King 4D - Agen Bola   Poker Ace
9Club Situs Judi Online Terpercaya
Asus Togel online   Premier 189
Mandala Toto   Web Online
Web Online   Web Online
Web Online   Web Online
Web Online
Pasang iklan, hanya lewat Contact Us.
Waspada penipuan iklan. Klik di sini untuk melihat daftar penipu.

DRAMA "Perfect"

Siapakah yang akan "menyempurnakan" hidup Adi?

  • Gadis

    Votes: 474 59,2%
  • Ratna

    Votes: 124 15,5%
  • Karakter baru

    Votes: 203 25,3%

  • Total voters
    801
  • This poll will close: .

Balanewpati

Guru Semprot
Thread Starter
Daftar
19 May 2018
Post
503
Like diterima
16.025

Dearest Agan, Sista, Suhu, dan Sesepuh-Sesepuh penghuni forum yang sama-sama kita cintai. Ijinkanlah nubie yang hina ini untuk mencurahkan isi hati nubie melalui goresan pena digital dalam lembar demi lembar halaman trit yang ane buat ini yang mungkin juga hanya akan menjadi penggembira dari sekian banyak trit fenomenal, inspiratif, dari para sesepuh suhu di forum ini.


Cerita ini murni fiksi, hanya khayalan dari nubie semata, terinspirasi dari beberapa pengalaman hidup nubie sendiri, pengalaman hidup orang di sekitar nubie, serta dari buku-buku maupun tulisan yang pernah nubie baca. Jika ada kesamaan nama tokoh, waktu, alur, lokasi, semua itu hanyalah ketidak sengajaan yang tidak di sengaja, dan tidak ada maksud tertentu di belakang itu.


Cerita ini rawan macet, karena nubie juga memiliki kehidupan RL. Update berkala dan akan di usahakan seminggu sekali. Dan diusahakan akan mendapatkan “Tag Tamat”. Dan akhir kata, dengan kerendahan hati nubie mempersembahkan cerita pertama dari nubie yang hina ini. Selamat membaca, selamat menikmati. Dipersilahkan untuk merusuh, mengacau, mengkritik, memberikan saran, atau apapun, nubie akan dengan senang hati untuk menerimanya.





Salam,


Adi Rasatya Perdana

Cerita saya yang lain:

1. Reward? http://www.semprot.com/threads/reward.1358622/#post-1902452167 [Cerpan]
2. Kopi Asmara http://www.semprot.com/threads/kopi-asmara-2019.1327880/ [Cerpan, LKTCP 2019, Side Story Aida dan Ega]
3. Cinta Ku Dari Selembar Kartu ATM http://www.semprot.com/threads/cinta-ku-dari-selembar-kartu-atm-lktcp-2020.1364388/ [Cerpan, LKTCP 2020]
3. Aku Rindu Pada Sebuah Kesederhanan http://www.semprot.com/threads/aku-...derhanaan-remastered.1293857/#post-1899093160 [Cerbung - Tamat]

 
Terakhir diubah:
Indosniper

Balanewpati

Guru Semprot
Thread Starter
Daftar
19 May 2018
Post
503
Like diterima
16.025
  • Thread Starter Thread Starter
  • #2

PERFECT


Kesempurnaan bukanlah persoalan tentang menjadi yang terbaik…


Kesempurnaan bukanlah persoalan tentang menjadi yang terkuat…


Kesempurnaan bukanlah persoalan tentang seberapa banyak harta yang kita miliki…


Dan Kesempurnaan juga bukanlah persoalan tentang seberapa tinggi tahta yang bisa kita raih…


Kesempurnaan adalah tentang kebahagiaan yang kita rasakan…


Kesempurnaan adalah tentang kebahagiaan dari orang-orang di sekitar kita…


Kesempurnaan adalah tentang bagaimana dengan ketidak sempurnaan yang kita miliki, dengan kekurangan yang kita miliki, yang membuat hidup kita menjadi lebih berwarna, kita mampu memanfaatkannya untuk hal yang positif, yang berguna untuk orang di sekitar kita, dan membuat hidup mereka menjadi bahagia.


Itulah arti dari kesempurnaan yang hakiki.


 

Balanewpati

Guru Semprot
Thread Starter
Daftar
19 May 2018
Post
503
Like diterima
16.025
  • Thread Starter Thread Starter
  • #3
Index

Bagian 1 - 12 di halaman 1 dan 2

Bagian 13 - Impian dan Cita-Cita
http://www.semprot.com/threads/perfect-2.1276460/page-2

Bagian 14 - "Huuuuu...Maunya...!!!"
http://www.semprot.com/threads/perfect-2.1276460/page-10

Bagian 15 - Gue Cuma Butuh Atap Yang Mau Menampung Gue
http://www.semprot.com/threads/perfect.1276460/page-12#post-1899259731

Bagian 16 - Wanita Akan Menjadi Sangat Kuat Jika Sudah Mengandalkan Kelemahannya
http://www.semprot.com/threads/perfect.1276460/page-15

Bagian 17 - Tidak Semua Kosa Kata Bisa Menjelaskan Perasaan Hati
http://www.semprot.com/threads/perfect.1276460/page-17#post-1899330211

Bagian 18 - Garis Wajah
http://www.semprot.com/threads/perfect.1276460/page-19#post-1899343182

Bagian 19 - Teman Lama
http://www.semprot.com/threads/perfect.1276460/page-24#post-1899382250

Bagian 20 - Kapan Pun
http://www.semprot.com/threads/perfect.1276460/page-32

Bagian 21 - Mulai Dari Mana
http://www.semprot.com/threads/perfect.1276460/page-35

Bagian 22 - Menghilang
http://www.semprot.com/threads/perfect.1276460/page-39

Bagian 23 - Prita Asmorowaty Wiradana
http://www.semprot.com/threads/perfect.1276460/page-41

Bagian 24 - Aku Janji
http://www.semprot.com/threads/perfect.1276460/page-44

Bagian 25 - Teman
http://www.semprot.com/threads/perfect.1276460/page-48#post-1899564544

Bagian 26 - Selamat Jalan
http://www.semprot.com/threads/perfect.1276460/page-51#post-1899590360

Bagian 27 - Semua Orang Berhak Galau
http://www.semprot.com/threads/perfect.1276460/page-55#post-1899654200

Bagian 28 - Naluri
http://www.semprot.com/threads/perfect.1276460/page-60

Bagian 29 - Mimpi
http://www.semprot.com/threads/perfect.1276460/page-63#post-1899719000

Bagian 30 - Bolehkah Aku...?
http://www.semprot.com/threads/perfect.1276460/page-66

Bagian 31 - Semua Untuk Gadis
http://www.semprot.com/threads/perfect.1276460/page-72#post-1899779446

Bagian 32 - Say You Wont Let Go
http://www.semprot.com/threads/perfect.1276460/page-76

Bagian 33 - Bersama Hingga Di Ujung Senja
http://www.semprot.com/threads/perfect.1276460/page-85#post-1899900815

Bagian 34 - OMG!
http://www.semprot.com/threads/perfect.1276460/page-88#post-1899923215

Bagian 35 - Sidak
http://www.semprot.com/threads/perfect.1276460/page-93

Bagian 36 - Kamu Cantik Malam Ini
http://www.semprot.com/threads/perfect.1276460/page-98#post-1900034386

Bagian 37 - What's Wrong?
http://www.semprot.com/threads/perfect.1276460/page-102

Bagian 38 - Impossible [Part 1]
http://www.semprot.com/threads/perfect.1276460/page-110

Bagian 39 - Impossible [Part 2]
http://www.semprot.com/threads/perfect.1276460/page-117#post-1900151902

Bagian 40 - Jangan Ambil Dia Dari Ku
http://www.semprot.com/threads/perfect.1276460/page-122#post-1901573894

bagian 41 - Serah Lo Deh Ah
Http://www.semprot.com/threads/perfect.1276460/page-127#post-1901610680

Bagian 42 - Kontrak
http://www.semprot.com/threads/perfect.1276460/page-131#post-1901697383

Bagian 43 - Sahabat Jadi Cinta (?)
http://www.semprot.com/threads/perfect.1276460/page-136#post-1901754205

Bagian 44 - Mama Sayang Kalian Berdua
http://www.semprot.com/threads/perfect.1276460/page-140#post-1901847849

Bagian 45 - Mantan
http://www.semprot.com/threads/perfect.1276460/page-147

Bagian 46 - Dasar Setan!!
http://www.semprot.com/threads/perfect.1276460/page-153#post-1902211933

Bagian 47 - Chocolate Hazelnut
http://www.semprot.com/threads/perfect.1276460/page-166
 
Terakhir diubah:

Balanewpati

Guru Semprot
Thread Starter
Daftar
19 May 2018
Post
503
Like diterima
16.025
  • Thread Starter Thread Starter
  • #4
#Prolog

Sama sekali tidak ada senyum yang timbul dari wajah ku di hari kelulusan ku hari ini. Semuanya terasa datar saja. Hambar. Tidak ada rasanya. Tidak ada yang berkesan. Bahkan ketika nama ku disebut sebagai salah satu lulusan terbaik pun reaksi ku juga biasa saja. Pikiran ku masih terbayang-bayang dengan wajah Bapak ku yang…baru saja dimakamkan kemarin siang. Ya, baru saja melepas predikat sebagai anak SMA, dan aku baru saja mendapat gelar baru, anak yatim.

Piala dan Piagam yang diberikan pihak sekolah kepada ku sebagai salah satu lulusan terbaik pun seolah tidak ada artinya bagi ku. Apa yang aku dapat ini tidak akan bisa mengembalikan sosok Bapak di tengah-tengah keluarga ku lagi. Atau paling tidak menunda kepergiannya hingga beliau bisa melihat prestasi yang aku raih ini. Membuatnya bangga. Membuktikan kepadanya bahwa aku bisa menjadi seorang anak yang diharapkannya. Tapi semua itu tidak akan mungkin bisa. Semuanya telah berlalu.

Dan sekarang, yang ada tinggalah kami bertiga. Aku, Ibu, dan Adik perempuan ku satu-satu nya. Mengisi rumah yang tidak besar ini. Rumah yang sederhana ini. Bisa dibilang sangat sederhana ini. Harta peninggalan yang ditinggalkan almarhum bapak.

Kakek ku dulu pernah berkata, meskipun kita bukan orang berada, tidak memiliki banyak harta, tapi paling tidak kami tidak memiliki hutang. Dan jangan sampai memiliki hutang. Dan Aku masih bisa sedikit bersyukur, Bapak meninggalkan kami memang benar-benar tidak dalam keadaan berhutang. Sekarang tinggal bagaimana cara nya aku bisa menggantikan posisi Bapak yang sudah berpulang, yang sudah kembali kepadanya untuk selamanya.

Well, apapun itu, apapun yang sudah terjadi, satu hal yang tidak bisa aku hindari sekarang adalah kenyataan bahwa sekarang aku lah yang akan menjadi kepala keluarga. Sebagai anak laki-laki satu-satunya, beban dan tanggung jawab yang ditinggalkan Bapak, sekarang akan jatuh ke pundak ku. Menjaga Ibu dan Adik perempuan ku. Menafkahi mereka. Ya, karena satu lagi kenyataan yang harus aku terima adalah bahwa Ibu hanyalah seorang Ibu Rumah Tangga, tanpa keterampilan.

Tapi aku tidak akan mempermasalahkan itu. Diusianya sekarang yang sudah berada di awal empat puluhan, untuk membiarkannya bekerja tanpa keterampilan khusus bukanlah keputusan yang bagus. Bisa saja Ibu bekerja di pabrik, atau bahkan menjadi asisten rumah tangga, atau tukang cuci. Tapi tentu saja aku tidak akan membiarkan semua itu terjadi. Sekarang adalah giliran ku. Aku yang akan bekerja untuk nya dan untuk Adik ku juga. Meskipun juga akan mengubur salah satu impian ku, Kuliah. Atau menunda nya? Aku harap sih begitu. Ya, tentu saja. Impian itu tidak boleh hilang. Mungkin suatu hari nanti aku bisa melanjutkan Pendidikan ke jenjang perkuliahan dengan biaya ku sendiri. Mungkin.

Dan ini lah awal dari cerita ku. Awal perjalanan hidup ku. Dalam lembaran baru ini. Tanpa sosok seorang bapak. Apakah jalan cerita ini akan berakhir dengan indah? Ataukah kami bertiga akan berujung dalam sebuah keterpurukan? Semoga saja tidak. Kalaupun iya, semoga aku saja yang merasakannya. Tidak untuk dua wanita ku yang sekarang menjadi satu-satu nya alasan dan semangat ku untuk tetap hidup, berjuang menghadapi kerasnya tantangan kehidupan demi mereka berdua.
 
Terakhir diubah:

Balanewpati

Guru Semprot
Thread Starter
Daftar
19 May 2018
Post
503
Like diterima
16.025
  • Thread Starter Thread Starter
  • #5
Ransel Mini Biru Muda

“Silver Bird”, gumam ku pelan saat aku tidak sengaja melihat ke arah parkiran sebuah restoran dari tempat ku duduk ini. Seorang gadis muda yang masih mengenakan seragam SMA turun dari mobil mewah keluaran dari negeri Adolf Hitler. Tas ransel mini berwarna biru muda, sepatu kets dengan warna senada melengkapi seragam abu-abu putih yang ia kenakan. Rambut nya tergerai dengan indah nya, terkibar bersama angin yang berhembus pelan, menandakan dia sering melakukan perawatan terhadap bagian dari tubuhnya yang sangat berharga itu. Dan yang juga semakin memperjelas kalau dirinya adalah anak dari kaum berada.

Gadis itu kemudian berjalan menuju restoran, tempat yang dimana aku akan mengikuti wawancara kerja hari ini. Ya, aku akan mencoba peruntungan pertama ku di tempat ini. Adalah tetangga samping rumah ku yang kebetulan bekerja di restoran ini juga, yang menawarkan kerja di tampatnya. Dan aku sekarang masih duduk di sebuah warung kecil di seberang restoran mewah itu. Dengan segelas kopi dan sebatang rokok yang aku beli eceran tadi. Teman menunggu yang paling sempurna.

Aku dijadwalkan untuk wawancaara jam sepuluh pagi. Sedangkan sekarang baru jam setengah sepuluh. Berarti masih ada sekitar tiga puluh menit lagi menuju wawancara. Eh tapi, tunggu dulu. Sekarang kan baru jam sembilan lewat tiga puluh pagi ya? Gadis SMA tadi itu jam segini kok bisa berada di sini? Kok tidak sekolah? Bolos? Bisa jadi sih. Ah entah lah. Orang kaya memang bebas. Mau jungkir balik sambil koprol di pinggir jurang pun juga tidak ada yang melarang.

*~*~*~*

Oleh tetangga ku yang aku ceritakan tadi, aku diarahkan untuk masuk kedalam melalui pintu samping. Beberapa Koki dan Pramusaji restoran, terlihat dari setelan baju yang mereka kenakan, yang kebetulan berbapasan dengan ku tersenyum ramah kepada ku dan aku pun tersenyum balik kepada mereka. Menciptakan kesan baik, tentu saja. Dan kata mama kita harus ramah kepada semua orang.

Aku terus berjalan mengekor pada tetangga ku ini. Katanya nanti aku akan bertemu langsung dengan Ibu Pristy, beliau adalah manager restoran ini yang katanya msih saudara dari pemilik restoran ini. Berarti termasuk ke dalam orang penting di tampat ini. Aku harus bersikap baik kepadanya. Dan mengambil hati nya tentunya. Dengan begitu peluang ku untuk diterima bekerja di sini semakin besar pikir ku.

“Permisi Bu Pristy…,” sapa tetangga ku saat dia berada di depan pintu ruangan Bu Manager yang kebetulan tidak tertutup itu, namun juga hanya terbuka sepertiga bagian.

“Eh kamu, orang yang kamu janjikan jadi?” tanya balik dari Bu Pristy. Aku bisa mendengar sayup-sayup suara dari Bu Pristy dari belakang tetangga ku ini, yang terdengar lembut namun tegas. Aku taksir umur dari Bu Manager ini mungkin di kisaran pertengahan atau akhir tiga puluhan.

“Jadi Bu, ini anak nya sudah sama saya,” balas dari tetangga ku yang secara reflek membuat ku berjalan ke depan dan memposisikan diri di samping tetangga ku ini berdiri. Sekarang aku dapat melihat bagaimana rupa dari orang yang dipanggil Bu Pristy itu, wanita yang…sangat cantik meskipun sudah cukup berumur, yang nantinya kemungkinan akan menjadi bos ku.

Cantik. Iya, memang cantik. Wajahnya putih, bersih, dan halus meskipun usianya yang sudah tidak muda lagi. Dengan balutan make up yang tidak terlalu tebal namun juga tidak pelit, membuat penampilannya semakin menawan. Rambutnya tertata dengan rapi. Menunjukkan bahwa dirinya adalah sosok wanita berkelas yang sukses dengan karir nya, dan sukses juga merawat diri nya. Suami dari wanita ini pasti sangat beruntung memiliki istri seperti beliau. Ya aku yakin.

Tapi, begitu aku maju dan berdiri sejajar dengan tetangga ku, aku juga melihat seseorang lagi yang berada di ruangan Bu Manager, tepatnya duduk di depannya. Seorang wanita remaja. Terlihat dari baju yang ia kenakan, seragam SMA. Dan wanita itu adalah gadis dengan tas ransel mini berwarna biru muda yang aku liat di parkiran tadi. Bagaimana dia bisa berada di sini ya? Apa dia kerabat dari Bu Pristy? Atau malah anak nya? Aku tidak tau.

“Kamu tunggu di depan dulu Dis, nanti tante nyusul,” ucap Bu Pristy dengan tegas kepada gadis muda itu yang kalau aku tidak salah dengar tadi bu Pristy menyebutnya dengan sebutan Dis. Gladis? Gadis? Diska? Atau siapa? Tante? Ah ternyata keponakannya.

Si anak Gadis itu tidak mengeluarkan sepatah katapun dari mulutnya. Aku tidak tau bagaimana ekspresi nya sekarang karena posisi duduknya yang menghadap ke Bu Pristy alias membelakangi ku. Tapi sesaat kemudian dia berdiri dan beranjak dari tempat duduknya lalu balik badan dan berjalan keluar menuju pintu.

Saat itu pula aku benar-benar terkesima dengan wajahnya yang…menurut ku sudah hampir mendekati sempurna. Bibirnya berwarna merah muda namun sepertinya bukan karena lipstick, merah yang alami. Tubuh nya sangat proporsiaonal, tidak kurus, tidak juga gemuk. Tidak pendek tapi juga tidak terlalu tinggi. Sama seperti tante nya yang memiliki kulita wajah yang putih, bersih dan halus, gadis ini pun demikian. Hanya mungkin dalam versi muda nya. Aku yakin Bu Pristy saat masih muda dulu pasti juga secantik anak gadis ini. Gila, cantik banget ini sih. Dan kalau dia adalah keponakan dari Bu Pristy, yang Bu Pristy sendiri adalah kerabat dari yang punya restoran, bisa jadi dia adalah anak dari pemilik restoran ini. Anak nya bos dong? Tuan Putri ternyata.

Si Tuan Putri yang tadi sempat di panggil Dis itu terus berjalan ke arah ku dan tetangga ku yang masih berdiri tepat di depan pintu. Namun kemudian tetangga ku ini sedikit bergeser ke samping untuk memberikan jalan kepada si Tuan Putri. Sayangnya aku masih terpeseona dengan kecantikan wajahnya, yang itu sukses membuat ku berdiri mematung, tanpa reaksi apapun bahkan ketika saat si Dis ini sudah berdiri tepat di depan ku. Bahkan aku masih mengabaikan keberadaannya yang sepertinya meminta akses kepada ku untuk berjalan keluar. Terkesan aku ini seperti menghalangi jalannya. Hingga kemudian tetangga ku yang sadar akan hal itu langsung menarik tubuh ku dengan kasar hingga si Dis ini bisa jalan keluar ruangan.

“Siang non…mohon maaf teman saya ini menghalangi jalannya…” sapa tetangga ku ramah dan penuh dengan kecanggungan. Dan ketakutan pastinya. Horor.

Gadis itu kemudian menatap sebentar ke arah tetangga ku ini. Masih tanpa kata-kata. Lalu kemudian menatap ke arah ku. Tingginya hanya sedikit diatas pundak ku, membuat pandangannya sedikit mendongak saat menatap wajah ku dengan…jutek nya. Iya jutek. Kesan cantik yang aku dapatkan tadi mendadak luntur begitu saja tergerus oleh dasyatnya tatapan mata nya yang terlihat sangat garang. Seperti harimau betina yang siap menerkam mangsa nya. Ibaratnya aku ini adalah seekor bayi impala yang tidak berdaya saat berada di depannya. Si Gadis masih terus berjalan pelan sambil matanya tetap tertuju ke arah ku. Aku, yang mulai sadar dengan kesalahan ku hanya bisa tersenyum sambil sedikit menunduk berusaha menunjukkan rasa hormat ku kepadanya yang bisa jadi adalah anak dari pemilik restoran ini. Tapi ekspresi mukanya masih tetap sama, jutek. Dan aku sangat takut kepadanya.

*~*~*~*

“Siapa nama kamu?” tanya Bu Pristy dengan tegas.

“A-Adi bu, Adi Rasatya Perdana,” balas ku dengan gugup. Sangat bertolak belakang.

“Panggilannya Adi Ra?”

“Bukan bu, cukup Adi saja. Kalau Adira nanti jadi leasing dong, hehehe.”

“Nama yang bagus. Saya Pristy, manager restoran ini. Kamu santai saja ya, keponakan ku memang begitu, kamu gugup banget soalnya tadi,” ucap si Bu Manager yang masih fokus pada layar monitor nya saat aku sudah berada di ruangannya, duduk di depannya, dan hanya berdua dengannya. Tetangga ku sendiri sudah di suruh kembali bekerja.

“Ah, i-iya Bu, maaf,” ucap ku sekenanya dengan gugup. Tidak bisa ku pungkiri kharisma nya, yang meskipun seorang perempuan, mampu membuat ku minder kalau harus berbicara dengannya.

“Loh, kenapa minta maaf? Justru saya yang harus nya minta maaf karena keponakan saya tadi sepertinya membuat kamu merinding ketakutan, hehehe.”

“Iya bu, eh enggak maksudnya,” jawab ku keceplosan. Gawat nih kalau aku mengakui membuatnya merasa aku tidak suka dengan sikap keponakannya.

“Hahaha, akui saja, tidak usah berbohong begitu,” ucapnya santai.

Bu Pristy kemudian mengalihkan pandangannya dari layar monitor dan fokus pada lembaran kertas yang berisi CV dan surat lamaran ku. Dipandanginya lembar demi lembar kertas itu. Dibolak-balik nya lembar demi lembar kertas yang menjadi salah satu penentu masa depan ku ini. Harapan ku untuk bisa bertahan dan setidaknya untuk memenuhi kebutuhan keluarga ku. Harapan ku untuk bisa mengais rejeki di tengah keras nya kehidupan kota Jakarta.

“Menarik,” komentar nya pelan.

“Maaf, apanya bu yang menarik?”

“CV kamu, nilai mu bagus-bagus, kamu juga terlihat seperti anak baik-baik, kenapa tidak lanjut kuliah saja? Malah bekerja?”

“Hahaha, harapannya sih juga begitu bu, tapi terkadang harapan tidak sesuai dengan kenyataan”.

“Kenapa bisa begitu? Maksud ku, kenapa kamu harus bekerja?”

“Nasib…”

“Nasib bisa dirubah…”

“Justru ini saya sedang berusaha untuk merubah nasib saya…”

“Aku tidak mengerti dengan ucapan mu,” balas Bu Pristy sambil menyandarkan badannya ke sandaran kursi yang nampak sangat nyaman itu. Sekilas pandangan ku terfokus pada gundukan yang ada di dada nya namun segera aku alihkan. Gawat kalau keterusan.

“Bapak saya baru saja meninggal dua minggu yang lalu, tepat satu malam sebelum hari kelulusan bu. Meniggalkan ibu saya, saya dan adik perempuan saya. Itu artinya sekarang saya yang akan menjadi kepala keluarga. Bila bapak saya masih ada, saya bisa saja kuliah sambil bekerja, tapi kalau sekarang, boro-boro bu. Saya kerja tentu nya untuk biaya makan sehari-hari plus sekolah adik saya nanti bu, yang baru saja naik ke kelas dua. Eh, aduh, maaf ba-banget bu, malah jadi curhat ini, hehe,” balas ku dengan canggung karena merasa tidak enak malah menceritakan masalah pribadi ku kepada Bu Pristy.

“Owh…Sorry, turut berduka cita ya untuk almarhum bapak kamu. Kamu sepertinya anak yang jujur ya?”

“Tidak apa bu, tenang saja. Mudah-mudahan bu.”

“Kondisi yang kamu alami sekarang ini pasti sangat tidak enak ya?”

“Biasa aja sih bu, bukan bermaksud sok kuat, tapi ya mau gimana lagi?”

“Anak laki-laki memang harus begitu…”

“Saya sih dijalanin saja bu, siapa tau Tuhan kasih saya kemudahan rezeki, misalnya Ibu langsung terima saya kerja dengan gaji tinggi, misalnya, hehehe. Maaf lho bu, bercanda, hehehe.”

“Hahaha, tidak masalah. Satu pertanyaan lagi kalau begitu, apa motifasi kamu sekarang ini?”

“Motifasi? Ya seperti yang sudah saya jelaskan tadi sih bu, pertama yang pasti Ibu saya. Ke dua, Adik saya. Ketiga mungkin kuliah, itupun kalau ada rezeki lebih.”

“Pacar? Kamu tidak punya pacar? Belum ada rencana menikah? Umur kamu berapa?”

“Hahaha, Ibu meledek ya? Mana ada cewek yang mau sama saya yang jelek ini, miskin lagi…hahaha. Saya tidak punya pacar bu, dan umur saya juga baru sembilan belas tahun.”

“Masih muda ya? Kalau adik kamu tadi?”

“Adik saya tujuh belas bu…”

“Hmm…seumuran berarti dengan keponakan ku tadi, dia baru naik kelas dua juga.”

“Ooo…begitu ya bu,” balas ku dengan bingung karena tidak tau harus menanggapi apa.

“Iya. Baiklah kalau begitu. Karena aku memang sangat butuh karyawan baru, dan kamu juga kelihatannya anak baik-baik, anggap saja ini rezeki yang Tuhan kasih untuk Ibu dan Adik mu, kamu aku terima kerja di restoran ini.”

“Serius bu?” balas ku dengan sangat girang.

“Ya, tentu saja, kamu berubah pikiran?”

“Tidak bu, tidak. Saya masih minat kerja di tampat ibu ini. Terus, saya kapan mulai kerjanya?”

“Aku butuhnya seorang pramusaji, hmmm…kamu mulai bekerjanya besok saja, tapi aku punya satu syarat.”

“Apa itu bu?”

“Rapikan sedikit penampilan mu. Cukur rambut dan jenggot mu itu. Sanggup?”

“Oh, cuma disuruh potong rambut, hehehe. Sanggup kalau itu sih…”

“Bagus. Lamaran serta CV ini aku tahun ya untuk arsip kantor. Sekarang kamu boleh pulang.”

“Baik bu, terima kasih banyak sebelumnya,” ucap ku sambil tersenyum dan menyalami tangannya serta reflek hendak mencium tangannya namun segera ditarik nya tangannya yang lembut itu dari tangan ku. Dan saat itu juga aku merasa sangat malu.

“Ya, sama-sama,” dengan memberikan senyum juga, meskipun dengan sangat kaku. Mungkin kaget ada lelaki tanggung seperti ku yang hendak mencium tangannya, meskipun niat ku adalah untuk sungkem.

Aku pun berlalu meninggalkan ruangan bu Pristy, wanita yang akan menjadi bos ku di tempat ku bekerja ini. Sebelum pulang aku menemui dulu tetangga ku tadi untuk memberikan kabar baik ini. Setelah itu aku bergegas pulang untuk merapikan penampilan ku ini. Cukur rambut dan jenggot ya? Harus sih ini mah. Baru sadar juga ternyata rambut ini memang sudah cukup Panjang. Terakhir potong sebelum ujian nasional dulu.

*~*~*~*

“Asalamualaikum…” terdengar suara dari pintu depan. Sepertinya mama sudah pulang yang aku sendiri tidak tau beliau dari mana pergi nya. Adik ku sendiri, Rahma, Rahmawati Dwi Purnama nama lengkapnya, juga tidak tau kemana mama pergi seharian ini.

“Kak, bukain pintu sono…” perintah adik ku itu dengan cuek nya. Matanya masih saja fokus pada Drama Korea yang sedang ditontonya di layar televisi.

“Iye…” jawab ku singkat, malas, dan langsung beranjak ke depan.

“Waalaikumsalam…” balas ku begitu pintu ku buka dan melihat wajah mama yang terlihat sangat capek. Tentu saja, dia pergi seharian dan sekarang jam delapan malam baru pulang. Dan terlebih lagi aku melihat di belakang mama, dibalik tubuh nya yang ramping dan mungil itu, ada sebuah box karton besar yang aku tidak tau apa isi di dalam nya.

“Itu apa ma?” tanya ku dengan polos nya.

“Bantuin mama masukin dulu ke dalam, nanti juga tau,” balas mama setelah aku salim dan mencium punggung tangannya.

“Baiklah…”

Aku lalu bergegas mengangkat box besar yang ternyata berat ini. Bisa sakit pinggang nih kalau seperti ini.

“Berat juga ya mah, hehehe.”

“Emang, jangan diangkat, kamu dorong aja.”

“Emang ini apaan sih?”

“Udah masukin dulu aja...”

“Iya…”

Dengan susah payah akhir nya aku bisa memasukkan box besar ini ke dalam ruang tamu. Mama duduk di sofa ruang tamu dan memanggil Rahma.

“Kenapa ma?” tanya Rahma dengan polos.

“Kamu ini mama nya pulang bukannya di sambut, malah asik aja. Nonton korea pasti?”

“Hehehe, iya mah”, jabah Rahma yang kemudian mencium tangan mama. “Maafin Rahma ya ma…” ucapnya lagi sambil cengengesan.

“Si Rahma dari sore nonton korea terus itu ma, ga belajar-belajar…”

“Kompor…” balas adik ku itu sambil menjulurkan lidahnya.

“Sudah-sudah. Kak, bantuin mama buka box itu ya,” ucap mama.

“Itu apa ma?” tanya Rahma soal box besar itu, lagi.

“Mau tau aja apa mau tau banget?” ledek mama.

“Hiissshhh…kak buruan buka napa, penasaran nih…”

“Iya sabar…”

Aku lalu mengambil pisau dan membuka kemasan yang berada di dalam box karton besar yang barusan dibawa mama ini. Dan setelah sekitar lima menit bersusah payah membuka nya sendirian, karena mama yang lagi capek itu hanya melihat nya saja, dan adik ku yang ngeselin itu hanya jadi mandor, kotak besar ini berhasil aku buka. Dan isinya adalah…

“Mesin jahit?” tanya ku dan adik ku berbarengan.

“Hehem…”

“Siapa yang mau jadi penjahit ma?”

“Ya mama lah…”

“Mama bisa ma?”

“Ya kalau ga bisa mama ga akan beli alat nya dong sayang…”

“Serius mama bisa jahit?”

“Ya kita lihat saja nanti…”

“Kok kita ga pernah tau?”

“Karena papa mu dulu kan ga pernah ngebolehin mama kerja, dan mama juga ga pernah kepikiran bakalan menjahit, jadi ya ga ada gunanya juga mama kasih tau. Tapi dengan kondisi yang sekarang, ya mau ga mau. Kalau mama ga kerja kita mau makan apa? Sekolah Rahma gimana?”

“Mama tidak harus bekerja!!” ucapk ku dengan tegas.

“Oh ya? Trus buat makan sehari-hari pake apa? Emang kamu udah kerja?”

“Udah…”

“Kerja apa?”

“Pe-pelayan restoran…”

“Cukup untuk makan kita bertiga?”

“Ta-tapi ma, Adi ga mau mama kerja…”

“Mama tau, dan mama ngerti, tapi mau gimana lagi? Sekarang apa-apa mahal, belum lagi sekolah adik kamu…”

“Nanti Adi cari kerja sampingan lagi deh…Adi yang akan cari uang, buat kita bertiga, buat sekolah Rahma juga…”

“Kaaak…Hiks…”

“Ga bisa begitu juga dong sayang...udah kamu tenang aja deh, mama belum tua-tua amat kan? Masih seger, masih cantic juga kan? Hehehe…lagi pula ngejahit mah bukan pekerjaan berat. Dan mama sudah dapet kios juga buat usaha mama ini. Mama sudah bayar sewa nya pake uang peninggalan papa. Jadi yaaa, ga ada pilihan lain.”

“Tapi mah…”

“Sudah, pokoknya ikut saja apa kata mama.”

“Iya…”

“Kamu memang anak mama yang paling bisa mama andelin. Maafin mama yang…”

“Yang apa? Mama tidak salah apa-apa…memang sudah waktunya buat Adi kerja nyari duit…”

“Eh, eng-enggak. Maaf, coba papa kamu masih ada, kamu pasti bisa lanjut kuliah.”

“Jangan disesali ma, papa sudah tenang kok di sana. Insyaallah nanti Adi bisa kuliah juga kok kalau udah waktunya.”

“Aamiin, kita berdoa sama-sama yah buat papa. Dan doa mama juga selalu sama kalian, Rahma juga yah. Jangan males lagi. Rajin belajarnya biar pinter kaya kak Adi, yah…”

“I-iya mah…hiks…”

“Sudah jangan nangis, sini peluk mama…”

Aku dan Rahma kemudian beringsut mendekat ke arah dimana mama duduk dan memeluknya bersamaan. Kami bertiga berpelukan dengan penuh kehangatan. Aku, dan adik ku, memeluk wanita yang sangat aku sayangi ini. Yang sangat aku hormati. Namanya Fatmawati Purnama Yuni. Orang tua ku satu-satu nya. Orang yang demi apa pun aku rela melakukan apa pun untuknya.
 
Terakhir diubah:

Balanewpati

Guru Semprot
Thread Starter
Daftar
19 May 2018
Post
503
Like diterima
16.025
  • Thread Starter Thread Starter
  • #6
Keteraturan Yang Tidak Teratur

Pagi ini untuk pertama kali nya mama akan mulai mengerjakan jahitan. Kios jahitnya dia beri nama Kios Jahit Amanah. Seperti harapannya untuk selalu bisa mengerjakan amanah dari setiat pelanggan yang mempercayakan bahan kainnya untuk di jahit menjadi baju olehnya. Kios ini sebenarnya sudah buka dari beberapa hari yang lalu, namun rejeki kami baru datang kemarin sore, dari seorang tetangga yang minta bahan kainnya untuk di jahit. Alhamdulillah.

Mama berangkat ke kios bareng dengan ku menggunakan motor peninggalan papa yang sekarang aku gunakan untuk transportasi ke tempat kerja. Oh iya, aku sendiri sudah seminggu lebih bekerja di restoran tempat mang Mono kerja, tetangga ku yang membawa ku bekerja di sana. Kesan yang aku rasakan sejauh ini enak. Nyaman. Karyawan yang lainnya pun juga baik kepada ku. Bu Pristy juga baik kepada kami semua. Sejauh ini lancar. Walaupun sebenarnya masih ada satu hal yang masih mengganjal di hati ku. Tentang gadis yang waktu itu dipanggil Dis oleh bu Pristy, yang tak lain adalah keponakannya sendiri. Sudah satu minggu aku bekerja di sana, tapi akut tidak melihat anak itu berkunjung kesana lagi. Kemana ya? Sebenarnya aku ingin sekali menanyakan rasa penasaran ku ini kepada bu Pristy, tapi sepertinya bukan ide yang bagus. Gila. Tatapan matanya waktu itu masih terbayang jelas sampai sekarang, dan entah akan sampai kapan.

“Masih pagi udah bengong aja kamu kak?” tegur mama sesaat setelah dia turun dari boncengan motor ku. Aku memang biasa di panggil kakak di rumah. Boleh kakak…serasa di ITC ya?

“Ah, enggak maaa…”

“Mikirin apaan siih? Ongkosnya abis yaa?” tanya mama lagi sambil membuka tas nya dan mengambil dompet nya.

“Eh, enggak kok, ga mikirin apa-apa. Dan uang Adi juga masih ada kok ma…” balas ku agak ragu karena berbohong. Maksud ku bukan berbohong uang ku masih ada, uang ku memang masih ada, tapi aku sebenarnya sedang memikirkan seseorang. Si Dis itu.

“Hayo kenapa?”

“Ah enggak, hehehe, ya udah ya ma Adi udah kesiangan nih, Adi jalan dulu ya, Asalamualaikum,” pamit ku buru-buru kepada mama denga nagak gugup.

“Waalikumsalam. Ya sudah, hati-hati ya…jangan ngebut…”

“Iya…”

Aku pun langsung tancap gas menuju kantor. Eh kantor? Keren banget. Hahaha. Tempat kerja. Tempat nguli maksudnya. Dan aku sengaja buru-buru “kabur” dari mama karena memang tidak mau mama mengetahui kegundahan hati yang aku rasakan. Dan untuk mengobati kegundahan ku ini, serta penasaran yang aku rasakan, aku bertekad untuk mencari tahu lebih banyak lagi siapa dan apa latar belakang dari gadis manis itu, meskipun satu hal yang aku tahu dan sudah pasti, anak itu anak orang kaya.

*~*~*~*

Sebenarnya restoran baru akan menerima pelanggan pada pukul sebelas siang, tapi jam masuk karyawan dimulai dari jam delapan pagi. Spare waktu tiga jam ini lah yang akan di gunakan oleh para karyawan untuk mempersiapkan semuanya. Para koki tentu saja memastikan bahan makanan untuk hari ini lengkap semua, termasuk senjata yang akan mereka gunakan, kompor, penggorengan, dan lain sebagainya. Para pramusaji memastikan semua bagian dari restoran, meja, kursi, dan hiasan lainnya, tertata dengan rapi dan berada pada tempatnya. Termasuk membersihkan lantai bila ada yang kotor dan debu yang mungkin menempel pada meja dan kursi. Baru setelah itu kita merapikan penampilan kita sendiri, karena sebagai bagian dari frontliner penampilan adalah satu dari sekian banyak aspek yang sangat penting.

Di restoran ini terdapat enam koki yang semuanya laki-laki. Sampai saat ini kadang aku masih bingung, katanya yang pinter masak itu perempuan, tapi sejauh ini yang aku temui adalah sebagian besar koki adalah seorang laki-laki. Begitu juga pedagang nasi goreng. Orang bilang perempuan jago masak, tapi mungkin sembilan puluh sembilan persen penjual nasi goreng adalah laki-laki. Sampai ada meme nya. Tapi ya terserah mereka lah. Hidup-hidup mereka sendiri, tidak ngurusin juga.

Selain tiga koki yang sudah aku sebutin itu, ada juga pramusaji yang berjumlah dua belas orang, enam laki-laki termasuk aku, dan enam perempuan. Dua kasir, dua dorman, dua security, dan satu supervisor, yang berada di bawah bu Pristy langsung sebagai manager restoran. Jadi kalau ditotal, semuanya berjumlah…hitung sendirilah.

Pagi ini aku kebagian tugas mengelap seluruh kaca dari debu yang menempel agar terlihat semakin kinclong. Aku bilang kebagian karena tugas ini akan di rolling setiap harinya. Hari ini aku kebagian tugas membersihkan kaca, besok mengelap meja, besok nya lagi membersihkan lantai. Begitu seterusnya.

“Eh gimana kesan lo sekarang? Udah seminggu kan kerja di sini?” tanya mba Ratna kepada ku disela-sela kesibukan ku mengelap kaca restoran. Namanya Ratna Putri Anindita. Dia sama seperti ku, seorang pramusaji. Kami berdua sama-sama bertugas membersihkan kaca hari ini.

“Kesannya baik mba, orang-orang nya baik semua, mas Anton baik, bu Pristy juga baik.”

“Gue, baik juga ga?”

“Kan tadi saya bilang ‘Orang-orang’, artinya lebih dari satu, tanpa pengecualian, berarti mba Ratna juga termasuk dong…”

“Oiya ya, hehehe. Ah elo jawab nya logis banget, santai aja kali…”

“Hehehe, maaf mba…”

“Eh lo jangan panggil gue mba dong, kesannya tua banget gue. Lagi pula kayanya kita seumuran deh.”

“Masa sih?”

“Umur lo berapa?”

“Sembilan belas.”

“Sama dong, tapi lo baru lulus tahun ini ya?”

“Iya mba, eh Ratna, hehehe.”

“Hahaha, kaku amat sih lo. Ngobrol nya lo gue aja kali ga usah sok manis, hahaha. Lo asli Jakarta kan?”

“Iya sih…”

“Makanya ga usah sok formal aku kamu saya anda pret lah.”

“Hahaha, iya deh.”

Aku tersenyum menanggapi ucapannya yang terakhir. Ratna ini orangnya memang apa adanya. Sedikit nyablak. Dan agak tomboy. Tidak sesuai dengan namanya yang indah. Postur tubuhnya normal seperti kebanyakan wanita indonesia dengan tinggi mungkin sekitar seratus enam puluhan senti meter. Sering menggunakan kemeja flannel dengan celana jeans belel dan rambut yang selalu diikat.

“Mba, eh Rat, kamu, eh lo, udah berapa lama kerja di sini?”

“Setahun.”

“Lulus sekolah langsung kerja di sini ya?”

“Iya.”

“Oh…”

“Lo pernah ga naik kelas ya? Umur sembilan belas baru lulus.”

“Enak aja, gue cuma telat aja masuk SD nya.”

“Oh…”

“Eh Rat, gue boleh nanya sesuatu ga?”

Sok, tanya ja kali, bebas. Semua orang bebas bertanya. Selama ga nanya ukuran boobs gue aja ya. Gue tampol lu…”

“Hahaha, ya kali. Enggak Rat, gue cuma mau nanya, yang pas minggu kemarin gue interview itu, kan ada anak SMA yang ke restoran ini kan ya? Yang ketemu sama bu Pristy…”

“Ya…kenapa? Jangan bilang kalau lo naksir sama dia ya!”

“Eh, emang kenapa Rat?”

“Jadi lo beneran naksir dia?”

“Enggak, gue cuma penasaran aja sama dia.”

“Itu salah satu tanda nya begooo!!!

“Beda kali. Gue juga tau dia keponakan dari bu Pristy, gue sadar diri lah. Doi pasti anak tajir kan?”

“Banget…dia itu anak dari pemilik tempat lo kerja ini, Gadis namanya. Gadis Anastasia Wiradana…”

“Bener berarti.”

“Apanya?”

“Prediksi gue juga gitu, sebelumnya gue juga mikir kalau dia itu anak dari pemilik restoran ini.”

“Nah, sekarang kan lo udah tau nama lengkapnya, terus sekarang mau apa?”

“Ga apa-apa juga sih. Kalau rumahnya? Lo tau ga Rat?”

“Kagak tau…”

“Kalau sekolahnya?”

“Gak ngurusin sekolahnya orang…” balasnya dengan mimik wajah yang sangat serius.

“Eh lo kenapa?”

“Kerja yang bener, jangan ngobrol mulu. Tuh bu Pristy udah dateng, mau kena tegor?” ucap Ratna sambil memberi isyarat ke arah parkiran dimana baru saja sebuah mobil mewah keluaran negeri sakura terparkir di sana.

“Eh iya, hehe, iya-iya…”

Mampus!!!

*~*~*~*

Kalau dapat jadwal masuk pagi, sore jam empat aku sudah bisa pulang. Tapi tidak tau kenapa hingga hampir jam lima sore ini aku malah masih nongkrong di pelataran belakang restoran, sebuah lahan kosong kecil yang digunakan oleh para karyawan untuk memarkir motor mereka. Dan seperti biasa disaat seperti ini, sore hari yang tenang, sebatang rokok dengan merek sama seperti merek es krim terkenal terselip diantara jari tengah dan jari telunjuk ku.

“Lah lo ngerokok juga bro?” sebuah suara mengagetkan ku dari belakang. Ratna.

“Lo belum pulang mba? Eh, Rat?” tanya ku balik kepadanya. Juga? berarti dia ngerokok juga dong?

“Ni baru mau pulang, lo ngerokok?” tanya nya sekali lagi. Aku tidak menjawabnya tapi menunjukkan batang rokok yang ada di tangan ku sambil mengangkat alis dan bahu ku.

“Wuiiih, magnum…cobain dong…” pintanya sambil kemudian menaruh bungkus rokoknya sendiri di jok motor yang berada di depan ku yang aku perhatikan ternyata keluaran dari perusahaan rokok asing asal Amerika, dan itu mentol. Rokok khas perempuan. Ratna sendiri kemudian duduk di jok motor ku, tepat di sebelah kanan ku. Aku kemudian menyodorkan bungkus rokok ku kepadanya, lalu diambil nya sebatang rokok lalu kemudian di sulut olehnya. Sedikit kebanting dengan jemarinya yang lentik itu.

“Uhuuk…”

“Pelan-pelan…” tegur ku saat melihat dia terbatuk saat baru pertama menghisap rokok ku itu.

“Hehehe, berat ya?” tanya nya dengan garing.

“Iyalah, rokok lakik itu. Mang nya rokok lo, mentol…”

“Gue sih selain yang mentol biasanya ngerokok’in yang berurat, hahaha,” candanya, mesum.

“Eh gue juga punya tuh, hahaha.”

“Terus? Sini gue cincang, gue jadiin kornet, mau?”

“Hahaha, jangan dong, kasian bini gue nter kalau di potong lagi…”

“Ga dipotong aja belum tentu ada yang mau.”

“Yakin? Lo mau nyobain rokok berurat gue ga?” tanya ku iseng dekat ke telinga nya. Ratna ini orangnya sebenarnya menarik. Tidak jelek. Meskipun tidak cakep-cakep banget juga. Hanya saja, orangnya tidak rapi, dan tidak terurus. Lalu menarik dari mananya? Entahlah. Hati kecil ku mengatakan kalau anak ini menarik.

“Mesum lo!!” protes nya sambil menepuk bahu ku pelan.

“Lo yang mulai!”

“Kok malah nyalahin gue sih?”

“Ya memang lo yang salah kok…”

“Gak bisa!!” protesnya sambil mengebulkan asap tebal ke udara dari rokok yang dia hisap. Aku memandangi wajahnya. Luamayan sih sebenarnya. Kalau sedikit terurus. Dan, sebenarnya aneh banget bagi ku melihat seorang wanita merokok.

“Lo ngerokok udah dari kapan Rat?”

“Ehm…kelas satu SMA kayanya. Lo sendiri?”

“Sama sih, tapi waktu itu gue masih sembunyi-sembunyi.”

“Kenapa? Kalau sekarang udah enggak?”

“Masih juga, hahaha.”

“Dasar. Terus apa bedanya?”

“Ga ada sih. Hehehe. Tapi kayanya sih nyokap gue udah tau kalau gue ngerokok, tapi diem ja sih. Yang pasti sih gue ga mau ngerokok di depan nyokap.”

“Kenapa? Kalau bokap?”

“Ga mau ngeracunin beliau dengan asap rokok gue. Kalau bokap belum lama meninggal…”

“Eh, sorry…”

“Ga apa-apa…”

“Turut berduka cita ya…”

“Iya, terima kasih. Ngomong-ngomong, kok lo bisa ngerokok sih? Menurut gue, cewek kalau ngerokok itu biasanya pasti ada sesuatu hal yang salah yang terjadi di hidup nya hingga dia melampiaskan sesuatu yang mungkin membuatnya kesal itu ke rokok.”

“Hahaha. Sok tau. Tapi analisa lo masuk akal juga sih. Tapi gak ada apa-apa kok, mungkin karena pergaulan aja sih. Dan gue nyesel sekarang.”

“Pergaulan? Nyesel?”

“Ya, pergaulan. You know lah. Dan gue nyesel aja. Kenapa juga gue mesti ngerokok yang jelas-jelas itu ga baik buat cewek, ga baik buat cowok juga sih. Terus kenapa juga gue mesti bergaul sama mereka yang punya pengaruh buruk ke gue. Gue kemarin bisa lulus SMA itu juga beruntung banget. Kacau deh pokoknya. Ortu udah nyuruh gue kuliah tapi gue nya males. Hahaha. Akhirnya sekarang kerja juga cuma jadi pelayan restoran. Gue terlalu menikmati masa muda gue. Eh salah, masa SMA deng, kalau muda mah gue sekarang juga masih muda, hahaha.”

“Oh gitu…contohnya apa nih kesalahan yang lo perbuat?

“Ya adalah, biasa kenakalan remaja pada umum nya…”

Drugs?

“Enggak nyampe kaya gitu sih, gila aja lo. Mungkin kapan-kapan gue ceritain ke elo ya, ga sekarang.”

“Oke deh. Ehmm…eh Rat, lo pernah ga sih bertanya pada diri lo sendiri kenapa Tuhan menakdirkan lo ini jadi diri lo? Bukan jadi diri siapa gitu? Anak pengusaha mungkin? Atau anak yang pinter mungkin? Atau jadi artis mungkin?”

“Pernah sih sekali dua kali, kenapa?”

“Enggak, lagi mikir aja, apa semua yang ada di dunia ini itu hanya kebetulan ya? Atau memang sudah diatur oleh semesta dalam sebuah keteraturan yang terlihat sangat tidak teratur.”

“Ngomong apa sih?”

“Gini lho, pernah ga sih lo bertanya, kalau memang Tuhan maha adil, kenapa ada orang yang lahir cacat? Atau ada orang yang lahir miskin?”

“Pernah…terus maksudnya apa?”

“Jadi intinya dari pertanyaan-pertanyaan gue tadi adalah…”

“Gue jadi begini karena pilihan gue sendiri, gitu kan?”

“Bukan, tapi lo terlahir jadi apa, itu memang sudah takdir. Tapi lo akan berkembang menjadi apa, itu sepenuhnya pilihan hidup lo sendiri.”

“Ya memang, dan gue udah salah. Dan gue nyesel.”

“Bagus, tapi ga ada gunanya juga nyesel. Maksud gue, mulai dari sekarang elo harus mulai bisa menatap masa depan lo. Gue ga akan ngebahas soal rokok ya, karena gue juga ngerokok dan itu adalah hak elo. Tapi soal sekolah, belajar, itu penting banget. Lo ma uterus-terusan jadi pelayan restoran?”

“Enggak…” balas Ratna sambil menggeleng.

“Nah…gue pun juga begitu…”

“Tapi kok lo sendiri ga kuliah?”

“Kalau gue sih belum aja. Kalau sekarang ga memungkinkan, ga ada dana nya, hahaha,” jawab ku sambil tertawa miris. Miris terhadap situasi yang aku alami sekarang ini. Tapi aku bertekad akan merubah situasi ini menjadi sebuah energi. Energi positif untuk menghadapi segala tantangan kehidupan yang ada.

“Nanti deh gue pikirin lagi. Thanks ya bro, ternyata pandangan lo luas juga, dan enak juga ngobrol sama lo. Kapan-kapan kayanya gue perlu sharing lagi deh sama lo.”

“Sambil ditraktir makan yak?”

Ogaaah!! Weeek!!” balasnya sambil menjulurkan lidahnya. Eh, lucu juga nih anak pikir ku. Hehehe. “Dah ah, pulang yuk.”

“Ya ayuk…dah sore juga.”

“Iya. Eh tapi anterin gue pulang yak, kebetulan banget gue hari ini ga bawa motor nih…hehehe.”

“Ah, sialan. Jadi tadi nyamperin terus ngobrol-ngobrol itu sengaja biar ada tebengan?”

“Hahaha, strategi bro…”

“Ya udah…eh tapi emang rumah lo dimana deh?”

“Entar gue kasih tau arahnya.”

“Baiklah…”

Aku dan Ratna lalu pulang, meninggalkan restoran tempat kami bekerja ini. Aku bisa melihat Ratna ini sebenarnya anak yang baik, tidak seperti kesan pertama ku tadi saat tau dia seorang wanita perokok. Tidak adil sih sebenarnya bila aku men judge dia wanita tidak baik hanya karena dia perokok. Tapi, di pikiran ku rokok itu kodrat nya bukan untuk seorang wanita, meskipun tidak bagus juga untuk seorang laki-laki. Dan terkait dengan anggapan ku terhadapnya tadi, maksud ku, masih ada sisi baik di dalam hati nya. Masih ada secuil daging di hatinya yang secara sadar menyesali sikap, perbuatan, dan jalan yang sudah diambil olehnya selama ini. Itu adalah point terpenting dalam kehidupan. Penyesalan. Rasa bersalah. Tentu saja. Selain orang mati, mungkin cuma orang yang sudah mati hatinya saja yang tidak memiliki rasa bersalah atau rasa menyesal. Karena tidak mungkin ada orang yang tidak pernah bersalah. Semua orang pasti pernah bersalah. Tinggal bagaimana kita bisa memperbaikinya saja.
 

BL4CKDEV1L

Suhu Semprot
UG-FR+
Daftar
8 Nov 2016
Post
3.362
Like diterima
26.270
Terakhir diubah:

Balanewpati

Guru Semprot
Thread Starter
Daftar
19 May 2018
Post
503
Like diterima
16.025
  • Thread Starter Thread Starter
  • #12
Gadis Kecil Bercaling

Sudah satu bulan berlalu dan aku masih belum mendapat tambahan informasi apapun tentang ‘Mba Gadis’, kecuali obrolan terakhir ku dengan si Ratna. Ratna sendiri aku mintai tolong untuk membantu ku mencari tau lebih banyak tentang anak gadis itu tapi tidak mau. Ya tentu saja. Apa untungnya juga buat dia. Dan aku sendiri belum memiliki keberanian untuk menanyakan hal tersebut ke karyawan yang lain. Alasannya jelas, aku tidak mau investigasi dalam tanda kutip ku terdengar sampai telinga bu Pristy. Bisa-bisa dia mikir yang macam-macam dan memecat ku dari restoran ini. Aku tidak mau.

Mama, masih menjadi mama yang baik untuk ku dan adik ku. Dan aku yakin akan selalu baik kepada kami. Usahanya terus berjalan. Tidak ramai-ramai banget, tapi selalu ada saja order jahitan yang dikerjakannya setiap hari. Mama memang luar biasa. Perjuangannya demi anak-anak nya sungguh tiada tara.

Adik ku, sudah mulai sekolah. Kelas dua, dan masih seperti sebelumnya, manja dan malas. Ah aku sih tidak terlalu berharap banyak kepadanya. Yang penting sekolahnya lancar, tidak neko-neko, itu sudah cukup. Aku terlalu sayang kepadanya dan tidak tega bila harus membuatnya ikut menanggung beban keluarga. Untuk sementara, biarlah aku dan mama saja yang menanggungnya.

Ratna, sekarang aku memiliki sahabat baru pada sosok diri nya. Sahabat wanita yang akan dengan senang hati mendengarkan cerita ku, meskipun pada kenyataannya lebih banyak aku yang mendengarkan ceritanya. Semenjak obrolan singkat di parkiran belakang restoran itu Ratna semakin terbuka dengan ku. Hampir setiap hari selalu ada yang dia ceritakan kepada ku. Aku jadi berfikir, sepertinya selama ini banyak hal yang dipendam olehnya entah karena tidak mau berbagi atau memang tidak memiliki tempat untuk berbagi. Dan semua itu meledak begitu kenal dengan ku dengan aku menjadi sasaran ceritanya.

Dan aku sendiri, masih seperti ini. Semalam aku kembali memimpikan sosok anak kecil itu. Sisa-sisa memory yang masih tersimpan di kepala ku menggambarkan sesosok anak kecil yang entah siapa aku juga tidak kenal. Yang pasti bukan gambaran masa kecil ibu ku, begitu juga dengan adik ku. Dengan mengenakan setelan baju pesta anak-anak model terusan yang agak longgar berwarna putih, anak kecil itu menoleh kepada ku dan tersenyum. Dua pasang gigi caling nya yang lucu itu mengintip dengan malu-malu yang malah menambah manis wajahnya yang memang sudah manis.

*~*~*~*

“Ratna ga main ke sini lagi kak?” tanya mama pada ku di sela-sela acara nonton TV di minggu pagi ini. Hanya berdua saja, aku dan mama, karena Rahma belum bangun. Seperti biasa, setiap malam minggu dia pasti akan menghabiskan waktu sepanjang malam untuk menonton Drama korea. Aktifitas yang tidak membangun sebenarnya, tapi ya sudah lah masih mending dia mau di rumah saja, dari pada keluyuran tidak jelas.

“Emang kenapa mah?”

“Ga apa-apa, nanya aja…”

“Kayanya lagi sibuk deh,”

“Sibuk ngapain emang?”

“Nyari kuliah mungkin, katanya mau lanjut kuliah sih. Atau mungkin juga sibuk pacarana, hehehe, aku ga tau.”

“Loh, emang masih ada kampus yang buka sekarang? Ini kan udah bulan September?”

“Buat semester depan mungkin, atau tahun depan. Lagian kan aku tadi bilang mungkin, aku ga tau pasti mah, tapi memang dulu sempat ada obrolan kesana…”

“Oh…lha kamu sendiri gimana?”

“Aku? Tunggu keuangan keluarga stabil dulu mah, mudah-mudahan bisa tahun depan ma, doain ya…”

“Iya sayang, doa mama selalu menyertai mu,” balas mama sambil menarik tubuh ku dan memeluknya dari samping. Disandarkannya kepala ku di bahunya yang tidak lebar itu. Postur tubuh ku yang jauh lebih tinggi membuat aku harus sedikit menunduk agar kepala ku pas mendarat tepat di bahunya. Agak tidak nyaman, tapi ya sudah lah.

“Hasil dari usaha jahit mama cukup kok buat makan sehari-hari dan sekolah Rahma, jadi uang hasil kerja kamu, kamu tabung semua aja buat kuliah. Pasti tahun depan sudah cukup kak,” lanjutnya lagi.

“Alhamdulillah, tapi mama juga tidak boleh memforsir pekerjaan ya, sekuatnya mama aja, kakak juga pasti akan bantu kok, nabung juga pasti.”

“Iya. Makasih udah perhatian sama mama.”

“Iya dong harus, kan papa sudah ga ada, jadi ya sekarang tinggal kakak dan ade yang perhatiin mama, jadi harus sepenuh hati,” balas ku sambil merapatkan tubuh ku ke tubuh mama.

“Iihh…kakak…kolokan banget sih! Masa udah gede masih manja sama mama? Peluk-peluk gitu lagi?” teriak Rahma yang seperti makhluk gaib, suaranya tiba-tiba muncul, tapi wujudnya belum kelihatan. Aku yang kaget langsung mengangkat badan ku sehingga posisi duduk ku kembali tegak. Jujur sebagai seorang anak laki-laki, malu juga aku bila ketahuan sedang bermanja-manja dengan ibu sendiri, meskipun yang memergoki adalah adik ku sendiri.

“Ade, ngagetin aja kamu ini…” tegur mama yang sepertinya juga kaget. Meskipun aku sudah duduk tegak, tangan mama masih berada di kepala ku dan mengusap rambut ku.

“Abisnya kakak manja gitu sama mama…”

“Lah emang apa salahnya?”

“Ade kan juga mau, hihihi,” balas adik ku itu sambil nyengir dan dengan cekatan langsung ngusel-ngusel ke ketiak mamanya. Dengan cueknya pipi kanan nya menempel di bagian sisi luar payudara kiri mama, sedangkan tangan kiri mama langsung memeluk pinggang Rahma. Sama-sama perempuan sih ya jadi biasa aja, coba kalau aku yang begitu, yang ada aku langsung di gampar, di tampol, lalu dijorokin, dan terakhir di kutuk jadi adonan martabak.

“Ya tinggal bilang aja sih, ga usah ngagetin gitu, kalau mama jantungan gimana?”

“Hehehe, iya maaf, hehehe…” balas adik ku itu dengan raut muka tanpa rasa bersalah meski dari bibirnya terucap kata maaf.

“Tumben sudah bangun? Bukannya tadi sampe jam tiga pagi nonton Korea nya? Biasanya kalau belum adzan dzuhur belum bangun.”

“Kok kakak tau? Ngintipin ya?”

“Enak aja, tadi kebangun trus masih denger suara tv nyala.”

“Oh, kirain. Hehehe. Abis ade laper nih, kebangun deh. Udah pada sarapan belum?”

“Iya laper bangun, makan trus tidur lagi, melar-melar deh tuh badan.”

“Bodo, biar seksi, week…”

“Udah-udah, kamu udah cuci muka belum? Gosok gigi belum?” tanya mama.

“Belum, hehehe,” balas adik ku lagi-lagi dengan cengiran yang menyebalkan itu.

“Bauuu…”

“Bodooo!!”

“Ade…sikat gigi dulu sana, cuci muka, baru sarapan. Mama sama kakak sudah sarapan tadi.”

“Iya-iya mama ku sayaaang…Cup…hihihi,” ucap Rahma sambil mengecup pipi mama nya lalu bangkit dan pergi. Entah kemana. Entah beneran sikat gigi atau balik tidur lagi, hanya dia dan Tuhan yang tahu.

“Adik mu itu selalu membawa keceriaan ya?”

“Iya, kalau ga ada dia mah ga tau deh bakal sesepi apa rumah ini, hehehe.”

“Eh kak, kamu pernah liat Adik mu itu jalan sama cowok ga?” tanya mama tiba-tiba dan aku hanya menggeleng karena memang tidak pernah.

Aku tidak tau apakah adik ku itu memiliki kelainan atau apa, tapi aku tidak pernah melihat dia dekat dengan cowok, atau sekedar bertanya tentang cowok. Di usianya yang sekarang ini seharusnya dia sudah memiliki perasaan terhadap lawan jenis. Normalnya dia sudah memiliki atau sudah pernah pacarana, tapi aku tidak pernah melihatnya di sekolah dulu. Atau dia pacarannya diam-diam? Atau pacar nya lain sekolah? Bisa jadi sih.

“Kenapa ma?”

“Enggak, kalau mau pacaran ya ga apa-apa juga sih, asal tau batas-batas nya dan tidak mengganggu sekolah. Lagi pula kalau di larang-larang kan biasanya anak akan melawan. Tapi kalau bisa menahan ya lebih bagus. Sekolah dulu yang bener.”

“Ga pernah lihat sih mah. Cerita-cerita juga ga pernah. Ajak main temen cowok ke rumah juga ga pernah kan ya?”

“Iya ga pernah sama sekali, kamu juga ga pernah kak…”

“Hahaha, pernah ma…itu si Ratna pernah aku aja main ke rumah…”

“Oh, jadi sama Ratna?”

“Eh, maksudnya apa nih?”

“Ya, kamu, sama Ratna,” ucap mama sambil membuat isyarat dengan dua jari nya.

“Ya elah, enggak, cuma temen, kan tadi ngebahasnya temen cowok Rahma, berarti kalau aku kan temen cewek, hahaha…”

“Bisa aja kamu mah ngelesnya…”

“Hahaha, lagian si Ratna itu sudah punya pacar ma…”

“Iya, mama tau…”

Pikiran ku lalu kembali ke minggu lalu saat tidak sengaja aku, mama, dan adik ku bertemu dengan Ratna di sebuah pusat perbelanjaan. Dan entah bagaimana ceritanya, apakah Ratna yang minta main, atau mama ku yang mengajak, si anak tomboy itu ikut kami ke rumah.

Tidak seperti yang ku duga, mama dengan Ratna ternyata cocok. Telisik punya telisik, Ratna ternyata memang tidak terlalu dekat dengan ibu nya. Aku belum tau pasti kenapa karena aku belum mengorek lebih dalam, tapi lain kali pasti. Aku akan mencari tahu. Tapi sepertinya ada sesuatu yang tidak baik yang ternjadi sehingga terjadi keretakan hubungan diantara ibu dan anak gadisnya. Dan ketika berhadapan dengan sosok mama yang memang sangat lembut dan baik, Ratna langsung merasa nyaman dan cosok. Sedangkan mama, seperti nya suka dengan sosok Ratna yang…aku tidak tau kenapa waktu itu dia bisa berubah sangat drastis sifatnya menjadi kalem, lembut, tenang, dewasa, tidak terlalu anggun tapi juga tidak tomboy. Beda banget lah. Aneh.

Feeling ku mengatakan mama mengharapkan sosok anak perempuan seperti sosok Ratna saat main ke rumah ku itu. Sosok anak gadis yang sedikit dewasa, yang tidak mungkin dia dapatkan dari Rahma yang manja.

“Ma, boleh nanya sesuatu?” tanya ku tiba-tiba teringat dengan mimpi ku semalam.

“Tanya aja, apaan?”

“Ehm…dulu…waktu aku masih kecil, mungkin waktu masih balita, aku punya temen main cewek ga?”

“Hah? Kenapa emangnya?”

“Jawab dulu aja…”

“Hihihi, temen kamu dulu kan emang cewek semua, makanya hati kamu sekarang lembut, hihihi…”

“Iihh aku serius ma…”

“Mama juga serius…”

Aku tidak langsung menanggapi ucapan mama. Sejenak berfikir, kalau teman masa kecil ku banyak berarti kemungkinan yang ada di mimpi ku itu juga banyak. Haduuuh. Gimana ya?

“Kenapa sih kak…?”

“Beberapa hari ini aku mimpiin seseorang terus.”

“Oh ya?”

“Iya, dan latar belakangnya sama terus. Seorang anak cewek dengan baju pesta anak-anak model terusan yang agak longgar berwarna putih, anak kecil itu menoleh dan tersenyum pada ku.”

“So sweet banget…”

“Diiih, apanya yang so sweet?”

“Hihihi, kamu inget sampai detail banget sosok anak kecil nya yang kamu impiin itu…”

“Biasa aja ah, orang mimpi itu terus dan berulang-ulang.”

“Hiiih, dasar cowok…”

“Jadi beneran banyak nih?”

“Iya banyak…”

“Siapa ya ma itu anak? Kalau bukan orang dari masa lalu ku, harusnya tidak mungkin muncul berulang-ulang dengan mimpi yang sama persis.”

“Iya juga sih. Tapi mama juga ga tau kak. Ya namanya juga mimpi, bunga tidur, bisa bermakna sesuatu, bisa juga tidak. Ga usah terlalu dipikirin lah kak, berdoa aja semoga arti dari mimpi itu adalah sesuatu yang baik.”

“Mungkin aja sih, bisa jadi. Iya ma, kakak ga akan terlalu mikirin itu lagi.”

*~*~*~*

Pukul empat sore dan aku sudah bersiap pulang. Hari ini aku masuk pagi jadi sore sudah bisa pulang. Aku sedang ganti baju dari seragam dengan baju biasa di ruang ganti. Ruangan ini sebenarnya hanya ruangan kosong yang tidak terpakai, hanya digunakan oleh karyawan menaruh tas atau bawaan lainnya. Atau biasa saat makan siang, kami menggunakan tempat ini untuk makan. Meja kecil, rak piring berisi piring dan gelas, dispenser beserta galonnya, rak sepatu, serta kipas angin menjadi beberapa perabot yang menghiasi ruangan ini.

“Di, dipanggil bu Bos noh, kita di suruh ngumpul semua, katanya ada yang mau di sampaiin,” tiba-tiba suara pelan seorang wanita mengagetkan ku. Aku sempat melihat ke sekeliling dan pojok atas ruangan dan tidak menemukan apa-apa. Masih sore kok sudah ada makhluk tak kasat mata saja ya? Rajin amat?

“Gue di sini begooo!!” suara itu terdengar lagi dengan lebih kencang. Dan datangnya dari arah pintu. Aku melihat wajah seorang wanita melongok masuk ke dalam ruangan, dan aku hanya bisa melihat wajahnya karena bagian tubuh nya yang lain terhalang oleh pintu. Ratna?

“Eh lo kalau buka pintu ketuk dulu dong, kalau gue lagi telanjang gimana?”

“Salah sendiri ga di kunci…”

“Tetep aja itu ga menghapus kewajiban lo untuk mengetuk pintu lebih dulu…”

“Ya elah, kaya perawan aja lo, ribet!”

“Lah, gue emang masih perjaka kok.”

Ngooook!!

“Hahaha.”

“Udah buru! Kayanya ada yang penting deh. Kita semua disuruh ngumpul. Mumpung lagi sepi juga.”

“Iye-iye…”

Setelah merapikan baju ku, aku bergegas keluar ruangan dan mengekor kemana Ratna berjalan. Sepertinya menuju ruangan bu Pristy. Ada apa ya? Setelah sampai, tepatnya di depan ruangan bu Manager, ternyata memang hampir semua karyawan berkumpul, kecuali dorman yang masih standby di depan, berjaga bila ada tamu yang datang. Pikiran ku semakin kemana-mana. Sedikit banyak aku merasa khawatir. Apa aku punya salah ya? Terus ketahuan, terus akan dibuka di depan umum, terus di pecat, terus terus terus…?

“Okeh, semuanya sudah kumpul ya, kecuali si Andi, biarin aja nanti kita update,” ujar bu Pristy mulai membuka suara di tengah kami semua. Andi yang dimaksud tadi ada si dorman yang berjaga di depan.

“Jadi begini, mulai hari ini, akan ada karyawan baru yang akan bergabung dengan kita ya,” lanjut bu Pristy lagi.

Oh, karyawan baru, aku pikir kenapa. Untuk sementara rasa takut dan khawatir ku hilang sudah. Lega rasanya. Paling tidak apa yang akan dibicarakan pada sore hari ini bukan tentang aku. Beberapa karyawan nampak kasak kusuk sendiri dengan pengumuman yang barusan di sampaikan bu Pristy. Logikanya, kalaupun ada karyawan baru, tidak pernah sampai harus briefing seperti ini. Kemungkinananya cuma ada dua, orang baru tersebut adalah orang penting, atau posisi yang di gantikan atau di tambahkan posisi yang penting atau strategis. Apa mungkin bu Pristy resign dan beliau bermaksud mengenalkan calon penggantinya? Masuk akal sih.

“Kalian semua pasti heran mengapa saya sampai mengumpulkan kalian semua kesini,” lanjut bu Pristy dan kami masih tetap diam, sambil sesekali berbisik. Hanya satu dua orang yang menjawab, itupun juga dengan sangat pelan.

“Saya mengumpulkan kalian semua dan bermaksud mengenalkan karyawan barunya kepada kalian, itu karena yang akan bergabung, lebih tepatnya magang, adalah…” bu Pristy tidak langsung menyelesaikan kalimatnya melainkan menoleh ke samping dan memanggil seseorang.

“Dis, sini…” panggil bu Pristy pada seseorang yang masih berada di dalam ruangannya dengan tegas.

Dis? Dan sosok yang aku lihat pertama kali satu bulan yang lalu saat wawancara itu muncul kembali. Wajah cantik nya masih tetap sama, termasuk raut wajahnya yang datar.

“Karena yang akan bergabung dengan kita adalah, keponakan saya sendiri, mba Gadis,” lanjut bu Pristy sambil tersenyum.

Mba Gadis? Keponakan bu Pristy? Anak dari pemilik restoran? Bekerja di sini? Buat apa? Uang jajannya kurang? Pertanyaan-pertanyaan itu muncul dengan sendirinya. Dan bukan hanya aku saja yang bertanya-tanya, semua karyawan yang berkumpul semakin kasak-kusuk mendengar berita ini. Semuanya terkejoet.

“Tidak usah bingung, mba Gadis ini sedang magang dari sekolahnya, jadi dia harus menjalani masa kerja nyata. Dan karena mba Gadis masih tetap harus masuk sekolah, maka dia hanya masuk pada shift malam saja. Mengerti?”

“Mengerti bu…” balas kami semua tanpa banyak tanya.

Dan ada satu lagi yang mengganjal di kepala ku. Mba Gadis sekolah kejuruan? Anak dari orang sekaya keluarganya masa sekolah kejuruan? Masa iya? Kalaupun iya, masa magang masih harus masuk sekolah? Sepertinya ada yang tidak beres.

“Dan satu lagi yang mau saya sampaikan, meskipun mba Gadis adalah keponakan saya, kalian tidak boleh sungkan kepadanya. Saya tidak akan mengistimewakannya. Justru apabila ada yang ketahuan mengerjakan pekerjaannya, saya akan memberikan kalian hukuman. Disaat jam kerja, bersikaplah professional dan berlakulah terhadap mba Gadis sama seperti dengan karyawan yang lainnya. Kalian sama. Mengerti?”

“Mengerti bu…”

“Bagus, sekarang boleh bubar. Yang tadi masuk pagi boleh pulang, yang masuk malam tolong ajarin mba Gadis ya apa-apa yang harus dia kerjakan.”

“Iya bu…” jawab beberapa orang yang kebetulan dapat jatah malam, termasuk Ratna, yang sepertinya juga sama terkejoet nya dengan ku. Wajahnya nampak bingung. Kami semua pun langsung bubar. Aku dan Ratna berjalan bersama menuju ruangan ku tadi.

“Lo ngerasa ada yang aneh ga sih?” tanya nya pelan.

“Banyak, aneh banget,” balas ku.

“Sepertinya kita nanti harus ngobrol-ngobrol lagi deh,” lanjutnya.

“Iya, nanti malam gue telepon ya, kasih tau kalau udah pulang ya.”

“Iya…”

“Oiya satu lagi…”

“Apaan?”

“Amati situasi dan kondisi ya, bener-bener ada sesuatu ini pasti,” balas ku masih dengan berbisik. Kami berdua ngobrol sambil berjalan dan sambil berbisik layaknya mata-mata. Sekilas terlihat keren, namun sebenarnya kami penasaran dan banyak pertanyaan yang berputar-putar di kepala kami.

“Iya…”
 

Balanewpati

Guru Semprot
Thread Starter
Daftar
19 May 2018
Post
503
Like diterima
16.025
  • Thread Starter Thread Starter
  • #13
Pilihan Terbaik

“Halo…”

“Ya halo…”

“Lo udah di rumah?”

“Baru aja sampai…”

“Jadi gimana?”

“Sabar, baru juga sampai, nafas dulu lah…”

“Hehehe.”

“Jadi gini, ini gue dapet info dari tim silet restoran ya…”

“Buset tim silet…buser ada ga buser?”

“Hahaha, dengerin dulu.”

“Hahaha,Oke-oke.”

“Ternyata Mba Gadis itu lagi dapet hukuman dari ortu nya.”

“Hukuman?”

“Iya, tapi kita belum tau pasti nih kesalahan dia apa sampai dihukum begitu.”

“Kayanya sesuatu yang fatal sampai dia harus dipaksa kerja di restoran milik keluarga nya sendiri.”

“Gue mikirnya juga gitu, tapi apa ya?”

“Aniaya orang kali ya?”

“Ya kali cewek secantik itu ngeaniaya orang…”

“Tapi kan serem, judes…”

“Tapi lo nge fans kan?”

“Iya sih, eh enggak, hahaha…”

“Hahaha. Cie-cie…”

“Apaan sih!!”

“Hahaha. Ya udah lah. Menurut gue sih ga penting lah ya Mba Gadis itu ngelakuin kesalahan apa, itu urusan keluarga mereka. Lebih baik kita ga usah ikut campur. Kita masih diberi kerjaan aja udah sukur.”

“Betul.”

“Masalahnya itu gimana nih sikap kita kedepannya, pastinya bakalan canggung, secara dia anak pemilik restoran, dan akan kerja satu level sama kita. Awkwark banget pasti.”

“Pastinya.”

“Tapi gue udah pewe kerja disana, orangnya asik-asik, termasuk elu. Males kalau harus cari kerja lagi.”

“Makasih…jadi terharu di puji.”

“GR…!!”

“Gue juga kok, meskipun baru sebulan lebih dikit, tapi udah kerasan banget, terutama ada lo yang selalu jadi temen curhat gue.”

“Gombal!!”

“Ciyuuuus…”

“Hahaha, iya percaya…”

“Eh Rat.”

“Ya?”

“Besok lo shift malam kan?”

“Iya, kenapa emang?”

“Pulangnya makan dulu yuk?”

“Lo mau ngajak kencan cewek orang?”

“Makan nasgor doang, di pinggir jalan. Bukan candle light dinner.”

“Lo mau terima resiko nya?”

“Please…”

“Gue sih ayo aja, tapi kalau ada apa-apa gue ga tanggung ya. Lo tau kan laki gue emosiannya kaya gimana.”

“Ya jangan sampai tau makanya.”

“Nakal juga lo ya…”

“Hahaha, biasa aja ah. Nakal enggaknya itu tergantung niat Rat, dan gue ga ada niat apa-apa selain ngajak lo makan nasgor, itung-itung traktiran gaji pertama gue Rat. Ayolah…”

“Hahaha, pembenaran doang itu kalau menurut gue. Tapi ya okelah kalau gitu. Gue sih ayo aja. Berarti besok gue ga usah bawa motor ya. Dan lo harus anterin gue pulang.”

“Siap komandan…”

“Ya udah, gue mau mandi dulu, mpe ketemu besok yah…”

“Iya, da…”

“Da…”

*~*~*~*

“Sore mba Gadis…”

“Sore mba Gadis…”

“Sore mba Gadis…”

Suara itu bersaut-sautan menyapa sebuah nama. Tentu saja. Anak dari pemilik usaha tempat mereka bekerja baru saja lewat. Bagaikan seorang putri kerajaan yang baru saja lewat di depan rakyatnya. Meskipun sekarang status sang tuan putri sama dengan rakyatnya, tapi itu tidak menghilangkan, bahkan juga tidak mengurangi sedikitpun rasa sungkan dari kami, yang hanya rakyat jelata ini. Iya kami harus hormat kepada nya, bagaimanapun situasi dan kondisinya saat ini.

“So-sore mba Ga-gadis…”

Sial. Aku gugup. Dan itu terlihat jelas oleh orang-orang di sekitar ku. Termasuk Ratna. Ada dua hal yang membuat ku gugup. Pertama, karena dia anak pemilik restoran. Kedua, jujur dari awal aku sudah memiliki rasa kagum kepadanya. Meskipun aku belum tau banyak tentang dirinya, tapi ada sesuatu yang istimewa yang ada pada matanya. Cinta pada pandangan pertama? Tidak. Aku tidak, atau belum, mencintainya. Aku hanya kagum. Kagum pada pandangan pertama, yang menurut ku itu berbeda dengan cinta pada pandangan pertama.

Dan masih sama seperti pertemuan pertama dulu, respon dari nya masih dingin, hampir tidak ada ekspresi. Aku sampai bertanya-tanya, sedingin apa hatinya sampai segitunya terhadap orang? Aku yakin ada yang salah pada dirinya. Dan itu membuat ku menjadi penasaran pada dirinya. Si tuan putri, anak pemilik usaha tempat ku bekerja ini. Ada apa dengan diri mu?

Cie... di kacangin nih yeee!!”

“Apaan sih?”

Secreet admirer detected!!”

“Enggak…”

“Ga usah ngelak!!”

“Emang enggak kok.”

“Keliatan tau, ampe gugup gitu…”

“Yang lain juga gugup.”

“Yang lain gugup karena takut. Tapi lu gugup karena ada feeling…hahaha.”

“Ngaco...”

“Hahaha, ya udah sih ngaku aja…”

“Enggak!!”

“Hahaha…Iya!!”

“Seraaah…”

“Hahaha…sadis…seleranya tinggi banget…cantik, tajir lagi.”

“Lo mabok ya, ngelantur gitu ngomongnya?”

“Enggak kok, gue cuma lagi ngeledekin temen gue aja yang lagi kasmaran, hahaha.”

“Kasmaran nenek lu!!”

“Tapi gue dukung elu kok kalau emang beneran, tenang aja.”

“Allahuakbar…”

“Hihihi…”

*~*~*~*

“Di, bisa keruangan saya sebentar?” suara bu Pristy mengagetkan seluruh isi dapur restoran ini. Aku yang baru saja selesai mengangkat piring dan gelas kotor dari meja tamu lebih kaget lagi karena nama ku lah yang di sebut. Seisi ruangan langsung kasak kusuk dengan kejadian barusan. Tapi ada juga yang dengan nada bercanda menakut-nakuti ku atas pemanggilan ini. Hmmm…ada apa ya? Bu Pristy yang tadi hanya melongokkan kepalanya juga sudah tidak terlihat, sudah kembali ke ruangannya mungkin. Aku yang tidak mau membuatnya menunggu langsung bergegas menuju ruangannya.

“Ada yang bisa di bantu bu?” tanya ku dengan ramah. Seperti biasa bu Pristy nampak anggun duduk di depan layar monitor nya. Umur nya sekarang mungkin dua kali lipat umur ku, bahkan mungkin lebih, tapi pesonanya masih bisa membuat ku yang masih belum dewasa ini terpana. Rambutnya selalu tertata rapi. Kulit wajahnya putih bersih, dan mulus. Busana elegan. Selalu mengenakan rok span ketat yang menampakkan lekuk pinggul dan kemolekan pantatnya. Dan tidak pernah di bawah lutut. Selalu sedikit di atas lutut yang membuat betisnya yang ramping dan jenjang itu terekspos dengan sangat jelas, membuat lelaki manapun tidak akan mungkin tidak tergoda untuk menatap salah satu keindahan dari tubuh wanita itu. Termasuk aku, anak buahnya yang kurang ajar ini. Yang menikmati kemolekan tubuhnya.

“Kamu kalau kerja bawa motor kan?”

“Iya bu.”

“Bagus, aku mau minta tolong, nanti kamu anterin Gadis pulang ya. Malam ini aku tidak bisa pulang bareng dia soalnya ada meeting dengan vendor.”

“Hah? Saya?”

“Iya, keberatan?”

“Enggak, tapi…”

“Lalu?”

“Kenapa harus saya?”

“Kenapa enggak?”

“Saya takut bu.”

“Taku dengan apa?”

“Pertama tanggung jawab nya terlalu besar. Kedua, memangnya mba Gadis mau?”

“Pertama, aku yang akan bertanggung jawab kalau ada apa-apa.”

“Kalau saya bawa kabur mba Gadis, gimana?” tanya ku polos dengan maksud bercanda.

“Hahaha, aku Magister Psikologi, orang seperti mu tidak akan mungkin menculik orang.”

“Ya…bisa jadi saya khilaf kan, hehehe.”

“Hahaha, yang ada kamu yang diapa-apain sama dia.”

“Eh? Maksudnya?”

“Hahaha, enggak. Masalah pertama tidak perlu kamu khawatirkan.”

“Lalu, masalah kedua?”

“Itu masalah mu, bukan masalah ku, pikirkan, dan aku tidak mau tau gimana caranya Gadis harus pulang sama kamu. Antar dia sampai rumah. Pastikan dia baik-baik saja sampai di depan pintu rumahnya.”

“Kenapa begitu? Kenapa mesti saya sih bu?”

“Ya intinya kamu mau atau tidak?”

“Ya mau sih, tapi kan…”

“Berarti ga ada masalah dong? Sekarang kamu boleh balik kerja lagi,” tutup bu Pristy dengan tenang. Tanpa rasa berdosa. Padahal dia baru saja memasukan ku dedalam sebuah perangkap. Perangkap untuk macan betina yang baru saja dilepas ke alam bebas setelah sekian lama dikungkung dalam sangkar emasnya.

Aku pun balik ke tempat kerja ku dengan perasaan campur aduk. Belum lagi aku baru ingat kalau nanti malam sebenarnya aku sudah ada janji makan nasi goreng dengan Ratna. Mana aku yang ngajak lagi. Pake ngerayu-rayu. Masa aku yang tiba-tiba batalin gitu aja? Mampus!

*~*~*~*

“Besok deh besok…ya?”

“Iya…”

“Beneran ga bete kan?”

“Engga Adi…”

“Ciyus?”

“Iyaaa…”

“Hehehe, lo itu emang sahabat yang paling pengertian. The best banget daah…”

“Wooo…giliran ada maunya baru muji-muji!”

“Hehehe…”

“Ya udah sono kerja lagi. Sambil pikirin tuh gimana cara nya ngajak pulang bareng tuan putri. Hahaha. Kena deh lo dikerjain sama bu Pristy. Hahaha.”

Ratna kemudian berlalu sambil tertawa sore tadi sesaat setelah aku menyampaikan apa yang harus aku lakukan malam ini. Mengantar si tuan putri pulang. Dan benar juga sih apa yang dikatakannya. Ini sih aku dikerjain sama bu Pristy. Pantes Ratna tidak marah ketika janji ku padanya aku batalkan secara sepihak. Yang ada dia malah menertawai ku. Dan sekarang aku harus berfikir keras bagaimana aku bisa mengajak mba Gadis pulang.

Sekarang sudah jam sepuluh malam. Restoran sudah mulai sepi dan sebentar lagi tutup. Pelayan restoran mulai merapikan kembali bagian depan resto sedangkan para koki bertugas di dapur dan belakang. Dari kejauhan aku perhatikan mba Gadis sudah nampak kelelahan. Sebentar-sebentar dia mengusap dahinya sendiri yang putih mulus itu. Wajahnya nampak lesu. Baru hari kedua tapi tubunya sudah menunjukkan kelelahan yang teramat sangat. Seandainya aku bisa mengusap dahinya, sambil memeluk tubuhnya yang mungil itu tentunya. Hahaha, ngayal. Aku pun menghampirinya. Modal nekat. Aku bahkan belum tau apa yang akan aku ucapkan kepadanya nanti.

“Jangan, biar aku saja yang ngerapihin kursi sama mejanya, kamu tidak akan kuat,” ucap ku spontan ketika melihat dia hendak menggeser dan mengatur kembali letak meja dan kursi yang berantakan. Seperti biasanya. Tidak ada respon. Hanya menoleh sebentar kemudian melanjutkan aktifitasnya kembali. Aku lalu bergegas membantu nya.

“Ga usah sok peduli! Kalau dia tau kita semua kena,” ucapnya dengan judes. Mba Gadis menyebut tante nya dengan sebutan ‘Dia’. Ada yang salah. Pasti ada sesuatu yang salah di antara mereka. Aku tetap berusaha membantunya. Aku tidak peduli kalau ada yang melaporkan ku ke bu Pristy. Aku juga tidak peduli bu Pristy mau menghukum ku atau tidak.

“Aku ga sok peduli kok. Aku memang ga peduli, ga peduli kalaupun bu bos mau ngehukum kita. Lagi pula beliau keluar kantor dari tadi sore, kan?” ucap ku dengan gaya se kalem mungkin. Dan aku kemudian menggantikan pekerjaannya.

“Ga usah cari masalah deh lo. Gue ga butuh bantuan lo.”

“Aku membantu bukan karena orang lain butuh, tapi karena menurut ku orang lain itu butuh.”

“Kok ngeselin sih jadi orang? Berhenti ga?” perintahnya dengan sewot. Tapi itu tidak mengubah pendirian ku.

“Ngeselin kenapa? Aku cuma kerja kok. Tidak ada aturan tertulis yang mengharuskan aku mengerjakan yang mana kan?”

“Engh…”

“Sebentar, kok mba Gadis takut banget sih sama bu Pristy? Emang abis ngelakuin apa?” tanya ku dengan begitu penasaran. Dan sekarang kemungkinan yang akan terjadi hanya ada dua. Pertama, dia akan menjawab dengan suka rela, tapi peluangnya sangat kecil. Ke dua, dia akan memarahi ku karena mencampuri urusan pribadinya.

“Bukan urusan lo!” bentaknya. Tuh kan benar.

“Oke. Memang bukan urusan ku sih. Maaf-maaf. Ngomong-ngomong, nanti pulang sama siapa mba? Di jemput bu Pristy ya?”

“Bukan urusan lo juga!”

“Emang sih. Tapi kalau ada yang jemput ya bagus, soalnya…”

“Soalnya kenapa? Jangan bercanda ya!” tanyanya dengan mimik panik, takut, cemas, dan sebagainya.

“Ya saya tenang, berarti mba akan sampai rumah dengan aman.”

“Maksud lo APA??”

“Bukan mau nakut-nakutin, tapi sekarang ini lagi musimnya penculikan, apalagi…”

“Apalagi apa? Jangan ngaco lu! Atau gue…”

“Yeee…dikasih tau juga. Lagi marak tau penculikan. Kalau langsung di bunuh sih masih mending, kalau di jual, gimana? Human traficking.”

“Lu bilang langsung dibunuh masih mending? Gila lu ya.”

“Kalau langsung mati kan ga ngerasain sakit lagi, urusan kelar. Kalau di jual, dijadiin budak, atau amit-amit, dijadiin pelacur, itu derita nya seumur hidup.”

“Tetep aja. Ga punya hati lu. Gila.” Ocehnya sambil menahan emosi. Tapi tetap lucu.

“Hehehe…” aku tersenyum mencoba mencairkan suasana. Tidak terlalu buruk. Aku berhasil ngobrol dengan seorang Gadis. Ya meskipun kita sedikit berdebat. “Jadi gimana? Mba Gadis pulangnya gimana?” lanjut ku lagi.

“Kan gue tadi udah bilang, bukan urusan lo. Lagi pula gue bisa pulang sendiri.”

“Ga ada yang nawarin nganter juga sih. Cuma nanya, pulangnya gimana? Hehehe.” Entah kenapa malah kalimat itu yang keluar dari mulut ku. ******. Adi ******.

“Lo tuh ya!!” umpatnya dengan wajah gemas menahan emosi. Giginya menggeram sambil menunjuk ke arah muka ku. Lalu pergi meninggalkan ku. Ini sih ga bakalan pulang bareng. Yang ada dia bakalan marah dan menganggap ku musuh. Dari kejauhan aku melihat Ratna memandang ke arah ku. Dengan gestur tubuhnya dia seperti bertanya “Bagaimana? Sukses?” dan aku hanya bisa mengangkat bahu ku.

*~*~*~*

Sebenarnya aku sudah pasrah dengan nasib ku sendiri. Aku tidak peduli lagi kalau Bu Pristy akan memarahi ku karena tidak mengantar mba Gadis pulang. Diluar jangkauan ku. Lha orang nya tidak mau. Terlalu angkuh. Siapa aku ini? Dipandang sebelah mata juga enggak. Dipecat, iya. Masa bodoh lah.

Lalu kemudian malaikat penolong datang. Tuhan sepertinya masih berkehendak rejeki ku berasal dari restoran ini. Tanpa aku sadari, selain security yang menjaga restoran ini dua puluh empat jam, ternyata tinggal aku dan mba Gadis saja karyawan yang tersisa. Semuanya sudah pulang. Berarti tugas ku mengunci pintu kaca depan. Dan saat aku hendak mengunci pintu kaca depan itu, dari arah samping aku melihat seorang wanita yang duduk sendirian di bangku kosong yang biasanya digunakan untuk customer yang take away atau waiting list. Dan itu tak lain dan tak bukan adalah mba Gadis.

Aku sempat memicingkan mata ku ke arah nya untuk memastikan bahwa wanita itu benar-benar wanita. Maksud ku bukan wanita jadi-jadian. Bukan tanpa alasan, suasana sekarang yang agak remang-remang membuat ku khawatir juga bila dia itu bukan manusia. Tapi saat aku melihat ke arah kaki nya, ternyata masih menapak ke lantai. Alhamdulillah.

“Belum pulang?” tanya ku dengan rasa penuh penasaran.

“Anterin gue pulang!!” pintanya dengan memohon. Lah, kok berubah pikiran? Tanya ku dalam hati. Tapi aku masih berlagak jaim di depannya. Entah apa tujuannya. Padahal ini adalah kesempatan terbaik ku.

“Tadi katanya bisa sendiri?” tanya ku dengan mengesalkan.

“Please…” rengeknya lagi sambil berjalan mendekat dan sedikit melirik ke arah seberang jalan yang di sana terdapat warung rokok yang di depannya ada beberapa bapak-bapak yang sedang nongkrong. Aku langsung berfikir cepat. Oke, sepertinya dia mulai termakan candaan ku tadi sore.

“Kan bisa naik taksi atau ojek online?”

“Lu mau gue di culik?” tanya nya sambil melotot. Seperti ingin marah tapi tetap lucu. Galak tapi menggemaskan. Dalam hati aku tertawa. Tertawa sejahat-jahatnya. Iya jahat karena aku tertawa dibalik ketakutannya yang paranoid akibat candaan tidak lucu dari ku. Ya elah ternyata segampang ini akhirnya. Thanks God. Alhamdulillah. Mba Gadis, ayo kita pulang. Mau kemana juga aku anterin deh. Hehehe. Tanpa sadar aku senyum-senyum sendiri di depannya. Dan itu agak membuatnya bertanya-tanya dan curiga. Terlihat jelas dari mukanya, tapi tidak sampai membuat dia berubah pikiran. Tentu saja. Dari pada harus pulang sendiri, tentu saja pulang Bersama dengan ku adalah pilihan terbaik.
 

Balanewpati

Guru Semprot
Thread Starter
Daftar
19 May 2018
Post
503
Like diterima
16.025
  • Thread Starter Thread Starter
  • #14
Aku Harus Bagaimana

“Gue ga mau pulang!” ucapnya dengan enteng. Padahal kami berdua baru saja sampai di depan rumah nya yang super besar ini.

“Hah?” tanya ku dengan bingung. Tadi mohon-mohon minta diantar pulang. Sekarang udah sampai di rumah nya malah dengan entengnya bilang ga mu pulang. Pengen bangen aku teriak tepat di telinganya, gila lu ya!! Saking kesalnya.

“Pokoknya ga mau pulang! Ga mau tinggal sama nenek lampir itu!”

“Bu Pristy?”

“Menurut lo?” tanyanya balik sambil melotot. Posisi kami masih sama-sama duduk di atas motor ku dengan aku di depan dan badan ku sedikit miring ke samping. Sedangkan dia di belakang ku.

“Mba Gadis muka nya pucet banget?” ucap ku spontan saat aku melihat wajahnya yang memang terlihat pucat. Reflek aku memegang keningnya. Dia sedikit menghindar namun aku sudah bisa merasakan suhu tubuhnya yang memang sedikit panas.

“Mba Gadis sakit?” tanya ku mulai kuatir. Iya, kalau dia kenapa-napa aku yang akan kena. Namun dia menggeleng sambil wajahnya seperti menahan sesuatu. Tidak sengaja aku melihat dia memegangi bagian perutnya.

“Kenapa perutnya?” tanya ku lagi.

“Eng-enggak…”

“Mba Gadis belum makan ya?”

“Engg…”

Ternyata badannya hangat karena belum makan. Bisa jadi masuk angin.

“Sejak kapan?” tanya ku lagi. Dan dia masih terus menggelengkan kepalanya.

“Ya udah kalau begitu sekarang turun yah. Saya panggilin yang di dalem dulu supaya bukain gerbangnya. Abis itu mba Gadis makan yah?”

“GA MAAAUUU!!” teriak nya. “Ga mau puuulaaang…hiks…” lanjutnya sambil menangis. Haduh…

“Lah terus gimana?”

“Ga tau. Pokoknya ga mau pulang! Lo panggil orang rumah, gue teriak!”

Sejenak aku berfikir. Dan bertanya-tanya juga. Kenapa malah jadi runyam begini. Oke bu Pristy meminta ku mengantarnya pulang, dan aku sudah melakukannya. Dan sekarang si anak manja ini malah bilang tidak mau pulang. Terus harus aku bawa pergi gitu? Aku bawa kabur anak orang dong? Walah, pelanggaran ini mah.

“Oke-oke, hmm…ya udah kita makan dulu aja ya,” ajak ku padanya. Aku berharap setelah makan nanti pikirannya kembali tenang, bisa berfikir lebih logis dan mau pulang ke rumahnya. Aku harap begitu.

“Tapi…”

“Oh iya, jam segini udah ga ada restoran yang buka sih mba. Paling fast food, tapi aku ga doyan fast food. Ya paling makanan pinggir jalan, nasi goreng atau pecel lele yang biasanya masih buka sampai jam segini.”

“Bukan itu, gue…”

“Terus? Ga mau ya makan makanan orang miskin?” tanya ku sambil tersenyum kecut. Benar juga sih, anak seperti dia mana mau makan makanan pinggir jalan yang kebersihannya tidak terjaga.

“Bukan…gue…gue…ga punya duit sama sekali…”

Bola mata ku hampir lompat keluar begitu mendengar pernyataannya tadi. Ga salah denger? Dia ga punya uang? Jadi maksudnya selain harus bekerja di restoran milik keluarga nya sendiri, fasilitas yang sebelumnya dia dapat juga di stop? Termasuk uang jajan? Kok ngenes ya? Nyesek sendiri rasanya. Dan kemudian timbul rasa iba. Ya Allah, mau makan aja ga ada uang masa. Sesusah-susahnya keluarga ku, rasa-rasanya ga pernah yang namanya mau makan aja ga ada uang. Alhamdulillah selalu ada meskipun seadanya.

“Oke-oke. Kelaperan, ga punya duit, ga bisa makan, tapi ga mau pulang, cakep,” ucap ku pelan sambil mengambil posisi sempurna dan menyalakan kembali motor ku.

“Mau kemana?” tanyanya bingung.

“Ya cari makan lah,” balas ku dengan ketus. Entah kenapa aku malah jadi ketus kepadanya. Mungkin karena manja dan judesnya, aku jadi terbawa-bawa. Padahal dalam hati aku sangat-sangat kasihan kepada nya.

“Nanti gue ganti uangnya kalau gue udah punya uang.”

“Ga perlu, ga semua hal bisa di balas dengan uang.”

“Ya udah terserah lo aja deh. Yang penting gue ga mau pulang ke rumah ini lagi!”

“Iya-iya…” jawab ku sambil menahan sabar, dan juga iba. Udah ditolong tapi masih nyolot. Orang kaya.

Dan akhirnya kami berdua pun putar arah. Berbalik untuk tujuan yang lain. Mencari sesuatu yang bisa digunakan untuk mengganjal perut kami. Aku juga sudah mulai lapar lagi. Sekarang sudah hampir jam sebelas malam. Aku tadi makan setelah maghrib. Ibarat tadi itu adalah sarapan, sekarang seharusnya memang sudah waktu nya makan siang.

Aku dan mba Gadis sudah keluar dari perumahan elit ini. Ku pacu dengan kecepatan sedang motor ku. Udara malam yang dingin, apalagi tadi sempat turun hujan, membuat bagian depan tubuh ku serasa di tusuk-tusuk dengan jarum es rasanya.

Setelah berkendara sekitar sepuluh menit, aku melihat sebuah warung tenda yang menjajakan nasi goreng. Aku pun menghentikan motor ku dan memarkirkannya di depan warung tenda tersebut. Aku suruh mba Gadis turun dan aku baru sadar kalau dia membawa sebuah tas ransel warna biru muda. Dari bentuk nya sepertinya tas itu terisi penuh dengan muatan. Jangan-jangan…

“Makan di sini?” tanya nya penuh keraguan. Entah, ragu antara tidak sreg dengan tempatnya atau ragu karena tidak punya uang.

“Iya mba, ga apa-apa kan?” tanya ku dengan sopan.

“Ya udah terpaksa juga kan, mau gimana lagi? Bawain dong tas gue, berat tau!” jawabnya dengan enteng. Woi!! Ga ada yang maksa elu ya!! Elu yang maksa gue ga mau pulang. Teriak ku dalam hati. Dan ini, tas ini berat banget, isi nya apa coba? Dia sekolah atau ngapain sih?

Aku dan mba Gadis pun masuk kedalam warung tenda tersebut. Meskipun masih nampak pucat tapi sekarang aku bisa melihat sedikit senyum yang terpancar dari wajahnya. Di dalam warung tenda ini, selain meja yang menempel pada gerobak nya, ada satu lagi meja yang terpisah, yang di dua sisi berlawanannya tertata masing-masing dua bangku plastik. Aku memutuskan untuk duduk di bangku yang ada di meja itu.

“Mba mau nasi goreng apa?” tanya ku menawarkan.

“Emang adanya apa aja?” tanya nya balik dengan polos.

“Macem-macem, nasi goreng biasa, ada pake baso, sosis, ati ampela, seafood, pete juga ada.”

“Idiih, apaan? Pete? Enggak! Lo aja yang pake pete. Gue ga mau!”

“Kalau ga mau ya udah, biasa aja ga usah nge gas…” gerutu ku pelan. Kalau memang ga mau ya tinggal bilang aja enggak. Ini anak di rumah nya biasa dikasih minum aftur kali ya?

“Apa lo bilang?” tanya nya

“Enggak, mba Gadis cantik banget malem ini.”

“Eh, enggh…jangan kurang ajar ya!”

“Siapa yang kurang ajar sih? Saya kan hanya memuji.”

“Pujian lo ga tulus!”

“Astaga…ya udah deh, sekarang mba Gadis mau makan nasi goreng apa? Abis itu saya anterin mau kemana.”

“Nasi goreng sea food aja,” jawabnya santai dengan sambil memainkan ujung rambutnya yang panjang dan berombak di bagian ujungnya itu. Pinter. Ga punya duit tapi mesen menu nya yang paling mahal. Tekor bandar. Aku harus minta ganti ini sih sama bu Pristy kalau begini caranya. Aku lalu memesan dua porsi nasi goreng beserta dua teh manis hangat. Untung pas abis gajian.

Tidak sampai lima belas menit pesanan kami berdua pun datang. Tanpa basa-basi mba Gadis langsung memakannya. Terlihat sangat lahap. Sejenak aku memandanginya yang sedang makan.

“Kenapa?” tanya nya bingung karena aku pandangi. Sedikit salah tingkah tapi kemudian melanjutkan makannya. Mungkin rasa malu nya tidak bisa mengalahkan rasa laparnya.

“Enggak. Pelan-pelan aja makan nya, ga ada yang nguber kok,” saran ku sok bijak.

“Bodo. Orang lagi laper juga. Bawel banget!” protes nya. Elu yang bawel, balas ku dalam hati.

“Lagian ini nasi goreng enak banget…sumpah…salah satu nasi goreng terenak yang pernah gue makan,” lanjutnya dengan penuh semangat.

“Itu karena mba Gadis laper.”

“Masa?”

“Lauk yang paling enak itu kan rasa lapar, kata orang sih gitu.”

“Apa kata lo aja deh, yang penting sekarang gue mau makan.”

“Tadi siang ga makan ya?” tanya ku lagi dengan sabar dan dia hanya menggelengkan kepalanya.

“Kenapa?”

“Ga punya duit kan? Kalau gue punya duit juga gue ga mau makan di sini.”

“Di hukum buat kerja masih oke lah, latihan buat mba Gadis supaya bisa mandiri juga. Fasilitas di batasi biar bisa lebih sederhana juga bagus. Tapi masa ga dikasih uang sih?” tanya ku mencoba bijak.

“Sekarang lo liat sendiri kan kaya gimana kejam nya itu nenek lampir?”

“Hus! Itu tantenya sendiri ya, masa di bilang nenek lampir?”

“Bodo Amaaat!!”

Aku lalu menghela nafas sebentar. Melihat gadis manis yang sedang kelaparan dan makan dengan lahap nya ini.

“Terus, tadi sore di restoran, ga makan juga?”

“Enggak.”

“Kenapa?”

“Ga nafsu. Udah deh ga usah ngebahas si nenek lampir sama restoran itu lagi. Kalau ga gue kabur nih,” ancamnya dengan lucu. Logikanya kalau mau kabur sih ya kabur aja, bukan urusan ku. Tapi kalau beneran kabur, aku yang bakal kena masalah. Jadi ya mau ga mau aku harus baik-baikin dia dulu.

“Iya-iya, maaf mba. Ya udah di lanjut dulu makannya, saya ga ganggu.”

Setelah aku bilang begitu dia langsung melanjutkan makannya. Luar biasa ini anak pikir ku. Tidak ada rasa tidak enaknya sama sekali. Baginya, semua yang dia lakukan, yang dia ucapkan, itu benar. tidak ada kompromi. Tidak ada toleransi bagi yang lain. Kok bisa ya ada watak seperti ini? Aku bingung sama keluarga yang mendidik nya dulu. Tapi ya sudah lah. Mungkin memang sudah nasib ku malam ini terjebak dengan wanita aneh yang satu ini. Kalau ada satu hal yang aku pengen banget terjadi sekarang adalah Ratna datang, menghampiri ku dan membawa ku kabur dari cengkeraman Gadis ajaib yang sangat aneh ini.

“Oiya, mba Gadis belum kasih tau lho kemana saya harus anter,” ucap ku pelan di saat makanan kami hampir habis. Ya meskipun gemas, sebisa mungkin aku tetap menjaga rasa hormat ku kepadanya.

“Tinggal bilang aja ya kalau mau ke rumah sodara atau sahabatnya. Tapi kalau berubah pikiran dan mau pulang ke rumah ya lebih baik,” lanjut ku. Tapi itu malah membuatnya menghentikan makannya. Padahal tinggal satu suapan lagi. Ditaruhnya sendok dan garpunya. Bibirnya sedikit manyun.

“Mba?” tanya ku lagi.

“Lo kalau mau nurunin gue di jalan juga ga apa-apa deh, gue pasrah.”

“Loh? Kenapa begitu? Kan tadi udah saya bilang kalau saya mau anterin kemanapun mba Gadis mau. Asal tujuannya jelas.”

“Kalau gue ga punya tujuan gimana? Lo mau anter gue kemana?” tanya nya dengan agak keras tapi terdengar sedih. Aku sendiri sedikit bergetar mendengar nya. Salah satu hal yang paling menyedihkan dalam hidup adalah ketika kita tidak punya tujuan untuk pulang.

“Ya terus gimana? Ga mungkin juga saya tinggalin mba Gadis di jalan.”

“Ya lo pikirin lah. Lo kan cowok.” Lah kok gue lagi?

“Kalau saya punya duit pasti sudah saya cariin kontrakan.”

“Makasih buat niat baiknya, tapi sayangnya itu ga merubah apa-apa untuk saat ini.”

“Maaf…”

“Udah gue bilang kan kalau wanita judes itu nenek lampir. Semua ini ga akan menimpa gue kalau bukan karena dia. Sampai tengah malam gini apa ada dia nyariin gue? Nelpon gue atau elu gitu? Hiks…ga ada kan? Tante macam apa itu?” ucapnya sambil menahan tangis. Matanya mulai berkaca-kaca. Terlihat air matanya mulai turun membasahi pipi nya yang halus. Aku langsung memberinya tisu.

“Thanks…”

“Sama-sama mba. Ya udah gini aja deh, ada satu pilihan terakhir. Tapi saya tidak maksa. Kalau mau ya ayo, ga juga ga apa-apa.”

“Lu ga ngajakin gue buat check in kan?”

“Astagfirulloh…amit-amit…enggak…”

“Kirain…terus apa?” tanya nya dengan lembut. Hati nya sepertinya sudah mulai tenang. Entah tenang karena apa. Apakah karena sudah berhasil mengeluarkan unek-unek nya, atau karena aku punya solusi akan kemana malam ini dia pulang.

“Nginep di rumah saya, hehehe.”

“Hah? Gila aja lu! Apa kata keluarga lo nanti malam-malam gini ajak gue nginep di rumah lu? Enggak-enggak!”

“Dari pada tidur di emperan toko? Terus ntar di culik? Di perkosa?”

“Ga mungkin, gue lagi dapet.”

“Eh, enghh…ya tapi tetep masih bisa di culik kan? Terus di Sandra, dijadiin tawanan.”

“Tapi…”

“Saya ga maksa, tapi saya juga ga mau kalau mba Gadis kenapa-napa.”

“Di rumah lu ada siapa aja?”

“Saya cuma tinggal bertiga, saya, mama, sama adik perempuan saya. Anak nya kelas dua SMA juga sama kaya mba Gadis, jadi nanti bisa berbagi kamar sama adik saya ini.”

“Namanya siapa?” tanyanya.

“Rahma, Rahmawati.”

“Kalau mamanya?”

“Fatma, Fatmawati.”

“Ihh Namanya mirip, lucu…”

“Apanya yang lucu?”

“Ah enggak.”

“Jadi gimana?”

“Tapi kalau mama lu nanya-nanya, lu yang jelasin ya?”

“Iya mba…” jawab ku dengan santai, padahal aku sendiri juga belum tau harus jawab apa nanti kalau mama nanya ini itu setelah tau anak laki-laki nya bawa pulang anak gadis orang.

“Ya sudah. Gue sih ga bisa nolak kalau di paksa,” ucapnya sok terpaksa dengan gaya centil sambil kembali memainkan ujung rambut panjangnya.

“Ga ada yang maksa yaaa, ya Allah…” balas ku cepat karena mulai agak jengkel dengan sikapnya. Aku sampai harus menarik nafas panjang untuk menahan emosi ku. Untungnya berhasil. Sabar.

“Berubah pikiran nih!” ancamnya kepada ku dengan tanpa rasa berdosa sama sekali.

“Iya-iya saya yang maksa. Saya memaksa mba Gadis buat tinggal di rumah saya malam ini.”

“Nah gitu dong, gitu baru benar,” balasnya dengan gaya angkuh ala-ala ibu pejabat. Oke. Untuk saat ini lebih baik aku diam saja kalau begini caranya. Kalau aku lanjutkan yang ada aku malah kena darah tinggi nanti. Stroke. Lalu jantungan. Tidak. Mama ku nanti tidak ada yang menjaga. Adik ku juga belum ada yang menjaga. Aku tidak mau mereka berdua tidak ada yang melindungi cuma gara-gara gadis ga waras bernama Gadis ini.

*~*~*~*

Pukul dua belas malam lewat sepuluh menit dan aku baru tiba di rumah. Dan aku tidak sendiri. Membawa penumpang yang akan tidur, menginap di rumah ku, yang aku baru sadar saat melakukan perjanjian tadi tidak ditentukan sampai kapan orang ini akan menginap. Semoga saja tidak lama.

Ceklek, ceklek,” suara kunci pintu yang terbuka. Untungnya kami bertiga, aku, mama maupun Rahma memiliki kunci masing-masing, jadi ketika pulang malam seperti ini tidak perlu membangunkan penghuni rumah yang lain. Aku langsung membuka pintu dan sepi, lampu-lampu sudah mati. Tentu saja, jam segini sudah pada tidur menurut ku. Tapi baru saja aku melangkahkan satu kaki ku masuk ke dalam rumah, tiba-tiba terdengar suara yang mengagetkan ku.

“Baru pulang kak?” suara mama dari arah ruang tengah.

“Eh ma-mama? Be-belum tidur?” tanya ku dengan gugup. Aku bukan gugup karena pulang lewat tengah malam, tapi aku gugup bagaimana harus menjelaskan tentang apa yang aku bawa saat ini.

“Kamu ini, ditanya kok malah nanya balik. Kamu kenapa kak? Kok masih berdiri aja di situ? Ada sesuatu pasti! Apa yang kamu sembunyiin dari mama? Pulang jam segini lagi…” cecar mama beruntun tanpa memberikan jeda untuk ku menjawabnya satu per satu. Aku ingin mejawab namun bibir ku seolah terkunci. Aku yakin mama bisa mengerti, tapi masalahnya ini sesuatu yang baru dalam hidup ku. Sesuatu yang besar. Meskipun bisa mengerti tapi pasti sksn ada kehebohan dulu di awal nya. Dan aku harus menyakinkannya terlebih dahulu.

Masih diam tak berkutik dan masih bingung harus berkata apa, aku malah melihat siluet dan bayangan mama yang berjalan dari arah ruang tengah menuju pintu depan. Mampus mampus mampus. Harus dari mana ya aku menjelaskan?

“Heh, kamu kenapa? Kaya orang kesambet gitu, ayo masuk,” ajak mama. Dan aku pun dengan seluruh keberanian ku melangkahkan kaki ku yang satu lagi untuk masuk kedalam rumah. Tapi sebelumnya aku sudah menggenggam lengan mba Gadis dan mau tidak mau dia ikut berjalan dengan ku, tepat di belakang ku.

“Kamu, sama siapa itu kak?” tanya mama lagi. Aku bisa melihat bagaimana penasarannya mama saat mengetahui ku pulang tidak sendiri. Sama penasarannya seperti ketika ibu-ibu saling bercerita gosib antar sesama nya.

“Sa-sama di-a maah…,” jawab ku dengan sangat kaku tanpa menyebut nama mba Gadis sambil menyuruh mba Gadis agar sedikit bergeser ke samping kiri ku supaya diri nya terlihat oleh mama.

“Ada apaan sih?” dan kemudian saat aku belum bisa menjelaskan apa-apa ke mama, tiba-tiba dari arah belakang mama muncul suara lagi. Rahma.

Aku tidak tau sejak kapan dia berdiri di belakang mama, menggelendot manja pada tubuh mama nya itu. Kemudian dengan sedikit mencondongkan badannya ke arah samping kanan mama, sambil dengan rasa penasaran juga seperti mama, dengan muka yang tinggal lima watt namun entah kenapa terlihat sangat jutek dan judes, menunjuk dengan tepat ke arah muka mba Gadis, dan bertanya…

“Dia siapa?”

Mampus! Dua macan betina bertemu. Dan malam ini akan tidur di dalam satu kandang yang sama. Dua-dua nya sama. Dua-dua nya manja. Dua-dua nya mau nya menang sendiri. Tidak ada yang mau mengalah. Selama ini aturan di rumah ini adalah semua untuk Rahma, tidak ada pengecualian. Dan sekarang harus berbagi mba Gadis. Mampus. Aku harus bagaimana?
 

Balanewpati

Guru Semprot
Thread Starter
Daftar
19 May 2018
Post
503
Like diterima
16.025
  • Thread Starter Thread Starter
  • #15
Oh Tuhan

Pagi ini kami sarapan berempat. Aku, mama, Rahma, dan…Gadis Anastasia Wiradana. Aku sendiri juga masih belum percaya bagaimana pagi ini dia akan sarapan Bersama dengan kami. Dengan penuh ketegangan juga.

Kami duduk Bersama di meja makan di ruang makan yang menjadi satu dengan ruang keluarga rumah ku. Aku dan mama saling berseberangan duduknya. Sedangkan Rahma duduknya berseberangan dengan mba Gadis. Aku tidak bisa membayangkan bila mereka duduknya bersebelahan atau bila disandingkan. Mungkin mereka berdua akan langsung cakar-cakaran, jambak-jambakan, dan entah kekacauan apalagi yang bisa dilakukan oleh dua remaja gadis yang saling berebut perhatian.

Masih ingat dengan jelas dalam ingatan ku bagaimana kacaunya rumah ku ini semalam. Bagaimana aku harus merayu Rahma agar mau menerima kehadiran Gadis. Bagaimana aku harus meyakinkan mba Gadis agar dia mau tinggal di sini. Aku sampai harus memijit kepala ku sendiri saking peningnya setelah mendapatkan solusi untuk bersama. Untung ada mama yang sangat-sangat mengerti situasi dan kondisi dari mba Gadis. Selain itu mama juga menenangkan ku. Beliau malah senyum-senyum sendiri ketika melihat kekacauan ku. Mama memang paling the best lah.

“Pokoknya Rahma ga mau kalau harus berbagi sama cewek ga jelas ini, enak aja,” omel Rahma sesaat setelah aku menceritakan duduk perkara mba Gadis kepada Rahma dan mama.

“Rahma, kamu ga boleh gitu sayang. Kamu ga kasian apa sama mba Gadis?” tegur mama pada anaknya yang rempong itu.

“Ayolah dek, ini tuh cuma ada temen kakak yang mau numpang nginep aja malem ini, jangan berlebihan gitu lah…” aku ikut memohon kepada Rahma.

“Ma, Kak, dia itu bisa ada di sini pasti ada sebabnya. Dan itu pasti sesuatu yang salah. Mana tau dia akan berbuat apa nanti sama keluarga kita.”

“Astagaaa, ga segitunya juga kali dek,” aku dan Rahma semakin berdebat.

“Jaga-jaga, antisipasi ga ada salahnya kan?” tanyanya lagi. Iya ga salah. Tapi ga harus menolak dan ngomong di depan orangnya.

“Apa sih yang bisa dilakuin anak manis kaya mba Gadis ini sih sayang?” balas mama.

“Manis apanya? Luarnya manis, dalamnya ga tau.”

“Ya tapi, masa kamu tega sama mba Gadis? Kalau kamu yang ada di posisi mba Gadis gimana?” lanjut mama.

“Senakal-nakalnya Rahma, Rahma ga akan bikin kesalahan yang bikin Rahma di hukum kaya gitu. Apalagi kabur dari rumah.”

“Saya mungkin ga diterima di sini, saya pergi aja kalau begitu,” ucap mba Gadis tiba-tiba.

“Enggak! Mba Gadis tetep tidur di sini malam ini,” ucap mama tegas. Mama pasti memposisikan dirinya sebagai seorang ibu, dan tahu betul posisi mba Gadis kaya gimana. Tidak perduli kesalahan apa yang di buat mba Gadis, beliau hanya mau berbuat baik. Sebesar apapun kesalahan yang dibuat mba Gadis, beliau tidak mau anak gadis ini tidak punya tempat untuk tidur malam ini. Dan kalau sudah bilang begitu berarti Rahma ga bisa apa-apa, paling ngambeknya yang akan berkepanjangan.

“Kalau kamu ga mau tidur bareng mba Gadis, ya udah mba Gadis aja yang tidur sama mama,” lanjut mama.

“ENGGAK BOLEEEH!! Nanti mama diapa-apain lagi…”

“Astagfirullah…” mama istigfar. “Mba Gadis maaf ya, Rahma ga bermaksud begitu kok.”

“Iya tante…Gadis ngerti kok. Tapi kalau emang beneran ga boleh, ga apa-apa kok, Gadis pergi aja,” balas mba Gadis dengan sangat-sangat memelas. Anjir. Ini drama banget. Serius apa enggak ini ya?

“Ya udah kamu tidur sama mama aja kalau begitu, mba Gadis tidur di kamar kamu,” ucap ku mencoba memberi jalan keluar.

“Ga Boleeeh!! Nanti barang-barang aku di ambilin lagi,” balasnya.

“Rahma! Mama ga pernah ngajarin kamu buat berburuk sangka kaya gitu yaaa,” tegur mama lagi. Sekarang suasananya udah jadi tegang banget. Jujur aku tidak enak banget sama mba Gadis. Aku yang menawarkan dia untuk tinggal di rumah tapi malah jadi seperti ini kejadiannya. Dan sebenarnya yang aku takutin adalah mama, tapi malah si bocah rese ini yang ga bisa di ajak kompromi. Kaya nya harus di kerasin ni anak.

“Ya udah. Kamu tidur di kamar kamu. Mama tidur di kamar mama. Mba Gadis tidur di kamar kakak. Dan kakak tidur di luar. Kalau kamu ga suka, marah aja sama kakak. Ini bukan waktunya untuk egois. Kamu sudah tujuh belas tahun, dan seharusnya kamu udah bisa mikir buat orang lain. Jangan jadi kaya anak kecil terus!”

“Hiks…”

“Nangislah terus!”

“Huaaa…mama…kakak galak…” tangisnya meledak dan menghambur ke mama.

“Teruslah! Udah gede juga, ga bisa dibilangin!”

“Huaaa…” Rahma semakin kencang tangisnya dan sekaligus semakin kencang juga memeluk tubuh mamanya. Mama sendiri juga hanya diam melihat kemarahan ku. Memang baru kali ini aku memarahi adik ku sendiri. Dan itu di depan mama. Untungnya mama selalu mengerti sikap ku. Dan dia mengerti mengapa aku sampai membentak Rahma. Mama kemudian memberikan ku isyarat agar segera mengajak mba Gadis ke kamar ku.

Ya, akhirnya mba Gadis tidur di kamar juga akhirnya. Dari pada Rahma ngamuk, mungkin ini adalah solusi terbaiknya. Aku mengajak mba Gadis ke kamar ku. Tentu saja tidak langsung masuk. Kamar ku terlalu berantakan. Aku suruh dia untuk menunggu sebentar. Aku ingin merapihkannya sedikit. Sekaligus memastikan tidak ada “barang berharga” ku yang tertinggal di kamar.
“Ayo sayang dimakan sarapannya, ga boleh sungkan yah. Ini tadi yang bikin Adi lho, enak tau nasi goreng buatannya, tante aja kalah kalau masak nasi goreng, hihihi,” pinta mama ke mba Gadis. Ya elah, pake di bilang aku yang masak lagi.

“Oh ya? Cobain yah tan…” balas mba Gadis. Dan entah mengapa pagi ini aku merasa anak ini berubah seratus delapan puluh derajat sifatnya dari yang aku kenal selama ini. Kemarin Ratna yang berubah dari tomboy menjadi sedikit lebih feminine dan kalem ketika ketemu mama. Dan sekarang giliran mba Gadis yang tiba-tiba berubah dari galak dan judes menjadi anak yang manis. Ini pada kenapa sih? Faktor pembawaannya mama kali ya yang selalu merangkul anak-anak muda seperti kami sehingga merasa nyaman dengan beliau, yang secara tidak sadar merubah sikap kami sendiri.

Tapi kenapa untuk si anak yang duduk di sebelah kanan depan ku ini tidak berubah berubah ya manjanya? Iya, yang aku maksud adalah Rahma. Aku tidak tau dulu mama ngidam apa saat hamil dia, tapi yang pasti sifat kami beda banget. Karena kau cowok dan dia cewek. Mungkin. Karena aku sulung dan dia bungsu. Bisa jadi juga. Entahlah. Yang pasti adik ku itu dari pagi tadi hingga sekarang manyunnya udah kaya apa tau.

“Eh iya, beneran enak tan. Lebih enak dari nasgor yang aku makan sama mas Adi semalam, ini sih udah kaya masakan restoran,” ucap mba Gadis lagi sambil tersenyum manis dan memuji masakan ku. Wajahnya berbinar-binar. Ini bukan mba Gadis yang aku kenal seminggu ini. Pagi ini dia sudah mengenakan seragam sekolah. Ternyata yang ada di tas nya semalam yang berat itu adalah baju ganti nya. Berarti dia memang sudah merencanakan untuk tidak pulang dari kemarin pagi. Apa bu Pristy juga tau? Tapi tidak mungkin. Karena semalam itu bu Pristy sebenarnya menanyakan kabar mba Gadis, apa dia bersama ku? Apa dia baik-baik saja? tapi aku dilarang untuk memberitahukan hal itu ke mba Gadis.

Feeling ku mengatakan kemarin malam pasti ada sesuatu yang terjadi, entah itu pertengkaran atau apa, yang membuat mba Gadis marah mungkin, terus bu Pristy mencium adanya kemungkinan mba Gadis tidak akan pulang. Terus aku yang di umpan kan agar kalaupun mba Gadis tidak pulang, paling tidak dia bersama ku. Ternyata begitu ya.

Itu tadi yang pertama. Yang kedua, pagi ini dia nampak sangat ceria, khusus nya saat sarapan ini. Entah setan apa yang menyambetnya hingga dia bisa berubah sedemikian rupa. Atau apakah dia ada tujuan terselubung di balik itu, aku tidak tau. Dia mengenakan bando warna biru muda seperti warna tas nya. Seperti nya dia sangat suka dengan warna biru muda. Segala pernak-perniknya berwarna biru muda.

Yang ke tiga, dia memanggil ku dengan panggilan ‘Mas’. Sesuatu yang sebelumnya tidak pernah terjadi. Aneh. Benar-benar aneh. Dia itu seperti sedang ingin menunjukkan kepada Rahma bahwa “ini loh gue, gue deket juga lho sama kakak elo. Dan kakak lo lebih perhatian sama gue, lebih ngebelain gue dari pada elu”. Kalau benar seperti itu berarti perang dingin ini masih akan berlanjut. Dan mungkin akan semakin berkepanjangan karena pagi ini aku harus mengantar mba Gadis ke sekolahnya.

“Makanya, dari pada jadi pelayannya, dia itu sebenarnya lebih cocok jadi koki nya,” puji mama lagi.

“Ga segitunya juga kali mah, kalau koki mah udah jelas professional, kalau kakak kan belajarnya otodidak.”

“Yang belajar sendiri aja enak banget, apalagi kalau di latih. Ini sih tinggal dipoles dikit juga jadi. Nanti deh coba aku bilang ke papah buat mindahin mas Adi biar jadi koki aja, siapa tahu jadi bisa lebih berkembang. Eh tapi itu nanti kalau papa udah balik dari USA,’ ucap mba Gadis dengan semangat.

“Sombooong!!” timpal Rahma pelan namun kami semua bisa mendengarnya.

“Rahma…” tegur mama namun Rahma nya nampak cuek dan tidak perduli.

“Kalau sekarang kan udah pada tau sendiri situasi yang menimpa aku kaya gimana, terpenjara oleh nenek lampir yang kejam, hiks…” lanjut mba Gadis tanpa menimpali omongan Rahma. Buset. Cari simpatik banget. Fix ini sih pura-pura banget. Dah gitu jelas banget nyari gara-gara nya sama Rahma. Tapi aku juga tidak bisa sepenuhnya menyalahkan mba Gadis. Sikapnya yang melawan dan menyerang balik pasti juga karena respon yang dia terima dari Rahma semalam. Rahma tidak welcome, padahal tidak ada rugi nya juga buat dia jika menerima mba Gadis dengan baik. Intinya mereka berdua salah. Lalu aku harus membela siapa?

“Moga aja balik cepet biar punya anak ga ngerepotin orang,” timpal Rahma lagi dengan tatapan tajam dan muka super jutek ke arah mba Gadis.

“Rahma…” lagi-lagi mama hanya bisa menegur. Beliau tidak mungkin bisa marah karena itu bukan pilihan tepat mengingat kegalauan yang dirasakan Rahma sekarang.

“Udah-udah. Masalah itu nanti aja dibahasnya. Yang penting sekarang cepet selesain makan nya. Nanti mba Gadis ke sekolahnya bareng saya aja, sekalian ke restoran.”

“Loh, kamu masuk pagi kak?” tanya mama.

“Iya, disuruh masuk, ni barusan di WA, katanya ada yang penting.”

“Terus Rahma gimana?”

“Terserah dia. Orang dikasih tau juga ga dengerin kok. Diajarin baik juga ngeyel,” ucap ku santai. “Ya udah adi mau siap-siap dulu, mba Gadis kalau sudah selesai tunggu depan aja ya,” lanjut ku.

“Iyah maass…makasih yaah,” balasnya dengan senyum manisnya. Senyum palsu pikir ku. Ah sudahlah. Aku lalu bergegas ke kamar untuk siap-siap. Tapi aku menaruh piring kotor ku terlebih dahulu ke dapur dan ternayat mema mengikuti ku.

“Kak, kak, mama mau ngomong bentar,” ucap mama sambil berbisik.

“Kenapa mah?”

“Kamu tadi ga serius kan marahin Rahma kaya gitu?”

“Oh tadi, ya ga lah. Adi cuma pengen Rahma bisa belajar sedikit mengerti kalau tidak semua hal harus ngikutin apa maunya. Biar belajar jadi lebih dewasa.”

“Oh, kirain.”

“Tenang aja mah ga usah kuatir, sayang Adi ke Rahma masih sama kok, ga berkurang sedikit pun.”

“Ya mama percaya, tapi nanti kalau maslaah udah aga tenangan kamu harus cerita soal Gadis yah,” pinta mama dengan sorot mata yang…ada sedikit kecurigaan tapi berbeda.

“Apa yang mau diceritain lagi? Kan udah semuanya semalam. Dia kabur dari rumah, dan Adi berada di waktu dan tempat yang ga pas.”

“Masa siii? Cuma itu aja? Ga ada yang lain?”

“Diiihh…sekarang bukan waktu nya buat ngeledik kakak mah.”

“Tuh muka kamu langsung merah kak, hihihi.”

“Udah ah, kakak mau siap-siap. Nanti mama anter Rahma nya naik taksi online aja, biar dia sedikit tenangan. Pokoknya Rahma jadi urusan mama, biar mba Gadis kakak yang urus.”

“Iya-iya. Ati-ati yang sama anak gadis orang, jangan sampai kenapa-napa. Dijagain yang bener, jangan macem-macem.”

“Siap komandan…”

“Hihihi…ya udah siap-siap sana, sini piring nya mama aja yang cuci.”

Akupun langsung menyerahkan piring kotor ku pada mama. Dan bersiap-siap.

*~*~*~*

Setengah tujuh pas aku dan mba Gadis siap berangkat menuju sekolahnya. Dan memang benar, sekolahnya memang sekolah elite. Iyalah pastinya. Keluarga sekaya keluarganya mana mungkin menyekolahkan anaknya di sekolah biasa. Mama dan Rahma sudah berangkat duluan ternyata. Jadi tinggal kami berdua di rumah ini. Untung kami sudah sama-sama di teras rumah, jadi ya tidak canggung-canggung amat jadinya.

“Tadi tante bilang sesuatu sama gue,” ucapnya dengan angkuh saat aku sedang memakai sepatu.

“Apaan?”

“Katanya kalau mau, gue boleh tinggal di sini sesuka gue, selama gue mau, selama gue betah,” lanjutnya. Si mama gimana sih? Ga mikirin Rahma apa ya? Nolong orang sih boleh, tapi ga sampai segitunya juga. Padahal aku maunya tidak sesuka hati mba Gadis juga. Cuma beberapa hari saja sampai permasalahannya terselesaikan dan ada jalan keluar.

“Kok mukanya datar gitu? Ga suka?”

“Suka kok suka…” jawab ku berbohong.

“Bagus deh. Sory yah sebelumnya, kayanya gue bakalan lama di rumah lo ini, gue betah. Hahaha. Nyokap lo orangnya asik banget, dan ade lo yang manja itu, kayanya bakalan lucu kalau gue jadiin bahan iseng, hahaha.”

Gila. Ini anak hati nya terbuat dari apa ya? Masa niat jelek di sampaiin ke musuh nya. Dia pikir kita-kita ini apa ya? Dan sandiwara nya itu lho, dari semalem sampai pagi ini, ga ada cacat nya. Sabar Adi, sabar. Aku cuma bisa menyabarkan diri ku sendiri dalam hati. Sambil mencari cara supaya gimana caranya bu Pristy segera menjemput monster mini ini. Kalau tidak bukan Rahma saja yang bakalan marah-marah terus, aku lama-lama juga bisa darah tinggi menghadapinya.

“Iya, gimana maunya mba Gadis aja, yang penting mba Gadis seneng,” balas ku berbohong. Dalam hati aku berfikir gimana caranya bisa sesegera mungkin menendang bocah tengik ini dengan halus.

*~*~*~*

Kenapa aku malah nyasar ke rumah ini lagi ya pikir ku dalam hati. Baru semalem aku datang ke sini dan pagi ini balik lagi. Tidak nyasar sih sebenarnya, tapi sengaja di sasarin sama bu Pristy. Pertama bilang disuruh datang pagi ke kanotr alias restoran, eh pas tiba di restoran tiba-tiba di suruh langsung kerumah nya.

“Ada yang bisa di bantu mas?” baru saja aku mau menekan tombol bel tapi seorang satpam sudah menyapa ku karena mungkin melihat ku beridir mematung di depan pagar rumah tuan nya.

“Eh, iya pak, mau ketemu sama bu Pristy, ini saya disuruh datang kemari katanya pagi ini, ini wasap nya pak kalau mau liat,” tawar ku takut pak satpam ini tidak percaya. Tampang nya yang sangar dengan warna kulit yang gelap membuat ku takut duluan.

“Hahaha, ga perlu mas, tadi ibu udah pesan kalau ada yang nyariin langsung suruh masuk saja. Beliu lagi di kolam renang, mas nya langsung masuk saja kolamnya ada di sebelah kanan ya,” pesan bapak ini dengan ramah namun tegas.

“Oh begitu, baiklah kalau begitu pak, makasih sebelumnya,” balas ku.

Aku pun langsung masuk saja ke dalam rumah sesuai dengan instruksinya. Dalam jalan aku kembali bertanya-tanya, ada apa aku disuruh kemari ya? Dan kalaupun ada sesuatu hal penting tentang restoran, kenapa ketemu nya di rumah? Dan kenapa harus di kolam renang? Belum dapat cara bagaimana memulangkan mba Gadis sesegera mungkin, ini tante nya malah ada-ada saja minta aku datang ke rumahnya. Eh ini rumah nya bu Pristy atau rumah nya mba Gadis ya? Ga tau. Ga mau tau juga. bukan urusan ku.

Aku sudah berada di dalam rumah, tepatnya di ruang tamu yang sangat besar dan mewah. Luas ruang tamu ini bahkan lebih besar dari total luas rumah ku. Ini sih istana pikir ku. Bodoh sekali mba Gadis kabur dari rumah besar dan mewah ini. Dan malah betah tinggal di sana, dan bilang kalau akan tinggal lama di rumah ku yang sederhana itu. Entahlah.

Aku lalau berjalan ke arah kanan sesuai dengan arahan dari pak satpam. Dari sini aku memang bisa melihat sebuah kolam renang yang cukup besar karena pemisah dari ruangan ini dengan kolam itu hanya lah sebuah dinding kaca. Dari sini aku bisa melihat kecipak air akibat seseorang sedang berenang di dalamnya. Aku tidak bisa melihat dengan jelas, tapi feeling ku mengatakan yang berenang itu adalah bu Pristy.

Aku berjalan ke depan hingga tepat berada di depan pintu yang juga terbuat dari kaca dan aku berdiri di sana. Seperti nya bu Pristy sudah menyadari keberadaan ku. Beliau lalu merapat ke pinggiran kolam, naik, dan menyudahi acara berenangnya. Saat itu lah aku dibuat terpana dengan pemandangan yang aku lihat. Bu Pristy nampak cuek dengan keberadaan ku saat berjalan menuju bangku tidur yang biasa digunakan untuk berjemur meskipun dia hanya mengenakan sepasang baju renang yang sangat mini dan seksi. Pantatnya yang bulat tercetak dengan jelas. Payudaranya yang sekal juga tampak menantang dengan belahan yang sangat menggiurkan. Perutnya rata, menampilkan pusarnya yang terekspos dengan jelas. Pingganya yang ramping, membuat lekukan di tubuhnya nampak semakin indah. Oh Tuhan.
 

Balanewpati

Guru Semprot
Thread Starter
Daftar
19 May 2018
Post
503
Like diterima
16.025
  • Thread Starter Thread Starter
  • #16
Awal Dari Sebuah...

“Udah nyampai kamu rupanya, udah lama?” tanya bu Pristy setelah selesai mengenakan jubah kimono pada tubuhnya. Otomatis pertunjukan indah yang tadi aku nikmati kini sudah selesai. Belum benar-benar selesai sih sebenarnya. Yang mengikat jubah itu hanya sebuah tali kecil di bagian perut nya, itu pun tidak terlalu kencang sehingga pada bagian dada nya masih terbuka dan kadang tersingkap cukup lebar. Pun begitu dengan bagian bawahnya yang juga tidak ada ikatan apapun yang membuat jubah itu seperti memiliki belahan yang sangat tinggi, hingga ke pangkal pahanya. Dan itu juga lebih banyak tersingkap nya dari pada menutupnya. Jadi kesimpulannya, meskipun bu Pristy menutupi tubuhnya dengan jubah putih itu, tetapi aku masih bisa melihat bagian-bagian intim nya. Belahan dadanya masih terlihat oleh ku. Pangkal pahanya yang aduhai itu juga masih bisa aku nikmati.

“Iya bu udah sampai, tapi belum lama kok, barusan aja,” balas ku dengan agak kaku karena mata ku yang seperti auto fokus ke dada dan pahanya.

“Pasti penasaran kan kenapa aku minta datang ke sini?” tanyanya dengan santai lalu setengah berbaring pada bangku tidur itu. Kedua tangannya digunakan untuk menyangga tubuhnya, praktis bukit kembar di dada nya itu nampang semakin membusung.

“Kurang lebih begitu sih bu,” balas ku masih dengan canggung.

“Duduk aja dulu,” lanjutnya mempersilahkan ku untuk duduk. Sambil rebah beliau mengambil segelas es lemon yang ada di meja di antara kami berdua dan meminum nya. Aku pun duduk. Bu Pristy rebah sambil menekuk sebelah kaki nya sehingga jubah putih yang ia kenakan sekarang tersingkap hingga ke pangkal pahanya. Dan mata ku lagi-lagi fokus ke kulit daging yang putih nan mulus itu.

“Oiya, mau minum apah?”

“Ga usah bu, ga usah repot-repot.”

“Ga usah malu-malu…”

“Apa aja deh bu kalau begitu.”

“Dasar. Susu mau?”

“Eh?”

“Susu coklat maksudnya…kamu kira susu apa?”

“Hehehe, maaf bu. Kalau boleh, yang seger-seger kaya punya ibu itu aja…”

“Punya saya?” tanya bu Pristy sambil menunduk ke arah payudara nya sendiri. Mampus, salah ngomong aku.

“Maksud saya yang seger-seger itu kaya minuman punya ibu itu, adu maaf…”

“Oh…es lemon…yang jelas dong…baiklah…”

Bu Pristy lalu memanggil salah satu pelayannya dan meminta dibuatkan satu lagi minuman yang sama dengan miliknya. Dan aku sekali lagi tidak bisa untuk tidak menatap belahan payudara dan paha yang mulus miliknya itu. Sialan. Nyiksa ini namanya. Bisa melihat tapi tidak bisa meraba. Eh. Sadar Adi, itu bos mu sendiri ya. Jangan kurang ajar. Rejeki mu perantaranya dia.

“Jadi kenapa bu saya dipanggil kemari?”

“Menurut kamu?”

“Sebentar, saya ramal ibu memanggil saya kemari karena…”

“Hahaha, korban film kamu.”

“Hahaha.”

“Jadi?”

“Ehm…sepertinya tidak jauh-jauh dari mba Gadis ya, saya harus melakukan tugas apa lagi untuk dia?”

“Payah ah, ramalan kamu salah.”

“Salah?”

“Permisi,” suara pelayan yang baru saja tiba dan membawakan segelas es lemon untuk ku.

“Makasih bi,” balas bu Pristy dengan lembut.

“Sama-sama nyah…”

“Ayo di minum dulu Di, kamu pasti haus kan abis nganter Gadis, terus ke resto, lalu ke sini.”

“Ibu tau dari mana saya nganter mba Gadis dulu?”

“Hahaha, kan kemarin aku udah bilang, aku ini magister psikologi, aku udah tau karakter dan sifat kamu dari pertama ketemu, maksud ku waktu kamu wawancara dulu itu.”

“Terus hubungannya dengan mba Gadis?”

“Di saat situasi seperti ini, aku yakin kamu tidak akan tega membiarkan Gadis berangkat sekolah sendiri.”

“Eh, ehm…”

“Jadi gimana? Kamu masih kuat ga nampung ponakan ku itu? Hahaha,” tanya bu Pristy sambil tertawa. Posisi tidurnya sekarang miring ke arah kanan, atau dengan kata lain ke arah ku. Posisi itu membuat jubahnya yang di bagian dada sebelah kanan tersingkap semakin lebar, yang semakin menampakkan keindahan dan kemolekan buah payudara nya yang masih sangat kencang itu. Tangan kanannya menyangga kepalannya sendiri. Sedangkan kaki kirinya sedikit di tekuk ke depan sehingga membuat paha putih dan mulus itu sekarang juga terpampang dengan jelas di depan ku. Namun yang paling membuat ku tidak fokus adalah lekukan di pinggulnya yang sangat menggiurkan. Dari posisi ini aku bisa melihat betapa indahnya makhluk ciptaan tuhan bernama Pristy ini. Damn!! Aku benar-benar tidak akan bisa fokus pada perbincangan ini kalau suguhannya paha sama dada mulus miliknya itu.

“Eh, anu, kuat ga kuat sih.”

“Hahaha, memangnya apa yang sudah di perbuat semalaman ini?”

“Banyak. Salah satu nya hampir perang sama adik saya.”

“Adik kamu? Kok bisa?”

“Iya, kaya Tom and Jerry…”

“Sama-sama cewek ya?”

“Iya.”

“Pantes, hahaha.”

“Cewek selalu begitu ya?”

“Hahaha, enggak juga sih. Mereka hanya telat aja dewasanya nya, iri-irian, ga mau ngalah. Iya kan?”

“Iya siiih.”

“Karena memang nalurinya sudah begitu.”

“Bu, jujur ya, tanpa mengurangi rasa hormat saya ke ibu, maaf baget, kira-kira kapan mba Gadis mau di jemput? Saya bukan tidak mau mengurusinya, keluarga kami juga bukannya tidak mau menanggung. Dan kami bukannya tidak tau berterima kasih, tapi…” ucapan ku berhenti karena bingung dengan kalimat apa yang pas untuk mengutarakannya.

“Aku paham. Paham banget dengan apa yang mau kamu sampaiin. Tapi sebenarnya aku justru ingin minta tolong pada mu dan pengen tau seberapa kuat Gadis pergi meninggalkan rumah ini,” balas bu Pristy sambil membenarkan posisi jubah yang ada di bagian dadanya. Maksudnya mungkin ingin menutupi payudaranya yang sebelah kanan namun percuma karena jubah itu kemudian tersingkap lagi. Mungkin beliau sadar aku sesekali melirik ke arah payudara milik nya. Namun usahanya itu justru malah membuat ku semakin fokus pada daging kenyal milik nya itu. Mungkin setelah sadar usahanya itu sia-sia, akhirnya bu Pristy cuek saja terhadap posisinya. Dan akhirnya membiarkan ku menikmati pemandangan dari bagian tubuhnya yang indah itu.

“Masalahnya…” lagi-lagi kalimat ku terhenti karena aku semakin bingung dan semakin tidak fokus dengan pemandangan indah di depan ku yang seolah-olah sengaja di pamerkan kepada ku ini.

“Aku ijin kan kalau kamu mau keras sama dia, asal bukan kekerasan fisik ya…”

“Iya saya paham…tapi…”

“Kamu banyak tapi nya ya. Aku bisa menghargai setiap usaha dan keringat mu. Bukan berarti aku menilai segala sesuatu dengan uang ya, tapi aku percaya bahwa tidak ada yang gratis di dunia ini.”

“Demi Allah bu, kalau hanya sekedar memberi nya tumpangan untuk tidur, atau memberi nya makan sehari-hari, saya masih sanggup dan tidak mengharapkan imbalan apa-apa. Masalahnya ya itu tadi, kadang saya masih sungkan dan bingung harus bagaimana bersikap ke mba Gadis nya.”

“Kalau aku maksa kasih imbalan, gimana?” tanya bu Pristy lagi dengan suara yang sangat lembut dan sedikit bergetar sambil tangan kiri nya memainkan rambut nya sendiri yang tergerai indah. Rambut itu menutupi sebagian payudaranya yang kiri, akibatnya pandagan ku mau tidak mau ikut fokus ke bukit kembar miliknya yang satu lagi.

“Mak-maksud ibu?”

“Hihihi, lupakan. Berarti deal ya, Gadis biarin aja di rumah kamu dulu ya. Kalau dia bikin kalian kesal, bikin kesal balik. Kalau dia rese sama kalian, resein balik. Masa ga bisa sih ngelawan anak kemarin sore kaya dia? Hehehe.”

“Huh. Ya sudah lah kalau begitu, apa kata ibu saja deh. Cuma sekali lagi saya bilang ke ibu, jangan salahin saya kalau saya berlaku keras ke dia.”

“Selama bukan kekerasan fisik.”

“Iya. Terus, saya dipanggil kemari ada apa?” tanya ku lagi setelah sadar dari tadi kami berdua malah membicarakan hal lain, bukan tentang perihal pemanggilan ku kemari.

“Oiya, aku sampai lupa. Gara-gara Dadis nih, hehehe.”

“Hehehe.”

“Kamu bisa nyetir mobil?”

“Bisa.”

Good! Hari ini aku ada meeting manajemen di puncak. Yang ikut semua karyawan yang levelnya manajer ke atas di korporasi yang menaungi restoran tempat kamu bekerja.”

“Terus?”

“Sopir ku tadi pagi mendadak ijin cuti, istrinya mau melahirkan, aku tidak bisa melarangnya dong.”

“Jadi maksud ibu, saya jadi…”

“Sopir dadakan.”

“Kalau boleh tau sampai jam berapa di puncaknya?”

“Jam?”

“Iya, jam berapa? Sampai malam kah?”

“Hahaha, kita di puncak tiga hari dua malam…”

“Buset, lama…eh maaf.”

“Kenapa? Kamu udah ga netek sama mama kamu lagi kan? Hihihi.”

“Bukan gitu, tapi nanti mama saya, adik saya, sama mba Gadis sendirian dong di rumah?”

“Lah, mereka bertiga kan?”

“Maksud saya ga ada cowok nya gitu yang jagain…”

“Oh itu, tenang aja, aku bisa suruh orang ku buat ngawasin rumah kamu, tentu nya tanpa sepengetahuan mereka.”

“Kenapa ga orang ibu itu aja yang jadi sopir dadakannya bu?”

“Banyak nanya ya kamu!” balas bu Pristy dengan tegas.

“Ma-maaf bu, maaf…”

“Udah pokoknya ga ada tawar menawar lagi. Aku mau kamu yang sopirin aku tiga hari ke depan.”

“Iya bu, iya.”

“Ya udah aku mau siap-siap dulu. Dari sini nanti kita langsung ke puncak.”

“Iya bu, eh tapi…”

“Apa lagi?” tanya bu Pristy dengan gemas.

“Baju ganti saya?”

“Gampang, nanti kita beli di jalan.”

“I-iya bu.”

Bu Pristy lalu bangkit dan meninggalkan ku. Saat bangkit dari rebahan itu tadi aku sempat mengintip, lebih tepatnya tidak sengaja terlihat oleh ku, celana dalam atau celana renang, sama saja pikir ku, yang menutupi organ paling sensitif nya itu. Terlihat sangat…tembem. Haduuuh. Tiga hari ke depan aku akan selalu bersamannya dan kemungkinan akan sering di suguhi pemandangan seperti ini. Ya Tuhan, kuat kan iman saya.

*~*~*~*

“Kamu serius bisa bawa mobil kan?” tanya bu Pristy kepada ku sesaat setelah beliau masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi penumpang sebelah kiri ku. Iya, beliau duduk di depan, bukan di belakang.

“I-iya bisa lah bu, ngapain juga bohong, nyawa taruhannya.”

“Kok tegang gitu muka nya?” tanya nya lagi.

Gimana ga tegang pikir ku. Lha pahanya aja kebuka-buka gitu. Bu Pristy memang menggunakan rok, tapi sebenarnya rok nya itu tidak terlalu pendek. Saat beliau jalan dari dalam rumah menuju mobil ini tadi aku bisa melihat rok nya itu masih sepanjang area lututnya. Tapi saat duduk ini rok nya seperti tertarik ke atas hingga hampir ke pangkal pahanya. Dan beliau tidak berusaha untuk menarik kain penutup bagian tubuh bawahnya itu kebawah. Jangan salahin saya bu kalau paha ibu saya lihatin terus seperti ini pikir ku.

“Hehehe, baru kali ini bu saya bawa mobil semewah dan semulus ini,” balas ku berbohong sambil memegang kemudi mobil sedan mewah keluar negera Jerman ini. Sepertinya mobil ini adalah mobil yang digunakan mba Gadis saat aku melihatnya pertama kali di restoran sebulan yang lalu itu.

“Oh, kirain. Santai aja. Sama aja kok, setirnya sama-sama bulat, roda nya juga sama-sama bulat. Yang penting fokus aja ke jalan, jangan ke yang lain.”

“Hahaha, ibu bisa aja,” balas ku sambil nyengir merasa tersindir karena aku sesekali memperhatikan paha mulus miliknya.

“Oh iya, kamu sudah bilang ke mama kamu bakalan keluar kota tiga hari kan?”

“Sudah bu.”

“Terus, mama kamu bilang apa?”

“Ga bilang apa-apa sih, cuma bilang hati-hati aja sama ga usah mikirin rumah. Kerja yang bener. Gitu doang.”

“Hehehe, bagus lah. Ya udah yuk kita jalan.”

“Siaaap.”

Aku pun mulai menjalankan mobil ini. Tapi sebelumnya aku sempat melirik lagi ke arah paha itu. Paha itu benar-benar jadi seperti magnet bagi mata ku. Bu Pristy duduk dengan sangat anggunnya di samping ku. Posisi kaki nya rapat, seolah menahan agar rok itu tidak semakin tersingkap ke atas. Tapi juga tidak berusaha menurunkannya. Tapi sayangnya, dengan posisi seperti ini justru semakin membuat ku penasaran dengan isi di balik rok itu. Gila gila gila.

*~*~*~*

Seperti yang sudah di janjikan sebelumnya, untuk pakaian bu Pristy yang akan menanggungnya. Dan dari rumah kediamannya tadi, kami berdua langsung menuju pusat perbelanjaan terlebih dahulu. Bu Pristy membelikan ku beberapa stel baju formal mau pun baju santai. Beliau sendiri yang memilihnya. Termasuk juga memilih pakaian dalam untuk ku. Buset. Kalau seperti ini aku merasa sudah jadi semacam piaraannya pikir ku.

Setelah selesai mencari pakaian untuk ku, kami berdua langsung melanjutkan perjalanan menuju puncak. Puncak asmara? Puncak kenikmatan? Hahaha, bukan. Puncak bogor. Tapi karena waktu sudah siang beliau mengajak ku makan terlebih dahulu nanti sebelum tiba di hotel. Ya aku sih ikutin saja apa kata bos.

Benar-benar tiba di hotel itu sekitar pukul dua siang. Kami berdua langsung check in. Ternyata aku di pesankan satu kamar sendiri olehnya. “Ya iyalah. Kamu pikir bu Pristy mau tidur sekamar sama elu?” Malaikat di sisi kanan ku berteriak. “Ya siapa tau rejeki kan, emang kenapa?” Setan di sisi kiri ku menjawab. Aku hanya bisa nyengir mendengar perdebatan di antara keduanya.

Setelah selesai check in aku dan bu Pristy masuk ke kamar masing-masing. Informasi dari beliau, untuk malam ini acaranya hanya makan malam saja. Tentu nya aku tidak ikut karena dinner ini khusus bagi para manajemen dan direksi. Jadi ini adalah free time untuk ku, kecuali bu Pristy membutuhkan ku untuk melakukan sesuatu. Untungnya bu Pristy baik banget dengan memberikan ku uang makan dan uang rokok. Kalau tidak mah semakin tekor saja aku. Nasi goreng seafood yang di makan mba Gadis kemarin saja belum sempat minta ganti, ini sudah harus biaya sendiri lagi. Bangkrut yang ada.

Tiba di kamar, setelah cuci kaki, aku langsung merebahkan badan ku di tempat tidur yang empuk dan nyaman ini. Iseng aku membuka hp ku dan aku mendapati beberapa pesan wasap masuk. Dari mama, Rahma, dan Gadis? Hah? Mba Gadis wasap aku? ada apaan ya? Aku pun langsung membukanya.

From Mba Gadis said:
Di, entar elu jemput gue kan?
Yaaah…dia minta jemput. Maaf ya, saya lagi jalan-jalan sama tante mu yang cantik dan seksi itu. Hehehe. Aku tertawa dalam hati.

To Mba Gadis said:
Gak bisa mba, saya lagi dines keluar kota.
From Mba Gadis said:
Serius lu? Sama nenek lampir?
To Mba Gadis said:
From Mba Gadis said:
Ati-ati lo…
To Mba Gadis said:
Tenang, saya ga macem-macem kok sama bu Pristy, hehehe
From Mba Gadis said:
Emang gue peduli apa sama si monster itu? Maksud gue, lo yang ati-ati sama tante girang itu.
Buset, dia menyebut tantenya sendiri tante girang.

To Mba Gadis said:
Eh, maksudnya?
From Mba Gadis said:
Pikir aja sendiri!!
To Mba Gadis said:
Iya-iya. Oiya mba semalem saya masukin uang seratus ribu ke tas mba ya, siapa tau butuh. Nanti naik ojek online aja ke restorannya.
From Mba Gadis said:
Iya makasih.
To Mba Gadis said:
Terus kalau butuh apa-apa lagi bilang sama tante Fatma aja.
From Mba Gadis said:
Iyeee, bawel lu. Ya udah ah. Bye!!
Aku tersenyum dengan percakapan ku sendiri dan mba Gadis lewat wasap barusan. Anaknya lucu sebenarnya, sayang sifatnya minus. Aku lalu membuka pesan selanjutnya. Dari mama.

From My Mom said:
Lagi apa kak? Udah sampai lokasi?
To My Mom said:
Udah mah, sekarang sih kakak ga lagi ngapa-ngapain. Namanya juga sopir. Hehehe. Mama lagi apa? Rumah aman? Hehehe :D
Tidak ada balasan dari mama. Mama memang jarang pegang HP. Pegang HP juga kalau ada perlu saja. Ya begitulah orang tua. Tidak seperti kita-kita yang tidak bisa lepas dari HP. Aku lalu membuka pesan terakhir, dari Rahma.

From My Rahma said:
Kaaaaak…..kata mama kakak bakalan ga pulang sampai lusa ya? hiks… ☹
To My Rahma said:
Hehehe, iya. Kenapa?
Tidak sampai semenit langsung ada balasan dari Rahma.

From My Rahma said:
Kok dadakan?
To My Rahma said:
Gak tau, bos nya kakak yang nyuruh…
From My Rahma said:
Hiks…Rahma takut...
To My Rahma said:
From My Rahma said:
Sama si ITU lah…
To My Rahma said:
Oh, hahaha. Ga usah takut. Sebenarnya dia orangnya baik kok.
From My Rahma said:
Tetep aja. Baik-baik tapi nyari gara-gara mulu.
To My Rahma said:
Bukannya kamu ya yang pertama kali nyari gara-gara? Eh, bukannya kamu masih marah sama kakak? Kok wasap sih? hahahah
From My Rahma said:
Bodo. Kakak nyebelin!!! Huh!! Ya udah deh. Kakak pulang cepet yaah. Rahma kangen ☹
To My Rahma said:
Hahaha, iya sayang…tunggu kakak ya. kakak sayang Rahma :*
From My Rahma said:
Sayang kakak juga :*
Kasian si Rahma, di saat galau seperti ini malah harus aku tinggal. Tapi biarlah, biar dia mandiri. Ga semua hal harus di lakukan dengan ku. Dia juga harus mulai mandiri. Ini juga baik untuknya. Untuk mba Gadis juga, mudah-mudahan. Dan baik untuk mama juga, suasana yang baru di rumah. Semakin ramai. Ramai pertengkaran antara Gadis dan Rahma. Hehehe. Tidak ada salahnya. Sekarang tidur dulu sebentar bisa kali ya. Mumpung bu Pristy ngasih free time.

“Hoaaahm…”
 

Balanewpati

Guru Semprot
Thread Starter
Daftar
19 May 2018
Post
503
Like diterima
16.025
  • Thread Starter Thread Starter
  • #17
Nama Kamu Siapa?

===========================

“Nama kamu Adi kan?”

“Iya, nama aku Adi…nama kamu siapa?”

“Hayo tebak, nama aku siapa?”

“Kamu siapa?”

Masa kamu tidak tau sih? Kamu lupa ya?”

“Eh…Ehmm…kamu itu…”

“Iya nama aku siapa?” tanya nya lagi sambil tersenyum dan memperlihatkan dua pasang gigi caling yang mungil dan putih itu. Aku masih terus mengingat siapa nama anak kecil ini tapi sia-sia. Aku tidak bisa mengingatnya.

“Ma-maaf, aku tidak ingat.”

“Aaah, kamu jahat. Masa lupa sama nama aku siii? Huuh!! Adi jahat. Ya udah ah. Aku marah sama Adi. Adi jelek!” Ucap gadis kecil itu lagi lalu meninggalkan ku begitu saja.

“Eh tunggu, kamu mau kemana? Kamu belum memberi tahu nama kamu…tunggu…jangan tinggalin aku sendiri di sini. Aku ada di mana ini?” teriak ku kepada nya. Namun sia-sia. Teriakan ku tidak di hiraukannya. Anak kecil itu terus menjauh dan meninggalkan ku. Dan lama-kelamaan tubuhnya menghilang, ditelan silaunya cahaya putih yang sangat terang.

===========================

“Astagfirullahaladzim…”

Aku terbangun dengan suara dering HP ku yang terus berbunyi dengan nyaringnya. Jam berapa ini pikir ku. Aku terkejut ketika mengambil HP ku dan nama yang mucul di layar adalah nama bu Pristy. Waduh. Mana udah jam delapan lewat lagi. Jangan-jangan bu Pristy butuh sesuatu lagi. Haduh, bagaimana ini? Kok aku bisa ketiduran selama ini ya?

“Ya halo, ada apa bu? ada yang bisa di bantu?” tanya ku dengan sopan. Dan aku mendengar balasan setengahmenjerit dari seberang sana.

“Eh, oh iya maaf bu, saya ketiduran tadi, saya ada di kamar bu. Maaf…”

“Iya bu sebentar.”

Aku lalu bergegas bangkit dan berjalan menuju pintu. Bu Pristy ternyata menunggu ku di depan pintu kamar ku. Begitu aku buka pintu kamar, bu Pristy dengan muka gemas nya melotot ke arah ku. Ya meskipun itu tidak mengurangi aura kecantikannya, tetap saja tidak ada yang lebih menyeramkan dari pada seorang wanita seusianya saat sedang marah. Saat ini beliau mengenakan gaun terusan dengan model bahu terbuka berwarna merah menyala yang panjangnya selutut. Sepasang kaki nya beralaskan sepasang sepatu high heels yang juga berwarna merah. Bibirnya yang sensual itu juga berlapiskan lipstick warna merah, senada dengan gaun dan heels yang di kenakannya. Rambutnya disanggul dengan indahnya. Cantik. Luar biasa cantiknya. Aku sampai harus mengerjap-ngerjapkan mata ku berkali-kali untuk memastikan bahwa yang aku lihat ini adalah benar-benar bu Pristy, bukan bidadari yang baru saja turun dari langit.

“Kamu orang apa kebo sih? Susah banget dibanguninnya!”

“Iya bu maaf, aduh, beneran ga kedengeran tadi.”

“Pegel tau berdiri lima belas menit di sini nelponin kamu ga bangun-bangun…” protes bu Pristy dengan jengkel namun suaranya terdengar agak manja.

“Iya bu sekali lagi saya minta maaf…”

“Kamu pasti belum mandi kan?” tanya bu Pristy lagi dengan jutek.

“Iya ibu tau aja, hehehe, jadi malu.”

“Iihhh bau!!”

“Wangi kok bu, nih cium aja kalau mau, hehehe,” balas ku sambil dengan gerakan reflek mengendus aroma badan ku sendiri. Memang masih wangi kok. Tidak bohong kalau ini.

“Enak aja. Ya udah, kamu mandi dulu sana. Nanti setengah sembilan pas kamu ke kamar ku.”

“Eh, ngapain bu?”

“Ga usah banyak tanya. Lakuin aja!”

“Iya bu, iya,” balas ku dengan pasrah.

Bu Pristy lalu meninggalkan ku menuju kamarnya yang berada persis di sebelah kiri kamar ku. Deru langkah kaki yang ditimbulkan dari sepatu hak tinggi miliknya entah mengapa membuat ku semakin terpukau akan keanggunan dan kecantikannya, seorang wanita yang mungkin umurnya hanya beberapa tahun lebih mudah dari mama. Cantik yang benar-benar cantik. Cantik yang dewasa. Cantik yang sempurna. Aku ini kenapa ya? Apa aku ini mengidap kelainan? Tertarik pada lawan jenis yang umur nya jauh lebih tua? Tapi meskipun tua, bu Pristy nampak masih muda. Jadi tidak salah sih bila aku masih mengaguminya. Atau aku ini yang kecepetan tua nya? Bodo lah. Yang pasti sekarang aku harus segera mandi dan setelah itu pergi ke kamar nya. Siapa tau di kasih yang enak-enak nanti. Makanan enak maksudnya, hehehe.

*~*~*~*

Ku ketuk pintu kamar bu Pristy dengan hati-hati. Perasaan ku campur aduk. Antara seneng bakalan ketemu beliau lagi yang cantik jelita itu, serta deg-deg an juga karena teringat pesan dari mba Gadis tadi siang yang meminta ku untuk hati-hati dengannya. Aku pikir itu hanya sebuah candaan dari nya, namun terkadang aku juga merasa seperti seroang perjaka muda yang masih sangat polos, dan entah bagaimana cara nya tiba-tiba aku sudah masuk ke dalam perangkap tante-tante ini. Tapi kalau tante-tante nya seperti bu Pristy sih aku malah mau menyerahkan diri sih. Hahaha. Dan sangkar itu pun terbuka, menampakkan sesosok wanita dewasa yang cantik jelita.

“Oke, on time juga kamu orangnya,” komentar bu Pristy begitu membuka pintu kamarnya sambil melihat ke arah jam tangan kecil di pergelangan tangan kiri nya.

“Takut di omelin lagi sama ibu,” balas ku sekenanya.

“Kapan aku pernah ngomelin kamu?”

“Tadi, waktu saya susah dibangunin.”

“Hahaha, kamu lucu banget siii…” ucap bu Pristy tiba-tiba sambil menarik kedua pipi ku dengan jari jemari nya yang halus. Ini adalah pertama kali nya aku dan bu Pristy melakukan kontak fisik langsung selain berjabat tangan. Dan beliau mencubit pipi ku dengan gemas. Wajah ku langsung terasa hangat. Aliran darah seperti langsung bergerak ke muka ku semua. Dan aku langsung merinding. Sialan. Bagaimana kalau bagian tubuh ku yang lain yang dia cubit ya? Tidak kebayang bagaimana rasanya.

“Aaww…aawww sakit buuu,” protes ku.

“Hihihi, ya udah yuk jalan.”

“Eh kemana?”

“Kamu belum makan kan? Ayok aku temenin makan. Tapi tidak di hotel ini, di luar aja, aku lagi pengen nyari udara segar.”

“Lah bukannya ibu malam ini jadwalnya dinner sama bos-bos ya? kok malah mau nyari makan di luar? Trus ini kok ibu udah ganti baju sih?” tanya ku yang baru sadar kalau bu Pristy sudah berganti baju dengan pakaian yang lebih santai. Jeans ketat berwarna biru tua, tanktop abu-abu muda yang kemudian dibalut dengan cardigan berwarna abu-abu tua membalut tubuh sintal nya. Rambutnya tidak lagi di sanggul melainkan hanya diikat kebelakang layaknya anak muda umur dua puluhan awal. Dan makeup nya itu, sudah dihapus semua. Bu Pristy sudah tidak memakai makeup sama sekali. Tapi walapun begitu wajahnya masih tetap cantik dan segar. Dandanannya kali ini yang bergaya anak muda itu membuatnya terlihat sekitar lima belas tahun lebih muda. Aduh, rontok hati abang bu, eh hati abang neng. Hadeh. Kacau.

“Nanti saja aku ceritain, ayok kita jalan. Aku ga mau terjebak di sini,” ajaknya lagi. Mau tidak mau aku hanya bisa menuruti apa kata nya dan mengekor kemana dia berjalan. Kami langsung berjalan menuju parkiran tanpa bercakap. Bahkan sedikit tergesa-gesa seperti menghindar dari kejaran seseorang. Ada apa lagi ini? Pakai bilang terjebak segala. Terjebak dari apa? Gak keponakannya, gak tantenya, sama-sama aneh nya.

*~*~*~*

“Hahaha, jadi ceritanya bu Pristy ini lagi kabur-kaburan dari bapaknya?” ledek ku setelah mendengar ceritanya yang katanya suntuk banget di acara gala dinner di hotel tadi. Itu tidak lain dan tidak bukan karena keberadaan bapak nya sendiri di acara dinner tersebut, pak Jayadi Wiradana, pemegang saham terbesar dari korporasi yang menaungi restoran tempat ku bekerja. Dan yang juga tak lain dan tak bukan adalah kakek dari mba Gadis.

“Terus aja ketawa,” protes bu Pristy sambil menepuk pelan bahu kiri ku. Kami sekarang sedang duduk berdua di sebuah warung makan pinggir jalan, di jalanan puncak. Duduk bersebelahan dan baru saja menghabiskan makanan masing-masing, dengan di suguhi pemandangan indah berupa gemerlap lampu-lampu rumah penduduk yang bertebaran di kejauhan. Udara malam yang dingin membuat suasana semakin nyaman apalagi ditemani wanita secantik bos ku ini.

“Eh, hehehe, ma-maaf bu, hehehe.”

“Bete tau nggak…” keluh nya lagi dengan suara manja. Aku tidak tau kenapa, tapi aku merasa ngilu mendengar suara nya yang sekarang, yang tiba-tiba berubah jadi manja dan menggemaskan. Bagaimana kalau aku mendengar desahannya ya? hahaha, bisa-bisa aku langsung orgasme dibuatnya.

“Emang kenapa sih bu?”

“Ga apa-apa…”

“Yakiiin? Kalau mau cerita, atau ada yang mau di ungkapin, saya siap ngedengerin kok.”

“Masa? Yakin kamu mau dengerin curhatan wanita usia tiga puluhan akhir?”

“Per jam seratus ribu yah? Hehehe,” canda ku. Aku menyelonjorkan kaki ku ke bawah meja pendek di depan ku. Begitupun juga dengan bu Pristy.

“Dasar matre!” protes nya lagi sambil mendorong bahu ku ke arah samping, dan aku pura-pura terdorong.

“Becanda bu…hahaha, saya sering dengerin curhatan mama saya, beliau umurnya empat puluhan awal.”

“Iya aku tau kamu cuma bercanda…”

Sejenak kemudian hening di antara kami. Pandangan kami sama-sama lurus ke depan. Hanya ada suara jangkrik, mobil dan motor yang lewat yang juga sudah mulai jarang, dan beberapa orang pemilik warung yang masih terjaga menjaga warungnya. Entah obrolan apa yang mereka bicarakan. Hanya samar-samar aku bisa mendengarnya. Aku lalu meminum jahe susu hangat milik ku yang ada di atas meja. Langsung terasa hangat badan ini.

“Di…”

“Ya bu?”

“Pandangan mu terhadap seorang janda bagaimana?”

“Hah? Maksud ibu?”

“Jawab aja sih.”

“Tidak ada pandangan apa-apa bu, sama saja terhadap orang lainnya. Mama saya seorang janda, saya menghormatinya, begitu juga dengan semua janda yang ada di dunia ini. Mereka wanita, saya menghormati wanita lebih dari apa pun.”

“Maksud ku janda yang karena perceraian…”

“Eh tunggu sebentar, ibu nanya seperti itu…” tanya ku sambil menoleh kepadanya. Bu Pristy masih menatap lurus ke depan sebelum akhirnya juga menatap ku balik, lalu tersenyum seolah mengiyakan apa yang ada di pikiran ku. Jadi wanita cantik di samping ku yang tak lain adalah bos ku sendiri ini adalah seorang janda. Hahaha. Aku kurang update banget ternyata selama ini. Sudah sebulan lebih kerja dan baru tahun status dari bos nya sendiri.

“Kok ga kelihatan ya?” tanya ku tiba-tiba.

“Apanya?”

“Ya ibu, ga kelihatan seperti seorang janda, eh maaf…”

“Eemang ada bedanya ya penampilan janda sama bukan?’

“Enggak, maksud saya ****** aja gitu mantan suami ibu.”

“******?”

“Iya, masa wanita secantik ibu di cerai, hehehe.”

“Udah berani nge gombal ya kamu?” protes bu Pristy sambil mencubit pelan lengan ku.

“Hahaha, saya selalu apa ada nya bu kalau memuji orang.”

“Makasih, jadi terharu lho ya aku. Jadi, pertanyaan ku tadi gimana? Kamu pasti ilfeel ya sama aku?”

“Ya tetep sama bu, mau janda ditinggal mati, mau janda karena cerai, apapun itu, mereka tetap wanita yang harus saya hormati. Lagi pula ilfeel kenapa? Saya ilfeel kalau tau sifat jeleknya, bukan karena tau status nya janda atau bukan.”

“Kok aku ngerasa ngobrol sama kamu itu sama kaya ngobrol dengan orang yang sepantaran dengan aku ya? Bahkan lebih, aku ngerasa kamu lebih tua dari aku. Umur kamu berapa sih sekarang?”

“Sembilan belas bu.”

“Baru sembilan belas ya? Bahkan umur kamu itu baru setengah umur ku. Hahaha.”

“Tapi wajah ibu masih nampak lima belas tahun lebih muda kok, makanya kita nampak sepantaran, hehehe,” canda ku sambil melirik nya dan mengedip-ngedipkan mata ku menggoda nya. Suasana yang mulai akrab membuat ku semakin berani untuk bercanda kepada nya.

“Tuh kan, mulai berani godain bos nya. Lagian kenapa lari nya ke muka sih, kan aku tadi bilangnya obrolan, mindset, pola pikir, bukan fisik.”

“Karena muka ibu masih terlihat muda, makanya kita bisa nyambung.”

“Bukan karena muka kamu nya yang boros ya? Hahaha,” ledek bu Pristy.

“Hahaha, bisa jadi juga sih, hahaha,” balas ku pura-pura pasrah.

“Di,” panggil bu Pristy lagi. Pandangannya kembali lurus ke depan, namun sadar tidak sadar duduknya semakin merapat ke arah ku. Lengan kanan nya menempel erat pada lengan kiri ku. Sepertinya beliau mulai merasakan hawa dingin malam ini yang mulai terasa menembus baju yang kami kenakan.

“Ibu kedinginan ya? mau balik ke hotel sekarang?” tanya ku menawarkan yang kemudian langsung di balasnya dengan gelengan kepala. Okeh, masih betah di sini dia.

“Di,” panggilnya lagi.

“Iya bu…”

“Kita sudah sama-sama dewasa kan?” tanya nya. Pertanyaan yang aneh. Aku harus pintar-pintar menjawab nya pikir ku.

“Ehm, tergantung yang menilai sih bu. Kalau saya sih menganggap ibu sudah dewasa, dewasa banget malah. Kalau ibu menganggap saya sudah dewasa juga, ya berarti kita sudah sama-sama dewasa.”

“Ah kamu itu, kalau ditanya jawabannya pasti berbelit-belit.”

“Hehehe.”

“Di, kamu beneran lagi ga ada hubungan khusus sama cewek lain kan?”

“Maksud ibu pacar?”

“Iya.”

“Ya benar, sama seperti yang pernah saya sampaikan waktu wawancara dulu itu.”

“Hahaha, kamu masih ingat ya?”

“Pastinya. Kenapa sih bu?” tanya ku karena penasaran dengan obrolannya yang aku bingung mau di bawa kemana.

“Peluk aku Di…” pintanya tiba-tiba.

“Hah?”

“Peluk aku!!” pinta nya lagi dengan intonasi lebih tegas, tapi aku masih tidak bergeming. Rasa sungkan dan segan ku masih bisa menjaga akal sehat ku agar tidak memeluknya, meski itu permintaannya sendiri.

“Ta-tapi bu…” balas ku masih tidak percaya.

“Ga ada yang kita sakiti hati nya kan kalau aku meminta mu memeluk ku seperti ini?” tanya bu Pristy sambil jari jemari lentik nya menggenggam dan menarik pergelangan tangan kiri ku dan melingkarkannya ke pundaknya. Tubuh bu Pristy langsung menyandar ke tubuh ku dari samping. Kaki nya yang tadi selonjor ke depan sekarang di lipatnya ke samping kiri.

“Eh, enghh…ga ada sih bu…tapi maaf saya…” aku berusaha menarik kembali lengan kiri ku karena merasa sangat tidak enak. Bagaimanapun juga wanita disamping ku ini adalah bos ku, seorang wanita yang umurnya lebih tua dari ku yang harus ku hormati kapan pun dan di manapun. Meskipun ini kemauannya sendiri, tapi aku tidak mau di sangka kurang ajar kepada nya. Tapi beliau malah menahan pergelangan tangan ku dengan kuat. Bahkan beliau mulai menyandarkan kepalanya tepat di dada ku yang sebelah kiri.

“Jangan panggil aku bu malam ini, panggil aku Pristy aja,” pintanya.

“Eh tapi bu…”

“Di…hiks…”

“Maaf bu, eh Pri-pris…ty…ke-kenapa nangis?” tanya ku dengan panik dan gugup.

“Gapapa, cuma pengen nangis aja, hiks.”

“Bohong,” balas ku tidak percaya.

“Kadang wanita ga perlu alasan spesifik untuk menangis, tapi yang pasti mereka butuh sandaran seperti ini,” balas bu Pristy dengan semakin merapatkan sandarannya pada tubuh ku.

“Pasti ada hubungannya sama bapak ya?” tanya ku lagi yang kemudian dijawabnya dengan anggukan pelan. Bu Pristy masih nangis sesenggukan, pelan namun air matanya mengalir deras. Sebagian sudah mulai membasahi kaos yang aku kenakan. Tubuhnya semakin merapat dan meringkuk di pelukan ku. Dasara wanita. Ditanya ada apa, bilangnya tidak ada apa-apa. Tapi ketika ditembak langsung, langsung ngangguk.

“Aku ga bermaksud cari tau atau ikut campur masalah mu ya, tapi kalau kamu mau cerita, aku siap mendengarnya. Tapi kalau kamu nya yang belum siap, ya ga apa-apa. Menangis aja terus kalau memang itu bisa membuat hati kamu jadi lebih tenang,” ucap ku berusaha menenangkannya sambil dengan hati-hati tangan kiri ku mengusap lengan kiri nya dan tangan kanan ku mengusap kepala nya dengan lembut. Beliau mengangguk pelan dan semakin merapatkan tubuhnya ke dalam dekapan ku. Tangisnya masih berlanjut meskipun pelan.

Dalam hati aku mulai bertanya-tanya, sebenarnya masalah apa yang dialami bu Pristy hingga dia menghindar dari bapaknya sendiri dan bahkan sampai menangis seperti ini? Apa ada hungannya dengan statusnya sekarang yang seorang janda? Apa pak Jayadi menginginkannya untuk menikah lagi? Apa dia mau di jodohkan? Atau apa?

Tapi bagaimanapun juga bu Pristy itu adalah seorang wanita, dan aku sangat memahaminya. Terkadang, sekuat apapun seorang wanita, dan sehebat apapun mereka, mereka masih tetap butuh bahu untuk bersandar, mereka masih tetap butuh tangan seorang laki-laki untuk memeluk nya, dan mereka masih tetap butuh telinga yang mau mendengar untuk segala keluh kesahnya.

“Bu, eh Pris, balik ke hotel aja yuk, udara nya udah mulai dingin nih,” ajak ku yang masih dalam posisi mendekap erat tubuh sintal nya. Bu Pristy akhir nya mengangguk. Sebenarnya aku hanya ingin secepat mungkin mengakhiri momen melankolis ini, dan aku juga takut tidak bisa mengendalikan diri ku. Jujur pelukan ku kepadanya ini tulus, tulus ingin memberikan ketenangan untuknya. Tapi tetap saja aku ini hanya manusia biasa, laki-laki muda yang sedang beranjak dewasa, yang gelora syahwatnya sedang berapi-apinya. Ditambah lagi dengan aroma tubuhnya yang semerbak wangi menambah gairah yang ditimbulkan, menggoda keteguhan hati ku. Apa lagi dalam posisi seperti ini aku bisa melihat belahan dada nya yang menyembul keluar karena pakaian yang dikenakannya.

*~*~*~*

Saat di perjalanan pulang entah mengapa aku malah kembali teringat dengan mimpi ku sewaktu aku tidur tadi. Lagi-lagi mimpi itu. Dan anak kecil itu kembali muncul. Siapa dia? Aku jadi semakin yakin kalau dia adalah seseorang dari masa kecil ku. Tapi siapa? Seorang gadis kecil dengan sepasang caling di gigi nya. Aku pasti punya kenangan bersama nya. Tapi sayang nya aku tidak ingat sama sekali.

Kami berdua tiba di hotel pukul sebelas malam. Suasana sudah sangat sepi. Sebagian besar pengunjung sudah masuk ke kamar masing-masing. Hanya tinggal satu dua saja yang masih betah duduk-duduk di restoran dan kafe yang menjadi salah satu fasilitas di hotel ini. Begitu juga dengan pelayan hotel yang sepertinya untuk shift malam juga tidak terlalu banyak jumlahnya.

Aku dan bu Pristy langsung menuju kamar. Aku antar bu Pristy hinga di depan pintu kamar nya. Wajahnya nampak lesu semenjak balik dari tempat makan kami tadi. Tentu saja, di kepalanya pasti ada banyak hal yang sedang dia pikirkan. Dan sebenarnya dia pasti ingin menyampaikan segala unek-unek nya itu, tapi sepertinya aku bukan orang yang tepat untuk dijadikannya tempat berkeluh kesah. Akhir nya hanya bisa menangis seperti tadi. Padahal aku ingin sekali membantu, atau sekedar memberikan masukan, tapi sepertinya tidak untuk malam ini. Beliau masih belum siap untuk lebih terbuka kepada ku.

“Ibu ga kenapa-napa kan?” tanya ku karena kuatir dengan keadaannya. Aku takut pikirannya berpengaruh ke kesehatan fisik nya.

“Aku ga apa-apa. Makasih ya udah ditenangin tadi. Dianterin juga sampe kamar,” balasnya sambil dengan senyum yang sangat terlihat sekali dipaksakannya.

“Hahaha, lah kamar saya kan cuma di sebelah, bukan nganterin sih ini menurut saya. Lagi pula saya yang terima kasih udah di ajakin makan. Padahal tadi udah di kasih uang makan, hehehe.”

“Hahaha, kamu bisa aja.”

“Iya dong, anak buahnya siapa dulu…”

“Hehehe, ya udah kamu masuk kamar sana, lanjutin ngebo nya, hihihi,” ucapnya sambil tersenyum geli.

“Hehehe, iya bu, ibu juga istirahat ya, dan kalau ada apa-apa, kalau perlu apa-apa, panggil saya saja.”

“Iya nanti aku panggil kamu, tapi kalau dibangunin jangan susah, hehehe,” ledenya.

“Saya kalau di usap kepalanya gampang bangunnya bu…hehehe.”

“Maksud nyaaaa?”

“Hehehe, kali aja gitu…”

“Wooo…dasar mau nya.”

“Hehehe.”

“Ya udah, sekali lagi makasih lho…” ucap nya lagi.

“Iya bu, sama-sama,” balas ku. Bu Pristy lalu membuka kamar nya dan masuk ke dalam lalu mengunci pintu kamarnya kembali.

Setelah berpamitan aku langsung balik ke kamar ku. Rasanya pengen cepet-cepet rebahan di tempat tidur. Sekalian mumpung dapat fasilitas, kapan lagi bisa nginep di hotel semewah ini, gratisan lagi pikir ku. Ya meskipun sendirian. Aku jadi bisa menikmati ketenangan. Tetapi saat aku baru mau membuka kunci pintu kamar, tiba-tiba hp ku berbunyi. Aku langsung melihatnya dan ternyata dari bu Pristy. Aku langsung mengangkatnya.

“Belum juga masuk kamar bu, udah di telpon aja, kangen ya?” canda ku kepadanya. Tetapi balasan yang aku terima justru teriakan ketakutan dari nya. Suaranya terdengar sangat panik. Ada apa?

“Bu? kenapa bu? Bu-buka pintunya, saya kesitu lagi.”

Aku pun balik badan dan bergegas menuju ke kamar bu Pristy lagi. Aku langsung mengetuk pintu kamar bu Pristy dan berharap beliau segera membuka pintu kamarnya. Apa yang terjadi?
 

Balanewpati

Guru Semprot
Thread Starter
Daftar
19 May 2018
Post
503
Like diterima
16.025
  • Thread Starter Thread Starter
  • #18
Begitu Indah

Bu Pristy langsung menghambur ke arah ku dan memeluk ku dengan sangat erat. Begitu erat hingga aku bisa dengan jelas merasakan kekenyalan daging empuk di dadanya. Jika bukan dalam situasi darurat aku mungkin sudah tidak tahan lagi. Sayangnya ini bukan waktu yang pas untuk berfikir ke sana. Tangisnya kembali pecah. Posisi kami tepat berada di pintu kamar nya. Perlahan aku lalu mendorong tubuhnya agar sedikit masuk ke dalam dan menutup pintu agar apa yang sedang terjadi pada nya ini, yang aku belum tau apa penyebab nya ini, tidak menarik perhatian orang yang mungkin saja lewat di depan kamar kami. Aku lalu menyalakan lampu utama yang tadi belum dinyalakan.

“Bu, tenang bu, ini saya Adi. Ibu tenang dulu ya…” bujuk ku sambil mengusap punggungnya berharap bisa membuatnya sedikit lebih tenang. Bu Pristy masih menangis sesenggukan. Meskipun belum tau penyembabnya, tapi aku yakin tangisannya kali ini beerbeda dengan tangis nya yang tadi. Ini tangis ketakutan. Rasa takutlah yang membuatnya menangis kali ini.

“Ibu tenang ya, ada Adi di sini, sekarang ibu aman.”

Bu Pristy masih terus memeluk ku. Sikapnya kali ini tak ubahnya seperti anak kecil yang ketakutan akibat melihat sesuatu yang menakutkan. Badan nya gemetar, dan terkadang jari-jari tangannya mencengkram erat baju ku seolah tidak ingin lepas dari ku. Sedangkan aku sendiri juga masih terus mengusap punggungnya.

“Ibu kenapa?” tanya ku pelan.

“A-aku ta-tadi liat sesuatu di bal-balkon,” jabab nya dengan suara terbata-bata.

“Sesuatu?”

“I-iya, kaya orang, atau apalah ga jelas…”

“Orang? Mana? Ga ada…” balas ku yang secara reflek langsung mengalihkan pandangan ke arah luar.

“Tadi ada, aku lihat kok, hiks... Jelas banget Adiii. Kan tadi lampu kamar ini belum nyala sedangkan lampu balkon nyala, jadi bayangannya jelas banget. Ngapain juga aku bohong,” jelas nya lagi. Dan memang masuk akal. Tadi lampu kamar memang belum menyala, sedangkan lampu balkon sudah. Selain itu tirai kamar posisinya terbuka sebagian. Si ibu ini ceroboh sekali pikir ku tidak menutup rapa tirai kamar.

“Iya bu saya percaya, ya udah saya periksa dulu ya, ibu tunggu di sini yah.”

“Ga mau, aku takut, aku ikut aja…” ucapnya masih terus memeluk erat lengan kiri ku. Posisi kami sekrang sama-sama menghadap ke jendela. Dan sekarang dua bukit kembar miliknya yang kenyal itu gentian menempel erat di lengan ku. Rejeki, atau cobaan? Entahlah. Aku sebenarnya agak takut juga kalau ternyata memang benar ada penyusup atau apalah yang nekat meneror bu Pristy, tapi masa jujur sama bu Pristy? Nekat ajalah.

“Ya udah, ibu di belakang saya aja ya,” bujuk ku agar beliau lebih tenang.

Aku lalu berjalan pelan menuju jendela dan di ikuti oleh bu Pristy yang mengekor di belakang ku. Jujur, aku semakin penasaran. Kalau ternyata benar di balkon ada orang, dan amit-amit orang itu berniat jahat pada kami, aku harus bagaimana? Keahlian bela diri tidak punya.

Dengan perlahan aku membuka kunci kamar. Dan dengan perlahan pula aku menarik handle pintu itu agar tidak menimbulkan suara. Setelah terbuka aku menariknya dengan pelan juga. hampir tidak ada suara yang aku timbulkan. Setelah pintu terbuka, aku melihat ke depan dan kosong. Posisi ku tepat di dalam pintu balkon, bu Pristy masih di belakang ku. Sekarang waktunya keluar dan mengecek bagian balkon yang lain.

Aku sudah keluar dan melihat sekeliling. Bu Pristy tidak ikut dan menunggu di dekat pintu. Aku tidak melihat sesuatu yang mencurigakan. Aku lalu berbalik dan memberikan isyarat kepada bu Pristy bahwa semuanya aman dan terkendali. Aku menyuruhnya untuk keluar namun dia tidak mau. Tapi aku terus memintanya keluar dan meyakinkan bahwa semuanya baik-baik saja hingga akhirnya beliau mau ikut ke balkon meski dengan takut dan ragu-ragu.

“Ga ada apa-apa kan bu?”

“Tapi tadi beneran ada Di…” balasnya berusaha meyakinkan ku.

“Halusinasi ibu saja mungkin…” balas ku lagi.

Aku lalu berbalik dan berdiri membelakangi bu Pristy. Aku berdiri dengan kedua tangan ku bertumpu pada pagar besi yang mengelilingi seluruh sisi balkon. Aku memandang ke arah kejauhan, dimana di sana berdiri dengan kokoh dua gunung yang secara samar terlihat oleh ku, kalau tidak salah itu gunng Gede dan Pangrango.

Bu Pristy lalu berdiri tepat di samping ku. Entah di sengaja atau tidak, tangan kanan nya bertumpu di atas tangan kiri ku. Ingin ku menariknya tapi ga enak. Aku bisa merasakan lembut dan halus kulit tangannya itu, kulit tangan yang mampu memberikan kehangatan yang belum pernah aku rasakan sebelumnya. Sebuah kehangatan yang berbeda. Kehangatan dari seorang wanita.

“Aku ga mau tidur sendiri malam ini,” ucapnya tiba-tiba.

“Ibu ada kerabat perempuan yang ikut acara malam ini ga? Yang bisa di mintain tolong nemenin gitu?”

“Kalau sama-sama cewek mah ya sama aja bohong lah.”

“Lah, terus gimana?”

“Kamu yang temenin aku.”

“Tapi bu? bukannya ga mau, tapi saya…”

“Ga enak?”

“Iya…”

“Darurat. Kamu tega sama aku?” ucapnya sambil menatap ke arah ku dengan wajah takut nya. Tentu saja saya tidak tega bu.

“Tapi kalau tega ya ga apa-apa sih. Kamu pasti takut kan tidur satu kamar sama janda umur tiga puluh delapan tahun?” lanjutnya.

“Apaan sih bu? Enggak takut, saya cuma ga enak sama privasi ibu.”

“Kan aku sendiri yang minta, kenapa ga enak?” cecar nya lagi. Terpaksa deh, ga ada pilihan lain pikir ku.

“Ya udah iya, saya temenin deh, tapi saya tidur seranjang sama ibu ya, hehehe,” canda ku. Ibaratnya kalau ga bisa nolak, ya ladenin aja sekalian.

“Enak aja, kamu tidur nya di sofa,” balasnya sambil tersenyum dan menepuk pelan bahu ku. Senyum nya begitu indah. Saat ini aku benar-benar sadar kalau bu Pristy memang benar-benar sempurna. Bagi ku, sekarang kecantikannya mba Gadis cuma seujung kuku kaki nya bu Pristy.

“Sempit kan bu di sofa?” balas ku pura-pura menolak, padahal tidur di sofa mah sudah biasa bagi ku.

“Iya sih ya, ah kalau enggak, kamu ambil selimut kamu yang di kamar kamu aja terus gelar deh di lantai, kan selimutnya lumayan tebel tuh, gimana?”

“Buset, lebih parah lagi di suruh tidur di lantai, nasiiib…” keluh ku bercanda sambil memberikan wajah cemberut ku.

“Hihihi, sabar yah,” balas nya dengan raut muka yang nampak puas. Sialan juga nih pikir ku. Udah di tolongin tapi malah ngetawain. Tapi aku tau bu Pristy juga pasti cuma bercanda.

“Iye…” balas ku pura-pura sewot.

“Gantinya, aku buatin kopi deh, kapan lagi coba kamu dibuatin kopi sama manajer?”

“Wah iya-ya, hahaha. Sip deh kalau begitu.”

“Ya udah aku panasin air dulu kalau begitu, kamu mau ambil selimut nya sekarang apa nanti?”

“Bentar lagi bu, hehehe.”

“Oke, aku masuk dulu.”

Bu Pristy lalu masuk ke dalam kamar nya dan meninggalkan ku sendiri di balkon ini. Aku kembali menatap jauh ke depan. Pikiran ku menerawang lagi. Ada banyak hal yang terjadi pada diri ku beberapa hari ini. Nampung mba Gadis yang kabur dari tantenya. Perselisihan mba Gadis dengan Rahma. Jadi sopir dadakan. Dan sekarang terjebak bersama bu Pristy yang lagi galau yang juga lagi kabur-kaburan dari bapaknya. Ya elah. Keluarga kok penuh drama.

Pandangan ku kemudian teralihkan oleh sesuatu yang menarik perhatian ku. Di depan ku ada sebuah taman kecil di sisi luar balkon yang disana tumbuh beberapa tanaman di dalam pot-pot kecil. Tata letak yang sangat bagus. Keberadaan tanaman ini memberikan kesan asri pada balkon ini. Tapi bukan itu sebenarnya yang menarik perhatian ku.

Ada satu pot tanaman yang posisinya tidak normal. Pot itu terguling ke samping dan hampir jatuh jika tidak ada pot lain yang menahannya. Selain itu ada beberapa tangkai bunga yang patah. Aku lalu berusaha meraih dua tangkai bunga yang patah tadi. Feeling ku mengatakan kerusakan pada tanaman ini terjadi belum lama. Aku lalu melihat sekeliling dan benar saja, aku melihat ada beberapa bekas jejak sepatu di lantai balkon yang masih basah, dan itu sudah pasti bukan jejak kaki ku maupun kaki bu Pristy. Berarti apa yang bu Pristy lihat tadi memang benar. Beliau tidak sedang berhalusinasi.

“Liatin apa kamu? Kok kayanya mikir banget?” suara bu Pristy mengagetkan ku. Beliau berdiri dengan bersandar pada kusen pintu. Entah sengaja atau tidak, kaki kirinya agak di majukan sehingga bagian bawah kimono berbahan satin yang di kenakannya itu tersingkap dan memperlihatkan paha putih mulus milik nya. Anjir, sudah ganti baju aja dia pikir ku. Menggoda banget lagi, tahan tidak ya aku malam ini?

“Ah enggak bu, ga mikirin apa-apa kok. Eh iya, ini buat ibu,” jawab ku berbohong sambil berjalan menghampirinya dan memberinya dua tangkai bunga yang aku petik tadi. Sebenarnya bukan di petik juga sih, karena bunga ini sudah patah terlebih dahulu.

“Eh, apaan ini?” tanya nya bingung namun tidak menolak bunga pemberian ku.

“Ini ungkapan rasa sayang saya ke ibu, hehehe,” balas ku dengan nada lebay, agar terlihat bercanda nya.

“Ya ampun makasiii, so sweet banget sih kamu, terharu lho aku…” balas nya tak kalah lebay.

“Hahaha, ya udah saya ambil selimut dulu deh kalau begitu.”

“Ya udah, jangan lama-lama yah, aku takut sendiri,” pesan bu Pristy dengan raut muka yang masih agak ketakutan. Saya juga takut bu sebenarnya. Tapi aku harus tetap tenang dan waspada sambil mengamati keadaan sekitar. Apa yang ibu lihat tadi memang benar. Ada orang yang berusaha menyusup ke kamar ibu. Aku lalu pamit untuk mengambil selimut tebal di kamar ku untuk alas tidur ku malam ini.

*~*~*~*

Saat aku balik ke kamar bu Pristy, aku sudah disuguhi dengan dua hal. Pertama, tentu saja kopi yang beliau janjikan tadi. Ke dua, paha dan susu yang dia biarkan terumbar dengan bebas untuk aku pandangi. Beliau mengenakan kimono tipis berbahan satin yang di dalamnya dilapisi dengan lingery yang juga tidak kalah tipis, dan juga menerawang. Posisi beliau rebahan di ranjang dan dengan cuek nya membiarkan bagian bawah kimono nya tersingkap hingga menampilkan sepasang paha yang putih dan mulus. Agak jengah sebenarnya. Dilihat, tapi tidak enak. Tidak dilihat, lebih tidak enak lagi.

“Itu kopi nya udah aku buatin, belum mau tidur kan?” tanya bu Pristy dengan lembut. Beliau melirik ke arah ku sebentar lalu kembali menatap ke arah tv. Aku sendiri langsung menggelar selimut ku di lantai tepat di samping ranjangnya lalu duduk di sofa dan menyesap kopi buatan si ibu manajer.

“Iya bu belum kok, lagian mana bisa tidur kalau tidur nya sekamar sama wanita secantik bu Pristy, hehehe.”

“Maksud loooh?”

“Hehehe, becanda bu…”

“Iya tau. Kalau mau ngerokok dulu juga ga apa-apa kok, tapi di balkon, dan pintu nya ditutup,” tawarnya.

“Belum pengen kok bu, ngomong-ngomong makasih lho kopi nya.”

“Iya sama-sama, makasih juga udah di temenin.”

Aku lalu menikmati kopi yang di buatkan oleh bu Pristy. Mantab kopinya, agak kental dengan sedikit gula, pas banget dengan selera ku. Beberapa saat kemudian hening. Kami sama-sama fokus ke acara tv yang sedang menayangkan acara talkshow di salah satu tv swasta. Karena pegal, aku pun ikut rebahan di sofa yang posisinya sejajar dengan tempat tidur. Bu Pristy sekilas tersenyum kepada ku lalu kembali menatap ke arah layar tv. Di luar sudah sangat sepi. Terasa sangat nyaman tinggal di tempat seperti ini. Tenang. Hanya suara tv yang kami dengar.

“Bu?”

“Iyaah…”

“Boleh tanya sesuatu?”

“Silahkan.”

“Mohon maaf sebelumnya kalau saya lancang, tapi kalau boleh tau, kenapa mba Gadis benci banget sama ibu? Ibu beneran tante nya kan?”

“Hahaha, kirain mau tanya apaan, pake minta maaf segala. Mau tau aja apa mau tau banget nih? Hihihi.”

“Mau tau banget sih bu, tapi kalau ga berkenan ya ga usah di jawab.”

“Hahaha. Baiklah. Karena kamu udah baik sama aku, aku kasih tau deh. Tapi ceritanya panjang.”

“Malam juga masih panjang kok bu, hehehe.”

“Hihihi, iya. Ya udah aku cerita, tapi awas ya kalau baru setengah jalan terus kamu nya ngantuk, terus minta berhenti. Gaji mu aku potong!”

“Eh, jangan dong, sensitif itu kalau masalah gaji. Saya janji deh dengerin sampai akhir.”

“Hahaha, canda kaliii.”

“Hehehe, kirain…”

“Oke, jadi begini, sebenernya ini pribadi banget. Tapi ya sudah lah, aku udah anggap kamu seperti anak ku sendiri, walaupun aku sendiri belum punya anak, hahaha.”

“Lah tua amat ibu jadi mamah saya? Hahaha.”

“Apa dong? Tante?”

“Masih ketuaan, kakak aja deh, gimana? Saya pengen punya kakak cewek, hehehe.”

“Kenapa?” tanya nya dengan bingung.

“Biar ada yang bisa di mintai ntolong bikinin kopi lagi, kaya ini nih, hahaha,” canda ku sambil menyesap kopi buatan nya yang ada di tangan ku ini.

“Idiiih, dasar. Pengen punya kakak cuma buat di suruh bikin kopi doang.”

“Hehehe.”

“Ya udah lanjut yah.”

“Oke…”

“Jadi dua puluh tahun yang lalu, kakak ku satu-satu nya, papa nya Gadis, punya sahabat cewek dari smp.”

“Dan mereka falling in love?” tebak ku dengan mantab.

“Pinter banget kamu nebaknya, pengalaman ya?”

“Yang udah-udah sih begitu bu, hehehe, terus-terus?”

“Dan seperti yang terjadi di sinetron-sinetron, ada satu pihak yang tidak setuju dengan hubungan mereka dengan alasan klasik yang menurut ku itu sudah tidak relefan lagi sih, status sosial.”

“Pak Jayadi?”

“Siapa lagi?”

“Lalu mereka berdua berontak?”

“Iya, dan mereka kalah. Sahabat dari kakak ku yang merupakan cinta sejatinya itu lebih memilih mengalah karena…”

“Apa?”

“Sebenernya aku tidak boleh menceritakan hal ini karena ini adalah aib dari papa ku sendiri.”

“Aib?”

“Iya.”

“Maksudnya pak Jayadi menggunakan cara-cara kotor untuk memisahkan mereka?”

“Iya.”

“Hmmm…”

“Masih tertarik sama cerita nya?”

“Masih dong.”

“Wanita yang paling di cintai kakak ku itu akhir nya memilih jalan hidup nya sendiri dengan menjauh dan menghindar dari kehidupan kami. Sedangkan kakak ku yang kecewa berat sempat depresi hingga beberapa lama. Tapi kemudian dengan usaha dari keluarga, akhir nya kakak ku itu bisa kembali ke kehidupan normal nya.”

“Hubungannya dengan mba Gadis?”

“Tidak lama setelah itu kakak ku di jodohkan dengan anak dari relasi bisnis papa.”

“Dan mereka tidak saling mencintai?”

“Kakak ku tidak mencintainya, aku tau dengan pasti. Tapi mantan istrinya aku tidak tau.”

“Mantan istri?”

“Iya mereka berdua akhirnya bercerai.”

“Sama dengan bu Pris, eh maaf…hehehe.”

“Iya ga apa-apa. Aku dan kakak ku sama-sama bercerai. Kami sepasang kakak adik janda dan duda, hahaha, miris banget ya keluarga ku,” ucapnya sambil tersenyum kecut.

“Kembali ke soal mba Gadis?”

“Aku penyebab papa dan mama nya bercerai.”

“Maksudnya?”

“Ya, aku yang membuka borok mama nya. Aku yang membuat mama nya tidak nyaman barada di dalam keluarga kami. Secara tidak langsung, bisa dibilang aku yang membuat mereka berpisah.”

“Dan mba Gadis menyalahkan ibu?”

“Iya,” jawabnya dengan sedih.

“Padahal itu untuk kebaikannya kan?”

“Kadang anak-anak belum tau mana yang terbaik untuknya.”

“Ibu menyesal?”

“Aku tidak pernah menyesal, hahaha.”

“Tapi kan ibu jadi jauh sama mba Gadis.”

“Ga apa-apa, yang penting mamanya juga jauh dari keluarga ku.”

“Kok kedengerannya kejam ya?”

“Terkadang kita harus melakukan hal-hal yang tidak baik untuk kebaikan orang-orang yang kita sayangi.”

“Begitu ya?”

“Nanti kalau kamu sudah berkeluarga juga bakalan tau bedanya.”

“Jadi begitu ceritanya…”

“Kamu bisa ambil hikmah dari kisah keluarga ku?” tanya nya dan aku hanya menggeleng. Pikiran ku masih terlalu muda untuk hal-hal seperti ini.

“Materi tidak bisa menjamin kebahagiaan seseorang, jaga dan sayangi keluarga mu lebih dari apapun,” ucapnya lagi.

“Saya percaya, dan setuju dengan pendapat ibu.”

“Hahaha, bulan depan gaji kamu naik.”

“Hah? Serius bu?” tanya ku kaget.

“Ya enggak lah, enak aja, ngarep ni yeee, hehehe,” ledek nya.

“Ah si ibu mah rese, pehape doang.”

“Gaji naik apa nggak itu tergantung kinerja kamu, bukan karena kamu abis jadi pendengar curhatan bos mu, hahaha, week,” ledek bu Pristy semakin semangat.

Aku pasrah saja seakan menjadi bahan ledekannya. Ya itung-itung sebagai hiburan untuk beliau yang sempat dilanda kegalauan tadi. Ditambah lagi dengan kumunculan orang misterius yang entah apa tujuannya nekad menyusup hingga balkon kamar nya. Dan apa yang aku lakukan ini memang berhasil. Bu Pristy nampak lebih ceria sekarang.

“Udah abis belum kopi nya? Awas lho kalau ga di habisin!”

“Tinggal dikit nih, mau nambah malah kalau boleh, hehehe.’

“Ga boleh banyak-banyak.”

“Iya bu…”

“Dah ngantuk?”

“Belum, ni kopi manteb juga bikin melek. Ibu udah ngantuk?”

“Udah mulai sih, duuh kayanya bakalan aku yang ninggalin kamu bobo duluan nih, maaf ya, hehehe.”

“Santai bu. Ibu kalau udah ngantuk bobo aja dulu, saya bakalan jagain ibu kok malam ini. Tenang aja, ga akan kabur, hehehe.”

“Ooohh…so sweet. Jadi enak, hihihi. Ya udah aku bobo yah. Nih remote Tv nya, jangan lupa di matiin kalau udah mau bobo,” pesan bu Pristy sambil menyerahkan remote Tv ke pada ku. Aku lalu menerimanya dan mencoba mencari chanel Tv lain yang mungkin lebih menarik.

Materi tidak bisa menjamin kebahagiaan seseorang, jaga dan sayangi keluarga mu lebih dari apapun, aku tiba-tiba teringat dengan wejangan bu Pristy tadi. Memang betul sih apa yang beliau katakan. Dan aku merasakannya. Keluarga ku tidak kaya, tapi kami bahagia. Keluarga bu Pristy kaya raya, tapi lihat saja, dua anaknya tidak ada yang sukses dalam urusan rumah tangga. Jadi, bahagia itu sederhana. Mensyukuri segala nikmat dan anugerah yang diberikan Tuhan yang maha Esa. Tamat.

Belum, cerita ini belum tamat. Hahaha. Aku belum dapat enak-enak. Hahaha. Kapan ya tapi? Entahlah. Mungkin sekarang lebih baik aku tidur saja. Sejenak aku perhatikan wajah bu manis bu Manajer ku yang sudah tertidur pulas itu. Nafas nya terdengar lembut dan teratur. Cepat sekali pikir ku. Tidurnya miring ke arah ku. Ah ibu, ibu cantik banget sih. Coba situ seumuran sama saya, pasti sudah saya pepet. Hahaha.

*~*~*~*

“Ehhmm…eh?”

Aku terbangun dengan tangan kiri ku yang terasa mati rasa. Seperti ada beban berat yang menimpanya dalam waktu yang cukup lama. Ada apa ini pikir ku. Aku membuka mata ku dan mendapati tubuh seorang wanita yang tertidur pulas memunggungi ku. Bu Pristy? Ya ampun beliau tidur bersama ku? Sejak kapan? Gimana ini?

Posisi tidur ku setengah miring ke kiri dengan tangan kiri ku terentang dan dijadikan sebagai bantal oleh bu Pristy. Sebenarnya aku ingin menarik tangan ku namun ku urungkan karena itu pasti akan membangunkannya. Tapi mau sampai kapan? Tangan ku sudah mati rasa. Tapi aku tidak tega kalau harus membangunkannya.

Akhirnya aku putuskan untuk mendiamkannya saja terlebih dahulu. Aku sedikit merubah posisi tidur ku lebih miring ke kiri sehingga dengan posisi seperti ini aku seperti sedang memeluk bu Pristy dari belakang. Dari posisi ini aku bisa melihat betapa indah lekekukan tubuh bu Pristy. Mulai dari pinggangnya yang ramping, pinggul dan pantat nya yang membulat, dan pahanya yang putih dan mulus itu. Beliau sudah tidak mengenakan kimono lagi, hanya mengenakan lingery saja. Itu pun tersingkap hingga ke pinggulnya yang membuat ku dapat melihat keseluruhan pantatnya yang sekarang hanya tertutup oleh celana dalam nya saja. Dan kemaluan ku yang sudah mengeras ini hanya berjarak tidak sampai tiga centi meter dari bulatan pantatnya.

“Tadi aku kebangun…mmhh…” ucap bu Pristy tiba-tiba. Eh dia terbangun. Gara-gara gerakan ku tadi pasti.

“Eh…ehmm…”

“Karena kamu udah bobo aku nya jadi parno, mau langsung bobo lagi ga bisa, akhirnya aku ikut kamu ke bawah, maaf ya, pasti tangan kamu keberatan,” ucapnya lagi dengan suara yang masih sangat serak karena masih mengantuk dan masih dalam posisi yang sama. Tidak ada gerakan sama sekali, bahkan beliau masih membiarkan bokong seksi nya terbuka.

“Enggk kok bu, enggak berat, hehehe, ya udah bobo lagi aja,” balas ku dengan tolol nya. Iya tolol, tangan kiri ku sudah mati rasa tapi aku masih bilang tidak berat dan tidak apa-apa.

“Iyah, ga apa-apa kan kalau aku tidur di sini?” tanya nya lagi. Pertanyaan bodoh pikir ku. Ya tentu saja tidak apa-apa lah teriak ku dengan girang.

“Asal ibu tenang saja,” jawab ku mencoba tenang. Padahal syahwat ku sudah tidak tenang. Kemaluan ku semakin mengeras karena momen yang aku alami saat ini. Aku tidur dengan memeluk ibu bos ku sendiri yang meskipun sudah cukup berumur namun masih tetap cantik dan menggoda. Terutama di bagian pantat nya. Tiga kata untuk bokongnya itu, empuk dan kencang.

“Eh…” aku kaget ketika tiba-tiba bu Pristy menggeser tubuh nya semakin merapat ke tubuh ku. Dan sekarang pantat bulat miliknya itu benar-benar menekan dengan erat ke selangkangan ku. Awal nya aku ingin menggeser tubuh ku kebelakang karena merasa tidak enak dan takut di sangka kurang ajar, namun beliau malah memegang pergelangan tangan kanan ku dan menarik nya lalu di letakan nya di perut nya.

“Kalau meluk cewek itu ga boleh setengah-setengah,” ucapnya lagi tanpa menoleh ke arah ku, namun aku bisa melihat sedikit senyum terpancar dari bibir nya.

“I-iya bu,” balas ku terbata-bata.

“Santai saja, kita sudah sama-sama dewasa, kan?”

“Iya, kita sudah sama-sama dewasa bu,” balas ku gugup dan pasrah bagaikan kerbau yang di cokok hidungnya.

“Kalau belum dewasa mana bisa yang di bawah sana keras gini? Hihihi,” ledek bu Pristy sambil menggoyangkan pingulnya menggesek dan menekan ke selangkangan ku.

“Ahh…eehhmmhh…” reflek aku mendesah pelan. Anjir, cuma digituin aja aku sudah mendesah. Malu. Malu. Malu.

“Kamu kenapa? Sempit ya? hihihi.”

“Hehehe, maaf bu. Tapi wajar kan ya?” balas ku mencoba tetap tenang, meskipun sangat susah.

“Iya wajar kok, apa lagi untuk cowok seumuran kamu, pasti lagi menggebu-nggebu nya kan?”

“Hehehe, apalagi lawannya wanita secantik ibu,” balas ku mencoba meladeni setiap ucapannya.

“Hihihi, gombal kamu. Oiya, kamu sudah pernah?”

“Pernah ngapain bu?” balas ku pura-pura tidak mengerti dengan pertanyaan ambigu nya.

“Jangan pura-pura ga ngerti!” protes bu Pristy sambil menggoyangkan kembali pinggul nya hingga membuat pantat semok nya itu semakin mendesak ke kemaluan ku yang juga semakin mengeras.

“Be-belum bu, ibu mau ngajarin saya? Hehehe,” canda ku sepontan. Entah dapat nyali dari mana hingga aku berani melontarkan kalimat kurang ajar seperti itu.

“Nih kalau berani!” balas bu Pristy sambil mengepalkan tangannya kepada ku, namun beliau masih tetap membelakangi ku. Terdengar serius, tapi aku yakin dia hanya bercanda.

“Yakin belum pernah?” tanya nya lagi. Penasaran banget pikir ku.

“Suer bu, ngapain bohong.”

“Berarti sekarang tegangan tinggi banget dong?”

“Cuma cowok gay dan pria impoten yang ga tegang dengan sikon seperti ini bu,” canda ku. Aku baru sadar ternyata tangan ku sekarang sedang mengusap-usap perutnya yang rata, yang otomatis itu membuat lingery nya semakin tersingkap. Bahkan sekarang sebagian perut rata nya itu juga terbuka. Yang artinya pinggul dan pantat bu Pristy benar-benar terbuka dan hanya tertutup oleh celana dalam nya saja.

“Hahaha, analogi kamu boleh juga. Eh, tapi kok kamu masih tahan? Apa jangan-jangan kamu…”

“Maksud ibu?”

“Adik kamu tegang, oke aku bisa paham. Tapi kamu masih bisa mengendalikan diri mu, kamu tidak melakukan pemaksaan terhadap ku, jujur aku salut dengan itu,” puji nya secara tidak langsung.

“Memang nya ibu pengen saya paksa? Hehehe,” balas ku meladeni ucapannya, yang diikuti oleh respon dari tangan ku yang tiba-tiba berusaha bergerak ke atas ke arah dadanya. Namun kemudian tertahan oleh tangan bu Pristy, yang kemudian malah menggenggam dan meremas pergelangan tangan ku.

“Memang nya apa sih yang bisa di lakuin bocah kemarin sore kaya kamu ini ke aku?” balasnya dengan suara menggoda.

“Ehm…mengisi ruang kosong di bagian tubuh ibu yang satu ini, saya bisa, hehehe,” balas ku sambil dengan cepat menarik celana kolor ku ke bawah sehingga sekarang penis ku hanya tertutup oleh celana dalam ku saja dan dengan nekat aku mendorong penis keras ku itu ke selangkangannya.

“Eh, ehmhh…kamu ngapain?” tanya bu Pristy setengah mendesah dengan polosnya. Pertanyaan yang sebenarnya dia sudah tau jawabannya. Takut bu Pristy berontak, aku lalu mendekap kembali tubuh sintalnya. Ku remas pergelangan tangannya untuk memberikan ketenangan.

“Jadi gimana bu? Ibu mau ga punya ibu yang di bawah sana itu saya isi dengan punya saya ini?” tanya ku lagi dan sekarang aku semakin nekat. Ku keluarkan penis ku dari sarangnya dan ku gesek-gesek kan ujung nya yang keras itu ke selangkangan bu Pristy dari belakang.

“Ehhmmhh…ssshhhshh…” desah bu Pristy lembut. Sekarang aku yakin seyakin-yakinnya kalau beliau benar-benar sudah bertekuk lutut di depan. Tapi aku tidak mau tergesa-gesa. Dan aku juga tidak mau bila harus memaksanya.

“Bu? ibu kenapa?” tanya ku lagi dengan terus menekan-nekan kan ujung penis ku ke selangkangan nya. Selain itu aku juga memberinya rangsangan dengan mengecup belakang leher nya serta menjilatinya. Tangan kanan ku juga tidak tinggal diam. Aku menyusupkan tangan kanan ku itu ke dalam lingery nya namun tidak langsung meremas payudaranya. Bu Pristy ternyata tidak mengenakan bra. Kulit payudaranya terasa sangat lembut di punggung tangan ku. Aku sengaja hanya mengusap-usap dua daging kenyal itu dengan punggung tangan ku agar beliau tidak kaget dan memberinya efek penasaran.

“Ehhsshh…aahhkkuuhhsshh…”

“Ibu suka ya saya giniin?” pancing ku lagi dengan mulai menjilati daun telingannya. Penis ku terus menusuk-nusuk lubang yang masih tertutup kain tipis itu dengan pelan.

“Ehmmhhsshh…” lagi-lagi tidak ada balasan dari nya selain hanya desahan kenikmatan akibat rangsangan dari ku.

Oh Tuhan, apa aku sudah bertindak terlalu jauh? Apa aku sudah berbuat kurang ajar kepadanya? Awal nya aku tidak ingin melakukan ini. Tapi beliau sendiri yang seperti nya memancing birahi ku. Aku hanya manusia biasa. Aku juga punya syahwat. Aku juga bisa tergoda. Aku bisa khilaf. Maaf kan anak buah mu ini bu bila sudah khilaf. Saya siap menanggung segala resiko nya bila nanti ibu tidak suka.

Ku tarik kembali tangan ku lalu bergerak kebawah merabai setiap inci pinggangnya lalu berakhir di pantatnya. Ku remas pelan pantat seksi itu. Bu Pristy kembali mendesah pelan. Kadang kepalanya sampai mendongak akibat rangsangan dari ku. Ku dorong lebih dalam lagi ujung penis ku ke selangkangannya. Terasa oleh tangan ku di bagian itu sangat lembab. Bu Pristy sudah sangat basah batin ku.

Meskipun aku belum pernah melakukannya, tapi aku bukan cowok yang polos-polos amat. Aku tau apa yang harus aku lakukan. Lalu dengan memantapkan tekad ku, terhadap apapun resiku yang akan aku alami nanti, aku coba menyingkap kain penutup itu dari samping. Dan berhasil. Celana dalam bu Pristy ternyata sangat elastis, dan aku bisa menariknya hingga ke samping. Dengan posisi sekarang ini sudah tidak ada lagi penghalang antara penis ku dengan bibir vaginanya.

Kembali aku memantabkan tekad ku yang sempat ragu. Bagaimana pun juga dia adalah bos ku sendiri. Atasan ku di tempat ku bekerja. Tapi aku juga sudah tidak tahan lagi dengan godaan duniawi ini. Setan sudah merasuki ku. Dan dengan mantab ku arahkan ujung penis ku ke bibir vagina yang basah oleh cairan cintanya sendiri itu.

“Eh, aacchhhsshhh…” bu Pristy melenguh panjang dengan badan yang bergetar lalu berbalik dengan sorot mata tajam yang aku tidak tau maksudnya apa.

Plaak!!” sebuah tamparan keras telak mengenai pipi ku. Aku hanya bisa melongo menerima nya. Bu Pristy lalu bangun dan merapikan lingery serta celana dalam nya yang sempat acak-acakan itu. Tanpa sepatah kata pun beliau kemudian pindah ke tempat tidur dan meringkuk memeluk lutut nya sambil bersadar ke sandaran tempat tidur. Pandangannya kosong. Seperti trauma akan sesuatu. Entah apa yang ada di pikirannya saat ini. Meratapi nasib nya yang baru saja dilecehkan oleh anak buahnya sendiri. Bisa jadi.

Aduh, kenapa jadi begini? Sekarang aku yang pusing. Kacau. Bodoh. Bodoh. Bu Pristy pasti marah. Siap-siap di pecat ini pikir ku. Aku juga masih terdiam dan tidak tau harus berkata apa, dan berbuat apa. Semua salah ku. Aku tidak bisa menahan nafsu ku sendiri. Aku telah melecehkan orang yang seharusnya aku hormati. Orang yang memberi ku pekerjaan. Dan di saat seperti ini aku malu kalau harus meminta pertolongan Tuhan atas apa yang baru saja aku lakukan.
 

Balanewpati

Guru Semprot
Thread Starter
Daftar
19 May 2018
Post
503
Like diterima
16.025
  • Thread Starter Thread Starter
  • #19
Yang Terbaik

Dengan bodoh nya aku berjalan menuju pintu sambil menenteng selimut ku. Saat ini aku tidak ubah nya seperti seorang pecundang yang mencoba kabur dari masalah. Aku seperti pria tidak tau diri yang tidak mau bertanggung jawab atas perbuatan aku perbuat sendiri. Image ku pasti sudah benar-benar hancur di mata bu Pristy. Surat pemecatan pasti akan segera aku terima dalam waktu dekat ini. Tinggal menungu waktu saja bu Pristy akan segera menendang ku dari restoran milik keluarganya itu.

“Mau kemana?” tanya bu Pristy dengan suara pelan, namun tegas.

“Mungkin, lebih baik kalau saya balik ke kamar aja bu, sa-saya minta maaf,” balas ku tanpa menoleh ke arah nya. Aku masih berdiri mematung ke arah pintu. Nyali ku terlalu kecil untuk memandang nya.

“Kalau kamu balik ke kamar, lebih baik kamu ga usah kerja lagi,” ucap bu Pristy masih dengan suara pelan. Pikirannya pasti sedang kacau. Hati nya pun juga pasti sedang berkecamuk. Suasana pun menjadi sangat canggung. Dan semua itu adalah salah ku. Tanpa berfikir panjang aku lalu kembali duduk di sofa, apapun maksud darinya menahan ku, aku hanya ingin menuruti perintahnya saja. Bu Pristy sendiri masih duduk meringkuk di atas tempat tidur nya.

Bu Pristy pasti marah kepada ku, tapi kenapa beliau melarang ku kembali ke kamar, itu yang masih aku belum tahu alasannya. Apa aku mau di hukum berdiri dengan satu kaki? Anak sekolahan banget pikir ku. Yang pasti, apapun hukuman yang akan aku terima, aku berharap aku tidak di pecat. Aku masih sangat membutuhkan pekerjaan ini. Aku tidak mau membebani mama. Aku ingin mandiri. Tapi perbuatan yang baru saja aku lakukan kepadanya tadi itu memang benar-benar kacau.

“Aku minta maaf udah nampar kamu tadi,” ucap bu Pristy tiba-tiba.

Lah dia malah minta maaf? Apa aku tidak salah dengar?

“Maaf bu?” ulang ku meyakinkan pendengaran ku.

“Iya, aku minta maaf, aku belum siap, aku…”

“Saya yang seharusnya minta maaf bu, saya yang salah.”

“Aku juga salah.”

“Ya, kita sama-sama salah.”

“Padahal ngakunya sudah sama-sama dewasa ya? hahaha,” balas bu Pristy sambil tertawa.

Tawa yang kecut. Tapi meskipun kecut, paling tidak aku jadi lebih lega sekarang. Paling tidak bu Pristy tidak benar-benar marah kepada ku. Aku rasa beliau hanya kaget saja dengan kejadian yang barusan terjadi. Mungkin karena terlalu cepat. Mungkin juga karena beliau sudah lama tidak merasakan sentuhan lelaki. Mungkin begitu.

“Terus sekarang ibu mau nya gimana kalau saya tidak boleh balik ke kamar?”

“Yang tadi itu, jangan sampai ada yang tau yah.”

“Pasti, saya juga ga mungkin nyeritain kejadian konyol kaya tadi ke orang lain.”

“Konyol ya?”

“Banget kalau menurut saya sih, hahaha,” aku tertawa untuk mencoba mencairkan masalah. “Perbuatan paling konyol yang pernah saya lakukan,” lanjut ku.

“Enggak konyol-konyol amat sih. Kalau ternyata aku nya aja yang belum siap gimana?”

“Maksud ibu?”

“Yaaa siapa tau aku cuma butuh waktu. Siapa tau…” ucap nya lagi dengan penuh tanda tanya.

“Hahaha, kalau ending nya kaya tadi sih mending ga usah bu.”

“Makanya aku bilang, kalau ternyata cuma aku nya aja yang belum siap gimana?”

“Ya saya ga tau…”

“Jujur, aku sangat nyaman dengan pelukan mu tadi. Aku juga sangat menikmati sentuhan mu. Tapi aku belum siap, bukan berarti tidak, tapi belum untuk malam ini.”

“Tapi setelah kejadian tadi, saya jadi sadar kalau seharusnya kita tidak melakukan itu.”

“Kenapa?”

“Saya tidak mau kalau sekedar enak-enak nya aja tanpa ada rasa.”

“Yaakiin?” tanya bu Pristy dengan menggoda.

“Seratus persen yakin,” balas ku dengan mantab.

Bu Pristy sempat tersenyum kepada ku sebelum beliau bangkit dari tempat tidur nya dan berjalan ke arah ku. Tatapannya berbeda dari biasanya. Tatapan yang penuh dengan arti. Seperti ada yang di sembunyikannya. Beliau terus berjalan dengan anggunnya, dan tanpa ku duga sebelumnya, bu Pristy lalu bersimpuh tetap di depan ku duduk.

“Mulut ku yang di bawah sana memang belum siap, tapi kalau mulut ku yang ini, siap kapan saja,” ucap bu Pristy dengan manja sambil menggigit bibir nya sendiri yang sensual itu. Kedua tangan bu Pristy mendarat di ke dua paha ku yang terbuka cukup lebar. Jari jemari nya yang lentik itu kemudian bergerak naik ke arah pinggang ku lalu berhenti di bagian atas celana kolor yang aku kenakan.

“Bu maaf bu, tapi kita tidak harus melakukan ini,” tolak ku dengan lembut namun terlambat. Lagi pula penolakan ku hanya setengah hati. Aku memang mengatakan kalau kami tidak harus seperti ini, tapi aku tidak menolak ketika Bu Pristy dengan lihainya menarik kolor yang aku kenakan ini hingga sebatas lutut ku. Dan sekarang penis ku terpampang dengan jelas di depan nya. Bu Pristy awalnya nampak kaget dengan kemaluan ku, tapi kemudian langsung tersenyum dengan wajah yang berseri-seri.

“Bu, beneran deh bu, saya tadi beneran khilaf, dan kalau pun saya harus melupakan kejadian tadi, saya bersedia dengan senang hati, dan kita tidak harus melakukan ini.”

“Hiihhaam haha hamu…” balas bu Pristy dengan tidak jelas karena tanpa persetujuan ku beliau sudah melahap penis ku itu dengan rakus. Tapi sayang, penis ku terlalu besar hingga hanya sebagian saja yang bisa di telannya.

“Ouuhh…aahhh…” reflek aku mendesah pelan.

Tentu saja, ini adalah pengalaman pertama ku penis ku di kulum seperti ini. Dan tidak tanggung-tanggung, yang mengulum adalah ibu manajer ku sendiri. Rasa canggung, malu, dan bangga semuanya campur aduk menjadi satu.

“Henagh haann…?” tanya bu Pristy lagi sambil mengerlingkan matanya dengan genit. Aku melihat dan merasakan sendiri bagaimana bibir seksinya itu menyusuri setiap inchi permukaan kulit kemaluan ku. Kepalanya bergerak maju mundur memberikan kenikmatan tersendiri kepada ku. Sekarang aku baru sadar, ternyata bos ku ini binal juga, dan seperti inilah sisi liar yang lain dari nya. Tapi aku sangat menyukai nya. Sungguh beruntungnya diri ku malam ini pikir ku.

“Egnghh…”

“Adi junior maco juga ternyata, sama kayak kakak nya, hihihi…slluurrppss…aahhsshh…” komentar nakal dari bu Pristy yang sempat melepas sebentar penis ku dari kulumannya lalu melanjutkan oral sex nya kembali.

“Aah masa sih bu? Biasa aja menurut saya.”

“Aghhsshh…ini sih di atas rata-rata tau…” balas bu Pristy lagi sambil mengocok pelan penis ku yang sudah basah berlumurkan air liur nya. Tatapannya terhadap kemaluan ku penuh dengan birahi. Beliau pasti sudah lama tidak merasakan momen-momen seperti ini lagi.

“Ahhsshh…oouugghh…” desah ku lagi keenakan menerima kocokan yang kadang pelan, namun kadang cepat dari tangannya yang lembut itu. Ternyata begini rasanya kalau dikocokin sama wanita cantik, rasanya bikin melayang-layang.

“Kenapa? Enak yah?” tanya bu Pristy dengan mesra. Aku hanya bisa mengangguk pelan. Aku tidak bohong. Ini memang enak sekali. Jauh lebih enak dari pada saat aku bermasturbasi sendiri. Ya iyalah.

“Celana nya di buka aja yah,” pinta bu Pristy namun tanpa persetujuan ku terlebih dahulu beliau sudah menarik celana kolor ku itu ke bawah lagi hingga lolos dan sekarang aku tinggal mengenakan kaos saja. Entah kenapa aku malah reflek menarik bagian bawah kaos ku hingga menunjukkan otot perut ku yang sedikit terbentuk.

“Uuuhh…badan kamu bagus juga,” ucap bu Pristy sambil menggigit bibir bawahnya ketika melihat otot perut ku. Jemari tangan kiri nya yang lentik dengan kuku berwarna merah muda itu lalu meraba dan mengusap pelan otot-otot di perut ku. Sensasi geli yang ditimbulkan membuat ku semakin belingsatan. Apalagi jemari tangan kanan nya masih terus memberikan rangsangan dengan kocokan pada penis ku.

“Biasa aja ah bu, masih kalah lah sama binaragawan, hehehe.”

“Ya beda lah kalau sama binaragawan, tapi ini udah bagus kok, kamu sering olah raga yah?” “Cuuuh!!” tanya bu Pristy lagi lalu dengan santai nya meludahi kepala penis ku kemudian meratakan ke seluruh permukaan penis ku dengan tangannya.

“Aahhgghh…yaahh…kadang-kadang buu…”

“Hihihi, kamu kenapaa? Enak yaaah aku giniin?” tanya bu Pristy sambil bangun dari bersimpuh nya lalu duduk di samping kanan ku. Duduk nya sedikit condong ke arah ku dengan kaki menyilang yang membuat pahanya terlihat sangat seksi.

“Ehmm i-iya enak bu…”

“Mau yang lebih enak lagi?”

“Mau, eh engg-enggak bu…”

“Hihihi, mau apa enggak nih jadinya? Apa enggak mau nolak?” tanya bu Pristy dengan suara yang sangat menggoda di iringi dengan jilatan di sekitar perut dan dada ku. Rasa geli yang di timbulkannya membuat ku melayang-layang. Badan ku terasa mengambang di udara. Tulang-tulang di persendian ku terasa ingin lepas.

“Bu, kenapa harus seperti ini sih?” tanya ku mencoba mencoba menghentikan ini semua sebelum terlalu jauh. Tapi badan ku diam saja menerima dengan pasrah setiap perlakuan nikmat dari nya.

“Kamu ga mau? Aku lepas nih…”

“Eh, ehhmm…”

“Hihihi, berarti mau kan?”

“Iya mau, tapi…” mendadak aku menjadi sangat ragu. Aku bimbang. Aku galau.

“Anggep aja ini tuh imbalan karena kamu udah nemenin aku malam ini,” ucap bu Pristy sambil mengurut penis ku dengan tangan kanannya. Tatapannya masih penuh dengan birahi.

Cuuuh!!” bu Pristy meludah lagi, namun tidak di penis ku, tetapi di telapak tangannya sendiri lalu melumurkannya ke batang penis ku kembali. Sikap liar nya itu membuat sensasi yang aku rasakan terasa semakin nikmat. Apa lagi bu Pristy semakin intens mengocok penis ku hingga kadang terasa ngilu, tapi ngilu yang teramat nikmat.

“Sluurrppss…aahhsshh…ghhagghhaagghhaagghh…” tanpa aba-aba bu Pristy mencondongkan badannya dan langsung mengulum penis ku lagi. Bukan hanya itu, dia bahkan berusaha memaksakan seluruh batang yang keras itu ke dalam mulut nya. Tapi sia-sia karena tidak muat. Penis ku terlalu panjang untuk mulutnya. Tapi dia terus memaksa.

“Gghhagghhaagghhaagghh…sluurrppss….gghhagghhaagghhaagghh…huuookksss…” bu Pristy tersedak dan hampir muntah kalau saja dia tidak melepas penis ku dari mulut nya yang menyodok hingga ke tenggorokannya itu. Dia menatap ku sebentar lalu kembali mengamati kejantanan ku yang berlumuran dengan air liur nya itu lalu mengurut nya pelan. Pandngannya sayu, mata nya nampak memerah seperti habis menahan rasa sakit. Aku sebenarnya kasihan kepadanya, tapi jujur sensasi yang aku rasakan sekarang jauh lebih hebat dari yang sebelumnya. Bagaimana aku bisa merasakan nikmat di atas ketersiksaan yang dia rasakan. Bagaimana aku sangat berkuasa atas tubuh yang dimiliki nya itu. Rasanya sungguh susah untuk di jelaskan.

“Gghhagghhaagghhaagghh…sluurrppss….gghhagghhaagghhaagghh…huuookksss…”

“Aahh…buuu…enak…” desis ku pelan.

Rasa nikmat yang aku rasakan sekarang mulai mengalahkan ke canggungan ku kepada nya. Aku benar-benar menikmati sensasi yang di timbulkan ketika ujung penis ku mendesak dan benar-benar mentok ke dasar tenggorokannya. Aku tidak akan segan lagi untuk mengakui kalau perlakuaannya kepada ku itu memang benar-benar nikmat. Dan mungkin akan membuat ku ketagihan.

“Iihhh…susah banget sih…” omel bu Pristy pelan. Wajah nya nampak gemas sendiri. Tangan kanannya mengocok penis ku dengan cepat.

“Apanya bu yang susah? Aaahhsshh…” tanya ku dengan polos.

“Aku pengen masukin si junior ini semuanya ke mulut ku, tapi kayanya ga akan mungkin, ga akan muat. Selain besar, dedek kamu ini juga panjang, uuuhh…tinggi, kaya kakak nya, hihihi.”

“Oh, hehehe, ibu bisa saja. Kalau ga bisa ya ga usah di paksain bu, saya nya yang ga tega kalau ngeliat ibu mau muntah sampai mendelik gitu.”

“Tapi enak kaaan?” tanya bu Pristy mesra. Aku hanya mengangguk pelan sambil nyengir.

“Hehehe, mau lagi?” tanya nya dengan sangat menggoda. Lagi-lagi aku hanya mengangguk.

“Rasanya himana hiihh halau hihiniin…gghhagghhaagghhaagghh…sluurrppss….gghhagghhaagghhaagghh?” tanya bu Pristy tidak jelas karena mulut mungilnya sudah terisi penuh lagi dengan penis ku yang menurut nya besar itu. Beliau bertanya gimana rasanya kalau di giniin? Susah bu di jelaskan. Pokoknya enak. Apalagi beliau langsung tancap gas dengan kecepatan tinggi menaik turun kan kepalanya membuat penis ku keluar masuk hingga mentok ke dasar tenggorokannya.

“Aahh…eennaakk buu…” desah ku keenakan.

“Gghhagghhaagghhaagghh…sluurrppss….gghhagghhaagghhaagghh… sluurrppss….gghhagghhaagghhaagghh…ppwaaahhsshhh…hah….hahh…hahhh…” nafas bu Pristy tersengal setelah hanya berhasil mememasukkan setengah dari batang penis ku ke dalam mulut nya. Air liur kemudian mengalir deras dari mulut nya menetes ke selangkangan ku. Bola mata nya semakin memerah. Air mata nya hampir keluar.

“Bu…kalau ibu nya sampai kesiksa kaya gini saya beneran ga mau! Ga tega…” ucap ku iba. Aku lalu menarik badannya agar duduk nya tegak kembali.

“Yang tadi itu, imbalan karena kamu udah jagain aku sekarang, hihihi.”

“Bu…”

“Masih kurang ya? Tenang, belum selesai kok,” lanjut bu Pristy lalu beliau turun dari sofa dan bersimpuh kembali tepat di depan ku. Paha ku di buka nya lebar-lebar.

“Bu, ibu ga perlu ngelakuin ini. Atau paling enggak, ibu ga harus ngesiksa diri sendiri kaya tadi.”

“Jadi kalau aku ngejilatinnya sama ngisepnya lembut kaya gini, kamu mau?” tanya bu Pristy sambil menjilati dan mengulum penis ku lagi namun dengan tempo yang pelan dan lebih lembut. Penis ku juga tidak dimasukkan ke dalam mulutnya, beliau hanya menjilati kepala dan permukaan batangnya saja. Jujur sensasi nya berbeda, tapi aku lebih suka seperti ini dari pada aku harus melihat dia tersiksa seperti tadi.

“Iya bu, seperti itu juga ga apa-apa, saya beneran ga tega.”

“Kamu manis banget siii, uuuhhh jadi gemeeess…hihihi. Aku hisap lagi yaah…” tanya nya lagi-lagi dengan senyum yang menggoda. Pertanyaan yang seharusnya tidak perlu ditanyakan.

“He’eehh…aahhhsshh…”

“Sslluurrppss…aahhsshh…sslluurrppss…nanti kalau sudah mau keluar bilang yaah…,” ucap bu Pristy di sela-sela aksinya menjilati penis ku.

“Aahhgg…kenapa memang nya?”

“Aku…ehhmm…sslluurrpsss…aahhsshh...mau nya kamu nembakin sperma kamu ke wajah akuuh…aahhsshh…sslluurrppsss…”

“Aahhsshh…uuuhhhsshh…ibu nakal banget siiii…uuuhhhssshh…”

“Hihihi, tapi kamu suka kan? sslluurrpsss…aahhsshh...”

“Suka banget bu…aahhhssshh…tapiii…aahhshhh…biar sama-sama enak gimana cara nya? aahhsshh…sayaa…aahhhssh…juga pengeeenn…aahhsshh…ibu ennaaakk…sayaa jugaaa pengen ibuu puaassshhshshh…”

“Hihihi, sslluurrppss…aahhsshh…sslluurrppss… kalau itu besok malem aja kamu puasin aku nya. Sslluurrppss…aahhsshh…sslluurrppss…sekarang…biarin aku yang puasin kamu… ehhmm…sslluurrpsss…aahhsshh...”

“Eh, ehhmm…ter-terserah ibu aja deh, tapi ini beneran enaak bangeeet…aahhshhhshh…uuhhh…” racau ku karena sudah gila dengan services kenikmatan yang diberikan oleh atasan ku sendiri ini. Rasanya benar-benar gila. Bagaimana lubang kencing lo di jilatin sama bu bos lo sendiri, rasanyas udah jadi kaya orang paling berkuasa di dunia.

“Sslluurrppss…aahhsshh…sslluurrppss…hihihi…sslluurrppss…aahhsshh…sslluurrppss…eh tapii…kamu pengennya nembak dimana?”

“Aahhshhh…maksuud ibuuu?”

“Iyaaah…sslluurrppsss…sshhshhhshh…kamu mau nembakin sperma nya di wajah ku…sslluurrppsss…sshhshhhshh…atau di ehmm…di dada, atau…mau nembak di mulut ku ajah biar langsung aku telen? sslluurrppsss…sshhshhhshh…” tanya bu Pristy dengan begitu menggoda sambil terus mengulum dan menghisapi penis ku dengan nakal nya.

“Aahhsshh…di mana aja bu…aahhsshh…”

“Aku nurut aja sama kamu…sslluurrppsss…sshhshhhshh… mau semprotin sperma nya dimana…sslluurrppsss…sshhshhhshh…tinggal bilang...sslluurrppsss…sshhshhhshh…”

“Saya mau…aahhsshhh…ibu nelen sperma sayaa…aahhsshh…” ucap ku dengan berdebar meskipun aku yakin bu Pristy dengan senang mau menerima nya.

“Iiihhh nakal yah kamuu…sshhslluurrpp…sshhslluurrpp…sshhslluurrpp…masa bos kamu sendiri di suruh nelen sperma kamu sih, hihihi,” goda bu Pristy sambil merapikan rambut nya yang tadi berantakan. Rambut yang tadi menutupi pandangan ku itu kini di rapikan ke belakang daun telinganya, sehingga sekarang aku bisa dengan jelas melihat batang penis ku keluar masuk ke dalam mulut nya. Sedotan dan kocokan yang di berikannya semakin kencang dan cepat.

“Aahhsshh…enak buu…aahhsshh…ooohhhsshh…”

“Sslluurrpsshhsshh…henaghh haaa…kalau begini gimana? Ghaaghh…ghagghh…ghagghh…” tanya bu Pristy tiba-tiba setelah mengulangi aksi nya tadi yang berusaha memasukkan seluruh batang penis ku ke dalam mulut nya hingga mentok ke tenggorokannya.

“Aahhsshh…buu…ampuuun…saya mauu keluar kalau kaya gini caranya…” erang ku karena rasa nikmat yang aku rasakan di sekujur persendian ku semakin tidak tertahan kan.

“Hihihi…sslluurrppsss…sshhshhhshh…rasain nihh…sslluurrppsss…sshhshhhshh…ghaaghh…ghagghh…ghagghh…sslluurrppsss…sshhshhhshh…ghaaghh…ghagghh…ghagghh…” bu Pristy semakin kuat mendorong penis ku masuk ke dalam tenggorokannya. Saat ujung penis ku mentok ke dalam tenggorokannya itu beliau menatap ku dengan sorot mata yang terlihat sangat tersiksa. Matanya memerah hampir keluar karena menahan mual. Tapi bu Pristy tidak juga melepasnya. Justru malah semakin kuat menekan dan mendorong penis ku ke dalam tenggorokannya. Beliau seolah ingin memperlihatkan bagaimana tersiksanya dirinya demi memberikan kenikmatan kepada ku. Dan beliau berhasil.

“Aahhhsshhh…buuu…aahshhhhss…sayaaa…keeluuaarr…” tanpa bisa aku tahan lagi akhir nya cairan kental berwarna putih keruh itu menyembur dengan deras nya langsung ke tenggorokan bu Pristy. Kepala nya tidak lagi naik turun seperti tadi, tetapi tangan kanannya yang gantian mengocok pangkal penis ku, seolah ingin memeras hingga habis sperma ku dan menelannya semua. Pipi nya yang putih mulus itu kadang terlihat kempot karena kuatnya sedotannya terhadap lubang kencing ku ini. Gila, aku baru saja nembakin peju ku ke dalam mulut atasan ku sendiri, dan beliau menelannya.

“Aaaaa…” suara yang keluar dari mulut bu Pristy ketika beliau menarik kepalannya membuka mulutnya hingga menganga. Dan dengan nankalnya malah memain-mainkan sisa sperma ku yang belum tertelan oleh nya itu. Penis ku tadi memang memuntahkan cairan kental itu cukup banyak. Aku yakin bila yang sebagian lagi tidak di telannya maka mulut nya itu tidak akan mampu menampung semuanya.

Bu Pristy masih terus memainkan sperma ku di dalam mulut nya. Kadang sperma itu luber hingga ke ujung bibir seksi nya dan hampir menetes, namun dengan cepat lidah nya menjilatnya kembali hingga masuk ke dalam mulut nya lagi. Begitu terus hingga beberapa kali. Liar, benar-benar liar pikir ku. Tapi aku suka. Apalagi ditambah dengan tatapan mata nya yang binal dan menggoda.

“Nakal…” protesnya manja sambil menggenggam erat penis ku yang sudah mulai mengecil.

Cuup!!” beliau kemudian mengecup ujung penis ku, tepat di lubang kecil yang baru saja mengeluarkan lahar panas itu.

“Hehehe,” aku hanya bisa nyengir. Setelah orgasme tadi, akal sehat ku sedikit demi sedikit mulai kembali. Setan mungkin sudah selesai dengan tugas nya. Kecanggungan ku ke bu Pristy mulai kembali. Namun karena tidak mau merusak suasana, aku mencoba untuk tetap rileks, bu Pristy sepertinya juga benar-benar menikmati perlakuannya kepada ku tadi. Aku? jangan di tanya. Hahaha.

“Untungnya malem ini…”

“Pagi ini bu, hehehe,” ucap ku memotong ucapannya. Tapi saat ini memang sudah pagi. Hampir pagi. Sudah jam tiga lewat. Bu Pristy sudah berpindah ke atas lagi dan duduk di samping ku. Tangan kanan ku langsung di rentangkannya dan beliau bersandar di sana. Tubuhnya menyamping ke arah ku. Kepalannya rebah di bahu ku, sedangkan tangan kanan nya mendarat di perut ku lalu merambat ke dada ku. Dan mengusapnya pelan.

“Bawel ah. Betot lagi nih dedek nya!” ancam nya bercanda.

“Hahaha, jangan bu, ampun, yang tadi itu aja saya udah hampir pingsan, hehehe.”

“Hihihi, enak yah?”

“Banget bu…oiya tadi mau ngomong apa?”

“Hehehe, aku cuma mau bilang, untungnya malem ini aku lagi tidak mood untuk lanjut lebih jauh lagi, tapi besok malem, aku ga akan kasih kamu ampun, hihihi.”

“Waduh, lagi ga mood aja bisa hot banget nyepongnya, eh, hehehe, apalagi kalau lagi mood? Hehehe,” ledek ku.

“Aaa…rese aahh. Udah berani ngeledek yaaa. Awas ya kamu…liat aja besok, ga aku kasih ampun nih dede…” ancamnya balik dengan manja sambil menggoyang-goyangkan penis ku yang sudah lemas. Ancaman yang sepertinya akan sangat menyenangkan. Entahlah. Aku tau ini salah, tapi aku hanya manusia biasa, dan aku ingin menikmati ini semua selagi bisa. Dosa nya? di pikir nanti saja.

“Hehehe, maaf bu maaf…”

“Dasar jelek. Awal nya aja malu-malu, kesini nya keenakan. Ihhh…lucuu…” ucap bu Pristy yang masih memainkan penis ku itu dengan gemas.

“Hehehe, Namanya juga manusia bu, kalau enak ya di nimakti aja, hehehe,” balas ku.

Ya, aku hanya manusia. Dan aku ingin menikmatinya. Yang lain, itu urusan nanti. Jalani saja. Yang penting aku tidak merugikan orang lain. Toh bu Pristy juga menikmati. Dan yang paling penting dia tidak terpaksa. Jadi ga ada yang salah, kan?

Aku lalu memeluk bu Pristy. Aku mencoba memberikan kenyamanan untuk nya, kepada wanita yang hanya beberapa tahun lebih muda dari mama itu. Entalah apa yang dia rasakan saat ini, aku juga tidak tau pasti kenyamanan seperti apa yang aku berikan ini. Aku hanya ingin memberikan yang terbaik untuknya.
 
Sbo Hoki Online   Senior Bola Online
Jav Toys
9 club   Gaple Online Indonesia
Pasang iklan hanya lewat CONTACT US
Top
Semprot is now part of PAGCOR