King 4D - Agen Bola   Poker Ace
9Club Situs Judi Online Terpercaya
Asus Togel online   Premier 189
Mandala Toto   Web Online
Web Online   Web Online
Web Online   Web Online
Web Online
Pasang iklan, hanya lewat Contact Us.
Waspada penipuan iklan. Klik di sini untuk melihat daftar penipu.

DRAMA KURUOSHI

Indosniper

Phat-Phat

Semprot Lover
Thread Starter
Daftar
23 Apr 2020
Post
205
Like diterima
3.900
PART 9



Penting!
Catatan Penulis :



Setiap dialog berwarna ‘Biru’ antara Kazuya – Ryo, akan menggunakan bahasa indonesia yang pada dasarnya itu adalah dialog bahasa Jepang. Biar gak ribet aja...

Selain itu, semua dialog menggunakan campuran inggris, indo dan japan.
Semoga dapat di mengerti.




POV Kazuya



Hari ini adalah hari pertama kami menempuh pendidikan tinggi di negara Indonesia. Entah apa yang akan terjadi di hari pertama ini. Tentu saja aku secara pribadi berharap tidak ada lagi insiden-insiden seperti yang kami alami saat melakukan pendafataran beberapa minggu lalu. Sangat penting bagiku untuk meningkatkan kewaspadaanku agar aku dapat selalu siap bila ada insiden lain. Terutama agar dapat bereaksi dengan cepat ketika Ryo-sama di hadapkan dalam situasi yang memancing emosinya. Dan satu lagi, aku berharap dalam waktu dekat tidak bertemu dengan gadis galak yang menyebabkan emosi Ryo-sama meningkat dan hampir membuat gadis galak itu babak belur. Akibat mulutnya yang pedis dan keras ketika memaki-makinya sungguh, bagi ku itu sudah sangat keterlaluan. Aku-pun ingin sekali memberikan pelajaran pada mulutnya itu, namun lagi-lagi saat itu yang harus ku lakukan adalah menahan emosi Ryo-sama agar tidak membuat kekacauan sesuai perintah dari Ny. Hayashibara-sama. Tak dapat di bayangkan, di hari pendaftaran saja Ryo-sama sudah mendapat masalah. Phef!

Bagaimana untuk hari-hari selanjutnya?

Entahlah...

Aku hanya akan bekerja semaksimal mungkin, dan tak memberi celah hingga membuat Ryo-sama melakukan tindakan kekerasan nantinya.

Oia...

Beberapa minggu belakangan ini aku intens belajar memahami bahasa Indonesia. Berlatih bersama pak Man untuk lebih memperlancar gaya bicaraku, walau masih terdengar kaku. Dan waktu beberapa minggu tentu tidaklah cukup membuat lidahku terbiasa mengucapkan kalimat dalam bahasa Indonesia. Tapi cukuplah untuk dapat memahami 70% pembicaraan lawan bicara nantinya.

Aku dan Ryo-sama sempat berdiskusi mengenai pakaian yang akan kami kenakan sehari-hari beberapa waktu lalu, yang tentu saja langsung di pertanyakan olehnya.

“Kostum? Kostum apa maksudmu, Kazu?” Tanyanya waktu itu dengan ekspresi wajah yang jelas terlihat kebingungan.

“Kita di kirim kesini untuk menenangkan anda, Ryo. Membuat anda belajar untuk menahan emosi anda yang terkadang terlalu berlebihan. Jadi aku rasa cukup penting bagi kita untuk menyembunyikan diri kita yang sebenarnya. Agar tidak menarik perhatian.” Jelasku.

“Apa kita terlalu menarik perhatian, menurutmu?” Tanyanya yang sepertinya masih belum merasakan adanya kegunaan atas saranku ini.

“Postur tubuh atletis. Garis wajah keras serta tatapan tajam. Pakaian anda yang menunjukkan status sosial tinggi. Belum lagi wajahku yang jelas menunjukkan bahwa aku adalah orang asing. Anda, dan juga aku hanya akan menjadi perhatian orang-orang dengan tipe seperti yang kita temui waktu itu di mall. Menjadi perhatian mereka, artinya pasti nanti akan timbul gesekan dengan anda. Yang pada akhirnya akan menimbulkan masalah.” Ujarku berusaha menjelaskan kepadanya dengan cara yang simple, sederhana namun aku yakin seorang Ryo-sama akan mudah mengerti.

“Apa kita harus takut bergesekkan dengan orang-orang seperti mereka? Tinggal kita patahkan saja kaki mereka, gampang kan?” Cetus Ryo-sama persis seperti yang telah kuperkirakan.

“Benar. Tepat sekali. Tapi justru itulah yang berusaha aku hindari. Kita tidak diharapakan Hayashibara-sama untuk membuat masalah. Kita disini untuk menempa mental dan melatih emosimu, Ryo. Kamu tentu masih ingat dengan pesan nyonya, bukan?” Ujarku kembali mengulangi alasan utamanya ia di kirim ke sini, berusaha membuatnya memahami maksud dan tujuanku kepadanya.

“Yeah, ya whatever.” Jawabnya cuek sambil mengalihkan pandangannya dariku.

Saat aku mulai beranggapan ia akan menerima saranku, harusnya aku menyadari bahwa ia tidak pernah menyerah adu debat semudah ini. “Tapi coba saya tanya ke kamu satu hal. Apa dengan kita berpenampilan tak menonjol seperti saranmu, apa ada jaminan kita tidak akan menjadi perhatian atau gesekan dengan mereka?”

Aku tersentak mendengar pertanyaannya saat itu. Memang benar apa yang kuusulkan kepadanya ini hanya merupakan hipotesaku saja. Tidak ada keyakinan dan juga jaminan 100% bahwa kami tidak menjadi pusat perhatian pada akhirnya. Yang berujung, terjadi gesekan-gesekan dengan kelompok seperti mereka.

“Tidak ada. Memang tidak ada jaminan 100%. Tapi setidaknya kita bisa meminimalisir kemungkinan itu, kan?” Aku berusaha mempertahankan usulku itu.

“Dan menurutmu kemungkinan kita menjadi pusat perhatian dan bersinggungan dengan mereka jika saja kita tetap memakai pakaian normal seperti sekarang, lebih besar?” Tanyanya lagi.

“Tentu saja, Ryo. Itu sudah jelas sekali bukan?” Jawabku penuh keyakinan. Jelas sekali gaya berpakaian kami cukup berbeda dari gaya berpakaian Mahasiswa di Universitas itu. Setidaknya itu yang kulihat saat mengamati pola gaya hidup dan berpakaian mereka.

“Kalau begitu, apa saranmu untuk kostum yang harus saya gunakan selama kita kuliah disana?” Tanya Ryo-sama dengan senyuman meremehkan yang tergurat di bibirnya. Ia jelas sedang menertawakan usulku ini. Tapi selama usulku ini dapat menghindarkan kami dari berbagai masalah nantinya, aku lebih rela di tertawakan olehnya.

“Aku kepikiran bila kita mengenakan kostum sederhana, berpenampilan seperti kutu buku. Atau seperti orang-orang cupu. Apapun yang tidak menarik perhatian.”

Dia hanya melihatku sambil terus tersenyum. Ia sepertinya benar-benar meremehkan dan menertawakan usulku itu. Membuat hatiku jadi geram sendiri. Aku memberikan usul ini demi kepentingannya sendiri, dan ia malah menertawakanku.

“Aku tahu ideku ini konyol. Tapi setidaknya kita bisa menghindari banyak perhatian bila kita berpakaian seperti itu.” Ujarku kemudian setelah merasa jengah sendiri pada akhirnya.

“Oh? Kamu sendiri yang mengutarakan ide itu. Saya tidak mengatakan apapun, Kazu.” Ujarnya dengan ekspresi menyeringai.

“Memang tidak. Tapi ekspresi wajahmu itu yang mengatakan betapa konyolnya usulku ini.” Ujarku tidak menutupi lagi pendapatku.

“Yah saya tidak bisa memberi komentar kalau kamu berpendapat kaya gitu, sih. Tapi saya ingin bilang, usulmu ini justru memberikan saya sebuah ide, Kazu.” Aku cukup terperanjat mendengar ucapannya ini.


Usul….yang seperti apa yang dia maksud? Batinku berusaha memikirkan apakah ide yang ada di kepalanya itu merupakan ide yang baik, atau kebalikannya.

Dan lagi...

Senyuman yang kini di tunjukkan olehnya, seolah-olah sedang mengartikan sesuatu.

Aku sangat sulit untuk menebak apa isi kepala pria di hadapanku ini. Cara berfikirnya sangat sulit untuk di terka, dan kenyataan yang selama ini terjadi selalu saja berlawanan arah dengan apa yang ku pikirkan, apa yang ku tebak sebelumnya. Semuanya tak pernah ada yang berhasil ku tebak, sesuatu yang ada dalam pikirannya. Errrr! Ryo-sama apa yang sedang kamu rencanakan saat ini?

“Oh? Boleh aku tau ide apa yang ada dikepalamu, Ryo?” Aku mengambil resiko menanyakan hal ini kepadanya. Ia biasanya tidak suka ide-idenya di pertanyakan terlalu gamblang.

“Intinya... saya sependapat denganmu bahwa kita harus berpenampilan yang tidak menarik perhatian khusus Mahasiswa-mahasiswa se-Kampus.” Ujarnya dengan ekspresi wajah misterius dengan sebuah senyum simpul di bibirnya.

Ia sedang merencanakan sesuatu. Itu sudah sangat pasti. Batinku lagi.

“Jadi, anda setuju dengan usulku, memakai pakaian bergaya ala kutu buku?” Tanyaku untuk sekedar memastikan.

“Kalau memang demikian usulmu, kita harus mulai mencari dan membeli model pakaian seperti itu, bukan? Baik kamu dan saya tentu tidak pernah memiliki model pakaian seperti itu, kan?” Tanyanya balik membuatku menganggukkan kepala, menyetujui pendapatnya itu.

“Benar, kita mulai harus mencari model-model pakaian seperti itu.” Jawabku kemudian.

“Baiklah. Tapi kalau kamu ingin saya mengikuti saranmu ini, saya punya satu syarat!” ujarnya menahan senyum, sambil menatapku.

“Apa?”

“Saya ingin belanja pakaian sendiri. Berikan saja saya sebagian uang mama untuk saya berbelanja, Kazu.”
Ujarnya dengan wajah terlihat menahan senyum, yang justru membuat kecurigaanku bertambah. Entah apakah ia benar-benar menyetujui saran konyolku dan benar-benar membeli pakaian ala kutu buku?

Aku seperti berada di sebuah dilema saat itu. Walau akhirnya aku memutuskan untuk membiarkannya mencari sendiri pakaian “kutu buku” yang sesuai seleranya itu. Dengan persyaratan tentunya. “Tapi kamu harus berjanji untuk menjalankan usulku ini, Ryo? Aku tidak bisa membiarkanmu membuat masalah baru lagi nantinya.”

Ia langsung tersenyum lebar dan menghampiriku sambil menepuk ringan pundakku. “Saya janji, Kazu. Saya suka dengan idemu ini. Konyol memang, tapi saya akhirnya juga paham ini memang di perlukan. Percayalah kepada saya, Kazu. Saya akan mengikuti usulmu ini.”

Aku melihat walaupun ia tersenyum, tapi sorot matanya memang benar-benar terlihat tajam dan serius. Aku hanya dapat berharap bahwa ide yang ada dikepalanya saat itu bukanlah ide buruk yang menimbulkan kekacauan pada akhirnya. Dan setelahnya aku menghabiskan cukup banyak waktu untuk mencari dan mengumpulkan beberapa pasang pakaian dan celana yang akan membuatku terlihat seperti seorang Mahasiswa kutu buku yang tidak menarik perhatian siapapun. Termasuk membeli sebuah kaca mata berbingkai tebal.

Begitu pula Ryo-sama. Dan sesuai janjiku, aku membiarkannya pergi mencari sendiri pakaian, celana atau apapun yang ia butuhkan untuk merubah imej dirinya yang “mewah” itu. Walau setengah bagian dariku merasakan penasaran, pakaian model apa yang sebenarnya ia cari.

...


Pagi ini...

Aku masih berada di dalam appartemen. Setelah selesai mandi, berpakaian. Aku lalu berjalan menghampiri kaca besar yang sengaja ku letakkan di dinding dalam kamar. Aku memperhatikan penampilanku sendiri di kaca. Kemeja berwarna biru langit lengan pendek, yang kupadukan dengan celana kain serta sepatu skets berwarna hitam. Tak lupa sebuah kaca mata berbingkai tebal menghiasi wajahku.

Hm, terlihat bagus dan culun, tapi masih terlihat casual. Ujarku memuji pemilihan kostum ini. Menurutku penampilan seperti ini sudah cukup agar tidak terlihat menonjol nantinya di Kampus. Setidaknya begitulah pemikiranku, walau aku juga mengakui bahwa benar apa yang Ryo-sama katakan. Bahwa dengan penampilan seperti ini pun tidak memberikan jaminan 100% kami tidak akan menjadi pusat perhatian dan bersinggungan dengan kumpulan orang-orang bermasalah.

Terus terang aku benar-benar penasaran bagaimana penampilan Ryo-sama nantinya. Kostum apakah yang ia pilih agar berpenampilan tidak menonjol di kampus. Aku terus memperhatikan ruangannya melalui CCTV, namun aku tidak menemukan sedikitpun petunjuk. Ia seperti menutup diri di dalam kamarnya. Menghindari pantauanku. Dia memang telah mengatakannya kepadaku bahwa dia ingin memberiku sebuah kejutan. Dia memang akan menjalankan usulku, dengan caranya sendiri yang ia jamin tidak akan memberikan perhatian nantinya. Semoga saja.

Aku baru saja hendak menghubungi Ryo-sama saat menyadari bahwa sudah hampir waktunya kami berangkat agar bisa tiba jauh lebih awal agar dapat melihat situasi terlebih dahulu, sebelum ia yang justru mendahuluiku. “Ha I, moshi-moshi.”

Kamu sudah siap, Kazu? Tanyanya langsung.

“Aku baru saja hendak menghubungimu, Ryo.”

Ha! Nah, seperti yang sudah saya katakan bahwa ada kejutan buat kamu, jadi angkat pantatmu dari kursi dan pergilah ke lobby untuk menunggu. Tidak boleh mengintip melalui CCTV.
Serunya terdengar cukup bersemangat.

Sial, ia malah sengaja semakin membuatku penasaran. Tapi aku tidak memiliki pilihan selain menurutinya. Pikirku dalam hati. Sambil berharap ia tidak menipuku lagi.


Maka tanpa menunggu perintahnya untuk kedua kalinya, aku pun segera turun ke lantai bawah untuk menunggunya. Dan saat aku baru keluar kamar, aku sempat melihat ke arah pintu ruangannya. Rasa penasaran benar-benar menguasaiku, sebelum aku tersenyum sambil geleng-geleng kepala.

.

.


Hampir 5 menit aku menunggu sebelum suara denting lift menandakan ada seseorang yang baru tiba di lobby di balik pintu lift ini. Tanpa dapat kucegah kedua mataku menatap lekat-lekat ke arah pintu tersebut dengan jantung yang berdegup cukup keras.

.

.


Pintu yang tidak langsung terbuka malah menambah ketidak sabaranku. Ingin rasanya aku menendang pintu lift ini agar langsung terbuka dan memperlihatkan sosok dibaliknya. Dan saat pintu tersebut akhirnya terbuka, aku langsung menemukan seseorang yang langsung tersenyum setelah menemukan sosokku sedang menunggunya.

Dia?

Jika aku hanya sebentar saja mengenalnya, mungkin aku akan mudah tertipu dengan penampilannya yang sekarang. Tapi aku sudah bertahun-tahun mengenalnya. Dan senyuman itu, adalah senyuman khas keangkuhan yang di miliki hanya oleh satu orang pria saja yang aku kenal dalam hidupku.

Ryo-sama...

Tidak.

Ini, aku yang memang sedang salah lihat atau bagaimana?

Dan kostum yang ia kenakan itu…..

“So, bagaimana menurutmu, Kazu?” Tanyanya sambil melebarkan sedikit kedua tangannya.



WHAT THE
?



Aku hanya dapat mengucapkan kalimat itu dalam batinku, sementara mulutku justru terasa kelu dan hanya dapat terbuka tanpa dapat berbicara. Kedua mataku mau tak mau membesar saat melihat penampilannya ini.

Wajah terpanaku bahkan bertahan beberapa lama sampai hampir saja tawaku pecah sebelum buru-buru menutup mulutku. Melihat sosok Ryo-sama yang terlihat…..sangat berbeda dari dirinya. Ia memang benar-benar mengikuti usulku untuk merubah penampilannya. Tapi ini sungguh di luar dugaan.

Rambut klimisnya ia sisir dengan belahan pinggir. Lalu sebuah kemeja kebesaran yang terlihat lusuh membungkus tubuh atletisnya, di masukkan ke dalam celana berbahan flanel panjang celananya hanya sampai mata kaki. Kemudian sepatu sneakers canvas berwarna putih dekil menjadi pilihannya untuk memadukan kemeja lusuhnya itu.

Ia tidak mengenakan kaca mata berbingkai tebal sepertiku. Tapi yang membuatku sangat terpana adalah ia mengenakan…..sebuah tongkat alat bantu berjalan yang terselip di ketiak kanannya.


FUCKKKK!!!


Ryo-sama, merubah penampilannya menjadi pria cacat.



Still Continued...
 
Sbo Hoki Online   Senior Bola Online
Jav Toys
9 club   Gaple Online Indonesia
Pasang iklan hanya lewat CONTACT US
Top
Semprot is now part of PAGCOR