King 4D - Agen Bola   Poker Ace
9Club Situs Judi Online Terpercaya
Asus Togel online   Premier 189
Mandala Toto   Web Online
Web Online   Web Online
Web Online   Web Online
Web Online
Pasang iklan, hanya lewat Contact Us.
Waspada penipuan iklan. Klik di sini untuk melihat daftar penipu.

DRAMA KURUOSHI

Indosniper

Phat-Phat

Semprot Lover
Thread Starter
Daftar
23 Apr 2020
Post
214
Like diterima
4.127
PART 8



Penting!
Catatan Penulis :


Setiap dialog berwarna ‘Biru’ antara Kazuya – Ryo - Hayashibara, akan menggunakan bahasa indonesia yang pada dasarnya itu adalah dialog bahasa Jepang. Biar gak ribet aja...

Selain itu, semua dialog menggunakan campuran inggris, indo dan japan.
Semoga dapat di mengerti.






POV Kazuya



Lagi-lagi kami menemui suatu masalah di kampus ini. Seorang gadis yang baru saja menabrak tubuh Ryo-sama, dan hampir saja wajahnya menjadi korban tinju Ryo yang begitu cepat dan keras. Tapi yang lebih mengejutkanku adalah untuk pertama kalinya aku mampu menahan emosi Ryo-sama. Bila ia masih di Amerika Serikat dengan sikap seperti itu, gadis tadi tentunya sudah babak belur mendapatkan pelampiasannya. Tanpa perduli pria atau wanita, siapapun yang menjadi ancaman baginya akan ia singkirkan.

Beberapa saat kemudian kami akhirnya menemukan tempat bagian Administrasi Akademik. Ryo-sama bertanya menggunakan bahasa Inggris kepada salah satu staf di tempat ini, perihal kami yang hendak menemui Kepala Bagian di sini, serta menjelaskan bahwa kami merupakan calon siswa yang berasal dari luar negeri.

Setelah menunggu proses selama beberapa lama, kami akhirnya di izinkan untuk bertemu Kepala Bagian. Namanya adalah bapak Aditya Wicaksana MM. PhD. Entah maksud titel terakhir itu artinya Philosopy Doctor atau Pizza hut Delivery. Namun orangnya cukup ramah dan simpatik.

Saat Ryo-sama memperkenalkan diri dan menjelaskan bahwa kami sebelumnya mengambil jalur pendidikan Menengah Atas di negara Amerika Serikat, dan hendak mengambil pendidikan di sini mengikuti orang tua kami yang menjadi ekspatriat, bapak Adit langsung memberikan solusi kepada kami. Sebagai sikap toleransi mengingat kami tidak memahami sistem pendidikan di negara ini sebelumnya.

Bapak Adit juga menjelaskan kepada kami sebenarnya pendaftaran sudah tertutup, dan tidak dapat memberikan dispensasi kepada siapapun. Oleh karenanya bapak Adit ini menawarkan solusi dengan memberikan bantuan donasi kepada Universitas, agar mendapatkan pertimbangan dari Dekan agar kami dapat diterima menjadi Mahasiswa di Universitas ini.

Aku cukup paham dengan kondisi yang ia jabarkan kepada kami, karena Hayashibara-sama sudah menjelaskan situasi umum di negara ini sebelumnya. Dan Hayashibara-sama sudah mempersiapkan sesuatu yang dibutuhkan agar kami dapat diterima di sini.

Aku segera mengeluarkan lima gepok uang Seratus ribuan dalam mata uang Rupiah. Aku melihat Ryo-sama cukup terkejut melihatku mengeluarkan uang ini. Aku memang belum memberitahukannya masalah pesan ibunya ini, karena tidak ingin Ryo-sama menyalah gunakan uang ini.

“This just half of our donation. Consider this just as our good will to your University, sir.” (“Ini hanya setengah dari donasi kami. Anggap ini sebagai niat baik kami untuk Universitas Anda, tuan”) Ujarku sambil tersenyum. Dan wajah sang Kepala Bagian itupun langsung tersenyum lebar melihat 5 gepok yang dengan nilai tertinggi di negara ini.

“That’s very generous of you…ehmm….”

“Kazuya, sir. My name is Kazuya.” Ujarku saat ia hendak menanyakan namaku.

“Right. That’s very generous of you…Ryo, and Kazuya. I do really appreciate this. And I believe the Dean will also respect your good will, and your acceptance into our University will be settled.” (“Baik. Kamu sangat murah hati... Ryo, dan Kazuya. Saya sangat menghargai ini. Dan saya percaya Dekan juga akan menghormati niat baik Anda, dan proses penerimaan Anda ke Universitas kami akan segera diselesaikan”) Sambungnya dengan lengkap kali ini.

“Yes I believe so, sir. Thank you sir.”

Dan saat kami keluar dari ruangannya, Ryo-sama langsung melesat pergi dengan ekspresi wajah yang mengeras. Aku paham ia terkejut melihatku mengeluarkan uang dan menyerahkannya kepada orang tersebut tanpa memberitahunya terlebih dahulu.

This…going to be a problem to solve. Batinku sebelum mengikuti langkahnya.





---000---





KNOCK! KNOCK!



“Boleh aku masuk?” Tanyaku setelah mengetuk pintu ruangannya. Aku harus membicarakan masalah uang itu kepadanya sebelum benar-benar menjadi masalah besar dalam hal kepercayaan diantara kami.

Feel free.” Aku mendengar jawabannya dari dalam. Dan barulah aku membuka pintu dan masuk ke dalamnya.

“What do you want?” Tanyanya bersikap cuek, bahkan tanpa melihat ke arahku dan hanya menonton History channel pada televisinya.

“Aku mau meminta maaf karena tidak memberitahu anda sebelumnya mengenai uang yang di berikan ibu anda kepadaku, sebelum kita berangkat ke Indonesia.” Ujarku.

Dia hanya mengangkat kedua bahunya. “Well, mungkin mama benar dengan tidak memberikan uang itu kepada saya. Karena bagi saya hal yang kamu lakukan tadi adalah tindakan idiot dan buang-buang uang.”

“Mungkin saja begitu. Tapi aku juga tidak dapat mengabaikan perintah ibu anda begitu saja.”
Ujarku kemudian.

“Tentu saja. Kamu hanyalah anjing setia tak berotak yang hanya tahu menjalankan perintah tanpa perlu berpikir.” Cetusnya membuat emosiku langsung naik. Tubuhku bergetar dengan tangan terkepal setelah mendengar hinaannya ini. “Dan lagi, itu bukan uang saya yang kamu pegang, Kazu. Itu uang dia, uang mama. Jadi saya tidak terlalu perduli dia gunakan untuk apa uangnya itu.”

“Yah Hayashibara-sama sudah memberi penjelasan tentang bagaimana birokrasi di negara ini pada umumnya. Uang merupakan alat utama untuk mempermudah birokrasi di sini.”
Aku berusaha menjelaskan kepadanya setelah menarik nafas dalam untuk meredakan emosiku yang hampir meledak ini.

“Ya itu memang benar, Kazu. Kamu tidak salah. Hanya saja memberikan uang sebanyak itu langsung…..ck…what a waste. Kamu bisa lihat wajahnya yang langsung berbinar saat kamu mengeluarkan uang sebanyak itu.” Balas Ryo-sama kemudian. “Bagi saya hal yang kamu lakukan itu kurang efisien. Efektif tentu saja, tapi kurang efisien. Kita bisa memberikan dua gepok terlebih dahulu dan memberikan penekanan khusus kepadanya. Saya yakin kita tidak perlu mengeluarkan uang sebanyak itu pada akhirnya.”

“Yang anda maksud penekanan itu berupa ancaman dan kekerasan?”
Tanyaku.

“Kamu tahu maksud saya, Kazu.” Cetusnya.

“Justru itu yang ingin di hindari Hayashibara-sama dan tentu saja aku pun demikian. Aku hanya ingin semua berjalan lancar dan tidak ada masalah. Demi masa depan anda juga nantinya.” Jawabku merespon ucapannya.

Dia hanya mendengus cukup keras mendengar sedikit bantahanku.

“Ada hal lain, Kazu? Kamu boleh pergi kalau tidak ada hal lain.” ujarnya cukup ketus.

Tidak ada yang dapat kulakukan saat ini, selain hanya mengangguk memberikan tanda hormat sebelum berlalu meninggalkan dirinya. “Baik. Silahkan beristirahat, Ryo-sama.” Ujarku kembali menambahkan kata ‘sama’ kepadanya setelah ia melarangku menggunakan kata penghormatan itu selama berada di negara ini.

.

.


Suasana menjadi tidak nyaman setelah kejadian barusan. Padahal baru saja pagi ini suasana hati Ryo-sama sedang membaik. Tapi kejadian bersama gadis tadi serta masalah uang, mengubah segalanya.

Dengan situasi seperti ini aku merasa enggan memperhatikan aktivitas Ryo-sama saat ini, dan lebih memilih untuk membaringkan tubuhku. Membiarkan otakku berpikir dan berpetualang larut dalam pemikiranku.

Saat itulah tiba-tiba nada dering ponselku menyala, dan langsung membuyarkan pemikiranku itu. Dengan sigap aku langsung beranjak dari tempat tidur untuk mengambil ponselku. Aku sudah menduga sebelumnya Hayashibara-sama yang sedang meneleponku ini.

“Ha I, moshi-moshi.” Sapaku menjawab panggilan teleponnya.

“Bagaimana hari ini, Kazu? Kudengar kalian sudah pergi ke Universitas hari ini. Apa ada kendala?” Kenapa aku tidak heran ia dapat mengetahui kegiatan kami sebelum aku melaporkannya.

Aku kemudian mulai menceritakan aktivitas kami di Universitas tadi. Aku juga menceritakan bagaimana Ryo-sama yang memilih tempat tersebut. Juga penjelasan singkat mengenai kelayakan Universitas itu dari sudut pandangku, serta lingkungannya yang sepertinya mendukung, walau kami belum dapat menemui banyak Mahasiswa di tempat ini karena masih musim libur Kuliah.

“Kalau menurut kamu itu tempat yang bagus, maka saya akan percaya sama kamu.” Ujar Hayashibara-sama membuatku sedikit tersenyum. Berterima kasih atas kepercayaan yang ia tempatkan kepadaku.

Aku juga menceritakan kepadanya sudah menggunakan sebagian uang yang ia berikan sebelumnya ketika bertemu Kepala Bagian Administrasi Akademik agar penerimaan kami sebagai Mahasiswa baru dapat berjalan dengan lancar. Mengingat kami sudah melewati batas waktu pendaftaran untuk penerimaan Mahasiswa baru.

“Apa Ryo marah setelah melihat uang itu?” Tanyanya.

“Saat anda sedang berbicara ini pun dia masih marah kepada saya.” Jawabku.

“Nanti dia akan belajar bagaimana mengurus birokrasi di sana, Kazu. Cara penanganan di sana dan di sini jelas tidak dapat disamakan.” Jelas Hayashibara-sama.

“Lalu, apa ada masalah dengan gadis galak itu?” Sambungnya kemudian membuatku spontan menghentikan nafasku.

Aku benar-benar tersentak mendengar pertanyaannya ini. Dan dalam seketika nama pak Man yang terpikirkan di kepalaku. Jadi disini pun banyak mata dan telinga rupanya. Batinku.

Lalu aku pun akhirnya mulai menceritakan awal mulanya kecelakaan kecil yang terjadi namun merembet menjadi keributan antara gadis bermulut kasar tersebut dengan Ryo-sama. Tapi aku juga menceritakan bagaimana usahaku berhasil meredam emosi Ryo-sama yang sedang meledak, sebagai akibat mulut kasar wanita tersebut yang tidak dapat dikontrol.

Jadi pada dasarnya gadis yang memiliki sifat yang tak bersahabat itulah yang memancing keributan. Jika saja ia tidak memberi makian yang membuat Ryo-sama terpancing emosinya, kejadian tadi tidak akan terjadi.

“Setidaknya ada kemajuan bila ia mampu menahan dirinya seperti itu. Bagi saya kamu cukup berhasil menjalankan tugas kamu sejauh ini, Kazu. Saya cukup puas. Tapi kamu jangan sampai lengah. Situasi di sana memang tidak serentan di sini, tapi bukan berarti disana tidak ada ancaman, Kazu.”

“Tidak, Hayashibara-sama. Saya tidak akan menurunkan kewaspadaan saya selama disini” Ujarku kemudian. Berusaha meyakini dirinya.

“Baiklah, saya rasa laporanmu sudah cukup untuk saya. Kamu bisa hubungi saya bila terjadi masalah atau mungkin butuh sesuatu.”

“Baik, Hayashibara-sama.”
Jawabku sebelum ia memutuskan sambungan telepon.



---000---



Knock! Knock!

Siapa yang mengetuk pintu di depan ketika aku ingin memejamkan mata, dan aku pun tersadar aku masih duduk menatap layar monitor. Aku sedikit terkejut melihat dari monitor jika Ryo-sama tak berada di ruangan appartemennya. Apa dia sudah masuk ke dalam kamar? Aku melihat jam di dinding, rupanya sudah jam 10 malam.

“Kazu... saya yakin kamu belum tidur” ahhh! Rupanya Ryo-sama yang baru saja mengetuk pintu di depan.

Kenapa malam-malam gini dia memanggilku?

Aku segera berjalan menuju ke pintu. Setelah membuka pintu, aku bereaksi segera untuk menutup pintu ruangan agar Ryo-sama tak sempat melihat ke dalam. Ya! Selama ini, Ryo-sama tak pernah mengunjungi ruanganku, hanya ruangannya saja yang selama ini kami jadikan tempat pertemuan, mengobrol ketika kami memilih untuk tidak keluar.

Dia juga tidak pernah menanyakannya. Juga tak mempermasalahkan jika kami lebih baik di ruangannya dari pada di ruanganku. Selain itu aku juga tak menangkap ekspresi darinya selama ini, merasa curiga tentang apa yang ku sembunyikan. Yang jelas dan ku yakini sampai sekarang ini, jika Ryo-sama mengetahui jika aku selalu memonitor dirinya dari kamera CCTV dalam ruangannya.

“Ada apa Ryo?” tanyaku setelah menutup pintu.

“Saya ingin mencari tempat ngopi... tadi siang setelah meninggalkan kampus, saya sempat melihat sekilas ada warung kopi yang lumayan ramai di dekat kampus, dan cukup representatif juga. Bagaimana? Kamu sedang tidak sibuk juga kan?” tumben. Jam segini dia mengajakku untuk nongkrong.

Baiklah...

Aku tentu tak akan menolak tawarannya, justru memang hal ini yang selama ini aku tunggu. Ryo-sama mengajakku keluar malam.

“Oke... aku begini saja, tidak perlu berganti pakaian.” Ujarku yang malam ini, aku memang menggunakan kaos oblong berwarna hitam, dan celana pendek. Tak lupa juga saat aku berada di appartemen, aku selalu menggunakan kaca mata pengganti kontak lens yang sering aku gunakan saat berada di luar. Dan tak perlu aku mengganti kaca mata dengan kontak lens lagi, karena ini sudah malam hari.

“Ayo!” ujarnya mengajakku keluar.

“Perlu memanggil Pak Man?”

“Tak perlu... kita menggunakan motor saja”
balasnya.

Oia aku lupa, jika Pak Man menitipkan satu motor ninja 250 CC berwarna hitam di parkiran. Kata Pak Man motor ini bisa aku gunakan jika dia sedang tidak bersama kami, mungkin untuk berbelanja keperluan pribadi di mini market atau di warung yang tak jauh letaknya dari appartemen.

“Kunci motor ada sama kamu, kan kazu?”

“Oh iya... tunggu aku akan mengambilnya di dalam.”

“Saya menunggu di lobby saja”

“Oke...”


.

.


Kedai coffee Ambarawa.

Malam ini kondisinya tidak seramai yang di jelaskan Ryo-sama tadi. Yang katanya, kala ia melihat sekilas tempat ini, kondisinya siang tadi sangat ramai. Entahlah, aku juga tak terlalu memikirkannya. Lebih sepi lebih baik menurutku. Dan yang membuatku semakin betah malam ini, karena di cafe ini tidak hanya menyediakan menu soft drink hot and cold, melainkan menyediakan bir.

Well! Setelah memesan empat kaleng bir hitam bermerk ‘Guinness’, aku dan Ryo-sama mulai duduk nyantai sambil sesekali sibuk dengan ponsel masing-masing.

Kebetulan kami memilih duduk di pojokan yang berada di sisi kiri cafe, berhadapan langsung dengan jalan. Di arah jam 2 tempat kami berada, yang kebetulan aku duduk menghadap ke dalam, berhadapan dengan Ryo-sama yang duduk menghadap ke luar jalan. Di meja tersebut tampak 4 cowok-cewek yang sepertinya berpasangan sedang nongkrong dengan di temani beberapa minuman. Salah satunya botol bir.

Selain mereka, ada 2 meja lainnya yang di isi oleh muda-mudi berpasang-pasangan.

Wajah cewek-ceweknya lumayan menarik menurutku. Phef! Aku baru ingat, selama tinggal disini aku belum bertemu dan berkenalan dengan seorang gadis. Bisa-bisa jika Ryo-sama masih bersikap angkuh seperti ini, akan sulit bagiku untuk berkenalan dengan seorang gadis. Karena waktu ku akan terlalu fokus dengannya.

“Kamu masih saja suka memperhatikan cewek-cewek di negara ini, Kazu” perkataan Ryo-sama langsung membuatku tersadar dari lamunan panjang. Haha! Sepertinya aku tertangkap basah sedang memperhatikan cewek-cewek di cafe ini.

“Ohh... tentu saja, Ryo... aku penasaran saja, karena wajah perempuan di negara ini cukup menarik.”

Ryo-sama berdecak sesaat. “Bukannya kamu sudah bosan melihat wanita cantik, di Amerika Serikat banyak bule cantik dan saya yakin kamu sudah mencicipi berbagai macam wanita bule di sana kan? Apalagi di Jepang, sudahlah... saya tak perlu menjelaskan bagaimana wanita-wanita dari negara asalmu, putih bersih seperti kapas. Dan saya yakin, kamu juga sering mencicipinya.” Ujar Ryo-sama sambil menatapku dengan senyum tertahan. Tubuhnya menyandar, lalu meletakkan ponselnya di atas meja. Wait! Sepertinya dia sedang tertarik mengobrol panjang denganku.

“Negara asal ibu anda, juga Ryo.” Balasku setelah ia mengatakan negara Jepang, adalah negara asalku. Padahal dia lupa, jika ny. Hayashibara-sama berasal dari sana.

“Oia... saya lupa, ternyata saya juga punya darah Jepang” balas Ryo-sama sambil menolehkan wajah ke samping. Mungkin memperhatikan kondisi di tempat ini.

“Tapi sosok anda, wajah anda tidak ada sama sekali menunjukkan jika anda mempunyai darah Jepang”

“Yah... gen papa lebih mendominasi, makanya wajah saya sama seperti orang-orang yang tinggal di negara ini... sama seperti perawakan mereka,”
penjelasan akhir dari Ryo-sama, membuatku menoleh ke arah pandangannya. Beberapa orang baru saja datang, juga wajah yang sangat ku kenal itu. Wajah-wajah yang serupa dengan rombongan bocah-bocah yang sempat aku lihat di mall kemarin.

“Karena memang tuan Adam-sama, berasal dari negara ini.” Aku menjawab perkataan Ryo-sama, dan berharap dia tak terlalu tertarik dengan rombongan bajingan amatiran itu yang baru saja datang ke cafe ini. Dan lagi! Berharap tak terjadi masalah seperti siang tadi.

“Ya tentu saja” balasnya, sambil kembali meraih ponselnya dan menyibukkan dirinya sendiri dengan bermain dengan ponselnya. Aku lega, karena ternyata Ryo-sama sama sekali tidak tertarik dengan bocah-bocah tersebut.



“Bro... loe yakin mereka gak nungul malam ini?” aku sempat mendengar obrolan mereka yang ternyata sedang mengambil tempat di samping meja kami.

“Gak lah... paling mereka lagi pada molor.”

“Hahahaha!”

Aku sempat melirik ke Ryo-sama, tapi dia ternyata memang sudah tak tertarik lagi dengan mereka. Aku pun mencoba untuk tak menghiraukannya, sambil menikmati kaleng bir kedua yang baru saja ku buka.

Sruuuppp! Lumayan membasahi dahaga ku setelah dua minggu lebih tidak menyentuh minuman beralkohol.

“Trus... kapan kita nyerang kampus Bina Nasionalis lagi nih?” saat mendengar nama kampus yang ia sebutkan, aku menghentikan menyeruput isi kaleng Bir. Ya! Nama kampus yang nanti aku dan Ryo-sama berkuliah.

Aku lalu melirik ke Ryo-sama lagi. Dia masih tetap belum menunjukkan sikap ketertarikan atas diskusi para bocah-bocah di samping kami.

“Loe orang tenang saja, kita gak mungkin nyerang gitu aja... masih ingat kan peringatan yang di kasih ma si pelekok plokis itu? Anjinggg! Andai gue gak ingat bonyok mah, gue gak bakal takut nginap di hotel prodeo.”

“So... apa rencana loe, bos?”

“Yang jelas kita butuh satu rencana, tujuannya untuk memancing mereka lebih dulu nyerang kita”

“Caranya?”

“Gue belum nemu caranya, tapi tunggu saja... pasti gak lama lagi, bakal kejadian kok... hahahahaha!”

“Tos doloe bos”

“Tossss!”

Jujur dari semua kalimat dengan menggunakan bahasa Indonesia, hanya 10%nya saja yang aku mengerti. Tapi karena Ryo-sama tidak tertarik dengan mereka, makanya aku pun lega dan tak menganggap mereka sebagai ancaman malam ini.

Sejam lebih aku dan Ryo-sama berada di tempat ini. Sudah 6 kaleng bir yang telah kami habiskan, masing-masing 3 kaleng. Kalo dariku sudah cukup, karena aku gak ingin mabuk. Sama seperti Ryo-sama yang tidak lagi menunjukkan keinginannya untuk menambah kaleng bir di atas meja.

“Saya sudah selesai... kamu?” tanya Ryo-sama pelan dengan menggunakan bahasa Jepang.

“I’m done...”

“Oke... kita pulang, kamu handle dulu” ujarnya sambil berjalan meninggalkanku yang merasa dongkol. Jelas saja, arti dari handle tersebut, untuk membayar bill semua pesanan kami malam ini.

Aku lalu membayar di kasir terlebih dahulu, dan sempat ku lihat Ryo-sama hanya berdiri di luar.

Setelah itu aku berjalan keluar mendekatinya. Ryo-sama aku lihat sedang menatap ke dalam cafe, aku rasa dia hanya sedang memperhatikan kondisi di dalam saja, karena sejak tadi dia hanya sibuk menghabiskan bir dan bermain ponsel.

“Oke... jalan sekarang” ujarku mengingatkannya.

“Tunggu Kazu! Saya ingin ke toilet dulu” balas Ryo-sama, lalu berjalan meninggalkanku sendiri di parkiran. Aku sempat melihat Ryo-sama berjalan masuk ke dalam, dan memang benar dia menuju ke toilet yang terletak di sisi kanan belakang cafe.

5 menit lamanya aku menunggu Ryo-sama. Aku sempat berfikir apakah dia sedang buang air besar, hingga membutuhkan waktu selama ini?

Saat itu pula, aku melihat Ryo-sama berjalan keluar cafe.

“Bagaimana?”

“Oke... ayo jalan!”
ujarnya sambil berjalan melewatiku.

Aku sempat tersadar, dan mengernyit dengan benak bertanya-tanya ketika para bocah-bocah bajingan amatiran tadi sedang menatap ke arah kami. Bukan... dia menatap ke arah Ryo-sama yang sedang berjalan ke motor.

Apa yang terjadi dengan Ryo-sama di dalam toilet tadi ya?

Apa dia baru saja membuat masalah?

“Kazu... sampai kapan kamu berdiri diam di situ? Come on... Saya sudah mengantuk”

“Oke... oke!”
aku pun berlari menuju ke tempatnya berada. Ke tempat parkiran motor.

Aku menatapnya sesaat, sepertinya aku yang salah terlalu curiga dengannya. Karena jika memang dia sudah membuat masalah, tidak mungkin para rombongan bajingan amatiran lainnya itu yang masih tertinggal di meja tidak bereaksi sama sekali. Aku pun sempat melihat sekali lagi ke dalam cafe, mereka semua ternyata tidak lagi menatap ke arah Ryo-sama, malah sudah sibuk dengan dunia mereka kembali.

“Hahahaha! Kamu pikir saya sudah membuat masalah dengan mereka? Ternyata duduk bermain game di dalam toilet selama 5 menit, berhasil membuatmu menjadi sarana buat menghilangkan kebosanan saya lagi, Kazu”



FUCK YOU, RYO!




Still Continued...
 

william_gonzales

Semprot Addict
Daftar
11 Jul 2017
Post
426
Like diterima
910
Si Kazu ini pinter, tp terlalu polos atau kuatir ama si Ryo, jadi gampang dikibulin dahh. Sesuai pov si Kazu sekarang, ane kira mirip ama novel serlok homs. Keren. Tetap semangat ngetik dan ngasih give away apdetan ye, masters. Sehat selalu. Have a nice day 4 yaall.
 
Sbo Hoki Online   Senior Bola Online
Jav Toys
9 club   Gaple Online Indonesia
Pasang iklan hanya lewat CONTACT US
Top
Semprot is now part of PAGCOR