[INFO] Histori rock bawah tanah di indonesia
VivaWin
Agen bola
Judi Bola Online
agen bola  Judi Bola Online
agen poker dan domino  agen poker dan domino
agen bola agen bola
agen bola terpercaya
agen bola terpercaya
Agen Bola  Agen Bola
Agen Bola Online  Agen Bola Online
Agen Bola Online  Agen Bola Online
Agen Bola Online  Agen Bola Online
Poker Online Dengan Jackpot Terbesar dan Pertama di Indonesia  Agen Bola Online
Agen Bola Online  Agen Bola Online
ding dong 36d live  Agen Bola

Baca Juga

  1. HOT.... Penyebab Larisnya Laptop di Indonesia!!! (wajib lihat)
    By Kulukucupuk in forum Gambar Cewek Indonesia IGO
    Balasan: 34
    Post Terakhir: 25 September 2014, 03:32 PM
  2. Maskapai Penerbangan Paling Tua Di Indonesia
    By wedangronde in forum Cerita Lucu
    Balasan: 10
    Post Terakhir: 2 April 2014, 09:00 PM
  3. Hubungan Antara Pendidikan Dan Pekerjaan di Indonesia
    By penkolandago in forum Cerita Lucu
    Balasan: 21
    Post Terakhir: 2 April 2014, 08:55 PM
  4. Nama Tim Sepakbola Teraneh dan terunik Di Indonesia
    By hktoyshop in forum Cerita Lucu
    Balasan: 23
    Post Terakhir: 27 November 2013, 07:52 PM
  5. Makan Siang ala Hotel Mewah di Kereta Bawah Tanah!!
    By hktoyshop in forum Lounge Picture
    Balasan: 14
    Post Terakhir: 24 January 2013, 01:22 PM
Results 1 to 10 of 10

Thread: Histori rock bawah tanah di indonesia

Short link : (test)
Share di Facebook
  1. #1
    Semprot Kecil
    Daftar
    Oct 2012
    Posts
    57
    Thanks
    0
    Thanked 42 Times in 2 Posts
     THREAD STARTER 

    Histori rock bawah tanah di indonesia

    Agen Bola Online
    Salam satu jiwa gan!!

    Jujur ni artikel ane dapet dari surfing di tempatnya mbah "dugel", hanya sekedar memberi info bagi agan semproters smua



    HISTORI ROCK BAWAH TANAH DI INDONESIA
    Embrio kelahiran scene musik rock underground di Indonesia sulit
    dilepaskan dari evolusi rocker-rocker pionir era 70-an sebagai
    pendahulunya. Sebut saja misalnya God Bless, Gang Pegangsaan, Gypsy
    (Jakarta), Giant Step, Super Kid (Bandung), Terncem (Solo), AKA/SAS
    (Surabaya), Bentoel (Malang) hingga Rawe Rontek dari Banten. Mereka
    inilah generasi pertama rocker Indonesia. Istilah underground
    sendiri sebenarnya sudah digunakan Majalah Aktuil sejak awal era 70- an.
    Istilah tersebut digunakan majalah musik dan gaya hidup pionir asal
    Bandung itu untuk mengidentifikasi band-band yang memainkan
    musik keras dengan gaya yang lebih `liar' dan `ekstrem' untuk ukuran
    jamannya. Padahal kalau mau jujur, lagu-lagu yang dimainkan band-
    band tersebut di atas bukanlah lagu karya mereka sendiri, melainkan milik
    band-band luar negeri macam Deep Purple, Jefferson Airplane, Black
    Sabbath, Genesis, Led Zeppelin, Kansas, Rolling Stones hingga ELP.
    Tradisi yang kontraproduktif ini kemudian mencatat sejarah
    hanya sedikit saja album rekaman yang terlahir dari band-band rock
    generasi 70-an ini.
    Dekade 80-an tercatat sebagai masa perkembangbiakan rock n' roll dan
    mulai bergeraknya subkultur ini ke arah industri. Tokoh sentral yang
    dominan mewarnai perkembangan musik rock di era 80-an tentu saja Log
    Zhelebour asal Surabaya. Mantan pengusaha rental lampu disko yang nekat
    mengkapitalisasi musik rock berkat dukungan perusahaan rokok ternama ini
    secara berkala sukses mengorganisir Festival Rock Se-
    Indonesia yang babak finalnya selalu digelar di kota pahlawan
    Surabaya. Gara-gara festival inilah media massa nasional kemudian
    mengklaim Surabaya sebagai barometer musik rock Indonesia. Ajang
    kompetisi band-band rock nasional yang digelar sejak 1984 ini di
    kemudian hari banyak melahirkan alumni-alumni rock kugiran yang
    namanya sempat mengharum di pentas nasional. Sebut saja misalnya El
    Pamas, Grass Rock (Malang), Power Metal (Surabaya), Adi Metal Rock
    (Solo), Val Halla (Medan) hingga Roxx (Jakarta). Selain itu Log
    jugalah yang membidani lahirnya label rekaman rock yang pertama di
    Indonesia, Logiss Records. Produk pertama label ini adalah album
    ketiga God Bless, "Semut Hitam" yang dirilis tahun 1988 dan ludes hingga
    400.000 kaset di seluruh Indonesia.
    Menjelang akhir era 80-an, di seluruh dunia waktu itu anak-anak muda
    sedang mengalami demam musik thrash metal. Sebuah perkembangan style
    musik metal yang lebih ekstrem lagi dibandingkan heavy metal. Band- band
    yang menjadi gods-nya antara lain Slayer, Metallica, Exodus, Megadeth,
    Kreator, Sodom, Anthrax hingga Sepultura. Kebanyakan kota- kota besar di
    Indonesia seperti Jakarta, Bandung, Jogjakarta,
    Surabaya, Malang hingga Bali, scene undergroundnya pertama kali
    lahir dari genre musik ekstrem tersebut. Di Jakarta sendiri
    komunitas metal pertama kali tampil di depan publik pada awal tahun 1988.
    Komunitas anak metal (saat itu istilah underground belum
    populer) ini biasa hang out di Pid Pub, sebuah pub kecil di kawasan
    pertokoan Pondok Indah, Jakarta Selatan. Menurut Krisna J. Sadrach,
    frontman Sucker Head, selain nongkrong, anak-anak yang hang out di sana
    oleh Tante Esther, owner Pid Pub, diberi kesempatan untuk bisa manggung
    di sana. Setiap malam minggu biasanya selalu ada live show dari band-band
    baru di Pid Pub dan kebanyakan band-band tersebut
    mengusung musik rock atau metal.
    Band-band yang sering hang out di scene Pid Pub ini antara lain Roxx
    (Metallica & Anthrax), Sucker Head (Kreator & Sepultura), Commotion Of
    Resources (Exodus), Painfull Death, Rotor (Kreator), Razzle
    (GN'R), Parau (DRI & MOD), Jenazah, Mortus hingga Alien Scream
    (Obituary). Beberapa band diatas pada perjalanan berikutnya banyak yang
    membelah diri menjadi band-band baru. Commotion Of Resources adalah cikal
    bakal band gothic metal Getah, sedangkan Parau adalah embrio band death
    metal lawas Alien Scream. Selain itu Oddie,
    vokalis Painfull Death selanjutnya membentuk grup industrial Sic
    Mynded di Amerika Serikat bersama Rudi Soedjarwo (sutradara Ada Apa
    Dengan Cinta?). Rotor sendiri dibentuk pada tahun 1992 setelah
    cabutnya gitaris Sucker Head, Irvan Sembiring yang merasa konsep
    musik Sucker Head saat itu masih kurang ekstrem baginya.
    Semangat yang dibawa para pendahulu ini memang masih berkutat pola
    tradisi `sekolah lama', bangga menjadi band cover version! Di antara
    mereka semua, hanya Roxx yang beruntung bisa rekaman untuk single pertama
    mereka, "Rock Bergema". Ini terjadi karena mereka adalah
    salah satu finalis Festival Rock Se-Indonesia ke-V. Mendapat kontrak
    rekaman dari label adalah obsesi yang terlalu muluk saat itu.
    Jangankan rekaman, demo rekaman bisa diputar di radio saja mereka sudah
    bahagia. Saat itu stasiun radio yang rutin mengudarakan musik- musik
    rock/metal adalah Radio Bahama, Radio Metro Jaya dan Radio SK. Dari
    beberapa radio tersebut mungkin yang paling legendaris adalah Radio
    Mustang. Mereka punya program bernama Rock N' Rhythm yang
    mengudara setiap Rabu malam dari pukul 19.00 – 21.00 WIB. Stasiun radio
    ini bahkan sempat disatroni langsung oleh dedengkot thrash
    metal Brasil, Sepultura, kala mereka datang ke Jakarta bulan Juni 1992.
    Selain medium radio, media massa yang kerap mengulas berita- berita
    rock/metal pada waktu itu hanya Majalah HAI, Tabloid Citra Musik dan
    Majalah Vista.
    Selain hang out di Pid Pub tiap akhir pekan, anak-anak metal ini
    sehari-harinya nongkrong di pelataran Apotik Retna yang terletak di
    daerah Cilandak, Jakarta Selatan. Beberapa selebritis muda yang dulu
    sempat nongkrong bareng (groupies?) anak-anak metal ini antara lain Ayu
    Azhari, Cornelia Agatha, Sophia Latjuba, Karina Suwandi hingga
    Krisdayanti. Aktris Ayu Azhari sendiri bahkan sempat dipersunting sebagai
    istri oleh (alm) Jodhie Gondokusumo yang merupakan vokalis Getah dan juga
    mantan vokalis Rotor.
    Tak seberapa jauh dari Apotik Retna, lokasi lain yang sering
    dijadikan lokasi rehearsal adalah Studio One Feel yang merupakan
    studio latihan paling legendaris dan bisa dibilang hampir semua band- band
    rock/metal lawas ibukota pernah rutin berlatih di sini.
    Selain Pid Pub, venue alternatif tempat band-band rock underground
    manggung pada masa itu adalah Black Hole dan restoran Manari Open Air di
    Museum Satria Mandala (cikal bakal Poster Café). Diluar itu, pentas seni
    SMA dan acara musik kampus sering kali pula
    di "infiltrasi" oleh band-band metal tersebut. Beberapa pensi yang
    historikal di antaranya adalah Pamsos (SMA 6 Bulungan), PL Fair (SMA
    Pangudi Luhur), Kresikars (SMA 82), acara musik kampus Universitas
    Nasional (Pejaten), Universitas Gunadarma, Universitas Indonesia
    (Depok), Unika Atmajaya Jakarta, Institut Teknologi Indonesia
    (Serpong) hingga Universitas Jayabaya (Pulomas).
    Berkonsernya dua supergrup metal internasional di Indonesia,
    Sepultura (1992) dan Metallica (1993) memberi kontribusi cukup besar bagi
    perkembangan band-band metal sejenis di Indonesia. Tak berapa lama
    setelah Sepultura sukses "membakar" Jakarta dan Surabaya, band speed
    metal Roxx merilis album debut self-titled mereka di bawah
    label Blackboard. Album kaset ini kelak menjadi salah satu album
    speed metal klasik Indonesia era 90-an. Hal yang sama dialami pula oleh
    Rotor. Sukses membuka konser fenomenal Metallica selama dua
    hari berturut-turut di Stadion Lebak Bulus, Rotor lantas merilis
    album thrash metal major labelnya yang pertama di Indonesia, Behind The
    8th Ball (AIRO). Bermodalkan rekomendasi dari manajer tur
    Metallica dan honor 30 juta rupiah hasil dua kali membuka konser
    Metallica, para personel Rotor (minus drummer Bakkar Bufthaim)
    lantas eksodus ke negeri Paman Sam untuk mengadu nasib. Sucker Head
    sendiri tercatat paling telat dalam merilis album debut dibanding band
    seangkatan mereka lainnya. Setelah dikontrak major label lokal, Aquarius
    Musikindo, baru di awal 1995 mereka merilis album `The Head Sucker'.
    Hingga kini Sucker Head tercatat sudah merilis empat buah album.
    Dari sedemikian panjangnya perjalanan rock underground di tanah air,
    mungkin baru di paruh pertama dekade 90-anlah mulai banyak terbentuk
    scene-scene underground dalam arti sebenarnya di Indonesia. Di
    Jakarta sendiri konsolidasi scene metal secara masif berpusat di
    Blok M sekitar awal 1995. Kala itu sebagian anak-anak metal sering
    terlihat nongkrong di lantai 6 game center Blok M Plaza dan di
    sebuah resto waralaba terkenal di sana. Aktifitas mereka selain hang out
    adalah bertukar informasi tentang band-band lokal dan
    internasional, barter CD, jual-beli t-shirt metal hingga
    merencanakan pengorganisiran konser. Sebagian lagi yang lainnya
    memilih hang out di basement Blok Mall yang kebetulan letaknya
    berada di bawah tanah.
    Pada era ini hype musik metal yang masif digandrungi adalah subgenre yang
    makin ekstrem yaitu death metal, brutal death metal, grindcore, black
    metal hingga gothic/doom metal. Beberapa band yang makin
    mengkilap namanya di era ini adalah Grausig, Trauma, Aaarghhh,
    Tengkorak, Delirium Tremens, Corporation of Bleeding, Adaptor,
    Betrayer, Sadistis, Godzilla dan sebagainya. Band grindcore
    Tengkorak pada tahun 1996 malah tercatat sebagai band yang pertama kali
    merilis mini album secara independen di Jakarta dengan
    judul `It's A Proud To Vomit Him'. Album ini direkam secara
    profesional di Studio Triple M, Jakarta dengan sound engineer Harry
    Widodo (sebelumnya pernah menangani album Roxx, Rotor, Koil, Puppen dan
    PAS).
    Tahun 1996 juga sempat mencatat kelahiran fanzine musik underground
    pertama di Jakarta, Brainwashed zine. Edisi pertama Brainwashed
    terbit 24 halaman dengan menampilkan cover Grausig dan profil band
    Trauma, Betrayer serta Delirium Tremens. Di ketik di komputer
    berbasis system operasi Windows 3.1 dan lay-out cut n' paste
    tradisional, Brainwashed kemudian diperbanyak 100 eksemplar dengan mesin
    foto kopi milik saudara penulis sendiri. Di edisi-edisi
    berikutnya Brainwashed mengulas pula band-band hardcore, punk bahkan ska.
    Setelah terbit fotokopian hingga empat edisi, di tahun 1997
    Brainwashed sempat dicetak ala majalah profesional dengan cover
    penuh warna. Hingga tahun 1999 Brainwashed hanya kuat terbit hingga tujuh
    edisi, sebelum akhirnya di tahun 2000 penulis menggagas format e-zine di
    internet (www.bisik.com). Media-media serupa yang
    selanjutnya lebih konsisten terbit di Jakarta antara lain Morbid
    Noise zine, Gerilya zine, Rottrevore zine, Cosmic zine dan
    sebagainya.
    29 September 1996 menandakan dimulainya sebuah era baru bagi
    perkembangan rock underground di Jakarta. Tepat pada hari itulah
    digelar acara musik indie untuk pertama kalinya di Poster Café.
    Acara bernama "Underground Session" ini digelar tiap dua minggu
    sekali pada malam hari kerja. Café legendaris yang dimiliki rocker gaek
    Ahmad Albar ini banyak melahirkan dan membesarkan scene musik indie baru
    yang memainkan genre musik berbeda dan lebih variatif. Lahirnya scene
    Brit/indie pop, ledakan musik ska yang fenomenal era 1997 – 2000 sampai
    tawuran massal bersejarah antara sebagian kecil massa Jakarta dengan
    Bandung terjadi juga di tempat ini. Getah,
    Brain The Machine, Stepforward, Dead Pits, Bloody Gore, Straight
    Answer, Frontside, RU Sucks, Fudge, Jun Fan Gung Foo, Be Quiet,
    Bandempo, Kindergarten, RGB, Burning Inside, Sixtols, Looserz, HIV,
    Planet Bumi, Rumahsakit, Fable, Jepit Rambut, Naif, Toilet Sounds, Agus
    Sasongko & FSOP adalah sebagian kecil band-band yang `kenyang' manggung
    di sana.
    10 Maret 1999 adalah hari kematian scene Poster Café untuk selama-
    lamanya. Pada hari itu untuk terakhir kalinya diadakan acara musik di
    sana (Subnormal Revolution) yang berujung kerusuhan besar antara massa
    punk dengan warga sekitar hingga berdampak hancurnya beberapa mobil dan
    unjuk giginya aparat kepolisian dalam membubarkan massa. Bubarnya Poster
    Café diluar dugaan malah banyak melahirkan venue-
    venue alternatif bagi masing-masing scene musik indie. Café Kupu-
    Kupu di Bulungan sering digunakan scene musik ska, Pondok Indah
    Waterpark, GM 2000 café dan Café Gueni di Cikini untuk scene
    Brit/indie pop, Parkit De Javu Club di Menteng untuk gigs
    punk/hardcore dan juga indie pop. Belakangan BB's Bar yang super-
    sempit di Menteng sering disewa untuk acara garage rock-new wave-
    mellow punk juga rock yang kini sedang hot, seperti The Upstairs,
    Seringai, The Brandals, C'mon Lennon, Killed By Butterfly, Sajama Cut,
    Devotion dan banyak lagi. Di antara semuanya, mungkin yang
    paling `netral' dan digunakan lintas-scene cuma Nirvana Café yang
    terletak di basement Hotel Maharadja, Jakarta Selatan. Di tempat ini
    pulalah, 13 Januari 2002 silam, Puppen `menghabisi riwayat' mereka dalam
    sebuah konser bersejarah yang berjudul, "Puppen : Last Show Ever", sebuah
    rentetan show akhir band Bandung ini sebelum
    membubarkan diri.
    Scene Punk/Hardcore/Brit/Indie Pop
    Invasi musik grunge/alternative dan dirilisnya album Kiss This dari Sex
    Pistols pada tahun 1992 ternyata cukup menjadi trigger yang
    ampuh dalam melahirkan band-band baru yang tidak memainkan musik
    metal. Misalnya saja band Pestol Aer dari komunitas Young Offender yang
    diawal kiprahnya sering meng-cover lagu-lagu Sex Pistols
    lengkap dengan dress-up punk dan haircut mohawknya. Uniknya, pada
    perjalanan selanjutnya, sekitar tahun 1994, Pestol Aer kemudian
    mengubah arah musik mereka menjadi band yang mengusung genre
    british/indie pop ala The Stone Roses. Konon, peristiwa historik ini
    kemudian menjadi momen yang cukup signifikan bagi perkembangan scene
    british/indie pop di Jakarta. Sebelum bubar, di pertengahan 1997
    mereka sempat merilis album debut bertitel `…Jang Doeloe'. Generasi awal
    dari scene brit pop ini antara lain adalah band Rumahsakit,
    Wondergel, Planet Bumi, Orange, Jellyfish, Jepit Rambut, Room-V,
    Parklife hingga Death Goes To The Disco.
    Pestol Aer memang bukan band punk pertama, ibukota ini di tahun 1989
    sempat melahirkan band punk/hardcore pionir Antiseptic yang kerap
    memainkan nomor-nomor milik Black Flag, The Misfits, DRI sampai Sex
    Pistols. Lukman (Waiting Room/The Superglad) dan Robin (Sucker
    Head/Noxa) adalah alumnus band ini juga. Selain sering manggung di
    Jakarta, Antiseptic juga sempat manggung di rockfest legendaris
    Bandung, Hullabaloo II pada akhir 1994. Album debut Antiseptic
    sendiri yang bertitel `Finally' baru rilis delapan tahun kemudian (1997)
    secara D.I.Y. Ada juga band alternatif seperti Ocean yang
    memainkan musik ala Jane's Addiction dan lainnya, sayangnya mereka tidak
    sempat merilis rekaman.
    Selain itu, di awal 1990, Jakarta juga mencetak band punk rock The Idiots
    yang awalnya sering manggung meng-cover lagu-lagu The
    Exploited. Nggak jauh berbeda dengan Antiseptic, baru sembilan tahun
    kemudian The Idiots merilis album debut mereka yang bertitel `Living
    Comfort In Anarchy' via label indie Movement Records. Komunitas-
    komunitas punk/hardcore juga menjamur di Jakarta pada era 90-an
    tersebut. Selain komunitas Young Offender tadi, ada pula komunitas South
    Sex (SS) di kawasan Radio Dalam, Subnormal di Kelapa Gading, Semi-People
    di Duren Sawit, Brotherhood di Slipi, Locos di Blok M hingga SID Gank di
    Rawamangun.
    Sementara rilisan klasik dari scene punk/hardcore Jakarta adalah
    album kompilasi Walk Together, Rock Together (Locos Enterprise) yang
    rilis awal 1997 dan memuat singel antara lain dari band Youth
    Against Fascism, Anti Septic, Straight Answer, Dirty Edge dan
    sebagainya. Album kompilasi punk/hardcore klasik lainnya adalah
    Still One, Still Proud (Movement Records) yang berisikan singel dari Sexy
    Pig, The Idiots, Cryptical Death hingga Out Of Control.
    Bandung scene
    Di Bandung sekitar awal 1994 terdapat studio musik legendaris yang
    menjadi cikal bakal scene rock underground di sana. Namanya Studio
    Reverse yang terletak di daerah Sukasenang. Pembentukan studio ini
    digagas oleh Richard Mutter (saat itu drummer PAS) dan Helvi. Ketika
    semakin berkembang Reverse lantas melebarkan sayap bisnisnya dengan
    membuka distro (akronim dari distribution) yang menjual CD, kaset,
    poster, t-shirt, serta berbagai aksesoris import lainnya. Selain
    distro, Richard juga sempat membentuk label independen 40.1.24 yang
    rilisan pertamanya di tahun 1997 adalah kompilasi CD yang
    bertitel "Masaindahbangetsekalipisan." Band-band indie yang ikut
    serta di kompilasi ini antara lain adalah Burger Kill, Puppen, Papi,
    Rotten To The Core, Full of Hate dan Waiting Room, sebagai satu-
    satunya band asal Jakarta.
    Band-band yang sempat dibesarkan oleh komunitas Reverse ini antara lain
    PAS dan Puppen. PAS sendiri di tahun 1993 menorehkan sejarah sebagai band
    Indonesia yang pertama kali merilis album secara
    independen. Mini album mereka yang bertitel "Four Through The S.A.P"
    ludes terjual 5000 kaset dalam waktu yang cukup singkat. Mastermind yang
    melahirkan ide merilis album PAS secara independen tersebut
    adalah (alm) Samuel Marudut. Ia adalah Music Director Radio GMR,
    sebuah stasiun radio rock pertama di Indonesia yang kerap memutar
    demo-demo rekaman band-band rock amatir asal Bandung, Jakarta dan
    sekitarnya. Tragisnya, di awal 1995 Marudut ditemukan tewas tak
    bernyawa di kediaman Krisna Sucker Head di Jakarta. Yang
    mengejutkan, kematiannya ini, menurut Krisna, diiringi lagu The End dari
    album Best of The Doors yang diputarnya pada tape di kamar
    Krisna. Sementara itu Puppen yang dibentuk pada tahun 1992 adalah salah
    satu pionir hardcore lokal yang hingga akhir hayatnya di tahun 2002
    sempat merilis tiga album yaitu, Not A Pup E.P. (1995), MK II (1998) dan
    Puppen s/t (2000). Kemudian menyusul Pure Saturday dengan albumnya yang
    self-titled. Album ini kemudian dibantu promosinya
    oleh Majalah Hai. Kubik juga mengalami hal yang sama, dengan cara bonus
    kaset 3 lagu sebelum rilis albumnya.
    Agak ke timur, masih di Bandung juga, kita akan menemukan sebuah
    komunitas yang menjadi episentrum underground metal di sana,
    komunitas Ujung Berung. Dulunya di daerah ini sempat berdiri Studio
    Palapa yang banyak berjasa membesarkan band-band underground cadas macam
    Jasad, Forgotten, Sacrilegious, Sonic Torment, Morbus Corpse, Tympanic
    Membrane, Infamy, Burger Kill dan sebagainya. Di sinilah kemudian pada
    awal 1995 terbit fanzine musik pertama di Indonesia yang bernama
    Revograms Zine. Editornya Dinan, adalah vokalis band Sonic Torment yang
    memiliki single unik berjudul "Golok Berbicara". Revograms Zine tercatat
    sempat tiga kali terbit dan kesemua materi isinya membahas band-band
    metal/hardcore lokal maupun internasional.
    Kemudian taklama kemudian fanzine indie seperti Swirl, Tigabelas,
    Membakar Batas dan yang lainnya ikut meramaikan media indie. Ripple dan
    Trolley muncul sebagai majalah yang membahas kecenderungan
    subkultur Bandung dan jug lifestylenya. Trolley bangkrut tahun 2002,
    sementara Ripple berubah dari pocket magazine ke format majalah
    standar. Sementara fanzine yang umumnya fotokopian hingga kini masih
    terus eksis. Serunya di Bandung tak hanya musik ekstrim yang maju tapi
    juga scene indie popnya. Sejak Pure Saturday muncul, berbagai band indie
    pop atau alternatif, seperti Cherry Bombshell, Sieve,
    Nasi Putih hingga yang terkini seperti The Milo, Mocca, Homogenic. Begitu
    pula scene ska yang sebenarnya sudah ada jauh sebelum trend ska besar.
    Band seperti Noin Bullet dan Agent Skins sudah lama
    mengusung genre musik ini.
    Siapapun yang pernah menyaksikan konser rock underground di Bandung pasti
    takkan melupakan GOR Saparua yang terkenal hingga ke berbagai pelosok
    tanah air. Bagi band-band indie, venue ini laksana gedung keramat yang
    penuh daya magis. Band luar Bandung manapun kalau belum di `baptis' di
    sini belum afdhal rasanya. Artefak subkultur bawah tanah Bandung paling
    legendaris ini adalah saksi bisu digelarnya
    beberapa rock show fenomenal seperti Hullabaloo, Bandung Berisik
    hingga Bandung Underground. Jumlah penonton setiap acara-acara di atas
    tergolong spektakuler, antara 5000 – 7000 penonton! Tiket
    masuknya saja sampai diperjualbelikan dengan harga fantastis segala oleh
    para calo. Mungkin ini merupakan rekor tersendiri yang belum terpecahkan
    hingga saat ini di Indonesia untuk ukuran rock show
    underground.
    Sempat dijuluki sebagai barometer rock underground di Indonesia,
    Bandung memang merupakan kota yang menawarkan sejuta gagasan-gagasan
    cerdas bagi kemajuan scene nasional. Booming distro yang melanda
    seluruh Indonesia saat ini juga dipelopori oleh kota ini.
    Keberhasilan menjual album indie hingga puluhan ribu keping yang
    dialami band Mocca juga berawal dari kota ini. Bahkan Burger Kill, band
    hardcore Indonesia yang pertama kali teken kontrak dengan major label,
    Sony Music Indonesia, juga dibesarkan di kota ini. Belum lagi majalah
    Trolley (RIP) dan Ripple yang seakan menjadi reinkarnasi
    Aktuil di jaman sekarang, tetap loyal memberikan porsi terbesar
    liputannya bagi band-band indie lokal keren macam Koil, Kubik,
    Balcony, The Bahamas, Blind To See, Rocket Rockers, The Milo,
    Teenage Death Star, Komunal hingga The S.I.G.I.T. Coba cek webzine
    Bandung, Death Rock Star (www.deathrockstar****) untuk
    membuktikannya. Asli, kota yang satu ini memang nggak ada matinya!
    Scene Jogjakarta
    Kota pelajar adalah julukan formalnya, tapi siapa sangka kalau kota ini
    ternyata juga menjadi salah satu scene rock underground terkuat di
    Indonesia? Well, mari kita telusuri sedikit sejarahnya. Komunitas metal
    underground Jogjakarta salah satunya adalah Jogja
    Corpsegrinder. Komunitas ini sempat menerbitkan fanzine metal Human
    Waste, majalah Megaton dan menggelar acara metal legendaris di sana,
    Jogja Brebeg. Hingga kini acara tersebut sudah terselenggara sepuluh
    kali! Band-band metal underground lawas dari kota ini antara lain Death
    Vomit, Mortal Scream, Impurity, Brutal Corpse, Mystis,
    Ruction.
    Untuk scene punk/hardcore/industrial-nya yang bangkit sekitar awal 1997
    tersebutlah nama Sabotage, Something Wrong, Noise For Violence, Black
    Boots, DOM 65, Teknoshit hingga yang paling terkini, Endank Soekamti.
    Sedangkan untuk scene indie rock/pop, beberapa nama yang patut di
    highlight adalah Seek Six Sick, Bangkutaman, Strawberry's Pop sampai The
    Monophones. Selain itu, band ska paling keren yang pernah terlahir di
    Indonesia, Shaggy Dog, juga berasal dari kota
    ini. Shaggy Dog yang kini dikontrak EMI belakangan malah sedang
    asyik menggelar tur konser keliling Eropa selama 3 bulan! Kota gudeg ini
    tercatat juga pernah menggelar Parkinsound, sebuah festival
    musik elektronik yang pertama di Indonesia. Parkinsound #3 yang
    diselenggarakan tanggal 6 Juli 2001 silam di antaranya menampilkan Garden
    Of The Blind, Mock Me Not, Teknoshit, Fucktory, Melancholic Bitch hingga
    Mesin Jahat.
    Scene Surabaya
    Scene underground rock di Surabaya bermula dengan semakin tumbuh-
    berkembangnya band-band independen beraliran death metal/grindcore
    sekitar pertengahan tahun 1995. Sejarah terbentuknya berawal dari event
    Surabaya Expo (semacam Jakarta Fair di DKI - Red) dimana band- band
    underground metal seperti, Slowdeath, Torture, Dry, Venduzor, Bushido
    manggung di sebuah acara musik di event tersebut.
    Setelah event itu masing-masing band tersebut kemudian sepakat untuk
    mendirikan sebuah organisasi yang bernama Independen. Base camp dari
    organisasi yang tujuan dibentuknya sebagai wadah pemersatu serta
    sarana sosialisasi informasi antar musisi/band underground metal ini
    waktu itu dipusatkan di daerah Ngagel Mulyo atau tepatnya di studio milik
    band Retri Beauty (band death metal dengan semua personelnya cewek, kini
    RIP - Red). Anggota dari organisasi yang merupakan cikal bakal
    terbentuknya scene underground metal di Surabaya ini memang sengaja
    dibatasi hanya sekitar 7-10 band saja.
    Rencana pertama Independen waktu itu adalah menggelar konser
    underground rock di Taman Remaja, namun rencana ini ternyata gagal karena
    kesibukan melakukan konsolidasi di dalam scene. Setelah
    semakin jelas dan mulai berkembangnya scene underground metal di
    Surabaya pada akhir bulan Desember 1997 organisasi Independen resmi
    dibubarkan. Upaya ini dilakukan demi memperluas jaringan agar
    semakin tidak tersekat-sekat atau menjadi terkotak-kotak
    komunitasnya.
    Pada masa-masa terakhir sebelum bubarnya organisasi Independen,
    divisi record label mereka tercatat sempat merilis beberapa buah
    album milik band-band death metal/grindcore Surabaya. Misalnya debut
    album milik Slowdeath yang bertitel "From Mindless Enthusiasm to
    Sordid Self-Destruction" (September 96), debut album Dry
    berjudul "Under The Veil of Religion" (97), Brutal Torture "Carnal
    Abuse", Wafat "Cemetery of Celerage" hingga debut album milik Fear Inside
    yang bertitel "Mindestruction". Tahun-tahun berikutnya
    barulah underground metal di Surabaya dibanjiri oleh rilisan-rilisan
    album milik Growl, Thandus, Holy Terror, Kendath hingga Pejah.
    Sebagai ganti Independen kemudian dibentuklah Surabaya Underground
    Society (S.U.S) tepat di malam tahun baru 1997 di kampus Universitas 45,
    saat diselenggarakannya event AMUK I. Saat itu di Surabaya juga telah
    banyak bermunculan band-band baru dengan aliran musik black metal. Salah
    satu band death metal lama yaitu, Dry kemudian
    berpindah konsep musik seiring dengan derasnya pengaruh musik black metal
    di Surabaya kala itu.
    Hanya bertahan kurang lebih beberapa bulan saja, S.U.S di tahun yang sama
    dilanda perpecahan di dalamnya. Band-band yang beraliran black metal
    kemudian berpisah untuk membentuk sebuah wadah baru bernama ARMY OF
    DARKNESS yang memiliki basis lokasi di daerah Karang Rejo. Berbeda dengan
    black metal, band-band death metal selanjutnya
    memutuskan tidak ikut membentuk organisasi baru. Selanjutnya di
    bulan September 1997 digelar event AMUK II di IKIP Surabaya. Event ini
    kemudian mencatat sejarah sendiri sebagai event paling sukses di Surabaya
    kala itu. 25 band death metal dan black metal tampil sejak pagi hingga
    sore hari dan ditonton oleh kurang lebih 800 – 1000
    orang. Arwah, band black metal asal Bekasi juga turut tampil di even
    tersebut sebagai band undangan.
    Scene ekstrem metal di Surabaya pada masa itu lebih banyak
    didominasi oleh band-band black metal dibandingkan band death
    metal/grindcore. Mereka juga lebih intens dalam menggelar event-
    event musik black metal karena banyaknya jumlah band black metal
    yang muncul. Tercatat kemudian event black metal yang sukses digelar di
    Surabaya seperti ARMY OF DARKNESS I dan II.
    Tepat tanggal 1 Juni 1997 dibentuklah komunitas underground INFERNO 178
    yang markasnya terletak di daerah Dharma Husada (Jl. Prof. DR. Moestopo,
    Red). Di tempat yang agak mirip dengan rumah-toko (Ruko) ini tercatat ada
    beberapa divisi usaha yaitu, distro, studio musik, indie label, fanzine,
    warnet dan event organizer untuk acara-acara underground di Surabaya.
    Event-event yang pernah di gelar oleh
    INFERNO 178 antara lain adalah, STOP THE MADNESS, TEGANGAN TINGGI I & II
    hingga BLUEKHUTUQ LIVE.
    Band-band underground rock yang kini bernaung di bawah bendera
    INFERNO 178 antara lain, Slowdeath, The Sinners, Severe Carnage,
    System Sucks, Freecell, Bluekuthuq dan sebagainya. Fanzine metal
    asal komunitas INFERNO 178, Surabaya bernama POST MANGLED pertama kali
    terbit kala itu di event TEGANGAN TINGGI I di kampus Unair
    dengan tampilnya band-band punk rock dan metal. Acara ini tergolong
    kurang sukses karena pada waktu yang bersamaan juga digelar sebuah event
    black metal. Sayangnya, hal ini juga diikuti dengan mandegnya proses
    penggarapan POST MANGLED Zine yang tidak kunjung mengeluarkan edisinya
    yang terbaru hingga kini.
    Maka, untuk mengantisipasi terjadinya stagnansi atau kesenjangan
    informasi di dalam scene, lahirlah kemudian GARIS KERAS Newsletter yang
    terbit pertama kali bulan Februari 1999. Newsletter dengan
    format fotokopian yang memiliki jumlah 4 halaman itu banyak mengulas
    berbagai aktivitas musik underground metal, punk hingga HC tak hanya di
    Surabaya saja tetapi lebih luas lagi. Respon positif pun menurut mereka
    lebih banyak datang justeru dari luar kota Surabaya itu
    sendiri. Entah mengapa, menurut mereka publik underground rock di
    Surabaya kurang apresiatif dan minim dukungannya terhadap publikasi
    independen macam fanzine atau newsletter tersebut. Hingga akhir
    hayatnya GARIS KERAS Newsletter telah menerbitkan edisinya hingga ke- 12.
    Divisi indie label dari INFERNO 178 paling tidak hingga sekitar 10
    rilisan album masih tetap menggunakan nama Independen sebagai nama label
    mereka. Baru memasuki tahun 2000 yang lalu label INFERNO 178 Productions
    resmi memproduksi album band punk tertua di Surabaya, The Sinners yang
    berjudul "Ajang Kebencian". Selanjutnya label
    INFERNO 178 ini akan lebih berkonsentrasi untuk merilis produk-
    produk berkategori non-metal. Sedangkan untuk label khusus death
    metal/brutal death/grindcore dibentuklah kemudian Bloody Pigs
    Records oleh Samir (kini gitaris TENGKORAK) dengan album kedua
    Slowdeath yang bertitel "Propaganda" sebagai proyek pertamanya yang
    dibarengi pula dengan menggelar konser promo tunggal Slowdeath di Café
    Flower sekitar bulan September 2000 lalu yang dihadiri oleh 150- an
    penonton. Album ini sempat mencatat sold out walau masih dalam jumlah
    terbatas saja. Ludes 200 keping tanpa sisa.
    Scene Malang
    Kota berhawa dingin yang ditempuh sekitar tiga jam perjalanan dari
    Surabaya ini ternyata memiliki scene rock underground yang "panas" sejak
    awal dekade 90-an. Tersebutlah nama Total Suffer Community
    (T.S.C) yang menjadi motor penggerak bagi kebangkitan komunitas rock
    underground di Malang sejak awal 1995. Anggota komunitas ini terdiri dari
    berbagai macam musisi lintas-scene, namun dominasinya tetap
    saja anak-anak metal. Konser rock underground yang pertama kali
    digelar di kota Malang diorganisir pula oleh komunitas ini. Acara
    bertajuk Parade Musik Underground tersebut digelar di Gedung Sasana Asih
    YPAC pada tanggal 28 Juli 1996 dengan menampilkan band-band
    lokal Malang seperti Bangkai (grindcore), Ritual Orchestra (black metal),
    Sekarat (death metal), Knuckle Head (punk/hc), Grindpeace (industrial
    death metal), No Man's Land (punk), The Babies (punk) dan juga band-band
    asal Surabaya, Slowdeath (grindcore) serta The Sinners (punk).
    Beberapa band Malang lainnya yang patut di beri kredit antara lain
    Keramat, Perish, Genital Giblets, Santhet dan tentunya Rotten
    Corpse. Band yang terakhir disebut malah menjadi pelopor style
    brutal death metal di Indonesia. Album debut mereka yang
    bertitel "Maggot Sickness" saat itu menggemparkan scene metal di
    Jakarta, Bandung, Jogjakarta dan Bali karena komposisinya yang solid dan
    kualitas rekamannya yang top notch. Belakangan band ini pecah menjadi dua
    dan salah satu gitaris sekaligus pendirinya, Adyth,
    hijrah ke Bandung dan membentuk Disinfected. Di kota inilah lahir untuk
    kedua kalinya fanzine musik di Indonesia. Namanya Mindblast zine yang
    diterbitkan oleh dua orang scenester, Afril dan Samack
    pada akhir 1995. Afril sendiri merupakan eks-vokalis band Grindpeace yang
    kini eksis di band crust-grind gawat, Extreme Decay. Sementara indie
    label pionir yang hingga kini masih bertahan serta tetap
    produktif merilis album di Malang adalah Confused Records
    Scene Bali
    Berbicara scene underground di Bali kembali kita akan menemukan
    komunitas metal sebagai pelopornya. Penggerak awalnya adalah
    komunitas 1921 Bali Corpsegrinder di Denpasar. Ikut eksis di
    dalamnya antara lain, Dede Suhita, Putra Pande, Age Grindcorner dan Sabdo
    Moelyo. Dede adalah editor majalah metal Megaton yang terbit di
    Jogjakarta, Putra Pande adalah salah satu pionir webzine metal Indonesia
    Corpsegrinder (kini Anorexia Orgasm) sejak 1998, Age
    adalah pengusaha distro yang pertama di Bali dan Moel adalah
    gitaris/vokalis band death metal etnik, Eternal Madness yang aktif
    menggelar konser underground di sana. Nama 1921 sebenarnya diambil dari
    durasi siaran program musik metal mingguan di Radio Cassanova, Bali yang
    berlangsung dari pukul 19.00 hingga 21.00 WITA.
    Awal 1996 komunitas ini pecah dan masing-masing individunya jalan
    sendiri-sendiri. Moel bersama EM Enterprise pada tanggal 20 Oktober 1996
    menggelar konser underground besar pertama di Bali bernama
    Total Uyut di GOR Ngurah Rai, Denpasar. Band-band Bali yang tampil di
    antaranya Eternal Madness, Superman Is Dead, Pokoke, Lithium,
    Triple Punk, Phobia, Asmodius hingga Death Chorus. Sementara band- band
    luar Balinya adalah Grausig, Betrayer (Jakarta), Jasad, Dajjal,
    Sacrilegious, Total Riot (Bandung) dan Death Vomit (Jogjakarta).
    Konser ini sukses menyedot sekitar 2000 orang penonton dan hingga
    sekarang menjadi festival rock underground tahunan di sana. Salah satu
    alumni Total Uyut yang sekarang sukses besar ke seantero
    nusantara adalah band punk asal Kuta, Superman Is Dead. Mereka malah
    menjadi band punk pertama di Indonesia yang dikontrak 6 album oleh Sony
    Music Indonesia. Band-band indie Bali masa kini yang stand out di
    antaranya adalah Navicula, Postmen, The Brews, Telephone, Blod Shot Eyes
    dan tentu saja Eternal Madness yang tengah bersiap merilis album ke tiga
    mereka dalam waktu dekat.
    Memasuki era 2000-an scene indie Bali semakin menggeliat. Kesuksesan
    S.I.D memberi inspirasi bagi band-band Bali lainnya untuk berusaha lebih
    keras lagi, toh S.I.D secara konkret sudah membuktikan kalau band `putera
    daerah' pun sanggup menaklukan kejamnya industri musik ibukota. Untuk
    mendukung band-band Bali, drummer S.I.D, Jerinx dan beberapa kawannya
    kemudian membuka The Maximmum Rock N' Roll
    Monarchy (The Max), sebuah pub musik yang berada di jalan Poppies, Kuta.
    Seringkali diadakan acara rock reguler di tempat ini.
    Indie Indonesia Era 2000-an
    Bagaimana pergerakan scene musik independen Indonesia era 2000-an?
    Kehadiran teknologi internet dan e-mail jelas memberikan kontribusi besar
    bagi perkembangan scene ini. Akses informasi dan komunikasi yang terbuka
    lebar membuat jaringan (networking) antar komunitas ini semakin luas di
    Indonesia. Band-band dan komunitas-komunitas baru banyak bermunculan
    dengan menawarkan style musik yang lebih beragam. Trend indie label
    berlomba-lomba merilis album band-band lokal juga menggembirakan, minimal
    ini adalah upaya pendokumentasian sejarah yang berguna puluhan tahun ke
    depan.
    Yang menarik sekarang adalah dominasi penggunaan idiom `indie' dan bukan
    underground untuk mendefinisikan sebuah scene musik non-
    mainstream lokal. Sempat terjadi polemik dan perdebatan klasik
    mengenai istilah `indie atau underground' ini di tanah air. Sebagian
    orang memandang istilah `underground' semakin bias karena
    kenyataannya kian hari semakin banyak band-band underground
    yang `sell-out', entah itu dikontrak major label, mengubah style
    musik demi kepentingan bisnis atau laris manis menjual album hingga
    puluhan ribu keping. Sementara sebagian lagi lebih senang
    menggunakan idiom indie karena lebih `elastis' dan misalnya, lebih
    friendly bagi band-band yang memang tidak memainkan style musik
    ekstrem. Walaupun terkesan lebih kompromis, istilah indie ini
    belakangan juga semakin sering digunakan oleh media massa nasional, jauh
    meninggalkan istilah ortodoks `underground' itu tadi.
    Ditengah serunya perdebatan indie/underground, major label atau
    indie label, ratusan band baru terlahir, puluhan indie label ramai- ramai
    merilis album, ribuan distro/clothing shop dibuka di seluruh Indonesia.
    Infrastruktur scene musik non-mainstream ini pun kian
    established dari hari ke hari. Mereka seakan tidak peduli lagi
    dengan polarisasi indie-major label yang makin tidak substansial. Bermain
    musik sebebas mungkin sembari bersenang-senang lebih
    menjadi `panglima' sekarang ini. …And history is still in the making here…..
    20 Album Rock Revolusioner di Indonesia1.
    1. ROXX – Roxx
    2. ROTOR – Behind The 8th Ball
    3. PAS – Four Through The S.A.P
    4. SUCKER HEAD – The Head Sucker
    5. PUPPEN – Not A Pup E.P.
    6. PURE SATURDAY – Pure Saturday
    7. JASAD – C'est La Vie
    8. ROTTEN CORPSE – Maggot Sickness
    9. TENGKORAK – It's A Proud To Vomit Him
    10. MASAINDAHBANGETSEKALIPISAN – v/a
    11. WAITING ROOM – Waiting Room
    12. WALK TOGETHER, ROCK TOGETHER – v/a hc
    13. PESTOL AER - …Jang Doeloe
    14. RUMAHSAKIT – Nol Derajat
    15. BETRAYER – Grand Voice Society
    16. GRAUSIG – Abandon, Forgotten and Rotting Alone
    17. ETERNAL MADNESS – Bongkar Batas
    18. KOIL – Megaloblast
    19. STEPFORWARD – Stories of Undying Hope
    20. JKT : SKRG – v/a

  2. The Following User Says Thank You to leda For This Useful Post:

    Tole Manado (27 November 2012)

  3. #2
    Semprot Addict
    UG - FR

    Daftar
    Apr 2011
    Lokasi
    UG Manado
    Posts
    494
    Thanks
    152
    Thanked 252 Times in 18 Posts
    Masih ada 1 lagi bro...
    THE TIELMAN BROTHERS
    asal Kupang-Indonesia
    Grup Band Rock n Roll taon 50-70an..

    info selengkapnya silahkan tanya mbah google

  4. #3
    Semprot Kecil
    Daftar
    Oct 2012
    Posts
    57
    Thanks
    0
    Thanked 42 Times in 2 Posts
     THREAD STARTER 
    Quote Originally Posted by Tole Manado View Post
    Masih ada 1 lagi bro...
    THE TIELMAN BROTHERS
    asal Kupang-Indonesia
    Grup Band Rock n Roll taon 50-70an..

    info selengkapnya silahkan tanya mbah google
    thanks infonya gan
    tapi kayaknya tielman brothers ni tidak termasuk musik bawah tanah indo deh gan,
    soaknya dia eksisnya di negri kincir angin nun jauh disono gan.
    thanks gan dah mampir di trit ane

  5. #4
    Calon Pertapa Semprot elmoscreamooo's Avatar
    Daftar
    Aug 2012
    Lokasi
    between life and death
    Posts
    3.790
    Thanks
    1
    Thanked 20 Times in 5 Posts
    ujungberung rebel ..
    tempat ane berasal ..
    nice inpoh gan

    ( padahal udah pernah baca sih )

  6. #5
    Semprot Kecil
    Daftar
    Oct 2012
    Posts
    57
    Thanks
    0
    Thanked 42 Times in 2 Posts
     THREAD STARTER 
    Quote Originally Posted by elmoscreamooo View Post
    ujungberung rebel ..
    tempat ane berasal ..
    nice inpoh gan

    ( padahal udah pernah baca sih )
    wah suhu elmo
    Thankz dah mampir suhu

  7. #6
    Pertapa Semprot
    UG - FR
    Ekokill's Avatar
    Daftar
    Jan 2011
    Lokasi
    Sidoarjo
    Posts
    5.239
    Thanks
    5.569
    Thanked 197 Times in 10 Posts
    Wahhh ane demen ROTOR yang Kapal Tanpa Dermaga

  8. #7
    Guru Semprot
    UG - FR
    boerdeaux's Avatar
    Daftar
    Mar 2011
    Lokasi
    joglosemar
    Posts
    974
    Thanks
    622
    Thanked 219 Times in 21 Posts

    Mungkin betrayerlah yang memotivasi ane sampe sekarang, dari awal lagu bendera kuning ane belajar musik spt ini hingga semua lagunya ane coba sama band ane.

  9. #8
    Semprot Kecil
    Daftar
    Oct 2012
    Posts
    57
    Thanks
    0
    Thanked 42 Times in 2 Posts
     THREAD STARTER 
    Quote Originally Posted by Apriyan View Post
    Wahhh ane demen ROTOR yang Kapal Tanpa Dermaga
    thanks gan uda mampir ke trit nubi

  10. #9
    Semprot Kecil
    Daftar
    Oct 2012
    Posts
    57
    Thanks
    0
    Thanked 42 Times in 2 Posts
     THREAD STARTER 
    Quote Originally Posted by red_evo View Post

    Mungkin betrayerlah yang memotivasi ane sampe sekarang, dari awal lagu bendera kuning ane belajar musik spt ini hingga semua lagunya ane coba sama band ane.
    lanjutkan.. n trus berkarya gan
    klo saya cuma pendengar setia saja gan

  11. #10
    Tukang Semprot
    UG - FR
    grawukmacan's Avatar
    Daftar
    Mar 2013
    Lokasi
    goa garba
    Posts
    1.410
    Thanks
    239
    Thanked 1.055 Times in 25 Posts
    Live Score

    Salut buat band - band "underground" jaman dahulu.Terlihat banget solidaritasnya.
    Sayang,sebagai metalhead kemarin sore,saya tidak punya lagu - lagu dari para legenda itu.

    Nice thread Kawan,
    And by the way,dulu band ecek - ecek saya pernah ikutan di event Jogja brebeg # 20.

    Ya walopun tidak ada yang moshing,tapi tetap menjadikan hal itu sebagai memori indah.

    Salam metal
    Last edited by grawukmacan; 13 December 2013 at 09:19 PM.

Bookmarks

Posting Permissions

  • You may not post new threads
  • You may not post replies
  • You may not post attachments
  • You may not edit your posts
  •  
Agen Bola Online
Jav Toys  Pusat Toys
Agen Bola Online  Agen Bola Online
Agen Bola Online  Agen Bola Online
Agen Bola Online