kalau ada hal khusus bilang aja, saya udah baca sinyal dia boss" Bahdin nyengir.

    "Bukan itu masalahnya, Sejak sinyalemenmu dulu, saya curiga, modus secanggih ini ada dalangnya, sehingga bisa melibatkan banyak departemen. Sekretaris pun bisa dipasang jadi kibus (kaki busuk). tapi kalau kau bilang, ok, ya wiss, saya temani tamu dulu ngegolf " Karmin basa basi langsung kabur. Hak prerogatif boss.

    Stefanie menyambut Karmin dilift mendampingi ke loby luar, menunggu mobil. Karmin mengangguk puas, mengetahui sekretarisnya kontribusi tanpa diperintah di hari libur
    "Ada yang perlu saya siapkan?, kata nya Bapak menemani tamu golf, perlu saya standby"

    "Hmmm handicap kamu gimana?"
    "errrr ..."
    "Kalau sudah tahu baru dampingi saja jamu tamu, koordinasi saja dengan Bahdin" Phrasa terkahir ini, kritikal bagi Stefani yang sudah pengalaman dijajaran direksi, sebagai instruksi.

    sSs

    "Mbak, Rusdi dan Deni sudah dibawah tuh, anak-anak lagi asik nyebur, nanti biar saya lanjutkan dengan Stefani dan Ina"
    Ketiganya bercengkrama menunggu Stefansi,

    Stefani datang membawa dua kunci, dengan nomor lantai agak bawah, kamar deluxe.
    "Silahkan Bu Marni, Spa aromatic disini terkenal lho bu, kalau mau coba bisa saya temani.

    Sepeninggal Marni, Ina bingung tak tahu mau apa, tak akrab dengan Stefansi, dan silence is golden. Sebaliknya stefani tunggu instruksi Bahdin.
    "Ok, gini, saya cuma pengantar selanjutnya terserah. Stefani permintaan lo udah dipertimbangkan, tips lo bernilai tinggi."

    Pertama, Sekarang lo yang senior bisa kompak dengan Ina yang junior? Urusan admin lo yang kuasa, urusan teknis lo subordinasi. Dimata publik, Ina junior lo" Subordinasi yang dimaksud bukan bawahan, tapi kolega tim kerja pengaturan pembagian tugas. Ina yang atur pembagian tugas.
    "Bu Ina, saya siap menjalankan instruksi Ibu" Ina kagok mendengar sekretaris senior yang eksekutif menawan ini patuh pada dirinya, yang new comer.

    "Kedua, Ina jangan pernah lupa tentang loyalitas, demikian juga dg lo Stef. Berdua mutlak kompak, demi strategi Karmin sukses. Karena sangat rahasia, lawan terlalu kuasa dan jumlah banyak, kalian cuma berdua dikantor pusat, jangan sekalipun percaya penuh pada yang lain, hanya kita berempat"
    Stefani dan Ina mengiyakan

    "Ketiga, segera lo ajukan kebutuhan peralatan, furniture dan mutasi, Ina pindah sementara sebagai sekretaris 2, khusus tangani berkas accounting yang besok mulai langsung ditakel boss, tidak lagi Widodo. Kalau sudah siap Ina langsung urus kerjaan tsb. Rasanya tak perlu lagi meeting diluar, dengan lo bisa gabung"

    "Keempat, secepat mungkin lo brief Marni non teknis kalau dipanggil rapat direksi"

    "Kelimam silahkan dibahas berdua detail teknisnya, saling berkenalan, barang kali ada yang ganjalan, saya on line sebentar. Kalau hal itu udah beres, saya lanjutkan dengan hal khusus." Bahdin kekamar, cuek saja, langsung tidur, sedari tadi sudah kepengen merasakan kembali nikmatnya kamar orang kaya. Membiarkan kedua gadis berdiskusi.

    Keduanya cepat akrab, membahas berbagai arahan tadi, disamping keduanya berkepribadian menarik dan ramah, kecerdasan menyadari masing-masing mutlak memiliki sekutu yang dapat diandalkan. Tak terasa dua jam berlalu, menjelang jam satu. On line kok lama. Ina Stefani melongok kekamar, mendapatkan Bahdin sedang tidur keenakan, menebus tekor tidur kemaren.

    "Kirain on line beneran" Ina pura-pura galak mengambil bantal guling memukuli membangunkan. Ina lupa arahan Karmin tentang skill teknisi pabrik nyolong istirahat, karena sayang menunjukkan mesra.Untunglah sudah dua jam, jadi cukup untuk charge staminanya.

    Bahdin kucek-kucek mata "Gimana ada pertanyaan?
    "Mas bagaimana kalo gini...gini...gini..." Ina masih ragu akan beberapa hal
    Stefani juga bertanya hal lain.

    "Kalo kalian yang sarjana ibukota aja nanya? lalu gw yg cuma STM dikampung tanya kesiapa ?" tau ah gelap"
    "Lho tadi katanya suruh tanya" Ina protes

    "Ngajarin, kalo meeting bos mengundang pertanyaaan, kalian diharapkan tidak bertanya, harus sudah tahu atau punya gambaran. Bertanya itu buat staff yang mediocre dan oon, kalian kan andalan, jago pilihan. Kalian yang jawab pertanyaan orang oon." Ina dan Stefani heran menerima teori nyeleneh.

    "Kalau ngeblank artinya kalian tidak siap mengkuti rapat, jangan sampai terjadi. Kalau terpaksa bertanya, susun kalimat yang jawabannya ya tidak, wong boss dan kita sama digaji, jangan persulit, bantu boss dung, permasalahan dia lebih parah dari kita. Boss lebih banyak bingungnya dari kita. Pura-pura aja dia sok ngerti. Jangan sampai kalian tanya boss nggak bisa jawab" mulai rada terbuka diajari trik jadi atasan.

    "Kalau ditanya, langsung ajukan solusi, alternatif a, b atu c yang mungkin dan rekomendasi yg paling suka." Usahakan Boss kerjanya manggut atau menggeleng, dan cepet pergi, main golf.

    "Sudah paham, masih ada pertanyaan?" Ina masih mau bertanya...di pelototin, tak jadi tanya "bagus...Masalah teknis sudah selesai, sekarang masalah non teknis.

    "Kalian berdua wajib kompak tanpa reserve, tanpa ada rahasia. Paham? Keduanya saling melirih dan mengangguk. "

    "Errr ...belajar tenis errr golf.. Stefani tu makan resmi ?"
    "Table manner"
    "Nah itu, Ina mungkin sudah biasa tapi Marni belum" Yang penting tiga urusan itu, gw jangan sampai diajak, amit-amit."

    "Stefani kalo soal penjiwaan dan teknik lo boleh belajar ama Ina, Sebaliknya Ina bisa belajar teknik pendekatan, pancingan dan respon tubuh" Keduanya binggung, entah Bahdin ngomong apa maksudnya, tapi teringat tadi, menahan bertanya.

    "Udah, gw kebawah dulu, sohib datang."

    sSs

    Bahdin turun, menemukan dua pasang keluarga sedang asik main air.
    "Hooi pren, nyebur"
    "Oggah ah... begadang semalam"

    Ada lelaki pencuri hatinya, Ida kian pasang aksi mesra dengan suaminya didalam kolam. Mungkin mo pamer. Marni terpaksa ngurusin dua balita cibang-cibung, karena Rusdi beranjak dari kolam, mengajak Bahdin ke Bar.

    Sudah lama keduanya tidak ngomong bebas, tak terkait dengan hutang. Keakraban dua sahabat lama pulih, ngobrol sembari menunggui yang main air. Marni, sangat refreshing bisa sepuasnya bermain dengan anaknya. Diseling makan siang, dasar wong udik, panas benderang, tak menyurutkan anak-kecil nyebur di kolam.

    Setelah sesiangan bernostalgia,
    "Gue cabut ah, cape lembur terus ngurusin bini lu" kalimat yang punya makna ganda. "Tuh ada tiga kamar buat diinepin, hangus kalo nggak dipakai"

    Diinformasikan demikian, Rusdi setengah menyeret bininya kekamar, menemukan kamar bintang lima, kian bangkit gairahnya, bak dulu saaat berbulan madu. Tak perlu diceritakan Marni melayani tak sepenuh hati.

    Menjelang gelap, Ida menyeret dua anak paksa keluar dari kolam. Memang tugasnya membersihkan anak, dibantu suaminya kedua balita segera rapih. Bingung sejenak, karena hari mulai gelap. Kebingungan ditangkap waitress yang sudah dapat instruksi manajernya memperhatikan khusus rombongan ini, corporate client terkemuka. Diantar menuju kamar yang sudah disediakan.

    Anton dan Ida, menemukan mainan baru, bed kamar mewah, langsung main loncat-loncatan. Sama seperti pasangan Ridwan, bangkit membubung gairah Deni, menghajar bininya di bath tube, sedari tadi sudah konak di kolam, menahan-nahan.

    Berbeda Stefani dan Ina, keduanya cekikian memanfaatkan Spa, Sterfani menularkan Ina memanfaatkan fasilitas tanpa perlu kocek kantung sendiri. Sesuai arahan Bahdin keduanya mengakrabkan diri dengan cepat, malam keluyuran di mall.

    Bagaimana tokoh kita?
    Baru saja sampai dirumah, magrib, kelaparan mampir dulu di warung tetangga pesan indomi telor. Tunggu lama kehabisan telor beli dulu di warung lain. HP nya bunyi, Ina menelepon dari mall menungu Sterfani sedang coba sepatu, tapi gang di kampung berisik, kurang jelas, hanya terdengar mbok warung teriak pakai sambal tidak?" Di kuping Ina, seolah Bahdin sedang bersama cewe, tak inggin mengganggu di matikannya. Melanjutkan ngukur luasnya lantai mall.

    Baru sebentar tidur, mendadak ada call di pabrik, genset 2, panasnya tak normal. Buru-buru meluncur. Memang sebulan ini, perhatiannya pada bini-bini tuanya, banyak berkurang. BIni tuanya adalah deretan genset dan mesin pabrik, yang dielus-elusnya tiap hari. Begitulah, kurang dielus, langsung ngambek, batuk-batuk, tak kalah dengan perempuan.

    Secara biaya, perusahaan mengeluarkan biaya tinggi perawatan, tetapi banyak bocor, kolusi. Orang bawah seperti Bahdin selama-bertahun-tahun lepas dari perhatian orang, menjaga asset dengan penuh kasih sayang. Kalau teknisi lain melihatnya seperti paranormal, baru lihat dan dengar, langsung jitu menebak masalah. Manajer junior memandangnya sebagai penolong diomelin atasan.

    sSs

    Mingu pagi, tanpa perjanjian, Ina meluncur ke rumah Bahdin naik taksi, kecewa menemukan rumah kosong, kemana sih kok tak bilang2. Niat memberi surprise berubah drastis menjadi kesal, kekesalannya mendadak berlipat ganda mengingat semalam di call ada suara perempuan. Muncul syak wasangka, normal kaum wanita yang menggasihi, merasa memiliki. Pulang menimbun amarah, mengalihkan energi pada kerjaan, apalagi memang rumah sepi, diharapkan nanti malam baru Marni tiba dengan Ida dan anak2, dari hotel.

    Malam, dikamar menidurkan Anton dan Ida, baru terungkap, Ida mencetuskan Bahdin ngamar dengan perempuan saat hari kamis. Ida tak mengenal sosok Stefani.
    Ditimpali Ina, Sabtu juga bersama perempuan. Apalagi minggu rumah kosong. Pasti jalan dengan cewe lain. Ida mengembangkan saran, kalau dengan perempuan nggak bener bisa bawa penyakit. Ketiga perempuan ini tertimpa sedikit permasalahan mengembangkan prasangka yang aneh-aneh. Memang ekstreem, sangat mesra atau sebaliknya sangat cemburu.

    Ina dan Ida, menyusun kalimat dengan hati-hati, agar tidak saling ketahuan mereka berhubungan intim dengan Bahdin, melainkan hany hubungan silatuhrahmi. Hal yang fatal karena mengarah pada persepsi yang menyimpang.

    Perlu diketahui, sampai detik itu, relasi Bahdin Ida, Bahdin Ina adalah 'need to know basis', Marni tak merasa perlu menjelaskan pada keduanya, mereka semua idem.

    Didera informasi dari dua sumber terpercaya, galau hati Marni.

    sSs

    Senin, seperti diduga, selain beban pekerjaan rutin, minggu ini adalah mengkarbit Ina pada posisi baru di pusat. Stefani sedang berkutat menyiapkan segera funiture. Mengsms group 'Sesi besok ditunda karena boss masih menemani tamu'.

    Bahdin yang tertidur di pabrik sejak semalam, menerima sms Stefani dengan lega, bisa fokus pada genset 2 yang bikin ulah. Bagi Bahdin, urusan Ina dengan persetujuan Karmin masuk pusat dengan kedok sektretaris dua, sudah cukup. Demikian juga tentang Stefani. Ditambah mesin berulah, tak punya waktu, membelai Manajer baru.

    Tak dijenguk seperti biasa oleh Bahdin, keduanya terikut jual mahal. Marni positif thinking, biarlah sedang asik cewe lain (yang dipergoki Ida) . Demikian juga Ina yang meredam emosinya dengan fokus persiapan diri.

    sSs

    Sesi berikutnya, Kamis, karmin instruksi Bahdin seminggu off, karena dapat sms Bahdin, genset bikin ulah. Sesi kamis itu tak memancing perhatian, di ruang rapt bertiga, Marni on-line. Sejak Rabu kemarin, Ina sudah menduduki meja di seberang Stefani. Ratusan staf empat lantai dapat isu baru, sosok pegawai baru very cute.

    Bila direncanakan, Jumlat malam Marni dan anak pulang, khusus minggu ini berbeda. Ida dan anak pulang, terutama karena eyangnya kangen, sudah dua menggu tak ketemu cucu. Tak lupa memberika Ida tiga amplop, satu untuk honor, dua untuk sangu anak jalan dengan eyang, tiga untuk dapur alias jatah Rusdi.

    "Stefani dan Ina datang malam dengan agenda 'kursus kepribadian' Marni menghadapi dewan direksi. Rapat sudah di skedulkan Rabu siang, dengan mengundang Manajer admin pabrik.
    Ketiga wanita anggun mempesona ini, cekikikan saling menularkan ilmu kewanitaan terkait kantor. Tak cukup malam itu, dilanjutkan Sabtu ke salon perawatan wajah dan merubah tampilan, Minggu belanja melengkapi pernik-pernik.

    Praktis sejak Kamis minggu lalu, bara api asmara mendingin dengan cepat. Bahdin tak kepikiran apapun karena bini tua genset sedang ngambek.

    sSs

    Rapat Direksi, berlangsung sangat positif. Seminggu sebelumnya setelah paparan Ina, Karmin meneruskan laporan temuan awal Marni cs ke CEO, presdir, yang diteruskan ke Internal Audit. Rapat Direksi menunggu internal audit mengkonform. Sengaja bukan Ina yang memaparkan, tetapi Marni. Karmin mengingingkan penempatan Marni di restui direksi lain, karena tak lazim.

    Paparan Marni, singkat dan mudah ditangkap. Entah mungkin akibat Stefani dan Ina sbg koncultan kecantikan, penampilan wanita anggun ber seragam pabrik, mencolok diantara tujuh direksi dan undangan lain. Paparan tersebut dikonfirm oleh internal auditor.

    Karmin menambahkan tim kecilnya yang dipimpin Ina, sudah melebarkan periode penelitian atas sampel, lima tahun kebelakang, dengan hasil senada. Workgroupnya akan segera menyerahkan ke IA untuk melanjutkan, dan memfokuskan pada pencegahan kedepan.

    Direksi menerima Marni di posisi baru, juga karena ditambah aspek gender, langka manajer wanita. Apalagi pesona dan keayuan Marni menimbulkan warna baru. Banyak wanita cantik, tapi yang cerdas sedikit, cedas dan berkpribadian amat langka. Selain itu juga sudah tertanam nama baru Ina, leader tim kecil Pak Karmin.

    Ketiga wanita anggun pesona itu, merayakan prestasi itu dengan toast, minuman soda. Marni dan Ina belum bisa menikmati minum wine. Ida menemani anak-anak mainan di kidzania. Bagaimana tidak bangga dalam waktu singkat angan-angan ketiga wanita itu, masing-masing terpenuhi.

    Sore itu juga khusus mencobai Camri yang sudah dua hari datang tanpa Marni bisa pakai. Tidak mudah Marni menemukan supir yang cocok dengannya. Personalia pabrik tidak punya data driver, wanita apalagi lancar inggrisnya.

    "Untung Stefani sudah ngajarin banyak hal, terutama cara bicara harus berani menatap tajam sedikit sendu, perhatian penuh tapi submisif. Sampai cara pegang cangkir wah... Sebenarnya grogi bener??
    "Hi..hi...hi.. kalo tak ngajarin, saya bisa dimarahin Bahdin
    "Iya mbak, Bahdin kasih instruksi banyak, salah satunya itu. Saya juga banyak diajarin aneh-aneh. Hmm yang lain, tennis dan golf, kita wajib belajar"
    "Ooo mas Bahdin tooh yang suruh, saya kira Dik Stefani yang...
    "Wah mana saya paham trik... Ok dee, sekarang gantian saya yang minta diajarin Ina, itu kemarin dibilang Bahdin: 'penjiwaan dan teknik'
    Fokus Marni dari Bahdin bergeser ke konsul Ste, "apa itu?" Ina menjawab tak mengerti

    "Ceritanya panjang, pokoknya untuk mengamankan posisi saya, skill pijat dan pijat plus harus meningkat, hand job dan blow job. Penilaian mas Bahdin, ada kelemahan mendasar yang bisa saya pelajari dari Ina, penjiwaan dan teknik"

    "Oooo HJ dan BJ, saya learn dari mbah gugel" Ina menjawab, merah merona
    Marni berujar , "kalau dia bilang begitu artinya kedua teknik kalian sudah dibandingkan?, Ina lebih disatu hal, Stefani di hal lain, kalian harus saling belajar, Lho selama ini kalian seruangan apa tidak ngomongan"

    "Saya nggak ngerti dia ngomong kerah mana, mau tanya, tidak boleh"
    "Hii...hi...hi... kasihan dia saya paksa jadi boneka percobaan... Benar omongannya, cowo saya selalu muji saya hebat, tapi belum tentu benar, bisa malu-maluin kalo tak becus ama boss, malah bakalan di mutasi"
    "Kalo gitu lain kali kita praktek bareng yaa" Ina bangkit binalnya.

    Percakapan yang mulai menjurus parno terhenti, Ida kembali bersama anak, yang langsung menyambar ice krim yang sudah dipesan di meja sebelah. Ada kesempatan "Mbak itu cewe yang bersama mas Bahdin di hotel" Ida berbisik. Stefani selaku cewe peka, juga bangkit kesal kok ada cewe mendadak asem mukanya.

    Marni yang paling bijak tentu merasakan suasanya mendadak sensi (sensitif). Wah ada masalah yang tak perlu, karena keterbatasan informasi. Akhirnya menjadikan diri Don mafia, mendudukkan ketiga perempuan itu se meja. Mengetuk meja dengan gelas, tanda serius. Akhirnya ketiga wanita lain tersadar, mereka berempat yang menjadikan diri sendiri kekasih bahdin, untuk memanfaatkan lelaki itu. Kok malah saling jaga image? dan menimbulkan curiga? bahkan cemburu?

    "Kamu saya suruh temani Mas, malahan pulang?"
    "Iya kak, habis tak enak ada mbak ini" Ida malu-malu
    "Hi..hi...hi...." waduuuuh kasian bener dia, rasaiin...padahal praktik berulang-ulang, udah ke ubun2 tuuuu, saya segera kabur karena ada mbak" Stefani yang berjiwa bebas, terbuka memapar informasi parno "Saya aja buru-buru pulang, panggil cowo saya"

    "Lha waktu Sabtu, berenang setelah rapat, bukannya dengan Ina dan Ste"
    "Nggak lah, kami Spa, malam sempat saya telpon ada suara cewe, tapi besoknya Minggu
    saya ke rumahnya kosong, saya jadi panas sendiri" Ina mengaku ""Sejak itu saya cuekin"

    Berempat, bangkit rasa bersalah. Pesta kecil keberhasilan ini tidak dihadiri dalangnya. Menghela nafas. Marni menelepon "lama tak diangkat ...." ketika disahut terdengar suara berisik suara gemuruh mesin. Berteriak halo, halo, tak jelas omong apa, tampaknya sedang urusan mesin, padahal sudah lewat jam sembilan malam.
    "Besok pagi saya cari tahu"

    Masih segar dalam ingatan Marni awal perjuangan masuk kerja, boncengan gratis menembus dinginnya pagi, disiksa angin malam serta segarnya asap knalpot. Ida mengingat saat anaknya kritis, dan juga Ina bertahun jadi operator honorer data entri.

    Pesta mendadak terasa pahit.

    sSs

    Keesokan pagi, informasi yang didapat adalah, seminggu ini sedang overhaul genset, teknisi shift non stop. Supervisor tak ada yang pulang. Marni meneruskan informasi itu. Dirinya tak ingin mengganggu hanya tinggal pesan sms, jaga kesehatan.

    Seminggu berlalu, semua disibukkan kegiatan sendiri. Ina kian mapan memposisikan dirinya bertindak atas nama Karmin. Bila awal-awal Karmin direpotkan dengan interupsi Ina, hari belakangan ini, sudah tidak lagi, Ina sudah bisa lepas mandiri menjalankan tugasnya. Lexi juga sudah pulang medikal ceknya, dan mengajukan pensiun dini. Kehebohan muncul.

    Manajer lain dibawah Karmin, mulai kasak kusuk, termasuk juga manajer accounting dari unit-unit lain. Personalia pusat menjalankan prosedur, setelah sebelumnya menghadap Karmin, yang hanya kasih petunjuk, segera ajukan short list dan siapa yang ajukan rekomendasi. Karmin ingin gail 'clue' dalang yang masih ngumpet. Ditangannya sudah ada daftar manajer berindikasi dan yang merekomen.

    sSs

    Seminggu tak ada berita, ketika dirasa luang, Marni meluangkan berbasa basi mengunjungi manajer2 lain dipabrik. Manajer teknik ada pada daftar nomor 4, setelah ramah tamah, menanyakan overhaul mesin, terakhir menanyakan Bahdin, yang dijawab cuti sakit keseleo kakinya jatuh dari tangga. Mungkin karena seminggu mengawasi overhaul terus menerus kelelahan fisik mengakibatkan lengah. Manajernya meyangka paling di rumah. Marni terbit khawatirnya karena tahu, seminggu Bahdin tak pulang.

    Kejadian sebenarnya berbeda, ada staf yang kalap bisnisnya terpotong efek bersih-bersih manajemen baru, dimana terjadi beberapa pergantian suplier. Selama ini perusahaan membayar harga kw1 yang darang kw3, yang menyebabkan mesin sering bermasalah dan teknisi sejenis Bahdin pontang panting lembur.

    Setelah admin pabrik efektif menjalankan tugasnya controler, suplier non branded atau sekedar pedagang tersingkir otomatis. Barisan Sakit Hati yang selama ini menikmati pelicin agar tutup mata, kehilangan pendapatan. Ada yang kalap mensabotase Bahdin, untunglah hanya pergelangan kaki keseleo.

    Tikus di pabrik bermunculan, secara rahasia menghindari riak, disapu tim bersih2 dari Dewan DIreksi, Bahdin diminta untuk sementara istirahat agar pulih menunggu selesainya tikus dibersihkan.

    Bahdin memiih tidak pulang ke rumah, tetapi kembali ke kontrakan masa mudanya errr masa remaja nya dulu, di Timur Jakarta. Area padat tidak tertata, ribuan rumah bedeng atau kontrakan semrawut. Setengah mengusir kawannya yang menempati kontrakannya dulu, yang iklhas melihat sohibnya kuyu dengan kaki keseleo.

    Didaerah ini Bahdin jauh lebih familiar karena banyak kenal dengan warung, jajan keliling, tukang sayur, pemulung.

    Dikontrakannnya ini, adalah tempat yang dirinya paling betah, karena dianggap anak angkat oleh enyak tua pemilik 12 pintu dengan buka warung nasi. Kembalinya penghuni lama disambut gembira. Yang membuatnya disukai, berbeda dengan penghuni lain, Bahdin tak pernah hutang. Kalau kontrakan selalu bayar tiga bulan didepan. Demikian juga warung nasi, bayar sebulan didepan. Tetangga kiri kanannya pun, kalau kepepet hutangan sudah lewat plafon, sering ditanggulanginya.

    Ditempat ini, fasilitas buat yang mengetahui sangat lengkap, tukang urut kampung segera datang menangani keseleo dan masuk angin. Tak kalah dengan rumah sakit, pergelangan kaki, dibalut erat dengan perban khusus, mencegah bergerak, kruk dipinjamkan. Kebutuhan rutin ada yang bantu belanjakan. Service menyaingi hotel bintang lima.

    Jaringan hanya ada opertor tertentu, dan kalau hujan jalan banjir, dan harus memutar jauh. Hanya kenalan lama Bahdin yang tahu domisilinya ini. Pak Karmin diinformasikan insiden diatas dan domisili sementara kembali ke tempat dulu, tahu lokasi tersebut, karena dulu pernah berkunjung dalam rangka mengenal lebih jauh para kepercayaannya.

    Jadilah para kekaih baru Bahdin resah, kekasih hilang ditelan bumi.

    sSs

    Sementara, Marni dapat supir pinjaman, berbarengan dengan mencari dan try out supir baru yang cewe, hanya sebatas hari kerja. Sabtu Minggu direncanakannya tak dibawa pulang, titip di rumah Pak Broto, kaena tak punya garasi dan tak ingin supir kantor tahu domisili Ibu Manajer, bisa merusak prestise.

    Tetapi dasar Rusdi, mendadak keren, tahu bininya dapat fasilitas, jumat malam tanpa malu menjemput untuk niat coba sedan baru. Keengganan Marni ditepis Rusdi, bisa parkir dirumah. Sudah lama garasi kosong tak diisi mobil.

    Ida punya kegiatan baru, setiap pagi mengantar anak-anak ke pre school. Kecintaannya akan anak membuatnya ringan tangan membantu dan mulai dilibatkan oleh pre school tersebut. Suaminya Deni yang menunggu musim order panggilan musik di perkebunan, seolah kembali kemasa lalu ngapelin pacar tiap malam, sembunyi-sembunyi dimata Keluarga Broto dan Marni.

    Ina kian mapan menjalankan perannya, mungkin 70% sudah lancar menghandel kerjaan teknis. Ambisi dan tenaga fresh membuatnya seolah tak kehabisan stamina, sabtu minggu lembur terus. Seaku sekretaris baru, cantik, singel, mendapat kesibukan khusus, melayani atensi para pengagum, baik itu sekedar iseng, mancing, pemburu wanita maupun yang benar2 jatuh hati. Untunglah ada sekretaris satu yang langsung mengenali beragam gaya permainan usang.

    Sebaliknya Srefani merasa aman, karena sudah masuk dalam payung atau circle Karmin.

    Bagi Karmin, semua tampak seolah berjalan mulus, tetapi dirinya masih khawatir Tokoh atau dalang yang merancang belum terdeteksi, hanya terdeteksi sebatas level menengah.

    sSs

    Semua terjebak pada kesibukan. Sebulan berlalu, kehebohan dan gejolak perlahan mereda dengan tersingkirnya beberapa posisi, berdasar hasil pemeriksaan Internal Auditor. Sesi mentoring berjalan terus, minus kehadiran Bahdin.

    Stefani yang dapat tugas tambahan menggali latar belakang informasi kandidat kandidat manajer baru, terutama siapa yang mengusung atau merekomen kandidat tersebut. Melaporkan progressnya saat sesi mentoring

    "Pak, empat sekretaris yang lain sudah saya dekati tampaknya tak mengeluarkan rekomendasi atau punya perhatian khusus terhadap penunjukkan pejabat baru, masih dalam batas normal. Tinggal satu sekretaris Direktur Bus Dev, yang agak sulit saya dekati karena paling senior"

    "Ok, bagus.." Dalam benak Karmin sudah ada kecurigaan kesana, informasi tadi sekedar tambahan indikasi yang tak bisa dijadikan dasar tindakan

    "Kalau saja ada Bahdin saya mo minta tolong bantu mengorek info, karena tampaknya dia pernah menyinggung ingin kenal Bahdin, tapi entah apa motivasinya tanya?"

    "Lho kenapa Bahdin tidak dipanggil saja?"
    "Sebulan lebih, tak bisa dihubungi. Ibu Marni yang di pabrik saja tidak tahu, padahal sudah tanya sana sini" Ina menyahut
    "Lha memang dia sedang istirahat, pergelangan kakinya retak"
    "Bapak tahu keberadaan Bahdin? hape nya tak aktif "

    "Pasti belum pulih, itu anak kalau pulih pasti datang sendiri, mana betah dia dirumah. Kemarin saya perintah stanby istirahat, karena dipabrik juga sedang proses penindakan"
    "Tapi dia tidak ada dirumah" Ina mengejar, cemas

    "Kalian tidak tahu tempat tinggal lamanya, di daerah Cipinang?, hmm pakai supir saya saja, dia tahu jalan, saya sendiri tahu daerahnya tapi gangnya ribet"
    "Baik pak, saya besok masuk terlambat, coba jenguk dan koordinasikan rencana Stefani" Rencana Sterfani dijadikan alasan, padahal Ina mendadak nelongso tahu baru tahu Bahdin cidera setelah sekian lama.

    sSs

    Dalam perjalanan Marni dan Ina, menyadari mereka sama sekali tak tahu apa pun tentang Bahdin, asal usul, latar belakang, kelaurga dan lain-lain, bahkan domisilinya pun tidak. Pak Karmin yang direktur malahan lebih tahu.

    Marni dan Ina ada kesamaan, peka dan tahu diri. Terlebih Ina beroleh didikan budi pekerti trah yang baik, sebaliknya Marni berangkat dari kesulitan hidup. Keduanya merasa tak enak, apalagi baru tahu pergelangan kaki retak. Dulu Marni dapat info keseleo. Ketidaktahuan dan boleh dibilang ketidakpedulian menimbulkan perasaan bersalah.

    Parkir mobil lumayan jauh, dua sosok wanita eksekutif anggun mempesona menyusuri gang cor beton, memancing perhatian warga yang mayoritas kelas buruh. Biasanya yang dipelototi warga adalah pegawai koperasi kedok rentenir, kali ini sepasang cewe eskekutif yang dikawal supir Karmin pensiunan kopasus. Berhati-hati keduanya melangkah high heel nya tidak nginjak kotoran kambing.

    Supir Karmin pun rada kagok, karena sudah lima tahun banyak berubah, makin banyak kontrakan dibangun. Hari masih jam 10, ketika akhirnya sampai. Marni langsung mengenali motor butut. Enyak warung yang dikenal supir, langsung tereak memanggil Bahdin. Kalau yang datang koperasi pasti diumpetin, tapi karena ada dua bidadari, enyak langsung memanggil. Enyak menunjuk pintu, yang dibuka, sosok kurus memakai kruk, dengan pergelangan kaki dibalut.

    Penuh emosi dan rasa bersalah, keduanya dipersilahkan masuk. Sangat kerepotan melepas hak tinggi, dan duduk karena rok span menyulitkan duduk dikarpet, ruangan cuma bufet dihiasi tv. Bahdin pun masih susah untuk duduk. dilantai, harus meluruskan sebelah kaki.

    Lazimnya dikampung, ada pendatang baru apalagi cantik sensasional, mengundang penghuni lain pada keluar, sok mau tahu. Keduanya terdiam tak bisa ngomong apa-apa ditontoni, untunglah Enyak datang membawan teh dan mengusir anak-anak yang mulai gerombol, dengan teriakan betawinya yang syahdu.

    "Wah dijalan nggak ada yang gangguin"
    "Tidak ada mas kenapa?" Ina keheranan
    "Ada dua putri menawan keluyuran dikampung, bikin bidadari minder, apa nggak diusilin anak muda nongkrong?,
    "He..he..jalan ama kopasus"
    "Walaupun... godaannya yang nggak nahanin" Bahdin mengagumi pesona keduanya yang sekarang tampak perfect, rambut dan model potongannya yang pasti bukan dari salon kampung
    "Jangan salahkan mereka kalau lupa diri terkagum-kagum, siul, usil atau pasang jampi, yang satu ayu kharisma keibuan dan strong leadershinp, yang satu lagi cantik memancar keanggunan aristokrat "
    Terbang kelangit ketujuh keduanya dipuji demikian elegan oleh teknisi pabrik.

    "Ah mas gombal Ini pelajaran dari corporate leader" Ina merendah, "Selaku pemimpin, mbak Marni harus bisa menjangkau keseluruh anak buah, menghilangkan hambatan atau sekat, baik pskis atau fisik. Kalau urusan aurat itu terpulang otak masing-masing karyawan yang punya mata."

    "Mas, kok nggak nelpon?"
    "he..he..he... nggak ada sinyal, disini cuma ada im3"
    "Selama ini siapa yang merawat"
    "Wah disini banyak kenalan, ada enyak, tukang urut kseselo, tetangga, abg nya gampang disuruh aman terkendali"

    Marni menyadari dirinya sama sekali buta tentang Bahdin, sebaliknya Bahdin kenal dirinya sejak masa remaja. Pembicaraan bergeser ke kaki retak, yang sekarang berangsur sembuh. Mungkin kembali aktif seminggu dua minggu atau ada panggilan khusus.

    "Mas tak pulang kerumah?"
    "Refoot, disini lebih enak, banyak yang bisa disuruh, maklum lagi cacat"

    Keduanya kehabisan akal, menyeret Bahdin dari tempat ini, karena sikon tak memungkinkan, keduanya toh memang super sibuk. Bahdin yang cacat tak bisa jalan sendiri naik motor.
    "Mass...Ina kangen nii, ayo kerumah " akhirnya pecah juga cangkang gengsi gadis ini. "nanti mau pulang gampang dianterin..."
    "Lha sekarang kan udah ketemu ..."
    "Hah... dijadiin tontonan tuuh, memangnya srimulat?"
    "Salah sendiri pada cakep-cakep"
    Dasar Bahdin tak bisa menolak pinta, manut saja diculik.
    Sepanjang gang, jadi tontonan, orang cacat diculik sepasang bidadari, dikawal berbadan tegap.

    Marni didrop di pabrik, sedan meluncur ke tebet, menurunkan Bahdin, yang oleh Ina langsung di papah kekamarnya.
    "Mama..Mas Bahdin baru ditemukan, rupanya kakinya retak sehingga tak bisa jalan, istirahat dirumahnya dulu, sehingga tak ada yang tahu, tak ada jaringan. Ina ngantor dulu ya Ma...Biar nanti diurus ida." Ina menginformasikan ada tamu dikamarnya,

    Ina masuk kantor sudah lewat istirahat siang. Kelaparan, dan cape menembus macet Jakarta. "Stef, Bahdin sudah dirumah, gimana rencananya"
    "Hmmm, saya kesana naik bajaj gimana, susun rencana, tak lama, kamu standby"

    sSs

    bersambung ke

    Motor 12
    Scuter Piagio 2b

  15. #34
    Semprot Kecil otakrusak's Avatar
    Daftar
    Nov 2013
    Lokasi
    In your dream
    Posts
    84
    Thanks
    1
    Thanked 8 Times in 2 Posts
     THREAD STARTER 
    hoshh ...hoshhh ... hoshhh

  16. #35
    Semprot Kecil otakrusak's Avatar
    Daftar
    Nov 2013
    Lokasi
    In your dream
    Posts
    84
    Thanks
    1
    Thanked 8 Times in 2 Posts
     THREAD STARTER 

    Motor 12 Scuter Piagio 2b

    Motor 12
    Scuter Piagio 2b

    Ida, buru-buru memaksa balita tidur siang. Kedua anak sangat penurut ditangannya yang memang sayang anak. Membawa minuman dingin dan penganan kecil, memasuki kamar Ina yang tak pernah dimasukinya selama ini. Berani kali ini karena diperintah Ina, agar mengurus dengan baik dan 'benar'.

    Sebenarnya Ida kian kebelakang kian dingin terhadap Bahdin, wajar manusia, pertolongan sudah dinikmati, balasnya ntar dulu ahhhh lupa. Awalnya sedang birahi tinggi, nyusss disiram air dingin mergoki ngamar dengan Stefani, ditambah lagi Deni suaminya belakangan ini hot mengapeli dirinya, seperti abg pacaran. Maklum, tak enak tiap hari datang kerumah orang, jadi datangnya bak pencuri, diam-diam, lewat jam 10. Keduanya tak sadar, didunia terapi psikologi hal itu semacam role game, hubungan rumah tangga yang 'loves passes you by' diterapi 'the passion flares again'

    Tetapi kali ini, melihat sosok kurus kering, tertatih pakai tongkat kruk, kontan bangkit iba kemanusiaannya, apalagi memang Ida sangat sayang pada anak-anak, baik itu balita maupun anak gede. Sedikit sedikit dirinya tahu p3k, karena kian aktif membantu preschool, diajarin tentang peanganan medis ringan kalo darurat. Disuruhnya Bahdin berbaring di bed, dirinya ingin memeriksa.

    Membasuh rasa bersalah, Ida yang lidahnya kelu, fokus pada balutan ban karet di pergelangan. Dibukanya hati-hati, karena memang ada kaitan seperti kaitan bra. Dirabanya seperti mengurut bayi atau balita, ekstra lembut, sambil memperhatikan reaksi. Ternyata tak ada rasa sakit, hampir pulih.

    Diambilnya gayung dan handuk di bersihkannya dengan air hangat dari wastafel. Selama itu Bahdin memancing pembicaraan kecil, mengejar informasi terkini akibat sebulan dirinya tetirah.

    Berbincang, sambil bekerja, usai mengembalikan balutan pergelangan kaki. Ida bingung mau apa, sudah dapat instruksi menemani. Selama membasuh tadi, memorinya kontan terbayang jelas, mulai meronakan wajahnya. Menutupi rona wajah dan salah tingkah menunduk dan membasuh kaki sebelah.

    Pembicaraan ringan terus berlangsung, Ida menceritakan kegiatan barunya di preschool, bersemangat cerita tapi menghindar dari tatapan. Yang terjadi adalah sambil cerita iseng kegiatan baru membasuh kaki, Bahdin yang hanya pakai celana gombrong selutut, yang sudah butut.

    Kehabisan area dibasuh dibawah lutut, tak sadar basuhannya beranjak naik keatas lutut. Pembicaraan kian seru. Sama seperti kalau Ida memandikan Anton yang balita sambil ngobrol dengan ibunya, otomatis membasuh tapi konsentrasi pada pembicaraan.

    Lupa ini anak gede, basuhannya tak sadar berkali-kali nelusup kelobang celana gombrong. Singkat kata, tersenggol berkali-kali kontan bangun.

    Problema terkini Bahdin adalah, sebulan lebih terkapar, tak tersalurkan, pasti udah jadi odol tuh saripatinya, semoga tak mampet. Tersenggol dikit langsung si otong ngamuk, susah payah Bahdin menahan. Bahdin bukan lelaki tukang tagih hutang budi. Ngobrol sembari dirawat hanya itu yang dipikirannya, tak ada niatan lain. Tetapi berkali-kali tak sengaja disenggol, apalagi sudah membludak, pening juga kepalanya.

    Berbeda dengan Ida, diapelin terus suaminya artis keliling kampung, berujung pada penetrasi standar missioanris dilantai. Akibat ruang tamu paviliun sempit dan khawatir membangunkan Marni, Deni tak bisa mengembangkan permainan jurus andalannya, meminta perpanjangan waktu lebih tak mungkin. Ida cukup bahagia beroleh perhatian penuh, diapelin rutin seperti masa remaha, walaupun tak pernah tuntas. The passion flares again. Urusan terus menerus konak ke ubun-ubun adalah cerita lain.

    Entah berapa lama keduanya ngobrol ringan sembari Ida secara tak sadar membasuh kedua Kaki Bahdin, menindih memori menggelora dalam diri, reflek mengusap. secara naluriah, usapannya berkutet mecoba masuk lubang celana gombrong. Perlahan Ida menyadari tonjolan keras muncul dihadapnya.

    "Nah mbak...bangun deee, tanggung jawab tuu" Bahdin menggoda
    Seolah tersihir, didorong ingin tahu, sebelah tangan Ida memasuki lubang celana, dan menjamah kekerasan. Tak tertahan lagi kenangan menggairahkan melanda, malu-malu diremasnya tonjolan keras.

    Gayung bersambut, Bahdin meraba mesra punggung ibu muda yang bersimpuh, seperti biasa seolah memangkitkan semangat. Terdorong tanggungjawab dan dibakar gairah, Ida memupus kekhawatirannya, menebus rasa bersalah selama ini. Insiden lalu dirinya adalah pemicu, akibat cemburu membuta.

    Dikuatkan batinnya, menelusupkan jemari kebalik cd, sangat mudah, menemukan kejantanan panas kenyal, kian menggelegak gelora dalam dirinya, bak terhipnotis, diremasnya keras berulang. Bahdin menimpali dengan pijatan-pijatan dipunggung lembut sejauh jangakuan tangan.

    Campur aduk rasa dalam hati, mendadak bangkit rindu dendamnya tak tertuntaskan, lupa segala pertimbangan positif, dipelorotkan celana kolor itu hati-hati, lolos dari kaki yang cidera, demikian juga cd nya. Diteguhkannya pada hal negatif, dcamkannya anaknya yang kritis, diingatnya iparnya berubah nasib dan kini menyiprat dirinya, dibayangkan perjuangan mereka menghela perubahan nasib. Lelaki ini yang bertanggungjawab.

    "Mas maapin Ida ya..." Ida menelungkupkan diri menindih lelaki ini,
    "Kenapa memangnya?"
    "Ida kemarin salah sangka,...Ida cemburu..."
    "He..he... kirain ada apa..lupain aja...

    Mendapat pengampunan, Ida berubah seratus delapan puluh derajat, bangkit binalnya, dikulumnya bibir lelaki yang ditindihnya ini, lupa sejenak kakinya cidera, didusel-duselkannya punuk nya pada batang mengganjal, yang bangkit emosi gara-gara ulahnya sendiri..

    Ida mengulum lembut bibir lelaki itu, berlama-lama memasturbasi dirinya, memanfaatkan kekerasan. Bahdin memancing, maklum sudah cenat cenut

    "Sstt nggak enak kena kancing"
    Seolah mendapat surat perintah, Ida langsung menyerbu, menduduki lelaki itu,
    diloloskan kaos belel Bahdin keatas kepala, dilepaskan cepat kulot cd kaos, menyisakan bra. Sangat seksi dalam pandangan Bahdin, sayang tak ada rekaman.

    Tak berlama-lama Ida membiarkan rindu dendamnya, diamblaskan perlahan batang itu dalam haribaannya, panas dan sesak. Perlahan dinikmati dan dibiasakan kewanitaannya menerima kepejalan.

    Ida memandang sendu lelaki yang ditungganginya, sanubarinya kini sudah banyak takluk. Cidera kaki Bahdin kian membubungkan rasa bersalah, menghilangnya sebulan lebih tanpa ada yang mengurus membasuh pergumulan batinnya, sekaligus memercikkan api kasih baru. Nilai moral dan logikanya menolak memahami tetapi alam bawah sadarnya seolah menyatakan inilah secuil belahan sukmanya.

    Mulailah Ida sepenuh hati meggoyangkan pinggulnya dengan gemulai, bergoyang dari sanubarinya, memancarkan kasih memberikan pengabdian pada tubuh kurus yang ditindihnya yang secara semena di curigainya, dicemburui berujung pada heboh menghilang ditelan bumi.

    Terpana juga Bahdin menerima tatapan yang memancar kasih, dari pandangan mata sayu memuja, desahan lembut dan goyangan menggetarkan jiwa.
    Secara kasat mata, Ida kini menikmati bersatunya raga dan sekaligus sukma, diresapinya perlahan-lahan seolah tak ingin momen itu berlalu. Sulit menyatakan dalam kata-kata apa yang dirasakan Ida, tapi bagi yang pernah mengalami indahnya malam pertama, itulah kisah yang mendekati. Birahi hanya sebagian sebagian dari kisah, sebagian lain adalah bersatunya harapan, rindu dendam.

    Berlama-lama meresapi semilir kenikmatan perlahan-lahan, menibakan juga diri Ida pada pendakian puncaknya. Seolah ingin semakin menyatukan raga, Ida merebahkan diri menelungkup di atas tubuh Bahdin, menyerahkan raganya sepenuhnya pada lelaki yang kini mulai dipujanya. Klimaksnya dicapai dengan geliatan-geliatan tubuh lembut terkendali, memerah-merah kejantanan Bahdin dengan goyangan pinggul gemulai, payudara terutup bra bergetar diduselkan mesra kedada krempeng Bahdin, gesekan pipi lembut mesra, dan bisikan keluhan nikmat penuh kasih.

    Merasa tak enak, diganjal bra, Bahdin melepaskan kaitan bra, Ida dengan lunglai menggeliatkan tubuh melempar penghalang itu.

    Sekian lama, tidur sendirian, Bahdin terlampiaskan dahaganya mendekap dan membelai tubuh mulus telanjang. Tak ingin menyiakan waktu sebelah tangan Bahdni menjarah sisi belakang tubuh sebatas jangkauannya. Sebelah tangan yang lain, menikmati hangatnya payudara montok, kenyal menindas dadanya.

    Barusan berselang Ida terpuaskan rindu gairahnya, kini menerima berkah belaian hangat lembali membakar birahi. Masih dalam kelesuan Ida menggigit bibir menikmatai pejalnya batang itu di liang wanitanya.

    Seperti diduga, tak berapa lama, kembali bara birahi terbakar hebat. Jemari Bahdin dengan ganas mencucuki liang anusnya memaksa Ida kembali pulih staminanya pertarungan ronde kedua.

    Mulailah kembali Ida bertarung mengejar rasa....

    sss

    Stefani yang belakangan ini terbiasa berkunjung dan bebas ke ruang kerja, paviliun Marni maupun kamar Ina. Membuka pintu tak terkunci yang memancarkan suara dengusan erotis, mendapatkan Ida tengah menggeliat memulai pertarungan keduanya, mengintip, menonton ibu muda itu seolah histeris melonjak-lonjak, dan pada akhirnya menggelepar seperti ikan lele diatas tubuh kurus Bahdin. Hubungannya dengan ipar Marni ini sudah membaik.

    Berdebar Stefani memperoleh tontonan erotis ini, setelah melepas hak tinggi dan blazer, menyisakan rok span dan dalaman tanpa lengan, dihampirinya dua sosok yang sedang berpadu mesra. Stefani beringsut berbaring merapat disisi dua tubuh yang bertindihan, tenengah-engah. Bahdin menyadari sosok yang menghampiri adalah Ste, disambutnya dengan gembira.

    Stefani tanpa suara dan kata mengecup bibir Bahdin. Seperti diketahui wataknya adalah bebas, pacar punya, keren dan jantan. Tapi Bahdin adalah teman mesranya, lebih tepatnya Friend with Benefit. Dari Bahdin dirinya memeproleh manfaat.

    Perlahan ida membuka mata menyadari ada mahluk ketiga. Bila kata pepatah saat dua berlainan jenis berduaan, hadir setan mahluk ketiga. Tapi ini setan yang sangat cantik. Paling cantik eksotik diantara mereka berempat.

    Kaget dan malu dirinya dipergoki wanita yang dulu diperrgoki dan dicemburuinya. Gugup dan tak mampu berkata. Pasrah menelungkupi lelaki bukan suaminya. Lupa batang keras masih menancap.

    Stefani ingin menunjukkan pada Ida, tak perlu terlalu teritorial akan cowok ini, seperti kejadian di hotel dulu. Kini dalam kondisi sebaliknya, Stefani mengecup pipi Ida sembari membelai punggungnya yang telanjang, simbol kebersamaan. Kebersamaan menikmati benefit.

    Ketiga wajah sangat rapat. Bagi Ida ini pengalaman yang langka, dulu pernah sekali dengan Marni ipar yang dikenalnya baik, tapi ini dengan wanita yang relatif asing.

    "Din, gw yaa...." Bahdin mengangguk menggeser tubuh telanjang ida ke samping. Stefani duduk melepaskan cepat pakaiannya, kontan pemandangan baru seksi menggairahkan. Gadis eksotik
    beringsut menempatkan diri ditengah diantara keduanya, memunggungi Bahdin, meminta gaya khasnya lazy sex.

    Selain itu pula, Stefani mau mencoba mainan baru. Dasar watak bebas dan jam terbang tinggi, bercengkrama mengarah erotis dengan sesama wanita, baginya bukan tabu, bahkan cenderung sensual. Stefani berkonsentrasi pada sosok Ida yang dirasa memonopoli Bahdin. Stefani berbaring miring menghadapi Ida yang telentang telanjang, malu-malu.

    Stefani merapatkan wajahnya pada wajah Ida, dikecupnya bibir gadis itu dengan mesra. Kian grogi Ida dipepet rapat sesama jenis telanjang, dan kini dikecup.... oh mama...."

    Stefani full confident akan Bahdin, untuk soft core, sudah terbukti. Dirinya bosan selalu melayani para cowoknya hardcore, sok pamer vitalitas muda. Awal-wala sih ok, tapi jangan terus-terusan dong, variasi lah yaooo. Hal yang jarang disadarai kaum lelaki, ada wanita yang sindrom father figure, menginginkan kemesraan erotis gaya lembut.

    Stefani menahan nafas, memejamkan mata menahan sengatan rasa, dirinya dimasuki kekerasan, dirasakannya Bahdin demikian hati-hati memasuki dirinya. Stefani menahan rasa dengan malah mendekap Ida, dan mengulum bibirnya kian kuat.

    Mulailah Bahdin melakukan olah jasmani ringan, semacam jalan santai, pinggulnya melesakan maju lembut, mearik mundur perlahan. Kalau saja ada teka teki silang, tentu enak buat selingan. Toh tangannya bebas memerlukan kerjaan ringan.

    Perlahan kekakuan Ida mencair, canggung dibalasnya dengan merangkul. Dikulum wanita lain membangkitkan rasa aneh. Terlebih lagi Stefani menuntun sebelah tangannya menggarap payudaranya. Ida mulai mengelus dan membelai keindahan payudara mungil.

    Diraba oleh tangan lelaki dan tangan wanita, jauh berbeda. Stefani langsung membara, cepat birahinya menggelegak, payudaranya disentuh kelembutan jemari Ida. Sesama wanita menyadari pekanya area itu, Ida meraba sangat lembut, dilampiaskan imajinasi bagaimana dirinya bila ingin diraba, ditumpahkannya pada Ste. Merem melek Stefani menikmati usapan lembut jemari wanita, ahhh... sangat passss mendera kalbu.

    Dengan digasak kelembutan dari dua sisi, Stefani tak kuat bertahan lama. Kerinduannya hubungan seksual softcore membuatnya dalam tempo singkat meledakkan gelora birahi dengan cepat, letusan yang teramat dahsyat tapi dalam kelembutan. Tubuhnya kejang kelojotan merangkul Ida sekaut tenaga. Mendesah dan merintih lembut menahan rasa mengemot kuat bibir ida.

    Pinggulnya tersentak-sentak meledakkan rasa, sembari konstan digasak lembut kerasnya batang Bahdin. Ibarat letusan gunung berapi, Stefani meletus dibawah permukaan laut. Tak nampak gemuruh dipermukaan, tapi bergejolak didalam. Getaran tubuhnya terasa dahsyat dalam pelukan Ida.

    Meledak pula rasa akrab dalam diri Ida memperoleh sensasi hubungan dengan wanita lain, memeluk sukma yang menggelora dalam dekapannya. Ganti kini Ida yang balik, mengelus-ngelus Stefani, melenakannya dari perjuangan melalui badai birahi yang menggelegak.

    Sial dirasa bahdin, dua cewe itu sekarang asik-asikan mengabaikan dirinya. Nasib..nasib...

    Tapi orang sabar akan subur.

    Stefani butuh waktu tiga menit memulihkan dirinya .

    "Din, sekarang gw pengen ujian lagi. Gw udah sparing teori dengan Ina, sekarang elo coba yaa..." Dengan manja Stefani membalikkan diri menggulingkan tubuh diatas Bahdin kesisi sebelah, menjadikan kini Bahdin diapit ditengah. Digelindingi tubuh cewek telanjang, membekukan otak Bahdin, tak mampu merespon.

    "Ida perhatikan, ini pelajaran tak ada duanya, tak bakalan nemu disekolah manapun" Stefani bersimpuh disisi Bahdin, mencari posisi yang pas. ""Ida tolong ambilkan baby oil dimeja dung" Stefani hapal isi meja rias Ina, dan menginginkan Ida berpartisipasi aktif.

    Sesuai teori, Stefani membalurkan baby oil ditangannya dan di batang keras yang sudah lembab basah usai bertarung menaklukan dua wanita. Sebenarnya Bahdin sudah terasa keubun-ubun, sekian lama si otong tak disenggol, kandungannya sudah membludak. Untuk ngocok terasa tak enak lagi. Diinterupsi kian menjadikannya kenyot-kenyot,

    Stefani mulai membalurkan baby oil disekujur batang, kedua bola, pangkal, dan perinium, dilakukan dengan sepenuh rasa, matanya memancarkan pemujaan dan kagum. Itu basic teori yang banyak dilupakan para pelaku pijat plus. Stefani tak perlu pura-pura kagum, wong memang benar-benar kagum, keras tapi kelakuan lembut mempesona.

    Sembari bertindak, tak lupa Stefani memberi pelajaran pada Ida yang menyimak sangat fokus. Pertama Stefani melakukan teknik standar Memeras

    Sebelah tangan menggenggam dan memeras keras di pangkal batang. Jemari lain memeras bagian lain memutar kearah kearah yang berlawanan

    Kejang Bahdin yang sudah diubun-ubun digarap demikian. Yang menambah gejolak adalah kedua tubuh menggairahkan telanjang bersimpuh disisinya. Tak ada hal lain yang mampu dilakukan selain melampiaskan rasa dendam dengan meremas-remas kedua bokong seksi. Semenit dua, Stefani mencoba teknik lain: sulut api. Bila tadi memeras kuat tapi perlahan, kini berubah seratus delapan puluh derajat.

    kedua tapak tangan, seolah bertepuk berhadapan dengan batang ditengahnya. Menggosok batang, bolak-balik berganti arah, sangat cepat

    Kejang-kejang Bahdin diperlakukan demikian. Stefani merasakan batang itu mulai berdenyut keras, sinyal mulai pendakian. Cepat Stefani menerapkan teknik lain, memasase kepala penis. Helm baja Bahdin kian memerah, digenggam dan di usap, di pijat gonta ganti arah.

    Memang dasar sudah konak tinggi, Bahin menggeram meledak dibawah jemari Stefani yang kini mengocok dengan kuat cepat, memeras agar seluruh sari pati tumpas muncrat tak bersisa. Sangat kuat geggaman Srefani memeras batang agar cairan meleleh habis. Menumpahkan rasa, Bahdin menggerebek tubuh Ida mendekapnya kuat, kelojotan.

    Karena sudah berbulan-bulan menimbun secara ilegal, stok cairan yang ditumpahkan luar biasa banyak. Sambil bercanda, Stefani mencolekkan cairan kental dan panas itu, kewajahnya seolah masker. "Ini obat awet muda. Resep rahasia titi puspa." Usai mencoba sedikit diwajahnya Stefani mengoleskan ke wajah Ida yang malu-malu.

    Akhirnya keduanya bercengkrama seolah praktik perawatan kecantikan di salon, mengoleskan cairan masker disekujur wajah. Memanfaatkan Bahdin yang loyo masih berdenyut-denyut keenakan.

    "Din, ada yang nanyain lo, Tuti, sekretaris busdev. Waktu sedang gw lacak info dan gosip, tinggal dia yang belum tembus, karena paling susah, perawan tua, aneh kelakukannya, tapi ajaib tak tergoyahkan posisinya. Waku gw coba merapat, eh dia tanya tentang lo. Gw jawab, kenal baik, teknisi pabrik beberapa kali dipanggil Pak Karmin. Sekarang lagi cuti kaki patah. Dia pesan secepat mungkin mo ketemu"

    "Terus maksud lo gimana" Bahdin membelai ketelanjangan punggung Ida, saat batangnya yang teronggok lemas dijadikan mainan Stefani

    "Sepertinya mereka udah panik, beberap tokoh kunci mendadak off sekaligus. Mau masukan kandidat pengganti. Tugas gw melacak yg kasih rekomen siapa, indikasinya direktur busdev, tapi belum ada bukti. Kalau dapat, seluruh pejabat yg rekomendasi dr tokoh misterius ini tak dipakai, menuntaskan semua masalah. Bahkan yang dulu dari rekomendasi dia bakalan di sapu bersih.

    "Jadi gw ngapain?"
    Sembari mengelus daging dan memijit bola, "Mumpung lo dicari, temuin aja, cari tahu maunya apa. Isunya dia hiper. Gue dah tebar info lo tu ttm gw, karena ada nilai plus"
    "Ahhh lo nggak-nggak aja ..."
    "Ayo dong.... for the team, kalo gw bisa udah gw lakonin, atau kalo dia lesbi sudah gw tempel" Kian mesra Stefani membelai.

    Bingung Ida mendengar konspirasi tiingkat tinggi. Tapi terdorong solider mulai ikutan meraba bulu lebat dipangkal paha. Stefani menghargai respon Ida dan menuntun jari tengah Ida kearea antara pangkal paha dan anus "pijat disini". Ida yang mulai tumbuh rasa yang aneh, sangat bahagia bisa sedikit patisipasi.

    "Waduu... sshhh....masih cacat begini shhh....sudah disuruh tempur lagi.... shhh gimana caranya?" disergap tiga tangan, sensasi baru bagi bahdin, si otong kembali emosi.

    "Yang penting mau dulu, baru kita bahas teknisnya..." mulai muncul tanda kehidupan, batang itu menggeliat dalam genggaman.
    "Ya tapi kan berisiko gagal, jalan aja gw susah ...sssttt" Bahdin mengajukan argumentasi, saat batangnya sudah kembali sangar pulih ketegangannya

    "Ayo dongg.... " dengan binal Stefani yang berhasil memancing si otong bangkit dari tidurnya, membujuk titik lemah Bahdin.
    "Mikir dulu ah... masih pusing niii, tuuuu lo kerjain lagi ..."
    "Hi hi hi... Din, gw ngantor lagi...." Demikianlah gaya fast sex yuppies metropolitan. Sehabis bobo bobo siang Stefani kabur meninggalkan masalah, membiarkan Ida yang mentuntaskannya.

    sSs

    "Kasian tu anak, menghilang lama tak ada yang urus" Stefani naik bajaj, kembali kekantor dari pintu belakang.
    "Ah katanya banyak kok yang urus, lingkungannya pada baik suka menolong"

    "Urusan yang lain nenggg....." Stefani menggoda
    "Maksudnya ..."
    "Tak diurus wanita geto loooo, Kalian kurang perhatian"
    "Tau dari mana ?"

    "Iya laaa, tadi diurus Ida sama saya kan ketahuan. lama tak kesenggol perempuan..muncratnya cepat dan banyaaakkk, jangan-jangan terakhir sejak gw senggol dulu, emang terakhir lo kapan" Stefani yang jam terbang tinggi share ilmu.
    Ina melongo "Iya yaa ...."

    "Tapi tadi dia udah dijelasin urusan Tuti, mau membantu, hmmm gimana bagusnya yaa"
    Cepat Stefani pindah topik, memahami munculnya rasa bersalah kolega barunya ini.


    Bersambung ke

    Motor 13
    Geng Motor

  17. #36
    Semprot Kecil otakrusak's Avatar
    Daftar
    Nov 2013
    Lokasi
    In your dream
    Posts
    84
    Thanks
    1
    Thanked 8 Times in 2 Posts
     THREAD STARTER 
    hehh..hehhh satu lagi ...

  18. #37
    Semprot Kecil otakrusak's Avatar
    Daftar
    Nov 2013
    Lokasi
    In your dream
    Posts
    84
    Thanks
    1
    Thanked 8 Times in 2 Posts
     THREAD STARTER 

    Bab 13 Geng Motor 1a

    Bab 13
    Geng Motor 1a


    Malam pertama Bahdin diculik.

    Tak perlu diceritakan panasnya pertempuran sepanjang malam sampai larut, Bahdin dikeroyok dua wanita mempesona yang pagi tadi menculiknya. AC yang sudah poll tak sanggup mengusir hawa panas akiba rindu membara yang ditumpahkan bergantian tak ada putusnya. Rasa bersalah menelantarkan pahlawan pujaan yang cidera dimedan tugas, dilampiaskan dalam gairah meletup-letup tak berkesudahan. Untunglah keduanya masih kasihan kaki Bahdin yang cidera. Sebenarnya terbalik, karena kaki cdera, Bahdin dilarang melakukan serangan balik secara efektif.

    Bahdin pasrah ditunggangi bergantian keduanya. Marni yang ayu kharismatik berjiwa pemimpin tak nyana empotan otot liang kewanitaannya kian yahuud, perasan otot kegel kian harmonis dengan geliatan pinggul yang memutar dan memeras, melipatgandakan daya cengkeram. Memaksa Bahdin kian meringis.

    Gadis belia dengan kecantikan aristokrat, kontras melonjak-lonjak liar membahanakan gairah remajanya. Staminanya kian berlipat seiring kian lihainya mengatur nafas dan tenaga Gerakan pinggulnya keatas menarik kebawah menekan dikombinasi sedikit menyerong depan belakang erotis dengan tubuhnya bergetaran menahan rasa.

    Si otong mendadak heboh, ekstravaganza, jadi pelampiasan luapan emosi, bergantian dikekep pamer kebinalan. Tak ada yang memikirkan apakah Bahdin harus pulang atau bagaimana.

    Marni berangkat pagi-pagi karena pabrik jauh, gairah kejanya kembali tinggi, wajahnya cerah, setelah sebulan ini surut digerogoti kecemasan. Sedangkan Ina masih punya waktu meledakkan gairah dipagi cerah. Didesak waktu keduanya buru-buru berangkat kerja. Jadilah tokoh kita, terkapar dikamar bingung mau bikin apa.

    Tak ada kegiatan, Bahdin memaksa ikut menemani Ida mengantar balita ke preschool. Bahdin mencermati Ida ternyata sangat keibuan, sayang anak, anak-anak patuh dan tunduk pada naluri kasih sayang keibuannya. Berangsur Ida memperoleh kesibukan belajar berbagai teknik seputar pengasuhan balita, psikologi, permainan, kesehatan, gizi, alergi, kecelakaan dll.

    sSs

    Malam kedua Bahdin diculik,

    Bu Broto yang dilaporkan putrinya Bahdin sementara tidur disofa ruang kerja, bakalan kaget kalau tahu kamar putrinya sudah jadi seolah kamar pengantin.

    Saat Marni sementara bercengkrama dengan anaknya, Ina lembur diruang kerja ditemani Bahdin. Ina ingat kesukaan lelaki ini, semasa dulu sabtu minggu kelompok belajar dirumah Bahdin. Dirinya mengenakan daster katun halus berlengan pendek. Saat sudah tak ada orang, isi dalamannya segera dicopot. Memancing di jarah tangan pujaannya. Bekerja dikarpet dengan notebook dimeja pendek, Ina serius menanyakan banyak hal teknis yang selama ini disimpan.

    Kesukaan Bahdin adalah sambil mengobrol, tangannya bergerilya dibalik daster, membelai dan memijat menikmati kelembutan dan kehalusan kulit telanjang di balik daster. Sembari bercengkrama atau ngobrol atau berdisukusi dengan wanita, sembari menumpahkan kenyamanan dan kemesraan. Bahdin senang memijat memberi kenyamanan otot pegal para kekasihnya, yang workaholik

    Ina menikmati belaian dan pijatan yang nyaman sembari menyempurnakan pekerjaannya. Ina memaksa konsentrasi pada pekerjaannya, bila dituruti dorongan gairahnya, sedari tadi lelaki ini sudah ditelentangkan ditungganginya. Ina membiarkan tubuhnya dijamahi lelaki yang menemaninya kerja sembari nonton tv, entah acara apa, tak jelas. Bahdin Selonjor kaki dilantai berkarpet disisi tubuh belia yang memelotori notebook.

    Setengah jam di gerayangi demikian nyaman dan nikmat, bobol juga konsentrasi Ina.
    "Mas...pengen ni...." Ina meminta tanpa sungkan. Karena sudah paham watak Bahdin.
    Bahdin santai saja memelorotkan kolor kelutut, celana bututnya, melepaskan siotong dari kepengapan, sementara bebas menghirup hawa sear.

    Ina tanpa banyak upaya, sedikit beringsut bersimpuh membelakangi, dan mendudukkan tubuhnya, memaksa otong tak berlama-lama mengacung kedinginan. Sejenak menumpu tanganya pada kedua lutut Bahdin, Bahdin menuntun bokong seksi itu turun melesakkan topi baja, perlahan.

    Seperti biasa, Ina menakar sendiri kedalaman yang disukainya. Kali ini mungkin tak lebih sepertiga yang dibiarkannya melesak masuk. Sembari berlutut mengangkangi paha Bahdain. Dengan manja Ina gemulai menyenderkan tubuh berdasternya ketubuh Bahdin yang didudukinya. Tangannya menjangkau jauh kebelakang merangkul leher Bahdin, mesra dan syahdu. Wajah ayu aristkoratnya, ditempelkan dipipi Bahdin, sensual, merem melek dibelai dan digasak.

    Ina menikmati pujaannya memijat dan menggerayangi ketahap lebih tinggi. Dan betul saja Bahdin semakin sigap merambah seluruh ketelanjangan tubuh Ina yang sensual ini dibalik daster katunnya. Semakin intens Bahdin meningkatkan rangsangan. Another favorit position. Ina menggeliat mendesah lembut menikmati jarahan kedua tapak kasar disekujur tubuh depannya. Pipinya ditempel ketat diwajah Bahdin, cuping hidungnya kembang kempis menghirp oksigen, mesra.

    Lima menit Ina mendesah nikmat, menggelinjangkan lembut tubuhnya dipangkuan Bahdin. Mesra dan erotis Bahdin dari belakang menekap kuat tubuh menggiurkan ini bergetaran dalam pelukannya, digasak seluruh bagian tubuh terpekanya.
    "Mashhhh...." Ina mendesah, kelojotan lembut, memejamkan mata mesra, didekap sangat kuat, bergetaran tubuhnya meletupkan gejolak birahi.

    Usai anaknya tidur, Marni menyusul bergabung. Ketiganya terkekeh kenangan masa lalu terulang kembali, kenangan kelompok belajar mesra. Mana mau Ida tak beroleh belaian dan pijatan nyaman jemari teknisi pabrik. Sembari dipijat dan dibelai, bergantian Ina dan Marni mengajukan topik bahasan, dibahas bertiga serius.

    Karena sudah rutin berangkat pagi pulang malam, jam tidur semakin teratur, menjelang jam sepuluh karena sudah diserang kantuk, kemarin malam kurang tidur, Marni menyeret Bahdin kembali kepelaminan, kamar Ina, meminta penuntasan.

    Malam kedua tak seheboh malam pertama. Dengan seragam malam dinas ala Bahdin, kedua sosok menggiurkan berbalut daster, bermanja-manja dikeloni Bahdin mengantar lelap tertidur. Dengan sedikit menyingkap daster, Bahdin dengan mudah menyelusup masuk, menggasak sangat lembut keduanya bergantian, hingga akhirnya lelap diperaduan .

    Memang jam tidur kedua wanita karir ini biasa jam sepuluh sudah terlelap, mengingat subuh harus sudah persiapan kerja. Dan juga akibat kemarin kurang tidur, sampai larut bertempur ganas.

    Jadilah Bahdin yang memble sendirian, golak golek tak bisa tidur, karena menyadari keduanya butuh istirahat, Bahdin bangkit keluar kamar mencari angin. Merasa kaosnya sudah basah keringat akbiat menemani kerja lembur, Bahdin tertatih dengan kruknya ke paviliun kediaman Marni dimana ranselnya tergeletak, mumpung belum larut, belum jam 11.

    Berhati-hati tak ingin membangunkan Ida dan anak-anak, Bahdin masuk paviliun, kosong. "Hmm mungkin Ida sudah tidur dengan anak-anak"

    Bahdin langsung menuju kamar Marni, perlahan membuka pintu mendapati sepasang insan sedang memadu kasih. Deni sedang ngapelin istrinya, menuntaskan kewajiban. Rupanya mengetahui kemarin Marni tidak tidur dikamar semalaman, dan menduga malam ini juga demikian, Ida mempersilahkan suaminya menggarap dirinya dengan bebas di bed Marni. Kegiatan mencuri hak orang memang semakin meambah intensitas kemesraan, separung berdebar separuh ngos-ngosan Ida menikmati teknik permainan yang kian bebas dipertontonkan suami tercinta. Apalagi Deni yang dicekam ketakutan memakain kamar kakak iparnya tanpa ijin.

    Pertempuran yang menjelang puncak, mendadak terhenti. Deni yang ibarat maling kepergok reflek kabur melarikan diri, panik mencari pakaian yang berserakan, tergopoh mengenakan pakaian "Anu...eh... maaf...anu...eh..."

    Perlu dimaklumi selama ini pasturi itu tinggal di kompleks mertua indah. Jadi Deni seumur hidup belum merasakan memiliki rumah, jangankan membeli, membayar kontrak pun tak pernah. Jadi Deni terpola seolah hidup menumpang, seolah masa bujangan. Kali ini kepergok indehoy dikamar orang, langsung panik, kabur. Lupa pasangannya adalah istrinya yang sah. Karena kepergok dikamar bos istrinya, Deni panik refleks, kabur masih bujangan.

    Yang jadi bengong adalah Bahdin, apalagi Ida, kebingungan melihat suaminya panik belingsatan. Ida bengong menatap suami tercintanya belingsatan sembari melirik pahlawan pujaan. Keduanya saling menatap, tak berapa lama terdengar suara motor. Deni kabur pulang kerumah.

    "Hah...mas Bahdin siiih, ganggu saja.."
    "Anu.. maaf ... mau ambil kaos ganti, basah keringatan.."

    Ida ngomel panjang pendek, tak sadar dirinya telanjang bulat di bed bukan miliknya. Bahdinpun kian terpana disemprot bibir manis ceriwis yang separuh telentahgm telanjang menggiurkan, bertumpu pada kedua sikunya. Ida mengomel menutupi rasa jengah dirinya dipergoki ditambah diinterupsi saat sedang asik-asiknya.

    Sekian lama berlalu puas ngomel, akhirnya Ida ketawa sendiri. Yang kabur tadi adalah suaminya tercinta, yang kini tertunduk melirik-lirik kena omelan adalah pahlawan hatinya.

    Deni sudah separuh perjalanan ngebut dengan motornya, baru menyadari meninggalkan istrinya telanjang dengan lelaki lain. Mengerem mendadak... bingung sendiri...ditengah jalan.... Diingatnya Bahdin yang dulu pernah ketemu di hotel. Istrinya Ida tak banyak cerita tentang dia, demikian juga abang iparnya Rusdi. Tapi yang dia tahu, Marni dan Ina sangat respek pada Bahdin.

    "Mas...sini...ayo tanggung jawab...." Ida setengah menghardik, beranjak duduk dibed, dihampiri Bahdin raguu dan enggan, yang pakai kruk, mendekat diperintah perempuan bugil. Tanpa basa-basi dipelorotkan kolor bahdin dengan mudah, berniat mengupayakan siotong bangun, mengisi segera kekosongan dirinya. Tak dinyana, si otong sedari tadi memang sudah sedari tadi garang. Menggeleparkan Marni dan Ina dengan cepat dan mudah. Dan memang keluar ruangan mencari angin.

    Surprise, Bahdin dengan gamang dituntun jemari lembut Ida, merapatkan pinggulnya, setelah setengah melempar kruknya keujung bed. Ida menanti, sedikit merebahkan tubuhnya menumpu kedua siku, mengundang. dibukanya pahanya lebar. Menuntut pertanggungjawaban.

    Bertumpu sebelah kaki, Bahdin menuntun helm baja menyentuh mulut liang yang baru porak poranda dilalui medan peretempuran. Dengan cepat Ida merasakan daging kenyal panas mulai menyumpal liangnya, sedikit berdebar. Tak berapa lama terpenuhi dahaga birahinya, sejenak saat ditengah gelegak birahi, ditinggalkan batang keras suaminya.

    "Sshhhhhh...." Ida mendesis, Bahdin memang penurut, dan mudah melesakkan perlahan siotong mili demi mili menyusuri kehangatana liang vegi Ida yang sudah banjir bandang. Relatif mudah.

    Berhati-hati Bahdin menumpu pada sebelah kaki yang sehat, meminimalkan beban pada kaki yang cidera. Melesakkan kuat pinggulnya, Ida yang terpenuhi gelegak birahinya, tersengat arus baru kenikmatan merangkulkan kedua lengan keleher Bahdin sedikit menyeret lelaki itu bungkuk merapat. Kedua kakinya binal naik menjepit pinggul, mulai saling mentautkan kedua pergelangan.

    "Mashhh... " Ida mendesis melampiaskan gairah binalnya yang sedari tadi dikili-kili suaminya yang mencoba mengembangkan permaianan erotis. Mengerahkan tenaga mulai menggeliatkan dahsyat penggulnya megejar gejolak yang kembali membara.

    Disergap mendadak begini, Bahdin yang praktis hanya berani berdiri sebelah kaki, mencengkeram kuat bokong telanjang yang menggeliat-geliat kian ganas, mencari keseimbangan. Santai saja Bahdni meneguhkan diri membiarkan Ida menggeliatkan pinggulnya kuat berulang, bak gelombang berulang menggulung kepantai, mendesaakan erotis pinggulnya memerah batang penis.

    "Mmmphh...shhh...shhh..." Ida menyambut kuluman Bahdin ganas mengemot gemas, senang ekspresifnya Ida. Bahdin rada kaget, Ida mendadak heboh. Rupanya Ida menumpahkannya tenaganya yang sedari tadi memang disimpannya, dicadangkannya buat suami yang sudah kabur. Kuat kakinya mencengkram memperkokoh lumatan tekanan pinggulnya. Kuat Ida mentautkan kedua pergelangan kaki memaksa pinggul pehlawannya sangat rapat terjepit. Ida menggapai nikmat ketika mulai menggasak kerasnya batang didalam gempuran otot liang kewanitaannya.

    Tanpa perlu ada pemanasan tanpa perlu foreplay, Ida langsung sprint tancap gas, menggelegak nafsu birahinya. Pada pahlawan pujaan Ida tanpa tadeng aling-aling memamerkan kebinalannya, karena tahu tahan gempuran.

    Mengedan panjang, Ida melepaskan rintihan panjang. Eksploaif dan ekspresif. Hanya pada Bahdin Ida berani demikian, kesuaminya Ida selalu konservatif.

    Bahdin tak membiarkan begitu saja Ida lepas dari kewajiban. Diantara para wanitanya ini, Ida yang termasuk menyukai gempuran gaya keras, hardcore. Ditambahpula cenat-cenut yang tadi mulai mereda mendadak kembali ke ubun-ubun dipaksa Ida bertanggungjawab. Jepitan kedua kaki Ida yang tak kalah dengan pegulat profesional sangat erotis menggempur kejantanannya.

    Bahdin, mencari posisi, mendorong Ida telentang dan mengangkangkannya dengan tapak kaki menjuntai dilantai. Hati-hati menumpu sebelah kaki, Bahdin kembali bergerak merapat masuk diantara kangkangan paha telanjang, yang kini gelisah menanti hujaman intim berikutnya. Kedua tangan Bahdin kokoh mencengkeram bokong, mengangkatnya agak naik diatas bed, sembari juga mencari pegangan kuat menjaga keseimbangan.

    Perlahan dan lembut Bahdin mendesakkan pinggulnya, mengamblaskan mili demi mili batang penisnya dalam liangnya. Walaupun rada lemas, lega lubuk hati Ida kembali mendapatkan kepejalan baru di bawah sana. Lembut karena lemas dipegangnya pingggang lelaki itu mengundang perlakuan lebih lanjut. Bahdin tahu, dari remasan jemari lembut Ida dipinggulnya saat dirinya merangsek keras, hardcore, apakah Ida menikmati atau tidak.

    Tentu saja Bahdin tak menyiakan undangan ini, perlahan ditariknya pinggulnya dan kian diamblaskan kembali, perlahan dan berulang ulang. Terpejam-pejam mata Ida menikmati rangsekan baru ini, Bahdin memang dahsyat kalau mengasari dirinya, kasar tapi dalam batas erotisnya. Gairahnya perlahan mulai kembali membubung. Posisinya tubuhnya hanya memungkinkan dirinya pasrah saja dirangsek berulang kali, sulit pinggulnya bergerak banyak, hanya kepala dan tubuh atasnya yang sesekali menggelinjang bila terasa kian dahsyat hujaman Bahdin.

    “Mashhh...mashhh...” Ida mulai mendesah keenakan, menikmati kasarnya tiap kali jelujuran penis Bahdin menggerus kuat berbagai sisi otot vagnianya. Bahdin mengikuti ritme yang dipinta, Ida yang kedua tangannya memegang pinggangnya, mulai memberi komando maju merangsek dan mundur, kecepatan dan tekanan yang diinginkan.

    Lima menit, Ida dengan komandonya menikmati kepatuhan lelaki ini berulang menyusuri berbagai sisi otot kewanitaannya, menghujami dirinya, perlahan namun dalam atau keras bertenaga, hingga akhirnya dirinya mulai lepas kendali. Ida mulai menceracau, merintih dan melenguh tak beraturan. Panduan tangannya dipinggang Bahdin sudah tak jelas, kini mulai mncengkeram keras, tanda-tanda puncak klimaks sudah menjelang.

    Bahdin mulai merubah ritme hujamannya, semakin cepat tanpa mengurangi kuatnya tekanan, bahkan kian bervariasi menekanan batangnya keatas kebawah, seakan ingin mengkorek liang itu kian melebar. .
    “Mashhh....” Ida hanya merintih tak berdaya, meraskan klitnya digilas dahsyat berulang-ulang.

    Bahdin tak sadar menggeram keras, mengerahkan tenaganya, melesakkan kuat dan cepat, meledakan klimaksnya dengan hujaman hujaman liar tak terkendali. Lelaki ambruk juga akhirnya diatas tubuh Ida yang masih terkejang-kejang melepas klimaks.

    Dalam kelemasan, Bahdin menuntun Ida ketengah pembaringan, dan istirahat bersisian.

    sSs

    Semalaman Deni melacak Rusdi, dan setelah ketemu konsultasi kejadian barusan. Rusdi tergelak, menenangkan tak masalah. Akhirnya Deni menerima saran Rusdi untuk merapat ke Bahdin. Rusdi juga buka kartu, istrinya Marni, Bahdin yang masukkan kerja. Direncanakan besok datang sore.

    Pulang dari preschool, jadwal balita tidur siang, Ida dengan manja minta ditemani Bahdin menidurkan balita, sekali-sekali bole dungg. bandel sedikit. Sembari mengawasi kedua anak tidak main tapi cepat tidur, Ida memaksa tangan Bahdin gentayangan dibalik dasternya
    Dan tentus daja berujung pada kembali Ida menggelepar-gelepar diatas tubuhnya. Bahdin mendapatkan Ida, sudah mulai memancarkan rasa aneh.

    Saat pillow talk, Bahdin memberi tips, mengingatkan Ida dulu juara tenis se SMA, latih kembali skillnya menemani Pak Broto latihan. Niatan Bahdin agar nantinya Ida bisa membangkitkan niatan Marni dan Ina berlatih tenis.

    Sore, Bu Broto dapat peluang interogasi lelaki kerempeng ini hubungan khusus apa dengan putrinya. Bu Broto hanya bisa menarik simpulan, Bahdin punya ketertarikan pada Ina tapi ditutupi berbagai alasan, minder dan kekhawatiran lain. Selain itu banyak hal positif seperti sederhana, penurut dll. Materi bagus untuk calon mantu.

    Walaupun punya silsilah atau trah keraton, Keluarga Broto tidak terlalu berdarah biru, mungkin sekedar biru muda, mungkin faktor kekayaan selaku pejabat bumn menjadikan dekat dengan lingkaran dalam. Sehingga urusan bibit bebet bobot, agak berbeda dengan prinsip kraton. Seleksi calon mantu mengutamakan karakter dan kepribadian.

    Saat Pak Broto akan ke lapangan tenis di komplek perumahan, rutin olahraga tenis, ditawarkan Bahdin kalau mau ditemani Ida. Bahdin juga mengingatkan Pak Broto agar memaksa putrinya serius mengasah golfnya juga, dan juga tenis. Pak Broto tentu saja memahami arah tujuan tips Bahdin. Keahlian olahraga bekal untuk kegiatan loby, salah satu ekstra point calon pemimpin.

    Suasana baru bagi Pak Broto tanding tenis dengan Ida, Bahdin mengasuh dua balita. Selama ini mana mau Ina menemani bapaknya maen tenis, tapi dengan adanya Ida, selingan yang menyenangkan. Pak Broto melatih kembali kekakuan Ida, dengan harapan Ida nanti yang akan melatih Ina atau menghidupkan kembali minat putrinya.

    Deni menyusul kelapangan, akhirnya lega, bisa ngobrol bebas dengan Bahdin seolah tak ada masalah kejadian tadi malam, sembari menonton istrinya latih tenis melawan Pak Broto. Deni mencetuskan omongan Rusdi semalam, memasukkan kerja dirinya

    "Wah Deni, kalau lelaki gw nggak bisa bantu, prospeknya berat, tu lihat Rusdi saja akhirnya off. Harus ada skill. Tapi kalau perempuan gw bisa tunjukin peluang, nanti dia sendiri yang usaha, berjuang sendiri dengan segala konsekuensinya"
    "Oowh, kalau Ida memang bisa?"
    "Itu tergantung orangnya, tapi tuu lihat Marni kan bisa karena rajin dan sungguh-sungguh, padahal Rusdi nggak bisa. Tapi lihat saja jadinya nggak karuan jam kerjanya, nggak punya waktu ngurus anak, untung ada Ida. Untung juga suaminya pengertian. Ehh. lo kan lihat sendiri waktu lembur di hotel dulu?"

    "Iya tapi hebat kak Marni dapat jabatan dan mobil baru, sesuai lah dengna pengobanan. Kalau bisa bantu kita juga dong, barang kali Ida bisa ikutan mujur seperti Mbak Marni"
    "Kalau kata gw mending jangan, kasihan lo Den dan Anak. Mau bini lo lembur terus, rapat berhari- hari dihotel?, keluar kota?, dikejar cowo, ditempel bos?" Bahdin karih peringatan terakhir, sekaligus beri peringatan terselubung.

    Tapi Deni yang tadi malam termakan omongan Rusdi, tetap berkeras.
    "Nggak janji deh, lihat nanti, tapi ingat konsekuensinya, jangan gw yang disalahin"

    sSs

    Esok malam, tim kecil rapat di ruang kerja, membahas skenario interogasi atau korek informasi dari sekretaris senior, yang egois, narciss, power syndrome, diduga hper, tapi punya backing tersembunyi. Ida seekali nguping karena menyuapi balita. Akhirnya di sepakati, Stefani akan merapat ke Tuti, seolah cari muka dan cari selamat, memposisikan diri punya status khusus dengan Dir Finance, tak dipercaya, terpaksa patuh keberadaan Ina sekretaris 2. Terancam dirotasi, helpless.

    Sedangkan Bahdin adalah wild card, perannya ditentukan setelah jelas apa maksud Tuti.

    Untunglah ada anak-anak, Bahdin selamat (atau sial ya?) dikeroyok tiga wanita eksekutif ini.

    sSs

    "Mbak Tuti, waduh parfumnya baru, merek apa? kok saya tak pernah tau ya padahal saya kolektor lho" Stefani cari muka, coba memuji wanita high profile, cantik cenderung kurus, sedang 160cm, single 42 tahun, yang dicemooh sebagai perawan tua, tapi tak kalah dengan yang masih belia. Jangan heran mobil antik dengan biaya perawatan tinggi, lebih asik dibanding mobil baru.

    "Iya produk baru, launching nya bulan depan.." termakan pujian. Bermenit keduanya celoteh parfum.
    "Eee mbak, Bahdin kakinya retak, istirahat sudah sebulan disuruh boss, heran Pak Karmin kok perhatian ama tuu anak. Awas dia kalo ketemu, kujitak" Stefani mengimpresikan punya kontrol.
    "Mbak mo ketemu dimana, biar saya panggil?"

    "Hmm belum tahu, nantilah ..." seolah tak butuh, jual mahal. Padahal Tuti ingin segera bertemu
    "Ok mbak, tapi ingat saya yaa mbak, tolong dong dibelain, jangan sampai ngandang, kemana kek, susah di Pak karmin dipancing nggak mempan bla bla bla"

    sSs

    "Stefani, Bahdin mu itu Sabtu pagi bisa ke klub house di sentul?
    "Pasti bisa, harus bisa, kalau tidak hhhmmmhhh "

    "Lho kenapa ?" Tuti juga saling pancing info mendengar Bahdin ttm nya Ste
    "Tapi ini rahasia lhoo.. saya beritahu karena saya kepepet butuh Mbak Tuti tolong saya" meninggikan nilai info.
    "Iya...pasti, apa dulu rahasianya "
    "Errr.... TTM ..."
    "Ooo kirain apaan, ehh... kamu kan punya cowo, keren lagi, kok mau sich ama buruh?"
    "Awalnya juga tak tertarik tapi karena dia beberapa kali dipanggil, bosen nunggu rapat, beeteee, ehh kejadian dee, keterusan"
    "Memang dia gimana orangnya"

    "Orangnya inrtovert, grogi ketemu cewe, pendiam, tapi yang mantap, gampang disuruh kalo udah kenal"
    "Wah pesuruh mah disini banyak, tuu OB berkeliaran"
    "Bukan suruh itu, tapi suruh ituuuuuu, " Cowo ku, kalah jauh, makanya saya simpennn terus. Kalo rapat luar kota beberapa kali ku panggil seolah bos yang panggil. Bosen kan bengong sendiri dihotel. Stefani akting genit. Dengan lihai secara cerdik Stefanis pelan-pelan pasang harga tinggi buruh pabrik.

    "Wah kamu berlebihan"
    "Hii...hii...kalo nggak percaya, cowo disini yang mbak bilang hot siapa?" Dasar group sekretaris binal saling bertukar info pasangan selingkuhan se kantor. Beberapa nama yang diajukan dijatuhkan Stefani, sebagai nilai menengah bawah, menggangkat tinggi nilai Bahdin.

    "Nggak mungkin, paling pakai obat ?" perawan tua, power syndrome ini mulai tertarik, merancang teknik interogasinya nanti.
    "err...." Stefani membaca bahasa tubuh, memastikan Tuti bangkit ketertarikan seksualnya.

    "Ayo...buka rahasia jangan tanggung"
    "Tapi tolongin saya ya Mbak, kalau nanti kecewa barang boleh kembali, tapi kalau puas inga inga" Stefani kian genit memancing, memaksa Tuti kian percaya, Bahdin simpanan gelapnya Stefani.
    "Iya pasti saya bantu, tapi apa?"

    "Dia itu penurut? saya sering suruh role play atau tematik. Kalo cuma obat kuat mah, itu maenannya bos-bos kita, nggak ada serunya. Cowo saya aja yang penurut, nggak bisa disuruh yang aneh-aneh"
    "Apa pula itu..." Tuti sudah full termakan bualan
    "Hmm gini dee. demi mbak....saya rekomen suatu tema, Bahdin akan saya suruh. Untuk awal-awal yang elementer saja, agar Mba Tuti, tak kaget. Saya jamin seminggu bakalan merinding terussssssss"

    Stefani closing deal.

    Tuti mengiyakan, sesama kaum sekretaris elit, seks for benefit adalah lazim. Misinya adalah fact finding bencana di pabrik yang mengakibatkan internal auditor sampai turun audit. Info untuk merancang koreksi rencana strategis masa mendatang. Salah satu senjata rahasianya untuk pendekatan ataupun mengkorek informasi adalah seks. Usianya yang semakin senja tak menjadikannya menurun pesona kwanitaannya, malah sebaliknya skillnya interogasi atau memancing informasi rahasia sudah mastering.

    sSs

    Clubhouse di Sentul adalah tempat favorit Kelompok durjana, merancang aksinya selama bertahun-tahun. Lokasi tak terlalu jauh diluar kota, dekat akses tol, lengkap fasiltias tenis, golf, renang dll. Ideal untuuk rancang konspirasi. Stefani dengan car city nya mendrop Bahdin dengan informasi no cottage Tuti nanti berada.

    Permintaan lawan ketemu Bahdin demikian cepat, membuat persiapan undrcover agent dilakukan pontang-panting.

    Saat gladiresik atau latihan role play, Stefani bertindak sebagai sutradara menumpahkan imajinasi fantasi seksualnya, menuntun Bahdin sebagai aktor dalam skenario, dan Ida sebagai aktris . Sedangkan Marni dan Ina selaku konsultan teknis, mengembankan dialog pembicaraan, merancang detil ucapan, ancaman dan terpenting pertanyaan tersembunyi mengkorek informasi.

    Gladi resik dilakukan dengan sungguh-sungguh, mengingat lawan yang nanti dihadapi adalah kampiun seks, bukan sekedar abg perawan.

    bersambung ke

    Motor 10
    Gang Motor 1b

  19. #38
    Semprot Kecil otakrusak's Avatar
    Daftar
    Nov 2013
    Lokasi
    In your dream
    Posts
    84
    Thanks
    1
    Thanked 8 Times in 2 Posts
     THREAD STARTER 
    ehhh harus motong .. kepanjangan

  20. #39
    Semprot Kecil otakrusak's Avatar
    Daftar
    Nov 2013
    Lokasi
    In your dream
    Posts
    84
    Thanks
    1
    Thanked 8 Times in 2 Posts
     THREAD STARTER 

    Motor bab 13 Geng Motor 1b

    Motor bab 13
    Geng Motor 1b


    Stefani sengaja datang lebih awal, memungkinkan Bahdin masuk kecottage yang kosong sudah dibooking terlebih dahulu. Bersembunyi di kamar mandi, dengan pintu sedikit terbuka. Tak berapa lama terdengar suara, diintip, sesosok wanita high class, ramping tinggi sedang cenderung mungil, penampilan menarik walaupun sudah agak berumur. Mengenakan pakaian soprt tenis, rok pendek dan T-Shirt berwarna putih.

    Masuk kamar, sosok ramping itu,tampak termenung memikirkan sesuatu, memang Tuti sedang merancang bagaimana mengorek info yang diinginkan gang-nya, kelompok durjana.

    Bahdin yang sudah menyiapkan peralatan, saat tubuh itu membelakanginya dengan perlahan, Bahdin menyergap, mencekek leher dengan siku dan menekap mulut.
    "Jangan bergerak, jangan berteriak atau saya tusuk, anggukkan kepala bila mengerti"

    Kontan Tuti disergap, dihinggapi ketakutan mencekam, dicekek orang ditempat terpencil sendirian. Khawatir keselamatan jiwa terancam, dirinya mengangguk

    Bahdin perlahan melepas tangan yang menekap mulut, memasang ban kepala kain tebal berbahan handuk lazim atlit pakai menahan keringat di dahi.

    Mendadak Tuti diliputi kegelapan pekat, tak bisa melihat, ketakutannya berlipat mencekam "Ampun...jangan celakai saya... kalau mau uang ambil dompet saya...ampun...."

    "Diam...atau saya bunuh..." Bahdin lumayan bengis setelah dilatih berkali-kali tadi malam
    "Ampun...' Tuti tersengguk, sama sekali lupa obrolan dengan Stefani tentang role play atau tematik, sama sekali lupa apa rencana kegiatan hari ini.

    Bahdin mengambil segumpal kain yang sudah disiapkan, menyumpal mulut.
    "Jangan coba bergerak, jangan coba kabur, kalau masih sayang nyawa"
    "Mmmm...mm...mmmmm"

    Tuti kian lemas, perlahan dirasakan sosok tubuh dihadapannya meluruskan lengannya, pergelangan diikat, entah oleh apa. Bahdin memasang borgol khusus erotis, berbahan lembut mencegah kulit lecet. "mmm...mmmm....mmm.."

    "Janji tidak akan teriak? saya lepas sumpal mulut" Tuti mengaggukkan kepala. Sumpal mulut dilepas, didudukkan di bed, agak lega duduk walaupun diliputi kegelapan.

    Bahdin menelepon Stefani, akting "Boss target sudah diamankan" menempelkan hp kekuping Tuti "Sebut nama dan pekerjaan kamu" Bahdin meyodokkan pulpen keperut, seolah pisau
    "Ampun .... saya Mardiastuti ampun... pegawai di xxxx" Tuti menghiba

    "Bagaimana boss, .... terlamabat, .... ok dua jam.. ok... saya kunci rapat" Bahdin sengaja memperdengarkan percakapan. Sinyal bagi Stefani rencana berjalan lancar.

    "Hmmm masih dua jam, sialan...sialan ...jangan sampai mancing keributan hmmm atau terpaksa kamu saya bunuh. Mengerti" Bahdin akting sedang stress, jalan mondar mandir

    Dalam kegelapan Tuti mendengar kursi digeser kedepannya, ohh penajahat itu duduk dihadapannya. Terasa benda keras menelusuri dahi hingga kelehernya, kian mencekam. Keringat dinging sedari tadi menetes

    "Pak lepaskan saya pak ... ampun... salah saya apa.."
    "Diam...... Hmmm cantik bener ... wangi ...." Tuti sesenggukan

    Seolah Bahdin kekamar mandi, memancing mangsa kabur. Pura-pura mengguyur air gemericik.
    Benar saja, begitu Tuti mendengar suara guyuran air, dirinya beranjak bangkit, menebak-nebak arah pintu, dalam kegelapan menabarak pintu, panik dicoba buka dengan tangan terborgol, ternyata terkunci, tergerendel.

    "Sialan...mau kabur...."
    "To....." Bahdin mendekap mulut, dan memasang kembali sumpal mulut. Bahdin sukses memancing Tuti sehingga layak diberi hukuman,

    Menyeretnya kembali ke bed, Bahdin melorotkan T Shirt Polo kekepala, nyangkut di borgol pergelangan tangan. Dibelitkan dan diikatnya T-SHirt itu membalut pergelangan tangan yang terborgol.

    "Mmm.....mmm.....mmm......" Kian ngeri dirinya ditelanjangi, terasa bra nya di copot. "Mmm.....mmm.....mmm ....." tubuhnya dibaringkan, sepasang tangan memelorotkan rok olahraga pendek yang dikenakannya. Terasa dingin ac dikulit telanjangnya. Bujubuneng, cd nya terasa ikut lepas.

    "Hayoo coba mau kabur lagi" Bahdin menghardik, Tuti sudah banjir air mata, terserap ban ikat kepala yang menutp mata "Mmm....mmmm.....mmmm"

    "Kontrak saya tidak boleh cidera secuilpun, tapi hmmm cantik seksi begini sayang kalau disiakan.."

    "Mmmhhh " Didorong kasar tubuh telanjang itu telentang, tangannya yang terikat borgol dan kaos polo didorong keatas kepala. Memang triknya adalah sekasar mungkin tapi dalam batas aman, karena ada bed empuk.

    Mulailah Bahdin menggarap kemulusan tubuh telanjang itu. Tuti mendadak mesakan benda tajam menekan mengerikan sekujur tubuhnya. “Hmm boleh juga nii mulus banget, “ Benaknya kian mencekam. Berlama-lama Bahdni menggoretkan perlahan bolpen, yang terasa seolah pisau.

    "Mulus banget kulitnya glkksss" Bahdin mengingat-ingat ucapanyang telah dirancang., sembari
    mulai meremas-remas seluruh bagian yang terbuka dengan kasar tapi terkendali.

    "Mmm mmmm mmmm " Tuti kian yang mencekam mulai terasa geli, membayangkan apa yang akan terjadi. Kegelapan menyelimuti menambah suasana mencekam, mengakibatkan setiap jamah tapak kasar dikulit telanjangnya sangat menggelisahkan.

    Sekian lama meraskan tubuhnya diremasi, perlahan rasa geli kian tak tertahan semilir nikmat kian terasa
    Bahdin melepas sumpalnya

    "Pak...geli...jangan ...."
    "Huhh... salah sendiri punya tubuh merangsang, hmm ni toket kenceng banget..." Kasar Bahdin meremas ganti memilin, mengerahkan skillnya memilin kuat, menyentak tubuh itu
    "Shhh...... jangan...shh....shhh.." Berlipatganda terasa tapak itu menyetrum payudaranya

    Bahdin mencermati Tubuh ramping langsing itu mulai sesekali menggelinjang, meningkat ketahap berikutnya. Sebelah tangan mulai membelai tebalnya bulu yang rimbun dipangkal pahanya.

    "Ihhh...jangan....." Mau tak mau Tuti tersengat. Sepasang kaki yang telanjang tertekuk menapak lantai, menjinjit menahan rasa, tak tahan pinggul mulai bergerak.

    Dikombinasi dengan memeras daging mengkal dan memilin pentil yang mengeras, jemari lain mulai bergantian memijat perinium dan menggerus permukaan liang, sembari meraba bulu tebal. Sebentar saja, liang itu melembab.

    "Ampun ... jangan....." kombinasi mencekam dan nikmat, membakar gairah tak tertahan. Tak sadar kakinya yang masih bersepatu kets, bergetar-getar, pahanya coba merapat menahan rasa, mencoba menolak serangan. Efek yang terjadi sebaliknya, pahanya refleks menjepit tanngan yang kian memberi kenikmatan. Rintihan dibibir kontras dengan geliatan paha menjepit. Gelisah paha itu bergerak-gerak merapat melampiaskan emosi.

    "Shhh....shhh..pak...jangan..."

    Merasa sudah cukup memanas, Bahdin menghadapkan wajahnya ke pangkal segitiga berbulu rimbun yang terekspos, akibat kakinya yang masih berspatu kets menapak kelantai. ""Hmmm harum bener..."
    "Ihh..." Tuti merasakan dengusan nafas panas di liangnya. Dalam kepekatan dirinya lupa, sedang telanjang, telentang.

    Tanpa basa basi, Bahdin berjongkok, membuka kedua lutut yang merapat, mendekatkan wajah mematapkan posisi. Bahdin mulai menjilati dengan kasar. Kedua tangannya mencengkeram bokong telanjang yang terlipat dibawah. Diremasnya dengan sangat keras, mencengkeram kuku kuat menggambarkan kekasaran. Melenting tubuh ramping itu, klit dan liangnya diamplas lidah kasar.

    Telaten Bahdin lidahnya mengampelas dan mencucuki, tak karuan Tuti menggelinjang mencoba menghindar, mulai tak karuan rintihannya, menolak campur mendesah,

    Tubuh yang terborgol telanjang itu terkejang-kejang kegelian. Dengan bergaya sangat rakus Bahdin menselomoti bagian-bagian sensitif disana. Tapi sebuas apapun namanya lidah tentu tak seberapa. Sesekali digigitnya dengan keras pangkal paha, sengaja meninggalkan beberapa bekas gigitan.

    Mulailah kini Tuti merintih fulll keenakan “shh.... ohh ....shh...ohh....”dengan tubuh kian bergetar. Sekian lama diselomoti Bahdin merasakan liang itu kian banjir. Diperkosa kok keeenakan.

    "Oghhhhhh....." Sekuat tenaga Tuti menahan tapi apadaya memang dasar dirinya binal, haus birahi ditambah kelihaian lidah Bahdin, mencucuki kedalaman liangnya dikombinasi gosokan cepat di klitnya, tubuh mungil itu meledakkan orgasmenya, merintih panjang, menjepit kepala dengan paha sangat kuat akibat terkejang-kejang. Seksi nian kaki telanjang yang masih bersepatu kets, menjepit kejang leher yang meledakaan birahinya.

    Bahdin kian menyiksa dengan mengemot kuat klit, dibarengi jari tengah menyelusup jauh kedalam tiang, mengesplorasi berbagai titik disana, memperpanjang Tuti kelojotan. Tangan terborgol lemas merangkul kepala yang seolah tak henti menggerus pangkal pahanya.

    Dalam kelunglaian Tuti merasa, tubuh telanjang menjangkit menaiki tubuhnya, menindihnya. Pasrah. Sesuatu yang keras panas terasa mengganjal di perutnya.

    "Bu Tuti salam dari Bu Stefani ...."
    "Hah...kamu....kamu....." Tuti terkaget-kaget, pikiran cerdasnya kembali bekerja

    "Iya Bu, saya Bahdin...."
    "Jahaat.... kamu ...jahat.... Sterfani jahat...." histeris Tuti melampiaskan kengeriannya

    "Maaf bu....maaf ....wah...ibu seksi sekali..." dengan nakal, Bahdin tak lupa menempelkan si otong di liang yang banjir bandang, sembari membelai payudara mengkal. Berkutat sekian lama, Bahdin memuji dan merangsang, meredakan rasa takut dan ngeri.
    "Kamu...kamu..." Tak sanggup berkata-kata

    Dua meni berlalu, Tuti sadar sepenuhnya, teringat ...ohh iitulah seks tematik yang dimaksud Stefani. Birahi hipernya bangkit cepat, sangat kuat ingin tahu apa selanjutnya.
    "Maaf bu, saya disuruh, hanya tahap pemanasan, berhenti dulu, menunggu instruksi ibu" Pinggul Bahdin bergerak, membuat ular sanca menyenggol-nyenggol kepingin masuk mendekam.

    "Maksudnya ...shhh"
    "Skenarionya dilanjutkan menunggu perintah Ibu..."

    Dirangsang sekian lama payudaranya tak henti dijamahi, benda keras panas diliang veginya, didorong
    rasa ingin tahu. Tuti mengangguk. Rasa ngerinya menghilang cepat, tinggl gemetaran, diganti rasa berdebar-debar. Dirinya percaya penuh pada Stefani, ohh iya toh memang dirinya sedang menunggu Bahdin.

    Mendadak rambutnya terasa dijambak, kepalanya terdongak. Dalam kegelapan terasa tubuh merayap menduduki perutnya. Batang keras menggeletak didada, diantara kedua pangkal susunya.
    "Waduhhh... susunya mantap bener....hmmm" Tapak kasar menjepitkan kedua susunya, keras menghimpit batang keras. Perlahan Bahdin memajumundurkan pinggulnya, memaksa kedua payudara yang masih mengkal memeras si otong. "Shhh.....geli..."

    Dengan kasar sebelah tangan menjepitkan kedua payudara pada batang keras, sambil pinggul itu dimaju mundurkan, memaksa payudara memasase penis. Sesekali gerakannya sedemikian maju sehingga kepala meriam menyentuh dagu Tuti. Ini adalah simbol perkosaan untuk mempermalukan korban.

    Tuti mencoba menelengkan kepala tapi tak berdaya karena rambutnya dijambak.

    Kian menunjukkan kekasaran, sambil tak melepas jambakan telunjuk dan jempol Bahdin memencet hidung Tuti, memaksanya bernafas lewat mulut, yang artinya memaksa bibir terbuka, saat terbuka langssung saja Bahdin mendorong masuk, sedikit saja hanya bagian helm. Seolah-olah buas, Bahdin menggerakan buah pelirnya menekan2 dada dan payu dara.

    “Mau coba ...jangan malu-malu...”
    Dasar memang binal, Tuti dengan gemas mengemot helm baja yang menyentuh bibirnya. Bila tadi malu-malu, karena terlanjut, kontan saja diselomoti. Hmmm mantaff ni ukran diatas rata-rata. Kian berdebar sanubarinya.

    Bagi Bahdin, gairah perawan tua itu menselomoti adalah lampu hijau kebinalan selanjutnya. Dibiarkan sejenak Tuti menikmati hobi mengemot penis.

    Merasa cukup phase itu, melanjutkan ketahap berikut, Bahdin menelungkupkan tubuhnya terbalik menghadapkan wajah ke liang yang terekspos, pahanya menjepit lembut sisi wajah Tuti, batang keras sengaja ditekan sedikit kehidung dan pipi. Langsung saja kembali Bahdin menyelomoti liang yang kian membanjir, dengan lihai, seolah kasar tapi membangkitan intensitas tinggi.

    “Nggghhhhhhhh,,,,” Tuti mulai kembali menggeliat memperoleh rangsangan baru, pangkal liangnya digasak lidah Bahdin. Paha telanjangnya susah payah mencoba menjepit kepala Bahdin tapi sia sia. Tuti gelagepan dibekap kedua bola diwajahnya. Bermenit-menit kembali dalam kegelapan menerima rangsangan.

    Menilai sudah tiba waktunya Bahdin membalikan badan,
    berlutut diantara paha Tuti yang mengangkang, ditempelkannya kepala meriam di liang yang membanjir.

    Ditekan keras, sedikit melesak, karena posisi kaki, lutut tertekuk, sepatu menapak lantai, membuat liangnya lebih terkatup rapat.
    “Woowwww, seperti masih perawan, sempit nian??” Kembali ditekannya keras “Nghhhhhh” Tuti hanya mampu merintih, sesak liangnya disumpal benda keras.

    Empat kali menekan, empat kali merintih, Amblas. Mulailah Bahdin memaju mundurkan batangnya dalam kondisi Tuti mengangkangkan kakinya selebarnya, tidak membantu, membuat Tuti kembali kelojotan. Santai saja Bahdin memompa membuat Tuti mulai merintih=rintih dalam kegelapan, tanpa daya menggerakan pinggulnya, hanya tubuhnya saja yang mulai tergetar.

    "Sh.....sh...shh...." mulai mendesah keenakan, tangan terborgolnya mencoba menggapai tubuh yang meluapkan kenikmatan baru. Tuti menyadari nikmat terasa kian intens, kewanitaannya disodoki batang keras, tanpa terbayangkan wajah yang menggasak.

    Digasak batang besar, bukan hal aneh. Diusia melewati empat puluh, single, pergaulan kalangan atas,
    sekali-kali melayani lelaki yang mendekati, bervariasi ukuran yang dirasakannya.. Tetapi disodok sosok tak berwajah tak dikenal. mata ditutup ..hmmm sensasional.

    Pegal berlutut, menggeser tubuh mungil itu kian ketengah bed. Membalikkannya, miring setengah menelungkup, dengan tangan terborgol keatas. Dengan kakinya di paksa paha mengangkang melebar. Pinggul Tui menelungkup, badannya miring, membuat liang veginya terekspos dari belakang. Bahdin kembali memasukkan batang kerasnya keliang vagina Tuti dari belakang, hanya sebatas topinya saja. Ditekan keras, amblas sebagian.

    “Huh... mulus bener nih cewe...” Bahdin menggigiti kasar ketiak Tuti yang berbulu halus sisa dicukur, memaksa tubuh itu menggelinjang kegelian. Berkutat Bahdin menggelitiki ketiak itu dengan mulutnya. Tui yang kegelian tubuhnya menggelinjang, ketiaknya digelitiki sembari kewanitaannya digasak posisi baru.

    “Wah goyangannya mantaff bener???" Kembali Bahdin menghajar liang itu dengan hujaman yang kini dilakukan dengan cepat tapi dangkal saja, tak sampai separuh.
    “ohhh...aaaaahhhh....ohhh....aaaaahhhhh” Bermenit-menit Bahdin menghajar cepat tapi dangkal, membuat tubuh itu mulai menggeletar tak terkendali. Sedari tadi digasak diujung bed, sangat mempesona Tuti, apalagi kini setengah telungkup dihajar dari belakang, memuaskan fantasi liarnya.
    Kian liar rintihannya.

    "Oh...oh .." tidak banyak lelaki yang bisa menyangkaknya berturut meraih klimaks kedua, tapi ttm Ina ini, boleh juga. Tak berapa lama kembali tubuh mungil itu kelojotan digasak terus menerus tak kenal lelah dengan hujaman dangkal dan sedang. Tuti mengedan panjang meraih klimaks keduanya.

    Diujung pendakiannya, mendadak ganas Bahdin menghajar kuat tanpa ampun, tanpa reserve, menyadari perawan tua ini adalah pemain tingkat tinggi. . Bahdin memberi pesan, siap ketahap berikutnya, Hard core.

    Dimulailah pillow talk
    "Mudah-mudahan ibu berkenan, saya cuma disuruh bu Ina"
    "Hohh...iya...hhhh..." Masih ngos-ngosan Tuti mengiyakan, kagum service memuaskan. Wow beruntung benar Ina selama ini, sialan tuu anak tak pernah kasih tahu.

    "Pesan bu Ina, dia mo dibuang Pak Karmin, katanya hanya ibu yang bisa menolong."
    "Iya...iya... pasti saya bantu ...hh..." ditodong dalam arti harafiah. Bahdin masih menelungkupi tubuh telanjangnya yang terborgol, batang nya masih keras tertancap dalam, pejal. Teknik interogasi atau mengkorek informasi ini tak ada duanya. Tuti yang kampiun tunduk takluk sepenuhnya.

    "Maaf bu, saya tak mau ikut campur urusan itu, tapi heran kalau Ina dibuang pak Karmin, siapa yang bisa bantu?" Sambil bertanya sedikit digerakkan pinggulnya membuat si otong meronta dalam kekepan Tuti.
    "Ahhh... ada dehh.....err saya belum dilepas? gelap niii"
    "Wah... belum apa-apa nii... masih ada kelanjutannya .. tapi terserah kalau ibu sudahan" Sengaja Bahdin menggoyang pinggulnya mengingatkan ular pyton masih bugar. sekejap mengorek liang kewanitaannya yang tengah reses menghimpun tenaga.

    "Ooo masih berlanjut tooo ..gimana tuu" glekghhh apa pula ini

    Bahdin membuka sedikit, next scene. Badan miring Tuti ditelungkupkan, tangannya lurus keatas kepala, tanpa sedikitpun batang itu lepas. Bahdin menurunkan diri dengan tiang yang tetap terpancang, membuatnya telungkup diatas tubuh telanjang Tuti. Kedua tangannya jahil, sebelah menangkup penuh payudara, sebelah lagi kembali memilin puting keras.

    "Ngomong-ngomong, kenapa ibu panggil saya' Bahdin melepaskan bobot badannya menindih tubuh Tuti. Penis sengaja mengkorek keras liang dibawah sana. Bertanya dambil merangsang.
    "Shhh.... mau tanya... ada masalah apa di pabrik..?, kok kamu keknya sering dipanggil Pak karmin?"

    "Biasa bu...lempar-lemparan kesalahan. ...." Seolah emosi, Bahdin mengarang cerita yang sudah dipersiapkan.Intinya selaku teknisi selalu dipermasalahkan mesin ngadat sehingga harus lembur terus tanpa ada kompensasi yang berarti. Sedangkan logistik selalu dapat cipratan dari vendor yang mengirimkan barang kw3. Sudah tidak dapat bagian masih disalahkan, akhirnya tak tahan, ribut, kedengeran pusat, diusut. Kalo bagi-bagi kan nggak jadi begini?"

    "Katanya kamu yang ngadu"
    "Bukan ngadu bu, disalah-salahin kerja nggak becus, dimarah-marahin, diancam mo di pecat, yach terpaksa lapor ke pusat"

    "ooo gitu tooo.." Tuti merancang ini orang nantinya bisa direkrut, harus diperhatikan. Apalagi walaupun kerempeng daya tahannya mantafff
    "Ehh yang bisa bantu bu Stefani siapa? Pak Karmin aja udah mo buang dia"

    "Hmm rahasia..."
    "Ahhhh rahasia ... malas deh kalo ngomong kebanyakan rahasia.. biasanya sich boongan" Bahdin menghentikan garapan tangannya.
    "Benar kok, Stefi pasti dibantu....
    "Kalo saya sich nggak percaya..." biasa, saya sudah sering diboongin orang. Terakhir sampe kaki retak, cuti tak digaji, untung dibantuin bu Stefi, buat bayar kontrakan. Karenanya saya mau disuruh-suruh"

    "Oo gitu too, tenang saja nanti Stefani akan saya bilangin ke Pak Ronggo, pasti dibantu, dia yang paling kuasa tenang saja..." tak sadar Mardiastuti, sekretris senior, keceplosan membocorkan rahasia yang dijaga rapat, dibawah todongan ular pyton dan gerayangan tangan montir pabrik

    "Siapa tuu bu..." Bahdin belagak bloon, itu Dir Pemasaran bukan dir Bus dev yg dijadikan kecurigaan. Melanjutkan kembali jamahan erotis, melenakan Tuti kembali. "Memang dia bisa ngalahin Pak Karmin yang direktur, baru tahu ada manajer namanya ronggo?"
    "Bisa dong, tenang saja, bilang aja ke bu Stefi begitu .." ayo dongg remas lagi .. jangan berhenti.." Tuti lega, lelaki ini tak tahu siapa Ronggo.

    Lama Tuti mengorek-ngorek informasi, dikelabui Bahdin dengan informasi sungguhan yang rendah nilai infonya. Tuti cepat percaya buruh ini tak mengerti intrik besar yang terjadi. Hanya orang sial yang tak kecipratan saweran, jadi barisan sakit hati, pahlawan kesialan.

    Tuti master gosip, Interogator ulung, kampiun gali rahasia secara seksoal, karena ditindas tengkurep tak berdaya, patudara pekanya digerayangi dahsyat, disumpal penis keras, mau tak mau cepat percaya penuh.

    "Ahh... ngomong... melulu... perkosa lagi yaaa...." Bahdin mulai kehabisan peluru berbohong, mengalihkan topik, balik keadaan menginterogasi.
    "hoooo ...ohhhh .... " memang sedari tadi menginterogasi sudah kembali pulih staminanya, walaupun ditengah todongan ular sanca yang kedut-kedut diliangnya sesak.

    Tanpa sedikitpun kelembutan, kembali Bahdin menggasak, keras, menghajar dari belakang tubuh ramping yang tengkurap dibed. Hujaman keras pinggulnya melesakan penis keras masuk keliang yang sesak karena ppsisi menungging tengkurap. Susah payah Tuti menggeliatkan tubuhnya mencari posisi lebih baik menyangkak serengan baru, dengan kian mengangkang lebar, dan mengangkat bokongnya setinggi mungkin, dalam sudut optimal, batang yang mulai berulang-ulang melesak maju mundur.

    Bahdin memanfaatkan momentum membalnya bed yang dihujam kuat, kian intens dirasakan Tuti, kekerasan menghajar dirinya dengan cepat. Ohh benar hebat pemerkosa ini, benar-benar jossss.

    Bahdin menyiksa Tuti yang kembali meresapi nikmat dalam sensasi kepekatan total, Sensasi mencekam disodok batang besar lelaki yang baru suaranya saja terdengar, wajahnya sams sekali asing. Dirinya hanya bisa mendesah keenakan setiap kali lubang pekanya dijelujuri batang yang menyesakan.

    Deraan kenikmatan Tuti berkepanjangan seiring Bahdin menghajar dirinya berulang dari belakang
    “ahhh.... ahhhhh.....ahhhh.....ahhhh....” dalam kebutaan pandangannya Tuti hanya bisa merintih rintih menerima badai nikmat yang tak kunjung reda. Puas dirinya menikmati sensasi baru. Iri dirinya akan keberuntungan Stefani memiliki mainan demikian heboh.

    Bahdin mengerahkan tenaga, mengatur nafas dan stamina merangset gadis setengah tua. Untunglah tubuhnya sedemikian ramping sehingga mantaff untuk digasak. Sedari tadi dirasa siotong sudah mulai kedut-kedutan, diatur nafasnya.

    Bermenit-menit kamar itu memancarkan suara erotis rintihan binal.
    Sekali berganti posisi, sedikit menaikan bokong itu berlutut, Bahdin menghajar ala doggy syle, membuat Bahdin bisa mengatur Stamina dan nafas, menggasak tempo cepat dan ringan. Gaya ini salah satu gaya favorit Tuti. Kian membahana, kepalanya merosot kebed, pinggulnya dilengkungkan maksimal, bokongnya menjulang mengeskpos liangnya untuk dihajar sepuasnya.

    "Terushh.....shhh.....terushh....shhhh..." Tuti mengkomando, Hebat posisi tubuh Tuti, memudahkan lawannya merangsek kuat. Disambut Bahdin dengan menggasak payudara yang bergelantungan bergoyang dahsyat. Dipatuhi dengan meningkatkan tekanan kesisi liang bergantian

    Tuti kini menceracau liar, menemukan dirinya mendaki kenikmatan berikut, pada posisi yang disukainya. Gila benar dirasakan batang itu mnyeruak berbagai sisi liangnya. Mengejang panjang, mencapia puncak. "Hohh.... puas bener...hhhh

    Tak behenti sampai distu, tubuh yang kelojotan dibalik telentangkan, dimasukkan kembali batangnya dalam posisi misionaris, cepat lututnya keluar kesisi paha, berlutut, dijepit paha itu merapat. Sembari berlutut dan menelungkup, kembali diporakporandakan liang vegi tanpa belas kasihan. Posisi ini memaksa liang vegi Tuti sangat ketat menjepit batang kenyal yang sangat tertancap dalam.

    Dengan paha terjepit, liang itu serasa liang anak perawan, ular sanca buas menyodok kesana kemari, meronta-ronta dalam liang yang berkedut-kedut meledakkan birahi.
    "Ohhh.. ampun ...ohh.... ampun..." Shok juga Tuti yang berjam terbang tinggi dihajar habis-habisan.
    Memang Bahdin ingin menanamkan impresi, terhadap wanita hiper ini, ada tokoh baru yang patut diperhatikan. Sergam memang seragam pabrik, tapi onderdil permium punya. Seolah audisi Bahdin mengerahkan keahliannya habis-habisan.

    Bukannya memberi ampun, malah Bahdin mengulum mulut yang terbuka terengah, menghiba, dengan kuluman kuat. Dengan kasar bahdin mengngemot kuat menghisap oksigen wanita yang tengah dirangsek dahsyat liang veginya. Sebelah tangannya menjepit hidung mencegah menghirup oksigen.

    "MMhhh.....mmphhh....mphhj.." Bahdin meniru teknik, kehabisan oksigen kian meningkatkan sensasi kenikmatan. Ditengah-ntegah oergasme yang berkecamuk, Tuti dalam kegelapan terbelalak matanya panik, seperti orang tenggelam, kehabisan nafas. Tak pernah dirasakan sensasi sedemikian menegangkan. Sedang kejang orgasme seharusnya tubuh memerlukan oksigen, malah ini sebaliknya. Histeris dan panik kian membubung seiring letupan-letupan klimaks, ....

    Diujung batas kemampuannya, Bahdin melepaskan kulumannya, kontan meluluhlantakkan seluruh tenaga dan semangat yang tersisa menghambur keawang-awang. Sampai menetes airmatanya, tercekam kengerian kehabisan nafas dipuncak orgasme, tak ada bandingannya..

    Tubuh gemetaran yang terisak, perlahan dibuka borgolnya, dilepaskan lilitan tshirt. Terakhir dilepaskannya ban kain menutup mata. Tetap terpejam Tuti meresapi sensasi yang barusan berlalu. Akhitnya, membuka matanya menemukan wajah Bahdin, yang tersenum lembut, menatap syahdu.

    Perlahan, Tuti mulai bisa tersenyum, meresapi kehebohan barusan. Tak habis pikir dirinya. Fantasi liarnya tak seujung kuku pengalaman ini..

    "Kamu jahat yaaa...." Tuti gemas mencubiti lelaki yang rapat berbaring disisinya.
    "Aduh...aduh...aduhhh .... ampun...ampun ..." Melakoni perawan tua, Bahdin berteriak minta ampun, submisif.

    Tuti kian agresif, kini lupa telanjang bulat, mengejar mencubiti terus menerus, melampiaskan emosinya, sehingga suatu saat jemarinya menyenggol ular sanca yang tgang mengacung. Gemas diremasnya. Kagum, hebat stamina buruh parbrik ini.

    Perlahan emosinya surut, berganti dengan rasa aneh. Menggenggam atau mengemot penis adalah hobi anehnya, apalagi yang size atau staminannya diatas rata-rata.

    Talk pillow kembali berlanjut, kali ini Tuti kembali pada posisinya memegang kendali interogasi. Interogasi berlangsung menguntungkan Tuti yang kini melaksanakan metode penyiksaan yang bisa dituduh melanggar HAM. Sambil bertanya tak lupa menyiksa dengan kekerasan, meremas kuat atau mencekek, bila dirasa jawaban kurang berkenan, tak jelas atau berbelit-belit.

    Akhirnya bagi Tuti dirasa keseluruhan jawaban Bahdin sangat memuaskan, jauh lebih cukup untuk dilaporkan ke partner durjananya, geng motor. Diyakini sudah tak ada lagi rahasia yang tersisa, sudah tak ada lagi informasi yang bisa diperas.

    "Kok tak dikeluarin Bahdin?" Topik sudah habis, Tuti puas atas jawaban Bahdin. Berlanjut ke topik lain.
    "Err... dilarang Bu Stefani.."

    "Lho kok aneh.."
    "Kalo mo keluar harus ijin Ibu dulu...." Bahdin kian memantapkan posisi

    Tuti meyimpulkan kekecewaan Bahdin selaku buruh pabrik. Ekstra kerja keras, ekstra dimarahi tanpa ada ekstra pemasukan, terbalik dengan yang lain. Sering dipanggil ke pusat karena ulah Ina mencari hiburan. Pantesan Ina ketagihan, hiburannya dahsyat begini. Bole juga ni jadi gigolo, demikian simpulan akhir.

    Sebagai tanda terima kasih, Tuti dengan semena-mena membiarkan Bahdin cenat cenut, disuruh minggat.

    Merasa sudah dapat informasi, dengan berpura enggan karena tak tuntas, Bahdin mengenakan pakaiannya, melangkah pergi, sesekali menengok berharap nambah. Dicuekin cewe egois.

    Berjalan jauh keluar dari kompleks club house, seolah mencari ojeg. dijemput Stefani.

    Mardiastuti, menghempaskan badan langsingnya yang lemas, menyeringai puas, tertidur. Toh nanti agak siangan, baru para durjana akan datang. Persiapan juga kalau nanti harus kerja keras.

    sSs

    Tuti melaporkan, bahwa sekretaris Karmin siap direkrut. Bisa tetap diposnya dijadikan mata-bata, atau disingkirkan.

    Sedangkan teknisi pabrik yang disinyalir sumber kebocoran informasi dan pangkal timbulnya gejolak. Bukan mata-mata atau kaki busuk. Tetapi karena para pemain dibawah kurang main cantik, serakah tidak mau mencipratkan sedikit ke yang terkait. Seringnya dia dipanggil ke pusat atau rapat, lebih karena keisengan Sekretaris cari cari alasan memanggil.

    Proyek disinformasi berhasil baik

    sSs

    Sejak pagi itu juga, para suami, Rusdi dan Deni datang ngapel pakai motor boncengan, rada kesal menunggu semalaman para istri tak pulang. Rusdi punya motivasi lain sejak ada sedan baru, punya hobi pamer, setiap ada kesempatan keluyuran. Sedangkan Deni memanfaatkan kondisi istrinya sedang berduit juga belanja mingguan kebutuhan balita. Tapi mereka langsung terdiam, setengah disemprot karena tengah sibuk memonitor jalannya operasi rahasia. Marni harus konsentrasi penuh memantau agen lapangan Stefani dan Bahdin.

    Akhirnya diputuskan Bapak anak jalan ke mall, disumpel beberapa lembar uang merah.

    Didalam perjalanan menuju Jakarta, Bahdin menceritakan info yang bisa digali, Bapak Ronggowaskito adalah dalang tersembunyi. Stefani menelepon Ina yang sedang standby bersama Marni di ruang kerja, untuk mengupdate model pola pergerakan karier mutasi promosi puluhan manajer selama 6 tahun.

    Sesampai dirumah, diruang kerja Stefie langsung membahas penelitian yang sudah dikerjakan, ketiganya seru menganalisa satu persatu nama pejabat selama Ronggo pegang posisi suatu jabatan. Memilah mana saja yang diberi catatan interest person.

    Sedangkan Bahdin langsung terabaikan. Ketika dilihatnya Ida sedang santai tidak ada balita yang diurus "Ida tolong kencengin ikatan perban kaki ya? sebentar saya ganti celana dulu" Sedari tadi relatif banyak bergerak, Bahdin khawatir ikatan perban kakinya berubah. Menuju kamar Ina tempat pengungsiannya sementara, tukar celana dengan kolor pendek.

    Ida datang menyusul untuk merawat dengan membuka dan membasuh air panas sebelum memasang perban karet. Selaku suster yang cermat dan kekasih yang perhatian, membasuh dilakukan dengan telaten bahkan cenderung berlebihan. Sebentar saja segera terlihat ketegangan dibalik celana kolor. Dengan nakal disenggol dan digodaiin, ular sanca sedari tadi pagi sudah emosian, kini semakin bikin kepala cenat-senut.

    Ina masih rada sungkan masuk kamar Ina tanpa kepentingan, apalagi melakukan hal macam-macam. Bila penghuninya tidak ada atau kekantor, mungkin berani, pasti sudah diperkosanya lelaki ini, mumpung suami dan anaknya sedang di mall. Tapi kali ini beda, pemilik kamar ada sedang kerja.

    Ida khawatir dituduh memonopoli menuju ruang kerja dan interupsi tim cantik yang sedang seru menganalisa, "Lapor, agen rahasianya cidera tuhh"
    "Hahh...." Ina kaget, "Stefani ya udah lanjutkan, input saja variabel barunya nanti kita analisa bareng" Memang tugas mapping mutasi dan pergerakan pejabat kunci adalah job khusus Stefani.

    Bergegas Ina kekamar guna memeriksa pujaan hati. Sambil melangkah merasa heran, rasanya tadi tak ada apa-apa. Tapi dirinya tak mau ambil risiko seperti kejadian lalu, disusul Marni dan Ida.

    Bahdin sedang berbaring di bednya, ban karet sudah dilepas. Terlihat bekas dibasuh. Diserbu Ina tanpa baca diagnosa awal. Dahi dipegang normal, kaki diperiksa tak masalah. Dengan terheran Ina menatap Ida.

    Ida menjelaskan, "Perban karetnya perlu diganti, tapi sementara masih bisa dipakai. Saya pasang lagi perban karetnya, sambil mulai mengikat "Ina urus yang itu ..." dengan dagunya Ida menunjuk kolor Bahdin

    Ina Marni memfokuskan atah yang ditunjuk, dan segera menemukan tonjolan keras. Tanpa sungkan Ina meraba dari lubang celana kolor, mendapatkan batang yang sangar, tegang penuh.

    "Apa... kenapa .." Ina bingung, Reflek langsung diperiksa si otong kecintaannya, malah kian sangar emosi.
    "Mas, kok masih tegang.?" Marni yang lebih peka ikutan meremas dan mendekatkan wajah mesra, menginterogasi.

    "Kalian ini keterlaluan, masak kirim agen rahasia tugas undercover, waktu pulang tak diperhatikan, periksa dulu dung. evaluasi psikologi, cek kesehatan, atau apa kek. Ini pulang tugas cidera, kaki cidera, tubuh cidera, tak ketahuan" Ida menggoda bercanda

    "Memang kalau cewe udah pada kumpul idenya nyusahin orang aja. Kali Ini disuruh memperkosa cewe...hah... aneh-aneh aja. Sudah menyuruh tak tanggung jawab"

    "Tidak tanggung jawab bagaimana?" Ina kebingungan
    "Lho memperkosa memang pakai apa neng? pakai jempol?"
    "Memang tidak dituntasin?" Marni membela madunya mencari alasan pembenaran
    "Tugasnya kan memperkosa bukannya ngebuntingin?" Bahdin polos.

    "Hah... " Marni dan Ina langsung tersadar. Kian membumbung respeknya. Mana ada lelaki yang tak nyikat ikan asin, ehh kucing nyamber cewe seksi?"

    Terkikik-kikik ketiganya, cepat saja berkembang kebinalan. Bila berdua saja binalnya pangkat dua. Apalagi bertiga, tanpa perikemanusiaan Bahdin langsung ditelanjangi. Ina fokus memesrai wajah Bahdin, setengah bersimpuh, dada busungnya ditekan di dada kerempeng, wajanya mencumbu mesra kekasih pujaan. "Maaf ya mas.. Ina tidak tahu, untung ada suster cantik yang perhatian"

    Dibawah sana, Marni memulai fokus melatih teknik hand job yang di latih terus oleh Stefani dan Ina.
    Sedangkan bagi Ida ini kali kedua dirinya melihat langsung penerapan teknik hand job. Permainan Marni masih jauh dibanding Stefani, masih belum mampu mengiring desakan ledakan kian membumbung, belum peka terhadap kedutan siotong.

    Sekian lama Bahdin masih bisa bertahan dengan mengalihkan perhatiannya pada wajah manis yang mencumbunya, kedua tangnya melampiaskan kegemasn dengan menelusup kedalam blouse Ina, menangkup sepasang payudara ranum nan mengkal.

    Sekian menit berlalu, pengeroyokan tak seimbang belum juga menumbangkan lelaki ini. Ina merasa kian bangkit birahinya bercumbu mesra sekian lama, sembari payudaranya digasak hebat.

    Tiba tiba terdengar suara kendaraan masuk, suara sedan baru. Tampaknya para suami dan anak sudah pulang. Pontang panting Marni dan Ida membereskan diri, segera kabur meninggalkan korban pengeroyokan. Situasi berbalik sertus delapan puluh derajat. Pertandingan menjadi seimbang.

    Tak kalah gemasnya, kini Bahdin yang menelanjangi Ina. Cepat saja gadis langsing itu memapangkan pesona belianya. Bahdin menggeser tubuh ke sandaran bed, setengah menyeret Ina ke arena pertandingan baru, real fight. Tentu ina mengetahui posisi tersebut, posisi yang menjadi kesukaaannya, her on top, dipangku. Gemulai Ina berjongkok, mengamblaskan perlahan si otong yang sudah konak sedari tadi pagi, butuh beberapa kali upaya untuk mengamblaskan sebagian.

    Bahdin merasa lebih lega, dikocok sekian lama oleh Marni, tak sebanding dikekep liang sempit gadis ayu aristokrat ini. Lega si otong menemukan kehangatan.

    Memangku gadis ini mengguggah rasa disanubari terdalamnya. Perlahan-lahan setiap perjumpaan dan keintman, mematri benih kasih yang kian terpendam. Marni cinta monyetnya yang kini kembali berkembang, Ina cinta sejatinya.

    Memandang wajah ayu sedemikian lekat, Ina merasakan sorotan mesra memuja tanpa kata.

    Ina menyadari sepenuhnya, sikurus kering ini tak pernah menuntut apapun, bahkan cenderung menghindar. Harus di pepet baru dia bergejolak.

    sSs

    FLASHBACK
    Gladiresik, sengaja dikisahkan dibelakang agar tak menjadi spoiler saat Bahdin menundukkan gang motor

    Permintaan lawan ketemu Bahdin demikian cepat, membuat persiapan undercover agent dilakukan pontang-panting.

    Saat gladiresik atau latihan role play perkosaan, Stefani bertindak sebagai sutradara menumpahkan imajinasi fantasi seksualnya, menuntun Bahdin sebagai aktor dalam skenario pemerkosaan dan Ida sebagai aktris korban yang diperkosa, tokoh Tuti target operasi.

    Sedangkan Marni dan Ina selaku konsultan teknis penulis cerita, mengembangkan dialog pembicaraan, merancang detil ucapan, ancaman dan terpenting pertanyaan tersembunyi mengkorek informasi.

    Gladi resik dilakukan dengan sungguh-sungguh, mengingat lawan yang nanti dihadapi adalah wanita senior, kampiun seks, bukan sekedar abg perawan.

    Ida gampang saja menlakokan ingnya, tinggal mengikuti arus kejadian dengan response natural. Mengikuti alur korban yang disergap, diikat dan ditutup matanya, dan terakhir ditelanjangi. Selaku yang pertama bugil, malu juga dirinya ditelanjangi, tapi untunglah karena mata ditutup, jadi tak terlalu malu.

    Sedangkan Bahdin awalnya lancar saja, tetapi ketika mulai melakonkan adengan penetrasi sesungguhnya, mengalami kesulitan karena masalah teknis, si otong tak bersedia bangun dihadapan audiance ehh para pekerja film. Akhirnya setelah disepakati semua partisipan dari sutradara sampai penulis cerita ikut menanggalkan pakaian bugil, si otong baru mau menjalankan tugas.

    Akting dilakungan dengan real. Akting awal dilakukan berulang-ulang, sampai aktor dan aktris menemukan penjiwaannya, alur cerita mengalir lancar. Bahdin mengikuti perintah sutradara Ina, berulang mencoba latih adegan demi adegan. Mulai bersembunyi, menyergap, mengelabui, menelanjangi, dan tentu saja mengoral.

    Ina dan Marni kian merah padam wajahnya, merancang dialog yang harus terdengar menyeramkan, saat adegan kian memanas dan mencekam. Apalagi saat mulai korban ditenjangi dan aktor mulai menanggalkan diri telanjang, mamampangkan si otong pujaan bersama.

    Susah payah merancang merancang dialog kalimat saat harus menyaksikan sang pujaan mengerjain korban dan menghayati adegan demi terciptanya percakapan yang natural pemerkosaan. Entah karena kelewat penjiwaan atau empati terhadap korban, Marni dan Ina tak kalah bergejolak birahinya.

    Terlebih lagi saat memasuki scene penetrasi, Ida yang terikat, tersumpal, tertutup mata, sudah tak perlu lagi akting, sepenuhnya menjiwai, sepenuhnya merintih keenakan, mendesah terkejang=kejang, bahkan kelojotan meledak birahinya sungguhan, tanpa bisa ditahan. Wong memang matanya yang ditutup, gelap pekat, hanya bisa merasakaan nikmatnya gasakan lidah sang pahlawan dan siotong yang merangsek dahsyat tak berkesudahan.

    Adegan terhenti saat memasuki skenario interogasi, karena aktris korban loyo lunglai kehabisan nafas dan stamina, akibat keenakan berulang-ulang, akhirnya minta mpun sungguhan tak kuat lagi digasak berturutan, tak kuat lagi memerankan aktris korban. Kegelapan mencekam dan kenikmatan digasak adalah kombinasi seksual yang luar biasa.

    Terpaksa sutradara Stefani mencari stuntwoman, aktris pengganti. Semena-mena sutradara menggunakan hak prerogatifnya menentukan stuntwomen, mengambilalih peran aktris, yaitu dirinya sendiri. Tak bisa disalahkan, sang sutradara yang paling liar imajinasi fantasi seksualnya sudah nyut-nyutan sedari tadi. Untunglah datang kesempatan, aktrisnya semaput.

    Tanpa menyiakan waktu shooting, Ina menggunakan syal mengikat tangannya, dan menjangkit bed, menendang ida yang lemas tengkurep kelaur bed, menyuruhnya istirahat sejenak. Ban kain penutup dipindahkan, menjadikan Srefani kini ganti diselimuti kegelapan pekat. Bahdin tak berdaya memberikan masukan apapun, manut saja disuruh kembali menggasak dengan berulang-ulang dengan sunguh-sungguh. Sial sungguh tokoh kita diperbudak empat wanita bugil menggiurkan.

    Saat sutradara memerankan sebagai aktris, sudah dapat diduga, shooting adegan perkosaan mulai kacau balau. Adegan berlangsung tanpa skenario, semua awalnya mengikuti arahan sutradara, tetapi kini pengatur lakon mulai merintih-rintih, kehilangan kewarasannya digasaki aktor kita. Akibatnya skenario menjadi skenario on the fly.

    Konsultan perancang dialog pun kian merah padam mukanya, menghayati adegan yang sangat membara ini. Kreativitasnya buntu. Marni dan Ina kian berimajinasi liar, ingin merasakan bagaimana diperkosa oleh kekasih pujaan. Tapi tuntutan tugas memaksa harus bersabar.

    Hanya Bahdin yang masih utuh akal sehatnya, kebingungan, akhirnya konsentrasi saja, merangsek tubuh langsing semampai Stefani yang menggeliat-geliat kian membahana, melesakkan batang penisnya ritmis perlahan namun kuat. Bahdin mengatur nafas dan tenaga dengan baik, mengalihkan perhatian pada hal-hal lain, mengurangi cenat-cenut si otong ingin meledak.

    "Ssshhh...Ssshhh...Ssshhh..." Stefani yang diselubungi kegelapan total, tak ubahnya Ida, tak berapa lamapun takluk pada sensasi mencekam gairah membara, tak kuat menahan letupan puncak kenikmatan. Sutradara kelojotan lupa diri, shooting adegan mendadak berhenti. Para pekerja filem tak tahu berbuat apa-apa, sang sutradara tengah ngos-ngosan membubung ke langit ketujuh. Terpaksa menunggu.

    Entah berapa menit berlalu, akhirnya pun Stefani kembali datang kewarasannya, malu sendiri. Menutup jengahnya "Err... aku pulang dulu ...." lemas memungut pakaian dan mengenakannya, menelepon pacarnya minta jemput. Pura-pura cuek dipelototin crew film. "Err... latihan nya lagi biar semakin lancar... sudah malam... pulang dulu yaaa?" Stefani kabur keluar kamar, menutupi rasa malunya, menunggu dijemput pacarnya.

    Mendapat teman kabur, Ida pun ikut melarikan diri dengna pasang alasan lihat anak-anak.

    TInggallah kini aktor pemeran utama dan sepasang penulis cerita. Marni dan Ina saling melirik, terakhir ketawa geli sendiri. Kini tinggal mereka bertiga, suasana kembali mencair, hangat dan romantis.

    "Mas... Ina mau coba juga dungg..." anak mami, selalu duluan minta kalau ada keinginan. Ina mengharapkan ingin nyoba diperkosa juga.

    Bahdin, tertatih beringsut ke bed, mengistirahatkan sebelah kakinya yang sedari tadi dijadikan tumpaun. Lega bisa telentang. Lutut dipinggir bed, kaki menjuntai dilantai, istirahat "Kaki pegel .... sini aja...." Bahdin menggapai Ina.

    Ina menghampiri, beringsut naik ke bed, sedikit bertanya-tanya mau diapain? Melihat Bahdin beringsut dan telentang segera Ina menyadari, kakinya belum pulih.

    Tanpa banyak bicara, Bahdin memenuhi permintaan Ina. Lain yang diharap Ina, lain yang didapatnya .
    saat menyambut jemari Bahdin.

    Bahdin menarik Ina bangkit hingga terpaksa bersimpuh, dikulumnya bibir Ina dengan bernafsu, yang disambut dengan tak kalah binalnya. Ina melampiaskan kegemasannya yang ditahan sedari tadi dengan melumat dahsyat bibir lelaki ini. Urusan klum mengulum, bibir menggairahkan Ina tak bosan-bosannya dikemoti Bahdin.

    Tak lama menumpahkan kemesraan, dirinya ditarik Bahdin, untuk jongkok mengangkang diwajah Bahdin. Shok dirinya mengetahui apa yang akan dihadapi, tak pernah Ina di oral Bahdin selama ini. Dikuatkan dirinya saat terasa lidah Bahdin mulai mengkilik-kilik kewanitaannya. Bahdin memenuhi pinta Ina, dikiranya Ina minta di oral.

    Mulailah Ina menggeliat kegelian, lingkar luar liang kewanitaannya dan seputar pangkal pahanya disapu lidah Bahdin memanfaatkan kekasaran lidah. Berkali kaali dalam sapuan lidah kasar mengampelas lembut mulusnya paha Ina. Kejutan baru area kewanitaannya dicumbu penuh gairah oleh pujaan hati. Ina menggigit bibirnya menahan rasa gejolak yang kian membara.

    Tak diketahui Ina yang mendadak shok menunggangi wajah kekasihnya, Bahdin menggapai Marni, yang bingung mo diapain. tapi cepat langsung mengerti. Saat jemarinya disambut, Bahdin menuntun dirinya untuk ikut menunggangi. Bila Ina pangkal pahanya menjepit mendekap wajah, sebalknya Marni menduduki pangkal paha tautan jiwanya.
    "Shhh....." pucuk dicinta ulam tiba, Marni menemukan mainan, batang penis yang mengacung, langsung saja di sergapnya, dipaskan di liangnya, dan mendesakkan pinggulnya turun kuat perlahan. Disergap kepejalan mendadap, Marni mendeprok lemah, bertumpu tangannya diperut Bahdin, sedikit terengah mengarur nafas.

    Mulailah pengalaman baru keduanya bekerja sama mengeroyok dan memperkosa sosok lelaki kurus kerempeng. Sebaliknya Bahdin mencoba pertandingan simultan, sekaligus berbarengan memenuhi hasrat menggebu keduanya, mengistirahatkan kakinya yang cidera.
    Marni, wanita molek yang bertenaga baru, berrgairah memulai tarian erotis pinggulnya. Tarian yang kian yahud, otot veginya meremas dan memilin batang keras dikombinasi penggulnya yang meliuk-liuk dahsyat. Semakin setanding Marni merangsek kesangaran si otong, dengan putaran pinggulnya yang berkali-kali bak mematahkan batang keras itu.
    Dihadapannya tubuh Ina sama dalam posisi menunggang, semakin menggelinjang kegelian disengat kenikmatan intens tinggi, gempuran kasarnya lidah bahdin, mengampelas kewanitaanya yang sangat peka.

    Permainan lidah Bahdin sistematis, perlahan mulai dari area terluar, melingkar kedalam, kali ini ke perinium, antara liang anus dan vagina, menjengkitkan geli yang teramat sangat. Berkali kali Ina tersengat geli tak terkira. Serangan lidah berpindah bervariasi, mengulum lembut bibir vagina, labia mayora, membangkitkan rangsangan kian hebat. Mulai tak tahan, Ina memegang kepala lelaki itu, kepalanya mulai tersentak terteleng kiri kanan tak karuan, berkali kali menerima sengatan kenikmatan.
    Mulailah lidah Bahdin mencucuk ringan sesekali dan semakin dalam bergantian, liang kewanitaannya, dan labia minora, memaksa Ina mulai menggeliatkan pinggul keenakan, yang mulai dicengkeram erat tangan Bahdin. Sebelah tangan Bahdin sesekali mulai memijat perlahan klitoris, daging menonjol yang tersembunyi dilipatan bibir vagina, kian menyentakkan tubuh Ina. Ina mulai mendengus mengerahkan tenaga menahan geli dan nikmat.

    "Oh...oh..." Tubuh Ina kini melengkung kebelakang, disambut Marni yang mengerahkan tenaganya menggilas batang keras dikewanitaannya. Kedua wajah saling menempel pipi saling menguatkan, berpadu saling menguatkan, saling menumpahkan gairah.
    Mendapatkan dukungan ddekapan tubuh halus Marni dibelakangnya, tangan Ina melengkung kebelakang mencari pegangan leher Marni debalakangnya. Kini Marni yang kian mengerahkan tenaga mendekap erat tubuh telanjang madunya, mengalihkan siksa derita kesesakan divaginanya.

    Ina yang didekap Marni seolah mendapat semangat baru menyangkak rangsangan hebat dikewanitaannya.
    Kombinasi pijatan jari Bahdin dan cucukan dalam lidah ke liang vaginya, mulai menghantar Ina menggelinjang keenakan tak terkendali. Bergantian Bahdin kini mengulum bibir kemaluan dan kelentit bergantian sembari menekankan keras ujung lidah ke klitorisnya.

    “Shhh...shhh....shh...’ Ina mulai mendaki klimaksnya dirangsang demikian intens.

    Merasakan Ina kini, kian menjelang, kedua tangan Bahdin beralih sasaran, langsung menyergap bokong Marni, “Oghh...” dengan keras, Bahdin mencekngkeram bokong telanjang itu untuk kembali mulai bekerja, bekerja keras. Sedari tadi sudah diberi waktu bermain sendiri. Kini Di goyangkan dengan kuat pinggul Marni, memaksa bekerja lebih giat dan lebih keras, melesakkan vaginanya menghantam kebatang yang keras bak tiang pancang.
    Mulailah kedua wanita ini saling merintih, Bahdin mengerahkan segenap kelihaiannya menaklukan simultan keduanya, ditengah birahinya yang kian ke ubun-ubun.

    Marni mulai mengerahkan sekuat tenaganya, terpacu oleh Ina dalam pelukannya yang kini juga tengah merintih, mencoba membantu sekuat tenaga. Pinggul Marni mulai diputar melesakkan batang Bahdin, mengulegnya dengan binal. Marni seolah meminjam tenaga memeluk erat tubuh telanjang Ina, yang kini mulai kelojotan, bak penari kejang, menggapai klimaksnya.

    “Nggghhhhhhhhh.... “ Dengan merintih panjang, Ina melepas klimaksnya, punggungnya melenting kebelakang didekap Marni. Pahanya kurang ajar kejang menjepit keras wajah kekasihnya, didalam sana lidah Bahdin bekerja keras mencucuki dan menjelujuri kedalaman liang yang banjir bandang.

    Dirangsang Ina yang erotis kelojotan, Bahdin tak tahan lagi, kelojotan tubuhnya menerima remasan dahsyat otot kegel vegi Marni, yang menghantami keras si otong, karena pinggulnya dicengkeram paksa bekerja keras. Marni pun tak ada bedanya, tak berdaya, mengerahkan tenaga mengikuti kemana trangan mencengkeram itu mengarah, melesakkan batang keras, ke berbagai sisi kewanitaannya, meledak dahsyat.

    Ina dan Marni menumpahkan rasa, saling berangkulan, saling menempelkan pipi, saling terengah-engah. Marni kelojotan, tak hentinya tangan itu mencengkram dan memaksa pinggulnya memerah dan memerah, Ina pun bernasib seruba, liangnya di cucuki dalam dan ganas.

    Bersambung ke

    Motor 14
    Touring


    seri final

  21. #40
    Semprot Kecil otakrusak's Avatar
    Daftar
    Nov 2013
    Lokasi
    In your dream
    Posts
    84
    Thanks
    1
    Thanked 8 Times in 2 Posts
     THREAD STARTER 
    Live Score
    Demikianlah para pemirsa sudah berhasil di re-upload cerung MOTOR

    jangan ragu lempar cendol, fakir miskin terkena bencana 15 Nov

    Seri final masih lama, kehabisan energi utk re upload

Halaman 2 dari 8 FirstFirst 1234 ... TerakhirTerakhir

Bookmarks

Posting Permissions

  • You may not post new threads
  • You may not post replies
  • You may not post attachments
  • You may not edit your posts
  •  
Jav Toys  Pusat Toys
Agen Bola  Agen Bola