Toto Alpha - Agen Bola  Poker Republik - Agen Bola
Agen558 - Agen Bola
Judi Casino, Agen Bola Sbobet Ibcbet
Texas Poker 888
Agent688
Taruhan Bola Online Terbesar   Taruhan Bola Online Terbesar
Bandar Q   Poker uang asli
Birtoto - Bandar Togel Singapore | Sydney | Hongkong   Birpoker - Agen poker
Viva Win 88   ISOTOTO dan ISOPOKER Website Terbaik Anda Bermain Poker dan Togel Online di Indonesia
Agen Bola | Judi Online Terpercaya Indonesia | SBOBET Casino | Togel SGP   Momo 4D - Agen Togel Online Indonesia Terpercaya
AGEN POKER TERBAIK DI INDONESIA   bcadomino agen poker online,bandar q,domino qq,capsa susun
Pasang iklan, hanya lewat Contact Us
  Javtoys   Beriklan
Nusabet 168   SBC AGENT : AGENT TERPERCAYA   ZenBola - Agen Bola
Judi Casino dan Togel Online Indonesia   Kakak Dewa   Jaya Bet
Senior Bola - Agen Bola
Situs Judi Online, Judi Bola, Poker Online, Casino, dan Togel SGPluxury138
Situs Judi Online, Judi Bola, Poker Online, Casino, dan Togel SGPluxury138
Situs Judi Online, Judi Bola, Poker Online, Casino, dan Togel SGPluxury138
  1. Alamat alternatif sudah baru gan.
    Bookmark alamat ini gan :  http://tinyurl.com/cintasemprot 
    Jangan bookmark alamat IP-nya.
    Ikuti update terbaru dari semprot (maintenance dll) dari twitter : / Facebook
  2. Login / daftar ? klik di sini
    Lupa password ? klik di sini
  3. Tidak bisa melihat gambar di thread?
    Kalau dari PC, matikan Ad Blocker.
    Kalau dari HP, jangan pakai UC Browser. Pakai Chrome / Firefox / Opera Mini.
    Tutup

Binalnya Mama Winda, Ibu Tiriku

Thread di 'Setengah Baya' dimulai oleh dangdutseksi1, 21 May 2013.

  1. dangdutseksi1

    dangdutseksi1 Semprot Kecil
    Thread Starter

    Daftar:
    8 Jun 2011
    Post:
    74
    Like Diterima:
    203
    Situs Judi Online, Judi Bola, Poker Online, Casino, dan Togel SGPluxury138
    Namaku Kemal, lahir di kota Tegal 25 tahun yang lalu. Aku menyelesiakan kuliah di fakultras kedokteran 3,5 tahun yang lalu, dilanjutkan dengan praktek asisten dokter (koas) selama setahun dan kemudian mengikuti ujian profesi dokter. Kini aku sudah resmi menyandang gelar dokter di depan namaku dan sebagai tahap terakhir, aku kini sedang mengikuti praktek di puskemas di daerah terpencil sebagai bentuk pengabdian sebelum mendapatkan izin praktek umum.
    Aku dibesarkan di kota kelahiranku sampai SMU dan kemudian menjutkan kuliah di Jogja. Keluargaku sebenarnya bukan keluarga broken home, namun karena ayahku yang berpoligami jadi aku agak jarang berinteraksi dengan ayahku, lebih banyak dengan ibuku dan 2 orang adikku.
    Seperti kebanyakan orang sukses di kotaku, Ayah adalah seorang pengusaha warung makan yang lebih dikenal dengan sebutan Warteg. Sejak aku SMP, ayahku sudah punya 2 warteg di kota asalku, 4 di Jakarta dan 2 gerai di Jogja. Berbekal kesuksesan itulah Ayah yang dulu hanya beristrikan ibuku, mulai buka cabang di Jakarta dan Jogja. Alasannya sederhana: butuh tempat singgah waktu memantau jalannya usaha. Pada awalnya, aku sebagai anak sulung, menjadi anaknya yang menentang poligami Ayah. Waktu itu aku masih duduk di bangku kelas 3 SMU dan Ayah pertama kalinya berpoligami dengan menikahi seorang gadis yang usianya hanya terpaut 10 tahun dariku. Namun justru ibuku yang mendamaikan perselisihanku dengan Ayah dengan alasan klasik yaitu Ayah sudah berjanji untuk tetap membiayai hidup kami dan sebagai jaminannya, 2 warteg di Tegal secara penuh menjadi milik Ibu.
    Berbekal pendapatan dari usaha warteg itulah, aku bisa kuliah sampai menjadi dokter saat ini, dan tentu saja ibuku sangat bangga karena aku sebagai putra sulungnya berhasil mandiri dan menjadi contoh buat adik-adikku.
    Lalu bagaimana dengan perselisihanku dengan Ayah? Wah, sejak Ibu sudah memaklumi Ayah, aku pun sudah tidak pernah mengungkitnya lagi. Hubunganku dengan Ayah, bahkan dengan dua isteri muda Ayah baik-baik saja. Bahkan Ayah menyempatkan diri hadir dalam wisudaku dulu.
    Isteri kedua ayah, yang berarti ibu tiriku, bernama Nurlela, tinggal di sebuah perumahan di daerah Bintaro. Dari hasil pernikahan dengan Mama Lela (begitu Ayah menyuruhku memanggilnya), Ayah dikaruniai 2 orang anak. Setelah 5 tahun menikah dengan Nurlela, Ayah kemudian “buka cabang” lagi di Jogja, kali ini dengan seorang janda beranak satu, bernama Windarti, yang kupanggil dengan Mama Winda, usianya bahkan hanya terpaut 6 tahun denganku.
    Sebagai seorang lelaki, aku harus jujur untuk mengacungkan jempol buat Ayah dalam memilih isteri muda. Kedua “gendukan”-nya, meskipun tidak terlalu cantik, namun punya kemiripan dalam hal body, yaitu “toge pasar”. Rupanya selera ayah mengikuti tren selera pria masa kini yang cenderung mencari “susu” yang montok dan goyangan pantat yang bahenol.
    Dari dua ibu tiriku itu, tentu saja aku lebih akrab dengan Mama Winda, karena selama aku kuliah di Jogja, setiap akhir bulan aku menyempatkan bermalam di rumahnya yang juga lebih sering ditinggali Ayah. Maklum Mama Winda adalah isteri termuda, meskipun berstatus janda.
    Bagiku sebenarnya sangat canggung memanggil Winda dengan sebutan Mama, jauh lebih cocok kalau aku memanggilnya Mbak Winda, karena usianya memang hanya lebih tua 6 tahun dariku. Wajahnya manis selayaknya orang Jogja, dan yang membuatku betah bermalam di rumahnya adalah “toge pasar” yang menjadi keunggulannya.
    Suatu saat, ketika aku masih kuliah. Seperti biasa, pada akhir pekan di minggu terakhir, aku membawa sepeda motorku dari kost menuju rumah Ayah dan Mama Winda. Rupanya saat itu Ayah sedang “dinas” ke Jakarta, mengunjungi Mama Nurlela, sehingga hanya ada Mama Winda dan anaknya dari suami pertamanya yang berusia 5 tahun bernama Yoga. Seperti biasa pula, aku membawakan cokelat buat adik tiriku itu.
    Saat datang, aku disambut oleh Yoga, sementara ibunya ternyata sedang mandi. Karena belum tahu kalau aku datang, Mama Winda keluar kamar mandi dengan santainya hanya berbalut handuk yang hanya “aspel” – asal tempel. Melihat kehadiranku di ruang tengah, sontak Mama Winda kaget dan salah tingkah.
    “Eh... ada Mas Kemal..”, serunya sedikit menjerit dan melakukan gerakan yang salah sehingga handuknya melorot hingga perut sehingga payudaranya yang sebesar pepaya tumpah keluar.
    “Glek..”, aku menelan ludah dan menatap nanar pada ibu tiriku yang bertoket brutal itu. Sayang sekali pemandangan indah itu hanya berlangsung sebentar karena Mama Winda segera berlari ke kamar.
    Dadaku berdegup kencang, birahiku langsung naik ke ubun-ubun. Ingin rasanya aku ikut berlari mengejar Mama Winda ke kamarnya, menubruknya dan meremas buah dada pepayanya. Sayang aku belum berani melakukannya.
    Aku hanya bisa “manyun” sambil bermain dengan adik tiriku sampai akhirnya sang ibu tiri keluar kamar. Tidak tangung-tanggung, dia membungkus tubuh montoknya yang baru saja kulihat toket brutalnya dengan pakaian muslim, lengkap dengan jilbabnya. Mama Winda sehari-harinya memang mengenakan jilbab. Birahiku langsung “watering down”... layu sebelum berkembang.
    Sebagai pelampiasan, pada saat mandi aku menyempatkan diri untuk masturbasi, kebetulan ada tumpukan pakaian dalam kotor milik Mama Winda di dalam ember. Awalnya aku mengambil bra warna hitam dengan tulisan ukuran 36BB yang mulai memudar. ‘Pantas besar seperti pepaya’ pikirku membayangkan dua buah dada besar milik Mama Winda yang sempat kulihat beberapa waktu lalu.
    Sambil membayangkan buah dada Mama Winda, aku mengambil celana dalam hitam Mama Winda dan menciuminya. Aroma khas vagina masih tertinggal di sana, mengantarkan masturbasiku dengan sabun mandi sampai akhirnya menyemprotkan sperma di dinding kamar mandi.
    Sesudah mandi aku menonton TV bersama Mama Winda dan adik tiriku. Kami mengobrol akrab sampai sekitar jam 8 adik tiriku minta ditemani mamanya untuk tidur. Sebelum menemani anaknya tidur, Mama Winda masuk kamarnya untuk bertukar pakaian tidur baru kemudian masuk kamar anaknya.
    Setelah anaknya tidur, Mama Winda keluar kamar dengan kostum tidurnya yang sama sekali berbeda dengan kostumnya tadi sore. Pakaian muslimnya yang tertutup berganti dengan gaun tidur warna putih yang meskipun tidak tipis tapi memperlihatkan bayangan lekuk tubuh montoknya, termasuk warna bra dan celana dalamnya yang berwarna ungu. Kontan birahiku langsung naik kembali.
    “Wow... Mbak Winda cantik sekali”, pujiku tulus terhadap ibu tiriku yang memang tampak cantik dengan gaun tidur putih itu. Rambut panjangnya tergerai indah menghiasi wajah manisnya.
    “Huss... kalau Bapakmu tahu, bisa dimarahin kamu, panggil Mbak segala”, serunya agak ketus namun tetap ramah.
    “Bapak lagi ngelonin Mama Lela, mana mungkin dia marah”, pancingku.
    “Ih, apa sih hebatnya si Lela itu? Aku belum pernah ketemu”, sergah Mama Winda. Nadanya mulai agak tinggi.
    “Hmm... menurut saya sih... dan Bapak pernah cerita bahwa dia suka buah dada Mama Lela yang besar”, sadar pancinganku mengena, aku segera melanjutkannya. Padahal tentu saja aku berbohong kalau bapak pernah cerita, tapi kalau ukuran buah dada, mana kutahu dengan pasti. Yang kutahu buah dada Mama Lela memang besar.
    “Oh ya?... “, benar saja, emosi Mama Winda semakin meninggi. Dadanya ditarik seakan ingin menunjukkan padaku bahwa buah dadanya juga besar.
    “Bapak kalau di rumah Mama Lela suka lupa diri, pernah mereka ML di dapur, padahal waktu itu ada saya”, cerita bohongku berlanjut,”mereka asyik doggy style dan tidak sadar kalau saya melihat mereka”.
    “Gila bener... pasti si Lela itu gatelan dan tidak tahu malu ya?”, sergah Mama Winda dengan emosi.
    “Apanya yang gatelan Mbak?”, tanyaku.
    “Ya memeknya.... “, karena emosi, Mama Winda sudah tidak peduli omongan jorok yang keluar dari mulutnya,”pasti sudah kendor tuh memeknya si Lela!”
    “Kalau punya Mbak pasti masih rapet ya?”, tantangku.
    “Pasti dong... saya kan baru punya anak satu”, kilahnya,”...dan saya kan sering senam kegel, Bapakmu gak akan kuat nahan sampai 5 menit, pasti KO”.
    “Ya lawannya udah tua..., pasti Mbak menang KO terus”, aku terus menyerang sambil menghampiri Mama Winda sehingga kami duduk berdekatan.
    “Maksudmu apa Kemal?”, Mama Winda mulai mengendus hasratku. Matanya membalas tatapan birahiku pada dirinya.
    “Sekali-kali Mbak harus uji coba dengan anak muda doong”, jawabku enteng sambil tersenyum.
    “Welehh... makin berani kamu ya?...”, tangannya menepis tanganku yang mulai mencoba menjamah lengannya.
    “Enggak berani ya Mbak?”, tantangku semakin berani,”melawan anak muda?”.
    “Gendeng kamu... aku ini kan ibu tirimu”, katanya berdalih.
    “Ibu tiri yang cantik dan seksi”, puji dan rayuku.
    “Gombal kamu”, serunya dengan wajah agak merah pertanda rayuanku mengena.
    “Mbak Winda...”, aku terus berusaha,”coba bayangkan Bapak sedang ML sama Mama Lela sekarang dan sementara Mbak Winda ‘nganggur’ di sini”.
    “Terus?...”, pancingnya.
    “Ya... saya bisa memberikan sentuhan dan kepuasan yang lebih buat Mbak daripada yang diberikan Bapak...”, kataku persuatif.
    “Kamu sudah gila Kemal”, ibu tiriku masih nyerocos, namun tangannya kini tidak menolak ketika kupegang dan kuarahkan ke penisku yang sudah mengeras.
    “Mungkin saya memang gila Mbak, tapi Bapak lebih gila, mungkin dia sekarang sedang nyedot susunya Mama Lela yang besar... atau mungkin sedang jilat-jilat memeknya”, aku terus membakar Mama Winda.
    “Huh... Bapakmu enggak pernah jilat memek, ngarang kamu..”, sergahnya.
    “Oh ya?... tapi dia pernah cerita kalau di hobby sekali menjilat memek Mama Lela..”, aku terus berbohong sementara tanganku sudah aktif menarik rok Mama Winda ke atas sehingga kini pahanya yang montok dan putih sudah terlihat dan kubelai-belai.
    “Kamu bohong...”, katanya pelan, suaranya sudah bercampur birahi.
    “Ih... bener Mbak, Bapak suka cerita yang begitu pada saya sejak saya kuliah di kedokteran”, ceritaku.
    “Awalnya Bapak ingin tahu apakah klitoris Mama Lela itu normal atau tidak, karena menurut Bapak, klitoris Mama Lela sebesar jari telunjuk”. Tanganku semakin jauh menjamah, sampai di selangkangannya yang ditutup celana dalam ungu. Mama Winda sedikitpun tidak memberi penolakan, bahkan matanya semakin sayu.
    “Stop Kemal, jangan ceritakan lagi si Lela sialan itu...,” pintanya,”Kalau tentang aku, Bapakmu cerita apa?”
    “Eh... maaf ya Mbak... kata Bapak, memek Mbak agak becek...”, kataku bohong,”Pernah Bapak bertanya pada saya apakah perlu dibawa ke dokter”.
    “Sialan Bapakmu itu... waktu itu kan cuma keputihan biasa”, sergah Mama Winda. Bagian bahwa gaun tidur putihnya sudah tersingkap semua, memperlihatkan pahanya yang montok dan putih serta gundukan selangkangannya yang tertutup kain segitiga ungu. Sungguh pemandangan indah, terlebih beberapa helai pubis (jembut) yang menyeruak di pinggiran celana dalamnya.
    “Hmm... coba saya cek ya Mbak...”, kataku sembari menurunkan wajah ke selangkangannya.
    “Crup...”, kukecup mesra celana dalam ungu tepat di tengah gundukannya yang sudah tampak sedikit basah. Tersibak aroma khas vagina Mama Winda yang semakin membakar birahiku.
    Dengan sedikit tergesa aku menyibak pinggiran celana dalam ungu itu sehingga terlihatlah bibir surgawi Mama Winda yang sudah basah... dikelilingi oleh pubis yang tumbuh agak liar.
    “slrupp.... slrupp..”, tanpa menunggu lama aku sudah menjulurkan lidahku pada klitoris Mama Winda dan menjilatnya penuh nafsu.
    Mama Winda menggelinjang dan meremas kepalaku,”Kamu...kamu bandel banget Kemal....okh... okh...”.
    “Kenapa saya bandel Mbak... slruppp...”, tanyaku disela serangan oralku pada vagina Mama Winda.
    “Okh...kamu... kamu menjilat memek ibu tirimu...Okhhh....edannn... kamu apakan itilku Kemal...??”, teriaknya ketika aku mengulum dan menyedot klitorisnya.
    Kini 100% aku sudah menguasai Mama Winda. Wanita itu sudah pasrah padaku, bahkan dia membantuku melucuti celana dalamnya sehingga aku semakin mudah melakukan oral seks.
    Sambil terus menjilat, aku memasukkan jari telunjukku ke liang vaginanya yang sudah terbuka dan basah.
    “Oooohh.... edannn.... enak Kemal...”, jeritnya sambil menggelinjang, menikmati jariku yang mulai keluar masuk liang vaginanya.
    Bahasa tubuh Mama Winda semakin menggila tatkala jari tengahku ikut ‘nimbrung’ masuk liang kenikmatannya bersama jari telunjuk. Maka tak sampai 5 menit, aku berhasil membuat ibu tiriku berteriak melepas orgasmenya.
    “Okh..... edannn....aku puassss....okh.....”, tubuh Mama Winda melejat-lejat seirama pijatan dinding vaginanya pada dua jariku yang berada di dalamnya.
    Setelah selesai menggapai orgasmenya, bahasa tubuh Mama Winda memberi sinyal padaku untuk dipeluk. Akupun memeluk dan mencium bibirnya dengan mesra. Dia membalas ciumanku dengan penuh semangat.
    “Enak kan Mbak?”, tanyaku basa-basi.
    “He’eh...”, dia mengangguk dan terus menciumiku.
    “Tapi saya belum selesai periksanya lho Mbak...,” kataku manja.
    “He3x... kamu benar-benar calon dokter yang bandel Kemal...,” dia terkekeh senang,”Kamu mau periksa apa lagi heh?”
    “Periksa yang ini Mbak...”, kataku seraya meremas buah pepaya yang masih terbungkus gaun tidur dan bra.
    “Ohh... iya tuh... sering nyeri Dok...”, candanya,”minta diremas-remas... he3x...”.
    Sejenak kemudian Mama Winda sudah melucuti gaun tidurnya dan mempersilahkanku untuk membuka bra ungunya yang tampak tak sanggup menahan besar buah dadanya.

    [​IMG]

    “Hmmm... slrupp... “, dengan penuh nafsu aku segera menciumi buah dada besar itu dan mengulum putingnya yang juga besar. Warna putingnya sudah gelap menghiasi buah dadanya yang masih lumayan kencang. ‘Pantas Bapak ketagihan’ pikirku sambil terus menikmati buah dada impianku itu.
    “Kemal....”, panggil Mama Winda mesra,”Mana kontolmu?... ayo kasih lihat ibu tirimu ini, hi3x...”.
    Aku segera menurut dan menanggalkan celana panjang dan sekaligus celana dalamku, memperlihatkan batang penisku yang dari tadi sudah mengeras dan mengacung ke atas.
    “woww... lebih besar punya kamu Mal... daripada punya Bapakmu”, puji Mama Winda seraya menggenggam penisku. Sejenak kemudian ibu tiriku sudah mengemut penisku penuh nafsu.
    “Weleh.... udah kedut-kedut kontolnya... minta memek ya?”candanya,” Sini... masuk memek Mama...”
    Mama Winda mengangkang, membuka pahanya lebar-lebar di sofa tengah, membuka jalan penisku memasuki liang surgawinya yang sudah becek. Setelah penisku melakukan penetrasi, kedua kakinya dirapatkan dan diangkat sehingga liang vaginanya terasa sempit, membuat penisku semakin ‘betah’ keluar masuk.
    Seperti promosinya di awal, Mama Winda mengerahkan kemampuannya melakukan kontraksi dinding vagina (kegel) sehingga penisku terasa terjepit dan terhisap, namun seperti sudah kuduga, aku bukan tipe yang mudah dikalahkan. Aku bahkan balik menyerang dengan mengusap dan memijit klitorisnya sambil terus memompa vaginanya.
    “Okh... kamu sudah ahli ya Kemal?.... kamu sering ngentot ya...?”, Mama Winda mulai mengelinjang-gelinjang lagi, menikmati permainan penis dan pijatan pada klitorisnya. Semakin lama aku rasakan dinding-dinding vaginanya semakin mengeras pertanda dia sudah dengan dekat orgasme keduanya. Aku semakin mempercepat kocokan penisku pada vaginanya, berupaya meraih orgasme bersamaan.
    “Mbak... saya semprot di dalam ya?..” tanyaku basa-basi.
    “Semprot Kemal...okh... semprot aja yang banyak...okh....” Mama Winda terus mendesah-desah, wajahnya semakin mesum. Akhirnya dia kembali berteriak.
    “Okhhh..... ayo.... okh.... semprot Kemal... semprot memek Mama....”, jeritan jorok, wajah mesumnya dan sedotan vaginanya membuatku juga tidak tahan lagi.
    “Yesss.....yess....”, akupun menjerit kecil menikmati orgasmeku dengan semprotan mani yang menurutku cukup banyak ke dalam rahim Mama Winda, ibu tiriku.
    Orgasme yang spektakuler itu berlangsung hampir menit dan disudahi lagi dengan pelukan dan ciuman mesra.
    “Terima kasih Kemal...,” katanya mesra,”Enak banget, hi3x....”
    “Sama-sama Mbak, nanti saya kasih obat anti hamil...”, jawabku sambil melihat lelehan maniku di vaginanya.
    “Hi3x... enggak apa lagi... tapi peju kami memang banyak banget nihhh...hi3x...” Mama Winda terkekeh girang melihat lelehan mani putihku di vaginanya.
    “Kapan-kapan pakai kondom ya.... mahasiswa kedokteran kok enggak siap kondom, hi3x....” candanya.
    “Yaa... saya kan alim Mbak... he3x...”
    “Ha3x.... bohong banget, kamu jago gitu... pasti udah sering ngentot ya?...”, tanyanya penuh keingintahuan.
    “Pernah sih sekali dua kali... waktu main di Jakarta...” kataku jujur sambil mengingat PSK di panti pijat yang pernah kudatangi di Jakarta.
    “Jakarta?... heeee.... jangan2x... kamu.... main sama Lela sialan itu, iya???” sorot matanya berubah, agak emosi,”pantes kamu cerita buah dada Lela besar, klitorisnya juga besar... jangan2x kamu sudah main sama Lela juga ya?....”
    “Enggak Mbak.... bukan sama Mama Lela... sumpah!” seruku berkilah.
    “Awas kamu kalau main sama Lela...” serunya dengan nada cemburu. Wajahnya yang mesum tampak manja.
    “Saya janji tidak akan main sama Mama Lela kalau Mbak rutin kasih jatah saya...he3x....”, pintaku manja.
    Mama Winda memeluk dan menciumku mesra,”Baik... kalau Bapak enggak ada, aku SMS aku ya....”
    “Siip... saya bawa kondom deh...he3x....” kataku girang.
    Kami bermesraan sampai akhirnya “on” kembali dan melanjutkan satu ronde pertempuran sebelum pergi tidur. Itu adalah pengalaman pertamaku dengan ibu tiriku, dan tentu saja bukan yang terakhir. Setiap ada waktu, Mama Winda dengan semangat mengirim SMS dan aku segera datang memenuhi hasrat binal ibu tiriku. Bahkan saking ‘ngebetnya’, pernah Mama Winda mengajak aku bertemu di luar rumah karena ada Bapak di rumah. Bagaimana kisahnya? Nantikan edisi berikutnya. Petualanganku juga tak berhenti pada Mama Winda, karena aku masih punya satu ibu tiri di Jakarta, Mama Lela, yang juga tak kalah montok dengan Mama Winda.
     
    Indo Sniper
  2. uhuy98

    uhuy98 Semprot Kecil

    Daftar:
    27 Sep 2011
    Post:
    92
    Like Diterima:
    161
    lanjut gan...
     
  3. si_bayo

    si_bayo Guru Semprot

    Daftar:
    23 Dec 2012
    Post:
    529
    Like Diterima:
    1
    Lokasi:
    sumatra
  4. STRANGER

    STRANGER Pertapa Semprot UG-FR+

    Daftar:
    3 Jun 2011
    Post:
    4.732
    Like Diterima:
    199
    Pekerjaan:
    Staff swasta
    Lokasi:
    The City of HEROES
    Lanjutkan.....:)
    Ibu tiri satu lagi menanti :)
     
  5. katokan

    katokan Semprot Lover

    Daftar:
    13 Feb 2012
    Post:
    208
    Like Diterima:
    0
    Jenis Kelamin:
    Pria
    Lokasi:
    slempitan
    :stress:lagi:stress:lagi:stress:lagi:stress:
    skalian lela d embat aja:ngupil:
     
  6. karokara

    karokara Semprot Baru

    Daftar:
    13 Mar 2012
    Post:
    25
    Like Diterima:
    0
    enaknya dapat gratisannnnn........
     
  7. oedipus

    oedipus Calon Suhu Semprot

    Daftar:
    25 Sep 2012
    Post:
    2.959
    Like Diterima:
    88
    Jenis Kelamin:
    Pria
    Lokasi:
    kota batik
    :mantap: brad

    Cuma sedikit typo, overall :jempol:

    Lanjutkan :semangat:
     
  8. kimy rain

    kimy rain Semprot Holic UG-FR

    Daftar:
    17 Dec 2012
    Post:
    327
    Like Diterima:
    3
    Lokasi:
    Antara JKT-TNG
    mantabs gan....lancroootkan ceritanya......
     
  9. LemesBude

    LemesBude Semprot Kecil UG-FR

    Daftar:
    7 Aug 2012
    Post:
    67
    Like Diterima:
    0
    :tegang: asem....kedut2 nech
     
  10. Itonkpart

    Itonkpart Kakak Semprot

    Daftar:
    16 Feb 2013
    Post:
    193
    Like Diterima:
    2
    Jenis Kelamin:
    Pria
    Lokasi:
    Pertigaan Semprot City
    Lagi.. Lagi.. Lagi.. Lagiii..
     
  11. dronez

    dronez Semprot Baru UG-FR

    Daftar:
    23 Oct 2012
    Post:
    45
    Like Diterima:
    0
    Lanjut bro, semprot terus dan terus hehehhee:semangat:
     
  12. unyil_botak

    unyil_botak Senpai Semprot

    Daftar:
    3 Sep 2012
    Post:
    761
    Like Diterima:
    2
    disambung dunk bro
    mantapp nih ceritanya
     
  13. hktoyshop

    hktoyshop Semprot Sejati

    Daftar:
    11 Nov 2010
    Post:
    29.656
    Like Diterima:
    39.289
    Lokasi:
    www.hk-toys.com
    :mantap: gan
    lanjutkan lagi gan
     
  14. thealvino Pertapa Semprot Banned

    Daftar:
    20 Nov 2011
    Post:
    4.026
    Like Diterima:
    1.390
    User di-banned, maka konten otomatis dihapus.
    User is banned, content is deleted automatically.
     
  15. tempekbocor

    tempekbocor Semprot Kecil

    Daftar:
    1 Nov 2012
    Post:
    81
    Like Diterima:
    0
    ditunggu lanjutannya,, mama lela
     
  16. dangdutseksi1

    dangdutseksi1 Semprot Kecil
    Thread Starter

    Daftar:
    8 Jun 2011
    Post:
    74
    Like Diterima:
    203
    Seperti sudah aku tulis dalam penutup cerita sebelumnya, Mama Winda dan aku jadi ketagihan melakukan hubungan seks. SMS pertama dari Mama Winda menjadi sesuatu banget buatku.
    Sialnya, sudah sebulan sejak permainan tabu pertama kami, Mama Winda belum SMS juga. Penyebabnya tentu saja keberadaan Bapak di Yogya dan sms pertama justru datang dari Bapakku yang menyuruhku main ke rumah.
    Hari Jumat sore aku meluncur dari kos ke rumah Mama Winda atas instruksi Bapak. Dia tidak tahu kalau "propertinya" di Yogya sudah aku jamah luar-dalam dan atas-bawah.
    Seperti biasa, kedatanganku disambut oleh adik tiriku yang selalu senang denganku karena aku selalu membawa oleh-oleh buatnya. Kemudian aku cium tangan Bapak yang sedang baca Koran di ruang tamu dan dengan jantung berdebar, aku kemudian mencari Mama Winda.
    Ibu tiriku yang bahenol itu sedang di dapur merapikan meja makan. Dia mengenakan gaun rumah yang memperlihatkan kebesaran pantat dan dadanya. Semuanya masih terlihat kencang karena usianya memang baru 29 tahun.
    "Eh, ada Mas kemal", seru Mama Winda berusaha 'biasa saja' dengan kehadiranku, tapi wajahnya begitu semringah, seperti seorang gadis yang lama menanti kekasihnya.
    Ruang makan dan ruang tamu terhalang oleh sebuah tembok, sehingga aku yakin Bapak tidak akan bisa melihat ulahku di ruang makan, sementara adik tiriku masih di teras depan. Dengan gerakan tangan, aku mengajak Mama Winda ke sudut, dan sejenak kemudian aku sudah memeluk dan mencium ibu tiriku penuh nafsu.
    "Ssst... jangan gila...", bisik Mama Winda agak takut meskipun dia membalas ciumanku dengan nafsu juga.
    Aku yang terbakar birahi seperti seorang pencuri melihat ke kiri dan ke kanan, kemudian karena merasa aman, aku mengangkat gaun ibu tiriku dan mendapatkan pahanya yang montok dan mulus serta celana dalam warna hitamnya.
    "Gila kamu..." seru Mama Winda pelan dengan wajah takut, tapi dia sama sekali tak menolak, bahkan mempermudah gerakan tanganku yang memeloroti celana dalamnya. Sejenak kemudian celana dalam Mama Winda sudah berpindah ke tanganku dan kusimpan di dalam saku celana.
    Kini giliran Mama Winda yang celingak-celinguk, dan setelah merasa aman, dia duduk di atas kursi makan, mengangkang, membuka lebar-lebar pahanya sehingga terpampang bukit kemaluannya yang ditumbuhi jembut lebat itu.
    Aku pun segera bersimpuh, 'sungkem" di antara dua paha ibu tiriku. Sebagai wujud baktiku padanya, kucium dan kujilati bibir vaginanya yang terpampang indah di hadapanku. Begitulah kata pepatah: 'Surga ada di antara dua paha Ibu'
    Nikmat sekali rasanya menjilati vagina ibu tiriku, begitu juga Ibu tiriku yang wajahnya langsung berubah mesum dan nafasnya tersengal-sengal menahan birahi.
    Permainan yang mendebarkan jantung itu berlangsung hanya sebentar karena kami mendengar adik tiriku masuk ke rumah. Jangan sampai dia berteriak:" Ih... Mas kemal kok jilatin pipis Mama...". Gawat urusannya, he3x...
    Maka kami langsung berusaha normal kembali dan mencoba mengatur nafas yang sudah diburu birahi. Tentu saja Mama Winda sudah terlanjur no-panty alias gak pake celana dalam.
    Aku masuk kamar dan merebahkan diri sambil berusaha menetralisir nafsu yang sudah sampai di ubun-ubun. Tapi ketika tanganku merogoh saku celana dan kudapatkan celana dalam hitam milik Mama Winda, aku langsung konak lagi dan menciumi celana dalam itu seakan mencium vaginanya.
    Setelah mandi dan makan malam, aku mengobrol dengan Bapak di ruang tengah, ngobrol macam-macam, intinya meminta aku menjadi teladan buat adikku dan kuliah yang baik. Obrolan itu terasa sangat membosankan dan lama. Mataku celingak-celinguk mencari di mana ibu tiriku yang toge pasar itu. Rupanya dia sedang menemani anaknya di dalam kamar.
    Bapak, seperti biasa, kuat mengobrol sampai malam. Baru sekitar jam 11 dia masuk kamar dan itupun tidak langsung tidur. Kudengar suara Mama Winda yang menyambut suaminya dan sesaat kemudian terdengar cekikikan Mama Winda. 'Sial... ladangku digarap Bapak...' gerutuku dalam hati.
    Dengan gontai aku masuk kamar, mengusir bayangan tubuh telanjang Mama Winda yang sedang digerayangi Bapak. Pasti Bapak sedang asyik 'nyusu', sial....
    Aku pun tertidur dan entah jam berapa tiba-tiba aku mendengar suara pintuku dibuka.
    Aku terbangun dan duduk di tepi kasur, kulihat Mama Winda masuk kamarku dengan sangat perlahan. Kulirik jam dinding, menunjukkan pukul 2 pagi.
    "Mbak... ", seruku kaget bercampur girang.
    "Ssstt... jangan berisik...", katanya dengan telunjuk di bibir sambil menutup pintu kamarku.
    Bak kekasih yang lama tak berjumpa, kami berpelukan dan berciuman mesra.
    Tubuh bahenolnya roboh mendorong tubuhku ke atas tempat tidur. Jelas kurasakan buah dada besarnya tanpa ditutup bra menindih dadaku. Tangaknku yang tadi memeluk pingganggnya turun ke pantat dan meremas pantat montok itu. Ternyata Mama Winda juga sudah tidak mengenakan celana dalam.
    "Wah... gak pake daleman ya Mbak?"seruku girang.
    "Sudah dicopot Bapakmu...", katanya pelan.
    "Wah... bekas dong Mbak?" candaku dengan senyum.
    "terus... kalau bekas, kamu gak mau?' balasnya.
    "hi3x... mauuu... mau banget...", seruku sambil mencium bibirnya mesra campur nafsu, sementara tanganku asyik menggerayangi pantatnya yang bahenol.
    Beberapa waktu kemudian, Mama Winda melucuti baju tidurnya sehingga tubuh montoknya berbugil ria di hadapanku. Buah dadanya yang sebesar papaya itu menantangku untuk segera 'nyusu'.
    "sini... jangan ngiler gitu... sini nyusu sama Mama..." ajak Mama Winda sambil memegang puting susunya.
    Sejenak kemudian aku sudah sibuk meremas buah dada dan mengulum puting susu ibu tiriku.
    "Ssst... jangan berisik doong...", pinta Mama Winda ketika aku dengan nafsu melahap puting susunya sehingga mengeluarkan suara berdecak-decak.
    "hi3x... habis besar banget..." balasku.
    "Cepetan, kita langsung aja... keburu pagi..." pinta Mama Winda memelas," aku belum orgasme nih... Bapakmu sih keluarnya cepat banget".
    "Oh.. oke Mbak... let's do it", ajakku,"Posisi apa?"
    "Doggy aja ya... biar cepet...". Mama Winda segera pasang posisi, menungging dengan berpegang pada tepi tempat tidur. Pantatnya yang bahenol sangat menggodaku untuk segera melakukan eksekusi.
    Aku segera melucuti pakaianku dan mengarahkan penis yang sudah mengeras sejak tadi ke arah kue apem yang menyembul di antara bongkahan pantat bahenolnya.
    Sebelum melakukan penetrasi ke vaginanya, dengan nakal aku menempelkan ujung penisku pada anusnya yang tampak menantangku.
    "Eh... bandel kamu, salah lubang... " protes Mama Winda.
    "Hi3x... kata orang enak juga lho Mbak.." candaku.
    "Masa bodo', aku pingin kamu masukin ke memek, titik.... Ayo..." serunya tak sabar.
    Tanganku menjalar ke vaginanya dengan maksud untuk membelai agar proses penetrasi lebih mudah, namun ternyata liang vagina ibu tiriku sudah becek, entah becek cairan vagina atau becek bekas mani Bapakku. Peduli amat, pokoknya penisku segera meluncur kea rah liang nikmat itu.
    "Blesss...", dengan mudah penisku memasuki kehangatna liang surgawi itu dan dengan irama "low impact" aku memompanya.
    "Yess... ini baru kontol... kerasnya maksimal", lirih Mama Winda girang,"Punya bapakmu sudah loyo..."
    Aku memompa vagina Mama Winda sambil meremas-remas pantat bahenolnya dan sekali-kali memukulnya gemas.
    "Ukh... okh... kamu kira aku kuda apa?... yesss....", Mama Winda menikmati permainanku.
    Aku meningkatkan irama permainanku diselingi dengan pijatan pada klitorisnya dengan tangan kiri, membuat Mama Winda semakin dekat dengan puncak birahinya.
    "Okh.... Enak banget....okh.... yesss... sebentar lagi aku puas yaa...." Serunya pelan,"Kalau kamu mau semprot, semprot aja..."
    "Enghhhh....okh...... Tekannnn...tekan kontolmu Kemal...", Mama Winda melejat-lejat dalam orgasmenya seiring dengan hujaman penisku ke dalam rahimnya. Birahiku yang sudah terbakar sejak sore juga tak mau melewatkan momen itu, dengan bantuan pijatan orgasme, maniku menyemprot ke dalam rahimnya, rahim ibu tiriku.
    "Siip...saya semprot ya....", jeritku lirih.
    Kami menikmati momen orgasme itu dengan sunyi, takut suara kami membangunkan macan yang sedang tidur di kamar sebelah.
    Setelah orgasme kami berciuman dan tak berlama-lama Mama Winda segera mengenakan pakaiannya kembali dan dengan seyum puas meninggalkan kamarku. Akupun melepasnya dengan senyum kepuasan, dan melanjutkan tidurku dengan mimpi indah. Mimpi menikmati tubuh telanjang ibu tiriku besok pagi....
     
    rizkibl likes this.
  17. si_bayo

    si_bayo Guru Semprot

    Daftar:
    23 Dec 2012
    Post:
    529
    Like Diterima:
    1
    Lokasi:
    sumatra
  18. ichigo48

    ichigo48 Tukang Semprot

    Daftar:
    3 Jul 2012
    Post:
    1.005
    Like Diterima:
    24
    Lokasi:
    Nomaden
    wuih mantabsz.. Lanjut..
     
  19. hudasamsul

    hudasamsul Semprot Baru

    Daftar:
    20 May 2013
    Post:
    48
    Like Diterima:
    0
  20. adika

    adika Senpai Semprot

    Daftar:
    12 Dec 2012
    Post:
    763
    Like Diterima:
    2
    Pekerjaan:
    Operator
    Lokasi:
    Palembang
    Situs Judi Online, Judi Bola, Poker Online, Casino, dan Togel SGPluxury138
    Beuh mantep suhu :konak:
     
Jav Toys  Vimax Resmi
AcehPoker - Agen Poker  Aceh4D - Agen Bola
Obat Pembesar Penis   ISOTOTO dan ISOPOKER Website Terbaik Anda Bermain Poker dan Togel Online di Indonesia
agen togel singapura   poker online terbaik
Exe Indonesia
Waspada, pin ini BUKAN pin Forum Semprot :
D005 0B6C