Sbo Hoki Online
VGoal Live Score
Senior Bola - Agen Bola
Live Score Online
Toto Alpha - Agen Bola   Togel Matrix
9Club Situs Judi Online Terpercaya
96ace Situs Judi Online Terpercaya
Tahun QQ, Agen Bola   Premier 189 online
Agen Togel Online (indoDingDong)   Asus Togel online
Sarana Cash online   Kartu Demen online
Happistar online   Bandar 808 online
Jaya Gaming online   Nagawin Daftar Sbobet Online
Pasang iklan, hanya lewat Contact Us, bukan lewat WA / BBM / Line / Wechat / dll.
Waspada penipuan iklan. Klik di sini untuk melihat daftar penipu.

HIDUP ITU PILIHAN

TheGoldfather

Semprot Kecil
Thread Starter
Daftar
31 Aug 2018
Post
68
Like diterima
3.047
Berdiri di pintu kaca besar membuat pemuda 25 tahun itu bergetar. Lalu lalang karyawan dengan pakaian dan parfum high class, membuat suasana semakin elegant di pagi itu.

Mereka terlihat berlomba - lomba untuk menunjukan diri mereka masing - masing.

"Seperti pertunjukan sirkus" Desah pemuda itu di dalam hati.

Pagi itu di lobby tampak juga mobil - mobil mewah bergantian menurunkan para Manager dan Direktur.

Para Manager dan Direktur di perusahaan ini mampu membeli mobil dengan harga lebih dari Rp.1 Milyar.

Dengan kemampuan untuk mengoleksi barang - barang mewah, sudah pasti untuk mendapatkan pekerjaan di perusahaan itu sangat sulit. Perusahaan besar yang mempunyai banyak anak perusahaan bonafit.

REG, singkatan dan nama perusahaan yang dikenal itu.

"Kamu karyawan baru?" Tanya seorang pria kepada pemuda yang berdiri tadi.

Pemuda itu mencoba memperhatikan penampilan dari pria yang menyapanya itu.

"Saya Robin Novozy pak" Ucap pemuda itu memperkenalkan diri.


ROBIN NOVOZY

"Saya Alfred Wirawan, Supervisor Marketing REG" Sambil menyalami Robin.

Hari itu adalah hari pertama Robin bekerja di perusahaan itu. Walau tidak ada yang spesial, tapi Robin merasa sambutan dari rekan kerja di Divisi Marketing cukup berkesan.

Pak Alfred sebagai atasan Robin, begitu cekatan memberikan informasi seputar perusahaan dan tugas yang akan di kerjakan oleh Robin.





Waktu demi waktu berlalu. Tidak terasa sudah sebulan lebih Robin bekerja. Karena sifat terbuka dan mudah senyum yang dimiliki Robin, ia begitu mudah akrab dengan yang lain.

"Eh malam minggu lue ikut gue ya" Ajak Jonathan ke Robin.


JONATHAN ALFARIZY

Rekan kerja Robin di Divisi marketing. Mereka tergabung dalam tim yang sama. Tim yang mengurus bagian promosi produk ke distributor.

"Kemana Jo?" Tanya Robin.

"Ke Party Michella, dia ngadain pesta ulang tahun" Jelas Jonathan.


MICHELLA VELIANA

"Mhmm,, gue kan ngak di undang" Ujar Robin.

"Ya elah itu dipikirin, lue kan gue yang ngundang, okey" Kata Jonathan sambil tersenyum.

"Ok deh"

Saat Robin ingin kembali melanjutkan pekerjaannya, tiba - tiba Viona yang duduk disamping Robin berkata.


SARAH VIONA

"Eh, lue yakin bakal pergi ke party itu?" Tanyanya ke Robin.

"Memangnya kenapa?" Ujar Robin penasaran.

"Michella itu salah satu kartawan paling hits di kantor ini, teman - temannya juga banyak dari khalangan atas, pasti pestanya cukup mewah" Jelas Viona.

"Lah, trus kenapa?, ada masalah sama gue gitu" Tanya Robin kembali.

"Ya jelaslah, lue itu belum ada apa - apanya di perusahaan ini dan.." Ucap Viona mengantung ucapannya.

Robin mengenyitkan keningnya saat Viona yang terkesan cupu itu berkata.

"Gue takut lue malu-maluin disana dan di ejek" Sambung Viona.





Hari - hari sebagai karyawan begitu menyita waktu. Akan tetapi waktu sebagai karyawan begitu dinikmati oleh para pencari nafkah dan karir.

Ada berbagai macam karyawan. Ada yang simple dan pasti, ada juga yang ribet tapi lebih pasti. Ada yang bekerja keras untuk mempertahankan posisinya, ada juga yang licik untuk mencapai jabatan yang di inginkan.

Robin melepaskan penatnya disebuah ranjang mewah. Ruangan kamar 14x16 meter yang tampak sangat mewah itu, adalah hasil dari kerja keras dan kelicikannya dahulu.

Ia kemudian berdiri di balkon kamar utama. Pemandangan itu lansung tertuju ke kolam renang dan taman belakang bak milik istana kerajaan itu.

Deretan mobil sport dan mewah berjejer di garasi rumah dengan harga Rp.225 Milyar itu.




Malam minggu pesta Michella..

Setelah acara rutin di acara ulang tahun, dentuman musik keras memenuhi ruangan berkelas tempat pesta itu digelar.

Tampak para tamu dengan pakaian bermerk, bagai badut ingin menunjukan kelas hidup mereka. Mereka ingin orang lain memandang mereka dari harga yang bisa mereka beli.

"Para manusia bodoh" Kata Robin yang duduk di pojok ruangan itu.

"Hidup itu bagai perlombaan kawan. Siapa yang mampu bertahan, dialah yang akan jadi pemenang" Ujar Jonathan.

"Apakah kita diminta untuk berlomba dalam hidup?" Tanya Robin seperti orang lugu ke Jonathan.

"Harus, seperti gue yang ikut berlomba untuk mendapatkan Irish" Jawab Jonathan sambil tersenyum.


IRISH SYAH

"Bodoh, hidup itu adalah pilihan. Kita diberikan beberapa pilihan yang harus kita pilih. Kita harus benar mengambil setiap pilihan yang akan kita lakukan. Pilihan itu akan membawa kita ke keberhasilan yang sejati, KITA HIDUP UNTUK MEMILIH PILIHAN YANG MEMBAWA KITA KEPADA KEBERHASILAN" Jelas Robin.

"Sok puitis lue" Ucap Jonathan sambil berdiri.

Irish Syah, Manager Personalia. Gadis muda itu mencapai kesuksesan di usia yang masih sangat muda.

Irish lahir dari keluarga yang sangat terhormat dan kaya raya. Ayahnya yang bernama Alam Syah adalah pengusaha pertambangan Batu bara.

Setelah menamatkan pendidikannya di England, Irish lebih memilih bekerja di REG ketimbang perusahaan milik Ayahnya, ia ingin mandiri dan sukses tanpa bantuan keluarganya, itulah alasan Irish.

Sebenarnya banyak alumni Universitas luar negeri yang ingin bekerja di REG seperti Irish. Cuma sayang, standart yang sangat tinggi dari REG membuat mereka gigit jari, hanya yang high quality dibutuhkan REG sebagai karyawannya.

Tanpa Irish sadari, Alam Syah sang Ayah, sempat meminta bantuan kepada Rudi Karyadi, salah satu Direktur REG, untuk membantu anaknya di terima di REG, perusahaan yang memiliki 65% saham di perusahaan tambang miliknya.

Jonathan melihat Irish pergi sendirian ke arah belakang. Dengan hati penasaran ia mencoba mengikuti langkah gadis pujaannya itu.

"Mhmmm.. hhhhhh" Suara desahan disela panasnya ciuman dua orang inshan.

Tangan pria blesteran itu dengan gesit meremasi kedua bongkahan payudara Irish.

"Mhmmmm.. ishhhhhh.. ahhhhhh" Desah Irish ketika puting payudaranya berhasil ditemukan pria itu dan di pelintir.

Suasana bilik yang berada di dalam toilet pria itu pun semakin memanas.

"Jangan sekarang Kevin.. uhhhhh" Ucap Irish saat Kevin mulai mengulum puting itu.

Karena dress sexy dan longgar yang di pakai Irish, puting payudara yang tida dibungkus bra itu pun dengan mudah di lumat Kevin Arlando.

"Ayo sayang, sebentar saja, aku sudah tidak tahan" Ucap Kevin sambil mencoba melepaskan G-String Irish.

"Drughhhh" Suara pintu terbuka secara paksa.

Kedua manusia yang sedang dimabuk birahi itu pun terkejut melihat kejadian itu.

Irish dengan tergesa memperbaiki pakaiannya yang sudah diberantakan oleh Kevin.

"Bangsat, kenapa kamu menganggu kami" Bentak Kevin ke Jonathan yang tampak sangat emosi.

"Bajingan kau, apa yang sudah kau lakukan" Teriak Jonathan sambil menyerang Kevin.

Satu pukulan Jonathan berhasil menghantam pipi Kevin.

"Stopp.." Teriak Irish cemas.

"Bangsat" Balas Kevin sambil mencoba membalas.

Kedua pria itu saling baku hantam di antara teriakan Irish.

Akhirnya orang - orang pun berdatangan dan menghentikan perkelahian itu. Jonathan yang di pegang oleh Robin terlihat bagai harimau lapar, siap menerkam Kevin.

Teman - teman Kevin dari perusahaan tempat ia bekerja terlihat marah ke Jonathan setelah Kevin memprovokasi mereka, dengan mengatakan, "tiba - tiba saja orang itu menyerangku, mungkin ia mabuk".

Tiga orang teman Kevin yang termakan provokasi pun marah dan mengeroyok Jonathan.

Pukulan dan tendangan diterima Jonathan silih berganti.

"Cukup hentikan" Teriak Robin.

"Hey banci, jangan ikut campur lue" Ujar salah satu pengeroyok Jonathan.

Robin pun marah dengan perkataan yang menghinanya itu. Sambil berlari ia bergerak dengan sangat cepat, menerjang ketiga para teman Kevin itu.

Tidak butuh waktu lama ia melumpuhkan ketiga orang itu.

Rintihan kesakitan terdengar di ruangan toilet hotel, yang sudah dipenuhi oleh orang - orang yang ingin mengetahui keributan itu.

"Cukup Robin, hentikan" Teriak seorang wanita.

"Bu Mayang mengenal mereka?" Tanya Irish.

"Iya Bu Irish,maafkan bawahan saya ini" Ucap Bu Mayang, Manager Marketing REG.

"Dia kan ngak gue undang, lagian party gue bukan buat para bawahan" Kata Michella yang tampak kesal ke Robin.

"Dia gue yang bawa" Ucap Jonathan.

"Lue kan juga bawahan, ngapain lue ke party gue, bikin rusuh lagi" Sambung Michelle menghina.

"Ternyata mereka orang - orang rendahan, duh sial banget gue berurusan sama orang kelas bawah" Hina Kevin dan disambut cemoohan ke Robin dan Jonathan.

"Eh para gembel, cabut lue, bikin party gue rusak aja" Usir Michella.

Robin dan Jonathan bagai dua anak rusa yang sedang tersudut. Mereka hanya bisa diam mendapat hinaan dan cemoohan dari orang - orang.

"Ini ada apa?" Tanya pria yang baru datang.

"Anda siapa?" Tanya Michella.

"Oh maaf, saya Pradipta, Manager Hotel ini" Jawabnya.

"Kebetulan sekali Pak Manager. Kedua orang ini sudah mengacaukan party saya. Saya ingin mereka menganti kerugian biaya dari waktu yang sudah terbuang gara-gara kejadian ini" Pinta Michella.

"Baik, saya akan urus mereka" Ujar sang Manager dan memerintahkan security untuk membawa Robin dan Jonathan ke ruangannya.

Sambil di olok dan di cemooh, Robin serta Jonathan digelandang empat orang security.





Di dalam ruangan Manager Hotel mewah dan sangat terkenal di kawasan Ibukota itu.

"Kalian memang sangat memalukan membuat keributan" Kata sang Manager membuka pembicaraan.

"Maafkan kami" Ucap Jonathan.

"Permintaan maaf saja tidak cukup untuk menuntaskan masalah ini. Bu Michella sebagai klien kami menuntut anda untuk menganti kerugiannya"

"Tapi tidak ada barang yang rusak, jadi untuk apa kami ganti rugi?" Ujar Robin kesal.

"Memang tidak ada barang yang rusak, tapi kalian sudah membuang waktu pesta ulang tahunnya. Apa kalian tahu berapa biaya sewa yang telah ia bayarkan untuk 4 jam" Tanya sang Manager.

Robin dan Jonathan saling pandang setelah mendengar kata - kata sang Manager.

"1 jam sewa ruangan di hotel ini adalah Rp.20 juta. Jadi dia telah membayar Rp.80 juta untuk 4 jam"

Jonathan terkejut mendengar nominal yang disebutkan oleh sang Manager.

"Bu Michella cukup berbaik hati kepada kalian karena tidak menuntut kalian untuk menganti waktu sewa keseluruhannya. Ia meminta ganti untuk satu jam sewa saja" Sambung sang Manager.

"Bullshit" Desah Robin.

"Ya, tapi itulah yang harus kalian lakukan, membayar 1 jam sewa, Rp.20 Juta".

Jonathan menelan air liurnya mengingat ia harus membayar Rp.20 Juat. Ia ketakutan karena kalau tidak mampu membayar sebanyak itu, ia dan Robin akan di tuntut oleh pihak hotel secara hukum, karena telah membuat rusuh.

"Tolong maafkan kami Pak. Saya mohon, jangan tuntut kami, tolong Pak" Pinta Jonathan memelas.

Ia membayangkan bagaimana ia mendapatkan uang sebanyak itu. Gajinya sebagai karuawan hanya Rp.7 juta sebulan. Uang Rp.7 juta itu pun kadang tidak tersisa karena ia harus membiayai Ibu dan 4 orang adiknya.

"Tidak ada jalan lain, kalian harus membayarnya"Sang Manager kembali berkata.

"Tidak ada hubungan ini semua dengan hukum, ini murni perkelahian biasa. Kalau anda ingin menuntut, mereka juga harus kalian tuntut, biar adil" Robin membuka suaranya.

"Tidak usah mengajariku, aku ini Manager, lebih pintar dari kamu yang masih karyawan biasa" Bentak Pradipta.

"Sikap anda tidak mencerminkan seorang Manager yang baik" Sambung Robin sambil mengeluarkan Smartphonenya.

"Heh, itu bukan urusan kamu" Ucap sang Manager marah.

Robin berjalan ke ujung ruangan sambil menelepon seseorang. Setelah beberapa detik ia berbicara di telepon, Robin berjalan ke arah Manager Hotel dan memberikan Smartphonenya.

"Ada yang ini bicara" Ucap Robin menyerahkan Smartphonenya.

Pradipta terlihat ketakutan setelah menempelkan Smartphone Robin ke telinganya.

Ia menganguk - anguk dan berkata ya menjawab orang yang berkata di balik telepon itu.

"Mmmm.. maafkan saya"Ucap Pradipta sambil menyerahkan Smartphone Robin.

Robin dan Jonathan akhirnya bisa keluar dari Hotel itu dengan aman.




Didalam Taxi online yang membawa mereka, Jonathan yang sudah ingin sekali tahu kenapa mereka bisa pergi dengan mudahnya setelah membuat keributan itu, bertanya kepada Robin yang sedang sibuk dengan game onlinenya.

"Siapa sih tadi yang lue telepon bro?" Tanya Jonathan.

"Itu ngak penting, yang terpenting kita sudah bebas. Oh ya satu lagi, lue harus siap-siap menerima amukan dari Bu Mayang nanti" Jawab Robin.

Pesta Michella kembali berlangsung. Di sebuah meja, Michella, Bu Mayang dan Irish tampak sedang berbincang.

"Udahlah La, ngak usah di perpanjang, gue aja udah ngak mikirin itu lagi" Kata Irish.

"Ngak bisa gitu donk Beib, mereka udah bikin gue kesal, marah dan bete. Pokoknya Bu Mayang harus menghukum mereka, kalau perlu pecat" Pinta Michella.





Beberapa jam setelah acara ulang tahun..

"Uhh.. Bapak nakal" Ujar Michella manja saat seorang lelaki paruh baya menyentuh puting merah mudanya.

"Habisnya kamu malam ini mengairahkan sekali"

"Jadi kemarin - kemarin ngak mengairahkan gitu, ih kesel deh" Michella merajuk.

Pria itu pun terlihat gemas dengan tingkah Michella. Sambil turun ke sela paha Michella, orang itu membenamkan wajahnya di bibir vagina Michella.

"Uhh.. mhm...m..ahhhsss"Desah Michella saat lidah pria itu menyapu bibir vaginanya.

Jilatan demi jilatan membuat sang wanita meremas payudaranya sendiri. Aliran birahi mulai membakar tubuh mulus dan terawat itu.

"Ouwhhh.. ishhhh.. ahhhhh.. pppppakkkkk... mmhhhh.. eee...nakkkk"Desah wanita sensual yang selalu mengoda bagi para lelaki hidung belang.

Karena nafsu yang sudah memuncak, pria paruh baya berperut buncit itu pun mulai mengarahkan penisnya ke vagina Michella.

Dengan tergesa - gesa ia ingin segera menancapkan penis 12 cm miliknya ke vagina mulus Michella.

"Tunggu" Cegah Michella.

"Ada apalagi sayang, besok aku transfer uangnya" Kata pria itu menahan konak.

"Ada satu lagi. Tadi ada 2 orang bawahan Bu Mayang mengacau di party aku, aku mau bapak pecat mereka" Pinta Michella.

"Huhhhh" Desah sang pria.

Pria itu kemudian duduk sambil memikirkan sesuatu.

"Kenapa Bapak sayang?, Ngak bisa mecat mereka?" Ucap Michella manja.

Pria itu hanya diam dan masih terus larut dengan pikirannya.

"Masak Bahdrun Noerdin sang Direktur yang punya kuasa ngak bisa mecat sih, mereka kan hanya karyawan rendahan" Rayu Michella sambil mengosok - gosokkan payudaranya ke lengan Bahdrun.

REG yang merupakan perusahaan induk dengan banyak anak perusahaan itu mempunyai seorang Direktur Utama dan empat orang Direktur.

Bahdrun Noerdin salah satunya. Bahdrun mengurusi bagian yang berurusan dengan SDM.

"Bukan begitu sayang. Perusahaan begitu sensitif dengan masalah pemecatan. Uang pensangon dengan jumlah yang sangat besar pasti akan di keluarkan oleh perusahaan" Terang Bahdrun.

"Iya sih, tapi kan itu uang perusahaan, bukan uang Bapak sayang" Michella terus merayu Bahdrun.

Dalam hatinya Michella sangat marah dan benci kepada Robin serta Jonathan, yang sudah merusak pestanya. Entah kepada ia begitu alergi kepada orang - orang yang tidak selevel dengannya.

"Sang Taipan pemilik perusahaan pasti akan terkejut dan marah saat mengetahui adanya pemecatan, ia paling tidak suka dengan hal itu, dia pasti ngamuk nanti. Meski aku tidak mengenal dan tahu siapa Bos besar itu, tapi aku tahu tabiatnya dari Pak Direktur utama" Jelas Bahdrun.

"Dia seperti raja iblis kalau sedang marah, dia tidak akan melepaskan orang yang membuat dia marah, sebelum orang itu benar - benar hancur lebur" Sambung Bahdrun ketakutan.





Pagi itu Robin menikmati segelas teh hangat di cafe lantai dasar.

Ia tampak tenang, beda dengan Jonathan yang sedang grasak - grusuk karena ketakutan mendengar ancaman Michella baru saja.

"Eh gembel, gue udah minta Direktur buat kasih lue pelajaran dan nendang lue dari perusahaan ini" Kata Michella saat mereka bertemu lobby utama.

Jonathan yang sedang gundah itu merasa aneh dengan sikap teman baiknya itu. Terlihat raut wajah tenang dan menikmati dari Robin.

"Rob,lue kok menikmati suasana banget sih?, apa lue ngak risau ancaman Michella tadi?" Tanya Jonathan.

Robin tersenyum sambil terus melihat ke arah luar gedung, dari kaca cafe itu.

"Woyy.. lue kesambet ya, senyum - senyum sendiri" Hardik Jonathan sambil mengoyangkan telapak tangannya di depan wajah Robin.

"Senyumnya membuat indah duniaku" Ucap Robin tersenyum manis.

"Siapa?, Si Michella itu madsud lue" Tanya Jonatahan penasaran.

"Bisa ngak sih lue biarin gue nikmatin pemandangan terindah sedetik saja" Ujar Robin ke Jonathan kesal.

"Hah, pemandangan indah?"

"Tuh lihat, indahnya senyuman itu" Kata Robin sambil menunjuk ke luar, ke seorang gadis yang sedang memeluk beberapa ikat bunga.




"Hahahaha..itu mah Si Hayati" Ujar Jonathan.

"Baru kali ini gue lihat lagi senyuman tulus dan indah dari seorang wanita" Kata Robin sambil terus memperhatikan gadis itu.

Jonathan tersenyum melihat tingkah sahabatnya itu. Angin sepoi - sepoi yang menerpa wajah Jonathan, membuatnya merasakan raut kebahagiaan dari wajah Robin.

"Lue kenal dia Jo?, dia dari Divisi mana?" Tanya Robin yang sangat ingin mengetahui sang gadis.

"Hahahaha..dia ngak kerja disini" Jawab Jonathan.

"Terus ngapain dia kesini?"

"Dia nganterin bunga. Seminggu sekali dia datang mengantar bunga pesanan" Jelas Jonathan.

"Oh, dia jualan bunga" Ucap Robin.

"Bukan bukan, dia itu sebenarnya masih kuliah. Yang usaha jual bunga itu Ibunya, sementara Ayahnya bekerja dikantor ini sebagai driver kantor, itu tuh Pak Norman yang biasa nganter kita Ayahnya" Terang Jonathan.

"Dia gadis baik-baik dan pekerja keras, sepulang kuliah dia bekerja sebagai pegawai mini market" Sambung Jonathan.

"Lue kenal banget ya sama dia?" Tanya Robin kembali.

"Ya jelaslah, dia kan tetangga gue, mau gue kenalin?" Ujar Jonathan.

"Ngak usah, gue bisa sendiri" Kata Robin dan pergi dari Jonathan.

Setelah menyerahkan bunga ke resepsionis, Hayati beranjak pergi.

"Maaf" Kata Robin menghentikan langkah Hayati.

"Iya" Ucap gadis itu terkejut melihat orang yang tidak ia kenal menghentikannya.

"Sudah 4 tahun saya tidak pernah melihat senyum yang begitu tulus dan indah. Pagi ini saya kembali menemukan senyum itu kembali. Perkenalkan saya Robin"

Hayati pun heran dengan sikap orang yang baru dia lihat itu. Dia merasa aneh dengan cara berkenalan pria itu.

Melihat tampang pria itu, yang tampan dan mempesona, di tambah kata-kata yang terkesan merayu itu, Hayati berangapan bahwa pria yang sedang berdiri di depannya itu adalah pria brengsek yang suka merayu wanita.

"Maaf, saya tidak mudah termakan rayuan anda" Ujar Hayati sambil melangkah pergi.

"Tunggu" Cegah Robin.

"Ada apalagi?"Tanya Hayati sedikit kesal.

"Kamu adalah orang kedua yang memiliki senyuman yang tulus dan indah setelah mendiang Ibuku. Empat tahun sudah Ibuku pergi membawa senyuman itu" Jawab Robin sedih.

Tiba - tiba saja Hayati merasa bersalah dengan sikap judesnya tadi. Memang gadis manis itu memiliki hati yang sangat lembut.

"Maaf telah membuatmu sedih" Ujar Hayati.

"Tidak perlu minta maaf, kesedihanku selama 4 tahun ini sudah berakhir di pagi ini" Ucap Robin tersenyum.

Melihat Robin tersenyum, Hayati pun ikut tersenyum.

"Semoga aku terus bisa melihat senyum indahmu, sampai jumpa" Kata Robin berjalan pergi.

Hayati pun pergi dari lobby itu sambil tersenyum sendiri, mengingat tingkah Robin.

Hari itu tidak terjadi apa - apa di kantor. Ketakutan Jonathan atas ancaman Michella tidak terlaksana pada hari itu. Bu Mayang pun terlihat biasa saja, seakan kejadian di pesta Michella itu, tidak pernah terjadi.

Hari demi hari pun berlalu. Meski sering mendapat ancaman dan hinaan dari Michella and Gank, Robin serta Jonathan masih tetap menjadi karyawan Divisi Marketing.

Disebuah rumah sederhana..

Di pagi minggu yang cerah itu, Pak Norman dan istri begitu ceria menyirami bunga - bunga indah di taman belakang rumah mereka.

"Dek, Kakak kamu mana?" Tanya Pak Norman ke anak keduanya.

"Ada di kamarnya Yah" Jawab anak perempuan berumur 14 tahun itu.

Tidak lama setelah itu Hayati pun ikut bergabung dengan keluarganya merawat bunga-bunga mereka.

Hayati adalah gadis periang yang sangat menyayangi keluarganya. Ia rela berjuang sekuat tenaga membantu perekonomian keluarganya. Meski kadang ia merasakan kelelahan yang teramat sangat.

"Kamu ngak kerja hari ini Ti?" Tanya Pak Norman.

"Shift siang Yah" Jawab Hayati yang sedang mengunting daun layu.

"Bapak lihat kamu kemarin bicara dengan Pak Robin Ty" Ujar Pak Norman.

"Iya Yah, dia coba merayu aku, hehe" Kata Hayati sambil tertawa.

Pak Norman pun melihat ke Istrinya dan sama - sama tersenyum.

"Ah kamu ini ada - ada aja Ty. Ayah kenal sekali dengan Pak Robin, dia itu laki - laki baik dan tidak suka macem-macem, orangnya terkesan lugu" Ujar Pak Norman.

"Dia bilang senyumku indah seperti senyum mendiang Ibunya" Terang Hayati.

"Hahahaha,, ada - ada saja Pak Robin" Tawa Pak Norman.



Di rumah sederhana lain, tidak jauh dari rumah Pak Norman, Jonathan sedang duduk di teras menikmati kopinya, sambil menikmati suasana kampung itu.

Setelah Ayahnya meninggal, Jonathan bekerja keras membantu Ibunya. Jonathan sempat hampir putus di tengah jalan saat kuliah dulu, karena Ibunya yang hanya sebagai penjual kue, tidak mampu lagi membiayai.

Niat dan keteguhan hati Jonathan lah yang membuat dia terus berusaha dan bekerja keras untuk menyelesaikan kuliahnya. Ia bekerja sebagai penjaga warnet dan pelayan restoran demi mengejar cita-citanya, menjadi orang kantoran.

Sekarang ia begitu menikmati hidupnya. Kerja kerasnya membuahkan hasil. Menjadi karyawan di perusahaan yang masuk 5 besar perusahaan terbesar dan terkaya di Negara ini.

Part 2 - Hal 4
Part 3 - Hal 8
Part 4 - Hal 11
Part 5 - Hal 14
Part 6 - Hal 17
Part 7 - Hal 18
Part 8 - Hal 21
Part 9 - Hal 23
 
Terakhir diubah:
Sbo Hoki Online   Senior Bola Online
Jav Toys   Asia 303
Domino168 - Agen Bola   Bandar 808 online
Jaya Gaming online   Nagawinqq Situs Judi Online terpercaya
Waspada, pin ini BUKAN pin Forum Semprot :
D005 0B6C

Pasang iklan hanya lewat CONTACT US
Top
Current URL :