Toto Alpha - Agen Bola  Togel Matrix
Bandar Togel Online
Bet 88 Me Online   Bet 88 Me Online
TexasPoker.cc
Tahun QQ, Agen Bola   Gading Kartu
Simpati QQ   artistoto online
cintaseleb online   indonesiawla online
aladin cash online   premier 188 online
lenovo poker online   dinasti poker online
negara qq online   serba qq online
pemain kasino online   hobi casino online
serba casino online   dewan cash online
365indopoker online   Generasi Poker online
Pasang iklan, hanya lewat Contact Us, bukan lewat WA / BBM / dll.
Waspada penipuan iklan. Klik di sini untuk melihat daftar penipu.
V9bet   Live Score Today
Kakak Dewa - Online Bet   Beriklan
Senior Bola - Agen Bola
Beriklan
  1. Alamat alternatif sudah baru gan.
    Bookmark alamat ini gan :  https://tinyurl.com/cintasemprot 
    Jangan bookmark alamat IP-nya.
    Ikuti update terbaru dari semprot (maintenance dll) dari : / Facebook
  2. Login / daftar ? klik di sini
    Lupa password ? klik di sini
  3. Tidak bisa melihat gambar di thread?
    Kalau dari PC, matikan Ad Blocker.
    Kalau dari HP, jangan pakai UC Browser. Pakai Chrome / Firefox / Opera Mini.
    Tutup

[CERBUNG] Perjalanan menuju tobat [TAMAT]

Thread di 'Cerita' dimulai oleh marsena, 29 Jun 2018.

  1. marsena

    marsena Semprot Kecil
    Thread Starter

    Daftar:
    14 Jan 2018
    Post:
    78
    Like Diterima:
    261
    Jenis Kelamin:
    Pria
    1. Santri baru
    PESANTREN. Apa yang kalian bayangkan setelah mendengar kata itu ?. Pasti yang ada dipikiran kalian adalah tempat sekumpulan anak alim yang ssudah berkali-kali khatam bahkan ssudah hafal Al-Quran. Tetapi pendapat itu sangat bertentangan dengan yang gue alami sebagai anak pesantren. Nama gue Hanif Ramadhan biasa dipanggil Hanif. Pada saat kelas 3 SMP gue ingin melanjutkan ke pesantren.

    “Hanif lulus SMP mondok aja ya,” bujuk ibu gue.

    “Emang kalo mondok enak gak?” tanya gue yang saat itu memang lagi bingung ingin melanjutkan kemana.

    “Enak kok nanti kamu bisa jadi ustad dan ngedoain orangtua kamu masuk surga,” jawab ibu gue.

    “Dikasih uang jajan gak?” tanya gue penasaran.

    “Iya,” balas ibu gue.

    “banyak gak?”.

    “banyak kok Rp 450.000 per bulan,“kata ibu gue. Akhirnya dengan alasan itu gue pengen masuk pesantren. Bukan karena pengen jadi ustad terkenal, tapi gue pengen uang jajan yang banyak.

    Hari Senin usai upacara, kelas gue heboh gara-gara anak kelas sudah pada tahu gue pengen pesantren gue sudah kayak Artis yang dikerubungin penggemar. Mereka menanyakan kabar burung tentang gue yang mau masuk pesantren.

    “Bro kalo sudah jadi ustad jangan lupa doain gue ya,” kata Deni anak juragan tanah di kampung gue. Pada saat jam pelajaran pertama adalah pelajaran pak Tarno wali kelas gue. Pada saat pak Tarno melaksanakan ritual absen akhirnya nama gue disebut.

    “Hanif Ramadhan” ujar pak Tarno mengabsen.

    “Hadir pak” jawab gue.

    “Oh kamu yang mau nerusin ke pesantren ya. Kamu nanti baik-baik disana ya jaga nama baik sekolah kalo sudah lulus jangan lupa ngajar disini ya,” ujar pak Tarno.

    Gila gue gak nyangka kalo kabar ini telah tersebar kemana mana bahkan sampai di kalangan pejabat sekolah. Pada saat istirahat gue ketemu sama Simon. Dia itu anak paling bandel di sekolah gue.

    “Eh elo Nif. Lo jadi ke pesantren?” tanya Simon.

    “Iyalah memang kenapa?”.

    “Lo mau jajan ya? silahkan hari ini lo jajan sepuasnya gue yang traktir tapi jangan lupa kalo sudah jadi ustad doain gue ya semoga gue jadi orang sukses” senyum Simon.

    “Wah kesempatan nih buat ngebales si Simon yang pernah ceburin gue ke empang waktu pulang sekolah kemarin” kata gue dalam hati.

    “Oh yasudah kalo gitu gue pengen bakso, gorengan, roti, es buah, keripik, sama tango 1 ya” pinta gue.

    “Gila lo mau malak gue apa?” bentak Simon.

    “mau gak ?” kata gue dengan nada santai. Akhirnya duit bekal gue utuh hari ini dan pulang dengan perut kenyang karena gue ditraktir Simon. Terkadang pesantren itu bisa jadi alasan untuk melegalisasi semua kegiatan gue di rumah. Gue bebas meminta dan melakukan apapun selama masih di rumah.

    “Hanif matiin TV nya bentar lagi solat magrib” ujar ibu.

    “Ah ibu kan lagi rame” kata gue ngeles.

    ”Sholat dulu baru nonton TV lagi!!” bentak ibu gue.

    ”Kan nanti di pesantren gak ada TV” ujar gue memelas.

    “Oh yasudah tapi jangan lupa solat magrib ya” kata ibu gue. Gila pertama kali gue ngerasain kayak raja. Semua yang gue mau diturutin. Bahkan kalo gue minta kawin mungkin bakal dilamarin. Walaupun semua kemauan gue diturutin gue tetep seperti sapi yang dimanja sebelum dipotong waktu Idul Adha. Akhirnya tibalah hari keberangkatan gue. Warga sekampung heboh ngelepasin gue ke pesantren. Gue diarak keliling kampung. Segelintir doa warga kampung mengiringi kepergian gue ke pesantren. Ibu dan adik gue nangis melepas gue ke pesantren. Gue diantar ayah gue ke pesantren. Jarak pesantren ke kampung gue 7 jam perjalanan. Tapi gue ngerasa perjalanan ini sungguh berat dan lama. Gue kayak teroris yang dibawa pake mobil tahanan buat diantar ke tempat eksekusi hukuman mati.
    Pesantren Darussalam adalah tempatku menuntut ilmu sampai 3 tahun kedepan. Usai daftar ulang ayah langsung pamit pulang. Gue diantar pegawai pesantren ke kamar asrama gue. Kamar gue nomor 13. Beberapa temen gue pernah bilang kalo angka 13 itu angka sial. Entah kesialan apa yang menimpa gue nanti dan gue berharap itu tak akan pernah terjadi. Gue sekamar sama santri dari Maluku, Medan, dan Jakarta. Thomas berasal dari Maluku. Yang dari Medan namanya Rudi dan yang dari Jakarta namanya Boni. Setiap hari gue bangun jam 3 subuh buat solat sunnah tahajud dilanjut baca Al-Quran sampai subuh dan lanjut menghapal Al-Quran sampai jam 6. Di pesantren ini sistem senioritas berkembang pesat layaknya IPDN. Para senior biasanya tidak suka dipanggil tanpa inisial “mas” di depan nama mereka. Apabila para junior seperti gue tidak tahu tentang aturan tidak tertulis ini bisa-bisa dibully semalaman dan itu hampir terjadi pada gue. Malam itu gue sama temen sekamar gue lewat di depan senior yang lagi pada nongkrong di depan masjid tanpa permisi dan bilang mas.

    “Heh anak baru kenapa lo gak manggil gue pake “mas”,” tanya senior. Kita berempat gemeteran ngeliat muka-muka senior yang kayaknya sudah siap menelan kita bulat-bulat.

    “Ampun mas, maaf kita gak sengaja lewat tanpa permisi,” kata Rudi dengan logat bataknya.

    “Lo ngomong apa ngajak ribut!” gertak salah satu senior yang mendengar logat bataknya.

    “Kita mau minta maaf bukan mau ngajak rebut, mas,” ujar Boni.

    “Wah nih bocah dibilangin malah nyolot sudah kita giring aja ke lantai 2,” usul salah satu senior yang sepertinya pemimpin gerombolan ini. Akhirnya kami diinterogasi habis-habisan semalaman.

    “Heh lo mau nyari ribut sama kita?” tanya salah satu senior.

    “Kita tidak mau cari ribut mas, kita mau pulang ke kamar mau tidur,” ujar gue.

    “Wah nih bocah dibilangin malah nyolot lo mau gue lempar dari lantai 2!!” teriak salah satu senior. Kita berempat mulai cemas keringat dingin bercucuran membasahi tubuh kami. Gue ngebayangin kalo kita bener-bener dilempar dari lantai 2 dan masuk berita koran dengan headline “Heboh 4 santri bunuh diri lompat dari lantai 2 masjid diduga stress karena tidak bisa menghafal kitab kuning,”.

    “Woi gue nanya dijawab dong,” kata sang pimpinan rombongan. Tiba-tiba terdengar suara langkah mendekati tempat pembataian anak baru.

    “Woi kalian semua ngapain bukannya tidur !!” teriak ustad Maulana. Akhirnya kami selamat malam itu. Hari-hari kami lewati dengan berat. Setiap hari sehabis shalat ashar kita harus menyetor hafalan Al-Quran kita. Kalo sudah begini kita berempat pasti keluar paling buncit karena kami paling susah menghapal Al-Quran. Setiap hari kami makan di warteg depan pesantren. Sebenarnya pesantren menyediakan catering tapi dengan lauk sayur,tempe tahu,dan ikan asin. Tapi karena rasanya gak seenak buatan emak gue dan harganya lumayan, gue memilih warteg sebagai pengisi perut gue karena harganya lebih murah. Setelah sebulan belajar di pesantren kami berempat mulai bosan di pesantren. Jiwa kami tidak bebas terikat aturan yang menurut kami memuakkan. Akhirnya malam itu kami berempat memutuskan untuk kabur.
     
    Indo Sniper
  2. marsena

    marsena Semprot Kecil
    Thread Starter

    Daftar:
    14 Jan 2018
    Post:
    78
    Like Diterima:
    261
    Jenis Kelamin:
    Pria
    2. Kabur dan kesialan di sekolah
    “Bro, kita jadi kabur main malam ini ?” tanya gue ke Boni ketua koordinator rencana kabur.

    “Ya iyalah kita kabur setelah Mas Parjo ngecek kamar sudah gitu kita kabur lompat pagar belakang WC. Ok,” jelas Boni mantap.

    “Siap boss,” ujar kita kompak. Pesantren ini mempunyai pagar setinggi 2 meter. Setiap minggu selalu saja ada santri yang kabur lompat pagar. Tidak jarang pula mereka ketahuan dan langsung dibotak di tengah lapang. Menurut gue kalo ada lomba olimpiade lompat pagar tingkat dunia santri Pesantren Darussalam pasti jadi pemenangnya. Waktu menunjukkan pukul 23.30. Pasukan pengemban misi suci telah berkumpul di toilet dan bersiap untuk kabur melompat pagar yang pertama kalinya.

    “Woi ingat ya setelah kita lompat pagar, kita kumpul di deket indomaret pinggir jalan. Ok,” ingat Boni sang komandan.

    “Siap gan mulai dari gue dulu ya,” ujarku bersiap.

    ”Iya lo duluan Nif cepetan lompat sana,” ujar Rudi. Setelah lompat pager kita menunggu teman Boni dari kampung sebelah yang mengajak mereka nonton layar tancep.

    “Bon, mana temen lo ? kok lama banget sih,” kata Thomas.

    “Sabar bro orang sabar disayang tuhan,” ujar Boni.

    “Dimana-mana orang sabar disayang tuyul,” sela gue. Akhirnya temen si Boni dateng juga. Namanya Jarwo. Dia adalah jagoan dari kampung sebelah. Dia satu sekolah dengan kami tetapi dia adalah kakak kelas kami. Setelah beberapa lama kita berjalan akhirnya kita sampai di TKP. Para warga ssudah ramai berkumpul di lapangan. Layar tancep memutar film tentang kisah Kian Santang. Karena terlalu asyik menonton gue gak sadar sudah ditinggalin sama temen gue. Disaat gue panik mencari temen gue, tiba-tiba gue disamperin preman yang lagi mabuk.

    “Heh serahin duit yang lo punya atau gue keluarin usus lo dari perut lo !!” ancam sang preman sambil nodongin pisau besar yang biasanya digunakan untuk motong daging. Ampun… sial banget sih gue malem ini, kebelet pipis lagi aduh... . Disaat kritis seperti itu datanglah malaikat penyelamat gue. Siapa lagi kalo bukan Jarwo jagoan kampung ini.

    “Bang kita ngomong bentar yuk disana” kata Jarwo kepada sang preman. Jarwo dan preman pun pergi meninggalkan gue. Gue berdoa supaya si Jarwo selamat dan ususnya gak ditusuk-tusuk jadi sate usus. Beberapa menit kemudian si Jarwo datang dengan gaya santai. Dalam hati gue lega tapi gue penasaran gimana tuh anak bisa selamat dari preman.

    “Bro, lo gak apa-apa kan ?” tanya gue cemas.

    “No problem bro woles aja,” jawab Jarwo santai.

    “Ngomong-ngomong tuh preman lo apain ?” tanya gue penasaran.

    “gue hajar terus gue ceburin ke empang. Problem?” tanya Jarwo. Gue Cuma bisa geleng kepala mendengar cerita si preman kampung.

    Keesokan harinya kami pergi ke sekolah bersama sama. Pada jam pelajaran terakhir gue sudah ngantuk banget gara gara begadang semalem. Pelajaran terakhir adalah Agama Islam. Guru pengajarnya bernama pak Palkon. Nama aslinya sebenarnya adalah Abdullah, tetapi karena beliau sering menganjurkan bila setiap buang air harus membersihkan palkon akhirnya beliau dipanggil pak Palkon. Beliau adalah guru yang suka bercanda, tetapi apabila ada murid yang melanggar peraturan beliau akan langsung menghukumnya. Pada kali ini beliau menyampaikan materi tentang hadist.

    “Anak-anak terutama untuk laki laki apabila kalian selesai buang air jangan lupa membersihkan palkonnya ya karena kebersihan sebagian dari iman” kata Pak Palkon mengawali kegiatan mengajarnya. Karena gue sudah terlalu ngantuk, akhirnya gue tertidur. Namun ketika sedang tertidur pulas malapetaka datang menimpa gue.

    “Muhammad Hanif,” ujar Pak Palkon.

    “Hah….oh….iya pak,” jawab gue yang baru bangun tidur.

    “Tolong jelaskan apa bedanya hadist sahih dengan hadist dho’if,” tanya pak Palkon. Mati gue mana gue gak merhatiin lagi.

    “Cepat, jawab!!” bentak pak Palkon. Gue lirik kanan kiri siapa tahu ada murid dermawan yang mau ngasih tahu.

    “Makannya kalo saya nerangin perhatiin jangan tidur. Sekarang kamu saya hukum menghormat bendera sampai pelajaran selesai biar kamu gak ngantuk lagi” kata pak Palkon disertai sorakan kebahagiaan teman sekelas gue melihat gue dihukum.

    “Ah…. Sial banget gue hari ini,” keluh gue waktu pulang sekolah bareng sohib gue.

    “Oh iya tadi gue liat lo ngehormatin bendera sampe pulang ya,” ujar Boni.

    “Lo dihukum sama pak Palkon ya?” tanya Thomas. Gue menganggukkan kepala.

    “Kesalahan lo apa emang? Kok sampe dihukum ngehormatin bendera segala,” tanya Rudi penasaran.

    “Gue ketahuan tidur di kelas pas pelajaran pak Palkon,” jawab gue.

    “Haha……. Koplak banget sih lo” ujar Boni dan Rudi. Sementara Thomas tertawa terbahak- bahak. Gue tersenyum kecut melihat tingkah sohib-sohib gue.

    “Eh bro di kelas beta ada murid baru cakep banget” ujar Thomas.

    “Ah yang bener lo bro ? Siapa namanya?” tanya Boni antusias. Boni memang dikenal playboy cap gayung. Jadi kalo ada cewek bening pasti langsung dideketin. Boni emang paling antusias kalo masalah kenalan sama cewek cakep. Semua cewek cakep di pesantren dan sekitarnya si Boni pasti tahu. Kalo ada yang Tanya ke Boni tentang isi kitab kuning pasti dia gak tau, tapi kalo ditanya berapa nomor HP Aisyah cewek manis di pesantren dari Bandung itu baru si Boni tahu.

    “Namanya Bella bro dia pindahan dari Jakarta,” ujar Thomas.

    “Nanti kenalin ke gue ya,” pinta Boni.

    ”Itu masalah gampang bro yang penting lo berani bayar berapa heheheh,” tawa Thomas.

    “Ah lo bisa aja bro ntar kalo gue sudah pacaran sama dia gue traktir baso deh buat lo bertiga” jawab Boni. Kami bertiga tertawa mendengar janji Boni.
     
  3. Blue_Sapphire

    Blue_Sapphire Semprot Lover

    Daftar:
    12 Aug 2018
    Post:
    288
    Like Diterima:
    1.339
    Jenis Kelamin:
    Pria
    Lokasi:
    Guriang Tujuh
    Lanjut suhu..
     
  4. marsena

    marsena Semprot Kecil
    Thread Starter

    Daftar:
    14 Jan 2018
    Post:
    78
    Like Diterima:
    261
    Jenis Kelamin:
    Pria
    3. Definisi cewek cantik
    2 hari kemudian si Boni curhat ke gue. Wajahnya terlihat bahagia sekali. Seskali ia tersenyum sendiri mirip orang gila yang biasanya lewat di depan pesantren. Entah kejadian apa yang dialaminya sehingga membuatnya sangat bahagia.

    “Nif gue tadi baru kenalan sama si Bella dong,” ujar Boni tersenyum.

    “Ah yang bener lo bro?” tanya gue.

    “Tadi siang gue dikenalin sama si Thomas,” jawab Boni.

    “Terus gimana orangnya?” tanya gue penasaran.

    “Gila bro orangnya manis banget, baik, feminim banget deh pokoknya” cerita Boni. Gue mendengarkan cerita Boni sambil membayangkan sosok Bella.

    “Kayaknya gue jatuh cinta sama dia,” lanjut Boni. Gue terkejut mendengar pernyataan Boni. Dia memang playboy asrama tapi gue belum pernah melihat Boni jatuh cinta pada pandangan pertama.

    “Gila ... lo bro baru sekali bertemu sudah langsung suka aja,” ujar gue.

    “Iya bro dari sekian cewek yang gue kenal baru kali ini gue suka pada pandangan pertama,” ujar Boni.

    ”Emang secantik apa sih Bella?” tanya gue penasaran.

    “Cantik banget bro matanya itu loh bro bening banget bikin gue klepek klepek,”jawab Boni. Jujur baru kali ini gue liat si Boni jatuh cinta pada pandangan pertama dan gue penasaran banget sama anak baru yang bikin si Boni klepek-klepek.

    “Bro malam minggu kabur lagi yuk” usul Rudi sehabis salat isya. Saat ini kita memang sedang bosan dengan suasana dan aktivitas padat di pesantren. Kita butuh refresing untuk memperbaiki otak kita yang terbakar karena hafalan Al-Qur’an dan hadist yang tidak ada habisnya.

    “Mau kemana lagi kita bro” tanya gue.

    “Kemana lagi kalo gak ke rumah si Jarwo” jawab Rudi.

    “Ok lah gue setuju kita kabur pas malam minggu kan gak ada hafalan Al-Qur’an di malam minggu” ujar si Boni semangat.

    “Lo sendiri gimana tom” Tanya gue yang melihat Thomas melamun dari tadi.

    “Kalo beta ikut aja sama kalian “ jawab Thomas.

    “Ok jadi sepakat ya kita kabur malam minggu” jawab gue.

    “Ok bro” jawab mereka kompak. Sabtu sore seusai salat ashar kita berkumpul di halaman masjid menyusun rencana kabur malam ini.

    “Jadi operasi dimulai setelah Mas Parjo ngecek kamar kita terus ngumpul di kamar mandi belakang ok” Susun Boni. Dia memang sudah terbiasa menyusun rencana untuk kabur. Bahkan dia sering dimintai nasihat untuk para pelompat pagar amatir yang ingin menghirup udara bebas diluar pesantren. Dia seperti panglima pasukan bagi para pengemban misi suci anak pesantren yang ingin merasakan indahnya kebebasan.

    “Siap bos” jawab kami kompak. Malam harinya kami berkumpul di kamar mandi belakang. Waktu menunjukkan pukul 23:59.

    “Bro sudah pada ngumpul semua belum?” bisik Boni.

    “Siap, gan” jawab kita kompak.

    “Sebelum kita melaksanakan misi kita yang kedua kalinya mari kita berdoa kepada Allah SWT agar misi kita dimudahkan oleh Allah SWT berdoa dimulai” ujar Boni menadahkan tangannya.

    “Et..dah mau kabur aja make berdoa segala,”celoteh Rudi.

    “Ini demi keselamatan kita bersama” jawab Boni. Setelah kita berdoa sejenak satu per satu kami melompati pagar. Aksi berlangsung lancar sampai ke rumah Jarwo.

    “Lo semua ngapain kesini” Tanya Jarwo yang terlihat kaget melihat kedatangan kita.

    “Kita mau main aja bro, bosen di pesantren” jawab Boni.

    “Lo semua datang mendadak banget sih datangnya gak bilang bilang dulu” ketus Jarwo.

    “Ya maaf bro tadi di sekolah gue mau ngasih tau tapi gue lupa” senyum Boni.

    “Terus kita ngapain nih” tanya gue.
    “Gak tau dah” jawab Jarwo.

    “Yah… nonton layar tancep aja yuk. Masa sudah capek-capek kesini gak ngapa-ngapain” ajak Thomas.

    “Malam ini gak ada layar tancep bro tukang layar tancepnya sudah pindah ke desa sebelah” jawab Jarwo.

    “Lha terus kita ngapain dong” tanya Boni.

    “Mendingan kalian nginep aja di rumah gue kebetulan orang tua sama adik gue lagi pergi ke rumah nenek gue” usul Jarwo. Akhirnya mereka semua menginap di rumah Jarwo.

    “Bro lo semua mau gak gue kenalin gak sama cewek kompleks sebelah cakep banget kayak orang China” Tanya Jarwo saat kita sedang asyik bermain poker.

    “Ah… yang bener lo” ujar Boni antusias.

    “Kapan gue pernah bohong sama kalian? kan lo semua best friend gue” senyum Jarwo.

    “Ok deh.. boleh juga tuh. Hitung-hitung buat nambah koleksi nomor HP” ujar Boni.

    “Kalo mau lo semua ikut gue besok pagi jam 07:00 biasanya hari minggu dia suka lari pagi” kata Jarwo. Keesokan harinya kita nongkrong di depan kompleks menunggu cewek cakep yang kata si Jarwo mirip orang China.

    “Masih lama gak sih” tanya Boni yang sudah tidak sabar.

    “Woles bro bentar lagi juga dia nongol” jawab Jarwo. Setelah 15 menit kami menunggu akhirnya dia datang juga. Gue akuin dia emang cantik banget mirip artis korea di film yang biasa ibu gue tonton. Dia datang dari arah yang tidak diduga-duga berlari kearah kami.

    ”Guk….guk…” suara gonggongan anjing membuyarkan lamunan kami.

    ”Hai Angel” sapa Jarwo.

    “Eh.. Jarwo ngapain?” tanya Angel tersenyum. Sumpah suaranya halus banget. Senyumnya juga bikin diabetes gue kambuh.

    “Ini temen gue pada mau kenalan sama lo” ujar Jarwo.

    “Hai nama gue Boni” ujar Boni sambil menjulurkan tangannya.

    “Angel” sambil tersenyum menyalami Boni. Ketika Boni menyalami Angel anjing besar yang dibawa Angel menyalak.

    “Guk.. guk… guk..” sumpah anjingnya galak banget. Anjing yang dibawa Angel adalah jenis anjing Helder yang biasanya membantu polisi untuk menangkap penjahat. Sepertinya dia gak rela majikannya kenalan sama santri dekil bertampang kriminal seperti kami. Setelah kami semua berkenalan kami bergegas pergi karena takut digigit sama anjingnya. Gue berpendapat bahwa cewek cakep yang punya anjing segede king kong bikin cowok yang mau deketin bakal ilfeel. Ternyata ketika kami kabur pada minggu pagi ada kerja bakti mendadak. Kami pun menjadi buronan Mas Parjo yang mencari kami kemana-mana. Setelah kami kembali ke pesantren malamnya kami di sidang oleh ustadz ilham.

    “Waktu teman teman kalian kerja bakti kalian pergi kemana?” tanya ustadz Ilham.

    “Kami kabur dari pesantren pak” kata Boni.

    “Kenapa kalian kabur dari pesantren? Sudah gak betah belajar disini?” tanya ustadz Ilham. Kami semua terdiam tak ada yang berani menjawab.

    “Sekarang kalian saya hukum berdzikir semalaman dan kalian akan diawasi oleh saya!!” bentak ustadz Ilham. Gila bisa-bisa kita berempaat jadi wali songo kesepuluh karena mendadak banyak berdzikir. Akhirnya kami begadang semalam suntuk sambil berdzikir bersama ustadz Ilham.
     
    Trisha_cy, gebleh67 dan Blue_Sapphire menyukai ini.
  5. Blue_Sapphire

    Blue_Sapphire Semprot Lover

    Daftar:
    12 Aug 2018
    Post:
    288
    Like Diterima:
    1.339
    Jenis Kelamin:
    Pria
    Lokasi:
    Guriang Tujuh
    Pertamina..



    Makasih suhu buat update'annya..
    Izin baca dulu..:baca:
     
  6. marsena

    marsena Semprot Kecil
    Thread Starter

    Daftar:
    14 Jan 2018
    Post:
    78
    Like Diterima:
    261
    Jenis Kelamin:
    Pria
    Ok suhu ... ditunggu kritik dan sarannya ... happy reading
     
  7. Dastano

    Dastano Kakak Semprot

    Daftar:
    20 Mar 2016
    Post:
    151
    Like Diterima:
    62
    Nampaknya seru nih petualangan 4 sekawannya
     
  8. marsena

    marsena Semprot Kecil
    Thread Starter

    Daftar:
    14 Jan 2018
    Post:
    78
    Like Diterima:
    261
    Jenis Kelamin:
    Pria
    4. Ketika santri jatuh cinta
    Setelah beberapa hari setelah kami dihukum oleh ustadz Ilham gue melihat wajah Boni selalu bahagia. Bahkan belakangan ini dia getol banget baca Al-Qur’an dan kitab kuning. Sepertinya ada sesuatu yang bisa membuat playboy cap gayung itu berubah 180ᵒ. Seminggu kemudian si Boni curhat ke gue.

    “Nif gue mau cerita nih” kata Boni.

    “Curhat apaan” tanya gue penasaran.

    “Gue tadi siang habis pulang sekolah nembak si Bella” jawab si Boni.

    “Ah… yang bener lo” Tanya gue terkejut gak percaya.

    “Serius bro. Habis pulang sekolah tadi gue ngajak dia pergi ke lapangan deket terminal angkot itu” cerita si Boni.

    “Lu nembak dia disitu?” Tanya gue penasaran.

    “Iya, tempat itu kan lumayan romantis buat nembak” jawab si Boni.

    “Ah gila lo. Romantis apaan kayak gak ada tempat lain aja itukan lapangan dulunya kuburan china” ujar gue tertawa.

    ”Jangan liat sejarah itu tempat yang penting suasananya pas dan mendukung buat nembak dia” jawab Boni.

    “Terus hasilnya gimana?” tanya gue.

    “Woles dulu bro denger dulu ceritanya” jawab Boni. Gue pun mendengarkan curhatan playboy asrama cap gayung itu dengan antusias.

    “Setelah gue bawa dia ke lapangan itu kebetulan kondisinya mendukung” cerita Boni.

    “Di saat angin berhembus pelan membuat ilalang bergoyang dan terdengar suara kicau burung disaat itu gue bacain puisi di depan dia” lanjut Boni. Gue masih mendengarkannya dengan rasa penasaran.

    “Setelah gue bacain puisi itu di depan dia langsung gue tembak dia” lanjut Boni.

    “Terus hasilnya?” tanya gue penasaran.

    “Gue diterima bro si Bella terharu mendengar puisi dari gue” tawa Boni.

    “Gila lo, coba sini gue liat puisinya” kata gue sambil mengambil kertas puisi si Boni.

    I think I'm in love for the first time And it's making my heart confused Tell me what exactly happened How I wonder it will be
    You're touching my heart and my soul While your hands in my hands indeed Tell me what exactly happened Makes me feel I'm drowning too deep Seems weird for meI will never let this feeling cold
    If You were mine Sharing all ups and downs I'm gonna be around And forever it would be
    Cause I'm falling in love I'm falling in love Yes, I'm falling in love I'm falling in love Yes, I'm falling in love Im falling in love with you
    You're touching my heart and my soul While your hands in my hands indeed Tell me what exactly happened Makes me feel I'm drowning too deep Seems weird for meI will never let this feeling cold
    If You were mine Sharing all ups and downs I'm gonna be around And forever ...
    Cause I'm falling in love I'm falling in love Yes, I'm falling in love I'm falling in love Yes, I'm falling in love Im falling in love with you
    Cause I'm falling in love I'm falling in love Yes, I'm falling in love I'm falling in love Yes, I'm falling in love Im falling in love with you With you....​

    Kambing gila pantesan si Bella klepek-klepek dengerin puisi si Boni yang romantis abis hati gue aja meleleh membacanya. Walaupun kayaknya ada sesuatu yang ganjil saat gue membaca isi puisinya.

    ”Gila lo puisi lo mantep banget apa rumusnya? Kasih tau gue dong” tanya gue.

    “Asal lo tau ya itu puisi kan lirik lagu dari J-Rock yang Falling in love” jawab Boni tertawa. Pantas saja ketika gue baca kayak mirip lirik lagu. Gue cuma geleng kepala melihat kreativitas Boni yang sudah terlewat batas.

    ”Ngomong-ngomong lo belajar bahasa inggris dimana setau gue lo kan gak bisa bahasa inggris” tanya gue penasaran.

    “Gue gak belajar bahasa inggris kok orang nilai ulangan bahasa inggris gue aja kemaren dapet 5,5” jawab Boni.

    “Lah terus lo gimana caranya translet itu lirik ke bahasa inggris?” tanya gue.

    “Kan gue tahu kalo si Bella itu suka sama bahasa inggris jadi gue copas lirik lagu J-Rock yang bahasa Indonesia terus di translet ke bahasa inggris pake google translet” jawab Boni.

    ”Dasar koplak. Bisa aja kutil badak yang satu ini. Gue kirain lo sudah paham bahasa inggris kayak bule di TV” ujar gue tertawa.

    ”Ya nggak lah ajaib gue bisa ngerti bahasa gak jelas itu” jawab Boni tertawa.

    “Haha... lagian muka lo juga gak cocok kalo ngomong bahasa inggris. Norak-norak gimana gitu haha..” ujar gue tertawa.

    “Lo punya golok gak?” tanya Boni sambil tersenyum.

    “Buat apaan?” Tanya gue.
    “Gue mau nyembelih lo” jawab Boni kesal.

    “Et dah baru digodain dikit aja sudah marah tapi selamat ya” kata gue.

    “Iya makasih ya” jawab Boni.

    “Tapi ada satu hal yang lo lupa” ujar gue.

    “Apaan tuh” Tanya Boni.

    “Lo masih inget sama janji lo kan?” jawab gue mengingatkan.

    “Ah kampret lo entar deh gue kasih. Mau yang mentah apa yang mateng” Tanya Boni.

    “Kalo yang mentah?” tanya gue.
    “Gue kasih lo buah jengkol segar langsung dari pohonnya” jawab Boni.

    “Kalo yang mateng” tanya gue.

    “Gue traktir lo makan semur jengkol warteg depan sekolah, gimana?” jawab Boni.

    “Ah gila lo sudah tahu gue alergi jengkol mau ngebunuh gue lo?” tanya gue.

    “Nah lo tau apa maksud gue” jawab Boni. Mendengar jawaban si Boni langsung gue jitak kepalanya dan kita berdua pun tertawa bersama.

    Ketika gue pulang sekolah ada seseorang yang meneriaki namaku.

    ”Hanif tungguin gue” teriak Boni sambil berlari.

    “Ada apaan sih lo manggil gue sampe teriak teriak?” Tanya gue.

    “Temenin gue ke rumah si Bella dong” pinta Boni.

    “Mau ngapain lo kerumah Bella? Mau ngelamar ya?” tanya gue dengan senyum menggoda.

    “Ya nggak lah gila lo baru jadian 1 minggu sudah ngelamar aja,” jawab Boni.

    ”Ya terus mau ngapain?” tanya gue penasaran.

    “Gue mau pinjem novel Laskar Pelangi yang terkenal itu loh,” jawab Boni.

    “Nggak ah sore ini kan ada kajian kitab kuning. Lagian kalo gue ikut paling jadi nyamuk gue nontonin lo berdua pacaran” tolak gue.

    “Ayo dong nif temenin gue kerumah si Bella gue malu sendirian nanti gue kasih PJnya deh,” bujuk boni memelas.

    “Nggak ah gue gak mau dihukum lagi sama ustadz Ilham gue sudah kapok,” jawab gue.

    “Ayo dong nif kali ini aja entar PR bahasa arab lo gue yang ngerjain deh” tawar Boni. Boleh juga nih kebetulan gue paling gak paham sama pelajaran bahasa arab.

    “Ok deh gue ikut lo tapi kalo kita dihukum sama ustadz Ilham lo yang tanggung jawab ya,”.

    “ok deh” jawab Boni. Sepanjang perjalanan si Boni nyeritain si Bella mulai dari kepribadiannya sampai keluarganya.

    “Si Bella itu orangnya baik banget, perhatian dan pinter banget lagi” cerita Boni.

    “Lo gak malu sama dia?” tanya gue.

    “Maksud lo Nif?” Tanya Boni heran.

    “Pacar lo aja pinter masa lo masih kaya kerbau dungu sih,” jawab gue tertawa.

    “Ah dasar lo, semua itu butuh proses bro,” jawab Boni. Setelah sekian lama ngobrol di angkot gue mulai curiga kenapa gak nyampe nyampe.

    “Bon rumahnya masih jauh gak,” Tanya gue.

    “Bang perumahan griya indah masih jauh gak?” Tanya Boni.

    “Perumahan griya indah? Adek salah naik angkot kayaknya soalnya abang gak lewat perumahan griya indah,” jawab supir angkot. Gue sama si Boni terdiam lemas. Rasa-rasanya pengen gue sembelih si Boni gue cincang dagingnya terus gue masak jadi daging rendang. Bayangin aja sudah nunggu di angkot 2 jam ternyata salah jurusan. Apalagi jam 4 nanti ada kajian kitab kuning.

    “Kampret banget sih lo emang gak tahu angkot ke griya indah nomor berapa!!” bentak gue.

    “Sorry bro soalnya kan kita tadi buru buru jadi gak sempat ngecek,“ jawab Boni.

    “Ah dasar lo dari dulu gak berubah kayak kerbau dungu aja lo,” kesal gue.

    “Sekali lagi gue minta maaf bro” sesal si Boni. Setelah naik angkot dengan jurusan yang benar akhirnya kami sampai di rumah Bella. Kami disambut oleh ibunya Bella dan disuruh menunggu Bella yang lagi ganti baju. Ini adalah pertama kalinya gue ketemu sama si Bella. Saat gue lihat dia datang menghampiri kami sumpah ternyata dia cantik banget lebih cantik dari si Angel. Kriteria gue tentang cewek ideal ada di dalam diri Bella.

    “Hai sayang kenalin ini teman sekamar aku namanya Hanif,” ujar Boni.

    “Aku Bella,” sambil menyodorkan tangannya.

    “Hanif,” sambil bersalaman dengannya. Ternyata tangannya halus banget. Tangan gue sampe gemeteran salaman sama dia.

    “Yang, buku yang ingin kupinjam ada?” Tanya Boni.

    “Ada kok sebentar aku ambil dulu ya,” jawab Bella. Setelah mendapatkan buku yang dimaksud ternyata si Boni malah pacaran dulu. Gue yang hanya sebagai penonton setia cuma bisa iri melihat mereka pacaran. Kalo aja si Boni bukan teman seperjuangan gue mungkin udah gue tikung kali si Bella. Sepulangnya dari rumah Bella gue dan Boni langsung dicegat oleh ustadz Ilham di depan pondok.

    “Kenapa kalian pulang terlambat?” tanya ustadz Ilham. Matanya menatap tajam kearah kami seakan sudah siap-siap menghukum kami.

    “Maaf pak tadi kami kerja kelompok dulu,” jawab Boni.

    “Oh gitu, baiklah kalian berdua saya izinkan masuk langsung ke masjid ya ikut kajian kitab kuning. Lain kali jangan terlambat lagi ya,” kata ustadz Ilham.
    “Iya pak. Terima kasih pak,” kata Boni. Akhirnya kami selamat di hari itu berkat alasan Boni.
    Bersambung
     
    Trisha_cy dan Blue_Sapphire menyukai ini.
  9. Blue_Sapphire

    Blue_Sapphire Semprot Lover

    Daftar:
    12 Aug 2018
    Post:
    288
    Like Diterima:
    1.339
    Jenis Kelamin:
    Pria
    Lokasi:
    Guriang Tujuh
    Terimakasih untuk update'annya suhu..
    Izin bungkus dulu, buat dibaca nanti malem..
     
  10. devilheart

    devilheart Semprot Kecil

    Daftar:
    1 Sep 2011
    Post:
    58
    Like Diterima:
    4
    Kayaknya bagus nih ceritanya, update terus om
     
    Blue_Sapphire likes this.
  11. brobotcrit89

    brobotcrit89 Semprot Awal

    Daftar:
    16 Jun 2018
    Post:
    8
    Like Diterima:
    2
    Jenis Kelamin:
    Pria
    Ninggalin jejak dulu hu
     
    Blue_Sapphire likes this.
  12. marsena

    marsena Semprot Kecil
    Thread Starter

    Daftar:
    14 Jan 2018
    Post:
    78
    Like Diterima:
    261
    Jenis Kelamin:
    Pria
    5. Berhijrah
    Seminggu setelah kejadian itu gue kembali mengalami kesialan. Pada hari Senin gue terlambat berangkat sekolah. Ketika sedang terburu-buru berangkat ke sekolah tiba-tiba gue dihadang oleh gerombolan anak SMA.

    “Heh serahin duit yang lo bawa atau gue gebukin lo” kata salah seorang dari mereka.

    “Ampun bang gue nggak bawa duit hari ini” jawab gue.

    “Ah bohong lo. Apa perlu kita geledah apa yang ada di dalam tas lo?” tanya mereka.

    “Ampun jangan bang. Gue mau berangkat sekolah udah telat nih bang” gue memelas agar dibiarkan lewat. Akhirnya tas gue digeledah sama mereka.

    “Nah ini apa? lo ngebohong ya?” kata mereka.

    “Jangan dong bang itu buat bayar SPP gue. Jangan diambil dong bang” pinta gue.

    “Emang itu urusan gue,”kata mereka. Akhirnya duit SPP gue di bulan itu ludes diambil orang. Gue ceritain peristiwa yang baru gue alamin tadi pagi ke Jarwo.

    “Sialan berani beraninya dia malak best friend gue. Lo tau mereka anak mana?” tanya Jarwo.

    “Kayaknya sih mereka anak anak SMA deket terminal itu, bro,” ujar gue.

    “Lo tenang aja bro, gue bakal bikin perhitungan sama mereka” ujar Jarwo. Keesokan harinya setelah pulang sekolah Jarwo, gue dan beberapa preman sekolah bersiap untuk mendatangi SMA deket terminal itu. Ketika kami tiba di lokasi tujuan, kami dihadang beberapa siswa SMA tersebut.

    “Pada mau ngapain lo kesini?” tanya salah satu dari mereka.

    “Kita mau cari anak SMA yang malak temen gue” jawab Jarwo.

    “Lo semua gak boleh masuk” kata mereka.

    “Eh bang kita kesini bukan nyari ribut. Kita kesini Cuma mau duit temen gue yang kalian palak dibalikin” ujar Jarwo. Tiba tiba datang segerombolan anak SMA yang kemarin malak gue.

    “Nah itu dia orangnya bro” tunjuk gue. Kami bergegas menghampiri gerombolan anak SMA itu.

    “Eh lo kembaliin duit temen gue yang lo palak kemarin!” bentak Jarwo.

    “Kalo kita nggak mau kembaliin gimana?” tantang mereka.

    “Gue hajar kalian semua” jawab Jarwo emosi.

    “Emang gue takut sama anak SMP macam kalian” kata salah satu dari mereka.

    “Wah dikasih hati minta jantung nih anak” ujar Jarwo.

    “Sudah gak usah banyak omong langsung serbu mereka semua” ujar salah satu dari mereka. Akhirnya tawuran tidak terhindarkan. Karena kalah jumlah, Jarwo dan kawan kawan terkepung. Gue yang terus berusaha untuk melawan akhirnya jadi bulan bulanan sama mereka. Beruntung polisi dibantu warga berhasil menghentikan tawuran dan menyelamatkan kita dari anak SMA itu. Kami digelandang ke kantor polisi dengan wajah babak belur. Gue menjelaskan peristiwa pemalakan hingga terjadinya tawuran kepada polisi. Setelah diinterogasi dan diberi peringatan akhirnya kami diizinkan pulang dengan dijemput orang tua atau wali. Sesampainya di pesantren gue langsung diobatin di ruang UKS sama ustadz Ilham.

    “Kenapa kamu bisa seperti ini Hanif?” tanya ustadz Ilham. Akhirnya gue ceritain semua kejadian yang gue alami dari dipalak sampai terjadinya tawuran.

    “Lalu apa manfaat yang kamu dapat dari waktumu yang kau buang hanya untuk tawuran? Apakah dengan tawuran uang SPP mu akan kembali?” tanya ustadz Ilham.

    “Saya tidak mendapatkan apapun dari tawuran tadi siang pak, yang saya dapatkan hanya luka memar,” sesal gue.

    “Jadi apakah perbuatan yang kamu lakukan tadi siang hanya membuang waktumu dan merugikan dirimu sendiri saja?” tanya ustadz Ilham. Gue terdiam mendengar pertanyaan dari ustadz Ilham.

    “Tahukah kamu bahwa Allah SWT membenci orang yang membuang-buang waktunya secara percuma,” nasehat ustadz Ilham. Gue hanya bisa tertunduk merenungi kesalahan gue.

    “Bulan lalu ketika orangtuamu datang menjengukmu ibumu bercerita kepada saya,” lanjut ustadz Ilham. “cerita tentang apa pak?” tanya gue penasaran.

    “Beliau bercerita bahwa ia ssudah menjual beberapa perhiasannya untuk menyekolahkan anaknya,” ujar ustadz Ilham. Gue terkejut mendengarnya karena ibu gue itu sangat sayang dengan perhiasannya.

    “Beliau berkata kepada saya bahwa ia rela melakukan apa saja agar anaknya menjadi anak yang berguna dan membuat bangga orangtua” cerita ustadz Ilham.

    “Tetapi apa yang dilakukan anaknya ketika mereka berjuang mencari nafkah untuk membiayai sekolahnya?” tanya ustadz Ilham. Gue menangis mendengar nasihat ustadz Ilham.

    “Anaknya malah melakukan kegiatan yang melanggar aturan dan membahayakan dirinya sendiri,” ujar ustadz Ilham.

    “Maafkan saya pak ustadz selama ini saya sering berbuat nakal bertindak tanpa memikirkan resikonya terhadap diri saya sendiri,” sesal gue.

    “Jangan minta maaf sama saya, minta maaflah kepada Allah SWT dan kedua orangtuamu karena kau telah mensia-siakan kepercayaan mereka kepadamu,” ujar ustadz Ilham.

    “saya sudah menghubungi kedua orangtuamu untuk datang dan menemuimu. Insyaallah beliau akan datang lusa,” kata ustadz Ilham. Gue merenungi ssudah gue perbuat dan gue berjanji tidak akan lompat pagar, tawuran atau mengikuti kegiatan yang tidak bermanfaat buat gue. Dan malam ini gue bertobat kepada Allah SWT. Ketika orangtua gue datang mereka langsung bertemu dengan ustadz Ilham. Ustadz Ilham menceritakan apa yang gue lakukan di pesantren termasuk aksi tawuran gue. Setelah berbincang-bincang dengan ustadz Ilham kulihat mata ibuku berkaca-kaca. Akupun bergegas menemui ibuku dan memohon maaf kepadanya. Kami berdua berpelukan dalam tangis. Aku berjanji kepada orangtuaku tidak akan mengecewakan mereka kedua kalinya.
    Tamat...
     
    bikerslifee dan Trisha_cy menyukai ini.
  13. bikerslifee

    bikerslifee Semprot Kecil

    Daftar:
    29 Oct 2018
    Post:
    56
    Like Diterima:
    10
    Jenis Kelamin:
    Pria
    cepet bgt tobatnya yaa... tp sayang tuh uang spp gak balik.. hehehe
     
  14. marsena

    marsena Semprot Kecil
    Thread Starter

    Daftar:
    14 Jan 2018
    Post:
    78
    Like Diterima:
    261
    Jenis Kelamin:
    Pria
    Ini cerita berdasarkan kisah nyata hu ... wkwkkw memang begitu realitanya
     
Kakak Dewa Online   Senior Bola
Bandar Asia   Jav Toys
Domino168 - Agen Bola   Asia Bet
Wigo Bet   Asia Win Online
Waspada, pin ini BUKAN pin Forum Semprot :
D005 0B6C

Pasang iklan hanya lewat CONTACT US
Current URL :
Statistic