King 4D - Agen Bola   Poker Ace
9Club Situs Judi Online Terpercaya
Asus Togel online   Premier 189
Mandala Toto   Web Online
Web Online   Web Online
Web Online   Web Online
Web Online
Pasang iklan, hanya lewat Contact Us.
Waspada penipuan iklan. Klik di sini untuk melihat daftar penipu.

DRAMA KURUOSHI

Indosniper

Phat-Phat

Semprot Lover
Thread Starter
Daftar
23 Apr 2020
Post
214
Like diterima
4.132
  • Thread Starter Thread Starter
  • #3
PROLOG



POV Kazuya



“Duduklah….”

“Kazu.”

Suaranya yang tenang namun mengandung sebuah ketegasan dan intimidasi yang pasti, membuat siapapun yang mendengarnya akan langsung tergerak untuk menurutinya tanpa menunggu perintah kedua.

Wanita yang sedang duduk di hadapanku sambil melipat tangannya, menatapku dengan tatapan mata tajam yang tidak dapat kutebak artinya. Ia memiliki aura yang akan membuat setiap lawan bicaranya akan merasa gentar. Memang dia adalah seorang wanita, seorang ibu dengan satu putra yang juga telah membuat masalah semalam. Namun wanita ini berbeda dari wanita-wanita lain. Wanita yang berkebangsaan sama sepertiku.

Selain itu 6 orang pria yang berdiri mengelilingi ruangan ini juga menambah tekanan luar biasa yang kurasakan. Aku tidak takut kepada mereka. Aku merasa tidak mengenal rasa takut. Namun aku sangat menghormati wanita di hadapanku ini.

Wanita yang bernama Hayashibara Shiho-sama, yang memiliki kecantikan alami dan masih terpancar jelas di usianya menjelang setengah abad. Seorang wanita yang 5 hari yang lalu baru berganti status dari seorang istri menjadi seorang janda dari seorang lelaki yang sangat aku hormati, Adam Sandjaja-sama. Ia meninggal dunia 5 hari yang lalu setelah berjuang selama hampir 5 tahun melawan penyakitnya.

Hayashibara-sama memang tidak menunjukkan kesedihan atas kehilangan suami tercinta, seorang laki-laki yang sangat gue kagumi, yang sangat di hormati oleh khalayak orang banyak. Bahkan di hadapan bawahannya yang sangat setia kepadanya. Dia begitu pintar menutupi dengan sikap tenangnya di hadapan semua orang.

Namun bila para tamu yang datang untuk memberi penghormatan terakhir sudah pulang semua, maka Hayashibara-sama selalu menyempatkan diri untuk berduka dan meluapkan kesedihan atas kehilangan suami tercinta di dalam ruangan pribadinya. Dan tugas ku adalah menjaganya dari luar ruangan dan memastikan tangisannya tak sampai terdengar ke telinga orang lain. Walau hanya bisa mendengar suara tangisannya dari luar, aku dapat merasakan seberapa dalam rasa kehilangannya.



Adam Sandjaja-sama merupakan satu-satunya pria yang dapat merubah sikap Hayashibara-sama dari seorang wanita yang kejam dan dingin, menjadi seorang wanita yang perhatian dan penuh kasih sayang. Setidaknya seperti itulah yang dapat aku simpulkan selama bekerja sebagai Pengawal Pribadinya.

Hayashibara-sama sangat percaya kepadaku. Karena dia sendirilah yang memilihku dari sekian banyak kandidat kala ia sedang berkunjung di markas pusat klan kami di Jepang. Oyabun-sama saat itu sedang menguji sekitar 20 orang pemuda untuk menjadi salah satu pengawal elit pribadi putrinya yang tinggal di Amerika Serikat, mengikuti suaminya.

Aku yang kala itu masih berumur 17 tahun langsung di tunjuk nyonya untuk ikut bersamanya. Oyabun-sama memberikan ujian yang cukup berat baik di bidang ketangkasan, bela diri maupun kecerdasan, yang juga di saksikan oleh nyonya dan Adam Sandjaja-sama sendiri.

Setelah berjuang sekuat tenaga melalui berbagai test berat, aku akhirnya dipilih langsung oleh Hayashibara-sama untuk menjadi yang terbaik diantara rekan-rekanku yang lain dan mendapatkan cap tanda prajurit elit klan Kezt-Gumi.

Makanya gue gak akan pernah ngelupain kebaikan nyonya dan Adam Sandjaja-sama. Aku harus menjawab ekspektasi mereka dengan menjadi yang terbaik serta tidak akan pernah mengecewakannya. Itulah ikrar ku, Tadanobu Kazuya, kepada keluarga Adam Sandjaja-sama. Juga janji seorang kobun (pengikut) setia yang akan selalu menjaga nama besar klan Kezt-gumi dan keamanan Kumicho (Bos besar) beserta keluarganya.



“Sekarang, ceritakan semuanya Kazu.” Perintahnya masih dengan nada dan ekspresi yang penuh ketenangan, namun memberikan tekanan dan intimidasi kepadaku dari auranya.

Aku mengangguk penuh hormat sebelum mulai bercerita, “baik. Hayashibara-sama. Semua bermula saat saya menemani Ryo-sama……”

.

.

Ryo Adhashi Sandjaja. Nama tengahnya adalah nama yang di ambil dari gabungan nama Adam Sandjaja-sama dan Hayashibara-sama. Putra mereka satu-satunya yang juga akan menjadi penerus perusahaan Sandjaja Group. Ketika itu Ryo-sama mengajak ku serta untuk menemaninya pergi ke suatu tempat di malam hari.

Umur ku 2 tahun lebih tua dari Ryo-sama.

Ryo-sama saat itu tidak menjelaskan secara rinci tujuan kami pergi ke tempat itu. Aku sempat mengusulkan untuk mengajak kobun lainnya juga mengingat aku cukup paham tempat apa sebenarnya itu.

Walaupun aku yakin dengan kemampuan ku dan tidak mengenal rasa takut, sementara kemampuan Ryo-sama pun di atas rata-rata kemampuan kami para kobun, namun pergi ke tempat itu hanya berdua dengannya sungguh sangat beresiko.

Namun Ryo-sama menolak usulan dariku, dan balik bertanya apakah dia telah memilih orang yang salah untuk ikut bersamanya. Pertanyaan yang membuat harga diri ku merasa cukup terhina sebelum ia tiba-tiba menepuk ringan di pundak ku seraya mengatakan, “Gue ngajak elo karena gue percaya 1000% ama kemampuan lo, Kazu. Kita berdua sudah lebih dari cukup. Gak perlu libatin anggota lain.” Serunya santai namun ekspresi wajahnya justru terlihat kaku dan penuh garis-garis kemarahan.

Ucapannya itu menjadi titik balik dan langsung mengobarkan semangat di dalam diri ku untuk bertempur di sisinya. Dengan tenang aku mengambil alih kemudi dan menyetir membawa putra keluarga Sandjaja menuju ke tempat itu.

Sepanjang perjalanan aku memang sengaja tidak banyak bertanya mengenai maksud serta tujuannya pergi ke tempat itu. Salah satunya karena aku menyadari jika suasana hati Ryo-sama sejak kematian ayahnya masih sulit untuk di tebak.

Ryo-sama yang duduk di samping ku hanya terdiam dan mematung. Pandangannya terus memandang ke arah depan, hampir tidak bergerak sedikitpun. Namun dibalik kebisuannya itu aku menduga ia sedang terus berpikir dan merencakan sesuatu entah apa.

Ryo-sama memang cukup terkenal suka keluar masuk ke tempat hiburan, dimana ujungnya selalu membuat keonaran. Walau dengan bantuan pengaruh Hayashibara-sama maka hampir jejak kekacauan yang ia timbulkan dapat di tutupi dan di hilangkan jejaknya.

Butuh waktu 15 menit sebelum kami akhirnya tiba di tujuan, di salah satu hotel berbintang lima. Tempat tujuan kami berada di dalam hotel ini. Sebuah club mewah privat yang hanya bisa di kunjungi oleh orang-orang dengan kemampuan finansial yang tak terbatas.

Salah satu penjaga di depan pintu masuk hotel langsung menghampiri mobil kami untuk mengambil alih dan memarkirkannya, sementara kami langsung berjalan masuk ke dalam.

“Kazu, pegang ini.” Seru Ryo-sama sambil menyerahkan sesuatu ke dadaku tanpa menghentikan langkah kakinya.

Aku jelas saja mengenali sebuah pistol Beretta 9 mm menempel ketat dada ku saat ini. Tanpa diceritakan pun aku langsung memahami tujuan sesungguhnya Ryo-sama datang ke tempat ini. Namun aku sama sekali tidak mengambil pistol tersebut sehingga ia langsung menghentikan langkah kakinya sambil menoleh ke arah ku. Memberikan tatapan tajam kepadaku.

“Hayashibara-sama sudah kasih perintah untuk tidak membiarkan Ryo-sama membuat kekacauan lagi.” Jawab ku kepadanya. Juga bertujuan untuk mengingatkannya, agar dapat menahan sikap dan emosionalnya untuk tidak melakukan sebuah tindakan yang berujung dengan kekerasan di dalam sana. Bahkan parahnya, menyebabkan kematian beberapa orang.

“Berapa lama elu kenal ama gue, Kazu?” Tanyanya kemudian kepada ku lagi.

Aku sedikit tertegun mendengar pertanyaannya itu. Bukan karena aku tidak mengetahui jawabannya, namun lebih karena tidak menyangka ia akan menanyakan hal tersebut kepadaku. “5 tahun. Kurasa.” Aku mencoba menjawab pertanyaannya, meski masih belum memahami arah pembicaraan ini.

“Selama 5 tahun itu apa gue pernah ngajak lo pribadi kaya gini?” Tanyanya lagi.

Aku termenung sejenak sebelum menggelengkan kepala dengan cukup yakin.

“Ini…penting buat gue, Kazu. Dan kali ini gue minta bantuan elo. Elo gak perlu tau gue mao ngapain. Yang perlu elo tau tugas lo buat ngeback up gue dan jagain belakang gue, OK?” Serunya sambil mendekatkan jaraknya ke posisiku berada.

Aku berpikir sejenak, mengingat apa yang bakal aku lakuin ini jelas membantah perintah Hayashibara-sama. Namun aku juga paham mungkin memang benar hal ini penting buat Ryo-sama. Hal yang tidak aku ketahuin apa itu, tapi bukan hal penting bagi ku juga.

“Ryo-sama, aku bukannya takut mati. Tapi ini artinya aku akan melanggar perintah ibu Ryo-sama dan aku bisa kehilangan leher. Jadi ini sebaiknya sepadan dengan resikonya. Kalau memang kita mau bertempur, maka aku bakal bertempur gila-gilaan.” Jawab ku dengan penuh tekad.

Ryo-sama langsung menyunggingkan senyuman angkuh di wajahnya. “Oh, ini jelas sangat sepadan, Kazu. Dan untuk itulah gue ngajak elu kesini. Jagain gue, bertempur gila-gilaan nanti di dalam. Gue ngandelin elu.” Ujarnya sambil kembali menekankan pistol Beretta itu di dadaku.

Kali ini aku tanpa ragu lagi untuk mengambil senjata itu dan menyelipkannya di celana bagian belakang. “Ikuzo, Kazu.” Serunya untuk mengajakku kembali berjalan dalam bahasa Jepang.

Di depan pintu masuk klub terdapat dua orang berkulit hitam dan 1 orang berkulit putih menjaga pintu. Ryo memintaku untuk menunggu sementara ia berjalan mendekati mereka dan menyelipkan sebundel Benjamin Franklin ke tangan mereka.

Setelah para penjaga keamanan tersebut memberi anggukan singkat, Ryo-sama kemudian menoleh ke arah ku dan memanggil untuk masuk.

Aku hanya mengangguk mengiyakan panggilannya, dan mengikutinya dari belakang. Walau aku sudah sering bertempur, namun jantungku selalu berdebar cepat seiring adrenalin yang mengalir deras.



Still continued...
 

Phat-Phat

Semprot Lover
Thread Starter
Daftar
23 Apr 2020
Post
214
Like diterima
4.132
  • Thread Starter Thread Starter
  • #6
PART 1




POV Kazuya


Kami lalu memasuki sebuah lift khusus untuk menuju ke klub. Ryo-sama terlihat sangat tenang saat memasukan kartu ke dalam slot sebelum ia menekan satu-satunya tombol yang ada di lift. Yang tentu akan membawa kami ke lantai teratas, lebih tepatnya ke Presidential suite yang di rubah menjadi sebuah Club, di mana setiap pengunjung dapat berpesta pora dengan liar. Heroin, wanita, minuman keras bakalan tersaji bebas di dalam klub.

Tempat itu membatasi jumlah pengunjung sepengetahuanku selama ini. Maksimal 50 orang pengunjung saja. Karena di dalam sana, sudah tersedia gadis-gadis cantik yang setidaknya dua kali lipat dari jumlah pengunjung yang berani membayar mahal. Para pria kelas Billionaire yang kebanyakan dari mereka masuk ke dalam daftar yang dikeluarkan oleh Forbes.

Tidak mudah untuk bisa masuk di tempat ini. Tamu harus sudah menjadi member club, yang di awal harus mengeluarkan dana sebesar $ 90,000. Dan harus melewati proses pemeriksaan ketat dari pihak Club untuk dapat menerima kartu member yang dapat mengakses lift masuk tadi.

Setiap tamu yang datang, meski sudah mengeluarkan dana yang besar di awal, tetap harus membayar tiket masuk lagi sebesar $ 2,500 per orang untuk sekali datang di setiap pesta. Jadi setidaknya yang dapat aku gambarin jika para pengunjung club menggambarkan pria-pria New York yang terlahir sebagai 'Penguasa Alam Semesta'.

Tiba di lantai teratas, kami di sambut oleh 4 orang penjaga keamanan lapis kedua yang juga bertubuh kekar.

“Mr Ryo...” salah satu penjaga menyebut nama Ryo, sambil menganggukkan kepala.

Is he here already?” tanya Ryo.

He is.”

Good!” Seru Ryo-sama sambil kembali menyelipkan sebundel Benjamin Franklin ke saku depan baju mereka.

Kami berdua di persilahkan memasuki sebuah pintu yang dari luar sudah terdengar dentuman suara beat musik.

Begitu pintu terbuka, musik terdengar begitu menggelegar dengan lampu kerlap-kerlip yang berkilauan di dalam sana. Saat kami memasuki klub ini, kami langsung di sambut oleh dua gadis cantik berbusana topless sambil memberikan welcome drink.

Ryo mengambil satu gelas, sementara aku memutuskan untuk tidak mengambilnya dan menolak halus tawaran kedua gadis ini. Aku saat ini lagi malas mencicipi alkohol, karena jika Ryo minum alkohol maka aku harus tetap berada dalam kondisi sadar.

Mereka mempersilahkan kami berdua untuk masuk lebih dalam. Dan begitu melewati dinding partial yang memisahkan bagian luar dengan bagian dalam, maka kami langsung di sajikan pertunjukan puluhan gadis cantik yang kali ini sama sekali tanpa busana.

Sedangkan para tamu yang hadir, ada yang sedang santai, ada yang sedang mengobrol, ada juga yang sudah mengambil menu utama yaitu berhubungan seks di mana saja dan dengan wanita mana saja yang mereka inginkan.

Semua di beri kebebasan untuk mencicipi para gadis di tempat ini. Tak ada batasan juga yang gue tau. Mungkin saja ada yang sudah di gilir, karena gak bakal ada yang memperhatikan detil tersebut saat semua orang sudah dalam kondisi mabuk.

Tempat ini adalah surga bagi para pria. Namun Ryo-sama nampak tidak tertarik sama sekali kepada mereka. Pandangan matanya hanya tertuju ke satu titik sejak masuk tadi. Aku mencoba mengikuti arah pandangan matanya dan melihat sosok seorang pria di bagian samping yang sedang menyantap dua gadis seksi nan cantik.

Aku kemudian berjalan ke sisinya untuk bertanya langsung kepadanya. “Siapa dia? Berapa banyak orang yang dia bawa?”

Ryo-sama hanya berdecak mendengar pertanyaanku barusan. “Apa ada pengaruhnya buat elo?” Tanyanya sambil menyeringai.

“Gue punya urusan yang belum kelar ama bangsat itu. Dia itu siapa, gak penting. Kemungkinan dia bawa sekitar 5 sampai 7 orang biasanya.” Jelasnya kemudian sambil kembali menatap ke arah sosok pria tersebut.

“Tugas lo ngamanin ruangan yang bakal gue jadiin tempat eksekusi. Paham?,” ujar Ryo. “No one in. NO….ONE!” Ujarnya lagi dengan nada penekanan di bagian akhir. Aku hanya mengangguk singkat sebagai jawaban atas perintahnya.

Entahlah! Apa masalah dia dengan Ryo, karena sejak tadi Ryo gak pernah cerita apapun kepadaku.

Ikuzo, Kazu.” Serunya sambil menepuk dadaku dengan tinjunya sebelum kami berdua mulai melangkahkan kaki untuk mendekatinya.

Melihat kedatangan kami, tiba-tiba seorang pria yang mengenakan tuxedo datang menghampiri kami. Aku awalnya sempat mengira dia adalah salah satu pengawalnya, namun saat melihat ekspresinya yang seperti sudah mengenal Ryo-sama maka aku memutuskan hanya berdiam diri.

Pria tersebut berjalan ke sisi Ryo-sama dan meneriakkan sesuatu kepadanya mengingat suara dentuman musik yang cukup keras. Saat aku melihat ekspresi liar penuh kepuasan di wajah Ryo-sama, sepertinya rencananya berjalan dengan mulus.

Aku sempat terkejut saat pandangan mata ku kembali mengarah kepada sosok pria tadi, dan menyadari bahwa sosoknya tersebut sudah tak lagi terlihat. Begitu pula dengan para gadis yang tadi menemaninya.

“Dia sudah kemakan umpan gue.” Seru Ryo-sama cukup keras di dekat telinga ku. Sepertinya Ryo-sama menyadari arah pandangan dan juga ekspresi di wajahku barusan. “Umpan yang gue pake si Lena Marquize, juara pertama American Idol tahun lalu. Kalau elu belom tau siapa itu Lena Marquize.” Lanjutnya mengejutkan gue.

BANGSAT!!! Hanya untuk melancarkan rencananya, Ryo sampai menggunakan seorang artis yang sedang naik daun. Aku sampai tidak tahu harus menjawab apa. Yang menjadi pertanyaan ku hanyalah, berapa banyak dia menghabiskan uang untuk membayar perempuan itu. Yang bukan buat dia nikmati, melainkan sekedar hadiah untuk lawannya.

“Ayo... waktunya beraksi,” lama aku terdiam, Ryo kembali mengajakku untuk masuk ke dalam ruangan VIP yang sudah ia persiapkan sebelumnya.

Aku melihat 6 orang berada di luar ruangan, menjaga sang tuannya yang mungkin sedang mulai menikmati tubuh penyanyi yang baru mulai terkenal di belantara industri musik Internasional.

“Elo 3 di bagian kanan, gua 3 di bagian kiri.” Seru Ryo-sama sebelum ia tiba-tiba menghantam telak tenggorokan salah satu penjaga di bagian kiri. Gerakan yang sangat cepat dan bahkan membuat mereka semua tertegun melihat salah satu rekan mereka menggelapar tubuhnya di lantai sambil memegangi leher.

Aku yang tidak mau ketinggalan aksi dari bos kecil ini, juga ikut menyerang satu penjaga di bagian kanan dengan satu tendangan berputar searah jarum jam. Tumit ku dengan cepat menghantam telak tulang pipi penjaga tersebut hingga membuat dia terpelanting ke arah rekan di sebelahnya.

Dan aku langsung kembali merangsek menggunakan momen yang aku ciptain ini dengan memiting tangan kanan penjaga berikutnya ke belakang. Lututnya ku hantam keras hingga membuatnya jatuh berlutut sebelum aku memberikan serangan penghabisan berupa hantaman siku ke wajahnya hingga ia terpelanting ke belakang dengan hidung patah.

Dua tumbang. Satu lagi. Ujar ku membatin sambil berjalan mendekati penjaga yang tersisa.

Ia langsung berusaha menyerangku dengan sebuah tendangan terbang. Namun dengan santai aku hanya bergeser kesamping kiri dan membiarkan serangannya luput tipis di samping. Dan sebelum tubuhnya kembali menjejak lantai, tangan kanan ku dengan cepat menghantam kaki kanannya yang ia gunakan untuk menendang, ke atas.

Tubuhnya pun langsung limbung seketika. Dan aku juga langsung manfaatin momen itu dengan membanting tubuhnya ke lantai yang terbuat dari marmer memanfaatkan efek gravitasi. Suara derak bahu patah masih terdengar cukup nyaring walau dentuman musik masih terus berlanjut.

Aku kemudian melihat ke arah Ryo-sama dan menyaksikan bagaimana ia mematahkan lengan penjaga terakhir di bagian kiri sebelum menghantam wajahnya dengan injakan. Membuatnya tidak sadarkan diri.

Selesai semua penjaga 6 orang, pikirku saat ini.

Aku kemudian melihat ke arah sekeliling untuk melihat apakah aksi kami ini mengundang perhatian pengunjung lain. Dan sepertinya mereka entah terlalu mabuk atau memang sama sekali tidak menyadari kejadian ini. Itu membuat pekerjaan aku akan menjadi lebih mudah.

Ryo-sama kemudian masuk ke dalam denganku yang juga mengikuti langkahnya. Di dalam aku melihat sosok pria tersebut sedang duduk di sofa panjang, sementara sang penyanyi berada di pangkuannya dengan wajah si pria itu tenggelam di dada sang penyanyi.

Ryo-sama dengan kasar menarik tubuh sang penyanyi hingga terjerembab ke samping, walau masih di atas sofa. Sementara sang pria yang menunjukkan ekspresi wajah terkejut, langsung terkena hantaman keras tinju Ryo-sama hingga terpelanting ke samping. Sedikit menindih tubuh sang penyanyi.

“Yoo Zhang. Bagaimana rasa toked Lena? Lebih kenyal dari pada toked Sherly bukan?” Tanya Ryo-sama sambil tertawa mengejek.

Zhang?

ZHANG?

Jangan bilang kalau dia ini...


Aku tidak bisa melanjutkan ucapan ini walaupun di dalam hati. Bahkan merasakan semangat yang langsung merosot jatuh.

Aku….pasti tamat abis ini. Batinku lirih.

“Lu pikir lu bisa ngelakuin semua semau lu tanpa ada harganya?”

Pria yang dipanggil Zhang itu kemudian mulai menegakkan tubuh kembali, hanya untuk mendapatkan hantaman telak kedua kalinya di wajah. Kali ini tumit Ryo-sama yang menghatam telak wajahnya dengan tendangan berputar.

Ryo-sama tidak melepaskannya begitu saja. Ia kemudian langsung mendekat dan mencekik erat leher pria bermarga Zhang itu. Menatap matanya lekat-lekat dengan emosi yang jelas terlihat di wajah Ryo-sama.

“Sherly mungkin bukan siapa-siapa buat elu. Dan gua tau elu ngelakuin itu cuma buat ngehina gua dan klan gua, Zhang. Jadi gue sekalian titip pesen buat elu. Don’t fuck with Ryo Sandjaja.”

Selesai mengatakan itu, Ryo-sama langsung menghujani wajah pria bermarga Zhang itu dengan tinjunya kiri-kanan dengan membabi buta. Ia bahkan terlihat begitu lupa diri saat sedang menghajar habis pria itu.

Hingga saat aku melihat pria yang di hajar habis-habisan oleh Ryo-sama yang sudah hampir mati, aku langsung menahan lengan Ryo-sama untuk menghentikan serangannya. “Cukup, Ryo-sama. Sebelum jadi masalah besar. Kita belum siap untuk perang skala besar. Setidaknya saat ini. Tahan diri anda.”

Ryo-sama nampak berpikir sejenak setelah mendengar ulasan ku sebelum ia menepis tanganku dan menyudahi kegiatannya.

“Mahluk lemah kaya gini aja, berani-beraninya nyari urusan ama Ryo.” Serunya sebelum ia kemudian membuka celana dan mengencingi wajah si marga Zhang itu sambil terbahak-bahak dengan keras bak psikopat. Aku yang terbiasa melihat kekejaman, merasa sedikit merinding saat melihat sikap Ryo-sama yang tidak dapat kutebak.

Selesai mengencingi pria tersebut, Ryo-sama kemudian menarik lengan sang penyanyi bernama Lena itu. Wajahnya menunjukkan ekspresi ketakutan amat sangat. Tubuhnya bahkan sampai gemetar.

Ryo-sama menyuruhnya untuk berlutut. Selanjutnya, sudah dapat di tebak apa yang di lakukan Ryo-sama terhadap gadis penyanyi itu.

Jadi tebakanku yang di awal, jika Ryo-sama hanya memberikan umpan untuk di pakai oleh targetnya ternyata salah. Dia pun mengambil jatahnya dengan cara yang awalnya si gadis ketakutan, yang akhirnya sangat menikmati seks liar yang di berikan oleh Ryo-sama. Saat kejadian itu, aku memilih untuk tetap diam dan mengambil jarak memberikan waktu buatnya untuk menuntaskan aktivitasnya bersama si gadis.

Sebelum meninggalkan tempat ini, Ryo-sama sempat menghadiahkan hantaman keras berikutnya pada wajah pria bermarga Zhang yang sudah tak sadarkan diri sejak tadi.

.

.

Semua terdiam setelah aku menyelesaikan cerita. Aku paham bagaimana nasibku selanjutnya. Aku bukan merasakan takut akan kematian. Tapi aku justru merasakan penyesalan karena gagal menjalankan perintah Hayashibara-sama. Terutama ketika melihatnya menundukkan kepalanya sambil menggelengkannya.

“Kamu tau kan masalahnya bakalan jadi seperti apa ini, Kazu-kun?” Tanyanya kemudian.

Aku mengangguk singkat atas pertanyaannya itu. Aku bahkan sudah siap.

“Saya tahu, Hayashibara-sama.”

Dia menghela nafasnya sesaat, sorotan matanya seolah-olah mengisyaratkan jika sudah waktunya dia mengambil sikap. Dia pasti menyadari bahwa kearoganan dan kekejaman putranya kali ini dapat membawa dampak fatal bagi rencana Oyabun-sama untuk mengambil pasar Amerika Serikat dari tangan TRIAD dan kartel Meksiko.

Selama ini Hayashibara-sama cukup berdiam diri dengan segala pola Ryo-sama yang selalu membuat kekacauan. Dan menyerahkan urusan kepada Adam Sandjaja-sama. Namun kini, nyonya-lah yang harus membuat keputusan atas kekacauan kali ini.

“Baiklah... sepertinya sudah waktunya saya bertindak,” ujar nyonya setelah bergelut dengan pikirannya sendiri selama beberapa lama.

“Ryo akan saya ungsikan sementara waktu. Tapi saya tidak akan memanjakan dia dengan uang dan pengawal. Biar dia menempa diri nanti secara mandiri agar mampu menggunakan otaknya sesuai fungsinya. Dan bukan hanya membuat masalah demi masalah baru.” Sambungnya membuatku terkejut.

“Tapi dia tidak sendiri nantinya. Kazuya! Kamu ikut bersamanya Menjadi pengawalnya, temannya, kepercayaannya, juga yang terpenting adalah….sebagai guru moralnya. Kuliahlah kalian di tempat pengasingan. Dan selama di sana, Ryo sama sekali tidak boleh melakukan kekerasan secara fisik maupun verbal. Tugas kamulah untuk menahan serta mengingatkan dirinya. Karena bila sekali saja ia kembali berbuat onar dengan bodoh yang mungkin akan membahayakan Kezt-gumi lagi, maka terpaksa saya harus menghapusnya dari silsilah keluarga.”

Kedua mataku hampir keluar rasanya saat mendengar keputusan Hayashibara-sama ini. Dia mengusir anak satu-satunya?

“Dan Kazu, kamu selalu saya andalkan. Saya percaya sama kamu. Bimbinglah Ryo hingga ia menjadi pria yang pantas mewarisi Sandjaja Group... Kezt-gumi.” Ujar Hayashibara-sama lagi.

“Bila kamu berhasil menjalankan tugas berat ini, wilayah Amerika bagian timur akan menjadi tanggung jawabmu.”

Nan…dato??!! Aku benar-benar kehabisan kata-kata mendengar ucapan Hayashibara-sama ini. Tawaran yang tentu sudah menjadi impianku selama ini. Memimpin salah satu organisasi Yakuza, yang mencakup wilayah timur Amerika Serikat.

Ini tentu bukan hal yang mudah mengingat betapa keras kepalanya sifat Ryo-sama. Tapi penawaran ini jelas lebih baik daripada harakiri ataupun yubitsume. Ujarku membatin sambil terus berpikir.

“Kemana kami harus pergi mengasingkan diri?” Tanyaku kemudian.

...



...



“Indonesia. Negara asal suami saya,”



DEGH!!!


Still Continued...
 
Sbo Hoki Online   Senior Bola Online
Jav Toys
9 club   Gaple Online Indonesia
Pasang iklan hanya lewat CONTACT US
Top
Semprot is now part of PAGCOR