Live Score Today
Live Score Today
Toto Alpha - Agen Bola   Togel Matrix
9Club Situs Judi Online Terpercaya
96ace Situs Judi Online Terpercaya
Tahun QQ, Agen Bola   Agen Togel Online (indoDingDong)
Asus Togel online   Happistar online
Bandar 808 online   Jaya Gaming online
Nagawin Daftar Sbobet Online   Bandar online
Bandar online   Bandar online
Bandar online   Bandar online
Bandar online   Bandar online
Pasang iklan, hanya lewat Contact Us, bukan lewat WA / BBM / Line / Wechat / dll.
Waspada penipuan iklan. Klik di sini untuk melihat daftar penipu.

DRAMA LIFE IS REAL (SEASON 2)

Nicefor

Calon Suhu Semprot
Thread Starter
Daftar
29 Nov 2017
Post
2.637
Like diterima
40.654
LIFE IS REAL (SEASON 2)


INDEKS

PROLOG
CHAPTER 1: MASALAH ITU MUNCUL KEMBALI

CHAPTER 2: CINTA BERSEMI
CHAPTER 3: MARABAHAYA
CHAPTER 4: OH MERTUA
CHAPTER 5: CINTA BERSEMI
CHAPTER 6: DENDAM MENGALAHKAN SEGALANYA
CHAPTER 7: TERPERDAYA
CHAPTER 8: BERAKHIR MENGENASKAN
CHAPTER 9: DILEMA
CHAPTER 10 : STRATEGI
CHAPTER 11: PERSETERUAN
CHAPTER 12: ADU STRATEGI
CHAPTER 13: RENCANA
CHAPTER 14: TAK TERDUGA
CHAPTER 15: TITIK BALIK
CHAPTER 16: INFORMASI PENTING
CHAPTER 17: PERJALANAN KE USA
CHAPTER 18: PERJALANAN KE USA 2
CHAPTER 19: TITIK NADIR
CHAPTER 20: DARI AWAL
CHAPTER 21: DITEMUKAN
CHAPTER 22: AWAL MISI
CHAPTER 23: JEBAKAN

-----ooo-----​

PROLOG

Roda kehidupan terus berputar dan semua mengalami perubahan. Bukan hanya diri manusia, tetapi juga lingkungan, dan berbagai hal yang menyertainya. Dalam kehidupan manusia, tidak ada tindakan yang tidak meninggalkan jejak. Setiap jejak yang ditinggalkan dari beragam niat, beragam motif, beragam pikiran, beragam perasaan. Jejak ada dalam dimensi waktu. Rekaman jejak terlihat saat kita menoleh kebelakang, melirik dari samping, atau melihat dari kaca spion. Walau sebentar dilirik, jejak mengenalkan pada diri seseorang pada kebanggaan, kegembiraan, kekecewaan, kepedihan, keinginan, tekad, kelumpuhan, ketakberdayaan.

Jejak kebahagiaan dan kegembiraan tak perlu lagi dibicarakan. Namun, jejak kekecewaan dan kepedihan akan menghasilkan malapetaka. Seringkali banyak orang yang kecewa, sakit hati dan akhirnya menyimpan kepahitan yang berujung pada pembalasan dendam. Dendam adalah perasaan permusuhan dalam hati dan menanti-nanti waktu yang tepat untuk melepaskannya, menunggu kesempatan yang terbaik untuk membalas sakit hati dengan mencelakakan orang yang dibencinya. Jangan pernah meremehkan dahsyatnya dendam, karena dendam yang terus dipupuk dan dipelihara suatu ketika akan meluap dahsyat menjadi amukan tak terkendali.

Bahwa benar, manusia tidak dapat hidup dengan memelihara kebencian. Karena kebencian yang dibalas dengan kebencian akan menghadirkan kebencian yang lebih mendalam. Tidak ada lagi ketentraman dan kelegaan, apalagi yang disebut namanya kebahagiaan. Tak ada lagi ketawa ceria dan tak ada lagi ruang untuk merasakan ketenangan, serta kedamian hidup. Karena pikiran, hati dan seluruh perasaan dihinggapi rasa was-was.

-----ooo-----​


CHAPTER 1: MASALAH ITU MUNCUL KEMBALI

AUTHOR POV


Suara rintikan hujan bisa membantu merilekskan pikiran setelah melewati hari yang sangat sibuk dan penuh tekanan. Selain itu, suara rintikan hujan juga bisa menyamarkan suara-suara yang mengganggu atau berisik. Namun tidak begitu dengan seorang pria tampan yang menghela nafasnya berkali-kali. Helaan berat dan payah. Pria itu mempunyai urusan pada pekerjaannya yang membutuhkan perhatian penuh dari dirinya.

Pagi itu, Zaki duduk bersandar sambil berkutat dengan laptopnya. Ia terlalu fokus akan pekerjaannya. Keningya berkerut dan matanya menyipit menatap lekat-lekat layar laptop yang berada di depannya. Ia tak habis pikir, pekerjaannya kali ini benar-benar akan menguras seluruh isi otaknya.

“Haaahhh...!” Zaki mendesah panjang, meregangkan otot-otot tangan dan kakinya yang terasa kaku.

“Permisi ...!” Tiba-tiba pintu ruangan kerja pimpinan perusahaan itu terbuka dan masuk seorang pegawai yang paling diandalkannya.

“Masuk, Black ...!” Jawab Zaki ketika ia melihat ada seseorang yang tengah berada diambang pintu kantornya.

“Bos ... Gwe bawa data-data indeks saham kita enam bulan terakhir, sesuai perintah.” Ucap Bryan, sembari menyerahkan sebuah amplop cokelat besar.

“Hhhhmm ... Thanks, Black ... Tolong terus awasi dan pantau perkembangan saham kita ...” Ujar Zaki datar, ia menatap lekat pada amplop yang baru saja diterimanya.

“Ok ...!” Sahut Bryan sambil duduk di kursi depan meja kerja Zaki. Walaupun berstatus pegawai, Bryan tidak memanggil Zaki layaknya bawahan kepada atasannya. Baik Zaki maupun Bryan berbicara seperti dua sahabat yang selama ini mereka jalin.

“Zak ... Sorry ... Gwe mau nanya sesuatu ...” Lirih Bryan sedikit sendu.

“Pasti gak jauh dari masalah Dinda ...” Zaki sangat tahu kegelisahan saudara sekaligus sahabatnya itu.

“Boleh gwe minta nomor hapenya?” Suara Bryan begitu memelas penuh permohonan.

“Loe kok gak pernah percaya sama gwe sih ... Berkali-kali gwe bilang, kalau gwe gak punya nomor kontaknya ... Lagian, Dinda sudah bahagia dengan suaminya, apa yang loe harepin lagi ... Lebih baik loe lupain dia dan move on ... Carilah cewek yang lebih baik dari dia ...!” Zaki mencoba memperingati sahabatnya tersebut sementara Bryan sendiri langsung mengeluh dalam hatinya.

“Zak ... Loe juga pernah ngerasain, gimana rasanya kalau cinta dihalang-halangi ... Gimana rasanya waktu loe gak bisa mencintai Yuli karena dihalang-halangi Bonyok loe ...” Bryan merajuk dengan pandangan diarahkan kepada atasannya itu.

“Itu lain cerita, Black ... Yuli benar-benar sendiri, sedangkan keadaan Dinda sekarang kan loe tau sendiri ... Saudaraku, sudahlah! Lupakan dia ... Tuh, sekretaris gwe gak gimana cantiknya ... Dia suka sama loe ... Apa yang kurangnya dari dia?” Lagi, Zaki memberikan saran pada Bryan.

“Hati, Zak ... Ini masalah hati ... Gak bisa dipaksain ...” Protes Bryan sambil membelalakan matanya tanda kesal.

“Kalau emang gak bisa dipaksain ... kenapa loe mamaksakan hati loe sama Dinda?” Zaki dengan sukses membungkam Bryan.

“Huuufff ...” Bryan melenguh sambil berdiri dan meninggalkan Zaki, keluar dari ruang kerjanya.

Zaki yang memperhatikan sikap Bryan hanya bisa menatap dan menggelengkan kepala. Sesungguhnya Zaki mempunyai nomor kontak Dinda, namun tidak akan pernah memberikannya pada Bryan dengan sejuta alasan yang kesemuanya itu demi kebaikan Dinda dan Bryan sendiri. Ada kekhawatiran yang bergelayut dengan jelas di sudut hati Zaki. Dia takut kalau Bryan terus-terusan memelihara cintanya pada Dinda, ini sangat berbahaya karena bagaimana pun anak Dinda yang kini sudah berusia lima tahun adalah adik seayahnya Bryan.

Bakal runyam urusan kalau si Black tau dia punya adik dari ayahnya ...” Bisik Zaki di hatinya.

Pekerjaannya yang menuntut pemikiran yang matang membuat Zaki melupakan waktu istirahatnya. Pria itu terus bekerja tanpa lelah. Sampai akhirnya, sepasang mata Zaki melirik jam kuno yang diletakkan di dekat rak buku saat jam antik itu berbunyi dan jarum jamnya menunjukan waktu 17.00 sore. Sekali lagi Zaki menghela nafas, kemudian buru-buru pria itu membereskan meja kerjanya, tak perduli lagi dengan tumpukan tugas yang harus ia selesaikan. Saatnya kembali ke rumah dan berkumpul dengan keluarga tercinta.

Zaki berjalan dengan langkah cepat keluar ruangan kerja menuju lobby gedung perusahaannya. Selain tampan, ia sangat terkenal dengan keramahannya kepada semua pegawainya. Kalaupun menegur, ia gunakan bahasa yang santun dan lemah lembut. Zaki tak segan menyapa ramah duluan kepada pegawainya saat berpapasan. Inilah yang menyebabkan semua pegawai menyukainya.

Mercedez-Benz hitamnya sudah berada di depan gedung, setelah menerima kunci dari pegawai parkir, ia langsung mengendarai sendiri mobilnya. Zaki sebagai pengusaha sukses tidak memiliki supir pribadi karena memang itu yang dikehendaki pria itu. Dia berpikir dengan menyetir sendiri akan lebih privasi dan salah satu hobby pria itu adalah menyetir mobil.

Mobil mulai melaju meninggalkan kantor, jalanan macet membuat Zaki lebih memilih jalan memutar mencari jalan yang sepi. Zaki bersyukur karena jalan yang dilaluinya kini benar-benar sepi, hanya satu atau dua motor yang melewati jalan itu. Saat mobilnya harus melewati lobang yang cukup besar, mata Zaki melihat motor yang berusaha mendahuluinya. Ada tiga orang yang berada di atas motor itu, salah satunya anak kecil berusia sekitar sembilan tahun yang duduk di tengah sedang menangis dan meronta-ronta.

Pandangan Zaki tetap fokus pada motor itu. Matanya mengikuti ke mana motor itu bergerak. Hatinya terusik tatkala Zaki melihat orang yang berada paling belakang memukuli anak kecil itu yang ada di depannya. Karena anak itu terus meronta, tak jarang motor menjadi oleng dan hampir jatuh. Semakin meronta anak itu semakin kerap pukulan yang diterimanya.

Rasa kemanusiaan Zaki terusik seketika. Zaki menancapkan pedal gasnya lebih dalam. Dan tak seberapa lama, mobilnya berhasil melewati motor itu. Zaki langsung menghentikan mobil dan menyilangkannya di depan motor tersebut. Seketika itu juga, motor terhenti dengan rem mendadak.

Dengan menahan kesal, Zaki keluar dari mobilnya dan menghampiri motor di hadapannya itu dengan langkah menghentak.

“Bung ... Tidak baik menyiksa anak kecil ... Kalau anda tidak mau mengantarkan anak itu, biar saya yang mengantarkannya ...!” Bentak Zaki menahan kesal di hatinya.

“Hei ... Jangan ikut campur urusan kami ... Gwe siksa juga loe ...!” Hardik orang berbadan kekar yang duduk paling belakang.

“Om ... Tolong ...” Suara anak itu tidak tuntas karena mulutnya keburu dibekap oleh laki-laki kekar itu.

“Hhhhhmm ... Jangan-jangan kalian sedang menculik anak itu ... Lepas anak itu kalau kalian tidak ingin bermasalah ...!” Ujar Zaki setengah mengancam.

“Sialan ...! Belum pernah ngerasain disiksa kali nih orang ...!” Kata orang yang berbadan kekar itu seraya turun dari motor dan menghampiri Zaki dengan geram.

Tanpa berkata-kata lagi, orang kekar itu segera berlari dengan mengayunkan tinjunya ke wajah Zaki. Zaki hanya tersenyum setengah meremehkan terjangan itu. Setelah hampir sampai pukulannya, Zaki mengankat tangan kiri sejajar kepalanya lalu menggeser badanya ke depan. Pukulan orang kekar itu berhasil ditangkis dan pada saat yang sama kepalan tangan kanan Zaki menyodok dengan sangat keras ke ulu hati orang kekar tersebut. Sontak, orang itu mendelik merasakan ulu hatinya yang tiba-tiba sakit tak terkira. Belum juga sadar dari rasa sakitnya, badan orang itu melayang karena Zaki melancarkan teknik bantingan karatenya.

BUUGGHHH...
“Aaaakkkk” Orang itu menjerit entah terkejut atau kesakitan.

Zaki mengeratkan cengkraman tangannya pada telapak tangan dan pergelangan orang kekar tersebut. Tiba-tiba, dengan kekuatan penuh Zaki memelintir tangan si orang kekar hingga terdengar bunyi pergeseran engsel tulang.

KRREEEKKK...
“Aaaakkkk” Lagi, orang itu menjerit yang kini jeritan kesakitan.

Tidak sampai di situ, Kaki Zaki terangkat dan secepat kilat ditumbukkan tumit kakinya pada rahang orang kekar itu. Sol sepatu yang keras dengan sukses mendarat di rahangnya dan seketika itu, orang kekar yang menerima hantaman tumit Zaki terkulai pingsan.

Zaki melepaskan cengkramannya dan menepuk-nepuk telapak tangannya. Pandangannya kini dialihkan pada pengendara motor yang sejak tadi wajahnya terlihat pucat. Namun, Zaki cukup terkejut saat melihat anak itu tidak ada lagi di tempatnya. Zaki mengedarkan pandangannya ke sekeliling, ternyata anak itu sedang jongkok di pinggiran jalan menyembunyikan tubuhnya di balik pohon besar.

“Turun ...!” Bentak Zaki kepada pengendara motor.

“Ma ... Ma ... Maaf ... Tu.. tuan ... Aku hanya tu.. tukang ojek...!” Orang itu bersuara hampir menangis.

“Ya sudah ... Parkirkan dulu motornya ... Cepat!” Kata Zaki sedikit melunak.

Orang yang mengaku tukang ojeg itu kemudian memarkirkan motornya di pinggir jalan. Baru saja Zaki akan menghampiri anak yang sedang bersembunyi, tiba-tiba mobil patroli polisi berhenti persis di belakang motor yang baru saja diparkir. Dua orang polisi turun dan menghampiriku.

“Selamat sore ... Ada apa ini?” Tanya seorang polisi pada Zaki.

“Maaf, Pak ... Saya sendiri belum tau persis ... Tetapi rasanya baru saja terjadi penculikan ...” Jawab Zaki santai.

“Apakah dia pelakunya?” Tanya polisi lagi sambil menunjuk orang yang tergeletak di jalan.

“Ya, Pak ... Dan itu anaknya ...” Jawab Zaki sembari menunjuk anak yang sedang bersembunyi di balik pohon.

Seorang polisi yang lain segera menghampiri si anak dan membawanya keluar dari tempat persembunyiannya. Namun anak itu meronta tidak mau beranjak dari tempatnya. Zaki kemudian menghampirinya dan membujuk supaya anak itu mau keluar. Akhirnya, dengan sedikit rayuan anak itu mau digendong Zaki dan memeluk lehernya.

Anak yang trauma memang susah diajak bicara, tak satu kata pun yang keluar dari mulutnya saat ditanya oleh kedua polisi bahkan Zaki. Anak itu hanya memeluk erat dan membenamkan wajahnya ke leher Zaki dengan badan yang gemetar tiada henti. Akhirnya, polisi menemukan identitas si anak setelah memeriksa tasnya.

“Ini kartu siswanya, pak ...” Kata salah satu polisi pada rekannya.

“Hhhhhmm ... Anak ini ternyata cucunya Pak Anggoro ...” Ucap polisi yang menerima kartu siswa si anak sambil manggut-manggut. Mendengar identitas si anak, sontak Zaki terkesiap. Darahnya seakan-akan turun semua memenuhi jantungnya.

“Ka ... Kalau begitu ... Segera bapak antar anak ini ...!” Kata Zaki gugup.

“Ya, kami akan mengantar anak ini setelah mengurus kedua penculik ini ...!” Sahut polisi ramah sambil berusaha mengambil anak yang ada di gendongan Zaki. Tetapi anak itu tidak mau lepas walaupun dengan sejuta bujukan dan rayuan. Anak ini semakin mempererat pelukannya pada Zaki.

Akhirnya disepakati kalau Zaki lah yang mengantar cucu sang konglomerat ke rumahnya sementara polisi mengurus para penculik. Pihak kepolisian akan mengunjungi rumah Pak Anggoro setelah keperluan pengurusan para penculik selesai. Polisi pun berpesan agar Zaki tidak meninggalkan rumah Pak Anggoro sebelum ada aparat kepolisian datang ke rumah sang konglomerat.

Dengan perasaan yang tidak karuan, Zaki pun mengantar anak yang dulu pernah ‘lengket’ padanya. Sambil mengendarai mobilnya, Zaki terus memandangi anak yang duduk di sebelahnya. Terlihat sekali kalau ia mengalami trauma.

“Akbar ... Hei ...” Kata Zaki sambil menyentuh lutut anak itu yang tertekuk di atas jok mobil.

“Om ...” Desah anak itu bergetar.

“Akbar harus berani ... Akbar kan laki-laki ...” Kata Zaki lembut.

“Akbar takut, om ...” Lirih Akbar seraya memperbaiki posisi duduknya.

“Gak usah takut lagi ... Laki-laki harus pemberani ...” Ucap Zaki menyemangati anak itu.

“Seperti om ya ... Om jago berantem ... ciat ... ciat ...” Kata Akbar sambil memperagakan gerakan bela diri ala kanak-kanak.

“Nah gitu ... Laki-laki harus kuat ...” Zaki tersenyum lega. Tangannya mengusap kepala anak itu.

Sepanjang perjalanan, Zaki terus menyemangati Akbar agar tegar dan melupakan kejadian yang baru saja dia hadapi. Tanpa disadari, semua ucapan Zaki sangat berbekas pada hati Akbar. Diam-diam, Akbar mengagumi sosok yang telah menyelamatkannya. Dalam ilmu psikologi, anak akan menaruh perhatian terhadap perilaku orang yang dikaguminya. Skala nilai dan norma yang baru bisa diperolehnya melalui proses identifikasi dengan orang yang dikaguminya. Saat itu pun, anak yang baru berusia sembilan tahun ini seperti menemukan idolanya.

Hari sudah mulai gelap, Zaki dan Akbar baru sampai ke rumah konglomerat yang namanya tidak perlu dipertanyakan lagi. Zaki dan Akbar keluar dari kendaraan yang disambut oleh hamburan sang bunda pada Akbar. Sambil memeluk dan menggendong anaknya, mata Dewi melotot tajam pada Zaki. Sorot matanya sirat dengan kemurkaan. Namun, Zaki santai menanggapinya. Zaki ‘ngeloyor’ menghampiri Pak Anggoro dan Bu Nengsih yang berdiri di teras rumah.

“Pak ... Bu ...” Sapa Zaki sambil menyodorkan tangan.

“Nak Zaki ... Darimana saja? Kami mengkhawatirkan Akbar ...!” Sambut Pak Anggoro separuh sewot. Bahkan Bu Nengsih tidak mau menerima uluran tangan Zaki dengan rona mukanya yang sangat marah.

“Oh ... Nanti polisi yang akan menjelaskan ... Kalau begitu saya pulang dulu ...” Bagaimana pun Zaki adalah manusia yang mempunyai hati. Sikap kedua orang yang dihadapannya setidaknya telah menyinggung perasaan Zaki.

“Eh ... Nanti dulu ...!” Sergah Pak Anggoro sambil memegang pundak Zaki.

“Ada apa ya, Pak?” Sahut Zaki.

“Tadi katamu polisi ... Apa hubungannya dengan polisi?” Tanya Pak Anggoro terkejut.

“Akbar tadi diculik ... Om ini yang nolongin Akbar ...” Kata Akbar. Tiba-tiba Dewi dan anaknya telah berada di belakangku.

“A.. Apa...?” Pekik Dewi tertahan.

“Tadi saya kebetulan melihat Akbar waktu saya pulang kerja. Saya curiga, karena Akbar diperlakukan tidak baik. Saya datangi mereka dan akhirnya Akbar bisa pulang ...” Jelas Zaki seadanya dan tidak jelas karena merasa sudah jengah berada di antara mereka.

“Oh ... oh ... Maaf ya nak Zaki ...” Ucap Bu Nengsih merasa bersalah.

“Gak apa-apa, Bu ... Nanti polisi akan datang ke sini ... Semuanya akan dijelaskan pada Bapak dan Ibu ... Sekarang saya pamit ...!” Ucap Zaki mohon diri. Baru saja berbalik badan dan berhadapan dengan Dewi.

“Mas ... Terima kasih ...” Ucap Dewi berkaca-kaca.

“Sama-sama ...” Jawab Zaki datar.

“Om ... Om mau kemana?” Tanya Akbar di gendongan sang bunda.

“Om ... Harus pulang ... Liat tuh udah malam ...” Sahut Zaki sambil menyolek hidungnya.

“Om nginep aja di sini ...” Pinta Akbar lagi.

“He he he ... Masa om nginep di sini ... Inikan rumah Akbar ... Bukan rumah om ...” Sahut Zaki sambil terkekeh ringan.

“Ya, Akbar ... Om Zaki harus pulang ... Kasian cape Om nya ...” Kata Dewi pada anaknya.

“Tapi ... Tapi ... Om Zaki nanti ke sini lagi ya ... Ajarin Akbar berantem ...” Cerocos Akbar.

“Huss ... Gak boleh berantem-berantem ...!” Kata Dewi lagi sambil menggoyang-goyang badan Akbar.

“Ya nanti kalau om ada waktu ... Om akan ajarin Akbar bela diri ... Bukan berantem ...” Ujar Zaki sambil tersenyum.

Zaki memutuskan untuk meninggalkan rumah Pak Anggoro dan meninggalkan Akbar dengan tidak memperdulikan perintah polisi untuk tetap tinggal di sana sebelum aparat kepolisian datang. Selain hatinya tersinggung, firasatnya mengatakan kalau keluarga itu sedang mempunyai masalah, entah apa bentuknya tetapi Zaki berprinsip untuk tidak terlibat di dalamnya. Zaki hanya ingin hidupnya tenang dan terhindar dari masalah.

Sekitar pukul 21.00 malam, Zaki sampai di rumahnya. Di depan pintu, Zaki disambut oleh anak perempuannya dari Wulan yang ia beri nama Amimah Hussein Alat*s yang berlari menghampirinya. Zaki menyambutnya dengan gendongan dan ciuman pada kening sang anak.

“Pah ... Malem banget pulangnya?” Tanya Wulan pada suaminya.

“Tadi ada keperluan mendadak ...” Jawab Zaki menyembunyikan kejadian sebenarnya.

“Mau makan dulu atau mandi dulu?” Tanya Wulan yang menerima kecupan ringan di kening dari Zaki.

“Mandi dulu ... Lengket badan papah ...” Sahut Zaki.

Zaki pun langsung membersihkan badanya di kamar mandi, selesai mandi dan berpakaian Zaki menghampiri Wulan dan anaknya di ruang makan. Tiba-tiba, hidangan makan malam yang lezat dan elegan itu mengingatkan Zaki kepada Dinda. Jenis masakan dan rasanya hampir sama bukan saja hampir tetapi sama.

“Kenapa Pah?” Tanya Wulan karena melihat suaminya yang ‘pelenga-pelengo’ menikmati makan malamnya.

“Ini masakan mengingatkan papah sama ...” Zaki menghentikan ucapannya.

“Ya, Pah ... Dinda tadi siang ke sini ... Masakin makanan ini khusus buat papah katanya ...” Jawab Wulan.

“Oh ... Dengan suaminya?” Tanyaku.

“Tidak ... Sendirian ...” Jawab Wulan sambil memanggil baby sisternya untuk menidurkan Amimah yang sudah terlelap.

“Terus ... Dia nginep dimana?” Tanya Zaki lagi.

“Dia nginep di hotel ABC ... Gak mau dia nginep di sini ...” Jawab Wulan lagi.

“Loh ... Kenapa?” Tanya Zaki heran.

“Entahlah ... Katanya sih, dia punya urusan penting ...” Ucap Wulan santai.

“Hhhhhmm ...” Zaki bergumam lemah. Pikirannya tiba-tiba teringat pada Bryan tadi pagi. Entah kenapa muncul pikiran negatif di benak Zaki.

“Mah ... Coba hubungi Sihaf ... Papah mau bicara ...” Kata Zaki penasaran.

“Loh ... Ada apa sih, Pah? Ini kan udah malam?” Wulan sewot.

“Gak ... Hubungi aja dulu ...” Perintah Zaki lembut.

Dengan dahinya yang berkerut, Wulan mengambil smartphone-nya dan menghubungi Sihaf. Hanya beberapa detik saja sambungan telepon Wulan diangkat oleh Sihaf.

“Sihaf ... Papah ingin bicara ...” Kata Wulan berbicara dengan Sihaf di sana. Kemudian Wulan memberikan smartphone-nya pada Zaki.

“Ya sayang ... Papah mau nanya ... Apa Black pernah nanya nomor telepon Dimas atau Dinda sama mamah ...?” Tanya Zaki.

Ya, Pah ... Tadi pagi Black nelepon mamah, minta nomor Dimas dan Dinda ... Kenapa gitu Pah?” Jawab Istri kedua Zaki yang membuat jantung Zaki berhenti sesaat.

“Oh ya, gak apa-apa ... Ingin nanya doang ...” Jawab Zaki sambil mencoba menetralkan kegugupannya.

Ya udah atuh ... Mamah ngantuk ... Bye ...” Kata Sihaf pada suaminya.

“Bye ...” Sahut Zaki sambil memutuskan sambungan teleponnya.

“Ada apa sih pah? Seperti yang genting ...” Tanya Wulan yang mulai mencium gelagat yang kurang mengenakan.

“Gak ... Mah ... Gak ada apa-apa ...” Kilah Zaki sambil melanjutkan makannya.

“Aku tau kalau papah sedang berbohong ... Ada apa dengan Bryan dan Dinda?” Cecar Wulan pada Zaki. Sang suami diam-diam mengakui kelebihan istrinya ini. Sejak dulu, Zaki tidak pernah bisa berbohong pada Wulan.

“Ah ... Biarkan saja mereka ...” Kata Zaki sedikit mengeluh.

“Biarkan bagaimana? Mereka bermain api kan?” Wulan berkata begitu panik pada suaminya.

“Papah sudah males mah ... Lebih baik kita diam dan pura-pura tidak tau ...” Respon Zaki atas protes istrinya.

“Ya, gak bisa begitu dong, pah ... Bagaimana perasaan Sihaf kalau tau kakaknya dikhianati?” Wulan semakin sewot mendengar penuturan Zaki.

“Mamah kan sahabat Dinda ... Gimana kalau mamah menasehatinya!” Zaki mencoba memberikan solusi.

“Dinda tak akan mendengarkan perkataan mamah ... Dinda akan nurut sama papah ...” Wulan berkata yang sebenarnya.

“Huuuufff ... Macem-macem aja ...!” Zaki mengeluh dan bergerak menuju kamarnya. Wulan mengikuti suaminya di belakang.

Sesampainya di kamar, Zaki mengambil smartphone-nya yang tergeletak di atas meja rias istrinya. Pria itu langsung menghubungi Darco dan memerintahkan untuk bergerak mendekat ke hotel ABC. Zaki memerintahkan Darco untuk menyelidiki Bryan dan Dinda di sana. Zaki menginginkan informasi secepatnya mengenai masalah ini.

Pria berparas tampan yang kini hanya bisa duduk termenung di pinggiran tempat tidur itu merasakan sakit kepala yang sangat. Zaki mendengus pelan, dia memijat keningnya sendiri sembari memejamkan mata. Betapa tidak kepalanya dibuat pusing, karena tiba-tiba muncul masalah yang selama ini dia hindari. Ketenangan hidupnya merasa sedikit terganggu dengan urusan pribadi antara Bryan dan Dinda. Dalam hati kecilnya, Zaki berharap prasangkanya meleset. Zaki berharap tidak pernah akan terjadi apa yang ada di dalam otaknya.

“Pah ....” Sapa Wulan sambil mengelus punggung Zaki.
“Hhhhmmm ...” Gumam Zaki yang masih terus memijit-mijit keningnya.
“Kita ... Buat ... adik ... untuk Amimah ...” Ucap Wulan mendesah terputus-putus.
“Mamah ini ... Kita kan sedang ...” Ucapan Zaki tidak tuntas saat menengok ke arah istrinya. Tubuh Wulan sudah tidak terlapisi benang sehelai pun. Payudara Wulan yang semakin menggunung selalu menjadi daya tarik Zaki untuk ‘menggauli’ pemiliknya.
“Cepet, pah ... Mamah dah gak kuat ...” Rayu Wulan yang cukup membuat darah kelaki-lakian Zaki mulai bergejolak.

Mata Zaki tidak lepas dari gundukan daging kenyal di dada istrinya mulai melolosi pakaiannya. Setelah benar-benar polos, Zaki meraba organ intim istrinya yang memang sudah basah. Berbeda dengan istri-istrinya yang lain, Wulan tidak memerlukan foreplay untuk permainan cinta. Senjata warisan nenek moyang Zaki yang masih setengah berdiri cepat diraih Wulan dan dimasukan ke dalam mulutnya.

Ujung penisnya dikulum, kemudian dihisap kuat, Zaki menghela nafas berat seketika saat lidah Wulan yang lembut dan licin memijit seluruh batang penisnya, dari pangkal hingga ke ujung, sesekali menjepit kulit sensitifnya dengan dua bibir. Wulan terus melahap batang menegang Zaki, menaik-turunkan kepala, sembari menghisap, memastikan ujung daging milik Zaki yang sudah licin dan basah. Sambil terus meremas-remas payudara Wulan, Zaki menikmati blow-job yang diberikan istrinya. Tidak lebih dari dua menit, penis Zaki tegang sempurna dan siap melakukan tugasnya.

Zaki melepaskan emutan Wulan pada penisnya, lalu merangkak menaiki tubuh bugil istrinya yang sudah siap menerima penyatuan tubuh. Tiba-tiba, tangan Wulan mendorong tubuh Zaki hingga suaminya terduduk di atas kasur. Wulan kini yang menaiki tubuh suaminya. Dengan sangat ahli Wulan menggerakkan pinggul, tak susah menemukan penis tegang Zaki dan memaksanya memasuki lubang ketatnya. Wulan merendahkan badan, mengarahkan penis Zaki yang mulai tertancap agar masuk sepenuhnya. Zaki bernafas berat, satu tangannya meraih kepala Wulan dan menariknya ke bawah untuk ciuman panas, mereka bergerak kemudian. Wulan menurunkan badan ke bawah saat suaminya menghentakkan pinggul ke atas, dengan ritme perlahan, dengan saling memautkan bibir, berperang lidah.

“BLEP... BLEP... BLEP...” Suara sodokan penis Zaki yang membelah vagina Wulan dalam tempo lambat.

“PLOK... PLOK... PLOK...” Suara beradunya dua alat kelamin dalam tempo tinggi.

“Aaawwhh… ooh… ooh... eeisth... aakh... aakh...!” Desahan dan erangan Wulan yang keluar dari mulutnya menambah panas suasana di kamar itu.

Wulan meneruskan genjotannya, satu tangan menahan pinggang Zaki, satu lagi mengocok penis Zaki yang terpantul turun naik karena ulahnya, ia meremas, menjepit, mengocok, membuat Zaki mendesah keenakan. Saling memberikan kenikmatan masing-masing, Wulan terus menerus menghajarnya tanpa henti. Sementara itu, Zaki menghisap kedua puting itu secara bergantian. Puting Wulan semakin besar dan panjang. Zaki menggigit putingnya yang membuat Wulan semakin panas. Tubuhnya bergerak semakin liar dan tidak beraturan serta tangannya tidak berhenti meremas rambut Zaki.

Sejak pertama kali melakukan persetubuhan, Wulan tak pernah sekali pun bisa memenangi Zaki. Wulan selalu mencapai orgasmenya duluan.

“Say... yanggh... Ak... khu... Aaaaaccchhhhh...!!!” Pekik Wulan dengan tubuh yang mengejang. Rupanya Wulan mencapai orgasme. Tangannya yang tadi melingkar di leher suaminya, kini berpindah melingkar di punggung. Wulan berhenti bergerak dan membiarkan penis itu menancap dalam di lubang kenikmatannya.

“Banyak sekali sayang, keluarnya ... Hangat sekali punyamu...!” Kata Zaki sambil menciumi wajah istrinya.

“Ihhkk ... Selalu saja menggodaku ...” Protes Wulan manja.

“Kamu di bawah ...” Pinta Zaki yang dituruti Wulan.

Wulan bangkit dan melepaskan penis Zaki dari dalam tubuhnya. Kemudian wanita itu terlentang dengan mengangkangkan pahanya. Zaki mengambil posisi ternyaman menurutnya.

“Ougghhh...” Wulan memejamkan matanya ketika merasakan penis Zaki mulai menembus vaginanya.

Zaki ikut memejamkan matanya ketika merasakan dinding vagina Wulan yang semakin rapat menjepit penisnya. Perlahan, Zaki mulai memajukan penisnya maju mundur dan membuat penisnya menusuk-nusuk vagina milik Wulan. Kedua tangannya meremas sprei dan mempersempit jarak diantara mereka.

“Sayy... yaangghhh....” Wulan membusungkan dadanya ketika merasakan tusukan demi tusukan diberikan oleh Zaki. Zaki sendiri mendongakan kepalanya ketika semakin lama dinding vagina Wulan semakin rapat menjempitnya.

“Pelanh... pelaannhh... oughhh...” Wulan tidak bisa berbicara normal karena terguncang-guncang akibat tusukan Zaki yang begitu dahsyat.

“Aku.. aku tidak bisa..” Zaki malah semakin mempercepat sodokannya.

Wulan bisa merasakan orgasmenya semakin dekat dan dia juga bisa merasakan penis suaminya yang semakin membesar di dalam vaginanya. Zaki sendiri semakin mempercepat sodokannya ketika kepala penisnya terasa gatal.

“Ohhh... Aaaaaccchhhh... Sayyaaangghhh...!"

“Aaaaaaccchhhh...!!!”

Zaki membenamkan penisnya semakin dalam ketika spermanya menyembur keluar. Wulan sendiri memejamkan matanya ketika merasakan orgasmenya datang disertai dengan semburan sperma di dalam rahimnya. Nafas mereka berdua terdengar berat. Mereka baru mengalami pelepasan yang sangat hebat. Tubuh Wulan masih bergetar sesekali menikmati sisa-sisa orgasmenya. Beberapa saat kemudian, Zaki mengeluarkan penisnya yang kembali normal dan merebahkan dirinya di sebelah Wulan. Dirinya mengambil selimutnya dan menutupi tubuh telanjang mereka berdua.

“Tidurlah ...!” Zaki memejamkan matanya sembari memeluk Wulan.

“Tidak ada ronde selanjutnya, sayang?” Goda Wulan.

“Hhhmm... Jangan mulai lagi, sayang... Sebaiknya segera tidur dan aku akan menagih ronde selanjutnya besok pagi.” Zaki semakin mengeratkan pelukannya.

Wulan tidak bisa menahan senyumnya dan tak berapa lama terdengar dengkuran halus Zaki. Matanya melirik wajah damai Zaki yang tertidur sebelum menerawang jauh. Wulan merasa Zaki tidak dalam kondisinya yang vit, buktinya hanya dua kali dia diberi puncak kenikmatan oleh suaminya. Padahal, dalam kondisi normal saja, Zaki bisa memberi orgasme padanya sampai tiga kali.

Wulan baru saja menutup matanya, tiba-tiba smartphone Zaki berdering dan bergetar. Wulan bergerak turun dari tempat tidur dan mengambil smartphone yang terus berdering. Dilihatnya layar smartphone sejenak, lalu menerimanya dengan menggeser tanda berwarna hijau.

“Ya ... Om Darco ...” Sapa Wulan.

Maaf Nyonya ... Apakah Tuan Zaki ada?” Tanya Darco di sana.

“Suamiku sudah tidur, om ... Bagaimana hasilnya?” Tanya Wulan sedikit bergetar hatinya.

Maaf nyonya ... Hanya tuan Zaki yang ....” Ucapan Darco segera dipotong Wulan.

“Om ... Aku tau masalah ini ... Apakah Dinda bersama Bryan saat ini?” Suara Wulan sedikit meninggi membuat Zaki terbangun dari tidurnya.

“Sini mah, biar papah yang bicara ...” Kata Zaki. Lalu Wulan menghampiri suaminya.

“Bagaimana om?” Tanya Zaki pada Darco.

Benar tuan ... Dinda bersama Bryan ... Mereka sekarang berada di club milik ibunda Nyonya Sinta ...” Jelas Darco.

“Baik, om ... Oh, ya, suruh anak buah om pantau terus mereka ...” Perintah Zaki.

Siap, tuan ... Laksanakan!” Sahut Darco di sana.

Zaki memutuskan hubungan telepon dan menatap istrinya. Otak Zaki seperti diberi beban berat sehingga ia merasa enggan untuk berpikir untuk memecahkan masalah ini. Namun, kedua bola mata istrinya, seperti memohon agar dia segera bertindak. Melihat suaminya hanya duduk temenung, akhirnya Wulan beranjak ke kamar mandi, membersihkan badannya dan berdandan di depan meja rias.

“Mamah mau kemana?” Tanya Zaki heran.

“Mamah akan menemui mereka ...” Sahut Wulan sembari mengulas wajahnya dengan bedak.

“Huuufff ... Aku mandi dulu ...” Kata Zaki sambil berjalan ke kamar mandi.

Tidak berapa lama, pasangan suami istri tersebut sudah meluncur dengan kendaraannya menuju klub malam milik nenek Zaki yang memang tidak jauh dari lokasi hotel ABC tempat Dinda menginap. Sebenarnya Zaki kesal karena kehidupannya yang tenang harus direcoki dengan masalah seperti ini. Sudah cukup baginya dipusingkan oleh pekerjaan yang sering membuat kepalanya pening.

“Pah ... Bagaimana papah bisa mengira kalau Bryan dan Dinda ada apa-apanya?” Tanya Wulan di tengah perjalanan.

“Hhhhmm ... Bryan sejak dulu menyukai Dinda, Mah ... Hanya saja papah selalu menghalanginya ...” Jawab Zaki pelan.

“Apakah mereka pernah berhubungan? Maksud mamah, sebelum Dinda menikah, apakah mereka pacaran?” Tanya Wulan lagi.

“Entahlah ...” Jawab Zaki singkat.

“Kenapa juga si Dinda mau melayani Bryan?” Tanya Wulan yang sebenarnya tertuju pada dirinya sendiri.

“Entahlah ...” Jawab Zaki lagi.

Zaki dan Wulan kemudian membicarakan segala kemungkinan. Dari ketiga istri Zaki, hanya Wulan lah yang tahu jika anak Dinda adalah hasil hubungan gelap wanita itu dengan ayah Bryan. Akan sangat berbahaya pada Bryan jika mengetahui semua ini. Rencana pun mereka susun jika nanti berhadapan dengan keduanya. Intinya, Zaki dan Wulan akan berusaha untuk memisahkan bahkan menjauhkan mereka.

###

Di tempat lain ....

Suara gemuruh dari klub malam dan teriakan dari pengunjung seakan menambah semarak malam ini. Sorot lampu warna-warni, musik yang menggema, tarian erotis, lautan manusia di lantai dansa, alkohol, asap rokok adalah pemandangan pertama yang tertangkap bagi siapa saja yang memasuki klub malam ini. Pakaian minim serta sepasang kaula muda tak mempunyai tata krama bercumbu di koridor klub merupakan pemandangan yang biasa.

Suasana berbeda di lantai dua klub. Sebuah ruangan yang boleh dibilang sepi, hanya beberapa pengunjung yang sedang berbincang-bincang dengan pasangannya. Di antara pasangan tersebut, Bryan dan Dinda duduk berdampingan begitu mesra. Tangan Bryan melingkar di pinggang ramping wanita beranak satu ini.

“Aku sangat mencintaimu, sayang ...” Bisik Bryan sambil mencium pipi Dinda.

“Eh ... Ingat! Aku bersuami loh ...” Canda Dinda yang terus membiarkan pipinya menjadi objek ciuman Bryan.

“Aku tidak mencintai suamimu ... Aku hanya mencintaimu ...” Balas canda Bryan yang kini tangannya mengambil dagu wanita cantik di hadapannya. Wajah mereka hanya berjarak beberapa senti hingga Dinda dapat merasakan setiap hembusan nafas Bryan membelai permukaan wajahnya. Saat bibir mereka hendak bersatu, tiba-tiba ....

“Tuan Bryan ... Maaf ...” Seorang pegawai bar dengan nafas tersengal-sengal mengganggu mereka.

“Huh ... Ada apa?” Kata Bryan kesal sambil melebarkan matanya pada pegawai bar tersebut.

“Tuan ... Itu ... Itu ... Tuan Zaki ... Ada di sini ...” Jawab pegawai Bar terbata-bata.

“Apa???” Wajah Bryan dan juga Dinda pucat seketika itu juga.

“Bryan ... Kita harus menghindari mereka ...” Kata Dinda dengan nada yang sangat khawatir.

“Ya ... Kita harus pergi dari sini ...” Sahut Bryan sambil mengambil tangan Dinda dan mengajaknya pergi dari tempat itu.

Bagi Bryan, klub malam ini adalah tempat yang sangat familiar hingga lorong-lorong rahasia pun dia ketahui. Bryan dan Dinda tidak menggunakan tangga depan untuk mereka kabur, tetapi ada tangga khusus pegawai di bagian belakang ruangan yang menghubungkan ruangan tersebut dengan dapur. Pintarnya Bryan, dia tidak memarkirkan mobilnya di depan klub tetapi saat mereka keluar gedung dari ruang dapur, mobilnya terparkir persis di depan pintu keluar dapur.

Seperti orang yang ketakutan melihat hantu, sepasang manusia yang saling mencintai itu langsung meluncur meninggalkan gedung klub yang juga melalui gerbang belakang. Akhirnya, Bryan dan Dinda terselamatkan dari Zaki. Bryan berpikir, jika Zaki sampai tahu keberadaan mereka, berarti ada orang yang memata-matainya.

###

Di tempat lain ....

Pria berjas hitam dengan dasi berwarna serupa keluar dari kantor polisi dengan wajahnya yang pucat menandakan kalau dia baru saja terhindar dari jeratan hukum. Pria itu harus rela mengeluarkan sejumlah uang yang cukup besar untuk menutup kasusnya. Sementara itu, orang suruhannya pun berjalan di samping pria perlente itu. Tangannya dibalut perban dengan wajah yang terus-terusan meringis kesakitan.

“Sialan ...!!! Kenapa harus dia lagi ... Shit ...!!!” Maki Pria itu sambil menendang botol bekas minuman mineral di depannya.

“Tuan Hendrik emang mengenal laki-laki itu?” Tanya laki-laki di sampingnya.

“Ahk ... Si Zaki keparat ...!!! Mau bikin urusan ama gwe ...!!!” Pria bernama Hendrik itu mengepalkan tangannya erat dan geraham yang dirapatkan erat pula.

“Oh ... Dia toh yang namanya Zaki??? Kalau saya tau, pasti saya kasih langsung anak itu, tuan ...” Ucap si laki-laki berbadan kekar sambil bergidik.

“Gak apa-apa Boim ... Nanti kita bikin perhitungan sama dia ... Sekarang kamu pulang dulu ... Sembuhkan tanganmu dulu ... Sekarang kita colling down ... Menunggu waktu yang tepat ...” Jelas Hendrik pada anak buahnya.

Hendrik begitu geram karena rencananya digagalkan Zaki. Orang yang sama saat dia mendekati pujaan hatinya. Sambil mengendarai kendaraannya, Hendrik teringat saat Zaki membantai orang-orang suruhannya. Dia pun saat itu lari pontang panting ngeri melihat kehebatan Zaki. Dan Hendrik sangat memaklumi kalau anak buahnya dibuat babak belur oleh Zaki.

Setelah mengantarkan Boim pulang, Hendrik terus melanjutkan perjalanannya. Kendaraannya melaju kencang ke wilayah Utara Kota Jakarta. Kondisi jalan yang sepi membuat waktu tempuhnya singkat. Tidak lama, mobil sport merahnya memasuki sebuah rumah megah dan memarkirkan mobilnya di halaman rumah tersebut.

Sebelum memijit bel yang ada di samping pintu, seorang pembantu rumah tangga mempersilahkan Hendrik untuk langsung menemui pemilik rumah. Hendrik disambut dengan seringai khas si pemilik rumah. Dengan cerutu yang masih di bibirnya, si pemilik rumah menyambut tangan Hendrik dengan sangat ramah.

“Gimana kabarnya si Dewi?” Tiba-tiba saja sang pemilik rumah menanyakan hal yang menjadi beban pikiran Hendrik.

“Sial ... Aku benar-benar sial, Bang ... Rencanaku gagal gara-gara si Zaki ...” Sahut Hendrik dengan nada marahnya. Baru saja selesai ucapan Hendrik, tiba-tiba sang pemilik rumah tersedak oleh asap cerutunya dan terbatuk-batuk. Sang pemilik rumah secepat kilat meraih gelas yang berisi air putih di meja dan meneguknya sampai tuntas.

“Kenapa, Bang?” Tanya Hendrik keheranan.

“Tadi loe sebut siapa? Zaki???” Sahut sang pemilik rumah setelah reda dari tersedaknya.

“Ya, si Zaki ... Emangnya kenapa?” Tanya Hendrik semakin keheranan.

“Loe lebih baik menghindar aja deh ... Loe bisa dibuat babak belur sama si Zaki ...” Sang pemilik rumah memberi saran yang sangat bijaksana.

“Loh, kok ... Gitu sih, Bang ... Masa Bang Abdi seperti ciut sama si Zaki?” Hendrik tentu sangat penasaran karena menganggap Abdi adalah rajanya preman yang menguasai negeri ini.

“Udah jangan banyak bantah ... Mendingan loe urungkan niat loe ... Jangan macem-macem sama si Zaki ...” Ucap Abdi lagi sambil geleng-geleng kepala.

“Kenapa, Bang? Apa hebatnya si Zaki dibanding Abang?” Sungguh Hendrik tidak habis pikir dengan ucapan kakak sepupunya itu.

“Si Zaki bukan tandingan kita, bro ... Dia punya segunung keberuntungan ... Dewi fortuna selalu berpihak sama dia ... Gwe takut sama dia karena dia punya itu ...” Jelas Abdi selow.

“Oh ... Apakah abang pernah punya masalah sama dia?” Tanya Hendrik penasaran.

“Nih ... Tangan gwe ... Rusuk gwe patah ... Gara-gara dia ...” Sahut Abdi sambil tersenyum tipis.

“Oh ...” Hendrik bergidik merinding setelah mendengar pengakuan Abdi.

“Kalau mau ngelawan si Zaki ... Pake cara halus ... Jangan langsung konfrontasi ... Selain dia jago berantem ... Paling serem sama anak buahnya yang bernama Darco ... Kalau si Darco murka ... Gwe jamin, kepala loe bakal berpisah sama badan loe ...” Jelas Abdi yang kembali menghisap cerutunya.

“Wek ... Ngeri kali, Bang ...!” Seru Hendrik sambil memegang lehernya.

“Gwe saranin lagi sama loe ... Mendingan loe jauhin si Zaki ... Jangan main-main sama dia ... Kalau loe nekad, berarti loe sedang menggali kuburan loe sendiri ...” Jelas Abdi lagi.

“Ok ... Ok ... Aku gak bakalan berurusan sama si Zaki ... Tapi gimana dengan Dewi, Bang? Aku pengen ngedapetin dia ...” Keluh Hendrik separuh memelas.

“Hhhhhmmm ... Sekarang dia deket sama si Hendrawan bukan?” Tanya Abdi dengan mata dipicingkan.

“Ya ... Si bangsat Hendrawan kayaknya dapet restu dari orangtua Dewi, Bang ...” Jawab Hendrik sedih.

“Loe singkirin dia dulu deh ... Tapi yang rapi ... Jangan grasak grusuk ... Inget! Si Hendrawan punya anak buah yang keji juga ...” Jelas Abdi.

“Hhhhmm ... Aku tau kalau dia selalu dijaga anak buahnya ... Sulit rasanya untuk nyulik dia ...” Keluh Hendrik yang tidak ada hentinya.

“Loe besok ke Polda ... Lima tahun yang lalu ada cewek bernama Rosa dipenjara gara-gara si Zaki ... Inget! Gara-gara si Zaki ... Loe usahain bebasin dia ... Selain bisa ngebantuin loe untuk menyingkirkan si Hendrawan, Si Rosa punya dendam kesumat sama si Zaki ... Satu tepuk dua lalat mati ...” Jelas Abdi.

“Serius, Bang?” Sontak raut wajah Hendrik begitu berseri-seri. Kakak sepupunya memberikan saran yang sangat masuk akal.

“Tapi ... Sekali lagi gwe saranin ... Loe jangan main-main dengan si Zaki ... Inget tuh! Kalau pun si Rosa mau bales dendam sama si Zaki ... Anggap aja itu bukan urusan loe ... Paham!” Kata Abdi penuh penekanan.

“Siap, Abangku ... Thanks atas advice-nya ... Ha ha ha ...” Ujar Hendrik begitu bahagia, tertawanya membahana di runagan tersebut.

“Hey ... Tugas loe belum selesai ...!” Abdi menghardik keras adik sepupunya.

“Apaan tuh, Bang?” Tanya Hendrik.

“Gimana caranya loe deketin si Dewi, ******?” Abdi sangat kesal dengan otak udang Hendrik.

“Ntar yang gituan mah, Bang ... Yang penting sekarang aku lenyapin dulu saingan-saingan aku ... Kalau udah gak ada saingan ... Banyak jalan menuju Roma ... Ha ha ha ...!” Cerocos Hendrik yang tak mampu menyembunyikan kegembiraannya.

“Bodo ahk ... Oh, ya ... Kalau ada apa-apa sama loe ... Jangan sekali-kali libatin gwe ... Kalau loe macem-macem sama gwe ... Gwe lubangin tuh kepala ...” Ancam Abdi serius.

“Tenang, Bang ... Itu mah dijamin aman ...” Sahut Hendrik.

Kedua saudara sepupuan itu melanjutkan obrolan mereka yang semakin malam semakin seru. Abdi menceritakan pengalamannya saat ‘berhadapan’ langsung dengan Zaki. Maksud Abdi menceritakan itu semua agar Hendrik tidak berkonfrontasi dengan Zaki. Jurus ‘cuci tangan’ adalah jurus terbaik untuk menghadapi Zaki, itulah yang disarankan Abdi pada Hendrik.

###

Di tempat lain ...

Bunga salju berjatuhan di hari itu, udara dingin menyelimuti kota Zurih, ibukota Swiss. Semua orang menggunakan mantel tebal untuk menghangati tubuh mereka. Walaupun suhu di bawah nol derajat tidak menutup kemungkinan aktifitas di kota yang padat penduduk itu beku. Orang-orang masih harus bekerja dan melakukan aktifitasnya.

Seorang pemuda tampan termenung di ruang kerjanya. Tatapannya meredup, menatap jauh lewat jendela yang sengaja ia buka. Dinginnya cuaca tidak dapat mendinginkan hatinya yang terluka. Hatinya terbakar amarah, emosinya ditekan dalam-dalam ke sudut hatinya. Ia marah, sedih, kecewa pada kegagalan, pada keluarganya, pada semuanya.

Gilang tahu kalau manusia tidak selalu bisa mendapatkan setiap hal yang diinginkan. Ada kemungkinan gagal. Seperti dirinya saat ini. Seharusnya ia dapat menerimanya dengan lapang dada. Tapi pada prakteknya, ternyata ia tidak mampu. Di sepanjang hidupnya, yang berisi hanya keberhasilan, hidupnya hampir sempurna karena keinginannya selalu terwujud. Tak heran, kegagalan saat ini luar biasa menyakitkan.

Krriinggg .... Krriinggg ... Krrinnggg ...

Gilang sedikit terhenyak saat mendengar teleponnya berdering. Pria itu melangkah menuju meja kerjanya dan langsung mengangkat gagang telepon dan menempelkan masing-masing ujungnya di telinga dan mulutnya.

“Hallo ... Whos speaking?” Sapa Gilang ramah.

Ini mamah, Gilang ...” Jawab ibunya di sana.

“Oh ya, Mah ... Mamah sehat kan?” Kata Gilang.

Mamah baik-baik saja ... Bagaimana keadaanmu, nak?” Balas sang ibu.

“Aku baik dan sehat juga, mah ... Berkat doa mamah ...” Kata gilang lembut.

Oh ya ... Gimana usahamu di sana? Ada masalah kah?” Tanya ibunya lagi dan lagi.

“Baik mah ... Semua lancar ... Sekarang pabrik susu Gilang bertambah satu ... Masih di tempat yang sama cuma diperluas lokasi pabriknya ...” Jelas Gilang.

Bagus kalau begitu ... Pemasaran lancar juga kan?” Tanya sang ibu seperti seorang wartawan sedang mewawancarai narasumbernya.

“Sempurna, mah ... Gilang sudah bisa menembus pasaran Asia sekarang ... Bahkan untuk pasar di Eropa ... Gilang masih kewalahan ...” Jelas Gilang bersemangat.

Bagus nak ... Tapi mamah gak akan bosen ngingetin kamu ... Jangan sampai keluarga kita tau kalau mamah modalin kamu di sana ... Bisa-bisa mamah kena damprat ayahmu ...” Jelas ibundanya yang membuat hati Gilang menjadi panas kembali.

“Ya mah ... Gilang selalu ingat ...” Lirih Gilang dengan hatinya yang terluka.

Ya udah ... Baik-baiklah kamu di sana ... Jaga kesehatan ... Mamah selalu menyayangimu ...” Ucap sang ibunda penuh rasa kasih sayang.

“Aku juga menyayangi mamah ...” Balas Gilang.

Tak lama hubungan telepon terputus dan Gilang pun meletakkan gagang telepon perlahan. Geraham pria itu mengetat kaku, dan tangan-tangannya terkepal di atas meja. Bisikan-bisikan setan mempengaruhi hatinya. Dari bisikan-bisikan itu muncul ide gilanya untuk meraih kembali apa yang dicita-citakan pria itu selama ini. Berkelebatan bayangan wanita impiannya di kelopak mata semakin menguatkan niat untuk meraih yang dulu tidak bisa diraihnya.

Maafkan aku saudaraku ... Aku akan rebut dia dari tanganmu ... Karena dia adalah milikku ...” Bisik hati kecilnya yang sudah membeku.

###

Di tempat lain ...

Sambil menghela napas panjang, Cipta aka Cinthunks menatap istrinya dengan wajah sangar sambil menggendong anaknya yang sejak tadi menangis. Badan anaknya terasa panas, demam tinggi yang dideritanya. Sementara sang istri dengan acuhnya berdadan merias diri di depan meja riasnya. Cipta memang mempunyai kesabaran yang luar biasa terhadap istrinya yang sangat tidak memperhatikan rumah tangga yang mereka bangun. Namun kali ini, amarahnya tak tertahankan tetapi lagi-lagi ditanggapi dingin oleh Karina.

“Karina ... Aku peringati sekali lagi ... Jangan pergi meninggalkan rumah ... Liat anak kita, dia perlu perawatan ...” Ancam Cipta penuh Emosi.

“Apa susahnya sih? Tinggal bawa ke dokter aja ... Kalau kamu gak bisa, tinggal suruh pembantu ...” Ucap Karina Enteng.

“KARINA!!! Jangan sampai kesabaranku habis?” Bentak Cipta yang darah panasnya sudah mencapai ubun-ubunnya.

“Malah ... aku mau kalau kesabaranmu habis ...” Sangat ringan Karina mengucapkan itu.

“Baik ... Baik ... Kalau itu yang kamu mau ...!” Cipta mendengus sambil pergi meninggalkan Karina yang masih asik berdandan.

“Cih ... Kenapa loe gak cerain gwe aja ...?” Gumam Karina pelan sambil mendecih.

Dengan hati yang pedih, Cipta mengendarai mobilnya menuju rumah sakit terdekat. Anaknya kini benar-benar sakit dan butuh pelayanan rumah sakit. Beberapa menit kemudian, Cipta sampai di rumah sakit dan langsung memeriksakan anaknya. Alangkah terkejutnya Cipta saat dokter memvonis anak perempuannya mengidap demam berdarah. Pihak rumah sakit segera memberikan perawatan dan pengobatan kepada anak itu. Keadaannya sangat kritis karena pembiaran Karina yang memang tidak memperdulikannya.

Sementara itu, Karina keluar rumah hendak kumpul-kumpul dengan teman-teman rumpinya. Kendaraannya melaju tenang setenang hatinya. Sebuah bungalow di kawasan selatan Kota Bandung yang ia tuju. Kemacetan yang terjadi tidak menjadi penghalang baginya untuk terus mencapai tujuan. Sekitar dua jam berlalu, Karina sampai di sebuah bungalow yang letaknya persis di kaki gunung. Sebuah bungalow yang dihiasi taman-taman indah dan mengalir sungai dengan air yang jernih di bagian bawah gedungnya.

“Hai, girls ... Sorry macet banget ...” Seru Karina kepada ketiga temannya yang rata-rata usianya di atas Karina.

“Hai ... Gak apa-apa kok ... Kita juga baru sampai ...” Sahut Gladis, wanita tertua dan ketua di antara mereka.

“Hai ... Kamu semakin cantik aja sih Karin ...” Sahut temannya yang lain bernama Susan, seorang wanita yang selalu ‘menor’ tetapi menawan.

“Hai Karin ... Sini ... Tuh Minuman buat penghangat ...” Sahut satu lagi temannya yang bernama Tika, wanita yang mempunyai payudara paling montok di antara mereka.

“Ok ... Makasih ...” Ucap Karina sambil bergabung dengan ketiga wanita sexy tersebut.

“Oh ya, Karin ... Kata Susan, kamu kenal dengan pengusaha yang namanya Zaki ...” Tiba-tiba Gladis berujar yang membuat Karina melongo sesaat.

“Ya ... Emang kenapa?” Tanya Karina heran.

“Yang bener nih ... Beneran kamu kenal dengan dia?” Timpal Tika dengan mimik yang sangat serius.

“Sebentar ... Sebentar ... Kok kalian ujug-ujug nanyain dia? Ada apa sih...?” Kini Karina yang balik bertanya karena sangat heran melihat keseriusan wajah teman-temannya.

“Bukan ... Aku dan Tika kemarin hari Kamis menghadiri acara di Hotel Hori*on ... Kami melihat dan bahkan ngobrol sebentar sama beliau ... Duh, mak ... Aku pengen nyubit hidungnya deh ... Lucu banget ...!” Ungkap Gladis dengan gaya kemayunya.

“Bener Karin ... Aku cuma cium parfumnya saja .. Jadi horny sendiri ... Hi hi hi ...” Sambung Tika.

“Dasar ... Ganjen ...” Susan yang sejak tadi diam mengumpat.

“Eh .. Kamu ya ... Kalau udah berhadapan dengan dia kamu bisa-bisa pingsan ...” Kata Gladis sambil mencubit tangan Susan. Sementara yang dicubit hanya memanyunkan bibirnya.

“Hi hi hi ... Jadi gitu ceritanya ... Bahkan aku pernah tidur sama dia ...” Celetuk Karina tanpa rasa malu.

“Aih ... Beneran Karin ... Gimana ... Gimana ... Tangguh kah dia? Kok aku jadi exiting gini?” Tika begitu bersemangat dengan menggeser duduknya hingga merapat pada Karina.

“Duh ... Pokoknya luar biasa deh ... Punyanya dia tuh ... Hhhhmm ... Akh, gak bisa deh diuraikan dengan kata-kata ...” Goda Karina pada kedua temannya.

“Ahh ... Mau dong ...! Eh, kamu masih nyimpan kontaknya gak?” Tanya Gladis semakin seru.

“Sayangnya gak ... Kalau suamiku mungkin punya ... Tapi dia selalu gak ngasih kalau aku minta ...” Kata Karina sedikit mengeluh.

“Aduh ... Usahain dong sayang ... Aku ingin bobo sama dia ... hi hi hi ...” Tika merajuk.

“Ihk ... Sebelum kalian ... Ya, pasti aku duluan dong ...!” Sergah Karina sambil cemberut.

“Tapi ... Ngomong-ngomong, dimana kamu kenalan dengan si ganteng maco itu?” Tanya Gladis lagi pada Karina.

“Dulu, dia teman kuliahku ... Dia adik kelas ... Kita pernah pacaran walau cuma sebulan ... Hi hi hi ...” Jelas Karina sambil mengingat masa-masa indahnya bersama Zaki.

“Oh ... Pantes atuh ...” Sahut Gladis dan Tika hampir bersamaan.

“Karin ... Ini mah cuma angan-angan aja ... Bagaimana kalau kita buru si tampan Zaki ... Kita bawa ke tempat ini, terus kita pake deh bareng-bareng ...” Gladis berkata mengeluarkan rencananya.

“Kayaknya susah deh ... Dia orangnya lurus banget ... Oh, ya, istrinya tiga loh ... Cantik-cantik lagi ... Kita mah gak ada apa-apanya dibanding mereka ...” Keluh Karina.

“Hei ... Masa kita gak bisa? Percuma dong kita menjuluki diri sebagai pemburu pria tampan ...” Celetuk Susan yang mulai tertarik dengan pembicaraan teman-temannya.

“Bener tuh kata Susan ... Mana ada cowok yang gak tertarik sama kita sih? Tinggal mengangkang saja mereka semua klepek-klepek ...” Sahut Gladis.

“Bisa sih dicoba ... Tapi hasilnya sangat tipis berhasil ...” Kata Karina setengah pesimis.

Keempat wanita cantik yang usianya kisaran 25 sampai 30 tahun itu kemudian mendiskusikan langkah-langkah untuk ‘menggoda’ sang pengusaha tampan yang mereka maksud. Mereka selalu begitu jika ingin menjerat ‘mangsanya’ dan telah menjadi kebiasaan. Sudah banyak laki-laki yang terjerat oleh permainan mereka dan bertekuk lutut di telapak kaki mereka yang rata-rata pengusaha muda dan kaya. Dari situlah kemudian mereka ‘memoroti’ si laki-laki dengan dalih bermacam-macam, dari dalih lembut sampai dalih kasar, sampai hartanya ludes dan tidak jarang pula rumah tangga si korban berantakan.

BERSAMBUNG

Terima kasih atas segala perhatian ...
Mohon maaf atas segala kekurangan ...
Kritik dan sarannya ...
Semoga menghibur ...
Sehat selalu ....
 
Terakhir diubah:

Nicefor

Calon Suhu Semprot
Thread Starter
Daftar
29 Nov 2017
Post
2.637
Like diterima
40.654
Wah ternyata belum selesai
Ya om @Airlangga01 ... Dilanjut kok ... Smoga berkenan ...
Makasih ya om dan sehat selalu ...
Permisi om....
Ikuttttt non ayu malah ngacirrr duluan.
He he he ... Ya Om @Ancukerr harus ngalah deh ... Daripada berabe ...
Makasih ya om dan sehat selalu ...
Ijin masang patok disini om @Nicefor
Silahkan om @Sonic110 ... Buat patoknya agak di depan, biar gak ketinggalan ...
Makasih ya om dan sehat selalu ...
 

Nicefor

Calon Suhu Semprot
Thread Starter
Daftar
29 Nov 2017
Post
2.637
Like diterima
40.654
Hadirrrrrrr.patok dlu ah
Makasih ya om @n00bita ... Jangan bosen ya baca cerita ane ... Biar ngasal asal pede ...
Sehat selalu ...
Mantap Hu. Terlanjutkan lagi rupanya penasaran awak. Sukses trus melanjutkan cerita ini Hu.
He he he ... Kok terlanjutkan penasarannya sih om @Capoks ... Smoga berkenan saja ...
Makasih ya om dan sehat selalu ...
 

Nicefor

Calon Suhu Semprot
Thread Starter
Daftar
29 Nov 2017
Post
2.637
Like diterima
40.654
Ijin psang tenda d mari om
Silahkan om @Arjuna116 ... tendanya jangan lebar-lebar ya ... Kasian yang lain ...
Makasih ya om dan sehat selalu ...
Ijin nyempil di pejwan om Nicefor.. Sehat slalu om..
Silahkan om @qthi ... Yang nyaman aja ... Jangan pernah bosen ya ...
Makasih ya om dan sehat selalu ...
lanjut lagi om nicefor, izin nyimak
Siap om @bhelod ... Pasti dilanjut ... Smoga berkenan ...
Makasih ya om dan sehat selalu ...
 
Sbo Hoki Online   Senior Bola Online
Jav Toys   Asia 303
Domino168 - Agen Bola   Bandar 808 online
Jaya Gaming online   Nagawinqq Situs Judi Online terpercaya
Waspada, pin ini BUKAN pin Forum Semprot :
D005 0B6C

Pasang iklan hanya lewat CONTACT US
Top
Current URL :