Anak Lurah
VivaWin
Agen bola
Judi Bola Online
agen bola  Judi Bola Online
agen bola  agen bola
agen bola agen bola
agen bola terpercaya
agen bola terpercaya
Agen Bola Agen Bola
Agen Bola Online
Agen Bola Online  Agen Bola Online
Agen Bola Online  Agen Bola Online
Agen Bola Online  Agen Bola Online
Poker Online Dengan Jackpot Terbesar dan Pertama di Indonesia  Agen Bola Online
Agen Bola Online

Baca Juga

  1. Anak Mantan Ibu Kost
    By revgo in forum Daun Muda
    Balasan: 42
    Post Terakhir: 29 August 2014, 08:45 PM
  2. Andini: Anak Pak Lurah!
    By kimpetpink in forum Daun Muda
    Balasan: 7
    Post Terakhir: 21 November 2013, 07:00 AM
  3. Andini: Anak Pak Lurah!
    By kimpetpink in forum Cerita Panas
    Balasan: 13
    Post Terakhir: 21 April 2013, 06:56 AM
  4. [JADUL] Kembang desa anak Pak Lurah
    By Mbah Karyan in forum Gambar Cewek Indonesia IGO
    Balasan: 62
    Post Terakhir: 30 August 2011, 08:13 PM
Halaman 1 dari 5 123 ... TerakhirTerakhir
Results 1 to 20 of 91

Thread: Anak Lurah

Short link : (test)
Share di Facebook
  1. #1
    Adik Semprot Pemanah Rajawali's Avatar
    Daftar
    Jan 2012
    Lokasi
    Jianghui / Kangouw
    Posts
    107
    Thanks
    1
    Thanked 109 Times in 11 Posts
     THREAD STARTER 

    Anak Lurah

    Agen Bola Online
    Pertama-tama saya minta maap karena baru sekarang dapat posting cerita anak lurah secara keseluruhan. karena sesuatu dan lain hal saya tidak dapat login ke situs ini dan melakukan posting. untuk alasan yang sangat pribadi.

    cerita ini akan saya posting sekaligus dalam satu thread. bukan bersambung, karena saya akan posting sampai habis. hanya saja, akan terpotong2 karena keterbatasan 5000 character dalam satu kali posting.

    bila ada yang membaca ketika saya sedang upload, mohon untuk ditahan dulu komennya sampai keseluruhan cerita telah selesai diupload.

    Terimakasih, dan mohon maaf sebesar-besarnya atas keterlambatan ini.
    Mau lihat cerita lain, silahkan lanjut ke:
    Indeks Cerita Pemanah Rajawali

  2. The Following 5 Users Say Thank You to Pemanah Rajawali For This Useful Post:

    Chaleabo (3 March 2013), interizzta (28 February 2013), Kadek2011 (13 April 2013), Sayu Canoe (24 February 2013), uhuy98 (23 February 2013)

  3. #2
    Adik Semprot Pemanah Rajawali's Avatar
    Daftar
    Jan 2012
    Lokasi
    Jianghui / Kangouw
    Posts
    107
    Thanks
    1
    Thanked 109 Times in 11 Posts
     THREAD STARTER 

    Bab I dan II

    PENDAHULUAN

    Harun adalah anak tunggal. Keluarga Harun adalah keluarga yang kaya untuk ukuran kampung. Keluarga mereka mempunyai berhektar-hektar tanah, puluhan sapi, ratusan kambing dan ayam. Hanya 2 keluarga di desa itu yang memiliki truk dan mobil pick up, itulah keluarga Harun dan keluarga Pak Haji Amir. Namun keluarga Harun masih lebih kaya dari pada keluarga Pak Haji Amir. Inilah alasan mengapa Bapaknya Harun yang bernama Seto adalah lurah di desanya. Juga karena itulah Ibunya, Asih, yang dulu bekas kembang desa mau menikah dengan Bapaknya Harun, sedangkan Bapaknya Harun adalah lelaki pendek gemuk dan wajahnya tidaklah ganteng.

    Dikarenakan keluarga Harun adalah keluarga yang kaya, maka sedari kecil Harun mendapatkan segala macam fasilitas yang tidak dimiliki orang lain di kampung, seperti video player VHS. Bahkan keluarga Pak Haji hanya memiliki video player Betamax yang gambarnya tak sebagus VHS. Suatu kali setelah pulang bertamasya dari Jakarta, Bapaknya Harun membeli video bokep. Berhubung Harun anak kreatif dan nakal, maka suatu ketika didapatkannya video itu di lemari penyimpanan uang Bapaknya. Biasanya Harun suka mengambil uang dari situ sedikit-sedikit, namun kali ini ia tertarik dengan video itu. Maka, jadilah Harun dewasa sebelum waktunya ketika menonton film biru itu.
    Harun adalah anak yang banyak ingin tahunya. Lama-kelamaan, hanya menonton video saja tidak cukup, maka ia memberanikan diri mengintip kamar orangtuanya ketika malam tiba. Harun masih ingat ketika pertama kali melihat siaran langsung persetubuhan orangtuanya. Kedua orang tuanya tidak memakai baju sehelaipun. Bapaknya yang pendek itu sedang menindih ibunya yang langsing dan lebih tinggi. Kedua tubuh mereka berkeringat.

    Bapaknya memeluk erat ibunya sehingga tubuh ibunya tidak terlihat dengan jelas. Kepala Bapaknya rapat sekali menempel di dada ibunya. Tampaknya Bapaknya Harun sedang nenen. Pantat Bapaknya bergerak naik turun, kontol Bapaknya yang tidak terlalu besar tampak menumbuki liang senggama ibunya.

    “Tempikmu legit tenan, Jeng…. Wuenak, Jeung……. Kamu enak tidak, Jeung?”

    “Ya enak tho, Pak…. Teruskan saja….. enak, pak…..”

    Harun dapat mendengar suara mereka dari tempatnya mengintip. Bapaknya terdengar sangat antusias dan penuh nafsu. Namun, suara ibunya hampir terasa datar di telinga Harun. Jauh sekali dari apa yang ditontonnya di video. Di video bokep yang ditontonnya, suara wanita yang disenggamai jauh lebih bernafsu, jauh lebih manja dan jauh lebih antusias. Namun, Harun berfikir bahwa mungkin saja memang watak ibunya begitu. Toh, selama ini memang ibunya terkesan pendiam dan tidak banyak tingkah. Anggun, kata orang-orang mengenai ibunya itu.

    Tak lama Bapaknya mengejang dan menghentikkan hujamannya yang bertubi-tubi, pantatnya ditekan keras kebawah. Bapaknya Harun melenguh. Akhirnya setelah itu Bapaknya membalikkan badannya untuk rebah di samping isterinya.

    Kali ini Harun dapat melihat tubuh ibunya. Ibunya yang langsing itu memiliki payudara yang bulat dan mancung. Bulatannya hampir sebesar buah lontar, dengan puting susu berdiameter sebesar tutup spidol kecil dan panjangnya tiga perempat tutup spidol kecil itu. Kedua payudara itu terletak dengan manisnya di atas tubuh ibunya yang ramping dan langsing. Walaupun tidak memiliki otot perut seperti bintang film bokep yang terlihat keras karena latihan sit-up, perut ibunya itu menunjukkan perut tanpa lemak yang dihiasi oleh pusar yang terlihat hanya sebagai lubang kecil gelap. Sementara, selangkangan ibunya dihiasi bulu-bulu keriting yang dicukur rapi berbentuk segitiga, menghiasi bibir kemaluan ibunya yang tampak sedikit saja merekah karena habis dientot. Sperma Bapak dapat dilihat mengalir perlahan keluar dari lubang memek ibunya itu.

    Saat itulah Harun mendapati dirinya terobsesi dengan tubuh ibunya. Harun ingin sekali dapat merasakan kenikmatan menggauli ibunya yang seksi itu. Semenjak saat itu, ibunya menjadi objek fantasi seksual Harun.

    BAB SATU

    HARUN MELIHAT ARJUNA BERAKSI

    Harun memiliki teman karib bernama Arjuna. Anak petani bernama Waluyo. Arjuna adalah salah satu murid pintar di kelasnya, yang karenanya menjadi alasan pertemanan mereka. Baik Harun maupun Arjuna adalah dua murid teratas di kelas mereka. Berhubung Arjuna hanya anak petani biasa dan tidak memiliki banyak akses ke buku-buku maupun tv dan lain-lain, maka Harun selalu menjadi ranking satu dan ranking duanya adalah Arjuna.

    Arjuna tiap hari berkunjung ke rumah Harun. Banyak sekali yang dapat mereka lakukan bersama. Mulai dari berbincang-bincang, berdebat, belajar bahkan juga untuk nonton video bokep di kamar Harun. Harun pulalah yang mengajarkan Arjuna untuk masturbasi. Dan menjadi kebiasaan mereka setelah itu adalah ngeloco sambil membayangkan ibu mereka masing-masing.

    Obsesi pada ibu kandung adalah obsesi mereka berdua. Ini menyebabkan pertemanan mereka semakin erat. Minat mereka kebanyakan sama. Mereka tidak lagi canggung membuka rahasia hati mereka kepada satu sama lain.

    Tapi akhir-akhir ini Arjuna jarang bermain ke rumah Harun. Harun menjadi penasaran. Apakah ini berarti Arjuna sudah tidak mau lagi bergaul dengannya? Apakah Arjuna sudah punya teman baru yang lebih baik? Harun telah menanyakan hal ini kepada Arjuna, namun Arjuna hanya menjawab bahwa kini ia membantu ibunya di rumah, karena kasihan ibunya capek.

    Sudah tiga bulan Arjuna tidak main ke rumah Harun. Maka, Harun memutuskan untuk melihat apakah benar Arjuna membantu ibunya, atau malah bermain dengan temannya yang lain. Maka setelah pulang sekolah dan sampai rumah, Harun bergegas ganti baju dan pergi ke rumah Arjuna.

    Rumah Arjuna sepi sekali. Pagar depannya ditutup. Namun, karena ini adalah desa yang damai maka pagar tidak pernah dikunci. Harun lalu memasuki pekarangan rumah Arjuna. Harun menimbang-nimbang apakah ia akan mengetuk pintu atau tidak. Pikir punya pikir, Harun memutuskan untuk mengendap-endap dan mengitari rumah Arjuna dan melihat situasi. Bila Arjuna tidak ada, toh pasti ada ibunya Arjuna yang cantik dan bohai itu. Bolehlah Harun mengintip sedikit.

    Dengan hati berdebar-debar Harun mengitari rumah. Ada jalan kecil dari pekarangan antara rumah dan pagar, bukan berupa jalan rata, tapi hanya rumput yang rapi dipotong. Di belakang rumah adalah tempat sumur pompa dan kamar mandi. Mungkin ibunya Arjuna sedang mencuci piring. Berhubung sering juga Harun bermain ke situ, maka ia tahu biasanya ibunya Arjuna memakai kain yang dilibat, kadang terlihat ia memakai kutang, kadang tidak, tapi pakai atau tidak, belahan dada ibunya Arjuna pasti terlihat.
    Terdengar suara Arjuna dan ibunya yang sedang berbicara sambil tertawa-tawa. Rupanya Arjuna tidak bohong, batin Harun. Apalagi terdengar dentingan suara barang pecah-belah. Tampaknya sedang ada yang cuci piring. Akhirnya, Harun sampai di ujung rumah yang untungnya memiliki pohon jambu yang rimbun dan dihiasi oleh batu kali dan semak yang membuat Harun tidak terlihat dan juga dari situ ia dapat melihat baik sisi kamar mandi maupun belakang rumah dan sumur pompa di tengah keduanya, dari situ ia melihat Arjuna dan ibunya sedang cuci piring sambil tertawa dan bercanda.

    Arjuna bertugas mencuci dengan sabut sementara ibunya bertugas membilas piring lalu menaruhnya di baskom besar yang kering.

    “Jangan buru-buru begitu dong, anakku….” Kata Dewi, ibu Arjuna yang membuat Harun heran, karena suara ibunya Arjuna itu terdengar bermanja-manja.
    “Ibu kayak enggak tahu aja. Udah ga sabar nih…”

    Sementara Arjuna mencuci piring terakhir cepat-cepat lalu memberikannya kepada ibunya. Ibunya tertawa genit sambil mencubit lengan Arjuna dan berkata,
    “Dasar lelaki….. “

    Harun menjadi bingung. Kok mesra amat si Arjuna dengan ibunya. Harun menjadi iri. Andaikan saja ibunya seperti ini, begitu dekat bagai teman sebaya. Pasti keadaan rumah menjadi lebih cerah dan Bahagia.
    Saat itu matahari masih terik menyinari bumi. Mereka cuci piring di depan kamar mandi. Cuaca hari itu panas sekali. Arjuna dan ibunya sudah mandi keringat, begitu pula Harun. Harun tiba-tiba saja horny melihat Dewi yang berbalut kain tanpa kutang itu menunjukkan kulit putih yang mengkilat karena air keringat. Bau tubuh ibunya Arjuna itu kayak apa, ya? Pasti wangi, pikir Harun.

    Ibunya Arjuna menaruh piring terakhir di baskom kering lalu berjalan menuju dipan di dekat situ persis menempel di tembok kayu dinding rumah, lalu duduk di dipan dengan bersandar di tembok kayu itu. Dipan itu agak panjang sehingga kalau untuk duduk dapatlah tiga atau empat orang duduk di sana.
    Arjuna mencuci tangannya lalu duduk di sebelah ibunya, kalau dari posisi Harun maka ibu Arjuna lebih dekat ke Harun, namun karena posisi Harun di belakang pohon dan batu itu ada di tengah-tengah, maka posisi Arjuna di sebelah kiri Harun, sekitar jam 10, kalau mau menggunakan istilah tentara. Ibunya Arjuna kemudian mengusap dahinya yang berkeringat dengan punggung tangan kirinnya sehingga memperlihatkan ketek putih yang berbulu halus. Tiba-tiba saja Harun kaget melihat Arjuna menyodorkan kepalanya dan menempelkan hidungnya ke ketek ibunya itu. Astaga! Apa-apaan ini?

    Harun menyangka ibunya Arjuna akan memarahi anak itu, namun yang mengherankan Harun, Dewi malah tersenyum saja dan membiarkan anaknya itu.

    “Harumnya ketek ibu…..”
    Arjuna menggunakan tangan kirinya melingkari perut ibunya dan memeluk perempuan itu. Dewi mendesah yang membuat Harun menelan ludahnya. Ada permainan gila di sini! Arjuna memang semprul! Tentu saja Arjuna tidak mau ke rumah Harun, di rumah Arjuna ada yang lebih seru, rupanya!
    Harun hanya dapat meneguk ludah berkali-kali ketika melihat Arjuna mulai beraksi. Arjuna mulai menjilati ketek ibunya dengan lahap. Dewi hanya mendesah-desah saja sambil terkadang tertawa kecil. Tiba-tiba tangan kiri Arjuna menarik kain ibunya dengan keras sehingga kain itu terjatuh. Ternyata Dewi telanjang bulat di balik kain itu!
    Tubuh semok Dewi yang putih kini menjadi pemandangan indah bagi Harun. Tubuh ibu Arjuna memang tak seramping ibu Harun, namun walaupun agak gemuk, namun gemuknya Dewi sungguh menawan hati. Kedua payudaranya yang besar walaupun sedikit turun tetap memberikan setrum syahwat ke kontol Harun. Harun terpaksa melorotkan celananya dan mulai mengusap-usap kontolnya sendiri.

    Sementara secara cepat kain Dewi telah dilempar Arjuna ke dipan di sampingnya sehingga kini Harun dapat melihat perut Dewi yang sedikit buncit dan juga selangkangan Dewi yang penuh jembut. Tangan kiri Arjuna mulai meremasi payudara kanan ibu kandungnya itu, sementara lidah Arjuna berkali-kali menyapu ketiak ibunya membasahi bulu ketek halus yang menjaga ketiak itu.

    Tak lama Arjuna berdiri lalu melepaskan celana pendeknya sehingga kini Arjuna pun bugil. Sementara itu Dewi merebahkan diri di dipan menunggu serangan lanjutan. Arjuna tak mau hilang tempo dan bergegas menindih ibunya tanpa memasukkan dulu kontolnya. Rupanya masih mau foreplay.

    Harun makin mempercepat tangannya yang sedang meloco zakarnya sendiri namun matanya tidak terpejam dan memelototi terus gerakan ibu dan anak itu.
    Arjuna menindih ibunya. Mereka berdua kini berpelukan dan mulai berciuman dengan hot. Tak dipercayainya ibunya Arjuna yang terlihat lugu dan pemalu selama ini menunjukkan cara berciuman yang sangat panas. Lidah Dewi dan anaknya beradu berkali-kali saling menjilat dan terkadang meminum ludah campuran mereka berdua. Campuran ludah itu semakin banyak karena mereka berciuman seperti hewan buas yang penuh nafsu liar. Ada juice ludah yang mengalir perlahan keluar dari pinggir mulut Dewi dan turun ke lehernya.

    Arjuna mengangkat kepalanya, mulutnya berkomat-kamit mengumpulkan ludah lalu perlahan dikeluarkannya ludahnya yang sudah banyak itu ke atas mulut ibunya yang kini sedang terbuka dengan lidah menjulur ke luar. Ludah Arjuna yang pekat perlahan menetes ke lidah ibunya yang terjulur. Harun dapat melihat busa dan cairan ludah Arjuna perlahan jatuh ke lidah ibunya. Setelah ludah di mulut Arjuna habis, Dewi menarik lidahnya lalu menelan ludah anaknya itu. Mereka berciuman lagi. Kali ini lebih hot.

    “Jun haus. Mau minum teh tawar.”

    Arjuna bangkit, ibunya bangkit pula. Ibunya dengan telanjang bulat masuk ke dalam rumah sementara Arjuna yang kontolnya telah tegang gantian tidur di dipan itu. Tak lama ibunya datang membawa teko teh dan gelas. Ia menuang teh itu ke dalam gelas. Lalu teko dan gelas itu di taruh di meja di samping dipan, di bagian atas kepala Arjuna.

    “ibu udah gosok gigi?”
    “Belum. Mandi juga belum.”
    “gitu baru istriku..”
    Harun tersentak kaget. Arjuna memanggil ibu kandungnya sebagai isteri? Hebat juga….

    Dewi bersimpuh di atas tubuh Arjuna. Sebelumnya, kontol Arjuna di tarik dulu ke atas sehingga sejajar dengan perut Arjuna. Dewi lalu duduk lalu menindih Arjuna. Kedua dada mereka menempel. Dewi mengambil gelas teh itu lalu meminumnya namun tidak ditelan. Dewi kumur-kumur cukup lama. Sambil memegang gelas, Dewi mengarahkan mulutnya ke mulut Arjuna.

    Arjuna membuka mulutnya. Perlahan Dewi memuntahkan teh itu kedalam mulut Arjuna hingga habis sementara Arjuna meminumnya dengan antusias. Proses itu terus diulang hingga akhirnya gelas itu habis. Selalu Dewi berkumur air teh sebelum menyuapinya ke anaknya.
    “lagi, anakku?”
    “lagi, ibuku yang melahirkanku….”
    Maka Dewi kembali menyuapi air teh dari mulutnya ke dalam mulut anaknya berkali-kali. Tehnya tampak panas karena ada uap yang keluar walau tidak tebal, menjadikan kedua insan itu kini bertambah gerah dan keringat mengucur begitu deras di kedua tubuh mereka yang telanjang. Kedua tangan Arjuna sepanjang proses minum ini mengelus punggung dan pantat ibunya dari atas ke bawah ke atas ke bawah lagi dan seterusnya.
    Akhirnya teh itu habis. Namun kini Dewi yang berusaha mengeluarkan ludah dari tenggorokannya dan akhirnya mulai mengalirkan ludahnya ke dalam mulut anaknya. Arjuna meminum ludah ibunya lalu mereka mulai berciuman lagi, kali ini ganas sekali . bibir mereka berpagutan liar, kepala mereka bergoyang ke kanan ke kiri berusaha mencapai tiap jengkal bibir lawan mereka. Lidah mereka saling menjilati dan memasuki rongga mulut satu sama lain. Ludah mereka kadang beruntai menyatu bagaikan kalung liur yang menyatukan lidah mereka. Mereka saling meludahi lidah dan menelan liur lawan mainnya. Bibir mereka sudah basah oleh cairan ludah masing-masing.

    Dewi tiba-tiba mengangkat tubuhnya sehingga duduk, mengarahkan kontol anaknya ke liang senggamanya sehingga kepala kontol Arjuna tepat di depan lubang kehormatannya, lalu secepat kilat menduduki kontol itu sehingga kontol besar Arjuna ambles ke dalam liang senggamanya.

    Mereka berciuman lagi, namun kali ini kedua pantat mereka bergoyang-goyang mengikuti irama persetubuhan terlarang. Harun melihat persetubuhan ini menjadi gelap mata dan mengocoki kontolnya dengan liar. Tubuh seksi ibu Arjuna yang putih, sekal dan basah oleh keringat itu sungguh idaman lelaki normal. Bunyi benturan selangkangan bagaikan music erotis yang sangat indah di kuping Harun. Samar-samar Harun mencium bau yang aneh. Rupanya ini bau memek ibunya Arjuna. Sungguh menggairahkan. Harun jadi penasaran bau tubuh ibunya sendiri bagaimana, ya?

    Dewi menyodorkan buah dadanya kepada anaknya. Arjuna secara lahap mengenyoti payudara kanan ibunya sementara tangan kirinya asyik meremasi payudara yang sebelah kiri. Dewi mulai berteriak-teriak karena nikmat persetubuhan. Suaranya begitu syahdu, bagaikan teriakan bintang bokep membuat Harun bertambah nafsu menyaksikannya. Kocokan Harun pada burungnya sekarang semakin seirama dengan gerakan Arjuna dan ibunya yang sedang menari tarian seksual itu.
    Kedua pantat ibu dan anak itu semakin cepat saling menumbuk dan menarik, hanyut dalam sensasi nikmat bersenggama. Mereka berdua terbuai nikmatnya rasa dua kelamin berlainan jenis yang bersatu dan bergesekkan. Perasaan nikmat itu terus menerus bertambah seiring semakin cepatnya kontol Arjuna menggosoki liang senggama milik ibunya, yang menyebabkan Harun juga menyesuaikan kecepatan kocokan kontolnya, seakan-akan Harunlah yang sedang bersetubuh dengan Dewi.

    Bau kelamin Dewi yang basah begitu kuatnya, apalagi Dewi belum mandi. Harun begitu mabuk akan bau ini sehingga ingin sekali ia nimbrung kegiatan tabu ibu dan anak itu, namun Harun merasa cukup hanya dengan meloco sambil mengintipi persenggamaan Harun dan ibunya. Sehingga ia berusaha menekan keinginannya itu dan melampiaskan pada kocokannya di kontolnya sendiri.

    Sementara itu, kedua selangkangan ibu dan anak itu sekarang berbenturan keras sekali sehingga bunyinya sangat jelas terdengar, kedua pantat ibu dan anak itu bergerak pada kecepatan penuh dan seirama. Sungguh indahnya persenggamaan ini sehingga membuat Harun sangat iri. Harun melihat kedua tubuh insan sedarah itu yang kini sudah penuh keringat, tampak mengkilat terkena cahaya matahari dan kedua tubuh itu bergerak seirama bagaikan dua penari yang sudah melatih tarian mereka berkali-kali dan sudah hafal dengan gerakan-gerakan yang harus dilakukan.

    Tiba-tiba saja Dewi melenguh dan melengkungkan punggungnya sambil berteriak, Arjuna pun berteriak tanda sudah mengalami orgasme. Keduanya tampak menekankan selangkangan mereka satu sama lain serentak dan penuh dengan tenaga. Akhirnya keduanya terkulai di dipan itu menyebabkan Harun akhirnya ejakulasi dan menyemproti batu di samping pohon besar itu dengan spermanya. Tak lama Arjuna dan ibunya masuk rumah dan Harun segera bergegas pergi setelah memakai celananya lagi.
    Mau lihat cerita lain, silahkan lanjut ke:
    Indeks Cerita Pemanah Rajawali

  4. #3
    Adik Semprot Pemanah Rajawali's Avatar
    Daftar
    Jan 2012
    Lokasi
    Jianghui / Kangouw
    Posts
    107
    Thanks
    1
    Thanked 109 Times in 11 Posts
     THREAD STARTER 
    BAB DUA

    HARUN MENCARI CARA

    Semenjak saat itu, Harun menjadi terobsesi dengan perhubungan terlarang sedarah. Harun memang sangat bernafsu melihat Arjuna dan ibunya, tetapi bukan berarti Harun ingin menyetubuhi ibunya Arjuna, melainkan ia ingin merasakan persetubuhan dengan ibunya sendiri. Bukankah sebenarnya ide ini adalah idenya sendiri? Arjuna pasti mendapatkan ide dari Harun ketika mereka bareng-bareng meloco di kamar Harun. Ternyata Arjuna yang terlebih dahulu mewujudkannya. Dasar anak bandel yang beruntung!
    Apalagi, di mata Harun, ibunya memiliki tubuh yang jauh lebih seksi dibanding ibunya Arjuna. Tubuh ibunya Harun lebih ramping. Tentu saja, buah dada ibunya Arjuna lebih besar, namun di mata Harun, Dewi ibu Arjuna itu, sedikit agak gemuk. Di lain pihak, ibu Harun memiliki badan bak model di majalah saja. Tentu saja ini karena ibunya Harun tiap hari senam. Di rumahnya, ibunya punya video senam dari luar negeri, sehingga memang latihan yang ibunya lakukan sesuai dengan teori dan ilmu kesehatan dari Amerika.
    Harun sempat berfikir untuk menanyakan kepada Arjuna mengenai cara untuk membuat ibu kandungnya mau untuk tidur dengannya. Namun, setelah difikir lebih jauh, ini berarti mengakui bahwa Harun pernah melihat Arjuna dan ibunya bersenggama. Selain itu, Harun juga merasa gengsi. Bukankah selama ini Harun lebih pintar dari Arjuna? Bukankah Harun yang selalu jadi juara satu di sekolah? Maka, bila Arjuna berhasil mendapatkan tubuh ibu kandung sendiri, tentunya Harun yang jauh lebih pintar mampu juga melakukannya. Selain itu, Harun merasa bahwa ia akan lebih puas untuk mencapai tujuannya dengan tanpa bantuan orang lain.
    Harun akhirnya memutuskan untuk menggali potensi dirinya sendiri. Nilai apakah yang ia punyai yang tidak dipunyai orang lain? Bahkan tidak dipunyai si Arjuna? Mengenai kecerdasan, Harun yakin dengan dirinya sendiri. Namun, ada lagi sesuatu yang hanya ia ketahui yang orang lain tidak tahu. Harun memiliki kemampuan untuk meyakinkan orang lain untuk melakukan sesuatu. Harun pernah membaca buku mengenai kemampuan ini, dan menurut buku itu, kemampuan Harun adalah kemampuan untuk mensugesti orang lain agar mengikuti keinginan Pribadi. Kemampuan ini, dapat dikembangkan menjadi hipnotis bahkan semacam cuci otak.
    Selama ini Harun dapat memperoleh apapun yang ia inginkan dari kedua orangtuanya. Kamarnya penuh barang elektronika, mulai dari video player, audio sound system, bahkan motorpun diberikan ayahnya kepadanya. Pada mulanya, Harun menganggap bahwa karena ia anak tunggal maka segala permintaannya dipenuhi oleh kedua orangtuanya. Namun, seiring waktu berjalan, Harun mengalami berbagai hal yang membuat ia yakin akan kemampuannya untuk membujuk orang lain.
    Harun adalah anak yang pintar. Anak yang pintar pastilah kreatif, dan anak kreatif pastilah bandel. Dan Harun adalah anak yang bandel sekali. Pernah satu kali ketika ia masih kelas empat SD, Harun dan Arjuna nyolong rambutan di tanahnya Pak Haji Amir. Pak Haji Amir dan ayah Harun bisa dibilang adalah saingan di desa mereka. Ada ketegangan di antara dua orang itu, dan Pak Haji tidak sungkan-sungkan memperlihatkan ketidak senangannya kepada ayah Harun. Nah, saat Harun dan Arjuna mencuri rambutan itu, Pak Haji Amir datang dan memergoki mereka. Pak Haji mengambil tongkat dan mengejar ke pohon rambutan itu. Arjuna yang memiliki fisik lebih baik dari Harun berhasil kabur sementara Harun tertangkap basah. Pak Haji saat itu ingin menghajar Harun, namun Harun yang menangis segera memohon Pak Haji agar tidak menghukumnya. Harun hanya ingat saat itu kepalanya serasa ringan dan tiba-tiba saja Pak Haji menyuruh Harun pulang.
    Pernah juga, ketika Harun masih kelas enam SD, ia dan Arjuna dan teman-temannya bermain ke desa tetangga. Mereka di sana ‘ngadu’ bola. Mereka menang. Namun pihak tuan rumah tidak terima dan mulai menyerang mereka. Harun merasa ketakutan, namun Ia merasakan lagi sensasi kepala yang serasa ringan, lalu entah dengan keberanian dari mana, ia pasang badan lalu berteriak dan minta semuanya tenang dan jangan berkelahi. Anehnya, semua orang yang tadinya sedang kalap jadi terdiam dan perkelahian pun terhindarkan.
    Ada lagi kejadian yang baru-baru ini. Harun suatu ketika belajar kelompok di rumah temannya yang bernama Adi di desa tetangga. Ayah Adi adalah Kepala Kodim yang bertubuh tinggi besar dan berpengaruh bukan saja di desanya sendiri, tetapi juga di desa sekelilingnya, berhubung jabatannya. Ayah Adi tinggi besar dan hitam, namun memiliki isteri yang cantik bernama Ibu Ambar. Harun, Adi dan teman-teman belajar kelompok hingga sore. Selesai belajar mereka sepakat bermain petak umpet. Maklum, anak satu SMP.
    Kebetulan Adi jaga, lalu Harun dan yang lain berpencar. Tidak terasa, Harun tiba di halaman belakang dan berjalan ke samping rumah. Di samping rumah ada pohon jambu besar. Harun mendapat ide untuk naik ke sana. Akhirnya Ia sampai di cabang yang besar yang menempel di dinding rumah. Ternyata cabang itu menempel di dinding yang sebelahnya ada jendela yang tidak berkaca. Otomatis Adi melihat jendela itu. Tak disangka, ternyata itu adalah jendela kamar mandi. Dan lebih tak disangka lagi, Ibunya Adi sedang mandi di dalam situ!
    Harun terkejut mulanya, namun akhirnya menyadari bahwa ia mendapatkan suguhan menarik dari dalam kamar mandi itu. Ibunya Adi adalah perempuan Jawa berkulit kuning langsat. Tubuhnya kecil imut setinggi 155 cm, dengan pinggul agak lebar namun dadanya begitu mancung dan kokoh dihiasi pentil dan areola kecoklatan. Jembutnya lebat namun dicukur rapi sehingga tidak berantakan. Badannya bersinar karena basah dan diterangi lampu neon kamar mandi. Serta merta Harun konak.
    Harun begitu menikmati ketelanjangan ibunya Adi sehingga tak disadarinya bahwa Pak Bambang sudah di bawah pohon. Ketika Pak Bambang menegur Harun setengah berteriak, Harun menjadi begitu kaget sehingga hampir jatuh. Ibunya Adi berseru kaget dari dalam kamar mandi, sementara Pak Bambang mulai marah-marah dan menyuruh Harun turun.
    Harun ketakutan dan gemetar, namun kepalanya serasa ringan lagi dan kali itu Harun mengetahui bahwa ia harus membujuk Pak Bambang agar tidak marah. Dengan terbata-bata Harun menenangkan Pak Bambang dan minta untuk melupakan kejadian ini. Beberapa saat kemudian Pak Bambang pergi begitu saja. Harun menoleh ke kamar mandi dan tampak Ibu Ambar sedang melilitkan handuknya sambil menatap jendela dengan sinar kemarahan.
    Harun yang kepalanya masih terasa ringan segera mendekati jendela dan berkata,
    “Bu Ambar mandi saja. Ga apa-apa kok. Anggap aja Harun ga ada.”
    Tiba-tiba saja tatapan Ibu Ambar seakan kosong sejenak. Kemudian perempuan itu membuka handuknya dan melanjutkan untuk mandi. Harun kembali konak. Ingin rasanya ia masuk kekamar mandi, namun ia masih merasa takut dan deg-degan sehingga akhirnya ia merasa cukup puas dengan hanya menonton perempuan itu mandi sambil ngeloco hingga akhirnya ia menyemprotkan maninya di dinding rumah.
    Ya, Harun merasa bahwa ia memiliki bakat untuk mempengaruhi orang lain. Ia harus berusaha mengasah ketrampilan ini. Ada dua pilihan bagi Harun. Satu, adalah belajar secara otodidak dan kedua, adalah untuk mencari guru. Pilihan pertama tentu akan menjadi sulit, karena belajar macam ini membutuhkan percobaan-percobaan dan pastinya banyak kegagalan. Pilihan kedua tentu menjadi mudah, namun masalahnya, kepada siapakah ia harus berguru?
    Akhirnya selama seminggu Harun terus putar otak untuk melatih ketrampilannya ini. Dicobanya di rumah untuk mempengaruhi pembantu-pembantu atau bahkan orang tuanya untuk memenuhi keinginannya yang sepele seperti memijitinya, mengambilkan minum dan lain-lain, namun Harun tidak mengalami sensasi kepala yang berasa ringan sehingga ia tidak berhasil dalam percobaannya. Tidak ada kelinci percobaannya yang mengalami tatapan kosong seperti ibu Ambar sehingga ia berkesimpulan bahwa kekuatannya muncul bilamana ia sedang dalam keadaan ketakutan. Namun, untuk mencapai situasi di mana dirinya sampai ketakutan sangatlah riskan. Bisa saja ia coba untuk menjadi bandel, tapi tidak ada kepastian bahwa nanti kekuatannya muncul di saat dibutuhkan. Bila ia ada di situasi yang berbahaya dan kekuatannya tidak timbul, tentunya segala sesuatunya akan menjadi rumit dan mengancam keselamatannya sendiri. Harun menjadi semakin pusing mencari akal untuk mengasah ketrampilannya ini.
    *****
    Namun, akhirnya solusinya itu datang sendiri. Suatu hari, waktu itu malam minggu, Harun dan lima orang temannya bermain ke desa tetangga. Saat itu Arjuna tidak ikut, dan Harun juga memakluminya. Bila Harun memiliki nasib yang sama dengan Arjuna, yaitu memperoleh ibu kandung sebagai obyek seks, maka dipastikan Harunpun akan emoh bermain keluar. Lebih baik di dalam rumah saja dan menggarap ladang ibunya.
    Desa tetangga sedang ada layar tancap. Banyak sekali orang, baik muda maupun tua yang datang kesana. Bukan hanya dari desa itu sendiri, melainkan dari berbagai desa sekitar daerah itu. Layar tancap diadakan di sebuah tempat luas di sebuah bukit tak jauh dari desa itu. Berbagai pedagang musiman muncul di situ. Tukang makanan, minuman, pakaian bahkan Bandar judi koprok juga memeriahkan layar tancap itu.
    Harun senang sekali pergi ke layar tancap. Banyak sekali perempuan baik yang masih gadis ataupun yang sudah menikah, tua maupun muda, kurus maupun gemuk bahkan bau maupun harum datang ke situ. Apalagi banyak juga perempuan bisyar maupun bispak yang datang memeriahkan suasana malam minggu.
    Malam itu, Harun berencana untuk merasakan perempuan untuk pertama kalinya. Bila Arjuna sudah tidak perjaka, tentunya Harun juga harus melepas keperjakaannya. Teman-teman Harun pun ditraktir untuk segalanya malam itu, maka mereka merencanakan untuk mencari bispak atau paling tidak bisyar dan untuk menggarap mereka di tempat sepi bergantian. Ada yang jaga, dan ada yang eksekusi, sehingga nantinya segala sesuatunya terkendali dan aman.
    Harun yang ditemani tiga orang teman sekelas, yaitu Hambali, Azhari dan Moko, juga dengan dua orang kakak kelas bernama Dhimas dan Robi, akhirnya berkenalan dengan enam orang gadis muda yang seusia SMU. Sebenarnya, pada mulanya enam orang gadis itu tidak memandang sebelah mata kepada mereka yang hanyalah anak SMP, namun setelah Harun dengan royalnya mentraktir semua dengan makanan dan minuman, maka enam orang gadis itu menjadi tertarik.
    Ketika mereka baru saja mengakrabkan diri, segerembolan pemuda SMU, - yang dari gelagatnya kenal dengan enam orang gadis itu-, mendatangi mereka dan mulai mencari masalah. Singkat kata, tiba-tiba saja terjadi perkelahian yang tidak seimbang antara sekitar sepuluh anak SMU melawan enam orang anak SMP. Harun yang terkena beberapa kali hajaran mulai merasakan kepalanya mengalami sensasi ringan, segera berlari ke tengah lalu berteriak,
    “BERHENTIIIII!!!!”
    Secara mendadak perkelahian berhenti begitu saja. Semua yang terlibat memandang Harun dengan tatapan kosong, sementara orang-orang yang menyaksikan perkelahian tersebut juga melongo dengan penuh tanda Tanya mengenai apa yang terjadi.
    “Kalian pergi dari sini!!!” Kata Harun kepada gerombolan anak SMU itu. Gerombolan anak SMU itu akhirnya pergi dengan terdiam seribu bahasa, diikuti oleh pandangan semua orang yang ada di situ. Orang-orang yang menyaksikan semua ini kemudian mengalihkan pandangan mereka kearah Harun, kini dengan pandangan yang sedikit kagum bercampur heran.
    Sementara itu, Harun yang menyadari kini adalah kesempatan baik, segera memanggil dua orang gadis tercantik dari kumpulan enam orang gadis yang baru ia kenal itu. Atik dan Jannah. Dengan menggandeng kedua gadis itu, Harun lalu mengajak teman-temannya dan teman-teman gadis itu untuk meninggalkan tempat itu.
    Setelah berjalan beberapa lama, mereka sampai di sebuah padang rumput yang dikelilingi pohon-pohon rindang. Disebut padang sebenarnya tidak bisa juga, karena hanya seluas kolam renang mini Olympic. Tapi tempat itu bagus sekali karena tertutup pepohonan di sekelilingnya.
    Harun bertekad untuk pulang sebagai lelaki dewasa yang bukan perjaka lagi. Dan mungkin karena tekadnya itulah yang membuat ia merasakan sensasi ringan di kepalanya itu tidaklah hilang melainkan terus ada, bahkan kini kepalanya sedikit terasa mendengung.
    Setelah menyuruh teman-temannya berjaga di sekeliling padang rumput itu di bawah bayang-bayang pohon, tentu masing-masing merekapun ditemani seorang gadis, maka Harun menarik Atik dan Jannah yang pasrah saja dituntun ke tengah padang rumput kecil itu. Sinar rembulan yang Purnama di langit yang cerah berbintang yang menerangi padang rumput itu, membuat kedua gadis itu terlihat jelas oleh Harun.
    “Buka baju kalian sampai telanjang,” perintah Harun dengan suara yang tercekat karena perasaannya sungguh bercampur aduk saat itu. Tegang, senang, sedikit takut dan nafsu berkecamuk dalam dadanya sehingga membuat Harun seakan susah bernafas karena dikuasi oleh perasaan-perasaan gado-gadonya itu.
    Atik dan Jannah kemudian perlahan membuka pakaiannya hingga telanjang. Atik lebih tinggi dari Harun dan memiliki tubuh yang ramping dan dada yang kecil namun padat. Sekitar 34 A. kedua pentilnya yang merah kecoklatan tidak menonjol melainkan tampak bagaikan menyatu dengan daerah areola di sekitarnya. Selangkangan Atik dihiasi oleh jembut yang masih jarang dan tampak halus keriting. Kulit Atik putih sekali, mirip sekali dengan kulit Ibunya Harun. Dengan rambut panjang ikal hampir sepinggul dan hidung yang lumayan mancung, sungguh seakan Atik adalah gadis sampul majalah remaja.
    Jannah adalah gadis imut yang setinggi Harun dan walaupun tidak gemuk, namun karena tubuhnya imut maka tampak seperti lebih berisi disbanding Atik. Rambut Jannah sebahu dengan muka yang agak chubby dihiasi lesung pipit. Kulit Jannah coklat muda dengan buah dada yang lebih besar dari Atik, sekitar 34B namun dengan pentil yang coklat agak tua menyembul sedikit saja dari daerah areolanya. Pinggul Jannah lebih lebar dari Atik pertanda berbakat memiliki anak yang banyak. Namun selangkangannya memiliki bulu yang walaupun juga masih jarang, namun sedikit lebih banyak daripada Atik.
    Burung Harun sudah tegak. Dengan bergegas ia membuka bajunya hingga telanjang. Harun membawa tikar yang tadi di pegang oleh Hambali. Kini ia mengambil tikar itu lalu membukanya di tengah padang rumput kecil itu. Harun menyuruh kedua gadis itu tiduran di tikar bersebelahan satu dengan yang lainnya. Atik dan Jannah mengikuti perintah Harun. Kini kedua gadis yang telanjang bulat itu tidur di hadapan Harun.
    Harun kemudian menindih Atik lalu menciumi bibirnya. Atik hanya terdiam saja sementara Harun melumat bibir gadis itu.
    “Mbak Atik balas dong,” perintah Harun.
    Atik lalu membalas ciuman Harun dan juga memeluk kepala Harun. Harun menikmati ciuman pertamanya. Bibir Atik yang basah dan hangat mengirimkan sinyal-sinyal erotis di seluruh tubuh Harun yang masih perjaka. Bau parfum Atik yang lembut menambah sensasi birahi yang perlahan bertambah tinggi yang berakibat kontol Harun mengeluarkan sedikit cairan sebagai pelumas menandakan bahwa Harun siap bertempur sampai kecrotan terakhir.
    Harun mulai melancarkan ciuman ke dada Atik yang kini tampak hampir rata dengan dada perempuan itu karena akibat gravitasi bumi. Kulit putih Atik begitu lembut di bibir Harun. Disedotnya pentil kanan gadis itu yang membuat Atik mulai merasakan birahi juga walaupun dalam keadaan bagaikan terhipnotis. Atik mulai meremasi kepala Harun yang saat ini sedang menggarap bukit sebelah kanannya.
    Harun kemudian mengalihkan serangan ke payudara kiri Atik. Payudara yang masih belum terlalu besar itu ia jilati, ciumi dan sedoti dengan penuh nafsu. Kedua payudara gadis muda itu kini mulai muncul bekas-bekas cupangan dan juga tampak basah terkena air liur Harun yang tak dapat dikontrol. Harun kemudian mengarahkan ciumannya turun ke perut Atik. Atik mendesah-desah dan desahan itu semakin keras seiring semakin dekatnya mulut Harun ke mulut bagian bawah Atik.
    Lidah Harun menjadi liar ketika bersentuhan dengan bulu kemaluan Atik. Harun dapat mencium bau tubuh gadis itu semakin jelas ketika kepalanya makin dekat dengan organ intim si gadis. Bau tubuh yang tercium begitu natural dan lembut.
    Atik ingin berteriak. Ingin sebenarnya gadis itu menolak perbuatan lelaki muda yang baru dikenalnya itu. Namun entah kekuatan apa yang membuatnya takluk kepada lelaki muda ini. Sementara, ciuman Harun makin lama membuat kemaluannya basah karena perlahan Atik mulai merasakan nafsu birahi menguasai tubuhnya. Lidah Harun yang menari-nari di atas tubuhnya bagaikan menyengat kulit mulusnya yang putih itu dan mengirimkan pesan-pesan birahi yang dinikmati oleh otaknya.
    Akhirnya lidah itu menyusuri bibir vagina Atik. Atik mendengus keras merasakan lidah yang hangat dan basah itu menyapu bibir memeknya yang basah. Jauh di lubuk hatinya, Atik tidak mau menyerahkan mahkotanya kepada remaja yang lebih muda darinya, namun tubuhnya tidak bisa menolak kemauan anak itu. Dua butir air mata mengalir jatuh dari kedua mata Atik. Atik menangis tanpa suara melainkan hanya desahan birahi ketika lidah itu mulai menyelip di antara bibir memeknya dan menjelajahi area yang belum pernah disentuh oleh lelaki manapun.
    Harun merasakan bibir memek Atik yang basah dan hangat di ujung lidahnya. Hidung Arjuna mencium bau tubuh Atik dengan sangat jelas menguar dari dalam lubang kemaluan gadis muda itu. Arjuna menggunakan dua jarinya membuka memek yang basah itu dan melihat ada selaput putih di dalam lubang itu. Astaga! Gadis ini masih perawan. Tadinya dikira Harun Atik dan kawan-kawannya adalah bispak karena para gadis itu datang dengan baju yang ketat dan seksi, ternyata ia salah. Tampaknya para gadis ini adalah gadis yang baik-baik.
    Harun menjadi tak tahan lagi melihat ini. Ia segera membuka lebar kedua kaki gadis itu lalu mengarahkan kontolnya yang sudah tegang dari tadi, dan menaruhnya tepat di lubang kencing Atik. Harun mendorong pantatnya ke depan. Namun penisnya yang sebesar 14 cm itu tidak berhasil masuk. Berkali-kali ia mendorong pantatnya namun tidak berhasil sementara Atik mulai meringis kesakitan ketika dirasakannya benda tumpul berusaha memasuki liang persenggamaannya yang masih perawan itu. Harun menyentakkan pantatnya kuat-kuat dan tiba-tiba kepala penisnya masuk kedalam lubang sempit milik Atik itu.
    “Aaaaaaaaaauuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuwwwww..” teriak Atik kesakitan. Harun berusaha mendorong penisnya untuk masuk lebih jauh, tapi seakan ada perlawanan dari dalam lubang sempit itu. Mungkin harus dipaksa lebih keras, pikir Harun.
    Harun kini merebahkan badannya di atas Atik, kedua tangannya diselipkan sehingga kini memegang kedua pantat Atik kuat-kuat. Dengan segenap kekuatannya Harun mendorong pantatnya kedepan sambil menggunakan kedua tangannya untuk menarik kedua pantat Atik.
    Dalam satu gerakan cepat, kontol Harun kini ambles masuk ke dalam lubang vagina Atik, merobek selaput keperawanan gadis itu. Rasa sakit yang hebat itu seakan menyadarkan Atik sehingga Atik tiba-tiba teriak sambil berontak,
    “Aduuuuuh!! Lepasin!”
    Dalam kenikmatannya Harun tidak menyadari bahwa sensasi perasaan ringan di kepalanya tadi hilang sehingga ia tidak dapat mengkontrol Atik. Kini ia menyadari bahwa Atik sedang berusaha berontak dan ia agak kesulitan menahan gerakan gadis yang memang lebih tinggi darinya itu. Di lain pihak, Jannah tampak baru sadar dan dengan tatapan bingung sedang berusaha menutupi auratnya sambil mencari pakaiannya.
    Begitu takutnya Harun sehingga kini sensasi kepala ringannya kembali.
    “Semua diam!!” bentak Harun.
    Atik dan Jannah kini memandang kosong kembali. Harun menyuruh Jannah tidur lagi di sebelah mereka. Sementara dilihatnya Atik yang tadi menangis kini terdiam pula. Airmata telah membasahi mata dan pipi gadis itu. Namun tubuh gadis itu menjadi santai sekarang. Dirasakannya kontolnya dicengkeram lubang silinder yang sempit dan basah lagi hangat sekali.
    Harun mulai mengocoki kemaluan Atik itu perlahan-lahan sambil menikmati tiap detiknya. Perasaan ngilu dan nikmat ia alami ketika batang kontolnya menggesek dinding kemaluan Atik tiap kali ia mengocoki memek yang baru saja ia perawani itu. Namun tubuh Atik tetap terdiam dan tak bereaksi, walaupun Atik saat ini mulai mendesah, dan juga memek gadis itupun sudah basah kuyup oleh cairan kewanitaan dan juga darah keperawanan.
    “Atik. Mulai saat ini kamu adalah milik aku. Kamu harus membalas entotanku juga. Kamu harus mengimbangi aku dan menikmati hubungan badan denganku.”
    Atik kini menatap Harun dan berkata lirih,
    “Aku adalah milik kamu…”
    Lalu gadis itu merangkul kepala Harun dengan kedua tangannya dan dengan kedua kakinya ia merangkul kedua kaki pemuda yang baru memerawinannya itu.
    Harun adalah anak pintar, ia takut bila nantinya akan kejadian kekuatannya hilang lagi, maka ia berpaling ke arah Jannah dan berkata,
    “Kamu juga milikku. Apapun yang terjadi, kamu tidak boleh pergi sampai aku beritahu. Kamu harus tunggu perintahku dulu.”
    Jannah menatap Harun dengan pandangan kosong. Namun Jannah mengangguk tanda mengerti, sehingga Harun menjadi lebih nyaman. Lalu Harun mulai mengkonsentrasikan pikirannya kepada persetubuhannya dengan Atik.
    Atik dan Harun berdua mulai saling mengentot. Atik berdesah-desah kenikmatan sementara Arjuna mendengus-dengus sambil mengenyoti dua buah payudara Atik dengan rakus. Selangkangan mereka beradu berkali-kali menimbulkan bunyi tamparan yang keras. Harun merasakan memek Atik yang sempit, licin dan hangat itu mencengkram batang kontolnya terus menerus.
    Mereka bersatu dalam birahi. Kedua tubuh yang kini penuh keringat saling berpacu dalam petualangan cinta, bau alat kelamin tercium jelas di udara. Mereka tenggelam dalam nikmatnya dunia. Tarian cinta mereka makin lama makin cepat karena semakin mendekati tujuannya pula.
    Tiba-tiba saja Atik berteriak keras dan merangkul Harun erat-erat.
    “Aduuuuuuuh…….. enaaaaakkk Mas!”
    Harun merasakan rangkulan Atik begitu eratnya sehingga sedikit membuatnya sesak, sementara selangkangan gadis itu bergetar bagaikan kejang yang membuat memeknya juga membuka menutup secara cepat seakan menyedoti kontol Harun yang sedang berada di dalamnya.
    Harun akhirnya tak kuat juga. Ia balas memeluk gadis itu rapat-rapat dan mulai membenamkan kontolnya dalam-dalam di liang surgawi milik Atik. Kontolnya berkali-kali memuntahkan pejunya di dalam lubang memek Atik. Akhirnya mereka berdua terdiam kelelahan beberapa saat.
    Ketika terbangun dari nikmatnya orgasme di dalam memek perempuan, Arjuna menyadari bahwa kepalanya sudah tidak mengalami sensasi ringan lagi. Dengan cepat ia melihat ke arah Jannah. Namun Jannah masih terdiam di sana sedang memandanginya yang menindih Atik. Harun melihat bahwa dalam diam Jannah menangis karena air matanya telah membasahi pipinya dan juga dada gadis itu sesunggukan.
    Harun melepaskan diri dari Atik untuk duduk. Kontolnya yang mengecil telah keluar dari sarang kenikmatan. Sedikit demi sedikit keluarlah peju Harun dari dalam lubang memek Atik. Sementara, Atikpun menangis tanpa suara, namun tidak melakukan apa-apa.
    Harun memandangi wajah Jannah yang cantik itu. Ada sinar ketakutan dalam mata gadis itu. Harun sangat mensyukuri bahwa ia adalah anak yang pintar. Buktinya, perintah yang ia sampaikan kepada Jannah tetap dilaksanakan walaupun ia sudah tidak mengalami sensasi di kepalanya.
    Harun kemudian menindih Jannah yang kini sesunggukan tanpa suara. Harun ingin melihat bila tanpa menggunakan kekuatannya apakah ia bisa menggauli gadis ini. Apakah bisa, hanya dengan perintah yang tadi ia lakukan Jannah mengijinkan ia menggarap tubuh gadis itu?
    “Sekarang aku akan meniduri kamu, Mbak Jannah.”
    Lalu Harun mulai menciumi gadis ini. Dilahapnya wajah cantik Jannah dengan rakus. Lidah Harun dapat merasakan asinnya air mata gadis itu yang ada di pipinya. Jannah sesunggukan dan terdiam sementara Harun asyik melumati wajah gadis itu dengan air liurnya.
    “Peluk aku, Mbak. Ayo….”
    Harun ingin melihat reaksi gadis ini. Apakah gadis ini akan mengikuti perintahnya atau tidak. Tadi Harun memerintahkan bahwa gadis itu adalah miliknya, bila perintah ini tetap lekat pada gadis ini, maka mau tidak mau gadis ini harus mengikuti apapun kemauannya.
    Walaupun tetap menangis tanpa suara, Jannah memeluk Harun yang sedang menindihnya. Harun gembira sekali. Rupanya bila sekali saja orang sudah dipengaruhi olehnya, maka orang itu tetap akan mematuhinya terus.
    “Sekarang kita ciuman dan Mbak harus mencium aku dengan penuh nafsu.”
    Harun mencium bibir Jannah yang langsung saja membalas dengan hot. Jannah mengecup dan menjilati bibir Harun bagaikan sudah biasa berciuman. Singkat waktu, mereka berdua sudah saling bertukaran lidah dan menjilati satu sama lain. Harun yang tadi keringatan mulai keringatan lagi. Jannah pun kini keringatan. Kedua bibir mereka saling berpagutan sementara Jannah mengelus kepala Harun dengan bernafsu.
    Bau tubuh Jannah tercium agak kuat. Berbeda dengan Atik yang memiliki bau badan yang lembut dan seakan perlahan menyerang hidung, bau badan Jannah tercium jelas dan serta-merta menusuk hidung Harun. Bukan bau yang memuakkan, namun termasuk bau yang menggiurkan.
    Harun mengangkat tangan kanan Jannah dan melihat ketiak yang mulai ditumbuhii bulu halus. Bau badan gadis ini begitu kuat menyerang hidungnya membuat kontolnya kini sudah tegak lagi dimabuk birahi. Harun membenamkan wajahnya di ketiak gadis ini. Bulu-bulu halus menggelitik hidung Harun. Kepala Harun menjadi seakan mabuk kepayang dan pusing tujuh keliling akibat nafsu yang seakan tak terkontrol.
    Dari sini ia tahu, bahwa ia lebih menyukai Jannah dibanding Atik. Baru baunya saja sudah membuatnya begini, apalagi yang lain yang lebih enak.
    Harun mulai mengulum-ngulum bulu ketek Jannah yang masih jarang dan halus itu. Sementara Jannah kini telah berhenti menangis karena sedang menggeliat kegelian. Sambil mengenyoti ketiak gadis itu, Harun melihat mata gadis ini. Mata itu sudah tidak memperlihatkan sinar ketakutan melainkan mulai menyinarkan pandangan sayu seakan minta dientot.
    Harun lalu mulai meremasi kedua payudara Jannah yang besar itu. Pentil gadis ini yang tadinya hanya menyembul sedikit, kini menyembul dan panjangnya kurang lebih sama dengan pantat bolpoin. Masih lebih kecil di banding pentil ibunya Harun, namun setidaknya bila dibandingkan dengan pentil Atik yang amat kecil maka pentil ini lebih nikmat dikulum dalam mulutnya.
    Sambil meremasi kedua tetek Jannah, Harun asyik menjilati ketiak gadis ini. Bulu halus ketiak Jannah sudah rebah karena basah oleh keringat sendiri dan juga air liur Harun. Bau tubuh gadis ini sekarang seakan memenuhi udara. Baik dari ketek maupun kemaluannya, bau tubuh Jannah keluar bagaikan angin topan menerjang bumi.
    Kemudian Harun mulai menciumi tetek kanan Jannah. Ia cupang dan sedoti payudara itu sehingga meninggalkan bekas cupang di sana-sini. Lalu dikulumnya pentil tetek kanan Jannah. Ia suka sekali sensasi memegang pentil di dalam mulut. Dijilatinya secara berputar yang membuat Jannah mulai mendesah lebih keras dan terkadang mengerang. Lalu disedotnya pentil itu kuat-kuat karena gemas. Jannah meremas kepala Harun dengan keras.
    Setelah dada kanan Jannah sudah mulai bau mulut Harun sendiri, dirambahnya bukit yang sebelah kiri menggunakan lidah dan mulutnya. Kembali dada itu menjadi berhiaskan bekas cupang di sana-sini. Begitu bernafsunya Harun sehingga hampir tiap jengkal gundukan payudara Jannah dicupanginya, seakan ingin menunjukkan bahwa daerah itu adalah daerah kekuasaannya.
    Setelah puas menjelajahi dada Jannah, Harun lalu membuka paha Jannah lebar-lebar dan mulai menjilati jembut Jannah yang memiliki bulu lebih banyak dari Atik. Bau tubuh gadis ini tercium santer di daerah selangkangannya menyebabkan Harun tak bisa menahan diri untuk mulai menjilati kemaluan gadis itu. Dengan dua jarinya ia buka bibir memek Jannah lalu mulai menjilat dan menghisapi memek yang sudah basah kuyup itu.
    Cairan vagina Jannah memiliki rasa yang sedikit tajam dengan campuran masam dan getir ditambah bau yang menusuk hidung. Namun semuanya ini malah membuat Harun lebih bersemangat menjilati kemaluan Jannah. Tak bosan-bosannya lidahnya memasuki lubang memek gadis itu, terkadang menyedoti klitorisnya ataupun terkadang menjilati bagian dalam bibir luar memek itu.
    Hanya lima menit Harun melahap vagina Jannah, Jannah sudah orgasme untuk pertama kali. Memeknya dibanjiri cairan bening hangat yang membasahi selangkangannya maupun mulut dan dagu Harun. Harun berusaha menjilati dan mengecap semua cairan Jannah karena begitu nikmatnya cairan itu di mulutnya.
    Setelah Jannah sudah santai lagi, maka Harun memposisikan kontolnya di liang senggama Jannah, lalu menindih gadis itu dan menyelipkan kedua tangannya di kedua pantat Jannah. Jannah pun mengengkangkan kakinya lebar-lebar dan dengan kedua tangannya memegang kedua pantat Harun.
    “Satu….. dua……. Tigaaaaaaaaaa……….” Kata Harun memberikan aba-aba.
    Pada hitungan ketiga, Harun menghujamkan kontolnya kuat-kuat sambil menarik pantat Jannah, di lain pihak Jannah juga menarik pantat Harun. Jannah merasakan batang yang keras itu dalam satu gerakan telah menggagahinya. Bahkan selaput daranya pun robek dalam hitungan sepersekian detik saja. Rasa sakit melanda memeknya sementara ngilu rasanya ada benda keras membelah memeknya dan memenuhi lubang kencingnya itu.
    Jannah memeluk Harun rapat-rapat sambil berteriak,
    “Adddaaaauuuuuuww…. Sakit, Mas…………….”
    Untuk beberapa saat mereka berpelukan tanpa bergerak. Berhubung Jannah setinggi Harun, maka Harun kini dapat mencium bibir gadis itu sambil ngentot. Mereka berciuman beberapa saat. Jannah dapat mencium bau memeknya di mulut Harun, namun Jannah tidak peduli. Sambil merangkul dan meremas kepala Harun ia saling mencium dan menjilat dengan Harun.
    Kedua tubuh mereka kini basah kuyup oleh keringat campuran antara keringat mereka berdua. Sementara kedua bibir mereka sudah basah selain karena keringat juga oleh ludah mereka yang saling bertukaran. Udara malam memang dingin, namun panas tubuh yang mereka berdua hasilkan bagaikan udara di sauna saja.
    Harun merasakan pinggul besar Jannah mulai bergoyang-goyang sehingga kontolnya kini mulai dikocok oleh memek Jannah. Harun membalas entotan itu. Mula-mula mereka bergoyang tidak seirama dan perlu beberapa saat agar gerakan pantat mereka dapat sinkron. Akhirnya mereka mengentot dalam suatu irama yang sama.
    Sambil terus berpagutan, Harun asyik mengentoti tubuh Jannah yang sekal dan padat itu. Nikmat sekali bergumul dengan gadis ini karena seakan tubuh gadis ini diciptakan pas untuk Harun. Saat mereka bergaul ini, bibir bertemu bibir, dada bertemu dada dan kelamin saling bersatu. Sungguh pas rasanya. Dada Jannah yang besar itu tergencet dada Harun. Harun dapat merasakan pentil dan gundukan payudara Jannah seakan berusaha melawan tindihannya.
    “Aku cinta kamu, Mbak……” kata Harun disela-sela cumbuannya terhadap pasangannya itu.
    “Mbak juga cinta kamu, Mas…. Mbak milik kamu, kan?”
    Mereka bercumbu lagi dengan buas. Lebih hot dari sebelumnya karena mereka berdua sudah mengutarakan perasaan masing-masing. Lidah mereka saling bersilat dan berusaha menjilat, bibir mereka asyik saling memagut bagaikan ular yang berusaha mencaplok mulut lawannya. Mereka berangkulan erat seakan tak ingin dipisahkan. Sementara kedua kelamin mereka saling mengocok satu sama lain dengan nafsu liar.
    Memek Jannah lebih rapat dari Atik. Mungkin karena tubuh Jannah yang lebih kecil. Begitu kencangnya kontolnya digenggam otot vagina Jannah sehingga Harun merasa bahwa ia tak lama lagi akan keluar. Dipercepatnya hujaman kontolnya dalam memek Jannah sementara kini bibirnya telah mencaplok leher kiri Jannah dan mencupangnya sekuat mungkin. Jannah melenguh penuh kenikmatan.
    Jannah merasa geli dan nikmat ketika mulut Harun menggarap lehernya dengan penuh birahi. Lidah Harun menggelitik lehernya dan bahkan cupangan Harun menyebabkan rasa ngilu yang nikmat yang menjalar dari memek sampai ke otak yang membuat pertahanannya jebol.
    “Maaaasssss……….. enaaaaaaaaakkkk bangeeettttttttttt…………..!”
    Harun merasa Jannah dengan tubuh sekalnya merangkulnya sangat kuat dan selangkangan gadis itu berkedut-kedut kelojotan dan memeknya mencengkram kontolnya begitu keras dan seakan menyedoti kontolnya dengan cepat dan keras dan vagina yang sudah basah kuyup itu mengeluarkan cairan hangat yang lebih banyak lagi yang membanjiri lubang memek dan mengguyur kontolnya yang tegang.
    Sambil mencupang keras-keras, Harun balas merangkul Jannah sekuat tenaga lalu membenamkan kontolnya sejauh mungkin di dalam lubang peranakan gadis itu, lalu menyemburkan sperma yang sedari tadi minta dilepaskan ke dalam rahim gadis itu. Harun merasakan kontolnya berkedut-kedut berkali-kali, bahkan kayaknya lebih banyak dibanding sebelumnya.
    Ketika badai orgasme reda, Harun tidak melepaskan dirinya dari Jannah melainkan tetap menindih gadis itu lalu mengecupnya di bibir sekali. Jannah tersenyum dan menatap Harun yang baru saja mengecupnya lalu mengecup balik. Akhirnya mereka berciuman lagi selama beberapa saat.
    Tiba-tiba terdengar gelak tawa seorang lelaki tua. Tahu-tahu di samping mereka berdiri seorang lelaki paruh baya ubanan berusia sekitar 50 tahunan dan rambutnya kelabu karena rambut hitamnya banyak terhias uban di sana-sini. Lelaki itu sedang bertolak pinggang sedang tertawa melihat mereka berdua. Wajah lelaki ini tegas dan kokoh walaupun tidak terlalu ganteng, namun dengan jenggot kelabunya dan pancaran sinar matanya yang kuat, memberikan kesan penuh kekuatan dan kewibawaan.
    Harun melihat berkeliling untuk mengechek kenapa temannya tidak mencegah orang ini masuk, namun lelaki itu berkata,
    “Koncomu wis ta’ sirep kabeh! Tidak ada gunanya minta bantuan.”
    Harun ketakutan dan merasakan kepalanya ringan lagi. Maka ia berkata,
    “Pergi!”
    Lelaki itu tiba-tiba terdiam. Harun merasa sudah berhasil menghalau lelaki itu. Namun Harun kaget ketika lelaki itu tertawa lagi. Kata lelaki itu,
    “Bagus! Bakat kamu lebih besar dariku, bahkan aku sempat dibuat kaget sebentar….. mmmm… anak muda. Aku adalah Ki Asmoro Dewo. Siapakah gurumu?”
    “Guru? Maksud Ki Asmoro?”
    “Yang mengajarimu ilmu sirep yang membuat kamu bisa mendapatkan dua gadis cantik ini.”
    “Aku tidak punya guru.”
    Ki Asmoro Dewo menatap Harun lekat-lekat. Lalu ia mengangguk pelan.
    “Bakat yang tidak ada bandingannya…… Baiklah, semenjak saat ini, aku angkat kau jadi muridku.”
    Harun adalah anak pintar. Dia melihat bahwa seluruh temannya disirep hingga tidur oleh lelaki ini. Sementara, Harun belum menguasai kekuatannya, ia perlu guru. Dan akhirnya, guru itu datang sendiri kepadanya. Maka mulai saat itu, Harun menjadi murid Ki Asmoro Dewo.
    Mau lihat cerita lain, silahkan lanjut ke:
    Indeks Cerita Pemanah Rajawali

  5. #4
    Adik Semprot Pemanah Rajawali's Avatar
    Daftar
    Jan 2012
    Lokasi
    Jianghui / Kangouw
    Posts
    107
    Thanks
    1
    Thanked 109 Times in 11 Posts
     THREAD STARTER 
    BAB TIGA

    HARUN BELAJAR ILMU SIREP

    Ki Asmoro Dewo rumahnya agak jauh. Di sebuah desa yang berada hampir di puncak gunung. Sementara desa tempat tinggal Harun ada di daerah lembah gunung tersebut. Perjalanan ke atas sana memakan waktu hampir empat jam yang melelahkan.
    Sebenarnya Harun sering mendengar nama Ki Asmoro Dewo. Namun kebanyakan orang memanggil gurunya sebagai Ki Dewo saja. Konon, orang ini sangat sakti dan tidak ada orang di daerah gunung ini yang mampu mengalahkan kedigdayaannya. Banyak sekali orang yang berkunjung ke rumah Ki Asmoro Dewo. Bahkan orang-orang dari Jakarta banyak yang datang minta bantuannya.
    Rumah Ki Asmoro Dewo sangat besar dan memiliki kamar yang banyak. Rumah ini bahkan lebih besar disbanding rumah ayah Harun. Rumah inipun memiliki corak tradisional Jawa yang sangat kental, pintu yang diukir dengan gaya Jepara, tempat lampu tradisional, dinding bata merah dan lain sebagainya. Kalo diperkirakan, maka rumah ini pasti lebih mahal dibanding rumah ayah Harun.
    Ki Asmoro Dewo memiliki banyak kendaraan. Berbagai motor, sebuah mobil sedan, tiga buah mobil van dan juga dua buah Truk. Harta Ki Asmoro Dewo memang banyak. Dapat hampir dipastikan bahwa kekayaan Ki Asmoro Dewo lebih banyak dibanding Harun.
    Namun, yang mengagumkan dari Ki Asmoro Dewo bukanlah harta kekayaan material yang ia punyai. Melainkan, Ki Asmoro Dewo punya banyak isteri. Ada 7 perempuan yang diakui oleh Ki Asmoro Dewo sebagai isterinya. Usia isteri-isterinya beragam. Yang paling tua berusia hampir sama dengan Ki Asmoro Dewo dan yang paling muda berusia 17 tahun. Semua isterinya cantik-cantik. Bukan sekedar cantik yang membuat lelaki menoleh dua kali, tetapi cantik yang membuat para lelaki tidak ingin melepaskan pandangan sekali sudah melihat. Harun merasa beruntung sekali mempunyai guru seperti ini. Harun sangat ingin masa depannya akan sama seperti gurunya, dikelilingi oleh wanita-wanita super cantik.
    Melihat bakat Harun adalah menyirep orang, maka Ki Asmoro Dewo mengajarkan Harun dengan porsi ilmu sirep lebih banyak dibandingkan ilmu-ilmu lain yang dimilikinya. Namun, bukan berarti ilmu-ilmu lain itu tidak diturunkan, hanya saja Ki Asmoro Dewo ingin agar anak itu antusias belajar kepadanya. Sangat jarang ditemui anak berbakat dan Harun sangatlah berbakat. Ki Asmoro Dewo yang tidak memiliki anak lelaki, sangat ingin meneruskan segala ilmu yang didapatnya susah payah kepada anak itu.
    Dari 7 isterinya ia mempunyai 14 anak perempuan dan 3 anak lelaki. Sayangnya ketiga anak lelakinya itu meninggal di usia yang masih bayi. Sudah 5 tahun ini isteri-isteri Ki Asmoro Dewo tidak melahirkan anak lagi. Bahkan, Siti, isteri yang paling muda dan yang paling akhir dikawininya tidak pernah hamil. Ada seorang lagi isterinya yang tidak punya anak, Hanifah yang berusia 32 tahun yang ia nikahi 25 tahun yang lalu. Dulu Ki Asmoro Dewo berpikir bahwa isterinya itu mandul, namun kini Ki Asmoro Dewo bahkan mulai berpikir lain. Mungkin ia sendiri yang sudah mandul.
    Ilmu yang diturunkan Ki Asmoro Dewo, selain ilmu sirep adalah ilmu santet, ilmu pelet atau pengasih dan ilmu beladiri. Harun pergi ke rumah Ki Asmoro Dewo tiga kali dalam seminggu, yaitu selasa, kamis dan sabtu. Setiap sabtu, Harun akan menginap sampai minggu siang.
    Ki Asmoro Dewo berpesan, karena ilmu sirep sangatlah kompleks dan sulit, maka untuk setahun ilmu ini belum boleh dipraktikan, dan Harun harus sabar mendalami ilmu ini dulu. Untung saja Harun sudah mempunyai dua orang kekasih, yaitu Atik dan Jannah. Sehingga tiap hari minggu, salah satu dari mereka akan datang ke rumah Ki Asmoro Dewo untuk melayani Harun. Ki Asmoro membolehkan Harun “bertamasya seksual” dari jam 7 pagi sampai jam 9 pagi. Salah satu trik Ki Asmoro agar muridnya betah belajar darinya. Dan ilmu sirep itu bisa dilatih oleh Harun dengan mencoba mempraktikan ilmunya kepada kedua gadisnya itu.
    Harun sangat menyukai semua pelajaran-pelajaran dari Ki Asmoro Dewo, walaupun ilmu sirep menjadi kecintaan Harun. Ternyata, ilmu ini dibagi berbagai tingkatan. Tingkatan pertama adalah sirep tidur, yang membuat orang tertidur. Tingkatan ke dua adalah perbawa, yaitu mempengaruhi orang lain agar mengikuti kemauan si pemilik ilmu. Tingkatan terakhir adalah cuci otak, di mana seseorang akan dibuat berubah 180 derajat sehingga akan memiliki Pribadi yang berbeda.
    Sirep beda dengan ilmu pelet, karena ilmu sirep adalah ilmu yang digunakan untuk kepentingan sendiri, sementara ilmu pelet adalah ilmu yang dapat dipakai agar orang lain yang dapat menikmati. Ilmu sirep memerlukan kehadiran sang pemilik ilmu dihadapan korban, sedangkan pelet dapat dikirim dari jarak jauh, seperti halnya santet. Walaupun hasil akhirnya sama, yaitu membuat seseorang terpengaruhi oleh ilmu tersebut.
    Harun belajar dengan giat sekali selama setahun. Ilmu sirep hampir ia kuasai 80 persen dalam setahun, sesuatu yang tidak pernah disangka baik Harun sendiri maupun gurunya. Ini dikarenakan bakat Harun yang memang tiada duanya dibidang sirep selain itu, ia mempunyai dua orang gadis yang dapat dijadikan kelinci percobaan.
    Atik dan Jannah sebenarnya menyesal telah memberikan keperawanan kepada seorang bocah yang lebih muda daripada mereka. Namun mereka berdua adalah gadis pedesaan. Mereka mau tidak mau harus nrimo bahwa kegadisan mereka sudah hilang. Mereka sedikit bersyukur bahwa bocah ini adalah anak lurah yang kaya. Selain itu, bocah ini juga bukan playboy yang sekali hisap sari madu langsung dibuang. Harun mendatangi kedua gadis ini dan minta mereka tiap minggu mendatangi rumah gurunya bergantian untuk berkasih-kasihan di sana.
    Atik dan Jannah menanyakan masa depan mereka kepada Harun dan Harun meyakinkan bahwa ia kan menikahi kedua gadis itu bila usia mereka bertiga telah dewasa dan boleh menikah. Kedua gadis ini sedikit terhibur akan janji si bocah. Namun Atik yang bercita-cita ingin ke Jakarta dan menjadi artis, di lain pihak merasakan bahwa mimpinya itu sudah sirna karena telah diperawani oleh Harun. Oleh karena itu, Atik merasakan sedikit perasaan getir terhadap Harun.
    Setiap kali giliran Atik yang menemani Harun, gadis ini melayani Harun dengan tidak bersemangat, sehingga tiap kali Harun harus menggunakan kekuatannya agar gadis ini mau melayani permainan seksnya dengan antusias. Berbeda dengan Jannah, yang makin lama makin pasrah atas kemauan Harun. Jannah selalu membalas setiap aksi Harun dengan sepadan. Setiap kali disetubuhi, tanpa disuruh oleh Harun, Jannah selalu mengerang-erang penuh kenikmatan, selalu ikut menggoyangkan pantatnya, ikut meremas-remas dan membalas ciuman dan jilatan Harun. Sementara, Atik tidak pernah melakukan semuanya tanpa disuruh. Pernah Harun tidak menggunakan kekuatannya ketika bersetubuh dengan Atik, Harun malah mendapati bahwa seakan ia sedang mengentoti boneka perempuan yang diam saja. Paling banter Atik hanya memeluk Harun dan mengerang-erang ketika orgasme. Tapi tak pernah Atik menciumi Harun dengan penuh nafsu. Gadis itu hanya pasrah membuka pahanya lebar-lebar dan diam saja ketika kontol Harun merojok-rojok kemaluannya.
    Hal ini agak membingungkan Harun sehingga ia bertanya pada gurunya. Dan Ki Asmoro Dewo berkata,
    “Nang (singkatan Lanang). Manusia itu berbeda-beda tabiat dasarnya. Ada orang yang nrimo, ada orang yang sedikit nrimo namun dapat berubah menolak dan ada orang yang pada dasarnya berwatak kuat dan menganggap hidup ini adalah perjuangan. Nah, gadismu yang bernama Atik ini adalah orang memiliki sedikit sifat nrimo namun masih ada jiwa penolakan yang cukup kuat dari dalam dirinya.
    “Untuk dapat membedakan tiga sifat ini, maka kita dapat melihat gaya mereka ketika kita sirep. Gadis yang pada dasarnya nrimo, setelah kita sirep lalu digagahi, sehabis itu dia akan menerima kelakukan kita sebagai hal yang lumrah. Kamu ingat Jannah? Setelah kamu gagahi kalian berciuman. Ini tanda dia terima kamu. Gadis yang memiliki watak cukup kuat walaupun ada rasa nrimo di dalam dirinya, setelah digagahi akan menunjukkan penyesalan yang dalam. Kamu ingat Atik? Dia menangis ketika selesai kamu gagahi. Namun sepanjang persetubuhan kalian dia tidak banyak melawan.
    “Nah, untuk tipe ketiga. Ini yang agak-agak sulit dan bahaya. Walaupun kamu berhasil menyirep perempuan ini dan kamu gagahi, sepanjang persetubuhan kalian, dia tetap berusaha menolak dengan perkataannya, walaupun tubuhnya tidak dapat menolak kekuatan sirep. Setelah selesai digagahi, maka orang ini akan merasakan duka yang dalam, sehingga kemungkinan waktu orang ini ditinggal sendiri, maka ia akan bunuh diri…”
    Harun mendengarkan perkataan gurunya dengan perlahan. Kata Harun,
    “Guru, kalau demikian, berarti gadis yang memiliki watak yang kuat tidak boleh disirep dan digagahi?”
    Gurunya tertawa keras. Katanya,
    “Bukan begitu. Bisa saja jadi milik kamu, tetapi tidak bisa dengan langsung sirep untuk menguasai. Kamu harus menyirep dengan perlahan. Sedikit demi sedikit kamu sirep sambil kamu rayu, namun jangan pernah menggagahi sebelum orang itu benar-benar takluk padamu. Memang, untuk mendapatkan gadis semacam ini menjadi milikmu adalah sesuatu yang susah, namun bila kamu berhasil, maka gadis macam inilah yang akan menjadi milikmu yang paling berharga.”
    Mendengar ini Harun menjadi lebih bersemangat belajar ilmu sirep dan ilmu lainnya. Ilmu beladiri pun disukai Harun. Perawakan Harun yang dulunya sedikit gempal, kini setelah setahun belajar berubah menjadi kekar. Apalagi Harun dalam kurun waktu setahun itu juga bertambah tinggi. Sehingga Harun perlahan menjadi seorang anak muda yang ganteng dan bertubuh atletis. Hanya saja dalam kurun waktu itu, ada sedikit kesedihan dari Harun ketika Arjuna, kawan karibnya pindah ke Kalimantan untuk menikah. Namun, kesibukannya di tempat Ki Asmoro Dewo dapat mengobati hatinya yang lara.
    Selain itu, Harun berusaha untuk mengambil hati Atik perlahan. Ia sering membeli benda-benda untuk perempuan kepada kedua gadisnya. Baju dalam, bando, buku novel dan lain-lain. Khusus untuk Atik, ia berusaha mengurangi waktu persetubuhan yang hanya dua jam itu menjadi satu jam. Satu jam selebihnya ia berusaha berbincang-bincang untuk mengenal lebih jauh, terkadang ia menyelipkan pujian atas kecantikan perempuan itu dan juga kepintaran gadis itu. Karena memang dibanding Jannah, Atik memiliki IQ yang lebih tinggi. Banyak pembicaraan mengenai politik dan social yang Harun dan Atik bicarakan.
    Lama-kelamaan sedikit senyum menghiasi wajah Atik ketika gadis itu mengunjungi Harun. Bahkan Atik mulai memandang wajah Harun ketika bocah itu menggagahinya. Namun selebihnya, Atik masih tidak banyak menimpali aksi Harun dalam persetubuhan.
    Perkembangannya yang perlahan dengan Atik selalu dilaporkan kepada gurunya. Gurunya memberikan masukan,
    “Kamu lebih mementingkan pendekatan seperti pacaran. Ini bukannya salah, namun memang menjadi agak lama. Seperti yang dulu aku ajarkan, kamu harus coba sedikit juga menyirep gadis ini. Contohnya, ketika kamu bicara dengan dia mengenai masalah sehari-hari, kamu dalam hati coba katakan ‘kamu tertarik pada pembicaraanku karena kamu tertarik padaku’. Karena, seperti ceritamu, kalian sangat antusias ketika saling berbicara. Kalian berdua nyambung. Ini adalah ketertarikan yang satu sama lain rasakan.
    “Dengan memberikan sedikit sugesti bahwa ketertarikan itu bukan hanya karena minat yang sama dalam pembicaraan, melainkan karena ketertarikan kepada lawan jenis, maka sedikit demi sedikit, alam bawah sadar perempuan ini dapat kamu bengkokkan menuju kamu secara lebih cepat lagi dibanding hanya dengan pendekatan biasa.”
    Mendengar ini, Harun lalu mencoba saran gurunya itu ketika giliran Atik untuk menyambanginya tiba. Sambil keduanya berbicara mengenai politik dan korupsi di kamar yang khusus disediakan bagi Harun, Harun menggunakan kekuatannya untuk menanamkan sugesti kepada alam bawah sadar Atik. Setelah sejam mereka berbicara, dan sepanjang itu pula Harun mensugestikan ketertarikan Atik, Harun mulai menarik badan Atik dan merangkulnya. Dikecupnya bibir gadis itu, dan saat itu Harun merasakan bahwa Atik mengecup balik.
    Harun kaget lalu melepaskan bibirnya untuk menatap mata Atik. Atik menundukkan kepalanya sementara wajah putihnya merah padam. Wah, benar juga kata guru, pikir Harun. Harun tersenyum lebar sambil memegang dagu Atik. Ditariknya keatas dagu itu sehingga wajah Atik kini sejajar dengan wajahnya.
    “Kamu cantik sekali, dewiku…”
    Atik menatap mata Harun dengan malu-malu. Harun mengecup bibirnya lagi. Atik membalas ciuman itu perlahan. Mereka berciuman cukup lama. Akhirnya Harun melucuti pakaian Atik hingga bugil. Setelah Harun juga telanjang, ia mulai menciumi payudara gadis itu. Atik mendekap kepala Harun dengan satu tangan, sementara mata gadis itu terpejam. Nafas gadis itu mulai memburu.
    Harun mencumbui payudara Atik cukup lama. Setelah itu, ia menyelomoti vagina gadis itu yang sudah becek dan mengeluarkan bau sedap kelamin gadis muda. Kini kedua tangan Atik mendekap kepalanya.
    Setelah merasa cukup, Harun memasukkan burungnya ke dalam sangkar kehormatan Atik, lalu menindih gadis itu. Atik memeluk Harun dengan kaki dan tangannya. Desahan Atik terdengar. Lebih keras daripada waktu mereka bersetubuh sebelumnya. Harun menarik kepala Atik ke kepalanya karena Atik saat itu masih lebih tinggi darinya, untuk mencium bibir gadis itu.
    Atik membalas kecupan Harun, namun saat lidah Harun masuk ke mulut wangi gadis itu, Atik tidak balas dengan lidahnya, melainkan hanya balas membuka menutup mulutnya jadi seakan mengenyot lidah Harun.
    Sampai lama mereka ngentot, akhirnya Atik memeluk Harun kuat-kuat sambil mengerang setengah berteriak ketika ia orgasme. Memek Atik yang berkedut-kedut membuat Harun tak kuat, apalagi kini, Atik sudah sedikit membalas cumbuannya, maka Harun ejakulasi di dalam lubang memek Atik.
    Harun senang sekali dengan kemajuan ini. Walaupun Atik belum penuh nafsu melayaninya, namun ada perubahan yang terasa pada sikap Atik. Apalagi di seluruh sesi ini Harun tidak menggunakan kekuatannya pada Atik untuk melayaninya. Maka mulai hari itu, tidak perlulah ia menyirep kedua gadisnya dalam berhubungan seks.
    Harun terus-menerus mengirimkan sugesti kepada Atik ketika mereka berbincang-bincang sebelum melakukan hubungan suami isteri. Sementara, dengan Jannah, Harun sudah sangat nyaman tanpa melakukan apa-apa lagi. Harun berbincang-bincang dengan Jannah paling banter lima belas menit. Ini juga karena ia penasaran seperti apa hobi Jannah, kesukaan Jannah, keluarga Jannah dan lain-lain. Namun setelah lima belas menit, Harun akan memeluk Jannah dan Jannah akan meledak nafsunya dan seringkali menyerang Harun duluan dengan ciuman-ciuman penuh nafsu.
    Jannah lebih aktif juga dalam menanyakan keinginan Harun. Jannah selalu bertanya pertanyaan seperti apakah Harun suka kalau Jannah potong rambut, potong bulu-bulu tubuh, suka posisi ini atau itu dan lain-lain. Juga Jannah tidak malu mengatakan bahwa gadis itu lebih suka posisi ini atau itu.
    Perkembangan Atik tidak lagi terlalu lambat. Tapi tidak bisa dibilang cepat juga. Pada bulan kelima Harun berguru pada Ki Asmoro Dewo, Atik sudah mencium sambil memainkan lidah dan juga sudah menggoyang pantatnya ketika dientot. Namun belum ada nafsu liar bagaikan Jannah di dalam diri Atik. Belum pernah Atik menyerang duluan.
    Namun dilain pihak, Harun lebih menyukai Atik dalam hal berbincang-bincang. Bahkan, Harun kadang curhat mengenai hal-hal di rumah, seperti ayahnya yang dingin dan jarang di rumah, ataupun ibu Harun yang tampak sedih selalu. Juga, Atik lebih concern mengenai pola makan Harun, atau bila Harun mendapatkan luka di tubuh akibat latihan bela diri yang keras dari Ki Asmoro Dewo. Sedangkan Jannah tampaknya lebih suka menjadi budak seks Harun dan bersedia bersebadan dalam posisi apapun yang disukai Harun tanpa banyak rayuan dan bujukan.
    Setelah setahun lewat, Harun menanyakan kepada gurunya apakah ilmu sirepnya sudah boleh ia gunakan kepada orang lain. Kata Ki Asmoro Dewo,
    “Nang (lanang), kini ilmu sirep kamu hanya aku yang dapat mengalahkan. Ini juga dikarenakan kamu belum sempurna menguasainya. 3 tahun lagi bahkan akupun akan tunduk oleh ilmu sirep kamu. Oleh karena itu, kamu boleh menggunakan ilmu itu. Namun ingat, berhubungan dengan perempuan, ilmu ini harus kamu hati-hati menggunakannya. Jangan sampai satu desa kamu gagahi semua perempuannya. Bila terjadi, kamu sendiri yang akan celaka.
    “Jangan kamu sia-siakan perempuan yang sudah kamu gagahi. Nanti kamu akan kualat sendiri. Itu mengapa isteriku hanya tujuh dan semuanya kunikahi. Hati-hati sama orang yang baik hati dan rajin beribadah, jangan kamu isengi. Ilmu kamu belum sempurna dan masih dapat terlihat kekurangannya di mata orang-orang pintar. Hati-hatilah. Selain itu, ilmu-ilmu lainnya belum kamu kuasai juga. Bahkan ilmu santet kamu juga belum berarti apa-apa. Seperti yang aku katakan, ilmu yang paling dalam sebagai penjagamu adalah ilmu santet. Maka kamu harus latih terus. mulai sekarang, tiap kali kamu ke sini, latihan ilmu sirep kamu akan dikurangi, dan waktu belajar ilmu santet akan diperbanyak.”
    Harun meninggalkan rumah gurunya dengan hati berbunga-bunga. Dengan penuh kebahagian, ia mulai merencanakan untuk dapat menggauli Asih, ibu kandungnya itu.
    Mau lihat cerita lain, silahkan lanjut ke:
    Indeks Cerita Pemanah Rajawali

  6. #5
    Adik Semprot Pemanah Rajawali's Avatar
    Daftar
    Jan 2012
    Lokasi
    Jianghui / Kangouw
    Posts
    107
    Thanks
    1
    Thanked 109 Times in 11 Posts
     THREAD STARTER 
    BAB EMPAT

    HARUN MENCOBA ILMUNYA

    Kini kekuatan sirep Harun sudah dapat dikendalikan sepenuhnya. Sehingga tak perlu rasa takut lagi yang memicu keluarnya kekuatan ini. Ki Asmoro Dewo telah mengajarkannya bagaimana untuk selalu menjaga agar kekuatan itu selalu siap. Sekarang, setiap saat dirasakan Harun ada perasaan ringan di kepalanya. Oleh karena itu, Harun harus selalu menjaga perkataannya agar tidak sering memberikan kata-kata perintah agar tidak mencurigakan orang. Kata-kata seperti “ke laut aja loh” tidak bisa dikatakan oleh Harun, karena kemungkinan besar orang yang dibecandai olehnya akan benar-benar pergi ke laut.
    Melatih kekuatan pikiran dengan suatu kesadaran bahwa mulutnya harus dijaga adalah sesuatu yang sangat sulit. Dengan susah payah, akhirnya Harun dapat menguasai kecenderungan ngomong asal njeplak. Kemampuan Harun menjaga omongannya ini berimbas ke hal lain. Guru-guru sekolah memuji Harun bahwa Harun sudah tampak lebih dewasa dan bertanggung jawab, orangtuanya memuji Harun sebagai anak penurut dan teman-temannya, bahkan yang lebih tua, merasakan ada wibawa tersendiri dari Harun yang seakan memancar dari dalam dirinya.
    Harun sampai di rumah jam 7 malam. Hari itu hari Minggu. Tadi baru saja ia pulang dari rumah Ki Asmoro Dewo dan ijin untuk menggunakan ilmu sirep sudah diberikan. Dengan senyum nakal dan sedikit jahil, ia masuk ke rumah dan mulai menebarkan ilmunya.
    Harun makan malam bersama kedua orang tuanya dilayani oleh pembantu mereka yang bernama Ijah, seorang perempuan berusia 40 tahun. Ketika makanan sudah habis, Harun mulai menggunakan kekuatan pikirannya untuk mensugesti seisi rumah agar mengantuk. Tiba-tiba saja bapak dan ibu Harun menguap yang disusul oleh Ijah. Harun tertawa dalam hati dan mengundurkan diri ke kamar.
    Lima menit kemudian Harun mengirimkan sugesti ke seisi rumah agar tertidur sampai pagi tanpa peduli dengan apa yang terjadi di sekelilingnya. Perlahan Harun pergi ke kamar orangtuanya. Dengan hati dag dig dug, Harun membuka pintu kamar orangtuanya lalu masuk kedalam kamar. Harun menyalakan lampu kamar. Dilihatnya ayahnya dan ibunya tertidur bersebelahan dalam selimut. Suara dengkur ayahnya terdengar mengisi ruangan.
    Harun membuka selimut sehingga seluruh tubuh ibunya terlihat. Ibunya sedang memakai daster bunga-bunga. Harun berkutat dalam pilihan antara ngentot ibunya saat itu atau tidak. Dipandangnya wajah putih dan cantik milik ibunya itu. Hidung yang mancung dengan rahang yang tinggi seperti yang dimiliki peragawati Ratih Sanggarwati, namun bibirnya begitu sensual seperti miliknya Soimah sementara mata lentiknya bila terbuka suka terkejap-kejap bagaikan mata gadis genit.
    Dibelainya pipi ibunya. Begitu halus wajah ibunya. Bahkan lebih halus daripada wajahnya Atik. Memang ibunya lebih banyak merawat tubuh, sehingga mana ada gadis desa yang dapat mengalahkan keindahan tubuh ibunya itu. Dikecupnya bibir ibunya. Bibir ibunya basah dan hangat. Bau nafas ibunya yang bersih dan hangat terasa di hidung Harun. Disedotinya bibir ibunya itu sambil dikecupnya sesekali. Bunyi bibir Harun yang mencipoki bibir ibunya terdengar jelas dibarengi suara dengkur ayahnya yang berada di sebelah mereka berdua.
    Tak terasa, Harun telah beringsut sehingga kini menindih ibunya. Harun menikmati cumbuan sepihak ini. Kedua tangannya memegang pinggir kepala ibunya, sementara bibir ibunya dengan rakus ia jilati, sedoti dan kecupi. Kadang-kadang ia menjepit bibir bawah ibunya dengan kedua bibirnya sambil mengenyoti bibir bawah itu.
    Harun menjadi makin bernafsu. Ia mulai menjilati seluruh wajah cantik ibu kandungnya itu. Bagaikan anjing haus, kedua pipi ibunya asyik digesek-gesek lidahnya, begitu juga dengan mata, jidat, dagu bahkan rambut hitam ibunya yang memancarkan bau shampoo.
    Setelah wajah ibunya basah oleh air liur Harun, Harun mulai menarik tali kanan daster ibunya hingga melewati pundak. Tetek kanan ibunya yang tidak memakai BH terlihat separuh, dengan puting payudara yang tiba-tiba tegak telanjang. Harun semakin buas dan segera memasukkan pentil itu ke dalam mulutnya. Disedotinya pentil itu sambil tangan kanannya meremasi tetek kiri ibunya yang masih tertutup daster. Sungguh kenyal dan empuk ditangan. Kulit ibunya begitu harum. Wangi melati sedikit tercium.
    Harun sudah tidak tahan lagi. Ia berdiri di samping tempat tidur, kemudian menarik daster ibunya ke atas. Agak susah karena ibunya sedang tidur. Dengan agak kasar ia memiringkan ibunya sehingga bagian belakang daster dapat tertarik ke atas. Setelah beberapa menit yang melelahkan, kini daster ibunya sudah menggerombol di atas dada, sehingga bagian payudara ke bawah terbuka. Tubuh putih dan seksi ibunya itu kini tampak jelas diterangi lampu kamar. Selangkangan ibunya ditutupi oleh celana dalam putih. Bibir memeknya terlihat. Harun menarik CD itu cepat-cepat hingga sampai pergelangan kaki. Lalu kaki kanan ibunya ia angkat sehingga celana dalam ibunya tergantung hanya di pergelangan kaki yang kiri.
    Harun mendorong kedua paha ibunya lebar-lebar sehingga ibunya ngangkang. Kaki kiri ibunya menindih kaki kanan ayahnya yang sedang asyik tertidur. Kini Harun dapat melihat Jembut ibunya tampak rapi dalam bentuk segitiga kecil yang tak terlihat bila pakai celana dalam, karena dipotong sehingga bulu kemaluan itu tidak akan menyembul di pinggiran celana dalam. Harun lalu terjun ke selangkangan ibunya untuk mulai menciumi daerah intim ibunya itu.
    Vagina ibunya begitu harum. Tampaknya ibunya meraw at bagian intim itu. Entah ibunya pakai parfum untuk memek ataukah rajin minum jamu khusus wanita. Dengan nikmatnya Harun mulai menjilati kemaluan ibu kandungnya itu. Lidahnya membelah bibir luar memek ibunya sehingga menyelip ke dalam merasakan hangatnya memek perempuan. Harun mengorek-ngorek bagian dalam vagina ibunya dengan lidahnya. Dirasakannya vagina ibunya lembab dan hangat. Lidah Harun menemukan klitoris ibunya. Disapukannya lidahnya ke itil ibunya itu berkali-kali. Lama kelamaan liang surgawi ibunya mulai lembab dan semakin hangat.
    Suatu saat Harun merasakan memek ibunya itu kini sudah basah oleh cairan yang bening dan membawa bau yang berbeda. Harun sudah berpengalaman, ia tahu bahwa bau badan perempuan akan tercium lebih jelas dari memek yang basah oleh cairan intim. Tahulah Harun kini bau badan ibunya yang sesungguhnya. Selama ini, ibunya selalu memakai parfum mahal sehingga tak pernah ia tahu bau tubuh ibunya itu. Apalagi ibunya hanya berolahraga ketika latihan aerobic, yang mana dilakukan di dalam kamar sendiri, sehingga Harun tak pernah tahu.
    Bau tubuh ibunya berbeda dari bau tubuh Atik atau Jannah. Atik dan Jannah sendiri memilik bau badan yang berbeda. Hanya saja, ada sedikit kesamaan dalam aroma mereka yang tak dapat Harun beberkan dengan kata-kata. Nah, bau itulah yang tidak ada dalam bau tubuh ibunya. Bila ingin digambarkan, bau tubuh ibunya itu lembut namun keras, tidak menyerang tiba-tiba, namun perlahan tapi setelah itu menguasai tiap relung indera penciumannya. Sungguh bau yang sangat enak dan anggun.
    Harun menggeleng-geleng karena kontolnya sudah berdenyut tidak karuan. Ia segera merapatkan selangkangannya ke selangkangan ibunya, ditaruhnya kontolnya di lubang memek ibunya, lalu dengan satu gerakan cepat ia menindih tubuh ibu kandungnya sambil mendorong pantatnya maju ke depan.
    “sleeeeeb……”
    Sensasi kontolnya yang perlahan memasuki vagina ibunya dan sepanjang jalan menggeseki dinding memek ibunya sungguh tak dapat dilukiskan dengan kata-kata. Lubang itu begitu hangat dan licin karena basah oleh cairan kewanitaan ibu apalagi sempit rasanya, hampir seperti peretnya dinding Jannah waktu pertama kali ia setubuhi. Harun ingat ketika ia melihat ibu dan ayahnya bersenggama, ayahnya memiliki kontol yang berukuran kecil. Mungkin ini sebabnya liang senggama ibunya begitu sempit.
    Harun menarik kontolnya lalu menusukkan lagi di dalam memek ibunya. Kembali dirasakannya vagina ibunya mencengkram erat kontolnya. Sebelum setengah kontolnya masuk, Harun mencabut kontolnya. Harun jadi penasaran, Harun mencari senter dan ternyata ada di meja rias. Diambilnya senter itu lalu disorotnya lubang vagina ibunya dengan satu tangan dan tangan lain membuka bibir memek ibunya. Dengan susah payah, harun melihat di pertengahan liang senggama ibunya, liang surgawi ibunya memang tampak kecil, berbeda dengan liang senggama Jannah maupun Atik, yang setelah berkali-kali disetubuhi Harun, menjadi lebar.
    Harun pernah dengar bahwa tiap wanita punya memek yang berbeda ukuran maupun bentuknya, ternyata ukuran lubang pun berbeda, terutama karena benda apakah yang pernah melewati lubang itu. Dilihatnya perut ibunya dan ada luka memanjang disana yang sudah lama sembuh. Rupanya ibunya dioperasi Caesar ketika melahirkan Harun. Masuk akallah bila ibunya masih memiliki liang yang sempit.
    Harun menjadi bersemangat. Aku harus merasakan liang surgawi ini! Namun apakah sekarang, ataukah nanti ketika Harun berhasil membuat ibunya takluk? Bila ia menyetubuhi ibunya ketika ibunya sedang disirep, maka lama kelamaan lubang itupun akan longgar, Harun merasa bahwa bila ingin menaklukkan ibunya, seperti si Arjuna menaklukan ibunya, salah satu point penting adalah menunjukkan kelebihan dirinya dibanding ayahnya. Ya, saat pertama kali menghujam memek ibunya, harus pada saat ibunya sadar, agar ibunya dapat merasakan besarnya kontol Harun.
    Akhirnya Harun memutuskan untuk nanti saja. Maka kini ia mencolokkan lagi kontolnya di dalam lubang kencing ibunya yang masih basah, namun kontolnya ditaruhnya melintang di belahan bibir kemaluan ibunya lalu mulai menggeseki bibir memek itu tanpa penetrasi. Walaupun hanya menggesek saja, Harun merasakan nikmat juga. Apalagi fakta bahwa ibunya masih memiliki liang yang begitu sempit menambah nafsu Harun.
    Ditindihnya tubuh ibunya yang sedang tertidur lelap itu. Berhubung ia lebih pendek dari ibunya, maka dengan mudah mulutnya menemukan pentil tetek ibunya hanya dengan menekuk kepalanya ke bawah. Sambil menyedoti tetek ibunya itu, Harun mulai menggowesi memek ibunya dengan batang kontolnya. Mulutnya bergantian mencucupi dada kiri dan kanan ibunya. Diselomotinya kedua payudara ibunya yang mancung itu dengan lahap. Dengan hati-hati, Harun menahan diri untuk tidak mencupangi kedua buah dada yang indah itu melainkan hanya menjilat, mencium saja, sementara sedotan khusus ia lakukan dipucuk puting ibunya saja.
    Perlahan ibunya mulai mendesah dalam tidurnya. Kemaluan ibunya kini sudah basah karena lendir pelumas dari dalam memeknya sendiri dan membasahi batang kontol Harun yang keras dan penuh vitalitas lelaki muda. Walaupun ibunya tertidur lelap akibat sirep, namun bukan berarti ibunya tidak bereaksi terhadap serangan Harun, ibu Harun memeluk kepala anaknya itu dengan kedua tangannya sementara kedua kakinya melingkari kedua kaki anaknya dari luar sementara dalam desahannya, perempuan itu menggumamkan sesuatu yang tak jelas terdengar, namun dari nada yang dikeluarkan, harun berpikiran bahwa tentu ibunya sedang mimpi basah.
    Libido Harun sudah semakin meninggi, pantatnya bergoyang cepat sekali dan tekanannya menjadi lebih kuat, membuat kontolnya menggeseki memek ibunya dengan keras. Tubuh ibunya dan tubuhnya berkeringat karena aktivitas ini. Pelukan ibunya pun makin erat, sementara dapat Harun rasakan pinggul dan pantat ibunya kini bergerak-gerak seirama dengan pinggul dan pantat Harun. Harun kini mabuk birahi sehingga mulutnya kini terpaku dalam menyedoti puting ibunya yang sebelah kanan saja.
    Akhirnya Harun sudah sampai puncaknya. Ia segera berdiri mencabut kontolnya lalu memuntahkan sperma di atas perut ibunya.
    Setelah itu, Harun mengusapi perut ibunya dengan tissue yang diambil dari meja rias sehingga perut itu bersih. Dengan perasaan sumringah, Harun meninggalkan kamar itu.
    Mau lihat cerita lain, silahkan lanjut ke:
    Indeks Cerita Pemanah Rajawali

  7. #6
    Adik Semprot Pemanah Rajawali's Avatar
    Daftar
    Jan 2012
    Lokasi
    Jianghui / Kangouw
    Posts
    107
    Thanks
    1
    Thanked 109 Times in 11 Posts
     THREAD STARTER 
    BAB LIMA

    PERKEMBANGAN BARU

    Hari berganti. Segalanya berjalan seperti biasanya. Harun berangkat ke sekolah pada pagi harinya setelah sarapan dengan ayah dan ibunya tanpa ada kejanggalan apapun. Aksi Harun semalam tidak seorangpun yang tahu kecuali Harun sendiri. Ibu Harun masih tampak seperti biasanya, berbincang-bincang sopan baik dengan ayahnya maupun dengan Harun. Ibunya masih menunjukkan wajah yang sedikit sendu. Sayang sekali wajah yang cantik itu jarang menunjukkan kebahagiaan, pikir Harun.
    Di sekolah Harun sedikit tidak bersemangat mengikuti pelajaran-pelajaran. Baru pada pelajaran terakhir yaitu Bahasa Indonesia, sedikit semangat Harun tergugah. Guru Bahasa Indonesia adalah seorang perempuan berusia 35 tahun bernama Bu Fenti. Harun selalu suka mengikuti pelajaran ini.
    Bu Fenti adalah wanita yang cantik dan pintar. Bu Fenti selalu memakai jilbab coklat yang senada dengan seragam gurunya. Walaupun pakaiannya tertutup rapat, namun dada yang terlihat menyembul di balik pakaian seragam itu sedikitnya menyiratkan betapa ranumnya payudara Bu Fenti. Kulit muka dan tangan Bu Fenti tidaklah putih. Malah cenderung agak gelap kecoklatan. Namun tampak kulit wajah dan tangan itu sangat halus dan seakan ada kilau yang memancar dari kulit coklat itu.
    Wajah Bu Fenti sendiri sangatlah menarik. Hidungnya tidak pesek, namun tidak juga mancung seperti hidung orang Eropa. Hidung itu tampak simetris di tengah wajah yang oval, dipagari oleh tulang pipi yang tinggi. Mulutnya tipis namun tidak kecil, matanya sedikit sayu. Raut mukanya begitu indah dilihat. Tinggi badannya agak lebih pendek dari ibunya, hampir sepantaran Harun. Sungguh, perempuan yang cantik khas sekali Indonesia.
    Tidak jarang Harun membayangkan bagaimana bentuk tubuh gurunya itu kalau tanpa ditutupi pakaian. Terkadang pula ketika ia menyetubuhi kedua gundiknya, ia membayangkan sedang bersetubuh dengan gurunya ini. Walaupun seringkali, terutama ketika menyetubuhi Atik, Harun juga membayangkan bersetubuh dengan ibunya sendiri.
    Harun memperhatikan Bu Fenti lekat-lekat tanpa mendengarkan seksama apa yang perempuan itu katakan. Ingin sekali ia mengetahui Bu Fenti lebih jauh, apa yang sedang dipikirkan perempuan itu. Apakah ia sedang memikirkan seseorang yang khusus yang telah mengisi hatinya.
    Bu Fenti adalah janda. Suaminya dahulu adalah kepala sekolah ini. Namun, dua tahun lalu ada skandal perselingkuhan lelaki itu dengan guru wanita baru. Guru muda cantik berkulit putih bernama Lani. Walaupun sebenarnya bagi Harun, Bu Fenti jauh lebih cantik daripada guru muda itu. Akibat skandal itu, Bu Fenti menceraikan suaminya, sementara suaminya mengundurkan diri dan pindah ke kota lain dengan Bu Lani yang akhirnya dinikahinya. Dari mantan suaminya itu, Bu Fenti mempunyai seorang anak gadis yang kini berusia 15 tahun bernama Yessi, kakak kelas Harun yang sekarang duduk di kelas 3 SMP.
    Saat itu adalah waktu untuk membaca, kelas tinggal lima belas menit lagi. Teman kelas Harun mendapat giliran untuk membaca dari buku cetak. Suasana kelas hening. Harun memperhatikan bahwa Bu Fenti sedang tampak melamun. Harun memperhatikan perempuan cantik itu lekat-lekat. Seluruh konsentrasinya ditujukan pada perempuan itu.
    Tiba-tiba saja didengarnya Bu Fenti berkata,
    “Aaaah…… boseeen………. Mau mati rasanya di sini………..”
    Harun lebih terkejut lagi ketika menyadari bahwa mulut Bu Fenti tidak bergerak. Tiba-tiba saja suara itu hilang. Harun yang cerdas segera mengerti bahwa entah bagaimana ia dapat mendengarkan pikiran gurunya. Mungkin karena konsentrasi yang penuh yang ia berikan. Patutlah ini dicoba lagi, pikir Harun.
    Ki Asmoro Dewo pernah berkata bahwa pikiran orang lain dapat didengar oleh seorang ahli sirep yang memiliki latihan puluhan tahun, namun terkadang ada orang juga yang memiliki bakat bawaan. Mungkin ini yang Harun miliki. Bakat. Bukankah ia sebelumnya juga punya bakat menyirep bawaan tanpa latihan? Mungkin sekali. Harun berpendapat bahwa ia sebenarnya memiliki bakat laten yang terpendam dalam membaca pikiran. Sangatlah masuk akal, bahwa latihan kebatinannya selama ini akhirnya memunculkan bakat itu ke permukaan. Harun menjadi Bahagia sekali. Bakat ini yang nantinya pasti akan menjadikan salah satu kepandaian yang berguna sekali.
    Dengan khusuk dan penuh konsentrasi, Harun menatap wajah Bu Fenti lagi. Bu Fenti yang merasakan sedang diperhatikan, balas menatap Harun. Sedetik jantung Harun berdegup kencang, namun anak ini menenangkan hati dan tidak menatap ke arah lain melainkan tetap mempertahankan pandangannya.
    Kembali Harun mendengar pikiran Bu Fenti,
    “Si Harun…. Selalu menatapku…… matanya itu……. Seakan menembusku……”
    Bu Fenti bergidik menatap mata Harun yang sedang mengawasinya. Perasaan ini ternyata dapat juga dirasakan oleh Harun. Ternyata selain membaca pikiran, Harun juga dapat merasakan apa yang dirasakan target konsentrasinya ini.
    Harun bertanya-tanya dalam hati apakah ia bisa mempengaruhi pikiran Bu Fenti. Bukan dengan sirep atau perintah, melainkan dengan memberikan suatu ‘visi’ atau suatu gambaran di benak targetnya itu. Maka, Harun mulai berkonsentrasi untuk membayangkan bahwa hanya mereka berdua yang berada di kelas ini.
    Betapa kagetnya Bu Fenti ketika merasakan bahwa keadaan kelas hening. Hanya ada dirinya dan Harun di kelas itu. Selebihnya hanyalah gelap. Bu Fenti merasakan takut yang amat sangat. Apakah yang sedang terjadi?
    Harun dapat merasakan ketakutan Bu Fenti. Wah, mungkin terlalu jauh permainannya ini. Oleh karena itu, Harun mulai melepaskan ‘pengaruhnya’ dari Bu Fenti, lalu Harun memandang ke arah jendela kelas, seakan menghindarkan tatapan pada Bu Fenti. Namun, Harun tetap berkonsentrasi untuk membaca pikiran Bu Fenti.
    Bu Fenti mendadak kembali berada di ruangan kelas dengan seluruh muridnya. Kelas kembali terang. Perempuan ini menjadi bingung. Apakah yang tadi terjadi? Pikirnya. Mengapa tadi ia merasakan hanya berdua di kelas ini? Apa maksud semua ini?
    Bu Fenti merasa bahwa mungkin ia sudah terlalu lama menjanda. Mungkin di bawah sadarnya ia mengharapkan hidupnya diisi lelaki lain. Tapi mengapakah tahu-tahu ia memikirkan si Harun? Harun hanyalah anak SMP. Tak pernah dalam hidupnya Bu Fenti merasakan ketertarikan kepada murid-muridnya, dan, iapun tak pernah membayangkan si Harun.
    Bu Fenti memperhatikan Harun yang sedang menatap jendela. Anak itu pasti melamun. Ingin ia menegur Harun yang sedang bengong itu. Wajahnya yang tampan tampak agak seperti orang bloon bila sedang melamun.
    Harun berdebar, ia mendengar pikiran Bu Fenti. Bu Fenti tampaknya menganggap Harun ganteng. Wah, pucuk dicinta ulam tiba, pikir Harun. Ini adalah sesuatu yang dapat dijadikan landasan untuk tindakan berikutnya.
    Harun menunduk lalu memejamkan mata. Dengan konsentrasi penuh, ia berusaha mengirimkan bayangan ke Bu Fenti. Ia membayangkan sedang berdua dengan Bu Fenti dan saling berangkulan mesra di depan kelas.
    Bu Fenti terkejut. Ia menjadi heran kenapa dirinya membayangkan sedang berangkulan dengan Harun di depan kelas. Ia masih dapat melihat seluruh muridnya, namun di lain pihak pikirannya bagai bercabang dan samar-samar bayangan dirinya dan Harun berpelukan melintas di pikirannya.
    Bu Fenti merasa jengah. Ia tak pernah berpikiran kotor seperti ini. Apakah salahnya sehingga mempunyai pikiran aneh seperti ini? Selama ini, ia telah berhasil meredam nafsu seksualnya semenjak bercerai. Seks bukanlah sesuatu yang menjadi tujuan hidupnya. Tentu saja seks itu sangat nikmat, namun bukan suatu kenikmatan yang menjadikannya pecandu. Tampaknya, usaha meredam nafsu ini akhirnya jebol juga.
    Bu Fenti memejamkan mata lalu berusaha menyingkirkan bayangan si Harun dari benaknya. Namun ketika matanya terpejam, otaknya malah dengan jelas memperlihatkan adegan mesum itu lagi. Kini dalam benaknya, Harun tiba-tiba memagut bibirnya. Anehnya, ia membalas ciuman anak itu dengan bernafsu.
    Saat adegan itu dibayangkan Harun, Harun juga mengirimkan sensasi erotis ke dalam pikiran Bu Fenti, sekalian ia mengirimkan sugesti bahwa Bu Fenti mulai bernafsu. Untuk anak remaja, usaha ini sangatlah hebat. Haruns selain mengirimkan gambar-gambar erotis, juga mengirimkan sensasi erotis dan bahkan sugesti sekaligus. Harun tak tahu, bahkan gurunya sekalipun tidak dapat melakukan itu.
    Hasilnya sungguh dahsyat. Bu Fenti merasakan memeknya mulai basah, seluruh tubuhnya seakan dikerubungi semut. Dalam benaknya, ia dan Harun berciuman penuh nafsu. Lidah Harun menyerang kedalaman mulutnya, sementara kedua tangan Harun yang mendekapnya, membelai-belai punggungnya dengan belaian kasar penuh birahi.
    Tubuh Bu Fenti gemetar menahan sensasi sensual yang seakan menyergapnya tanpa mampu ia kendalikan. Harun dalam benaknya kini mulai merabai kedua payudaranya yang masih tertutup pakaian. Memek Bu Fenti kini sudah basah dan membuat celana dalamnya menjadi basah juga. Bu Fenti jarang sekali membayangkan hal-hal yang erotis seperti ini, namun hari ini tiba-tiba saja berkhayal intim dengan salah satu muridnya.
    Tiba-tiba saja bel berbunyi. Dengan salah tingkah, Bu Fenti meminta petugas piket untuk memimpin doa, lalu akhirnya para murid keluar kelas setelah member hormat. Bu Fenti masih merasakan celana dalamnya basah dan menunggu murid terakhir keluar kelas. Ia memasukkan barang-barangnya ke dalam tas dengan perlahan. Ketika selesai, ia memandang ke arah bangku murid dan dengan kaget mendapati Harun sedang asyik membaca buku.
    “Harun. Kamu kok masih di sini?”
    “Harun mau tunggu sampai matahari ga terik lagi, Bu. Boleh ya?”
    Wajah Harun tampak memelas dan Nampak tulus. Apalagi timbul dalam hati Bu Fenti perasaan sayang yang aneh. Bu Fenti akhirnya mengangguk memperbolehkan Harun, ia hendak berdiri meninggalkan kelas, namun ada sesuatu yang menahannya. Ia menatap Harun. Ia memperhatikan wajah anak itu yang sedang tampak konsentrasi membaca. Wajah anak itu belumlah dewasa, namun makin lama dilihat wajah itu makin menarik. Memang wajahnya tampan, namun sebenarnya bukanlah tampan seperti model di Jakarta. Tampan seperti orang Jawa umumnya. Namun anehnya, Bu Fenti seakan ingin memperhatikan anak ini terus.
    Bu Fenti tidak tahu bahwa Harun terus mengirimkan bayangan wajah Harun kepadanya, juga dengan sugesti bahwa Bu Fenti semakin lama semakin tertarik kepada Harun, selain itu emosi dan perasaan Bu Fenti juga dipengaruhi sehingga timbullah perasaan sayang yang datang tiba-tiba.
    “Bu? Harun boleh minta bantuan?”
    Bu Fenti terkejut karena ia sedang melamun mengenai Harun ketika Harun menanya pada dirinya. Bu Fenti terdiam sebentar. Ada perasaan dalam dirinya bahwa Harun sedang membutuhkan sesuatu, dan sebaiknya ia menghampiri anak itu dan duduk di sampingnya.
    “Boleh saja.” Kata Bu Fenti dan tanpa sadar berdiri dari tempat duduknya. Ketika Bu Fenti berjalan melewati pintu, tiba-tiba ada perasaan aneh yang menyuruhnya untuk menutup pintu. Maka ia menutup pintu, lalu wanita itu mendatangi bangku samping Harun dan kemudian duduk di sebelahnya.
    Harun kemudian mulai berbicara. Ia curhat mengenai ayahnya yang tidak peduli kepada dirinya. Juga tentang ibunya yang dingin di rumah. Tentu saja hal mengenai ayahnya itu benar adanya, namun ibu Harun tidaklah sedingin yang digambarkan Harun. Harun mulai berakting sedih. Sedikit air mata bercucuran ketika ia mengatakan bahwa ia merasakan bagaikan anak yatim yang tidak disayangi orangtua.
    Bu Fenti merasa trenyuh lalu mendekap kepala Harun dan mulai menghibur anak itu. Harun memeluk Bu Fenti erat-erat sambil sesunggukan di dadanya. Tiba-tiba benak Bu Fenti kembali dikuasai birahi. Tubuh Bu Fenti sedikit bergetar karena menahan nafsunya itu. Hidung Bu Fenti yang sedikit mengenai rambut Harun mencium bau matahari khas anak remaja. Namun kali ini, bau itu sangat memabukkan dan membuat memeknya basah lagi.
    Saat itu Harun dapat memasuki pikiran Bu Fenti dalam sekali. Ia dapat merasakan benaknya menyentuh benak Bu Fenti. Benak itu bagaikan suatu bola besar dengan warna-warni yang menghiasnya. Ada warna yang mengatur emosi, ada warna yang mengatur perasaan, ada warna yang mengatur logika. Harun menyentuh benak Bu Fenti pada bagian logikanya, lalu menanamkan di dalamnya bahwa apapun yang dilakukan Harun adalah wajar.
    Kemudian Harun mengangkat wajahnya lalu menciumi bibir Bu Fenti yang basah dengan bernafsu. Bu Fenti yang sudah tidak dapat mengontrol logikanya lagi hanya membiarkan saja bibir kecil Harun menyelomoti bibir tipis sensual miliknya. Harun menyuntikkan sugesti lagi bahwa Bu Fenti akan menjadi liar ketika Harun mencumbunya.
    Bu Fenti membalas ciuman itu dengan penuh nafsu. Lidah Harun yang telah menjilati bibirnya kini disambut juga dengan lidahnya. Mereka saling bertukaran lidah dengan penuh nafsu. Dalam ketergesaannya, Harun mulai melucuti baju seragam Bu Fenti sambil terus berpagutan. Dibukanya kemeja seragam itu lalu dibuangnya ke lantai ketika telah dilucuti.
    Di balik kemeja seragamnya, masih ada singlet wanita yang secara cepat pula dilolosi. BH hitam Bu Fenti membungkus payudara yang bulat. Tampaknya 36B. Harun lalu menarik Bu Fenti berdiri untuk membuka roknya sehingga kini akhirnya Bu Fenti hanya mengenakan BH dan CD hitam saja.
    Tubuh Bu Fenti yang tidak terlalu tinggi tampak padat. Lengan Bu Fenti tampak sedikit gemuk, khas wanita dewasa Indonesia. . Ada sedikit lemak di perutnya, namun tidak buncit. Ada garis selulit di perutnya yang menandakan ia pernah melahirkan. Bagian di sekitar pusarnya tampak sedikit menonjol yang melebar ke samping ke arah pinggulnya yang menyebabkan pinggul Bu Fenti tampak berisi dan tidak terlihat tulangnya. Ada garis lemak di atas pahanya yang membuat kesatuan pinggul dan panggulnya tampak sangat manusiawi namun sensual. Di tambah lagi kulit tubuhnya yang ternyata lebih putih dari wajahnya. Wajah dan tangan Bu Fenti seringkali tertimpa matahari sehingga berwarna coklat kegelapan, namun kulit tubuh Bu Fenti memiliki warna yang lebih terang. Bahkan, kulit dadanya tampak hampir kuning langsat. Sungguh bagaikan lukisan indah seorang maestro. Karena warna kulit Bu Fenti tidak tampak loreng-loreng, melainkan pada berbagai tempat seperti tangan, leher dan wajah memiliki suatu gradasi warna dari terang ke gelap yang sempurna sekali.
    Tatapan Bu Fenti penuh nafsu memperhatikan Harun yang kini sedang melucuti baju sambil menatapnya. Bu Fenti pun mulai membuka BHnya. Akhirnya payudara yang bulat itu terlihat juga. Kedua payudara yang berwarna lebih putih dari bagian tubuh lainnya itu benar-benar hampir bulat. Kedua pentil Bu Fenti terletak tepat di tengah payudaranya. Daerah areolanya yang berwarna coklat gelap juga memiliki gradasi yang makin terang di pusatnya menjadi coklat muda. Namun pentilnya tampak berwarna seperti lingkar luar areola, coklat gelap juga. Besarnya payudara itu rupanya tersembunyi karena ukuran BH yang kecil yang dipakai Bu Fenti sehingga menekan payudara itu ke dalam. Kedua bulatan payudara itu cukup besar dan gemuk sehingga satu tangan Harun tak dapat menutupi satu payudara Bu Fenti.
    Kemudian Bu Fenti membuka celana dalamnya sehingga kini jembutnya yang lebat terlihat. Bau tubuh Bu Fenti mulai tercium di hidung Harun ketika Harun mulai mendekati Bu Fenti dengan perlahan. Ketika jarak mereka sangat dekat, mereka berdua saling menubruk dan berciuman lagi. Harun hanya perlu mendongakan wajah sedikit ke atas karena Bu Fenti hanya lebih tinggi sedikit darinya.
    Dengan penuh nafsu mereka berdua saling meremas dan berciuman. Lidah mereka beradu lagi dengan cepat. Air liur mereka bertukaran cepat, membasahi rongga-rongga mulut masing-masing dan bahkan juga sekitar bibir mereka.
    Kedua tangan Harun mulai meremasi payudara Bu Fenti. Bu Fenti mulai mengerang-ngerang dalam ciuman mereka. Tangan kiri Harun menjelajah ke bawah dan mendapatkan celah kenikmatan di balik semak belukar yang kini sudah basah kuyup oleh cairan kewanitaan Bu Fenti.
    Kedua tubuh mereka kini berkeringat pekat. Peluh bahkan masuk ke mata kanan Harun dan membuat matanya itu perih. Kelas yang tanpa kipas angin dan AC memang sudah panas, apalagi kini dua tubuh mereka yang telanjang sedang berdekapan yang mengantar panas tubuh satu sama lain. Harun menyukai bau tubuh Bu Fenti yang sedikit menyengat namun bersahabat dengan hidungnya.
    Harun melepaskan ciumannya dan kini merambah ke bawah kea rah tetek kanan Bu Fenti. Bu Fenti mengangkat tangan kanannya untuk mendekap kepala Harun. Bau tubuh Bu Fenti tercium jelas ketika ketek perempuan itu membuka. Saat itu, bibir Harun sedang berada di bagian atas payudara kanan Bu Fenti. Harun melirik ke samping kiri atas dan melihat ketek Bu Fenti yang dihiasi bulu-bulu halus yang menghiasi pertengahan ketek itu. Bulunya tidak lebat, namun dapat terlihat membentuk garis-garis tipis yang tidak begitu lebat namun membentuk bayangan hitam di celah ketiak itu.
    Harun memegang tangan kanan Bu Fenti dengan tangan kirinya lalu mengangkat tangan Bu Fenti itu. Ia segera menjilati ketek yang basah itu dengan buas. Bulu-bulu halus itu membelai lidahnya yang basah dan mengirimkan sinyal birahi yang begitu kuat.
    Tak tahan lagi, Harun mendudukkan Bu Fenti di atas meja, lalu membuka paha perempuan itu lebar-lebar, lalu menghujamkan penisnya ke dalam gua yang terlarang itu.
    Vagina Bu Fenti tidaklah serapat Atik atau Jannah, bahkan dibanding juga dengan ibunya. Namun bukan berarti terasa longgar. Melainkan cukup ketat juga membungkus kontolnya yang sudah tegang sedari tadi.
    Sambil menghujami kemaluan Bu Fenti dengan penuh semangat, Harun mengenyoti payudara kanan Bu Fenti. Bu Fenti kini mengerang keras sambil mendekap tubuh muridnya itu dengan eratnya. Suara selangkangan beradu yang sebelumnya tidak pernah terdengar di kelas ini, kini memenuhi ruangan, memantul dari dinding-dinding, disaksikan oleh papan tulis dan pernak-pernik kelas yang lain.
    Bu Fenti seakan merasa di surga. Sudah lama ia tidak diberi nafkah batin. Dan kini muridnya sendiri menafkahinya di dalam kelas! Bu Fenti tidak memikirkan apa-apa lagi, berhubung logikanya sudah dikuasai oleh Harun. Perempuan ini terhanyut dalam kenikmatan ragawi yang sedang direngkuh bersama dengan Harun.
    Kini Harun asyik menyelomoti tetek yang sebelah kiri, sementara tangan kirinya meremasi tetek kanan Bu Fenti yang sudah basah oleh campuran keringat mereka berdua ditambah dengan air liur dari mulut Harun.
    Saat itu Harun dapat mendengar suara langkah kaki pria mendatangi kelas. Ada yang mendengar mereka, rupanya. Bu Fenti mengerang keras sekali. Harun dengan sigap segera berusaha berkonsentrasi dan memusatkan pikiran untuk memasuki benak orang yang sedang datang.
    Rupanya penjaga sekolah. Harun dapat mendengar pikiran orang itu. Pak Priyo mendengar teriakan perempuan dari kelas ini. Kedengarannya seperti Bu Fenti yang cantik itu. Maka Pak Priyo tergopoh-gopoh mendatangi. Namun, tiba-tiba saja ia tidak mendengar apa-apa lagi. Bahkan, kini ia lupa kenapa ia ada di tempat ini. Bukankah tadi ia berencana untuk makan siang? Dengan linglung, Pak Priyo berjalan menjauhi kelas itu tanpa tahu bahwa Harun telah mempengaruhi benaknya.
    Bu Fenti yang tidak tahu apa-apa kini sedikit lagi mencapai klimaks. Pantatnya bergoyang bagaikan tornado. Ada suatu dorongan untuk menuntaskan birahinya secepatnya. Selangkangannya kini menumbuki selangkangan Harun dengan kecepatan dan kekuatan yang dahsyat.
    Harunpun sudah hampir sampai di batas kekuatannya. Kontolnya yang merasakan dinding basah memek Bu Fenti juga sudah ingin sekali memuntahkan spermanya. Pantatnyapun mengimbangi gerakan dan kekuatan Bu Fenti. Bunyi selangkangan mereka beradu kini membahana. Nafas mereka sudah ngos-ngosan, peluh sudah memandikan tubuh mereka.
    Dan akhirnya, diiringi jeritan kenikmatan Bu Fenti dan bentakkan kepuasan dari Harun, Harun menyemprotkan spermanya dalam liang senggama ibu gurunya itu yang sedang kelojotan karena mengalami orgasme setelah sekian lama guanya tidak ada yang mengunjungi.
    Selama beberapa menit setelah orgasme, Bu Fenti tidur di atas bangku. Harun yang kontolnya telah mengecil, duduk di hadapan gurunya itu.
    Bu Fenti akhirnya berdiri. Ia memandang Harun dengan mata penuh pertanyaan.
    “Ibu tahu kamu yang membuat Bu Fenti jadi begini. Entah dengan cara apa, Ibu tidak tahu.”
    Harun terkaget. Ia kemudian membaca pikiran Bu Fenti, dan anehnya, perempuan ini tidak marah. Malah ada rasa suka dari Bu Fenti. Bu Fenti adalah tipe perempuan yang ingin dikuasai oleh lelaki, dan entah bagaimana caranya, Harun berhasil menguasai perempuan ini.
    Harun berdiri. Ia Mengecup bibir Bu Fenti cukup lama, dan kemudian mereka berdua bergegas memakai baju untuk lalu meninggalkan tempat mereka memadu kasih.
    Mau lihat cerita lain, silahkan lanjut ke:
    Indeks Cerita Pemanah Rajawali

  8. #7
    Adik Semprot Pemanah Rajawali's Avatar
    Daftar
    Jan 2012
    Lokasi
    Jianghui / Kangouw
    Posts
    107
    Thanks
    1
    Thanked 109 Times in 11 Posts
     THREAD STARTER 
    BAB ENAM

    KAKEK GURU DATANG

    Malam itu hujan deras. Rumah Ki Asmoro Dewo telah basah diterpa hujan dan angin yang kencang. Bulan bersembunyi di balik awan gelap, menjadikan bumi tanpa penerangan. Bahkan lampu depan rumah Ki Asmoro Dewo tidak membantu penglihatan karena kalah oleh gelapnya malam. Kilat menyambar-nyambar di udara, menebar ancaman yang mendebarkan dada, namun kilas cahaya ketika ia menyambar untuk beberapa saat menerangi bukit itu. Tanah bukit sudah gembur oleh air yang meluap turun ke bawah. Jalan setapak tergenang air. Pohon dan semak mandi hujan. Daun-daun tertunduk diterpa air hujan yang tidak berbelas kasih. Bukan waktu yang baik untuk berpergian.
    Namun sesosok bayangan manusia bergerak perlahan di jalan setapak itu. Sesekali tubuhnya terlihat dalam kilasan cahaya yang sekejap menerangi dari kilat yang menyambar-nyambar ditengah hujan yang lebat itu. Seorang lelaki yang memakai ponco hijau tua yang kuyup oleh air hujan. Kepalanya selain dilindungi topi ponco itu, juga memakai topi caping lebar. Tangan kanannya menggenggam tongkat kayu berat yang menjadi penopang tubuhnya ketika berjalan. Lelaki itu berjalan perlahan, entah karena takut kepeleset atau memang dia orang yang sabar dan tak tergesa-gesa.
    Butuh waktu yang cukup lama sampai orang itu sampai di serambi rumah Ki Asmoro Dewo. Ia memasuki serambi itu lalu mengetuk pintu sesudah membuka capingnya. Ia hanya mengetuk beberapa kali dan lalu menunggu di depan pintu sambil bertelekan tongkatnya yang kini dipindahkan ke tangan kiri.
    Lelaki itu sudah tua. Rambutnya sudah putih semua. Wajahnya penuh keriput yang seakan menunjukkan bahwa usianya sudah sangat lanjut. Matanya jernih namun dalam. Pandangannya seakan menembus sanubari orang yang membalas tatapannya. Walaupun tua dan keriput, tubuhnya tidaklah rapuh melainkan tegap, walaupun kurus.
    Akhirnya pintu dibuka. Ki Asmoro Dewo sendiri yang membukanya. Ketika melihat tamunya, Ki Asmoro Dewo serta merta berubah mukanya menjadi kaget yang secara cepat pula berubah menjadi raut yang gembira sekali. Tampang Ki Asmoro Dewo kini bagaikan seorang anak yang baru dibelikan hadiah dari orangtuanya.
    “Guru!!”
    Ki Asmoro Dewo segera menyambut gurunya dengan mencium tangan kanan lelaki itu. Guru Ki Asmoro Dewo hanya tersenyum sekilas, namun matanya memancarkan perasaan kasih sayang kepada muridnya. Ia hanya mengangguk melihat penyambutan muridnya itu. Lalu, Ki Asmoro Dewo dengan sedikit membungkuk menyilahkan sang guru untuk masuk tanpa memperdulikan pakaian yang basah maupun sandal yang penuh lumpur.
    *****
    Ki Asmoro Dewo ketika mudanya adalah seorang anak berbakat. Anak indigo, sebutannya. Kemampuannya dalam berkelahi sudah terlihat semenjak usia delapan tahun. Selain itu, ia memiliki suatu wibawa dan kharisma bawaan sehingga disegani teman-temannya. Karena itu ia memiliki bakat dalam mempengaruhi orang lain. Bakat yang hampir sama dengan Harun. Hanya saja kalau dibandingkan, maka Harun memiliki bakat yang lebih besar.
    Karena bakat inilah Ki Sangga Jagat memilih Ki Asmoro Dewo sebagai muridnya. Nama asli Ki Asmoro Dewo adalah Dewanto. Setelah Dewanto menguasai hampir seluruh ilmu Ki Sangga Jagat, maka ia diberikan gelar Ki Asmoro Dewo. Ini dikarenakan kecenderungan Dewanto dalam bertualang asmara, sehingga ilmu yang dikuasainya dengan sempurna adalah ilmu yang berhubungan dengan asmara. Seperti pelet dan sirep.
    Hal ini sangat disayangkan Ki Sangga Jagat. Ki Sangga Jagat memiliki dua orang murid. Ki Asmoro Dewo adalah murid ke duanya. Murid pertamanya bernama Pardji. Seluruh ilmu beladiri dan santet dikuasai murid pertamanya ini. Sirep dan pelet dikuasainya juga, walaupun tak sehebat adik seperguruannya. Yang membuat Ki Sangga Jagat sedih adalah sebelum ‘lulus’ dari pendidikan dengan Ki Sangga Jagat, Pardji menunjukkan watak aselinya. Watak orang yang kemaruk harta dan kekuasaan. Pardji membuka sebuah praktek dukun diam-diam. Sebenarnya bila praktek ini untuk kebaikan, maka Ki Sangga Jagat tidak akan melarang, namun Pardji menspesialisasikan untuk menyantet orang.
    Akhirnya Pardji diusir oleh Ki Sangga Jagat. Kemudian Ki Asmoro Dewo diajarkan seluruh ilmu pribadinya. Namun, entah karena bakat yang kurang ataupun karena memang tidak jodoh, ilmu pamungkas Ki Sangga Jagat tidak dapat dikuasai Ki Asmoro Dewo. Sudah puluhan tahun Ki Sangga Jagat mencari murid ketiga, namun tidaklah mudah mencari seorang anak dengan bakat yang besar. Ki Sangga Jagat sadar, ia harus mencari seorang anak yang memiliki bakat luar biasa untuk dapat memakai ilmu ini.
    Ilmu Ki Sangga Jagat bukanlah ilmu temuan sendiri, melainkan ilmu yang sudah ada semenjak jaman kerajaan Jawa dahulu kala. Bila dirunut pada silsilah perguruan, para pendahulunya adalah para punggawa kerajaan-kerajaan besar. Ada yang menjadi salah satu perwira dari Panembahan Senopati di Kerajaan Mataram, ada yang menjadi perwira pada jaman Joko Tingkir berkuasa di Kerajaan Pajang. Bahkan, tertulis pada permulaan silsilah bahwa pendiri perguruan ini adalah salah satu panglima dari Kerajaan Majapahit yang mengundurkan diri karena pengaruh Gajah Mada yang haus kekuasaan.
    Sementara, ilmu perbawa dan sirep disempurnakan ketika salah seorang pendahulu Ki Sangga Jagat itu menjadi bawahan Panembahan Senopati. Kono menurut catatan di daun lontar itu, Panembahan Senopati menghadiahkan ilmu perbawa dan sirep kepada pendahulu Ki Sangga Jagat sebagai hadiah atas jasanya yang besar kepada kerajaan.
    Ilmu asal perguruan terutamanya adalah beladiri dan kebatinan. Konon ilmu ini adalah ilmu campuran antara silat keraton Majapahit dan ilmu dari negeri Cina yang didapatkan dari salah seorang perwira yang datang ke singosari untuk menghukum Kertanegara karena memotong telinga utusan dari Cina. Seperti tertulis di sejarah, Raden Wijaya menggunakan pasukan dari Cina ini untuk menghukum kerajaan Kediri (dengan Jayakatwang sebagai penguasanya) yang memberontak dan membunuh Kertanegara. Ketika perang usai, Raden Wijaya menusuk dari belakang dan mengocar-kacirkan pasukan dari Cina. Banyak perwira yang tertinggal di Jawa. Salah satunya, menurunkan ilmunya pada pendiri perguruan yang akhirnya menjadi panglima kerajaan Majapahit karena kedigdayaannya. Nama pendiri itu adalah Ekawira. Sebelum berguru kepada perwira Cina, ia sudah menjadi perwira di kerajaan Singosari di bawah Raden Wijaya. Ilmu silatnya adalah ilmu silat asli Jawa bercampur dengan ilmu kebatinan Hindu turn temurun dari keluarga. Setelah bertemu gurunya, perwira China bermarga Thio, maka diajarkanlah ilmu silat China yang melatih fisik dan tenaga dalam. Ilmu kebatinan dan Ilmu beladiri fisik inilah yang menjadi dasar ilmu Ekawira.
    Pada dasarnya, ilmu perbawa dan sirep dari Panembahan Senopati dapat dengan mudah menyatu dengan ilmu perguruan dikarenakan ilmu kebatinan yang menjadi salah satu tiang dasar ilmu perguruan ini. Kalau sebelumnya, ilmu kebatinan dipakai untuk meyakinkan ilmu beladiri (seperti ajian-ajian), kini ilmu kebatinan itu bercabang sehingga menjadi ilmu yang dapat mempengaruhi orang lain bukan secara kontak fisik, melainkan dengan mempengaruhi pikiran secara langsung.
    Perguruan ini tidak mempunyai nama. Karena memang tidak ada padepokannya. Pada mulanya ilmu ini diturunkan untuk keluarga saja. Namun, pada akhirnya, untuk melestarikan ilmu ini agar tidak punah, mau tidak mau ilmu ini harus diberikan kepada orang yang memang mempunyai bakat silat. Namun terutama, bakat dalam kekuatan pikiran. Hanya dengan gabungan antara kekuatan fisik dan kekuatan pikiran, maka ilmu pamungkas dapat dipakai.
    Kembali kepada Ki Sangga Jagat. Ia mendapatkan kabar dari murid keduanya bahwa telah menemukan seorang anak yang memiliki bakat besar dalam menggunakan kekuatan pikiran. Maka, mungkin inilah saat yang tepat untuk menurunkan ilmu pamungkas kepada pewaris yang berjodoh. Bila anak ini memang berbakat besar dan mampu mempelajari ilmu itu, maka cincin kekuasaan perguruan akhirnya dapat ia berikan, dan ia akan mengundurkan diri.
    Untuk itulah ia datang jauh-jauh dari Gunung Kawi ke rumah murid keduanya. Untuk mewariskan ilmu pamungkas perguruan. Untuk melestarikan ilmu yang sudah berabad-abad diturunkan dan disempurnakan. Dengan begitu, amanat para pendahulunya dapat dijalankan dengan baik.
    *****
    Di halaman belakang, Ki Sangga Jagat berbicara dengan murid keduanya. Mereka duduk di pavilion sederhana yang terletak didepan sebuah kolam ikan kecil.
    “Pardji kini menyebut dirinya Ki Jagatsudana. Kamu tahu maksud dia apa?”
    Ki Asmoro Dewo menggeleng.
    “Sudana itu adalah bahasa Sansekerta berarti pembunuh. Kalau kamu mendengarkan ketika aku dulu mengajarkan bahasa-bahasa Sansekerta, maka seharusnya kamu tahu. Wong di pikiranmu itu Cuma ada Wedhok… sebenarnya, banyak sekali dasar ilmu kita yang menggunakan ajian-ajian dengan bahasa Sansekerta. Namun memang orang harus ada bakat dan minat untuk mempelajarinya. Kedua hal ini, memang kamu kurang…
    “Nah Jagatsudana itu berarti pembunuh jagat. Jagat mana yang ia maksud? Ya jelas itu adalah aku. Si Pardji gendheng itu sudah berani-beraninya menantang aku!”
    “Guru. Kenapa kita tidak labrak saja dia?”
    “Ngawur! Aku ini sudah hampir seratus tahun. Kamu suruh aku perang dengan dia? Kamu kira dia itu berani begitu karena sudah bisa mengalahkan aku satu lawan satu? Dia itu sudah punya padepokan yang isinya begundal-begundal semuanya. Dia itu dari dulu penjahat. Tidak ada etika yang berlaku baginya. Sudah pasti ia akan main keroyok. Lagipula, dia ini sudah menjadi paranormal bagi pejabat negeri ini. Jadi, anak buahnya bukan hanya memiliki ilmu kanuragan, bahkan ada pula yang pakai senjata api. Belum lagi kalau si pejabat itu ikut turun tangan, bisa masuk bui kita…”
    “Lalu, apa yang kita harus lakukan, guru?”
    “Kita harus bersiap dan memupuk kekuatan. Kamu bilang kamu sudah punya murid yang berbakat. Aku mau lihat dia. Segera panggil dia ke sini. Nanti aku akan nilai apakah anak itu dapat menjadi pewaris ilmu pamungkas perguruan kita..”
    “Baik, Guru….”
    Saat itu, Hanifah, salah satu isteri Ki Asmoro Dewo datang membawa kopi. Hanya Hanifah yang masih bangun. Dan mendengar bahwa guru suaminya datang, ia segera merapikan diri lalu membuatkan minuman.
    Ada cerita unik yang hanya para isteri Ki Asmoro Dewo yang tahu. Dan tidak semua isteri itu tahu. Siti, isteri termuda tidak tahu cerita ini.
    Dahulu, Ki Sangga Jagat seringkali datang menyambangi murid keduanya ini. Bahkan dari awal-awal perkawinan muridnya. Pada mulanya Ki Asmoro Dewo tidak memiliki anak sampai perkawinannya berusia empat tahun. Akhirnya tahun keempat, isteri pertama Ki Asmoro Dewo melahirkan anak pertama mereka.
    Pernikahan kedua terjadi, untuk dua tahun Ki Asmoro Dewo tidak mempunyai anak, namun setelah dua tahun maka pernikahan itu dikaruniai seorang anak. Dan terus terjadi sampai pernikahan ke enam Ki Asmoro Dewo. Intinya, untuk beberapa tahun, sang isteri tidak hamil, baru kemudian hamil dan melahirkan.
    Kini, 2 orang isteri Ki Asmoro masih belum punya anak. Yaitu Hanifah dan Siti. Sudah lama Hanifah ingin punya anak, namun tidak bisa. Tahun lalu, akhirnya lima isteri Ki Asmoro yang sudah punya anak bercerita, bahwa sebenarnya Ki Asmoro kemungkinan besar mandul. Ke lima isteri Ki Asmoro itu ternyata pernah berhubungan seks dengan gurunya Ki Asmoro, dan tak lama kemudian mereka hamil. Jadi, anak mereka kemungkinan besar adalah anaknya Ki Sangga Jagat.
    Hanifah merasa kecewa bahwa rahasia ini ia ketahui belakangan. Selama ini, memang ia jarang sekali menemui Ki Sangga Jagat ketika orang itu berkunjung. Karena, Hanifah sebenarnya adalah perempuan pemalu. Namun ia juga merasa jengkel kepada para madunya itu karena membagi cinta dengan lelaki lain.
    Kini, ternyata Ki Sangga Jagat datang lagi ke rumah mereka. Dari ujung kamar tamu, ia mengintip untuk melihat sang guru, sebelum ia membawakan kopi di nampan. Wajah Ki Sangga Jagat tampak penuh keriput tanda sudah uzur. Seluruh rambutnya berwarna putih. Kalau dari cerita suaminya, sang guru kemungkinan berusia Sembilan puluh tahun, namun kalau dilihat tubuh lelaki tua itu masih kurus dan tegap. Seakan usia yang lanjut tidak berpengaruh pada kesehatan badannya.
    Ki Sangga Jagat melirik sebentar ke arah Hanifah yang sedang mengintip. Hanya sekitar dua detik, lalu mata itu beralih lagi ke arah suaminya yang sedang membelakanginya. Namun dua detik itu sungguh dahsyat dirasakan Hanifah. Hanifah merasakan dadanya berdebar-debar entah kenapa. Namun ia berusaha menepis perasaannya lalu berjalan mengantarkan kopi.
    *****
    Hanifah tidak dapat tidur. Cuaca gerah sekali. Ia hanya memakai kain sebagai pembalut tubuh karena udara yang panas. Kipas angin tidak dinyalakan karena ia memang tidak suka tidur kena kipas angin. Hujan telah reda, tapi entah kenapa kamar ini panas. Lampu kamar yang masih menyala mungkin menyebabkan udara lebih panas lagi, namun ia sudah terlalu malas untuk mematikan lampu itu.
    Jam dinding sudah menunjukkan pukul dua malam. Dari yang ia dengar, sudah setengah jam lalu suami dan guru suaminya itu berhenti berbicara. Seperti biasanya, suaminya masuk ke kamar Siti, isteri paling mudanya. Sementara, sang guru dipersilahkan untuk masuk kamar tamu oleh suaminya.
    Hanifah sangat mencintai suaminya yang ia nikahi ketika berumur 17 tahun. Saat ia berumur 16 tahun, ia sedang dalam kesusahan besar. Ia kabur dari rumah karena ibunya telah menikah lagi dengan ayah tiri yang jahat dan cabul. Hampir saja ia diperkosa. Sebelum terjerumus ke dunia malam, ia bertemu dengan Ki Asmoro Dewo yang menawari pekerjaan sebagai pengasuh anak di rumahnya.
    Singkat cerita, setahun kemudian mereka menikah karena ada gejolak asmara di antara mereka berdua. Ki Asmoro Dewo adalah figure kebapakan yang ngemong dan sabar. Lama kelamaan Hanifah menjadi sangat hormat dan menyayangi lelaki itu. Ketika Ki Asmoro Dewo mengutarakan niatnya untuk menikahinya, ia langsung bersedia.
    Menjadi satu dari 7 orang isteri dari lelaki yang sama adalah suatu beban. Terutama di bagian seks. Ia tidak dapat memiliki lelaki yang dicintainya itu sepenuhnya. Ia harus berbagi. Apalagi kini sudah ada isteri muda. Bisa dihitung dalam satu bulan, ia hanya disentuh beberapa kali. Hanifah tidak menyesal kawin dengan Ki Asmoro Dewo. Hanya saja banyak malam yang Ia lewatkan dengan rasa sepi yang menyedihkan, karena ia belum punya anak. Lima isteri yang lain sudah memiliki anak sehingga hari-hari mereka tidaklah terasa begitu sepi dan menyedihkan.
    Tiba-tiba gagang pintu berputar perlahan. Ia memang tidak mengunci pintu dengan harapan malam ini sang suami akan datang menyambanginya. Dengan harap-harap cemas ia melihat pintu perlahan terbuka. Perlahan sosok di balik pintu terlihat sedikit demi sedikit.
    Betapa kagetnya ketika ia melihat Ki Sangga Jagat yang membuka pintu. Hati Hanifah berdegup keras. Entah kenapa ia tidak berteriak kaget, seakan lidahnya kelu. Ia melihat Ki Sangga Jagat hanya memakai sarung. Kulit lelaki itu tampak memiliki bercak-bercak khas orang yang sudah tua, keringat lelaki itu terlihat membasahi badannya yang kurus. Lelaki itu tersenyum kepadanya.
    Seakan sedang bermimpi, atau malah sedang menonton film, Hanifah melihat perlahan sekali Ki Sangga Jagat menutup pintu dan menguncinya, lalu berjalan perlahan menghampiri tempat tidurnya. Berhubung selimut masih tergeletak di kakinya, maka kini Hanifah seakan merasa tanpa perlindungan apapun, kain yang ia kenakan bagaikan tak berarti terhantam pandangan mata lelaki uzur yang seakan menelanjanginya.
    Ki Sangga Jagat duduk di pinggir tempat tidur, melepaskan giginya dan menaruh gigi itu di dalam gelas air putih yang ada di samping tempat tidur yang selalu disiapkan oleh Hanifah. Ada rasa jijik yang dirasakan Hanifah melihat ini. Lalu, Ki Sangga Jagat merebahkan diri di samping Hanifah dengan miring menghadap perempuan itu. Lalu tiba-tiba lelaki tua itu mulai mengenyoti leher Hanifah dengan mulut ompongnya sambil setengah menindih tubuh kirinya.
    Tanpa mampu berteriak minta tolong, Hanifah merasa ketakutan yang amat sangat. Ia merasakan mulut tanpa gigi itu menyedoti lehernya. Geli sekali terasa ketika gusi telanjang itu melahap lehernya dengan buas. Seluruh tubuh Hanifah menggigil akibat rasa takut dan rasa geli yang bercampur aduk. Mulut ompong itu dengan penuh nafsu menggerogoti seluruh leher depannya sehingga ludah kakek itu kini mulai menyelimuti lehernya yang berkeringat. Hanifah memejamkan matanya erat-erat, berusaha untuk tidak melihat Ki Sangga Jagat yang sedang mencabulinya.
    Hanifah merasakan tangan kiri si kakek mulai meraba-raba dadanya yang setengah tertutup. Kulit telapak si kakek terasa kasar dan kapalan menyentuh dada kanannya, meremasi bukit susunya yang putih dan tertutup kain. Lalu mulut ompong si kakek mulai mengenyoti dagunya. Begitu lembut, hangat dan basah mulut itu. Ada aroma tembakau dan kopi dari mulut si kakek.
    Tak lama tangan kiri si kakek menyusup masuk dari atas kainnya dan kini tangan yang kasar itu bersentuhan langsung dengan tetek kanan Hanifah. Sensasi ini membuat Hanifah membuka mulutnya dan berdesah. Ia seakan melupakan kejijikan dan ketakutannya pada Ki Sangga Jagat. Momen ini dimanfaatkan dengan baik oleh Ki Sangga Jagat untuk melumat bibir perempuan cantik ini dengan mulutnya yang ompong.
    Hanifah merasakan ada lidah yang tebal dan kasar masuk kemulutnya, sementara bibirnya diemut oleh bibir yang basah dan lunak. Saat bibir si kakek melumat bibirnya dan tangan si kakek meremasi payudaranya yang sudah telanjang, Hanifah sudah terbuai oleh nafsu birahi yang tiba-tiba saja melandanya. Kemaluannya mulai basah karena cairan persenggamaan yang perlahan keluar dari mahkotanya itu.
    Sudah beberapa minggu Hanifah tidak dinafkahi oleh Ki Asmoro Dewo. Sudah lama sekali dirasa Hanifah tidak disentuh lelaki. Kini tiba-tiba saja nafsu yang terpendam selam ini seakan jebol keluar, meruntuhkan dinding pertahanannya, membuatnya lupa akan segala hal. Hanifah kini balas melumat lidah Ki Sangga Jagat. Kedua tangannya memeluk perlahan tubuh kurus si kakek.
    Ki Sangga Jagat bergerak merangkak di atas isteri muridnya itu, sambil terus berciuman, kedua tangannya membuka kain Hanifah yang hanya dilipat di pinggir saja. Lalu ia juga membuka sarungnya secara cepat dan melemparkan sarung itu sekenanya saja. Ketika mereka berdua telanjang, Ki Sangga Jagat menindih Hanifah.
    Hanifah merasakan kontol Ki Sangga Jagat terjepit antara tubuhnya dan tubuh si kakek. Ia merasakan burung si kakek begitu panjang dan besar. Lebih besar dan lebih panjang dibanding milik suaminya. Memikirkan ini, memek Hanifah menjadi bertambah basah sehingga membasahi selangkangan mereka berdua.
    Hanifah merasakan mulut si kakek meninggalkan mulutnya. Dengan sedikit kecewa perempuan itu membuka matanya. Ia melihat Kakek itu sedang memandangi tubuh telanjangnya sambil meremasi kedua payudaranya
    “Cantik tenan sampeyan, ndhuk…..”
    Lalu dengan buasnya, Ki Sangga Jagat melahap toket kiri Hanifah. Sementara, tangan kiri si kakek tetap meremasi payudara kanannya. Tangan kanan si kakek kini mengusap-usap vagina Hanifah yang sudah banjir dengan cairan lengket dan hangat dari kemaluannya.
    Hanifah merasakan geli yang nikmat ketika gusi ompong si kakek menyedot-nyedot pentil tetek kanannya. Remasan tangan kiri si kakek makin liar seakan ingin mencopot teteknya yang sebelah kanan, namun sensasi tangan kanan si kakek yang mengusapi klitorisnyalah yang membuat kepalanya pusing tujuh keliling saking nikmatnya.
    Beberapa saat kemudian si kakek melepaskan tindihannya di tubuh Hanifah lalu duduk agak ke bawah. Si kakek membuka kedua kaki Hanifah lebar-lebar. Hanifah tersipu malu melihat dirinya terbuka lebar seperti itu di hadapan Ki Sangga Jagat.
    Lalu Ki Sangga Jagat mulai menjilati kemaluan Hanifah yang basah oleh keringat dan cairan vagina. Hanifah merasa di awing-awang ketika lidah kasar Ki Sangga Jagat menyapu bibir memeknya dengan lahap. Dengan bantuan tangannya, kakek itu membuka bibir memek Hanifah, lalu menjilati bagian dalam memek perempuan itu.
    Hanifah yang selama ini mendesah-desah, kini mulai mengerang-erang. Pada mulanya ia takut kedengaran oleh suaminya, namun ia berfikir, guru suaminya tentu ilmunya lebih hebat lagi dari suaminya, sehingga kemungkinan besar malam ini suaminya sudah tertidur pulas disirep gurunya sendiri. Oleh karena itu, Hanifah mulai melepaskan gairahnya tanpa malu-malu dan takut lagi.
    “iya… ayo, Ki…. Jilat terus tempikku……. Minum cairan tempikku, Ki……. Nikmati kemaluanku, Ki…. Bersihin memekku pake lidahmu, Ki…. Aaaaah…… enak, Ki…. Teruussss….. teruuuussss…..”
    Setelah beberapa menit, Hanifah merasakan orgasme yang dahsyat. Kepalanya bagaikan berkunang-kunang dan seluruh tubuhnya seakan ikut menjerit, ketika ia menjerit dalam kenikmatan,
    “Aku sampai, Kiiiiiiiiiiiiiiiiiii……………………………….”
    Hanifah memejamkan matanya untuk beberapa saat karena kecapekan. Namun, Ki Sangga Jagat baru saja mulai. Kakek itu menghujamkan kontolnya ke dalam memek Hanifah lalu menindih perempuan itu.
    Hanifah membuka matanya karena kaget. Memeknya sakit sekali karena diterobos dalam satu kali tusukkan. Kontol besar Ki Sangga Jagat bagaikan membelah dua selangkangannya. Lubang memeknya seakan penuh diganjal oleh batang yang besar. Hanifah memeluk erat-erat si kakek sambil mengeluh kesakitan.
    “Awwwww…………. Sakit, Ki………….”
    Ki Sangga Jagat tidak bergerak melainkan mulai menciumi bibir Hanifah lagi. Hanifah dalam kesakitannya membalas ciuman yang menggelikan dari Ki Sangga Jagat. Lama-kelamaan ia mulai menikmati sensasi disedot-sedot oleh mulut yang ompong itu. Bau khas kelelakian keluar dari tubuh Ki Sangga Jagat. Bau yang sering tercium keluar dari kuli-kuli atau buruh-buruh di pasar. Bau yang selama ini bagi Hanifah menjijikan. Selama ini ia hanya menyukai bau tubuh suaminya. Apalagi suaminya yang kaya itu memakai wewangian mahal. Namun kini, aroma lelaki tulen yang dimiliki oleh guru suaminya itu malah membuat Hanifah bernafsu lagi.
    Hanifah membalas ciuman lelaki itu. Lidah mereka saling menjilat-jilat, seakan bersilat dan bergulat, bergumul berusaha merasakan saripati ludah satu sama lain. Kedua tubuh mereka kini berkeringat deras. Tubuh harum Hanifah menempel di tubuh kakek yang bau keringat lelaki. Ki Sangga Jagat mulai perlahan mengocoki memek perempuan itu dengan kontolnya yang besar.
    Telah lima isteri muridnya yang ia gauli. Ia tahu dari pengalaman bahwa kesemuanya memiliki memek yang sempit bagi kontolnya. Kontol muridnya memang tidak sebesar dan segagah dirinya, dan juga sperma muridnya tidak sekuat dirinya. Seluruh anak yang dilahirkan isteri muridnya adalah anaknya. Begitu bodohnya Ki Asmoro Dewo, pikir Ki Sangga Jagat.
    Makin lama kocokan Ki Sangga Jagat makin cepat dan kuat. Cairan vagina Hanifah sedari tadi kembali berlimpah keluar dari lubang kenikmatannya memudahkan gesekkan antara batang kontol si kakek dengan dinding liang surgawi Hanifah. Hanifah sudah berteriak teriak dalam kenikmatan,
    “yang keras, Ki…… encuki sing kuwat, Ki…….. encuki aku, Ki………….”
    Sementara selangkangan Ki Sangga Jagat sudah berkali-kali menghantam selangkangan Hanifah dengan keras menimbulkan suara benturan khas orang sedang ngentot. Hanifah serasa di langit ke tujuh saat ia merasakan memeknya kini bertubi-tubi dirojoh-rojoh kontol si kakek, di lain pihak mulut ompong si kakek juga sedang asyik mengenyoti lehernya yang penuh cairan campuran keringat dan ludah, ditambahi kedua tangan si kakek yang tak kenal lelah meremasi, memelintir dan mengusapi kedua payudaranya yang indah itu.
    Ki Sangga Jagat sudah lama tidak mengentoti vagina sempit seperti ini. Isterinya di rumah ada tiga orang, dan memek mereka sudah tidak serapat dulu karena tiap hari digenjot oleh kontolnya yang besar. Kini, ia bermaksud untuk tinggal di sini untuk sementara, selain untuk melatih murid baru, juga untuk meniduri isteri-isteri muridnya. Apalagi si Siti yang masih 17 tahun, pasti masih legit.
    Memikirkan si Siti, Ki Sangga tak tahan lagi, sehingga akhirnya dengan lenguhan panjang, kontolnya menyemburkan spermanya dalam-dalam ke liang senggama Hanifah. Hanifah yang nafsunya juga sudah di kepala, ketika merasakan siraman peju guru sang suami, kembali orgasme. Kali ini orgasmenya bahkan lebih dahsyat dari sebelumnya.
    Kedua insan itu akhirnya terkapar kecapekan di tempat tidur setelah mencapai klimaksnya.
    Mau lihat cerita lain, silahkan lanjut ke:
    Indeks Cerita Pemanah Rajawali

  9. #8
    Adik Semprot Pemanah Rajawali's Avatar
    Daftar
    Jan 2012
    Lokasi
    Jianghui / Kangouw
    Posts
    107
    Thanks
    1
    Thanked 109 Times in 11 Posts
     THREAD STARTER 
    BAB TUJUH

    MEMPERDALAM ILMU

    Akhir-akhir ini kehidupan rumah tangga Seto dan Asih semakin memburuk. Seto merasakan kebosanan yang amat besar setiap kali berdekatan dengan isterinya. Begitupula dengan Asih, perempuan ini merasa muak tiap kali berdekatan dengan suaminya. Entah kenapa setiap kali mencium bau tubuh suaminya itu, ingin rasanya ia muntah.
    Selain itu, Asih akhir-akhir ini mulai merasakan sesuatu yang aneh tiap kali berdekatan dengan anak lelaki satu-satunya. Ada perasaan deg-degan dan malu tiap kali anaknya berbicara dengannya. Seringkali Harun hanya memakai celana pendek tanpa baju, dengan berkeringat masuk ke rumah. Asih tahu anaknya itu berguru kepada Ki Asmoro Dewo, dari penglihatan Asih, tampaknya anaknya belajar silat dari lelaki itu.
    Walaupun Asih masih lebih tinggi sedikit dari anaknya, namun tubuh anaknya semakin hari semakin kekar, ototnya makin lama makin mengembang indah. Seringkali Harun selesai latihan silat di luar, masuk ke rumah dan berbincang dengan Asih yang biasanya sedang berada di ruang keluarga, entah menonton atau sekedar membaca majalah. Asih dapat menangkap bau tubuh anaknya yang berkeringat itu, dan entah kenapa memeknya menjadi basah dan tubuh Asih serasa merinding.
    Tidur malam pun selalu dihiasi dengan mimpi dirinya dicumbu oleh anaknya itu. Harun yang hanya memakai celana pendek akan mendatangi kamar tidurnya. Anehnya pada mimpi ini, Seto tidak ada di kamar tidur mereka. Lebih aneh lagi, mimpi Asih selalu sama.
    Asih hanya memakai kain batik saja yang melilit tubuhnya. Ia sedang berbaring tengkurap di tempat tidurnya. Harun memasuki kamarnya lalu berkata,
    “Ibu mau dipijit?”
    “boleh, nang. Ibu lagi pegal-pegal nih.”
    Lalu perlahan Harun akan duduk di sampingnya lalu mulai memijit bahunya. Pijatan Harun sungguh lembut, sedikit lebih keras dari mengusap, namun tidak terlalu keras seperti pijatan biasa. Asih merasakan tangan Harun yang kasar menggesek dan menekan kulit bahunya yang terbuka sehingga menyebabkan kemaluan Asih mulai basah.
    Kipas angin di kamar dimatikan. Sehingga udara begitu panasnya. Tak lama Asih dan Harun berkeringat. Jemari Harun terus mengusapi bahu telanjang Asih yang basah oleh keringat. Kulit halus bahu Asih yang kini licin oleh keringat memudahkan telapak dan jemari Harun untuk membelai dengan lancar.
    “Harun pijat punggung ya, Bu…”
    Tanpa menunggu jawaban, kedua tangan Harun menangkap ujung atas kain di bagian punggung Asih lalu menarik kain itu ke bawah. Akhirnya simpul kain yang terletak di depan tak mampu menahan tenaga betotan Harun yang mengakibatkan kain di bagian punggungnya mulai terbuka sedikit demi sedikit. Asih dapat merasakan angin menciumi punggungnya yang mulai terbuka. Ketika kain sampai di pinggang, tangan Harun mulai memijit punggungnya.
    Pijat mungkin bukan kata yang tepat, karena kedua tangan Harun terbentang membuka dan menekan punggung telanjangnya lalu telapak itu menggosok punggungnya naik turun secara perlahan. Harun membelai-belai punggungnya dengan usapan-usapan penuh nuansa erotis.
    Asih menikmati telapak kapalan anaknya membelai punggungnya yang basah itu. Kulit halus punggungnya menikmati usapan demi usapan. Ia merasakan begitu nikmatnya telapak yang kasar itu menggeseki punggungnya. Nuansa erotis belaian itu menyebabkan vagina Asih menjadi banjir. Sampai ketika kedua tangan itu menyusup masuk ke bawah, melampaui kedua lengannya dan memegang kedua buah payudaranya dari samping, barulah naluri keibuan Asih timbul dan Asih berkata,
    “Jangan, Nang!”
    Dan mimpi itu berhenti. Asih pada saat ini tersadar, namun belum bisa langsung membuka mata. Setelah kurang lebih dua menit berlalu, maka Asih dapat membuka matanya dan mendapatkan dirinya sedang tengkurap dengan suami yang tidur ngorok di sampingnya. Ia berkeringat walaupun kipas angin menyala. Dasternya tertutup rapat, namun Asih merasakan kulit punggungnya seakan baru saja ada yang membelai. Bukan mimpi. Ada sensasi di kulitnya yang seakan baru saja diusap orang. Asih merasakan kebingungan yang tak dapat dijelaskan.
    Harun adalah penyebabnya. Asih tidak tahu bahwa setiap malam, anaknya akan menyirep seisi rumah, lalu mulai beraksi. Harun memasuki alam bawah sadar ibunya dan memasuki mimpinya. Sementara, Harun sendiri mendatangi ibunya, membalikkan tubuh ibunya hingga tengkurap, lalu membuka daster ibunya yang memiliki tali yang tipis dan panjang sehingga mudah diloloskan dari lengan, lalu memeloroti daster itu hingga di pinggang.
    Harun terus menginvasi mimpi ibunya, sementara dalam keadaan nyata, ia menggerepei punggung ibunya itu. Kipas angin yang mati adalah karena dimatikan oleh Harun. Ini membuat mereka berdua berkeringat. Hal mana yang sangat disukai Harun, karena tubuh ibunya yang berkeringat seakan bercahaya karena memantulkan lampu kamar yang selalu Harun nyalakan ketika ia memasuki kamar orangtuanya ketika sedang berusaha mengkondisikan ibunya agar menerimanya.
    Namun, ibu Harun adalah tipe orang yang penuh perjuangan. Walaupun sudah sebulan Harun menginvasi pikiran ibunya, namun tiap kali kedua tangannya menggenggam payudara yang kencang milik ibunya itu, naluri keibuan dan juga logika dari ibunya, menghapus segala invasi yang ia lakukan dalam benak ibunya itu. Setiap kali ini terjadi, Harun akan menyirep ibunya agar tidak segera bangun, walaupun dalam keadaan sadar, lalu membenarkan daster ibunya, menyalakan kipas angin, lalu akhirnya mematikan lampu dan keluar dari kamar.
    Sebenarnya apa yang dilakukan Harun sulitlah dilakukan orang-orang yang jago hipnotis ataupun sirep. Karena korbannya sudah sadar, namun secara fisik, indera orang itu ditutup, sehingga tidak merasakan bahwa pakaian yang dipakai diutak-atik, tidak mendengar kegaduhan Harun bangun dari tempat tidur ataupun mematikan lampu dan lain sebagainya.
    Walaupun Harun kecewa bahwa selama sebulan ia belum dapat maju-maju dalam usahanya, namun sebenarnya Harun seharusnya senang, andaikan dia tahu, bahwa hanya sedikit orang yang memiliki kemampuan seperti dirinya. Bahkan sesungguhnya Ki Asmoro Dewo kemampuannya tidaklah mencapai seperti apa yang dimiliki oleh Harun.
    Paginya ada utusan dari gurunya datang menyampaikan kabar dari gurunya untuk segera mendatangi rumah gurunya itu. Maka Harun menyampaikan pesan bahwa ia akan datang setelah sekolah. Sebenarnya Harun agak sebal, karena ia sedang berusaha mendapatkan celah agar ibunya mau menerimanya secara seksual, namun, tidak pernah gurunya menyuruhnya datang seperti ini. Tentu ada sesuatu yang sangat penting. Sehingga akhirnya Harun pikir tak ada salahnya juga hari ini ke tempat gurunya.
    *****
    Singkat cerita, akhirnya Harun bertemu dengan kakek gurunya. Kakek gurunya menceritakan riwayat murid pertamanya yang menjadi jahat dan murtad. Selama perbincangan mereka, Ki Sangga Jagat menggunakan ilmunya untuk memasuki pikiran cucu muridnya itu. Ilmu ini tidak dapat dikuasai oleh Ki Asmoro Dewo sehingga Harun tidak pernah mengetahuinya.
    Namun, Ki Sangga Jagat kini ketemu batunya. Ketika ia berusaha membaca pikiran cucu muridnya itu, ia seakan ketemu tembok yang menghalangi pandangan. Berkali-kali ia coba tembus, namun tidak berhasil. Harun sebaliknya, ketika pertama kali kakek gurunya berusaha memasuki pikirannya, ia merasakan ada suatu arus tajam yang memasuki benaknya. Seakan pisau yang menembus pikirannya. Serta merta, Harun mencoba untuk menangkis serangan ini, namun tidak berhasil pada kali pertama dan pisau itu terus menusuk, sehingga akhirnya Harun membayangkan bahwa kepalanya dilindungi oleh suatu medan tak terlihat yang tidak dapat menembusnya. Dan dengan medan tak terlihat ini, serangan Ki Sangga Jagat tidak dapat lanjut, bahkan terdorong sehingga berada di luar dinding perisai yang dibuatnya itu.
    Ki Sangga Jagat yang saat itu sedang bercerita mengenai murid murtadnya, untuk sementara berhenti bicara. Ia memicingkan matanya dan menatap cucu muridnya tajam-tajam. Harun merasakan pisau ini kini seakan bertambah besar dan berusaha merobek dinding perisainya. Namun, untungnya serangan itu tidaklah mampu menembus pertahanan Harun.
    Harun tahu ia sedang diserang oleh kakek gurunya, ia ingin sekali mengetahui maksud kakek gurunya itu. Maka sambil mempertahankan perisai pertahanannya, ia mulai mengkonsentrasikan diri untuk mendengar pikiran gurunya.
    Inilah perbedaan mendasar dari kakek guru dan cucu muridnya itu. Apa yang dimiliki oleh Ki Sangga Jagat adalah ilmu ciptaan manusia. Ilmu ini sifatnya menyerang, maka dirasakan Harun bagaikan pisau yang membelah benak dan berusaha membaca pikiran setelah mengobrak-abrik benak orang tersebut. Bila ilmu ini belum sempurna, maka korban dapat saja menjadi terluka, contoh yang paling banyak terjadi adalah korban menjadi berubah sifatnya menjadi pendiam dan introvert, biasanya orang bilang korban cuci otak, namun sebenarnya adalah karena diserang oleh ilmu yang tidak sempurna.
    Sementara, Harun memiliki bakat. Ia dapat masuk ke dalam benak orang dan menyerang seperti halnya seperti yang ia lakukan pada ibunya, namun serangan ini lebih lembut. Pertama-tama, ia mendengarkan dahulu pikiran orang, lalu ia dapat mencari celah untuk merubah pikiran ini perlahan-lahan.
    Jadi, bila untuk membaca pikiran korban Ki Sangga Jagat harus menyerang terlebih dahulu, Harun di lain pihak, mendengarkan pikiran korban, baru nanti dapat memutuskan untuk menyerang atau tidak.
    Hanya sedikit sekali orang yang dapat mendengarkan pikiran orang lain. Seperti kita ketahui, otak memiliki gelombang dalam frekuensi khusus yang berbeda tiap insannya. Gelombang otak ini adalah interaksi antara syaraf-syaraf otak yang bermiliar jumlahnya, tiap jalur yang dibuat adalah apa yang kita sebut memory. Sehingga, ketika kita berfikir, kita sebenarnya memanfaatkan jalur-jalur sinoptik antara syaraf-syaraf tsb.
    Harun adalah satu dari segelintir orang yang mampu mendengarkan gelombang otak, sehingga dapat membaca pikiran orang lain. Namun, kata ‘membaca’ pun sebenarnya tidaklah tepat. Karena Harun sebenarnya melihat kilasan gambar-gambar dan juga merasakan gelombang emosi sang korban. Manusia sebenarnya, ketika sedang berfikir, sebagian besarnya adalah kumpulan memory yang terdiri dari gambar-gambar ditambah nuansa emosi ataupun sensasi indera. Contoh, ketika kita membayangkan peti mati, rata-rata orang sebenarnya membayangkan ‘gambaran’ peti mati, ditambahkan ada emosi seperti: takut atau sedih. Sama halnya bila kita memikirkan buah apel, kita sebenarnya membayangkan gambaran buah apel, ditambah dengan sensasi rasa apel itu di lidah.
    Dan inilah yang membuat Harun lebih mampu penetrasi lebih jauh ke benak orang, tanpa melakukan serangan. Ia hanya mendengarkan pikiran orang lain, sehingga mampu melihat apa yang dilihat korbannya, mampu merasakan apa yang dirasakan korbannya.
    Kini, Harun dapat merasakan emosi kakek gurunya. Kakek gurunya terkejut, kagum dan gembira. Harun kini tahu bahwa kakek gurunya itu ingin mengajarkan ilmu wasiat dari perguruan mereka. Sebuah ilmu yang sangat dahsyat, yang begitu susah dipelajari orang normal, namun bila dipelajari orang yang berbakat, maka akan dapat menjadi sesuatu yang mengerikan.
    “Bagus. Kamu dapat menghalangiku untuk membaca pikiranmu. Mulai saat ini, aku yang akan mengajarkanmu ilmu perguruan kita,” kata Ki Sangga Jagat tanpa mengetahui bahwa cucu muridnya telah membaca pikirannya.
    *****
    Mulai saat itu, Harun belajar langsung kepada kakek gurunya. Ilmu silat dan ilmu kebatinan kakek itu terbukti sangat mumpuni. Dan dalam kurun waktu setahun saja, Harun sudah dapat maju pesat sehingga bahkan ilmu kebatinannya sudah jauh di atas gurunya, Ki Asmoro Dewo. Sedangkan dalam ilmu silat, tentu lebih perlahan perkembangannya, Karena ilmu silat adalah sesuatu yang harus ditimba sedikit demi sedikit. Harun mengetahui seluruh teknik latihan, teknik berkelahi dan teknik pernafasan. Namun, untuk menjadi seorang yang digdaya, paling tidak membutuhkan waktu lebih dari lima tahun.
    Baiklah kita untuk tidak memfokuskan diri kepada perkembangan ilmu kedigdayaan Harun, dikarenakan segala pelatihan ilmu bila ingin diperlihatkan sebenarnya tidaklah diperlukan dalam suatu cerita. Maka Bab selanjutnya akan lebih memfokuskan kepada interaksi Harun dengan orang-orang disekitarnya.
    Mau lihat cerita lain, silahkan lanjut ke:
    Indeks Cerita Pemanah Rajawali

  10. #9
    Adik Semprot Pemanah Rajawali's Avatar
    Daftar
    Jan 2012
    Lokasi
    Jianghui / Kangouw
    Posts
    107
    Thanks
    1
    Thanked 109 Times in 11 Posts
     THREAD STARTER 
    BAB DELAPAN

    SITI

    Semenjak berguru dengan Ki Sangga Jagat, Harun semakin sering bertandang ke rumah Ki Asmoro Dewo. Dalam seminggu, ia menyambangi rumah gurunya sampai 4 kali. Bila hari biasa, maka Harun akan langsung ke rumah gurunya itu seusai sekolah, lalu kembali pulang sekitar pukul Sembilan malam. Cukup melelahkan, namun lama kelamaan, ilmu silat dan kebatinan yang diajarkan kakek gurunya itu mulai menunjukkan faedahnya. Tubuh Harun semakin bugar sehingga latihan-latihan itu tidak membuat tubuhnya kelelahan.
    Yang menarik bagi Harun selain ilmu-ilmu yang diajarkan, kenyataan bahwa Harun akhirnya mengetahui rahasia keluarga Ki Asmoro Dewo. Ternyata semua anak gurunya itu sebenarnya adalah hasil hubungan gelap para isteri gurunya dengan kakek gurunya.
    Harun segera berusaha mencari tahu mengenai Siti, isteri terakhir gurunya yang baru berusia 17 tahun. Jarang sekali Harun bertemu isteri-isteri gurunya. Selain karena rumah gurunya yang luas, juga karena gurunya agak protektif dengan hartanya yang satu ini. Bahkan, makan malam tidak pernah semua isteri gurunya ikut makan bersama dengannya dan kakek gurunya. Paling hanya Hanifah. Dari pikiran Hanifah inilah Harun mengetahui perhubungan gelap para isteri gurunya dengan kakek gurunya.
    Pernah suatu saat, ia bertemu Siti. Gadis tujuhbelas tahun ini memiliki tinggi yang sejajar dengan Harun, namun, gadis ini sedikit agak gemuk. Gemuk, bukan gendut. Namun dari tubuh yang chubby ini, terlihat dua buah gundukan payudara yang besar menyembul di dadanya. Kemungkinan besar cup C atau bahkan mungkin D. Kulit Siti berwarna putih. Wajahnya manis. Ada sedikit kumis tipis di ujung atas bibirnya yang menambah manis senyumannya. Rambutnya panjang sebahu. Lengannya memiliki bulu-bulu halus. Suara yang dimilikinya sedikit nyaring namun membuat lelaki bernafsu mendengar kata-kata yang terujar dari bibirnya yang merah dan sedikit tebal sensual.
    Harun mengetahui juga bahwa hanya Ki Asmoro Dewo yang pernah meniduri gadis ini. Sementara, Harun dapat membaca pikiran kakek gurunya ketika sedang berbicara dengan Siti. Kakek gurunya bernafsu mendapatkan perempuan ini. Dapat dirasakan Harun berkali-kali kakek gurunya berusaha menanamkan gambar-gambar erotis ketika sedang berbincang dengan Siti. Namun, Harun yang juga kepincut perempuan ini, segera memodifikasi gambar ini sehingga di benak Siti gambar itu berupa Harun dan Siti yang bercumbu liar.
    Kakek gurunya bingung. Harun dapat membaca pikiran kakek itu, dan Ki Sangga Jagat sedang curiga bahwa cucu muridnya yang pintar itu berusaha menyabotase usaha yang ia lakukan. Namun, Harun selalu memasang muka tak bersalah, bahkan seringkali Harun meninggalkan ruangan agar menghilangkan kecurigaan kakek gurunya. Namun, Harun kini menguasai ilmu baca pikiran dengan sangat sempurna. Bahkan dalam jarak lebih dari dua ratus meter, ia dapat membaca pikiran orang dan menanamkan sugesti ke orang tersebut. Sehingga, pertarungan mendapatkan Siti dilanjutkan oleh Harun bahkan dari ruangan lain!
    Selama enam bulan usaha Ki Sangga Jagat berusaha mendapatkan Siti selalu gagal. Ki Sangga Jagat mendapatkan bahwa pikiran perempuan ini cukup kuat. Ia sudah tidak curiga lagi dengan cucu muridnya, melainkan merasa bahwa Siti adalah orang yang memiliki karakter sangat kuat sehingga susah dipengaruhi, dan tampaknya perempuan ini sedang naksir berat dengan cucu muridnya.
    Di lain pihak, Siti selama enam bulan ini menjadi gundah. Ia tak dapat menyingkirkan Harun dari pikirannya. Ia selalu membayangkan Harun mencumbui dirinya. Mungkin inilah yang dinamakan cinta. Memang, Siti menikah dengan Ki Asmoro Dewo bukan karena cinta, melainkan karena perintah orang tuanya. Orang tuanya berhutang budi besar sekali kepada lelaki ini. Keluarganya yang seharusnya sudah hancur ke jurang kenistaan, telah ditolong sehingga kini keluarga Siti menjadi keluarga terpandang dan kaya di kampung halamannya sana, di daerah perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Barat.
    Pada bulan keenam ini, tepat ketika hari Sabtu di mana ia sedang menginap. Harun memutuskan untuk menyirep seisi rumah. Ia penasaran apakah ia mampu menyirep guru dan kakek gurunya juga. Patut dicoba ilmu kebatinannya sudah sampai mana. Bila ketahuan pun, Ia dapat berdalih bahwa ini adalah usaha untuk menyempurnakan ilmu dengan melatihnya.
    Ada ajian-ajian dalam ilmu kebatinan, namun, Harun dapat menyirep tanpa ajian-ajian itu. Harun mendapati bahwa bila ia menggunakan ajian, ia merasakan bahwa tenaga pikirannya dikeluarkan lebih besar, karena ada unsur paksaan, namun bila ia menggunakan kekuatan pikirannya tanpa ajian, tenaga pikiran yang dikeluarkan lebih kecil. Bahkan, terkadang dari percobaan-percobaan yang ia lakukan pada Atik dan Jannah, ia merasakan bahwa kekuatan bakat dari pikirannya lebih memiliki ikatan yang sangat kuat dibanding dengan ajian-ajian. Perbedaan secara jelas adalah, ajian-ajian itu bersifat keras dan memaksa, sementara kekuatan pikiran Harun bersifat lembut dan seakan menanamkan suatu sugesti sehingga si korban melakukan perintahnya bukan karena paksaan, melainkan karena merasa bahwa memang itu yang diinginkan si korban sendiri. Bagaikan tenaga dalam, ajian-ajian bagaikan Gwa Kang, atau tenaga kasar, kekuatan pikiran bagaikan Lwee Kang, atau tenaga lembut.
    Jarang sekali Harun menggunakan ajian-ajian. Ia sebenarnya enggan mempraktikan ajian-ajian tersebut. Namun, pelajaran kebatinan tidak hanya ajian-ajian. Ada juga cara melatih konsentrasi dengan samadi, cara mempertahankan ikatan pikiran, cara mengendalikan kekuatan pikiran, yang selalu diterapkan ketika Harun sedang ‘mengerjai’ korbannya.
    Maka, Harun malam itu menggunakan kekuatan pikirannya dan menebarkan sirep ke seisi rumah. Tingkat ilmu Harun sudah sangat tinggi setelah setahun ditempa oleh Ki Asmoro dan enam bulan ditempa oleh Ki Sangga Jagat, sehingga saat melepaskan kekuatan pikirannya, ia dapat merasakan satu demi satu orang yang telah terkena ilmunya itu.
    Ketika memasuki benak Ki Sangga Jagat, Harun mengalami kesulitan. Memang mudah membaca pikiran kakek gurunya, namun, untuk dapat memasuki benak lelaki tua itu secara perlahan susah sekali. Kekuatan Harun bagaikan terhadang suatu tembok kokoh yang tidak dapat ditembus. Sementara, Harun dapat mengetahui bahwa kakek gurunya kini sedang curiga pikirannya sedang diserang. Harun tahu bahwa Ki Sangga Jagat kini merapal ajian benteng pertahanan agar tidak mudah diserang. Harun tahu bahwa kakek gurunya itu agak kalut, lelaki tua ini khawatir bahwa Ki Jagatsudana sedang menyerang dirinya.
    Untungnya Harun tahu ajian benteng pertahanan ini dan di mana letak kelemahannya. Menggunakan kelemahan ini, Harun akhirnya berhasil perlahan menembus benak kakek gurunya. Sugesti kantuk yang dahsyat ia kirimkan. Setelah pertarungan tanpa suara antara pertahanan Ki Sangga Jagat dan Harun berlangsung hampir setengah jam, akhirnya kakek gurunya tertidur pulas. Harun yang kini keringatan karena mengeluarkan segala daya pikirnya selama setengah jam, akhirnya merasa plong.
    Tak lama, rumah gurunya sunyi senyap. Harun lalu memasuki benak Siti yang ikut terpengaruh sirep sehingga tertidur pulas. Harun membangunkan Siti dari tidurnya menggunakan kekuatan pikirannya.
    Siti mendusin. Ia sedang tidur bersama Ki Asmoro Dewo. Lelaki tua itu mendengkur pelan di sisinya. Setelah kesadarannya terkumpul beberapa saat kemudian, Siti menyadari bahwa rumah keadaanya hening. Sangat hening sehingga sedikit membuat bulu kuduknya merinding. Bahkan jangkrik tak terdengar bersuara di luar. Waktu bagai berhenti.
    Tiba-tiba saja benaknya memikirkan Harun. Harun yang ganteng walaupun wajah kekanakannya masih ada sedikit, namun raut wajahnya yang selalu menunjukkan kedewasaan yang aneh. Harun yang kala latihan silat hanya mengenakan celana saja sementara tubuh bagian atasnya yang berkeringat memperlihatkan otot-otot yang telah terlihat menonjol dan indah.
    Ada sesuatu di benaknya yang menyuruh Siti untuk keluar dari kamar ini, lalu pergi ke kamar Harun. Tidak boleh! Kata suara lain di benaknya. Kamu adalah isteri Ki Asmoro Dewo! Tapi… ada suara lain yang mengatakan bahwa di rumah ini selingkuh itu sudah jadi kebiasaan. Bukankah isteri yang lain berselingkuh dengan Ki Sangga Jagat?
    Tapi bukan berarti selingkuh itu boleh dilakukan, kata suara yang satunya lagi. Selingkuh itu dosa. Tapi suara yang lain lagi mengatakan bahwa bila tidak ada orang yang tahu, bukankah tidak ada yang dirugikan? Apalagi akhir-akhir ini Ki Asmoro Dewo minta anak dari Siti. Semua isteri lelaki itu telah memiliki anak, bahkan Hanifah kini sudah hamil empat bulan. Hanya Siti yang masih kering.
    Siti mengalami perang batin yang hebat. Ia tidak tahu bahwa perang batin itu bukanlah dialami oleh dirinya sendiri, melainkan perang antara dia dan Harun yang sedang menanamkan pengaruhnya langsung ke benak Siti.
    Dengan gemetar, Siti mendapatkan dirinya bangkit dari tempat tidur, keluar dari kamarnya dan kini telah sampai di depan kamar Harun. Lampu masih menyala. Siti mengetok pintu,
    “Siapa?” suara Harun bertanya.
    “Ini Mbak Siti, dik.”
    Terdengar suara langkah kaki perlahan dan pintu di buka. Harun hanya mengenakan sarung yang dililit di pinggang, sementara tubuh atasnya yang berkeringat tidak tertutupi sehelai kain pun. Siti terperanjat dan tak mampu untuk berkata-kata. Sitipun baru menyadari, ia hanya memakai kain batik dan di balik kain ini tubuh moleknya hanya berbalutkan BH dan CD berwarna hitam. Pengaruh Harun memang hebat, sehingga perempuan inipun tidak ingat bahwa sebenarnya pakaiannya kurang pantas dilihat lelaki yang bukan suaminya.
    “Ada apa, Mbak?”
    Siti sedikit gelagapan. Ia tak tahu harus berkata apa. Namun tiba-tiba benaknya seakan berbisik, bilang saja lagi ga enak badan dan minta dipijat. Siti yang sedang panik lalu menjawab,
    “eh.. begini, dik…. Mbak lagi nggak enak badan….. mau minta tolong dipijit…..”
    Baru selesai berkata begitu, Siti sudah mengutuk dirinya sendiri dalam hati. Mana ada perempuan baik-baik yang minta dipijit di tengah malam? Namun kata-kata telah terucap dan apa boleh buat, Siti tak dapat menarik kembali kata-katanya.
    “Oh? Silahkan masuk, Mbak. Harun senang kalau bisa membantu Mbak…”
    Dalam benak Siti ada perang batin. Namun kala ia melihat wajah Harun, seluruh tubuh Siti seakan berteriak dan memaksa benaknya untuk takluk kepada nafsu ragawinya. Apalagi kini Harun tersenyum, Siti merasakan bahwa ada gejolak membara di dadanya, dan memeknya mulai basah perlahan-lahan.
    Bagaikan dituntun oleh tangan yang tidak terlihat, Siti masuk ke dalam kamar Harun. Harun menyuruhnya duduk di tempat tidur anak itu yang sebenarnya hanya cukup untuk satu orang. Harun duduk di belakang tubuh Siti yang sedang duduk di tepi tempat tidur.
    Tanpa berkata-kata, kedua telapak tangan Harun menyentuh pundak halus Siti. Siti merasakan tangan yang keras dan kapalan mulai memijiti pundaknya yang hanya tertutup dua buah tali BHnya saja. Gesekkan kulit ke kulit mengirimkan sinyal birahi ke sekujur tubuh Siti. Siti memejamkan matanya. Kedua telapak tangan Harun dengan lembut memijat, terkadang mengelus pundak Siti dengan irama yang perlahan seakan tak ingin cepat-cepat selesai. Tak ada ketergesaan, tak ada paksaan.
    Terkadang telapak itu memijat ke lengannya, namun gerakan kedua telapak tangan itu makin lama makin lebih sering mengelus, membuat Siti berkali-kali menegukkan ludah agar membasahi kerongkongannya yang kering. Nafas Siti mulai memburu.
    Kurang lebih sepuluh menit Harun memijiti pundak dan lengan Siti, kini kedua telapak itu berhenti memijat dan hanya mengelusi sambil meremas pelan pundak dan lengan Siti yang putih dan kenyal itu. Walau udara dingin, namun kulit Siti mulai mengeluarkan keringat.
    Kini telapak tangan Harun mulai mengelusi punggung atas Siti, di area yang masih terbuka dan belum tertutup kain. Yaitu sekitar belikat. Terkadang belikat Siti diremasnya perlahan, terkadang jemari Harun sedikit menyusup ke antara lengan dan belikat namun ditarik kembali. Siti merasakan geli sedikit, namun geli ini bagaikan menyetrum memeknya dengan dahsyat karena memeknya kini mulai banyak mengeluarkan cairan.
    Suatu kali jemari Harun menyusup sehingga meraba ketiak Siti yang sudah basah oleh keringat. Rambut ketiak Siti yang halus dan jarang ditekan oleh jemari Harun.
    Siti menjerit kecil dan berkata,
    “Jangan, dong. Geli.”
    “tempat lain aja?” tanya Harun.
    Siti mengangguk malu tanpa menjawab dengan kata-kata.
    Harun menurunkan sedikit telapaknya yang sedang menekan ketiak Siti, sehingga belum keluar dari liang ketiak perempuan itu.
    “Di sini?”
    Siti menggeleng pelan.
    Harun menurunkan jemarinya lagi.
    “Di sini?”
    Siti menggeleng.
    Harun menggoda Siti beberapa kali dengan menurunkan telapaknya sedikit demi sedikit. Sehingga tahu-tahu telapaknya sudah ada ditempat di mana kain batik membungkus tubuh Siti.
    “Di sini boleh?”
    Siti hanya diam saja yang menunjukkan bahwa perempuan itu tidak geli.
    “Tapi, Mbak, mana kerasa dipijit kalau di sini? Di sini kan kainnya digulung. Ya sudah, Harun buka saja biar pijitannya terasa.”
    Kain batik Siti diikat dengan cara ujung satu di taruh di sebelah kiri badan dari arah depan, lalu sisa kainnya di sampirkan menggulung tubuhnya searah jarum jam, sehingga ujung kain yang satu sampai di sebelah kanan badan. Ujung itu lalu dimasukkan ke dalam kain yang sudah membungkus terlebih dahulu kemudian kainnya di gulung sehingga tidak mudah melorot. Namun, Siti tidak menyadari bahwa karena ia tadi tidur, sebenarnya gulungan kainnya sudah tidak mencengkram tubuhnya seketat ia pertama kali mengikat kain itu. Harun sengaja membuat Siti terperangkap dalam perang batin sehingga untuk pakaianpun tidak diindahkan lagi.
    Tanpa menunggu jawaban, kedua telapak tangan Harun meremas kain Siti sedikit di bawah gulungan kain di bagian atas, lalu dengan gerakan cepat Harun menarik kain itu sehingga kain Siti serta merta melorot ke bawah sehingga melingkari pantat Siti.
    Siti kini duduk dengan tubuh bagian atas hanya tertutup BH hitam dan sedikit CD bagian atas pantatnya terlihat juga oleh Harun yang sedang duduk di belakangnya. Siti kaget namun tidak tahu harus berbuat apa karena nafsunya juga mulai bertambah.
    Lalu kedua tangan Harun mulai mengelusi lengan Siti lagi. Kini tangan itu menjelajah ke lengan bawahnya. Kedua tangan Siti sedang bersidekap di atas kedua pahanya, posisi lumrah wanita jawa. Selain k[edua tangan Harun yang berjalan dari lengan atas ke bawah secara perlahan itu, dilain pihak Siti merasakan setiap senti tangan itu bergerak, maka tubuh Harun pun mendekat tiap senti ke punggungnya. Dari sudut matanya Siti melihat kedua kaki Harun yang tadi bersila telah terbuka dan perlahan menggeser ke depan melingkari kedua kaki Siti, walau belum menyentuh.
    Ketika kedua tangan Harun mencapai pergelangan tangan Siti, punggung Siti yang hanya berbalut BH itu mulai menempel pada dada bidang Harun. Nafas Siti mulai memburu. Ketika kedua tangan Siti diremas oleh kedua tangan Harun, Siti merasakan tubuh mereka sudah erat, dan tiba-tiba saja pipi kirinya ditempel oleh pipi kanan Harun.
    Siti merasa lemas dalam nafsunya yang membara, tubuhnya seakan tak dapat ditopangnya lagi sehingga dalam sekejap Siti merebahkan diri dalam dekapan Harun di belakangnya. Sementara kedua tangan Sit mulai meremas kedua tangan Harun.
    Siti menolehkan kepalanya kepada Harun. Harun pun menolehkan kepalanya. Satu detik mereka berpandangan. Dua pasang mata yang menahan gejolak asmara saling menyorot satu sama lain. Dalam satu detik itu, semuanya telah terjelaskan. Satu detik itu mampu membuat mereka berdua saling mengerti. Satu detik itu telah meyakinkankan mereka berdua akan apa yang nantinya terjadi. Satu detik yang penuh gelombang nafsu birahi. Dua buah hati yang penuh gejolak asmara saling menautkan diri satu kepada yang lain.
    Siti yang chubby itu tampak cantik sekali. Kulitnya yang putih dan semok kini mulai berkeringat sehingga membuat tubuh perempuan itu seakan mengkilat terkena sinar lampu kamar. Harun sudah sangat horny melihat kemolekan tubuh perempuan ini. Apalagi bau tubuh perempuan ini tercium samar-samar yang bercampur dengan wangi sabun wanita. Harun menggerakkan kepalanya maju. Bibirnya menyentuh bibir Siti. Siti merasakan nafsu yang demikian hebatnya sehingga ketika bibir keduanya bertemu, Siti secara buas membuka mulutnya dan melahap bibir remaja lelaki itu. Lidah siti bergerak bagaikan ular mengamuk yang segera dibalas dengan lidah Harun. Mereka berdua asyik berpagutan, saling mengecup, berciuman, menjilat dan bertukaran lidah.
    Kedua tangan Harun kini menyusuri kedua lengan Siti dan bergerak ke atas. Sambil tetap berciuman dengan buas, Harun menarik tali BH Siti ke bawah. Siti membantu dengan meloloskan kedua tangannya dari tali itu. Harun kemudian memegang mangkuk BH perempuan itu dari samping, lalu menariknya ke bawah, sehingga kedua payudara Siti terlepas dari kedua mangkuk BH itu. Kini kedua tetek Siti tampak menyembul telanjang, bahkan karena BH itu masih berada di bawah kedua bukit indah itu, menyebabkan kedua buah dada Siti tampak makin menyembul seakan ingin tumpah keluar.
    Kedua tangan Harun kini meremasi kedua buah tetek putih Siti yang besar dan bulat itu. Masing-masing telapaknya tak dapat penuh menutupi bukit kembar itu karena besarnya. Jempol dan telunjuk Harun memilin-milin puting merah muda Siti yang kini sudah mancung. Pentil Siti belum besar karena belum punya anak, namun pentil itu kini berdiri tegak akibat birahi. Pentil Siti berdiameter seperti ujung belakang pulpen pilot, dan panjangnya hanya dua senti, namun areolanya cukup besar, seukuran dua kali logam seribuan yang lama. Lebih besar dari areola Jannah maupun Atik.
    Siti melenguh penuh nafsu ketika ia merasakan kedua payudaranya diremas-remas dan pentilnya dipelintir jari Harun. Ia bertambah nafsu dan berusaha menyedot keras-keras mulut dan lidah Harun yang masih menyelomoti mulutnya sendiri. Ludah mereka telah bercampur, bahkan terkadang sedikit liur mereka saling berpautan di antara lidah mereka sehingga seakan membuat jembatan air liur di antaranya.
    Harun tiba-tiba mendorong Siti ke kasur lalu menarik celana dalam perempuan itu. Harun sendiri telah membuka sarungnya sehingga kontolnya yang besar yang telah tegang dari tadi dapat dilihat Siti. Harun mendapati memek Siti telah basah kuyup oleh cairan kewanitaan. Foreplay yang sebentar itu ternyata sudah membuat kedua insan bukan muhrim itu tidak mampu lagi menahan gejolak libido masing-masing.
    Harun melebarkan kedua kaki Siti, lalu menuntun kontolnya sehingga kini sudah menempel di luar memek Siti yang penuh dengan jembut yang lebat yang tidak pernah dicukur. Ketika sedikit kepala kontolnya memasuki lubang kenikmatan Siti, Harun segera memposisikan diri di atas Siti. Kedua tangannya memegang pergelangan perempuan itu, lalu menarik kedua tangan Siti ke atas sehingga kedua tangan Siti terbuka ke atas memperlihatkan ketiak perempuan itu yang dihiasi bulu-bulu halus yang jarang namun ikal.
    Begitu seksi dan cantiknya Siti, Harun merasa amat beruntung dapat melihat isteri termuda gurunya itu dalam posisi pasrah seperti ini. Harun menusukkan kontolnya perlahan. Siti mengerutkan wajahnya ketika merasakan kontol besar itu mulai menerobos liang senggamanya. Kontol Harun lebih besar dari kontol suaminya, sehingga memek Siti bagaikan diselusupi tongkat besar yang seakan merobek liang senggamanya. Untungnya lubang kencingnya itu sudah basah kuyup oleh cairan kewanitaannya sehingga kontol Harun dapat perlahan-lahan memasuki kemaluannya.
    “Addduuuuuh….. besar sekali tititmu, Run……..” kata Siti ketika setengah kontol Harun sudah menggagahi mahkotanya itu. “Memek Mbak serasa penuh sama tititmu…..”
    Harun merasakan nikmat sekali ketika ia merasakan perlahan-lahan liang kewanitaan Siti dijelajah batang kontolnya. Dinding memek Siti begitu rapat sehingga seakan menggenggam kontolnya kuat-kuat. Dinding yang hangat dan licin namun sangat rapat sekali.
    Bau tubuh Siti kini telah tercium dengan jelas. Bau yang sangat tajam keluar dari memeknya yang sedang diselusupi tongkat wasiat Harun. Belum lagi kontol Harun ambles sepenuhnya, Harun merasakan kepala kontolnya mentok. Ia merasakan ada lubang lain di ujung memek Siti. Ini pasti lubang ke rahim Siti. Siti merasakan perutnya sedikit mules ketika kontol Harun tertahan di lubang rahimnya.
    “Aduh…. Perut Mbak mules, Run….. sudah…. Jangan ditekan lagi…….. belum pernah ada yang masuk sejauh ini….”
    “Kontol Guru pasti kecil, ya, Mbak? Gedean aku ya, Mbak?”
    “Kontol kamu besar sekali, Run. Mbak semaput rasanya..”
    “Tenang aja, Mbak….. nanti pasti lebih enak….”
    Lalu Harun menindih Siti. Ia mendekap tubuh perempuan itu, lalu dengan tangan kanan memegang ubun-ubun perempuan itu. Setelah sebentar mengambil ancang-ancang, ia menarik sedikit kontolnya lalu menghujamkan keras-keras pantatnya di selangkangan Siti sehingga menimbulkan bunyi tumbukkan yang keras.
    Siti menjerit ketika merasakan kepala kontol Harun tiba-tiba menerobos ujung lubang memeknya dan melewati lubang itu sehingga kini seluruh kontol Harun ambles pada kemaluan Siti. Kepala kontol Harun berhasil melewati ujung liang senggama Siti dan kini sudah berada di rahim perempuan itu. Rasanya seakan menembus ulu hati Siti dan menimbulkan rasa nyeri.
    Harun tidak bergerak.
    “diam dulu, Mbak…. Biarkan memek Mbak terbiasa dengan kontol Harun. Lama-lama nanti enak, kok.”
    Mereka berdua terdiam dengan Harun menindih Siti. Keduanya tersengal-sengal. Siti memejamkan mata sambil mengernyit. Harun lalu mulai menciumi wajah Siti. Selang beberapa saat Siti membuka matanya dan mencium balik. Akhirnya mereka berpagutan lagi. Kini perlahan karena Siti masih merasakan perih di ujung liang senggamanya.
    Tak berapa lama keduanya mulai berciuman secara buas lagi. Memek Siti mulai terbiasa dan mengeluarkan cairan lagi. Sehingga akhirnya Harun merasa memek itu kembali hangat dan licin. Perlahan Harun mulai menggoyangkan pantatnya maju mundur. Siti merasakan nikmat bercampur ngilu ketika batang Harun mulai menggerus dinding memeknya perlahan. Dapat dirasakannya otot Harun yang keras menggeseki dinding memeknya yang sempit itu senti demi senti. Barulah Siti dapat merasa sekujur dinding memeknya itu hidup bahwa liang senggamanya memiliki syaraf-syaraf yang bila digesek-gesek akan mengirimkan sinyal kenikmatan tiada taranya. Baru sekali inilah ada lelaki yang mampu menggagahi seluruh dinding vaginanya.
    Harun mulai mabuk birahi. Kontolnya dijepit dinding lunak yang basah, licin dan hangat. Dinding yang mengeluarkan cairan pelumas yang memiliki bau yang khas. Bau memek Siti tercium jelas, dan bau itu juga keluar dari ketiak berbulu yang tak jauh dari hidungnya. Harun melepaskan ciumannya dari Siti sehingga mendadak air liur mereka bagaikan tali tipis tertarik sampai putus. Harun meluruskan tangan kiri Siti sehingga seakan Siti sedang mengacungkan tangan. Hidungnya mencium bau tubuh Siti yang sedikit asam dan khas. Lalu Harun mulai menjilati ketek berbulu Siti yang sudah lepek karena keringat.
    Tubuh Siti begitu nikmatnya. Perempuan gemuk ini enak sekali ditindih, bagaikan menindih sofa yang liat dan empuk. Memek perempuan ini begitu rapat dan licin dan hangat. Keringat perempuan inipun memiliki rasa yang legit. Asam, asin dan seakan manis bercampur di lidah Harun ketika lidahnya itu menyusuri ketek putih dan berbulu halus itu. Bulu-bulu ketiak Siti yang jarang seakan menggelitik lidah Harun. Hidung dan lidah Harun bergantian menyapu ketiak itu sehingga keringat Siti bercampur ludah Harun menyebabkan daerah itu seakan dibanjiri cairan.
    Lalu Harun mulai mengenyoti ketek perempuan itu keras-keras. Siti merasa geli namun penuh birahi. Ia merasakan ketiaknya disedoti sementara kontol Harun terus-menerus menghujami memeknya sehingga seluruh tubuh Siti terasa linu dan nikmat.
    Harun mulai mengarahkan kepalanya ke tengah. Mulutnya terus mengenyoti Siti tanpa pernah terlepas. Dari ketek, Harun mengenyoti ke payudara kiri. Mulutnya Harun seakan tidak ingin meninggalkan tubuh molek Siti. Sampai akhirnya pentil kiri Siti ia kenyoti juga. Siti kini serasa di ank ke tujuh. Sensasi payudaranya disedoti Harun membuat kenikmatan yang ia rasakan menjadi bertambah tinggi. Sementara tangan Kiri Harun asyik meremasi tetek kanan Siti. Mulut Harun tidak hanya menyedoti pentil Siti, seluruh payudara besar milik Siti pun secara rakus digerogotinya. Tak lama payudara kiri Siti sudah bertambah cupangan di sana-sini.
    Tak berhenti sampai di situ, Harun mulai menjelajah ke dada sebelah kirinya. Mulutnya terus menempel di tubuh isteri gurunya itu. Belahan dadanya pun habis dicupangi, dijilati dan disedoti. Sehingga akhirnya Harun menyedoti pentil kanan Siti. Kini tangan kanan Harun yang meremasi payudara kiri Siti.
    Siti mulai menjadi liar. Badannya ikut bergoyang sesuai irama goyangan Harun. Pantatnya maju ketika ia merasakan kontol Harun menghujam. Kedua selangkangan mereka kini berbenturan keras sehingga suara mereka ngentot memenuhi ruangan. Siti juga mengerang dan mendesah secara keras, tak peduli dunia luar.
    “enak…. Shhhhh…. Aaaahhhh….. kontolmu enak, Ruuuun…… pinter ya kamu….. ayo nenen yang keras…. Ayoooo….. tusuk yang keras…….. entot Mbak yang keras, Ruuuun….”
    Seluruh dada Siti kini basah oleh campuran keringat dan air liur selain cupangan yang sangat banyak menghiasi daerah itu. Kini Harun sedang asyik menjilati ketiak kanan Siti yang semakin mengeluarkan keringat dan bau yang khas perempuan itu.
    Harun kini menumbuki memek Siti dengan keras karena sudah sebentar lagi sampai. Demikian juga Siti. Akhirnya, mereka berdua berteriak nikmat dan mengalami orgasme bersamaan. Harun menyetorkan spermanya tepat di dalam rahim Siti.
    Mereka akhirnya tidur dalam keadaan telanjang.
    Mau lihat cerita lain, silahkan lanjut ke:
    Indeks Cerita Pemanah Rajawali

  11. #10
    Adik Semprot Pemanah Rajawali's Avatar
    Daftar
    Jan 2012
    Lokasi
    Jianghui / Kangouw
    Posts
    107
    Thanks
    1
    Thanked 109 Times in 11 Posts
     THREAD STARTER 
    BAB SEMBILAN

    PERKEMBANGAN DENGAN IBU

    Bulan-bulan berikutnya Harun menikmati tubuh Siti dengan aman setelah menyirep semua orang yang ada di rumah Ki Asmoro Dewo. Walhasil, Siti hamil dua bulan berikutnya yang disambut dengan senang oleh suaminya. Ki Sangga Jagat, di lain pihak menjadi tahu bahwa cucu muridnya yang bertanggung jawab. Bukannya marah, ia malah memuji Harun ketika mereka hanya berduaan saja.
    Oleh karena itu, Ki Sangga Jagat akhirnya pergi dari situ, karena ia merasa bahwa ilmu Harun sudah sempurna. Harun hanya perlu melatih semua ilmunya dengan tekun, maka dalam hitungan sepuluh tahun lagi, ilmu Harun hampir tidak ada orang lagi yang bisa mengungguli.
    Namun, Harun belumlah puas. Dari awal mula, Ia hanya memiliki satu tujuan. Yaitu untuk mendapatkan ibunya sendiri. Sejauh ini, usahanya tidak berhasil. Ia belum berhasil menginvasi mimpi ibunya. Mungkin ini saatnya untuk menginvasi pikiran ibunya ketika ibunya masih sadar.
    Maka mulailah Harun menjalankan rencananya. Ketika Sangga Jagat tidak lagi berada di rumah Ki Asmoro Dewo, praktis tidak banyak yang harus dipelajari Harun. Maka semakin jaranglah Harun bertandang ke sana. Siti merasa sedih, namun ia masih harus memikirkan jabang bayinya, sehingga untuk masalah ini tidaklah terlalu dipikirkan.
    Harun mulai sering berada di rumah. Pulang sekolah ia langsung ke rumah. Kecuali akhir pekan di mana ia menghabiskan waktu bersama Jannah dan Atik. Di rumah, Harun mulai menghabiskan waktu bersama ibunya. Tak banyak kerjaan yang dilakukan ibunya, berhubung ibunya adalah isteri seorang yang kaya. Ibunya menghabiskan waktu dengan membaca, menonton TV, ataupun beraerobik. Segala macam pekerjaan rumah sudah ada pembantu yang melakukan.
    Kini, Asih mendapati anaknya sering berada di rumah. Mereka berdua menjadi lebih akrab karena Harun senang sekali berbicara dengan Asih. Namun, Asih lama kelamaan merasa takut akan kedekatan mereka berdua. Tiap kali ia berbicara dengan Harun, pikirannya melayang-layang membayangkan Harun mencumbunya. Pertama-tama hanya berpelukan dan membelai-belai, lama kelamaan ia membayangkan Harun mencium pipinya, bahkan akhir-akhir ini Asih suka membayangkan berciuman bibir dengan anaknya.
    Asih juga masih ingat bahwa mulai beberapa bulan lalu, ia selalu mimpi bermesraan dengan anaknya ketika ia tidur. Apakah artinya semua ini? Apakah karena ia sudah lama tidak mendapatkan kepuasan batin dari suaminya?
    Lama kelamaan Asih merasa bahwa ia merindukan Harun bila Harun tidak di sisinya. Ia seakan dapat mencium aroma tubuh anaknya itu ketika anaknya sedang bersekolah. Di rumah, Harun seringkali latihan silat dengan hanya memakai celana pendek, setelah itu Harun akan masuk rumah dan berbincang dengan Asih. Aroma tubuh Harun dapat tercium jelas. Bila Harun tidak ada di rumah, seakan-akan Asih masih dapat mencium aroma itu. Asih tidak tahu bahwa Harun dapat mengirim sugesti dari jauh, sehingga sebenarnya Harunlah yang membuat Asih memikirkan ini semua.
    Di pihak lain, ada dorongan dalam diri Asih untuk berpakaian seksi di depan Harun. Sejauh ini Asih dapat menolak keinginan itu. Namun akhirnya, akhir-akhir ini, Asih memberanikan diri memakai daster tipis selama di rumah. Sesuatu yang tak pernah ia lakukan. Ketika Harun melihat ibunya, Harun memuji Asih sebagai wanita yang cantik, yang mana membuat Asih berbunga-bunga.
    Hari ini Asih memutuskan untuk tidak memakai BH. Sudah sepekan ini hatinya seakan menjerit untuk meminta agar melepaskan BH. Asih berusaha menolak keinginan ini. Namun, tiga hari yang lalu, Asih ingat, ketika Harun baru selesai latihan silat, dan Asih sedang menonton TV, Harun tiba-tiba saja duduk di sampingnya. Badan anak itu penuh keringat dan bau tubuhnya tercium dari jauh. Hari itu, Harun duduk merapat sehingga lengan kanannya yang basah oleh keringat bertempelan dengan lengan kiri Asih yang telanjang, karena dasternya adalah yang bermodel tali tanpa lengan.
    Ada kejutan listrik di kulit Asih ketika kulit basah anaknya menempel di kulitnya. Dalam keterkejutannya, Asih tidak memperhatikan Harun yang sedang asyik mengoceh di sampingnya. Bayangan dirinya bercumbu dengan Harun sekilas tampil di pikirannya yang berusaha ia tekan jauh-jauh. Malamnya Asih masturbasi di kamar, membayangkan kulit hangat anaknya dan cumbuan bibirnya di bibir Asih. Ketika Asih tidur, dalam mimpinya, Harun meminta ibunya agar jangan memakai BH. Besoknya, Asih tidak menanggapi mimpi itu.
    Asih menunggu sore hari ketika Harun selesai berlatih sambil membaca majalah. Kembali Harun duduk di sampingnya. Kedua lengan mereka bersentuhan. Asih pura-pura membaca majalahnya terus.
    “Serius amat… baca apa sih?”
    Harun merubah posisinya, tangan kanan Harun yang tadi bersentuhan dengannya, kini diselusupkan ke belakang tubuh Asih yang tidak menyender sofa, namun belum bersentuhan dengan tubuh Asih. Sementara, Harun mencondongkan tubuhnya sehingga wajahnya melongok dari belakang tubuh ibunya untuk melihat majalah, ini menyebabkan dada kanan Harun menyentuh lengan kiri Asih.
    Asih merasa tersetrum lagi ketika dada bidang anaknya menempel di lengan kirinya. Kata Asih,
    “Ini…. Rubrik tokoh dan peristiwa,” kata Asih sambil menarik majalah ke atas dan tubuhnya agak doyong ke belakang agar dapat dibaca anaknya. Gerakan kecil ini membuat Asih sedikit menyandar badan anaknya, sehingga kini samping bahu Asih pun menempel dada Harun. Daster Asih modelnya belahan rendah di punggung. Sehingga belikatnya telanjang dan menempel sebagian di dada kanan Harun.
    Harun belagak tertarik lalu dengan tangan kiri memegang tepi majalah seakan ingin membaca lebih jelas sementara tangan kanannya disusupkan dari antara tubuh dan lengan ibunya untuk memegang majalah dari sisi satunya lagi.
    “Oh iya… sekarang baru jelas tulisannya…”
    Kini Harun merangkul ibunya dari samping walau kedua tangannya memegang majalah. Berhubung ibunya lebih tinggi sedikit, maka dagunya menyentuh pundak kiri ibunya. Asih merasakan tubuhnya lemas dan tidak sengaja bersandar kebelakang. Asih dapat merasakan nafas hangat anaknya di bahu sebelah kiri dan memeknya mulai basah. Ia tidak tahu harus berbuat apa. Entah berapa lama kedekatan mereka hingga akhirnya Asih tidak tahan lalu pamit untuk ke tempat tidur. Di sana ia masturbasi dengan penuh nafsu.
    Malamnya Asih bermimpi lagi akan kemesraan mereka berdua. Dalam mimpi itu, ia tidak pakai BH di balik dasternya. Akhirnya, hari ini Asih tidak memakai BH dibalik dasternya.
    Asih serba salah menunggu Harun sore harinya. Duduknya tak tenang walau memegang majalah, tak dipandangnya majalah itu. Akhirnya ia duduk bersandar di sofa, karena ia merasakan tubuhnya tidak bertenaga lagi menahan gejolak.
    Harun akhirnya datang. Ia langsung duduk di samping ibunya lalu belagak ingin ikut baca juga. Perlahan Harun menyusupkan tangan kanan ke belakang tubuh ibunya. Mengejutkan Harun, ibunya bergerak mengingsut dan tahu-tahu menyenderkan kepalanya di kepala Harun. Bau harum tubuh ibunya tercium di hidung Harun.
    Harun berusaha berkonsentrasi, namun tidak bisa. Kedua tangannya memegang majalah. Di sebelah bawah tangan ibunya, sehingga kini kedua tangan ibunya menindih kedua tangan Harun yang berkeringat. Harun berusaha membaca pikiran ibunya, dapat diketahui ibunya sedang horny, namun di dalam pikiran ibunya, ibunya hanya menyukai kedekatan fisik ini. Walaupun ingin bercumbu, tapi ibunya tidak mau lebih dari sentuhan saja. Oleh karenanya Harun tidak berusaha melakukan pendekatan lebih jauh. Ia merasa, usaha mendapatkan ibunya masih jauh dan perlu kesabaran lebih.
    Harun menikmati saja kulit halus ibunya yang menempel di kulitnya. Punggung halus ibunya yang menempel di dadanya. Tangan halus ibunya yang menempel di tangannya. Wangi shampoo ibunya yang dapat dicium hidungnya dari rambut ibunya. Setidaknya kini hidung Harun dapat menempel di rambut ibunya yang hitam lurus dan panjang itu. Harun bernafas di rambut ibunya.
    Sore itu sejuk, tapi kedua ibu dan anak itu berkeringat. Harun keringatnya sudah membasahi tubuh karena tadi dia baru latihan silat, sementara keringat Asih mulai keluar juga terlebih karena dekapan anaknya. Asih dapat merasakan nafas anaknya yang memburu seakan mengendusi rambutnya dengan penuh nafsu.
    Asih memejamkan mata. Ia ingin lebih tapi di lain pihak ini semua tidak boleh terjadi. Setidaknya mereka berdekapan dan ini sedikitnya mengobati kerinduan Asih. Bau lelaki yang memancar dari tubuh anaknya telah membuat kemaluannya basah kuyup oleh cairan kewanitaannya. Asih bertekad untuk tidak melanjutkan hubungan ini lebih jauh.
    Entah berapa lama mereka berdekapan. Keduanya tahu bahwa mereka bukan sedang membaca majalah. Toh halamannya tetap yang itu saja tanpa dibalik-balik. Suara langkah pembantu yang mendatangi ruangan itu membuat mereka berdua akhirnya memisahkan diri sambil masing-masing merasa kurang puas. Ada rasa birahi yang masih menggantung di sana.
    Harun berusaha mengontrol diri. Setiap sore setelah ia mendekap ibunya, ia pergi ke rumah Atik atau Jannah. Dan setelah menyirep seisi rumah, ia lalu menggauli salah seorang pacarnya dengan buas sambil membayangkan bagaimana rasanya menyetubuhi ibunya sendiri.
    Telah sebulan lewat, dan perhubungan dengan ibunya tetap hanya sebatas mendekap. Namun perbedaannya, akhirnya keduanya tidak perlu pura-pura membaca lagi. Suatu sore, ibu Harun sedang pusing dan tidur-tiduran di tempat tidurnya. Harun masuk kamar ibunya dan menanyakan keadaan perempuan itu. Asih hanya bilang bahwa ia sedikit pusing. Harun membaca pikiran ibunya dan mendapati bahwa Ibunya ingin didekapnya seperti biasa tapi bingung untuk mengutarakannya.
    “Mungkin karena masuk angin,” Kata Harun,” seharusnya jangan tidur tanpa selimut memakai daster tipis ini. Nanti ibu kedinginan. Biarlah Harun yang membantu.”
    Lalu Harun menghampiri ibunya di tempat tidur. Ibunya tidur miring menghadap jendela, dan Harun menaiki tempat tidur lalu berbaring miring menghadap punggung ibunya. Harun tahu ibunya deg-degan namun menanti dekapannya.
    Harun lalu mendekap ibunya dari belakang. Kali ini kontol dalam celananya menempel di pantat ibunya yang terbalut celana dalam dan daster. Berhubung ibunya masih lebih tinggi sedikit, maka hidung Harun menempel di bahu ibunya yang halus. Dadanya mendekap punggung ibunya dan kedua tangannya melingkari tubuh ibunya dan kedua telapaknya memegang telapak tangan ibunya.
    Asih kaget mendapati kontol anaknya begitu besar dan keras menekan pantatnya. Ternyata jauh lebih besar dari milik suaminya. Tubuh penuh keringat Harun menempel di tubuh belakang Asih mengirimkan sensasi nakal ke sekujur tubuh perempuan itu. Hidung Harun berkali-kali mengendus kulit bahu Asih dalam-dalam. Asih merasakan seluruh tubuhnya kelu karena nafsu birahi.
    Harun mengecup bahu kanan ibunya. Asih terkejut. Ia tahu bahwa seharusnya anaknya tidak boleh menciumnya seperti itu, seberapapun besar keinginan mereka berdua akan hal itu terjadi.
    “Jangan, Run. Kamu ga boleh cium Ibu seperti itu.”
    “Emang ga enak, ya, bu?”
    “Bukan begitu, Run. Kamu anggap apa ibumu ini? Hormati ibu, nak….”
    Tapi tidak ada nada marah di suara ibunya. Harun kemudian menempelkan bibir dan hidungnya di punggung bagian tengah antara belikat ibunya lalu menghirup bau tubuh ibunya dalam-dalam sambil mengeratkan dekapannya.
    “Run, sadar. Ini ibumu, nak….”
    Tapi tidak ada juga perlawanan. Harun terus menghirup aroma tubuh ibunya dalam-dalam. Ibunya sungguh wangi. Walaupun belum mandi sore, dan bau sabun dari mandi pagi telah hilang, tapi ibunya memiliki aroma tubuh yang jarang dimiliki wanita lain. Tidak ada bau asem atau apek. Bau tubuh ibunya sangat lembut dan manis, aroma itu akan perlahan mengisi lubang hidung, namun lama kelamaan meniadakan bau-bau lain di udara. Sehingga aroma tubuh ibunya itu seakan menguasai indera penciuman Harun dan menyerang otak Harun dengan tanpa perlawanan. Aroma tubuh ibunya seakan suatu candu yang berhasil meruntuhkan segala kekuatan dan logika Harun.
    Harun mulai mengecupi punggung telanjang ibunya yang tak tertutup daster dengan bernafsu. Suara kecupan bibirnya berkali-kali terdengar cepat dan semakin keras. Kulit ibunya begitu halus dan licin dan putih. Seakan diciptakan untuk dinikmati kaum lelaki. Punggungnya bagai pualam maha indah yang mengeluarkan suatu rangsangan yang tak dapat ditolak. Punggung yang kini bertubi-tubi diciumi Harun secara buas.
    Suara ibunya protest tidak lagi diindahkan Harun. Lagipula protest itu terdengar tidak sungguh-sungguh, seakan ibunya mengatakan itu hanya sebagai suatu keharusan saja, suatu kalimat yang seharusnya dikatakan seorang ibu, namun, tidak ada nada perintah tegas yang memperkuat perkataannya.
    Lidah Harun mulai menjilati punggung mengkilat ibunya. Rasanya begitu halus di lidah dan memiliki rasa yang tak dapat dijabarkan dengan kata-kata. Tubuh ibunya bukan tubuh manusia, bagi Harun inilah wanita paling cantik dan indah yang pernah ia temukan. Wanita yang memiliki pesona bidadari. Harun yakin bidadari yang dilihat Jaka Tarub bahkan tidak mampu bersaing dengan ibunya.
    Asih kini hanya terdiam dan hanya bisa mendesah. Lidah kasar anaknya membuat kulit punggungnya merasakan suatu perasaan ngilu yang menggairahkan. Asih harus merapatkan selangkangan karena memeknya sangat gatal minta digesek-gesek. Apalagi beberapa saat kemudian Asih merasakan Harun mulai mengenyot-ngenyot punggungnya. Mulai dari bahu, belikat dan punggung yang tidak tertutup pakaian tidak luput dari hisapan Harun. Kontol Harun mulai menekan-nekan belahan pantat Asih, berusaha mencari celah kenikmatan yang kini sedang basah kuyup dan bergetar oleh nafsu binatang.
    Namun ketika tangan kanan Harun mulai merambah nakal, dan tahu-tahu menyelusup masuk dari atas daster dan menggenggam payudaranya, Asih tiba-tiba berteriak marah,
    “Hentikan! Tangan kamu ga boleh begitu!”
    Nada perintah yang tegas dan penuh amarah terdengar. Harun terdiam beberapa saat. Tangannya ditarik. Keheningan melanda kamar itu. Asih berusaha menenangkan nafas. Harun masih mendekapnya dari belakang, tangan kanan Harun sekarang memegang pinggulnya. Harun sedang berusaha membaca pikiran ibunya. Ternyata ibunya mempunyai batas jelas, bahwa perempuan ini tidak mengijinkan lebih jauh dari mendekap dan mencium saja.
    Akhirnya, Harun merasa bahwa tidak ada rotan, maka akarpun jadi. Ia mengetes reaksi ibunya dengan mencium bahunya lagi. Kali ini tidak ada reaksi. Maka Harun mulai menciumi bahu dan punggung ibunya lagi. Pantatnya ia tekan lagi ke pantat ibunya. Perlahan ia menggoyangkan pantatnya, tidak tergesa-gesa, sambil terus menyerang punggung telanjang ibunya.
    Kemudian Harun memberanikan diri menciumi lengan ibunya sambil menatap wajah ibunya dari samping. Ibunya terdiam sambil memejamkan mata. Dengan tangan kanannya yang tadi di pinggul, Harun menggenggam telapak kanan ibunya. Ibunya membalas menggenggam. Harun mengangkat tangan kanan ibunya hingga mencium telapak tangan ibunya. Kemudian ia kembali menciumi bahu ibunya.
    Asih menggerakkan pantat dan kakinya sehingga kini kaki kanan Harun dijepit kedua kakinya, sementara kontol Harun kini menempel di pantat kirinya. Asih menggerakkan pantatnya sesuai irama goyangan Harun, sehingga kini Harun seakan sedang mengentoti pantat kiri ibunya. Gerakan ini membuat paha Harun juga seakan menggeseki vagina Asih yang masih berbalut celana dalam.
    Harun dapat merasakan hawa panas di selangkangan ibunya yang menunjukkan sebenarnya ibunya horny pula. Namun, ibunya hanya mengijinkan mereka saling menggesek kelamin dengan baju masih terpasang. Whatever. Bagi Harun ini adalah kemajuan.
    Aroma punggung dan bahu ibunya sudah bercampur dengan bau mulutnya sendiri karena setiap jengkalnya sudah pernah dijilat, dikenyot dan dicupangnya. Maka dari itu Harun memberanikan diri dan mulai menciumi leher jenjang ibunya.
    Ibunya melenguh pelan dan kedua telapaknya menggenggam erat kedua telapak anaknya sambil menaruh kedua tangan itu di dadanya yang montok, mengakibatkan Harun lebih erat lagi memeluk Asih dari belakang. Harun dapat merasakan kekenyalan payudara ibunya di telapak tangannya yang bergenggaman dengan telapak ibunya.
    Lidah Harun mulai menyapu leher jenjang dan putih milik ibunya. Ibunya menggeleng-gelengkan kepala tanda mulai meningkat birahinya. Barulah ketika Harun menyedot leher ibunya itu, ibunya berteriak kecil lalu menjepit paha kanan Harun dengan kuat. Akhirnya Asih orgasme.
    Harun masih asyik menyelomoti leher ibunya dan asyik menggesekkan kontolnya di pantat ibunya, ketika tiba-tiba ibunya menjauhkan diri, lalu menolak kedua tangan Harun.
    “Sudah!” bentak ibunya. “Kamu jangan kayak binatang! Keluar dari kamar!!”
    Harun membaca pikiran ibunya dan mendapati bahwa ibunya sungguh-sungguh serius dan ada niatan untuk mengusir Harun dari rumah ini. Akhirnya, walaupun kentang, Harun mematuhi permintaan ibunya.
    Sabar, pikir Harun. Semua ada waktunya.
    Mau lihat cerita lain, silahkan lanjut ke:
    Indeks Cerita Pemanah Rajawali

  12. #11
    Adik Semprot Pemanah Rajawali's Avatar
    Daftar
    Jan 2012
    Lokasi
    Jianghui / Kangouw
    Posts
    107
    Thanks
    1
    Thanked 109 Times in 11 Posts
     THREAD STARTER 
    BAB SEPULUH

    PERUBAHAN TAK DISANGKA

    Setelah itu, Asih selalu menghindari berduaan dengan Harun. Bila hanya mereka berdua di rumah, Asih akan mengunci diri di kamar. Harun walaupun dapat membaca pikiran ibunya dan menanamkan sugesti erotis ke benak ibunya, namun watak ibunya yang keras dan teguh tetap menolak hubungan gelap dengan anak sendiri.
    Harun sudah putar otak ke sana kemari namun tidak ada ide baru yang muncul untuk dapat meningkatkan hubungan dengan ibunya ke arah yang lebih panas. Bahkan hubungan yang telah diusahakannya berbulan-bulan, kini menjadi renggang dan usahanya itu bukan bertambah maju malah bertambah mundur.
    Benak ibunya kini memang telah terbiasa dengan pikiran erotis, bahkan ibunya tidak berusaha menolak bayangan dirinya berciuman hot dan berpelukan dengan Harun. Ibunya juga mulai masturbasi dengan membayangkan disentuh, diraba dan dicium anaknya. Namun, benak ibunya agak kompleks jalan pikirannya. Di suatu pihak, ibunya mulai menikmati membayangkan kebersamaan dengan Harun, namun di lain pihak, benak itu yakin bahwa kenikmatan ini seharusnya hanya dalam pikiran saja, dan tidak boleh sama sekali diaktualisasikan dalam kehidupan nyata.
    Namun, dua minggu kemudian, ada kejadian yang menyebabkan segalanya berubah di dalam keluarga mereka. Perhubungan antara Harun dan ibunya yang tampaknya tak akan bergerak lebih jauh, akhirnya berubah karena ada faktor dari luar.
    Saat itu hari Kamis. Seto, ayah Harun, pagi-pagi berangkat sebelum Harun bangun. Ketika Harun bangun dan selesai mandi, Harun melanjutkan dengan sarapan. Ibunya sedang sarapan juga. Mereka ditemani oleh Bi Ijah yang melayani mereka.
    “Ibu,” kata Harun membuka pembicaraan. “akhir-akhir ini ayah sering pergi pagi-pagi dan pulang malam, terkadang bahkan lebih dari sehari. Apakah ayah sedang membuka usaha baru?”
    Asih tersenyum pahit dan menggeleng.
    “Tidak, nak. Usaha ayahmu di kota sedang mengalami banyak permasalahan. Ayahmu sedang berusaha untuk mengatasi permasalahan ini.”
    Harun yang tidak mengerti mengenai bisnis hanya mengangkat bahu dan kembali menikmati sarapannya. Yang tidak ia ketahui adalah permasalahan bisnis ini adalah permasalahan yang akan mengubah segalanya bagi keluarga mereka.
    Seto tidak pulang hari itu, bahkan Jumat pun tidak. Barulah pada sabtu siang, Seto pulang ke rumah. Namun kali ini, ia ditemani serombongan orang. Orang-orang itu tampak berpotongan tukang pukul dan memiliki tampang yang seram. Ada lima orang yang ikut dengan Seto. Empat orang diantaranya berusia antara dua puluh sampai tigapuluh tahun. Yang satu lagi tampak berusia empat puluh tahun, yang sepertinya adalah pemimpin para tukang pukul lainnya.
    Begitu orang-orang ini masuk rumah, Harun sudah mengetahui bahwa bahaya besar telah mendatangi. Empat orang yang lebih muda itu memikirkan hal-hal keji untuk mengeruk keuntungan dari Seto, ayah Harun! Namun, orang yang paling tua, memiliki tampang keji dan culas, tetapi memiliki benak yang kuat. Tidak mudah Harun membacanya.
    Belum sempat Harun berusaha konsentrasi lebih kuat lagi untuk membaca si tua, Seto sudah berkata dengan nada gembira,
    “Tole! Perkenalkan! Ini Ki Jagatsudana! Orang pinter yang sakti dan terkenal se-Nusantara!”
    Bagaikan petir di siang bolong, berita ini mengagetkan Harun sehingga jantungnya seakan mau copot! Ternyata ada musuh bebuyutan perguruan Harun tepat di depannya.
    “Ngaco!” kata begundal-begundal pengiring Jagatsudana,”Yang Mulia Ki Jagatsudana ini PALING sakti dan PALING terkenal!”
    Seto mengangguk-angguk sambil meminta maaf. Lalu menyilakan para tamunya duduk di ruang tamu. Harun pun ikut duduk, namun agak jauh dari mereka. Para tamu dan ayahnya duduk di bangku yang mengelilingi meja berukir, sementara Harun duduk di salah satu bangku kayu yang rapat ke dinding, sehingga para tamu memunggunginya.
    Ki Jagatsudana dan begundalnya tidak terlalu memperhatikan Harun yang dianggap bocah bau kencur, sehingga keberadaan Harun dianggap sepi saja. Lalu kata Seto,
    “Asih! Kemari, Bu! Ada yang mau Bapak kenalkan!”
    Ketika Asih masuk ruang tamu, Harun menjadi muak, karena keempat begundal itu segera berpikiran jorok melihat perempuan cantik, putih dan seksi seperti ibunya itu. Berbagai angan-angan mesum mereka menyetubuhi ibunya membuat Harun merasa limbung.
    Pada saat itu, tiba-tiba Harun merasa pikiran Ki Jagatsudana tidak tertutup lagi. Rupanya kecantikan ibunya membuat benak Ki Jagatsudana segera merubah dari posisi defensive menjadi offensive. Ki Jagatsudana mengirimkan perintah kepada ibunya untuk menuruti kehendak lelaki itu. Harun yang tidak siap menjadi tidak tahu apa yang harus dilakukan dan terus mendengarkan saja.
    Ibunya berjalan ke arah para tamu, sementara benak ibunya kaget melihat seorang lelaki yang lama-kelamaan kelihatan gagah sekali di matanya. Ada bisikan dalam hatinya untuk menyerah kepada lelaki itu, ada godaan dalam hatinya untuk memberikan mahkotanya kepada lelaki itu…
    Harun panik. Tetapi ia mendapatkan suatu kemajuan. Ki Jagatsudana ketika sedang berusaha menguasai mental seseorang, seketika itu juga, melonggarkan penjagaan atas benaknya sehingga Harun dapat membaca pikiran lelaki itu.
    Kini niatan lelaki itu sudah dapat diketahui Harun. Ki Jagatsudana sedang ingin menguras harta ayahnya. Selama ini Ki Jagatsudana menjadi kaya bukan karena menjadi paranormal yang memberikan jasanya kepada para client dan dibayar mahal oleh para kliennya, melainkan justru kekayaan para kliennya yang ia sedot. Ki Jagatsudana menggunakan kekuatan pikirannya untuk mempengaruhi para korbannya, sehingga bukan saja harta mereka lenyap sebagian, bahkan seringkali para isteri dan anak si korban menjadi santapan si lelaki bejat ini. Entah berapa banyak isteri orang yang ia hamili, Ki Jagatsudana sendiri tidak tahu.
    Harun bergidik. Namun ia sedikit merasa lega karena mental ibunya yang kuat itu, masih melakukan perlawanan terhadap usaha cuci otak Ki Jagatsudana. Sepanjang pembicaraan sore ini antara ayah, ibu dan Ki Jagatsudana, dari luar tidak terlihat ada yang mencurigakan. Tetapi bila orang dapat mendengarkan pikiran seperti Harun, maka mengetahui bahwa Ki Jagatsudana sedang berdaya upaya mengalahkan tekad Ibunya.
    Ketika malam, maka pembicaraan dilanjutkan di meja makan, sambil menyantap makan malam yang mewah. Karena Seto sudah menyuruh orang untuk menyiapkan makanan yang lezat. Sebelum makan, Asih pamit untuk mandi. Demikian pula Harun karena sebenarnya ia ingin melindungi ibunya.
    Dan benar saja, ketika ibunya mandi, Ki Jagatsudana yang bertekad untuk meniduri Asih malam ini, terus mengirimkan perintah-perintah untuk menyerah kepada benak ibunya. Harun merasakan ibunya seakan-akan mulai melemah, oleh karena itu, Harun dengan nekad mulai ikut masuk ke dalam benak ibunya dan memberikan sugesti sebaliknya. Setiap kali Ki Jagatsudana mengirimkan gambar dirinya sedang bermesraan dengan ibunya, Harun menyisipkan perasaan mual kepada ibunya. Sehingga ibunya menjadi bingung, terkadang ia merasakan suatu perasaan birahi (yang ditanam Jagatsudana), namun di lain pihak Ia merasakan ingin muntah bila melihat wajah lelaki itu (yang ditanam Harun dalam benaknya).
    Ki Jagatsudana bingung. Belum pernah ia menghadapi wanita sekuat ini. Memang banyak sekali wanita bermental kuat. Namun yang bermental baja seperti Asih ini dapat dihitung dengan jari. Biasanya untuk jenis yang ini, maka hanya perkosaan yang bisa dilakukan untuk menikmati tubuhnya. Sayang sekali, bahwa jenis yang seperti ini biasanya akan bunuh diri bila kehormatannya diambil paksa.
    Akhirnya untuk sementara Ki Jagatsudana tidak menyerang Asih lagi, yang membuat Harun lega. Sayangnya, penghentian serangan ini justru membuat benak Ki Jagatsudana tertutup lagi. Harun tidak tahu lagi apa yang dipikirkan musuhnya itu. Maka Harun menenangkan diri dengan semedi, sebelum makan malam dimulai, untuk bersiap-siap menghadapi malam nanti yang dipastikan akan ramai.
    Dalam meditasinya, Harun merenungkan banyak hal mengenai pertempuran yang akan terjadi nanti malam antara dia dan Ki Jagatsudana sekalian.
    Pertama, ia adalah anak remaja yang belum sepenuhnya dewasa. Walaupun bakatnya besar, dan untuk soal ilmu kebatinan, mungkin ia menang melawan ki Jagatsudana, tetapi soal ilmu silat, sudah pasti ia akan kalah dari Ki Jagatsudana. Bila mereka berdua bertempur, Harun tidak yakin ilmu kebatinannya mampu menembus barikade yang menutupi pikiran Ki Jagatsudana. Jadi, perlawanan frontal sebaiknya dihindarkan.
    Kedua, Ada lima orang yang akan jadi lawanannya. Sehingga, selain kualitas yang kalah, secara kuantitas ia kalah jauh malah. Lagi kesimpulannya, perlawanan frontal adalah bunuh diri.
    Ketiga, malam ini, bila tak ada perlawanan dari tuan rumah, maka kelangsungan keluarga Seto akan berakhir. Dari penerawangannya pada benak musuh-musuhnya, Ki Jagatsudana akan menghipnotis ayahnya untuk memberikan semua hartanya kepada lelaki bejat itu, kemudian akan menggagahi ibunya.
    Ayahnya akan hancur, sementara ibunya yang memiliki mental baja, akan berakhir dengan tragis, bila akhirnya Ki Jagatsudana sudah capek menyerang secara mental dan memutuskan untuk menyerang secara fisik atau dengan kata lain memperkosa ibunya.
    Harun merasa tak berdaya. Keringat menetes dari kulitnya, padahal udara di kamar tidurnya tidaklah panas. Ia merasa takut berhadapan langsung dengan musuhnya, sementara ia tidak punya pengalaman bertempur melawan musuh sama sekali. Selama ini ia hanya latihan dan latihan saja. Kemampuan pikirannya yang menjadi andalannya pun ia rasakan tidaklah cukup. Harun tidak tahu apa yang harus dilakukan.
    Suara pintu dibuka. Asih, ibunya masuk. Ibunya baru mandi dan kini mengenakan baju yang biasanya dipakai untuk pengajian. Lengkap dengan jilbabnya. Ibunya tampak cantik. Namun, ada sesuatu dalam sinar matanya. Ada sirat ketakutan di sana. Harun berusaha membaca pikiran ibunya, Harun dapat merasakan bahwa ibunya diselimuti perasaan cemas akan tamu-tamu ayahnya. Insting wanita yang kuat. Oleh karena itu ibunya memakai baju tertutup seperti ini.
    “Sudah saatnya makan. Ayo temani ibu ke ruang makan.”
    Ada nada tegas, namun bukan perintah. Lebih ke permohonan. Ibunya merasa aman bila di samping Harun. Entah kenapa. Harun merasa sedih, karena merasa tak akan mampu melindungi ibunya melawan paman gurunya itu. Namun, suara kecil di dalam batinnya berteriak keras. “Apapun yang terjadi, aku harus berusaha! Aku harus berusaha melawan kejahatan! Aku harus berusaha berjuang demi keluarga!”
    Akhirnya Harun bangkit berdiri lalu menemani ibunya ke ruang makan.

    BAB SEBELAS

    PERTARUNGAN HIDUP DAN MATI

    Tubuh Harun gemetar ketika berjalan, namun ia menahannya. Ia tidak ingin ibunya melihat bahwa anaknya yang ia andalkan sedang ketakutan. Maka dengan segala kekuatannya ia berusaha menekan rasa ketakutannya itu jauh ke dalam lubuk hatinya yang sedang berdebar keras memompa darahnya ke sekujur tubuhnya.
    Justru di saat seseorang sedang mengalami takut akan kematian, di sanalah ia dapat merasakan kehidupan pada puncaknya. Setiap nafas yang ditarik dan dihembuskan, setiap detak jantung yang berdebar di rongga dadanya, setiap peluh yang menetes, setiap tiupan angin di kulit, setiap langkah kaki yang berderap, barulah secara sadar dirasakan bahwa kehidupan itu begitu indahnya, begitu kompleks, begitu rapuhnya…
    Demikianlah Harun baru merasakan apa artinya hidup dan sebesar apakah berharganya hidup. Perasaan itu membuat Harun ingin bergegas meninggalkan rumah itu saat ini juga. Untuk berlari jauh demi menyelamatkan diri. Namun, keluarganya membuat kakinya menjejak lantai keras-keras, sekeras kemauannya untuk membela keluarganya habis-habisan. Tak peduli ada seribu Ki Jagatsudana di depan mata, sampai darah terakhir menetes, barulah perjuangan ini akan berakhir...
    Para tamu dan Seto telah duduk di meja makan. Sisa dua bangku lagi, bangku di kiri dan kanan Seto kosong. Lelaki-lelaki bejat itu berusaha untuk menempatkan Asih di samping Ki Jagatsudana. Dengan cepat, Harun memasuki pikiran Seto lalu memerintahkan ayahnya itu untuk bergeser ke samping kanan. Harun secara cepat pula menaruh ibunya di antara ayahnya dan dia.
    Ki Jagatsudana tampak terkejut. Ia sudah memasuki pikiran Seto sebelumnya dan tidak ada niat apapun untuk pindah kursi. Namun di detik terakhir lelaki itu bergerak dan membuat istrinya kini tak dapat dijangkaunya lagi. Dicobanya untuk masuk ke dalam pikiran Seto lagi, dan dengan terkejutnya Ki Jagatsudana melihat bahwa pikiran Seto sudah berubah, seto bergerak menggeser agar isterinya diapit keluarga. Padahal sebelumnya Seto tidak mempunyai pikiran apa-apa mengenai hal ini.
    Ada sesuatu yang aneh di sini. Apakah ada orang pintar di daerah ini yang tidak ia ketahui? Ia mendengar dari orang-orang bahwa adik seperguruannya Ki Asmoro Dewo ada di daerah ini, namun tidak mungkin bocah itu berani melawannya. Namun, kalau benar si bangsat itu yang menjadi biang keladinya, maka bayarannya akan mahal sekali!
    Ki Jagatsudana meramkan mata dan mulai berkomat-kamit. Harun merasakan kepalanya seakan ada yang menyerang. Sambil berusaha bertahan ia mencoba melihat pikiran ayahnya untuk mencari tahu apa yang sedang dilakukan oleh musuhnya ini.
    Benak ayahnya tampak mulai menutup seakan mau tidur. Rupanya Ki Jagatsudana sedang menyirep seisi ruangan. Harun mulai pura-pura tertidur, ia mengirimkan gambaran palsu kepada benak musuhnya agar yang diterima Ki Jagatsudana adalah Harun juga terpengaruh sirep itu. Rupanya sirep itu hanya ditujukan kepada keluarga Harun, karena para begundalnya tidak terpengaruh.
    Ketika ayah dan ibunya tertidur, Harun juga pura-pura tertidur.
    “Bagus, mereka sudah tidur semua…. Dodo, Anwar, Ujang dan Adi, siapkan senjata…. Tampaknya kita didatangi tamu….”
    Harun dalam posisi yang seakan tidur di meja makan, mendapati benak Ki Jagatsudana terbuka, karena lelaki itu sedang melakukan ‘scanning’ dengan mata batinnya untuk melihat apakah ada Ki Asmoro Dewo di sekeliling rumah itu. Sementara itu, para begundalnya berdiri dan meloloskan golok dari balik baju mereka.
    Melihat kesempatan bagus, Harun segera menaruh gambaran palsu di benak musuhnya itu, ini adalah jebakan yang baik menggunakan rasa takut musuhnya sendiri.
    Ki Jagatsudana merasakan ada seseorang di luar rumah, dan orang itu tampak memiliki mata batin yang kuat, karena tak dapat diserang secara batin.
    “Serang! Ada orang di depan rumah!” perintah Ki Jagatsudana kepada begundal-begundalnya.
    Anak buah lelaki itu berlarian ke depan. Sementara Ki Jagatsudana meraih pisau di meja lalu mendekati Asih. Harun mendapati pikiran lelaki itu yang sekarang tidak terjaga sama sekali memperlihatkan rencana untuk menggunakan keluarga Harun sebagai sandera, bila ternyata musuh Ki Jagatsudana, entah itu asmoro dewo atau bukan, ternyata mengalahkan begundal2 miliknya, dan bahkan lebih sakti daripadanya. Untuk itu keluarga Harun dapat digunakan sebagai barter nyawa.
    Harun melihat bahwa musuhnya sedang lengah. Oleh karena itu ia segera menginvasi pikiran empat begundal-begundal itu. Mereka berempat telah sampai di depan rumah dan tidak mendapati siapa-siapa. Namun, tiba-tiba saja, teman yang disamping mereka berubah menjadi manusia serigala. Ini tentu saja ulah Harun, yang mempengaruhi pikiran mereka. Selain membuat pandangan para begundal itu berubah, Harun juga membuat hati mereka menjadi nekat. Bukannya takut melihat ada manusia serigala di samping mereka, mereka malah kalap saling menyerang satu sama lain.
    Mendadak saja keempat orang itu saling berbacokan satu sama lain. Ki Jagatsudana kaget mendengar bunyi pertempuran di luar. Ia segera berusaha membaca pikiran para begundalnya. Harun tentu saja segera melakukan intercept, dan membuat apa yang dilihat mata batin Ki Jagatsudana berbeda dengan kenyataan. Yang dilihat Ki Jagatsudana adalah empat orang anak buahnya sedang asyik mengeroyok Ki Asmoro Dewo dan orang itu sekarang sedang keteteran di serang bahkan mulai ada luka di sana-sini.
    “Hahahahah! Asmoro Dewo! Dari dulu ilmu silatmu Cuma segini saja!”
    Harun di lain pihak mulai mempengaruhi para begundal itu agar berkelahi semakin jauh dari rumah, sementara di mata Ki Jagatsudana ke empat begundalnya sedang mengejar Asmoro Dewo yang sedang terpontang panting kabur. Dalam kenyataannya, setelah hampir satu kilo empat orang itu berlari sambil bacok-bacokan, mereka jatuh ke sungai yang tak jauh dari situ dan mati tenggelam.
    Ki Jagatsudana tertawa terbahak-bahak dan segera meminum anggur yang ada di meja langsung dari botolnya. Rencananya setelah makan malam selesai mereka akan minum anggur, namun kini botol itu ditenggak habis oleh lelaki bejat itu.
    Kini Harun sudah dapat konsentrasi karena tidak mempengaruhi empat orang begundal-begundal itu. Di tambah lagi, Anggur Perancis yang dipunyai ayahnya itu sangat keras buatan tahun 1920. Kini Ki Jagatsudana tidak peduli lagi dengan pertahanan mentalnya, melainkan mulai berpesta sendirian di ruang makan itu. Maka perlahan-lahan kekuatan pikiran Harun sudah mulai menyelimuti pikiran Ki Jagatsudana, walaupun lelaki itu belum menyadarinya.
    Ki Jagatsudana baru sadar kembali bahwa Asih, wanita idamannya itu sedang tidur di meja makan. Dengan tergesa-gesa ia menarik jilbab pink Asih sehingga copot dan rambut hitam ibunya yang panjang hingga pangkal lengannya tertarik paksa sehingga menjuntai-juntai selama beberapa saat. Dijenggutnya Asih lalu dinikmatinya wajah perempuan yang indah itu.
    “Harum tenaaaan….. bangun sampeyan!” perintah lelaki itu.
    Asih tiba-tiba terbangun dan seketika itu juga kaget bukan kepalang. Ia mendapati dirinya sedang dijambak Ki Jagatsudana yang sedang berdiri di sampingnya, sementara baik suami maupun anaknya tampak terkulai di meja makan.
    Asih ingin berteriak, namun tiba-tiba saja Ki Jagatsudana menariknya ke belakang keras-keras sehingga perempuan itu terhempas ke lantai bersama kursi yang jatuh.
    “Jangan berisik! Lihat pisau ini!”
    Dari lantai Asih melihat lelaki itu menaruh pisau yang digenggamnya di leher anak satu-satunya, Harun.
    “Jangan sakiti anakku!” teriak Asih sambil mengeluarkan air mata.
    “Tenang saja, manis. Kalau kamu mau menurut, maka tidak ada yang akan aku lukai,” kata Ki Jagatsudana dengan perlahan sambil menghampiri Asih bak singa yang mengincar mangsanya di hutan.
    Harun yang telah “memegang” benak musuhnya, belum melakukan apa-apa, melainkan melihat dulu apa yang akan musuhnya lakukan. Selain itu, kenyataan bahwa ibunya akan diperkosa membuat Harun menjadi horny dan rudalnya tahu-tahu sudah keras.
    “berdiri!” bentak Ki Jagatsudana. Asih berdiri.
    “Buka bajumu!”
    Asih terdiam sejenak, namun karena takut anaknya akan disakiti, akhirnya dengan tangan gemetar ia membuka pakaiannya. Dengan sedikit susah, kedua tangan Asih menjangkau resleting yang ada di belakang gaun pinknya yang lebar itu. Gaun itu biasa disandingkan dengan jilbab. Gaun yang lebar dan tidak menunjukkan aurat sama sekali. Gaun panjang semata kaki.
    Setelah resleting sudah ditarik penuh, maka tali pinggang Asih kendorkan. Perlahan lalu Asih menarik pakaiannya sehingga sedikit demi sedikit tertarik ke bawah. Harun yang penasaran, mengintip. Kebetulan posisi tidur pura-puranya adalah menelungkupkan kepala di kedua tangan di meja, sehingga dengan sedikit mengubah posisi badannya, ia dapat melihat ibunya dan punggung Ki JagatSudana.
    Perlahan-lahan bahu putih ibunya yang dihiasi tali BH terlihat. Perlahan pakaian itu terbuka lagi ke bawah memunculkan sedikit demi sedikit bagian dada Asih. Akhirnya setelah melewati cup BH, pakaian itu terjatuh ke lantai. Kulit ibunya putih namun agak kekuningan, sehingga tidak Nampak pucat, melainkan berkilauan menantang ditingkahi oleh lampu kamar makan.
    BH dan celana dalamnya berwarna hitam yang sangat kontras dengan warna kulit tubuhnya yang ramping itu. Tonjolan dadanya yang masih berbungkus BH hitam itu menjadi lebih berkesan untuk dilihat. Lekuk bukitnya tampak makin terlihat dan makin menggairahkan. Apalagi dada itu kini naik turun disebabkan rasa takut, yang juga mengakibatkan peluh mulai berjatuhan.
    Setelah Asih mandi, perempuan itu memutuskan untuk tidak memakai parfum, agar supaya tidak menarik nafsu para tamunya itu. Apalagi, Asih pun mandi tanpa menggunakan sabun. Bagi Asih, siapa tahu para tamunya itu tak menyukai bau badannya yang tanpa sabun ataupun parfum.
    Namun, di malam yang sepi itu, angin dari pintu depan yang tidak tertutup rapat oleh para begundal, masuk dengan kencangnya, membanting pintu itu. Udara malam itu masuk terus ke dalam ruangan makan yang ada tidak jauh dari ruang tamu, pertama-tama menghantam badan Asih yang setengah telanjang dan berkeringat, kemudian angin itu bertiup lanjut ke arah Ki Jagatsudana dan Harun.
    Bau tubuh Asih yang lembut tertiup jelas ke arah dua lelaki itu. Sontak kontol Harun berdenyut penuh nafsu, dan demikian pula Ki Jagatsudana. Nafsu sudah memuncaki kepala kedua lelaki itu.
    Namun, hanya seorang yang memiliki kepala dingin. Dialah Harun. Dalam nafsunya, Harun mendapati musuhnya yang bernafsu itu kini sudah lupa daratan, suatu keadaan yang mampu ia gunakan. Maka, sesaat sebelum Ki Jagatsudana menerkam ibunya, kekuatan pikiran Harun yang sudah membungkus benak Ki Jagatsudana, kini sekuat tenaga dikerahkan untuk menggempur benak musuhnya itu.
    Mau lihat cerita lain, silahkan lanjut ke:
    Indeks Cerita Pemanah Rajawali

  13. #12
    Adik Semprot Pemanah Rajawali's Avatar
    Daftar
    Jan 2012
    Lokasi
    Jianghui / Kangouw
    Posts
    107
    Thanks
    1
    Thanked 109 Times in 11 Posts
     THREAD STARTER 
    BAB DUA BELAS

    KEMENANGAN HARUN

    Bila ditelaah secara lebih jauh, kemenangan seseorang bukan selalu berarti bahwa orang itu lebih hebat segalanya dari lawannya. Tetapi sang pemenang mampu menggunakan segala kesempatan yang baik, untuk memaksimalkan kemampuannya untuk meraih kemenangan itu. Itu yang biasa terjadi. Ada pula kemenangan yang diraih secara keberuntungan, ini yang tidak biasa terjadi. Biasanya orang yang karena beruntung dapat menang, maka akan sulit mengulangi kesuksesan itu. Lain halnya dengan orang yang menang karena kecerdikannya memanfaatkan peluang, atau point pertama tadi.
    Demikianlah kemenangan Harun atas Ki Jagatsudana. Ini adalah kemenangan karena kecerdikan dan kesabaran. Dua hal yang tidak diterapkan Jagatsudana. Apakah kemenangan ini sepenuhnya karena kehebatan Harun? Tidak juga. Bila Jagatsudana tidak takabur, tentu saja tidak akan terjadi.
    Yang jelas, kekalahan ini seakan sudah digariskan. Pertama, Ki Jagatsudana bertemu dengan ayah Harun, menganggap ayah Harun ini orang bodoh, lalu memutuskan untuk memanfaatkannya. Ia tidak tahu bahwa anak orang ini memiliki kemampuan yang tiada duanya dalam hal kebatinan. Kedua, dari semenjak melihat Asih, Ki Jagatsudana sudah mabok kepayang akan birahi kepada perempuan ini, sehingga banyak sekali mengurangi kemampuan batiniahnya. Ketiga, Ki Jagatsudana yakin bahwa di rumah Seto si goblok itu, dia tidak ada tandingannya.
    Di lain pihak, Harun yang walaupun harus memerangi rasa takutnya, akhirnya mampu berpikir dan mencari strategi. Bukan strategi yang direncanakan jauh hari, melainkan strategi yang digunakan sesuai dengan perkembangan keadaan. Inilah kecerdikan yang jarang dimiliki paranormal lainnya.
    Ya, kalau anda berfikir bahwa setelah kejadian ini Harun menjadi paranormal, maka tebakan anda benar sekali. Saking hebatnya Harun, maka banyak sekali orang-orang Jakarta yang datang ke tempat padepokan Harun. Banyak kisah yang diceritakan ketika Harun sudah dewasa dan menjadi paranormal kawakan, salah satunya “Akibat Ke Dukun”, yang dilaporkan oleh saudara Pemanah Rajawali dengan baik sekali.
    Tentu saja saya tahu, para pembaca sudah mulai gerah, karena penutup bab sebelum bab ini, tidak dilanjutkan secara sequential di bab yang ini. Untuk itu saya mohon maaf, karena permulaan bab terakhir ini, saya rasa perlu saya tulis, sebagai mata rantai cerita lainnya, dan juga sebagai cooling down saya sendiri. Akhir bab sebelumnya yang fantastis hampir membuat saya edi tansil. 
    Baiklah kita mulai dari pada saat Harun menghancurkan benak Ki Jagatsudana. Ketika seluruh logika dan akal Ki Jagatsudana tertutup nafsu birahi saat melihat Asih yang cantik itu setengah telanjang di hadapannya, maka itulah saat yang sangat tepat untuk menyerang. Dan Harun tahu itu.
    Harun yang sudah menggenggam benak Ki Jagatsudana, segera mengerahkan kekuatan pikirannya dan meremas benak musuhnya itu sekuatnya. Untuk hal ini, belum pernah ia lakukan dan ia tidak tahu konsekuensinya. Yang jelas, ketika akal Ki Jagatsudana yang tidak siap itu diremas dengan kekuatan Harun, benak itu hancur.
    Betul, pikiran Ki Jagatsudana lenyap dari kepribadiannya. Ki jagatsudana hanya sempat berteriak kurang dari satu detik, untuk lalu terdiam. Harun tidak tahu bahwa ia memakai hampir seluruh kekuatannya ketika melakukan ini. Jadi, Ia tidak tahu bahwa ia dapat membuat seseorang menjadi tanpa kepribadian seperti itu.
    Harun mendapati bahwa Ki Jagatsudana masih hidup secara ragawi, namun kepribadiannya kosong. Seluruh ingatan hidup ki Jagatsudana masih ada dan membekas di otak, namun pribadinya sudah hilang. Tidak ada ‘aku’ di dalam Ki Jagatsudana. Ki Jagatsudana sudah sirna.
    Harun kemudian mempunyai ide yang brilian. Hanya orang sejenius Harun yang bisa memikirkan ini. Situasi Ki Jagatsudana bisa dibilang seperti orang yang sedang dicuci otaknya, hanya saja belum lengkap prosesnya. Proses pengosongan otak sudah selesai, kini menunggu pembentukan Pribadi yang baru.
    Maka Harun menanamkan ide. Semacam menanamkan program computer, ke dalam otak tanpa kepribadian itu. Namun, sebelum memprogramnya, Harun menyirep ibunya dulu, karena waktunya belum pas. Setelah ibunya tertidur di lantai maka Harun mulai proses pemrograman itu.
    Ternyata untuk membentuk Pribadi yang dapat berfikir sendiri, cukuplah lama dan susah. Perlu sekitar 5 jam untuk melakukannya, karena Harun harus mencoba dulu, bila kurang maka akan mencoba lagi yang lain dst. Dan setelah selesai, Ki Jagatsudana menjadi Pribadi yang baru, yaitu seorang manusia yang menuruti semua perintah dari Harun.
    Kemudian Harun menyuruh ibunya berdiri, walaupun ibunya masih tertidur. Ibunya berdiri dengan mata terpejam. Ingatan ibunya direset sehingga seakan-akan kejadian ibunya buka baju baru saja terjadi. Kemudian Harun menyadarkan ibunya.
    Asih yang mengalami modifikasi memory, dalam benaknya baru saja disuruh buka baju oleh Ki Jagatsudana. Rasa takut yang sama menghujamnya persis seperti yang 5 jam lalu terjadi.
    “Kamu sangat cantik, sayang…..” suara Ki Jagatsudana membahana tanpa emosi, membuat Asih bergidik. Lelaki itu menghampiri anak lelakinya lalu berkata, “Bangun bocah!”
    Harun terbangun dan melihat ibunya yang setengah telanjang. Asih berusaha menutup tubuhnya. Harun berusaha menolehkan mukanya.
    “Perempuan jalang! Kalo kamu menutup tubuh kamu, saya akan potong anakmu!”
    Dengan panic Asih membuka kedua tangannya. Ia melihat anaknya yang memejamkan mata, dan merasa sedikit lega.
    “Buka matamu, bocah! Kenapa malu melihat badan ibumu sendiri! Kalo kamu tidak mau, saya gorok lehermu!”
    Harun menggeleng-geleng, namun Asih melihat bahwa leher anaknya mulai memerah tanda terluka.
    “Harun! Buka saja, nak. Jangan mati konyol!”
    Harun akhirnya membuka matanya. Ia menatap lantai, namun atas desakan Ki Jagatsudana, akhirnya Harun menatap tubuh ibunya erat-erat. Asih pun sudah tidak berusaha menutupi tubuhnya yang setengah telanjang.
    “Jalan ke kamar tidurmu!”
    Maka Asih mendahului kedua lelaki itu dan berjalan ke kamar tidurnya. Ki Jagatsudana membawa serta Harun yang ditodong dengan pisau pada bagian lehernya. Setelah sampai di kamar tidur, Asih disuruh membuka semua pakaian dalamnya.
    Rasa takut yang melanda Asih, membuat udara serasa panas. Badan wanita itu sudah mulai dihiasi peluh ketika sampai di kamar tidur. Kipas angin masih dalam posisi mati, sehingga ketika Ki Jagatsudana menutup pintu, keadaan ruang tidur tidak membantu sama sekali dan Asih mulai mandi keringat.
    Harun merasakan burungnya berdenyut-denyut ketika melihat ibunya membuka BH dan dua buah payudara ibunya yang bulat dengan puting mengacung keras ke atas terpampang jelas. Apalagi ketika ibunya membuka celana dalamnya dan menunjukkan jembutnya yang rapi tercukur menghiasi bibir kemaluannya yang mengintip sedikit dari selangkangan.
    “Bocah! Ternyata kamu kurang ajar juga! Lihat burung kamu itu tegak melihat tubuh indah ibumu sendiri! Dasar bocah mata keranjang!”
    Asih melihat celana Harun, dan memang terlihat cetakan panjang dibagian depan celananya itu. Harun terangsang melihat dirinya.
    “Buka celanamu!”
    Harun terlihat kaget. Ia menggeleng-geleng, namun pisau Ki Jagatsudana secara cepat mengancam selangkangannya.
    “Kalo kamu malu, biar kupotong saja burungmu! Kamu sudah nafsu melihat tubuh ibumu sendiri, ngapain malu? Tunjukkin nafsumu pada ibumu!”
    Asih merasakan kata-kata Ki Jagatsudana demikian tak sopan. Tapi entah kenapa, tubuhnya merasakan birahi juga. Semenjak anaknya bangun, Asih pertama kali merasa malu, namun mengingat mereka berdua sempat dekat tidak selayaknya ibu dan anak, bahkan sudah saling masturbasi, Asih mau tidak mau merasa terangsang juga. Apalagi selama ini ia sering memikirkan keintiman mereka dalam bayangan dan melakukan masturbasi juga dengan membayangkan keintiman itu.
    Asih merasa serba salah. Ketika anaknya diancam akan dipotong burungnya, Asih segera berkata,
    “Buka saja, sayang. Ikuti kemauan lelaki ini. Jangan melawan. Sayangi nyawa, nak.”
    Maka Harun membuka celanannya dan Asih terkaget juga melihat kontol anaknya yang besar dan menghitam. Kontol suaminya panjangnya hanya 13 senti, namun kontol anaknya tampaknya sekitar 17 senti dan gemuk. Anaknya masih remaja. Bagaimana nanti kalau sudah dewasa? Pikiran ini membuat memek Asih mulai basah oleh cairan vagina, selain oleh keringatnya yang sudah banjir dari tadi.
    “Kamu suka lihat ibu kamu telanjang, bocah?”
    Harun tidak menjawab. Tiba-tiba Ki Jagatsudana menempelengnya sehingga jatuh.
    Asih berteriak,
    “Jawab saja, nak…..”
    “saya….. ti….. ti….. ti…….” Kata Harun terbata-bata. Tentu saja semua ini sandiwara. Harun dengan tenaga pikirannya mengendalikan Jagad Sudana. Jagad Sudana kini adalah boneka yang dapat sekehendak hati dikendalikan oleh Harun.
    “Kalo kamu bohong sekali lagi, saya sayat leher kamu!”
    “Tidak apa-apa, nak….. jawab saja……” perintah Asih.
    “Apa Kamu suka lihat Ibumu telanjang?”
    “Iya!”
    “Bangun dari situ dan hampiri ibumu. Bilang ke ibumu kamu suka apa?”
    Perlahan-lahan Harun menghampiri ibunya yang sedang berdiri di kaki tempat tidur.
    “Ibu…….”
    Hening. Ki jagatsudana berteriak,
    “Perempuan sundal! Kalo anakmu ngomong, ya kamu jawab juga! Memangnya dia bicara sama tembok? Ulang lagi, bocah!”
    “Bu….”
    “ada apa, nak?”
    “Harun suka melihat ibu……” suara Harun seakan tercekat. Takut dimarahi lagi, Asih segera menimpali, “melihat apa, nak?”
    “Melihat ibu telanjang seperti ini……..”
    “Kenapa, nak?”
    “Karena ibu cantik…….”
    “terima kasih, nak….”
    Lalu hening karena Asih juga tidak tahu harus bilang apa lagi. Ia tidak yakin maunya Ki Jagatsudana itu apa.
    “Bocah, kontolmu itu tegang. Pasti kamu nafsu sama ibumu kan? Ayo bilang ke ibumu! Dasar bocah ga tau sopan santun!”
    “Ibu…..”
    “Ya, anakku….”
    “Aku nafsu sama ibu……”
    “Nafsu sama ibu?”
    “Nafsu sama apanya Ibumu?” potong Ki Jagatsudana. “Perempuan, minata anakmu untuk menjelaskan”
    “Kamu nafsu sama ibu? Bagian mananya ibu yang kamu nafsu?” kata Asih perlahan dan sedikit tercekat, karena vaginanya sudah basah kuyup mengeluarkan bau tubuhnya yang mulai birahi.
    Hening sejenak. Harun menelan ludahnya seakan berpikir lalu berkata,
    “Iya, bu… kalau dekat begini….. Harun bisa mencium bau tubuh ibu tanpa sabun dan parfum……. Harun sukaaaaaa banget…… nafsuuuuuu bangeeeeet…………”
    “Perempuan! Tidur di kasur! Buka tanganmu! Biar anak durhakamu ini mencium bau tubuh kamu. Masa’ sukanya sama bau keringat? Dasar gemblung! Biar bocahmu semaput sama bau ketekmu!”
    Asih menghempaskan diri di tempat tidur. Badannya sudah lengket karena keringat. Setidaknya dengan tidur keringat dipunggungnya dapat diserap seprai. Baru saja Asih mengangkat kedua tangannya, Harun telah ada di sampingnya dengan tubuh sedikit gemetar menahan gejolak yang seakan ingin meledak saat itu juga. Asih melihat wajah anaknya yang berbinar-binar. Seakan-akan anaknya itu adalah manusia yang paling Bahagia di dunia ini.
    Dan memanglah sebenarnya kali ini Harun merasakan kebahagiaan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Harun merasa telah sampai ke surga. Surga dunia. Orang bilang surga ada di telapak kaki ibu, namun menurut Harun, surga adalah ibu kandungnya. Dan sudah lama sekali Harun ingin memiliki surga ini. Kini, surga yang begitu ingin ia dapatkan tergolek pasrah di sampingnya tanpa busana, dengan peluh yang membasahi sekujur tubuh yang indah itu, sehingga mengeluarkan wangi tubuh yang begitu merangsang yang memenuhi rongga hidung Harun dan mengirimkan sinyal birahi ke otaknya.
    Mata Harun dengan rakusnya menjelajahi lekak lekuk tubuh ibunda kandungnya yang telanjang bulat itu. Dua buah gunung kembar yang mancung dengan puting menonjol begitu menantang kejantanan Harun. Kulit putih dan mengkilat karena keringat bak berlian yang telah diasah sampai berbinar mewah dan anggun. Perut ibunya yang rata, tidak berotot, namun rata. Tidak buncit sedikitpun. Perut yang dihiasi lembah kecil pusar yang seakan kedalamannya tak terukur oleh matanya. Dan di bawah perut, terhampar permadani yang rapi tercukur, sebagai dinding pertahanan yang menjaga lubang rahasia milik ibunya, yang terlihat sedikit dari sudut pandang Harun. Dua bibir luar vagina ibunya yang menutup memperlihatkan garis panjang yang hanya terlihat ujung atasnya karena sisanya tertutup oleh kedua paha ibunya yang basah penuh keringat.
    Entah berapa lama Harun menatapi keindahan tubuh ibunya yang tanpa busana sehelaipun itu, ketika akhirnya kedua mata Harun bentrok dengan kedua mata ibunya. Tanpa disadari, pikiran ibunya merembes masuk ke dalam pikiran Harun. Harun dapat merasakan pertentangan dalam benak ibunya itu.
    Di satu pihak, memperhatikan Harun menatapi tubuh telanjangnya, membuat Asih sedikit demi sedikit bertambah birahinya, namun di lain pihak, Asih tahu bahwa apa yang sekarang terjadi, dan apa yang nantinya akan terjadi, adalah hal yang sangat tabu. Bagi masyarakat, ini semua adalah suatu dosa besar. Bahkan, bagi Asih sendiri pun, hal ini adalah sesuatu yang tidak pernah ia inginkan. Hanya saja, belakangan ini, ada suatu kekuatan yang membuat ia menjadi nafsu kepada anaknya sendiri.
    Asih tahu bahwa Harunpun bernafsu kepada dirinya. Pengalaman kemarin ketika mereka asyik memasturbasi satu sama lain menunjukkan ini. Asih dapat melihat dari gelagat, perilaku dan bahkan perlakuan Harun yang semakin menunjukkan perasaan cinta bukan hanya cinta kepada ibu kandung, melainkan cinta yang diselubungi nafsu, cinta seorang lelaki kepada perempuan. Cinta yang mengandung intonasi seksual.
    Asih tahu semua ini tidaklah pada tempatnya. Dan bila situasinya berbeda, tentu ia tidak akan menjadi sepasrah ini. Asih terlalu mencintai Harun untuk membiarkan anak itu melakukan hal-hal yang tabu kepada dirinya. Karena hal seperti ini tentu akan berdampak pada jiwa seorang anak. Pokoknya, Asih akan berjuang sekuat tenaga untuk menolak Harun bila Harun meminta hal tabu kepada dirinya, walaupun sebenarnya Asih sendiri menginginkannya juga.
    Tetapi semuanya sekarang berubah. Nyawa anaknya kini terancam. Ketika Asih melihat Harun dilukai, walau hanya sedikit oleh lelaki jelek yang tidak bermoral itu, naluri keibuan yang dimiliki Asih langsung keluar. Asih tidak ingin anak yang ia lahirkan, ia rawat sampai kini besar menjadi seorang remaja yang ganteng dan maskulin, menghadapi marabahaya. Asih akan melakukan apa saja demi kelangsungan hidup anaknya ini. Dan tampaknya, Asih akan terpaksa melakukan hal yang selama ini ia anggap tabu, hal yang selama ini dengan sekuat tenaga telah ia coba untuk menolaknya. Namun, yang dilain pihak, sesuatu yang ia juga ingin rasakan. Sesuatu yang menyentil perasaan keingintahuannya. Sesuatu yang membakar kenakalan dalam dirinya. Sesuatu yang ia harapkan namun sesuatu yang menakutkan di saat yang sama.
    Terancamnya nyawa Harun, kini seakan memudahkan segala sesuatu. Asih tidak perlu lagi berdebat dengan diri sendiri. Tak perlu lagi memikirkan moralitas. Tak perlu lagi memikirkan norma-norma masyarakat. Tak perlu lagi menuding diri sendiri sebagai pelacur. Karena apa yang akan terjadi, semuanya adalah demi kehidupan anaknya. Semuanya demi cinta. Segala sesuatu yang salah, akan menjadi benar, atas nama cinta. Karena kesalahan akan menjadi pengorbanan dan kenikmatan yang nantinya diharapkan bukanlah tujuan, tetapi akibat yang dimulai dari: CINTA.
    Ibu dan anak itu berpandangan cukup lama. Si anak membaca pikiran ibunya tanpa setahu si ibu. Namun sang Ibu, menatap penuh cinta kepada anaknya dan untuk pertama kalinya di malam itu, ia memberikan senyum yang sangat manis kepada anaknya. Wajah Harun yang penuh rasa cabul menjadi berubah. Harun pun akhirnya tersenyum. Dan jauh di lubuk hati Harun, ada sedikit penyesalan. Karena kini ia tahu bahwa ibunya sangat mencintai dirinya. Cinta yang tulus. Bukan nafsu yang selama ini Harun rasakan kepada ibunya. Mata Harun yang tadi nanar karena birahi, kini menjadi teduh. Ada sedikit penyesalan di matanya. Namun, ibunya berkata dengan suara lirih,
    “Ibu tresno kamu, Le…..”
    Mau lihat cerita lain, silahkan lanjut ke:
    Indeks Cerita Pemanah Rajawali

  14. #13
    Adik Semprot Pemanah Rajawali's Avatar
    Daftar
    Jan 2012
    Lokasi
    Jianghui / Kangouw
    Posts
    107
    Thanks
    1
    Thanked 109 Times in 11 Posts
     THREAD STARTER 
    BAB TIGA BELAS

    KASIH IBU KEPADA HARUN

    Ki Jagad Sudana mendengar suara lirih Asih yang membisikkan kata-kata yang nadanya seharusnya didengar keluar dari mulut seorang kekasih. Namun kini diucapkan oleh seorang ibu kepada anak kandungnya. Bila Ki Jagad Sudana masih menjadi diri sendiri, tentunya dia akan terpengaruh juga, menjadi terangsang karena ini. Namun, kini Ki Jagad Sudana hanya seorang manusia yang pada dasarnya boneka yang dimiliki Harun, sehingga nuansa erotis yang sangat kental di kamar itu, tidak berpengaruh apa-apa terhadapnya.
    Lalu terdengar suara pelan Harun menjawab perkataan ibunya,
    “Harun mencintai Ibu sudah sedari dulu. Karena Ibu adalah perempuan yang paling cantik, paling baik, paling indah yang Harun kenal. Harun ingin memiliki Ibu sepenuhnya. Jiwa dan raga Ibu. Harun ingin menyatu dengan Ibu…”
    Dengan perlahan Harun menopang tubuhnya dengan kedua tangannya tanpa menyentuh ibunya, walaupun ia masih duduk di samping ibunya. Kedua tangannya bertumpu di samping kiri kanan tubuh telanjang ibunya. Harun lalu secara perlahan, sambil menikmati bau tubuh ibunya yang memancar keluar dari ketiak yang terbuka, sedikit demi sedikit menurunkan tubuhnya mendekati tubuh bugil ibunya.
    Lama kelamaan wajah ibu dan anak itu semakin mendekat. Masing-masing merasakan hawa panas yang memancar keluar dari kulit wajah mereka. Nafas mereka pun semakin dirasakan satu sama lain. Udara terasa lebih panas berkali lipat karena mereka berdua menyadari bahwa hubungan mereka mulai berubah dari yang seharusnya menjadi yang tak seharusnya.
    Akhirnya bibir mereka menempel perlahan. Mereka belum membuka mulut karena sentuhan bibir mereka terasa menyengat. Bagaikan terkena setrum listrik ribuan volt, yang mengirimkan sinyal elektrik penuh birahi yang menguasai seluruh jaringan tubuh mereka. Bahkan gejolak nafsu birahi mereka membuat badan mereka gemetar perlahan karena mengantisipasi sebuah kenikmatan yang sangat tabu.
    Harun merasakan bibir basah dan hangat milik ibunya mengecup balik bibirnya. Ada perasaan yang berbeda, dibanding mencium ibunya ketika ibunya tertidur. Kini ibunya terbangun dan mencium balik. Berbeda juga ketika waktu itu Harun menciumi punggung ibunya, karena saat itu hanya punggung ibunya yang boleh diakses oleh Harun. Fakta bahwa ibunya balas mencium membuat Harun begitu Bahagia, ia sendiri kesulitan untuk mengungkapkan perasaan ini.
    Pertama-tama bibir mereka menempel perlahan. Bagaikan sentuhan angin dikulit, suatu sentuhan yang sangat ringan tanpa tekanan. Seakan hendak melewati saja tanpa ada tekanan dan paksaan. Namun, sentuhan itu sedikit demi sedikit bertambah tekanannya, karena Harun mulai menekan bibir ibu kandungnya dengan bibirnya. Namun, Harun ingin mengingat malam ini selamanya, sehingga Harun tidak mau tergesa-gesa, tidak mau kenikmatan yang pertama kalinya akan ia rasakan dengan ibunya dengan cepat berakhir. Harun ingin menikmati detik demi detik kebersamaannya dengan ibunya dengan penuh penghargaan.
    Akhirnya Harun dan ibunya mulai mengecupi bibir satu sama lain. Kecupan yang masih ringan, perlahan dan berbunyi pelan. Suara kecil kecupan itu hanya mereka berdua yang mendengar, ditingkahi oleh suara nafas mereka yang sedikit demi sedikit mulai menjadi cepat secara gradual. Kemudian Asih mulai tidak tahan dan menggunakan kedua tangannya untuk mendekap wajah anak kandungnya, sementara bibirnya mulai bertambah keras mengecupi bibir anaknya dibarengi dengan kedua tangannya yang mulai menarik kepala anaknya agar semakin menekan.
    Perubahan gerakan yang sebenarnya biasa saja, justru bagi mereka berdua yang sedang asyik, menambahi bumbu dalam masakan birahi yang sedang mereka berdua goreng bersama. Harun merasakan ada suatu desakan kecil dari ibunya, dan juga dari dalam hatinya sendiri, untuk menambahkan kecepatan dan ketegasan dalam cumbuannya kepada ibunya.
    Maka Harun sambil mengecup keras bibir ibunya, ia membuka mulutnya perlahan dan menggunakan sedikit ujung lidahnya untuk menyapu bibir ibunya. Lidah Harun merasakan bibir basah ibunya begitu hangat dan nikmat. Asih yang merasakan jilatan anak kandungnya pada bibirnya, menjadi bertambah horny, dan tanpa disengaja mengeluarkan suara bergumam dari dalam mulutnya yang tertutup ditambah dengan dengusan dari hidungnya selama beberapa saat, sebelum akhirnya mulai membuka mulut mungilnya dan mengeluarkan lidahnya pula untuk menyambut serangan lidah anaknya.
    Pada pertama kali kedua lidah mereka bersentuhan, Harun merasakan bagai dalam dunia mimpi. Sudah ribuan kali ia memimpikan berciuman dengan ibunya, namun baru kali ini dirasakan. bagi Harun, inilah saat paling Bahagia yang pernah ia rasakan selama hidupnya. Untuk merasakan lidah ibunya yang hangat, basah dan licin, bersentuhan langsung dengan lidahnya sendiri, adalah pengalaman yang mengalahkan sensasi nikmat lainnya di dunia.
    Harun memulai ritme berciuman dengan lidah, atau French Kisss, dan ibunya mengikuti irama itu. Kedua mulut ibu dan anak itu saling mengecup, mencium, menempel, membuka dengan irama yang begitu padu, seakan mereka sudah lama sekali melakukan ini berdua. Harun begitu menikmati mencumbu mulut ibunya, karena sambil berciuman, ibunya terus menerus mengeluarkan suara bergumam bahkan desahan tiap kali membuka mulutnya.
    “Mmmmmmuaahhhhh….. hhhhmmmhhh aaahhh……..hmmmmmm……ahhh…”
    Kedua lidah mereka saling menjilat. Bibir mereka saling berpagutan. Kadang kala Harun asyik meleletkan lidah cukup lama, agar dapat menjilati lidah, bibir bahkan rongga mulut ibunya. Bahkan sempat, Lidah Harun menyusuri gigi depan ibunya baik atas dan bawah, dengan nakal menjelajah gusi ibu kandungnya, atau menjilati lidah ibu kandungnya dengan penuh nafsu. Di lain saat kedua bibirnya asyik mengenyoti bibir ibunya, baik atas maupun bawah.
    Perlahan Harun mulai menindih tubuh ibunya. Asih melepaskan tangan dari wajah Harun dan memeluk tubuh penuh keringat anaknya. Ia merasakan kedua kaki anaknya menyelusup ke antara kakinya, hingga Asih membuka kedua kali dengan menarik betis ke atas. Perlahan tapi pasti beban tubuh Harun bertumpu pada tubuh telanjang Asih. Dada Harun menempel pada dada ibu kandungnya itu. Asih merasakan batang kontol Harun menindih perut bawahnya, tepat bersemayam di atas jembutnya yang sudah basah baik oleh keringat dan juga cairan kewanitaannya.
    Harun menyelipkan kedua tangannya ke balik punggung ibunya dibantu dengan Asih yang sedikit mengangkat tubuh sambil memeluk punggung Harun sehingga mudah bagi Harun memeluk ibunya. Harun kini menindih ibu kandungnya sambil saling berpelukan erat. Sementara, keduanya terus asyik berciuman. Keringat mereka kini menjadi bercampur.
    Sekarang mereka mulai dikuasai oleh nafsu birahi yang melenyapkan segala pikiran logis mereka. Bahkan Asih sudah lupa bahwa Ki Jagad Sudana masih ada di sana menonton mereka berdua. Bila saja Asih tidak dikuasai nafsu seperti ini, tentunya ia akan curiga kenapa Ki Jagad Sudana yang begitu galak dan vocal tadi, kini terdiam seribu bahasa. Ki Jagad Sudana kini sedang tidak diperintah oleh Harun, berhubung Harun juga sedang dikuasi nafsu seksual seperti ibunya dan lupa dengan segala-galanya. Yang ada di pikirannya adalah ibunya. Hanya menggauli ibunya menjadi focus pikirannya.
    Kini Harun mencumbu ibunya bak setan yang kelaparan. Tangannya memeluk erat ibunya sambil kepalanya bergoyang ke kanan ki kiri menikmati cumbuan dua pasang bibir yang sudah basah oleh campuran liur mereka. Asih mengelusi punggung dan bagian belakang kepala anaknya, sementara ia sendiri menggoyangkan kepala sesuai irama tubuh anaknya. Suara kecupan keras ditingkahi oleh desahan, gumaman bahkan erangan kecil Asih membahana di kamar tidur yang seharusnya menjadi peraduan dirinya dan suaminya.
    Entah berapa lama mereka asyik bercumbu dengan berciuman. Sampai akhirnya Harun melepaskan ciumannya lalu menatap ibunya dengan penuh nafsu sejenak. Kemudian perlahan Harun mulai menjilati leher ibunya yang penuh keringat. Asin peluh ibunya tidak membuat Harun jerih, melainkan bertambah nafsu karena sekarang ia dapat merasakan tubuh ibunya pada lidahnya. Setiap jengkal leher ibunya habis ia jilati, kecupi dan kenyoti. Sehingga tak lama leher jenjang dan putih ibunya bertambah hiasan cupang merah di sana sini.
    Tak puas sampai di situ saja, Harun mulai menurunkan kepalanya kebahu kiri ibunya. Sepanjang jalan lidahnya menyapu kulit penuh keringat ibunya, sambil terkadang menghadiahi kulit mulus dan halus itu dengan hiasan cupang merah dalam perjalannya ke pangkal lengan. Ketika sudah mendekati ketiak ibunya, Harun memegang tangan kiri ibunya yang sedang mendekapnya, lalu menarik tangan itu ke atas sehingga ketiak ibunya terbuka lebar.
    Ketiak ibunya sungguh indah bukan kepalang. Kulit ketiaknya sedikit lebih putih dari kulit tubuh yang lainnya. Namun, ada sedikit bulu-bulu halus keriting mencuat keluar di tengah ketiak ibu kandungnya itu. Ketiak itu basah total, bahkan bulu ketiak ibunya tampak lepek karena basah oleh peluh yang sedari tadi mengalir keluar. Bau tubuh ibunya membuat Harun seakan pusing tujuh keliling dimabuk asmara.
    Serta merta Harun menggagahi ketiak kiri ibunya itu. Asih merasa geli, namun nafsu birahi mengalahkan perasaan geli itu. Asih merasakan betapa tabunya lidah anaknya menggelitiki bulu ketiaknya yang tidak begitu lebat itu, namun betapa menggairahkan perasaan itu. Di satu pihak ia tahu hal ini tidak seharusnya dilakukan, tapi dilain pihak, fakta bahwa ini adalah sesuatu yang melawan norma dalam masyarakat, malah justru menambah daya kekuatan birahi yang ia rasakan.
    Harun menikmati rasa di lidahnya, saat bulu keriting dan halus yang diselimuti bau tubuh ibunya itu dijepit oleh lidah dan rongga atas mulutnya. Lidahnya ia mainkan membelai-belai bulu ketiak ibunya, sambil sesekali ia menyedot-nyedot bulu ketiak ibunya itu seakan ingin menghisap sari pati dan esensi dari keindahan ibunya. Lalu ketiak ibunya ia jilati bagaikan anjing sedang minum susu di mangkuk. Seluruh daerah ketek ibunya itu telah dijelajahi lidah, bibir dan mulutnya.
    Kemudian akhirnya bibir Harun menyusuri gundukan payudara kiri ibunya. Asih kini mulai mengerang-ngerang tanpa kenal rasa malu mengantisipasi kedatangan mulut nakal anaknya di daerah dadanya. Untuk pertama-tama, Harun sengaja tidak menyerang pentil ibunya secara langsung, karena ia ingin menjelajahi bukit dari bawahnya dahulu.
    Harun menjilati dan mengenyoti gundukan tetek ibunya dengan rakus dan penuh nafsu. Seluruh keringat ibunya yang masih mengalir keluar ia selomoti seakan ia sedang haus dan ingin minum air keringat yang dihasilkan ibunya. Dan memanglah Harun sedang haus. Haus akan cinta ibu kandungnya. Haus akan cinta seorang lelaki dan perempuan. Haus akan cinta dan berahi.
    Sementara, tangan kiri Harun kini sudah tidak mendekap ibunya. Tangan itu ia tarik untuk mulai membelai-belai dan meremas perlahan payudara sebelah kanan ibunya. Asih memegang tangan kiri Harun dengan perlahan seakan menyemangati anaknya untuk terus melakukan itu. Sementara tangan kanan Asih masih mendekap kepala anaknya yang sedang asyik menikmati payudaranya.
    Otot payudara ibunya begitu lembut dan kenyal. Bagi lelaki yang berpengalaman, tentunya di kepalanya ketika melihat buah dada wanita yang mancung seperti tetek Asih, maka dalam benaknya akan membayangkan tetek itu memiliki otot yang kuat sehingga mampu berdiri mengacung dan menantang. Tetapi, bagi yang berpengalaman seperti harun akan tahu, bahwa payudara wanita yang indah itu memiliki kumpulan otot yang begitu lembut namun kenyal. Tidak seperti bayangan di otak para perjaka yang belum matang.
    Harun begitu menikmati betapa mulusnya kulit ibunya itu. Putih, halus dan bersinar. Bagaikan porselein dari cina namun terbuat dari sutera. Sungguh perpaduan yang akan membuat semua lelaki normal di dunia ini bertekuk lutut di depan perempuan bak dewi yang turun dari kahyangan.
    Memikirkan itu, Harun begitu trenyuh. Ia akhirnya mendapatkan perempuan secantik ibu kandungnya. Benar-benar seperti bidadari yang baru turun dari kahyangan. Harun baru tahu kenapa Jaka Tarub begitu tidak tahu malunya mencuri selendang sang bidadari, karena kinipun Harun menggunakan tipu muslihat agar bidadari yang adalah ibu kandungnya sendiri, dapat jatuh ke tangannya. Bila ini adalah cerita silat, maka Harun tentunya adalah salah satu pendekar pemetik bunga, dan kini adalah saat di mana ia memetik bunga yang terindah di dunia.
    Dengan satu gerakan yang tidak bisa dibilang anggun, Harun akhirnya memasukkan pentil tetek ibunya kedalam mulutnya yang membuat Asih mengerang keras penuh nikmat. Dirasakan harun pentil ibunya mengeras di lidahnya. Harun menyedot pentil itu keras-keras karena gemas dan birahi. Bagaikan bayi kelaparan, Harun mengenyoti tetek ibu kandungnya yang sudah tidak memiliki susu lagi.
    Cukup lama Harun mengenyoti payudara kiri ibu kandungnya sambil meremasi buah dada yang sebelah kanan. Lama kelamaan ada sedikit cairan yang keluar. Rasanya sedikit pahit namun Harun dapat merasakan bau tubuh ibunya pada cairan tubuh itu. Bau yang begitu ia kenal karena tadi lama menikmati ketiak ibunya. Cairan tetek ibu, itu menurut pikiran Harun.
    Tak lama buah dada yang sebelah kanan menjadi bulan-bulanan harun juga. Kini payudara kiri yang sudah dipenuhi liur Harun gentian di emek-emek oleh tangan kanan Harun. Harun menjilati dan mengenyoti belahan dada ibunya untuk kemudian menjelajah bukit sebelah kanan itu di mulai dari dasar payudara itu. Sehingga kini hampir seluruh dada telanjang ibunya yang tadinya penuh keringat kini bercampuran juga dengan air liur si bocah hipersex, selain berhiaskan cupangan di sana sini.
    Cukup lama juga Harun menikmati buah dada ibunya yang sebelah kanan. Membuat ibunya tak mampu menahan gejolak birahinya. Kontol Harun yang tadi bersandar di jembut ibunya, kini sudah melintang di depan bibir memek ibunya. Asih kini menggerakkan pantatnya maju mundur, menyebabkan klitorisnya kini menggeseki batang kontol Harun bagian bawahnya.
    Harun menikmati sensasi baru ini, bagian bawah kontolnya merasakan bibir memek ibunya yang sempit itu sedikit membuka sehingga ia dapat merasakan kehangatan yang menguar dari vagina ibunya. Vagina ibunya sudah basah total. Tampaknya tidak ada lagi bagian yang kering sekujur tubuh ibunya. Entah karena keringat, air liur Harun atau cairan pelumas dari dalam lubang kenikmatan Asih sendiri.
    Sekarang bau tubuh ibunya dan bau tubuh Harun sudah menguasai kamar. Bau tubuh ibunya yang makin santer tercium keluar dari selangkangan ibunya. Bau tubuh yang membuat kontol Harun berdenyut-denyut siaga, seakan berkata “mana lubangnya?!!”
    Ketika Harun mulai menyedoti pentil tetek kanannya, Asih menjadi kalap, sambil menggenggam kontol Harun yang besar itu dengan tangan kanannya, ia setengah berteriak berkata,
    “Harun anakkuuuuu….. masukkan burungmu ke dalam tempik ibu, naaaaakkkkk…………..”
    Harun sambil terus mengenyot tetek ibunya, mengangkat pantatnya, sementara kontolnya masih digenggam ibunya. Ibunya lalu menarik kontol itu, di usap-usapkannya ujung kontol Harun sepanjang celah memeknya sehingga bibir luar memeknya itu membuka karena tersibak Palkon Harun, dan menyebabkan palkon Harun mulai diselimuti cairan kewanitaannya, membuat kepala kontol harun yang besar terminyaki dengan baik.
    Lalu Asih memposisikan kontol itu di lubang vaginanya. Sedikit palkon anaknya terbenam di lubang sempitnya yang sudah basah.
    “Tekan sayangku……” kata Asih penuh dengan birahi.
    Harun lalu menekan pantatnya. Kontolnya susah payah masuk sedikit demi sedikit di lubang vagina ibunya yang terasa panas dan licin namun sangat sempit. Terdengar bunyi plok! Dan kepala kontol Harun melewati celah vagina ibunya dan masuk ke dalam lubang memeknya.
    “Aduuuuuuh…..” jerit Asih,” tahan dulu….. belum pernah ada yang sebesar ini masuk sebelumnya. Bahkan kamu dulu lahir di cesar…. Tunggu dulu……. Sakiitttt…..”
    Asih merasakan benda tumpul besar menghujam vaginanya dan membuat lubangnya terpaksa menelan benda besar itu sehingga lubang kecil vaginanya seakan direnggangkan secara paksa. Sementara itu, Harun merasakan vagina ibunya sempit sekali, hampir mirip ketika ia memerawani Atik dan Janna. Walaupun vagina ibunya tidak sesempit anak perawan, namun cukup sempit sehingga membuat Harun lupa diri.
    Dinding vagina ibunya dengan keras menjepit palkonnya. Dinding itu begitu ketat namun hangat dan licin. Selama semenit Harun dapat menahan gejolak, namun akhirnya ia merangkul ibunya kuat-kuat lalu menghujamkan kontolnya dalam-dalam.
    “Aaaaahhhhhh……..” teriak Asih ketika kontol besar Harun menghujam keras ke dalam lubang memeknya. Hebatnya lagi, ia merasakan ujung kontol Harun bahkan keluar dari lubang vaginanya sehingga mencapai permulaan rahimnya.
    Sensasi ini belum pernah seumur hidup dirasakan Asih. Ada benda yang mengganjal lubang memeknya bahkan sampai ke rahim. Asih merasa penuh. Terombang-ambing antara sakit dan nikmat yang belum pernah ia rasakan.
    Harun merasakan hal yang lain. Ini adalah cita-citanya dan ternyata terjadi. Oleh karena itu ia untuk sementara diam membeku, untuk merasakan seluruh sensasi saat itu. Seluruh batang kontolnya sudah ambles di dalam vagina ibunya. Seluruh dinding vagina ibunya itu kini menjepit kontolnya erat-erat. Namun, lama kelamaan ia sadari bahwa dinding itu seakan membuka menutup. Walaupun tidak terlalu keras terasa, tetapi tetap terasa. Dinding memek ibunya membuka menutup seirama denga nafas ibunya yang memburu.
    Lama lama Harun menjadi gelap mata lagi karena nafsunya memuncak lagi. Dinding vagina ibu kandungnya itu bagaikan memijat kontolnya. Daerah paling rahasia dan intim yang dimiliki ibunya, dan yang hanya boleh dikunjungi bapaknya, kini secara tak bermoral telah ia masuki. Bahkan organ intim ibunya itu kini memijati kontolnya yang penuh dengan nafsu bejat.
    Sambil terus mengenyoti payudara ibunya, -karena tinggi badan ibunya yang lebih tinggi daripadanya membuat saat mereka bersetubuh seperti ini, mulut Harun menjadi sejajar dengan dada ibunya yang membuat menetek sambil bersebadan merupakan posisi yang sangat pas. – Harun mulai memompa perlahan memek ibunya dengan kontolnya.
    Asih sudah mulai terbiasa denga besarnya kemaluan anaknya itu. Dan kini membiarkan anaknya menggesekkan kontolnya di dalam lubang memek ibunya itu secara perlah. Kini kedua tangan Asih kembali mendekap anaknya, dengan satu tangan membelai rambut anaknya yang sedang meneteki payudara kanannya.
    Lama kelamaan Harun merasakan liang surgawi ibunya itu menjadi semakin licin. Sehingga usahanya untuk menggenjot ibunya menjadi semakin mudah. Akhirnya ia mulai mengentoti ibu kandungnya hingga terdengarlah suara selangkangan berpadu. Kini Harun telah betul-betul berhubungan seksual dengan ibu kandungnya.
    Adalah sesuatu yang tidak ada bandingannya di dunia ini, menurut Harun, bersetubuh dengan ibu kandung sendiri. Rasanya mengalahkan saat ia menyetubuhi wanita-wanita lain. Entah kenapa persetubuhan ini seakan menjadi puncaknya. The ultimate fuck. Mungkin karena Harun telah pulang lagi ke tempat dulu ia berasal. Sembilan bulan ia tinggal di dalam rahim ibunya, kini, kemaluannya telah pulang ke rumah. Kembali berkunjung setelah sekian tahun berpisah. Sebuah reuni yang dipenuhi nafsu yang begitu nikmatnya dirasakan.
    Ki Jagad Sudana menatap kekosongan, sementara seharusnya ia memperhatikan yang terjadi di atas tempat tidur. Seorang anak sedang asik menggagahi ibu kandungnya sendiri. Mereka mendesah, mengerang, bergumul dalam luapan asmara diiringi alunan music selangkangan beradu.
    Dalam puncak asmara, kedua insan ibu dan anak itu akhirnya berteriak sambil menikmati orgasme pertama mereka saat bersebadan. Harun menyemproti rahim ibunya dengan bakal anak di dalam cairan pejunya.

    PENUTUP

    Masih banyak kejadian yang dialami Harun setelah ia pertama kali meniduri ibu kandungnya sendiri. Namun untuk menceritakannya dengan cepat dan menaruhnya dalam suatu ikhtisar, sangatlah tidak adil untuk cerita itu sendiri.
    Tahukah kau bahwa Harun adalah dukun yang pernah saya ceritakan terpisah di tempat lain? Ya, dalam cerita Akibat Ke Dukun.
    Untuk bisa sampai ke saat Harun telah menjadi dukun sukses, Harun melewati berbagai rintangan, halangan, pengalaman, baik maupun buruk. Sedih dan senang. Pertemuan dan perpisahan. Harun melampaui banyak hal sebelum ia menjadi orang yang sukses. Bukan. Bukan sukses karena harta. Tetapi sukses, karena Harun pada akhirnya menemukan kedamaian.
    Apakah nanti ada cerita mengenai Harun lagi? Biarlah waktu yang ‘kan membuka segalanya pada waktunya. Tidak pernah terlalu cepat, tidak pernah terlalu lambat. Karena waktu bergulir tanpa pernah merubah kecepatan.

    TAMAT

    Lereng Gunung Kembar, 2013
    Mau lihat cerita lain, silahkan lanjut ke:
    Indeks Cerita Pemanah Rajawali

  15. #14
    Banned
    Daftar
    Dec 2012
    Posts
    600
    Thanks
    0
    Thanked 0 Times in 0 Posts
    User di-banned, maka konten otomatis dihapus.
    User is banned, content is deleted automatically.

  16. #15
    Suka Semprot
    Daftar
    Sep 2011
    Posts
    16
    Thanks
    0
    Thanked 0 Times in 0 Posts
    makasih suhu buat ceritanya.. mantap

  17. #16
    Semprot Kecil kontol175's Avatar
    Daftar
    Feb 2012
    Posts
    96
    Thanks
    2
    Thanked 0 Times in 0 Posts
    Top banget gan........I LIKE

  18. #17
    Semprot Awal
    Daftar
    Jan 2011
    Posts
    3
    Thanks
    0
    Thanked 0 Times in 0 Posts
    Top markotop Ki!!

  19. #18
    Semprot Lover
    Daftar
    May 2012
    Posts
    236
    Thanks
    1
    Thanked 93 Times in 23 Posts
    ane dah pernah baca di salahsatu blog ne.....

  20. #19
    Semprot Awal
    Daftar
    Feb 2013
    Posts
    1
    Thanks
    0
    Thanked 0 Times in 0 Posts
    pertamax gan....
    ending yang sempurna bangetttt.
    TOP BGT

  21. #20
    Semprot Awal
    Daftar
    Feb 2013
    Posts
    3
    Thanks
    0
    Thanked 0 Times in 0 Posts
    Live Score
    Luarrr biasaaa TOP gan

Halaman 1 dari 5 123 ... TerakhirTerakhir

Bookmarks

Posting Permissions

  • You may not post new threads
  • You may not post replies
  • You may not post attachments
  • You may not edit your posts
  •  
Agen Bola Online
Jav Toys  Pusat Toys
Agen Bola Online  Agen Bola Online
Agen Bola Online  Agen Bola Online
Agen Bola Online