FolstagVendetta (10-31-2011), jack_navi (11-11-2011)
seiring berkembangnya dunia dari jaman nomaden yg kemudian berpindah-pindah dan berburu sampai kemudian bercocok tanam, setelah beribu-ribu tahun kemudian terciptalah teknologi.. seiring berkembangnya jaman berkembang pula teknologi, haha udahan ah basa-basinya..
gini nih, kan buuuanyak sekali tuh yg namanya perlombaan desain/kompetisi desain, ga usah jauh2.. di Indonesia ini aja, dulu hal sperti ini ya emang bagus buat mancing kreatifitas para desainer di Indonesia ini, dan penilaian'nya pun berdasarkan juri..
tapi coba kita lihat fenomena sekarang [di facebook]
seperti ; yg paling banyak mendapatkan 'like' dialah pemenangnya, segera promosikan desainmu keteman2 dan dapatkan 'like' sebanyak2nya.
kan mudah aja tinggal pake add-ons dari firefox seperti greasemonkey trus ditambahin script deh yg like otomatis terakhir tinggal minta bantuan deh sama group2/komunitas2 jempolers..
yahh kalo yg emang ga tau cara ini itu derita sih![]()
tetapi bukankah penilaian itu benar2 kurang adil?
menurut gw ya bagusnya kalo kompetisi desain itu penilaiannya dilakukan secara juri/personal aja,
tapi tenang masih banyak kok ajang kompetisi2 desain kyk gini yang penilaiannya dilakukan secara subyektif dari hasil suatu karya itu sendiri, cthnya seperti di situs sribu[dot]com atau mungkin semprot[dot]com suatu saat nanti akan mengadakan kompetisi[kompetisi nyemprot] haha..![]()
FolstagVendetta (10-31-2011), jack_navi (11-11-2011)
setuju suhu, tapi apa dengan bantuan juri yang kepalanya ter-kotak-an oleh selera dan rules empunya acara juga sebenernya non subjektif? adakah jaminan kalo mereka akan menggunakan estetika global saat melakukan penilaian? karena setau nubie taste setiap orang itu dipengaruhi lingkungannya secara stimulan. sebagai contoh, dalam sebuah lomba foto, didaulat juri seorang fotografer kawakan, nah saat tu juri mengapresiasi karya kita, tentu dia pegang kriteria lomba kan? nah saat kriteria itu dibenturkan sama taste dia, lingkungan dia, dan ratusan hal lain yang ada diotaknya, masih subyektif kah itu? -masih suram- mungkin ada pencerahan lain suhu?
-keep semprot-![]()
gw setuju banget brader,
memang unsur subjectifitas tidak dapat di hindari dalam penilaian sebuah karya seni.
selera juri dan pengaruh lingkungan sekitar kalo masih dalam batas kewajaran ane pikir sih sah-sah aja
asalkan tidak KKN ataupun ada kepentingan lain yang keluar dari konteks karya itu sendiri
cmiiw.
namun untuk menghindari itu semua kan ada teori2 seni atau disain yang bisa di pakai untuk bisa menilai suatukaraya
sebagai contoh
1. originalitas
2. gagasan/kekuatan konsep
3. tehnik
4. ketepatan pemilihan/penggunaan media
dalam menilai karya itu sendiri kita dapat menggunakan prinsip disain dan elemen rupa yang yang ada.
tak kalah penting sense of art dari juri tersebut semakin baik sense of artnya semakin baik juga hasil penilaiannya.
dan penting untuk selalu di ingat untuk kita memperhatikan segmen peserta lomba tersebut
baik dari umur, kelas atau pun lingkungan sekitar yang ada
karena kita tidak dapat meng genarlisasikan penilaian kita.
masing-masing memiliki kemampuan dan kebutuhan yang berbeda2
yang ane coba ingin garis bawahi disini
sebenarnya setiap orang yang memiliki jiwa seni bisa menjadi juri lebih objactif
dengan menggunakan teori seni yang ada di tambah dengan sense of art yg kita miliki.
cmiiw
![]()
Bookmarks