[CERBUNG] [TAMAT] Pendekar Naga Mas - Halaman 12
VivaWin
Agen bola
Judi Bola Online
agen bola  Judi Bola Online
agen bola  agen bola
agen bola terpercaya
agen bola  agen bola terpercaya
Agen Bola  Agen Bola
Agen Bola  Agen Bola Online
Agen Bola Online  Agen Bola Online
Agen Bola Online  Agen Bola Online
Agen Bola Online  Agen Bola Online
Poker Online Dengan Jackpot Terbesar dan Pertama di Indonesia  Agen Bola Online

Baca Juga

  1. Dibuka Juga Nggak CD nya Mas
    By Sperma in forum Gambar Asia
    Balasan: 240
    Post Terakhir: 15 July 2014, 09:11 PM
  2. <Mas kok cewe nya show? >
    By rinoa80 in forum Gambar Cewek Indonesia IGO
    Balasan: 44
    Post Terakhir: 24 June 2014, 02:47 PM
  3. [CERBUNG] (copas) pendekar naga perayu
    By Pers1e in forum Cerita Bersambung
    Balasan: 88
    Post Terakhir: 24 April 2014, 10:44 PM
  4. Aku Udah Siap Mas, Khoq Lama Bener Sich
    By Sperma in forum Gambar Asia
    Balasan: 104
    Post Terakhir: 28 December 2013, 08:51 AM
  5. Namaku Liza Mas, Baru Datang Dari Kampung Semalam
    By Sperma in forum Gambar Asia
    Balasan: 45
    Post Terakhir: 8 October 2010, 11:01 AM
Halaman 12 dari 18 FirstFirst ... 21011121314 ... TerakhirTerakhir
Results 221 to 240 of 355

Thread: Pendekar Naga Mas

Short link : (test)
Share di Facebook
  1. #221
    Semprot Kecil
    Daftar
    Nov 2013
    Posts
    72
    Thanks
    0
    Thanked 0 Times in 0 Posts
    Agen Bola Online
    Quote Originally Posted by KeyBiru13 View Post
    Jangan" suhu frantines dapat musibah pas tahun baru kemarin???
    Kayaknya bener tu bro
    ga biasanya suhu frantine molor update lama banget kayak skrg ini

  2. #222
    Kakak Semprot
    Daftar
    Nov 2012
    Lokasi
    Jakarta Barat
    Posts
    172
    Thanks
    0
    Thanked 7 Times in 4 Posts
     THREAD STARTER 
    Maaf.....semuanya...hahahhahaa.....
    Baru balik lagi ke Indo dan baru sempat update lagi nich.....kepanjangan liburannya.....

  3. #223
    Kakak Semprot
    Daftar
    Nov 2012
    Lokasi
    Jakarta Barat
    Posts
    172
    Thanks
    0
    Thanked 7 Times in 4 Posts
     THREAD STARTER 
    Waktu itu jam menunjukkan sekitar shen-si (sekitar jam lima sore), ia pun bergumam, "Ai, bagaimana pun perempuan yang tak tahu ilmu silat memang ketinggalan jauh dibandingkan pesilat, masa enam perempuan tak bisa bertahan selama dua jam’

    Habis berkata, dengan langkah lebar dia kembali ke rumah makan.
    Pada saat itulah dari belakang tubuhnya, selisih beberapa kaki darinya muncul seorang gadis berbaju putih, sewaktu mendengar gumaman pemuda itu, berkilat sepasang matanya, kemudian secara diam-diam menguntit di belakangnya.

    Ketika sorot matanya berhenti pada pedang To-liong-kiam yang tergembol di pinggang Cau-ji, tubuh gadis itu nampak bergetar keras, lalu pikirnya, "Eh, bukankah pedang itu To-liong-kiam?
    Kenapa bisa terjatuh ke tangan bajingan cabul ini?"

    Ketika melihat Cau-ji memasuki rumah makan, ia nampak termenung sejenak, kemudian terburu-buru meninggalkan tempat itu.

    0oo0

    Malam semakin kelam.
    Deru angin malam berhembus amat kencang, sebagian penghuni kota sudah terlelap dalam impian.
    Cau-ji baru saja selesai bersemedi, ia merasakan tubuhnya segar dan enteng bagaikan sedang terbang, sadarlah ia bahwa apa yang dikatakan Toasiok tak salah, pil mestika naga berusia seribu tahun telah membantu tenaga dalamnya meningkat sangat pesat.

    Pada saat itulah tiba-tiba dari kejauhan terdengar suara ujung baju tersampuk angin, tak tahan
    pikirnya, "Sekarang malam sudah larut, kenapa masih ada Ya-heng-jin (orang berjalan malam)
    yang lewat di tempat ini?"

    Dengan sigap dia melompat turun dari ranjang, mengenakan pakaian dan tak lupa membawa pedang.
    Kelihatannya gerak-gerik Ya-heng-jin itu sangat hati-hati, coba kalau bukan Cau-ji memiliki tenaga dalam yang sempurna, rasanya mustahil untuk mengetahui kehadiran pejalan malam itu.

    Begitu dirasakan Ya-heng-jin itu sudah hampir tiba di depan jendela kamar, cepat pemuda itu memusatkan perhatiannya, dia ingin tahu malaikat dari mana yang berani mendatanginya.

    Terlihat bayangan hitam berkelebat, sesosok wajah setan berambut panjang telah muncul di luar jendela, begitu seram wajahnya membuat ia terperanjat.
    Saat itulah tiba-tiba ia mendengar orang itu berkata dengan suara sedingin es, "Penjahat cabul, kalau berani ikuti aku?"

    Habis berkata, kembali terlihat bayangan hitam berkelebat, dalam waktu singkat orang itu sudah lenyap dari depan jendela.
    Begitu berhasil mengendalikan diri, cepat Cau-ji mendorong jendela melongok keluar, terlihat sesosok bayangan manusia sedang bergerak ke arah timur.

    Terdorong rasa ingin tahu, dia pun segera melompat keluar ruangan dan membuntuti.
    Sungguh cepat gerakan Ya-heng-jin itu, dalam waktu singkat ia sudah meninggalkan daerah perkotaan menuju ke tanah alas, bahkan bayangan tubuhnya lenyap ketika tiba di depan halaman sebuah bangunan yang amat besar dan luas.

    Dengan seksama Cau-ji coba memperhatikan sekeliling tempat itu, kemudian pikirnya, "Bangunan siapa ini? Kenapa membangun gedung semegah ini di tempat yang begini terpencil?"

    Rupanya di sisi kanan bangunan gedung itu merupakan komplek tanah pekuburan yang tak terawat, sejauh mata memandang hanya gundukan tanah berserakan, sementara di sisi kiri merupakan sebuah kolam ikan yang luas.

    Di bawah cahaya bintang yang berkedip, kilauan cahaya pantulan gemerlapan di atas permukaan air.
    Di depan bangunan megah itu tumbuh puluhan batang pohon Pek-yang setinggi empat-lima depa, mengikuti hembusan angin bergema suara gemerisik nyaring guguran dedaunan.
    Bangunan itu memang didirikan sangat aneh, dinding dan bangunannya dicat merah darah, tapi
    sama sekali tak mirip sebuah kuil atau kelenteng, hal ini memberi kesan menyeramkan bagi yang melihatnya.

    Bukan saja bentuk bangunan itu sangat aneh, didirikan pula di tempat terpencil seperti ini, mendatangkan kesan misteri dan aneh bagi siapa pun yang melihatnya. Membuat orang menduga siapa gerangan yang berdiam di sana? Manusiakah? Atau setan gentayangan?

    Biarpun Cau-ji memiliki ilmu silat yang sangat tangguh, namun setelah melihat keadaan sekeliling tempat itu, tak urung bergidik juga hatinya.

    Baru saja dia hendak membalikkan tubuh meninggalkan tempat itu, tiba-tiba terdengar suara tertawa cekikikan berkumandang mengikuti hembusan angin malam.

    Suara tertawa itu sangat merdu bagaikan suara keleningan, kalau menganalisa berdasarkan suara tertawa itu, orang pasti akan membayangkan tawa merdu itu berasal dari seorang gadis cantik bak bidadari dari kahyangan.

    Tapi bila suara tawa seperti itu muncul di tempat sepi yang terpencil seperti ini, apalagi di tengah malam buta, cekikikan merdu itu justru menambah suasana seram, ngeri, dan horor bagi siapa pun yang mendengarnya, cukup membuat bulu roma orang bangun berdiri.

    Terdengar suara tawa merdu mengalun bagaikan liiran air di sungai kecil, bergema tiada putusnya.

    Makin didengar, Cau-ji merasa semakin tak beres, akhirnya habis sudah kesabarannya, diambilnya sebuah batu, lalu dengan mengerahkan tenaga dalam disambitkan ke arah asal suara itu.

    Padahal tenaga dalam yang dimilikinya sekarang sudah luar biasa hebatnya, apalagi menyambit dengan sepenuh tenaga, seketika terdengarlah suara desingan angin tajam membelah bumi, batu itu langsung menghantam di atas batu nisan yang berada lebih kurang lima depa di hadapannya.

    "Blaam!", tiba-tiba suara tawa itu terputus di tengah jalan, perlahan-lahan dari belakang batu nisan muncul sesosok bayangan putih, di bawah cahaya rembulan yang redup, selangkah demi selangkah dia berjalan mendekat.

    Makin lama bayangan putih itu semakin dekat, sekarang sudah dapat dilihat dia adalah seorang perempuan berambut sepanjang punggung, bergaun putih, karena rambutnya menutupi wajah maka sulit untuk melihat dengan jelas raut muka aslinya.

    Kembali Cau-ji berpikir, "Masa di kolong langit benar-benar terdapat setan dan roh gentayangan?"

    Berpikir begitu, sambil menghimpun tenaga murninya ia membentak, "Siapa kau? Kalau tetap berlagak seperti setan untuk menakuti orang, jangan salahkan bila Cayhe berlaku tak sopan!"

    Suara bentakannya begitu nyaring bak suara genta yang dibunyikan bertalu-talu, namun perempuan berbaju putih yang berada di hadapannya itu seolah sama sekali tak mendengar, dia tetap melanjutkan langkahnya maju.

    Melihat hal ini, tak urung Cau-ji bergidik juga, badannya mulai gemetar.
    Kini gadis berbaju putih itu sudah berada lebih kurang tiga depa di hadapannya.
    Sambil berseru tertahan Cau-ji mengangkat tangan kanannya siap melancarkan bacokan, belum lagi pukulan dilepaskan, tiba-tiba gadis berbaju putih itu mengangkat tangan kanannya dan membelah rambut panjangnya yang menutupi wajahnya.

    Begitu melihat tampang gadis itu, kontan Cau ji terkesiap sampai gemetar badannya, tanpa sadar badannya mundur tiga langkah, belum lagi pukulannya di lancarkan, tangannya sudah keburu lemas hingga tak mampu diangkat.

    Tiba-tiba gadis berbaju putih itu tertawa terkekeh, kembali dia maju beberapa langkah, tangan kirinya di ayun ke depan dan menyambar wajah Cau-ji dengan ujung bajunya.

    Cau-ji membuang badannya ke belakang sambil mundur sejauh lima-enam kaki, dengan cekatan dia menghindari datangnya sambaran itu.

    Dia menarik napas panjang, sambil menghimpun tenaga dalam bersiap-siap, bentaknya, "Sebenarnya kau ini manusia atau setan? Kalau berani maju lagi, jangan salahkan Cayhe akan bertindak kasar."

    Kembali gadis berbaju putih itu menggoyang pinggulnya sambil melangkah maju, sekali lagi dia menyingkap rambutnya dengan tangan kanan.

    Tadi Cau-ji sempat melihat wajah anehnya yang mendebarkan hati, tentu saja ia tak berani memandang lebih jauh, tangan kanannya diayun, sebuah pukulan dahsyat kembali dilontarkan.

    Dengan cekatan gadis berbaju putih itu mangegos ke samping kemudian meluncur maju.
    Mendadak dia membungkukkan pinggang, secepat sambaran petir kembali menerjang maju, sementara tangan kanannya menyingkap rambutnya yang panjang, ujung baju tangan kirinya sekali lagi menyambal wajah Cau-ji.

    Melihat datangnya ancaman, pemuda itu imun bentak nyaring, dengan jurus Eng-hong-ki-long (menyongsong angin menggempur ombak) dia lontarkan sebuah bacokan kilat.

    Gadis berbaju putih berseru tertahan, mengikuti datangnya bacokan kilat itu cepat dia melompat mundur.
    Kembali Cau-ji membentak keras, sambil menghimpun tenaga mumi sekali lagi dia lepaskan sebuah bacokan, pukulannya kali ini disertai dengan kekuatan yang luar biasa, bagaikan ombak dahsyat yang menghantam batu karang, langsung menggulung tiada putusnya.

    Tak terlukiskan rasa kaget gadis berbaju putih, sadar pukulan lawan tak terkirakan dahsyatnya, cepat ia berjumpalitan di udara kemudian bergeser sekitar delapan kaki ke samping kiri.

    Dengan tangan kiri melindungi dada sementara tangan kanan siap melancarkan serangan, kembali Cau-ji membentak nyaring, "Siapa kau sebenarnya? Apa maksudmu menyaru menjadi
    setan gentayangan? Cepat mengaku!"

    Tiba-tiba gadis berbaju putih itu menyingkap lagi rambut panjangnya, diiringi tertawa cekikikan
    dia menubruk maju.

    Begitu melihat wajah jelek si nona yang dipenuhi bekas codet, tak tahan Cau-ji kembali bergidik.
    Sedikit perhatiannya terpecahkan, gadis berbaju putih itu telah menerkam ke samping badannya.

    Tergopoh-gopoh Cau-ji mundur dua langkah, baru saja akan menyerang tiba-tiba dilihatnya gadis berbaju putih itu membalikkan badan sambil menyentilkan jari tangannya ke arah pemuda itu.

    Cau-ji segera mengendus bau harum yang aneh menyergap hidungnya.
    la segera sadar kalau bubuk harum itu pasti sebangsa obat pemabuk, untuk mencari tahu tujuan sebenarnya dari nona berbaju putih itu, dia pun berlagak keracunan, setelah mundur sempoyongan badannya roboh ke tanah.

    Gadis berbaju putih itu tertawa terkekeh, dengan lembut ia berjalan ke samping Cau-ji, lalu sambil membungkukkan badan dia lepas pedang To-liong-kiam itu dari pinggang lawan.

    Begitu pedang mestika itu dicabut dari sarungnya, sekilas cahaya dingin yang menggidikkan seketika terpancar di balik kegelapan malam.

    Baru saja dia akan menyarungkan kembali pedangnya, mendadak dari belakang tubuh gadis itu muncul sebuah tangan yang besar dan kasar, dengan kecepatan luar biasa tangan itu mencengkeram pergelangan tangan yang sedang menggenggam pedang itu.

    Bersamaan itu terdengar seseorang berkata sambil tertawa terbahak-bahak, "Ternyata bubuk pemabuk dari kelompok terhormat kaum bujangan memang bukan nama kosong, baru hari ini
    mata Lohu benar-benar terbuka!"

    Suara itu serak, selain serak terselip pula suara yang tak enak didengar.
    "Lepas!" bentak nona berbaju putih itu sambil menumbuk dengan sikut kanannya.
    "Hm, dasar budak binal, kerja Lohu setiap hari menangkap burung, masa kali ini kubiarkan mataku dipatuk burung? Jangan harap kau bisa memanggil Cicimu untuk datang menolong!”

    "Hehehe, mau tahu di mana Cicimu? Dia sudah tertotok jalan darahnya dan kusembunyikan di suatu tempat, bila kau ingin mengangkangi pedang mestika ini seorang diri, hm! Jangan salahkan kalau Lohu berhati keji!"

    Rupanya nona berbaju putih itu tahu kalau serangan sikutnya tak bakal bisa melukai lawan, maka di saat ia menyikut itulah dibarengi dengan suara bentakan nyaring, dia berniat mengirim
    tanda bahaya untuk minta bantuan Cicinya.

    Siapa tahu pihak lawan telah turun tangan lebih dulu dengan menotok jalan darah Cicinya.
    Dalam keadaan begini, terpaksa sembari mengerahkan tenaga untuk melawan tekanan jari yang makin kencang mencengkeram pergelangan tangannya, ia berkata dengan lembut, "Lepaskan dulu cengkeraman-mu pada nadi pergelangan tanganku ini”
    "Hehehe, percuma putar otak, Lohu sudah tahu kelompok bujangan macam kalian paling banyak tipu-muslihatnya, kalau tahu diri, cepat serahkan sarung pedang To-liong-kiam itu kepadaku!"

    Habis berkata, ia menambah tenaga cengkeramannya satu bagian.
    Kontan gadis berbaju putih itu merasakan hawa darahnya tersumbat, separoh badannya jadi kesemutan dan mati rasa. la sadar bila berani melawan lagi niscaya jiwanya bakal melayang.

    Terpaksa sambil menyodorkan sarung pedang itu ke belakang, teriaknya, "Terimalah!"
    Oleh karena tak bisa berpaling, ia sodorkan sarung pedang itu lewat atas bahu kirinya. Padahal ibu jari dan jari tengahnya sudah saling menempel, asal orang di belakang berani menyambut
    sodoran sarung pedang itu, seketika dia akan menyentilkan bubuk pemabuknya.

    Rupanya pihak lawan sudah mengetahui rencana ini, jengeknya sambil tertawa dingin, "Lohu sudah tua, tak berani bersentuhan dengan tangan nona yang halus, silakan buang sarung itu ke
    tanah, biar Lohu mengambilnya sendiri!"

    Baru selesai perkataan itu diucapkan, mendadak jalan darah Jian-keng-hiat di bahunya terasa kesemutan, belum lagi gadis itu sempat menjerit, tubuhnya sudah roboh terjungkal ke tanah.

    Pedang pendek dalam genggamannya terjatuh ke tanah, bahkan nyaris menyambar wajah Cauji.

    Diam-diam Cau-ji yang berlagak pingsan merasa amat terperanjat, cepat dia himpun tenaga dalamnya ke jari tangan, menggunakan kesempatan di saat kakek itu membungkukkan badan untuk memungut sarung pedang, tiba-tiba ia lancarkan sentilan.

    Diiringi dengusan tertahan, kakek itu roboh terjungkal ke tanah.

  4. #224
    Kakak Semprot
    Daftar
    May 2011
    Posts
    160
    Thanks
    0
    Thanked 0 Times in 0 Posts
    hore Sudan diupdate thanks Gan,semoga lancar updatenya

  5. #225
    Semprot Kecil
    Daftar
    May 2011
    Posts
    96
    Thanks
    35
    Thanked 0 Times in 0 Posts
    wah dah di update mantab suhu...
    tp kok pendek yah...?

  6. #226
    Semprot Kecil
    Daftar
    Feb 2012
    Posts
    67
    Thanks
    0
    Thanked 0 Times in 0 Posts
    hoy gan... Oleh2nya dikit banget.. Baru juga pulang dari LN.. Banyakin donk..

  7. #227
    Semprot Kecil
    Daftar
    Nov 2013
    Posts
    72
    Thanks
    0
    Thanked 0 Times in 0 Posts
    Ternyata suhu frantines keasyikan liburan sampe klupaan update
    tlg dtebus ya suhu updateny yg banyakan dikit

  8. #228
    Guru Semprot
    Daftar
    Mar 2013
    Posts
    684
    Thanks
    0
    Thanked 0 Times in 0 Posts
    yey.. update.. ada update..

  9. #229
    Semprot Holic
    UG - FR
    Es Teh Tawar's Avatar
    Daftar
    Nov 2013
    Lokasi
    angkringan
    Posts
    291
    Thanks
    1
    Thanked 0 Times in 0 Posts
    Keren bro...

    sent

  10. #230
    Adik Semprot peteck2005's Avatar
    Daftar
    Mar 2012
    Posts
    139
    Thanks
    20
    Thanked 0 Times in 0 Posts
    akhir nya update juga...! nggak rugi nich nunggu agak lama

  11. #231
    Kakak Semprot
    Daftar
    Nov 2012
    Lokasi
    Jakarta Barat
    Posts
    172
    Thanks
    0
    Thanked 7 Times in 4 Posts
     THREAD STARTER 
    update lagi dech, soale besok bakal sibuk meeting trus........

  12. #232
    Kakak Semprot
    Daftar
    Nov 2012
    Lokasi
    Jakarta Barat
    Posts
    172
    Thanks
    0
    Thanked 7 Times in 4 Posts
     THREAD STARTER 
    Cau-ji segera mengenali kakek itu sebagai anggota Jit-seng-kau yang berhasil kabur dari rumah
    makan Hong-hok-lau waktu itu, api amarahnya kontan berkobar, telapak tangan kanannya diayunkan ke muka menghajar batok kepalanya.

    "Aduuuh ...!" diiringi jeritan ngeri yang memilukan hati, batok kepala kakek itu hancur berantakan.
    Nona berbaju putih itu semakin tercekat, begitu ngerinya sampai tak berani bersuara.
    Selesai menyarungkan kembali pedang pembunuh naganya, Cau-ji baru berpaling memandang si nona berbaju putih yang sedang berbaring di tanah, dari biji matanya yang berputar, dia tahu
    nona itu sudah tertotok jalan darahnya.

    Cau-ji masih jengkel karena gadis itu berani mempecundangi dirinya, setelah mendengus ia pun
    membalik badan siap beranjak pergi.

    "Eeeh, tunggu sebentar," nona berbaju putih itu berteriak cemas.
    "Ada apa?" biar menghentikan langkah, Cau-ji sama sekali tak berpaling.
    "Mau ... maukah kau membantu aku membebaskan pengaruh totokan?"
    "Hm! Bukankah kelompok bujangan punya kulit setebal badak? Sudah mencelakaiku secara diam-diam, sekarang masih punya muka untuk minta bantuanku?"
    "Kau... pergilah!"
    "Hahaha, kalau kau suruh aku pergi, aku justru tak mau pergi!"

    Benar saja, begitu selesai bicara dia benar-benar berdiri di hadapan gadis itu sambil mengawasi
    tubuh indahnya yang menawan itu dengan mata nakal.

    Begitu menyaksikan permainan matanya yang nakal, kontan gadis berbaju putih itu teringat dengan gumamannya sewaktu meninggalkan rumah keluarga Liu, membayangkan kemampuannya melalap habis enam perempuan hanya dalam dua jam, tak pelak hatinya ngeri bercampur ketakutan.

    Tak tahan jeritnya, "Serigala rakus, cepat pergi!"
    "Serigala rakus? Siapa itu serigala rakus?" tanya Cau-ji tertegun.
    "Kau! Cepat pergi!"

    Selama hidup belum pernah Cau-ji diumpat orang sekasar itu, dengan gusar teriaknya, "Tunjukkan buktimu, kalau tidak, jangan salahkan aku benar-benar akan mempraktekkan perbuatan serigala rakus!"

    Gelisah bercampur ketakutan, kembali nona berbaju putih itu menjerit, "Kau berani!"
    Cau-ji segera berjongkok di sisinya, lalu dengan tangan kanannya dia remas payudara sebelah kanan gadis itu, sambil meraba, meremas dan mempermainkan puting susunya, dia mengejek, "Lihat saja, aku berani tidak melakukannya!"

    Belum pernah nona berbaju putih itu diperlakukan demikian oleh seorang lelaki, jeritnya melengking, "Kau..”
    Tiba-tiba ia jatuh tak sadarkan diri. Cau-ji tertawa dingin.
    "Dasar budak busuk yang belum tahu urusan dunia, berani amat mengumpatku sebagai serigala rakus! Cuuh!"
    Baru saja dia hendak menyadarkan nona itu, tiba-tiba dari kejauhan terdengar seseorang membentak nyaring, "Jangan kau lukai adikku!"

    Sambil berdiri Cau-ji berpaling ke arah orang itu.
    Terlihat seorang gadis berbaju hitam muncul dari kejauhan, dalam waktu singkat dia sudah muncul di arena, bahkan secara beruntun sepasang tangannya melepaskan pukulan berantai, semua pukulan tertuju ke arah dua jalan darah penting di tubuh Cau-ji.

    Begitu cepat serangan itu membuat siapa pun akan bergidik dibuatnya.
    Melihat datangnya serangan yang begitu cepat dan sasaran jalan darah yang begitu tepat, Cauji merasa terkesiap, sambil menghimpun tenaganya ke bawah, cepat dia menjatuhkan diri ke sisi kiri.

    Di saat tubuhnya belum berbaring, tangan kirinya dengan jurus Poh-liong-jut-hay (bertarung naga di luar lautan) menerobos keluar dari belakang punggung, langsung mencengkeram urat nadi pergelangan tangan kanan gadis itu.

    Baru saja nona berbaju hitam itu melengak karena serangannya mengenai sasaran kosong, belum sempat melihat jelas gerakan tubuh yang digunakan lawan untuk menghindari serangannya, tahu-tahu urat nadi tangannya sudah dicengkeram lawan.

    Buru-buru dia mengayun tangan kiri siap melancarkan bacokan lagi.
    Cepat Cau-ji mengerahkan tenaga dalamnya, seketika nona berbaju hitam itu merasakan peredaran darahnya tersumbat.

    "Aduuuh ...!" sambil menjerit kesakitan tubuhnya terjatuh ke tanah dalam keadaan lemas.
    Cau-ji mencoba memperhatikan wajah orang itu, ternyata perempuan ini memiliki wajah yang sangat jelek dan menyeramkan, pikirnya, "Heran, kenapa semua anggota kelompok bujangan memiliki wajah begitu jelek?"

    Tiba-tiba terdengar nona berbaju hitam itu membentak nyaring, "Lepas tangan!"
    Cau-ji dapat merasakan kewibawaan yang terselip di balik bentakan itu, tanpa sadar ia kendorkan tangannya.

    Tanpa memandang sekejap pun ke arah Cau-ji, nona berbaju hitam itu langsung menghampiri gadis berbaju putih, setelah diperiksa sejenak, ia tepuk tubuhnya beberapa kali, seketika nona berbaju putih itupun tersadar kembali.

    "Cici, bukankah kau pun sudah ditangkap orang?”
    "Tidak ada masalah, ayo kita pergi!"
    "Tapi Cici, Pedang pembunuh naga itu” seru si nona berbaju putih sambil melirik Cau-ji sekejap.
    "Kita bicarakan lagi esok!"

    Pada saat itulah secara lamat-lamat Cau-ji mendengar suara dengungan aneh berkumandang dari balik halaman gedung, dengan pengalamannya yang luas, meski sudah mendengar suara aneh pun dia sama sekali tak ambil peduli.

    Agaknya nona berbaju hitam itupun sudah menangkap suara aneh itu, segera dia urungkan langkahnya dan pasang telinga untuk mendengarkan dengan seksama.

    Terdengar suara dengungan itu makin lama semakin nyaring dan kuat, bahkan datang dari empat penjuru.
    Tampaknya gadis itu segera menyadari keadaan tidak beres, cepat dia pusatkan tenaga dalamnya mengawasi sekeliling tempat itu dengan seksama.
    Dalam waktu singkat dari balik kegelapan segera muncul beribu titik hitam yang terbang mendekat dengan kecepatan tinggi.

    Satu ingatan melintas dalam benaknya, dengan perasaan terkesiap segera jeritnya, "Adikku, hati-hati serangan lebah beracun!"
    Cau-ji sendiri pun terkejut mendengar teriakan itu.

    Tak selang beberapa saat kemudian ratusan ekor lebah beracun yang bentuknya sangat besar dan aneh telah menerjang ke arah tubuhnya.
    Cau-ji membentak keras, sebuah pukulan dahsyat langsung dilontarkan ke muka, di mana deru angin pukulan dahsyatnya menyambar, puluhan ekor lebah beracun segera terhajar hancur dan berguguran ke atas tanah.

    Suara dengungan terdengar makin keras, puluhan lebah beracun kembali menyerang tiba.
    Dalam keadaan begini, biarpun ketiga orang itu memiliki kungfu yang hebat pun tak urung bergidik juga dibuatnya.
    Sepasang tangan mereka bertiga diayunkan berulang kali, entah sudah berapa banyak lebah beracun yang berhasil mereka tebas mati, tapi jumlah lebah beracun yang datang menyerang beribu-ribu ekor jumlahnya, mati satu tumbuh seribu, bagaikan gulungan air bah menyerang ketiga orang itu tiada putusnya.

    Terpaksa Cau-ji bertiga harus mengerahkan segenap kekuatan untuk melindungi diri.
    Cau-ji sama sekali tidak menyangka dirinya tanpa sebab sudah terjerumus dalam kepungan barisan lebah beracun, dalam gelisahnya mendadak satu ingatan cerdik melintas dalam benaknya.

    Cepat sepasang tangannya diayunkan berulang kali, memaksa gerombolan lebah beracun itu terpental.
    Menggunakan kesempatan itu cepat tangannya menyambar jubah sendiri dan "Breeet...!", merobeknya jadi dua bagian, dengan mengebaskan robekan pakaian itu kembali dia sapu gerombolan lebah beracun itu.

    Kali ini gerombolan lebah itu terdesak mundur.
    Bahkan kawanan lebah beracun yang terkena sapuan pakaiannya seketika hancur lebur dan mampus seketika.

    Melihat usahanya membuahkan hasil, Cau-ji kegirangan, robekan bajunya diputar semakin gencar.
    Akibat gempuran yang bertubi-tubi ini, kawanan lebah itu mulai berganti sasaran, kini mereka hanya menyerang kedua gadis itu saja.
    Dengan sepenuh tenaga kedua gadis itu melancarkan pukulan bertubi-tubi, namun kepungan kawanan lebah beracun makin lama makin bertambah ketat, dalam keadaan begini, sedikit kesalahan atau sedikit kekuatannya surut, niscaya tubuh mereka akan disengat lebah itu.

    Sadar akan mara bahaya yang mengancam kedua gadis itu, Cau-ji segera mengerahkan tenaganya lebih besar lagi untuk menghalau kawanan lebah itu, bentaknya, "Cepat lepas pakaian kalian!"

    Kedua orang itu mendengus dingin, bukan saja tidak menggubris, mereka melanjutkan kembali serangannya untuk melindungi badan.
    Melihat betapa keras kepalanya mereka, sebetulnya Cau-ji ingin mengumpatnya dengan beberapa patah kata pedas, tapi segera teringat olehnya kalau mereka adalah kaum wanita, mana mungkin seorang gadis melepas pakaiannya di hadapan lelaki asing?

    Berpikir begitu, diam-diam ia mengumpat kebodohan sendiri.
    Setelah berhasil memukul mundur kepungan lebah beracun itu, bentaknya keras, "Sambut ini!"
    Dia melemparkan sobekan bajunya ke arah nona berbaju hitam.
    "Breeet...!", lagi-lagi Cau-ji merobek pakaian dalamnya, kini dengan hanya mengenakan celana
    dia menggempur kawanan lebah itu.

    Kepada nona berbaju putih itu kembali teriaknya, "Cepat sambut robekan kain ini!"
    Lagi-lagi dia lemparkan pakaian dalamnya kepada si nona.
    Begitu memegang robekan kain, semangat kedua gadis itu kembali berkobar, mereka memutar tangannya berulang kali, memaksa kawanan lebah itu tersapu dan tak sanggup lagi maju.

    Cau-ji menghalau datangnya serangan dengan mengandalkan kedua belah tangan, sambil membunuh kawanan lebah itu dia mulai mengawasi sekeliling tempat itu.

    Ternyata kawanan lebah beracun itu yang besar ukurannya mencapai satu inci sedang yang terkecil pun mempunyai ukuran setengah inci.
    Kawanan lebah beracun yang datang menyerang makin lama semakin banyak, kekuatan serangan pun makin lama semakin melebar, sejauh mata memandang sekeliling tempat itu seolah dilanda kegelapan, gerombolan lebah itu begitu rapat, begitu berlapis, nyaris menyelimuti seluruh angkasa. Mungkin jumlahnya mencapai jutaan ekor.

    Dalam pada itu si nona berbaju hitam pun sambil mengayunkan robekan pakaian sembari putar
    otak, mencari akal untuk lolos dari kepungan. Pertarungan ini boleh dibilang merupakan pertarungan paling hebat yang dihadapinya sepanjang hidup, biarpun dia cerdas dan banyak akal muslihat toh untuk sesaat dibuat kelabakan juga.

    Tak jelas berapa juta ekor lebah beracun yang melancarkan serangan saat ini, bertarung dengan cara seperti inipun tak jelas akan bertarung hingga kapan, asal salah sedikit kurang waspada, tubuh sendiri bisa tersengat lebah beracun yang bisa menyebabkan kematian.

    Betul pertahanan mereka saat ini sangat rapat dan kuat, namun sangat menghabiskan tenaga dan kekuatan, cepat atau lambat pada akhirnya bakal rontok juga.
    Berpikir sampai di sini tanpa terasa ia melirik sekejap ke arah pemuda tampan yang berada di sisinya, dilihatnya pemuda ini meski turun tangan dengan garang namun sama sekali tak Nampak kelelahan, malah sebaliknya semakin bertarung makin perkasa, hal ini kontan membuatnya tercengang dan keheranan.

    Sambil memutar robekan baju, diam-diam gadis ini mulai mengawasi gerak-geriknya.
    Tatkala sinar matanya membentur pedang pembunuh naga yang tergeletak di tanah, tergerak hati gadis berbaju hitam itu, pikirnya, "Andai kuajarkan ilmu pedang pembunuh naga kepadanya, dengan tenaga dalam yang dimiliki rasanya tak susah membantai habis kawanan lebah beracun ini, tapi..’

    Rupanya dia sedang mempertimbangkan, seandainya Cau-ji adalah penjahat, bukankah mengajarkan ilmu silat tangguh kepadanya sama artinya seperti harimau diberi sayap, siapa yang akan mengatasinya di kemudian hari bila dia semakin jahat?

    Tiba-tiba terdengar suara dentingan khim mengiringi suara suitan yang amat tak sedap didengar berkumandang datang dari dalam halaman gedung.
    Lebah beracun yang berada di empat penjuru jadi semakin kalap dan menyerang habis-habisan ke arah ketiga orang itu begitu suara khim dan suitan aneh itu bergema, situasi makin lama semakin gawat.

    Terlihat lebah-lebah beracun itu ada yang terbang rendah nyaris menempel tanah, ada pula yang menyerang dari tengah udara, mereka mengurung sekeliling tempat itu lapis demi lapis, begitu barisan depan rontok, barisan belakang segera menggantikan, suasana saat itu benar-benar amat tegang.

    Biarpun sapuan baju yang dilakukan kedua orang itu amat dahsyat, tapi sayang kumpulan lebah beracun itu makin lama semakin banyak, bahkan serangan yang dilakukan pun makin ganas dan dahsyat, tak urung bergidik juga perasaan nona berbaju hitam.

    Cau-ji mengayunkan tangan berulang kali melancarkan babatan dahsyat, lambat-laun dia berhasil mendesak mundur kawanan lebah itu, baru saja melirik ke samping, tiba-tiba hatinya jadi amat cemas, rupanya ada dua ekor lebah beracun yang menerjang dari tengah udara, langsung mengancam kepala nona berbaju putih itu.
    "Hati-hati nona!" segera bentaknya.

    Sepasang tangannya diayunkan berulang kali, dua ekor lebah beracun itu seketika terhajar mampus.
    Biar begitu, tak urung kedua nona itu ketakutan juga hingga bermandikan keringat dingin.
    Siapa tahu gara-gara Cau-ji harus turun tangan menolong orang, pertahanan sendiri seketika muncul lubang kelemahan, tiba-tiba terlihat ada tiga ekor lebah yang terbang langsung ke arah kepalanya.
    "Hati-hati kepalamu," jerit si nona berbaju hitam.

    Terlambat, dengan cepat lebah beracun itu telah mendekati batok kepalanya.
    Siapa sangka baru saja ketiga ekor lebah itu berada beberapa inci di atas kulit kepala Cau-ji, tiba-tiba saja binatang kecil itu mencelat ke udara lalu rontok ke tanah, mampus!

    Rupanya ketiga lebah tadi telah terpental hingga mati karena terkena pancaran tenaga dalam Im-yang-kang-khi yang memancar keluar secara otomatis.
    Cau-ji sendiri pun tidak tahu apa sebabnya bisa begitu, buru-buru dia mengayunkan kembali tangannya menyapu serbuan lebah beracun itu.

    Setelah tertegun sejenak, buru-buru nona berbaju hitam itu berbisik, "Kongcu, cepat lolos pedang To-liong-kiam, dengarkan kupasan jurus pedang dariku."

    Mendengar itu, Cau-ji pun berpikir, "Ah benar juga, kenapa aku lupa kalau membawa pedang mestika?"
    Begitu memukul mundur serangan lebah, cepat dia bergeser ke arah pedang To-liong-kiam yang tergeletak di tanah, dengan kaki kanan mengait ke depan, secepat kilat telapak tangan kirinya menyambar senjata itu.

    "Criiiing!", di antara kilauan cahaya dingin, beberapa puluh ekor lebah beracun seketika terpapas hancur.

    Diam-diam nona berbaju hitam itu bersorak memuji, dia tak nyana pedang To-liong-kiam begitu tajam dan tak malu disebut pedang mestika.
    Begitu melihat Cau-ji dengan tangan kanan membawa pedang, tangan kiri melepaskan pukulan kosong, meski cahaya tajam berkilauan namun kekuatannya tak mampu membunuh kawanan lebah itu lebih banyak, maka dia pun segera mengambil keputusan.

    Dengan ilmu Coan-im-jit-pit, bisiknya, "Kongcu, dengarkan penjelasanku tentang rahasia jurus ilmu pedang pembunuh naga”
    Mula-mula Cau-ji agak tertegun, tapi begitu mendengar ia akan menjelaskan teori pedang, hatinya jadi girang setengah mati.

  13. #233
    Semprot Holic
    UG - FR
    Es Teh Tawar's Avatar
    Daftar
    Nov 2013
    Lokasi
    angkringan
    Posts
    291
    Thanks
    1
    Thanked 0 Times in 0 Posts
    Makasih bro dah di update lg

  14. #234
    Adik Semprot banyu mili's Avatar
    Daftar
    Nov 2013
    Posts
    131
    Thanks
    4
    Thanked 28 Times in 8 Posts
    makin nih cau ji

  15. #235
    secret admirer
    Donatur
    Cazzo's Avatar
    Daftar
    Aug 2012
    Lokasi
    di kamar ku...
    Posts
    000 1297862273 000
    Thanks
    127
    Thanked 1 Time in 1 Post
    Tengkyu buanyak sekali bro....keep posting.... jadi ketagihan....

  16. #236
    Suka Semprot
    Daftar
    Jan 2014
    Posts
    12
    Thanks
    0
    Thanked 0 Times in 0 Posts
    Cau-ji dah nongol lagi

    makasih suhu buat apdetnya


  17. #237
    Guru Semprot De2yanto's Avatar
    Daftar
    May 2011
    Lokasi
    Balikpapan
    Posts
    754
    Thanks
    10
    Thanked 0 Times in 0 Posts
    Crita bang fran tambah seru......!
    Moga aja sampai tamat......!

  18. #238
    Kakak Semprot
    Daftar
    Nov 2012
    Lokasi
    Jakarta Barat
    Posts
    172
    Thanks
    0
    Thanked 7 Times in 4 Posts
     THREAD STARTER 
    Sebagai keturunan keluarga Ong, sejak kecil dia sudah banyak belajar ilmu pedang dari Ong Sam-kongcu maupun dua belas tusuk konde emas, tak heran dia pun tahu ilmu pedang pembunuh naga merupakan ilmu pedang yang memiliki reputasi luar biasa.

    Maka sambil membantai kawanan lebah beracun, diam-diam ia mulai mempelajari jurus Nuhay-to-liong (membunuh naga di amukan samudra).
    Jangan dilihat jurus ini hanya terdiri dari satu jurus dengan tiga gerakan, tapi setiap kata mengandung arti yang sangat dalam, sekalipun Cau-ji memiliki dasar ilmu pedang yang luar biasa, untuk sesaat sulit baginya untuk memahaminya.

    Untung saja dia memiliki ilmu Im-li-kang-khi yang secara otomatis melindungi seluruh badannya, sekalipun dia harus memecah perhatian pun masih tetap mampu membunuh lebah-lebah beracun itu.

    Sementara itu kedua gadis itu merasa tegang sekali, apalagi setelah melihat pemuda itu bertarung sambil mempelajari ilmu.
    Tak lama kemudian dari ujung pedang terpancar keluar sekilas cahaya tajam yang menggidikkan.

    Melihat itu, nona berbaju hitam itu sangat kegirangan, buru-buru dia menyingkir ke samping.
    Nona berbaju putih itupun segera mengintil di belakangnya, menyingkir jauh dari arena.
    Ketika kedua nona itu sudah mundur, tampak cahaya tajam itu perlahan-lahan mengembang dan melebar, akhirnya terbentuklah selapis cahaya pedang berbentuk jala.

    "Dia telah berhasil!" bisik nona berbaju hitam itu sambil melelehkan air mata.
    Betul saja, begitu Cau-ji menghentakkan tangan kanannya, sinar jala yang terpancar dari pedangnya seketika menghancur-lumatkan beratus-ratus ekor lebah beracun yang berada di sekelilingnya.

    Dalam waktu singkat ribuan ekor lebah beracun itu telah musnah tak berbekas.
    Mendadak terdengar suara irama khim dan suitan aneh itu kembali bergema.
    Sisa lebah beracun yang masih hidup pun segera terbang balik meninggalkan tempat itu.
    Ternyata Cau-ji sama sekali tak menggubris kepergian kawanan lebah itu, dia masih terbuai dalam pemahaman jurus pedangnya.

    Diam-diam nona berbaju hitam itu mengeluh sambil merasa sayang, padahal asal Cau-ji mau melancarkan serangannya beberapa kali lagi, niscaya seluruh lebah beracun itu bakal musnah.
    Sayang dia telah melepaskan kesempatan emas itu begitu saja.

    Tiba-tiba suara khim dan suitan berubah meninggi, khususnya suara suitan itu, nadanya melolong seperti setan menangis serigala menjerit.
    Nona berbaju hitam segera sadar gelagat tidak menguntungkan, tapi untuk sesaat dia pun tak berhasil menduga, permainan busuk apa lagi yang akan dilakukan musuh.

    Dalam keadaan begini, terpaksa dia pusatkan segala perhatian sambil mengawasi delapan penjuru.
    Suara pekikan yang menusuk pendengaran seketika menyadarkan Cau-ji, tanpa sadar dia memandang ke empat penjuru, kemudian teriaknya kaget, "Eeei, kenapa kawanan lebah beracun itu lenyap?"

    Terdengar suara suitan aneh itu makin lama semakin nyaring, bahkan lamat-lamat terdengar suara mendesis bergema dari empat penjuru.
    Sebagai gadis yang banyak pengetahuan dan tajam pendengarannya, dengan wajah berubah nona berbaju hitam itu segera menjerit kaget, "Ular berbisa!"

    Betul saja, ketika Cau-ji menengok ke depan, ia saksikan ada segerombol binatang melata sedang bergerak mendekat dari di depan sana.
    Dengan perasaan terkesiap Cau-ji berseru pula dengan nada berat, "Betul, semuanya ular berbisa!"

    Sebagaimana diketahui, pada dasarnya kaum wanita paling takut kepada ular, begitu melihat munculnya gerombolan ular berbisa dari empat penjuru, kedua gadis itu siap melompat naik ke atas pohon, siapa tahu dari balik ranting dan dahan pohon tiba-tiba bermunculan pula ular berbisa.

    Dalam keadaan begini, terpaksa kedua gadis itu bergeser merapat ke arah Cau-ji.
    Dalam waktu singkat gerombolan ular berbisa itu telah bergerak mendekat.
    Anehnya, gerombolan ular itu seakan takut terhadap Cau-ji, dari kejauhan mereka telah bergerak menghindar dan bergeser menuju ke arah kedua gadis itu.

    Melihat itu Cau-ji jadi tercengang.
    Tanpa banyak bicara lagi dia segera mengayunkan pedang pembunuh naganya, di mana cahaya tajam berkelebat, belasan ekor ular berbisa telah terbabat hancur.

    Berhasil dengan serangan pertama, dia langsung menerjang masuk ke dalam gerombolan ular berbisa itu dan mulai melakukan pembantaian besar-besaran.
    Rupanya kawanan ular berbisa itu takut kepada hawa mumi yang berasal dari pil sakti naga berusia seribu tahun yang ada dalam tubuh Cau-ji, begitu melihat dia menyerbu maju, serentak kawanan ular itu menyingkir ke samping.
    Dalam waktu singkat barisan ular berbisa itu jadi kacau-balau.

    Sementara itu suara suitan aneh bergema makin keras dan tajam.
    Sekali lagi kawanan ular berbisa itu bergerak maju, tapi baru beberapa langkah, kawanan binatang melata itu kembali dibuat jeri oleh hawa yang terpancar dari tubuh Cau-ji.
    Sedikit saja sangsi, lagi-lagi serangan Cau-ji berhasil membantai lima puluhan ekor ular berbisa.
    Makin lama napsu membunuh Cau-ji makin membara, kini dia telah menggunakan seluruh kekuatannya untuk melakukan pembantaian.

    Daya pengaruh pedang pembunuh naga memang luar biasa, bukan saja cahaya dinginnya menyebar luas, bahkan dalam waktu singkat telah menghancurkan sembilan puluh persen kawanan ular berbisa itu.

    Suara pekikan aneh kembali berubah, kali ini kawanan ular berbisa itu berusaha bergerak mundur, tapi Cau-ji segera memanfaatkan kesempatan itu untuk melakukan pembantaian secara besar-besaran.

    Mendadak terdengar suara bentakan gusar bergema, dari balik halaman gedung segera bermunculan belasan orang.
    Betapa terperanjatnya gadis berbaju hitam itu setelah menyaksikan betapa cepat gerakan tubuh orang-orang itu, segera dia mengerahkan tenaga dalamnya sambil bersiap melakukan pertarungan.

    Tak lama kemudian Cau-ji sudah dikerubut belasan orang berbaju hitam, sebagai pemimpinnya adalah seorang kakek ceking berwajah menyeramkan.
    Baru saja kedua nona itu siap maju memberi bantuan, Cau-ji telah berseru sambil tertawa nyaring, "Ternyata di sini masih ada manusia. Kusangka hanya sarang binatang busuk ... hahaha

    "Bocah keparat, tajam benar lidahmu," umpat kakek ceking itu gusar, "berani amat kau musnahkan binatang kesayanganku, hm, malam ini akan kusuruh kau mati secara mengerikan."
    Selesai berkata, ditatapnya wajah anak muda itu lekat-lekat.
    "Waduh, galak amat kau ... takut ...." ejek Cau-ji sambil menyengir.
    "Bocah keparat, serahkan nyawamu!"

    Sambil membentak keras, dua butir benda berwarna hitam pekat segera dilontarkan ke arah Cau-ji.
    "Hati-hati serangan bokongan!" buru-buru nona berbaju hitam itu memperingatkan.

    Dengan satu pukulan Cau-ji menghajar kedua benda itu hingga hancur.
    "Blum, blum!"
    Diiringi dua kali suara ledakan, muncul dua gumpal kabut hitam yang segera mengurung seluruh tubuh Cau-ji.

    Kedua nona yang berdiri beberapa kaki dari sisi arena pun segera mengendus bau aneh yang menyengat, kontan mereka merasakan kepala pening dan mata berkunang-kunang.

    Tergopoh-gopoh mereka menutup jalan napas.
    Dalam pada itu belasan orang berbaju hitam itu mulai tertawa menyeramkan.
    Tiba-tiba terdengar suara pekikan nyaring berkumandang dari balik kabut hitam.
    Baru saja belasan orang itu tertawa bangga, suara pekikan itu seketika membuat perasaan mereka terkesiap.

    Pada saat itulah sekilas cahaya tajam muncul dari balik kabut hitam dan berputar cepat di sekeliling arena.

    "Aduuuh di tengah jeritan ngeri yang menyayat hati, belasan orang itu sudah mati tercincang pedang.
    Cau-ji tertawa terbahak-bahak.



    Raja bisa, rasul ular.

  19. #239
    Adik Semprot banyu mili's Avatar
    Daftar
    Nov 2013
    Posts
    131
    Thanks
    4
    Thanked 28 Times in 8 Posts
    Mantap nih, cau ji dpt ilmu baru

  20. #240
    Guru Semprot
    UG - FR

    Daftar
    Jun 2010
    Lokasi
    jogja
    Posts
    728
    Thanks
    0
    Thanked 45 Times in 7 Posts
    Live Score
    di lanjut suhu
    2 gadis itu pasti aslinya cantik ya

Bookmarks

Posting Permissions

  • You may not post new threads
  • You may not post replies
  • You may not post attachments
  • You may not edit your posts
  •  
Agen Bola Online
Jav Toys  Pusat Toys
Agen Bola Online  Agen Bola Online
Agen Bola Online  Agen Bola Online
Agen Bola Online  Agen Bola Online