King 4D - Agen Bola   Poker Ace
9Club Situs Judi Online Terpercaya
Asus Togel online   Premier 189
Mandala Toto   Web Online
Web Online   Web Online
Web Online   Web Online
Web Online
Pasang iklan, hanya lewat Contact Us.
Waspada penipuan iklan. Klik di sini untuk melihat daftar penipu.

DRAMA KURUOSHI

Indosniper

Chokychoky

Tukang Semprot
Daftar
9 Jan 2013
Post
1.009
Like diterima
632
gak sabar nunggu waktu perkuliahan mereka, ceritanya keren...
lanjutka suhu..
 

jgz_83

Semprot Lover
Daftar
24 Jul 2017
Post
228
Like diterima
230
Wohoho..ada yg baru mantabb om 44
 

Gen66

Semprot Holic
Daftar
6 Oct 2018
Post
394
Like diterima
781
Masih meraba-raba smbl menunggu kejutan dr suhu,,,akan ada kejadian apa di kampus stlh part 9 nnti
 

Phat-Phat

Semprot Lover
Thread Starter
Daftar
23 Apr 2020
Post
214
Like diterima
4.131
PART 10



Penting!
Catatan Penulis :


Setiap dialog berwarna ‘Biru’ antara Kazuya – Ryo, akan menggunakan bahasa indonesia yang pada dasarnya itu adalah dialog bahasa Jepang. Biar gak ribet aja...

Selain itu, semua dialog menggunakan campuran inggris, indo dan japan.
Semoga dapat di mengerti.



POV Kazuya



“Oraaaa!! Malah ketawa. Gimana menurutmu, Kazu? Sesuai kan dengan usulmu kemarin itu?” Tanyanya dengan gaya angkuhnya. Namun karena ia sedang berpenampilan konyol seperti ini, membuatku benar-benar tidak dapat menahan tawaku.

Aku merasa penampilanku ini sudah terlihat culun dan kutu buku. Namun penampilan Ryo-sama benar-benar berhasil mengubah imej menakutkannya. Dan menggunakan tongkat kruk seperti itu, menambah kesan “lemah dan bodoh”-nya.

Setelah berhasil menahan diriku untuk tidak tertawa, aku baru dapat menjawab pertanyaannya itu. Kuawali dengan berdehem untuk melancarkan tenggorokanku, “Maaf. Penampilanmu benar-benar diluar dugaanku. Memang terlihat kutu buku dan lemah, tapi……..”

Aku menggantung ucapanku sebelum melanjutkannya kembali setelah memikirkan ulang apa yang hendak kutanyakan ini kepadanya. “Apa kamu serius ingin pergi ke kampus dengan berpenampilan seperti ini?”

Penampilan ini bukan hanya tidak menonjol di kampus. Tapi tidak bakal ada orang yang akan memperdulikannya. Hahahaha!

“Why not... biar kamu puas sekalian haha!” Serunya tanpa merasa sungkan atau canggung. Tentu ini merupakan hal yang mencengangkan mengingat aura menakutkan yang selalu ia pancarkan biasanya. Tidak akan ada satu pun keluarga Kezt-gumi yang akan percaya Ryo-sama dapat berpenampilan seperti ini.

“Ya, memang itu tujuanku.Tapi…. gak seperti ini juga, Ryo. Ini sama saja akan mempermalukan diri kamu sendiri.” Balasku.

“Yah... setidaknya dengan saya berpenampilan cacat di kampus, bajingan-bajingan yang kamu maksud itu akan sungkan dan merasa kasihan kepada saya. Jadi tentu mereka gak akan menyentuh saya. Bukan begitu?”

“Hm, mungkin juga. Setidaknya itu yang akan aku lakukan ketika melihat lawan yang sedang cacat atau ketidak mampuan untuk melakukan perlawanan sejak awal. Aku tidak akan melakukan apa-apa, dan justru membiarkannya pergi untuk melanjutkan hidupnya. Kecuali bila ada perintah.”

“Exactly my point.”
Cetusnya sambil tersenyum angkuh. Walau bagaimanapun, ia tetaplah Ryo Sandjaja yang memiliki aura keangkuhan dan ketangguhan.

“Yah….kalau memang kamu sudah yakin berpenampilan seperti ini, aku tidak akan berkomentar lagi.” Ujarku kemudian sambil tersenyum pengertian.

“Jadi, sudah ditentukan. Ayo kita berangkat.” Serunya sebelum mulai melangkahkan langkahnya yang terlihat pincang sebelah.

Entah apa yang akan dikatakan Hayashibara-sama dan keluarga Kezt-gumi bila melihat penampilannya ini. Batinku yang kembali menahan tawa.



---000---



Saat kami tiba di Universitas Bina Nasionalis, suasana sudah terlihat sangat ramai. Dipenuhi oleh tidak hanya para Mahasiswa baru, namun juga Mahasiswa tingkat 2 ke atas juga sudah masuk semua.

Benar apa kata pak Man saat kami baru saja masuk ke dalam mobil. Nampaknya memang semua Mahasiswa baru harus menggunakan pakaian hitam-putih. Untung saja tadi Pak Man langsung mengingatkan kami dan dengan sigap langsung membawa kami ke sebuah pasar untuk membeli baju kemeja putih serta celana panjang hitam. Karena belanjanya di pasar, jadi dapat di pastikan pakaian kami terlihat sangat lusu dan belum di strika. Hahaha! Menambah kesan, betapa cupunya penampilanku serta Ryo-sama pagi ini.

Jika tidak, jelas kami berdua selain akan menjadi bahan tertawaan para Mahasiswa baru lainnya, juga akan menjadi sasaran para senior karena salah kostum.

Informasi mengenai peraturan ini memang sudah kami dapatkan setelah melakukan pendaftaran masuk bulan lalu. Hanya saja karena bahasa Indonesiaku belum bagus, dan Ryo-sama juga bukan orang yang perduli akan peraturan. Pada akhirnya kami malah lebih memikirkan masalah kostum yang akan kami kenakan selama kuliah di tempat ini.

Aku memperhatikan salah seorang Mahasiswa senior yang mengarahkan para Mahasiswa baru. Selama dua bulan berlatih dan mempelajari bahasa Indonesia dengan pak Man membuatku cukup memahami setiap kalimat yang ia ucapkan.

Ia sedang mengarahkan para Mahasiswa baru termasuk kami berdua untuk berbaris. Aku dapat memahami setiap pembicaraan di sekelilingku, baik dari mereka yang menggunakan pakaian yang sama dengan kami, maupun para Mahasiswa senior yang mengenakan semacam jas berwarna hitam dengan logo Universitas tersemat pada dada kirinya.

“Hoi... lo, nama lo siapa?” Seru salah satu dari Mahasiswa senior berjenis kelamin Laki-laki. Aku yang sedang memperhatikan suasana sekeliling sekaligus mencuri dengar tiap obrolan langsung terkejut mendengar seruannya itu. Terlebih saat dia mengarahkan telunjuk kanannya pada Ryo-sama.

Aku sempat menoleh ke arahnya dan melihat reaksi Ryo-sama hanya tersenyum santai dan tetap bersikap tenang. Aku berharap Ryo-sama dapat menjaga emosi dan suasana hatinya, serta tidak terjadi insiden seperti saat pendaftaran lalu.


“Hei nama lo siapa?” Seru Mahasiswa senior itu saat ia sudah berada beberapa langkah di hadapan Ryo-sama.

Meski demikian, aku tetap memasang sikap yang siap setiap saat ketika terjadi gesekan antara mereka. Dan aku harus bisa bergerak cepat untuk menahan agar tidak terjadi kekerasan yang jelas dan pasti kekerasan itu datangnya dari Ryo-sama, bukan dari mahasiswa senior itu. Jika aku melihat sosoknya itu, mungkin bisa bertarung tapi tidak memiliki kemampuan bertarung yang selayaknya. Sungguh berbeda dengan sosok Ryo-sama, yang jika ia merubah penampilannya ke kondisi semula sudah jelas terlihat kokoh dan tangguh yang hanya sekali memukul akan menjatuhkan lawannya yang tak berkemampuan. Yah tentunya berbeda jika dia berhadapan dengan orang sepertiku, butuh waktu dan setidaknya akan ada perlawanan di awal.

“Saya?” Rio menunjuk dirinya dengan memakai bahasa indonesia.

“Iya... elu lah, lo kira siapa? Maju kesini lo!” Perintah mahasiswa senior itu kemudian.

“Ryo-sama?” gumamku ke Ryo.

Dia menganggukan kepalanya kepadaku dengan singkat, meski dia tak menolehkan kepalanya ke arahku. “Tenang saja, kita lihat apa permainan mereka dulu.”

Dengan berjalan terpincang-pincang, Ryo-sama berjalan mendekati pria itu.

Aku kembali fokus memperhatikan kejadian itu. Ryo-sama saat ini sudah berdiri di hadapan mahasiswa senior yang jika ku hitung jaraknya tidak lebih dari 3 meter dariku berada. Jadi jika ku perhitungkan jarak dan langkah kakiku agar bisa mencapai tempat mereka berada nantinya, tidak butuh waktu sedetik. Well! Aku hanya bisa menunggu saja.

“A-ada apa?” Tanya Ryo yang sempat ku dengar, dengan nada terdengar takut-takut.

“Nama lo siapa, emang lo dari tadi gak denger ya, apa yang gue bilang... atau jangan-jangan lo budek yah?” Aku melihat Ryo-sama mengernyitkan dahinya mendengar pertanyaan orang itu. Mungkin dia sedang mencerna kata-kata berbahasa indonesia yang diucapkan pria yang sedang berkacak pinggang di hadapannya.

“Ryo. Nama saya Ryo.”

“Oh Ryo. Nama yang keren sih, tapi sayang. Elo pincang. Hahahaha!” Serunya cukup kasar dan meremehkan sambil tertawa. Dan teman-temannya yang juga mengenakan jas berwarna hitam itu akhirnya juga ikutan tertawa.

“Pincang sih…. Tapi, face-nya lumayan ganteng juga lho, Ben.” Ujar seorang gadis menyela dari belakang mereka sebelum ia maju ke depan dan berjalan mendekat ke arah Ryo-sama.

“Kaki pengkor sengklek, muka gay gitu. Jangan-jangan kalo ngaceng juga karena bantuan tuh tongkatnya. BWAHAHAHAHAHA.” Cetus Mahasiswa senior lainnya yang langsung di ikuti tawa yang lain.

Aku kurang memahami beberapa kata yang terdengar asing di telingaku, jadi aku kurang dapat memahami apa yang mereka ucapkan. Namun aku menyadari bahwa mereka semua sedang menjadikan Ryo-sama bahan bully-an mereka.

Dan hal itu membuatku marah sekaligus khawatir suasana hati Ryo-sama akan terpancing kembali seperti waktu itu.

“HEH! Emang bener, fungsi tongkat yang lo pake itu juga buat nahan lu ngaceng?” Bentak salah seorang mahasiswi senior yang berwajah galak. “Ato jangan-jangan tuh tongkat lu fungsinya buat gantiin konti lu ya? Bwahahahaha.” Sambungnya cepat yang kembali di sambut tawa para Mahasiswa senior lainnya.

“Yah lumayan lah cewenya kalo emang bener pake tongkat, Sis. Daripada ngewe pake konti dia sendiri. Tar malah disangka ngewe ama bocah SD lagi. BWAHAHAHAHA.”

“Eh eh ehh. Emang dia punya cewe? Gua kira tuh tongkat yang dijadiin cewenya ama dia, buat tusbolin lobang bo’olnya sendiri. BWAHAHAHAHA.”

Satu per satu mereka saling menyambungkan kalimat saat terus mengolok-olok penampilan Ryo-sama. Walau aku tidak dapat memahami dengan sempurna tiap perkataan mereka namun aku paham apa yang sedang mereka lakukan. Emosiku sudah langsung memuncak, terlebih karena Ryo-sama berpenampilan seperti itu karena mengikuti saran dariku untuk menghindari perhatian. Aku tidak menyangka penampilannya itu justru menjadikan dia pusat perhatian para Mahasiswa senior untuk diolok-olok. Aku jadi merasa bersalah. Kepalan tanganku sudah bersiap meluncur dan menghantam rahang mereka satu per satu.

Namun aku melihat Ryo-sama hanya diam saja dan tetap bersikap tenang. Matanya bahkan tidak memberikan sorotan tajam penuh ancaman seperti yang biasa ia lakukan bila emosinya terpancing.

Apa Ryo-sama tidak paham dengan ucapan mereka sehingga dapat tetap bersikap tenang seperti itu? Pikirku. Dan ia sempat menoleh sesaat ke arahku. Dan terus terang, aku tidak tahu harus mengatakan apa kepadanya. Mengingat emosiku pun sedang terpancing. Namun aku langsung terkesiap saat melihat senyuman singkatnya sebelum ia kembali mengalihkan pandangannya kepada mereka yang sedang mem-bully-nya.

Tiba-tiba aku mendengar suara seorang wanita yang menghardik diriku saat aku sedang memperhatikan Ryo-sama. “Eh, mata lo ngapain liatin kesana? Mau gua colok?” Serunya dengan sorotan mata tajam ke arahku.

Walau aku juga kurang memahami bahasa slang mereka, namun aku cukup memahami ia sedang menghardikku karena aku sedang memperhatikan Ryo-sama. Aku tidak punya pilihan lain selain mengalihkan pandanganku darinya untuk sementara waktu. Sehingga aku tidak tahu lagi apa yang sedang terjadi selanjutnya kepada Ryo-sama.

“Lo... ke sini,”

“Me?” ujarku sambil menunjuk wajahku sendiri.

“Iyalah bego... sok-sok an me... mie goreng kali. Hahahahaha!” Bangsat! Aku mengumpat dalam hati karena merasa kali ini giliranku mendapat olok-olokan dari mahasiswa senior lainnya.

“Eh sis... sepertinya dia bukan orang indo deh, gue sempat denger sih dari panitia pendaftaran jika salah satu mahasiswa baru berasal dari jepang”

“Wanjirrrr... serius lo?”

“Iya lah”

Aku diam bukan karena memang sengaja diam. Tapi aku masih berusaha mencerna apa yang sedang mereka bicarakan. Beberapa penggal kata aku cukup mengerti, namun yang lainnya masih asing bagiku. Ya! Setidaknya, dengan diam dan mendengar serta menangkap semua kata lalu menyimpannya di memory otak jauh lebih baik saat ini. Setelah pulang nanti maka akan ku tanyakan ke Pak Man arti dari setiap kata yang tak ku mengerti.

Dan yang pasti, aku belum sempat lagi memperhatikan apa yang terjadi dengan Ryo-sama.

“Eh bego... jangan-jangan lo bintang JAV ya?”

“HAHAHAHAHAHAHAH!”

“Nah betul tuh, kayaknya mukanya gak asing...”

“Nah loh, jangan sampai lo emang pemeran JAV ya?”

Aku mencoba tersenyum saat mereka mengatakan satu kata ‘JAV’ Japanese Adult Video’. Dan beberapa kata lainnya cukup ku mengerti.

“HEI bocah JAV, ngapain lo malah ketawa-ketiwi?” damn! Seorang mahasiswa senior, jenis kelaminnya tentu saja laki-laki, yang sempat ku lihat hanya duduk saja di meja yang tak jauh dari tempat kami berbaris, tiba-tiba datang dan menghampiri kami semua. Tubuhnya cukup kekar, juga tingginya lebih tinggi dariku.

Aku tanpa sengaja mengalihkan pandanganku dari yang lain, dan terpusat menatap sosok pria itu.

“APA? KENAPA LO LIAT-LIAT?”

Apa yang salah dariku? Kan dia yang bertanya, semestinya kan aku harus melihat ke dia. Karena sungguh tak sopan jika ada orang yang sedang berbicara dengan kita, justru kita mengabaikannya. Setidaknya itu yang aku pelajari dari Pak Man tentang tata krama dan sopan santun di negara ini.

“Aku... ngg... aku me-lihat karena... ngg... kamu berbicara denganku.. ngg! Bukan be- begitu kan?” setelah berusaha memikirkan tiap kata yang harus ku keluarkan, akhirnya berhasil dengan hasilnya yah seperti tadi. Maklum masih belajar. Hahaha!

Sesaat...

Mungkin sedetik, mereka terdiam. Semua mahasiswa di dekatku berada pada menatapku.

Apa ada yang salah dari ucapanku barusan?

Lalu detik kemudian...

“HAHAHAHAHAHAHA... WANJIRRR, KAKU AMAT CARA NGOMONG LO BOCAH!”

“SIALAN... HAHAHAHA!”

Oke... sepertinya aku sulit menghindari bully-an dari mereka.

Lalu ketika aku tanpa sengaja melihat ke arah Ryo-sama, tiba-tiba saja...



BUGHHH!!!



Aku harus melakukan sesuatu sekarang ini, sebelum...



Still Continued...
 
Sbo Hoki Online   Senior Bola Online
Jav Toys
9 club   Gaple Online Indonesia
Pasang iklan hanya lewat CONTACT US
Top
Semprot is now part of PAGCOR