188 Bet - Online
Sbo Hoki Online
Senior Bola - Agen Bola
Live Score Online
Toto Alpha - Agen Bola   Togel Matrix
Fass Bet Online
9Club Situs Judi Online Terpercaya
Tahun QQ, Agen Bola   dinasti poker online
negara qq online   serba qq online
pemain kasino online   hobi casino online
serba casino online   dewan cash online
Premier 189 online   Poker Dewa online
FifaQQ online   Bandar 855 online
Sport 855 online   Bandar 855 online
Sport 855 online   MSN Poker online
Gubuk Bola 88 online   Agen Togel Online (indoDingDong)
Asus Togel online   Sarana Cash online
Kartu Demen online   Happistar online
99 Cash online
Pasang iklan, hanya lewat Contact Us, bukan lewat WA / BBM / Line / Wechat / dll.
Waspada penipuan iklan. Klik di sini untuk melihat daftar penipu.

CERBUNG Broken Promises

Cinthunks

murid lsg rd.angga- bljr SSI ? PM aja
UG-FR+
Thread Starter
Daftar
8 Feb 2018
Post
4.467
Like diterima
40.230
Lokasi
A Place called Hell
Haay haay haaay ketemu lagi sama inyong ee si Lurah PPB ( Polos Polos Bangsat)

Sambil mengisi waktu untuk cerita Breathless yang update 2 minggu sekali maka saya yang hina dina dan unyu unyu ini menggarap cerita baru lagi


Update berkala minimal 2 minggu sekali, sukur sukur bisa sehari 2 kali

Kalau mau protes sana ke gedung sate aja

Terima kasih sebelumnya buat :

Abah @rad76 mentor, PR, dan editor ane

Mamang @RSP27 tempat tanya proses suwir menyuwir

@adv001 tukang bikin cover mesum

@deqwo temen mabok dan ngerjain PL sampai pingsan

Aki @Huis_van_crot image buat tokoh Ramon

Dan yang lain yang belum saya sebut satu satu


Best regard
:ampun:




Part 1 di bawah

Part 2
 
Terakhir diubah:
Indo Sniper

Cinthunks

murid lsg rd.angga- bljr SSI ? PM aja
UG-FR+
Thread Starter
Daftar
8 Feb 2018
Post
4.467
Like diterima
40.230
Lokasi
A Place called Hell



Part 1


Kuambil smartphone yang terus saja bergetar di atas meja belajar di dalam kamarku, tertera di sana pakde Syarif memanggil. Kuangkat telepon dari pakde syarif, sambil mengambil tas punggung eiger yang berisi keperluan untuk kuliahku pertama kali.

"Njih pakde, wonten nopo? ( Ya pakde, ada apa?)" Tanyaku sembari menyambar kontak motor Yamaha Xabre warna abu-abu.

"Ora popo Ton, pakde mung jaluk tulung, bali kuliah mampir omah yo. Dokumen sek winggi di cangking sisan sopo reti awakmu pingin reti?(Nggak papa Ton, pakde cuma mau minta tolong, pulang kuliah mampir ke rumah ya. Dokumen yang kemarin dibawa sekalian, siapa tahu kamu pingin tahu?)" kata pakde Syarif di ujung sambungan telepon.

"Ooh njeh pakde, salam kagem budhe Mayang kalihan Nindi njeh pakdhe (Oiya pakdhe, salam buat Budhe Mayang dan Nindi, pakdhe.)" jawabku sambil mengunci pintu apartemenku dan berjalan menuju lift.

Pakde Syarif segera memutuskan sambungan teleponnya setelah menjelaskan keperluannya tadi, sedangkan aku sudah keluar dari lift yang berhenti di parkiran basemant. Aku berjalan menuju motorku yang terparkir.Setelah menaiki si Grey, aku segera memasang headset dan menghidupkan aplikasi joox. Langsung kupencet folder album bernama Winda. Hanya ada 5 lagu di folder itu dan kupilih lagu dari saosin berjudul Finding Home.


If only I had truthfully seen
That night we'll never re-live
But you and I could not go and walk away
Just close your eyes
You'll never see me crashing down
I see where we had come in doubt
I'd be lonely if you weren't so proud



"Nton sayang jangan tinggalin aku, apapun yang terjadi ya beib." kata gadis manis itu setelah kami resmi jadian selama seminggu. Gadis itu bernama Winda Hapsari anak pengusaha Property bernama Edi Prasetyo.
I have seen so many loving faces
They turn back and leave with looks of regret
The road goes and I am finding home in it



"Aku cinta kamu Win, jangan tingalin aku, cepet sehat, ya." kataku dengan bibir bergetar melihat orang yang aku cinta terbujur lemas di ruangan perawatan kelas ViP di rumah sakit besar di kota asalku. Tak lama pintu ruangan terbuka saat aku menengok kulihat seorang tinggi tegap dengan kumis tebal melintang memandangku tajam, itulah Edi Prasetyo ayahnya Winda.

"Ngapain anak Sunardi di sini! Pergi kamu! Gara gara kamu anakku jadi begini, pergi dan jangan sekali sekali temui Winda lagi!" hardik laki-laki itu sambil menyeret tanganku dan mendorong tubuhku supaya keluar dari ruang perawatan.
Click to expand...
But you and I should not play those games
The world is coming to an end
It's just the way I see my face
And I can never believe
(Now I can see it)
Now I see where things are turning 'round
And I'd be lonely if you weren't so proud



"Kenapa semua harus kayak gini Wind? Aku ga bisa jauh dari kamu." kataku sambil memeluk tubuh Winda di taman tempat kami sering melepas rindu setelah kucing-kucingan dengan ayahnya.

"Aku juga ga mau kayak gini beib, tapi ayah jahat banget, aku sendiri ga bisa ngapa-ngapain." kata winda sambil menangis dalam pelukanku.
I have seen so many loving faces
They turn back and leave with looks of regret
The road goes and I am finding home in it
The road goes and I am finding home in it
I saw him fly
He's never looked this way
I saw in his eyes
He's never coming down
I have seen so many loving faces
They turn back and leave with looks of regret
The road goes and I am finding home in it
The road goes and I am finding home in it
The road goes and I am finding home in it
(And now you're finally home)
And I am finding home
(And now we're finally home)
And I am finding home in it



Aku hanya bisa melihat dari kejauhan saat Winda diseret oleh Ayahnya untuk segera masuk ke dalam mobil, di saat perayaan kelulusan SMA kami. Sebelum Ayahnya masuk, Beliau sempat melihat ke arahku dan membuang ludahnya. Hatiku bagai teriris-iris sembilu kala melihat semua itu.


And here i am. Saat ini aku sedang melintasi jalanan padat ibukota karena mengejar Winda. Ya, aku tau keberadaan Winda dari temanku yang menjadi teman sekampusnya. Tapi proses ini pun memakan waktu hampir satu tahun, karena aku harus mengurusi semua urusan setelah kematian kedua orang tuaku akibat kecelakaan.

Tepat 30 menit, waktu yang aku perlukan untuk sampai ke tempatku menuntut ilmu.

Setelah memarkirkan si Grey, aku berjalan menuju ke Hall kampus ekonomi. Terlihat beberapa wajah-wajah yang aku kenal, teman satu kelompokku pada saat ospek kemarin.


Tiba-tiba...


Sebuah benda berbentuk kotak, berisi susu coklat melayang ke arah wajahku dan berhasil kutangkap dengan tangan kiri.

“Hahaha...” Seketika terdengar suara tawa yang nyaring dari seorang pria berambut keriting.

Ramon Lattupesy pria keturunan flores yang lahir di jawa, dan ternyata dia tinggal di kotaku juga. Ah, dunia ini memang sempit.

"Tumben mas Antoni Senoaji mukanya cerah banget, habis mimpi basah ya semalem" kata Ramon sambil menyeretku untuk duduk di sampingnya dan memberikan sepotong roti keju.

"Kampreet, kaga lah. Kan, tiap hari aku kayak gini Mon." kataku sambil menusuk kotak susu itu dengan sedotan kemudian menyedotnya pelan.

“Hahahaha...” Tawanya semakin kencang setelah berhasil membullyku barusan.

Sambil menunggu jam kuliah pukul 9.00 pagi. Aku dan Ramon ngobrol ngalor kidul. Gelak tawa canda kami berdua pada saat bercanda sempat membuat beberapa pasang mata mahasiswa lainnya baik yang ada di sekitar kami maupun yang lewat di depan kami semuanya menengok ke arah kami dan ikut tertawa melihat kekonyolan kami berdua.

Dari kejauhan, aku melihat sebuah mobil toyota camry hitam berhenti di tempat parkiran kampus. Dan dari dalam mobil itu, keluarlah sesosok gadis yang aku rindukan dari kursi penumpang.

"Winda." kataku pelan. Membuat Ramon yang berada di sebelahku untuk sesaat menengok ke arahku.

Terlihat Winda sedang menunggu di samping mobil dan tak berapa lama keluarlah sesosok pria dari sisi pengemudi lalu menghampiri Winda.

Pria itu mengecup pipi Winda dan memperbaiki poni gadis yang aku cinta itu.

Hatiku remuk redam melihat adegan itu.

Ingin rasanya aku menghampiri Winda dan menanyakan soal janji dia dulu sebelum di seret oleh ayahnya saat pesta perpisahan bahwa kami akan bertemu lagi dan tak akan berpisah lagi dengan cara kawin lari jika ayahnya masih tidak merestui.

Tetapi logikaku berkata lain, jika memang Winda sudah melupakanku dan janjinya maka aku harus membuatnya ingat lagi, bukan dengan cara langsung mendampratnya.

"Oi, malah melamun nie anak! Emang lu kenal, sama kakak tingkat kita itu Nton?" Kata Ramon sambil memukul punggungku membuatku tersedak susu yang kuhisap.

"Kenal Mon, pacarku dulu di kampung." kataku datar yang dibalas dengan kernyitan di dahi Ramon.

"Udah putus?" Tanya Ramon lagi sambil ikut memandang ke arah Winda yang sedang berjalan ke arah tempat kami duduk.

"Nope, belum kok. Dan salah satu alasan aku kuliah di sini karena aku ingin selalu dekat dengannya." kataku lagi sambil menekan emosiku.

"Lhaah, trus dia kok bisa jalan sama cowok lain? mana pake cium pipi segala." ujar Ramon lagi sambil menyodokan sikunya saat Winda dan pria tadi lewat di depan kami.

Terlihat untuk sesaat Winda berhenti di depanku dan memicingkan matanya, sambil mengeleng-gelengkan kepalanya, seolah mengingat sesuatu sebelum pria tadi menarik tanganya untuk segera berjalan lagi.

"Eeeh coro, katanya dia pacar lu, tapi kok kayak ga’ kenal gitu, lu bo'ong yaa?" Kata Ramon sambil mengeplak punggungku.

"Ahahhahha... Jelas ga kenal lah, aku dulu ga kayak gini mon." kataku sambil tertawa lepas.

"Lah, emang lu operasi plastik Nton?" Tanya nya lagi dengan tampang bloon-nya.

"Kaga lah, suee lu. Aku hanya operasi mata dan diet ketat aja" kataku lagi.

"Nih, kalau ga percaya!" sambil aku mengambil smartphone-ku dan membuka galeri foto. Lalu kuperlihatkan kepada Ramon fotoku waktu SMA saat bersama dengan Winda di taman sekolahan.

"Bwahahaha... Asyuuuu. Lu gendut banget, Nton. Dan kacamata lu tebelnya banget." kata Ramon sambil tergelak melihat tampangku dulu.

"Aseeeem, udah aah pake bully kamu Mon." kataku sambil merebut smartphone dari tangannya.

Kami masih saja bersenda gurau dan sampai akhirnya, Ramon dan aku memutuskan untuk masuk ke kelas karena kuliah akan segera dimulai.

Sesampainya di dalam kelas, terlihat kursi bagian belakang sudah terisi dan hanya menyisakan kursi di bagian depan yang masih lowong. Padahal, aku sebenarnya ingin duduk di belakang saja.

Mau tidak mau aku dan Ramon akhirnya duduk bersebelahan di depan.

Disamping kiriku, kutengok Asti duduk di sana.

Asti adalah gadis dengan penampilan tomboy, dia saat itu sedang bermain-main dengan pulpennya.

Lalu di belakangku, adalah Rudi. Dia sedang asik dengan smartphone-nya.

5 menit berlalu, setelah aku, Ramon dan teman-teman lainnya masuk ke dalam kelas. Tak lama kemudian, masuklah dosen wanita berambut sebahu dengan wajah manis, kalau kutaksir usianya antara 27 sampai 30-an.

"Pagi semua! Nama saya, Neni Wulandari. Saya adalah dosen pengampu kelas kalian dan dosen mata kuliah manajemen bisnis awal. nice to meet you all." ucap dosen cantik itu di depan kelas.



Ramon memberiku kode dengan kedipan matanya saat aku menengok ke arahnya, sambil mulutnya monyong menunjuk ke arah dada dosen muda itu di depan kami.

“Benar-benar penjahat kelamin orang yang satu ini.” gumamku dalam hati melihat tingkah pola dia barusan.

Bu Neni kemudian meminta kami untuk memperkenalkan diri kami masing-masing sambil berdiri di tempat kami berada.

Satu persatu dari kami mulai meperkenalkan diri. Dimulai dari pojok kiri deretan kursi paling depan, terus dilanjutkan oleh Asti, lalu aku, Ramon dan seterusnya sampai deretan kursi paling belakang.

Hampir semua mahasiswa dan mahasiswa di kelasku ini aku kenal, karena sebagian pernah menjadi teman satu kelompok pada waktu ospek kemarin.

Dan di antara mahasiswi-mahasiswi baru di kelasku, ada satu sosok wanita yang menarik perhatianku. Dia bernama Sulastri. Sebuah nama yang pendek dan sudah tidak lazim digunakan pada saat ini. Nama yang sesungguhnya memiliki arti yang indah, se-indah orangnya.

Kuliah jam pertama dan kedua ini berlangsung tenang, itu disebabkan teman-temanku masih bersikap jaim tapi ada juga di antaraa teman-temanku yang berusaha cari muka pada Bu Neni.

Dan jam kuliah pun usai.

Ramon langsung mengamit lenganku saat aku sedang memasukan binder ke dalam tas lalu menyeretku untuk berjalan menuju kantin.

Di kantin pun ternyata penuh. Hampir tidak ada tempat duduk yang kosong.

Aku meminta Ramon untuk memesankan nasi rames, sementara aku menunggu di bawah pohon beringin di depan kantin kampus yang sekilas mirip pujasera itu.

Tak lama kemudian Ramon keluar dari kantin. Dia langsung menghampiriku sambil menenteng dua botol air mineral dingin dan segera duduk di sampingku sambil menyulut rokok Djarum Super kesukaannya.

Aku masih asyik membalas chat dari Nindi keponakanku yang tengil dan bawel. Btw FYI Nindi juga kuliah di universitas tempatku menuntut ilmu cuma beda jurusan saja.

Saat pesanan kami datang, Ramon yang dari tadi nyerocos terus menceritakan tentang kemolekan tubuh dan besarnya toket Bu Neni langsung diam seribu bahasa. Itu karena mulutnya sekarang sibuk mengunyah daging empal.

Kami berdua sibuk dengan makanan kami masing-masing.

Tiba-tiba...

Di saat bersamaan HPku dan HP Ramon berbunyi berbarengan, pertanda ada sebuah pesan masuk ke HP kami masing-masing. Dan ternyata itu adalah pesan WA dari Dito. Dia memberitahukan pengumuman lewat grup WA bahwa kuliah siang ini dibatalkan karena dosennya berhalangan hadir serta tidak ada tugas yang harus dikerjakan.

Aku dan Ramon saling melihat sesaat setelah membaca pesan grup di smartphone kami masing-masing, seringai kecil muncul di ujung bibir kami berdua disertai naik turunnya alis kami dan pecahlah tawa kami berdua.

Ya, saat-saat seperti inilah yang kami nanti nantikan, karena Ramon dua hari lalu memberitahu kepadaku bahwa dia mendapat kiriman video JAV asli dari temannya di Jepang.

Kami segera menyelesaikan prosesi makan dan membayar pesanan kami.

Karena nafsu sudah di ubun-ubun, selesai membayar aku yang memang terburu buru ingin segera menyusul Ramon yang sudah berlari menuju tempat parkir malah menabrak orang di belakangku.

Sosok bertubuh tinggi besar yang membuat tubuhku sedikit terpental ke belakang.

Wajah orang itu terlihat garang, dia menatapku tajam.

"**, jalan ga liat-liat, cari perkara lu?!" Kata pria yang kutabrak tadi sambil mencengkeram kerah bajuku.

"Sorry mas ga sengaja, takut telat masuk kelas." kataku meminta maaf sambil mencoba melepas cengkeraman tangannya di kerah bajuku.

"Lu ga tau siapa gua hah..?! Bangsat!!! Lu ga pernah dengar nama Reno apa!!" Kata pria dengan tampang dingin dan sadis tadi sambil mengertakku.

"Maaf mas, memang saya belum pernah denger nama Reno?, Masnya namanya Reno?" Kataku mencoba mendinginkan situasi karena keributan yang aku sebabkan ternyata menarik perhatian para mahasiswa yang sedang berada di kantin.

"Iya gua Reno, jadi lu ga bisa hanya minta maaf, tetapi sekarang bayarin makanku tadi dan teman-temanku yang lain!" ancam Reno kepadaku.

Heran juga aku, hari gini masih saja ada orang yang mem-bully orang lain atau memalak yang lebih lemah dari dia.

"Iyaa maaf mas Reno, tapi uangku tinggal 50 ribu, gimana nih?" Tanyaku yang sebenarnya ingin mengerjai Reno yang menurutku sangat sombong itu.

" Ga mau tau aku nyet, pokoknya bayarin makan kita-kita! Kalau ga, gua abisin lu sekarang!" kata Reno lagi sambil mengangkat kepalan tangannya di mukaku.

"Baik-baik mas! Bentar, aku ngomong sama ibu kantinnya dulu ya, sabar" kataku sambil menahan tawa, memikirkan apa yang akan aku lakukan nanti.

Segera saja setelah Reno melepas cengkeraman tangannya di kerahku, aku berjalan menuju ke arah ibu kantin dan membisikan sesuatu ke ibu kantin yang tersenyum kecil mendengar kata-kataku.

"Mas Reno udah ya, makannya tambah lagi aja, aku yang bayarin." teriakku dari meja kasir yang dibalas dengan lambaian tangan Reno.

Aku langsuung bergegas menuju tempat parkir.

“Sialan, si Ramon udah ilang aja, padahal aku ga tau kostnya.” Gerutuku kesal. Lalu aku segera menghubugi Ramon. Namun tidak dia angkat teleponku setelah aku mencoba menghubunginya berkali-kali. “Kalo begini mending aku ke kantor pakdhe Syarif.”

Aku kemudian ke parkiran motor dan segera mengendarai si Grey menuju ke kantor pakde Syarif. Aku berencana mengambil dokumen yang tadi pagi dibilang pakde Syarif.

Aku sengaja menemui pakdhe Syarif di kantornya daripada harus ke rumah Beliau. Karena kalo aku menemui Beliau di rumahnya, Bisa-bisa aku ga boleh balik apartemen nanti.

Sesampainya di kantor pakde Syarif, aku segera memarkirkan si Grey di pos satpam depan.

"Bos abis kuliah nih?" Sapa pak Tukijan dari dalam post satpam.

Pak Tukijan ini, adalah sopir pribadi pakde Syarif yang berasal dari kotaku. Orangnya bersahaja dan selalu ramah pada semua orang.

"Bas Bos oponan sih pak, Bosok iya. (Bas Bos apaan sih pak, Busuk iya)" kataku sambil berjalan menghampirinya.

Kutawarkan rokok pada pak Tukijan, diambilnya sebatang dan kami berdua bergantian menyalakan rokok dengan korek api dari pak Tukijan.

"Pakde ada kan pak Jan?" tanyaku tentang keberadaan pakde Syarif kepada pak Tukijan.

"Ada kok mas Anton, mau saya antarkan?" Jawab pak Tukijan ramah.

"Ga usah pak, nanti saya ke sana sendiri aja!" ujarku menolak tawaran Beliau. "Ya udah aku naik dulu ya pak Jan."

Aku pergi meninggalkan Beliau, berjalan menuju ke kantor yang berlantai 7 tersebut.

Begitu sampai di dalam kantor itu, di hadapanku sudah berdiri tiga orang gadis cantik di meja resepsionis. Dengan pedenya aku melangkah ke meja resepsionis itu yang berada di lantai dasar gedung ini.

Setelah sampai di meja resepsionis, aku segera mengutarakan keperluanku untuk bertemu dengan pakde Syarif kepada salah satu gadis yang kulihat dari name tag-nya bernama Ayuni. Aku memilih menyebutkan keperluanku kepada Ayuni karena kulihat dia yang paling cantik dan terkesan ramah.


"Permisi mbak, mau ketemu pak Syarif Hidayattulah, bisa?" Kataku sopan kepada Ayuni, membuatnya terpana sesaat mendengar nama yang kusebut tadi.

"Sebentar ya, Mas!" kata Ayuni memintaku menunggu. Dia segera menggamit kedua rekan kerjanya dan membisikan sesuatu.

Sekitar satu menit lamanya, mereka bertiga berbisik-bisik dan diakhiri dengan kembalinya Ayuni di hadapanku.

"Mas, pak Syarifnya sedang keluar karena ada meeting. Jadi mohon maaf!" katanya ramah.

“Njiir...! Aku diboongi sama gadis cantik ini.” Gerutuku dalam hati.

Setelah mendengar perkataan Ayuni barusan. Aku dianggapnya seperti bocah yang bisa ditipu dengan sekantong permen biar bisa diam kalo sedang menangis

"Ooh iyakah mbak?, Yaah sayang banget, padahal dah jauh-jauh ke sini malah ga ketemu." kataku berlagak menyesal karena tak bisa bertemu dengan orang nomer satu di kantor ini. "Mbak numpang nunggu di situ bentar ya! Sambil order taxi online.” sambungku dan di jawab Ayuni dengan senyum manisnya.

“Buaya kok, di kadalin.” kataku dalam hati.

Segera saja aku mengirimkan pesan ke pakde Syarif sambil berpura-pura memesan taxi online.


Pakde, aku sudah ada di bawah depan resepsionis. Mau ngambil dokumen yang dibilang pakde tadi.

oo yo wes, pakde medun iki.
Tak sampai 15 menit aku menunggu sambil memandangi wajah Ayuni yang membuatnya tersipu.

Pakde Syarif keluar dari lift dan menghampiriku sambil membawa map plastik berwarna biru.

Segera kucium tangan Beliau dan memeluk Beliau.

Kontan tingkahku membuat 3 gadis di meja resepsionis itu terpaku dan bertanya-tanya di antara mereka.

"Kok, ga langsung naik aja Nton tadi?" ujar pakde Syarif sambil menyerahkan map warna biru.

"Lho, kata mbak-mbak yang ada di sini tadi, pakde katanya lagi meeting keluar. Ya udah, ga naik aku." kataku sambil menggoda ketiga gadis di meja kerjanya.

"Wah, pelanggaran ini! Siapa tadi yang bilang, Nton?" kata pakde Syarif yang segera paham kalau aku ingin menggoda para resepsionis di kantornya setelah aku mengedipkan sebelah mataku pada Beliau.

"Itu yang bilang mbak yang namanya Ayuni, pakde!" kataku sambil menunjuk ke arah Ayuni, membuat gadis yang kutunjuk itu berubah ekspresi wajahnya. Terpancar dari matanya ada rasa ketakutan yang sekarang melandanya.

"Waah, ga bisa di biarkan ini! Bener Ayuni, kamu tadi bilang gitu?" kata pakde Syarif tegas.

"I i i iyaa pak, mohon maaf, soalnya saya lihat mas nya kayak ga ada keperluan penting, takut ganggu bapak." jawab Ayuni tergagap-gagap.

"Hadeeh... Ayuni, Ayuni, jangan diulangi lagi yang kayak gitu! Siapapun tamunya, apa keperluanya, layani dengan baik. Untuk kesalahan kali ini, kamu saya hukum." kata pakde Syarif tegas dan penuh wibawa sambil mengeleng-gelengkan kepalanya mendengar penjelasan Ayuni tadi.

"Nton, hukuman apa enaknya nih buat Ayuni?" tanya pakde Syarif. Beliau menyerahkan tugas untuk menghukum Ayuni kepadaku.

"Apa ya, enaknya?" kataku seolah-olah sedang berpikir sambil mengetuk-ngetukan jariku di meja resepsionis.

"Anu pakde, hukumannya Ayuni harus mau nemenin aku makan malam." kataku kemudian yang segera saja membuat Pakde Syarif tergelak mendengarnya.

"Ahahahah koplak kamu Nton, ya udah pakde naik dulu, dilanjut ya kalian." kata pakde Syarif sambil terus tertawa dan berbalik menuju ke arah lift.

"Jadi gimana nih mbak Ayuni, nanti malam kita Dinner?" Ucapku sambil menggoda Ayuni yang tersipu malu, membuat wajah cantiknya menjadi kemerahan.

"Itu anu apa mas, anu aku dah punya pacar." jawab Ayuni, sambil mesam-mesem sendiri.

"Lah, siapa yang tanya mbak Ayuni punya pacar? Kan, kita ngomongin Dinner?" kataku sambil terus menggoda Ayuni.

"Mas Antoooooooooon!!!" Teriak suara di belakangku.


Bersambung.........
 
Terakhir diubah:
Sbo Hoki Online   Senior Bola Online
Jav Toys Domino168 - Agen Bola
Asia Bet
Asia Win Online
Waspada, pin ini BUKAN pin Forum Semprot :
D005 0B6C

Pasang iklan hanya lewat CONTACT US
Top
Current URL :