King 4D - Agen Bola   Poker Ace
9Club Situs Judi Online Terpercaya
Asus Togel online   Premier 189
Website Bandar Agen Taruhan Judi Bola Online Terpercaya   Game MM Bola Tangkas Online Indonesia
Situs Bandar Togel Online Resmi Terpercaya   Situs judi Deposit Pulsa
Situs Judi Deposit Pulsa Tanpa Potongan   Liga Dunia
Mandala Toto
Pasang iklan, hanya lewat Contact Us.
Waspada penipuan iklan. Klik di sini untuk melihat daftar penipu.

CERBUNG MAJELIS SYAHWAT [NO SARA]

Tim manakah kalian yang paling menantikan background karakter Majelisnya dibahas?

  • Tim Husna

    Votes: 51 25,1%
  • Tim Farida

    Votes: 15 7,4%
  • Tim Sofia

    Votes: 34 16,7%
  • Tim Khansa

    Votes: 9 4,4%
  • Tim Ustadzah Alya

    Votes: 132 65,0%

  • Total voters
    203
  • Poll closed .
Status
Thread ini sudah dikunci moderator, dan tidak bisa dibalas lagi.

NTR_Hinelle

Kakak Semprot
Thread Starter
Daftar
13 May 2020
Post
188
Like diterima
2.354
Lokasi
Pinggiran Dusun Agak Sanaan Dikit
Permisi suhu-suhu sekalian. :banzai:
Nubie izin memposkan karya pertama Nubie ya, suhu semua!
Sebuah cerita dramatisir berdasarkan kejadian nyata. Cielah~
Mohon jangan dibully ya hu, kasihan anak bawang.
Diingetin bae-bae, biar ngga disleding Momod.
:senam::sendirian:


WARNING!!!
[NO SARA + NO QUOTE]

Cerita ini merupakan salah satu adaptasi kisah nyata dari salah seorang Member Forum 46. Adapun izin untuk penulisan sudah disetujui oleh Narasumber dengan catatan tidak menggunakan nama dan foto pelaku yang sebenarnya.

Cerita ini bukanlah konten yang dibuat untuk menyerang atau mendiskreditkan suatu pribadi/keyakinan tertentu. Cerita ini mengulas tentang kisah sekumpulan oknum mamah muda yang join grup seks—udah itu aja intinya.

Sekali lagi nubie ingatkan, nama dan mulustrasi bukanlah nama dan tokoh sebenarnya dari cerita. Mulustrasi hanyalah pemanis belaka yang dipilih berdasarkan kemiripan dengan tokoh yang dituturkan oleh Narsum.

NO SARA, NO PK, NO RESHARE (Di Situs Manapun selain Semprot).
Jika di kemudian hari ada SJW, PK (detected), RESHARE, dsb. thread auto-lock dan cerita ngga diupdate lagi.


Kalo merasa ngga tahan ngga usah lanjut baca, udah baca warning tapi maksa lanjut 'kan aneh ya.

Nubie males debat, buang-buang tenaga.
:ngeteh:
Q : Updatenya kapan nih?
A : Cerita diupdate setiap 7 (tujuh) hari sekali, dan paling cepet bisa dipangkas waktu updatenya jadi 4 (empat) hari sekali.
Supaya ngga ngespam updatenya kapan, bisa sambil pasang tenda, dan alarm.
Semisal updatenya ternyata lebih dari itu, artinya nubie lagi sibuk sama kerjaan di RL, atau ada masalah sama kompi/koneksi internet, akan nubie posting pemberitahuan delay updatenya dan akan nubie lock sementara threadnya.



Q : Kok updatenya lama? Nyampe segitu?
A : Ane solo-work dan juga masih nubie. Jadi, ngetik sendiri, edit sendiri, riset sendiri, nyoblos binor usaha sendiri, upload sendiri, sinyal di tempat nubie kadang GSM (Gerak Sedikit Mati) bikin gabut sendiri, dan lain-lain lah yang pokoknya mesti sendiri.
Tapi…ada tapinya nih, kalau threadnya keburu rame dalam kondisi kompi & koneksi nubie finefine aje, terpaksa nubie usahakan percepat updatenya, menyesuaikan tuntutan suhu-suhu sekalian.

SINOPSIS:
Datangnya lamaran Mas Dani di usiaku yang kini menginjak 24 tahun, membuatku terpaksa mengakui kepadanya rahasia penyimpangan seksual yang aku miliki.
Mendengar ia yang mampu menerimaku apa adanya, membuat hatiku begitu berbunga.
Namun, tentu saja Farida sahabatku tidak menelan mentah-mentah semua kata-kata manisnya. Munculnya tawaran dari Farida untuk mengikuti sebuah grup bernama Majelis Syahwat menjadi kesempatanku untuk membuktikan apakah kata-kata Mas Dani merupakan perasaannya yang sebenarnya atau hanya omong kosong belaka.
.
.
From anonymous content.....
Cerita didramatisir berdasarkan Kisah Nyata.....

.
.
MAJELIS SYAHWAT
.
.
 
Terakhir diubah:
Indosniper

NTR_Hinelle

Kakak Semprot
Thread Starter
Daftar
13 May 2020
Post
188
Like diterima
2.354
Lokasi
Pinggiran Dusun Agak Sanaan Dikit
  • Thread Starter Thread Starter
  • #2
PROLOG


Husna Nadya Al-Humaira

Aku menggembungkan kedua pipiku menunggu Mas Dani selaku tunanganku mengantri mengambilkan minuman buatku. Jemari kananku sesekali memainkan ujung hijabku dan menunduk menatap tangan kiriku.

Bibirku tersenyum melihat cincin yang terpaut di jari manisku, tak kusangka setelah sekian lama kami pacaran akhirnya genap di usiaku yang menginjak 24 tahun, Mas Dani melamarku. Mataku menatap lekat sosok pria yang berdiri di kejauhan sana. Dia kelak bakal menjadi suamiku dan ayah dari anak-anakku.

Aku bahagia, sungguh.

Namun tak terasa air mataku menetes. Aku takut sekali. Saat Mas Dani melamarku, sejujurnya masih ada yang ingin kupastikan padanya. Namun karena hatiku sudah meledak duluan sebab rayuan cintanya, aku spontan mengatakan iya.

Beruntung sekarang kesadaranku sedikit pulih dan bergegas mengajak Mas Dani ke McD sekedar minum dan bicara beberapa hal.

“Umi, maaf ya lama. Tadi antrinya panjang.” Mas Dani duduk di depanku dan menyerahkan Red Velvet pesananku.

“Iya, ngga apa-apa, Abi.” Aku tersenyum manis menatapnya namun air mata yang sedari tadi kutahan tak terasa membasahi pipiku.

“Umi, kenapa?” tanya Mas Dani, aku menggeleng kecil dan mengusap pipiku yang basah.

“Abi. Sebelum kita nikah, sebenarnya ada yang Umi pengen Abi tahu soal Umi,” lanjutku sedikit serius. Mas Dani yang tadi ingin meminum Pepsi miliknya pun sempat tertahan.

“Ada apa, Umi? Soal resepsi ya?” tanya Mas Dani, aku kembali menggeleng.

“Ini soal sifat yang selama ini Umi pendam dan Abi harus janji … apapun yang bakal Umi katakan, Abi bisa menerimanya dengan lapang dada,” lanjutku hingga ia pun terdiam.

Mas Dani kemudian mengelus puncak kepalaku dan jemarinya turun ke lipatan jilbab didaguku. “Apapun yang bakal Umi katakan, Abi janji kita akan tetap lanjut ke pernikahan.”

Kata-kata Mas Dani sejujurnya hanya separuh menenangkanku. Apakah itu kata-kata kosong atau berisi, tergantung pernyataanku selanjutnya. Kenapa sih ngga dari jauh-jauh hari aku bilang ini? Kenapa aku ngga dengerin kata Farida, kutukku dalam hati.

“Abi … sebenarnya Umi … suka dipegang laki-laki lain … apalagi di hadapan Abi.”

Sontak air muka Mas Dani pun mulai berubah saat mendengarnya. Ah, sudah kuduga. Aku yakin Mas Dani ngga bakal bisa menerima calon istri yang punya penyimpangan pada orientasi seksualnya.

Tapi selayaknya Mas Dani yang ingin bahagia, aku pun ingin merasakan hal yang sama. Aku tak mau saat menikah nanti Mas Dani heran melihatku yang tidak pernah bisa menunjukkan kepuasan saat bersama dengannya.

Aku ingin dia mengetahui alasan aku tidak merasakan sentuhannya sekarang, ataupun nanti, sebelum kami menikah.

“U-Umi tahu, Bi … mu-mungkin ini kedengarannya hina bagi Abi … seorang akhwat seperti Umi … mengatakan hal semacam itu. Ta-Tapi Umi pengen Abi menerima bagian dari diri Umi yang itu … hiks … Biii,” ucapku kelu dan perlahan aku sedikit menangis.

Rasa malu, hina, berkumpul di dadaku menjadi satu.

Dibalik semua atribut agama ini, aku tetap bukanlah manusia sempurna. Jati diriku egoisnya ingin Mas Dani menerima semua kekuranganku, bukan hanya memandang kelebihanku dari luarnya.

“Abi senang Umi udah jujur sama Abi.”

Wajahku bertengadah kala mendengarnya. Apakah ini benar? Apakah yang Mas Dani katakan itu benar?

“Kita tetap nikah kok,” ucapnya pelan. Aku pun menangis kecil dan mengapitkan erat sela-sela jariku dengannya.

“Abi,” bisikku padanya.

“Umi,” balasnya penuh senyuman.

Sepertinya akhir hidupku, akan kuhabiskan bersamamu, Mas Dani.

Atau setidaknya ….

Itulah awal pikiranku ….

Hingga keesokan harinya, kata-kata Sahabatku pun meluncur deras saat mendengar ceritaku tentang perkataan Mas Dani.

“Dan kamu percaya kata-kata dia? Ya ampun, Na? Lelaki mana pun bisa ngucapin hal itu dengan gampang. Buktinya itu nanti. Coba kalau pas udah nikah kamu ngobrol ama lelaki lain, dia pasti cemburu. Becanda ama lelaki lain, dia pasti cemburu. Walaupun kalian pada dasarnya ngga punya hubungan apa-apa.”

Farida sahabatku terus mengomeliku, sementara aku diam menerima semua serangannya. Diam-diam aku membenarkan kata-katanya karena sudah lama aku dan Farida merasakan ada benih-benih posesif di mata mas Dani.


Farida Ananda Safitri

Apalagi ketika aku memberikan keperawananku pada Mas Dani. Semakin hari aku semakin susah berkumpul dengan teman-teman kuliah pria yang lain.

Aku bukanlah boneka yang ingin terus main rumah-rumahan dengan teman-teman wanita dalam kepalsuan. Aku ingin bebas, dengan siapapun aku mau, menyentuh dan disentuh siapapun yang aku mau. Aku takut dia akan mengekangku sewaktu nikah nanti.

“Buktiin kataku! Harusnya dia buktiin kata-katanya! Kalau dia ngga bisa, mending kamu ngga usah nikah ama dia. Lelaki kayak gitu cikal bakal hubungan toksik. Aku takut, Na. Kalau dia sampai main tangan ke kamu gimana?” cecar Farida padaku.

Aku menunduk saat sahabatku itu mengomeliku. Layaknya seorang sahabat, Farida tak pernah meninggalkanku menanggung rasa sakit sendirian. Saat aku kesepian karena Mas Dani melarangku keluar jalan pun, Farida rela menjengukku dan menemani waktu-waktu hampaku.

“Tapi aku mesti gimana lagi, Da? Aku ngga tahu cara buktiinnya dan aku takut dalam prosesnya aku malah kehilangan Mas Dani …” Aku menggigit bibir bawahku sedikit terisak.

Farida yang melihat wajah senduku pun luluh dan diam—membiarkanku menyelesaikan lara dalam hatiku terlebih dahulu. Ia duduk kembali dan mengelus sedikit puncak hijabku sebelum kemudian kembali bicara.

“Sebenernya aku ada ide, tapi semuanya aku kembalikan ke kamu.” Farida menolehkan pandangannya ke kiri dan kanan dengan pelan, membuatku heran.

Hatiku yang penasaran mengalahkan rasa sedihku sehingga isakan tangisku sedikit berkurang, “Hiks … hiks … A-Apaan … Da?”

“Akhir-akhir ini, aku punya temen sharing fantasi yang sama, Na. Kami kenalan di Facebook. Awalnya dia komen di fotoku yang nakal itu, terus kami mulai sering kontak dan … dia punya ide yang—“ Farida terhenti, ia mengalihkan wajahnya sesaat dariku sebelum melanjutkan.

“—bikin aku basah, Na.” Ia berbisik melanjutkan dengan wajah pengennya.

Aku tak pernah melihat wajah Farida terangsang sampai pada tingkat itu, hanya gara-gara membicarakan seseorang. Kami berdua sering mengintip video dewasa sesekali, paling mentok ia cuman gigit bibir melihat adegannya.

“Ini beda dengan film-film dan cerita-cerita yang sering kita baca, Na. Khusus ini kita ditawarin langsung aslinya,” kata Farida.

“M-Maksudnya apaan, Da? Aku ngga ngerti.” Aku mengusap air mataku hingga kering.

Sedikit banyak aku mulai bisa menebak kemana arah pembicaraan ini serta apa yang sebenarnya ditawarkan orang itu pada Farida. Namun, aku ingin Farida benar-benar mengucapkannya sehingga aku sadar, ini bukan mimpi.

“Dia nawarin kita berdua buat sama-sama gabung sebuah grup tertutup yang fungsinya buat menyalurkan fantasi-fantasi seks aneh kita selama ini,” bisik Farida.

“Astaghfirullah?! Maksud kamu grup seks?!” jeritku kecil.

“Sssshhhhhhsh!! Suara kamu kecilin dikittt!!” Farida menaruh telunjuk di bibirnya dan membuatku hening sesaat.

“Tapi itu ‘kan ngga boleh, Da. Itu dilarang agama. Jangankan sampai ke situ, kita pegangan tangan aja sama yang bukan mahram aja udah salah. Apalagi gituan. Lagian kamu udah punya suami ‘kan?” ucapku pelan pada Farida dengan penuh kekhawatiran.

“Selama ini kamu pikir Mas Ridwan bisa nerima fetish aku dan memandangku dengan normal? Aku terkekang, Na. Aku terkekang dalam fantasi aku sendiri. Kalau kamu sahabat aku, harusnya kamu dukung ini, dong!” lirih Farida sedikit lemah, membuatku kasihan mendengarnya.

“Ta-Tapi aku takut, Da. Aku takut Mas Dani malah ngga suka lagi sama aku yang asli. Aku takut dia ninggalin aku.” Aku masih sedikit ragu untuk mengiyakan.

“Sekarang kamu pakai logika deh. Lebih baik dia nyesal dan ninggalin kamu saat kalian tunangan gini, atau dia nyesal dan ninggalin kamu saat kalian sudah punya anak nanti?” tanya Farida.

Aku pun terdiam. Kata-kata itu menusukku. Aku tak bisa membayangkan betapa hancur hatiku saat melihat anakku kehilangan sosok ayahnya—dan itu disebabkan fetish seks ibunya yang abnormal.

Selama ini Farida selalu menjadi pendengar baikku, sahabatku kala susah dan senang, selalu memberiku solusi dalam setiap masalahku. Dia yang paling bisa kupercaya bahkan melebihi Mas Dani.

Apa salahnya percaya dengan Farida sekarang. Ya ‘kan?

Namun lidahku kelu untuk mengiyakannya. Gamis dan hijabku seolah menahanku erat untuk menunjukkan sisi liar di dalam tubuhku.

“Aku tanya Mas Dani dulu, ya?” lirihku lemah dan wajah Farida pun nampak sumringah mendengarnya.

“Nanaaa, aku sayang kamu!!!” Farida memelukku dan aku pun hanya tertawa hambar sembari memeluknya balik.

Di perjalanan pulang aku terus memikirkan tawaran Farida, Mas Dani yang sedari tadi menyetir pun sepertinya mulai menyadari kegundahanku sepanjang jalan.

“Umi mikirin apa?” tanya Mas Dani.

“E-Eh …. E-Engga kok Bi,” jawabku seadanya dan kembali ke lamunanku.

“Kalau ngga ada apa-apa kok diem. Biasanya Umi ngga gini,” lanjut Mas Dani, aku pun terdiam.

“Bisa hentiin mobilnya sekarang ngga, Bi. Ada yang ingin Umi omongin,” pintaku lemah.

“Kok harus berhenti di sini? Kenapa ngga sambil jalan aja? Atau kalau ngga nanti lah … di rumah …” Mas Dani membelokkan setirnya pelan. Memang jalan yang kami lalui sekarang kebetulan area yang sepi dan rawan kejahatan, jadi ia tampak sedikit ragu mendengar permintaanku.

“Kalau sambil jalan, Umi takut Abi malah nabrak gara-gara dengernya. Kalau nunggu di rumah, Umi keburu bete,” kilahku, setelah berpikir panjang Mas Dani pun memelankan mobilnya dan berhenti.

“Nah, sekarang, apa yang mau diomongin?” tanya Mas Dani.

“Abi … Umi pernah cerita ‘kan soal fetish Umi sama Abi,” jawabku.

“Oh iya, yang katanya kamu sange kalau dipegang cowok lain, apalagi dihadapanku itu ya?” sahut Mas Dani dengan vulgar dan blak-blakan.

“Sebenarnya …” lirihku yang kemudian mulai menceritakan ide Farida.

Mas Dani yang mendengar ceritaku pun sampai keluar dari mobil untuk sekedar menarik napas. Ia benar-benar sulit percaya dengan apa yang aku katakan serta keinginanku untuk ikut-ikutan ide Farida. Aku pun ikut turun takut ia melakukan hal yang tidak-tidak. Kemelut emosi masih tampak memenuhi Mas Dani, membuatku harus sedikit menjaga jarak.

“Dan Si Ridwan setuju Farida ikut-ikutan beginian?” tanya Mas Dani sedikit berteriak, aku hanya mengangguk lemah.

“Gila kalian!” teriak Mas Dani hingga sedikit bergema di jalan sunyi itu.

Ia menarik napas panjang mencoba menenangkan diri dan aku pun takut untuk bicara lagi. Aku takut memperkeruh suasana hati Mas Dani sekarang.

“Itu bukan dunia kita, Umi. Sadar ngga sekali ikut begituan, sekali ngerasain begituan, Umi ngga bakal bisa balik lagi ke diri Umi yang dulu. Tuhan bakal melaknat Umi dan membiarkan Umi dalam kesesatan, kecuali Umi berusaha sekuat tenaga buat balik,” serang Mas Dani padaku.

Aku hanya menangis dan berusaha mengulum senyumku.

“Ternyata Farida benar. Semua kata-kata Abi yang dulu cuma kata-kata kosong. Abi ngga bisa dan ngga bakal bisa ngelihat Umi sama laki-laki lain,” isakku penuh kecewa.

“B-Bukannya gitu, Umi. Ini ‘kan udah terlalu jauh Umi, Abi—“

“Kalau gitu buktiin dong, omongan Abi! Umi ‘kan udah ngasih keperawanan Umi ke Abi, dan Abi udah ngelamar Umi, kita udah pasti naik pelaminan, apa lagi yang Abi takutin?! Abi takut Umi ketagihan kontol lain?! Abi takut Umi ngga puas sama Abi?! Abi ngga percaya Umi?!” cecarku balik penuh tangis, nampak wajah emosinya pun mulai luluh mendengarku mengucapkan kata sevulgar itu.

“Ta-Tapi ‘kan Umi …”

“Yaudah, kalau gitu cabut aja lamaran Abi! Umi bisa ngerti kok. Lagian siapa juga yang mau sama akhwat munafik macam Umi,” rengekku lagi sembari melepas cincin tunanganku, wajahnya pun mulai berubah menjadi takut.

“T-Tunggu, Umi!! J-Jangan mikir kayak gitu!!” Mas Dani pun mendekatiku dan memelukku.

“Tinggalin aja Umi di jalan sini! Umi ngga perlu Abi. Umi bisa pulang sendiri. Biarin aja Umi di sini nunggu taksi sambil diperkosa orang!” ancamku lagi di dekapannya, ia pun mengelus-elus punggungku.

“Umi, udah ah, jangan gitu. Abi udah paham kok. Jangan marah lagi, Umi. Abi sayang Umi,” rayu Mas Dani padaku, aku pun menangis hingga emosiku reda di dadanya. Ia menghapus air mataku dan menatap wajahku dengan lembut.

“Abi percaya Umi kok. Kalau memang itu kemauan Umi, Abi bakal turutin. Abi janji bakal tetap setia sama Umi walaupun harus menyetubuhi akhwat-akhwat di grup itu, tapi Umi mesti janji bakal tetap setia sama Abi walaupun harus melayani ikhwan-ikhwan lain di sana,” lanjut Mas Dani.

Aku yang masih sesengukan pun mulai reda mendengarnya, “Abi janji? Abi ngga marah ‘kan?”

“Iya, Abi janji kok. Abi setuju sama Farida. Abi juga janji ngga bakal marah atau cemburu walaupun Umi dipegang ikhwan lain. Umi juga harus janji ya?” pinta Mas Dani.

“Umi janji kok … bakal setia sama Abi …” balasku.

Meski sebenarnya aku tidak yakin apakah aku bisa tetap setia dengan Mas Dani setelah masuk grup itu dan memuaskan fantasiku. Aku hanya ingin berbohong supaya semua drama ini cepat selesai.

Terpatri dalam alam bawah sadarku … nafsu yang menggebu-gebu mulai terbangun. Kurasa jati diriku yang asli akan segera menyeruak keluar dari kekangan gamis dan hijab ini.

“Kita pulang yuk, Umi.” Mas Dani membelai telingaku yang terhalang hijab syar’i milikku.

Aku mengangguk pelan.

Semuanya pun berlalu cepat bagai mimpi di siang hari.

Tak terasa panggilan masuk dari Farida membangunkanku dari tidurku. Rasanya semua dialogku dengan Mas Dani kemarin malam masih terasa bagai khayalan. Farida berteriak senang saat tahu Mas Dani setuju dengan rencanaku.

Tak sampai beberapa menit Farida menutup telepon, notifikasi WhatsApp di ponselku muncul. Sebuah grup chat baru beranggotakan tujuh orang, di mana aku, Mas Dani, Farida serta suaminya merupakan anggota di sana.

“Majelis Syahwat?” ucapku sedikit heran melihat nama grup tersebut.

Nickname WA admin grup itu adalah Ustadzah Alya, sedangkan dua orang lagi bertuliskan Sofia dan Rifky. Aku pun reflek menyimpan nomor mereka bertiga di ponselku.

Aku terpana melihat foto profil WA dari Alya sang admin grup kami yang baru. Wanita ini bukan hanya sekedar muslimah, nama profilnya pakai embel-embel ustadzah, dia juga bercadar, bahkan tampak mengenakan pakaian gamis lebih tertutup dariku.

“Ng-Ngga mungkin, ah. Palingan gambar di Google dia jadiin foto profil,” tolak batinku.

Sulit bagiku menerima orang yang tampak lebih alim dariku malah menjadi wanita di balik semua ini. Terlebih lagi aku tak bisa membayangkan seorang Ustadzah mau mengelola grup semacam ini.
PING
Lamunanku seketika terbuyarkan saat ada pesan masuk di grup kami.

“Karena udah kumpul semua, weekend besok kita langsung check-in di villa ya. Camelia Hideout udah aku pesenin. Khusus pertemuan pertama ini, aku yang bayar semua tagihannya. Kedepannya baru kita jalanin iuran anggota buat sewa villa ya.”

Aku terpana melihat pesan pertama Ustadzah Alya di grup kami. Tak habis-habisnya aku menaikkan alisku saat melihat Mas Dani lah yang pertama membalas pesan Ustadzah Alya.

“Ditunggu ya, say.”

Aku spontan melenguh kecil. Sedikit sengatan listrik menggelitik area kewanitaanku saat melihat tunanganku tampak sedikit genit pada wanita selain diriku.

“Massh … awas kamu ya …” Aku tersenyum menggigit bibir bawahku membayangkan vaginaku akan dibuat becek di depan suamiku.

Seharian aku tak fokus dibuat grup baru kami. Beragam chat dengan kata-kata nakal memenuhi notifikasi ponselku dan membuat area kewanitaanku becek. Mas Dani berkali-kali menggeleng setiap aku tidak nyambung ketika membahas suatu hal dengannya.

“Sabar, Umi. Baru juga selesai Ashar. Besok masih lama,” goda Mas Dani sambil membelai mesra dadaku dari luar gamisku.

“Apaan sih, Abi ih!! Nanti dilihat orang tahu!!” protesku dan Mas Dani hanya terkekeh kecil.

Tidurku pun malam ini bahkan uring-uringan. Aku sengaja tak menginap di kos Mas Dani atau membiarkan Mas Dani menyentuh tubuhku malam ini agar semua nafsuku bisa kulampiaskan besok. Namun efeknya justru tubuhku semakin membara tiap jam berlalu.

Aku mengelus buah dadaku berkali-kali dan meremasnya, sesekali memainkan putingku yang sudah mengeras.

Kalau boleh jujur aku tidak terlalu pede dengan dadaku jika sampai dilihat orang. Ukuran 32C bagiku pribadi tidaklah terlalu besar. Aku berharap bodi montokku lah yang menjadi daya tarik saat di villa nanti.

Ah, kenapa aku malah berpikir seperti itu? Kenapa aku malah seperti seorang pelacur yang obral tubuhnya dengan murah. Aku tak boleh seperti ini teriakku dalam hati. Cairan kewanitaanku mengalir membasahi pahaku.

“Ahhh~ Ehmm~ Entotin aku, Mashh!” rintihku amat pelan entah kepada siapa, yang kutahu pasti ….

…. lelaki itu bukan Mas Dani.

Selesai shalat shubuh aku bergegas mandi dan berdandan.

Aku mengobrak-abrik lemariku dan mencari pakaian-pakaian yang akan kupakai untuk seharian penuh dan memasukkannya ke koperku. Hingga packing tak terasa memakan waktu satu jam lebih lamanya.

Mas Dani yang menjemputku pagi ini tampak menggeleng sedikit saat melihat antusiasku menuju mobilnya. Ia membantu mengangkat koperku sebelum kami berdua kemudian beranjak pergi.

Kami keluar kota A menuju sebuah villa di area pantai dekat kota B dengan jarak tempuh dua jam. Pukul delapan pagi lewat beberapa menit, kami tiba di Camelia Hideout Villa yang dimaksud Ustadzah Alya.

“Nanaaa, hai!!” panggil Farida yang ternyata sudah sampai duluan, Mas Ridwan yang sedang bongkar muat pun ikut menghampiri kami.

“Husna,” sapa Mas Ridwan sembari menangkupkan tangannya menyalamiku dari jauh, aku pun membalas salamnya.

Farida yang memelukku pun tersenyum senang melihatku dan Mas Dani yang setuju ikut kegiatan ini. Bagi kami, ini hal gila pertama yang kami lalui berdua di depan pasangan masing-masing.

Sebuah mobil lain muncul dan parkir cukup dekat dengan kami. Dari sana keluar dua orang pasangan yang cukup kukenal sekilas dari foto profil WA. Bisa kupastikan itu Sofia dan Rifky.


Sofia Nurul Huda

“Hei!! Heei!! Anggota ya?” sapanya saat mendekat ke arah kami.

“I-I-Iya …” Aku terpaku menatap Sofia. Bukan wajah cantiknya melainkan aset milik gadis itu yang memang bukan main, ukuran dadanya mungkin 36E atau jangan-jangan 36F, pikirku.

“Hushh! Malah ngelamunin bini orang!” Farida menepuk tangannya dengan keras menyadarkan Mas Dani dan Mas Ridwan yang ternyata memandangi hal yang sama.

Aku terkejut saat melirik celana Mas Dani dan Mas Ridwan yang ternyata sedang ereksi saat memandangi Sofia.

Dasar otak selangkangan, ngga bisa dikasih lihat toket yang gede dikit udah naik, racauku dalam hati.

“Saya Sofia, mas, mbak. Ini suami saya, Rifky.” Sofia dan kami saling berpelukan, sedangkan dengan para lelaki, ia hanya menangkupkan tangan, bersalaman jauh.

Kami berkenalan beberapa lama di lobi villa, sampai akhirnya satu mobil terakhir tampak muncul dan parkir di luar.

Dari dalam keluar dua orang lagi yang tampak begitu kontras perbedaannya bagaikan langit dan bumi. Rasanya mustahil mereka berdua ini pasangan pikirku.

Wanitanya memakai gamis lebar dan hijab syar’i lengkap dengan cadar bagaikan seorang gadis alim yang terjaga kesuciannya, sementara prianya lebih mirip tukang atau buruh harian dengan perawakan tukang pada umumnya.

“Assalammualaikum! Maaf ya, saya terlambat. Saya Ustadzah Alya,” sapanya setibanya di lobi.


Ustadzah Alya Ummu Safiyyah

Aku terperangah menatapnya, dia sungguh seorang Ustadzah pikirku, lengkap dengan gamis, jilbab, cadar, serta sikap dan aura kepemimpinan selayaknya simbol pemuka agama pada umumnya.

“Temen saya yang saya mau ajak hari ini ternyata ngga jadi datang. Jadi, saya ganti tukang parkir depan Indoapril tadi nih buat ikutan acara kita sebagai pengganti. Kita check-in ke kamar masing-masing dulu. Nanti balik lagi ke lobi biar saya jelasin aturan acara kita hari ini,” jelas Ustadzah Alya.

“Kenalin saya Marwan, pak, buk. Minta maaf kalau saya jadi pengganti hari ini.” Meski wajahnya jelek namun Pak Marwan menunjukkan kesantunan yang luar biasa di hadapan kami, padahal umur beliau jauh nampak lebih tua, dan kami harusnya yang hormat pada beliau.

“Salam kenal, Pak Marwan.” Mas Ridwan menyambut tangan beliau diiringi kami dan yang lain.

Selesai berkenalan. Aku dan Mas Dani berpisah dengan kelompok lain menuju kamar kami. Aku mengganti pakaianku dengan gamis dan hijab paling bagus yang kupunya. Hatiku seolah merasa tersaingi oleh keberadaan Ustadzah Alya yang seketika menjadi pusat perhatian.

Mas Dani mengganti pakaiannya dengan kemeja flanel dan celana hitam kain. Selepas mengganti pakaian, kami berdua pun diam saling bertatapan.

“Abi … Abi udah siap?” tanyaku lembut sedikit menunduk.

“Udah, Umi. Apa Umi masih ingat janji kita?” tanya Mas Dani balik.

Aku mengangguk lemah dan tersenyum tipis penuh ketulusan.

Persetan dengan janji kita, yang penting hari ini seluruh fantasi seksualku bisa terpuaskan, teriak hatiku seolah ingin meludah di wajah Mas Dani, namun sekali lagi, baik gamis dan hijab syar’i milikku seolah membelenggu lidah kotorku untuk mengucapkannya.

“Yuk!” Aku dan Mas Dani bergandengan menuju lobi.

Setibanya Sofia dan Rifky yang terakhir datang kami pun memulai briefing dari Ustadzah Alya terkait acara grup kali ini beserta aturannya.

“Buat kalian yang masih bingung sama Pak Marwan. Saya akan jelaskan. Grup Majelis Syahwat kita ini totalnya tujuh orang +1, kenapa +1, karena ikhwan +1 ini adalah kuda hitam yang akan saya datangkan setiap pertemuan. Artinya biar genap jadi delapan ditambah lagi satu tapi satu orang ini ikhwannya ganti-ganti,” mulai Ustadzah Alya, kami pun mulai mengerti alasan kenapa ada orang asing di grup ini.

“Aturan pertama, setiap pertemuan, para ukhti dan ikhwan sekalian harus ngikut code dress grup kita. Untuk code dress setiap hari nanti saya yang nentuin,” lanjut Ustadzah Alya.

“Aturan kedua, semua kata –ngentot– saya ganti dengan kata zina. Tanamkan di pikiran mas dan mbak semua bahwa zina dengan izin suami ini bukanlah dosa, bahkan jauh lebih nikmat daripada ngentot sama pelacur di tempat lokalisasi,” lanjut beliau lagi, sesaat kudengar Mas Rifky meneguk liur mendengarnya namun ia tetap berusaha memasang wajah jaim.

“Aturan ketiga, selama zina, para akhwat ngga boleh lepas hijabnya ataupun diminta lepas hijabnya, apapun alasannya. Rambut itu aurat, ngga boleh sampai kelihatan, paham?” jelas Ustadzah Alya. Kembali matanya menunjukkan ia baru saja tersenyum nakal di balik cadarnya.

“Aturan terakhir, selain dari istirahat check-in, kalian ngga boleh bersama dengan pasangan kalian, serta wajib memberikan tubuh pasangan kalian pada ikhwan atau akhwat lain jika ada yang minta. Ini akan jadi sedekah buat catatan amal kalian di grup ini,” jelas Ustadzah Alya.

Aku merinding mendengarnya, seluruh fantasiku rasanya melebur dalam ucapan Ustadzah Alya. Semua impianku bukan hanya diwujudkan tapi malah ditulis dalam salah satu aturan dasar grup ini. Aku sedikit menahan rasa horny di tubuhku yang mulai panas, karena masih canggung di depan orang banyak.

“Untuk acara selanjutnya, akan kita bahas pembagian ikhwan satu persatu setelah Shalat Dzuhur. Kalian yang mau istirahat dulu, makan, atau beli cemilan, dipersilahkan. Tapi kalau di area villa wajib pakai code dressnya, ya. Buat yang melanggar ada hukuman masing-masing.” Ustadzah Alya sedikit tersenyum saat mengucapkannya.

Aku sedikit bergidik membayangkan hukuman apa yang bisa diterima ketika melanggar peraturan di grup seperti ini.

Farida mengangkat tangan mengajukan pertanyaan. “Code dress para ukhti dan ikhwan hari ini apa, Ustadzah?”

Nampak dari balik cadarnya menyiratkan Ustadzah Alya tengah tersenyum simpul ketika mendengar pertanyaan Farida.

“Untuk para ikhwan, kalian wajib pakai atasan pria apapun jenisnya, dan bawahannya cuma boleh pakai celana dalam,” balas Ustadzah Alya dengan lirikan nakalnya dari balik cadarnya.

“Sedangkan buat para ukhti, hari ini kalian hanya boleh pakai hijab syar’i atau jilbab simpel dan atasan gamis. Bawahannya sama … kalian hanya boleh pakai celana dalam,” balas Ustadzah Alya.

Seketika duniaku pun runtuh menjadi satu, tak bisa kusembunyikan lagi orgasme kecilku saat membayangkan seharian ini aku hanya boleh memakai celana dalam ketika berjalan-jalan di seluruh bagian villa.

“Ahhbbi … Akku keluar …” bisikku pada Mas Dani yang duduk di sampingku.
.
.
Bersambung…
.
.

Ini karya pertama ane, hu. :banzai:
Kalau banyak kesalahan mohon jangan dihujat dan dikasih tahu baik-baik, supaya ngga down ngetiknya... :sendirian:

Monggo, monggo, gelar tikernya dulu, hu. Karena khusus chapter ini hanyalah Intro Kentang. Exe-exe ada di chapter selanjutnya. Muehehe…
Semangat colinya, hu!!

Jangan lupa like post nubie dan kasih sundul-sundul dikit hu, biar cepet update….
[NO QUOTE]
:ngeteh:
 
Terakhir diubah:

Kyuubey

Semprot Kecil
Daftar
2 Nov 2015
Post
88
Like diterima
83
waduh, langsung pada binal aja nih hu? tpp gapapa dah, mantep ide clubsexnya huehehe
 

NTR_Hinelle

Kakak Semprot
Thread Starter
Daftar
13 May 2020
Post
188
Like diterima
2.354
Lokasi
Pinggiran Dusun Agak Sanaan Dikit
  • Thread Starter Thread Starter
  • #12
Status
Thread ini sudah dikunci moderator, dan tidak bisa dibalas lagi.
Sbo Hoki Online   Senior Bola Online
Jav Toys
9 club   Game MM Bola Tangkas Online Indonesia
Game MM Bola Tangkas Online Indonesia   Gaple Online Indonesia
Pasang iklan hanya lewat CONTACT US
Top
Semprot is now part of PAGCOR