188 Bet - Online
Sbo Hoki Online
Senior Bola - Agen Bola
Live Score Online
Toto Alpha - Agen Bola   Togel Matrix
Fass Bet Online
9Club Situs Judi Online Terpercaya
Tahun QQ, Agen Bola   dinasti poker online
negara qq online   serba qq online
pemain kasino online   hobi casino online
serba casino online   dewan cash online
Premier 189 online   Poker Dewa online
FifaQQ online   Bandar 855 online
Sport 855 online   Bandar 855 online
Sport 855 online   MSN Poker online
Gubuk Bola 88 online   Agen Togel Online (indoDingDong)
Asus Togel online   Sarana Cash online
Kartu Demen online   Happistar online
99 Cash online
Pasang iklan, hanya lewat Contact Us, bukan lewat WA / BBM / Line / Wechat / dll.
Waspada penipuan iklan. Klik di sini untuk melihat daftar penipu.

Arsip DELETED Cerbung

Status
Thread ini sudah dikunci moderator, dan tidak bisa dibalas lagi.

velkrasnyyvet

Dreamer
UG-FR+
Thread Starter
Daftar
1 Feb 2011
Post
1.918
Like diterima
1.090
Lokasi
Outside The Box
Dihapus tanggal
27 Januari 2016...


Persetubuhan pertama tak pernah terlupa. Kamal melepas perjaka.

Tak lebih dari dua kilo meter dari rumahku, terbentang Laut Cina Selatan. Di sana ada sebuah dermaga beton menjorok ke laut. Alur panjang yang menghubungkan dermaga itu dengan bibir pantai kerap menjadi tempat memancing ikan.

Aku suka pergi ke dermaga beton itu, berjalan di alurnya hingga tiba di dermaga ujung, tak ada masalah sama sekali. Yang menyiksa, dari bibir pantai hingga dermaga, jaraknya tak kurang dari 500 meter. Sering aku berdiri di sana, di sisi paling pinggirnya.

Berada di sana, tempat yang jarang dikunjungi orang, sungguh menyenangkan saat itu. Aku bisa mendapatkan ikan besar yang tak pernah diduga sebelumnya, bahkan oleh diriku sendiri. Kakap merah (Latjunus malabaricus), kerapu (Chromileptes altivelis), jebung (abalistes stellatus), kuwe/trevally (Caranx sexfasciatus), kerisi (Nemitarus nematophorus), ekor kuning (Caesio erythrogaster), kembung (Rastrelliger brachysoma), dan ikan yang kami sebut lencan (Lethrinus lentjam) cukup banyak di sana. Bahkan tenggiri (Scomberomorus commerson) dan makerel (Rastrelliger faughni) pernah terjerat mata kailku jika sedang musimnya.

Sambil duduk santai di lantai dermaga atau bangku terbuat dari batang nyiur, aku lempar umpan ke air.dan menunggu ikan-ikan itu melahap umpan yang terkait di kail. Kadang-kadang, ketika laut pasang, ombak membesar bergulung-gulung dari tengah Laut Cina Selatan menghantam keras ujung dermaga dan memuncratkan air hingga belasan meter ke udara. Aku senang menatap gulungan ombak meskipun terpaksa menghirup aroma garam. Dengan lincah aku menghindar cipratan air agar pakaian tidak basah, melompat dari tiang pancang dermaga yang satu ke tiang lainnya, mencari celah karang, melempar kail, dan hampir selalu berhasil menangkap ikan.

Tapi Itu memang cerita lama, saat aku masih anak-anak dan remaja. Kini dermaga itu ramai. Selain jumlah penduduk lokal yang meningkat, banyak pemancing Jakarta atau turis biasa yang melancong ke kampung halamanku. Dermaga itu kini termasuk wilayah yang menjadi salah satu objek wisata pantai di tempat kelahiranku.

Dunia sepertinya tak adil. Sementara banyak orang Jakarta berwisata di dermaga tercinta itu, aku sendiri terikat pekerjaan di Jakarta yang menjadi tempat rantauanku. Aku sudah beristeri dan punya anak, sekaligus menjadi menantu kesayangan Mak Lela.

Tentulah aku sudah memegang KTP DKI dan akan mencoblos di putaran kedua pemilihan gubernur. Mau nyoblos siapa, tentu saja rahasia.

Jika di Jakarta ada nyoblos rahasia dalam pemilihan gubernur, dermaga di kampungku yang menghadap Laut Cina Selatan pun menyimpan cerita serupa. Tapi, nyoblos rahasia di dermaga itu adalah kisahku melepas perjaka seperti yang pernah aku janjikan ketika cerita Mak Lela selesai, entah berapa bulan lalu.

Kini aku akan memulainya. Silakan menungguku menuliskannya hingga selesai selagi ada waktu luang menjelang pilkada Jakarta putaran kedua pada September mendatang.

Nah, dengan siapa nyoblos rahasia di dermaga? Perempuan itu bernama Yati. Rambutnya bucheri (bule dicat sendiri) saat aku melihatnya pertama kali. Rambut diwarnai seperti di tempat kami disebut sebagai dipikok (maksudnya peacock, karena pewarna rambut itu memang cap burung merak).

Namun, pangkal rambut Kak Yati (begitu aku menyebutnya) ia biarkan hitam alami. Tubuhnya berisi karena kerap bekerja sebagaimana perempuan pantai. Namun suaranya lembut, dan kerap tersenyum simpul jika menatapku lama-lama. Suara, senyum, dan tatapan itulah yang membuatku sering membawa Kak Yati dalam mimpi....


Bersambung!
(Yang minta nyambung atau stop, silakan)
Kala Cinta Berlabuh di Dermaga (2)

Suatu hari di masa remajaku aku memancing lagi di dermaga. Sebagai anak pantai, aku mengetahui pada hari-hari itu akan ada pasang yang tak terlalu tinggi. Laut akan tenang dan cuaca mendukung. Arus angin juga demikian, tiada tanda-tanda akan terjadi badai.

Yang pertama aku lakukan adalah mencari umpan hidup, bukan membeli umpan seperti orang-orang kaya memancing. Jadi, aku bawa sekop kecil dan sepatu bot karet yang sekarang masih sering aku lihat dipakai nelayan dan pedagang ikan di pelabuhan Muara Angke dan Muara Baru, Jakarta Barat.

Mengenakan sepatu bot itu, kakiku melangkah menuju muara sungai kecil tempat karang tenggelam dalam lumpur yang terbawa dari daerah hulu. Air mulai pasang, sementara lumpur sedalam sekitar 15 cm sudah menenggelamkan karang sehingga udang kecil calon umpanku tak bebas bergerak.

Sekitar setengah jam aku menggali parit kecil di tengah lumpur. Ketika air mulai mengalir di parit buatanku itu, udang-udang kecil pun mulai terseret keluar dari lubang persembunyiannya. Dalam waktu singkat, puluhan udang dan beberapa kerang sudah aku kumpulkan. Lantas ku tampung umpan-umpanku itu dalam ember plastik yang menjadi perlengkapan pancingku. Kini aku siap menuju dermaga.

Aku beristirahat sejenak di ujung dermaga karena perjalanan dari muara sungai kecil ke ujung dermaga cukup jauh. Sepatu bot juga membuat langkah menjadi lebih berat.

Setelah itu ku genggam pangkal joran. Joranku cukup besar, panjangnya sekitar 1,5 meter. Di pinggang melilit sabuk dengan kantong perlengkapan berisi makanan kecil, botol minum, rokok, dan korek gas, juga ember umpanku. Di kantong jaket tersedia beberapa mata kail, segulung benang kenur, dan pelampung timah cadangan sekiranya diperlukan.

Aku tahu, tak ada gunanya memilih tempat memancing di kawasan yang terbuka sekitar dermaga. Semua ikan akan berada dekat bebatuan karang, karena jika tidak begitu maka mereka akan menjadi santapan mudah bagi ikan pemangsa yang lebih besar. Jadi, aku mulai turun dari dermaga dan menjejakkan kaki di atas karang yang agak sedikit licin. Kadang aku jongkok dan terduduk di karang, pantatku bergeser hati-hati, sementara tangan dan lutut memegang karang lainnya untuk mencapai keseimbangan.

Terus begitu, dan memang makan waktu. Tapi, aku toh menunggu pasang mencapai puncaknya di posisi yang terbaik. Tujuanku adalah batu karang yang lumayan datar dan melebar di setiap sisinya. Aku tak perlu khawatir melempar pancing di sini karena risiko terjatuh memang kecil. Akhirnya sampai juga ke tempat mancing yang kuinginkan.

Kembali aku beristirahat sejenak karena pasang belum mencapai puncak. Ku hisap rokok berlanjut mengisi perut dengan makanan kecil dan meneguk air. Sekitar setengah jam menunggu, puncak pasang pun datang.

Aku cantelkan seekor udang di salah satu kail bermata empat dan menyelipkannya di celah antara dua karang. Aku tahan penggulung benang, serentak ujung joran yang lentur langsung melenting, artinya seekor ikan memagut umpan, strike kalau istilah pemancing. Hasilnya seekor baronang totol dengan panjang sekitar 25 cm tersangkut di mata kailku. Aku masih mendapatkan tiga ekor lagi dengan ukuran sama. Kemudian, cukup lama tak ada ikan yang menelan umpanku. Sempat juga kutangkap beberapa kepiting rajungan yang enak disup, jadi aku masukkan juga mereka ke jaring.

Tapi, belum ada juga ikan lain yang memagut umpan. Tak ada lain artinya kecuali seekor "kawan" berukuran lebih besar sedang berada di perairan sekitar tempatku memancing. Semua ikan kecil akan menyingkir jika kakap merah besar atau kuwe sedang menjelajahi sela bebatuan.

Lantas aku siapkan joran lain dengan umpan lain untuk ikan lebih kecil. Ku lempar umpan ke arah yang berlawanan dengan joran pertamaku. Tempatnya lebih dangkal, dengan perhitungan mungkin ikan yang lebih kecil sedang menyingkir ke sana. Benar saja rupanya, dalam waktu singkat aku tangkap tiga ekor kerisi berukuran antara 5-7 cm. Bukan masuk kantung jaring, kerisi ini ku buat umpan untuk ikan yang lebih besar.

Dengan hati-hati aku kaitkan kerisi itu pada punggungnya di mata kail untuk ikan besar. Ku lemparkan umpan itu ke titik tempat joran pertamaku, perairan yang lebih dalam. Umpan melsat di atas bebatuan dan tenggelam tak terlihat lagi. Namun, belum ada tanda-tanda kawan besar itu memangsanya. Tiba-tiba pelampung bergerak, dan ketika ku gulung, benang kenur langsung menegang, ujung joran melengkung tajam.

Kawan ini sangat besar. Aku pernah menangkan beberapa ikan berukuran besar di sini. Tapi, kali ini mungkin yang terbesar yang pernah ku tangkap hingga sekarang. Kawan besar ini tetap bergeming di sela bebatuan hingga beberapa menit, mencoba bertahan dari gulungan kenurku. Aku berusaha menyelesaikan perlawanan kawan besar ini secepatnya. Selintas ku lihat warnanya merah. Harus ada cara lain untuk menangkap kawan kakap merah besar ini.

Tiba-tiba, terdengar suara perempuan di belakangku "Apa yang kamu dapat Mal?"

Aku menoleh sejenak. Ku lihat perempuan dengan rambut terurai bercat pirang dengan pangkal rambut yang tetap hitam. Wajahnya oval, dengan alis tebal dan tatapan mata yang membangkitkan gairah muda. Usianya tak lagi remaja, ku pikir menjelang 40 tahun. Tubuhnya padat semampai dengan buah dada masih membusung. Aku sudah mengenalnya sebagai Kak Yati yang cantik khas melayu.

Aku langsung lupa dengan kawan besar yang sedang melawan di permukaan air. Sial, bagaimana mungkin perempuan secantik ini berada di wilayah pemancingan yang sepi.

"Aku baru pulang dari TPI Mal. Dari kejauhan ku lihat kau sedang menarik-narik joran dengan susah payah," ujar Kak Yati.

Langsung aku teringat lagi dengan kakap merah di ujung kailku. Ya, masalahnya, kakap merah ini akan berlindung di bebatuan bawah permukaan air dan dapat membuat benang kenur tersangkut di karang untuk menyelamatkan dirinya. Sering sekali pemancing mahir pun gagal mengatasi perlawanan kakap merah di sela karang.

Jadi, aku harus menjaga agar kenur tak tersangkut karang di bawah sana. Sayangnya, tenaga remajaku mungkin mulai lelah setelah membuang energi dengan mencari umpan, berjalan ke dermaga, hingga berlama-lama tarik-ulur dengan kakap merah.

Tapi, muncul gagasan untuk meminta bantuan Kak Yati membantuku menarik joran. "Sini tolong aku Kak, ikannya besaaaar," kataku.

Dia langsung mendekat, selanjutnya kami berdua berdiri rapat. Kak Yati dan aku memegang joran yang sama. "Pegang jorannya sama-sama Kak. Aku sambil menggulung kenurnya," kataku.

Sementara dua tangan Kak Yati dan satu tanganku menahan joran, satu tanganku yang lain menggulung benang kenur. Tanpa sengaja, lenganku menyentuh buah dadanya yang tertutup polo shirt katun tipis itu. "Maaf Kak," kataku sambil terus menggulung kenur.

"Nggak apa-apa Mal. Ayo cepat gulung!" kata Kak Yati. Ia tak peduli lenganku berkali-kali menyentuh buah dadanya yang membuatku tak menentu.

Kak Yati itu adalah salah seorang isteri muda Pak Miswar, juragan yang memiliki beberapa kapal penangkap ikan. Di daerah kami, juragan seperti Pak Miswar disebut tauke atau toke, artinya bos. Biasanya toke pemilik banyak perahu beretnis Tionghoa. Pak Miswar adalah perkecualian, karena ia warga pribumi melayu di daerahku. Sebab itu Pak Miswar sangat dihormati karena sukses usaha dan kekayaannya, Tak mengherankan jika ia juga memiliki beberapa isteri, antara lain Kak Yati yang sedang berduaan denganku dan buah dadanya berkali-kali tersentuh pangkal lengan ini.

Tak sampai lima menit, kakap merah besar itu tertangkap. Rasa lelahku langsung hilang. Namun, sesuatu di balik celanaku semakin menegang dan tak mampu ku tutup-tutupi karena kedua tanganku kini sibuk membereskan semua alat pancing.

Hari sebenarnya sudah senja. Ufuk mulai memerah dan gelap akan datang menyusul sang surya yang semakin tenggelam. Jadi tak ada alasan aku lama-lama berdua dengan Kak Yati. Toh di remang cahaya menjelang senja itu rupanya penisku yang tegang juga terlihat oleh Kak Yati.

"Aduh Mal, Kak Yati kan sudah tua. Masak kamu sampai begitu," ujar Kak Yati sambil melirik celanaku yang tampak menonjol karena penis yang tegang.

"Maaf Kak. Kak Yati tidak tampak tua. Sebaliknya masih cantik dan menarik," kataku kepada Kak Yati yang sebenarnya masih terhitung tetanggaku.

Hening menyergap kami berdua. Namun, mata kami saling bertatapan lama.

Aku sendiri terkejut mendengar kata-kata yang meluncur dari mulutku. Jujur saja, sebenarnya memang demikian. Di sekitar tempat tinggalku, Kak Yati adalah ibu-ibu tercantik. Sementara ibu-ibu yang lain mulai tak peduli dengan penampilannya, Kak Yati tampak sangat telaten merawat tubuhnya meskipun tak menggunakan gincu, pemerah kuku, atau make up tebal.

Hanya rambutnya yang ia warnai. Belakangan ku ketahui rambut yang diwarnai itu. Belakangan ku ketahui ia mengecat rambutnya dengan warna pirang untuk memenuhi keingan Pak Miswar yang mulai menelantarkan dirinya. Ternyata setelah rambutnya pirang pun Pak Miswar tetap kurang perhatian, jarang mengunjungi Yati.

Apa yang salah dengan Kak Yati yang masih cantik ini hingga Pak Miswar menelantarkannya? Dengar-dengar, Pak Miswar mulai terkena penyakit gula (diabetes) sehingga gairah seksualnya terganggu. Maklum, Pak Miswar memang suka makan enak dan tak serius menjaga kesehatan atau check up ke dokter meskipun uang dan hartanya melimpah.

Sebenarnya diam-diam aku memang menyukai Kak Yati. Aku sering bertemu dengannya karena ia suka datang ke rumahku untuk mengobrol dengan ibuku. Mereka memang akrab, mungkin karena sama-sama kesepian. Ayahku sudah tiada, sedangkan Kak Yati jarang dikunjungi Pak Miswar. Namun jika Kak Yati datang ke rumah, biasanya aku cuma berbicara sebentar dengannya, khawatir ia mengetahui aku terangsang jika berlama-lama berdekatan dengannya. Namun, kami memang sering saling bertatapan dan bertukar senyum meski tanpa kata-kata.

Setelah beberapa lama terdiam, aku kembali merapikan perlengkapan pancing dan bersiap pulang. "Ayo Kak, kita pulang..." ucapku sambil malu-malu

"Pulang juga untuk apa Mal? Aku suka sepi di rumah. Anak-anak selesai mengaji langsung belajar, nonton TV, kemudian tidur," ujarnya sambil menatapku.

"Jadi?"

"Kita ngobrol saja di dermaga. Rasanya aku punya teman sekarang," kata Kak Yati.

"Kak, nanti dilihat orang nggak enak. Lagi pula, nanti aku tak bisa menahan diri," kataku sambil membetulkan celanaku yang tetap menggelembung.

Kak Yati menanggapinya dengan mencubit kecil lenganku. "Biar saja, kalau Kamal mau," ujarnya.

Selanjutnya ia malah menarik tanganku. "Hari makin gelap Mal. Di dermaga saja yuk, kan ada lampu di sana," katanya.

Bagaikan kerbau dicocok hidung aku mengikuti langkahnya. Sementara tanganku tetap ia genggam. Kami memang musti berpegangan karena hari mulai gelap. Lagi-lagi kami bersentuhan. Kali ini aku lebih berani menyentuh payudaranya sambil bergandengan. Kak Yati malah semakin merapat jika pangkal lenganku mulai menyentuh payudaranya. Jadi, sambil berjalan, penisku semakin tegang. Ku rasakan juga puting payudara Kak Yati mulai menonjol di balik polo shirt dan behanya.

Nyambung lagi. Tunggu bagian ketiga!
TPI= Tempat Pelelangan Ikan
Kala Cinta Berlabuh di Dermaga (3)

Hari kian gelap. Di kejauhan satu-satunya lampu di dermaga beton itu tampak berkelap-kelip terhalang oleh debur ombak pasang laut yang naik hingga beberapa meter. Kami bergegas naik ke lantai dermaga, agak jauh dari lampu. Aku dan Kak Yati seperti sepakat menghindari nyala lampu yang terlalu dekat agar tak ada yang melihat kami berduaan.

Kami memilih bangku dari batang nyiur untuk duduk dan berbincang. Di bangku itu, di tengah gemuruh debur ombak, Kak Yati berkata, "Kita ngobrol di sini ya Mal."

"Apa aku begitu penting sampai kakak tak ingin pulang dan memilih berduaan dengan aku?" kataku terbata-bata mencoba bersikap dewasa.

"Jadi, kamu menginginkan aku pulang?" kata Kak Yati.

"Tolong jangan," ujarku spontan dan menambahkan. "Sebenarnya aku suka berdekatan dengan kakak. Di mataku kakak adalah perempuan tercantik yang pernah ku lihat. Tapi untuk apa kakak yang cantik ini dekat dengan aku?"

"Hey, lihat," kata Kak sambil menggenggam tanganku dan mengajak bertatapan. "Kakak ini 37 tahun, hampir dua kali usiamu yang kelas tiga SMA. Aku juga bukan seorang perempuan menarik, suamiku saja tampaknya sudah benar-benar tak menginginkanku lagi.. Mungkin lebih baik kamu mencari gadis sebayamu."

"Pak Miswar itu seharusnya berterima kasih kepada kakak. Selain cantik, kakak juga lebih pandai mengelola usaha. Sekian lama Pak Miswar tak kelihatan, usahanya malah lebih maju di tangan kakak," kataku tulus memuji Kak Yati

"Terima kasih Mal, aku pikir kamu sungguh-sungguh."

"Aku sering memperhatikan kakak dan mendengar obrolan kakak dengan ibuku. Aku pikir kakak perempuan cantik dan hebat,"

Di keremangan malam itu ku lihat ia tersipu-sipu. "Terima kasih. Tapi, aku merasa tersanjung bahwa kamu sepertinya terangsang setelah bersentuhan dengan aku. Sekarang pun aku senang berduaan denganmu dan merasa ternyata masih ada lelaki tampan seperti kamu mau menatapku dengan mesra," ujarnya.

Kami pun bertatapan. Gairah remajaku bergejolak dan aku berbisik ke telinga Kak Yati. "Aku ingin mencium kakak," kataku di telinganya.

Selepas aku mengucapkan itu di telinganya, aku geserkan mulut dan menyentuhkan dengan lembut bibirku ke pipi kirinya. Aku yakin hangat napasku terdengar menderu di telinga Kak Yati. Tapi ia hanya terdiam.

Saya bertanya, "Kak Yati marah?"

"Nggak Mal. Mana mungkin kakak marah padamu. Setelah sekian tahun, kamu adalah lelaki pertama yang mebisikkan kata-kata mesra yang menyenangkan di telingaku. Aku hanya khawatir dan taku karena kamu masih muda dan.... saya sebenarnya ingin juga bermesraan denganmu," katanya sambil menunduk malu.

Kini aku yang berinisiatif menggenggam kedua tangannya. "Aku akan selalu menghargai dan menjaga kehormatan kakak. Tapi Kak Yati tahu betapa aku menginginkannya. Bilang saja jika aku melewati batas," kataku.

Kemudian kami kembali saling bertatapan. Perlahan aku menyorong ke depan dan menyentuhkan bibirku ke bibirnya. Kak Yati menyambut ciumanku dengan lembut. Selanjutnya kami saling memagut dalam gelora birahi yang meninggi. Aku pernah berciuman dengan perempuan sebayaku. Tapi, dengan Kak Yati terasa lebih menggairahkan. Penisku langsung berdiri seolah-olah hendak menembus celana jeans yang ku kenakan.
Kala Cinta Berlabuh di Dermaga (4)

Yang kurasakan bibir Kak Yati menyentuh hangat. Segera setelah itu, lidahnya mulai menyentuh bagian tengah bibir atasku membuat syaraf birahiku semakin menggelora. Ia melakukannya lembut dan perlahan sehingga seluruh tubuhku berdesir oleh sentuhan lidahnya di bagian tengah bibirku. Saat itu aku baru mengetahui bahwa bagian tengah bibir atas adalah bagian sangat sensitif. Jadi, aku menikmatinya sejenak sambil merasakan getaran birahi yang menjalar ke sekujur tubuh kian mengencangkan penis yang sedari tadi tak pernah lagi mengendur.

Tanpa kata-kata, Kak Yati mengajariku merangsang lewat sentuhan lidahnya. Aku mengikuti apa yang ia lakukan. Giliran aku yang memainkan lidahku di tengah bibir atas Kak Yati. Lidahku dengan lincah memutar di bagian tengah bibirnya membuat ia menggelinjang dan mengeluarkan
erangan tertahan. Matanya terpejam, namun mulutnya terbuka seperti mencari udara. "Ohhhh," ia mengerang sambil menghembuskan udara dari mulutnya.

Tanpa bimbingan lagi aku terus melumat bibir atas dan bawahnya bergantian. Kemudian dagu dan lehernya kutelusuri dengan sepenuh napsu kejantanan. Lidahku naik lagi ke telinganya dan menjilati daun telinganya hingga Kak Yati semakin merapatkan dadanya ke dadaku. Kedua tangannya melingkar di leherku lantas menyusup ke balik bajuku sehingga tangannya dapat menyusuri punggungku dari bawah hingga ke pundak.

Aku mengikuti apa yang Kak Yati lakukan. Tanganku pun menarik bagian bawah polo shirtnya. Ku susuri punggung Kak Yati dari bawah ke atas. Terasa lembut kulitnya. Tapi, sebelum sampai ke pundaknya, tali beha terasa mengganggu kenikmatanku menyentuh tubuh Kak Yati. Maka, aku berusaha melepas kaitan bagian belakang beha itu. "Sret!" dalam sekejap tali behanya terlepas. Tanganku pun bebas bergerak dari pinggul hingga bahu Kak Yati. Sedangkan mulut kami masih saling melekat bagaikan tak ingin terpisahkan lagi...

Entah berniat mengajariku atau tidak, tangan Kak Yati kini beralih ke bagian depan tubuhku. Kedua telapak tangannya menyentuh dadaku. Yang kurasakan adalah kehangatan telapak tangan yang lembut di dadaku. Sementara angin pantai yang sejuk menderu di belakang tubuhku.

Lagi-lagi aku mengikuti apa yang dilakukan kak Yati. Tapi, bukankah dada perempuan dan lelaki berbeda? Yang ku sentuh di dada Kak Yati adalah payudaranya yang bulat dan kenyal. Jadi, aku mulai menyentuh bagian bawah dada Kak Yati dan bergerak ke atas. Telapak tanganku menyentuh puting payudaranya. Putingya yang menonjol membuatku ingin memilinnya sehingga ibu jari dan jari telunjukku bekerja sama melakukannya. Seperti tersengat listrik, tubuh Kak Yati bergetar ketika jariku melai memilin puting payudara kirinya dengan tangan kananku. "Oh Maaaal," ujarnya lirih, sementara jari-jarinya terasa kian mengencang di punggungku.

Suara lirihnya membuat aku semakin terangsang. Berniat membuat Kak Yati semakin menikmati cumbuanku, tangan jari-jari tangan kiriku kini berganti memilin puting payudara kanan Kak Yati. Kembali ia melenguh "Ohhhhhh." Jari-jarinya semakin erat merapat di punggung dan pundakku. Lebih dari itu, tubuhnya dengan perlahan menurun hingga telentang dan membawaku berada di atas tubuh Kak Yati.

Kami yang semula duduk di bangku nyiur itu kini berubah posisi dengan aku berada di atas tubuhnya. Menghormati perempuan ini, aku tak ingin beban tubuhku memberatkannya. Tapi, bukan itu saja alasanku, melainkan penasaran ingin melihat buah dada Kak Yati yang sudah ku pilin-pilin hingga ia mengeluarkan lenguhan dan membuat birahiku kian bergejolak.

Kombinasi napsu dan rasa ingin tahu membuatku berani menarik polo-shirt-nya hingga leher. Kak Yati agaknya pun sudah pasrah dengan tindakanku. Selintas ku lihat matanya terbuka dan menatapku sesaat kemudian kembali terpejam, tapi tiada penolakan ketika tanganku menarik pakainnya ke atas. Maka di remang cahaya malam itu untuk pertama kalinya aku melihat dua buah dada Kak Yati yang terbuka: masih bulat dan membusung bagaikan nyiur muda, namun puting yang memuncung merah kecoklatan dilingkari oleh aerola dengan warna serupa.

Aku menatap dua payudaranya beberapa saat tanpa bertindak apa-apa. Namun penisku berdenyut-denyut karenanya. Kak Yati membiarkanku sejenak, namun segera menarik leherku dan mendekatkan mulutku ke putingnya. Aku mengikuti tarikan lengannya dan mulai menghisap puting payudaranya. Tubuh Kak Yati kembali bergetar. Ku dengar ia melenguh lagi, napasnya pun kian memburu, terasa hangat di telingaku ketika ia menghembuskan napas. "Ohhhhh, Kamaaaal...."

Mulutku menghisap kedua puting payudara Kak Yati bergantian. Sedangkan tangan Kak Yati yang semula berada di punggungku bergerak lagi. Sekarang ia menyentuhkan tangan kanannya di selangkanganku dan mengelus-elus penisku yang masih tertutup oleh celana jeansku. Elusannya membuat aku menggelinjang dan memicu aku menggigit lembut puting payudaranya.

Tak tahan dengan rangsangan Kak Yati, sambil terus menghisap payudaranya, tanganku bergerak cepat membuka kancing, menurunkan risleting dan mengeluarkan penisku yang sudah sesak terjepit celana jeansku. Sejuk angin yang berdesir terasa menyapu segenap batang penisku yang kini mengacung bebas setelah lepas dari sekapan. Namun kesejukan itu berganti kehangatan jari-jari dan telapak tangan Kak Yati yang segera melingkar di penisku. Giliran aku yang melenguh. "Kaaaak," bisikku ketika tangan Kak Yati mengelus lembut dari pangkal hingga ujung dan menggerakkan ibu jarinya di kepala penisku.

Ingin membalas kenikmatan yang ia berikan, aku pun membuka risleting celana Kak Yati dan menyusupkan jari-jariku ke selangkangannya. Ku rasakan bulu-bulu kemaluannya yang lebat. Selanjutnya jariku terus bergerak menurun. Jari tengahku merasakan cairan telah membasahi permukaan vaginanya. Jariku terus bergerak di belahan vagina Kak Yati dan menemukan kelentitnya yang menonjol di bagian atas vaginanya. Ku rasakan gelinjang tertahan ketika jariku mengelus-elus kelentit Kak Yati. Sementara kedua pahanya merapat seakan menahan agar tanganku tak pernah pergi meninggalkan selangkangannya yang kini kian basah. Ku balas jepitan paha Kak Yati dengan menyusupkan jari tengahku ke lubang vagina sumber cairan yang mebasahi selangkangannya.

Kami terus saling mencumbu. Aku menjelajahi vagina Kak Yati, sementara Kak Yati mengelus lembut batang penisku. Jelas sudah birahi kami semakin memuncak. Aku dan Kak Yati mendesah bersama bagaikan menyahuti debur ombak dan hembusan angin pantai. "Ohhhhh...."

Aku juga penasaran ingin melihat vagina yang baru ku jelajahi dengan jari-jariku. Tanpa banyak pertimbangan aku menarik celana yang dikenakan Kak Yati. Pantatnya terangkat sedikit pertanda ia merelakan tindakanku. Ku tarik terus celana sekaligus celana dalamnya hingga betis Kak Yati. Kini ia telentang dengan dada dan kemaluan yang terbuka di hadapanku.

Gelora napsu jantanku yang tak kalah oleh debur ombak di sekitar kami mengarahkanku untuk segera mengarahkan penisku ke vaginanya. Kak Yati tiba-tiba menggenggam penisku yang tegang setegang-tegangnya. Ia seperti menahan langkahku, dan bertanya: "Kamal sungguhan ingin melakukannya dengan kakak yang sudah tua ini?"

"Ya, kalau kakak mau melakukannya dengan lelaki yang belum berpengalaman seperti aku. Aku mengagumi kakak sejak lama karena kakak cantik, hebat, dan baik. Kini aku tahu, aku juga sayang sama kakak. Aku rela perjakaku untuk Kak Yati," sahutku sambil mendekatkan wajahku ke wajahnya. Tubuhku pun merapat ke tubuh Kak Yati. Penisku menyentuh pahanya.

Dia menghela napas panjang dan menghembuskannya. Senyap sejenak. Aku cium kening Mbak Yati, berlanjut pipinya, dan tentu saja bibirnya. Kami kembali saling memagut. Segera kami larut kembali dalam birahi. Ku ulang langkahku dari awal hingga jariku kembali menyentuh vagina dan kelentitnya. Sedangkan Kak Yati hanya memelukku dengan erat. Aku memang berharap ia menikmati cumbuan yang baru saja ia ajarkan dan kini kulakukan untuk membuatnya senang.

Namun, aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Ku hentikan gerakan jemariku di vaginanya, kemudian kuarahkan pinggulku merapat di selangkangan hingga penisku siap di lubang vaginanya yang mengeluarkan uap hangat. Kepala penisku bersentuhan dengan bibir luar yang basah dan memisahkannya untuk membuka jalan masuk. Dengan cepat penisku tenggelam sepanjang saluran vaginanya yang hangat. Sampai selangkanganku rapat dengan milik Kak Yati, aku tak bergerak. Perasaan takjub melanda kami secara berbarengan, menyebabkan kami saling menjepit satu sama lain seakan tak akan pernah terlepaskan. "Mmmmhhhh" Kak Yati mendesah, kakinya terangkat dan melingkar di pinggulku.

"Maaal...," ujarnya memanggil namaku, menghentikan bibir kami yang sebelumnya saling melumat. Pangilannya terasa sangat mesra di telingaku.

Setelah itu dengan perlahan aku mulai memompa penisku di saluran vaginanya yang menjepit. Sedangkan bibirku menghisap leher Kak Yati dengan gemas. Dada kami pun melekat satu sama lain. Napsu mudaku kian memburu, kurasakan betapa nikmatnya menyetubuhi Kak Yati, perempuan cantik dan hebat yang kini berada di bawah tubuhku. Beginilah rupanya kenikmatan bersetubuh dengan perempuan yang kita suka.

Tak berapa lama, aku mempercepat pompaanku. Getar yang terasa seperti sengatan nikmat mulai menjalar dari ujung kakiku hingga ke sekujur tubuhku. Bersamaan dengan itu pinggul Kak Yati mulai terangkat dan berputar-putar di bawah tubuhku. Terus begitu seakan ia tak pernah lelah menggerakkannya. Dampaknya adalah aku ikut melayang sambil merasakan jepitan vaginanya yang terasa kian kencang. Semua itu berbarengan dengan desahan keras kami yang tak tertahan, bagaikan hendak mengalahkan gelora ombak Laut Cina Selatan yang membentang.

Aku tahu, puncak kenikmatan persetubuhan segera tiba. Tubuhku membatu ketika terasa ada yang mengalir dari ibu jari kaki dan mengarah ke penisku serta meletup di ujungnya, menyembur dalam vagina Kak Yati dalam orgasmeku yang sempurna. Secara bersamaan tubuh Kak Yati menegang, pinggulnya terangkat, vaginanya menjepit penisku dan berdenyut-denyut melepaskan orgasme sama sempurnanya seperti yang ku alami. "Maaaal, kakak sampai!"

Gelombang demi gelombang kenikmatan melanda kami berdua. Aku dan Kak Yati saling mendekap erat. Mulut kami terbuka lebar. "Aku juga sampai kaaaak!" ucapku.

Kenikmatan belum berhenti sampai seolah berjam-jam kami saling berpelukan hingga tetes terakhir air maniku tumpah. Kami terus merengkuh erat satu sama lain meluapkan kemesraan malam itu. Ketika mulai reda aku dan Kak Yati mulai menarik napas dengan normal. Kesadaran kami kembali pulih setelah puncak kenikmatan yang terlalui. Aku turun dari atas tubuh Kak Yati. Ku lihat matanya masih tertutup rapat. Mulutnya terbuka, napasnya masih terengah-engah.

Ketika matanya mulai terbuka, aku mencium keningnya dan berbisik. "Terima kasih kak. Aku sayang sama kakak," ucapku.

Ku lihat matanya berkaca-kaca. Tak lama kemudian, air matanya menetes. "Kenapa Kak Yati menangis. Kakak menyesal?"

"Nggak Mal. Kakak bahagia. Sudah lama kakak tidak merasakan kenikmatan seperti sekarang," ungkapnya sambil menarik tubuhku merapat.
 
Indo Sniper

velkrasnyyvet

Dreamer
UG-FR+
Thread Starter
Daftar
1 Feb 2011
Post
1.918
Like diterima
1.090
Lokasi
Outside The Box
Dihapus tanggal
28 Januari 2016...


Cerita ini hanya fiksi semata. Nah andaikan ada kesamaan nama dan lokasi, itu bukan suatu kesengajaan. Terima kasih dan selamat menikmati.



Chapter 1

Perkenalkan, namaku Adi setidaknya itu nama panggilanku. Aku seorang mahasiswa di sebuah perguruan tinggi swasta yang cukup terkenal. Usiaku 25 tahun. Ceritaku ini bermula pada saat aku berumur 21 tahun, disaat itu aku masih mempunyai seorang pacar bernama Anyssa Pratiwi sebut saja Ani. Di adalah seorang gadis cantik dengan kulit yang cukup putih. Dia terkenal sebagai bocah alim di fakultasnya. Tinggi 151 sentimeter dengan berat badan sekitar 42 kilogram, tidak tinggi tapi cukup lumayanlah.
Singkatnya pada waktu itu aku dan pacarku sedang pergi kesebuah villa di kawasan Jogja, tepatnya di wilayah Kaliurang.

Tentu saja bersama dengan teman- temanku yang semua berjumlah 4 orang, dua perempuan dan dua laki- laki. Sebut saja nama mereka Doni, Wati, Yusak dan Wulan. Hubungan kami berlima cukup rumit tapi unik. Wati misalnya, dulu bekas pacarku yang pernah kupacari selama setengah tahun. Selama setengah tahun itu aku pernah bercinta dengannya bahkan berulang kali dan jujur saja akulah yang merengut keperawanannya, tapi pacarnya yang sekarang si Doni tidak tahu kalau pacarnya pernah ku kerjain. Wulan, dulu aku pernah naksir berat padanya, dia gadis berkulit sawo matang dan tingginya sekitar 170an senti dengan berat badan sekitar 50an lebih dikit. Proporsional menurut anggapan teman-temannku termasuk pacarnya si Yusak.

Yusak sendiri terkenal sebagai bocah yang agak nakal, mengingat dia sering gonta-ganti cewek dan dalam beberapa kesempatan, dia sering menunjukkan foto-foto cewek yang pernah dia tiduri, kalau tidak salah 4 orang sudah. Dia juga terkenal sebagai bandar obat-obatan terlarang, tapi jangan salah sangka dulu dia bukan pengguna narkotik ataupun pengedarnya tapi yang dia edarkan adalah obat-obat perangsang.
Produk yang dia tawarkan benar-benar berkualitas super. Berkat obat itu pula aku jadi pernah menggauli seorang cewek tetangga kost ku. Namanya Rani Suwito panggilannya Ying-Ying, seorang WNI keturunan. Dia adik kelasku dengan tinggi 170 senti dan berat proporsional. Terkenal karena berani berdandan sexy saat di kost.

Saat dia main ketempatku dengan alasan ingin pinjam komputer untuk mengetik laporan, aku berikan dia sebotol fanta yang sudah aku bubuhi obat perangsang. Hasilnya dalam hitungan menit dia sudah mulai kegerahan dan hilang akal. Sekitar lima menit kemudian, dia mulai melepaskan kancing baju atasnya dua buah.
Aku mulai iseng-iseng mendekatkan tubuhku padanya dengan taktik mengajarkan cara membuat tabel di MS-Word. Alhasil aku dapat melihat buah dadanya yang masih dibalut bra warna pink. Selang beberapa menit dia mulai melepas seluruh bajunya dengan alasan sangat panas, dan akupun sudah cukup tanggap. Aku mendekatinya dan mencium leher jenjangnya, dia tersentak tapi tidak dapat berbuat apa-apa.

Tanganku mulai menjelajahi celana pendeknya dah berhasil melucuti seluruh pakaiannya kecuali bra yang masih tergantung dengan kaitan terlepas. “Mas…..jangan….” lirihnya kacau, tapi aku tahu kalau dia juga menginginkan lebih, oleh sebab itu aku mulai menjalarkan tanganku lebih dalam lagi dan kuremas buah dadanya yang tak terbalut lagi. Kami bercumbu sekalipun hanya aku yang aktif. “Mas…Adi…ja…..jangan lakuin massss………..Achh !.....” suaranya terpatah patah saat aku mencium putingnya dan menelusuri seluruh tubuhnya dengan lidahku. Akhirnya dengan mantap aku mengulum mulutnya dan membuka semua pakaianku.

Dia terbelalak melihat penisku sudah mengacung, segera aku bimbing penis ini kebagian mulutnya. Dia ragu, “Mas….jangan, jangan seperti ini…” selanya. “Tapi kamu juga inginkan Ying? Nich penis gua, ntar gua kasih lebih.” Paksaku sambil menjejalkan penisku kemulutnya yang setengah terbuka. “Ochhhhh…..hangat Ying…” seruku saat penisku tertelan mulutnya. Selama sepuluh menitan aku mengocok batang kejantananku di mulutnya sebelum akhirnya kucopot dan aku beralih ke liang yang lain. Vagina……ini yang kutunggu. Penisku mencapai mulut luar vaginanya. “Mas jangan, aku masih perawan….aku gak mau mas…”serunya tapi tentu saja semua itu sudah bagai angin lalu saat aku mencumbunya lebih dahsyat, sekarang dia tinggal pasrah.

Perlahan tapi pasti penisku mulai menerobos liang suci tersebut. “Ahhhhhh….sakittt…..please hentiin mass..” Ying Ying merintih kesakitan tapi tetap saja hal tersebut malah membuat aku semakin bernapsu untuk mengerjainya luar dalam. Semakin kumantapkan posisi penisku dengan mengapit kedua paha gadis ini keatas hingga lututnya menyentuh payudaranya sendiri. Dan….blessshhh…..akhirnya masuk semua penisku. Batang kejantanan tersebut aku pompa dengan pelan sebelum akhirnya aku mempercepat gerakanku. Sempat dia meronta tapi percuma karena nafsunyapun tidak lebih kecil dari nafsuku.

Dan setelah kurang lebih sepuluh menit aku cabut kemaluanku dari liang vaginanya dan aku balik posisinya menjadi merangkak dan mulai kugunakan tehnik doggy style yang selama itu baru aku lihat saja tanpa praktek. Sekali lagi roket sakti tersebut memasuki gua dalamnya dan sembari kuciumi punggungnya, aku meremas payudaranya bergantian. Sensasi yang sungguh sangat nikmat. “Ahhhh….achhhhh….ohhhh……ahhhh” rintihannya yang semula pelan semakin lama semakin mengeras, untung tertutup suara bising musik yang kusetel keras dari kamarku. Setelah kurang lebih 10 menit aku mengerjainya dengan posisi ini, aku mulai merasakan adanya dorongan dalam batang kemaluanku.

Akhirnya kusemprotkan juga cairan sperma itu kedalam rahimnya. Usai sudah acara siang itu dari yang berawal pinjam komputer berakhir dengan pinjam tubuh. Benar-benar kenikmatan yang tiada tara, apalagi waktu itu aku belum pernah bercinta dengan gadis manapun. Sekarang kembali ke keadaanku saat bersama teman-temanku di villa. Malamnya saat kita berkumpul bersama untuk bercengkrama, tiba-tiba muncul Yusak dengan senyum-senyum menawarkan beberapa vcd film. Karena temanku membawa televisi LCD dan VCD player sendiri (kami membawa mobil ke villa jadi dapat mengangkut beberapa barang penting). Kami sepakat untuk memilih film secara random. Saat di putar, tak perlu sampai 1 menit kami melihat kami sudah tahu kalau itu adalah film porno dan aku yakin itu film dengan rating XXX.

“Bagus khan? Itu koleksi gua yang paling bagus tuh…” seloroh Yusak bersemangat. Entah karena apa tiba-tiba timbul pikiran nakal dibenakku. Karena kami menggelar 2 buah karpet kasur dilantai, maka kami bisa leluasa bergerak. Aku mulai bergerak mundur dan aku sergap pacarku si Ani dari belakang. Aku mulai meremas dadanya yang berukuran 34 B itu. Tak terlihat karena aku meremasnya dibalik baju baby doll nya dan dia juga memakai selimut untuk mengatasi hawa dingin.

Sembari menciumi lehernya aku mulai semakin berani karena pas di film itu juga sedang pas foreplay. Ternyata aku tak sendiri, Doni dan Wati pun ikut bermesraan sendiri. Doni mulai mencium bukan hanya pipi tapi mulut Wati dengan ganasnya. Dan lebih gila lagi Wati tanpa tameng langsung membuka baju dasternya dan meninggalkan dirinya hanya menggunakan celana dalam tanpa bra. Doni semakin beringas mencumbu Wati, rasanya seperti lagi nonton live show blue film. Luar biasa pikirku. “Ochhhh….Don, ayo Don……..aku gak tahan nech.”racau Wati kepada Doni pacarnya. Tak perlu menunggu lama, mereka berdua sudah hampir telanjang bulat, hanya Doni yang masih memakai celana dalamnya.

Belum selesai aku terkejut, eh tiba-tiba dari belakang Wulan sudah merangkulku dan menyeretku menjauhi Ani. Dia tak segan untuk menciumku lagi. Singkatnya kami berciuman mulut dengan sangat dasyat. “Gimana Di……asyik khan mulut pacar gue? Nikmatin aja, malam ini kita pesta, lagipula lo khan pernah naksir dia…heheheheh…”tawa Yusak dari belakang. Ternyata saat itu kami semua sudah diracuni dengan obat perangsang, dan yang paling banyak dosisnya diberikan pada Ani yang terkenal alim itu.

Yusak kemudian mendekati dia dan mulai menciumi lehernya yang akhirnya merembet kemulutnya. “Sialan !” pikirku tapi saat aku melihat Wulan yang sudah telanjang bulat, aku sudah kehilangan rasio dan langsung menerkamnya sambil melucuti pakaianku sendiri.

Belum juga lima menitan aku bergumul dengan Wulan, saat aku menengok kebelakang ternyata Ani sudah telanjang bulat dan sedang mengoral penis milik Yusak sementara Yusak sendiri memainkan lidahnya di liang vagina milik Wati. Saat aku beranjak akan mendekati Ani, tanganku ditarik oleh Wulan dan saat itu juga peniskupun dilahapnya dengan rakus. “Astaga…dia pasti sudah pernah di kerjain oleh Yusak…”pikirku dan benarlah dugaanku.

Sekarang aku melihat Doni sedang mencopot cd nya dan mencuatlah penisnya yang sepanjang kira-kira 14 senti tersebut. Di elus-eluskan penis itu di bibir vagina milik Wati. Akhirnya …..bleshhh…tenggelam juga. Sementara Yusak pun sudah siap dengan menempelkan penisnya di mulut vagina Ani. “Hoi…jangan…dia pacar gue.”sergahku, tapi apa daya dia langsung main tancap dengan sedikit paksa. “Ahhh……….seret juga memiaw pacar loe Di., dah pernah loe kerjain yah…tapi kok masih seret?....Enak bener.” Senyuman menghiasi bibirnya sembari menggenjot tubuh kekasihku yang herannya tidak memberikan perlawanan sama sekali malah terlihat seperti keenakan. Memang ini bukan kali pertamanya dia berhubungan intim, karena aku pernah mengerjainya setidaknya 6 kali.

“Achh…achhh…achhhh…ohhhhh…”rintih Ani sembari sesekali menggigit bibir bawahnya. Semakin lama semakin cepat sodokan-sodokan Yusak dan semakin liar pula. Sementara Ani masih dikerjai, aku mengambil inisiatif untuk membalasnya dengan menggenjot pacar Yusak, si Wulan. Kurasakan sensasi tersendiri saat penisku menghunjam liang vagina dara manis itu, nampaknya dia belum siap menerima penis sebesar milikku. Maklum penisku ini memang sedikit diatas rata-rata, dengan panjang 18 sentimeter cukup membuat seorang Wulan menggelinjang menahan rasa nikmat, geli plus rasa nyeri yang membuat ketiganya menjadi sensasional.

Tak selang sepuluh menit, karena obat perangsang yang ku minum secara tak sengaja itu akhirnya aku memuntahkan cairan spermaku ke liang senggama milik Wulan tanpa sisa. “Ohhhh….gue keluar Lan….”seruku sambil mengejang. Diapun tampak lunglai karena aku tahu setidaknya dia telah orgasme dua kali, ini semua gara-gara obat sialan itu sehingga Wulan pun menjadi super cepat puas. Kemudian sambil berbaring memulihkan rasa lelah aku menengok kesamping. Tak jauh dari tempat Wulan terbaring aku melihat Ani dengan liarnya dikerjai oleh Yusak dengan posisi doggy style, dan kulihat Wati melepaskan vaginanya dari hunjaman batang kemaluan Doni dan mendekatiku.

“Masih ingat saat kamu ngent*tin aku? Sekarang gantian yah….biar si Doni ngerjain pacarmu.”katanya sambil senyum-senyum kecil dan tanpa kuduga dia mulai menciumiku dan berakhir dengan mengoral penisku yang kembali mengencang. Doni yang belum terpuaskan menghampiri Ani yang liang kemaluannya sedang di hajar habis oleh batang kejantanan Yusak. Kemudian Yusak mencabut penisnya dari dalam vagina Ani dan menyuruh Ani untuk mengulumnya sementara vaginanya dipindah tangankan kepemilikannya kepada Doni. Penis Doni langsung menyerbu masuk tanpa permisi dan dengan posisi doggy style, vagina Ani dipompa oleh penis Doni sementara penis milik Yusak mengerjai mulutnya.

Suasana yang se horny itu belum pernah aku temui sebelumnya. Benar-benar menbuatku jadi sangat terangsang. Lalu kulentangkan tubuh Wati dan mulai aku senggamai dia dengan cukup keras mengingat Doni juga mengerjai pacarku. “Oh…..enak juga memiaw pacar loe Di….adu cepat aja kita…eheheh.”gelak Doni sambil mempercepat genjotan penisnya di vagina pacarku. “Kayaknya gue mau keluar neh……Sak…dikeluarin dimana nech.”serunya setelah kurang lebih 10 menit mengerjai Ani dengan posisi berganti-ganti namun mulut Ani masih disumpal penis Yusak. “Jangan dulu bos, ngapain cepet-cepet? Gantian aja kita.”seru Yusak.

Dan benar saja selang beberapa detik mereka berdua bertukar posisi. Penis Yusak memompa liang senggama Ani sementara batang kemaluan Doni di oral oleh Ani. Kulihat Ani semakin kepayahan dikerjai tanpa henti oleh mereka namun apadaya nafsu telah mengalahkan logika. Peluh bermunculan dari badan Ani, bahkan diapun sudah terlihat lemas. Entah sudah berapa kali dia mengalami kepuasan dengan kedua penis tersebut. Bahkan setelah aku selesai dengan Wati pun, mereka belum berhenti mengerjai Ani.

Dengan berbagai gaya mereka menyodokkan penis-penis mereka ke kedua liang kekasihku itu baik mulut maupun vagina. Akhirnya setelah 20 menit lebih setelah aku memuntahkan air maniku kedalam vagina Wati, mereka selesai juga. Doni mencabut penisnya dari dalam vagina dan menyemprotkan cairan surganya di bibir vagina Ani sementara Yusak memuntahkan air maninya di mulut Ani sekalipun Ani berusaha untuk memuntahkannya. Ini pertama kalinya dia menelan sperma pria. Malam itu benar-benar malam dengan acara pesta,….pesta seks.

Sekitar sebulan setelah acara pesta di villa tersebut, aku kedatangan seorang teman lama. Sebut saja namanya Sammy dan biasa kupanggil Sam dan dia membawa pacar barunya yang bernama Riska. Temanku yang satu ini puna tubuh yang cukup tinggi, setinggi aku kira-kira 168 sentimeter dan badan yang gempal, berkulit hitam dan berambut cepak. Soal wajah, jujur saja dia jauh dari tampan tapi entah kenapa setiap kali dapat pacar selalu yang cantik-cantik. Riska ini punya tubuh sensual dengan tinggi dan berat badan yang seimbang.

Wajah cukup manis dengan kulit kuning langsat dan lesung pipi nya membuat penampilannya semakin enak dipandang. “Hehhhh…mangsa baru yah?”godaku kepada Sam. Sam pun menimpali,” Yah lumayan lah buat selingan, heheheheh….Eh gimana pacar lo, si Ani? Dimana dia sekarang? Masih jadian gak nech?”tanyanya penuh selidik. Tak perlu kujawab nampaknya, karena hanya selang 2 detik sebelum Ani keluar dari kamar kost ku dengan menggunakan baby doll kesayangannya.

Melihat pemandangan itu sontak Sammy tertegun dan terpaku kearah Ani, maklum mereka saling kenal sebelum aku berkenalan dengan Ani dan saat itu Ani terkenal sebagai cewek alim yang tidak pernah macam-macam.
“Eh, lo dah apain tuh cewek?”bisiknya kepadaku tapi hanya kujawab dengan senyuman kecil. Kamipun masuk kedalam kamar kost ku yang hanya berukuran 4x4 meter. Kamar yang kecil tapi maklum namanya juga anak kost lagipula dengan lantainya keramik sehingga sekalipun kecil tetapi masih terdapat sedikit kesan bagus.

Di ruangan itu hanya terdapat beberapa barang antaranya kasur tanpa dipan sehingga membuatnya tampak lebih luas, bantal duduk buat lesehan, komputer dan almari pakaian. Dengan barang sesedikit itu membuat ruangan tidak begitu sumpek. Sambil mendengarkan musik dari PC ku kami bercerita panjang lebar mengenai pengalaman kami, maklum sudah satu setengah tahun tak ketemu. Riska ternyata seorang mahasiswa dari sebuah perguruan tinggi ternama di kota besar.

Dilihat dari caranya bersandar dan gayanya yang mesra di depanku, aku sudah dapat menebak kalau gadis manis ini pasti pernah di pakai oleh temanku. “Wah, Ani sekarang sudah beda yah. Tambah cantik and seksi….heheh”ucap Sammy sambil sesekali melirik kearah bagian payudaranya karena memang baby doll yang di pakai Ani cukup transparan dan belahan kerahnya cukup lebar. Saat itu aku mencoba menawarkan minuman kepada mereka, namun Sammy malah mengajakku membeli minuman bareng.

Di perjalanan ke arah warung dekat kost ku dia berhenti dan mengajakku bicara beberapa hal. “Eh….bos, dia pernah maen sama kamu yah? Keliatan kalau Ani dah beda.”ungkapnya tanpa ditutupi lagi. Aku senyum saja dan balik berkata,”Lo sendiri dah ngapain si Riska? Gua jamin dia dah ga perawan lagi khan?” Sammy hanya terkekeh, lalu menonjok pelan perutku lalu tanpa kuduga dia menawarkan sesuatu. “Di, lo mau merasakan body cewekku gak? Kalau mau bisa kuatur.”katanya.

Aku kaget dan tidak dapat berkata apa-apa, jujur saja bodynya seksi maklum menurut pengakuannya dia ikut les renang seminggu 3 kali. “Lo serius mau kasih gw? Apa kagak sayang ma cewekmu?”seruku kepada Sammy. Dia hanya menjawab ringan yang intinya dia menganggap santai hubungan mereka toh hubungan kami juga sudah seperti saudara sendiri. “Alasan yang ga masuk akal Sam. By the way, sebagai imbalannya apaan?”tanyaku penuh selidik. Dia terdiam sesaat dan mulai jujur akan keinginannya bahwa dia ingin tidur bareng dengan cewekku. “Apaaa??? Gila lo. Mana dia mau?”seruku tapi sebenarnyapun aku tidak begitu keberatan karena toh Ani juga pernah digarap rame-rame oleh Doni dan Yusak sebelumnya.

“Soal itu mah santai aja. Aku punya siasat jitu. Nich Wiskey, Ani pasti mabok toh dia kagak pernah minum khan sebelumnya. Soal Riska gampang, ntar kalo aku dah nggarap Ani toh dia juga bakal gak nolak balas perlakuanku.”katanya. Minuman itu rencananya akan di campur dengan Coca Cola botol besar yang kami beli. Setelah pulang kami membuat rencana seperti yang telah kami berdua rencanakan yaitu bermain kartu. Siapa yang kalah harus minum. Berkat kerjasama kami akhirnya kedua cewek itu terus yang kalah sekalipun adakalanya kami sesekali mengalah.

Setelah minuman habis akhirnya taruhan diganti dengan mencopot baju. Siapa yang kalah harus mencopot bajunya satu lembar. Tak sampai sepuluh menit sekarang Riska dan Ani hanya mengenakan bra dan celana dalam (cd). Sementara aku dan Sammy hanya melepas baju saja. Kemudian sebabak berikutnya si Riska kalah dan mau tak mau harus mencopot bra atau cd nya. “Ah…ga mau ah. Ini aja dah kebanyakan apalagi harus copot bra. Ntar telanjang lah aku. Gak mau.”serunya tapi berkat dorongan Sammy dan pengaruh alkohol akhirnya dia juga melepas bra nya. Segera terpampang payudaranya yang mulus itu. Hmmm…ukuran 36A batinku.

Akhirnya giliran Ani yang harus mencopot pakaiannya di dua babak berikutnya sehingga dia benar-benar telanjang bulat. Dengan perasaan risih dia melanjutkan permainan ini dan saat kedua cewek itu sudah bugil, kami menaikkan taruhan, siapa pemenang dalam babak selanjutnya boleh meng-apa-apain yang kalah. Akhirnya Sammy menjadi pemenang dan Ani menjadi yang kalah berikutnya. Tanpa panjang lebar Sammy langsung menerkam Ani mencumbunya sembari melepas seluruh pakaiannya. “Jangan, aku nggak mau ginian! Di tolong aku…”pintanya memelas. “Sorry An, tapi taruhan tetap taruhan, mau gak mau yah harus mau.”kata Sammy sambil meremas payudara Ani yang mulai memerah dan putingnyapun menegang.

“An, dah lama lho aku ingin ginian ma kamu, tapi dulu takut kamu tolak sech, jadi ga jadi nembak kamu.”ungkap Sammy. Sementara itu Riska hanya diam saja sekalipun dia juga shock melihat pacarnya mengerjai gadis lain. Tapi aku yakin dia juga terangsang hanya tidak mau menunjukkannya. Dalam sekejap Sammy dan Ani sudah bergumul, akhirnya Ani juga pasrah karena tak sanggup menahan libidonya. Semakin ganas ciuman Sammy kearah bagian-bagian sensitif Ani, semakin keras pula lenguhan pacarku itu.

“Oh….achhh….jangan Sammm…..achhh…..ahhhhh..!”lenguh Ani panjang akhirnya dia mengalami orgasme pertamanya. Dengan liar Sammy menjilati cairan cinta dari liang senggama pacarku itu. “Enak yah An? Ini baru pembukaan, setelah ini aku bakal buat kamu menggelinjang keenakan.” Dan betul saja setelah itu Sammy mengarahkan batang kejantanannya kearah bibir vagina Ani yang sudah basah kuyup karena ludah Sammy dan cairan cinta dari Ani sendiri. Dengan perlahan batang kejantanan yang hitam besar itu menyeruak vagina pacarku dan tak perlu lama-lama sebelum akhirnya semua masuk kedalam.

“Ahhhhhh…..ahhhhh….erghhhhhh….ohhhh….!”seru Ani saat Sammy mulai menggenjot vaginanya. Pemandangan luar biasa kontras karena tubuh besar hitam milik Sammy menindih kekasihku yang bertubuh kecil tapi putih bersih. Setiap sodokan penisnya kearah liang kewanitaan Ani menciptakan sensasi tersendiri bagi aku dan Riska dan tentu saja bagi kedua orang yang bersetubuh itu. Kemudian tak lama setelah itu, Sammy mulai membalik tubuh Ani dan melakukan gaya doggy style. Dia dengan liar menunggangi kuda nya waktu itu yaitu kekasihku sendiri. “Bos, kamu gak mau maen ma Riska?’seruannya menyadarkanku bahwa aku juga dapat obyek pelampiasan.

Langsung kuterkam Riska dan diapun tak banyak perlawanan persis dengan dugaan Sammy. Saat itu kami berempat benar-benar sudah menjadi sangat liar. Melihat Ani kekasihku vaginanya dihajar keras dengan sodokan-sodokan batang kemaluan milik Sammy membuatku semakin beringas dan semakin keras menyodokkan penisku ke liang senggama Riska yang sudah basah itu. Seakan berlomba-lomba adu kecepatan aku dan Sammy benar-benar menggunakan moment itu untuk mengerjai habis-habisan kedua cewek ini.

Entah berapa gaya yang sudah kami praktekan. 30 menit sudah Ani dalam tindihan Sammy, dan melihat spermanya mau keluar, segera Sammy mencabutnya dan langsung menyodorkan kearah payudara Ani dan muncratlah cairan kental putih itu yang takarannya banyak sekali. Mungkin nafsu yang sudah tertahan sekian lama membuat semua stock spermanya keluar. Sementara itu aku yang juga akan keluar langsung kucabut batang kemaluanku dari vagina Riska dan dengan cepat aku benamkan lagi sedalam-dalamnya. Keluarlah air maniku di liang vaginanya. Kulihat Ani sedang mengoral penis Sammy yang belepotan sperma dan cairan vaginanya.

Sejak kejadian di villa memang aku sering menyuruh Ani untuk mengoral penisku dan mengeluarkan spermaku didalam mulutnya hingga dia terbiasa dengan ini. Tak puas dengan itu, Sammy masih menyodokkan penisnya berulang-ulang kemulut Ani sehingga buah zakarnya yang menggelantung menjadi menabrak-nabrak dagu Ani. Herannya, belum juga lima menit tapi Sammy sudah ejakulasi lagi kali ini di mulut Ani. Mereka berdua akhirnya lemas terkulai di kasur sementara aku masih mengerjai ulang Riska.

Kali ini aku menggunakan kondom dengan pelumas untuk menembus lubang duburnya. Ya..aku menyodominya tanpa ampun dan nampaknya itu adalah hal pertama baginya. Tak lama kemudian aku melepas kondom dan menyuruh Riska untuk menyulum penisku dan akhirnya spermaku kloter kedua muncrat dengan deras dan kali ini bukan saja aku masukkan ke mulut Riska tapi juga kemulut Ani. Kami berempatpun terkulai dan tertidur setidaknya 4-5 jam lamanya dengan saling berangkulan, sementara aku merangkul Riska yang masih telanjang, Sammy merangkul Ani yang juga masih bugil. Sambil sesekali mencoba memasuk-masukkan penisnya yang sudah mulai mengecil ke vagina pacarku.

Setelah bangun dari tidur kami, Sammy dan Riska mohon diri dan berjanji bahwa peristiwa ini hanyalah rahasia antara kami berempat. Sebelum pergi, Sammy menyempatkan mencium mulut Ani dengan buas sementara aku balas dengan meremas payudara Riska. Yah hari itu benar-benar hari yang melelahkan.

BERSAMBUNG......




Sekali lagi terimaksih atas apresiasi masta masta semproter yang terhormat.
Nubitol hanya berusaha menghibur.

.:. CAUTION.:.
Apdet ada di bawah atau di halaman berikutnya, maaf nubitol belum tahu caranya mengindex...

Mohon nubitol di bantu "repOtasi"nya dengan di urutin tombol "thanks" nya...
(bukan nubitol bermaksud materialistis masta, nubitol hanya ingin berbakti kepada semprot dengan menjadi member yang berkontribusi)

Semoga terhibur...

MaturSuwun
:ampun: :ampun: :ampun:


#NB: tidak menerima commentar yg sok paling ok ente punya Thread.
jika tidak senang dengan Thread ane,silahkan capcus ke toko sebelah
hanya menerima comment yg bermutu,kasih thanks atau kirim
ijo - ijo
Chapter 2

Aku punya teman kuliah sebut saja namanya Reza, sekalipun beda jurusan tetapi kami sering banget jalan bareng walau hanya sekedar cari makan malam-malam. Reza berkost di tempat yang agak dekat dari kampus, jauh dari kost ku. Laki-laki berbadan sedikit kurus tapi tinggi ini mempunyai seorang cewek jurusan Psikologi sebut saja namanya Veti. Veti ini cukup akrab denganku, mengingat kami sering bertemu baik di kafe kampus maupun di kost Reza. Veti adalah seorang gadis yang cukup periang dan aktif, diluar itu dia seorang gadis yang cukup menawan.

Dengan kulitnya yang putih dan rambut panjang lurusnya dipadukan dengan tinggi badan dan bentuk body yang aduhai, dia bisa dikategorikan sebagai salah satu bintang di fakultasnya. Soal umur sih dia masih berumur 20 tahun. “Hai Vet!”sapaku saat bertemu dengannya di kost Reza. Maklum aku sering main ketempat cowoknya pas malam. “Eh, hai Di! Lho Reza mana?”tanyanya. Saat itu memang Reza sedang pergi untuk mencari sesuatu dan dia juga bilang butuh waktu agak lama dan karena kostnya sepi hanya ada satu orang temannya saja yang tinggal, maka dia memintaku untuk sekalian menjagain kamarnya.

“Oh….pergi yah. Padahal aku mau ajak dia ke supermarket.”katanya lagi setelah mendengan penjelasanku. “Oh gitu, mau beli apa sih memangnya? Penting kagak? Kalau penting telepon aja atau kirim sms.”kataku pada Veti.
“Ga ah…siapa tahu dia sedang ada urusan penting.”lanjutnya sambil merebahkan diri di kasur. “Gila…”pikirku saat aku melihat lekuk tubuhnya waktu rebah di kasur. Buah dadanya mencuat keatas dan pusarnyapun terlihat. Gadis ini memang luar biasa betul. Sembari mencari-cari buku aku sengaja melirik-lirik kearah dadanya dan benar saja akhirnya aku melihat payudara berbalut bra warna kuning dari sela-sela kausnya.

“Ehm….Reza beruntung yah bisa punya pacar kayak kamu.”kataku padanya. “Hah?? Beruntung gimana maksudmu?”tanyanya penuh selidik. “Yah beruntung, dapat cewek cantik dan berbody aduhai kayak kamu.”lanjutku. Kata-kataku ternyata dapat membuat telinganya merah padam juga wajahnya karena malu. “Ah..kamu ini bisa aja…”Veti tersipu berusaha menutupi malunya tapi gagal. “Memang wajahku ini cantik apa? Lagipula tubuhku juga gak bagus-bagus amat kok.”sahutnya lagi. Aku hanya tertawa kecil dan mendekatinya, sambil berbaring disampingnya aku berkata,”Siapa bilang tubuhmu nggak bagus? Jujur saja kalau aku Reza aku tak akan biarin kamu meninggalkan kamar ini walau sedetik.”kataku lagi.

Mendengar semua itu wajahnya tambah merona karena malu. “Kamu ini muji atau apa sich…”tanyanya lagi. Langsung aku memandang Veti dan secara tak sengaja mata kamipun bertautan. Entah setan mana yang membuat aku dan dia lupa diri karena tahu-tahu bibir kami berdua sudah bersentuhan. Aku mencium bibirnya dengan lembut dan penuh perasaan sedangkan Veti juga membalasnya dengan pagutan yang tak kalah hebat. “Hebat cewek ini, ciumannya maut…”kataku dalam hati. Selama ini mungkin ciuman Veti lah yang paling hebat dari semua cewek yang pernah kucium.

Sambil terus melakukan French Kiss dengan Veti, tangankupun menjelajah tanpa batas lagi. Kuremas buah dadanya yang masih berbalut kaus dan bra itu. Tak perlu lama-lama akhirnya selruh baju Veti sudah aku preteli, sambil aku mencumbu leher dan telinganya. Sekarang dia sudah telanjang bulat didepanku. “Di……ini salah Di. Aku sudah punya Reza, lagipula aku sama pacarku saja belum pernah sampai beginian. Aku takut Di.”kata Veti lirih. “Semua ada kalanya yang pertama Vet.”hiburku. lalu kulepas juga seluruh pakaianku dan mulailah pergumulan kami di ranjang sahabatku itu.

“Ahhhh…..ochhhh…”desahnya setiap kali aku meremas buah dadanya dan menciumi puting payudaranya itu. Secara naluriah, tangannya menggapai batang kejantananku yang sudah membesar dari tadi karena menahan nafsu. “Ini yah yang namanya penis orang dewasa? Kok gede banget.”katanya polos. Aku hanya tersenyum saja saat dia berkata itu dan dengan perlahan tapi pasti aku membimbing penisku itu kearah bibir vagina Veti yang sudah sangat basah. “Baru juga bentuknya Vet, belum kegunaannya. Ntar kalau sudah tau rasanya bakalan minta terus lho.”selorohku.

“Di jangan…aku nggak mau mengkhianati Reza.”katanya dengan nada pasrah memelas diselingi air mata. Tapi apa daya, nafsu mengalahkan logika. Sekali dorong penisku sudah masuk setengah bagian kedalam vagina Veti. “Ahhhhhh….Diiiiii….sakitt…….”rintihnya. Tak kupedulikan lagi toh tinggal separuh jalan. Dan bleshhhh, masuk sudah semua penisku kedalam vaginanya. “Ahhhh….Di….aku……ahhh, sudah masuk?”katanya terbata-bata. Aku mengangguk dan tersenyum kecil. Kumulai goyangan pinggulku dengan gerakan maju mundur yang semakin lama semakin cepat durasinya.

“Ohhh…..ahhh……ohhh…..ahhh…….ahhh…”desah Veti. Dengan bantuan cairan kewanitaan dan darah perawannya, gerakanku terasa lebih leluasa dari tadi. “Vet, memiawmu bener-bener legit. Ternyata selain cantik kamu juga berpotensi besar dalam urusan ranjang.”selaku. Dia hanya terdiam tersipu sambil menahan sejuta rasa nikmat dan keperihan di liang kewanitaannya yang sekarang sedang dijarah batang kejantananku. Setelah kurang lebih lima belas menit berlangsung acara persetubuhan itu, akhirnya aku merasakan akan segera keluar. “Vet…aku keluar nih.

Keluarin di dalam yah….?”kataku lagi sambil mempercepat genjotanku. “Jangan Di, ntar aku hamillll…..”pinta Veti tapi sudah terlambat, aku segera mengejang dan memeluk dia sangat erat saat muntahan spermaku keluar dari ujung penisku dan membasahi seluruh liang vagina Veti. “Ohh……..Vet……ahhhhhh…”desahku sementara Veti hanya terpejam matanya sambil setengah menangis. Usai pergulatan itu, Veti memakai pakaiannya lagi dan mohon diri. Tapi sebelumnya dia minta padaku supaya tidak menceritakan hal ini pada siapapun. Aku sih setuju saja asal dia tidak kapok melayaniku.

Mendengar persyaratanku dia hanya tertunduk diam dan pergi. Selang 20 menit kemudian Reza datang dan dia terkejut melihat sprei kasurnya terdapat bercak merah. Aku hanya mengatakan padanya kalau itu bercak obat merah yang tertumpah dari bifet atas karena aku tak sengaja tersandung dan menabrak almari kecil itu. Diapun tak banyak curiga hanya sedikit ngomel-ngomel padaku. Ternyata dia habis kena tilang karena tidak membawa STNK waktu membawa motor dan butuh waktu lama untuk meyakinkan polisi bahwa dia bukan kriminal dan itupun setelah dia kehilangan uang 50 ribu rupiah buat nyogok.

Dalam hati aku berkata,”Sebenarnya kamu telah kehilangan sesuatu yang lebih berharga dari 50 ribu rupiahmu.” Dia hanya mengomel saat aku menertawainya tanpa dia tahu apa sebabnya.


BERSAMBUNG....


Mohon maaf masta, terpaksa Nubie harus sambung lagi lain waktu... ;)
Mohon para masta bersabar, dan mohon dukungannya agar dapat selalu menghibur masta masta di forum semprot tercinta ini.
Nubitol untuk sementara undur diri...
:ampun: :ampun: :ampun:


#NB: tidak menerima commentar yg sok paling ok ente punya Thread.
jika tidak senang dengan Thread ane,silahkan capcus ke toko sebelah
hanya menerima comment yg bermutu,kasih thanks atau kirim
ijo - ijo
 

velkrasnyyvet

Dreamer
UG-FR+
Thread Starter
Daftar
1 Feb 2011
Post
1.918
Like diterima
1.090
Lokasi
Outside The Box
Lanjutan...

Chapter 3

Seperti yang terjadi pada setiap perguruan tinggi, di universitasku setiap tahunnya terdapat mahasiswa baru dan sudah menjadi tradisi kami bahwa akan ada acara penggojlokan (pemloncoan) sebagai alat untuk para mahasiswa baru agar dapat bersosialisasi dengan mahasiswa lainnya dan untuk pengakraban. Kebetulan aku menjadi anggota panitia sekaligus koordinator bidang perlengkapan. Acara pemloncoan berlangsung selama 2 minggu, satu minggu berada di lingkungan kampus dan berikutnya selama 4 hari 3 malam berada di luar kampus tepatnya di tempat perkemahan, kami biasa menyebutnya malam pengakraban (makrab).

Makrab kali ini benar-benar menyenangkan karena banyak mahasiswi baru cewek yang cantik-cantik. Maklum karena semua fakultas makrabnya dilebur menjadi satu sehingga fakultas-fakultas dengan mayoritas cewek seperti program sekretaris dan bisnis juga psikologi ikut jadi satu bagian.
Singkatnya aku sudah mengincar setidaknya 5 cewek yang menurutku paling menarik diantara semua mahasiswa baru. Salah satu dari cewek tersebut adalah Leony, angkatan 2003 fakultas sekretary. Wajahnya putih bersih dan kulitnya mulus putih, bahenol abis deh pokoknya.

Makrab mengambil tempat di sebuah bumi perkemahan di dekat lereng gunung, dan karena saat itu acara makrab kami sedikit lebih cepat daripada acara-acara serupa milik universitas lain maka saat kami datang ke tempat makrab, tempat itu sangat sepi dan nampaknya hanya kami saja yang menggunakan tempat itu sekalipun kadang tampak beberapa anak pramuka SMP di beberapa spot tertentu tapi jumlahnyapun sedikit.
Bagian utara adalah sebuah gunung dengan hutan yang sangat lebat dan sebelah timur merupakan lereng yang didasarnya terdapat sungai yang hebatnya sungai itu masih bersih, mungkin karena tidak adanya pemukiman penduduk didekat tempat ini.

Pemukiman penduduk terdekat kurang lebih satu kilometer selatan dari tempat kami makrab. Malamnya setelah semua tenda telah berdiri, kami para panitia dan koordinator berkumpul untuk technical meeting dengan ketua koordinator dan setelah itu dilanjutkan dengan makan malam. Karena aku koordinator perlengkapan yang notabene punya banyak anak buah maka pekerjaanku sangatlah santai, aku sering meluangkan waktu untuk berjalan dari satu tenda ke tenda yang lain hanya untuk mengecek siapa tahu ada gadis cantik. Dan benar saja tidak sampai satu jam aku berkeliling, aku sudah bertemu dengan seorang gadis cantik bernama Amanda, anak psikologi.

Kami mengobrol sebentar sambil berbasa basi aku goda-goda dia sedikit. Entah karena aku panitia dan dia junior atau karena hal lain, nampaknya dia enjoy saja aku godain. Jam 10 malam sudah, saat untuk melakukan pembagian tugas malam, di tiap tenda dipilih seorang ketua regu untuk mengambil tugas yang akan dikerjakan dan harus dikumpulkan pada pagi harinya. Malam itu semua sibuk mengerjakan tugas masing-masing. Saat itu aku sedang jalan-jalan menyusuri sungai yang juga merupakan tempat kami mengambil air bersih. Samar-samar kudengar langkah beberapa orang mendekat, iseng-iseng aku bersembunyi untuk mengagetkan mereka.

Ternyata itu adalah sekelompok anak SMU dan dilihat lebih lanjut sepertinya mereka anak kelas 3 . Sementara itu dari sisi lain sungai dibalik bebatuan muncul 2 orang gadis peserta makrab. Aku mengenal salah satunya, yup dia adalah Leony, salah satu idola angkatan 2003.
Urung niatku untung mengagetkan mereka saat aku melihat ketiga anak SMP tersebut mendekati Leony dan temannya, yang akhir-akhir ini baru kuketahui namanya adalah Ratna. Dengan cepat anak SMU yang bertubuh jangkung segera mendekap Ratna sementara dua yang lain yang berambut cepak dan yang berbadan kurus segera mendekap Leony.

“Apa-apaan ini? Mau apa kalian?” seru Leony keras. “Lepaskan! Kalo nggak gua teriak.” Ratna tak mau kalah meneriaki mereka. Dengan cepat si jangkung membungkam mulut Ratna dengan kain setangan leher pramuka nya sementara Leony ditindih tangan dan kakinya oleh kedua anak yang lain. “Maaf mbak, tapi kita-kita sudah gak tahan. Mbaknya tadi pas mandi bodynya keren banget sih.” kata seorang anak yang berambut cepak. Ternyata mereka sudah lama mengintip Leony dan Ratna mandi. “Ugh….” Ratna berusaha untuk melepaskan diri namun sia-sia karena walaupun si jangkung yang mendekapnya tidaklah gede-gede amat namun dia tetap cowok yang bertenaga lebih dari cewek.

Aku tidak begitu jelas mendengar apa yang mereka bicarakan karena mataku terfokus pada pemandangan luar biasa dimana Ratna dengan liarnya dugumuli oleh si jangkung dan akhirnya lepas juga kausnya dan juga celana pendeknya. Sementara Leony sudah tanggal celana pendeknya. Tak sampai beberapa menit kedua dara cantik ini sudah bugil. Kupikir mereka akan segera memperkosa kedua gadis ini namun pemikiranku benar-benar salah. Sementara si jangkung menindih Ratna dan si cepak menindih Leony, si kurus yang akhirnya kutahu bernama Bambang hanya menduduki kaki Leony dan melakukan mansturbasi sambil meremas-remas bagian tubuh Leony.

Hal yang sama dilakukan oleh kedua temannya. “Sialan! Apa-apaan iani ?”pikirku. Aku segera keluar dari persembunyianku dan membuat semua orang itu kaget. “Hah……ampun mas.” kata si Bambang. Mereka ketakutan karena aku muncul sambil membawa parang terhunus. Parang itu sengaja aku gunakan terus untuk berjaga-jaga dan membabat ilalang dan nampaknya dapat menciutkan nyali ketiga orang bocah ini. “Kak panitia, tolong saya.”isak Ratna. Leony pun ikut menimpali,”Mereka mau memperkosa kita kak, tolong…”rintihnya sambil kedinginan.

“Ampun kak.”pinta si jangkung yang ternyata bernama Rudi. Sesaat aku memandang tubuh kedua gadis ini. Jujur saja nafsuku saat itu sudah diujung ubun-ubun. “Kalian ****** yah?”bentakku kepada ketiga anak SMP itu. “Ngapain ngerjain cewek kalo cuman buat onani? Dasar ******!”bentakku lagi. Mereka bertiga kaget melihat reaksiku dan Leony dan Ratna lebih kaget lagi. Aku segera menyingkirkan Bambang dari kaki Leony dan menyuruhnya membantu Rudi memegangi Ratna. “Sana loe! Ini cewek dah lama gua taksir, enak aja lo maen sembarangan.”seruku sambil menduduki paha Leony yang putih mulus itu.

“Kak…kakak gimana sih? Kenapa nggak bantuin kita?”isak Leony. “Lah ini juga dah aku bantuin non.”kataku sambil tersenyum. Segera kusuruh ketiga bocah itu untuk melapas baju mereka semua,”Nanggung kalau cuman onani, ga ada seninya dodol. Mending perkosa sekalian.”seruku pada mereka. “Tapi mas, ntar kalau ketahuan bisa bahaya.”si cepak menjawab takut-takut. “Gua ada kamera digital, kalau dah selesai tinggal jepret aja, dijamin ga bakalan ngadu mereka.”kataku sambil meyeringai. Seolah tak percaya dengan apa yang baru saja kuucapkan, Leony dan Ratna berteriak namun tak lama karena dengan setangan leher pramuka segera kami bungkam mulut kedua dara ini.

“Montok juga kamu Ny.”kataku pelan sambil meremas buah dadanya. Sementara kami semua sudah telanjang bulat segera mulai mengerjai kedua cewek ini. Aku gesek-gesekkan penisku kemulut vagina Leony dan dia tak dapat berkata apa-apa karena mulutnya tersumpal dan hanya dapat bergumam tak jelas. Segera kulesakkan batang kejantananku kedalam liang senggamanya. Sesaat Leony mendongak tersentak dan matanya membelalak menahan rasa sakit. “Gila, gede amat punya mas.”celetuk si cepak yang bernama Bimo itu. “Heh….kalian ngapain diem aja? Tuh ada cewek satu lagi nganggur.”kataku. Dalam hati bangga juga aku dibilang berpenis gede karena aku melihat kemaluan ketiga anak SMP itu jelas jauh dibawahku.

Setidaknya hanya separuh milikku panjang dan besarnya. “Oh…enak nih…….kenyal. Aku masukin ya mbak.”kata Bambang kepada Ratna sambil membimbing penisnya kearah vagina Ratna yang bersih dari rambut itu, nampaknya dia rajin mencukurnya. Dan bleshhhh….dalam beberapa hunjaman saja penis milik si Bambang segera masuk semuanya kedalam vagina Ratna. “Hmmm…..achhh….ohhhh.”racau Bambang sambil menggenjot Ratna. Darah keperawananpun mengalir deras keluar dari liang kewanitaan Ratna seiring dengan pompaan penis Bambang. Kulihat mereka masih canggung saat melakukan persenggamaan dengan gadis.

Kulihat Leony sudah lemas karena sudah kuhajar liang senggamanya selama duapuluh menitan. Darah segar perawan dan cairan-cairan kewanitaannya keluar luber bersama dengan cairan dari penisku. “memiawmu dihajar darimanapun juga nikmat Ny.”kataku. Air mata mulai membasahi pipinya. Kubalik posisinya menjadi doggy style dan semakin kupercepat dorongan penisku masuk ke liang vaginanya yang putih bersih itu. Vagina yang tadinya putih berubah kemerahan karena gesekan dan cipratan darah perawannya tadi.

“Clok….clok…clok.”suara benturan penisku dan bibir vaginanya semakin jelas terdengar dan menarik perhatian ketiga anak yang lain. Mereka nampak terpana melihat permainan panasku dengan Leony yang selalu berubah-ubah gaya. Kulihat Bambang sudah tidak kuat menahan dirinya lagi dan sambil memeluk erat Ratna, dia mempercepat sodokannya. “Mbak aku keluar nih.”serunya dan segera dia cabut batang kemaluannya dan disodorkan penis itu keperut Ratna. “Crottt…ctottt!”entah berapa semburan sperma yang keluar dari ujung penis itu menumpahi perut dan pusar Ratna.
Melihat temannya selesai, Rudi segera ambil posisi. Kali ini dia membalik tubuh Ratna, nampaknya dia terinspirasi pada gaya permainan doggy style milikku.

Sementara batang kemaluankupun bergetar dahsyat. Segera kupercepat goyangan pinggulku dan kubuka sumpalan mulut Leony dan kucium dia dalam-dalam sambil memperdalam sodokan penisku didalam vaginanya dan selang beberapa detik keluarlah cairan cinta itu memenuhi seluruh ruangan liang senggamanya. “Crott…..croottttt…crottt ….crottt!”keluar dengan sangat banyak, bahkan jauh lebih banyak daripada saat aku berhubungan dengan pacarku. Selama satu setengah jam kami berempat bergantian mengerjai kedua gadis ini. Ratna aku kerjai dengan posisi berdiri dengan menyandarkan tubuhnya pada batu kali. Kami bercinta didalam air sungai yang mengalir.

Ini kali pertamanya aku bercinta didalam air. Benar-benar sensasi yang luar biasa. Rasa dingin diluar namun hangat membara didalam. Sementara aku mengerjai Ratna, Leony diperkosa tiga orang sekaligus. Baik vagina, mulut dan anusnya di masuki penis secara bersamaan dan mereka mengocok disaat bersamaan pula. Benar-benar pemandangan yang sangat hebat batinku. “Tuh, temenmu di ent*tin tiga bocah langsung.”kataku ke Ratna yang menggigil kedinginan dan terisak-isak. “Neh…kontol gue. Emut dong!”perintahku kepada Ratna secara paksa. Aku paksa dia mengoral penisku yang menegang dari dalam air.

Kontan dia gelagapan dan tersedak. Lalu kubalik tubuhnya dan kuperkosa dia dari belakang. Sepuluh menit kemudian aku merasa akan segera mencapai klimaks. “Aku dah mau keluar nih. Keluarin di muka lo yah.”kataku. Kupercepat goyanganku dan kucabut dengan cepat lalu kuarahkan kewajah Ratna dan muncratlah cairan putih kental itu membanjiri wajahnya yang manis itu. Sementara itu kulihat ketiga bocah SMP itu sudah selesai mengerjai Leony. Tubuh dara cantik itu belepotan sperma dimana-mana. Segera kuambil kamera digital dan aku portet tubuh telanjang mereka.

Sebagai pengaman agar mereka tidak lapor kesiapapun mengenai hal ini atau bakal disebarkan semua foto-foto ini. Begitulah malam pertama makrabku yang indah. Malam itu aku mendapat tubuh 2 dara cantik dari fakultas sekretary. Benar-benar malam yang indah. Malam kedua makrab diisi dengan acara mencari jejak. Tentu saja tidak serius-serius amat karena ini hanya untuk melatih kekompakan dan meningkatkan rasa persaudaraan saja antar peserta. Rutenya tidak jauh-jauh banget hanya saja banyak jalan memutar sehingga terasa jauh.

Singkatnya aku bertugas sebagai pengawas saja jika-jika ada anggota yang pingsan atau mendapat masalah di jalan. Aku bersama seorang temanku bernama Joni, nama lengkapnya Joni Everrat. Namanya sangat aneh menurutku, tapi maklum orang tuanya yang pria adalah keturunan orang Amerika Latin sehingga menamai anaknyapun tidak mau nama yang normal-normal saja. Aku dan Joni menggunakan rute kecil yang berada dekat dengan rute makrab. “Dingin nih Di. Bosen gua kalau sepi gini.”kata Joni padaku. “Beh! Kita tugas bro, lo mau ntar dimaki-maki sama si Johan ketua panitia kalau sampai ada yang ilang?”sahutku pelan. “Iye seh, tapi bosen abis neh bro.

By the way ntar kalau ada yang nyasar kita kerjain yuk biar seru. Biar tambah nyasar …hahahahaha…”tawanya, syukur lah dalam hatiku berkata akhirnya dia sudah ga menggerutu lagi bosan aku mendengarnya.
Sekitar satu jam setelah kami nongkrong di tempat persembunyian, ada suara beberapa anak mendekat. Ada 6 orang anak disitu, setelah habis makrab aku baru tahu nama mereka adalah: Antony, Silvia, Rasti, Iman, Nugroho dan Ashanti. “Gie!”panggil Antony kepada Nugroho yang panggilannya Nugie. “Apaan?”sahut Nugie. “Gila neh. Lo yakin ini bener jalannya?”sahut Antony lagi.

Nugie menyahut,”Lah, mana gua tahu. Gua khan bukan panitia. Lagian semua tandanya bikin kepala gua puyeng nih. Mana didepan ada perempatan pula. Kampret nih panitia-panitia, ngerjain kita semua nih.”umpatnya berkepanjangan. Silvia menengahi, “Sudah-sudah! Ga ada gunanya kalian semua nih cowok-cowok. Gini aja, kita bagi regu menjadi 3. Trus kita lihat jalan didepan buntu atau kagak, kalau sudah yakin dengan jalan didepan baru kita balik ke perempatan ini lagi. Gimana?”
Iman yang dari tadi diam menjawab, “Masuk akal nih, gua setuju.” “Lah, ntar yang cewek-cewek gimana dong?

Aku ogah jalan sendirian ma cewek, ntar kalau kenapa-kenapa bisa gawat.”kata Rasti. Silvia menyahut, “OK! Tiap regu terdiri dari satu cewek dan satu cowok.” Lalu merekapun berpencar. Anthony bersama dengan Ashanti, Silvia bersama Nugie, Iman bersama Rasti. Dilihat dari arah yang mereka tuju, sudah jelas bagi aku dan Joni bahwa arah yang dituju Nugroho dan Silvia adalah jalan menuju kepuncak gunung. Jelas mereka tak akan sampai di tempat perkemahan sebelum sadar dan itu bakalan lama karena lingkungan jalannya benar-benar menipu mata para pendaki pemula. Sementara itu Antony dan Ashanti menempuh jalan yang nantinya akan buntu karena dibatasi sungai, yang jalannya hanya bisa dilalui oleh orang-orang yang bisa berenang saja dan aku yakin Ashanti tak akan pernah mau.

Hanya Iman dan Rasti yang berhasil memilih jalan. “Bro! Lo denger gak tadi mereka ngomong apa?”kata Joni. “Emang napa seh?”sahutku. “Belagu tuh anak-anak kemaren sore.”serunya dan kulihat dia benar-benar jengkel dengan ucapan si Nugie. Aku tersenyum padanya, “Lah terus mau ngapain lagi? Kita khan panitia, masak mau marahin mereka. Ga pada tempatnya.”sahutku lagi. Joni lalu mengikuti Anthony dan Ashanti pergi. “Hoi, mau kemana loe?”tanyaku pada Joni. “Udah ikut aja bro. Gua pengin tahu ngapain mereka pilih jalan buntu ini, jelas-jelas arahnya melenceng keluar dari arah perkemahan.”ujarnya. benar juga batinku, ngapain mereka mau pilih jalan itu.

Tak lama kemudian aku dan Joni sudah mencapai jalan buntu yang dilewati sungai itu. Alirannya tidak deras-deras banget tapi kedalamnya hampir satu setengah meter, mau tak mau buat orang jeri juga bagi mereka yang tidak bisa berenang. “Ssssttt! Tuh denger!” Joni berbisik sambil membuat tanda diam dimulutnya. Dan benar saja aku melihat Anthony dan Ashanti sedang bercumbu di atas sebuah batu kali yang lebar dan lempeng. “Pas bener nyari tempatnya? Gua berani tebak, mereka pasti sudah melihat kalau ada tempat asik disini pas waktu santai tadi siang. Gila tuh cewek, pahanya mulus coi, toketnya juga gede putih dan mulus.”kata Joni sambil menelan ludahnya.

“Bah! Sialan, malam-malam gini malah bermesum ria.”gerutuku. “Kerjain yuk?”kata Joni sambil senyum-senyum. “Ntar! Kita liat dulu aja mereka mau ngapain.” sahutku. “Sssshhh …achhh……sshhh….achhhhh! Ton, kalau temen-temen liat gimana?”Ashanti mencoba bicara ditengah gelora nafsunya. Anthony sambil terus menciumi lehernya dan meremas buah dada gadis cantik itu hanya tersenyum dan mempreteli seluruh pakaian gadis itu dan pakaiannya sendiri. Hanya dalam beberapa detik mereka sudah bugil dan permainan bertambah panas karena Anthony dengan batang kemaluan yang sudah membesar itu segera melakukan penetrasi ke liang vagina Ashanti.

“Say, aku masukin yah.”kata Anthony pada gadis itu yang ternyata merupakan kekasihnya sejak di SMU kelas 3. “Iya deh honey. Kita main cepetan yah, takut kalau ada yang tahu.”ucap Ashanti disela-sela desahan kenikmatannya. “Achhh……terus…..te….te….rus….sayang….honey….ochhhh h!”racau Ashanti saat penis Anthony menerobos liang senggamanya dan mulai digoyangkan pinggulnya naik turun. Laksana lokomotif, dia menggenjot tubuh kekasihnya itu diatas batu kali.

“Ahhh…..ohhh……ahhhhh….”racau Ashanti semakin menjadi-jadi saat kekasihnya semakin liar menyodokkan penisnya kedalam vaginanya. “Enak yah say?”canda Anthony ditengah-tengah goyangannya yang semakin cepat. “Achhhh……..ahhhhhhhhhhhhhhh!”racauan Ashanti berubah menjadi sebuah suara yang cukup keras. Nampaknya dia sudah mencapai orgasmenya yang pertama. Sementara itu Anthoni hanya senyum-senyum saja, dilanjutkannya penetrasinya dengan sodokan-sodokan yang mulai melemah lalu medadak menjadi liar kembali. Penis berukuran kurang lebih 13-15 sentimeter itu benar-benar membuat lubang vagina Ashanti yang putih bersih itu menjadi kemerah merahan karena efek gesekan yang sangat cepat.

“Clap, clap, clap, clap.”bunyi saat penis milik Anthony menjarah liang kewanitaan Ashanti kekasihnya itu. Tak lama kemudian baru dia mencabut batang kejantanannya dan mengocoknya diatas perut kekasihnya dan, “Crottt, crot, crottt!” keluarlah semua spermanya dan membasahi perut gadis putih itu bahkan pusarnyapun tertutup cairan mani yang putih kental itu. “Say, kamu bener-bener lihai bercinta sekarang.” kata Anthony sambil mengecup bibir gadisnya. Ashanti yang lemas hanya dapat tersenyum.
“Srakkkk….”suara semak-semak terinjak oleh Joni yang keluar dari persembunyian.

Sepasang burung madu itupun kaget dan mencoba menutupi tubuh mereka dengan pakaian, tapi apa daya karena Joni sudah merengut pakaian mereka yang berjatuhan di bebatuan dan melemparkannya kesungai kecuali pakaian dalam sang cewek dan beberapa barang seperti dompet dan handphone. Hilang sudah semua pakaian mereka berdua.
“Mau apa lo?”bentak Anthony lantang menutupi kagetnya dan juga perasaan takut. “Bah! Bocah kemaren sore belagu. Mau cari mati lo hah? Malam-malam makrab malah buat mesum.”seru Joni lebih lantang. “Ton…”Ashanti bersembunyi dibalik tubuh kekasihnya guna menutupi tubuhnya yang telanjang bulat dan dia terisak-isak.

Akupun keluar dari semak-semak, “Heh kalian! Apa kalian gak tau aturan disini?”seruku pada sepasang kekasih itu. “disini kalau mau bersenang-senang kagak boleh sendirian.”tambahku.
Anthony menjauh dan berusaha untuk mecari alat buat menutupi tubuhnya. “Mau apa kalian?”serunya kali ini tidak selantang yang tadi. Aku tersenyum sambil melihat body Ashanti yang telanjang itu, “Gua cuman mau cewek lo aja buat malam ini.”tandasku padanya. “Hah! Apaaaa?” Anthony kaget namun aku yakin dia sudah memikirkan kemungkinan itu sebelumnya.

“Kalau kagak mau juga ga apa apa seh. Cuman cewek lo bakalan jadi bulan-bulanan disini karena dia bakalan pulang telanjang bulat karena celana dalam dan bra nya bakalan kami buang kesungai.”seruku.
Anthony berusaha menyerang Joni dengan harapan dapat merebut barang kekasihnya namun aku juga sigap dengan segera aku memukul tengkuk pria itu hingga dia pingsan. Lalu kami mengikat Anthony di sebuah pohon besar agak jauh dari tempat kami bertemu mereka sambil membawa paksa Ashanti yang bugil dan kedinginan.

“Nah. Kalau disini ntar kalau temen-temen lo pada balik nyariin gak bakalan ada yang nemuin lo.”kataku pada Ashanti “Lo kalau kedinginan ngapain pakai acara ngentot malem-malem dihutan?”lanjutku sambil mencium paksa bibirnya. Luar biasa lembut, gadis cantik ini benar-benar membuatku terpesona. “Ampun kak. Saya minta pakaian dalamnya lagi, saya nggak akan bilang siapa-siapa soal ini asal saya dilepasin kak.”katanya padaku sambil berlinangan air mata.

“Beh! Emang lo masih perawan apa? Anggap aja ngelayanin kami sama aja ngelayanin cowok lo.”seru Joni sambil mempreteli bajunya. Menurut undian aku lebih dulu yang dapat jatah. Segera setelah aku melepaskan bajuku, aku segera menindih cewek bahenol ini dan mulai melakukan penetrasi. Sambil kuciumi payudara dan leher juga bibirnya aku berkata,” Gua jamin, pelayanan gua lebih memuaskan daripada cowokmu itu.”
“Jangan kak. Ampun! Kak janga…..an…..achhhhhh….achhhhhhhhh !” ucapannya berubah menjadi rintihan saat penisku menerobos liang kemaluannya.

Tak butuh waktu lama hingga seluruh penisku yang panjangnya 18 senti itu masuk semua kedalam vagina Ashanti. “Sekarang enak khan? Penis gua lebih gedean khan dari punya cowok lo?” kataku pelan sambil memulai sodokan-sodokan penisku kearah dalam vaginanya.“Ach, ohhh, achhh, ochhh, jangan kak! Ahhhh…ohhh” Ashanti mulai tak terkendali, nampaknya walaupun dia ingin menolak tetapi dia tetap merasakan kenikmatannya. Tak sampai sepuluh menit dia mencapai orgasme keduanya malam ini. “Achhhh, kak…ahhhh!” serunya diiringi tubuhnya yang mengejang kuat dan tanpa sadar tangannya menekan bahuku.

“Heheh! Ternyata menikmati juga yah?” ejek Joni pada Ashanti. Lalu kupercepat gerakan sodokanku, kali ini kurubah gaya menjadi woman on top sehingga dia bisa bergoyang lebih bebas dan dengan gaya ini dia orgasme untuk ketiga kalinya. Cairan cinta dari vaginanya bercampur dengan cairan pelumas yang keluar dari batang kejantananku menimbulkan bunyi-bunyian yang berkesan becek saat kedua kelamin kami berbenturan. Kemudian kuakhiri petualanganku malam ini dengan doggy style dimana di kuposisikan menghadap kekasihnya yang masih pingsan dan kusuruh dia mendesah seliar mungkin. Tak lama kemudian aku merasakan spermaku akan keluar.

“Say, aku keluarin didalam yah.”kataku padanya namun tak ada jawaban. “Crot, crot, crot, crottt!” spermaku menyemprot liang vaginanya setidaknya 4 sampai 5 kali. Selang 2 menitan Ashanti langsung disuruh jongkok oleh Joni dan dimembersihkan vagina cewek itu dengan air sungai. “Bah! Tercemar sudah.” serunya sambil terkekeh. Lalu tanpa aba-aba lagi dia langsung menyodokkan penisnya kedalam vagina Ashanti yang sudah lemas itu dengan posisi doggy style. “Ach, ach, ohhh!” Ashanti kembali meracau tidak karuan. Saat itu kekasihnya bangun dari pingsan dan melihat betapa liarnya Joni menggenjot kekasihnya. “Nih liat! Cewekmu aduhai bener bodynya, goyangannya juga mantap.” kata Joni pada Anthony sambil memperliar sodokannya sehingga kadang membuat Ashanti mengaduh kesakitan.

“Ahhh, yes, ohhh….yessss!” kali ini giliran Joni yang meracau tak karuan. Aku segera ambil posisi, “Kalau kamu mau pakaian dalam kamu balik, kamu harus mengoral penis gua dulu. Nih!” kataku sambil menyodorkan batang kejantananku yang mengeras lagi kedepan bibir mungilnya yang menurutku sangat seksi. Dia lalu membuka bibirnya perlahan dan mulai memasukkan penisku kedalam mulutnya. “Ahhh, gitu dong dari tadi.” seruku sambil memaju mundurkan pinggangku mengerjai mulut Ashanti gadis manis ini. Tak lama kemudian Joni mempercepat goyangannya dan langsung meremas buah dada Ashanti dengan keras hingga gadis ini mengaduh keras.
“Ahhh…gua keluar nih. memiaw lo emang legit abis Shan, kalau jadi lonte dah bakalan laris lo.” Joni berkata sambil melakukan sodokan pamungkasnya yang mendalam dan keluarlah seluruh cairan haram itu didalam vagina Ashanti. Gadis ini hanya bisa menutup mata namun tak lama dia terpaksa harus membuka matanya karena aku berejakulasi saat penisku dioral mulutnya. Dia mencoba melepaskan penisku namun gagal dan akhirnya harus menerima sebagian besar maniku keluar dimulutnya.
Setelah puas, aku dan Joni berpakaian dan memberikan pakaian dalam Ashanti tapi sebelumnya aku kembali menggunakan kamera digitalku untuk memotret mereka berdua dalam kondisi telanjang bulat.

“Kalau lo pada buka mulut, foto-foto ini bakalan gua kirimin kesemua relasi kalian and tentu saja keseluruh kampus dan keluarga kalian. Ngerti!” bentakku. “Udah! Ayo pergi! Dah puas gua ngentotin tuh anak baru.” kata Joni sambil ngeloyor pergi. Sebelum aku pergi aku berbisik pada Ashanti, “Lain kali kalau kamu butuh kepuasan, cari saja aku. OK?” bisikku.
Kejadian itu merupakan kejadian yang sangat berkesan, karena aku bisa memperoleh tubuh cewek angkatan baru ketigaku. Lalu aku dan Joni segera pergi kearah Silvia dan Nugie pergi. Ceritanya cukup seru juga.

Setelah menempuh setidaknya satu jam perjalanan, aku dan Joni memutuskan untuk berhenti mencari Silvia dan Nugie. Tapi benar-benar takdir, aku dan Joni mendengar ada suara ribut-ribut didekat kami dan kamipun mencari arah suara tersebut. “Hmmm, tuh mereka berdua. Malah perang sendiri.” kata Joni padaku. “Anak baru emang ga berguna semua, nyari jalan saja pakai berantem.” ucapku. Kami berdua lalu mendekati kedua anak itu. Mereka kaget tapi lega dan senang melihat ada panitia didekat mereka. “Untung ada kakak panitia.” kata Nugie pada Silvia. Silvia ini tidak begitu cantik paras wajahnya, namun dia sangat modis cara berpakaiannya dan body nya itu yang aduhai, jauh lebih seksi daripada Ashanti yang padahal menurutku sudah cukup seksi.

Kami berencara untuk turun gunung namun ternyata jalan yang kami lalui tadi tertutup kabut. “Bener-bener deh! Tadi waktu diatas ga ada kabutnya kok dibawah sekarang ada.” gerutu Joni lagi. “Aneh juga, baru kali ini ada yang beginian. Kalian juga sih pake acara naik gunung, dah tahu perkemahannya di kaki gunung.” kataku kesal. Seolah mengakui kesalahan mereka, kedua bocah itu diam. Akhirnya kami berempat harus menunggu sampai kabut hilang karena jalan yang dilalui ada beberapa bagian yang curam dan jarak pandang hanya 2 meter didepan.

“Dah! Kita diam disini dulu saja sampai kabut ilang.” kataku sambil duduk disebuah potongan ranting kayu yang besar yang nampaknya jatuh dari sebuah pohon. Joni terdiam lalu angkat bicara, “Jangan! Gue kayaknya masih inget ada tempat persinggahan disini, pos buat para pendaki.” Kami lalu mencari pos tersebut dan ternyata Joni benar dan letaknya tidak jauh dari tempat kami berdiri tadi. Pos berukuran 5x5 meter yang sederhana sekali, hanya terdapat sebuah tempat tidur dari semen yang bisa digunakan buat tidur, duduk ataupun bersantai sambil menaruh bawaan. Malam semakin larut dan kabut diluar pos semakin tebal saja. Karena hanya membawa lampu senter multifungsi tanpa membawa oncor, obor atau sebagainya maka hawa dingin semakin merajalela.

Kampret ! Dingin abis disini. Mana kaga ada perapian pula.” Nugie mulai menyumpah serapahi keadaan. Aku melihat Silvia mulai mendekatiku dan berbagi jaket gunung bersamaku. Maklum diantara kami berempat, akulah yang menggunakan jaket gunung paling tebal, tapi jujur saja suasana dingin sudah biasa bagiku karena aku lahir didaerah pegunungan juga. “Hih! Dingin, dingin banget.” Silvia kini mulai berani memeluk tanganku. Kurasakan tonjolan menyentuh lengan atas tanganku. Dada Silvia yang cukup besar, 36B setidaknya menurut tebakanku menyentuh tanganku.

Disuasana sedingin ini sebuah kehangatan merupakan surga.
“Hmm! Silvia.” panggilku padanya dan dia menoleh. Dia terkejut karena tanganku sudah memasuki jaket dan baju kausnya bahkan sudah melewati himpitan branya dan menyentuh buah dadanya yang montok itu. “Kakak! Kakak apa-apaan sih?” bentaknya padaku namun tak berpengaruh bahkan aku semakin berani mereka payudaranya kali ini menggunakan kedua tanganku. “Kamu tau nggak Silv, di cuaca sedingin ini kehangatanlah yang penting. Dari pada aku mati beku mending kita bekrja sama.” aku beralasan. Tanpa di komando lagi, Joni segera memegangi kedua tangan Silvia dari belakang sementara aku membuka bra nya.

Kali ini dada Silvia tidak tertutupi bra lagi walaupun dia masih mengenakan jaket dan kaus. Tak hanya itu, aku langsung memelorotkan celana jeansnya dan juga celana dalamnya. Setelah tubuh bawahnya telanjang dia baru dapat berteriak. “Hentikan! Kalian sudah pada gila! Apa-apaan ini? Jangan macam-macam.” serunya namun tak ada gunanya. Bahkan Nugie yang dari tadi bengong jadi ikut bereaksi meremas-remas payudara Silvia. Sementara mulutku mencumbu bibirnya dengan french kiss. Nampaknya mau tak mau dia pasrah juga melihat dirinya dikerumuni tiga pria dan semuanya berebutan untuk merangsang diri mereka dengan tubuhnya yang akhirnya berbalik merangsang diri Silvia sendiri.

Tak menunggu lama segera aku pasang posisi, “Jangan khawatir Silvi, yang penting kenikmatannya kok dan kehangatan kita semua.”kataku sambil membuka resleting celana jeansku dan segeralah batang kejantananku mengacung tegak seolah menantang dinginnya malam berkabut itu. “Gila! Gede amat.” tanpa sadar Nugroho berceletuk dan ditanggapi dingin oleh aku dan Joni. Blessshhh. Segeralah batang penisku itu menerobos masuk kedalam vagina Silvia. “Achh, sakit mas.” Silvia mulai terbata-bata. Kala itu baru kepala penisku yang bisa masuk. “Kamu masih perawan yah Sil.” aku tersenyum melihat dia menahan rasa sakit namun tak sanggup memberikan perlawanan.

Dan dalam selang satu sampai dua menit akhirnya seluruh batang kemaluanku berhasil sukses melesak masuk kedalam liang kewanitaan Silvia. “Ah, achhh, ahhh.” Silvia mulai mengejang menahan sensasi kenikmatan dan menahan rasa perih di liang senggamanya. Ukuran vaginanya memang lebih kecil dari semua cewek yang pernah kutiduri dan ditambah ukuran penisku yang cukup lumayan itu membuat terasa sangat seret dan sulit saat akan penetrasi. Benar-benar situasi yang luar biasa dimana Silvia yang hanya menggunakan atasan dan diriku yang masih berpakaian lengkap ini bersenggama di sebuah ruangan yang dingin berkabut.

Karena kondisi maka aku memilih doggy style sehingga tidak perlu terlalu ribet. Tiap sodokan demi sodokan dari penisku membuat kedua payudara sang dara ini berguncang hebat. “Achhh, mas, ahhh, ahhhh…hentikan mas…achhh.” racaunya ditengah goyangan mautku. “Bener mau berhenti?” godaku padanya sambil senyum-senyum. Sambil meremas-remas payudaranya dari belakang, aku benar-benar mencapai kepuasan yang tiada tara. Gadis bertubuh molek ini akhirnya dapat aku garap dengan seekstrim ini. Dua puluh menti kemudian aku mencapai klimaksku dan ku semprotkan seluruh cairan kemaluanku didalam vaginanya. Saking banyaknya hingga ada tetesan yang keluar.

Setelah diriku, Joni lalu kemudian Nugroho juga melampiaskan hasrat terpendam mereka ketubuh Silvia dan sama sepertiku mereka menggunakan doggy style. Sperma-sperma yang memenuhi liang kewanitaan Silvia seolah menjadii saksi kebrutalan tiga pria dalam satu malam yang dingin. Banyak sekali pose saat Silvia disodok yang terekam kameraku. “Enak yah Sil? Nyari kehangatan sambil nyari kenikmatan.” kataku padanya. “Kalau kamu ntar mau ngentot lagi, bisa ngomong ke aku OK Sil.”aku manambahi.

Setelah kurang lebih pukul 4 pagi, kabut mulai hilang dan kami berempat berani untuk turun. Malam itu selama kurang lebih 2 sampai 3 jam kami mengerjai Silvia dari segala sisi. Setidaknya aku sudah berejakulasi dirahim, anus dan dadanya. Begitu juga dengan dua orang yang lain, bahkan Nugie lebih rakus karena dia memaksa Silvia melayaninya hingga 5 kali. Entah sudah berapa banyak sperma yang memasuki rahim Silvia waktu itu. Malam itu selain mendapatkan servis dari Ashanti, aku juga memperoleh servis dari Silvia plus keperawanannya. Rekorku sepertinya melebihi rekor Yusak temanku dalam hal memerawani cewek.

Hari ketiga waktu sore hari tiba, banyak peserta makrab yang menyiapkan acara mereka masing-masing karena tiap-tiap regu diharuskan menampilkan sebuah atraksi hiburan yang akan digunakan pada malam api unggun. Malamnya saat acara api unggun dimulai, suasana sangat meriah dan tidak ada lagi acara bentak-bentak dari para senior. Semuanya membaur menjadi satu baik senior maupun junior. Aku, aku memilih menyendiri di salah satu tenda panitia. Terus terang aku cukup lelah dengan aktifitas pagi waktu itu dimana kelompok tugasku diberikan tugas untuk menyiapkan keperluan dan perlengkapan untuk acara api unggun.

Saat aku mendekati salah satu tenda panitia dari bagian dokumentasi, aku mendengar ada suara orang bercakap-cakap, setidaknya ada 3 orang disana. Kudengar samar-samar dan aku mulai dapat memastikan kalau suara itu adalah suara Joni dan Anwar temanku sementara suara satu lagi adalah suara perempuan yang aku tidak kenal. Tapi itu bukan yang membuatku terkejut, karena yang membuatku sangat terkejut adalah suara-suara yang muncul dari mulut ketiga orang itu.

“Jangan kak! Saya benar-benar nggak sengaja kok.”kata si cewek yang ternyata bernama Ivone. “Gak sengaja gimana? Jelas-jelas kamu bawa benda ginian ditas kamu, emangnya benda seperti ini isa masuk dewe?”bentak Anwar dengan logat jawanya. Terdengar suara tangis kecil dan sesenggukan dari sang cewek. Aku segera masuk untuk mengetahui apa yang terjadi dan kudengar dari penuturan kedua rekanku itu bahwa bocah yang bernama Ivone ini ternyata membawa minuman keras Jack Daniels dan juga beberapa linting rokok berisi ganja.

“Sinting! Kamu pikir ini tempat apaan?”bentakku. Emosi juga kumelihat ada junior yang berani bertingkah jauh diambang batas seperti gadis ini. Gadis berkulit putih ini hanya bisa terdiam. Ivone adalah gadis keturunan cina, tinggi tubuhnya 165 an dan berambut panjang lurus di cat warna merah dipinggirnya. “Saya menyesal kak. Tolong jangan dilaporin.”pintanya setengah merayu walaupun tangisnya masih juga keluar. “Heh, dia pake acara merayu pula.”ejek Anwar pada Ivone sambil duduk yang lalu pergi keluar untuk mecari udara diluar tenda. Aku lihat tubuh Ivone cukup bagus dan wajahnya juga lumayan karena didukung kulitnya yang putih bersih.

“Hng! Emangnya kamu mau ngerayu kami pake cara apaan?”kataku padanya sambil melirik kearah buah dadanya. Saat itu dia memakai kaus lengan pendek dengan lingkar leher cukup besar sehingga dari lingkar leher kausnya dapat terlihat dadanya saat dia merunduk.

Nampaknya Ivone cukup tanggap akan hal tersebut dan dia segera membuka kausnya hingga terlihat payudaranya yang dibalut bra berwana krem. “Kakak boleh lihat tubuh Vony tapi jangan lapor tentang rokoknya sama minumannya. Please yah kak, ntar aku bisa dikeluarin.”pintanya memelas. Joni menimpali,”Lo bukan cuman bakal dikeluarin tapi juga dipenjara.

Kita-kita bisa saja ngomong kalau lo mau mengedarkan ganja itu di lingkungan kampus.”serunya pada dara tersebut. Sambil meletakkan tas cangklongku aku perlahan mendekati dia,”Kamu, kalau cuman bisa buka segini ga ada gunanya. Ga setimpal. Kalau mau buka semuanya!”seruku padanya. Akhirnya walau dengan enggan akhirnya dia mau mencopot seluruh pakaiannya didepan kami berdua. Payudara putihnya segera menjadi pemandangan utama dan ukurannya cukup besar sekitar 36B, belum lagi pusarnya yang ditindik membuat dia semakin seksi saja.
“Wah, kalau gini baru kita-kita bisa berpikir jernih tentang masalah lo.”Joni terkekeh sambil menjulurkan tangannya memegang-megang payudara Ivone.

Tapi dikebaskan tangan Joni oleh tangan Ivone. “Sialan! Lo mau gua laporin apa?”bentak Joni tidak terima. Namun suasana saat itu terhenti saat ada seseorang yang masuk yang ternyata adalah Anwar.
Dia terkejut dan tak dapat melepaskan pandangannya dari tubuh bugil Ivone,”Gila, apa-apaan neh? Kok jadi gini?” Anwar bingung. Selang beberapa detik kemudian ada panggilan dari radio komunikasi kami dari HT salah satu teman kami diluar, isinya adalah buat Joni untuk segera datang keacara api unggun karena dia kebagian tugas mengabadikan acara tersebut dengan handycam panitia. Segera kusuruh Joni keluar walalaupun enggan tapi hal tersebut agar tidak membuat kecurigaan dikubu panitia.

“Sekarang tinggal kita bertiga.”kataku pelan sambil membuka celanaku dan segera terpampang penisku yang sudah lama ereksi karena melihat tubuh telanjang Ivone. “Kak, jangan! Tadi khan katanya cuman mau lihat. Bukan yang lain kak.” kata Ivone patah-patah karena gugup. Anwar masih bengong dari tadi baru bisa menguasai dirinya, “Di! Kowe sudah edan yah? Ntar kalau yang lain kesini bisa mampus kita.”katanya panik dengan logat lucunya itu. Aku hanya meringis sambil menyergap Ivone yang mencoba berontak. Kupegang kedua tangan dara tersebut sementara kedua pahanya kutekan dengan kakiku sehingga tak dapat bergerak lagi.

“Von, sekarang kamu harus buat aku senang kalau tidak aku laporin semua barang bukti ini ke temen-temen panitia yang laen. Gak enak lho dipenjara bertahun-tahun apalagi buat gadis muda kayak kamu. Dipenjara bisa jadi bulan-bulanan.” kataku menakut-nakutinya dan berhasil, dia menjadi minder ketakutan akan akibat yang mungkin terjadi jika aku melaporkan semuanya. Kuciumi mulutnya yang tipis itu sambil kuremas-remas payudaranya yang putih mulus itu. Kujilat dan kuhisap-hisap puting susunya sehingga mengeras dan sedikit demi sedikit dia sudah mulai merasakan kenikmatan cumbuanku. Vaginanya mulai basah dan saat inilah yang kutunggu. Kuarahkan penisku kearah bibir vaginanya dan segera kudorong melewati labia minora tersebut.

“Ach, ahhh…!” rintihnya pelan saat batang kejantananku melesak kedalam vaginanya. “Ahhh, nikmat sekali.” kataku pelan sementara dia hanya membisu dan membuang muka kesamping. Dari saat aku memasukkan penisku hingga saat aku mulai memompa batang kemaluanku itu, aku dapat merasakan kalau dia sudah pernah berhubungan dengan pria lain. Tak ada darah dan kesulitan memasukkannya tidak sesusah saat bersama dengan gadis yang masih perawan.

Kugenjot semakin cepat sambil kuangkat kedua pahanya dan kusandarkan di pundakku sementara dia berbaring pasrah menerima hunjaman-hunjaman penisku di liang kemaluannya. “Ahhh, achh, ohhh…” rintihnya pelan. Selama sepuluh menit aku hajar vaginanya dengan posisi itu dan karena tempat yang sempit aku enggan berpindah posisi. “Ahh, aku mau keluar nih. Keluarin mana nih?” kataku padanya. Dia hanya menjawab pasrah, “Terserah kakak mau dikeluarin dimana.”

“Ahhh, ahhh…!” aku mengerang cukup keras sebelum aku menegang dan penisku menyemburkan cairan sperma yang cukup banyak didalam vaginanya. “Crot, crott, crottt, crottt….!” Sekarang liang vaginanya dipenuhi cairan putih kental yang akhirnya sebagian besar mengalir keluar dari dalam liang senggama Ivone melalui bibir vaginanya. Aku lalu memakai celanaku lagi dan duduk agak jauh dari Ivone. “Kamu nggak mau nyobain nih cewek?” kataku pada Anwar yang dari tadi cuman tertegun menonton permainan panasku dengan Ivone. Akhirnya dia juga ambil bagian.

Dengan sigap dia copot semua pakaiannya dan langsung mengarahkan penisnya yang berwana coklat kehitaman itu kearah bibir vagina Ivone yang putih kemerahan yang masih belepotan sperma itu, tapi nampaknya temanku itu tak peduli lagi. “Ahhh, ahhh, akhirnya hilang juga perjakaku. Kentu ma cewek cina lagi. Ngimpi juga gak pernah aku.” katanya padaku. Aku hanya tersenyum melihat kelakuan polos temanku itu. Batang kemaluan yang berwarna gelap itu kontras sekali dengan liang memiaw Ivone yang putih kemerahan. Setiap kali penis Anwar menyodok dalam vagina Ivone, gadis itu bergetar keras sambil mendesah entah desahan sakit atau kenikmatan.

“Ahhh, keluarin didalam yah non.” kata Anwar dan benar saja hanya dalam waktu lima menit dia ngentot dengan gadis itu dia langsung mencapai klimaksnya. Sekali lagi cairan sperma milik seorang pria membanjiri liang senggama Ivone. Setelah itu kami berdua menyuruhnya mengoral penis kami hingga kami berejakulasi diwajah dan mulutnya.
Sekitar dua jam kemudian, Joni datang bersama tiga orang panitia yang lain. Semuanya pria dan semuanya menjadi horny saat melihat tubuh telanjang Ivone yang lemas karena melayani aku dan Anwar tanpa henti. Seakan kerasukan setan, keempat rekanku itu mencopot celana mereka masing-masing dan menggagahi Ivone secara bergantian.

Kali ini bukan cuma vagina dan mulutnya yang dihajar dengan sumpalan penis, tapi juga lubang anusnya yang disodomi oleh keempat temanku ini. Benar-benar brutal sekali, karena sempat aku melihat saat vagina Ivone dijejali dua penis sekaligus. Saat itu dia menangis keras namun segera dibungkam oleh salah seorang dari mereka. Sekitar jam 12 malam tepat saat acara api unggun mendekati selesai, mereka berempat selesai mengerjai Ivone dan meninggalkannya dengan tubuh belepotan sperma baik dimulut, payudara, perut, paha, punggung bahkan anusnya, terlebih di liang kewanitaannya dibanjiri oleh sperma dari 6 orang pria berbeda. Karena terlalu banyak hingga meluber keluar. Malam itu Ivone lolos dari jerat hukum tetapi dia masuk kedalam jerat kami para panitia.

Benar-benar malam yang menyenangkan.

BERSAMBUNG....


Mohon maaf masta, terpaksa Nubie harus sambung lagi lain waktu... ;)
Mohon para masta bersabar, dan mohon dukungannya agar dapat selalu menghibur masta masta di forum semprot tercinta ini.
Nubitol untuk sementara undur diri...
:ampun: :ampun: :ampun:


#NB: tidak menerima commentar yg sok paling ok ente punya Thread.
jika tidak senang dengan Thread ane,silahkan capcus ke toko sebelah
hanya menerima comment yg bermutu,kasih thanks atau kirim
ijo - ijo
 

velkrasnyyvet

Dreamer
UG-FR+
Thread Starter
Daftar
1 Feb 2011
Post
1.918
Like diterima
1.090
Lokasi
Outside The Box
Lanjutan...

Chapter 5​

Akhirnya sudah empat hari kami berada di Bali. Di hari keempat ini aku dan teman-temanku memutuskan untuk bersantai di pantai sambil mencari cindera mata untuk dibawa pulang. Anthony nampak tidak tertarik, wajar saja karena Bali juga bisa dibilang rumah keduanya. Alex nampak sedang berburu cindera mata, tapi itu hanya pikiranku diawalnya. Ternyata penjual di kios cindera mata itu 2 orang gadis cantik, sontak pikiranku berubah bahwa ternyata Alex sedang berburu gadis.
Joni? Lupakan saja dia, karena masih terpikir tentang Ranti dan aku yakin ditengah lamunannya itu dia membayangkan dirinya bersama Ranti berdua dibuai asmara.
“Splash!” suara dari deru ombak menghantam pantai dan mengguyur kaki Joni yang telanjang. Kasihan kau Jon, batinku. Dia tidak tahu kalau Ranti sudah pernah bercinta denganku. Saat Joni masih berkutat dengan bayangan erotisnya bersama Ranti, aku sudah menidurinya berulang kali. Karena tadi pagi sebelum aku berangkat, aku sempatkan mampir ke kamarnya dan bercinta dengannya setidaknya 2 ronde.
Hummm, es kelapa muda ini rasanya sangat enak dipadu dengan panasnya mentari batinku dalam hati sambil mengaduk sedotan didalam kelapa muda ini. “Aduh!” teriakku ketika aku merasakan adanya benda asing yang menimpa kepalaku. Sialan, jangan-jangan ada kelapa jatuh pikirku namun bayangan itu lenyap ketika aku mendengar suara cekikikan dibelakangku. Suara gadis dan lebih dari satu orang.
Aku menoleh dan melihat dua orang gadis dengan pakaian pantai mendekatiku. “Maaf yah. Tadi gak sengaja. Adik ku tuh yang lempar-lempar ga lihat kalau ada orang.” gadis yang akhirnya kuketahui bernama Ayudya ini memungut bola pantainya. Dia melanjuti, “Sakit nggak?” lalu gadis yang satu ikut-ikutan meminta maaf. Aku hanya tersenyum sambil menggeleng. Sakit sih nggak tapi kagetnya itu, plus es kelapa mudaku tumpah semua.
Kami saling berkenalan, ternyata dua gadis ini bernama Ayudya dan Rea. Cukup cantik, kulit putih agak coklat, tinggi sekitar 165 an sentimeter dan rambut lurus panjang sebahu. Yang mengejutkan lagi ternyata mereka kembar. Aku baru sadar setelah kami ngobrol panjang lebar.
“Eh Di, kamu tau nggak dimana tempat beli pakaian renang? Kita lupa bawa pakaian renang sih jadi gak bisa ke swimming pool di hotel.” tanya Rea sambil memainkan bola pantainya. Lalu tiba-tiba aku teringat dengan toko pakaian (sport shop) yang ada didekat resort tempat aku menginap. Sial, kataku dalam hati. Itu terlalu jauh dari sini. Lalu seolah ada flash back, aku mengingat kalau tadi saat kami berempat makan pagi didekat tempat ini ada toko pakaian dan olah raga yang berjarak hanya selisih 2 atau 3 toko dari rumah makan yang kami kunjungi. Akhirnya kami bertiga mencari swimsuit di tempat itu dan dapat juga akhirnya.
Rea dan Ayu mengajakku pergi kehotel mereka untuk berenang. Aku lihat ketiga temanku sedang sibuk sendiri-sendiri, nampaknya tidak apa-apa jika aku memisahkan diri sebentar, toh ada banyak taksi yang bisa aku gunakan untuk pergi pulang ke resort.
Aku diundang memasuki kamar mereka berdua dan lumayan berantakan juga kamarnya. “Lho katanya sama orang tua, lah mana ortu kalian?” tanyaku sedikit selidik.
Ayudya yang dari tadi lebih banyak diam mulai bercerita kalau ayahnya ada kepentingan bisnis dan harus meninggalkan mereka berdua sendirian di hotel sementara ibu mereka mengikuti sang ayah pergi. Rea mulai membongkari barang belanjaannya tadi, cukup banyak dan diantaranya adalah swimming suit. “Eh Yu, kita coba yuk suitnya.” kata Rea merajuk ke kakaknya. “Ntar kamu yang nilai yach Di!” lanjutnya lagi.
Tak lama kemudian kedua gadis kembar ini keluar dari kamar mandi dan melenggang didepanku dengan menggunakan swimming suit. “Wah cantik sekali kalian. Ini benar-benar hari keberuntunganku bisa ketemu dengan dua cewek cantik…..dan seksi.” kataku sambil mencoba mengalihkan tatapan mataku yang terfokus pada belahan dada kedua gadis ini. Mereka berdua mempunyai tubuh yang seksi abis.
Nampaknya baik Ayu maupun Rea juga menyadari kearah mana pandangan mataku. Rea mendekat, “Hayo, liat apaan kok sapai nggak berkedip gichu?” rajuknya lagi. Belum juga aku menjawab, dia sudah menduduki pangkuanku dengan wajah menghadap kearah wajahku. “Heheheh….horny yah liat kita-kita? Gak apa-apa kok, normal.” Rea nampaknya begitu semangat mengerjaiku sementara Ayu hanya senyum-senyum dibelakangnya.
Aku merasakan batang kemaluanku sudah menegang. Rangsangan seperti ini benar-benar membuatku lupa diri. Segera kedua tanganku merangkul tubuh Rea sehingga sekarang tubuhnya menempel erat dengan tubuhku. Buah dadanya aku rasakan bersentuhan dengan dadaku. Kemudian aku mulai menciumi bibirnya dan herannya Rea menyambut kecupanku itu sehingga akhirnya kami berciuman dengan cukup panas.
Setelah puas berciuman Rea tersenyum padaku, “Dah ga tahan yah liat kita-kita?” katanya sambil menciumiku lagi. Kali ini kuberanikan untuk meremas buah dadanya yang terbalut swimsuit itu dan dia memberikan lampu hijau untuk tindakanku itu.
Akhirnya kami melepas satu per satu pakaian kami hingga aku dan Rea sudah telanjang bulat. Melihat Ayu yang tertegun melihat tingkah polah kami berdua itu aku menjadi berinisiatif. Aku tarik tangan Ayu dan membuat dia jatuh kepelukanku lalu kucium bibirnya dengan penuh nafsu sambil tanganku mencopoti pakaiannya. Awalnya dia berontak namun lama-lama akhirnya dia pasrah juga. Bahkan adiknya, Rea juga mendorongnya untuk mendekatiku. Lima menit kemudian aku dan Rea berakhir dengan mengerjai Ayu.
Aku duduk di pinggiran tempat tidur dan memangku Ayu yang menghadap kearahku, persis sama dengan yang kulakukan dengan Rea tadi. Tanganku meremas-remas payudaranya sementara mulutku berpagutan dengan mesra sembari lidah kami saling menyapu satu sama lain. Rea sibuk mestimulsi leher kakaknya dengan cara menciuminya bahkan klitoris Ayu-pun dia mainkan dengan jarinya yang lentik itu. Sampai akhirnya tangan Ayu yang bebas itu mulai memegang penisku dan mengocoknya dengan irama perlahan namun semakin lama semakin cepat.
“Ah, kalau begini terus ga bakalan tahan gue!” kataku pada mereka yang disusul dengan tawa kecil dari dua dara cantik ini. “Kita main aja langsung!” aku langsung memindahkan tubuh Ayu dari pangkuanku namun belum selesai aku memnidahkannya Rea langsung mendorongku ketempat tidur yang membuat aku kembali terduduk.
Rea lalu berjongkok dan mulai melakukan oral seks kepada penisku yang sudah full loaded itu. “Gede banget yah, punya cowokku paling cuman separuhnya lebih dikit.” selorohnya dengan genit lalu Rea memberi aba-aba kepada Ayu, kakaknya untuk bekerjasama mengerjai penisku ini dengan goyangan lidah dan permainan mulut mereka. “Kamu beruntung Di, kamu orang pertama yang ngerasain kita berdua sekaligus.” Rea menimpali dan aku amini mengingat aku juga belum pernah bercinta dengan dua perempuan kakak beradik bersamaan, apalagi kembar seperti ini.
Selesai dengan oral seks, kami kemudian mengambil tempat di tempat tidur. Ayu aku biarkan tidur terlentang sementara Rea aku atur supaya tengkurap diatas tubuh Ayu sementara aku dengan posisi doggy style mulai mengerjai vagina mereka berdua bergantian.
Pertama aku gesek-gesekkan penisku diliang senggama milik Rea, “Ayo dong masukin. Aku pengin tau rasanya dihajar sama kontol gede kayak punya kamu!” Rea nampak sudah tidak tahan dan kulihat vaginanya sudah cukup basah.
Segera aku lesakkan penisku sedikit demi sedikit kedalam vaginanya. Bibir vagina Rea mulai membelah membuka lebar menerima tusukan penisku. “Ahhhhh, achh, ahhhh…!” Rea mendesah sejadi-jadinya, aku sih tenang-tenang saja karena kamar ini kedap suara. “Achhh!” erangan Rea berakhir keras saat seluruh batang kejantananku masuk kedalam liang kewanitaannya. Lalu mulai kuberikan sodokan-sodokan ringan disertai beberapa kali goyangan.
Semakin lama aku semakin mempercepat sodokan penisku dan membuat seorang Rea menjadi kalang kabut. Dia mendesah sejadi-jadinya dan aku lihat dia cukup lupa diri hingga Rea berciuman dengan kakaknya, Ayu dengan sangat hot-nya. Kugenjot sejadi-jadinya dan semakin keras pula reaksi Rea menerima pompaan dari penisku itu.
Setiap kali penisku menusuk lebih dalam maka semakin erat pula jepitan vagina Rea. Luar biasa pikirku, seperti belum pernah main seks aja nih cewek. Hanya butuh waktu sepuluh menitan buat Rea untuk mencapai klimaksnya. Sementara aku masih belum apa-apa, lalu kucabut batang kemaluanku dan kelesakkan dengan cepat kearah vagina Ayu, kakak Rea.
“Arghhh!” mata Ayu terbelalak lebar taktala vaginanya menerima tusukan dari batang kejantananku itu. “Achh, pelan-pelan Di! Sakit nih, penis kamu kegedean sich.” Ayu mulai dapat menahan sakitnya tadi. Aku hanya tersenyum melihat tingkahnya lalu mulai kupompa vaginanya itu dengan perlahan namun pasti. Tak sampai lima menit, aku lalu mempercepat kocokanku pada liang senggama Ayu hingga dia semakin menegangkan tubuhnya dan merangkul tubuh Rea yang telungkup diatas tubuhnya.
“Arghhh, Di aku keluarrrr…..” Ayu tak dapat menahannya lagi dan kurasakan cairan hangat membanjiri liang senggamanya.
“Hmm, memiaw kalian benar-benar hebat! Gua jadi ikutan keluar nich.” Aku mulai mempercepat pompaanku dan dua menit kemudian aku hunjamkan batang kejantananku itu sedalam-dalamnya di vagina milik Ayu disertai erangan keras aku mencapai klimaks pertamaku dirahim dara cantik ini. Semburan sperma membanjiri liang kemaluan Ayudya. Ayu hanya tersenyum lemah ketika dia merasakan cairan hangat mulai merembesi liang kemaluannya dan mengalir keluar kebibir vaginanya.
Nampaknya rangsangan dari kedua dara ini tidak berhenti disini. Kemaluanku langsung berdiri tegak setelah istirahat satu atau dua menitan. Aku kembali menyodok vagina Ayu yang belum kering dari sperma dan cairan kemaluannya itu. Ayu kaget namun hanya pasrah menerima begitu saja sodokan-sodokan penisku yang semakin lama semakin ganas saja. Hanya butuh waktu limabelas menitan sebelum Ayudya mencapai orgasme keduanya. Namun parahnya aku belum merasakan akan mencapai klimaks. Tapi aku melihat tubuh Rea yang seksi ini menggeliat-geliat. “Kamu dah pulih dari capek yah sayang?” kataku pada Rea. Belum sempat Rea menjawab dia sudah mengeluarkan desahan dan lenguhan-lenguhan sensual. Batang kemaluanku sudah kujejalkan kedalam liang kemaluan milik Rea dan kugoyangkan secepat-cepatnya dan jujur saja sedikit brutal.
Beda dengan kakaknya, nampaknya Rea cukup menyukai permainan brutalku ini. Bahkan beberapa kali dia meneriakkan nama pacarnya yang kalau tak salah bernama Wisnu dan meneriakinya dengan umpatan, “Wisnu, fish you…..lo gak pernah muasin gue kayak gini. Coba kontol lo lebih gede dikit!” umpat Rea tak karuan sambil mendesah-desah, ”fish me more, yes! Oh! Yes! Damn, yes! fish me deeperrrr…!” Rea semakin tidak bisa menahan dirinya dan hanya butuh waktu sebentar untuk dia mencapai klimaksnya yang kedua. Untungnya saat itu aku juga sudah mau ejakulasi. Sesaat setelah Rea selesai dengan orgasmenya yang ditandai dengan otot-otot vaginanya mulai merenggang dan tidak tegang seperti saat mencapai klimaks, aku menusukkan dalam-dalam penisku sambil meremas buah dada Ayu dan Rea, penisku memuntahkan cairan sperma putih kental yang cukup banyak didalam vagina Rea sehingga saat itu kedua rongga kemaluan Rea maupun Ayu sudah dipenuhi dengan spermaku dan mengalir keluar sedikit demi sedikit. (Aku memotret adegan mereka dan dimana vagina kedua gadis ini meneteskan spermaku, untungnya aku bawa digital camera)
Setelah istirahat sejenak kami bertiga sepakat untuk berenang bersama di kolam renang hotel. Selesai renang, saat aku pamit pulang, Rea mencegatku dan memelorotkan celanaku tepat sebelum aku membuka pintu kamar hotel mereka untuk keluar. Bersama dengan Ayu, mereka melakukan oral seks kepadaku. Dimana aku berdiri dengan perasaan campur aduk melihat penisku bergantian dilahap dan disedot oleh mulut-mulut mungil kedua dara ini, kedua dara kembar. Karena dasarnya sudah horny hanya sepuluh menit aku bertahan dan cairan air manipun memancar dari ujung penisku kedalam mulut kedua gadis ini.
“Ini bayaran karena telah bikin kami puas. Lain kali kalau ada waktu telepon atau sms yah!” Rea tersenyum sembari membersihkan spermaku dengan tissue.
Ayu yang dari tadi hanya diam mulai bicara, “Kamu cowok kedua yang pernah ngent*tin aku selain tunanganku. Tapi cowok pertama yang pernah ngentotin kami berdua bareng-bareng. Hahahahaha….!” tawa renyah Ayu menghiasi ruangan kamar hotel itu. “Sebagai kenang-kenangan nih fotoin waktu kita bercinta!” Ayu menambahi. Dan kemudian aku, Ayu dan Rea bergantian berfoto berpasangan, bergaya seperti saat kami sedang melakukan adegan seks. Ini benar-benar fotoku yang sangat berharga. Lebih dari itu, ini pengalamanku yang sangat berharga.



BERSAMBUNG....


Mohon maaf masta, terpaksa Nubie harus sambung lagi lain waktu... ;)
Mohon para masta bersabar, dan mohon dukungannya agar dapat selalu menghibur masta masta di forum semprot tercinta ini.
Nubitol untuk sementara undur diri...
:ampun: :ampun: :ampun:


#NB: tidak menerima commentar yg sok paling ok ente punya Thread.
jika tidak senang dengan Thread ane,silahkan capcus ke toko sebelah
hanya menerima comment yg bermutu,kasih thanks atau kirim
ijo - ijo
Chapter 6​

Jam menunjukkan pukul 9 malam kurang 15 menit ketika aku turun dari taksi selesainya dari bermain cinta dengan Rea dan Ayu. Aku menuju ke pondok di ressort tempat aku menginap. Nampaknya teman-temanku tidak ada di pondok. Beberapa menit kemudian ada sms masuk, ternyata dari Alex yang mengatakan kalau mereka lagi dugem di diskotik. Sialan, pikirku. Ternyata mereka malah senang-senang sendiri tanpa menungguku. Untungnya kunci pondok ditinggal di resepsionis.
Selama kurang lebih 20 menitan aku bengong di pondok seorang diri. Maklum, disini tidak ada televisi mengingat di bagian pondok ini diutamakan unsur tradisionalnya. Baru sebentar aku membaca-baca brosur wisata (karena tidak ada yang bisa dibaca), pintu pondok diketuk seseorang. Aku membukanya dan betapa terkejutnya aku ternyata yang datang adalah tetangga sebelah pondok. 3 orang mahasiswi dari Jakarta.
Ketiga gadis ini seperti yang sudah aku ceritakan sebelumnya bernama Antin yang berbody aduhai namun wajahnya tidak terlalu cantik tapi lumayanlah. Lalu Riesty yang anak Jakarta dan tinggi, wajahnya cantik berkulit kuning langsat. Sementara yang terakhir Andina yang bertubuh agak kecil namun imut ditambah dengan kulit putih dan rambut lurus pendeknya membuat dia kelihatan imut.
“Hai! Boleh masuk?” sapa Andina padaku yang masih bengong. Bengong terhadap kedatangan mereka dan juga bengong dengan pakaian mereka saat itu. Antin dan Riesty hanya pakai daster one piece dengan atasan bertali tanpa lengan dan berbelahan dada sangat lebar hingga dengan sedikit berjinjit saja aku jamin sudah dapat melihat kemontokan payudara mereka. Sementara Andina memakai baby doll satu setel.
Walau gugup aku mulai menguasai keadaan, “Boleh, boleh banget. Silakan!” aku mempersilakan mereka duduk. Ternyata mereka kesepian karena tidak ada televisi (sama persis dengan diriku, aku heran kenapa pihak pengelola ressort tidak mau memberikan televisi di bagian pondok wisata).
Sesaat kami bercakap-cakap mulai dari urusan wisata dan hal-hal yang berbau cindera mata plus harganya sampai dengan politik dan kuliah, diakhiri dengan percakapan mengenai kehidupan pribadi yang ujung-ujungnya yah bicara tentang seks. Mulai dari seks bebas dan gaya-gaya bermainnya. Dilihat dari cara mereka bertiga berbicara nampaknya sudah cukup ahli, setidaknya buat Riesty dan Andina.
Habis bahan pembicaraan. Aku sendiri bingung mau ngapain, akhirnya aku sadar kalau mereka belum aku tawari minum sama sekali. Aku buka kulkas (kulkas dan air hangat? Aku jadi bingung dengan pengelola ressortnya, mau dibuat kesan naturalist atau modernist sich? Atau separuh-separuh?).
“Maaf, adanya cuman ini. Kalau kalian mau, sorry yah!” aku cengengesan menghidangkan beberapa kaleng bir kepada mereka. Mau gimana lagi, tadi pagi yang tugas beli minuman ringan buat persediaan malam adalah si Joni. Sementara dia lagi stres-stressnya mikirin Ranti yang tak membalas cintanya itu sehingga milih minuman ngawur dapatnya bir semua.
Riesty dengan santai mulai membuka kaleng bir-nya dan mengatakan bahwa dia sudah sering minum bir saat di Jakarta, menurutnya itu adalah salah satu bentuk pemberontakan terhadap ortu (orang tua) nya yang selalu sibuk dengan bisnis mereka. Antin dan Andina masih malu-malu untuk minum tapi dengan dorongan dari Riesty maka rasa malu mereka sirna juga.
Antin permisi sebentar untuk mengambil sesuatu dari pondok mereka dan selang beberapa menit dia sudah balik lagi dengan membawa beberapa barang. “Apaan tuh?” tanyaku padanya.
“Pernah main Truth and Dare kaga? Coba deh pasti ketagihan!” Antin terkekeh dan mulai menjelaskan aturan dari permainan itu. Permainan ini mirip dengan permainan kartu biasa hanya dengan sedikit taruhan aneh. Hmmm, mirip dengan permainan kartu waktu bersama dengan Sammy pikirku. Jika ada yang kalah maka sang pemenang di ronde tersebut berhak memilihkan hukuman sesuka hati berdasarkan dengan kartu Truth and Dare yang akan keluar (diambil oleh yang kalah). Jika Truth yang keluar maka yang kalah harus menceritakan dengan jujur semuanya tentang apa yang ditanyakan oleh pemenang. Sementara jika Dare yang keluar maka si pemenang boleh menyuruh yang kalah untuk melakukan apapun yang diinginkannya.
Selama 4 putaran entah karena hoki atau apa yang jelas aku selalu menjadi pemenang. Sialnya, aku selalu mendapatkan kartu Truth selama 4x. Bosan dengan pertanyaan yang biasa-biasa saja maka aku menanyakan sesuatu yang sangat pribadi, yaitu apakah gadis-gadis itu pernah melakukan hubungan seks dengan pria dan jawabannya sungguh mengejutkan, mereka semua kecuali Andina sudah tidak perawan lagi. Antin sudah bercinta dengan 2 orang (satu pacar satu lagi sohib karibnya) sedangkan Riesty sudah bercinta dengan 4 orang yang semuanya pacarnya.
Sampai putaran kesebelas akhirnya aku berhasil menang lagi dan mendapatkan kartu Dare. Kali ini sasaranku adalah Antin. “Wah! Aku kalah nih. Jangan minta yang susah-susah yah!” pintanya sambil terkekeh.
Aku hanya tersenyum, “Nggak susah kok, kamu hanya aku suruh menggodaku sampai aku horny. Gampang khan?” aku kembali tergelak melihat reaksinya yang terkejut. Tapi tak sampai selang sepuluh detik giliran diriku yang dikejutkan olehnya. Tanpa malu malu dia melepaskan dasternya dan hanya tinggal menggunakan celana dalam. Sesuai dugaanku, mereka semua tidak ada yang menggunakan bra saat ini.
Tidak puas dengan itu saja, Antin lalu mendekatiku dan melakukan goyangan-goyangan erotis meskipun masih kaku tapi benar-benar merangsang libido untuk keluar. Celana pendekkupun di pelorotkan olehnya dan segera terlihat batang kejantananku yang sudah mulai menegang. “Tuh sudah horny, gampang khan.” Antin kembali tertawa renyah.
Riesty mendekatiku saat Antin akan mengembalikan celanaku diposisi semula dan mencegahnya. “Gede juga punya lu Di, ih rasanya gimana tuh?” nada bicara Riesty membuat Andine yang tadi sedikit risih menjadi mendekatiku dan ikut-ikutan melihat penisku.
“Ini bukan tontonan oi, kalo mau coba ayo. Ada yang tertarik?” aku bergurau sambil iseng-iseng meremas payudara Riesty yang berbalut daster itu. Nampaknya Riesty menanggapi remasan itu dan membalasnya dengan meremas lembut penisku yang menegang. “Wah! Tanggung jawab nih, dah horny berarti ga bisa tidur lagi sebelum ditidurin.” aku kembali bergurau.
Antin membuka celana dalamnya dan segera terlihat vaginanya yang mulus tercukur bersih. “Aku cobain yah?” Antin tersenyum padaku dan menyuruhku berbaring terlentang sementara dia dengan posisi diatas mengangkangi penisku yang didirikan vertikal olehnya. Dan blesshhh……tak butuh waktu lama sebelum penisku itu menyeruak liang kemaluan Antin.
“Achhh…nikmat Di. Penuh rasanya.” Antin meracau dan diikuti oleh tingkah Riesty yang melucuti seluruh pakaiannya dan mencubuku dengan ciuman-ciuman mautnya, “Setelah Antin, giliran gue yah?” pintanya sambil menciumi dadaku. Aku hanya bisa mengikuti kemauan mereka sementara goyangan Antin semakin lama semakin luar biasa membelai penisku didalam vaginanya.
Sementara aku sibuk membalas ciuman Riesty dan meremasi payudaranya dan Antin, Andina nampak serba rikuh tapi Antin hanya tersenyum, “Ntar kalau kamu mau bisa juga kok Na. Toh perawan atau nggak juga dah bukan masalah sekarang ini.”
Sekitar limabelasan menit vagina Antin menunggangi penisku Riesty mulai melucuti seluruh pakaiannya dan telanjang bulat di hadapanku. Sementara itu tak selang lama kemudian Antin mendesah keras sambil kedua tangannya mencengkeram pundakku. “Di, aku klimaks nih.” Antin meracau tak karuan sembari meningkatkan irama goyangannya dan tiba-tiba dihentikan sambil menguatkan jepitan dinding vaginanya terhadap penisku. Aku merasakan adanya cairan hangat membasahi penisku, nampaknya Antin sudah mencapai orgasme pertamanya. Sembari menelungkup diatas tubuhku dia berkata lirih, “Selama ini baru sekarang ini gue ngerasain yang namanya orgasme. Makasih ya say.” dia membelai rambutku dengan lembut dan mengecup bibirku pelan.
“Kalau udah, gantian dong Tin.” Riesty nampak tak sabaran. Antin hanya tersenyum dan beralih dari atas tubuhku. Riesty tanpa pikir panjang lagi langsung mengambil posisi mengangkangi kemaluanku yang masih berdiri tegak tersebut dan mengarahkan ke permukaan bibir vaginanya. Berbeda dengan Antin yang tercukur bersih, Riesty nampaknya lebih suka dengan bulu kemaluan tipis namun rapi. Dia mencukur tapi tidak semuanya, membuatnya menjadi nampak seksi saja di mataku.
“Ah, gede banget sich? Awww.” Riesty setengah menjerit ketika menurunkan pahanya sehingga membuat batang kejantananku amblas semuanya tertelan oleh liang kemaluannya yang kecil itu. Terlalu kecil pikirku, karena bagi orang yang sudah berpengalaman melakukan hubungan badan seperti Riesty seharusnya liang vaginanya lebih longgar. Diluar dugaanku benar.
“Sekarang aku goyang agak cepetan yah say.” aku berkata sambil meremas-remas payudaranya yang besar tersebut. Buah dada Riesty putih dan berujung coklat muda benar-benar membuatku terangsang hebat. Kami berciuman sangat dasyat sambil pinggul Riesty menghentak-hentakkan batang penisku yang sekarang berada dalam vaginanya. Sesekali aku melepaskan remasan tanganku dari payudaranya dan mengalihkan tanganku menyusupi pakaian milik Andina. Diluar dugaan, Andina sama sekali tidak melawan bahkan seperti acuh saja terhadap perbuatanku. Dia nampak tersentak saat tangan kananku yang menjelajahi pakaiannya berhasil menemukan buah dadanya yang mulus itu, namun sudah terlambat. Dengan pilinan-pilinan jemariku di putting payudaranya membuat Andina pasrah menerima rangsangan tanganku tersebut.
Hanya sepuluh menit setelah aku dan Riesty mulai bermain, nampaknya gadis ini sudah merasakan akan mencapai orgasmenya. Dan benar saja, tak butuh waktu lama kemudian dia merangkulku erat-erat dan otot-otot vaginanya mengencang beberapa detik kemudian mengendur lagi disertai lelehan cairan hangat. Kali ini aku tak mau rugi, segera aku balikkan tubuh Riesty dan aku buat dia dengan posisi miring kekiri. Lalu kuhunjamkan lagi penisku kedalam vaginanya yang sudah becek oleh cairan kewanitaannya itu sembari kupompa dengan liar. Sesekali dia mendesah dan mengaduh namun tak kupedulikan karena aku sudah kepalang tanggung. Sekitar lima menit aku merasakan akan segera mencapai puncak orgasmeku. Segera aku benamkan dalam-dalam batang kemaluanku ini kedalam liang senggama milik Riesty dan dengan satu sodokan keras muntahlah cairan spermaku yang cukup banyak yang bahkan diantaranya meluber keluar. “Di! Ntar kalo gue hamil gimana? Kok lo keluarin didalam sih?” Riesty sedikit marah namun karena setelah mencapai puncak kenikmatan bersamaku dia menjadi lemas dan tak berdaya apa-apa untuk marah-marah.
Aku berpaling kepada Andina. Antin menyergah, “Di, kalau dia kagak mau jangan dipaksa. Kasihan.” katanya padaku. Namun nampaknya setelah ciumanku mendarat dibibirnya dan kedua tanganku berhasil menelanjangi tubuh mungil ini, akhirnya Andina pun menjadi tak berdaya, pasrah menerima takdirnya yang sebentar lagi akan aku perawani.
“Aku takut Di.” Andina nampak memelas dengan mukanya yang melankolis itu. Namun aku tersenyum dan meyakinkannya bahwa ini tidak sesakit yang dia bayangkan. Ciuman aku daratkan keseluruh tubuhnya mulai dari mulut, leher, turun ke buah dadanya yang berputing warna pink kecoklatan itu (maklum dia keturunan etnis Cina) lalu berakhir dengan jilatan-jilatanku di klitorisnya. Bulu kemaluannya sangat tipis meskipun tidak pernah dicukur. Vaginanya berwarna merah muda dan sangat kecil. “Aku bakalan sangat susah masukinnya nih.” pikirku sesaat.
Setelah selesai foreplay, nampaknya bibir vaginanya sudah berlumuran cairan kewanitaan yang menandakan Andina sudah terangsang berat. Aku gesekkan penisku yang masih berlumur sedikit sperma dan cairan vagina milik Riesty kepermukaan vaginanya. Andina mendesah pelan lalu matanya memejam sembari kedua tangannya mencengkeram erat pinggangku saat dalam posisi terlentang dan kutindih, aku mulai memasukkan penisku kedalam liang senggamanya yang ternyata sangatlah sempit, mungkin liang memiaw yang paling sempit yang pernah aku rasakan selama ini (saat masih perawan tentu saja).
Jeritan kecil dan disertai dengan erangan mewarnai event saat batang penisku mendesak masuk sedikit demi sedikit menerobos labia minora miliknya yang akhirnya merobekkan jaringan hymen (selaput dara) didalam vagina miliknya. Darah segar keperawanannya mengalir sedikit demi sedikit melewati celah yang terbentuk antara penisku dengan dinding dalam vaginanya dan mengalir keluar melewati labia mayora. Setelah berpeluh dan berusaha keras akhirnya setelah sekitar 5 menit (rekor penetrasiku yang paling lama sampai sekarang), aku berhasil memasukkan seluruh batang kemaluanku kedalam vaginanya disertai dengan bunyi aneh. (Kalau tidak salah berbunyi “Jlebbb!”)
“Akhhh…..” Andina merintih keras taktala penisku memompa vaginanya dengan pelan namun dalam. Selang sepuluh menit dengan gaya yang sama aku lalu mempercepat goyanganku menjadi sedikit liar.
Sambil memeluk gadis mungil ini, aku mengangkat kedua tungkai kakinya sehingga penetrasiku lebih dalam dari yang tadi dan sekali lagi dia menjerit pelan. “Wah, pasti sakit yah Na diperawanin sama kontol segede itu?” Antin mendekat dan membelai rambut Andina yang basah karena keringat juga air mata saat dia menangis menahan sakit tadi. Dua puluh menitan aku melakukan deep penetration kedalam vagina Andina dan aku merasakan bahwa akan segera mencapai klimaks. Dengan beberapa sodokan keras akhirnya aku mencapai orgasmeku yang kedua. Kali ini aku cabut penisku dan berejakulasi diatas perutnya. Aku tidak mau nanti kena damprat Riesty yang nampaknya sangat peduli dengan hamil tidaknya seseorang setelah ngeseks. Lalu aku rubuh disamping Andina yang masih terpana dengan kejadian barusan. Nampaknya dia masih setangah tidak percaya bahwa dirinya telah disetubuhi olehku dan baru saja adalah cairan air maniku yang menyemprot membasahi perut dan buah dadanya yang putih itu.
Sekitar setengah jam kemudian kami sudah berpakaian rapi lagi dan membereskan sisa kekacauan yang kami buat saat bersetubuh ria tadi. Ketiga gadis itu lalu mohon diri untuk kembali ke pondok sementara aku daripada bengong lebih suka mengantar mereka sampai di pondok mereka. Setelah sampai depan pondok, aku merasakan kalau sudah tidak ada orang didekat kami lalu aku memeluk erat Antin dan mencumbunya dari belakang. Antin sempat menolak dan mencoba melepaskan diri dari rangkulanku namun akhirnya menyerah juga sementara kedua temannya sudah masuk pondok. Kali ini Antin aku senggamai dengan posisi setengah berdiri dengan badannya aku condongkan kedepan sehingga kedua tangannya bersandar pada dinding teras pondok sementara kedua kakinya aku buat mengangkang lebar dan melewati daster juga celana dalamnya, batang penisku dapat leluasa menjarah vagina gadis muda ini. Kali ini cukup singkat karena aku takut ketahuan orang lain. Sekitar sepuluh menitan akhirnya aku semprotkan spermaku kedalam liang kewanitaan gadis cantik ini. Lalu dengan cueknya aku langsung mencabutnya dan berlenggang pergi meninggalkan Antin yang masih terduduk lemas setelah aku kerjain dengan sodokan-sodokan yang cukup keras.
Saat aku masuk kedalam pondok ternyata ketiga temanku ini sudah berada didalam.Alex sempat marah-marah karena aku tidak mengunci pintu saat keluar tapi aku mengatakan bahwa aku hanya sebentar mencari udara segar diluar dan diapun langsung diam. Anthony bercerita dengan sangat antusias bahwa dia dan Alex baru saja berkenalan dengan dua cewek cantik asal Toraja yang sedang berlibur dan besok mereka akan surfing dipantai. Mereka tidak tahu kalau aku bukan hanya berkenalan tapi juga sudah bercinta dengan tiga gadis malam ini dan dua gadis tadi siang, total 5 gadis sudah aku tiduri plus mendapat satu perawan, Andina. Tapi untuk membuat agar temanku tidak kecewa aku tidak berkata apa-apa tentang ketiga gadis ini.
Aku berseru pada Anthony dan Alex sembari tiduran, “Emang loe berdua bisa surfing apa?” dan mereka berdua hanya bengong. Alex berkata dengan pede nya, “Gua khan bisa maen skateboard and snakeboard, surfing mah cemen bro.” dan Anthony pun mengiyakannya. Dasar bodoh, pikirku. Tenggelam baru tau rasa kalian. Sesaat aku melirik Joni yang masih terpaut pikirannya dengan Ranti.



BERSAMBUNG....


Mohon maaf masta, terpaksa Nubie harus sambung lagi lain waktu... ;)
Mohon para masta bersabar, dan mohon dukungannya agar dapat selalu menghibur masta masta di forum semprot tercinta ini.
Nubitol untuk sementara undur diri...
:ampun: :ampun: :ampun:


#NB: tidak menerima commentar yg sok paling ok ente punya Thread.
jika tidak senang dengan Thread ane,silahkan capcus ke toko sebelah
hanya menerima comment yg bermutu,kasih thanks atau kirim
ijo - ijo
 

velkrasnyyvet

Dreamer
UG-FR+
Thread Starter
Daftar
1 Feb 2011
Post
1.918
Like diterima
1.090
Lokasi
Outside The Box
Lanjutan...

Chapter 7​

Masih ingat dengan dosenku Virna bukan? Kali ini sekitar dua atau tiga hari setelah aku kembali dari Bali kami kembali bertemu. Kali ini diruang dosen. Aku kebetulan mengajukan topik untuk praktek kuliah lapangan (PKL) dan Virna lah yang menjadi dosen pengampu jenis topik tersebut. Gadis cantik itu tersenyum ketika bertemu denganku.
Dosen cantik itu duduk bersandar diatas meja dan menghadap kepadaku yang sedang duduk. “Hmmm, emangnya kamu sudah siap buat ikutan mata kuliah akhir ini?” tanya dosen cantik ini sambil tersenyum kepadaku. Pakaiannya sangatlah modis untuk ukuran dosen. Trendy tapi tetap formal, ditunjang dengan pernak-pernik asesories yang ada di pakaiannya benar-benar membuat dosen ini nampak muda dan bergairah.

“Saya sudah siap bu, …eh mbak.” jawabku gugup, sempat aku lupa kalau dosen ini tidak suka kupanggil bu. Virna hanya tersenyum dan mengambil stopmap warna biru dimejanya dengan posisi tubuh masih bersandar setengah duduk di meja kerjanya. Kontan saja aku melihat celana dalam dosen ini karena pas menghadap kearah mataku. Nampaknya Virna tetap cuek saja dan mulai menjelaskan topik apa saja yang akan dibuka nanti di mata kuliah ini dan kalau aku tidak salah dengar, dia menawarkan praktek kerja magang selama 2-3 bulan disebuah perusahaan otomotif yang sangat terkenal.

“…..aku bisa merekomendasikanmu disana soalnya aku punya banyak kenalan. Lagipula om ku ada dua orang yang kerja disana dan sudah punya jabatan penting. Kamu nggak perlu ikut tes kelayakan segala macam.” Virna lalu memandangku sambil tersenyum lagi, “Di! Kamu dengar kata-kata mbak tadi? Kamu lagi liatin apaan sich?” dia penuh selidik lalu sadar juga karena konsentrasiku buyar gara-gara paha putih mulusnya plus celana dalamnya yang terpampang jelas di depan mukaku.

Virna tersenyum melihatku gugup. Lalu dia beranjak dari duduknya dan pergi melewatiku menuju kepintu kantornya dan selang beberapa detik aku mendengar suara pintu terkunci. Virna kembali mendekatiku dari belakang dan kali ini dia cukup dekat dengan berbisik, “Kalau kamu ingin khan bisa ngomong. Nggak perlu jaim gitu.” gelak tawa Virna lalu memenuhi ruangan.
Gadis cantik ini lalu mendaratkan ciuman kebibirku dan kamipun berpagutan dengan sangat mesranya. Tanganku mulai membuka satu demi satu kancing blazernya dan baju yang dia pakai sampai melepas ikatan belakang bra nya. “Wow, sudah mahir yah kamu. Sudah dapat berapa teman kencan nih?” guraunya sambil memelorotkan celana panjangku yang sudah dia buka resletingnya dari tadi. Celana dalamkupun tak luput dari jarahan tangan lentiknya dan langsung merosot kebawah yang membuat senjata keramatku yang sudah on fire itu terlihat sangat jelas.

Penisku menegang cukup keras dan menandakan siap tempur. Sementara Virna mencopot sendiri celana dalamnya walaupun masih menggunakan rok span. Stoking yang dia pakaipun terlepas sudah beserta dengan celana dalam warna merah darah itu. “Wow, mbak pakaian dalamnya satu stel merah darah semua, lagi horny yah mbak?” aku balas menyindir Virna namun dia hanya tersenyum sambil mengedipkan matanya menggodaku lalu berakhir dengan kecupan-kecupan mesra dibibir kami berdua.
Kali ini kubuat Virna menghadap kearahku dan setengah duduk pada pinggiran meja kerjanya sementara aku melakukan penetrasi penisku ke bibir vagina miliknya. “Akh, penismu tambah gede aja atau cuman perasaanku aja sih?” Virna menggelinjang keenakan saat batang kejantananku menyeruak masuk kedalam liang vaginanya. Setelah semuanya masuk kedalam, aku segera melakukan sodokan-sodokan khas orang bersenggama. Bunyi-bunyian baik yang keluar dari desahan mulut kami maupun dari gesekan dan benturan antara dua alat kelamin kami berdua mewarnai suasana siang ini.
Selang sepuluh menit, aku lalu membopong tubuh molek dosen cantik ini sembari melakukan penetrasi-penetrasi. Berat memang tapi kenikmatannya luar biasa tak terbayangkan. Nampaknya aku benar-benar sudah diambang nafsuku, karena lima menit kemudian aku mencapai puncak orgasmeku. Cairan sperma menyemprot dinding-dinding vagina milik dosen muda yang cantik ini. Akhirnya lunglai juga diriku ini, entah mengapa baru sebentar aku sudah mencapai klimaks.

“Oh, nampaknya kamu sudah nahan dari tadi yah?” Virna meringis tersenyum menggodaku. “Nanti malam kamu datang kerumah ya! Kamu masih punya hutang sama mbak, soalnya mbak belum puas saat ini.” Virna lalu merapikan diri dan sempat mengancamku kalau aku tidak kerumahnya malam ini maka PKL bakalan batal. Tentu saja semua hanyalah gurauannya tapi aku toh senang-senang saja diundang kerumah dara cantik ini.

Jam tanganku sudah menunjukkan pukul setengah tiga sore. Saat ini aku menunggui seorang teman dari perpustakaan universitas. Dia berkata padaku bahwa dia mempunyai buku referensi untuk menulis skripsi yang akan kuambil semester depan. Sudah setengah jam lebih aku menunggunya namun bocah itu tidak nongol-nongol juga. Aku menunggunya disebuah lorong yang juga berfungsi buat nongkrong (walaupun jarang sekali ada yang nongkrong di lorong ini) dilantai 3 perpustakaan universitasku. Jam segini sudah jarang mahasiswa kelantai ini, tumben pikirku, karena biasanya tempat ini mulai sepi setelah jam 5an keatas.

Aku kaget ketika aku merasa melihat seseorang yang kukenal pergi melwati lorong dan menuju kearah toilet. Setelah aku pandang dengan benar, ternyata orang itu adalah Veti, kekasih temanku. Aku segera menyusulnya dan berhasil menghalaunya ketika dia hampir masuk toilet cewek.
“Vet! Tunggu aku!” aku lalu mendekatinya, sedangkan dia hanya terbengong melihatku.
“Mau apa sih kamu? Mending jangan deketin aku deh, soalnya aku nggak mau nanti Reza tahu tentang kita.” Veti mulai menjauh dan masuk ke toilet. Aku menyusulnya dan mendekapnya dari belakang sambil mencumbu lehernya dengan buas.
“Apa-apaan sih kamu Di? Kalau kamu kurang ajar lagi aku bakalan teriak nih.” Veri mulai mengancamku dengan nada tinggi. Dia berusaha lepaskan diri namun tak kuasa melawan kekuatanku yang mendekapnya terus.

Aku hanya tersenyum menyeringai, “Kamu kalau mau teriak, ya teriak aja Vet. Biar semua orang tahu tentang hubungan kita. Aku pengin tahu ntar apa si Reza masih mau sama kamu atau kagak.” Kali ini ucapanku berhasil membungkamnya untuk diam tak melawan. Bahkan dia tetap tak melawan saat dia kusandarkan di wastafel sementara dari belakang aku melucuti celana dalamnya dan membuka kancing bra sehingga aku dapat dengan nyaman dan mudah meremas-remas payudara gadis cantik ini yang montok.

Veti nampaknya tidak dapat membendung nafsunya juga namun dia mati-matian menahan untuk mempertahankan harga dirinya tersebut. Batang penisku yang tadi sudah mendapatkan servis dari liang vagina milik dosen cantik Virna kali ini akan mendapatkan liang vagina baru lagi milik Veti. Batang kemaluanku akhirnya kuarahkan kearah bibir luar vagina Veti dan dalam hitungan detik separuh batang kejantananku amblas kedalam liang kemaluan kekasih temanku ini. “Akh! Sakit!” gadis ini mengaduh namun tak kupedulikan. Aku melakukan sodokan-sodokan kecil sampai akhirnya seluruh batang kejantananku dapat masuk secara total kedalam liang memiaw gadis cantik ini.
Herannya walaupun sudah tidak perawan namun vaginanya masih mengeluarkan darah walaupun tak banyak. Penisku lalu mulai melakukan aksinya. Pompaan demi pompaan aku lakukan kearah dalam liang senggama Veti yang sudah mulai basah kuyup oleh cairan penisku dan cairan dari vaginanya sendiri. Terangsang juga dia, pikirku.

Ketika kami sedang mengayuh kenikmatan berdua, tiba-tiba pintu toilet terbuka dan muncullah seorang gadis berkepang dan berkaca mata. Dia kaget bukan kepalang ketika melihat kami bercinta di depan wastafel. Aku memberikan kode kepadanya untuk diam dan sepertinya dia menurut entah karena takut atau apa aku juga tidak tahu pasti.

Sembari memberikan rangsangan dengan meremas-remas buah dada milik Veti, aku mempercepat pompaanku yang akhirnya selang beberapa menit kemudian aku mencapai klimaksku bersama gadis cantik ini. Semburan sperma membasahi bibir vaginanya karena sempat aku cabut saat akan berejakulasi walaupun sedikit terlambat. Tetesan cairan putih kental itu sebagian besar akhirnya jatuh kelantai toilet. Isakan tangis Veti yang sesenggukan itu akhirnya terdengar juga setelah bunyi desahanku lenyap. Aku berkata padanya bahwa selama dia mau melayaniku dengan baik maka rahasia ini aman diantara kami berdua. Lalu aku merapikan pakaianku dan keluar dari toilet. Walaupun begitu aku masih bingung mengenai gadis berkaca mata yang masuk ke toilet saat aku dan Veti sedang bersetubuh tadi. Ah sudahlah, pikirku. Toh nanti juga tidak bakalan ingat siapa aku karena penghuni kampus ada banyak. Aku masih berkeyakinan kuat walaupun nantinya aku sadar kalau pemikiranku itu salah besar dan kesalahan ini akan mengarahkanku kesesuatu yang lebih besar lagi.
Malamnya aku pergi kerumah sang dosen, Virna. Disana dosen cantik itu sudah mempersiapkan segalanya mulai dari candle light dinner sampai dengan musik lembut. Karena hanya ada kami berdua saja dirumah tersebut maka setelah dinner selesai dilanjutkan dengan persenggamaan kami yang belum tuntas tadi di kantor Virna.

Berbagai gaya aku praktekkan dan entah sudah berapa kali aku maupun Virna mencapai kepuasan dalam bercinta malam itu. Yang aku ingat keadaan ruang makan, dapur dan kamar tidur menjadi acak-acakan karena ulah kami berdua yang bercinta disemua tempat mulai dari meja makan, lalu meja dapur dengan doggy style, kamar mandi sampai dengan tempat tidur. Saat jam dinding menunjukkan pukul 11 malam seluruh aktifitas seks kami baru berhenti. Jadi kurang lebih 3 jam kami bergumul.
Gara-gara aktifitas malam itu pula paginya aku kesiangan masuk kuliah begitu juga dengan Virna. Uniknya, kelas yang tidak aku ikuti (bolos) adalah kelas yang diampu oleh Virna sebagai dosen. Jadi pagi itu didalam kelas itu baik dosen maupun mahasiswanya tidak masuk kuliah karena kecapekan akibat bercinta terlalu banyak.

Beberapa hari berikutnya, tepatnya hari Jumat. Sekitar jam 8 malam, aku pergi ketempat kekasihku (ke kost miliknya). Saat itu semua teman kostnya keluar karena Jumat sore mereka semua pulang karena rumah mereka dekat dengan kota tempat mereka kuliah dan kembali Minggu sorenya. Kali itu ada satu orang yang tertinggal karena dia sedang sibuk mengerjakan skripsi, namanya Lola anak fakultas bahasa dan sastra. Dia tampangnya sih biasa-biasa (kalau Ani pacarku kuberi nilai 7 maka Lola ini cukup 5,5 lah). Hanya saja penampilan dan gayanya yang cukup mendukung ditambah dengan postur tubuhnya yang aduhai dengan kulit kuning langsatnya. Sayang satu hal, dia sudah punya pacar dan sama sekali tidak tertarik padaku

Karena kekasihku sedang mandi maka aku sengaja main kekamar Lola lebih dulu seperti biasa kalau aku datang dan Ani sedang pergi. Kami cukup akrab dan sering bertukar pengalaman mengenai banyak hal terutama mengenai seks. Orangnya terbuka dan asik buat diajak ngomong. Itu mungkin salah satu kelebihannya.

“Di! Kebetulan kamu datang. TV tunner ku kok nggak mau nyala yah? Aku curiga nih ada kabel yang putus. Bisa nggak liatin sebentar?” Lola nampak menyambutku dengan gembira, maklum ada maunya. Aku hanya mengiyakan permintaannya, toh nggak sulit-sulit amat.
Aku naik ke enternit dalam rumah dengan kursi yang ditaruh diatas meja dan langsung dengan sigap aku sudah dikolong atap kamarnya. Aku lalu meminta senter untuk memeriksa soalnya didalam gelap sekali. Setelah beberapa menit Lola kembali berteriak padaku mengatakan kalau dia harus pergi sebentar buat memfoto kopi makalah pinjamannya karena besok harus dikembalikan dan aku ditinggal sendirian dikamar tersebut.

Setelah semua beres, timbul rasa isengku untuk jalan-jalan dari kolong satu ke kolong lainnya, siapa tahu kamar-kamar cewek disini bisa dilihat dari atas kolong kamar. Dan keberuntunganku berjalan mulus. Aku dapat melihat dengan jelas kamar-kamar mereka dari liang didekat lampu atap kamar. Semuanya rata-rata tertata apik dan rapi.

Lalu aku tiba disebuah kamar, kamar yang sangat kukenal. Ini kamar kekasihku, Anissa. Aku melihat pintu kamar tersebut terbuka dan Ani masuk dengan menggunakan kimono yang aku belikan dari Bali tempo hari. Habis mandi dan keramas, wanginya tercium sampai ditempatku mengintip. Asyik juga mengintip pacar sendiri batinku senang.

Saat aku berdebar-debar ingin melihat pacarku membuka kimononya, tiba-tiba ada ketukan pintu. Saat terbuka nampaklah seseorang pria, namanya Edwin. Edwin ini pacar teman kost Ani yang bernama Riana Hapsari (panggilan dikampus Riana kalau di kost Sasa). Pria ini berwajah agak indo, dan jujur aku akui kalau dia lebih cakep dari aku (sedikittttt………)

“An, Riana kemana seh? Kok aku telepon dirumah kagak ada trus disini juga kosong? Apa pergi ma temen-temennya ya?” nampaknya Edwin bingung mencari pacarnya yang entah lari kemana.
“Aduh sori, aku juga nggak tau tuh. Coba kamu tanya Lola, mungkin dia tau.” Ani menjawabnya ambil menahan dingin (waktu itu memang udara cukup dingin).

Edwin menimpalinya, “Lah, Lola juga kagak ada An. Eh kamu abis mandi yah? Wangi bener.” hidung Edwin ternyata cukup bagus dapat mencium wangi dari tubuh pacarku dan bahkan menebak jenis sabunnya (atau cuman asal tebak aja aku juga nggak tau). Ani hanya tersenyum malu. Saat dia akan mundur mengambil handuk di hanger, tiba-tiba kimononya terkait dengan daun pintu kamarnya yang membuat kimono tersebut tersingkap dan ikatan talinya nyaris lepas. Ani buru-buru membenahi kimononya namun Edwin nampaknya sudah terlanjur melihat buah dadanya yang terkuak dari balik kimono tersebut walau hanya sekilas.

Nampaknya udara dingin tersebut telah membuat pikiran seseorang juga menjadi beku. Naluri Edwin mulai berontak, dia maju masuk kekamar Ani dan mencekal kimononya sembari kaki nya menutup pintu kamar.

“Mau apa kamu? Heh…lepas!” Ani berusaha mengibaskan cekalan tagan Edwin dari kimononya namun nampaknya gagal. Bahka sejurus kemudian kedua tangan Edwin yang trampil itu langsung menarik lepas ikatan tali kimono Ani. Dan terpampanglah dengan bebas kedua payudara indah pacarku tersebut, sementara Ani hanya tinggal menggunakan celana dalam saja.

“An, kamu cantik sekali.” Edwin lalu mendaratkan ciuman dimulut Ani yang tak sempat melawn. Pagutan demi pagutan dia lakukan dibibir kekasihku itu. Salah satu tangan Edwin lalu menelusuri tubuh kekasihku dan meremas-remas payudaranya hingga Ani pun tak kuasa melawan karena tubuhnya bergetar hebat dan lemas. Perasaan kaget, risih, takut dan juga penasaran menghinggapi benak gadis ini.
“Win! Lepas! Aku nggak mau begi….” belum sempat Ani meneruskan kata-katanya, ciuman kembali mendarat dibibirnya. Kali ini ciuman ini lebih hot dan selang beberapa detik nampaknya Ani sudah pasrah dan menikmati ciuman tersebut.

Edwin dan pacarku, Ani berciuman dengan sangat mesranya. Lalu beberapa menit kemudian mereka sudah berada di atas tempat tidur dan keduanya telanjang bulat. Nampaklah penis Edwin yang sudah tegang berdiri. Ani pun menyentuh batang kejantanan Edwin itu pelan dan halus lalu mengocoknya keatas dan kebawah pelan-pelan. Edwin yang sudah sangat horny itu lalu membalasnya dengan ciuman diseluruh bagian buah dada Ani termasuk menyedot-nyedot puting payudaranya dan meremas-remasnya dengan liar.

Batang kemaluan yang sudah mengejang itu nampaknya membuat Ani lupa segalanya. Walaupun tidak sepanjang milikku namun Ani nampaknya menikmati kocokan tangannya pada benda itu. Batang kejantanankupun ikut menegang ketika melihat vagina kekasihku itu mulai dimasuki oleh penis Edwin.
Vagina Ani yang bewarna cokelat terang kemerahan itu bibirnya nampak terbelah karena desakan batang kemaluan Edwin. Sedikit demi sedikit akhirnya penisnya semua masuk. “Akh…..An, Riana aja belum pernah aku entotin. Kamu orang pertama yang pernah aku entotin selama ini. Kamu bener-bener seksi An.” Edwin mulai meracau dan beserta dengan goyangan-goyangan pinggulnya, penis yang menancap di liang kemaluan pacarku itu mulai mendesak maju mundur dengan kecepatan lambat namun makin cepat seiring dengan sodokan-sodokan yang dilakukan Edwin.
“Ahhh….achh…..Win…..ahhh..!” Ani mulai mendesah-desah tak karuan ketika liang vaginanya dijarah oleh penis Edwin dengan ganasnya. Tubuh Edwin yang menindih tubuh Ani tersebut benar-benar membuat suasana kamar menjadi sangat panas. Goyangan-goyangan pinggul Edwin telah mewarnai adegan bercinta mereka malam itu.

Selang beberapa menit kemudian, tungkai kedua kaki Ani diangkat dan diletakkan diatas bahu Edwin dan hal tersebut membuat proses penetrasi ke liang vagina Ani menjadi lebih dalam dan bertenaga. Mata Ani nampak setengah membelalak menahan rasa kenikmatan dari tiap pompaan batang kejantanan milik pacar temannya itu. Sembari mereka berciuman dan tangan Edwin berkarya meremas-remas kedua buah dada Ani dan memilin-milin puting susunya hingga mengeras mencuat keatas. Suara erangan Edwin dan desahan Ani benar-benar keras, untung saja tidak ada orang lain selain kami bertiga waktu itu. Karena jika tidak maka akan ada orang yang dengar suara-suara kenikmatan tersebut.

Lidah kedua muda-mudi ini saling berpautan saat melakukan french kiss. Selang sepuluh menit kemudian, Edwin mempercepat pompaannya dan Ani pun mendesah lebih keras lagi sambil kedua tangannya memeluk erat pinggang Edwin. Lalu dipuncak kecepatan pompaannya Edwin menyodokkan sekeras-kerasnya dan sedalam-dalamnya batang kemaluannya kedalam liang senggama pacarku itu diiringi dengan teriakan kecil Ani. Cairan putih kentalpun menyembur dari pucuk penis Edwin dan membasahi bibir vagina milik pacarku. Dia berejakulasi diluar ternyata.

Dengan cepat setelah acara senggama tersebut selesai, Edwin memakai pakaiannya dan langsung permisi setelah mencium bibir pacarku sekali lagi. Ani hanya terduduk di tempat tidur sambil melihat sisa persenggamaannya dengan Edwin barusan. Aku terkesiap juga, ternyata Ani pun sekarang sudah doyan ngeseks dengan orang lain tanpa sepengetahuanku. Asyiknya, aku berhasil merekam adegan mesum itu di HP kameraku (untungnya aku punya HP kamera). Selang aku turun dari atap sekitar 2-4 menit kemudian, Lola kembali dari urusannya. Aku lalu mohon diri setelah dia mengatakan terima kasih padaku. Aku lalu menuju kekamar Ani dan disana nampaknya Ani sangat terkejut dengan kedatanganku dan dengan buru-buru dia menata tempat tidurnya lagi. Saat aku tanya ada apa, dia hanya menjawab kalau tidak ada yang terjadi sambil memanis-maniskan senyumannya padaku. Sayangnya aku sudah melihat semuanya sayang, walau kau belum tahu, kau belum saatnya tahu.

Selang tiga atau empat hari (aku lupa pastinya), aku memperoleh tugas dari mbak Virna si dosen cantik itu untuk mencari bahan buat skripsiku yang nantinya akan diambil dari topik PKL yang kuambil. Sekitar 2 jam lebih aku berkutat dengan buku di rak-rak perpustakaan kampus yang jumlahnya sangatlah banyak sekali yang berada di lantai 3. mataku sampai nanar melihat semua tulisan dan nomor urut buku dan makalah yang dijilid menjadi kelompok-kelompok. Saat aku akan beranjak keruang baca yang menawarkan kursi dan meja baca, tiba-tiba ada seorang gadis menabrakku dari belakang. Kontan buku yang kubawa jatuh berserakan begitu juga dengan buku yang dia bawa.

Gadis berkepang dan berkacamata yang akhirnya kuketahui bernama Ratnawati ini adalah anak jurusan psikologi angkatan 2000. Gadis manis dengan kulit kuning langsat dan rambut panjang sepinggang dengan dikepang menjadi dua. Tapi lain dari pada itu semua yang paling mengejutkanku adalah gadis inilah yang memergokiku saat aku sedang ‘menggarap’ Veti di toilet perpustakaan.

“Ah, maaf. Aku nggak sengaja.” Sengaja aku mengulurkan tanganku kepadanya walau sebenarnya dalam hati aku mengutuk bahwa dialah yang bersalah bukan diriku. Nampaknya basa basi ini tidak mempan kepada cewek satu ini atau mungkin hanya perasaanku saja, namun hanya dalam hitungan detik dia sudah berdiri tanpa menghiraukan uluran tanganku dan mendekatkan bibirnya ketelingaku sembari berbisik.
“Aku masih ingat dirimu lho. Tadi itu salahku dan sengaja pula.” Ucapan dari seorang gadis berkepang ini membuatku menjadi berkeringat dingin. Apa sebenarnya maunya.

Aku menahan rasa gugupku dan walau sedikit tergagap aku mencoba memaksa untuk bicara, “Trus kenapa kalo masih inget ma gue? Emangnya gue pikirin.” Nada ketus yang kubuat-buat kuharap bisa menekan rasa gugupku namun gagal total. Dia malah membisikkan kata-kata yang lebih tajam lagi.
“Kalo emang kamu nggak bisa mengontrol nafsumu gak perlu memperkosa cewek khan. Masih banyak cewek yang mau dengan cowok segagah kamu apalagi dengan ‘barang’ segede itu.” Dia tersenyum saat berbisik padaku sambil tangannya meremas batang kemaluanku dari luar celana jeans yang kupakai.
Aku terkesiap tapi lalu bisa kukendalikan diriku. Ini seperti saat aku berhadapan dengan si kembar di Bali beberapa pekan silam. Bibir Ratna masih terasa dekat ditelingaku sesaat sebelum akhirnya kuputuskan dengan nekat untuk mendaratkan ciumanku dibibir mungil tipisnya itu. Diluar dugaan, ternyata dia membalasnya dengan tak kalah bernafsunya. Singkatnya kami berciuman dengan sangat dahsyat waktu itu.

“Hmmm, kamu seorang good kisser ternyata. Nilai plus lagi buatmu.” Ratna seolah dari tadi bertindak sebagai juri dengan menelusuri seluruk tubuhku dan menemukan bahwa aku mempunai potensi dalam berciuman.
Ciuman demi ciuman, pagutan demi pagutan yang diikuti kemudian dengan remasan-remasan diseluruh bagian sensitif milikku dan juga milik Ratna. Tangan kami bergerilya seolah tidak menghiraukan bahwa tempat itu adalah sebuah perpustakaan. Walaupun ruangannya besar dan ditutupi dengan puluhan rak tinggi dan panjang, namun sewaktu-waktu orang bisa lewat karena bukan ruangan yang tertutup sempurna.

“Ahhh, sex appetite kamu gede juga.” Ratna mulai mengucapkan kata-kata yang tak kumengerti. Yang kutahu sejurus kemudian dia membuka resleting celana jeansku dan memelorotkannya bersama dengan underwearku. Kemudia dia berjongkok dan mulai meng-oral penisku dengan lahapnya. Batang kejantananku yang dari tadi setengah tiang langsung menegang penuh dalam hitungan detik. Ratna hanya tersenyum dan mempercepat kocokannya pada penisku dan jilatan-jilatan pada buah zakarku pun menadi sangat buas. Tehnik oral yang sempurna yang pernah kudapat, pikirku.

“Oh, ach…!” sekuat apapun diriku akhirnya harus mengeluarkan desahan kenikmatan juga. Gadis berkepang ini hanya tersenyum dan menghentikan oral seks nya. Semula aku aka protes terhadap perbuatannya yang separuh-separuh ini namun berhenti setelah aku melihat dia membuka kancing bajunya dan celana ketatnya hingga bagian bawahnya hanya menggunakan celana dalam. Sementara dari baju yang kancingnya terbuka aku bisa melihat payudaranya yang ukurannya luar biasa, 36C.
Ratna tersenyum padaku dan melirik menggoda. “Hmmm, kamu ingin lebih khan? Silahkan nikmati diriku tapi hanya sampai sepuluh menit kedepan karena lebih dari itu adalah jam pergantian sift jaga petugas perpustakaan yang pastinya akan mengecek tiap tempat di ruangan ini.” Nampaknya gadis ini sudah hapal betul seluk beluk perpustakaan.

Aku sandarkan dia disebuah rak buku (karena rak buku tinggi sekitar 2 meter dan panjang serta diisi dengan ratusan jenis buku maka pijakannya sangat kokoh) lalu sambil terus mencumbu bibir, pipi dan lehernya, ku angkat salah satu kakinya melebar sedikit dan aku mulai mengarahkan batang penisku ke dalam liang vaginanya melewati celana dalam yang sudah dipelesetkan dari tempatya. Sempit, pikirku ketika penisku menyeruak masuk kedalam liang kemaluan gadis manis ini.
“Akh..ahh…ahh…” gadis ini mendesah-desah menahan rasa nikmat walau sedikit nyeri ketika penisku memompa pelan liang senggamanya. Namun itu tak berlangsung lama karena selang beberapa detik aku segera mempercepat sodokan penisku menjadi lebih liar dan cepat. “Akh…achh….jangan cepat..cep…at….!...Achh….” Ratna menjadi tak terkendali dengan desahannya. Sementara salah satu tanganku meremas-remas payudaranya yang besar itu batang kemaluanku seolah-olah berubah menadi dongkrak organik yang mampu membuat seorang Ratna berguncang naik turun.
Tak sampai sepuluh menit, mengingat akan ada pergantian shift jaga petugas perpustakaan, maka aku memutuskan untuk memperoleh orgasmeku secepatnya. Aku percepat pompaanku walaupun masih dalam posisi berdiri bersandar pada rak buku. Akhirnya tiba juga orgasmeku. Dari ujung batang penisku menyemprot keluar cairan sperma putih kental dengan jumlah yang sangat banyak membanjiri liang kemaluan gadis berkepang ini. “Akh….aku keluar…ah……..ahh….!” racauku seoalh lupa dengan keadaan sekitar.

Ratna hanya memejamkan matanya dibalik kacamatanya yang bewarna metalik itu. “Sori, gue kelupaan nyabut. Jadi keluar didalam deh.” Aku berkata padanya seolah aku peduli padahal tidak sama sekali.
Ratna hanya diam lalu merapikan pakaiannya. Sesaat sebelum dia pergi, dia memberikanku sebuah alamat dan memintaku untuk datang besok malam karena ada sesuatu yang penting yang perlu untuk aku hadiri, mau tidak mau. Aku sendiri bingung harus membalas ucapannya gara-gara aku masih sedikit lemas karena habis berejakulasi cukup banyak. Namun Ratna sudah menghilang dibalik rak buku. Well, tinggal lihat saja lah apa yang dia siapkan untukku besok malam.
Salah satu fakta yang lucu waktu itu, entah penting atau tidak untuk diceritakan. Saat aku membenarkan celanaku seusai Ratna pergi, ada seorang mahasiswi baru kebetulan lewat dan melihat penisku masih separuh terjulur keluar dengan keadaan ereksi walaupun tidak sempurna. Gadis itu berteriak kecil lalu lari entah kemana. Sayang sekali padahal dia gadis yang lumayan. Masih imut.



BERSAMBUNG....


Mohon maaf masta, terpaksa Nubie harus sambung lagi lain waktu... ;)
Mohon para masta bersabar, dan mohon dukungannya agar dapat selalu menghibur masta masta di forum semprot tercinta ini.
Nubitol untuk sementara undur diri...
:ampun: :ampun: :ampun:


#NB: tidak menerima commentar yg sok paling ok ente punya Thread.
jika tidak senang dengan Thread ane,silahkan capcus ke toko sebelah
hanya menerima comment yg bermutu,kasih thanks atau kirim
ijo - ijo
 

velkrasnyyvet

Dreamer
UG-FR+
Thread Starter
Daftar
1 Feb 2011
Post
1.918
Like diterima
1.090
Lokasi
Outside The Box
Lanjutan...

Chapter 8​

Besok harinya seusai kelas kuliahku, aku segera menuju ke alamat yang diberikan Ratna kepadaku dengan mengendarai mobilku. Tepatnya disebuah bilangan jalan yang tertata apik dimana dikanan kirinya terdapat kompleks perumahan yang bisa dibilang cukup elite. Aku menghentikan laju mobilku tepat didepan rumah nomer 43. “Wow.” Gumamku ketika melihat rumah tersebut. Rumah besar dengan dua lantai dibagian depan dan satu lantai pada bagian depan ditambah dengan halaman rumah yang cukup lebar, yang dapat menampung 6-7 buah mobil tipe kijang capsule. “pasti pemiliknya orang kaya, sampai sempet-sempetnya menata tamannya seeksentrik itu.” Aku kembali bergumam sendiri sambil melirik kearah taman disebelah kiri bangunan utama rumah tersebut. Belum sempat aku membunyikan bel di pagar rumah, tiba-tiba ada seorang ibu-ibu tua membuka pagar dan mempersilakan aku masuk. Bahkan pembantunya sesigap ini, berbeda dengan pembantu kebanyakan. Begitu masuk aku cukup kaget juga melihat ternyata arsitektur rumah ini dilihat dari dekat benar-benar berbeda, suasananya lain dengan saat dilihat dari jauh. Hal ini menguatkan keyakinanku bahwa pemiliknya seorang jutawan. Namun seolah-olah semua itu mendadak terbakar dan hangus menjadi abu dan terbawa angin malam pergi terburai jauh-jauh saat aku melihat dari balik pintu ada dua orang gadis cantik menghampiriku. “Kukira kamu nggak mau datang. Sudah ditunggu nih. Ayo masuk, anggap aja rumah sendiri!” ucap seorang gadis yang aku sadari beberapa saat kemudian bahwa dia adalah Ratna namun nampak berbeda dengan kepang yang dilepas dan tanpa kacamata.


Didalam rumah sudah menunggu 3 orang gadis dan seorang pemuda. Entah hanya perasaanku saja atau memang saat itu suasana mendadak aneh. Serasa dadaku berdesir bertanya-tanya apa yang sedang mereka lakukan disini. Lamunanku terbuyar saat Ratna mengenalkan teman-temannya satu persatu. Dhea Anastasia, seorang gadis SMU kelas 3 yang sebentar lagi lulus dan merayakan ultah nya yang ke 17. Tepatnya 2 hari lagi. Badan cukup tinggi, kulit putih dan berambut lurus sepusar dengan cat rambut menghiasi beberapa lembar rambutnya. Warna merah campur oranye. Saskia Rukmana, seorang lulusan akademi keperawatan, berusia 26 tahun dan sekarang sedang bekerja di sebuah rumah sakit swasta. Tubuh tinggi juga, lebih tinggi sedikit dari Dhea, berkulit sawo matang dan rambut berombak sebahu. Yang menarik dari dirinya adalah bibirnya yang sensual, tipis dan sedikit lebar. Endrawati Galuh Chandra, seorang mahasiswi dari jurusan akuntasi di sebuah universitas swasta. Kejutannya adalah dia satu angkatan denganku. Badan tidak terlalu tinggi, sedangkan tubuh ideal sih walau dibeberapa tempat kelihatan sedikit gemuk, mungkin karena pipinya yang agak tembem itulah penyebabnya. Rambut lurus (hasil karya rebonding) sedikit dibawah bahu dan ciri khasnya adalah menggunakan anting bewarna mencolok dan besar. Kulit sih sawo matang, diluar dari pada itu ternyata orangnya sangat pintar ngomong. Tidak heran kalau Ratna memperkenalkan dirinya sebagai radio berjalan. Sulis Hardani, seorang gadis teman kuliah Ratna. Tubuhnya kecil membuat orang sering mengira dia masih kelas 1 SMU. Putih dan berambut pendek. Cenderung pendiam. Sebenarnya jikalau dia lebih tinggi atau setidaknya setinggi Ratna, mungkin akan banyak cowok yang naksir kedia, karena jujur saja wajahnya cukup lumayan dibandingkan dengan Ratna. Yang terakhir adalah pemuda yang bernama Catur. Sebenarnya aku paling malas menceritakan perihal pria, namun karena nanti dia juga berperan dibab berikutnya maka aku ceritakan saja mengenainya. Pemuda ini setinggi diriku dan walaupun berat kuakui kalau dia lebih cakep dari aku (sigh….). Hanya satu kekurangannya, yaitu badannya yang kelewat langsing. Yah setidaknya bisa sedikit mententramkan hatiku bahwa dalam hal tubuh aku sedikit lebih baik darinya.


Sudah sekitar satu jam aku duduk bersama mereka berenam dan ngobrol ini itu tanpa arah. Jam sudah menunjukkan jam 7 malam dan aku berniat untuk mohon diri karena aku sendiri cukup bosan dengan acara ngobrol seperti ini. Nampaknya Ratna sudah mengetahui gelagat ini dan segera mulai angkat bicara, “Jangan pulang dulu Di! Acara aja blom mulai kok.” Lalu dia berjalan menjauh dan hilang dibaling gorden yang memisahkan ruang santai keluarga dengan ruangan lain. Ruangan santai ini terdiri dari sofa yang menghadap televisi besar dan didepannya terdapat karpet membentang dan sejenis kasur tipis yang bergelombang. Nampaknya sang pemilik rumah sering tiduran didepan televisi juga, pikirku. Sementara itu aku melihat tingkah polah kelima orang yang lain, nampaknya hanya Catur dan Dhea yang masih gugup dan ‘seperti orang asing’ diruangan ini. Saat aku akan menanyakan suatu hal kepada Dhea, tiba-tiba Ratna datang dan membawa sebuah kue tart besar dengan lilin berbentuk angka 17 diatasnya. “Met ultah yah Sya.” kata Ratna kepada Dhea. Terlihat senyuman mengembang diwajah Dhea. “Ini kejutan buat kamu. And adalagi kejutan dari kami buat kamu.” Ratna lalu duduk disebelah gadis cantik itu. Dhea lalu bertanya, “Kejutan apaan mbak? Jadi penasaran. Pengin tau dong….” rajuknya manja. Lalu Ratna menyuruhku dan Catur mendekatinya. Disaat Dhea masih bingung, Ratna lalu berkata sesuatu yang membuat Dhea, ah tidak…bukan hanya Dhea, namun aku pun dibuatnya kaget setengah mati. “Kamu masih inget dua bulan lalu kamu ngomong ke aku kalau pengin tau gimana rasanya ML? Nah, kali ini mbak sudah nyiapin dua orang cowok buat kamu. Terserah kamu mau pilih yang mana, dua-duanya juga boleh.” Ratna kemudian melanjutkan perkataannya ditengah kegugupan Dhea. “Umurmu khan dah 17. Masa ga ingin nyobain? Lagipula kamu khan dah gede Sya.” Katanya lagi. “Tapi mbak. Dhea khan masih perawan. Takut ntar kalau kenapa-napa. Nggak ah!” tapi nampaknya penolakan Dhea tidak digubris sama sekali oleh Ratna. Dia lalu memutar film blue di DVD playernya. Sesaat kemudian, suara desahan dan erangan tak beraturan keluar dari speaker home theater-nya. Tidak cukup dengan itu saja, Saskia yang dari tadi diam mendekati Dhea dari belakang dan memegangi kedua tangannya dengan setengah memaksa. “Mbak Saskia! Mbak mau apa?” Dhea setengah berteriak namun dia langsung kembali memandangi Ratna yang sudah mendekatinya dari depan dan mempreteli kancing bajunya satu persatu.


Demikian hingga akhirnya Dhea benar-benar telanjang bulat didepan kami semua. Tak berselang lama kemudian, Saskia, Ratna dan Sulis lalu melucuti pakaian mereka satu persatu hingga ketiganya bugil total dihadapanku. “Nah sekarang khan kamu nggak sendirian Sya. Kami semua juga ikut buka-bukaan kaya kamu khan.” Saskia berseloroh sambil tertawa diikuti dengan tawa canda kedua gadis yang lain. Keempat gadis manis ini berbugil ria dihadapanku membuatku menjadi benar-benar lupa diri. Namun ketika aku beranjak maju untuk mencicipi tubuh gadis-gadis ini tiba-tiba Ratna menghalauku, “Nggak boleh! Kali ini cara kerjanya lain. Karena Dhea yang ultah maka di yang berhak menentukan mau diapain kalian…heheheheh…” Ratna tertawa kecil. Sulis lalu angkat bicara sambil menutupi payudaranya yang mungil, “Sya! Kamu pilih yang mana? Kamu boleh pilih yang mana aja buat merawanin kamu, tapi kamu lucuti sendiri yah pakaiannya…hihihihi..” tawa Sulis kembali memecah. Pertama aku melihat Dhea walau masih risih dengan perlakuan ketiganya (dia terpaksa karena semua pakaiannya disembunyikan Ratna) akhirnya mendekati salah seorang dari kami berdua, yaitu Catur. Sial, pikirku. Tapi wajarlah karena pemuda itu dilihat dari tampang emang lebih baik. Kemudian dia melucuti seluruh pakaian Catur sementara pemuda itu sama sekali tidak diperbolehkan untuk melakukan gerakan aktive apapun oleh Ratna dan konco-konconya. Tak lama kemudian adalah giliran celana dalam Catur yang dibuka dan mencuatlah batang kemaluannya yang ternyata cukup kecil. Soal panjang sih aku tebak sekitar 12 sentimeter-an namun diameternya kurang dari separuh diameter penisku. “Ya ampun, kirain kontol kamu gede Tur. Wah Mbak Saskia bo’ongin kita neh.” Ratna sedikit kecewa juga. Namun Saskia langsung menjawab, “Biar segitu tapi sevice nya ditanggung halal…eh nikmat..hihihi..” dia kembali bergelak. Payudaranya yang besar sedikit berguncang ketika dia tertawa. Pemandangan selanjutnya adalah dimana Dhea belajar melakukan oral seks seperti yang ada di tayangan DVD disampingnya dengan obyek percobaan batang penis milik Catur. Catur yang agak pemalu itu akhirnya melenguh dan mendesah tidak karuan ketika penisnya dikulum habis-habisan oleh Dhea dan sering sekali Dhea melahap habis batang kejantanan pemuda itu kedalam mulutnya.


Setelah sekitar 5 menit Dhea melakukan blow job kepada Catur, dia berdiri dan mendekatiku yang masih dalam posisi berdiri. Seluruh pakaianku pun dia lucuti hingga akhirnya mencuat juga batang kemaluanku dan terpampang jelas didepan semua orang. “Wow, gila. Gede amat terpedonya. Wah Ratna bener-bener pencari bibit unggul yang hebat.” Sulis terpana juga liat penisku. Dhea yang tadi sempat bermain-main dengan batang kejantanan milik Catur menjadi sedikit deg-degan juga melihat batang kemaluanku ini. Sementara tiga gadis yang lain malah mendekatiku terutama Sulis dan Siska. Kedua gadis ini berebut untuk memegang batang terpedo ku tersebut dan mengocoknya dengan cepat. “Hoi! Sabar dong, satu-satu! Setelah Dhea aku masih sanggup ngelayanin kalian bertiga kok.” Kataku sambil senyum-senyum kearah mereka. “Bo’ong banget! Cowok mah sekali udah crut paling langsung lemes.” Saskia membantah ucapanku namun Ratna menukas dengan cepat, “Nggak kok, dia lain. Yang ada juga kalian-kalian ini yang dibuat kelenger ma tongkolnya.” Dhea nampaknya kesusahan saat mencoba melumat batang kemaluanku. “Kegedean mas, Dhea ga isa nelan semua.” Gadis ini tersipu malu saat berkata padaku. Aku hanya tersenyum, “Nggak apa-apa kok. Selama ini juga belum pernah ada cewek yang sanggup menelan semuanya…..alasannya sama kaya kamu Sya..” kembali wajah gadis ini merona merah. Setelah sekitar 5 menit dia mengoral batang kemaluanku, aku segera merebahkan dirinya yang sudah telanjang bulat itu. Kedua tungkai kaki Dhea aku lebarkan dan sekarang dia dalam posisi telentang dan juga mengangkang. Aku dapat melihat vaginanya yang merah muda dan basah kuyup oleh cairan kewanitaannya itu. Kutindih dara cantik ini dengan tubuhku dan peniskupun aku bimbing kearah bibir vaginanya. “Eh, Dhea khan belum mutusin sapa yang boleh nyodok duluan.” Saskia nampaknya berusaha mencegahku melakukan penetrasi. “Dhea nggak keberatan khan kalau aku yang mulai duluan? Lagipula Dhea kelihatannya dah horny berat yah…” sindirku pada Dhea sekaligus menjawab perkataan Saskia. Kali ini Saskia tidak bisa menjawab apa-apa saat kedua tangan Dhea memegang pinggulku dan menariknya kearah pinggulnya, seolah-olah mengatakan ‘silakan mulai’ kepadaku. Dalam hitungan detik, batang penisku sudah menempel ujungnya dibibir luar vagina milik Dhea ini. Gadis ini sempat membelalak dan menjerit kecil ketika penisku menyeruak masuk kedalam liang senggama miliknya. “Ach…sakit……pelan-pelan mas!” ucapan Dhea diiringi dengan rintihan ini sangat seksi menurutku, mengingatkanku pada Ranti di Bali. Setelah 2 menit berusaha akhirnya penisku berhasil masuk dengan sempurna. Dhea sempat menjerit agak keras ketika sodokan terakhirku menuntaskan keperawanannya dan disaat yang sama mengalirlah darah segar membasahi dinding vaginanya yang kemudian mengalir turun membuat sprei warna pink tempat kami bersenggama menjadi ternoda merah darah. Aku mengambil nafas sebentar sebelum akhirnya aku melanjutkan sodokanku yang pelan namun mantap. Sementara 4 orang yang lain melihatku dengan tampang yang tidak dapat dilukiskan ekspresinya, Dhea nampak sudah dapat menikmati persenggamaan ini, hal ini dapat terlihat dari desahan-desahan yang dikeluarkannya saat batang kejantananku mengobrak-abrik liang kewanitaan miliknya. Sesaat aku menengok kearah samping dan aku melihat Ratna membawa handycam merekam adegan syur kami berdua. Aku mencoba mencegah dan merebut handycam tersebut namun Ratna mengelak. “Jangan khawatir, ntar kita semua juga bakalan kena rekam kok. Ini koleksi pribadi dan bukan untuk konsumsi orang lain. Liat neh, gue ma temen-temen ku semua kena syut.” Ratna kemudian memutarkan handycamnya dan merekam seluruh tubuh teman-temannya yang telanjang termasuk tubuhnya sendiri.


Aku memutuskan tidak menggubrisnya dan berkonsentrasi pada perempuan molek didepanku ini yang kemaluannya tertancap oleh batang kemaluanku. Seiring dengan desahan-desahan Dhea yang semakin membabi buta, aku segera meningkatkan intensitas sodokanku menjadi lebih liar lagi. Aku percepat pompaanku kepada tubuh dara cantik ini hingga Dhea menjadi semakin liar gerakannya. Kedua buah dadanya kuremas-remas dan puting susunya aku jilati sambil sesekali aku pelintir dan aku hisap dalam-dalam. Akhirnya setelah sekitar sepuluh menitan aku dan Dhea bercinta dengan gaya yang sama, Dhea mendapatkan orgasmenya yang pertama sepanjang hidupnya. Matanya berubah sayu dan kedua tangannya mencengkeram pinggangku dengan sangat erat bahkan hingga membekaskan luka cakaran tipis dikulit pinggangku. Kedua tungkai kaki Dhea yang semula mengangkang bebas kini menjadi mendekap kepinggulku seolah-olah tidak menginginkan diriku untuk mencabut batang terpedoku yang telah memberikannya kenikmatan tiada tara. Kemudian tak lama setelah Dhea mengalami orgasmenya Siska menyentuh buah pelirku dengan jemari tangannya yang lentik. Sembali memainkan buah pelirku dia menciumi leher dan punggungku sesembari salah satu jarinya ditusuk-tusukkan ke arah anus milik Dhea. Sesaat aku agak grogi tentang apa yang akan terjadi nanti namun akhirnya aku paham juga ketika Sulis mendekati kami bertiga sambil membawa dildo kecil warna merah jambu yang sudah diberi pelumas. Disaat aku mulai kembali memompa liang kemaluan Dhea dengan penisku, Sulis dengan sigap menggesek-gesekkan dildo tersebut dibagian luar anus Dhea yang sesekali merembet kearah liang vaginanya yang sedang penuh kuhajar. Selang beberapa menit kemudian aku melihat Dhea melotot dan menahan sakit. Aku melihat ternyata dildo tersebut telat ditusukkan kearah dalam anus Dhea. Sebelum Dhea menjerit, aku segera memberikannya ciuman dalam-dalam dan menstimulsi seluruh bagian tubuhnya yang sensitif, mulai dari putting payudara hingga klitorisnya. Sementara itu aku melihat Catur sedang mengocok batang kemaluannya dengan sesekali memegang-megang payudara Ratna yang sedang asyik merekam ulah kami berempat. “Achh….sakittt!” Dhea menjerit agak keras namun segera lenyap karena kututup dengan ciuman yang dahsyat. Sulis hanya tersenyum, “Sabar sayang, kalo mau jebolin perawan kamu, jangan cuman di memiaw kamu doang tapi pintu belakang juga.” Lalu diselingi dengan tawa Siska dan Ratna. Sementara batang kejantananku masih menghajar liang yang sempit itu, liang belakang milik Dhea disaat yang sama juga sedang dimasuki dildo yang kemudian dimaju mundurkan secara manual oleh tangan Siska. Tak sampai lima menit kemudian, Dhea mencapai orgasmenya yang kedua. Kali ini dia berani meracau berteriak tanpa kendali. “Ahhh…ohhh…kak…entotin Dhea lagi….jangan berhenti…!” serunya ditengah desahan yang bergairah tersebut. Ratna tak kuasa menahan tawanya dan mengatakan bahwa sekarang Dhea sudah menjadi pecandu ngentot walaupun baru sekali coba. Ejekan demi ejekan dikeluarkan oleh Ratna dan Siska namun tak digubris oleh Dhea. Melupakan rasa perih yang ditanggung liang kemaluannya dan anusnya, sekarang dia mulai berani menggoyangkan pinggulnya untuk melakukan inisiatif gerakan ML.


Sesaat setelah orgasme kedua Dhea, aku merasa bahwa kemaluaku mulai berdenyut-denyut kencang itu tandanya bahwa sebentar lagi aku akan mencapai klimaksku. “Dhea, aku keluarin dimana sayang?” aku mencoba untuk meminta pendapatnya namun Dhea sedang diambang ilusi seksnya sendiri dan tidak memberikan jawaban. Siska langsung menukas, “Diluar aja, ntar khan masih ada ronde berikutnya. Soalnya kita-kita nanti masih belum puas ngerjain adek kecil ini. Heheheheheh.” Seloroh Siska dan diamini oleh Ratna dan Sulis. Lalu aku cabut batang penisku dari liang vagina yang sempit tersebut dan aku kocok tepat diatas wajah Dhea. Sesaat kemudian, keluarlah seluruh cairan kental bewarna putih menyembur keluar membasahi sebagian besar wajah dan payudara Dhea. Sekitar 7 - 8 kali semburan sperma yang kental mengarah ke wajah gadis belia tersebut. Saat aku beranjak menjauh, tiba-tiba batang penisku langsung ditangkap oleh Siska dan dengan lahapnya di membuka mulutnya dan melahap batang kejantananku yang masih belepotan sperma dan darah perawan Dhea. “Darah perawan campur sperma memang rasanya lain.” Siska berkomentar sambil mengoral batang penisku yang masih tegak mengacung itu yang kemudian diikuti oleh Sulis yang menciumi mulutku yang merembet keseluruh bagian tubuh yang lain dan berakhir dengan melakukan duet oral bersama temannya itu.
Sembari mengocok penisku, kedua gadis ini tak henti-hentinya membuat gerakan-gerakan menggoda birahi begitu juga dengan perkataan yang terlontar dari mulut mereka. Saat aku menoleh kesamping, ternyata Dhea sudah didekati oleh Catur. Pemuda ini lalu mengangkat kedua tungkai kaki Dhea yang sudah lemas karena mencapai orgasme beruntun barusan. Dilebarkannya kedua paha gadis itu dan mengangkang. Lalu diarahkan batang kejantanan milik pemuda itu kearah bibir vagina Dhea yang masih basah karena darah dan cairan cinta kami berdua. Dengan sesekali membuat tusukan kearah klitoris milik gadis belia ini, Catur akhirnya melakukan penetrasinya yang pertama kali kedalam liang senggama Dhea. “Achhh….ahhh…” rintih Dhea kecil ketika torpedo milik Catur menerobos masuk melewati bibir vaginanya. “Akhh….” Serunya lagi saat Catur mulai memaju mundurkan penisnya yang sekarang sudah amblas semuanya kedalam liang vagina Dhea imut itu. Bibir kemaluan Dhea nampak memerah, yang semua bewarna pink cerah menjadi bewarna merah kusam seperti sudah bengkak. Cairan-cairan kentalpun meluber hingga keluar dari liang kemaluan gadis tersebut. Belum sempat aku menengok kembali, ternyata Ratna sudah tidak sabar. Siska disuruhnya rebah dilantai sementara Sulis diposisikan menindih Siska dengan posisi tengkurap. Lalu aku disuruh Ratna agar mengerjai mereka dari belakang keduanya sekaligus. Mengingat vagina dua gadis ini tumpang tindih dan berdekatan maka hal tersebut mudah kulakukan, mirip saat aku bercinta dengan dara kembar di Bali tempo hari. Sementara aku mulai memompa vagina dua gadis ini secara bergantian, Sulis dan Siska menstimulsi payudara rekan mereka satu sama lain. Siska dan Sulis berciuman dahsyat dan sembari kedua tangan mereka begerilya di seluruh tubuh temannya termasuk bagian payudara, apalagi Siska yang kedua tangannya tidak digunakan untuk menopang tubuh seperti Sulis dia dengan leluasa meremas-remas payudara dan memilin puting buah dada Sulis yang kecil itu.


Sekitar sepuluh menit kemudian aku melihat Catur ambruk lemas disamping Dhea dan kulihat ada cairan kental membasahi liang vagina gadis ini. Nampaknya ejakulasi Catur dilakukan didalam liang cinta itu. Beberapa tetes air mani tersebut ada yang sempat keluar mengalir di paha sang gadis. “Lah, cuman segitu dah kelar Tur?” ejek Ratna tapi Catur hanya menjawab dengan senyuman malu malu lalu dia rebahan di karpet. “Achh…aku keluar Di…..” teriakan dari Siska membuatku kaget, dan selang beberapa detik kemudian Siska mencengkeram dan memeluk tubuh Sulis erat-erat hingga seluruh tubuh Sulis ambruk menempel tubuh Siska, begitu juga dengan kedua tungkai kakinya langsung mengapit erat kedua pinggang Sulis. Orgasme pertamanya telah selesai, lalu aku cabut batang kemaluanku dan kuberikan lagi kedalam vagina Sulis. “Achh……cepetan yah say…aku dah ga tahan…” Sulis meracau tak karuan ketika genjotanku aku percepat. Goyangan maupun sodokan batang kejantananku sudah mengobrak-abrik seluruh isi dalam liang vagina Sulis. Desahan dan racauan datang silih berganti mengiringi pompaan penisku. Selang 5 menitan akhirnya Sulis mengejang dan giliran dia sekarang yang memeluk Siska erat-erat. Disaat yang sama aku mempercepat goyanganku setelah tahu fase orgasme Sulis telah lewat. Dan dalam beberapa sodokan keras terakhir aku memuntahkan seluruh cairan sperma kloter keduaku di dalam vagina Siska dan Sulis meskipun ada beberapa yang tercecer keluar dan aku akhiri dengan sebuah sodokan keras kedalam vagina Siska. Siska yang masih lemas karena mencapai klimaks pertamanya terang saja tersentak namun tak ada lagi tenaga darinya untuk protes ketika sisa spermaku menyembur membasahi rongga vagina miliknya. Selanjutnya adalah malam yang panjang, karena Ratna tak mau hanya jadi penonton saja. Kini aku seolah menjadi barang rebutan bagi keempat gadis ini untuk memuaskan nafsu mereka. Tapi berhubung Dhea yang berulang tahun maka dia lah yang kami kerjai habis-habisan. Setelah gadis ini mandi dan mencuci sisa sperma yang menempel ditubuhnya kembali dia menghampiri kami. Kali ini dia dikerjai oleh dua penis sekaligus. Batang kemaluanku kembali menghajar vagina gadis cantik ini sementara mulutnya tersumpal oleh batang kemaluan milik Catur. Setiap beberapa menit sekali kami berganti posisi dengan giliranku yang menjarah mulutnya sementara vagina Dhea aku pindah tangankan ke Catur begitu seterusnya hingga sekitar satu setengah jam dengan berbagai gaya yang kami bisa praktekkan. Setidaknya sudah 4-5 kali Dhea mencapai orgasmenya dengan cara ini. Terakhir kalinya aku menyemprotkan cairan spermaku kedalam vaginanya sementara Catur langsung main tancap di lubang anus Dhea dan berejakulasi disana.



Sudah 2 minggu setelah kejadian pesta seks dengan Dhea dan kawan-kawannya, aku belum pergi ke kost Anyssa pacarku. Kami hanya sering bertemu di kampus saja atau di mall saat aku sedang jalan-jalan bersama teman-temanku. Suatu sore aku berencana untuk pergi ke kost Ani dengan berbekal tas ransel karena aku memang berniat menginap disana sambil mencari kehangatan darinya. Alangkah terkejutnya aku ketika waktu aku kesana aku tidak menemukan Ani yang kata seorang teman kostnya dia sudah pergi sejak 2 jam lalu bersama 5 orang muda mudi yang dikenalnya saat ikut kepanitiaan seminar. Mereka menaiki mobil dan berencana pergi keobyek wisata didataran tinggi sambil menyewa villa Dengan kesal aku kembali dan saat itu juga terlintas untuk menyusul pacarku tersebut untuk mencari tahu sedang apa dia disana. Yang mengherankan sepertinya nasib sedang berpihak kepadaku karena belum sepuluh menit aku keluar dari kost pacarku itu aku bertemu dengan Iqbal temanku saat aku maen game online (kami sering bertemu di warnet) yang kebetulan akan pergi ke daerah yang dituju oleh pacarku dan kawan-kawannya itu. Iqbal ini walaupun nggak alim-alim amat tetapi dia juga nggak nakal-nakal banget jika dilihat dari kacamataku, setidaknya lebih nakal aku dibanding dia. Iqbal mempunyai villa di dekat obyek wisata tersebut dan sering disewakannya. Kali ini dia ingin memakainya untuk berkumpul dengan teman-teman eks SMU nya yang ternyata pacarnya juga terdapat dikelompok tersebut. Dia menawarkan untuk mengantarku. Sekitar satu setengah jam perjalanan akhirnya kami berdua sampai di villa milik Iqbal tapi nampaknya belum ada teman-temannya yang datang lalu aku mohon diri untuk berjalan-jalan padahal aku ingin mencari lokasi pacarku saat itu. Satu-satunya petunjukku hanyalah mobil Panther warna hitam dengan modifikasi cat corak biru putih di bagian depannya. Lagi-lagi nasib memang berpihak padaku karena hanya membutuhkan waktu sekitar 20 menitan untuk mencari keberadaan mobil tersebut. Mobil tersebut berada dipekarangan sebuah villa yang berbatasan dengan warung-warung kecil yang sedang tutup dan berpagar rendah. Aku dengan mudah meloncatinya dari samping karena takut ketahuan. Saat aku melongok kedalam kulihat ada 6 orang sedang bersenda gurau sambil menonton vcd. Tepat disampingku ada sebuah tangga yang mungkin digunakan oleh penjaga villa untuk memperbaiki bagian atap, lalu aku panjat dan mulai aku masuk dari bagian atap dan merayap di internit bangunan tersebut yang untungnya cukup kuat untuk menahan bebanku. Sekarang aku melihat apa yang sedang mereka tonton yaitu sebuah blue film dengan alur cerita agak lucu. Diselingi dengan suara desahan-desahan dan tusukan-tusukan kelamin pemain prianya kearah vagina sang dara. Terlihat ke 6 orang tersebut berpasangan satu dengan yang lain, nampaknya pria ini adalah selingkuhan Ani pacarku. Aku sempat mendengar waktu pacarku memanggilnya dengan sebutan Kurnia. Sesekali mereka berpelukan dengan pasangan masing-masing, bahkan Kurnia berani curi-curi kesempatan untuk menciumi bibir Ani dan tangannya yang tadi disandarkan dibahu Ani mulai turun dan menyusup di sela-sela kaus yang dipakai pacarku itu dengan meremas-remas tentu saja.


Entah sudah berapa lama aku terdiam disitu, akhiirnya keenam itu mulai berganti posisi masing-masing dan satu demi satu pergi kekamar dengan pasangannya masing-masing terkecuali sepasang muda-mudi yang setelah kuamati dengan jelas adalah Salsa, teman pacarku selama bekerja part time dibagian tata usaha di kampusnya yang juga merupakan adik angkatan Ani. Cukup terkejut juga aku karena yang mencumbu gadis itu bukanlah kekasihnya yang setahuku sudah ditunangkan dengannya oleh kedua orang tua mereka masing-masing. Kekasihnya sendiri seorang pegawai negeri berumur 31 tahun itu tandanya jauh lebih tua dari Salsa yang masih berumur 20 tahun. Kulihat disana Salsa dengan pasangannya yang aku tidak mengenalnya itu sedang asik-asiknya bercumbu disebuah sofa yang dari tadi digunakan untuk menonton blue film yang kemudian mereka beringsut keatas karpet lebar yang tepat terletak didepan sofa tersebut. Tubuh Salsa dibaringkan telentang oleh pasangannya (yang dikemudian hari aku baru tahu kalau namanya adalah Decky Irdian). Mereka berpelukan, saling meremas dan mencium. Salsa yang waktu itu sedang menggunakan celana kulot warna hitam selutut nampak sudah mengangkangkan pahanya sehingga mudah bagi jari-jari nakal Decky untuk mengelus-elusnya walaupun dari luar. Sementara itu baju atasannya menggunakan tank top mini warna putih yang didobeli dengan kaus lengan panjang warna merah bergaris hitam yang berbelahan dada sangat rendah, nampaknya pakaian itu memang sudah satu pasangan. Memang diantara teman-temannya, Salsa adalah yang paling modis sedangkan untuk yang paling kuper adalah..tebak saja, yup, pacarku Ani. Dimulai dari remas-remasan yang menggelora kemudian tangan Decky mulai melucuti seluruh pakaian Salsa hingga dia tinggal menggunakan celana dalam warna krem saja. “Say jangan disini! Nanti ketahuan yang lain khan nggak enak.” Salsa mencoba mengambil pakaiannya yang terlempar setelah dilucuti oleh Decky namun pria tersebut menolaknya dan mencengkeram erat kedua tangan Salsa. “Santai saja sayang, nggak bakal ada yang keluar kamar kok. Mereka paling juga sedang asyik kenthu (ngentot- red;bahasa jawa) ma pasangannya masing-masing. Santai wis lah.” Katanya sambil kembali menciumi leher dan bibir Salsa lalu dengan cekatan dia menarik kebawah celana dalam Salsa hingga lepas total. Remasan-remasan tangan Decky semakin bervariasi saja dan bukan di payudara gadis itu saja melainkan juga dibongkahan pantat Salsa. Diperlakukan seperti itupun akhirnya Salsa mau tak mau menikmatinya juga kemudian mulai keluarlah desahan-desahan yang disertai jeritan kecil menahan rasa nikmat ketika puting susunya digigit-gigit kecil oleh Decky. Lelaki ini menciumi Salsa mulai dari bibir turun ke leher yang kemudian menjelajahi seluruh bagian dan lekuk tubuh gadis mungil ini. Buah dada Salsa yang berukuran 34B itu pun dibuatnya mengeras dan putingnya mencuat seolah-olah meminta lebih. Tubuh putihnya kini telah bergumul dengan tubuh seorang pria seliungkuhannya. “Sayang…ackhhh…jangan disini…nanti..ackhhh…nanti mbak Ani liat..ackchh” desahan maupun rintihan sudah tidak dapat dibedakan lagi. Bagi Salsa, saat itu adalah saat yang harus dinikmati oleh nafsu sepenuhnya. Setiap kali Decky memainkan lidahnya di area sensitif milik Salsa, gadis ini langsung menggelinjang dan mendesah yang semakin lama semakin keras saja volumenya.


“Mendesahlah sayangku, nggak bakal ada yang dengar. Warung-warung disekitar sini sudah tutup dan hanya buka dipagi hari. Aman kok sayang.” kata Decky sambil tersenyum yang kemudian dengan rakusnya dia mulai menjilati dan menusuk-nusuk bibir vagina Salsa yang berbulu jarang dan lembut itu dengan lidahnya. “Panjang juga lidah kadal satu ini.” Pikirku dalam hati. “Akhh…jangan disi…tu…say…aku…akhhh…udah dong…ehhh.” Salsa semakin tidak dapat menguasai dirinya lagi. Walaupun tingginya hanya seukuran tinggi pacarku tetapi harus aku akui kalau tubuhnya memang molek dan seksi menggemaskan apalagi saat dia menggelinjang kegelian tiap kali lidah Decky menusuk vaginanya. “Say, gantian dong.” Decky berhenti ketika tubuh Salsa sudah mulai lemas dan liang senggamanya sudah basah kuyup dengan cairan cinta bercampur air ludah Decky. Lelaki ini lalu membuka pakaiannya hingga bugil. Terlihat penisnya sudah mengacung keras, sepertinya sejak tadi sudah menunggu untuk mendapatkan servis. Salsa mengerti apa yang diinginkan Decky, dia lalu menyambar batang kejantanan pemuda itu lalu dijilatinya penis yang bewarna coklat muda itu dengan sesekali lidahnya bermain diujung kemaluan Decky. Tak berapa lama kemudian, Salsa membuka mulutnya dan dengan lihainya gadis tersebut melakukan oral seks terhadap penis Decky. “Terus sayang…ahhh…” ucap Decky sambil meremas-remas payudara Salsa yang menggelantung kebawah karena gadis tersebut tengkurap saat melakukan oral dan Decky yang terlentang dengan mudahnya meremas-remas payudara gadis ini dan menusuk-nusukkan kedua jari tangannya kebibir vagina sang gadis.



Sesekali jemari lentik Salsa mengusap kantung zakar milik Decky dengan lembut dan meremas-remas lemah bahkan tak jarang pula jari tengahnya berputar-putar disekitar daerah anus Decky dengan sesekali menusuk-nusukkan kearah dalamnya. Decky benar-benar dibuat merem-melek dengan perlakuan Salsa yang spesial tersebut. Harus kuakui bahwa soal melakukan oral seks, Salsa jauh lebih lihai dibandingkan kekasihku. Dalam hitungan detik saja batang kejantanan Decky sudah basah oleh air liur Salsa bercampur dengan cairan yang keluar dari penis pemuda tersebut. “Sayang, aku udah nggak tahan nih. Masukin tongkolmu please.” Salsa duduk dan langsung menciumi bibir Decky dengan liarnya sementara Decky sendiri langsung membalikkan tubuh Salsa dan menindihnya. Dibukanya paha gadis manis ini dan terlihatlah sebuah liang senggama yang tadinya pernah dia jilati dan tusuk-tusuk dengan lidahnya. Tampak vagina itu sudah memerah dan sangatlah basah. Lalu sembari mengarahkan penisnya yang sudah sedari tadi mengacung keras, Decky menciumi payudara gadis cantik ini. “Sayang…aughhh…say…cepetan..” Salsa nampaknya sudah mencapai titik puncak gairahnya. Dari atas aku dapat melihat batang kejantanan Decky yang sedikit demi sedikit membelah bibir vagina Salsa dan kemudian pelan tapi pasti masuk kedalam liang senggama gadis tersebut. Dan akhirnya, “Blesshh…!” amblas semua penis tersebut kedalam liang kewanitaan Salsa. Diiringi dengan menggelinjannya Salsa, Decky menyodok-nyodokkan penisnya dengan perlahan dan disaat Decky mempercepat laju pompaan penisnya, Salsa mencengkeram bahu Decky dan kedua kakinya merangkul paha lelaki tersebut sambil memejamkan matanya. “Erghhh…Decky..sayang…achhh.” gadis ini mendesah sejadi-jadinya. Nampaknya Salsa sudah mencapai orgasmenya yang pertama.



Decky lalu mencium dalam-dalam bibir Salsa dan melanjutkan pompaannya, kali ini dengan tempo yang jauh lebih cepat. “Ohhh…say, memiawmu sempit sekali…enak…” Decky meracau tidak karuan sambil kembali memompa liang kewanitaan Salsa dengan cepat. Gadis cantik itu sudah lemas jadi hanya bisa mendesah ringan sambil sesekali tangannya mencengkeram lengan Decky. Disaat aku sedang asyiknya menonton peragaan blue film secara live show, tiba-tiba keluar perkataan dari mulut Salsa yang menyadarkanku. “Sayang, mbak Ani pasti sedang digarap oleh mas Kurnia yah.” Sembari tertawa kecil Decky kembali menyodokkan dalam-dalam penisnya keliang vagina gadis ini, “Ah, akhirnya kesampaian juga Kurnia ngentot ma cewek itu. Sejak kenalan 4 bulan yang lalu dia sudah ngincar tuh cewek. Katanya alim tapi kok menggairahkan, hahahah…Sialan!” umpatku dalam hati. Sadar bahwa diruangan sebelah terdapat tontonan serupa dengan pemain yang kukenal baik yaitu pacarku sendiri, maka aku beringsut dari tempat aku mengintip tadi dan merangkak pelan-pelan di internit atap dan tak lama kemudian aku segera melihat pemandangan yang sangat hot. Aku dapat melihat dengan jelas dari lubang kecil di internit bahwa disana kekasihku sedang berciuman dengan Kurnia. Anyssa bergumul dengan pemuda tersebut tanpa sehelai benangpun yang menempel ditubuh mereka. Kurnia sendiri menyibukkan dirinya dengan meremas-remas payudara Anyssa dan bongkahan pantat pacarku yang memang cukup seksi dan putih tersebut. Setelah keduanya berhenti berciuman dan posisi Kurnia tidak lagi menindih Anyssa baru aku tahu kalau ternyata batang kemaluan Kurnia telah melesak masuk kedalam liang kewanitaan pacarku. Terlihat jelas liang vagina Anyssa yang bewarna putih kemerahan itu telah tertembus penis Kurnia yang coklat kehitaman. Tak lama kemudian Kurnia mulai memompa pelan penisnya diliang vagina Anyssa sembari kembali melakukan remasan-remasan di kedua payudara Anyssa ang nampak sudah mulai memerah. Kedua tungkai kaki Anyssa diletakkan oleh Kurnia diatas bahunya lalu kembali dia menindih Anyssa dan langsung melakukan sodokan tunggal dengan cepat dan dalam. Penetrasinya kali ini membuat Anyssa terkejut, “Achh..pelan-pelan say! Erghh…empfff…” belum sampai Ani berbicara lagi, mulutnya sudah disumpal oleh ciuman Kurnia. Kali ini bisa terlihat proses persenggamaan yang tadi halus sekarang berubah menjadi sedikit brutal. Nampak disitu Kurnia sudah lebih mirip memperkosa kekasihku dari pada bercinta. “Ohhh..memiawmu putih dan sempit yah Nis. tongkolku jadi kayak diremas-remas gini, enak banget Nis.” Kurnia menggoda Anyssa sembari sesekali melepaskan batang kejantanannya dari vagina Anyssa lalu mengosok-gosokkan di bibir vagina Anyssa yang sudah basah kuyup itu dan terlihat klitorisnya ikut bergesekan dengan penis Kurnia. “Akhhh…sayang…jangan..gituin aku! Aku nggak tahan…sayangggg…” Anyssa tampak memgigit bibir bawahnya dan kedua tungkai kakinya seolah berontak dan tangannya meremas sprei yang sudah acak-acakkan tersebut. Aku paham betul itu tandanya Anyssa sedang mncapai orgasmenya, walaupun kali ini dengan gesekan pada klitorisnya dan posisi penis lawan mainya sedang ada diluar. sebuah sensasi baru baginya, pikirku.



Kurnia hanya tersenyum melihat Anyssa telah mencapai klimaksnya, lalu dia kembali menyodokkan batang penisnya yang berurat itu melesak masuk kembali kedalam vagina pacarku. “Ternyata alim diluar tapi kalo didalam kamar kamu benar-benar sensual Nis.” Kurnia menggoda kekasihku dan saat Anyssa yang sudah lemas itu akan protes, Kurnia langsung menyodokkan penisnya dengan cepat dan sedalam-dalamnya sehingga protespun tak jadi dan yang keluar hanyalah desahan nikmat bercampur rasa sakit dari mulut Anyssa. “Akhhh…jahat kamu Kur, ackkhhh…tongkolmu brutal banget sih. Vaginaku isa rusak ntar…akhhh…” Anyssa mendesah lagi dengan sisa tenaganya. Kurnia membalik tubuh Anyssa sehingga menjadi gaya doggy style dan kali ini dengan kecepatan tinggi pula dia memompa laing senggama kekasihku tersebut. “Santai aja Nis. memiaw punyamu legit kok, walau udah dicobain Kontol puluhan orang juga ga bakalan kadaluarsa…heheheh..” oloknya lagi. Saat melihat pemandangan mesum didepanku itu aku menjadi marah namun terdapat rasa senang dan aku menemukan sensasi tersendiri saat melihat vagina Anyssa digarap habis-habisan oleh Kurnia. Penisku yang tadi sudah mulai lemas telah kembali tegak berdiri melihat pertunjukan persenggamaan antara pacarku dengan selingkuhannya itu. “Nis, aku mau keluar nih. Keluarin didalam yah?” pinta Kurnia pada Anyssa. Pacarku langsung membelalak, “Jangan…aku lagi subur, ntar hamil.” Tapi nampaknya sudah telambat karena tepat dengan berakhirnya kata-kata Anyssa, Kurnia merangkul Anyssa dari belakang dalam posisi doggy style dan nampak pinggulnya mengejang setelah menyodok dengan kerasnya, pemuda itu telah mencapai orgasmenya. “Sayang…”Anyssa tak sanggup lagi melanjutkan kata-katanya dan ambruk bersamaan dengan tubuh Kurnia yang menindih punggunnya. Sembari melakukan sodokan-sodokan kecil, Kurnia perlahan mencabut penisnya dari vagina Anyssa dan selang beberapa saat ketika Anyssa mulai telentang, terlihat cairan putih kental yang sangat banyak mulai mengalir sedikit demi sedikit dari dalam vaginanya mengalir keluar dan membasahi sprei warna putih tersebut. Nampaknya saat Kurnia berejakulasi didalam rahim Anyssa, spermanya cukup banyak sampai-sampai liang vagina pacarku itu tidak kuasa menampung semuanya. “Gimana sayang? Puas khan ngentot ma aku?” Kurnia tersenyum dan mencium bibir Anyssa. Keduanya lalu rebah bersama dan saling memeluk.



Aku beranjak dari tempat itu, walaupun sempat terpeleset dan membuat sedikit bunyi gaduh namun baik Kurnia mapun Anyssa menganggap bahwa yang diatas internit hanyalah tikus, aman. Diruangan lain aku melihat sepasang muda-mudi yang lain yang cukup kukenal juga, yaitu Nora Indriati yang merupakan keponakan dari salah satu dekan di universitas tempat Ani dan Salsa kuliah. Wow, nampaknya kedua orang ini tak kalah serunya. Aku sempat melihat babak terakhir persetubuhan mereka dimana Nora dengan posisi woman on top sedang menunggangi tubuh pacarnya yang sedang terlentang. Goyangan demi goyangan pinggul Nora menciptakan suara kecipak basah yang terdengan seperti suara tepuk tangan pelan. Namun sayang, 2 menit kemudian sang pria sudah mencapai kepuasan dan menyemburkan air maninya kedalam vagina Nora. Nampaknya Nora yang saat itu belum mencapai klimaknya hanya bisa bersungut-sungut ketika melihat penis pacarnya sudah mengecil lemas. Aku menahan tawa geliku saat melihat Nora beranjak pergi sambil membenahi pakaiannya karena sebal dengan stamina cowoknya, sementara itu sang pria sendiri masih lemas tak berdaya.


Karena Nora nongkrong diluar villa dan tepat dijalan masukku ke atap maka aku urungkan niatku yang akan pergi keluar sore itu. Aku kembali menyusuri kolong atap dan menemukan ruangan semacam dapur dan kulihat Kurnia dan Salsa disitu. Yang menarik perhatianku adalah Kurnia sedang telanjang bulat sementara Salsa hanya menutupi tubuhnya dengan handuk kecil. “Gimana acara mesumnya? Pasti mbak Ani kamu buat klepek-klepek.” Salsa menyidir Kurnia dan dengan santainya hanya dijawab dengan senyuman oleh Kurnia. Salsa kembali merajuk, “Cerita dong, ngapain aja didalam. Emang kamu serius ma mbak Ani?” Salsa kembali bertanya. Sambil mematikan rokoknya, Kurnia menjawab, “Kalo aku sendiri sih cuman pengin ngentotin dia aja. Sejak pertama kali ketemu 4 bulan yang lalu dan punya angan-angan buat make love ma dia. Soalnya bocahnya keliatan alim, tapi ternyata hot juga di ranjang. Disuruh ngulum tongkolkupun juga mau kok. Kalo dia mau jalan ma aku secara backstreet-an aku mau-mau aja, itung-itung isa ngentot gratis. Tapi kalo dia nggak mau juga nggak apa-apa, toh udah dapet barusan. Pokoknya malam ini mau kubuat Anyssa klepek-klepek sampai nggak bisa jalan lurus lagi besoknya.” Kurnia tertawa-tawa yang diikuti dengan tawa Salsa. Saat itulah handuk Salsa melorot, gadis itu mencoba untuk menangkap handuknya yang jatuh namun apa daya, buah dadanya sudah terpampang jelas didepan Kurnia. Tak berapa lama kemudian, terlihat batang kemaluan Kurnia sudah kembali mengeras dan mengacung. Salsa terpekik kaget, namun belum sempat dia bicara mulutnya sudah keburu dicium oleh Kurnia dan payudaranyapun sudah dalam genggaman tangan Kurnia. Hilang sudah handuknya yang tadi dia gunakan untuk menutupi auratnya. “You harus tanggung jawab nih. memiaw kamu satu-satunya penyelesaian. Aku garap ya Sa?” kata Kurnia tapi sat Salsa akan menolakpun juga sudah tidak mungkin karena diapun sudah bernafsu karena sejak tadi sudah melihat penis Kurnia. Dibalikkannya tubuh Salsa hingga membelakangi tubuh Kurnia. Dibuatnya Ani menghadap kearah meja makan dan condong kedepan sementara dari belakang Kurnia membuat kedua kaki Salsa menjadi mengangkang lalu dengan sigap dia memasukkan penisnya kedalam vagina Salsa menerobos bibir kewanitaan gaids itu. “Kurnia! Apa-apaan sih! Ntar Decky tau bisa bahaya…Kur, ini aku…temenmu. Bukannya kamu sudah punya mbak Ani buat penyaluran.” Namun perkataan Salsa tidak digubris dan bahkan pompaan Kontol Kurnia diliang vagina Salsa semakin cepat dan menjadi-jadi. Sambil meremas-remas kedua payudara gadis ini yang menggantung bebas, dia menciumi punggung Salsa. “Akhhh…Sa, aku keluar nih.” Lalu tubuh Kurnia menegang dan menyemprotkan sisa sperma yang tadi belum sempat keluar saat bersenggama dengan Ani, kedalam vagina Salsa. Tak lama kemudian Decky datang dan menemukan Salsa sedang telanjang bulat begitupun dengan Kurnia, sementara dari selangkangan Salsa terlihat cairan putih kental dan bisa dipastikan oleh Decky bahwa sperma itu bukan miliknya karena Salsa sudah mandi barusan. Lalu dimulailah pertengkaran antar Decky dengan Kurnia. Hal tersebut membuat heboh seisi villa dan ini kesempatan buatku untuk kabur. Nora sudah masuk kedalam untuk melihat apa yang sedang terjadi dan pintu keluarpun terpampang jelas. Aku lalu kembali ke Jogja bersama kenangan bahwa Anyssa ternyata sudah tidak seperti dulu lagi yang polos, Anyssa sudah berubah menjadi gadis yang liar dan berani berselingkuh dibelakangku. Setidaknya aku tidak pulang dengan tangan kosong karena aku membawa rekaman didalam kamera digital 12 mega pixel yang kemana-mana selalu kubawa dan terbukti bermanfaat. Inilah senjataku untuk mengendalikan gadis-gadis itu nantinya.



BERSAMBUNG....


Mohon maaf masta, terpaksa Nubie harus sambung lagi lain waktu... ;)
Mohon para masta bersabar, dan mohon dukungannya agar dapat selalu menghibur masta masta di forum semprot tercinta ini.
Nubitol untuk sementara undur diri...
:ampun: :ampun: :ampun:


#NB: tidak menerima commentar yg sok paling ok ente punya Thread.
jika tidak senang dengan Thread ane,silahkan capcus ke toko sebelah
hanya menerima comment yg bermutu,kasih thanks atau kirim
ijo - ijo
 

velkrasnyyvet

Dreamer
UG-FR+
Thread Starter
Daftar
1 Feb 2011
Post
1.918
Like diterima
1.090
Lokasi
Outside The Box
Lanjutan...

Chapter 9​
PART ONE​


Namanya Jonathan Bramantya, panggilannya di kampus Jo sedangkan keluarga dan saudaranya biasa memanggilnya San San (mungkin nama aslinya, soalnya dia keturunan Chinesse). Seorang yang sangat borju menurut penilaian anak-anak kost ditempatku. Dia barusan masuk kelingkungan kost kami. Dalam hitungan hari saja sudah bisa bergaul dengan akrab dengan seluruh anak kost, maklum tiap kali dia datang selalu bawa cemilan banyak jadi mau tidak mau kami menyambutnya dengan hangat meskipun tak jarang yang kami sambut sebenarnya cemilannya. Berkulit putih (iyalah…) rambut nyaris botak karena habis di plonco di kampusnya dan agak gemuk, untuk tinggi yah seukurankulah sekitar 177 cm. Tapi yang menonjol dari dirinya selain kekayaannya adalah sifatnya yang sok pamer. Tak jarang kami anak-anak kost yang lain dibuat keki oleh sikapnya yang cenderung menganggap dirinya serba bisa.

Sekitar 1 bulan setelah dia tinggal di kost kami, Jo datang kekamarku. Dia memang paling akrab denganku karena akulah yang paling setia mendengarkan bualan-bualannya tentang kekayaan dan apapun yang dia ceritakan walau tak pernah kuperhatikan sama sekali. “Bos, how are you my friend?” seperti biasa Jo menyapaku dengan bahasa inggris segala. “Apaan?” aku asal-asalan saja menjawabnya dan ternyata dia mengajakku untuk pergi nanti malam dengan mobilnya. “Mau kemana emang?” tanyaku penuh selidik. Dengan santai Jo hanya menjawab, “Ntar juga tau bos. Nyantai aja, dijamin asik. Jo gitu lho.” Lalu dia beranjak pergi sambil membawa sebungkus coklat dari kamarku. “Hoi coklat ku…” teriakku tapi dia sudah menghilang. “Sialan! Kaya-kaya kok clutak (rakus-bahasa Jawa;red)” umpatku dalam hati

Sekitar jam 7 malam kami akhirnya jadi pergi juga ketempat yang ditunjuk Jo waktu dijalan. “Kamu yakin ini tempatnya?” tanyaku padanya. Jo menjawab ringan, “Bener kok. Emang disini, asyik khan?”
“Setan! Asyik gundulmu (kepalamu-bahasa Jawa;red) ini khan kost-kostan cewek.” Umpatku kesal. Jo hanya tertawa dan ternyata aku hanya dijadikan sopir baginya karena SIM A nya sedang bermasalah. “Tenang bos! Ntar gua kenalin cewek cantik.” Timpalnya padaku. Dan benar saja, selang beberapa menit kemudian muncullah dua orang cewek cantik. Salah satunya adalah kekasih Jo yang bernama Zara, sementara temannya bernama Anggie. Zara ini berpostur cukup tinggi, tinggi badannya setinggi telingaku sementara badan luar biasa seksi dan padat, maklum hobinya renang. Sementara itu Anggie merupakan cewk yang tidak terlalu tinggi tetapi yang membuatku kagum adalah caranya berpakaian sangatlah seksi. Malam itu Anggie menggunakan tank top warna pink tanpa jacket dan rok mini warna putih bergaris merah muda. Saat kami berempat bercakap-cakap sesekali aku melirik kearah belahan dada Anggie dan nampaknya Jo sudah menyadarinya dan hanya berdehem pelan untuk menyadarkanku.

Kami akhirnya memboyong dua gadis itu kesebuah tempat karaoke dipusat kota. Sembari bernyanyi-nyanyi aku sesekali melirik Jo yang kelakuannya sudah mulai nakal. Tangannya sedari tadi sudah tidak bisa diam dan bermain-main didalam baju Zara. Zara sendiri rikuh karena sesekali payudaranya yang masih tertutup bra warna hitam itu terpampang karena tangan Jo menyingkap kaus tanpa lengannya secara tak sengaja. Namun apa daya tangan nakal Jo sudah menjadi-jadi apalagi ketika mereka mulai berciuman dengan dahsyatnya. “Jo…udah! Ada mas Adi disini, nggak enak.” Zara menukas Jo tapi kekasihnya itu tetap saja melanjutkan foreplaynya bahkan dengan berani dia membuka paksa kaus Zara, “Tenang aja Ra. Mas Adi sudah sangat berpengalaman dibidang ini kok. Heheheh…” sahut Jo sambil terkekeh.
Dalam hitungan menit seluruh baju kedua muda mudi itu sudah terlucuti. Aku dapat melihat payudara putih Zara yang ukurannya 34A itu dengan leluasa walaupun lampu dikamar karaoke ini remang-remang. Bagian vagina Zara tertutupi bulu lembut yang masih jarang, dan jelas sudah basah oleh cairan
kewanitaan. Sembari berciuman, Zara mengocok penis kekasihnya itu sampai menegang. Ternyata diluar dugaanku, Jo orang yang sangat percaya diri sekali itu hanya mempunyai penis yang kecil. Astaga, pikirku. Penis milik Catur saja masih lebih besar dari ini, ini sih paling-paling sepuluh cm saja. Sementara itu Anggie yang dari tadi terpana akhirnya sadar juga ketika tiba-tiba aku mencium bibirnya. Gadis yang tadinya melawan ini lambat laun juga membalas ciumanku, nampaknya dia juga sudah terangsang oleh tingkah laku dua temannya itu. Bibir mungil Anggie nampaknya sudah mempunyai jam terbang tinggi, permainan lidahnya benar-benar membuatku semakin terbang dan jujur saja aku akui kalau tehnik ciumannya memang berada diatasku.

Sembari berpagutan dengan Anggie, aku mulai menyusupkan tanganku kedalam kaus dan bra milik gadis ini dan dalam hitungan menit nampaknya Anggie sudah terangsang sekali dan tidak peduli lagi dengan sekitarnya. Langsung saja dia buka kaus dan bra nya dan dibuang begitu saja kelantai sementara itu aku dengan sigap membuka seluruh pakaianku kecuali celana dalamku. Sembari meremas-remas payudaranya, aku sesekali memberikan ciuman dan kuluman kearah payudara Anggie. Tanganku yang bebas bergerak segera kususupkan langsung kedalam rok mininya dan jemariku langsung dapat menemukan liang kemaluan gadis cantik ini. Vagina Anggie sudah basah dan ternyata tercukur bersih tanpa bulu, berbeda dengan milik Zara. Beberapa saat kemudian berkat kelihaian tangankupun celana dalam Anggie lolos dan terlempar kelantai namun rok mini jeans masih dia pakai.
“Akhh…terus sayang…jangan malu-malu. Sedotan loe emang…paten abis..ohhh” suara tersebut membuatku berpaling dan kulihat Zara sedang melakukan oral seks dengan Jo. Dikulumnya penis Jo dan dikocoknya dengan perlahan menggunakan mulutnya. Pemandangan ini benar-benar luar biasa, seorang gadis secantik Zara mau mengulum penis seorang pria dan dilakukannya dengan cukup liar. Tak beberapa lama kemudian Jo menegang dan memuntahkan cairan spermanya kearah payudara Zara yang putih mulus itu. “Sayang…akhhh…” lenguhan Jo bercampur dengan suara desahan Anggie yang saat itu sudah dalam kondisi persengamaan denganku. Penisku sudah mulai menggenjot vagina gadis cantik ini dengan cepat. Zara berpaling kearah kami dan terkejut. Walaupun dalam kondisi remang-remang, tapi dengan jarak sedekat itu dia bisa melihat dengan cukup jelas vagina temannya tersebut sedang dibombardir dengan sodokan-sodokan batang kejantanan milikku. Entah bagian mana yang membuatnya tertegun tapi yang jelas setiap kali aku melakukan pompaan terhadap Anggie, Zara serasa enggan untuk mengalihkan penglihatannya dari liang kemaluan temannya tersebut.

“Okhhh…terus mas..! Lebih keras lagi mas…!” Anggie nampaknya sudah hilang akal karena minuman keras tadi. Padahal sodokan penisku sudah terbilang brutal, karena biasanya aku tidak berani melakukannya kepada gadis-gadis lain karena pasti mereka mengeluh sakit, tapi Anggie beda, dia malah ingin lebih keras lagi. Aku lalu memindahkan posisiku agak keatas dan sembari aku kaitkan tungkai kaki Anggie kebahuku, aku mengambil nafas panjang dan lalu kuberikan sodokan terkerasku nan cepat yang membuat Anggie terpekik keras. Sodokan-sodokan berikutnya menjadi sebuah hardcore session karena terus terang saja aku baru pertama kali ini melakukan percintaan sebrutal ini. Namun jujur dalam hati aku sangat menikmatinya dan nampaknya Anggiepun menikmati hal ini juga. Terbukti dari desahan-desahannya tiap kali tongkolku menyeruak masuk dan mengobrak-abrik vaginanya. “Akhh…terus mas! Anggie suka kontol punya mas Adi…akhh…” Anggie terus berceloteh.

Selang beberapa menit kemudian aku merasakan otot-otot vagina Anggie mulai menegang dan seolah mengikat batang kemaluanku. Dia telah mencapai orgasmenya, pikirku. Aku perlahankan genjotanku untuk memberikan dia peluang menikmati kepuasannya. Lalu kemudian aku kembai menghajar liang vagina gadis ini meskipun empunya telah lemas. Hanya beberapa saat kemudian aku merasakan penisku berdenyut-denyut dan, “Crott…crott…crottt…crottt…” menyemburlah cairan putih kental dari ujung penisku membasahi liang senggama gadis itu. “Anggie…aku keluar..” ucapku seraya menciumnya dalam-dalam dan diapun membalasnya dengan tak kalah mesranya, sementara itu tubuh kami saling merangkul erat terutama Anggie seolah-olah tak rela jika aku mencabut batang kejantananku dari vaginanya.
Tak selang berapa lama kemudian kami berdua terkulai lemas dengan kondisi bugil total sementara Anggie masih mengenakan rok mininya. Terlihat air maniku mulai menetes dari kemaluan Anggie yang memerah itu. “Mas Adi hebat yah. Kedua pararku aja cuman isa muasin diri sendiri, kalah jauh sama mas Adi.” Ucap Anggie disertai gelak tawa ringan. Dia menawariku untuk menjadi pacarnya yang itu berarti dia akan punya 3 pacar sekaligus, namun aku menolaknya karena aku sedang berhubungan dengan seseorang. Tapi aku menawarkan jika dia butuh kepuasan dan kebetulan aku lagi longgar, aku akan memberikan service terbaikku padanya dan diapun setuju.

Aku kembali menoleh kepada pasangan Jo. Pemuda itu malah lemas lunglai dan setengah ngantuk sementara Zara terduduk lemas, nampaknya barusan Jo memberikan mansturbasi pada Zara melalui remasan di payudara dan jilatan pada klitoris gadis ini. “Kenapa nggak ngent*tan aja sekalian? Nanggung khan.” Kataku kepada Jo. Jo hanya tersenyum saja tak menjawab. Pada saat pulang baru aku diberitahu olehnya bahwa Zara masih perawan dan belum berani melakukannya. Setiap kali Jo memaksanya hasil akhirnya adalah berantem terus dan Zara mengancam untuk putus. Aku maklum kalau Jo hanya bisa mengalah karena Zara adalah gadis cantik yang lain dari yang lain, bisa dibilang kalau pandai membawa diri seperti Ranti, gadis yang pernah aku kenal di Bali. Jo sengaja mempertontonkan live show antara aku dengan Anggie hanya untuk memancing gairah Zara dengan harapan Zara mau dia setubuhi diruangan itu nantinya. Namun gagal total gara-gara Zara malah termangu melihat penisku yang jauh lebih besar dari pada Jo. Bahkan menurut pengakuan Jo, Zara disaat diantar kekost-nya sempat tanya kepadanya mengenai kehidupan seksku dan cara agar mempunyai penis sebesar itu. Malam itu aku pulang dengan senyum namun Jo pulang dengan kejengkelan akibat nafsu yang tertunda.




Anyssa yang Ternoda​



Tiga hari sudah setelah aku memadu cinta dengan Anggie. Pagi itu tiba-tiba HP ku berbunyi dan ternyata nomor Anggie. Dia mengajak untuk ketemuan di kafe dekat kampusnya. Aku bergegas dan menemuinya disana.“Halo mas Adi. Dah nggak lemes lagi?” candanya kemudian kami berdua tergelak dalam tawa. “Wah ada apa nih? Tumben ada cewek manggil aku pagi-pagi.” Tanyaku penuh selidik.
Anggie tersenyum dan seorang waitress menghampiriku untuk memberikan daftar menu. Setelah aku memesan, kembali aku bertanya pada Anggie, “Nah sekarang ada apa Gie?” tanyaku lagi. Gadis ini hanya tersenyum dan setelah agak lama dia baru mengatakan maksud tujuannya memanggilku kemari. Anggie ternyata tak bisa melupakan kejadian di ruang karaoke tersebut dan menginginkannya lagi. Dia juga mengatakan kalau selama ini baru akulah yang dapat membuatnya orgasme. Setelah ngobrol kesana kemari akhirnya aku bercerita kalau saat ini aku sedang dirundung masalah. Aku menceritakan mengenai penyelewengan pacarku Anyssa sebanyak dua kali (yang aku tahu) dan bingung apakah harus melanjutkan hubungan dengannya atau tidak. Aku juga tidak segan-segan menceritakan mengenai masa lalu hubungan kami yang bisa dibilang tidak lazim karena kami setidaknya sudah dua kali melakukan swing partner. Namun diluar dugaan Anggie menanggapinya dengan serius dan diapun memahami apa yang kurasakan.

“Aku punya ide nih. Tapi nggak tau mas Adi suka atau tidak. Tapi sebelumnya aku mau tanya apakah mas Adi emang berniat menjadikan pacar sekarang menjadi istri?” tanya Anggie penasaran. Aku memandangnya dan menjawab, “Aku juga nggak tahu nih, aku inginnya dia jadi pacarku karena dah cukup lama juga kami berhubungan tetapi nasi sudah menjadi bubur gini, aku juga malas kalau dia ngentot ma cowok lain dibelakangku terus. ”Anggie tersenyum, “Hahaha…dasar cowok. Bukannya mas Adi juga sering ngentot ma cewek lain selama ini? Aku aja nggak dikasih ampun kemaren..hehehe…” Aku hanya bisa tersenyum saja, karena memang benar kalau akupun tak jauh beda engan Anyssa tapi persetanlah. Anggie lalu melanjutkan, “OK kalau gitu. Anggie punya usul nih. Gimana kalau mas Adi bawa rekaman itu dan menunjukkannya kepada Anyssa terus mas Adi tuntut dia untuk melakukan apa yang mas Adi mau. Itung-itung balas dendam gitu. Pernah nggak pengin bercinta dengan kakak beradik sekaligus? Katanya yang adiknya, si Lina lebih cantik.”

Kata-kata Anggie seperti petir yang menyambar kepalaku dan membakar otakku luar dalam. “Boleh juga usulmu. Tapi Lina mana mau bercinta denganku didepan kakaknya?” lanjutku lagi. Anggie hanya tersenyum, “Itulah masalahnya…heheheh.”Tapi setelah kupikir-pikir aku jadi ingat kembali kalau Lina pernah mengatakan kalau dia pernah menyukaiku sebelum aku jadian dengan kakaknya. So…what the hell lah. Setelah aku selesai ngobrol-ngobrol dengan Anggie aku lalu pergi menelepon Anyssa dan mengajaknya ketemuan dikostku. Anyssa terkesiap ketika aku menunjukkan rekaman ketika dia bercinta dengan Edwin di kamar kostnya dan Kurnia waktu di villa. Lalu sambil sesenggukan menangis dia berkata bahwa hubungannya dengan Kurnia sudah berakhir ketika dia ribut dengan Decky karena telah bercinta dengan Salsa di villa tempo hari itu. Bahkan Anyssa juga berkata sembari memohon kalau dia akan melakukan apapun agar aku tidak memutuskannya.

“Bagaimana jika aku ingin kamu melayani aku dengan seorang cewek satu lagi?” tanyaku kepadanya dan Ani pun menyanggupinya. “Tetapi siapa ceweknya?” Anyssa bertanya kepadaku penasaran. Aku hanya tersenyum dan mengatakan kalau cewek kedua itu adalah adik kandungnya sendiri, Lina. Ani terkejut dan sempat marah kepadaku namun berangsur hilang emosinya ketika aku menceritakan bahwa aku pernah bercinta dengan adiknya sebanyak dua kali. Dengan berat hati Ani menyanggupi permintaanku.
Pada hari yang ditentukan aku menyewa hotel di Malioboro street (ceile…pake street segala..) yang dulu sempat terbelah dua gara-gara gempa. Dengan kamar kedap suara ukuran superior inilah aku akan bercinta seharian dengan dua dara cantik kakak beradik. Lina semula menolak tetapi aku rayu-rayu akhirnya mau juga datang. Nampaknya dia masih menyimpan rasa cintanya kepadaku.

Sekitar jam 4 sore Lina datang dan aku bersama Ani sudah menunggunya. Kami lalu langsung mandi bersama. Aku bisa melihat kerikuhan dimata kedua gadis ini ketika mencopot pakaiannya satu demi satu hingga bugil total. Payudara Ani dan Lina nampak begitu kontras dalam bentuk namun keduanya sama-sama menggemaskan. Sambil mandi dengan shower aku memeluk mereka berdua dan menciumi bibir mereka satu demi satu bergantian. Sambil saling menyabuni satu sama lain kami juga tak lupa untuk saling meraba-raba. Aku merekasan tangan mungil Lina menemukan penisku dan mulai mengocoknya perlahan. Tak lama kemudian Ani membungkuk dan membuka mulutnya mengoral penisku dengan tangan kanannya disentuhkan ke bibir vagina Lina, adiknya. Sesekali Ani menusuk-nusukkan jari telunjuk dan jari tengahnya kedalam liang senggama Ani dan merangsang klitoris gadis SMU ini.

Mendapat perlakuan seperti itu Lina mulai melenguh, mendesah sejadi-jadinya apalagi payudaranya sedang aku remas dan pilin dengan kedua tanganku sementara lehernya aku ciumi habis habisan.
Selesai dengan foreplay dikamar mandi selama 15 menitan itu kami bertiga mengeringkan diri dan beranjak ketempat tidur besar. Aku mulai menciumi Ani yang dalam posisi terlentang sementara Lina gantian merangsang kakaknya dengan meremas payudara kakaknya dan menciumi sembari menyedot payudara kakaknya seperti yang kusuruh. “Akhh…Lin, udah! Aku mau meledak nih rasanya…akhhh.” Ani mulai meracau ketika jemari lentik Lina juga bermain di liang senggamanya sementara itu aku menciumi leher Ani sembari meremas payudara Lina yang menggantung bebas. “Mas Adi, siapa yang duluan?” Lina nampaknya sudah sangat terangsang mengingat forplay di kamar mandi barusan cukup lama sementara vagina kedua gadis ini sudah basah kuyup.

Aku terus menyuruh Lina tengkurap diatas tubuh kakaknya dan berciuman dengan kakaknya sementara vagina kedua gadis ini seperti berpepetan satu dengan satunya. Sebelumnya kedua gadis ini merasa risih untuk berciuman namun lambat laun mereka mulai mengabaikan rasa itu. “Dari pada satu-satu mending dua-duanya sekalian ya?” kataku pada kedua kakak beradik ini. Tanpa menunggu aba-aba batang kejantananku yang sudah menegang dari tadi langsung menyeruak membuka bibir vagina Lina yang dalam posisi tengkurap diatas tubuh Anyssa yang terlentang. Dalam hitungan etik seluruh penisku sudah masuk kedalam vagina Lina dan disertai dengan sodokan kecil.

“Akhh…” Lina tersentak dan mengerang kecil namun kembali dia mnciumi bibir dan leher kakaknya sambil dengan satu tangan meremas payudara Ani. Aku mulai melakukan sodokan-sodokan perlahan namun dalam. Dalam posisi ini aku dapat melihat tiap kali aku menusukkan panisku kadalam vagina Lina, vagina Ani yang suda membuka kecil nampak berkedut kencang dan ikut bergoyang, mungkin karema ada bagian bibir vagina Ani yang terstimuli oleh gesekan dari buah zakarku (kantung pelir…atau apa ajalah namanya).“Ohhh…kalian benar-benar seksi sekali. Lina aku agak keras yah mompanya?”
kataku pada Lina. Dia menjawab sembari mendesah tak karuan, “Mfhh…akhh…iya deh terserah mas Adi. Yang keras juga nggak papa kok.” Katanya sambil setengah menengadah seperti sedang terbuai dengan pompaan didalam vaginanya. “Di! Jangan keras-keras! Kasihan dia ntar. tongkolmu khan gede, kalau memiaw adikku rusak gimana coba?” kata Ani protes namun segera dia ketika aku mencabut batang kemaluanku dari vagina Lina dan aku masukkan dengan cepat kedalam liang kewanitaan Anyssa desilingi dengan erangan Ani. “Akhh…sakit..akhh…” erangan sakit itu hanya bertahan beberapa detik, selang beberapa lama kemudian desangan kenikmatanlah yang berkuasa. Sembari aku meremas payudara Lina dan Ani bergantian dari belakang, aku mempercepat intensitas sodokan penisku keliang kenikmatan mereka berdua bergantian.

Selang lima belas menitan kami dalam posisi ini nampaknya Ani sudah akan mencapai klimaks keduanya (yang pertama dikamar mandi waktu foreplay). Akupun lalu mempercepat goyanganku di vaginanya dan begitu dia mencapai klimaknya aku menusukkan sedalam-dalamnya batang kejantananku kedalam vaginanya dam mendiamkannya disitu untuk memberikan kesempatan Ani mencapai orgasmenya. “Di…aku keluar..akhh…Adi…akhh…” desahan kenikmatan itu cukup keras, untungnya kamar ini kedap suara. Spermakupun juga keluar ketika aku melakukan tusukan final itu karena sebenarnya aku sudah menahannya dari tadi. Cairan putih kental itu menyemprot di rahim Anyssa yang lalu aku cabut penisku dan aku masukkan kedalam vagina Lina dan menyemprotkan sisanya kedalam liang kewanitaan Lina.
“Akhhh…mas Adi..” Lina ambruk menindih tubuh kakaknya dan aku dapat melihat dari kedua bibir vagina baik dari Lina maupun Anyssa menetes cairan putih kental. Aku lalu merengkuh tubuh Lina dan mengajaknya bergeser kesisi tempat tidur yang lain agar Ani dapat beristirahat sebentar. Lalu dengan posisi Women in Top aku kembali bercinta dengan Lina. “Sekarang kamu diatas yah Lin. Kamu yang entotin kakak.” Kataku padanya. Wajah Lina agak merah mungkin ada rasa malu disana selain terangsang karena dia sudah berlaku begitu binal kepada kekasih kakak kandungnya dan didepan kakaknya pula. Ani yang masih lemas menoleh dan melihat bagaimana Lina, adiknya menindih tubuhku dan selangkangannya menggilas penisku tak bersisa hingga masuk kedalam semuanya dan terkadang memompanya dengan posisi vertikal yang membuat batang kejantananku berdenyut kencang lagi. “Lina, ternyata kamu bisa sebinal itu yah?” sindir Ani namun tak digubris oleh Lina, “Biarin aja, memiawku kata mas Adi lebih sempit kok.” Balas Lina kepada kakaknya. Aku bisa melihat kecemburuan Ani kepada adiknya.
Lina lalu mencium bibirku dan meningkatkan genjotan vaginanya lebih liar lagi. Luar biasa, setelah orgasme di kamar mandi tadi dia masih punya kekuatan untuk bercinta selama ini. Tak berapa lama kemudian Lina terbelalak dan mengerang kesakitan. Ternyata Anyssa menusukkan dildo bergerigi yang dapat digunakan di pinggang seperti sabuk biasa. Sambil menyalakan dildo tersebut hingga berputar-putar, Anyssa juga melumurinya dengan lotion pelicin. Dengan desakan pinggul Anyssa, dia menusukkan dildo itu kedalam liang anus adiknya, Lina.

“Sakittt…mbak Ani…sakittt..” teriak Lina namun segera kubungkam dengan ciuman dahsyat dibibirnya. Dalam hati aku juga ingin tahu rasanya bagaimana bercinta dengan formasi seperti ini. Karena sudah dilumuri lotion pelicin, maka dildo getar bergerigi tersebut dapat dengan cepat masuk kedalam liang anus Lina lalu Anyssa menyodokkannya pelan-pelan. “Gimana? Enak? Adi yang rencanain ini bukan aku. Kalau mau marah ma dia saja sana.” Goda Anyssa, nampaknya ada rasa jengkel kepada adiknya satu ini karena telah ngentot dengan pacarnya, buktinya selang beberapa lama kemudian Ani mulai mempercepat sodokan-sodokan dildo tersebut dengan sedikit brutal juga. Anyssa berubah bernafsu kepada adiknya seperti pria saja mengingat ada dildo yang menggantung di selangkangannya. Mungkin karena sudah lelah, Lina hanya dapat menerima saja perlakuan seperti ini dan Lina hanya bisa menikmatinya. Sekitar lima menit kemudian Lina mencengkeram rambutku dan mendesah keras, ini adalah tanda dia sudah mencapai orgasmenya. Sambil berhenti bergoyang sejenak Lina memelukku erat-erat sementara Anyssa juga menghentikan sodokannya dan melepaskan dildo tersebut dari sabuknya sehingga dibiarkan menancap di liang anus Lina.

Setelah Lina selesai dengan orgasmenya, aku mencabut penisku dan kusuruh kedua gadis ini untuk mengoralnya bersamaan dan hanya tiga menitan sebelum dari batang kemaluanku menyemburkan cairan sperma kental kearah bibir dan muka kedua gadis ini. Wajah, bibir, leher dan dada juga perut Lina dan Anyssa berlumuran spermaku. Hari itu setidaknya kami melakukan threesome sebanyak 3 kali hingga tengah malam, paginya Lina kembali untuk sekolah sementara aku dan Lina ada jadwal kuliah siangnya jadi tidak sempat bercinta lagi pagi harinya. Kupikir ini adalah akhir dari hubunganku dengan kedua gadis ini namun ternyata ini adalah sebuah awal yang baru dalam hubungan percintaanku yang kali ini dengan kakak beradik sekaligus.

BERSAMBUNG....


Mohon maaf masta, terpaksa Nubie harus sambung lagi lain waktu... ;)
Mohon para masta bersabar, dan mohon dukungannya agar dapat selalu menghibur masta masta di forum semprot tercinta ini.
Nubitol untuk sementara undur diri...
:ampun: :ampun: :ampun:


#NB: tidak menerima commentar yg sok paling ok ente punya Thread.
jika tidak senang dengan Thread ane,silahkan capcus ke toko sebelah
hanya menerima comment yg bermutu,kasih thanks atau kirim
ijo - ijo
Chapter 9​
PART TWO​



Menjadi Kameraman Semalam​


Masih ingat dengan Sammy? Yup, teman lamaku yang berpacaran dengan gadis bernama Riska dan kami pernah melakukan swinger berempat. Kali ini dia datang lagi ke kost ku tetapi sendirian. Awalnya dia hanya mengajakku nongkrong di kafe dekat kampus sembari ngobrol ringan tetapi setelah berlama-lama dia akhirnya mengutarakan maksudnya menemuiku. Ternyata dia ingin aku merekam dan mengabadikan adegan percintaannya dengan Riska. Yang lebih gilanya lagi dia ingin melakukannya dengan tambahan satu perempuan lagi. “Terus gua dapat apaan?” tanyaku bercanda kepadanya. Dan jawabannya ternyata membuatku tambah semangat lagi, “Aku kasih tubuh Riska deh buat kamu semalam. Tapi hutangku waktu itu dianggap lunas yah, hehehe.” Sammy ternyata punya akal-akalan bulus terhadap pacarnya dan kepadaku. Dia pernah meminjam uang sebesar 500ribu rupiah kepadaku untuk melunasi uang kuliahnya dan akupun tak segan untuk memberikannya karena dia sudah kuanggap seperti saudara sendiri lagipula juga sering aku minta tolong padanya jadi uang itu sebenarnya sudah aku hibahkan kepadanya dan bukan pinjaman tetapi nampaknya dia menganggapnya lain, yah tak apalah…toh aku gak rugi.

Sorenya aku dijemput oleh Sammy, ternyata Riska sudah menunggu dirumahnya di Magelang yang letaknya agak jauh juga dari kota tempatku tinggal. Riska ini anak orang kaya sehinga dia diberikan rumah sendiri di Magelang sementara orang tuanya berumah di kota Demak dan Semarang. Rumah yang tingkat dua ini bagian bawahnya biasa digunakan sebagai toko elektronik dan sebenarnya rumah ini jarang ditempati oleh Riska karena gadis ini kuliah di semarang sehingga di menempati salah satu rumah orang tuanya. Adapun toko tersebut sedang tutup sekarang karena hari minggu. Sebelum aku dan Sammy kerumah Riska, kami terlebih dulu pergi menjemput seseorang di Jogja yang ternyata gadis yang akan ditiduri Sammy nanti bersama Riska. Gadis ini bernama Evita Ratnasari yang biasa dipanggil Ratna, ternyata dia adalah gadis yang sering jadi bookingan ayah dari Riska dan Riska juga tahu hal itu makanya ini menjadi semacam balas dendam sang anak. Ratna ini cukup cantik walaupun tidak secantik Riska tetapi bodynya tinggi dan sangat aduhai, mirip peragawati. Saat aku tanya berapa ongkosnya, tebak saja sekali kencan 1 juta rupiah namun bagi Riska yang membayar, duit segitu dianggapnya kecil asalkan dapat membalas kelakuan ayahnya.

Akhirnya tiba juga kami di Magelang ditempat dimana Riska sudah menunggu kami. Di lantai dua aku masuk kedalam ruangan dimana Riska sudah menyiapkan segalanya. Ruangan besar dengan dikelilingi dinding warna kuning redup sementara atapnya separuh terbuat dari mika transparan yang dapat ditembus sinar matahari namun sangat kokoh. Terdapat dua kasur springbed tipis yang lebar diletakkan di lantai berkarpet. “Nah kalau begini khan tidak takut tentang pencahayaan lagi khan.” Kata Riska sambil menyalakan lampu neon kabut yang biasa digunakan untuk kemping digunung yang diambil dari tokonya.
Dengan tiga buah neon terang ditiap sudut ruangan membuat ruangan tersebut menjadi terang benderang. Sammy datang dan memeluk Riska lalu menciuminya dengan cukup bernafsu. Riska lalu berusaha melepaskan dirinya dari cengkeraman Sammy, “Ini khan belum saatnya mulai, kasihan Adi tuh. Apa dia nggak kepingin ntar heheheh… Suruh onani dulu aja biar nanti bisa menahan libidonya pas kita action.” Katanya kepada Sammy. Sammy hanya tertawa dan mengiyakan. “Sialan. Aku gak perlu pake gituan juga dapat menahan diri kok. Atau sini aku pelampiasannya kekamu aja Ris.” Balasku kepada mereka. “Wah nggak bisa dong, ntar dia lemas duluan. Bagian kamu ntar aja kalo udah jadi filmnya, OK.” Sammy mencegahku.

Riska lalu berganti pakaian dan kembali lagi dengan mengenakan daster warna silver satin yang tipis menerawang dan terlihat dari luar kalau dia tidak memakai bra. Sementara itu Ratna memakai tanktop dengan rok mini warna merah tua. Akhirnya adegan pertama dimulai ketika Sammy menciumi Riska dan Ratna bergantian. Satu demi satu pakaian Sammy dan Ratna dipreteli hingga mereka bugil total. Sementara itu Riska memelorotkan celana dalamnya tapi masih menggunakan daster silvernya. Terlihat payudara Ratna yang ranum itu sudah mencuat seolah menantang untuk diperlakukan lebih. Memang buah dada Ratna berbentuk lancip tapi besar ini benar-benar seksi jadi wajar saja kalau ayah Riska tergila-gila dengan gadis ini. Sambil mengarahkan handycam, aku mengintari ruang itu sehingga mendapatkan sudut pandang yang pas. Ratna terlihat sedang menjilati dan menciumi penis Sammy yang hitam itu sementara Riska berciuman dengan Sammy. Kemudian Sammy berbaring terlentang lalu Riska mengangkangi wajah Sammy dan terkuaklah liang vagina gadis yang pernah kutiduri dulu itu, Sammy pun menjilati dan menusuk-nusuk liang kewanitaan Riska dengan lidahnya yang besar itu. Riska mendesah keras sementara Ratna masih menciumi seluruh badan Sammy yang kemudian berciuman dengan Riska dengan panasnya. Lidah kedua gadis ini bertautan dan walau Riska masih canggung tapi Ratna nampak tak masalah bahkan sudah ahli dibidang ciuman ala lesbi ini.

Hanya selang beberapa menit kemudian ciuman kedua dara ini berganti kearah penis Sammy yang dari tadi sudah mengacung keras. Dengan separuh berebut kedua gadis ini memamerkan kelebihannya masing-masing dalam melakukan oral seks kepada Sammy. “Wah, kasihan Sammy kalau kalian kerjain berdua begini. Bisa-bisa dia kena serangan jantung dadakan…hahaha..” Kataku kepada kedua gadis ini namun Ratna dan Riska hanya tertawa saja, sementara Riska malah menjadi-jadi menggoyangkan pangkal pahanya. Cairan kewanitaan mulai keluar dari vagina Riska sementara vagina Ratna masih belum sebasah Riska. Ratna lalu memintaku untuk memberikan lotion kedalam vaginanya untuk memudahkan penetrasi nantinya. Dengan tangankulah lotion tersebut memasuki liang vagina gadis ini. “Akhhh….terus Di..akhh..tahu gini gak perlu pake lotion, tinggal pake jari kamu juga sudah cukup sayang…” Ratna mulai terangsang hebat setelah aku iseng menstimuli liang kewanitaanya ketika aku memberikan lotion.
Sammy lalu mengubah posisinya dan sekarang dia membaringkan kedua gadis ini terlentang saling bersampingan berjajar. Riska disebelah kiri sedangkan Ratna disebelah kanan. Penetrasi pertama dilakukan kearah vagina Riska. Aku dapat melihat dengan jelas saat bibir putih vagina Riska mulai terbelah disaat batang kemaluan Sammy memasukinya. Batang kejantanan warna gelap itu langsung mengobrak-abrik vagina Riska dengan sodokan-sodokannya yang semakin lama semakin cepat saja. Sementara itu tangannya dengan terampil menstimuli payudara Riska dan Ratna. Ratna sendiri ikut berciuman dengan Sammy sembari tangannya melakukan mansturbasi. Selang sekitar 10 menit kemudian, Sammy berganti menyetubuhi Ratna dan dilakukannya dengan gencar. Sodokan demi sodokan terlihat seperti Sammy sedang kesetanan saja.

Dan ketika aku masih terhanyut dengan pemandangan hot didepanku, tiba-tiba Riska datang (aku tidak sadar kalau dia tadi sempat beranjak pergi dari kasur) dan mengikat kedua tangan Ratna dengan salah satu jeruji jendela antar ruang yang terbuat dari besi. Ratna terkejut karena hal ini tidak dalam rencana mereka.
“Apa-apaan nih? Gua dibayar bukan untuk beginian. Lepasin!” Ratna mulai berang dan terganggu namun Sammy malah memaksanya berposisi menungganginya diatas dengan tangan terikat menjulur keatas karena tali ikatan tersebut diperpendek oleh Riska. “Ini karena kamu udah berani jadi pengganggu rumah tangga ortu ku. Sekarang mending jangan berontak atau teriak. Ini lantai dua dan tertutup rapat semua dindingnya sementara sekeliling sini cuman ada toko-toko yang bangunannya cuman setingkat dan pada tutup karena minggu jadi tidak bakal ada yang dengar kamu teriak. Sekarang kamu ikutin aja apa kataku.” Riska balas membentak dan kali ini Ratnapun ciut, apalagi setelah berkali-kali teriakannya seolah membentur dinding. Sekarang aku mengerti tujuan dari kedua orang ini membawa Ratna turut serta. Ternyata Ratna bukan sekedar wanita panggilan ayah Riska namun sudah menjadi kekasih gelapnya. Bahkan dari ayah Riska, Ratna sudah dapat sebuah rumah tipe 45 di Jogja dan sebuah mobil Panther warna biru tua. Sammy sekarang dari bawah memaksakan pinggul Ratna untuk bergoyang-goyang dalam posisi Woman on Top dengan kadang disertai sodokan kasar di liang kewanitaan gadis ini. Perkataan maaf dan penuh iba seolah meminta pengampunan tidak digubris oleh Riska. Dia bahkan membawa cambuk sekarang. Mulai dari detik ini semua tidak lagi seerotis yang kubayangkan. Ternyata Riska mempunyai dendam yang sangat besar kepada Ratna yang dianggapnya sebagai biang kerusakan rumah tangga orang tuanya. Terus terang saja aku sendiri bukan seorang penggemar sadomachosism (seks dengan kekerasan) tetapi saat aku melihat posisi Ratna yang ditunggangi Sammy dengan gaya doggy style dengan buah dada yang bergelayutan dan tiap kali disodok oleh Sammy bergoyang-goyang, lama-lama membuatku menjadi turn on juga. Cambukan demi cambukan yang dilakukan oleh Riska mebuat bekas kemerahan di punggung dan pantat Ratna. Setelah puas dengan doggy style sekarang Sammy berbalik memposisikan dirinya dibawah dan menggunakan gaya women on top. Sementara itu Riska menggunakan dildo kecil menyodokkannya kedalam liang anus Ratna hingga gadis ini menjerit kesakitan. Namun apa daya jeritannya malah membuat kedua sejoli ini tambah bersemangat untuk mengerjai gadis ini.

Sekitar 15 menitan Sammy bertahan dengan posisi tersebut sebelum akhirnya dia mencapai klimaksnya dengan mencengkeram bongkahan pantat Ratna yang sudah membilur akibat cambukan dari Riska. Dari handy-cam aku dapat melihat jelas tetesan sperma mengalir deras ketika Sammy mencabut batang kemaluannya dari liang kewanitaan Ratna. Ratna yang sudah lemas dan nyaris pingsan itu tiba-tiba terbelalak dan mengejang. Ternyata Riska sedang memasukkan dildo ukuran sedang kedalam vagina Ratna dan bukan hanya satu saja melainkan 3 buah dildo ukuran sedang dimasukkannya satu demi satu.
“Kalau udah gini, aku jamin kalau memiaw kamu nggak bakal bisa muasin cowok manapun karena udah longgar. Nih lagi biar tau rasa kamu!” Riska dengan senyuman bengisnya memasukkan dildo keempat diiringi dengan teriakan Ratna kemudian dia lemas tak berdaya. Keempat dildo dengan putaran vibrator tersebut lalu dihidupkan sehingga mengeluarkan gerakan menusuk-nusuk dan berputar, hal tersebut membuat vagina Ratna memerah dan terlihat sangat penuh. “Arghhh…ampun…akhhh…” Ratna mengerang lirih namun tak dipedulikan oleh Riska, bahkan Sammy lalu mencabut dildo yang sebelumnya masih terpasang di anus Ratna dan dengan memakai kondom berpelumas Sammy menyodomi Ratna dengan sangat liar. Penis hitam Sammy yang panjang itu sekarang mengobrak-abrik liang anus Ratna tanpa ampun walaupun Ratna mengemis-emis pengampunan dan berjanji akan menjauhi ayah Riska.
Tak selang lama setelah Ratna dikerjai dengan cara seekstrim ini kembali Sammy mencapai orgasmenya dan kali ini dia muntahkan cairan spermanya keatas punggung Ratna. Berikutnya keempat dildo bergetar tersebut dikeluarkan dari dalam vagina Ratna oleh Riska dan terpampang jelas liang kewanitaan gadis ini sudah memerah dan terbuka lebar menganga ditambah lagi cairan kewanitaannya yang meluber deras.
Aku menjadi berpikir apakah liang senggama Ratna tidak rusak setelah dimasuki beban begitu besar. Bahkan aku dapat melihat gelambir vaginanya yang tadinya terlihat seksi dan tipis sekarang sudah mencuat keluar dan tampak lebar saja seperti milik pemain blue film barat yang sering aku tonton. Walaupun tidak sampai mengeluarkan darah tetapi bliur-bliur bekas cambukan Riska terlihat memerah dan semu biru. Peluh Ratna membasahi kasur tempat dia tergolek lemah dan diiringi tangisan yang sudah mulai memudar karena sudah terlalu lama dia menangis. Riska kembali datang dan memotret Ratna dalam kondisi tak berdaya tersebut dan tentu saja bugil total, “Sekarang aku mau tau apakah masih ada cowok yang mau maen sama kamu abis ini. Kalau sampai kamu nggak minggat dari kehidupan papaku, aku bakal sebarin seluruh fotomu pas ngent*tan ma cowokku dan sekalian videonya juga.” Dan nampaknya dengan ancaman tersebut cukup ampuh bagi Ratna untuk tidak kembali menggoda ayah Riska walaupun sampai sekarangpun Ratna masih menjadi cewek panggilan namun tak pernah dia berani menampakkan batang hidungnya didepan Riska maupun keluarganya lagi.

Hari berikutnya aku kembali bertemu dengan Ratna, “Nah sekarang khan tugasku dah selesai. Kata Sammy ntar aku boleh minta jatah kekamu sebagai kompensasi jadi kamerawan yang kemarin..hehehehehe…” candaku padanya dengan harapan keinginanku tercapai. Riska hanya tersenyum, “Malam ini aku tunggu kamu diruko milikku yah, jangan telat.” “Tapi nggak pake cambuk-cambukkan khan?” tanyaku bercanda dan Riska hanya tersenyum lalu mendekatkan bibirnya ditelingaku sambil berbisik, “Itu tergantung dengan kemampuan penismu memuaskan aku ntar malam.” Lalu Riska pun berlalu. Dan benar saja malam itu aku mendapatkan servis istimewa dimana Riska menari striptease didepanku sambil memberikan pelayanan hands free. Kami bercinta 4 kali malam itu hingga nyaris pagi datang. Saat sebelum aku pulang ke Jogja, Riska menciumku dan berkata, “Jangan beritahu Sammy tentang malam ini!” Ternyata Riska tidak pernah memberitahu Sammy mengenai perjanjianku dengannya dan Sammy sendiri sebenarnya tidak rela kalau kekasihnya ditiduri olehku dan berniat membatalkan janjinya memberikan Riska untukku semalaman dan berniat untuk menggantinya dengan hal yang lain.


BERSAMBUNG....


Mohon maaf masta, terpaksa Nubie harus sambung lagi lain waktu... ;)
Mohon para masta bersabar, dan mohon dukungannya agar dapat selalu menghibur masta masta di forum semprot tercinta ini.
Nubitol untuk sementara undur diri...
:ampun: :ampun: :ampun:


#NB: tidak menerima commentar yg sok paling ok ente punya Thread.
jika tidak senang dengan Thread ane,silahkan capcus ke toko sebelah
hanya menerima comment yg bermutu,kasih thanks atau kirim
ijo - ijo
 

velkrasnyyvet

Dreamer
UG-FR+
Thread Starter
Daftar
1 Feb 2011
Post
1.918
Like diterima
1.090
Lokasi
Outside The Box
Lanjutan...

Chapter 9​
PART THREE​


Gairah Piala Dunia​


Masih ingat ketika Jepang dan Korea menjadi tuan rumah piala dunia tahun 2002? Banyak orang bahkan yang sebelumnya bukan pecinta bola ikut-ikutan nimbrung nonton babak demi babak. Tak terlewat pula pasar taruhan menjadi semakin marak karena event akbar ini. Di kost ku ada juga maniak-maniak bola namun untuk taruhan hanya Jo yang bisa dibilang kelas kakap. Dalam sehari dia bisa menghabiskan satu hingga dua juta rupiah hanya untuk taruhan bola dan walapun dia sering menang namun karena tiap kali dia kalah selalu dalam nominal yang sangat besar maka tak jarang pada akhirnya dia hanya mengecap kerugian yang lumayan besar namun selalu dia tutupi dengan bualannya bahwa dia telah sering menang, tapi aku pribadi tahu kalau Jo hanya menang dalam nominal kecil jika dibandig dengan kekalahannya.
Tiba saat pertarungan antar tiap kesebelasan antar regu yang survive dan saat itu pula bursa taruhan lebih membengkak lagi orderannya dan kembali lagi Jo memasang taruhan dan kali ini dia memasang Italy untuk peluang masuk di semi final. Berhubung jenis taruhannya adalah taruhan jangka panjang (tidak terpancang dalam satu permainan saja) maka butuh waktu untuk mengetahui keempat tim yang lolos nantinya. Persentase taruhannya pun tak kalah gila yaitu 1:3 dan Jo memasang tak tanggung-tanggung langsung 30 juta rupiah dengan keyakinan nantinya dia bakalan mendapatkan setidaknya 90 juta rupiah jika tebakannya benar. Saat sehari sebelum pertandingan antara Korea Selatan dengan Italy, Jo menantangku untuk bertaruh.

“Gue yakin kalau Italy ntar yang bakalan juara dunia. Yah gue she cuman mau melengkapi kemenangan gue dengan menag taruhan ma kalian-kalian yang ada disini. Gimana kalau kalian taruhan ma gue, gue jagoin Italy bakalan libas Korsel. Berani kaga?” tantang Jo seperti biasa penuh dengan kesombongan. Eko salah satu teman kostku meradang juga mendengar tingkah Jo dan menyanggupi taruhannya. Tapi tak aku sangka ternyata Jo benar-benar serius akan hal ini dan menantang Eko untuk taruhan sebesar 10 15 juta rupiah. Aku tahu benar kalau Eko tidak mungkin mnyanggupinya karena dia sendiri hidup dari keluarga pas-pasan dan dia kuliah di universitas negeri yang biayanya ringan. Sementara teman-teman kost ku yang lain juga tidak punya uang sebanyak itu walaupun dalam hati mereka ingin memberikan Jo pelajaran. Salah seorang temanku lalu menghampiriku, dia bernama Ronnie Sulistyo seorang pemuda asal Temanggung. “Di, gimana kalau kita patungan. Aku ada duit 5 jutaan di tabungan tapi kamu tambahin yah biar pas 15 juta. Aku pengin banget memberi tuh bocah sombong pelajaran.” Aku hanya nyengir saja mendengar rencana Ronnie tapi setelah aku katakan bahwa secara kualitas Italy merupakan jagoan di pasar taruhan dan Ronnie terdiam membisu. Lalu aku berkata, “OK lah. 15 juta, nanti aku jual motorku untuk menambahin supaya duitnya pas.” Sebenarnya aku takut juga karena uang sebesar itu bukanlah jumlah yang kecil bagiku.

“Bos. Kalau dengan kamu she, gue gak tega. You are my best friend anyway…tapi kalo you insist yah kaga ape-ape..heheheh..” Jo kembali ngegombal seperti biasanya. “Kemaren adik pacarmu datang kemari ngembalikin novel katanya, cantik juga yah dia. Gimana kalau taruhannya diganti dengan adik pacarmu aja…khan sayang 15 juta. Dia belum punya pacar khan…? Ntar gue jadiin pacar kedua gue deh, dijamin hidupnya bakalan enak….Jo gitu lho…hehehehe” lanjutnya. Ronnie dan Eko tambah jengkel dibuat oleh sikap Jo yang ngelunjak ini namun karena alasan ekonomi pulalah mereka tidak dapat berbuat apapun karena bagaimanapun juga Jo sudah sering mentraktir mereka kalau kiriman dari kampung belum datang. Aku tersenyum saja dan menambahi perkataannya tadi, “Boleh. Tapi aku juga mau kencan ma cewek kamu si Zara itu. Lagipula Lina anaknya masih imut dan polos belum tahu soal pacaran sama sekali, masih SMU pula. Kalau cuman ditukar dengan duit 15 juta msaih kurang lah. Nanti kalau kamu menang aku bakalan ngasih bantuan buat deketin dia. berani nggak loe?” kataku pada Jo yang langsung terdiam begitu aku memberikan usulan. Bukan hanya Jo melainkan ketiga temanku yang saat itu ikut nongkrong bersama juga kaget dengan kenekatanku. Kembali aku berkata memanasi Jo, “Tapi kalo kamu kagak berani aku juga ga maksa kok. Lagipula nyali orang khan beda-beda.” Dan umpanpun termakan. Jo dengan lantang menyanggupinya bahkan dia mengatakan bukan hanya Zara dan duit 15 juta yang akan dia pertaruhkan tetapi juga PC (Personal Computer) yang baru saja dia beli (btw, saat itu dia barusan membeli Radeon 9500se yang masih baru dipasaran). Dengan disaksikan oleh ketiga teman kost yang lain kami membuat perjanjian.

Akhirnya hari berikutnya pada malam hari tiba juga acara yang ditunggu. Pertarungan antara kedua kesebelasan yang kami jagokan masing-masing. Dan ternyata Italy kalah 1-0 oleh Korea Selatan dan seketika itu pula Jo lemas tak berdaya. Seolah tak percaya bahwa Korsel dapat menumbangkan kesebelasan favorite nya. Well, itu tak jadi soal karena bola memang bundar dan semua bisa terjadi dalam sepak bola. Perjanjian tetap perjanjian dan sesuai dengan yang direncanakan, malam berikutnya setelah aku menelpon Zara untuk datang ke kost kami, Eko dan Ronnie mengajak Jo untuk menenggak minuman keras. Aku membelikan minuman tersebut dari 15 juta yang kumenangkan dari Jo dan aku juga telah membagi uang keketiga teman kostku yang menjadi saksi perjanjian kami waktu itu masing-masing sebesar 2 juta rupiah dengan catatan mereka menahan Jo dengan minuman tersebut di serambi belakang.
Begitu Zara datang tepat pada saat Jo sedang tinggi-tingginya (mabuk berat). Aku langsung mempersilahkan dia masuk kedalam kamar Jo yang letaknya dekat dengan taman diserambi depan (kamar paling mahal di kost-kostan kami karena paling luas dan dekat taman). “Lho. Jo mana?” tanya Zara padaku. “Ah..dia malah minum-minum dibelakang dengan teman-teman. Tadi aku bilang kalau kamu datang…eh dia malah bilang kalau nggak peduli dan mentraktir temen-temen minum-minum. Tuh ada dibelakang.” Kataku memprovokasi dan umpan termakan. Zara menghambur keluar dan keteras belakang dan dia menemukan Jo bersama tiga teman kost lainnya sedang menenggak minuman keras. Sesekali Jo mengoceh walaupun akhirnya dia menengok dan melihat Zara didekatnya. Jo berusaha untuk mengembalikan kesadaran dirinya namun terhalang oleh Ronnie yang kembali menyodorkan segelas wiskey kemulut Jo. Zara lalu kembali kekamar Jo dan mulai menangis. “Aku nggak nyangka kalau Jo ternyata seperti ini.” Katanya lemah.

Aku menyibakkan rambutnya dan membelainya pelan, lalu Zara menatapku tajam. Tak aku sia siakan momment ini dan aku mendaratkan kecupan bibirku kebibirnya. Zara nampak memberontak namun hanya beberapa saat saja karena selanjutnya dia terbuai dengan permainan mulutku dan stimuli dari kedua tanganku yang berada ditengkuk dan punggung gadis cantik ini yang saat itu memakai tank top warna hitam dengan jaket warna putih. Aku melepaskan jaketnya dan kembali menciumi dara cantik ini, kali ini bukan hanya dibibir melainkan juga dileher dan merembet ke telinga. Sesekali kusapukan lidahku dan kuberikan kecupan dilehernya. Kali ini Zara mulai membalas ciumanku dan permainan lidahpun tak terelakkan lagi. Entah sudah berapa lama kami berciuman hingga akhirnya Zara sudah rebah di kasur dengan kondisi tinggal menggunakan bra dan celana dalam warna hitam tipis. Aku sendiri tinggal menggunakan boxer.

Sesembari menciumi leher gadis ini aku meremas payudaranya yang masih bersembunyi dibalik bra warna hitam miliknya. Zara menggelinjang tiap kali ciumanku mengarah kepayudara miliknya. Kedua pahanya yang dari tadi menutup sedikit-demi sedikit mulai terbuka dan jemarikupun sigap memelorotkan celana dalamnya itu sehingga aku dapat melihat vagina sang gadis yang aduhai ini. Bibir vagina yang kecil sekarang terlihat jelas dibandingkan saat aku melihat dia dicumbu di karaoke room oleh Jo.
“Akhh…mas…jangan…udahan aja yah…ntar Jo liatin kita.” Katanya lirih namun tak kugubris lagi. Entah sudah berapa kali dia memohon untuk menyudahi permainan ini namun kandas juga oleh ciumanku di payudaranya yang sekarang sudah separuh terbuka. Sedotan bibirku dan permainan lidahku di puting susunya membuat Zara menjadi berhenti memohon dan mengganti permohonannya dengan yang lain. “Mas Adi…liatin punya mas Adi dong yang gede itu.” Katanya sambil menggerayangi boxer yang kupakai saat itu. Aku sadar akan keinginan dara cantik ini dan kucopot boxerku hingga dia dapat melihat batang kemaluanku yang sudah mengeras sedari tadi.

Setelah puas aku menjelajahi payudara gadis cantik ini dan bibirnya aku mengarahkan kepala Zara pelan-pelan kearah penisku yang sudah ereksi. Zara tahu benar apa mauku dan dia membuka mulutnya dan mulai untuk melakukan oral seks terhadap batang penisku. “Slurpp…clap….slurpp…mcahh…emmhh” suara kecipak air liur bercampur dengan cairan pelumas dari batang kemaluanku berpadu dengan erangan ringan Zara. Kali ini dengan posisi 69 aku mulai menjilati vagina Zara yang ternyata wangi juga. Sesekali Zara merintih kesakitan ketika lidahku dengan nakalnya menusuk kedalam vagina gadis ini. Memang benar Zara masih perawan. Puas dengan oral seks, aku membalikkan tubuhnya menjadi terlentang dan kedua tungkai kakinya aku tumpangkan di bahuku. “Mas Adi…Zara takut mas..” rengeknya padaku namun wajahnya langsung pucat pasi ketika ujung kemaluanku berhasil membelah bibir luar vaginanya. “Arghh…sakittt….masss..”kali ini Zara setengah teriak dan langsung aku bungkam dengan kecupan dibibirnya. “Ssstt…nanti kalau kamu teriak semua orang bakalan kemari.” Kataku dan Zara pun menahan dirinya mati-matian untuk tidak teriak lagi. Setiap kali aku menusukkan penisku kedalam liang senggama Zara yang sangat sempit itu, gadis ini seolah mencakar punggungku menahan sakit diselangkangannya. “Sabar yah sayang.” Ucapku menghibur dia dan…bleshhh. Dalam satu hentakan kuat akhirnya batang kemaluanku dapat sempurna memasuki liang vagina gadis cantik ini. Erangan Zara memenuhi ruangan.kamar Jo. Sekarang aku melihat kalau batang kemaluanku sudah seluruhnya tertanam kedalam liang kemaluan Zara. Bibir vagina Zara memerah bahkan kulit putih sekitar vagina sang dara ini ikut memerah dan terlihat cairan merah darah mengalir dari kemaluan gadis ini walaupun hanya sedikit.
Setelah aku mendiamkan penisku sebentar, aku lalu mulai melakukan gerakan menyodok dan memutar dalam vagina gadis cantik ini. Zara mendesah-desah tiap kali aku melakukan sodokan kedalam vaginanya dan semakin lama rintihan rasa sakit yang dia lontarkanpun semakin berkurang hingga akhirnya hilang sama sekali berganti dengan erangan rasa kenikmatan. “Akhh…lagi …terus…akhh..” Zara yang dari luar terlihat imut itu sekarang menjadi demikian binalnya diatas ranjang. Seiring dengan sodokan penisku kedalam vagina gadis cantik ini terlihat kalau darah keperawanan Zara semakin banyak saja membasahi sprei kasur Jo.

Sambil berciuman aku menekan paha Zara sehingga penisku dapat lebih dalam melakukan penetrasinya dan Zara pun mengimbanginya dengan meremas pantatku dengan sesekali memainkan buah pelir milikku dari belakang. “Akhh…mas..Adi. Panas…akhh..” Zara mencengkeram pantatku dan kedua tungkai kakinya yang aku sandarkan dibahuku pun menegang. Kepalanya mendongak dan tubuhnya menggelinjang keras, dari hal ini aku sudah tahu kalau Zara mencapai orgasme pertamanya. Untuk ukuran gadis yang baru saja diperawani, Zara cukup cepat mencapai orgasmenya yaitu hanya bertahan 10 menit setelah kehilangan keperawanannya.padahal biasanya gadis yang baru saja diperawani susah menikmati rasa bercinta apalagi sampai orgasme dalam waktu singkat. Aku berikan waktu kepada Zara untuk menikmati orgasmenya kemudian aku buat dia dalam posisi merangkak dan aku tunggangi dia dengan gaya doggy style. Kali ini Zara sudah terlihat lemas dan hanya sesekali saja mengikuti goyanganku. Aku tahu kalau Zara sudah letih, aku mempercepat pompaanku dan selang 5 menit kemudian sembari mencengkeram kedua payudara Zara dari belakang aku melakukan sodokan keras kevagina gadis ini dan keluarlah cairan sperma yang begitu banyak. Merasakan liang kewanitaan Zara yang begitu sempit membuatku lupa diri dan menyemprotkan air maniku didalam vaginanya dan membasahi dinding rahimnya.

Kupikir Zara akan marah karena takut hamil ternyata dia hanya diam saja bahkan membalas ciumanku setelah aku mencabut penisku. Setelah kami merapikan diri, aku mengantarnya kembali ke kost nya dan aku sempat bertemu dengan Anggie yang senyum-senyum kepada kami berdua, aku yakin dia pasti menduga-duga apa saja yang barusan kami lakukan apalagi dari cara dia melihat langkah kaki Zara yang tidak seperti biasanya, agak mengangkang. Pagi harinya Jo mengetahui kalau Zara sudah kutiduri dan itu semua akibat mulut besarnya sendiri. Bukan hanya kehilangan uang 65 juta dan PC melainkan keperawanan pacarnya yang sudah dia pacari sejak lamapun hilang. Selang seminggu kemudian Jo pindah dari kost kami diam-diam, mungkin karena malu. Akhirnya kost kamipun kehilangan seorang borju yang besar mulut, tapi tak apalah…jadi lebih adem sekarang..hehehe.


Fact: Zara sekarang sudah bertunangan dengan seorang pengusaha mebel dari Ambarawa namun sampai sekarang dia masih sering bercinta denganku tiap bulannya.


BERSAMBUNG....


Mohon maaf masta, terpaksa Nubie harus sambung lagi lain waktu... ;)
Mohon para masta bersabar, dan mohon dukungannya agar dapat selalu menghibur masta masta di forum semprot tercinta ini.
Nubitol untuk sementara undur diri...
:ampun: :ampun: :ampun:


#NB: tidak menerima commentar yg sok paling ok ente punya Thread.
jika tidak senang dengan Thread ane,silahkan capcus ke toko sebelah
hanya menerima comment yg bermutu,kasih thanks atau kirim
ijo - ijo
Chapter 10

Sasa Diantara Dendam dan Nafsu​


Masih ingat khan saat aku bercerita mengenai Edwin yang menyetubuhi pacarku Ani di kamar kostnya? Nah cerita kali ini mengenai kekasih si Edwin yang bernama Sasa (nama panggilan). Suatu sore ketika penghuni kost tempat Ani tinggal sudah banyak yang pulang ke asalnya masing-masing (karena di akhir minggu biasanya mereka semua pulang kecuali Anyssa dan temannya Lola, karena yang lain rumahnya cukup dekat dengan Jogja) aku bertandang ke kost pacarku itu. Aku tahu benar kalau saat ini tepat jadwalnya pulang kerumah, seperti biasa terjadwal 1 bulan sekali. Sebelumnya aku sudah memberitahu kepada Sasa untuk tidak pulang terlebih dahulu karena ada yang harus aku beritahukan kepadanya. Begitu kami bertemu dikamarnya, segera aku memberikan foto digital dimana Edwin sedang memaksakan nafsunya kepada Ani. Pada detik-detik awal aku dapat melihat keterkejutan yang amat sangat disertai dengan gelegak amarah diwajah Sasa namun semakin lama raut itu semakin hilang dan pecahlah tangisan dara manis ini. “Edwin keparat! Apa kurangnya aku. Selama ini dah aku bela-belain untuk kuliah di Jogja supaya dekat dengan kamu. Kamunya malah tidur ma cewek lain…Edwin brengsek..!” umpat Sasa tak karuan, untung saja waktu itu Lola sedang pergi juga jadi tak ada yang mendengarnya. Aku yang semula duduk di tempat tidurnya agak jauh sekarang mulai mendekat perlahan dan aku belai halus rambutnya yang sebahu itu. “Sebenarnya aku gak tega sama kamu Sa, tapi mau gimana lagi. Daripada nanti kamu ngerasain sakit hati belakangan pas semuanya sudah terlampau jauh. Aku cuman nggak mau kamu jadi korban seperti yang aku alami atas Ani.” Aku mulai menebar umpan untuk menarik simpati dari gadis manis ini.


Sasa mendongak mencegah airmatanya mengalir lagi sembari berusaha tersenyum walaupun aku tahu senyuman itu dipaksakan. Sepertinya dara manis ini benar-benar sangat mencintai kekasihnya tersebut, mungkin karena mereka sudah berpacaran sejak SMU kelas 2. Sasa lalu menoleh kearahku dan saat itu aku baru sadar kalau bulu matanya sangat lentik dan matanya benar-benar bening dan indah. Mata yang sempurna, pikirku dalam hati. Dia tersenyum lalu berkata, “Makasih ya mas. Udah mau nolongin aku dari sebuah kesalahan yang aku pertahankan selama ini.” Lalu kembali dia mengambil tissue yang kesekian kalinya untuk menghapus airmata plus ingus nya. “That’s OK sweetheart…aku juga nggak tega sama kamu kalau kamu gak tahu apa-apa waktu dikhianati pacarmu.” Aku memegang tangannya sembari terus memberikan penghiburan. Setelah beberapa saat baru tanganku dibalas dengan genggaman oleh tangan Sasa. Umpan termakan, pikirku. Sekarang bagaimana cara penyelesaian akhirnya. “Sa, gimana kalau supaya kamu bisa melupakan kesedihan kamu, kita jalan-jalan aja. Mumpung malam minggu, khan nggak enak kalau kamu disini sendirian trus bengong gak ngapa-ngapain.” Rayuku kepadanya dan tanpa pikir panjang lagi dia menyetujuinya. Singkatnya kami melakukan dinner di sebuah café yang cukup terkenal di Jogja soalnya dulu sering dipake musisi untuk manggung (sebut saja Sheila on 7, Padi dan masih banyak lagi.)

Suasana malam itu cukup mendukung dengan angin yang dingin membuat sepanjang malam itu Sasa terus berdekatan denganku, mungkin pengaruh suasana juga. “Sering kemari? Sama mbak Ani?” tanya Sasa sambil memainkan sedotan didalam gelas juicenya yang sudah berkurang separuh itu. Aku hanya tersenyum kecil menanggapi pertanyaannya, “Sering juga. Tapi sendirian.” Kataku sambil memakan potongan terakhir Strawberry Pancake milikku. Sasa semakin semangat saja bertanya, “Lho kok sendirian?” Sembari meletakkan garpu dan pisau ditangan aku melihat menerawang seolah-olah melihat tembus ke atap menembusi langit malam itu, “Mau bagaimana lagi. Anyssa berselingkuh bukan hanya pertama kali ini. Dia sebelumnya pernah berselingkuh dengan pria-pria lain sehingga kadang membuatku tidak tahan lalu disini deh aku terdampar tiap malamnya, hehehe…” candaku kepada Sasa. Ternyata Sasa menganggap serius bualanku tadi dan mulai muncul lagi rasa simpatinya kepadaku. “Aku nggak habis pikir, karena selama ini aku merasa mbak Ani itu orangnya alim ternyata bisa berbuat semengerikan itu. Kenapa tidak diputusin aja mas?” tanya Sasa lagi kali ini terlihat secarik emosi di raut mukanya setelah mendengar penuturanku. Pertanyannya kali ini tak aku jawab dengan sengaja agar menimbulkan tanda tanya dibatinnya, lalu dengan memasang ekspresi muka sedih aku diam. Sasa cukup peka juga sehingga dia tidak mencecarku dengan pertanyaan yang lainnya. Tiba-tiba kedua tanganku merasakan sesuatu yang hangat. Ternyata Sasa menggenggam tanganku dengan lembut pula. Sambil tersenyum, sekarang gantian dialah yang menghiburku malam itu. Saat kami pulang dengan menaiki motorku dan sudah separuh jalan, tiba-tiba hujan deras. Sesampainya kami di kost Sasa semua pakaian kami sudah basah kuyup. “Masuk mas! Hujannya deras ntar masuk angin.” Katanya padaku. “Udah malam. Aku nggak enak kalau nanti kamu kena teguran dari bapak kost.” Kataku membuat alasan karena waktu itu memang sudah jam 10 malam. Tetapi Sasa ngotot dengan mengatakan pemilik kost rumahnya dilain tempat dan Lola saat itu juga belum pulang sehingga didalam kost hanya ada kami sementara dengan suasana hujan selebat ini membuat Sasa takut kalau harus sendirian di kostnya yang lumayan besar itu. “Ya udah deh. Aku mampir dulu.” Kataku sambil pura-pura mengalah padahal dalam hati bersorak sorai gembira. “Nah gitu dong.” Sasa menampilkan senyumannya lagi dan bergegas mengambil handuk bersih dari almari pakaiannya.


“Aduh aku nggak punya pakaian cowok tuh gimana? Ntar kalau mas Adi masih pake baju itu ntar masuk angin lagi, khan basah. Dingin pula malam ini…” gadis ini mulai bingung sampai akhirnya dia menyalakan hair dryer milik Lola yang dia pinjam. “Keringkan dulu yah?” katanya sambil menyuruhku melepaskan bajuku.
Sasa bergegas kekamar mandi untuk berganti pakaian yang kering sementara aku mengeringkan pakaian menggunakan hair dryer ini. Mau tak mau harus mencopoti seluruh pakaianku sehingga tinggal bertutupkan handuk saja. Begitu Sasa muncul dari kamar mandi, dia kaget dengan kostum baruku yang hanya bertutupkan handuk dibagian bawah tubuhku. Sembari tertawa cekikikan dia menawarkan coklat hangat. Sasa waktu itu berganti pakaian dengan daster terusan tanpa lengan yang bewarna pink dengan bertaburan icon-icon Keropi dimana-mana. “Wah, kalau tahu kamu kalau malam pake pakaian seksi gini mending aku gak perlu nongkrong di kafe…” candaku kepada Sasa. Sasa mencibir ringan, “Sudah mulai nakal yah? Ntar tak pelorotin handuknya baru tahu rasa…hahaha…” gadis ini sudah mulai berani ternyata. Sekalian saja aku tantang, “Coba aja kalau memang berani, paling kamunya yang ketakutan.” balasku berharap dia akan menimpalinya dengan yang lebih hot namun ternyata harapanku pupus karena dia malah mengelak dari topik itu dan menyodorkan coklat hangat kepadaku. Sembari minum kami bercerita mengenai diri kami masing-masing, mulai dari keluarga, kegiatan kampus, hobby sampai hal-hal yang privat. Dari pengakuannya aku baru tahu kalau selama ini Edwin belum pernah menodainya. Paling banter hanya ciuman bibir. Dia juga mengatakan kalau selama ini Edwin sering memintanya berhubungan intim tetapi selalu ditolak dan bahkan mereka sempat putus selama 2 minggu gara-gara Edwin memaksa dan berhasil meremas payudara Sasa. “Namun sekarang sudah sirna semua itu mas. Ternyata dia sudah dapat yang dia mau dari perempuan lain. Aku sih nggak menyalahkan dia sepenuhnya karena aku sendiri juga tidak bisa memberikan apa yang dia mau tapi tetap saja hati ini sakit.” Katanya lirih lalu meminum coklat hangatnya pada tegukan terakhir.


Sembari meletakkan cangkir kosong tersebut diatas meja belajarnya, dia kembali bertanya padaku, “Kalau mas Adi sendiri sudah pernah ngapain sama mbak Nisa? (Sasa memanggil Anyssa dengan sebutan Nisa, beda dengan temannya yang lain) “Yah paling ciuman bibir saja. Kalau lebih belum berani karena dia selalu menghindar tiap kali kami akan memasuki tahap yang lebih dalam daripada ciuman bibir.” Kataku dan saat itu pula aku bersyukur karena aku manusia dan bukan Pinokio, kalau tidak hidungku pasti tambah panjang sepanjang-panjangnya karena berbohong besar. Sasa tertawa dan mengejekku lagi, “Hahahah…nggak dapat sama mas Adi eh malah dapat dari cowok lain. Udah mas, ceraikan saja…buat apa memelihara bekas orang. Mas Adi pantas dapat yang jauh lebih baik, lagipula masa cowok secakep dan sebaik mas Adi nggak bisa dapat cewek baik-baik sih.” Sasa mulai mengomporiku, namun dia tidak tahu kalau dia salah terhadap dua hal. Pertama, aku tidak cakep (wajah diantara jelek dan cakep, orang bilang sedengan/sedang-sedang saja). Kedua, aku juga bukan orang baik-baik.
Saat aku akan menjawab perkataannya tanpa bisa aku tahan, tiba-tiba aku bersin- bersin sendiri. Hal tersebut membuat Sasa mendekatiku dan memberikan jaketnya kepadaku untuk dipakai, “Tuh khan sudah mulai pilek. Nih pake jaketnya! Eh…aduh…” saat Sasa akan memberikan jaket tersebut padaku tiba-tiba kakinya tersandung kabel hair dryer dan jatuh terjerembab. Aku yang reflek segera menangkapnya namun hasilnya kami jatuh berdua. Yang lebih fatalnya lagi saat jatuh handukku terlepas lilitannya dan jatuh kelantai ditambah dengan posisi jatuh yang tidak sempurna sehingga tangan dari Sasa tanpa sengaja menyenggol penisku yang sedang tidur. “Hah…itu…sorry…nggak sengaja…” Sasa tergagap-gagap melihat tangannya memegang penisku. Aku sendiri walaupun malu harus aku sembunyikan dan berlagak kalau tidak terjadi apapun barusan. Singkatnya kami kembali duduk seolah-olah tidak terjadi apa-apa walaupun Sasa masih sedikit shock. Aku memberanikan diri untuk angkat bicara mengingat sudah agak lama kami berdua terdiam, “Wah,kamar kamu rapi yah..” kataku padanya.


Well, aku tahu ini merupakan pick up line yang sangat garing tapi hanya kata-kata itulah yang sempat mampir ke otakku. Sesuai dengan tebakanku kalau pick up line yang jelek nan buruk itu hanya mendapat satu buah kata sebagai jawaban, “Thanks…” kata Sasa dengan klisenya. “Apa semua cowok seperti itu?” Sasamulai berkata padaku. Aku bingung dengan pertanyaannya dan mencoba untuk memperjelas perkataannya, “Maksud kamu…?” tanyaku penuh kebingungan. Muka Sasa memerah dan melanjutkan kata-katanya, “Punya cowok yang itu…Apa semua seperti itu?” katanya lagi sambil melirik kearah penisku yang sudah ditutupi handuk. Aku hanya tertawa mendengar pertanyaannya. “Seperti itu bagaimana Sa? Item and jelek gitu?” godaku padanya. Dia sekarang sudah bisa tersenyum lagi dan kegugupannya sudah berangsur hilang. “Item sih iya tapi kalo jelek yah biasa-biasa aja, nggak jelek-jelek amat kok.” Katanya sekarang sudah mulai berani untuk balas menggodaku. Melihat situasi yang sudah agak panas aku langsung saja membuat umpan baru, “Sebenarnya ada bentuk kedua dari barangku yang satu ini. Kamu mau tahu? Ntar bisa aku perlihatkan, lebih chubby lho..hahaha…” godaku padanya. Namun jawaban yang keluar dari mulut gadis ini diluar perkiraanku sebelumnya, “Mau pamer pas ereksi?” sahutnya cuek. Mendengar jawaban dari Sasa membuatku sangat kaget, tapi belum sempat aku membalas perkataannya dia sudah lebih dulu menimpali dengan ucapan baru, ”Walaupun aku belum pernah ML ma cowok tapi kalau hal begituan aku tahu lah mas…gini-gini aku khan seorang calon apoteker.” Katanya padaku. Perkataan terakhirnya membuatku sadar kalau aku sangatlah bodoh bertanya hal tersebut kepadanya karena Sasa sebenarnya adalah mahasiswa di program farmasi disalah satu perguruan tinggi terkenal di Jogja dan pastinya dia mempunyai dasar ilmu kedokteran, biologi dan kimia yang lumayan (jika dibandingkan dengan aku tentu saja).


Selama kurang lebih 5 menitan kami ngobrol kesana kemari akhirnya terdiam selama beberapa saat hingga saat aku mengatakan sesuatu yang membuatnya terkejut, “Sa, boleh nggak aku gantian lihat punya kamu? Tadi khan kamu dah liat punyaku. Biar adil gitu.” Kataku penuh harap namun Sasa tak segera menjawab. Lalu dia memalingkan mukanya kearahku dan menatapku sangat tajam dengan kedua matanya yang bening itu. Takut dia akan marah aku segera mengkoreksi kata-kataku barusan, “Aku cuman bercanda kok Sa…jangan ditanggapin serius yah…” sambil tertawa aku mencoba untuk menutupi rasa maluku ditatap oleh Sasa. Sembari memutar posisi duduknya gingga menghadapku dia berkata, “Memang benar cuman becanda?” sahutnya dan serentak seluruh bulu kudukku berdiri karena takut gadis ini marah nantinya dan semua usahaku jadi sia-sia. Sambil menenangkan diri aku menjawabnya, “Yah…begitulah. Tapi kalau dikasih juga nggak bakalan nolak…khan yang ngasih cantik kaya bidadari gini…hehehe…” selorohku pada Sasa. Beberapa detik dalam keheningan tiba-tiba kedua tangan Sasa mulai bergerak, kedua tangannya mempreteli kancing baju tidurnya sehingga aku dapat melihat buah dadanya yang masih tertutup oleh bra warna coklat muda. Belum cukup dengan itu saja dia lalu melepaskan bajunya dan gantian sekarang dia meloloskan bra miliknya kebawah hingga sekarang kedua gunung kembar itu tidak lagi tertutup apapun. Indah, sangat indah sampai membuatku terpana. Kedua payudara gadis ini mulus bewarna putih dan bukan hanya itu saja tapi juga bentuknya sangat indah. “Sa…kamu…” aku tak sanggup melanjutkan kata-kataku. Sasa tersenyum, “Bukannya ini yang mas Adi mau?” katanya sambil mendekatiku. Seolah mendapatkan lampu hijau, aku segera menyentuh payudara gadis ini mulai meremasnya lembut dan membelai dari pangkal hingga ujung puting susunya. Belum cukup dengan itu saja, melihat mukanya sudah memerah dan terlihat ada setetes nafsu dimatanya, aku segera melumat habis payudara gadis ini. Sasa melenguh keras ketika putingnya aku permainkan ujungnya dengan lidahku. Desahan kenikmatan Sasa seolah berlomba dengan kerasnya suara rintik hujan malam itu. “Akhhh….mas Adi…akhhh…” Sasa kembali mendesah saat ciumanku merembet keleher jenjangnya sementara payudaranya sudah basah terkena air liurku. “Sa…kamu cantik sekali malam ini…kamu sempurna. Gadis sebaik dirimu pantas mendapatkan yang terbaik…jangan bersedih lagi yah…” kataku padanya sambil tersenyum kecil. Dan umpan terakhirpun termakan oleh sang gadis. Melihat rasa simpatikku padanya membuat dirinya semakin menyerahkan dirinya padaku. Sasa yang dari tadi pasif menjadi bergerak lebih aktif dan berani untuk mencium bibirku. Akhirnya kami berpagutan cukup lama sambil kedua tanganku menjelajah seluruh tubuhnya dan sedikit-demi sedikit aku meloloskan celana tidur sekaligus celana dalamnya hingga Sasa bugil total.


Diantara sadar dan tidak, gadis itu tetap menciumi bibirku dengan penuh nafsu dan saat aku raba vaginanya aku dapat merasakan kalau gadis ini sudah sangat terangsang, vagina Sasa sudah basah dengan cairan kewanitaannya. Ciuman aku arahkan ke leher milik gadis ini dan kembali dia mendesah, “Akhh…mas Adi…aku nggak kuat kalau gini terus mas…akhhh…” desahnya dengan suara seksinya itu membuat penisku semakin berontak. Sasa nampaknya sadar kalau ada tonjolan yang semakin membesar dibagian bawah tubuhku dan diapun memberanikan diri untuk merabanya dan melepaskan handukku. “Akhh…mas…gede banget…” pekiknya tertahan saat melihat penisku dalam kondisi tegak sempurna. “Cuman 18 cm kok sayang…sedikit diatas rata-rata aja kok…” jawabku sambil tersenyum.
“Aaahhh…mas…tanganmu nakal…” Sasa mencoba berontak ketika jari-jari tanganku mulai mencari klitorisnya. Walaupun dengan penolokan yang setengah-setengah dari Sasa tapi akhirnya aku berhasil juga mendapatkan letak klitoris gadis ini. Cukup besar jika dibandingkan dengan milik kekasihku.
Sasa menggelinjang-gelinjang ketika aku mempermainkan klitorisnya dengan satu tangan sementara tangan lain tetap memainkan payudaranya. Dengan posisi tidur disampingnya, aku bisa dengan leluasa menggunakan kedua tanganku sembari tetap berciuman dengannya. Entah karena insting atau apa, tangan Sasa yang tadi menyentuh penisku sudah berani menggenggamnya erat dan memaju mundurkan dengan perlahan. “Sa…jangan erat-erat entar sakit…yang lembut aja yah sayang…” kataku padanya lagi dan dia hanya tersenyum dan berkata, “Sorry…abis gemes sih…hehehe…” belum sempat dia berkata lagi aku sudah menutup mulutnya dengan kecupan bibirku. Setelah kurasa vaginanya sudah cukup basah, aku baringkan Sasa terlentang dan aku buka pahanya sehingga area selangkangannya dapat aku lihat semua. Pertama dia risih dan malu tapi pada akhirnya dia pasrah juga apalagi dengan kedua tanganku yang terus menstimuli payudara miliknya. “Akhh…mas Adi…aku…” Aku dapat melihat sebersit keragu-raguan dimata Sasa saat aku membimbing penisku kebibir vagina miliknya. “Kenapa sayang? Malam ini lupakan semua kesedihanmu dan lepaskan sja bebanmu. Toh Edwin juga sering selingkuh dibelakangmu, jadi tak ada yang perlu kau sesali Sa…” bujukku kepadanya. “Kamu cantik…baik pula. Kamu pantas mendapatkan yang lebih baik…dan biarkan dirimu hidup bebas tanpa kekangan masa lalu lagi…I love you Sa…” perkataan penutup sebelum kami bersetubuh akhirnya manjur juga. Sasa mulai melepaskan pegangan kedua tangannya di pinggangku dan merangkul leherku lalu meminta ciuman hangat dariku lagi.


Sembari berciuman, aku mengarahkan lagi batang kemaluanku kearah bibir vagina Sasa. Aku bisa merasakan bibir kemaluan gadis ini mulai terbuka ketika kepala penisku mulai memasuki labia mayora miliknya. “Arghh…sakit mas.” Rintih Sasa dan akupun menghentikan penetrasiku. Begitu dia sudah mengambil nafas aku kembali melanjutkan penetrasiku lagi. Perlu sekitar 20 kali dorongan hingga batang kejantananku bisa terbenam seluruhnya didalam liang kewanitaan Sasa. Gadis ini melelehkan air mata namun dalam hitungan detik dia sudah mulai bisa merasakan kenikmatan cumbuanku yang tak henti-henti di bibir, leher, telinga dan payudaranya. Nafas Sasa mulai memburu ketika ciumanku menjelajahi leher dan telinganya sementara tanganku dengan liarnya memainkan putingnya sekaligus pusarnya. “Mas…akhhh…aku…akhh…mas..” Sasa kali ini sudah tidak dapat berkata apa-apa lagi karena sekarang kesadarannya sudah diambil alih oleh gairah yang membara. Setelah aku menstimuli Sasa dan mendiamkan penisku beberapa menit didalam liang vagina gadis ini, sekarang aku mulai melakukan gerakan menusuk pelan-pelan. Sodokan-sodokan penisku terasa sangat berat, maklum karena liang kemaluan Sasa belum pernah dimasuki benda sebesar ini. “Akhh…vaginamu sempit sekali sayang…luar biasa. Benar-benar luar biasa say.” Kataku pada Sasa. Sementara Sasa sendiri masih mendesah-desah tak karuan karena sodokan-sodokan penisku di vagina miliknya. Walaupun sesekali dia meringis menahan sakit atau menggigit bibir bawahnya, tapi aku tahu kalau dia juga tidak ingin persetubuhan ini berhenti begitu saja. Itu bisa aku lihat dari gerakan pinggulnya yang mengikuti irama sodokan batang penisku bahkan seolah-olah menyiratkan kalau dia ingin lebih. Melihat Sasa sudah mulai bisa menikmati, aku lalu mempercepat goyanganku sehingga sekarang kami bercinta selayaknya normal. Sembari menindihnya dan tetap menciumi leher dan bibirnya, sekarang tanganku mulai meremas-remas pantatnya yang ternyata padat berisi sementara tangan satunya menindih salah satu tangannya kekasur. Entah kenapa tapi hal itu membuatku semakin bernafsu saja dan sepertinya sensasi seperti itu bukan hanya terjadi padaku melainkan juga pada diri Sasa. Gadis ini semakin bisa meracau tak karuan, “Mas…terus…tusuk yang dalam…” Melihat gelagat ini aku lalu menaikkan kedua tungkai kakinya keatas bahuku dan sekarang berat tubuhku aku tumpukan kepaha bawahku. Dengan sekali tusukan aku bisa melesakkan batang kemaluanku menjadi lebih dalam kelobang kemaluan Sasa. “Akhhh…” pekik Sasa ketika dinding rahimnya tersentuh oleh ujung penisku. Dalam sepuluh menit kedepan kami bercinta dengan gaya itu. Kedua tangan Sasa memegangi pantatku dan menariknya seolah-olah menginginkan sodokan yang lebih pada vaginanya.


Aku memelankan pompaan batang kemaluanku sembari mengambil nafas namun tetap melakukan stimuli pada payudara gadis ini hingga sekarang bewarna semu merah, juga putingnya sekarang sudah membesar seperti bengkak saja. Merasakan pompaan penisku semakin pelan, Sasa berinisiatif menggerakkan pinggulnya. Namun ketika dia akan mempercepat gerakan pinggulnya, aku memberikan sebuah sodokan cepat dan keras sedalam-dalamnya lalu aku percepat pompaan penisku. Sasa menjerit menahan sakit namun dilain sisi dia juga menikmati perlakuanku ini, “Akhh…mas…sakit…akhhh…” Diiringi suara hujan deras aku mempercepat goyanganku ditubuh Sasa yang sudah lemas, dan dengan beberapa kali sodokan keras sembari aku mengangkat pinggul gadis ini agak keatas aku menyemprotkan spermaku kedalam liang kewanitaan gadis ini. “Sa…aku keluar…akhhh...” seruku sesaat lalu aku telungkup di atas tubuh gadis ini. Sasa yang sudah lemas kembali mengatur nafasnya. “Mas nanti kalau aku hamil gimana?” Dia nampaknya sudah mengumpulkan kesadarannya sedikit demi sedikit. Dia lalu duduk dan melihat bibir vaginanya yang berlumuran darah perawannya dan cairan bewarna putih kental yang keluar dari dalam vagina miliknya. Aku meyakinkan Sasa untuk menggunakan pil KB apalagi dia sendiri anak fakultas farmasi, obat semacam itu pasti tidak sulit untuk memperolehnya. Setelah ketakutanya hilang, kami lalu berpelukan sembari tidur dimana malam itu hujan bertahan hingga hampir pagi. Sekarang kedudukanku dengan Edwin satu sama, tetapi sebentar lagi akulah yang akan jadi pemenangnya karena Sasa berjanji untuk tidak mengatakan apapun pada orang lain termasuk perselingkuhan Ani dibelakangku.


BERSAMBUNG....


Mohon maaf masta, terpaksa Nubie harus sambung lagi lain waktu... ;)
Mohon para masta bersabar, dan mohon dukungannya agar dapat selalu menghibur masta masta di forum semprot tercinta ini.
Nubitol untuk sementara undur diri...
:ampun: :ampun: :ampun:


#NB: tidak menerima commentar yg sok paling ok ente punya Thread.
jika tidak senang dengan Thread ane,silahkan capcus ke toko sebelah
hanya menerima comment yg bermutu,kasih thanks atau kirim
ijo - ijo
 

velkrasnyyvet

Dreamer
UG-FR+
Thread Starter
Daftar
1 Feb 2011
Post
1.918
Like diterima
1.090
Lokasi
Outside The Box
Dihapus tanggal
28 Januari 2016...


Pijat sensual dengan Mr. X dari forum

Nubie memiliki seorang istri, umurnya gak jauh beda dengan nubie antara 25-30 tahun, karena istri nubie dan nubie suka sekali berpetualang terutama dalam hal sex, maka nubie memberanikan diri untuk mencari pemijat pria dan bisa pijat sensual. Dari sebuah forum didapatkanlah mr. X, seorang pemijat sensual yang setelah melalui chit chat nubie berhasil yakin bahwa mr. X ini adalah orang yang pas untuk pijat sensual istri nubie. Kenapa nubie bilang pas, karena memang doi mau memenuhi syarat untuk tanpa penetrasi, fokus lebih awal di pijat dan secara tampang memang oke punya atau good looking. Sebelumnya nubie mau menggambarkan bagaimana istri nubie, istri nubie adalah seorang wanita karir berusia 25-30 tahun, kita sudah memiliki satu anak, setelah melahirkan perut istri dan bokong istri nubie memang banyak guratan-guratan yang tidak hilang, buncit perutnya pun tidak sempurna kembali rata, warna kulit nya tidak putih namun eksotis menurut nubie dan teman2, bentuk badannya pantat dan dadanya semakin jadi indah justru setelah punya anak. Dan yang terpenting adalah Mr. X mau menerima keadaan istri nubie ini dan syarat2 nya.

Pada hari yang ditentukan, tibalah waktu nubie dan istri nubie cek in di hotel pangeran jayakarta, dengan niat mau menunggu Mr. X maka nubie dan istri nubie tidak tahan untuk bercinta, namun ternyata baru french kiss, Mr. X mengabarkan bahwa doi sudah sampai di lobby. Maka istri nubie pun berganti pakaian yang memang sudah disiapkan, yaitu bra dan g-string dalamannya dengan dress terusan luarannya. Naiklah Mr. X ke atas kamar dan buka pintu, nubie kaget, ternyata Mr. X memang good looking dan tampak bersih, namun nubie tidak menyangka karena dia lumayan overweight atau gendut, malah boleh dibilang gendut banget! Nubie takut istri nubie jadi turn off atau down, karena tidak membayangkan Mr. X lumayan gendut. Dari fotonya doi terlihat seperti atletis atau bahkan sick pack. Namun ternyata foto wajah saja bisa melebar kebawah. Namun karena sudah kepalang tanggung dan janji, nubie dan istri nubie tidak bisa menolak atau meminta Mr. X pulang, kita menyambut Mr. X, untuk ngobrol2 dan mencairkan suasana. 15 menitan ngobrol istri nubie akhirnya bilang: “mulai saja ya pijatnya”, mendapat persetujuan dari nubie, akhirnya Mr. X memulai pijatnya.

Istri nubie tidur tengkurap tanpa melepas pakaian, Mr. X tampak kaget dan meminta istri nubie membuka dress nya supaya lebih mudah untuk dipijat, maka istri nubie melepas daster yang hanya menyisakan bra dan g-string nya saja, lalu kembali tengkurap, Mr. X tampak biasa saja selayaknya orang mau pijat, tidak ada tanda-tanda nafas yang berubah, bicara mulai kacau seperti orang horny, sepertinya Mr. X ini professional sekali, atau memang tidak horny dengan istri nubie?
Maka ritual pijat pun dimulai, dengan mengambil sedikit lotion Mr. X memijat istri nubie mulai dari kaki, paha, badan punggung dan leher, lalu ke tangan, semua bagian dipijat namun tidak dengan pantat.
Setelah 30 menit tampak istri nubie sangat menikmati pijitan ini, mungkin karena badan Mr. X yang besar dan jemari-jemarinya yang besar Mr. X pandai memijit, setelah mendekati 45 menit lebih Mr. X memijat area pantat istri nubie dan nubie benar benar terbelalak saat dia menggeser g-string istri nubie dan melakukan penekanan di daerah vagina istri nubie, nubie bener bener berdesir merasakan sensasi ini, akhirnya sensualitas itu pun keluar juga, nubie gak tahan menunggu apa yang akan menjadi langkah berikutnya dari Mr. X.
Nubie melihat ke arah istri nubie, dengan pelan dia mengatakan ke nubie yang duduk memandangi dari kursi di sisi tempat tidur, “enak sayang”.. Mr. X pun terus melakukan pijatan telaten di pantat dan bibir vagina istri nubie yang terkuak dari sibakan g-string nya, 15 menit berselang Mr. X membalik istri nubie terlentang, dan serta merta membuka cup bra istri nubie dan menjilati putting susu istri nubie, serentak istri nubie teriak “ahhhrrrggg, jangan mas, nanti susunya keluar”.. ya istri nubie memang sedang menyusui.. dan memang sudah sedikit-sedikit rembesan susu keluar, namun Mr. X tidak menolak hal itu, dia malah makin menggila menyusu di toket istri nubie, (hal yang bahkan nubie sendiri gak mau lakukan ketika susu itu keluar!)..
Tampaknya istri nubie kurang nyaman disedot susunya dia mendorong kepala Mr. X kebawah, dan menutup cup bra nya kembali, entah refleks atau bagaimana dorongan itu membuat kepala Mr. X hinggap di vagina istri nubie, dan menjilati dengan slurrrp slurrrp vagina tersebut, vagina yang semenjak istri nubie melahirkan bahkan nubie sendiri tidak pernah jilat kembali!

Nubie bener bener berontak tegang dan gak tahan, istri nubie pun tampak horny sekali, serta merta dia berteriak “sayang sini, aku mau sepong punya kamu”, aku pun yang memang sudah tegang banget mencoba meminta persetujuan Mr. X takut merusak acara ritual pijatnya, dengan sambil menjilat vagina istri nubie Mr. X mengatakan “silahkan mas, gpp, sudah satu jam kok ritual pijatnya selesai, sekarang having fun aja”

Maka nubie pun bergegas ke sisi wajah istri nubie, dengan celana yang sudah terlepas kontol nubie yang sangat tegang pun berlabuh di mulut istri nubie, dan luar biasa sepongan istri nubie tidak pernah seenak ini, sangat enak! Sepongan saat istri nubie sedang merasakan sensasi jilmek yang luar biasa, sepertinya istri nubie sudah kangen dijilmek, atau.. Mr. X memang sangat jago menjilmek!

Nubie bener bener gak tahan, dan alamak entah emang sudah amat professional atau jago sekali Mr. X, mengatakan “mas, ini istrinya mas masukkin aja, silahkan main mas” lalu nubie menuju arah vagina istri nubie dan melakukan MOT, luar biasa sekali, sekarang Mr. X duduk dan menyaksikan nubie me MOT istri nubie, namun baru 2 menit saja, istri nubie meminta doggy dan dia berpaku di paha mr. X yang sedang duduk, sambil tanpa meminta izin nubie membuka celana Mr. X,yang sedang duduk di kursi samping tempat tidur!

Gila, gw cuma bisa bengong, liat istri nubie yang sepertinya liar sekali membuka celana Mr. X. Mr. X tampak menahan istri nubie, dan nubie yang sedang mendoggie istri nubie, terdiam, mendengar Mr. X berkata: “gakpapa mas?”
Gilaaa.. entah kenapa nubie cuma bisa menjawab : “iya gpp”.. nubie bener bener gak tau kenapa, nubie emang berfantasi pengen liat istri nubie oral kontol cowok lain.. dan setelah terbuka itu celana dan cd, ternyata Mr. X memang sudah ngaceng!, ternyata dia horny! Namun mampu mehanannya, ckckck

Dan yang paling gila adalah, kontol itu benar benar gemuk dan besar, istri nubie saja sampai sempat teriak kecil saat kontol itu terpampang, jujur aja kontolnya kayak kontol bule yang di bokep2, ternyata badan gendut besar ini, berkontol gendut dan besar juga.. dalam hitungan detik istri nubie melakukan sepongan liar di kontol Mr. X dan nubie juga terus giat melakukan doggie style.. kontol itu semakin tegang saja, lalu nubie berganti posisi, Woman on top, ngentot, dengan Mr. X yang sudah telanjang bulat terus mengikuti untuk terus disepong istri nubie, setelah beberapa saat nubie bercinta dengan istri nubie, kurang lebih 30 menit, Mr. X melepas sepongan dan mengatakan kalo dia mau keluar, lalu istri nubie dengan liar nya, meraih kontol itu kembali dan mengocok dengan deras dan kencang kontol Mr. X dan mendekatkannya ke muka istri nubie, dan woww.. kontol itu benar benar memuncratkannn banyak sekali sperma nya ke wajah istri nubie.. nubie benar benar gak tahan dan segera mengeluarkan sperma nubie ke dalam vagina istri nubie! Namun sebelum sempat keluar istri nubie yang belepotan sperma di mukanya mencabut kontol nubie dan meminta nubie tuk keluarkan di mukanya juga.. dan crotzzz crotttzzz crotttzzz.. sperma nubie berkumpul dengan sperma Mr. X membasahi semua muka istri nubie.. gilaaa

Cerita ini masih ada sambungannya, tapi nulisnya nubie udah gak kuat :(( sangeee
sperma sperma nubie dan mr. X pun membanjiri muka istri nubie, sejujurnyas sperma nubie sudah amat banyak dan kental namun sperma mr. X jauh lebih banyak dan kental membasahi seluruh wajah istri nubie, disemprot 2 orang benar benar membuat istri nubie tampak sangat sexy dengan facial spermanya.. Mr. X pun berkali kali memuji keliaran istri nubie.. Istri nubie pun tidak buru buru melap sperma yang belepotan di wajahnya, sehingga membuat suasana semakin mesum. Apalagi nubie dan mr.x masih sama sama bugil, cuma kali ini dengan kedua penis yang letoy dan lesu, karena mungkin baru habis habisan memuntahkan lahar dan isinya.. Dengan gerakan sedikit erotis istri nubie menyeka sperma yang belepotan di mukanya degan tangan dan tissue, lalu menggunakan tangannya untuk memainkan clitorisnya dan vaginanya dengan sperma kita yang belepotan di tangan. Istri nubie dengan manja bilang: "kalian kan sudah pada klimaks, sekarang giliran aku". Dengan sambil melebarkan kedua pahanya, istri nubie mengangkang dan memainkan clitoris serta memeknya dengan jari di depan pandangan kita berdua yang terdiam terpaku.. Seharusnya aku menghentikan kegiatan ini, karena ini sudah diluar tema pijat sensual.. Namun hatiku tak kuasa berjolak menikmati aura sensual yang kurasakan..

To be continued deh gan, susah ternyata ngetik dari hp n8 ane
 

velkrasnyyvet

Dreamer
UG-FR+
Thread Starter
Daftar
1 Feb 2011
Post
1.918
Like diterima
1.090
Lokasi
Outside The Box
Dihapus tanggal
28 Januari 2016...


Di sana, di alam sana, semua terlihat sama, seperti realita.
Di sana, bisa melakukan segalanya, tapi di sana bukan realita.
Di sana kita bukan diri kita, kita sosok baru.
Bisikan Gaib ?
Delusi ?
Halusinasi ?
Schizo !

Chapter 1
«Yoan»
"habis terkuras kelenjar air mataku, ku tetap terjaga, aku tetap terjaga ..." alunan nada indah Efek Rumah Kaca memenuhi ruangan sebuah kamar, kamar yang rapi, dipenuhi ornamen berwarna pink, harum aroma lavender menambah kesan nyaman di kamar itu.
Sesosok raga terlihat bersantai ditempat tidur, raga yang terbilang sempurna, wajah indo, rambut panjang, hidung yang mancung, barisan gigi yang rapi, sungguh seni yang tak ternilai harganya.
Tak berapa lama terdengar bunyi ringtone hape, dengan malas si cantik mencoba meraih sumber bunyi, setelah sebelumnya dia mengecilkan volume CDnya, dilayar tampak nama Andin, dia segera menjawab telpon itu
"halo, ada apa Ndin ?"
"eh Yo, kamu dimana ? jalan yuk"
"ni lagi dirumah, mau jalan kemana ?"
"ke tempat biasa aja, suntuk dirumah terus,hehehe"
"ok deh, aku juga bosen dirumah, tunggu ya 30 menit lagi aku sampe"
"ok deh cin, aku tunggu"
Yoan nama gadis itu, nama yang sesuai dengan raganya.
Yoan melemparkan hapenya ke kasur, dia beranjak ke lemari pakaian, cukup lama dia memilih pakaian.
Baju yang tak sesuai dengan pilihannya sudah menggunung di atas kasur.
Akhirnya dia memilih, tank top, dipadu dengan celana jean selutut, dia bersiap pergi, tapi sebelum pergi memberi kesempatan butiran" air parfum untuk singgah di lehernya.
Yoan agak berlari keluar rumah, dia tidak mau membuat sahabatnya menunggu lama. Sang gadis sudah siap di dalam mobilnya, iya ... dia tak perlu berpamitan, karena di sangkar megah itu dia sendiri, orang tuanya keluar kota, para pembantu tinggal terpisah dibelakang rumah.
Gerimis dan kabut menemani perjalanan Yoan, beberapa kali dia harus memaksakan matanya bekerja lebih keras ketika jalanan berbelok.
Disaat sedang konsentrasi terhadap jalanan, di depannya nampak sesosok yang tiba" berada di tengah jalan.
"Tiiiiiiinnn !" suara klakson mobil tak membuat sosok itu minggir.
Yoan dengan reflek membanting kemudi ke kiri guna menghindari sosok itu.
mobil meluncur tak terkendali dan "Bruuukk !" mobil itu menabrak pohon yang cukup besar.
-to be bersambung
Fragmen 2
«Halusinasi»
Pelipis dan lengannya terpaksa harus dijahit karena telah sobek akibat goresan kaca mobil. Setelah 3 hari barulah Yoan sadar dari komanya, ia tidak tahu kalau dirinya ada di rumah sakit.
Mike Meyer dan Harni Meyer, juga ada disampingnya, mereka adalah orang tua Yoan.
Untuk sementara, Yoan tak mau bicara, kecuali memandang dengan heran semua yang ada di sekelilingnya.
"Yoan...," ucap perempuan cantik berkulit sawo matang. Perempuan itu menatap Yoan dengan sedih.
"Kami menghawatirkanmu nduk. Tapi kami juga bersyukur karena kamu masih selamat"
Yoan menahan sakit di kepalanya. Dengan suara lemah dia bertanya, "ini di mana ?"
"ini di rumah sakit nak, kamu mengalami kecelakaan" Mike menjawab pertanyaan Yoan.
Mata Yoan masih menampakan kebingungan. Namun hal itu dimaklumi oleh orang tuanya, karena Yoan baru sadar dari koma.
"itu siapa ?" Yoan menunjuk suster.
"itu suster yang merawatmu selama di rumah sakit ini" Mike menjelaskan.
sepasang mata yang sayu itu memandang lagi sekeliling, "itu siapa ? mereka itu siapa ?" suaranya yang parau kembali terdengar, sambil bertanya, tangan Yoan menunjuk ke suatu sudut kosong. Tempat itu tidak ada siapa". Dan tentu saja pertanyaan Yoan ini membuat orang yang ada di ruangan itu saling pandang.
"Mereka mau apa kemari ?" tanya Yoan kepada siapa saja
"Mereka siapa dik ?, disini tidak ada orang lain selain kita" kata suster muda berparas ayu.
"Apakah kamu melihat orang kecuali kami ?" tanya Harni
"itu..." Yoan menggerakan tangannya pelan ke tempat kosong, "di situ kan ada empat orang berpakaian serba hitam"
sekali lagi orang yang ada di ruangan itu saling berpandangan. Kali ini mereka tampak tegang.
"O, mereka ... mereka ... jangan ! jangan bunuh saya !" Yoan histeris.
"Yoan... ! Yoan, tenanglah ! tidak ada apa2" bujuk suster
"mereka mencabut pedang, Suster ! mereka bergerak kemari. Oh, jangan ! aku tidak mau ! Yoan kembali histeris.
Beruntung Dokter Asep datang dan dapat mengatasi keadaan Yoan, Dokter Asep menyuntikan obat penenang untuk Yoan.
Setelah keluar dari kamar Yoan, Mike dan Harni Meyer berbicara dengan Dokter Asep, mereka meminta agar Yoan dipindahkan ke kamar yang lain, dan Dokter Asep pun memberi izin untuk Yoan pindah kamar.
Setelah pindah kamar, Yoan sudah kembali tenang, tapi kini tatapan matanya kosong, Yoan menjadi sosok yang pendiam. Baik kepada suster maupun dokter dia jarang bicara. Bahkan orang tuanya sering tidak diperhatikan olehnya.
-to be bersambung
Chapter 3
"Pulang"

Dua minggu lamanya Yoan mondok di rumah sakit. Luka-lukanya memang berangsur membaik. Hanya keanehan sikapnya yang terasa menyolok. Terkadang dia nampak ceria seperti sebelunya, tapi mendadak ia bisa menjadi orang yang berbeda, senyum dan tawa renyahnya dapat berubah menjadi tangis dalam seketika, mulutnya yang mengeluarkan kicauan-kicauan pemancing tawa dapat berubah mengatup rapat-rapat tanpa suara dalam seketika.
Sampai di rumah, Yoan disambut oleh pembantunya, dengan tawa khasnya Yoan muncul dari dalam mobil, Yoan setengah berlari menuju Mak War, orang yang mengasuhnya sejak kecil. Dipeluknya tubuh gendut Mak War.
"Aku kangen Mak" bibir Yoan berucap jujur.
"Sama mbak, emak juga kangen sama mbak Yoan" Mak War membalas dengan lembut.
"Yoan ...." suara Harni mengagetkan Yoan dan Mak War yang sedang perpelukan.
"Iya ... ada apa ma ?" ucap Yoan, tidak ketinggalan dia juga menyunggingkan senyum manisnya.
"Kami harus pergi ke Jerman, ada hal penting yang harus segera kami urus" Harni menjawab.
"Yah... masak aku baru sembuh udah ditinggalin lagi" jawab Yoan, kali ini dengan memasang muka cemberut.
"Kan ada Mak War yang nemenin kamu, lagian kamu kan udah gede, udah biasa ditinggal sendiri, udah mandiri" Mike menimpali sambil mengelus kepala sang anak.
"Yaudah deh gakpapa" balas Yoan dengan senyum yang sedikit dipaksakan.
Yoan dam Mak War melepas kepergian Mike dan Harni di depan pagar rumah. Mereka tidak beranjak dari situ sebelum mobil yang ditumpangi suami isrti tersebut menjauh.
"Yaudah mbak ato masuk, nanti emak masakin makanan yang enak" aja Mak War.
"Ayiiikkkk" Yoan girang mendengarnya.

*******

Angin malam masih berhembus, kadang deras, kadang menipis. Rambut yang tergerai itu meriap-riap dipermainkan angin. Mirip sebuah ombak di pantai yang indah. Di langit memang tak ada bulan, bahkan bintangpun tak tampak satu pun. Tapi Yoan tetap menikmatinya, di beranda kamarnya di lantai dua rumahnya dia berdiri.
Gerimis datang memusnahkan gersang. Air surga turun dari langit, seakan mengusir sang gadis untuk segera pergi ke pembaringan.
Yoan membaringkan tubuhnya di kasur yang empuk.Tetapi tiba-tiba tubuhnya bagai terbakar, panas. Mulanya seperti merasakan panas di sekujur kulitnya. Makin lama makin terasa menusuk tulang, hingga rasanya berubah menjadi dingin.
Tiga kali suara guruh itu terdengar bagai mengguncangkan bumi. Rintik hujan turun samar-samar meninggalkan suara berisik pada genteng. Makin lama makin lebat.
Yoan mulai mendesah . Berulangkali mendesah sambil menggeliat kian kemari. Ada suatu rasa yang mendesak di dalam dada, seperti gatal tapi bukan gatal, seperti pegal tapi bukan pegal.
Yoan mulai meraba bagian dadanya. Mengusap, tersentak, lalu mendesah. Sentuhan jari-jarinya terasa membuat desiran yang melayang.
"Ouuuuch ...." desahnya yang mirip sebuah keluh. Lidahnya mulai mengecap, meneguk air liurnya. Lama-lama jemarinya mengusap seluruh bagian tubuhnya dengan sesekali menggigit bibirnya dan mendesah dengan lembut.
Jemari tangan kanannya telah sampai di vaginanya. Jemari tangan kirinya tidak bisa berhenti meremas lembut kedua dadanya bergantian. Desahan memenuhi kamar itu.
Yoan masih terus mencari kenikmatan. Jemarinya masih aktif memainkan bagian sensitf tubuhnya. Sampai akhirnya cairan keluar dari vaginanya. Orgasmenya mengantarkan Yoan ke alam mimpi. Tersungging senyum kepuasaan di bibirnya.
Keesokan harinya .....
Di sekolah ..
Yoan kembali bertemu dengan Andin, sahabatnya. Andin merasa ada sesuatu yang berbeda dari diri Yoan. Andin sangat sayang kepada Yoan, dia ingin memberi kejutan kepadanya.
Di kantin saat istirahat ...
"Fendi ... kamu mau kan bantuin aku, aku pengen buat kejutan buat Yoan. Kamu orang yang disukai Yoan, jadi pasti dia seneng dapat kejutan dari kamu, bantu ya ... please" mohon Andin ke Fendi.
"Emangnya mau kasih kejutan kayak gimana ?" tanya Fendi penasaran.
"Sini aku bisikin" perintah Andin, Fendi mendekatkan telinganya ke Andin.
"oke deh.. aku bantuin" jawab Fendi
"Makasih ... kamu baik deh" jawab Andin senang.
Andin dan Fendi tidak menyadari ada sepasang mata yang mengawasi mereka. Sepasang mata yang diliputi amarah.

Malam telah tiba ......

"Kreeekkk" suara pintu terbuka. sesosok tubuh berpakaian serba hitam memasuki sebuah kamar. Di pembaringan terlihat seorang gadis sedang tertidur pulas.

to be bersambung ........
cerita sebelumnya...

Andin dan Fendi ingin memberi kejutan pada Yoan. Saat mereka ngobrol di kantin, ada sepasang mata penuh amarah melihat mereka ...

Malam telah tiba ......

"Kreeekkk" suara pintu terbuka. Sesosok tubuh berpakaian serba
hitam memasuki sebuah kamar. Di pembaringan terlihat seorang gadis
sedang tertidur pulas.

Chapter 4
First Blood

sosok berjubah hitam mendekati sang gadis yang terlelap tidur. Kemudian dibekapnya mulut sang gadis, si gadis terbangun kaget. Seketika itu juga dia memberontak.
Si gadis berteriak, tak ada suara yang keluar dari mulutnya. Keringat dingin mengucur di tubuhnya, wajahnya tampak pucat.
Tenaganya kalah kuat dibanding sang lawan. Dia mulai kehabisan tenaga. Dia tak mampu lagi melawan.
Sosok misterius mengeluarkan cutter dari tangan kanannya. Mendekatkan cutter itu ke pergelangan tangan kiri si gadis.

''Tidaaaakk'' Yoan terbangun dari mimpi buruknya

***********

Kediaman Andin ....

Kerumunan orang menyaksikan sesosok tubuh gadis cantik. Tubuh itu terlihat membiru.
Pergelangan tangin kirinya tersayat cutter yang tergeletak di dekat tangan kanannya.
Darah terlihat mengucur di bekas sayatan itu... tragis.
Isak tangis menjadi backsound kejadian tragis itu.

"ini adalah kasus bunuh diri, pintu dan jendela tertutup dari dalam" ujar polisi yang bertugas kepada Andi.

"iya pak saya mengerti" jawab Andi pasrah merelakan puterinya yang sudah tiada.

****

gadis cantik terlihat memeluk sebuah nisan, seakan tak mau melepasnya ANDIN MAYASARI tertulis nama di batu nisan itu

'Andin, kenapa kamu tinggalin aku ?"
"kamu udah janji mau jagain aku terus" Yoan mengeluarkan isi hatinya.
Tak ada jawaban atas semua pertanyaannya. Hanya angin yang bertiup lembut yang membalas pertanyaannya.
"Kamu udah janji kita akan terus bersama sampai tua, Andin !" tetesan air mata semakin deras mengalir, membasahi pipi Yoan. Yoan terus tenggelam dalam kesedihannya, dia tidak meyadari ada orang yang mendekatinya.

"ehem" suara deheman mengagetkan Yoan, Yoan menoleh ke sumber suara.

"Fendi, kamu ngapain disini ?" tanya Yoan saat tahu yang datang adalah Fendi, orang yang disukainya.

"mau jemput kamu, udah sore udah waktunya pulang" jawab Fendi.

"tumben perhatian ?" tanya Yoan penasaran.

"Andin sudah gak ada, sekarang aku yang akan jagain kamu sampai akhir hayatku" Fendi mulai mengeluarkan gombalannya.

"ihhh ... apaan sihh .. gombal, ya udah yuk pulang" jawab Yoan yang langsung menggandeng Fendi meninggalkan pemakaman

********

"ayo masuk dulu" ajak Yoan ke Fendi setelah mereka sampai di rumah Yoan. Fendi tidak menolak tawaran itu.

"kamu duduk dulu aja, aku mau ganti baju dulu, anggap aja rumah sendiri, nyantai aja gak ada siapa-siapa kok" cerocos Yoan ke Fendi.

"ok siap bos" jawab Fendi sambil tersenyum

beberapa menit kemudian Yoan kembali ke ruang tamu. Dia kini mengenakan kaos oblong dan celana pendek. Pahanya yang mulus tampak mengundang untuk di sentuh. Fendi yang melihat itu tanpak sedikit menelan air liurnya. Mereka tampak ngobrol dengan santai. Yoan sangat menikmati kebersamaannya dengan Fendi. Kadang dia tertawa renyah saat Fendi mengeluarkan guyonannya. Sampai tiba-tiba wajah mereka saling berdekatan. Semakin dekat. Semakin dekat.

Tiba- tiba Fendi mencium kening Yoan. Dari kening, ciumannya turun ke alis matanya yang hitam lebat teratur, ke hidung dan sampai ke bibirnya. Ciuman mereka semakin lama semakin bergelora, dua lidah saling berkait diikuti dengan desahan nafas yang semakin memburu. Tangan Fendi yang tadinya memeluk punggung Yoan, mulai
menjalar ke depan, perlahan menuju ke payudaranya yang sekal. Kaos oblong yang di gunakan Yoan memudahkan tangan Fendi untuk menyentuh bukit indah itu. Tidak lama kemudian kaitan BH-nya berhasil dilepaskan oleh Fendi. Kedua bukit kembar dengan puncaknya yang sudah mengeras itu tersembul dengan sangat indah. Kini kaos dan BH yang dikenakan Yoan telah tergeletak di lantai.

Sementara itu,tangan mungil Yoan juga telah berhasil membuka kancing kemeja Fendi, dan juga celana panjangnya. Hanya tinggal celana dalam masing-masing yang masih memisahkan tubuh telanjang mereka berdua. Birahi telah menjadi juara. Nafsu yang menderu memenuhi ruang tamu itu.

Fendi melepaskan ciumannya dari bibir Yoan, menjalar ke arah telinga, lalu membisikkan kata-kata cinta padanya.
"i love you" bisiknya.
Yoan tersenyum dan menatapnya sambil
berkata "i love you too".
Fendi melanjutkan ciumannya ke leher Yoan, turun ke dadanya, lalu dengan amat perlahan, dengan lidahnya Fendi
mendaki bukit indah itu sampai ke puncaknya. Dijilati dan dikulum
puting susu Yoan yang sudah mengacung keras. dia mulai mendesah
dan meracau tidak jelas."Ooouuucccchhhh, Fendi nakal" mata Yoan terpejam dan bibirnya
yang merah indah itu sedikit merekah. BIrahinya mulai memuncak. Tangan Fendi mengelus, meremas dan memilin
puting di puncak bukit satunya lagi. Berpindah darisatu sisi ke sisi satunya, diselingi dengan ciuman ke bibirnya lagi,
membuat Yoan mulai berkeringat. Tangannya semakin liar mengacak-acak rambut Fendi, bahkan kadang-kadang menarik dan menjambaknya.

kemudian Fendi mulai melepaskan celana dalam Yoan. Satu-satunya kain yang masih tersisa. Yoan juga melakukan hal yang sama kepada Fendi, membuat kemaluan Fendi yang sudah sedemikian kerasnya mengacung gagah. Yoan terlihat tak sabar, dia mulai membelai dan digenggamnya kemaluan Fendi. Digerakkan tangannya maju mundur

"Ooooccchh nikmat yang ..." desah Fendi

Fendi memulai aksinya, tangannya mulai mengelus vagina Yoan. Begitu tersentuh desahan Yoan bertambah keras.
"Yeeeaaahh" desahnya

tangan Fendi mulai bermain di tonjolan daging sebesar kacang tanah. Tubuh Yoan mulai terguncang. Ke kiri dan ke kanan. Keringat mengucur deras di tubuhnya yang wangi.

Mereka terus berciuman. Ciuman Yoan semakin ganas Sesekali menggigit lidah Fendi yang ada di dalam mulutnya. Sementara tangannya semakin aktif bermain di kemaluan Fendi. Tubuh Yoan terlihat mengejang dan melengkung kemudian terhempas di sofa disertai erangan panjang. Fendi telah berhasil mempersembahkan orgasme pertama untuk Yoan.

Yoan memeluk Fendi.
"Oooohhh ... nikmat sekali sayang" ucapnya mesra.

Fendi tidak mau istirahat terlalu lama. Dia mulai menindih tubuh Yoan. Diciuminya wajah dan bibir Yoan. Deru nafas Yoan mulai terdengar. Birahi Yoan mulai naik lagi.

Perlahan dengan tangan Fendi menuntun kemaluannya ke vagina Yoan. Kemudian dia mulai mendorong kemaluannya masuk ke vagina Yoan. Yoan sedikit merintih.
"Aaaakkkkkhh ..."

Air matanya terlihat menetes di pipi.

Fendi mulai memasukkan kemaluannya ke vagina Yoan yang sempit. Fendi berhenti sejenak, dia menatap mata Yoan. Sambil tersenyum Yoan menganggukkan kepalanya merestui apa yang dilakukan Fendi.

Akhirnya seluruh batang kemaluan Fendi berhasil masuk ke vagina Yoan. Dicumnya Yoan dengan mesra, Fendi juga menyeka air mata Yoan. Yoan tersenyum dia terlihat bahagia.

Fendi mulai memompa kemaluannya. Setiap gerakan kemaluannya menimbulakan lenguhan dari Yoan.

"Aaaakkkkhhh .... yeeeaaahhhh" Yoan mengeluarkan desahannya.

Keringat membasahi tubuh telanjang mereka berdua. Mereka terus berpaju dalam birahi. Fendi semakin cepat memompakan kemaluannya.

Yoan mulai membanting kepalanay ke kanan dan ke kiri. Pelukannya ke Fendi semakin erat.

"Akkkkkhhh ... aku mau sampai yang" ujar Yoan

"Aku juga bentar lagi" jawab Fendi

Desakan demi desakan tak tertahan lagi.

"aaaaakkkkkkkhhh ... aku sampppaaii" Yoan berteriak

Fendi mengeluarkan kemaluannya dari vagina Yoan, dan Croooot. Dia mengeluarkan spermanya di atas perut Yoan. Tersunging senyuman antara mereka berdua. Mereka saling memeluk, seakan tak inggin terpisah.

*********

Fendi dan Yoan sudah memakai pakaiannya mereka kembali.

"Aku sayang kamu Fen, kamu jangan tinggalin aku ya" Yoan merajuk manja.

"aku juga sayang sama kamu, aku gak akan ninggalin kamu, sekarang aku pulang dulu ya udah malam" jawab Fendi sambil mengelus kepala Yoan.

Kecupan mesra di bibir menjadi perpisahan kedua insan yang sedang kasmaran itu malam ini.



Bagaimana kisah cinta Yoan dan Fendi selanjutnya ??
Apakah benar Andin bunuh diri ? ataukah dia dibunuh ?

to be bersambung ....
 
Status
Thread ini sudah dikunci moderator, dan tidak bisa dibalas lagi.
Sbo Hoki Online   Senior Bola Online
Jav Toys Domino168 - Agen Bola
Asia Bet
Asia Win Online
Waspada, pin ini BUKAN pin Forum Semprot :
D005 0B6C

Pasang iklan hanya lewat CONTACT US
Top
Current URL :