Sbo Hoki Online
VGoal Live Score
Senior Bola - Agen Bola
Live Score Online
Toto Alpha - Agen Bola   Togel Matrix
9Club Situs Judi Online Terpercaya
96ace Situs Judi Online Terpercaya
Tahun QQ, Agen Bola   Premier 189 online
MSN Poker online   Gubuk Bola 88 online
Agen Togel Online (indoDingDong)   Asus Togel online
Sarana Cash online   Kartu Demen online
Happistar online   Bandar 808 online
Jaya Gaming online   Nagawin Daftar Sbobet Online
Pasang iklan, hanya lewat Contact Us, bukan lewat WA / BBM / Line / Wechat / dll.
Waspada penipuan iklan. Klik di sini untuk melihat daftar penipu.

CERBUNG - TAMAT CINCIN DARI MASA LALU (CDML) - BAG. II

RSP27

Pertapa Semprot
Thread Starter
Daftar
2 Feb 2018
Post
6.483
Like diterima
103.598


INDEX
Jika tidak ditemukan, biasanya halaman maju atau mundur antara 1-2 halaman atau lebih dari link index.


SESSION I


Prolog
Part 1: Langkah Pertama
Part 2: Perjumpaan

Part 3: Perasaan yang Ganjil
Part 4: Nur
Part 5: Maya
Part 6: Perjaka Untuk...
Part 7: Tulusnya Hati Maya, dan Mulusnya...
Part 8: Sang Dosen dan Ceu Ningrum
Part 9: Gairah Yang Tak Dikehendaki
Part 10: Ketika Purnama Datang
Part 11: Konflik Kedua dan Perubahan Nur
Part 12. Di Suatu Hari Bernama Selasa...
Part 13: Akhir Perselingkuhan
Part 14: Titik Patah
Part 15: Patah
Part 16: Suatu Siang di RSP...
Part 17: Suatu Siang di RSP (2)
Part 18: Yang Patah Tumbuh
Part 19: Runtuhnya Tekad dan Keyakinan?
Part 20: Sisi Lain Seorang Callista

Part 21.1: Tersingkapnya Sebuah Misteri (1)
Part 21.2: Tersingkapnya Sebuah Misteri (2)
Part 22.1: Asa Yang Tertunda (1)

Part 22.2: Asa yang Tertunda (2)
Part 23.1: Keluarga ACM (1)
Part 23.2: Keluarga ACM (2)

Part 24: Kejutan Tak Terduga
Part 25: Rasa yang Mereka Punya

Mantili (Part ngelindur sambil jualan)

Part 26: Cinta Nur dan Gairah Bibinya
Part 27: Bunda Mae
Part 28: "Puting Bude” Trip 1: Pernyataan Cinta

Part 29: "Puting Bude” Trip 2: Menang Banyak Tapi Dilema
Part 30.1: “Puting Bude” Trip 3.1
Part 30.2: “Puting Bude” Trip 3.2
Part 31: “Puting Bude” Trip 4
Part 32.1: Tiga Wanita Ritual Dari Masa Lalu (1)
Part 32.2: Tiga Wanita Ritual Dari Masa Lalu (2)
Part 33: Suara Hati Empat Gadis

Part 34: Sawaka Reborn (1)
Part 35: Sawaka Reborn (2)
Part 36: Cincin dan Cinta
Part 37: Cinta dan Filosofi Kopi a la Sirna



SESSION II

38. Sebuah Awal (di bawah)
39. Misteri Sebuah Ciuman
40. Reuni
41. (Pen)cobaan Pertama
42. Kemesraan Gundah
43. Sang Harimau Betina
44. Pengakuan Aruna dan Tante Hila Ayu
45. Cipali & Ewer in Love

46. Cinta, Kopi, dan Keinginan Bu Mae
47. Kekalahan Kedua

48. Godaan Sebelum Ritual (?)
49. Ritual Terakhir (1)
50.1 Ritual Terakhir (2.1)
50.2 Ritual Terakhir (2.2)
51. Pasca Ritual
52. Dari ‘Yang Berdosa’ untuk ‘Yang Tidak Berdosa'
53. Chaos
54. Rekonsiliasi (1)
55. Rekonsiliasi (2)
56. Mereka Bersatu, Aku?
57. Cinta Sirna - Sirnanya Cinta
58. Siapa aku? Sirna!!!
59. Fiuuuh...!!!
60. Selamat Jalan
61. Berdamai dengan Luka
62. Aku Menemukannya
63. Dari Masa Lalu untuk Masa Depan (1)
64. Dari Masa Lalu untuk Masa Depan (2)
65. Wallista Selamanya


SESSION: WALLISTA

66. Wallista 1
67. Wallista 2
68. Wallista 3
69. Wallista 4
70. Wallista 5


END
 
Terakhir diubah:

RSP27

Pertapa Semprot
Thread Starter
Daftar
2 Feb 2018
Post
6.483
Like diterima
103.598
XXXVIII. SEBUAH AWAL

“Ciluuukk, ba… Ciluuukk, ba….”

Aku menutup dan membuka telapak tangan di depan wajah si mungil yang sudah memasuki usia setengah tahun. Wajahnya menggemaskan, kadang tersenyum, kadang tertawa lucu. Kedua tangan dan kakinya selalu bergerak, sekali-kali ia memasukkan jari ke dalam mulutnya.

Kuambil tangannya sehingga ia menggenggam telunjukku erat. Bola matanya selalu berbinar mengamatiku dan berusaha menirukan apa yang kuucapkan.

“Ciluuukk, ba…”
“Bababa…” jawabnya.

Dengan gemas kuciumi perutnya membuat si kecil melonjak dan tertawa lucu.

“Yayaya.. yayaya…” ocehnya lagi.
“Wawawa.. wawawa…”

Aku menjawab ocehannya, dan si kecil pun menirukan suaraku.

“Om.. om.. ayo tirukan.” kataku gemas.
“Mmm.. mmm…” jawabnya.

“Om.. om…” ulangku lagi.
“Mmmm.. ooom…”

“Om.. om…” ulangku lagi.
“Om.. om…” kali ini ia bisa menirukannya.

“Wawawa…” kataku bersemangat dan diulanginya.
“Om.. om…” ulangku dan ia mengikuti.

“Om Wawa.”

Mata si kecil melihatku bingung, air liurnya menetes.

“Om Wawa.” ulangku sambil membersihkan mulutnya.
“Om Wawa.” jawabnya.

“Yihaaaaaaaa…!!!!”

Aku pun meloncat dan jingkrak-jingkrak. Inilah kali pertama ia memanggilku, pertama kali ia berbicara selain mengucapkan “bababa” dan “yayaya”. Sesaat kuabaikan bayi itu yang sedang bersusah payah membalikan badan karena sudah mulai belajar tengkurap.

“Om Wawa.. Om Wawa…” aku mengulanginya lagi dan lagi sambil berlari keluar kamar.

“Sayang, kok berisik banget sih, ada aa…?!!!”

Buuuukkkk!!!

“Aaawww… sayang iiih… ngapain sih?” Callista meringis sambil mengusapi dada kirinya. Di belakangnya sudah berdiri Ceu Ningrum dan Kang Narto.

“Om Wawa.. Om Wawa…” aku ngoceh sendiri kesenangan, tanpa memedulikan pertanyaan kekasihku.

“Om Wawa.” tiba-tiba terdengar sahutan dari dalam kamar.

“Haaaaah?” kaget Ceu Ningrum.
“Hiyaaaa…!!!” jerit Callista.

Keduanya langsung berlari ke dalam kamar, aku dan Kang Narto menyusul di belakang mereka.

Callista lebih cepat dari Ceu Ningrum, ia langsung memangku si kecil yang sedang jungkir balik karena tengkurapnya selalu gagal.

“Kamu sudah bisa ngomong, sayang? Tadi bilang apa?” tanya Callista sambil menciumi pipi sang bayi.

Si kecil hanya menggoyang-goyangkan wajahnya karena kegelian mendapat ciuman Callista.

“Om Wawa.. Om Wawa…” ucapku sambil mendekat.
“Om Wawa…” jawab si kecil.

“Curaaaaang…!!!” pekik Ceu Ningrum dan Callista bersamaan.

“Bukannya diajari manggil ayah dan mamahnya malah ‘om wawa.. om wawa…’ Huuuh…!!!” protes Ceu Ningrum.
“Harusnya diajari manggil ‘tante’ iiih…” Callista ikutan tidak mau terima.

Sedangkan Kang Narto hanya mematung sambil tersenyum. Matanya berembun karena bangga dan haru.

Ya, bayi ini adalah Garpit Premium, anak pertama Kang Narto dan Ceu Ningrum. Kelahirannya bukan hanya membawa berkah bagi kedua orangtuanya, tetapi juga bagiku dan sahabat-sahabatku. Sudah sebulan ini kami menyewa sebuah rumah tua di kawasan Kolmas, dan kini sedang dalam tahap renovasi untuk dijadikan kedai kopi dan martabak. Rencananya, bagian belakang akan dijadikan tempat tinggal keluarga Kang Narto. Kini Callista datang ke rumah kontrakan mereka pasti untuk menyusul dan menjemputku. Sore ini kami janjian dengan yang lain untuk nongkrong di calon lapak kami.

Aku hanya terkekeh ketika Callista mengajari Arpit (Garpit) mengucapkan kata ‘tante’ tapi si mungil tidak bisa menirukannya. Ia malah meronta meminta digendong oleh mamahnya. Kali ini Ceu Ningrum yang mengajari putra kesayangan untuk mengucapkan kata ‘ayah’ dan ‘mamah’. Kukecup si kecil lalu menarik Callista meninggalkan kamar, sedangkan keluarga kecil itu tetap berada di dalam kamar.

“Huuuh… nyebelin!!!” Callista merengut sambil duduk di atas pangkuanku.
“Hehehe… aku kan omnya.” ujarku.
“Aku juga kan tantenya.” Callista makin cemberut.

Kukecup gelembungan pipinya sambil mengusapi perutnya yang ramping. Cubitan kecil kurasakan pada punggung tanganku dan ia pun membalikan wajah berhadapan.

Cuuuuup!!!

Bibir kami beradu dan saling mengecup berkali-kali.

“Aku pengen punya dedee.” ia merengek bagai anak kecil.
“Udah siap?” aku mengerling.
“Hu’uh.” angguknya sambil tersenyum.
“Yuuuks..!!!” jawabku sambil mencoba memasukan tanganku ke dalam bajunya tapi ia tahan karena takut Kang Narto atau Ceu Ningrum tiba-tiba keluar kamar.

Callista melumat bibirku sebentar, lalu pindah duduk di sampingku. Kepalanya menyender pada bahu kiriku.

“Kita jalan sekarang?” tanya kekasihku.
“Katanya mau bikin dede dulu?”
“Ayoo..” Callista tertawa kecil menggodaku.

Dan.. kami pun sama-sama tertawa karena candaan kami. Di balik itu semua, Callista juga pasti tidak akan menolak jika aku memang menginginkannya, bahkan dilamar dan segera kunikahi pun ia sepertinya akan langsung mau. Kini kami sudah semakin saling menyayangi dan kian romantis. Perlahan tapi pasti, hatinya sudah mulai ia berikan sepenuhnya untukku, walaupun proses penyembuhan luka batinnya masih belum selesai.

Tak lama kemudian Kang Narto dan Ceu Ningrum muncul dari dalam kamar, dan langsung pada menggelengkan kepala melihat posisi duduk kami yang selalu menempel dan saling melingkarkan tangan. Nampak Arpit mulai tertidur sambil menyusu pada ibunya. Buah payudara Ceu Ningrum tidak terlihat karena ditutupi kain, tapi areolanya tetap terpampang. Andai saja si mungil melepaskan mulutnya pasti puting ibunya mencuat penuh bercak asi.

Setelah ngobrol sebentar, aku dan Callista pamit untuk pergi ke lapak baru. Kekasihku mencium Arpit dengan gemas, sedangkan aku hanya menyentuh pipi si mungil dengan jari karena taku bibirku salah sasaran pada puting ibunya.

Kang Narto sendiri bersiap untuk berangkat jualan, ia sudah punya dua orang asisten baru yang membantu untuk mengantarkan pesanan. Kami telah sepakat, bahwa aku tidak perlu membantunya lagi untuk sementara, agar aku bisa lebih fokus mengurusi calon lapak baru, yang rencananya akan dibuka dua minggu lagi.

Dan inilah hari pertama libur panjangku, dua semester telah kulalui. Aku baru akan pulang untuk menengok ibu dan mengontrol kopi di Ewer setelah lapak baru dibuka.

Karena Callista menjemputku ke kontrakan Kang Narto, maka kutinggalkan motorku, dan berjalan menuju mobilnya yang terparkir di ujung gang. Kugandeng lengan kekasihku yang sore ini mengenakan pakaian casual. Nampak cantik dengan wajah berseri, rambutnya dibiarkan tergerai, dan seperti biasa ia tidak mengenakan make-up berlebihan.

“Kamu cantik banget sih, yank.” gumamku ketika kami sudah sama-sama duduk di jok mobil.
“Pastilah..!!!” ia menggodaku dengan memasang tampang sombong.
“Pacarnya siapa?” tanyaku sambil sedikit memutarkan badan dan menatapnya.
“Hmmm.. pacarnya Tegas Anggara.” jawab Callista sambil memeletkan lidah.

Aku tertawa sambil menguyel-uyel rambutnya. Ia malah meraihnya, dan meletakkan telapak tanganku pada pipinya. Kuusapi dengan gemas dan sayang, senyumnya mengembang dan kedua bola matanya berbinar.

Aku mengamati keadaan di sekitar mobil, setelah dipastikan aman, aku pun merunduk mengecup bibirnya.

“Pacarnya, Wawa.” gumamnya ketika bibir kami terpisah, setelahnya, ciuman pun kembali berlanjut, kali ini saling melumat.

Setelah merasa cukup, kutarik wajahku, tapi Callista terus mengejar. Sampai aku duduk tegak pun bibir kami masih saling pagut, sementara kekasihku duduk sambil mendoyongkan tubuhnya. Ia seakan enggan melepaskan ciuman ini.

“Mmmmmhhh…” lenguhnya saat tanganku mengelus bagian belakang telinganya, ciuman kami akhirnya benar-benar terlepas. Inilah cara baruku untuk menghentikan ciuman hangatnya.

Kami sama-sama memasang safety belt lalu kunyalakan mesin mobil. Yaa… sudah tiga bulan ini aku bisa nyetir mobil setelah sebelumnya kursus selama delapan kali pertemuan. Siapa lagi kalau bukan gadis di sampingku yang memaksaku kursus, walaupun aku harus mengeluarkan uang lebih untuk itu. Ia cukup mengerti dan menghargaiku, ia tidak pernah mengeluarkan uang untuk keperluanku, selain sekali-kali traktir makan di restoran. Bahkan ia juga tidak menolak kubayari ketika kami hanya sekedar makan di tenda-tenda pinggir jalan. Itulah cara dia memperlakukanku sebagai lelakinya, cara dia menghargai dan mencintaiku. Ia sudah banyak berubah sejak peristiwa di saung Ewer enam bulan lalu.

Kulajukan kendaraan menyusuri jalan kecil, lalui memasuki Gatsu yang pamer susu. Kekasihku tak hentinya mengusapi punggung lenganku dan sekali-kali mencium pipiku ketika aku tidak sabar karena kemacetan.

Setengah jam kemudian, kami pun tiba di tempat tujuan. Kuparkirkan mobil di samping mobil Lia yang nampaknya sudah lebih dahulu datang. Pun pula motor Ray sudah terparkir pertanda langsung ke mari dari kantornya.

Benar saja, kedua sahabatku sudah ada di dalam dengan pasangan masing-masing. Mereka sedang duduk melingkar sambil menikmati bakso.

“Mauuu.” seru Callista.
“Sudah aku duga.” jawab Lia, “Aku udah beli buat kalian juga kok, kak.”

Lia pun mengambil mangkok dan menuangkan dua bungkus bakso dari dalam plastik. Sedangkan aku langsung saling “maki” dengan Rad dan Ray.

“Beli bakso di Baros, ya?” tanya Callista sambil duduk di samping Syamida.
“Iyah.” jawab Lia singkat.

Sejenak aku mengedarkan pandanganku pada seisi ruangan. Tempat penggorengan martabak terdapat di sisi kiri dengan dibatasi triplek setinggi dada, dan disambung kaca tembus pandang. Di atas kaca sudah dipasang triplek yang nantinya akan dipasang banner gambar-gambar menu andalan. Sedangkan di bagian dalam sudah disetting mini bar tempat meracik kopi, dibatasi etalase kaca tempat memajang produk Kopi Sawaka yang akan kami jual.

Kami tinggal membersihkan ruangan yang masih bau cat dan memasang banner-bannernya saja, juga memasang meja dan kursi yang sudah kami pesan kepada seorang kenalan. Di antara etalase martabak dan mini bar terdapat sebuah pintu menuju toilet yang bisa dipakai oleh pengunjung, sekaligus menjadi akses menuju ruangan belakang yang akan dijadikan tempat tinggal oleh Ceu Ningrum dan Kang Narto. Memang tidak besar, karena hanya berisi satu kamar, dapur dan kamar mandi. Meski begitu ada sedikit ruang kosong untuk menjemur pakaian atau duduk-duduk merokok.

Kami pun membicarakan rencana untuk beberapa hari ke depan sambil menikmati bakso masing-masing. Ray yang sudah selesai makan, duduk agak menjauh karena merokok.

Setelah semua selesai makan, Lia mengeluarkan laptopnya untuk menunjukkan design banner dan buku menu yang ia rancang. Kami pun langsung sepakat tanpa berdebat, besok Lia akan langsung membawanya ke percetakan di daerah Cihampelas. Yang agak lama adalah membicarakan banner untuk di pasang di depan, di atas pintu masuk.

Ada tiga produk yang kami jual, yaitu Martabak N&N, Kedai Kopi, dan Agen Kopi Sawaka. Kami masih kesulitan bagaimana menyatukan ketiga hal ini dalam satu nama yang cukup mengakomodasi ketiganya.

Syamida mengusulkan: “NN Martabak & Coffee”.
Lia punya ide untuk memakai nama “Garpit” sesuai nama anak Kang Narto dan Ceu Ningrum.
Ray mengusulkan agar memberi nama “RR” yang merupakan inisial dari Ray dan Rad.
Rad sendiri lebih setuju memakai nama “Nu Aing.”

Callista lain lagi, ia belum punya ide, tapi ia mengusulkan agar kami menggunakan sebuah nama yang cukup nyentrik dan gampang diingat.

Tik tok tik tok…

“NN, martabak, kopi, NN, martabak, kopi…” Ray berbicara sendiri sambil memutar-mutar batang rokok pada jarinya.
“Hmmm… harus nyentrik dan gampang diingat yah…” gumamku.

Dan cliiing….

“NeNen.” seruku setelah mendapat ide.

Hmmmfff…

Buuuk…

Pluuuukkk…

Pletakkk…

Cubitan, timpukan, dan jiatakan pun mendarat pada tubuhku. Yang paling menyakitkan adalah cubitan Callista pada pinggangku.

“Ahhh ampun, yank.” ringisku. “Kan NN kalau diucapkan diulang-ulang dengan cepet bisa bikin keselo lidah jadi NeNen. Gampang diingat, kan?” aku membela diri sambil berusaha melepaskan cubitan Callista.

“Setelah Puting Bude, sekarang NeNen, nanti apa lagi???” sewot Callista.

Rad dan Ray langsung tertawa mendengar gerutuan Callista, dan kini mereka sukses mendapat cubitan dari kekasih masing-masing.

Suasana diskusi pun menjadi kacau dan riuh. Gelak tawa kami bertiga dan ungkapan kekesalan para ladies bercampur menjadi satu.

“Udahlah “NeNen” ajah, Narto-Ewer-Ningrum-Ewer.” Ray masih mendukung ideku.
“N terakhir?” tanya Rad.
“Nur!” jawab Ray bersamaan dengan munculnya gadis itu.

Ia memang datang terlambat karena harus menjemput orangtuanya terlebih dahulu yang hari ini datang ke Cimahi.

“Apaan?” tanya gadis itu kebingungan.

Sedangkan kami bertiga tergelak dan kekasih kami masing-masing semakin cemberut kesal.

“Udah jangan ditanggepin, Nur.” ujar Callista.

Aku, Rad dan Ray pun seolah sepakat untuk tidak melanjutkan karena kalau Nur ikut ngamuk, kedamaian kami akan semakin terancam. Kadang-kadang galak dan judes gadis ini melebihi Callista.

Syamida pun menjelaskan bahwa kami sedang mencari nama untuk usaha kami. Nur nampak berpikir sejenak lalu ucapnya, “Ewer aja, nama kampung kalian kan unik.”

“R-nya pake dalam kurung, gak?” gumamku spontan.

Bluuuuffff!!!

Callista menghujaniku dengan cubitan dan pukulan sampai aku terjengkang. Kuraih tubuhnya dan kami pun nyungsep di atas tikar, Callista meronta tapi kupeluk erat membuat para sahabatku tertawa.

Setelah semuanya reda, dan tak ada satu pun ide baru, akhirnya kami menyepakati ide Syamida:

N&N
Martabak and coffee.


Yang lain-lain menjadi PR Lia untuk menuangkannya dalam design. Pembicaraan pun beralih pada hal-hal lain menyangkut perijinan, parkir dan keamanan, promosi melalui medsos, dan strategi pemasaran lainnya. Untuk tahap pertama, sasaran pelanggan kami adalah teman-teman kami sendiri di kampus, sambil melibatkan anak-anak Puting Bude untuk ikut membantu.

“Sebelum buka, gimana kalau kita jalan-jalan liburan dulu, karena setelah buka pasti akan sulit untuk bisa pergi bareng.” ujar Callista.
“Yihaaaa… kemana, kak?” tanya Nur.

Di luar kampus, anggota Puting Bude sudah terbiasa memanggil “kakak” pada Callista.

“Ke Sawarna, yuks. Kami punya penginapan keluarga di sana.”

Tawaran Callista tentu saja kami sambut gembira, tanggal dan hari pun kami sepakati, dengan catatan sebelum tanggal itu lapak harus sudah siap sehingga kami bisa pergi tanpa beban. Maya tentu saja akan ikut, dan Callista juga akan merayu papah dan mamahnya untuk liburan bersama.

Jam tujuh malam kami meninggalkan N&N, bukan untuk pulang, tapi menuju lapak Kang Narto. Kami beriringan dengan dua mobil dan tiga motor. Callista dan Nur, Rad dan Lia, Ray membonceng Syamida, dan aku membawa motor Nur sendirian.

Lapak nampak sepi tapi Kang Narto terlihat sangat sibuk. Rupanya banyak pelanggan yang membeli melalui layanan pesan antar, dua asistennya tidak terlihat karena sedang mengantarkan pesanan.

“Nah kebetulan kamu ke sini, Wa. Akang minta tolong untuk bantu anterin pesanan.” ujar Kang Narto.
“Yudah.. sok aja.” jawabku.

Callista pun nampak tidak keberatan, dan hanya mewanti-wanti untuk selalu hati-hati dan selalu memakai jaket kalau naik motor. Kang Narto membuatkan martabak telor untuk kami semua, lalu melanjutkan membuat adonan untuk pelanggannya.

Kami pun tidak berlama-lama makan, dan langsung memutuskan langsung bubar begitu martabak kami habis. Nur akan pulang bersama Rad dan Lia karena motornya kupinjam untuk mengantar pesanan.

“Hati-hati, yank. Nanti malam nelpon, kan?” ujar kekasihku ketika aku mengantarnya sampai ke mobil.
“Iyah, emang kamu bisa bobo kalau gak aku telpon?”
“Iiihhh… tapi kalau kamu gak capek aja ya. Kalau capek, langsung bobo aja, aku gak apa-apa kok.” senyumnya.

Aku tahu, meskipun ia berkata begitu, tapi hatinya sangat menginginkanku menemaninya tidur via telpon. Ia sudah semakin nampak dewasa belakangan ini, hanya satu yang gak hilang, yaitu judesnya saat di kampus, dan manjanya saat berdua.

“Aku pasti nelpon.” ujarku sambil membukakan pintu mobil dan menutupnya kembali setelah ia duduk.

Kaca mobil pun turun dan aku merunduk untuk mengecup bibirnya. Deheman tukang parkir tak membuatku malu, karena aku sudah sangat mengenalnya. Senyum dan lambaian tangannya hilang seiring tertutupnya kembali kaca mobil, dan ia pun melajukan kendaraannya.

Aku pun kembali ke lapak untuk mengambil pesanan.

“Mana yang mau diantar, kang?” tanyaku.

“Sekalian ke tiga rumah, ya Wa. Ke Cibabat, Cihanjuang, dan ke Parongpong. Kan sejalur tuh.” jawab Kang Narto sambil menjelaskan tiga kantong plastik yang berisi kotak martabak dan menjelaskan nama-nama pemesannya.

“Buseeet… Parongpong mah jauh atuh, kang.” jawabku.

“Makanya akang minta bantuan kamu, lagian ia udah janji mau bayar seratus ribu. Tempatnya di villa Isbung, tuh alamat-alamatnya udah akang WA.”

“Lahh.. jauh-jauh ke Isbung hanya nganterin martabak sekotak, kang?” heranku saat menyadari pesanan yang harus diantar ke villa itu.
“Nggak tahu, lagi ngidam kali.” jawabnya sambil membuat adonan baru.
“Yaudah, kang, aku berangkat, nanti aku langsung pulang. Uangnya besok aja sambil ambil motor.”
“Iya, nuhun nya.”

Kucantelkan tiga kantong martabak pada motor dan langsung meluncur pada alamat yang dituju. Kulihat bulan sudah mulai naik, bulat sempurna karena purnama.

Dua pesanan berhasil kuantarkan tanpa kesulitan, dan kulanjutkan menyusuri jalan Cihanjuang menuju Villa Isbung, cukup gelap dan dingin.

“Villa BH, pak.” ujarku kepada satpam yang berjaga di pintu utama kompleks villa.

Tanpa banyak pertingsing, sang satpam pun langsung menjelaskan jalan menuju ke villa yang kumaksud dan mempersilakanku masuk kompleks.

Letak villa rupanya berada di sisi paling atas kompleks, cukup besar dan megah. Di depannya terparkir sebuah mercy.

Kuturun dari motor tanpa melepas helm, perasaanku berdebar kencang. Mobil ini sangat kukenal.

Srrrr…!!!

Perasaanku berdesir. Ada orang yang kukenal di dalam villa.

Kumasuki halaman villa yang tanpa pagar, dan menaiki anak tangga menuju pintu depan. Kuulurkan tanganku untuk memencet bel, tapi kuurung menekannya saat gordennya sedikit tersibak. Aku pun menempelkan wajah pada kaca untuk mengintip ke dalam yang terang benderang.

Fiiiiiuuuuuuh…!!!

Dua sosok sedang saling berpacu meraih puncak birahi di atas sofa panjang dengan posisi kepala ke arahku. Sementara di bawah mereka, seorang gadis lain sedang terkulai di atas karpet beludru; polos tanpa busana.

Si lelaki menggenjot dari atas sementara kepalanya menunduk menciumi leher si wanita yang menggelinjang liar. Aku tidak bisa melihat wajah mereka karena terhalang sandaran sofa. Aku semakin penasaran dibuatnya. Tampak mereka semakin liar dan… samar-samar pekik tertahan si wanita pun terdengar. Kedua tangannya yang meremas tepian sofa tampak menegang. Tubuh mereka melekat erat, sementara si pria menghentikan genjotannya.

Jantungku seakan berhenti berdetak, terpesona pada dua insan itu. Semenit.. dua menit.. Lelaki itu akhirnya mendongak dan memulai menggerakkan pinggulnya pelan. Si wanita mendesis kepedesan. Tiba-tiba tangannya mendorong dada si pria.

Duaaaarrr….!!!

Firasatku benar, aku mengenal pria paruh baya tersebut. Tanpa sadar aku mundur dua langkah dari kaca. Pikiranku seketika kalut, wajah-wajah orang yang kusayang pun terbayang. Bagaimana mungkin ia yang sangat kuhormati dan kusegani, orang yang selama ini menjadi partner main catur sambil merokok, tega-teganya mengkhianati keluarganya.

Kusandarkan tubuhku pada tiang sambil berusaha mengatur nafasku. Bukan karena bernafsu melihat adegan mereka, tetapi karena lelaki itu. Tubuhku luruh sampai terduduk di atas lantai keramik.

Sedih, kecewa; benci dan marah. Semuanya menyatu. Ingin rasanya aku melabrak mereka, tapi hati kecilku memberi peringatan agar tidak gegabah.

Kuhembuskan nafas panjang beberapa kali, lalu berusaha berdiri. Kuputuskan untuk mengintip kembali, untuk mencari tahu siapa lawan mainnya.

Lagi…

Aku tersedak sedih dan marah. Gadis itu.. seseorang yang sudah kuanggap sebagai sahabat sendiri, sedang menggenjot lawan mainnya dengan posisi woman on top, tepat menghadapku. Bukannya terangsang pada tubuh mulus dan seksinya, yang kurasakan justru perasaan teramat muak dan marah.

“Sayang…!!!” kusambat nama kekasihku.

Hidupnya akan kiamat kalau sampai ia mengetahui ini. Aku sudah merasakan kepahitan dan penderitaan kekasihku, bahkan di saat sebelum ia mengetahuinya. Aku berjanji, kekasihku tidak boleh mengetahui ini, pun pula ibu dan adiknya. Aku bersumpah, untuk selalu menjaga kebahagiaan mereka.

“Bangsat…!!!” geramku.

Pikiranku melayang pada kejadian seminggu lalu, ketika percobaan perampokan rumah Bu Tiurma kembali terjadi. Tapi aku keburu membereskannya sejak sebelum mereka berangkat untuk melakukan aksi perampokan itu.

Yang kulihat di dalam adalah dua orang yang kukenal, tapi kenapa pikiranku malah mengingat rencana perampokan itu. Aku berpikir cepat, ini ada kaitannya, dan aku tahu, aku telah dimanfaatkan oleh pria itu.

“Sawaka, jika aku salah, ingatkan aku.” gumamku geram.

Kukuatkan hatiku, kucoba redam emosiku. Aku pun berdiri dan melangkah ke depan pintu.

Ting tong…!!!

Suara bel terdengar di dalam setelah kupencet tombolnya. Aku sudah tidak sudi mengintip. Maka aku hanya menunggu, seandainya sang pria atau si gadis yang membukakan pintu, ini akan menjadi kejutan baginya. Aku sudah punya rencana. Tapi kalau gadis yang tertidur di atas karpet yang membukakan pintu, aku juga sudah punya rencana kedua.

Kupencet bel sekali lagi, karena tak kunjung ada yang membukakan pintu.

Ceklek!!

Setelah menunggu hampir lima menit akhirnya terdengar suara kunci diputar. Pintu pun terbuka sedikit. Nampak wajah seorang gadis cantik mengintip dari celah pintu. Tubuhnya sudah berpakaian kembali. Rambutnya kusut, pakaiannya semrawut, dan wajahnya lusuh-lelah.

“Selamat malam, mbak. Saya mau mengantar martabak.” aku menyapanya duluan dengan sikap sesopan mungkin.

Pintu pun terbuka agak lebar, dan ia mengulurkan tangannya untuk mengambil plastik yang kusodorkan.

“Tunggu sebentar, mas.” singkatnya dan pintu pun tertutup kembali.

Aku hanya mengangguk dan menyeringai setelahnya. Sebuah seringai yang penuh rasa kecewa, sedih, sekaligus amarah. Kini aku harus menjalankan rencana keduaku.

Tak lama kemudian, pintu kembali terbuka tipis, dan gadis yang sama muncul menyodorkan dua lembar uang dua ratus ribu.

“Mbak, ini…”
“Udah ambil saja.” potongnya tak ramah.

Pintu pun tertutup sebelum aku membalas ucapannya.

Aku pun bergegas menuju motorku, dan kulajukan dengan kencang. Aku harus segera pulang agar Callista tidak terlalu malam menungguku menelpon. Aku harus menemaninya tidur, dan aku harus membuatnya selalu bahagia. Harus!!!

“Sayang, aku berjanji untuk mengembalikan papahmu pada keluargamu.” batinku sambil menginjak perseneling.




Bersambung….
 
Terakhir diubah:

RSP27

Pertapa Semprot
Thread Starter
Daftar
2 Feb 2018
Post
6.483
Like diterima
103.598
TERIMA KASIH
atas kawalan sobih semua. Semoga berkenan.

Mungkin update session 2 ini tidak selancar session 1, maks seminggu dua kali. Minimal.. lama banget. Hehehe....
 
Terakhir diubah:

RSP27

Pertapa Semprot
Thread Starter
Daftar
2 Feb 2018
Post
6.483
Like diterima
103.598
wuihhh mantab CDML Session 2
Cepet amat ada yAng pertamaks
ijin ninggalin jejak
Di transfer donk mang... Siap nongkrongin di pejwan ini...
Nitip sandal hu
Asyik... Hadirrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrr
Mamang Top markotop dah...
#Modus_biar_khilaf_lagi
Kereeen CD pake ML sudah S2...sudah patok patok judul ...ditunggu karya warbyasaahnyaa..
Monggo di refresh pej nya sobs. Wakakkakk... salam kentang dah...
 
Sbo Hoki Online   Senior Bola Online
Jav Toys   Asia 303
Domino168 - Agen Bola   Bandar 808 online
Jaya Gaming online   Nagawinqq Situs Judi Online terpercaya
Waspada, pin ini BUKAN pin Forum Semprot :
D005 0B6C

Pasang iklan hanya lewat CONTACT US
Top
Current URL :