King 4D - Agen Bola   Poker Ace
9Club Situs Judi Online Terpercaya
Asus Togel online   Premier 189
Mandala Toto   Web Online
Web Online   Web Online
Web Online   Web Online
Web Online
Pasang iklan, hanya lewat Contact Us.
Waspada penipuan iklan. Klik di sini untuk melihat daftar penipu.

DRAMA "Perfect"

Siapakah yang akan "menyempurnakan" hidup Adi?

  • Gadis

    Votes: 477 59,2%
  • Ratna

    Votes: 127 15,8%
  • Karakter baru

    Votes: 202 25,1%

  • Total voters
    806
  • This poll will close: .
Indosniper

Balanewpati

Guru Semprot
Thread Starter
Daftar
19 May 2018
Post
509
Like diterima
16.252
Bagian 47
Chocolate Hazelnut



~11 January 2017~

*Timeline setelah cerpan “Kopi Asmara” / [LKTCP 2019]*




“Hah? Mba Ai bilang gitu ke mas Ega? Wagelaseeh ini namanya…” ucap ku setelah mendengarkan cerita mba Ai dari awal hingga akhir dengan seksama. Biasalah cewek kalau lagi semangat cerita dan kita meleng dikit aja bisa tambah panjang ceritanya. Mba Ai mengangguk sambil tersenyum malu. Eh, cerita apa?

Jadi ceritanya mba Ai berempat liburan tahun baru ke jogja minggu lalu. Meskipun sering berantem sama mas Ega tapi ternyata dia diajak juga. Ya kalau dari penuturan ceritanya sih ada sedikit drama dulu juga sih. Hampir mau di batalin juga ijin cutinya sama bos nya karena hampir berantem. Untungnya ada jalan tengah. Dan mereka berempat liburan bersama juga untuk pertama kalinya.

Lalu esensi ceritanya apa? Ternyata ga cuma pas mau berangkat aja mereka bertengkar, tapi pas di sana pun mereka masih bermain layaknya anjing dan kucing. Liburan macam apa itu pikir ku. Tapi endingnya mereka berdua di kerjai oleh Mas Arga dan Rere. Entah gimana ceritanya mba Ai dan Mas Ega diseting untuk makan malam romantis berdua. Lalu mungkin karena situasi dan kondisi yang nyaman, mulailah mereka berdua bicara dari hati ke hati. And then…terbukalah isi hati keduanya, dari yang awalnya tertarik, tapi main ledek-ledekan, lalu jaim hingga keterusan. Dan puncaknya, saat Rere ninggalin selembar pesan buat mereka berdua, entah karena terpancing atau karena sudah gemas memendam rasa ke mas Ega, mba Ai bilang kalau lagi nyari calon suami ke mas Ega.

Anyway, sebenernya aku tidak tertarik dengan cerita itu. Bukan urusan ku juga. Tapi karena yang cerita mba Ai, mau tak mau aku bersikap antusias juga. Tidak tau kenapa akhir-akhir ini aku justru jadi lebih dekat dengan mba Ai. Dekat dalam arti teman cerita, curhat, ngobrol, dan dekat seperti seorang kakak dan adik lebih tepatnya. Mungkin itulah yang membuat dia bisa lepas cerita semuanya kepada ku.

“Terus mas Ega nya sekarang gimana?” tanya ku lagi di sela-sela kami menikmati minuman yang aku buatkan untuknya tadi. Oiya aku dan dia sekarang ini sedang berada di café, yang baru tentunya. Café baru ini masih perlu banyak sentuhan. Mulai dari dekorasinya, susunan tempat duduk, kenyamanan ruangan, sampai perilaku konsumen yang ada semuanya aku pelajari. Sedikit banyak aku juga mulai belajar ilmu marketing. Karena aku yakin itu adalah sesuatu yang sangat penting dan menjadi faktor kesuksesan sebuah usaha.

“Sekarang sih jadi lebih kalem kalau ketemu dikantor, udah ga pernah ngajakin berantem lagi, tapi ya gitu…diem aja ga ada usaha…”

“Hmmm…”

“Kok hemm…doang?”

“Tipe-tipe jaim tuh, pas belum tau rasa, capernya ampun-ampunan, pas udah saling tau, langsung deh, tapi jaim mulai ngomongnya masih belum hilang.”

“Nah itu dia, tapi aku kangen sama dia yang dulu masa, tapi seneng sama sikap dia yang sekarang, duh Aiii…gimana sih kamu…?” ucap mba Ai yang gemas sambil menutup mukannya dengan kedua telapak tangannya sendiri.

“Wajar sih itu mba, secara tak langsung sebenernya bisa saja mba Ai itu tertarik sama mas Ega karena sikapnya yang caper ke mba Ai…”

“Mungkin…trus aku harus gimana dong Adi…?”

“Gimananya gimana?”

“Hehehe, enggak, ehmm…mau pendapat kamu aja kalau misal tiba-tiba mas Ega ngajakin aku kawin, aku harus jawab apa?”

“Nikah?”

“Iya nikah…”

“Ya terimalah, mau jawab apa lagi?”

“Langsung iya gitu?”

“Lah kan mba Ai sendiri yang udah bilang lagi nyari calon suami…”

“Iya sih…”

“Jangan sampai gantian mba Ai yang kelewat jaim lagi dan gagal lagi dan gitu terus sampai lima tahun lagi…”

“Jangan…”

“Makanya…”

“Tapi kalau kebalikannya gimana? Kalau mas Ega nya ga ngajak-ngajak serius gimana?”

“Pasti ada jalannya mba kalau emang jodoh, percaya aja…”

“Gitu ya…?”

“Iya…”

“Ammiin deh, makasih ya Adi udah dengerin aku curhat dari sore tadi, hahaha…lega deh rasanya…”

Santuy…ngomong-ngomong mas Ega sama yang lain tau mba Ai ke sini?”

“Enggak kayanya, aku tadi dadakan aja kesini abis udah bingung mau cerita ke siapa lagi…emang kenapah?” tanya mba Ai dengan lembut sambil memainkan smartphone yang ada di tangannya.

“Jodoh emang…”

“Hah? Jodoh? Maksudnya?”

“Tuh mereka bertiga…” ucap ku sambil memberikan kode ke arah belakang mba Ai. Aku melihat Rere berjalan ke arah kami dengan amat manis diapit oleh dua laki-laki di kiri dan kanannya yang tidak lain dan tidak bukan mas Arga dan mas Ega. Siapa lagi kalau bukan mereka bertiga. Kebetulan duduk ku memang menghadap ke luar, berbeda dengan mba Ai. Mba Ai langsung melihat kebelakang dan mendadak panik. Terlihat jelas dari sikapnya yang langsung memegangi rambut panjangnya yang tergerai dan mencoba merapikan sekenanya.

“Udah cantik mba, ga perlu panik gitu…” canda ku.

“Hehehe,” balasnya dengan garing. Tidak lama kemudian mereka bertiga sudah masuk ke dalam café. Tempat duduk yang aku duduki bersama mba Ai sebenernya yang untuk empat orang. Dua sofa masing-masing untuk dua orang yang saling berhadapan menghadap ke dalam dan luar café. Rere berjalan di paling depan dan duduk di samping kiri ku. Dibelakangnya ada mas Arga. Aku lalu berdiri bermaksud memberikan tempat duduk ku ke mas Arga. Tapi Rere malah geser ke posisi awal ku dan posisi yang tadi sempat di duduki olehnya diberikan ke mas Arga. Lalu dengan nada yang dibuat-buat rere meminta mas Ega untuk duduk di sebelah kanan mba Ai. Hahaha. Kena deh mereka berdua bakal jadi bahan ledekan sekarang. Dan itu akan terus terjadi sampai paling tidak benar-benar ada deklarasi yang menyatakan bahwa mereka memiliki hubungan lebih dari sebatas teman kantor dan teman nongkrong.

“Adi mau kemana?” pertanyaan yang keluar dari mulut mba Ai. Entah pertanyaan yang memang ingin tau atau sekedar agar tidak terlihat gugup. Mba Ai gugup di depan mas Ega. Hahaha.

“Ambil menu,” jawab ku sambil berlalu. “Sekalian ambil kursi juga…” tambah ku lagi.

Tidak lama aku sudah kembali dan mereka berempat langsung ngobrol dengan cair. Kecuali mba Ai dan mas Ega sih yang sepertinya malah apa ya, jadi seperti ada sekat, tapi aku yakin sekat itu hanya ada karena ada orang lain di depan mereka. Mereka masih malu dan belum siap untuk mengakuinya. Aku lalu mencatat pesanan mereka semua. Ya mereka pesan makanan juga. Di satu sisi mereka ikut memiliki café ini, tapi di sisi lain mereka adalah tamu café, dan perusahaan yang baik adalah yang tertib mencatat keluar masuknya keuangan perusahaan.

Obrolan berlanjut ke hal-hal yang santai. Mulai dari pembahasan tentang café ini tentunya, topik yang wajib. Kabar masing-masing karena dari akhir tahun kami, terutama aku sih, baru bisa bertemu lagi malam minggu ini. Suasana mall ini yang makin hari makin ramai. Distro dan outlet juga sudah hampir semua terisi. Tentu kabar baik bagi kami karena pastinya akan semakin rame dan pangsa pasar yang menjanjikan.

“Silahkan menunya kakak, kami punya menu special yang ini…untuk kopi nya punya kami juara banget lo, dijamin ga nyesel kalau nyobain,” canda ku sambil menyodorkan dua buku menu masing-masing ke mba Ai dan mas Ega dan satu lagi ke mas Arga dan Rere.

“Bisa aja lo cuy…” balas mas Arga. Aku lalu duduk membaur dengan mereka berempat dengan tempat duduk sendiri yang aku ambil tadi.

“Bibir marketing dia mah,” balas Rere.

“Otak marketing juga,” timpal mas Ega.

“Dan jiwa marketing,” mba Ai ikutan menyahut juga.

“Kalau mba Ai, belahan jiwanya mas Ega, kan?” balas ku spontan. Entah dari mana pikiran itu berasal. Terucap begitu saja. Pada ngeledekin sih.

Uhuk!!” mas Ega langsung terbatuk, entah tersedak apa, makan atau minum aja belum. Mas Arga langsung menatap ku dengan pandangan tak percaya. Rere langsung men-cie-cie-in mba Ai sambil tersenyum. Sedangkan mba Ai, mukanya sudah kaya kepiting rebus.

“Mas Ega, belahan jiwanya mba Ai juga bukan?” tanya ku masih dengan muka polos dan konyolnya.

“Pertanyaan menarik…” ucap mas Arga.

“Menarik dari hongkong!” balas mas Ega. Halah masih jaim aja nih orang tua batin ku. Mba Ai yang tadinya mukanya udah malu-malu mau mendadak berubah jadi ikut mencibir. Sama saja. Tapi lucu sih.

“Aku punya tantangan buat kalian berempat,” ucap ku yang mendadak mendapat sebuah ide brilian.

“Apaan?” tanya mas Ega.

“Iya apaan?” tanya mas Arga juga.

“Sepertinya permainan yang menarik,” lanjut Rere dengan semangat.

“Jangan yang aneh-aneh ya…” pinta mba Ai datar. Seperti biasanya dia hanya bergairah, eh maksud nya bersemangat kalau lawan mainnya mas Ega. Aku lalu berlagak sedang berfikir sambil menatap mereka satu persatu. Sebenarnya tantangannya sudah ada di kepala ku. Aku hanya membuatnya seolah-olah jadi terdramatisir aja. Dan mereka berempat jadi semakin penasaran.

“Kalau mba Ai adalah belahan jiwanya mas Ega, mas Ega akan mesenin makanan yang special buat mba Ai…” ucap ku.

“Eh kok gitu?” protes mas Ega.

“Tadi ga nolak tantangan kan? Sekarang udah ga ada alasan untuk menolak sekarang,” balas ku dengan santai.

“Tapi masa tantangannya buat gue doang? Yang lain enak dong…”

“Siapa bilang cuma buat mas Ega doang, belum selesai tantangannya,” ucap ku. “Nah, sebaliknya kalau mas Ega adalah belahan jiwanya mba Ai, mba Ai harus makan makanan yang dipesanin sama mas Ega…” lanjut ku.

“Paling juga ga di pesenin,” ucap mba Ai dengan sok cueknya. Hahaha, masih sok jaim. Dipesenin yang special beneran meleleh lu mba batin ku.

“Tau dari mana lu?” tanya mas Ega sewot. Mba Ai hanya membuang muka sambil mencibir sekali lagi.

“Terus mereka berdua apa?” tanya mas Ega merujuk pada Rere dan mas Arga.

“Kalau mba Ai atau mas Ega salah satu ada yang kalah, Rere yang bayarin makan, tapi kalau mba Ai dan mas Ega sama-sama menang, mas Arga yang bayarin makan,” jelas ku.

“Itu sih sama aja, siapa aja yang menang endingnya lo juga yang cuan…dagangan lo laku!!” ucap mas Arga. Aku hanya tertawa mendengar keluhannya. Iya juga sih.

“Hehehe, deal ya…!!” ucap ku memastikan pada mereka semua. Mas Arga dan Rere langsung menatap ke arah mas Ega dengan penuh tanya. Ditangan mas Ega lah bola panas dimulai dan penentuan siapa yang akan mentraktir kita semua malam ini. Akan kah mas Ega mengorbankan ego nya demi perasaannya? Ataukah justru mba Ai yang mengorbankan perasaannya demi ego nya? Kita tunggu jawabannya di episode selanjutnya. Ah tidak. Aku hanya bercanda. Di episode kali ini juga kok.

“A’Ega, please jangan buat Rere kalah…” rengek Rere dengan manja.

“Yeee…curang banget…masa ngerayu gitu…” protes mas Arga.

“Hihihi, santai bro, A’Ega pasti ambil keputusan dari hatinya kok, gue cuma mau bikin lo deg-deg an aja…” balas Rere.

Steak Dory Fish with Black Pepper Mashed Potato, lada nya medium aja, tingkat kematangannya juga medium, terus minumnya…Ice Chocolate Hazelnut, pakai cream vanilla sama toping Oreo,” ucap mas Ega dengan enteng, lancar dan tenang, lalu diakhiri dengan menutup buku menu dan meletakkannya di meja dengan sangat cool. Lalu memandang ke arah kami semua dengan senyum yang penuh dengan kharisma. Cool banget sih emang. A***y, ini sih mba Ai pasti bakalan meleleh. Eh salah, bukan meleleh lagi, bisa mencair sih ini mah mba Ai nya, kejang-kejang kaya ikan kehabisan air, lalu obatnya nafas buatan dari mas Ega. Dan benar saja, muka mba Ai kembali memerah seperti kepiting rebus. Mas Arga ikutan terperangah karena tak mengira mas Ega bisa hapal betul menu favourite mba Ai. Rere sebagai seorang cewek hanya cengar-cengir bahagia karena sepertinya sebentar lagi akan jadi hari bahagia buat kedua kakak-kakaknya itu.

“Sip, langsung aku buatin sendiri, special buat mba Ai,” ucap ku yang langsung beranjak ke belakang dan menyiapkan langsung menu yang dipesan untuk mba Ai. Aku sendiri yang memasak dan menyiapkannya. Dan tidak perlu waktu lama untuk menyelesaikan hidangan ini, apalagi cuma ikan menu utamanya. Setelah selesai aku langsung mengantar makanan ini ke depan lagi.

“Wuiihh…ini sih yang bukan belahan hati bisa jadi belahan hati, perfect sih ini mah, udah kaya cookie hotel bintang lima, ga salah sih kita-kita invest di sini…” ucap mas Arga begitu melihat makanan yang aku bawa. Aku akui memang sajian yang aku bawa ini dari sisi presentasinya termasuk yang terbaik yang pernah aku buat. Kalau dari rasa sih ga usah ragu lagi lah ya.

“Karena semua berharap mba Ai mau memakannya, kan? Jadi gue siapin dengan sangat special mas, lagian ga tega juga kalau mas Ega patah hati di sini, nanti bawa aura negatif ke café ini kan ga bagus…”

“Bisa aja ni anak ya, hahaha, tapi setuju sih…”

“Eh ini maksudnya patah hati gimana? Bukannya tadi cuma belahan jiwa aja, belahan jiwa kan universal artinya…” ucap mas Ega.

“Ya masa cewek sama cowok udah sama-sama ngaku belahan jiwa tapi ga ada yang special sih mas? FWB dong…?” protes Rere.

“Enak tuh FWB,” saut mas Arga yang langsung mendapat jitakan dikepalanya dari Rere.

“Aduh, sakit Re…”

“Makanya jangan nakal…”

“Jadi mau dimakan ga mba Ai ku…” goda ku padanya dengan manisnya.

“Karena aku menghargai orang yang udah capek-capek masak, ya ga mungkin sih aku ga makan ini, lagian lezat banget ini kelihatannya,” ucap mba Ai yang langsung menarik piring yang aku sajikan tadi dan memotong satu bagian kecil dari steak ikan itu, mencocolkan ke sauce yang ada dan melahapnya dengan anggun. Makan aja bisa anggun ya? iya, wanita kalau mood di hatinya lagi seneng pasti akan terlihat anggun.

“Yes!! Arga yang nraktir kita semua malam ini, hahaha, yes!! Yes!! yes!!” seru Rere dengan senangnya sambil mengangkat kedua tangannya saking girangnya.

“Iye iye…” balas mas Arga dengan sewot. Hahaha. Udah pada tua tapi yang bigini aja udah pada seneng. Receh ga sih? Tapi yang bikin aku kaget, begitupun juga dengan mas Arga dan Rere adalah satu moment ketika tiba-tiba mas Ega merengkuh bahu kiri mba Ai yang mungil itu dengan tangan kirinya, menariknya mendekat, dan mencium atas kepalanya dengan sangat lembut. Tulus sekali. Aku bisa merasakannya. Mba Ai sempat histeris sesaat namun untungnya kemudian bisa menenangkan dirinya dan pasrah diperlakukan seperti itu oleh sang pujaan hati. Rere ikut teriak so sweet dan dengan ekspresi minta di perlakukan yang sama kepada mas Arga. Mas Arga tadinya mau nurutin tapi Rere nya yang malah kemudian menjauh.

“Tenang aja mas Ar, minggu depan gantian mereka berdua kok yang bakalan kita tagih makan-makan,” ucap ku menghibur mas Arga yang…mudah-mudahan hari ini belum tanggal tua baginya.

“Ah iya, bener juga lo…dasar emang pinter…” balas mas Arga.

Kami semua lalu tertawa. Tertawa bahagia. Kami bertiga sih. Aku, mas Arga dan Rere. Mas Ega yang tadinya suka ikut tertawa dan usil mendadak jadi kalem dan terlihat dewasa setelah moment tadi. Seperti ada yang keluar dari dalam dirinya yang dia pendam dari sekian lama. Ada yang hilang. Sikap caper nya mendadak hilang. Mba Ai pun juga begitu, yang tadinya kadang masih menimpali mas Ega sekarang jadi lebih…apa ya? ayu kalau orang jawa bilang, iya ayu, karena mba Ai tidak kemayu.

“Eh, sepertinya baru aja ada yang gue lewatin ya?” sebuah suara dari arah belakang ku yang kami semua tidak menyadarinya sejak kapan pemilik suara itu datang. Mungkin karena sakin senangnya.

“Eh Ratna, asik Ratna datang juga…” sapa mba Ai.

“Hehehe, ada apa sih?”

“Ah enggak…”

“Ada yang abis jadian Rat…hihihi…” balas Rere.

“Eh, siapa? Adi sama mba Rere ya?”

“Yeee, bukan dodol, masa kita jadian tapi kita juga yang nginfoin…” protes ku ke Ratna.

“Oh, ya ampun, mba Ai sama mas Ega yah, hihihi, selamat-selamat…jadi ini ngumpul dalam rangka perayaan ya?” tanya Ratna.

“Betul sekali…”

“Nambah satu orang lagi deh…” ucap mas Arga lesu sambil menepuk jidatnya yang diiringi dengan gelak tawa kami semua. Ratna yang belum tau permainannya pun ikut tertawa saja karena kami semua akan makan besar malam ini. Trus gue sama Rere jadiannya kapan? Nanti kalau gue udah punya dua rumah, tiga mobil, empat hotel, dan lima restoran.



###



Beberapa hari yang lalu waktu Ratna datang sendirian ke café itu ternyata Gadis sedang nyiapin keberangkatannya ke Amerika besokannya. Ya, sekarang dia lagi di sana. Jemput papa katanya. Sekalian liburan. Dan aku baru tau malam itu dari Ratna. Ya ga apa-apa juga sih. Mungkin emang akunya yang lagi sibuk-sibuknya dan Gadis ga mau mengganggu konsentrasi ku yang lagi ngembangin café. Alhamdulillah sih. Café yang di Cinere sudah semakin auto pilot aja. Aku sudah mempercayakan tempat itu pada mba Sintya. Hanya beberapa kali saja akau ke sana. Kadang aku merasa perjalanan ku ini terlalu gampang. Bersyukur sih. Dan mudah-mudahan seterusnya akan terus diberikan kelancaran. Lalu tiba-tiba Rahma berjalan di depan ku dengan…hmmm…

“Kalau pakai baju yang bener napa sih de…” ucap ku padanya.

“Eh salah ya? hehehe…”

“Menurut mu?” tanya ku balik. Ga seperti biasanya pagi ini dia cuma pakai celana pendek yang pendek banget. Mungkin cuma seperempat pahanya yang ketutup. Beli dimana ni anak celana kaya gini batin ku. Atasannya juga ga kalah tipis, cuma tanktop yang press body warna putih yang belahannya rendah banget dan bra nya yang nyeplak kemana-mana.

“Kan cuma ada kakak sama mama di rumah…”

“Justru karena ada kakak…maka…”

“Dih…piktor ya? dasar mesum…!!”

“Kakak kan masih normal…”

“Ya udah, tinggal pandangan lurus ke depan aja, jangan nengok ke sini makanya…” ucapnya yang sekarang duduk di sebelah kanan ku.

“Sakit leher yang ada…”

“Salah kakak sendiri punya pikiran kotor…”

“Jangan salahin kakak kalau…” tantang ku.

“Apa?” tantang balik Rahma sambil membusungkan dadanya ke arah ku. Bulet sih, tapi itu punya ade gue sendiri a***y.

“Ini pada kenapa sih?” tanya mama yang tiba-tiba datang dan duduk di antara aku dan Rahma.

“Kakak tuh ma, suka nyampurin hidup orang lain,” ucap Rahma.

“Maksud kamu kakak itu orang lain?”

“Ada apa?”

“Kakak tadi cuma ngingetin dia ma kalau pakai baju di rumah itu yang bener, gitu…” ucap ku. Mama lalu menatap ke arah Rahma. Sempet geleng-geleng kepala sebentar lalu memeluk kami berdua.

“Ade kok ga dengerin nasehat kakak?” tanya mama sambil mengusap rambut ade gue itu. Tidak ada jawaban, tapi aku bisa mendengar suaranya yang nyengir garing.

“Kan papa udah ga ada, sekarang kalau bukan nasehat kakak sama mama yang kamu denger, mau ikut siapa lagi?” tanya mama lagi.

“Hehehe, iya-iya ma ma’af, tadi Rahma iseng aja kok, hehehe.”

“Dasar kamu itu seneng banget ngisengin kakak kamu, ya udah…ganti baju dulu sana sayang, mama mau ngomong bentar sama kakak kamu,” pinta mama ke Rahma. Dengan agak malas anak itu lalu bangkit dan pergi ke kamarnya. Meninggalkan ku dengan mama berdua. Entah apa yang akan dibicarakan mama.

“Ngomong apaan mah?” tanya ku.

“Kamu udah tau kan Gadis ke Amerika minggu kemarin?”

“Iya udah tau kok…”

“Kamu tau kenapa?”

“Liburan katanya…iya kan?”

“Iya…tapi…ehm…ada lagi…”

“Ada apa lagi?”

“Nanti pas balik ke Jakarta mas Wira ikut juga,” ucapnya sambil memegang lengan kanan ku dengan kedua tangannya. Pasti ada sesuatu yang penting yang akan di ucapkan mama.

“Terus?”

“Kakak jangan marah ya, ehm…mas Wira mau melamar mama nanti…”

“Oooh…”

“Tuh kan, kalau kakak masih belum siap mama masih bisa menunggu kok…”

“Bukan masalah siap ga siap ma, cepat atau lambat pak Wira pasti akan minta mama balik lagi, itu udah pasti, dan meskipun pak Wira adalah ayah biologis kakak, tapi tetep ayah nya kakak ya cuma ayah, ga akan ada yang bisa gantiin, dan karena kakak masih jadi anaknya mama, mama ga perlu minta ijin ke kakak, selama mama udah siap lahir dan batin, insyallah kakak juga siap,” ucap ku sambil mengusap punggung tangan mama sambil menitikkan air mata kembali. Ya, tidak ada yang tidak akan menangis jika kita teringat orang tua kita yang sudah tiada.

“Ma’afin mama kak…”

“Iya mama…hehehe, yang penting sekarang adalah kita semua bisa bahagia bersama…tidak peduli pendamping mama siapa.”

Kami pun larut dalam suasana haru. Ayah yang ternyata bukan ayah biologis ku masih menjadi ayah terbaik untuk ku. Pak Wira memang baik, tapi dia tidak ada disaat kami dulu butuh perlindungannya. Bukan dia yang muncul disaat dulu aku butuh sosok seorang ayah. Aku tidak menyalahkannya. Perjalanan keluarga kami memang sangat panjang. Sama sekali aku tidak pernah menyalahkannya, apalagi membencinya. Tapi sampai detik ini aku masih belum bisa menerimanya seratus persen sebagai ayah ku sendiri. Hanya itu saja.





[Bersambung]
 
Sbo Hoki Online   Senior Bola Online
Jav Toys
9 club   Gaple Online Indonesia
Pasang iklan hanya lewat CONTACT US
Top
Semprot is now part of PAGCOR