Halaman 5 dari 5 FirstFirst ... 345
Results 81 to 87 of 87

Thread: Timnas Sepakbola Indonesia

Short link : (test)
Share di Facebook
  1. #81
    Wkl.Lurah KJ (TogeLovers) Donatur
    Donatur
    pencinta perempuan's Avatar
    Daftar
    May 2011
    Lokasi
    Pinggir Laut Jakarta
    Posts
    3.306
    Thanks
    191
    Thanked 142 Times in 6 Posts
     THREAD STARTER 
    agen bola, agen sbobet, agen ibcbet
    Catatan Sepakbola
    Tentang Kekalahan Indonesia dari Bahrain


    Jakarta - Harapan itu kembali tak terpuaskan, bukan di Teheran melainkan di Senayan. Indonesia kalah dari Bahrain dalam pertandingan yang sempat dihentikan wasit gara-gara ulah sebagian suporter yang bandel.

    Faktanya, sepakbola Indonesia masih belum banyak berubah. Tak apa-apa. Kita memang masih dalam periode transisi. Perubahan yang sudah terjadi baru di level pergantian pengurus PSSI -- dan ekspektasi masyarakat yang kian hari kian meninggi, terutama ketika yang akan bertanding adalah tim nasional.

    Ekspektasi itu bagus, bahkan perlu untuk sebuah motivasi. Tapi jika tidak dibarengi dengan sikap obyektif dan realistis, apalagi sampai menjadi ekspektasi yang membabi-buta, tanpa melihat permasalahan secara komprehensif, jangan-jangan ekspektasi itu akan terus membuat kita "lemas" dan ujung-ujungnya kembali menggerutu dan mengeluh: "Ah, kalah lagi, kalah lagi."

    Mungkin itulah potret sebagian masyarakat sepakbola kita. Kita mudah mabuk oleh sebuah keberhasilan "kecil", tapi tak segera memperbaiki hal-hal yang lebih fundamental karena sudah (sempat) berhasil, dan jika begitu, kegagalan melulu dikait-kaitkan dengan nostalgia.

    Pelatih:

    Setelah Indonesia bermain buruk dan kalah 0-2 dari Bahrain kemarin malam di Gelora Bung Karno, Wim Rijsbergen, yang belum seumur jagung menukangi skuad 'Garuda', dicap sudah gagal karena sebelumnya juga kalah 0-3 dari Iran. Berdengung pula suara-suara yang menginginkan Alfred Riedl kembali direkrut sebagai pelatih.

    Menurut hemat penulis, ini "basi". Kita terlalu memanjakan keinginan, selalu ingin cepat jadi. Kalah dua-tiga kali, pelatih harus dipecat, seolah-olah Indonesia adalah Inggris, Brasil, Chelsea atau Real Madrid, seakan-akan faktor besar yang menentukan mutu tim itu cuma pelatih.

    Riedl -- katakanlah -- memang pelatih yang bagus. Gayanya yang keras, disiplin, bahkan jarang tertawa, cepat disukai. "Pemain kita memang harus dikerasi," begitu kesimpulan sederhananya. Ia memang membuat masyarakat Indonesia mengalami euforia di Piala AFF, membangun fondasi tim yang sangat baik. Bahwa dia sesungguhnya tidak memberi piala di turnamen di level Asia Tenggara itu, seperti pelatih-pelatih sebelumnya, oleh sebagian orang dianggap bukanlah sebuah kegagalan.

    Penulis bukannya anti Riedl, tapi mencoba bersikap realistis, dan itu pun lebih ke faktor "nonteknis". Sulit membayangkan PSSI memanggil kembali Riedl setelah mereka mendepaknya begitu saja "tanpa perasaan". Sebaliknya, apa iya Riedl dengan mudah balik ke Indonesia setelah merasa "sakit hati" diperlakukan dengan tidak menyenangkan oleh PSSI.

    Soal Rijsbergen, kita belum tahu sebaik apa dia -- atau seburuk apa dia. Tapi dia baru dua bulan bekerja untuk timnas, dan dia sudah membantu Indonesia mengalahkan Turkmenistan sehingga bisa masuk ke babak ketiga Pra Piala Dunia 2014.

    Bahwa kemudian Indonesia kalah 0-3 dari Iran, pertanyaannya adalah, apakah sekarang kita sudah sedemikian yakin bisa mengalahkan Iran, yang notabene pernah tiga kali tampil di Piala Dunia dan tiga kali menjuarai Piala Asia? Bukannya merendahkan tim sendiri, bukannya tak berharap juga, tapi faktanya level kita masih di bawah mereka. Sekali lagi, saat ini tingkatan kita masih di Asia Tenggara. Menanjak ke Asia butuh proses lain lagi.

    Bahrain di atas kertas lebih lemah daripada Iran. Kita pernah pula mengalahkan mereka di Piala Asia 2007 di Jakarta, walaupun juga kalah 1-3 di Piala Asia 2004. Wajar memang apabila ekspektasi itu membuncah lagi. Sepertinya sebagian besar masyarakat Indonesia sangat yakin Bambang Pamungkas dkk bisa merebut poin penuh kemarin malam.

    Yang terjadi kemudian, permainan tim sangat buruk. Apakah itu salah pelatih? Pasti ada. Tapi apakah semata-mata salah pelatih? Tidak mungkin.

    "Kita tidak bermain simple football. Kita terlalu bermain individual. Ketika satu pemain berhadapan dengan dua lawan, seharusnya kita mengoper bolanya. Tapi, kita malah menggocek dan akhirnya malah kehilangan bola. Itu kesalahan elementer. Bermain simple football belum ada dalam mind-set kita. Kita tidak bisa menang tanpa possession football. Tanpa possession football, kita tidak akan bisa mencetak gol. Tim-tim terbaik di dunia telah membuktikan hal itu," papar Rijsbergen seusai pertandingan.

    Penulis tidak melihat ada yang salah dengan analisis itu. Di lapangan, memang itulah yang terjadi. Artinya, Rijsbergen tahu di mana letak kesalahan permainan malam itu. Artinya, dia tidak bodoh.

    Tapi tentu kita juga ingin tahu, seberapa mampu dia mengarahkan pemain-pemainnya supaya melaksanakan instruksi-instruksinya. Satu hal yang terlihat jelas adalah: pelatih Bahrain Peter Taylor nyaris sepanjang pertandingan berada di pinggir lapangan, kerap teriak-teriak pada pemainnya. Rijsbergen tidak begitu, lebih anteng di bangku cadangan. Bagaimana sistem komunikasinya? Ini harus ditanyakan pada orang Belanda itu.

    (Intelejensia) Pemain :

    Bagaimanapun, sepakbola terjadi di lapangan. Pelatih itu semacam sutradara, tukang mengarahkan. Aktor sesungguhnya adalah pemain, karena mereka-lah yang berada di atas rumput, yang menendang-nendang bola, yang memutuskan ke arah mana bola ditendang, diumpan, dibuang, dan seterusnya.

    Kepiawaian dan kejelian pelatih memang faktor sangat penting, tapi intelejensia pemain untuk menerjemahkan taktik pelatih, atau juga kemampuan mereka menjaga konsentrasi dalam keadaan keadaan lelah dan buntu, juga amat vital.

    Terkait pertandingan melawan Bahrain, yang membuat penonton pun frustrasi, penulis melihat pemain-pemain Indonesia tak memiliki kecerdasan untuk mencari "rencana B" ketika “rencana A" mandeg. Mereka tak bisa menguasai bola di lapangan tengah dan kemudian kebingungan untuk mendapatkan cara buat masuk ke pertahanan lawan.

    Celakanya, ada kesan, yang penting bola masuk ke wilayah Bahrain, tak peduli jika itu harus dilakukan dengan cara mengirim umpan lambung jauh, atau mengandalkan crossing dari sayap, padahal kita jelas-jelas tak pernah sekali pun memenangi duel di udara dengan pemain-pemain jangkung Bahrain.

    Kecepatan dan kelincahan Boaz pun terlalu diharapkan. Setiap serangan terus saja dialirkan melalui dia. Apa boleh buat, pada akhirnya pemain lawan bisa menemukan cara untuk mengantisipasi gerakan Boaz. Entah kenapa baru di 15 menit terakhir saja permainan "insting" itu bisa dihentikan, dan para pemain mulai berani melakukan tusukan dari tengah, seraya mengurangi bola-bola atas. Tapi ya terlambat.

    Apakah itu semua instruksi pelatih? Kalau ya, berarti si pelatih bahkan tak lebih pintar dari penonton. Kalau tidak? Maka pemain memang harus terus belajar mengasah kemampuannya untuk semakin baik.

    Intelenjensia pemain sangatlah penting untuk diasah -- seperti juga mentalitas bertanding, yang sering dianggap pula sebagai sebuah kelemahan tim kita selama ini. Pernah ada pertanyaan begini: "Apakah Indonesia akan langsung hebat jika pelatihnya Jose Mourinho atau Pep Guardiola?" Silakan jawab sendiri.

    Salah satu cara belajar adalah memperbanyak frekuensi bertanding melawan tim-tim yang berkualitas di level internasional, tidak melulu berkutat di lokal atau ASEAN, biar mereka terbiasa menghadapi berbagai situasi di tengah lapangan.

    (Kedewasaan) Suporter:

    Bahwa suporter Indonesia itu hebat, penuh gelora dan gegap gempita, dunia bahkan sudah mengetahuinya. Jika fanatisme fansnya tidak sebegitu rupa, mungkin akan lebih sulit lagi mencari berita sepakbola Indonesia di media massa asing. Gelora Bung Karno kini sudah dikenal sebagai salah satu stadion dengan suporter paling "gila" di dunia.

    Sayangnya, kedewasaan bersikap belum terpupuk merata. Insiden kembang api dan mercon, yang membuat wasit menghentikan pertandingan selama sekitar 15 menit, memperlihatkan penyakit lama yang kambuhan itu. Belum lagi "kebiasaan" menghujani pemain lawan dengan botol air mineral.

    Ini pemandangan yang menyebalkan, mencemari sebuah tontonan yang semestinya bisa dinikmati tanpa perasaan was-was dan cemas, khususnya untuk kalangan penonton anak-anak dan wanita, juga karena perilaku norak seperti itu bisa membuat Indonesia merugi. Kita pernah bersedia menerima sanksi FIFA jika hal itu harus dilakukan supaya bisa menurunkan pengurus PSSI yang busuk. Tapi alangkah lucu dan ironisnya jia sanksi itu pada akhirnya dijatuhkan FIFA gara-gara ulah suporter.

    Begitu pula dengan sportivitas kepada tim tamu. Alih-alih memberi apresiasi dengan memberi sedikit tepuk tangan, lagu kebangsaan tim lawan malah disoraki, diteriaki "huu..". Memberi dukungan sebesar-besarnya pada tim kesayangan itu "sesuatu banget", tapi tidak menghormati lagu kebangsaan lawan adalah memalukan.

    (Keseriusan) Polisi/petugas keamanan:

    Berharap semua penonton berlaku baik, cuma duduk manis di kursi, tidaklah mungkin. Berharap tidak pernah terjadi keributan suporter dalam sebuah pertandingan sepakbola pun agak utopia. Ini soal ratusan ribu orang tumpah ruah di tempat yang sama, dengan segala atribut pribadi dan motif masing-masing. Itu sudah jadi bagian dalam sepakbola itu sendiri.

    Tapi untuk mencegah ekses yang lebih buruk, tetap harus ada safety measure. Di stadion, ranah itu ada di petugas keamanan, polisi. Kenapa kita tak pernah belajar dari negara lain, di mana pemeriksaan bawaan penonton sebelum masuk ke dalam stadion dilakukan dengan serius dan ketat, tanpa terkecuali, tanpa kompromi, tanpa pandang bulu, tanpa toleransi apapun.

    Tapi di Indonesia selalu begitu: sweeping cuma ada di mulut pejabat kepolisian, ancaman bagi yang membandel cuma sebatas ancaman. Selalu ada celah buat suporter bandel untuk menyusupkan macam-macam benda terlarang ke dalam stadion.

    Petugas pun lebih banyak yang ikut "numpang" nonton dengan menghadap ke lapangan ketimbang mengawasi gerak-gerik suporter yang nakal. Jika ada suporter yang melempar, mereka hanya menunjuk-nunjuk, menggertak dari jauh, karena petugas di tengah penonton memang tak ada atau minim (atau takut dengan massa?)

    Bagaimana kesadaran untuk menjadi suporter yang baik akan terpupuk secara merata jika reward and punishment dari petugas tidak dijalankan. Kalau you punya tiket, tidak bawa benda macam-macam, silakan masuk ke stadion. Kalau tidak, silakan Anda tunggu di luar -- dan jangan berulah yang macam-macam juga.

    (Profesionalitas) Panpel:

    Tekad PSSI untuk membenahi berbagai sistem buruk yang pernah dijalani rezim Nurdin Halid masih menunggu pengejawantahannya. Transparansi pemasukan tiket pertandingan timnas, sejauh ini belum dilakukan juga. Sistem pembelian tiket pertandingan pun belum berubah. Soal ini, semestinya sudah ada cara yang lebih menyenangkan konsumen (baca: suporter) ketimbang harus antre sampai dua kali untuk mendapatkan tiket. Apalagi cara ini pun jelas-jelas tidak juga menghilangkan calo, jika itu salah satu tujuannya.

    Ketegasan Panpel juga harus diperlihatkan atas nama keadilan. Mereka yang sudah berkorban berjam-jam antre untuk membeli, bahkan datang jauh-jauh dari luar Jakarta, semestinya punya hak lebih dibanding mereka yang tak punya tiket. Apa boleh buat, seringkali mereka yang sudah dilarang masuk pun ujung-ujungnya bisa menerobos juga. Di laga Indonesia-Bahrain, meski panitia dari awal menyatakan cuma akan mencetak 77 ribu tiket, tapi bagaimana mungkin stadion pada akhirnya terisi penuh atas-bawah, dan itu artinya ada 100 ribu orang di sana!

    (Komitmen dan kerja keras) PSSI:

    Pada akhirnya, kunci pembenahan sepakbola Indonesia termasuk tim nasional saat ini ada di PSSI. Semua orang sudah tahu, selama ini sistem persepakbolaan kita tidak berjalan karena tidak ada mesin yang bekerja untuk menggerakkannya, yang disebabkan oleh bobroknya pengurus PSSI periode sebelumnya yang korup.

    Semua orang tahu, tanpa perubahan yang signifikan oleh PSSI, jangan harap sepakbola Indonesia tiba-tiba akan membaik -- atau tim nasional tiba-tiba lolos ke putaran Piala Dunia.

    Mungkin sebagian fans sudah tidak sabar untuk segera melihat timnas yang terbiasa menang, bagaimanapun situasinya. Tapi sebagian fans lain boleh jadi lebih berharap supaya permasalahan mendasar yang selama ini menghambat perkembangan sepakbola Indonesia, bisa mulai dibenahi dengan baik dan serius oleh pengurus PSSI saat ini. Banyak lah contohnya, dan itu sudah dikampanyekan semua oleh pengurus ketika Kongres lalu, tentang pembinaan usia dini, perbaikan kompetisi sebagai muara pembentukan timnas yang handal, dan lain-lain.

    Semoga pengurus PSSI yang sekarang tidak mengulangi kesalahan-kesalahan rezim sebelumnya. Mereka tentu tidak mau membayangkan, pengurus terdahulu yang mereka singkirkan, dan sampai sekarang adem-ayem saja karena semua kejahatan mereka sudah "dipetieskan", akan tertawa dan berkata, "Emang enak ngurus bola!"

    Tapi yang lebih penting lagi adalah, jika melakukan kesalahan yang sama dan gagal membuat perbaikan itu, pengurus PSSI sekarang akan lebih mudah berhadapan dengan masyarakat, karena mereka tak cuma punya andil sangat besar dalam menumbangkan Nurdin cs, tapi kecintaan mereka pada sepakbola tidaklah terukur besarnya.
    " TOGE LOVERS "
    Dimanapun Anda Ngewe, Dengan Siapapun Anda Ngewe
    "TUTUP MULUT DAN TAHAN LIDAH ANDA UNTUK BICARA FORUM SEMPROT"

    Demi Kebaikan Bersama, Forum Semprot Jangan Dijadikan Materi Obrolan Dengan TO ataupun WP
    Hargai Kami Yang Sudah Memberi Informasi

  2. agen bola online, taruhan bola, judi bola
  3. #82
    Wkl.Lurah KJ (TogeLovers) Donatur
    Donatur
    pencinta perempuan's Avatar
    Daftar
    May 2011
    Lokasi
    Pinggir Laut Jakarta
    Posts
    3.306
    Thanks
    191
    Thanked 142 Times in 6 Posts
     THREAD STARTER 
    Catatan Sepakbola
    Melihat Lebih Jauh Asa Skuad Garuda

    Jakarta - Dua kali bertanding, dua kali kalah, salah satunya bahkan di Gelora Bung Karno. Jika peluang itu benar-benar mulai mengecil, maka sasaran lebih realistis adalah bagaimana potensi skuad "Garuda" selanjutnya.

    Takluk 0-3 dari tuan rumah Iran di pertandingan pertamanya di putaran ketiga babak kualifikasi Piala Dunia 2014 zona Asia Grup E, Indonesia gagal memenuhi ekspektasi suporternya ketika tampil di kandang sendiri melawan Bahrain pada 6 September.

    Gegap gempita publik Senayan kala itu tidak membuat permainan Bambang Pamungkas dkk di lapangan menawan. Mereka kalah 0-2 dalam pertandingan yang disempat dihentikan beberapa menit oleh wasit karena ada "pesta" kembang api dari penonton, juga serangan botol air mineral ke arah tim tamu.

    Dari itu mencuat banyak cerita. Pelatih Wim Rijsbergen memarahi pemain, sebagian pemain tidak terima dimaki-maki oleh bosnya itu. Lalu beberapa pilar "mengadu" pada pelatih sebelumnya, Alfred Riedl, dan seterusnya dan seterusnya.

    Entah sudah seberapa "akur" Rijsbergen dan pemain-pemainnya (yang sempat ngambek) itu -- dan jika sudah, seberapa "ikhlas" mereka berdamai. Sebaiknya berbaik sangka saja, demi kebaikan bersama, karena faktanya, skuad relatif tidak berubah, kecuali beberapa muka yang dimainkan Rijsbergen dalam laga ujicoba melawan Arab Saudi di Kualalumpur hari Jumat lalu, seperti kiper I Made Wirawan, Wahyu Wijiastanto, dan Ferdinand Sinaga.

    Sekarang, mestinya Rijsbergen dan anak-anak buahnya sudah jauh lebih mengenal. Komunikasi yang terjalin sepatutnya sudah lebih mengena satu sama lain, dan lalu menguatkan sikap profesional di masing-masing pihak, sehingga semua potensi bisa tergali dan tersinergi secara optimal, dan bagaimana menerapkannya ke lapangan dalam sebuah grup.

    Ketika kalah di Teheran, publik lebih bisa menerima kenyataan karena Iran memang kelasnya masih di atas Indonesia. Tapi sewaktu tumbang dari Bahrain di Jakarta, baik Rijsbergen maupun para pemain kena kritik habis-habisan dari semua orang, bahwa mereka mempertontonkan sebuah permainan yang tidak jelas dan pesimistis.

    Logikanya, ujian terbesar tim Rijsbergen adalah hari Selasa (11/10) besok, saat menghadapi Qatar. Alasannya, tim ini tentu diharapkan lebih baik seiring berjalannya waktu kebersamaan mereka -- dan pertandingan kembali digelar di Jakarta. Tanpa bermaksud meremehkan, inilah kesempatan terakhir Indonesia memetik kemenangan di kandang sendiri, karena Iran, yang akan dijamu pada 15 November, secara teknis lebih kuat dibanding Qatar dan Bahrain.

    Tapi, sebagaimana dalam sepakbola berlaku "apapun bisa terjadi", maka Indonesia tetap memiliki kesempatan itu. Di luar harapan bahkan doa suporter, Rijsbergen dan para pemain-lah yang akan menentukan nasib sekaligus masa depannya sendiri. Pilihan dan konsekuensi menang adalah gampang: peluang untuk mengais asa demi lolos ke babak berikutnya tetap terbuka, dan publik akan sangat senang. Masih banyak masyarakat Indonesia yang semata-mata cuma ingin melihat timnasnya menang.

    Akan tetapi, jika gagal mengalahkan Qatar apalagi kalah -- selain bahwa peluang lolos itu boleh dibilang habis -- publik mungkin akan membuat penilaiannya berdasarkan proses dan cara. Jika sudahlah tak menang, dan main buruk pula, jangan heran kalau hanya cela dan kritik yang akan dialamatkan pada mereka. Rijsbergen bisa dituding-tuding lagi.

    Namun, apabila (sistem) permainan tergolong baik, apapun hasil yang didapat, semestinya itu menjadi sebuah cara yang rasional untuk mengevaluasi tim dan terutama Rijsbergen. Apakah tim ini dan pelatihnya sudah punya fondasi yang bagus untuk dipoles dan diolah lagi, ditingkatkan terus dan lagi dan lagi. Itu lebih penting untuk dipikirkan dan direncanakan, mengingat membangun timnas yang kuat adalah sebuah proses yang tidak singkat, dan membutuhkan banyak faktor penunjang dari berbagai aspek, tidak semata-mata siapa pemain dan pelatihnya.

    Selamat berjuang.
    " TOGE LOVERS "
    Dimanapun Anda Ngewe, Dengan Siapapun Anda Ngewe
    "TUTUP MULUT DAN TAHAN LIDAH ANDA UNTUK BICARA FORUM SEMPROT"

    Demi Kebaikan Bersama, Forum Semprot Jangan Dijadikan Materi Obrolan Dengan TO ataupun WP
    Hargai Kami Yang Sudah Memberi Informasi

  4. #83
    Wkl.Lurah KJ (TogeLovers) Donatur
    Donatur
    pencinta perempuan's Avatar
    Daftar
    May 2011
    Lokasi
    Pinggir Laut Jakarta
    Posts
    3.306
    Thanks
    191
    Thanked 142 Times in 6 Posts
     THREAD STARTER 
    Harap - harap cemas nih...
    Menang, draw, atau kalah yach lawan qatar???

  5. #84
    Guru Semprot Donatur
    Donatur
    bolasodoq's Avatar
    Daftar
    Jun 2011
    Lokasi
    perepatan yang sepi
    Posts
    745
    Thanks
    196
    Thanked 28 Times in 3 Posts
    Ane turut Berduka Cita untuk kekelahan Timnas yang ke tiga kalinya..

    Tetap Semangat.....
    Lebih Baik Diam Dari Pada Ngumbar Forum Kepada Wanita Yang Baru Anda Kenal

  6. #85
    Semprot Lover misterlendir's Avatar
    Daftar
    May 2011
    Lokasi
    penghasil lendir
    Posts
    213
    Thanks
    15
    Thanked 35 Times in 5 Posts
    kalah ke 3 kalinya....poin 0 nih
    mari berlendir bersama

  7. #86
    Wkl.Lurah KJ (TogeLovers) Donatur
    Donatur
    pencinta perempuan's Avatar
    Daftar
    May 2011
    Lokasi
    Pinggir Laut Jakarta
    Posts
    3.306
    Thanks
    191
    Thanked 142 Times in 6 Posts
     THREAD STARTER 
    Kayaknya permainan udah agak bagusan....
    cuma emang skill dan kualitas pemain kita yang sepertinya memang masih dibawah team2 lain di groupnya...

    Tetap dukung Timnas Kita yach semproters....???

    Perjuangan para pemain patut kita hargai...
    Mereka telah berusaha semaximal mungkin, cuma sayangnya sepakbola kita memang masih dibawah level team2 Arab dan team ras kuning..

    Next Fokus.......

    Timnas U23 - Di Sea Games
    Yang akan ane update perkembangannya
    " TOGE LOVERS "
    Dimanapun Anda Ngewe, Dengan Siapapun Anda Ngewe
    "TUTUP MULUT DAN TAHAN LIDAH ANDA UNTUK BICARA FORUM SEMPROT"

    Demi Kebaikan Bersama, Forum Semprot Jangan Dijadikan Materi Obrolan Dengan TO ataupun WP
    Hargai Kami Yang Sudah Memberi Informasi

  8. #87
    Wkl.Lurah KJ (TogeLovers) Donatur
    Donatur
    pencinta perempuan's Avatar
    Daftar
    May 2011
    Lokasi
    Pinggir Laut Jakarta
    Posts
    3.306
    Thanks
    191
    Thanked 142 Times in 6 Posts
     THREAD STARTER 
    Rijsbergen Panggil Igbonefo dan Nwokolo
    JAKARTA, KOMPAS.com — Pelatih Timnas senior Wim Rijsbergen membuat kejutan dengan memanggil sejumlah pemain tambahan untuk mengikuti pemusatan latihan di Solo menjelang laga melawan Qatar dan Iran pada lanjutan kualifikasi Piala Dunia 2014.

    Setidaknya ada enam pemain tambahan yang dipanggil Rijsbergen, termasuk dua pemain hasil naturalisasi dari Nigeria, Victor Igbonefo dan Greg Nwokolo.

    Dalam daftar 26 pemain yang dirilis ofisial timnas senior, Senin (31/10/2011), empat pemain tembahan yang akan menjalani pemusatan latihan itu adalah kiper veteran Hendro Kartiko, Samsidar, bek Fandy Muhtar, dan Mahyadi Panggabean.

    Rijsbergen juga memanggil kembali striker Boaz Solossa dan bek Richardo Salampessy, dua pemain yang tidak bersedia memperkuat Timnas menjelang laga melawan Qatar, 11 Oktober lalu, karena alasan pribadi dan keluarga.

    Kiper Hendro Kartiko dan Samsidar masuk tim, bersaing dengan Feri Rotinsulu dan I Made Wirawan, setelah Markus Horison dicoret dari skuad.

    Di lini depan, selain menggantikan posisi Irfan Bachdim yang diskors tiga bulan tidak boleh aktif dalam persepakbolaan nasional, Boaz dan Nwokolo mengisi posisi beberapa pemain yang tidak bisa dipanggil karena berkonsentrasi memperkuat Timnas SEA Games.

    Indonesia, yang saat ini terpuruk sebagai juru kunci klasemen Grup E setelah kalah tiga kali beruntun, akan bertandang ke Qatar, 11 November mendatang, dan menjamu Iran di Jakarta, empat hari kemudian.

    Pada pertemuan pertama, Indonesia kalah 2-3 saat menjamu Qatar dan kalah 0-3 saat bertandang ke Iran.

    Daftar Pemain yang Dipanggil untuk Pelatnas di Solo

    Kiper: Feri Rotinsulu, I Made Wirawan, Hendro Kartiko, Samsidar

    Belakang: Zulkifli Syukur, Muhamad Roby, Hamka Hamsah, Beny Wahyudi, Purwoko Yudi, Richardo Salampessy, Supardi, Wahyu Wijiastanto, Fandy Muhtar, Mahyadi Panggabean, Victor Igbonefo

    Tengah: Tony Sucipto, Hariono, Firman Utina, Ahmad Bustomi, Muhammad Ridwan, Muhammad Ilham

    Depan: Samsul Arif Munip, Cristian Gonzales, Bambang Pamungkas, Boas Solossa, Greg Nwokolo
    Sedikit asa dan harapan, tapi tetep pesimistis yang muncul
    " TOGE LOVERS "
    Dimanapun Anda Ngewe, Dengan Siapapun Anda Ngewe
    "TUTUP MULUT DAN TAHAN LIDAH ANDA UNTUK BICARA FORUM SEMPROT"

    Demi Kebaikan Bersama, Forum Semprot Jangan Dijadikan Materi Obrolan Dengan TO ataupun WP
    Hargai Kami Yang Sudah Memberi Informasi

Halaman 5 dari 5 FirstFirst ... 345

Bookmarks

Posting Permissions

  • You may not post new threads
  • You may not post replies
  • You may not post attachments
  • You may not edit your posts
  •  
Konak
Belum daftar?
Daftar aja gratis.
Klik di sini untuk daftar.

preload preload preload preload