Agen Terpercaya  
 
 
 
Pasang iklan, hanya lewat Contact Us.
Waspada penipuan iklan. Klik di sini untuk melihat daftar penipu.

Katanya Entar Sore Bisa Diambil

qsanta

Semprot Lover
Daftar
17 Sep 2014
Post
269
Like diterima
988
Bimabet
Katanya Entar Sore Bisa Diambil


Aku adalah Nur, seorang ibu beranak tiga. Usiaku masih tiga tiga puluh delapan tahun. Sedangkan suamiku berusia tiga puluh sembilan tahun. Anakku yang pertama bernama Izra berusia lima belas tahun. Yang kedua Izani berusia tiga belas tahun dan yang terakhir bernama Izie berusia sebelas tahun. Masa kerja suamiku yaitu dua minggu di kantor dan dua minggu libur. Sedangkan aku sendiri berkerja di sebuah bank.



Suatu pagi anak – anak telah sekolah. Saat aku mau kerja, tiba – tiba mobilku mogok. Lantas kutelepon montir agar datang membetulkan mobil. Aku pun terpaksa bolos kerja. Setelah montir datang, ternyata mobilku mesti diderek ke bengkel. Katanya ntar sore bisa diambil atau diantarkan ke rumah. Karena bosan, siang itu aku tidur saja di kamar.



Semalam aku begitu terangsang karena sudah lama tak dijamah suamiku. Otomatis tidur siangku pun tak nyenyak. Aku membayangkan betapan nikmatnya jika dijamah suamiku, namun dua minggu lagi suamiku baru pulang. Meski sudah beranak tiga, namun nafsuku masih besar dan sangat ingin dipuaskan.



Sedang tidur, aku dikejutkan suara anak - anakku yang baru pulang. Awalnya aku ingin memarahi mereka karena menggangu tidur siangku namun urung kulakukan setelah mendengar percakapan mereka. Anak – anakku tak tahu hari ini aku tak kerja.



“Abang… ayolah putar vcdnya, izie pingin liat…”

“Sabar… kita makan dulu…. Santai aja lagian mama juga lagi kerja…” jawab izra.

“Kalau abang mau tinggal makan aja. Kita sih langsung nonton aja.” Kata izani

“Iya deh kita mainkan sekarang.”



Dari suaranya saja, aku tahu apa yang mereka putar. Karena suara itu pula yang selalu kuucapkan saat aku dijamah suamiku. Kuputuskan membuka pintu kamar perlahan. Alangkah terkejut setelah melihat dengan jelas film yang mereka tonton. Kulihat izra sedang mengelus benjolan celananya sedang izani dan izra menonton tanpa berkedip.



“Izra… Izani… Izie… liat apaan kalian?”



Izra cepat mematikan tv dan mengeluarkan vcd. Kudekati izra dan kurampas vcdnya. Mereka menunduk ketakutan. Meski kasihan melihat mereka tapi aku tak bisa bersabar lagi.



“Mau jadi apa kalian ini? Masih kecil sudah liat beginian? Bukannya belajar. Awas, akan mama lapor sama papa!”



Izra dan Izani tetap menunduk tak berani memandang.



“Maafkan izie bu. Izie mohon jangan beritahu ayah.” Kata izie sambil menangis.



Tangisan izie membuat marahku agak mereda karena izie yang paling dekat dan manja padaku.



“Sekarang aja baru minta maaf.”

“Maafkan izra bu. Izra janji takkan mengulanginya lagi.”

“Izani pun sama bu.”

“Baiklah. Kali ini ibu maafkan. Kalau sekali lagi kalian nonton gituan, ibu kasih tahu ayah.”



Melihat mereka, amarahku sirna. Yang ada kini hanya kasihan melihat mereka ketakutan. memang, kelemahanku tak tahan melihat anak – anakku sedih.



“Iya bu.” Jawab mereka serentak.

“Sudah. Mandi sana, makan lalu kerjakan pr!” kataku tegas.



Mereka pun bangkit lalu ke kamarnya. Karena rumahku hanya ada tiga kamar, mereka terpaska tidur satu kamar. Kamar depan adalah kamarku, yang tengah kamar anak – anakku sedangkan yang belakang kujadikan gudang.



Aku kembali ke kamar dan memasukan vcd ke laci meja rias. Malamnya setelah makan anak – anakku kembali ke kamarnya. Padahal biasanya mereka selalu nonton tv dulu. Sedangkan di kamar, aku tak bisa tidur memikirkan kelakuan anakku. Ditambah lagi libidoku yang masih tinggi. Kuputuskan untuk mengambil vcd dari laci. Kuperhatikan sampulnya, dua orang remaja pria sedang menjamah wanita yang usianya jauh diatas remaja tadi.



Melihat gambar itu, nafsuku makin membesar hingga aku penasaran ingin melihatnya. Aku keluar dan memastikan kalau anak – anakku sudah tidur. Perlahan kubuka pintu kamar dan kulihat mereka sudah nyenyak.



Jam sudah menunjukan pukul setengah satu malam. Aku ambil vcd dari kamar lalu ke ruang tamu. Kumasukan vcd ke playernya. Inilah pertamakali aku nonton vcd porno. Sebelumnya aku hanya mendengar dari teman saja. Ceritanya tentang abg yang lagi menjamah gurunya di hotel. Melihat aksi di layar, nafsuku tak tertahan lagi.



Semakin lama nonton semakin membuatku terangsang. Tanpa kusadari tanganku kini di selangkangan menggosok – gosok kemaluanku dari luar rokku. Aku tak memakai cd dan bh karena tak biasa memakainya saat malam. Kurasakan memekku mulai basah hingga aku berbaring di atas karpet.



Kuangkat rokku keatas lalu kuusap – usap memekku sedang tanganku yang lain meremas susuku. Kumasukan dua jari ke memek dan mulai menggoyangkannya. Ingin rasanya ada kontol yang menjamah memekku.



Adegan di vcd menunjukan abg yang sedang menjamah perempuan berumur. Aku mulai membayangkan perempuan itu adalah aku dan kedua abg itu adalah anak – anakku. Bayangan ini membuat nafsuku makin bertumbuh. Kocokan jariku pun makin cepat. Kubayangkan aku dijamah anakku sambil menutup mata.

Saking nikmatnya, eranganku mulai agak keras. Aku tak peduli lagi akan keadaan. Tiba – tiba kurasakah pahaku disentuh. Langsung kubuka mata dan kuturunkan rokku. Alangkah terkejutnya aku melihat izra dan izani sedang menyentuh pahaku.



Aku terdiam tak bersuara. Izra memengan ujung rok dan menyingkapnya keatas. Aku yang masih terangsang seperti terhipnotis. Kubiarkan izra dan izani mengusap – usap pahaku. Izra mendekatkan kepalanya dan mulai menjilati pahaku dengan rakus. Aku tersentak merasakan bibir memekku dijilat izra. Sedang izani kini sibuk meremas susuku. Meski agak kasar, namun terasa nikmat. Izani mencoba mengangkat bajuku. Aku yang sudah terangsang bangkit agar memudahkan izani mengangkat bajuku. Setelah bajuku lepas, terpampanglah susuku dengan puting yang sudah tegang. Dengan rakus izani langsung menghisap puting sambil meremas susuku.



Persetubuhan ini berlangsung tanpa kata. Baik dariku maupun dari anak – anakku. Lidah izra semakin liar bermain di memekku. Kepalaku mendongak saat izra menjilat dan memainkan itilku.



“Erggghh… Izra….” Erangan kenikmatan mulai keluar dari mulutku saat ititlku di jilat oleh anakku sendiri.



Izani masih tetap meramas kedua buah dadaku membuat aku mulai berada di alam khayalan. Tanpa disuruh aku mengangkangkan kakiku agar Izra mudah menjamah memekku dan Izra mulai menurunkan jilatan lidahnya di antara memek dan duburku. Jilatan lidah Izra menjalar turun ke bawah lagi dan lidahnya kini menyapu bibir duburku lalu di jilatnya.



Kenikmatan ini tidak pernah aku alami sehingga punggungku terangkat sedikit menahan gelian bercampur nikmat di bibir duburku. Izani yang dari tadi menghisap buah dadaku kini berdiri lalu melepaskan celananya dan tersembullah kontolnya yang tidak berapa besar itu di depan wajahku. Izani mengarahkan kontolnya ke mulutku sehingga menyentuh bibirku lalu di tekan masuk ke dalam mulutku yang terbuka



Izra mulai mengatur posisiku hingga tiarap. Sedangkan mulutku kembali dimasuki kontol izani. Izra mengangkat pinggulku agak ke atas lalu kembali menjilati duburku dan lidahnya kini di tekan masuk ke dalam lubang duburku. Sambil menjilat lubang duburku, Izra memasukkan dua kontol jarinya ke dalam memekku. Aku merasa sungguh nikmat sambil menggerakkan punggungku kedepan dan belakang sedangkan mulutku menghisap kontol Izani. Aku menghisap hingga kepangkal kontolnya dan Izani memegang kepalaku memaju mundurkannya.





“Izra… ibu tidak tahan lagi… masukkan kontol Izra sekarang…”





Tanpa menjawab atau tanpa berkata-kata, Izra lalu bangun lalu menanggalkan pakaiannya dan berlutut di belakang tubuhku. Izra menaikkan lagi punggungku sehingga aku menungging. Izra meletakkan kepala kontolnya di bibir memekku dan mulai menusukkan kontol ke dalam memekku.



“Ahhhh…”



Aku mengerang kenikmatan ketika kontol Izra yang agak besar itu masuk ke dalam memekku, walaupun kontolnya tidak sebesar kontol suamiku tetapi aku tetap merasa nikmata. Kontol Izra lebih besar dari kontol Izani yang berada di dalam mulutku dan Izra semakin kencang menusuk memekku dari belakang.



“Pelan… pelan sedikit… nanti cepat keluarrrr… eeegggrh…”



Tanpa disedari kata-kata itu keluar dari mulutku dan mungkin karena tidak berpengalaman, Izra tetap menusuk memekku dengan cepat.



Tiba-tiba Izra menusukan kontolnya sehingga dalam – dalam dan aku merasa ada semburan hangat dalam memekku. Aku tahu Izra sudah sampai ke puncak klimaksnya tetapi aku masih belum merasa puas. Setelah Izra jatuh terduduk di atas lantai, aku terus berbaring lalu menarik tangan Izani agar menindih tubuhku untuk menggantikan abangnya yang sudah lemah itu. Izani dengan segera merangkak ke atas tubuhku dan menggangkangkan kakiku hingga Izani berada di selangkanganku.



Aku pegang kontol Izani lalu aku memasukkan ke dalam memekku dan Izani pun menusukkan kontolnya masuk. Aku nikmati tusukan kontol Izani di dalam memekku dan aku kini sudah hampir ke puncak klimaksku. Tubuhku mula mengejang dan aku terus menarik pinggang Izani rapat ke tubuhku agar kontolnya masuk lebih dalam.



Serentak dengan itu, aku sampai ke puncak klimaksku dengan tubuhku tersentak-sentak. Izani yang tidak tahan dengan emutan kuat memekku di kontolnya semakin cepat menusuk kontolnya ke dalam memekku. Setelah itu, Izani mulai memuncratkan air maninya ke dalam memekku sambil memeluk kuat tubuhku.



Nafsuku yang telah terpuaskan membuatku tersadar atas kekhilafanku membiarkan anak – anakku menjamahku. Langsung kudorong tubuh izani.



“Apa yang kamu berdua lakukan pada ibu…”



Aku memarahi mereka dengan suara yang tidak terlalu kuat karena aku takut di dengar Izie yang sedang tidur.



Aku terus mengambil bajuku lalu memakainya dan membetulkan rokku. Izra dan Izani berlari masuk ke dalam kamar mereka meninggalkan aku yang mulai merasa bersalah serta menyesal karena membiarkan kedua anakku itu menyetubuhiku. Aku masuk ke dalam kamarku dengan pikiran kacau sekaligus perasaan puas. Walaupun menyesal dengan apa yang terjadi, aku merasa sungguh puas dan nafsuku sekarang sudah reda.



Malam itu aku tertidur dengan perasaan menyesal dan dengan perasaan yang penuh kepuasan. Keesokkan harinya aku terjaga dari tidur agak siang, ketiga anak-anakku sudah ke sekolah dan aku terus bersiap-siap untuk ke tempat kerja. Hari itu aku merasa sungguh ceria dan bersemangat karena nafsuku sudah terpuaskan walaupun masih merasa menyesal.



Petang itu aku pulang dengan perasaan malu serta berdebar-debar, aku malu untuk berhadapan dengan Izra dan Izani. Sampai di rumah, aku membuka pintu lalu memerhatikan sekeliling ruang tamu rumahku. Aku melihat anak-anakku tidak ada di ruang tamu itu lalu aku terus masuk ke dalam kamarku.



“Ibu… ibu udah pulang…?” Tiba-tiba Izie menyapaku dari pintu kamarku karena aku lupa menutupnya.



“Baru saja datang…” Jawabku sambil melepaskan tudung yang aku pakai, Izie berdiri di situ agak lama memerhatikanku lalu masuk ke dalam kamarku. Izie menghampiriku lalu memeluk tubuhku dengan agak kasar dan mendorongku ke dinding.



“Izie… apa ini…” Marahku sambil mendorong tubuh kecilnya yang terus memelukku.



“Kenapa ibu marah… abang juga peluk ibu, kenapa Izie tak boleh…?” Tanya Izie.



“Emang abang peluk ibu…?” Tanyaku pula pura-pura tidak tahu.



“Ala ibu… Izie dah tahu apa yang terjadi malam tadi…” Tiba-tiba Izra muncul di ikuti Izani dan mereka berdua mulai menghampiriku.



“Apa kamu bilang… jangan buat ibu marah…?”



Izie memeluk kembali tubuhku yang masih berdiri di tepi dinding kamarku.



Aku coba mendorong tubuh Izie yang memeluk tubuhku dan aku terperanjat ketika Izra memegang tangan kananku sedangkan Izani memegang tangan kiriku lalu di rapatkan ke dinding. Tubuhku mendekap dinding membelakangi anak-anakku dan aku memejamkan mata ketika merasa bajuku disingkap ke atas.



“Apa kamu yang kalian lakukan pada ibu …” Marahku, namun aku tidak terdaya apa-apa karena tenaga mereka bertiga lebih kuat dari tenagaku.



Aku mulai merasa ada tangan-tangan anakku yang sedang meramas-ramas punggungku dari kainku yang tersingkap itu. Buah dadaku juga di ramas-ramas oleh anakku membuat rontaanku semakin lemah karena diriku mulai dirangsang nafsu. Walaupun dalam keterpaksaan, aku mula merasa kenikmatan menyelubungi tubuhku dan aku mulai membiarkan anak-anakku meraba-raba tubuhku. Keadaan menjadi sunyi sepi, aku memejamkan mataku menikmati ramasan serta rabaan enam tangan di tubuhku. Seluruh tubuhku di raba dan punggung serta buah dadaku diramas serentak.



Aku tidak pernah diperlakukan begini, kenikmatan yang aku rasakan sungguh berbeda dari bersetubuh bersama suamiku dan aku menikmati rangsangan nafsuku yang membesar. Tubuhku tidak lagi dipeluk Izie, tanganku juga sudah bebas dari pegangan Izra dan Izani. Aku kini berdiri dengan penuh kerelaan karena kenikmatan yang melanda diriku membuatku aku pasrah.



Aku dapat merasakan celanadalamku di tarik kebawah dan ramasan tangan anakku semakin kuat mencengkam daging pejal di punggungku. Aku tidak tahu tangan itu milik siapa karena seluruh tubuhku dipenuhi tangan anak-anakku. Pinggangku di tarik kebelakang sambil tanganku masih menahan dinding menjadikan aku separuh menungging. Sleting bajuku kini sudah lepas sampai pinggang dan aku merasa punggungku di jilat serta di gigit lebih dari seorang anakku.



Buah dadaku masih menjadi mangsa ramasan ganas anakku dan dari luar baju, aku dapat melihat tangan Izie dan Izani merayap menyelinap masuk ke dalam baju lalu terus ke bawah bhku. Buah dadaku semakin ganas di ramas Izie dan Izani membuat buah dadaku itu menjadi tegang. Punggungku hingga ke pangkal memekku di basahi dengan air liur Izra yang kini berada di belakang punggungku.



Aku bergerak sambil mendorong punggungku kebelakang agar jilatan Izra sampai ke bibir memekku. Daging punggungku dikuak dengan agak ganas dan bibir duburku menjadi mangsa jilatan lidah Izra, aku tidak tahu dimana mereka belajar untuk meragsangku sehingga membuatkan aku semakin bernafsu. Tanganku lalu diangkat ke atas dan dilepaskanlah bajuku.



Kini aku berdiri dalam keadaan bugil dan hanya bisa diam. Izra menarik tanganku agar bergerak ke atas kasur, aku yang diirngi Izani dan Izie hanya menuruti saja lalu dibaringkan telentang tubuhku di atas kasur. Izra menggangkangkan kakiku dan terus menjilat memekku, Izani sedang berdiri membuka celananya Izie kini sedang menghisap buah dadaku. Izie menghisap sambil meramas buah dada dan punggungku dengan ganas di ramas Izra yang sedang menjilat memekku.



“Arrrhhhggghhh… mmmmm…”



Tanpa sedar aku mengerang dengan mata terpejam karena merasa nikmat dan saat aku membuka mataku, aku melihat Izani menyodorkan kontolnya ke mukaku.



Izani terus memajukan kontolnya masuk ke dalam mulutku yang terngangga itu, Izani mula mengerakkan kontolnya keluar masuk ke dalam mulutku. Aku menikmati hisapan serta ramasan Izie di buah dadaku, memekku yang dijilat Izra berkedut - kedut dan mulutku dipenuhi dengan kontol Izani membuatkan aku tidak sadar ternyata ketiga anakku juga sudah telanjang. Izra mula menindih tubuhku lalu menusukkan kontolnya masuk ke dalam memekku dengan ganas sementara Izie masih sibuk meramas buah dadaku dan Izani sedang menusuk mulutku.



“Abang… giliran Izani dong… …” Kata Izani pada abangnya Izra.



Izra mencabut kontolnya dari memekku lalu menunggingkan tubuhku, Izani kini di belakang punggungku lalu terus menusuk memekku dari arah belakang. Aku kini sedang menghisap kontol Izie dan Izra mula menjilat serta meramas buah dadaku.Tak lama kemudian, Izani merebahkan tubuhnya lalu menarik tubuhku ke atas tubuhnya dan memasukkan kontolnya ke dalam memekku dari bawah. Aku mencapai puncak klimaksku ketika Izani semakin cepat menyetubuhiku ketika aku berada di atas tubuhnya.



“Izie… sekarang masukkan kontolmu ke sini…” Perintah Izra pada Izie sambil memasukkan sebang jarinya ke dalam lubang duburku sambil di gerakkan keluar masuk jarinya itu. Aku yang mendengar Izra mengarahkan Izie memasukkan kontolnya ke dalam duburku hanya diam sahaja seolah merelakan duburku di jamah Izie. Izie dengan cepat ke balakang punggungku lalu kontolnya yang tidak beberapa besar itu terus didorong ke duburku.





Aku membetulkan kontol Izie agar mudah masuk ke lubang duburku. Sekarang Izie dan Izani melakukan tusukan serentak di memekku serta di duburku, aku hampir menjerit kenikmatan tetapi suaraku tidak keluar karena di sumbat oleh kontol Izra. Oleh karena tidak tahan dengan kemutan yang kuat di dubur, Izie telah memuncratkan air maninya di dalam duburku. Setelah kontolnya dicabut keluar, Izra terus memasukkan kontolnya kedalam duburku.



Aku yang sedang menikmati tusukan kontol Izra di duburku serta tusukan kontol Izani di dalam memekku menggerakkan punggungku seiring dengan tusukan mereka. Aku sekali lagi telah hampir mencapai puncak klimaksku yang kedua. Aku kemutkan lubang dubur serta memekku serentak dan Izani tidak dapat bertahan lagi saat otot memekku mengemut kontolnya lalu memuncratkan air maninya di dalam memekku.



Izra masih laju menusuk duburku yang mengemut ketat itu dan akhirnya Izra pun memuncratkan air maninya ke dalam duburku setelah menusuk dengan agak kuat. Aku menelungkup di atas kasurku dengan ketiga anakku yang terbaring lemah disisiku. Begitulah kehidupanku bersama ketiga anak-anankku sehingga kini, aku merasa sungguh puas bersetubuh dengan mereka dan aku tidak lagi mencapai kepuasan ketika bersetubuh dengan suamiku.

Sekian dan Terimakasih
 
Mantep gan! Kalo bisa bikin serialnya gan... Hehe (Usul aja gan)
Trus judulnya aneh gan, gk cocok deh kayanya...
 
User di-banned, maka konten otomatis dihapus.
User is banned, content is deleted automatically.
 
User di-banned, maka konten otomatis dihapus.
User is banned, content is deleted automatically.
 
Gaple Online Indonesia
Pasang iklan hanya lewat CONTACT US
Back
Top
We are now part of LS Media Ltd