Agen Terpercaya
Mandala Toto   Jackpot 86
Balaksix   Messipoker
Agen 18   Dunia Jackpot
IBO Play   CMD Play
JP Dewa   Hero Bola
Warung Vegas
Pasang iklan, hanya lewat Contact Us.
Waspada penipuan iklan. Klik di sini untuk melihat daftar penipu.

[ANTOLOGI] Bedtime Stories

Status
Please reply by conversation.

Marucil

Guru Besar Semprot
Thread Starter
Daftar
28 Jul 2011
Post
2.095
Like diterima
2.861
Lokasi
@inimarucil
Bimabet
Bedtime-S.jpg



Ketemu maning sama saya jon, penulis amatir yang gak pernah fokus menulis. Bikin thread updatenya lama, eh malah nekat bikin yang baru. Yah udah lah yah gak-apa kan yah. hehe. Kali ini cerita panas yang akan saya sajikan berkonsep antologi, atau kurang lebih kumpulan cerpan baik one-shot maupun mini series. Cerita yang akan disajikan sendiri berasal dari karakter original maupun karakter dari cerita-cerita lama saya. Jadi bisa dikatakan juga ini sebagai side story dari semua judul cerita yang pernah saya buat.

Kenapa dibikin antologi, yah karena terlalu males buat bikin thread satu satu, lagian nanti juga ada cerita panas yang cuma 500an kata. Kedepan thread ini akan saya pakai juga untuk mereboot dua cerita saya sebelumnya, khususnya Bastian Series dan juga Secret and Desire. Jadi bagi yang mau tahu lanjutan cerita dari Bastian, Marissa, Tante Ocha, Galih dan juga Patricia, ditunggu aja yah. Semoga kesampaian ngetiknya yah, Terus kalau nggak gimana? kalau threadnya mangkrak seperti yang udah-udah? Yo tinggal minta tolong Om Kiwil buat gembokin thread ini dong, a simple as that. Lagian pemerintah yang sering ngelakuin proyek mangkrak aja sante.

Dah gitu aja. Semoga suka dengan sajian sederhana ini. Tetap jaga prokontol kesehatan, dilarang jaga jarak kalau sedang bersenggama.​

6 November, 2021

196031
 
Terakhir diubah:

Marucil

Guru Besar Semprot
Thread Starter
Daftar
28 Jul 2011
Post
2.095
Like diterima
2.861
Lokasi
@inimarucil
Bedtime.jpg





BS-DIsclaimer.jpg
Sebelum membaca cerita ini, diwajibkan untuk membaca dan memahami lima point dibawah ini. Agar baraya sama-sama nyaman dan tidak menimbulkan salah paham setelah membaca cerita yang saya sajikan ini.​
1. Story
  • Cerita ini hanyalah fiktif dan untuk kepentingan hiburan semata. Bila ada kesamaan nama, kemiripan tempat dan peristiwa, itu semua hanya kebetulan kosmik yang terencana saja.
  • Karena berkonsep antologi semua cerita akan tamat dan tidak berhubungan satu sama lainya.
  • Untuk Mini-Series akan berjumlah 3 atau 5 bagian.
  • Cerita ini akan berfokus pada sex scenenya, jadi gak cocok buat pembaca cerita drama
2. Rules
  • Peraturan yang berlaku diforum semprot secara umum, berlaku juga didalam thread ini. Semoga baraya bisa memahami dan sama-sama menghormati peraturan umum yang ada yah.
  • Penggunaan Unsur SARA didalam cerita ini tidak bermaksud untuk mendeskreditkan, apalagi untuk ajang penghinaan. Tetapi bila nantinya ditemukan sebagian atau keseluruhan cerita yang terindikasi melanggar aturan tentang SARA, mohon penulis diberitahu yah, baik didalam koment atau PM
  • Sesuai aturan yang ada, karakter yang terlibat sex scene didalam cerita ini berusia 18 tahun keatas.
  • Baraya akan sering menemukan Typo didalam cerita ini, bukannya malas mengedit, tapi semenjak 2015 saya menobatkan diri saya sendiri sebagai Master of Typo.
  • Silahkan menulis komentar apapun, asal masih dibatas koridor dan tidak memicu Spam. Kalau ada yang mau dikritik silahkan sampaikan sepedas dan sekasar mungkin kalau memang mau. Penulis adalah lelaki kuat yang tahan dengan bully-an.
3. Genre
  • Cerita ini akan menggunakan genre campuran. Tetapi mohon maaf saya tidak akan menyebutkan secara explisit genre apa saja yang akan ada dicerita ini nantinya. Karena akan mengurangi reading experience bagi baraya yang suka dengan kejutan sebuah cerita. Tapi,
  • Bagi yang pernah membaca beberapa cerita saya, pasti paham kalau fokus semua cerita saya itu is always about M.I.L.F.
  • Ada chapter tertentu yang berisi cerita dengan genre dan tema diluar batas. (Akan dijelaskan lebih lanjut dipoint ke-5)
4. Ilustration
  • Ilustrasi yang digunakan didalam cerita ini bersumber dari Google, Instagram, Twitter dan lain sebagainya yang kemungkinan mempunyai lisensi. Makadari itu bila ada dari baraya yang keberatan penggunaan ilustrasi didalam thread ini, silahkan saya dihubungi lewat pos atau burung merpati
  • Penggunaan Ilustrasi hanya untuk estetika semata dan tidak ada maksud merusak imajinasi baraya tentang karakter didalam cerita ini. Itulah kenapa ilustrasinya berada didalam spoiler, paham kan yah fungsi spoiler itu apa.
  • Video yang ada disetiap chapter, anggaplah sebagai soundtrack untuk teman membaca.
5. Rated
  • Cerita ini mengangkat tema yang beragam dengan sex scene yang berbeda-beda mulai dari Soft, Hard sampai Extrime. Saya paham beberapa dari baraya ada yang tidak suka genre atau sex scene dengan fetish tertentu, seperti yang saya ulas di poin 3, saya tidak akan menyebutkan apa itu tetapi disini saya akan menjelaskan dua logo yang berfungsi sebagai warning dan pembeda disetiap cerita yang ada :
  • General Content berisi cerita yang secara umum bisa dinikmati semua kalangan
  • Restricted Content berisi cerita dengan sex scene yang lebih liar dan diluar batas.


 
Terakhir diubah:

Marucil

Guru Besar Semprot
Thread Starter
Daftar
28 Jul 2011
Post
2.095
Like diterima
2.861
Lokasi
@inimarucil

Marucil

Guru Besar Semprot
Thread Starter
Daftar
28 Jul 2011
Post
2.095
Like diterima
2.861
Lokasi
@inimarucil

Marucil

Guru Besar Semprot
Thread Starter
Daftar
28 Jul 2011
Post
2.095
Like diterima
2.861
Lokasi
@inimarucil
Forums > Lounge > Selamat Datang > Jelita : The Unicorn Queen

No Pic Hoax gan!! :ngupil:

Waktu itu ane kaget gan, lagi asik nonton pelm, eh konti ane di kocok.​
Gila tuh emang tante girang, nekat amat, padahal ane duduk di tengah loh.​
:konak:

Ahhh payah lo @Garonk84 cuma di kocokin doang, gw dong sempet kena sepong konti gw, yah walau bentaran doang sih​

@Garonk84 @kuciah, ane pernah dapet mulia gan… Maksudnya kontol ane di mulia mulia. Sttt. Wassuuuu sedep bener tuh mulut tante-tante​

Ahhhh. Hoax Coek, paling kon pada habis di prank mbe maho.. hiiii​
:pantat:

Cewek beneran koq Gan kenthirkatrok. Uwe pernah di kasih obok2 mekinya,​
gile masih ngebrib tuh meki tante2 Uwe pikir bakalan dah ndower.​
:jempol:

Gw sempet ngentot sama tuh tante di kamar mandi bioskop om hehehe. Bener yang lo bilang @biangkerok82, mekinya ngegrip abis, mulus lagi.​

Kampret kayaknya cuma ane yang blm beruntung, ane dah sering ke The Unicorn​
gak tahu nemu tuh tante-tante girang yang kalian maksud​

:sendirian:

Amal ibadah loe kurang banyak, Coeg. Pisss…​

@AndreDiaz Mod
Woy ni pada bahas apaan sih? Rame bener ane tengok sampe jadi HT.​

Lagi pada cerita pengalaman di sepong bencong Mod. Hihihi​
:ngupil:

Aku tahu namanya Gan, kalau gak salah Santi… hihihi Sandaran Titit​

Atas ane sok tahu. Namanya Jelita, Ane dapet info dari temen ane yang berhasil dapet pin BB nya​

PM dong @kusuma_wijaya

@kenthirkatrok, Preeet tadi bilang banci, sekarang kepengen juga kan pin bbnya … iyah … iyah.....​

@AndreDiaz Mod
Oh lagi pada bahas The Unicorn Queen yah, di detik dot com juga lagi rame tuh.​

Gue sempet motion doi gan, tapi sayang ketahuan sama doi hp gue dirampas terus dihapus dah​

@eqo_eqo
Gue denger istri pejabat apa pengusaha gitu gan, ane sih belum pernah ketemu langsung.​

Yoi gan @eqo_eqo, Jelita Jelang Lima Puluh Tahun. Tapi asli dah kagak kelihatan, ane kiranya masih 30 ana mulus bener. Kenceng lagi, walau agak ngondoy dikit sih toketnya.​

Ahhh sayang waktu itu gue nonton bareng cw gue, jadi kagak berani deh. Padahal Tante Jelita dah nawarin gue ml di toilet.​

Aku pernah kesampean diajak ngndep sama tante Jelita om, semalaman kontol aku diulek2 sampai crot keluar angin doang. Hehehe..​
:papi:

Umpan lambung lah Coek @AndreZinga

TS kaga mau kasih Nocan nich?:minta:

Tante Jelita… hmm​
:kk:

@Velkkampret
MILF..​
:alamak:

Unicorn-Queen.jpg




Diatas sebuah kursi sebuah café dilantai satu The Unicorn Cinema, Seorang wanita duduk dengan begitu gelisah. Bokong besarnya beberapa kali membuat kursi rotan yang ia duduki bergeser lantaran merasa tidak nyaman karena kewanitanya terasa basah. Penyebabnya tak lain karena sang wanita baru saja membaca komentar para member forum semprot mengenai dirinya. Komentar yang diutarakan atas pengalaman mereka yang pernah melakukan hubungan seksual dengan seorang wanita yang mereka sebut dengan Jelita.​
Wanita pemilik rambut sebahu itu tampak menyukai nama tersebut, terdengar cocok baginya sekalipun jauh dari kesan nakal. Paling tidak kedepan ia tidak susah-susah untuk menyebutkan nama bila seseorang bertanya,”Jelita, I like it”
Semua ini bermula ketika setahun lalu Jelita mendapat tantangan dari beberapa teman arisan Sosialitanya untuk having sex with a stranger. Kala itu Jelita ragu untuk melakukannya, bukan tentang seksnya–she realy loved sex, bahkan dengan orang yang tidak dikenal sekalipun–melainkan tempat dimana ia harus melakukan itu. Ia berfikir, siapa orang gila yang mau melakukan seks didalam gedung bioskop? Bagaimana bila kolega suaminya tahu tentang kelakuannya? Atau, bagaimana kalau ia ketahuan pihak keamanan bioskop dan akhirnya menyeret dirinya menjadi pusat pemberitaan tayangan gosip dan berita murahan.​
Namun ketika akhirnya Jelita mau melakukan tantangan itu, wanita itu justru ketagihan akan sensasi yang ia peroleh, dan mengulanginya untuk kesekian kali. Rasa takut akan dipergoki orang rupanya satu hal yang membuat Jelita nekat untuk terus melakukannya, sedikitnya ia melakukannya 2 kali dalam satu bulan, dengan orang yang selalu berbeda dan perlakuan yang tidak pernah sama. Its not about doing sex anymore, it’s about seeking a pleasure dan tentu sensasi. Ia tidak pernah mendapat sensasi semacam itu dari berhubungan seks secara normal ditempat yang nyaman bersama suami atau gigolo yang ia pesan.​
Sadar yang dilakukannya penuh resiko, Jelita mulai jeli untuk menentukan target buruannya. Ia tidak bisa legi sembarangan menarik seseorang masuk kedalam toilet, atau serampangan mengocok penis lelaki didalam studio bioskop. Belakangan yang menjadi incaran Jelita, adalah lelaki muda, kalau bisa sih anak kuliahan dan kalau bisa juga seorang pemuda yang tidak punya pengalaman seks. Menurutnya melihat reaksi kejut dari pemuda yang tiba-tiba saja kontolnya dipegang di dalam kegelapan, selalu membuat wanita itu mendapatkan orgasme besar pada akhirnya.​
Meski usianya mendekati setengah abad, tetapi ingatan Jelita masih kuat untuk sekedar mengenali wajah puluhan lelaki muda yang pernah bermain dengannya. Dan siang ini tidak ada satupun wajah yang ia kenali. Seluruh orang yang merapatkan barisan didepan konter tiket, merupakan wajah-wajah baru yang mana artinya siang ini Jelita akan mendapatkan sensasi baru.​
Walaupun Jelita bukan seorang publik figur, tetapi balutan gaun merah ketat lengan panjang keluaran Dior membuat berpasang mata melirik kearahnya. Sebagian merupakan tatapan nafsu sebagian lain merupakan tatapan iri dengki terutama dari gadis yang mendapati lelakinya memandang seorang tante seksi penuh birahi. Tubuh Jelita yang tidak seberapa tinggi itu ditopang oleh Saint Laurent, membuat lekuk tubuhnya yang sintal montok dan membusung berhasil membuat telinga banyak lelaki terasa pedas lantaran dijewer oleh sang kekasih.​
Jelita memutuskan masuk kedalam barisan antrian terpanjang. Ia tidak peduli film apa yang akan ia temukan didepan. Yang ia pedulikan matanya bisa lebih jeli lagi dalam memilah buruannya siang ini. Saat mencoba menentukan pilihan, seorang pemuda yang berdiri dibelakangnya terdorong hingga menempel pada tubuhnya. Saat mencoba menyeimbangkan tubuh, bokong Jelita merasakan ada tekanan tepat dibagian tengah. Wanita yang menguarkan aroma Clive Christian itu paham betul, benda kenyal apa yang saat ini mendorong pantat bulatnya. That a big cock.
Sepanjang hidupnya Jelita sudah sering bertemu dengan pria berkelamin besar, sehingga hal itu sudah tidak lagi mengejutkan baginya. Menurutnya lelaki berpenis besar tidaklah cukup kalau tidak bisa memberikan sensasi yang ia harapkan. Tetapi pemuda dibelakang dirinya ini berbeda, paling tidak dari semua pemuda yang ia temui digedung bioskop ini. Biasanya mereka akan dengan senang hati bahkan memohon untuk terus merasakan sensasi nikmat ini walau sesaat. Tetapi lelaki gondrong dengan balutan serba hitam itu, mencoba terus menghindar. Ternyata ada yah pemuda dengan kontol gede tapi gak nafsuan, hmmm menarik.. sepertinya anak ini akan jadi target yang seru hari ini.
Lamunan Jelita pada lelaki muda dibelakangnya terbuyarkan karena seorang gadis menerobos masuk antrian. Tatapi beruntung, melalui gadis itu, Jelita ahirnya tahu siapa nama pemuda bertampang gahar itu, Joe. Dengan berpura-pura menerima panggilan telepon, Jelita keluar dari barisan antrian. Membiarkan Joe terus melangkah kedepan agar ia bisa tahu dimana pemuda itu akan duduk.​

Jelita sudah mendapatkan tiket untuk kursi no 14 pada row E,dimana ia akan duduk bersebelahan dengan Joe. Walau kemungkinannya kecil, tetapi ia yakin lelaki manapun akan membiarkan wanitanya untuk mendapat posisi duduk yang lebih nyaman didalam bioskop. Untuk memuluskan rencananya siang ini, Jelita bahkan memborong sisa kursi pada row E 15-18, agar ia bisa fokus mengerjai Joe. Selama ia menjalankan perannya sebagai The Unicorn Queen, menggoda lelaki yang datang dengan pasangan jauh lebih seru, ketimbang mereka yang datang seorang diri. Namun dua jam terlalu lama bagi Jelita untuk merasakan keseruan itu. Hingga akhirnya ia kembali memutuskan turun menuju café dilantai bawah, mungkin disana ada hal menarik lain yang bisa ia dapatkan sebagai pemanasan.​
Betul saja, belum lama ia duduk dan memesan kopi, tiga pemuda bertampang polos mulai memperhatikan dirinya dari kejauhan. Tampak jelas dari gerak bibir ketiga pemuda itu, mereka sedang membicarakan Jelita.​
Sadar dirinya sedang jadi pusat perhatian, Jelita berusaha tak acuh dan justru membuang wajah. Meski ia sangat menyukai sensasi dari permainan ini, ia tidak akan menggoda terlebih dulu. Ia bukan wanita murahan yang biasa ditemukan di red zone distrik selatan. Ia berasal dari keluarga terpandang, bahkan ada yang berani menebak dalam kolom komen sebuah forum dewasa yang membesarkan namanya, Jelita merupakan istri dari salah seorang keluarga Irzandi. Meski itu hanya dugaan awam, dari perhiasan yang tersemat indah ditubuhnya serta tas branded keluaran Feraagamo yang diletakkan diatas meja, sudah mempertegas bahwa Jelita berasal dari kalangan Jetset.
“Tante Jelita yah?” Ucap salah seorang pemuda yang akhirnya memberanikan diri untuk menghapiri Jelita.​
“Maaf siapa!?” Wanita yang baru saja meletakan blackberry Tourch diatas meja kayu itu berhak untuk menyangkal ketika ada orang memanggil dirinya dengan nama tersebut. Tetapi bagaimanapun juga wanita itu sudah terlanjut mendapat nama Jelita dari fansnya dalam tanda kutip,”Iya betul,” Melihat usaha dari ketiga pemuda itu, Jelita akhirnya menanggapi dengan senyuman. Kemudian melalui gtestur yang ia tunjukan pada wajah cantiknya, ia mempersilahkan ketiga pemuda itu untuk duduk bersamanya.​
“Wah gak nyangka akhirnya kesampaian juga ketemu tante viral. Hihihi” Ujar salah seorang pemuda yang berbadan tinggi.​
Dari penjelasan singkat oleh ketiganya, Jelita mengetahui bahwa mereka baru saja lulus SMA dan saat ini sedang liburan di Dahlia city sambil menunggu waktu perkuliahan dimulai September mendatang. Hari ini adalah hari terakhir mereka di kota ini, dan berharap mereka akan bertemu dengan Tante Jelita, wanita yang sangat mereka kagumi, atau lebih tepatnya mereka nafsui.​
Tiga pemuda yang tidak sempat memperkenalkan nama mereka, mulai bertindak sedikit agresif setelah diberi perintah oleh Jelita. Beruntung untuk mereka karena Jelita memilih duduk disudut café ini, sehingga tangan – tangan jahil mereka bisa merayap di paha Jelita yang mulai sedikit terekspose. Sebuah pot tanaman besar berbentuk persegi panjang memberikan keuntungan tambahan, mengalihkan pandangan pengunjung lain atas apa yang dilakukan ketiga pemuda terhadap Jelita.​
Mendapat perlakuan semacam ini tidak lantas membuat Jelita risih. Ia sudah pernah mendapat perlakuan yang jauh lebih kasar dan jauh lebih sembrono. Justru hal semacam inilah yang ingin Jelita cari selama ini. Semakin besar resiko yang mungkin akan ia dapat semakin besar hadiah yang akan ia peroleh.​
“Jadi kalian datang ke kota ini, khusus untuk ketemu sama Tante?”​
“Hmm I-iya tante.. hehe.” Jawab pemuda yang duduk disamping kanannya sedikit malu.​
“Lantas, kalau sudah ketemu, kalian mau apain tante?” Tanya Jelita menantang​
“Ehh… hmmmm”​
Mendapat pertanyaan yang mendadak itu, ketiga pemuda itu terdiam, tidak tahu harus berbuat apa. Memegang paha dan dada seorang wanita saja baru pertama kali ini mereka rasakan.​
“Kalian perjaka?”​
Damn,Mereka kembali diam dengan wajah merona, seolah itu adalah jawaban atas pertanyaan memalukan yang dilontarkan dari pemilik bibir merah nan seksi itu​


PINTU TEATER SATU TELAH DIBUKA
PARA PENONTON YANG TELAH MEMILIKI KARCIS
DIPERSILAHKAN MEMASUKI RUANGAN TEATER


Mendengar pengumuman barusan, Jelita meminta ketiga pemuda untuk ikut masuk ke dalam teater. Ketiganya kompak mengangguk, tidak mungkin mereka akan menolak kesempatan sekali seumur hidup ini. Bukankah ini alasan mereka liburan ke kota Dahlia?.​
Rona antusias kompak ditunjukkan oleh ketiganya saat mereka masuk kedalam teater yang masih sepi itu. Dengan hati riang mereka mengikuti langkah kaki Jelita yang masuk kedalam Row E. Ketiganya diminta menempati kursi disampingnya, yang setadinya memang sengaja dibiarkan kosong. Jelita memiliki rencana lain untuk ketiga pemuda yang sedang berebut untuk duduk disamping kirinya. Mereka adalah rencana cadangan, seandainya godaan yang dilancarkan Jelita tidak termakan oleh Joe, pemuda yang sedang ia tunggu saat ini.​
Mengetahui ruangan teater masih sepi, lelaki yang berhasil duduk disamping kiri Jelita, segera melancarkan serangan berupa remasan pada dada montok Jelita yang masih berbalut gaun merah itu, gaun yang menyamarkan tubuh Jelita diantara kursi bioskop yang juga berwarna merah.​
“Sabar dong sayang, tunggu sampai filmnya dimulai, Oke”​
“Ehhh. Maaf Tante, habisnya Rico dah gak tahan.. hehehe” Jawabnya tersipu malu, menjauhkan tangannya dari dada Jelita.​
Tak lama seluruh kursi terisi penuh begitu juga dengan kursi nomor 13. Sesuai intuisi Jelita kursi itu diduduki oleh Joe, pemuda gondrong yang dua jam ini ditunggu olehnya. Terdengar sedikit keributan kecil yang dihasilkan oleh pasangan muda yang duduk disamping kanannya itu. Membuat kemaluannya semakin bergetar, karena tidak sabar mengganggu kesetiaan sang lelaki.​
Lampu akhirnya dipadamkan dan adegan film akhirnya dipertontonkan. Disaat seluruh penonton sibuk menatap layar, Jelita sibuk pada kemaluan sang pemuda yang sudah memekar.​
Dengan bantuan selimut yang sengaja yang diletakkan menutupi kaki pemuda disamping kirinya, Jelita mulai memilin kemaluan yang sudah berkembang keras.”Mukanya kedepan aja yah sayang” Pinta sang Jelita, agar sang pemuda tetap mengikuti skenario yang sudah ia beritahu sebelumnya​
Tangan lembut dan wangi itu perlahan memberikan kocokan pada kemaluan yang masih memiliki kulup pada ujungnya itu. Jelita sudah bertemu dengan puluhan atau mungkin ratusan lelaki, sehingga ia bisa paham bila seseorang masih perjaka atau tidak. Dari reaksi yang dilihatnya, cukup membuat Jelita tahu bahwa lelaki yang sedang ia berikan handjob ini memang masih perjaka. Wajah keenakan tapi bercampur takut selalu ia peroleh ketika berhadapan dengan lelaki yang belum berpengalaman.​
“Enak?” Bisik Jelita.​
Sambil menggigit bibirnya, sang pemuda mengangguk. Hanya itu jawaban yang bisa ia lakukan saat ini.​
Tak lama terdengar desahan lirih tertahan dari bibir sang pemuda disusul dengan semburan kental yang keluar mengenai kain selimut. Melihat sang teman sudah mendapat klimaks, pemuda disebelahnya tak sabar untuk mendapat gilirannya juga.​
Pemuda kedua melakukan hal serupa yang temannya lakukan barusan. Ditutupinya kemaluannya dengan selimut agar tante Jelita bisa leluasa memberikan kocokan nikmat pada penis yang sudah tegang sedari tadi.​
Kali ini fokus Jelita mulai terpecah, ia sedang mencari cara untuk menarik perhatian Joe. Tetapi pemuda itu terlalu fokus menonton film X-Men : Days of Future Past, sampai tidak menyadari kehadiran dirinya yang sudah sedikit menyingkap dress merahnya sampai setengah paha. Ini merupakan penghinaan untuk dirinya, biasanya semua lelaki yang duduk bersebelahan dengannya di ruang teater akan memperhatikan dirinya, paling tidak akan mencuri pandang. Hmm. Makin penasaran aja dech.
Tidak mau membuang waktu yang berharga, Jelita mulai mengarahkan tangannya kesamping kanan, mencoba mmeegang tonjolan pada celana hitam ketat yang dikenakan Joe. Ia yakin reaksi yang akan ia lihat pasti sama persis seperti reaksi lelaki yang selama ini ia jadi buruannya.​
Tetapi dugaan Jelita salah besar, tangannya justru ditepis. Bahkan beberapa kali ia mencoba pun, lelaki gondrong itu dengan tegas menolak.Namun bukan Unicorn Queen kalau ia tidak memiliki cara, ia sudah terlalu sering masuk ke dalam seluruh teater yang ada di gedung bioskop ini. Sehingga ia mengetahui karakteristik yang ada di setiap studionya. Studio teater satu memiliki sandaran tangan yang sedikit lebih tinggi, sehingga terdapat gape yang cukup luas agar tangannya dapat menerobos masuk tanpa terdeteksi.​
Usaha Jelita membuahkan hasil, tangan kanannya kini berhasil masuk kedalam celah celana sang pemuda yang sedikit lengah karena terlalu fokus menatap layar. Sempat ada usaha menarik Tangan Jelita dari dalam celana Joe, tetapi semangat jelita terlalu besar untuk dikalahkan, sehingga Joe akhirnya mengalah dan membiarkan batang kemaluannya dipegang, sedikit diremas, dan terkadang digelitik.​
Tadinya Jelita menyangka, penolakan dari Joe merupakan sikap gentle atau juga sikap lelaki setia yang tidak ingin wanita lain menyentuh bagian intim tubuhnya. Tetapi, boys will be boys. Pada akhirnya lelaki akan tunduk pada pesona wanita. Begitu juga dengan Joe, betapa keras usahanya untuk menolak rangsangan yang diberikan Jelita, akhirnya ia kalah juga.​
Finally meski sesaat akhirnya pemuda gondorng itu melirik juga kearah Jelita. Dilihatnya gerakan tangannya yang meletakan bucket popcorn diatas pangkuannya, mengindikasi, sang pemuda akhirnya memberi lampu hijau bagi Jelita untuk terus melancarkan aksinya.​
Aku gak akan lepasin kamu gitu aja, Joe. hihi. Lihat aja nanti, habis ini kamu pasti akan nyariin aku. Hihihi.

 
Terakhir diubah:

Marucil

Guru Besar Semprot
Thread Starter
Daftar
28 Jul 2011
Post
2.095
Like diterima
2.861
Lokasi
@inimarucil


Tante koq giliran aku gak sampai crot sih?” Runtuk seorang pemuda yang kesal karena sebelumnya Jelita berdiri dan meninggalkan dirinya yang belum sempat mendapatkan orgasme. Walau akhirnya ia orgasme dengan sendirinya didalam celana, tetapi bukan itulah yang ia harap.​
“Maaf yaah, kentang yah?” Jawab Jelita seadanya sambil berjalan kearea parkir​
Saat Jelita dan ketiga pemuda sampai pada sebuah mobil S-Class, seorang lelaki berpakaian rapih keluar dari bangku kemudi, menghampiri Jelita dengan sedikit hormat.​
“Mereka mau dibawa kemana Bu?”​
“Biasa, Jon, Le Grand Paradiso yah.” Seru Jelita menghadapkan tubuh kearah tiga pemuda yang sedari tadi mengikutinya.​
“Kalian ikut sama Jon Seno, supir tante ini yah”​
Mendengar pernyataan Jelita, ketiganya kompak terheran. Ikut kemana? Mau ngapain? Loh Kok? Tapi sebuah senyuman penuh makna yang diberikan Jelita, membuat ketiga pemuda polos itu akhirnya mengerti dan mau untuk masuk kedalam mobil mewah itu, dan mengikuti kemana mereka akan dibawa oleh sang supir.​
“Jon, nanti kamu langsung jemput saya yah!”​
“Baik, Bu.”​
Setelah mobil yang dikendarai Jon Seno meninggalkan area parkir, Jelita kembali mesuk kedalam gedung bioskop The Unicorn Cinema, lalu menunggu tak jauh dari pintu keluar studio 1.​
Tubuhnya disandarkan pada tembok sambil meihat sebuah blackberry Onyx digenggamannya. Sesaat sebelum ia meninggalkan ruang teater, ia berhasil menarik gawai itu dari saku kanan Joe tanpa disadari sedikitnya sedikitpun. Tetapi ia yakin saat ini pemuda itu sedang melangkah keluar teater karena baru saja kehilangan sesuatu didalam sakunya.​
Sejujurnya Jelita sendiri malu untuk melakukan hal semacam ini. Yang barusan ia lakukan adalah sebuah usaha untuk merendahkan martabatnya sendiri sebagai seorang sosialitas. Tapi kalau gak gini, gimana lagi coba menarik perhatian anak muda itu. Hihih. Yes usahaku berhasil, bener kan dia nyariin aku.



Melihat sosok Joe yang baru saja keluar dari dalam teater dan berjalan kearah dirinya, Jelita memutuskan pergi, melangkah menuju suatu tempat dimana semua permainannya selama ini ia mainkan. Intensitas kunjungannya di bioskop ini, membuatnya tahu ada sebuah toilet yang jarang digunakan pengunjung karena lokasinya terlalu jauh dari pintu keluar. Sebenarnya Jelita tidak masalah menggunakan toilet manpun digedung ini, bahkan toilet dengan sering digunakan sekalipun. Tetapi siang ini, instuisinya berkata, Joe akan membuat dirinya berteriak, sehingga butuh tempat yang jauh lebih sepi untuk mengekpresikannya.​
“Buat apa Ibu ambil hp saya?” Ujar Joe dengan nada tidak percaya bahwa wanita sekelas Jelita berusaha mengambil handphone seseorang.​
“Habisnya aku kesel, kamu digodain kayak tadi gak mempan, jadi aku ambil deh hp kamu dari saku. Aku yakin dengan gitu kamu pasti bakalan cari aku,” Jelasnya sambil memberikan gawai milik Joe.​
“Terus Ibu mau apa?” Lanjut Joe dengan ketus membuat Jelita semakin bergairah.​
Pemuda yang terlanjur terjebak pada perangkap disiapkan oleh Jelita mulai menyadari ada sebuah papan tanda toilet sedang rusak didepan pintu masuk tadi. Seolah tempat ini sudah dirancang sedemikian oleh wanita yang saat ini menariknya dirinya kedalam salah satu bilik toilet.​
Joe dibuat terduduk diatas bibir toilet yang tertutup. Lalu dengan gerakan nakal, Jelita mencoba menggoyangkan tubuhnya seraya tangannya meraih gagang pintu untuk lantas menguncinya. Tapi apa yang ditemukan Jelita, Joe masih saja bersikap tak acuh, seolah tubuhnya tidak cukup seksi untuk membangkitkan gairahnya.​
“Ibu mau ml sama saya?” Tanya Joe pada akhirnya.​
Baru kali ini Jelita bertemu dengan lelaki yang pada situasi seperti ini masih bisa bersikap biasa. Ini Anak, sebenarnya manusia bukan sih, Heran deh. Tapi kok aku makin penasaran yah sama dia.
Dengan wajah sedikit kesal, Jelita membuka kancing celana jeans hitam berbahan lentur yang dikenakan Joe. Setelah seluruh bagiannya tersingsing kebawah, Jelita menduduki batang penis yang masih tampak layu itu dengan selangkangan basahnya yang tidak terlindung kain bernama celana dalam.​
“Sepuluh menit cukup gak bu, agar ibu terpuaskan?”​
Pertanyaan macam apa itu, Jelita meruntuk dalam batinnya. Bisa-bisanya pemuda ini bersikap semacam ini. Sialan, sikap dia ini bikin aku makin horny aja. Achhhh …..
Sepertinya bukan Joe yang telah terjebak permaian Jelita, melainkan wanita itu yang telah terbius akan pesona mistis nan misterius dari sang lelaki yang akhirnya memperlihatkan kejantannya yang sejati.​
“Hmmm…Kontol kamu lumayan juga.”​
“Terima kasih, bu, silahkan dinikmati.”​
Bodo amat lah dia mau berujar apa. Aku sudah tidak peduli. Yang aku pedulikan saat ini, kontol gede ini bisa memuaskan aku selama 10 menit, seperti yang dikatakan pemuda ini. Sialan.
Ploop.​
Bunyi yang dihasilkan pertemuan bokong Jelita dan paha Joe terdengar renyah. Menggema diseluruh ruang toilet yang semoga saja akan tetap sepi dalam sepuluh menit kemudian.​
Melihat reaksi santai dari sang pemuda saat memeknya mengulek batang kemaluannya, membuat Jelita sadar, lelaki ini sudah memiliki jam terbang tinggi. Sedikitnya mungkin sudah lebih dari 5 wanita yang pernah lelaki itu gagahi.​
“Kamu sudah pernah make love dengan berapa perempuan” Ujar Jelita bertanya seraya menaikan tubuhnya naik turun. Bertumpu pada sepatu hillsnya, ia mengatur irama agar dirinya juga merasakan kenikmatan yang selalu ia suka.​
“Gak pernah ngitung sih bu, hehe. Yah Kayak Ibu aja, pasti dah banyak cowok yang ibu giniin kan?”​
“Panggil aku Kirana,” Balas Jelita akhirnya mengungkap siapa namanya.​
“Kirana, hmmm…” Ujar Joe mengentikan kalimatnya lantas memegangi pinggul Jelita yang nampak sudah menemukan ritme permainan yang pas,” Namanya yang bagus, tapi Jelita juga terdengar indah kok.”​
“Kamu pasti ngedengerin kan saat pemuda-pemuda tadi berbisik, Joe?”​
“Hmm. Ibu juga tadi mendengarkan waktu teman saya menyebut namaku?”​
Suasana memang akhirnya mencair. Joe yang sejak tadi bersikap angkuh dan menyebalkan kini mulai bisa mengimbangi obrolan Jelita yang terdengar makin genit. Tetapi ini bukan waktunya untuk sekedar chit chat, Joe harus bisa memfokuskan dirinya, agar 10 menit yang dijanjikan bisa ia tepati.​
Pemuda itu mendorong tubuh Jelita sampai batang kemaluannya yang berlumuran ledir kewanitaan mengacung kencang keatas. Ia lantas berdiri dan melangkah keluar dari dalam bilik toilet. Jelita terheran apa yang direncanakan Joe saat ini.​
“Aku mengenal banyak wanita seperti ibu.” Ujar Joe seraya mengunci pintu utama toilet pria ini.​
“Maksud kamu?” Jawab Jelita menjawab rasa penasarannya dengan melangkah mengikuti Joe.​
“Yah, Ibu melakukan ini semua untuk menikmati sensasinya bukan? Kalau memang betul, kenapa harus didalam? Kenapa tidak disini? Biar sensasi tegang yang ibu cari itu semakin terasa.”​
Jelita hanya bisa mematung usai mendengar penjelasan Joe yang sama persis dengan apa yang selama ini Jelita rasakan. Ia pun hanya bisa memandangi wajah seram sang pemuda yang kini berjalan mengitarinya, menelanjanginya dengan tatapan nakal itu.​
Dengan gerakan lembut, Joe menarik resleting belakang dress merah yang dikenakan Jelita siang ini. Secara pasti baju yang menutupi lekuk indah tubuh wanita yang sudah tidak lagi muda itu terlepas dan menampakan keindahannya yang sejati. Pemuda itu lantas meletakan baju milik Jelita diatas bilik paling ujung, dan menyantelkan push up bra yang tadi ikut dilepas, diatas tuas penyiram urinoir. Wanita yang sudah sepenuhnya telanjang itu, tidak mau tahu apa alasan Joe melakukan itu. Ia hanya menunggu apa yang akan dilakukan Joe pada disirinya saat.​
Usaha Jelita dalam mempertahankan bentuk tubuh dengan berolahraga terbayarkan. Disaat wanita seusianya mengeluh perut mereka sudah kendur, berlipat dan berlemak. Jelita masih bisa membanggakan perut ratanya dihadapan Joe yang baru saja melepas celana jeansnya dan diletakkan diujung wastafel. Satu-satunya tanda penuaan terlihat pada buah dadanya, sudah sedikit turun namun masih terlihat besar dan kenyal. Setidaknya itu tanggapan Joe saat barusan ia memegang kedua payudara Jelita.​
Tubuh Jelita kini dihadapkan pada cermin besar diatas wastafel double sink. Dengan jelas, ia bisa melihat perisiapan Joe yang tengah mengambil posisi nyaman lantaran hills yang dikenakan Jelita cukup tinggi. Usai mensejajarkan posisi kemaluannya dengan arag vagina jelita, Joe menyorong tubuh Jelita sedikit kedepan, hingga wanita itu sedikit membungkuk.​
SLEEEP​
Meski Jelita merasakan penis Joe sedikit mengendur, tetapi cairan alami yang membasahi bibir kemaluannya memudahkan pemuda itu mendorong batang kejantannya untuk masuk kedalam liang surgawai yang mengharapkan sodokan kasar setelah ini.​
“Lubang pantat ibu bersih yah, pasti rajin perawatan”​
“Hahaha. Kamu loh, ada-ada saja tanggapannya”​
Pantas bila Jelita terkekeh. Selama ini belum pernah ada lelaki yang menanggapi bentuk atau warna bibir anusnya sendiri. Selama ini semua lelaki itu hanya fokus menyodoknya tanpa pernah sekalipun berkomentar tentang rupanya. Sejak muda ia memang selalu merawat bagian sensitifnya itu, menjaganya agar warnanya tidak menghitam atau sampai gosong.”Kamu suka anal juga, Joe?”​
“Suka, tapi saat ini ibu bukan kepengen itu kan?” Tanggap Joe balik bertanya​
Mencoba agar tidak ada lagi percakapan, Joe memutuskan menggerakan pinggulnya sedikit kencang. Membuat buah dada yang menggantung baknya pepaya itu, berguncang kesana kemari.​
PLOOP PLOOOP PLOOOP​
Joe memegangi pinggul Jelita dengan mantap, memastikan posisi vagina Jelita tetap berada diarah kontolnya melaju. Tak sampai semenit Joe menyodok memek tante Jelita dari belakang, pemuda itu merangkul perut rata Jelita, lalu memutar tubuh indah itu untuk kemudian ia angkat hingga terduduk diatas wastafel.​
Meski agak kesulitan, Joe akhirnya bisa melancarkan kembali torpedonya kesasaran tembak yang setiap detik semakin basah dan licin.​
EEHHHTTTTsssssss….​
Suara desah Jelita terdengar tertahan. Meski sudah sering melakukan hal ini, tetapi masih ada rasa takut yang selalu mendera. Pintu kamar mandi memang sudah dikunci rapat oleh Joe. tetapi kaca buram pada pintu itu tetap saja memperlihatkan gerak tubuh Joe yang sedang memeluk pinggul jelita seraya berjinjit agar bisa memberikan sodokan yang menggirahkan.​
CESSSSSS.​
Joe meraih keran Air pada kedua mangkuk wastafel itu. Membiarkan air derasnya menciptakan kebisingan yang akan menyamarkan suara desah Jelita yang masih tertahan.​
“Keluarin aja bu!” Bisik Joe, meminta Jelita menguarkan jerit nikmatnya.​
ACHHHHHHHHHHH​
Wanita yang sedari tadi menahan bibirnya tetap mengatup, kini mulai menganga setelah desah panjang terlebih dulu mengudara. Jeritan Jelita semakin kencang memekakkan kuping saat dinding kemaluannya terasa semakin mencengkeram batang kemaluan Joe. “Sttttt. Kayaknya Aku dah mau sampai, Joe.”
Keluarin aja bu!” Ujar Joe mempersilahkan.​
Tak lama setelah mengucapkan itu, kemaluan Jelita menyemburkan cairan deras sedikit kental yang membuat batang kemaluan Joe terlihat sedikit berbusa. Dengan cekatan Joe membekap mulut Jelita agar luapan nikmat yang keluar dari bibir wanita itu dapat bisa terkendali.​
Setelah membiarkan wanita paruh baya itu menikmati kejangan nikmat, Joe mencoba merangkul tubuhuh Jelita, memopongnya lalu meletakkannya secara perlahan diatas lanta.​
“Giliran aku yah bu”​
Wanita yang masih menikmati orgasmenya itu hanya mengangguk, mengiyakan permintaan Joe untuk mengambil giliran. Gila, sedari tadi dia yang lebih banyak berperan, masih saja ia meminta izin untuk mengambil giliran. Pemuda yang unik.
Ditariknya sejenak batang kemaluan Joe, sampai terlihat lelehan lahar putih kental mengalir dari melewati labia yang mencuat indah itu. Joe mendekati wajahnya kearah vagina Jelita yang terawat, bersih dan tentu saja wangi, setidaknya itu yang Joe rasakan setelah bibir dan hidungnya mencumbu kemaluan sang Jelita. Hanya bau khas memek yang ia hirup, tanpa bebauan lain. Batin Joe tersenyum.​
SRLUUUUPPP​
Pemuda itu menghirup setiap tetes cairan yang keluar dari dalam vagina sampai tandas, hingga rongga mulutnya dipenuhi oleh madu yang rasanya bukan manis. Saat dirasa cukup, Joe menyudahi ciumannya pada bibir bawah Jelita, lalu berlanjut mencium bibir merah merona yang masih menganga. Pemuda itu menyalurkan cairan kewanitaan yang terkumpul didalam mulutnya, menuju mulut Jelita yang bersiap menyambut cumbuan maut yang tadi ia rasakan pada memeknya.​
Sembari bersilat lidah, Joe kembali melesakkan batang penisnya yang semakin kencang itu, kembali kedalam lubang memek yang masih berkedut. Hentakan kencang yang Joe berikan, membuat Jelita semakin mengangkang.​
PLOOOOOP​
Usai memberikan ciuman singkat namun menyesakan nafas, Jelita membiarkan Joe meletakan kakinya diatas tumpuan lengannya Dengan cara itu Jelita dapat melihat gerak pinggul Joe semakin leluasa menyodok kemaluannya lagi. Pemuda yang mulai meneteskan peluh dikeningnya itu, sedang berusaha menyemburkan pejuh​
HUUUFFFFFF.​
Boys will be boys. Beberapa saat yang lalu, Jelita begitu susahnya menarik perhatian Joe, tetapi kini, pemuda itu semakin menampakkan siapa dirinya yang sebenarnya..​
PLOOP PLOOOOP​
Dengan genggaman erat Joe membentang kaki Jelita kesamping, membuat wanita itu semakin dibuat sinting. Belum lagi bulu kemaluan sang pemuda yang terus menggesek klitorisnya, membuat Jelita semakin keras memeking​
Gerak pinggul Joe, membuat memek Jelita semakin ngilu, kencang dan juga mantap. Ia merasakan bahwa pemuda akan mendekati klimas saat gerak sodokan itu semakin terasa kencang samapi membuat geli mulut rahimnya.​
Huffftt​
Meski sodokan Joe atas memek Jelita begitu kencangnya, tetapi pemuda itu masih bisa terlihat tenang, bahkan desah yang keluar dari bibir pemuda gondorng itu nyaris tidak bisa didengar oleh Jelita. Membuat Jelita sempat berfikir, apakah Joe merasa terpaksa melakukan semua ini, tetapi rasanya tidak, sebab, beberapa detik kemudian, Jelita merasakan liang kemanitaanya seperti disembur oleh derasnya banjir dibulan Februari. Penuh lengket dan juga panas, itu yang Jelita rasakan didalam sana, setelah akhirnya sang Pemuda menarik paksa kejantannya dan mengarahkan batang mengkipal itu kearah mulutnya.​
Tanpa menunggu diperintah, Jelita membuka mulutnya dan mencaplok sepenuhnya batang kemaluan itu. Seandainya bisa ia lakukan, sayangnya baru setengah saja batang itu berada didalam mulut Jelita, bibirnya terasa sedikit kebas. Dengan mulut penuh kontol, Jelita tersenyum karena ternyata, Joe masih menyisakan beberapa mili air mani untuk diminum oleh Jelita.​

“Heh, dari mana aja sih, tidur yah di kamar mandi? Aku ditinggalin sendirian lagi didalem.” Runtuk Josie ketika Joe menunjukan batang hidungnya dihadapannya.​
“Tadi aku cari wc yang bisa sambil ngerokok, makannya aku keluar deh deket parkiran. Eh disana ternyata banyak cowok yang kayak aku jadinya ngantri deh. Giman tadi filmnya.?” Ujarnya berkilah.​
Gadis dengan senyum lebar itu tampak lupa seketika dengan rasa kesalnya. Bahkan Josie seolah tidak mengindahkan jawaban Joe dari pertanyaan yang sebelumnya ia lontarkan,“Joe, laper, cari makan yuk diluar.” Lanjut Josie mengajukan permintaan lain.​
“Boleh, Josie mau makan apa?”​
“Hmmm. Kamu kesambet setan yah, Joe? Tumben ramah banget sama Josie, biasanya ngomel-ngomel kalau tiba-tiba aku ngajakin makan?”​
“hiiiih” Kesal Joe mencubit hidung Josie “Bawel, ayo makan!, sate meranggi yang tadi kita lihat didepan enak tuh.”​
“Hmmmmm” Josie mengangguk, meluapkan rasa girangnya. Gadis itu selalu berubah menjadi energik setiap mendengar seseorang menyebut makanan dari olahan dagin sapi. “Hmm Mastea”​
Sembari menggosok telapak tangannya, Josie berlalu meninggalkan Joe yang akhirnya bisa bernafas lega karena sahabat barunya itu tidak mempertanyakan dari mana butiran keringat dikeningnya itu berasal.​


Didalam bilik toilet, Jelita duduk dengan tubuh telanjangnya. Perasaannya saat ini campur aduk, senang karena baru saja bertemu dengan pemuda unik yang bisa memberikannya puncak kenikmatan tertinggi dalam bersenggama, tetapi disaat bersamaan ia juga merasa kesal Setelah menyemburkan tetes terakhir spermanya, Joe tiba-tiba saja meninggalkannya dengan tubuh yang sangat payah. Beruntung Jelita masih sanggup berdiri dan berlari kearah bilik dimana Joe menggantung dressnya. Telat sepersekian detik, seorang lelaki pasti akan mendapati tubuh telanjangnya tergeletak diatas lantai basah kamar mandi.​
“Mungkin ini kali yah rasanya diperkosa,” Gumam Jelita lirih.​
Saat sedang mengenakan dressnya kembali, Jelita mendengar seruan lelaki yang baru saja selesai dengan urusannya didalam bilik toilet disebelah”Gila, BH siapa nih, gede bener.” Jelita terkekeh, karena seorang lelaki baru saja menyinggung BHnya yang tadi tidak sempat ia raih saat berusaha masuk kedalam sini. Mendengar racauan sang lelaki diluar, Jelita hanya tersenyum, karena itu berarti sang lelaki diluar baru saja memuji betapa besar dan indahnya payudara yang selama ini dia rawat.​
Usai memastikan tidak ada lelehan sperma dipaha dan pipinya. Jelita perlahan membuka kenop pintu bilik toilet, dan mendapati lelaki yang dikiranya sudah pergi, masih berdiri sembari mengendus BH miliknya.​
“Permisi yah mas”​
Kemunculan Jelita yang tiba-tiba keluar dari dalam bilik, mengejutkan sang lelaki yang tidak sanggup menutupi wajah konaknya seusai mengendus area dalam BH berwarna merah itu. Sebenarnya Jelita bisa saja menahan diri untuk tidak keluar dari dalam toilet pria ini, dan memberikan lelaki itu sebuah pelampiasan. Sayangnya tenaganya sudah terkuras habis setelah bermain bersama Joe selama 10 menit tadi​
Baru kali ini aku ml sampai segini lemesnya, sialan tuh anak.
Jelita melangkah mantap keluar dari dalam toilet pria, meninggalkan seorang lelaki sange yang terbengong lantaran heran kenapa bisa ada seorang wanita didalam kamar mandi pria. Reaksi itu juga ditemukan beberapa wanita yang berpapasan dengannya didepan pintu toilet. Namun Jelita seolah tidak peduli akan tanggapan orang tentangnya.​
“Joe, pemuda yang unik, untung saja aku sempat simpan pin bbmnya tadi. Hihihi”​
JELITA
The Unicorn Queen

 
Terakhir diubah:
Status
Please reply by conversation.
Jav Toys
Gaple Online Indonesia
Pasang iklan hanya lewat CONTACT US
Top
Semprot is now part of LS Media Ltd