Agen Terpercaya
Mandala Toto   Jackpot 86
Balaksix   Messipoker
Agen 18   Dunia Jackpot
IBO Play   CMD Play
JP Dewa
Pasang iklan, hanya lewat Contact Us.
Waspada penipuan iklan. Klik di sini untuk melihat daftar penipu.

CERBUNG Bini Gua yang Suka Dientot Sana Sini. (REMAKE)

Dari Ketujuh CPOnya Rahma Aprillia (Sarah Aprillia). Siapa yang agan ingin mereka tetap hidup?

  • A. Bella a.k.a Giselle

    Votes: 188 61,2%
  • B. Elisa a.k.a Diana

    Votes: 20 6,5%
  • C. Bross a.k.a Beni Rosaidi

    Votes: 49 16,0%
  • D. Carlos

    Votes: 5 1,6%
  • E. Hanzel

    Votes: 3 1,0%
  • F. Fahra a.k.a Fariska

    Votes: 31 10,1%
  • D. Julia

    Votes: 11 3,6%

  • Total voters
    307
  • Poll closed .

mainputing

Semprot Addict
Thread Starter
Daftar
17 Feb 2022
Post
484
Like diterima
14.041
Remake Dari Thread Sebelah

Chapter 2
Chapter 3
Chapter 4
Chapter 5
Chapter 6
Chapter 7
Chapter 8
Chapter 9
Chapter 10
Chapter 11
Chapter 12
Chapter 13
Chapter 14
Chapter 15
Chapter 16
Chapter 17
Chapter 18
Chapter 19
Chapter 20
Chapter 21
Chapter 22
Chapter 23
Chapter 24
Chapter 25
Chapter 26
Chapter 27
Chapter 28
Chapter 29
Chapter 30
Chapter 31
Chapter 32
Chapter 33
Chapter 34
Chapter 35
Chapter 36
Chapter 37
Chapter 38
Chapter 39
Chapter 40
Chapter 41
Chapter 42
Chapter 43
Chapter 44
Chapter 45
Chapter 46
Chapter 47
Chapter 48
Chapter 49
Chapter 50
Chapter 51
Chapter 52
Chapter 53
Chapter 54
Chapter 55
Chapter 56
Chapter 57
Chapter 58
Chapter 59
Chapter 60
Chapter 61
Chapter 62
Chapter 63
Chapter 64
Chapter 65
Chapter 66
Chapter 67
Chapter 68
Chapter 69
Chapter 70
Chapter 71
Chapter 72
Chapter 73
Chapter 74
Chapter 75
Chapter 76
Chapter 77
Chapter 78
Chapter 79
Chapter 80
Chapter 81
Chapter 82
Chapter 83
Chapter 84
Chapter 85
Little Game
Chapter 86
Chapter 87
Chapter 88
Chapter 89
Chapter 90
Chapter 91
Chapter 92
Chapter 93
Chapter 94
Chapter 95
Chapter 96
Chapter 97
Chapter 98
Chapter 99
Chapter 100
Chapter 101
Chapter 102
Chapter 103
Chapter 104
Chapter 105
Chapter 106
Chapter 107
Chapter 108
Chapter 109
Chapter 110
Chapter 111
Chapter 112
Chapter 113
Chapter 114
Chapter 115
Chapter 116
Chapter 117
Chapter 118
Chapter 119
Chapter 120
Chapter 121
Chapter 122
Chapter 123
Chapter 124
Chapter 125
Chapter 126
Chapter 127
Chapter 128
Chapter 129
Chapter 130
Chapter 131
Chapter 132
Chapter 133
Chapter 134
Chapter 135
Chapter 136
Chapter 137
Chapter 138
Chapter 139
Chapter 140
Chapter 141
Chapter 142
Chapter 143
Chapter 144
Chapter 145
Chapter 146
Chapter 147
Chapter 148
Chapter 149
Chapter 150
Chapter 151
Chapter 152
Chapter 153
Chapter 154
Teaser : Gairah Sang Anak Tiri (18+)
Chapter 155
Chapter 156
Chapter 157
Chapter 158
Chapter 159
Chapter 160
Chapter 161
Chapter 162
Chapter 163
Chapter 164
Teaser : Adikku yang Nakal (18+)
Chapter 165
Chapter 166
Teaser : Pacarku Penuh Masalah (18+)
Chapter 167
Chapter 168
Chapter 169
Chapter 170
Chapter 171
Chapter 172

Chapter 1

“Papaahh… Papaahhh… Kencengin genjotannya, Pah! Aku suka kontol Papa. Aku suka banget kontol Papa. Aaahhh… Aaahhh… Aaahhh… Kontol Papa rasanya nikmat bangeet! Aaaahh… Aaahhh…”

Ini sudah menjadi pemandangan sehari-hari, ngeliat bini gua sendiri dientot sama bokap. Bokap gua tahun ini berusia 50 tahun, dia seorang pengusaha kayu dan budidaya tanaman. Nyokap gua sudah meninggal sekitar 4 tahun yang lalu karena kecelakaan mobil.

Meninggal yang sangat mendadak, sewaktu kecelakaan sama bokap. Tapi saat itu bokap selamat, nyokap meninggal di tempat. Sebenarnya gua juga gak rela, bini gua dientot tiap hari kaya gini. Mana selalu aja bokap ngecrot di dalam vagina bini gua. Makan hati banget sumpah.

Tapi masalahnya, gua sekarang lagi gak kerja. Gua baru aja di-PHK 3 bulan yang lalu, dan belum dapet kerjaan sampai sekarang. Untuk kebutuhan makan sehari-hari, dan belanja bulanan. Saat ini masih bergantung sama bokap, semua ini karena pandemi dimulai.

Sebenarnya permasalahan utamanya bukan itu sih, permasalahan utamanya kenapa gua rela bini gua dipake bokap gua. Karena bokap gua depresi berat, pasca kematian nyokap 4 tahun lalu. Dia bahkan sempat beberapa kali berusaha bunuh diri, tapi selalu berhasil digagalkan.

Dia merasa menyesal, hidup kesepian dengan rasa bersalah yang berkepanjangan. Sampai akhirnya 1 tahun setelah nyokap meninggal, gua dan bini gua yang bernama Farisha Yulianti memutuskan untuk menikah. Kami menikah karena desakan kedua keluarga besar.

Dari sisi keluarga Farisha, meminta kami segera menikah karena kami pacaran udah lama. Udah pacaran sekitar 5 tahun, dari SMA kelas 3. Sementara dari pihak keluarga besar gua, meminta gua segera menikah. Agar ada yang ngurusin gua dan bokap gua di rumah.

Farisha memang sudah terlatih mengurus rumah tangga, semenjak dia masih remaja. Ditambah dia juga setelah lulus SMK gak kuliah lagi. Dia lulusan SMK perawatan, kerja beberapa tahun jadi perawat di rumah sakit. Sampai akhirnya berhenti kerja setelah menikah sama gua.

Jadi dengan kata lain, gua sengaja menikah sama Farisha. Supaya ada yang menjamin makan bokap, adik, dan gua. Daripada makan di luar terus, yang sebenarnya gak sehat. Ditambah kami bertiga sering bertengkar, dari masalah makanan sampai pekerjaan rumah.

Tapi semua pertengkaran itu berakhir, setelah Farisha resmi menjadi istri gua. Dan mengurus seluruh urusan rumah tangga di sini. Tapi sayangnya, gua sendiri gak tau sejak kapan bokap gua dan Farisha menjalin hubungan asmara ini. Baru ketauannya pas gua nganggur ini.

Mau marah, tapi Farisha bisa membuat bokap gua bahagia dan semangat kerja. Bokap gua jadi baik banget sama gua, yang biasanya perhitungan banget dan suruh gua mandiri. Sekarang dia dengan suka rela memenuhi kebutuhan biaya kami. Tapi hati gua sakit banget rasanya.

Di sisi lain gua juga seneng, ada sosok yang bisa menggantikan almarhum nyokap di hati bokap. Dan masalah hal ini pun, udah kaya gak rahasia-rahasiaan lagi. Kaya sama-sama pura-pura gak tau, tapi sebenarnya juga saling tau. Bokap gua kalo ngentotin Farisha pas di rumah.

Ngentotinnya bukan di tempat privasi, anjing! Bini gua dientot di ruang keluarga, di ruang tamu, di dapur, di tempat jemuran. Yang pastinya gampang banget ketauan sama gua dan adik gua. Kadang juga adik gua suka diem-diem ngentotin bini gua juga kalo lagi sange.

Padahal dia udah punya pacar, tapi gua juga sering diem-diem ngentotin pacar adek gua sih, hahaha. Jadinya gua gak baper-baper amatlah. Dan sekarang, bini gua lagi dientot di ruang keluarga. Yang posisinya tepat banget ada di depan kamar gua, ngintip dikit udah keliatan.

Gua ngintip lewat ventilasi atas, ngeliat bini gua lagi dientot bokap dengan gaya woman on top. Tapi posisi bini gua membelakangi tubuh bokap gua, mereka berdua main di atas sofa. Hari minggu siang, mereka ngentot leluasa banget sumpah. Adek gua pasti ngeliatin juga nih.

Dia pasti nonton juga dari kamar sebelah, karena kamar kami bertiga itu ada di samping ruang keluarga. Bedanya kalo kamar gua, dari pintu masuk ada di sebelah kiri ruang keluarga. Kalo kamar adek gua dan bokap gua, ada di sebelah kanan ruang keluarga.

Jadi kamar gua berseberangan, dengan kamar bokap dan adek gua. Sedikit informasi tentang Farisha, Farisha ini cewe berusia seumuran sama gua. Usianya 25 tahun, dia punya rambut hitam kecoklatan panjang sebahu atas. Dia cewe keturunan jawa dan betawi.

Kulitnya aslinya kuning langsat, tapi karena dia pakai skin care dan perawatan. Dia sekarang kulitnya putih, mulus, dan bening banget. Ukuran toketnya sekitar 38B, nanti gua tampilin mulustrasi toketnya kaya apa. Tinggi dia sekitar 160 cm, dan bokongnya aduhai banget.

Farisha dikenal kalo ngentot, moaningnya super duper keras dan kenceng. Dia cewe yang sama sekali gak bisa nahan desahan. Matanya dia lebar dan besar, tapi bulu matanya lentik. Hidungnya mancung, bibirnya kecil dan tipis. Berat badannya sekitar 52 kg, gak terlalu berat.

“Enakan mana, Farisha? Dientot sama Papa atau dientot sama Rangga? Suami kamu itu pasti gak bisa muasin kamu yaa? Sampai kalo kamu sange, pasti mintanya dientot sama Papa?” tanya bokap sambil kedua tangannya memainkan kedua puting toket Farisha dari belakang.

“Pu—Punya Papa lebih gede, punya Papa lebih panjaang. Aaahhh… Aaahhh… Enak bangeet Paaah. Pah, skin care aku habis. Aku juga mau perawatan rambut dan kulit. Na—Nanti tolong kasih aku uang 3 juta yaa, Pah. Biar aku makin cantik, makin enak dientot sama Papa.”

“3 juta? Keciiil, nanti habis ngecrot Papa kasih langsung. Yang penting jatah 3 kali sehari buat Papa, jangan pernah kamu tinggalin yaa. Sekalian kalo perlu senam yoga, biar memek kamu ini makin kenceng. Gimana?” tawar bokap yang kayanya mau ngasih lebih ke Farisha.

“Oohhh… Ooohhh… Anjiingg! Anjiingg! Kontol Papa ngehantam leher rahimku terus! Aaahhh… Aaaahhh… Ka—Kalo sama Yoga, jadi 5 juta yaa Paah. Aaaahh… Aaaahh… Memek aku becek bangeet. Aku mau keluar Paahhh. Aku mau keluaar. Aku udah gak tahan Paaah!”

“Berdiri buruan, biar Papa bikin ngocor memek kamu.” Farisha segera bangkit dari pangkuan Bokap. Dia berdiri di depan sofa, disusul oleh Bokap yang berdiri di belakang Farisha. Kontol Bokap dimasukkin lagi ke memek Farisha. Dan Bokap langsung genjot Farisha dengan brutal.

Bokap meluk tubuh Farisha dari belakang, sambil kedua toket Farisha diremes dengan penuh nafsu. Farisha sampai memejamkan matanya, dia keliatan nikmatin banget genjotan Bokap gua dari belakang. “Paaahhh! Paaaahh! Aaaahh! Aaaahhh! Enaaak! Enaaak! Paaaahh! Paaaahh!”

“Aaaahhh… Aaaahhh… Papa juga mau keluar ini, sayang. Habis ini kita langsung mandi bareng yaa. Di kamar mandi yang di dalem kamar Papa. Aaaahhh!! Aaaahhh!! Aaaahhh!!” Mereka berdua menjerit dan mendesah bersamaan, seiring dengan mengalirnya keringat di tubuh mereka.

“Aaaahhh! Aaaahhh! Lebih kenceng Paaah! Lebih keras lagi! Hentakin teruuss! Hentakin teruuss! Aaaaahhh! Aaaaahh! Aku keluaarr! Aku keluaaar Paaaahh!” Farisha seketika gemetar hebat, namun bokap masih aja terus genjot memek Farisha. Meskipun Farisha lagi orgasme.

Gua ngeliat ada cairan putih bening mengalir ke kedua paha Farisha. Mengalir turun sampai ke lutut dan betis belakang. Bokap langsung menjilati leher Farisha dari belakang. Sambil kontolnya terus aja ngentotin Farisha habis-habisan. Farisha udah keliatan lemes banget.

Dia bahkan kaya udah gak sanggup berdiri, kalo bukan karena bokap yang meluk dan megangin badannya. Farisha pasti udah jatoh lemes ke lantai. Permainan mereka bikin gua sange berat, dan akhirnya bokap mulai mendesah semakin keras. Dia kayanya juga udah klimaks.

“Dasar cewe binaaal! Kamu memang cewe binaal! Papa mau keluaaar. Papa mau keluaar. Aaaaahhh… Aaaaahhh… Aaaahhhh…” Bokap 3 kali menghentakkan penisnya dengan begitu kuat di memek Farisha. Sampai akhirnya dia berhenti goyang, sambil mendesah keras.

15 detik kemudian, Bokap ngelepasin kontolnya dari memek Farisha. Setelah dilepas, gua langsung ngeliat ada sperma mengalir keluar dari memek Farisha. Mengalir menetes ke karpet yang ada di depan sofa. Farisha langsung terduduk lemas di lantai, dia berusaha mengatur nafas.
 
Terakhir diubah:

mainputing

Semprot Addict
Thread Starter
Daftar
17 Feb 2022
Post
484
Like diterima
14.041
Chapter 2

Selesai mereka ngentot sampai penuh keringat, bokap langsung bawa Farisha masuk ke dalam kamarnya. Iyaa di dalem kamar bokap, ada kamar mandi sendiri. Tapi di dalem kamar gua, gak ada kamar mandinya. Pengen bikin kamar mandi di kamar, tapi gak punya duit.

Nasib bener-bener nasiblah. Karena udah kepalang sange, ngeliat bini dientot bokap sendiri. Gua akhirnya tiduran di kasur sambil ngocok. Ngebayangin bini gua barusan dientot, pasti di dalem kamar bokap, bini gua dientot lagi nih. Di kamar mandi pasti dientot lagi.

Dan bener aja, mereka mandi 1 jam gak keluar-keluar. Farisha gak keluar-keluar dari kamar bokap gua. Padahal gua udah ngecrot dan udah ada bekas tisu di kamar. Tapi akhirnya Farisha keluar dari kamar bokap, setelah 1 jam lewat 15 menit, dia berada di kamar bokap gua.

Farisha mengetuk pintu kamar gua, sambil manggil gua dengan lembut. “Sayaang? Tolong bukain pintunya, aku baru selesai mandi soalnya. Maaf yaa kalo aku lama, suamiku sayaang.”

Gua ngebukain pintu kamar, dan Farisha udah bersih, cantik, dan wangi lagi. Dia tersenyum lebar, sambil masuk ke dalam kamar. Setelah masuk kamar, dia ngeluarin sejumlah uang 100 ribuan. Yang totalnya sekitar 60 lembar, habis dikasih duit sama bokap dia.

“Papa kamu ngasih aku uang, buat ke salon dan beli skin care, sayaang. Anterin aku nyalon yuk. Aku pengen bikin rambutku agar keriting gitu. Sama mau perawatan wajah,” ucapnya meminta gua untuk nganterin dia ke salon. Sambil memegang uang 100 ribuan itu.

“Iyaudah kalo kamu memang mau ke salon. Aku anterin tapi aku mandi dulu yaa. Kalo bisa, sisain buat belanja bulanan kebutuhan kita. Soalnya gak tau papaku akan ngasih uang lagi atau enggak,” jawab gua yang nerima mau nganterin dia pergi ke salon langganannya.

Farisha ngeliat ke sekeliling kamar, dia menemukan beberapa lembar tisu yang sudah diremas hingga berbentuk bola. “Siaap, sayaang. Nanti kita sekalian belanja bulanan. Kamu habis ngocok kah? Kamu nontonin aku ngewe sama papa kamu yaa? Maafin aku yaa, sayaang.”

Gua menghela nafas panjang dan pura-pura senyum. “Iyaa tadi aku ngeliat kamu main sama papa di sofa. Tapi iyaudahlah, toh aku juga lagi gak bisa nafkahin kamu. Aku juga gak kehilangan kamu kan? Cuma aku hanya perlu berbagi kamu aja sama mereka berdua.”

Farisha langsung menaruh uangnya di atas meja, dan dia memeluk gua dengan eratnya. “Kamu juga yang bilang, untuk kebaikan papa kamu juga. Dia lebih bahagia dan bersemangat menjalani hidup. Sebagai gantinya, aku akan bikin joni kecil kamu ini ngecrot lagi, hehehe.”

Dia tiba-tiba aja ngeremes titit gua, dia langsung bersimpuh dan kontol gua dikeluarin dari celana. “Ihhh, liat sayaang? Masih ada sisa-sisa spermanya. Kamu pasti ngelap pakai tisunya gak bersih. Iyaudah biar aku bersihin pakai mulut aku aja yaa? Haaammm…”

Kontol gua langsung dilahap sama Farisha, dihisap dan dijilatin kontol gua dengan ganas sama dia. Sampai kontol gua dimasukkin semua ke mulutnya, gua sampai sedikit flashback. Dulu waktu kelas 3 SMA, Farisha nyepong kontol gua aja sampai muntah-muntah dulu.

Sekarang, dia udah mahir banget. Gua ngerasa geli, hangat, dan juga nikmat yang gak bisa ditahan. Kepalanya terus maju mundur, mengocok kontol gua menggunakan bibirnya yang kecil. Pergerakan kepalanya perlahan semakin cepat, hisapannya pun semakin terasa kuat.

“Aaaahh… Aaahhh… Lebih kenceng lagi sayang. Isep yang bagian pangkalnya, disitu yang paling nikmat. Aaaahhh… Iyaa begitu. Teruss… Teruss…” Sambil berdiri di samping kasur, gua melihat pemandangan indah seperti biasa. Farisha ngelepasin kontol gua dari mulutnya.

Dia ngejilatin sisi bawah kontol gua, terus bergerak menurun hingga kedua buah zakar gua. Buah zakar sebelah kiri gua disantap sama dia, dihisap dan ditarik-tarik pakai mulutnya. Gilaa, gimana bokap gua gak tergila-gila, kalo dia setiap hari disepong dengan cara kaya gini.

Buah zakar gua dihisap kiri kanan secara bergantian, Farisha memang sering bikin gua cemburu dan sakit hati. Tapi dia juga pinter banget ngobatin rasa sakit hati gua. Buah zakar gua sampai basah kuyup sama air liurnya Farisha, bener-bener dia totalitas banget kalo nyepong.

Setelah puas, jilatannya naik lagi ke atas. Dan kontol gua dimasukkin lagi ke mulutnya. Sekarang dia nyepong kontol gua dengan tempo yang sangat cepat. “Slrrrpp… Slrrrpp… Slrrrppp… Aaaahh. Kontol kamu penuh sama air liurku. Slrrrp… Slrrrpp… Slrrrpp…”

Sayangnya, gua bener-bener gak bisa bertahan lama. Setelah 7 menit Farisha terus nyepongin kontol gua, akhirnya gua mulai ngerasa geli gak tertahankan. Gua ngerasa sperma gua akan keluar. “Teruss… Teruss… Sepong lebih kenceng lagi! Teruss… Teruuss.. Aaaaahhh…”

Gua langsung memuntahkan cairan sperma gua di mulutnya Farisha. 3 kali semburan sperma, gua keluarin dan lepas semuanya di mulut istri gua ini. Farisha terlihat diam, dia kaya ngasih gua waktu sampai selesai ejakulasi. Setelah selesai, dia cabut kontol gua dari mulutnya.

Dan sperma gua ditelan seperti biasa sama dia. “Aaaahh, hahaha hilang langsung hausku sayaang habis minum sperma kamu. Yuk kamu mandi, apa mau aku mandiin? Ambil bajunya, biar aku mandiin di kamar mandi. Ayoo kita mandi suamiku sayaang, kita jalan-jalan hari ini.”

Farisha, memang sosok perempuan yang humble dan penuh kasih sayang. Bahkan dia dulu bucin parah sama gua. Gua udah tau kalo Farisha dari dulu udah binal. Waktu pertama kali diperawanin aja, udah gua ngecrot sekali. Dia minta dientot lagi, sampai 3 kali baru puas.

Gua ambil baju dan gua menolak buat dimandiin sama dia. “Udah gak usah, sayang. Kamu dandan aja, aku mandinya cepet kok. Dandan yang cantik yaa, biar aku bisa pamerin kecantikan kamu ke orang-orang, hahaha. Iyaudah aku mandi dulu yaa.”

Gua bergegas keluar kamar, dan menuju ke kamar mandi yang berada di belakang rumah. Tepatnya berada di samping dapur, sementara Farisha menutup kamar. Dia mau siap-siap ganti baju dan dandan katanya. Gua masuk ke kamar mandi, lepas celana dan baju.

Gua ngeliat kontol gua sampai merah, saking kuatnya disepong sama Farisha. Tapi gua puas banget sih, hahaha. Emang nikmat banget rasanya, punya istri yang udah diajarin nakal semenjak sekolah. Jadinya pas nikah, dia udah jago dan liar banget. Seneng banget gua rasanya.

Selesai mandi, gua untuk menuju ke kamar harus ngelewatin dapur. Di dapur gua ngeliat bokap, lagi ngambil nasi dan lauk di atas piringnya. “Jam segini baru sarapan, Pa? Apa ini udah makan siang? Rangga sama Farisha mau izin pergi dulu yaa, Farisha katanya mau ke salon.”

“Iyaa emangnya kenapa, kalo Papa baru makan jam segini? Ini udah jam 11 siang, kamu juga baru mandi kan? Kamu udah punya istri, tapi masih aja males-malesan. Cari kerja! Istri kamu mau dikasih makan apa!” sergahnya yang malah memarahiku dan gak slow banget.

“I-Iyaa, Pa. Rangga juga lagi berusaha cari kerja secepatnya. Doain yaa, Pa. Biar Rangga cepet dapet kerja. Biar gak ngerepotin Papa terus.” Gua terpaksa harus tunduk dan bersikap sopan, sama laki-laki tua ini. Yang setiap hari selalu ngentotin bini gua 3 kali sehari.

Setiap hari gua dimarahin sama dia, sikap halus dan lembutnya cuma muncul. Kalo dia lagi sange dan butuh bini gua buat muasin dia. Kalo udah ngecrot, apalagi udah ngentotin bini gua sepuas dan semau dia. Langsung sikapnya jutek dan galak lagi, bokap macam apa dia.

Akhirnya gua lanjut jalan ke kamar, dan lagi lagi pas nyampe kamar. Bini gua udah ngilang lagi aja. Gua mencoba nyari-nyari bini gua, dan gua mendengar suara desahan bini gua di kamar adek gua. “Aaaahhh… Aaahhh… Cepetan Randy, aku sama Mas Rangga mau pergi!”

“Ka—Katanya sebentar aja? Ta—Tapi udah 10 menit kamu ngentotin aku. Kamu gak keluar-keluar sayaang. Nanti Mas Rangga nungguin aku. Buruan keluarin, sayaang. Aaaahhh… Aaaahhh… Cepetin aja genjotan kamuuh! Cepetin ajaah! Lebih cepet lagiiihh! Aaaahhh…”

Lagi dan lagi, gua harus ngelus dada sambil menghela nafas panjang. Gua mutusin untuk duduk di atas kasur nunggu sambil main handphone. Dan mereka main gak selesai-selesai. Rencana mau berangkat jam 11 siang, akhirnya jadi berangkat jam 11 lewat 45 menit.

Mereka ngentot selama 30 menit non stop, dan setelah Farisha keluar dari kamar adek gua. Dia harus bersih-bersih lagi, karena ada sperma adek gua di dalam memeknya dia. Gua lama-lama jengkel banget sama keluarga gua sendiri. Pengen pindah gua rasanya kalo gini terus.
 

mainputing

Semprot Addict
Thread Starter
Daftar
17 Feb 2022
Post
484
Like diterima
14.041
Chapter 3

Setelah bini gua siap, kita berdua langsung menuju ke mobil. Mobil yang gua pakai, ini mobil yang gua beli sendiri. Gua ngutang ke bokap 200 juta, dan dicicil perbulan pakai gaji gua. Dan untungnya udah lunas, sebelum gua kena PHK sejak 3 bulan yang lalu.

Kami berdua langsung masuk ke dalam mobil, dan tancap gas menuju salon langganan bini gua. Selama di perjalanan, gua lebih banyak diem. Banyak diem karena kesel dan jengkel, sementara bini gua bertingkah seolah gak ada apa-apa. Meskipun ini sudah menjadi rutinitas.

Hal yang lumrah terjadi di rumah gua, tapi tetep aja lama kelamaan gua kesel dan eneg juga rasanya. Harga diri gua, berasa kaya diinjek-injek banget. Tapi gua sama sekali gak bisa berbuat apa-apa. Adek gua sendiri juga kerja, di perusahaan punya bokap gua.

Dan rumah tempat tinggal kami sekarang, itu diwaAlisan sama bokap ke adek gua. Kalo gua berkonflik sama Randi, habis gua bisa diusir sama dia. Jadi kaya serba salah, gua satu-satunya pihak yang gak punya kekuasaan. Mereka bersikap semena-mena banget sama gua.

“Rangga? Sayaangku? Kenapa kamu diem aja dari tadi? Kamu marahkah? Aku minta maaf, sayaang. Tadi Randi keluar kamar, dia ngeliat aku udah dandan cantik dan rapi. Dia langsung bawa aku ke kamarnya dia…”

Gua langsung menyela perkataannya Farisha, “Kenapa gak kamu tolak? Iyaa, okelah kita butuh dia. Tapi gak pas kita mau pergi juga, gak pas kita lagi ada urusan juga. Aku udah ngalah, aku bener-bener udah ngalah. Mereka boleh main sama kamu, tapi jangan kurang ajar!”

“I-Iyaa, aku nanti coba omongin ke Randi yaa. Ohh iyaa sayaang, tadi papa kamu nawarin aku kerja. Jadi sekretarisnya dia di perusahaannya. Dia katanya berani gaji aku 12 juta. Menurut kamu gimana?” jawabnya, yang malah bikin gua tambah jengkel dan dongkol lagi.

“Aku aja, anak kandungnya sendiri. Gak pernah ditawarin pekerjaan, bahkan dilarang masuk ke perusahaannya. Kenapa kamu yang menantu, malah ditawarin dengan gaji sebesar itu? Cuma mau dientot doang palingan kamu!” Kaya gini mah udah jelas tujuan awalnya apa.

Farisha mengangguk perlahan, dia keliatan gak mau menentang perkataan gua. “Aku akan ikutin keputusan kamu, sayaang. Tapi papa kamu katanya mau diskusiin ini sama kamu dulu. Semoga kamu bisa melawan dominasi papa, aku menyerahkan keputusannya sama kamu.”

“Salah aku juga sih, belagak kasian sama laki-laki tua itu. Akhirnya sekarang ngelunjak, malah nginjek-nginjek yang punya bini. Dulu awal mulanya gimana sih? Sampai kamu dan papa bisa punya hubungan kaya gitu?” tanya gua yang sebenarnya ini udah sering gua tanyain.

Tapi sayangnya, Farisha sering menolak menceritakan hal ini. Bahkan gua tau bini gua main kelamin sama bokap gua pun, bini gua sendiri yang cerita. Dia yang membuat pengakuan, dengan alasan dramatis. Yang ngebuat gua akhirnya berpikir ulang buat marahin bokap.

Farisha bilang, dia mau ngelayanin bokap gua, supaya bokap gak ada keinginan untuk bunuh diri lagi. Hal ini sulit untuk dibantah, karena memang bokap udah berkali-kali berusaha untuk bunuh diri. Tapi untungnya karena dia udah tua, jadinya udah keburu ketauan duluan.

Bokap pernah berniat buat gantung diri, tapi tali gantungannya udah keburu ketauan sama Randi. Bokap pernah niat lompat dari lantai dua, tapi udah keburu ketauan sama gua. Bokap juga pernah berniat nusuk lehernya sendiri, tapi dia kurang yakin dan malah nusuk bahu.

Karena dia beberapa kali melakukan percobaan bunuh diri, gua sama Randi mencoba bawa bokap ke psikiater. Dan saran dokter psikiatri, kami berdua diminta untuk jangan ninggalin bokap sendirian. Akhirnya gua memutuskan cepat nikah, dan menaruh Farisha di rumah.

Semenjak ada Farisha di rumah, bokap kembali aktif mengurus bisnisnya lagi. Kadang Farisha ikut untuk nemenin bokap ngurusin bisnisnya, meskipun cuma ngeliatin dan ngawasin aja. Farisha juga sering ngasih laporan via chat ke gua dan Randi, mengenai kondisi bokap setiap 4 jam.

Saat itu Farisha terdiam beberapa menit, sebelum akhirnya dia kembali buka suara. “Aku minta maaf, sayaang. Mungkin ini akan sangat menyakiti kamu. Tapi aku pertama kali berhubungan intim sama papa kamu, justru saat mama kamu masih hidup dulu.”

Gua langsung kaget setengah mampus, lampu merah ada di depan, gua hampir banget nabrak mobil yang berhenti di depan. Anjiing! Gak salah dengarkah gua ini? “Ka—Kamu serius? Mama meninggal, saat usia hubungan pacaran kita udah 4 tahun. Kapan emang kejadiannya?”

“Waktu kamu ngajak aku liburan sama keluarga besar kamu. Kita sewa villa di Bali, yang ada lima kamar. Malem jam 11, aku diem-diem masuk ke kamar kamu kan? Terus kita berdua main di dalam kamar kamu. Pas sudah selesai, sekitar jam setengah 1 malem.”

“Aku keluar kamar kamu, dan jalan ke kamarku yang ada di lantai dua. Dan papa kamu saat itu udah ada di depan kamarku. Dia tau kalo kita berdua habis berhubungan badan. Dia marahin aku dan ngancem gak akan ngerestuin hubungan kita berdua. Dia keliatan marah.”

“Aku yang bingung mau ngapain, akhirnya ngerayu papa kamu. Tapi sebelum ngerayu pun, aku udah ngebaca apa yang dia inginkan dari aku. Dan akhirnya papa kamu masuk ke kamar aku. Kami berdua berhubungan intim pertama kalinya di sana,” terangnya bercerita.

Gua langsung nyenderin badan dan kepala ke jok mobil. Gilaa, pantesan Farisha takut buat cerita. “Jadi awal mulanya karena kesalahan kita berdua? Dan setelah itu, kapan kamu ngentot sama papaku yang kedua kalinya? Apa jangan-jangan saat kita masih pacaran juga?”

“Kejadian yang kedua, terjadinya 1 tahun lebih. Saat mama kamu meninggal, aku kan nginep di rumah kamu bantuin ngurus acara doa setelah pemakaman. Malemnya jam 1 pagi, papa kamu ngentotin aku lagi,” jelasnya yang bikin gua gak habis pikir. Bokap gua parah banget.

Kalo kaya begini terus, bisa cepet mati gua yang ada. Kena stroke di usia muda, darah tinggi dan depresi parah. Gua speechlees, gak bisa ngomong apa-apa setelah denger itu. Mau nangis tapi gua laki, tapi rasanya kaya gua merasa dikhianatin banget sama bokap gua sendiri.

Malem hari setelah nyokap meninggal, bro! Belum 24 jam, mentang-mentang dia selamat dalam keadaan sehat. Harusnya dibalik aja udah, bokap yang meninggal dan nyokap yang selamat. Bokap selamat juga, malah bikin hidup gua tambah ribet dan rumit.

Setelah dengerin cerita dari Farisha, gua sama sekali gak semangat berpergian hari itu. Gua bahkan nungguin Farisha di salon, sambil bengong dengan tatapan kosong. Belanja bulanan juga, pikiran kosong gak fokus diajak ngobrol. Sampai Farisha beli baju pun, otak kosong blaassss.

Setelah semua kelar, kita berdua kembali pulang ke rumah. Tempat yang menjadi sumber malapetaka lagi buat gua. Sampai di rumah, bokap lagi tidur siang. Adek gua juga lagi kedatangan temen-temennya. Gua langsung masuk kamar dan tiduran aja udah.

Farisha pun juga ikut ke kamar, dia tidur di samping gua sambil nunjukkin raut wajah yang bersalah. “Sayaang? Aku bener-bener minta maaf, ini sebabnya aku gak mau cerita sama kamu. Karena pasti akan sangat nyakitin hati kamu. Jangan marah sama aku, aku juga korban di sini.”

“Kalo kamu memang merasa korban, gimana kalo kita pindah aja? Kita menjauh aja dari mereka berdua. Nanti setelah aku dapet kerjaan lagi, kita pindah aja ngontrak cari rumah. Aku udah gak tahan di sini,” ajak gua kepada Farisha. Pengen tau gua reaksi dia kaya apa.

Farisha menggeleng pelan, dia menolak untuk pindah dari rumah ini. “Niat awal kamu nikahin aku kan, supaya ada orang yang ngurusin papa kamu. Aku meskipun harus ngelayanin mereka, tapi aku nyaman ada di sini. Aku sudah berniat tetap di sini ngurusin papa kamu.”

“Kita bisa cari suster yang cantik dan semok, yang bisa gantiin kamu di mata papa. Ayoo lah, kamu masih istri aku kan? Kamu bilang akan ikut aku kemana aja. Sekarang aku niat pindah, tapi kamu malah tetap ingin di sini!” sergah gua yang mulai gak bisa ngontrol emosi.

Wajah Farisha terlihat harap-harap cemas, dia terus berusaha bela bokap gua. “Aku merasa, gak akan ada perempuan yang bisa menggantikan aku di mata papa kamu. Yang papa kamu butuhin sekarang adalah aku, bukan suster cantik dan semok. Dia butuh aku, sayaang.”

Darah gua semakin mendidih, gua mulai menatap Farisha sebagai musuh gua juga di sini. “Astagaa! Jangan bilang kalo kamu juga udah punya perasaan cinta sama papa aku! Kayanya ini mah udah bukan perkara aku miskin dan kaya lagi! Ini udah masalah kamu main perasaan!”
 

mainputing

Semprot Addict
Thread Starter
Daftar
17 Feb 2022
Post
484
Like diterima
14.041
Chapter 4

“Enggak, sayaang. Mana mungkin sih aku main perasaan sama papa kamu? Aku cuma ngerasa kasianlah kalo aku ninggalin mereka berdua. Seenggaknya tunggu sampai Randi menikah. Baru kita pindah dari sini. Gimana, sayaang?” kata Farisha mengelak prasangka gua.

“Tadi kamu bilang, gak ada perempuan yang bisa menggantikan kamu di mata papa aku. Sekarang kamu ngomongnya beda lagi! Lagian mana ada sih? Suami yang seneng bininya dipake rame-rame kaya gini terus?” jawab gua yang sebenarnya ini udah sering diobrolin sama dia.

Farisha tersenyum sambil ngelus pipi kanan gua. “Iyaa, aku ngerti kok. Tapi untuk saat ini juga gak mungkin pindah kan? Kita berdua lagi sama-sama gak kerja dan gak ada uang. Jadi untuk saat ini, karena memang kondisi kita yang begini. Kita harus terima nasib kita, sayaang.”

Lagi enak-enak ngobrol bahas masalah kami berdua, tiba-tiba bokap teriak dari luar manggil Farisha. “Farishaaaaa? Ini tolong cucian piringnya dibersihin, sayang. Temen-temennya Randi habis makan siang di sini. Jadinya cucian piringnya numpuk di wastafel. Tolong bersihin.”

Farisha langsung bergegas bangun dan merespon panggilan bokap gua. “Ohh? Iyaaa, Paahh. Aku keluar sebentar lagi. Aku mau ganti baju dulu yaa.” Farisha langsung lepas celana jeans yang dia pakai saat pergi tadi. Dia juga lepasin blouse lengan panjang warna hitamnya.

Dia ganti dengan lingerie warna hitam yang berbentuk dress, memanjang ke bawah hingga paha atasnya. Farisha gak pakai celana lagi, hanya celana dalam warna putin yang dia kenakan. Dia emang sengaja pakai baju kaya gini, biar kalo mau ngentot gampang.

Tinggal pelorotin celana dalem ke bawah, udah bokap sama adek gua bisa ngentotin bini gua dari belakang. Keseharian Farisha pakaiannya emang kaya begini. Kalo gak lingerie, dia pakainya tanktop sama hotpants. Mancing birahi bener sumpah, gimana gak dientot terus dia.

Atau dia memang sengaja mancing, biar bokap dan adek gua birahi dan ngentotin dia terus? Iyaa kayanya sih begitu, untuk saat ini gua mungkin belum bisa ambil tindakan. Nanti kalo gua udah di atas, gua gorok leher mereka berdua sampai mampus. Dendam kesumat gua.

Gua mungkin masih bisa maafin, kalo bini gua ngentot sama bokap karena khilaf berduaan. Lah ini bini gua malah jadi kaya kewajiban ngelayanin bokap dan adek gua. Bangsatnya lagi, malah kadang-kadang gua yang gak dapet jatah sama sekali dari bini.

Bokap sama adek gua, kalo udah ngentotin bini gua suka lupa diri. Udah kaya bini gua istri sah mereka aja. Akhirnya Farisha keluar dari kamar, dia langsung jalan menuju dapur. Di ruang tamu, masih ada beberapa temennya Randi yang belum pada pulang.

Gua rasa bokap gua gak bakal macem-macem sih. Soalnya rumah lagi rame kedatangan tamu, gila aja kalo dia nekat ngentotin bini gua mah. Ketauan sama temen-temennya Randi, bisa akward parah. Iyaa gak akan terjadi apa-apa sih, tapi pastinya bakal malu parah.

Gua memutuskan untuk bersantai di kamar, sambil scroll beranda instagram. Ngeliatin aktivitas temen-temen gua yang update postingan atau story. Sampai akhirnya gua nemu postingan temen kuliah gua dulu. Namanya Rahma Elisa, dia posting wajahnya lagi senyum.

Dulu waktu SMA, gua sebenarnya ngincer si Rahma ini. Udah deket bahkan udah mau jadian dulu, tapi sayangnya gua telat nembak dan ketikung. Kayanya sih gua ketikung bukan telat nembak, tapi kalah ganteng sama kalah banyak duit aja. Makanya dia berani ninggalin gua.

Gua iseng like foto dia itu, tapi gua gak komen apa-apa. Di sosial media, gua dikenal orang-orang jarang melakukan interaksi. Apalagi sampai love atau like foto perempuan, itu hal yang sebenarnya bukan gua banget lah. Tapi karena dia cewe idaman gua dulu.

Jadinya gua like aja, dan gua lanjut scroll beranda instagram lagi. Sekitar 10 menit gua scroll beranda, tiba-tiba gua dapet bom like dari seseorang. Gua coba buka siapa yang bom like, dan ternyata Rahma yang ngelakuin itu. Dia like 25 foto yang ada di profil instagram gua.

Tapi dia likenya cuma foto gua yang lagi sendiri, pas foto gua sama Farisha gak ada yang dia like. Gua biasa aja sih, iyaa namanya juga temen lama. Wajarlah kalo dia iseng bom like kaya gitu. Gua dulu juga sering banget iseng sama dia, sewaktu masih satu sekolah sama Rahma.

Dan 3 menit kemudian, entah kenapa dia malah kirim DM ke gua. “Rnggaaaa, makasih likenya yaa. Gimana kabar kamu sekarang? Udah punya momongan belum, Rangga?”

Gua buka DMnya, dan gua bales dengan biasa aja. Bukan sok jual mahal, tapi gua gak mau ngarep apa-apa juga. Gua juga udah punya bini kan, meskipun hak sahamnya punya rame-rame. “Kabar aku baik, belum dikasih momongan nih. Kabar kamu sendiri gimana?”

Dia gak lama bales lagi, “Aku lagi gak baik-baik aja, Rngga. Aku gagal tunangan sama pacar aku. Makanya aku upload foto sambil senyum ke kamera. Dan ternyata kamu like, iyaa makanya aku ucapin makasih. Aku merasa dapet dukungan dari kamu, hehehe.”

Waaahh, kode nih. Hahaha, tapi sayangnya gua gak punya duit buat main sama dia lagi. Gua aja internet sekarang ngandelin wifi dari rumah. “Gagal tunangan? Kok bisa? Emangnya kamu ngelakuin kesalahan apa? Sampai gagal tunangan sama pacar kamu?”

“Cowo aku hamilin temen kantornya, Rangga. Makanya aku lagi depresi dan frustasi banget. Eehh iyaa, kita lanjut di whatsapp aja yuk? Nomor kamu berapa biar aku save. Kita udah lama banget gak ketemu dan bercanda kaya dulu,” balasnya lagi minta nomor gua.

Sejauh ini, sama sekali gak ada hal yang istimewa. Gua sama Rahma dulu memang temen deket. Sempet lost contact sampai sekarang, dan dia minta nomor whatsapp gua lagi. Iyaa semua wajar-wajar aja sih. Ayoolah Rangga, lu jangan kepedean duluan, Anjing!

Gua kasih nomor whatsapp gua ke Rahma, dan setelahnya gua taruh handphone gua. Gua laper, pengen makan siang. Meskipun sebenarnya ini udah sore sih. Pas gua keluar dari kamar, temen-temennya Randi lagi pada siap-siap pulang. Gua coba jalan ke dapur buat nemuin Farisha.

Dan gua gak nemuin Farisha di dapur, cucian piringnya masih numpuk. Gua diem di samping meja makan selama beberapa menit. Sampai akhirnya temen-temen Randi udah pada pulang. Dan tiba-tiba Randi juga jalan ke dapur bawain beberapa gelas dari ruang tamu.

“Kenapa lu, Bang? Kok dari tadi diem di samping meja makan? Kalo mau makan ya makanlah. Gak suka sama lauk yang dimasak bini lu?” tanya Randi sambil naro beberapa gelas kotor di wastafel. Gua berusaha nahan diri, gua pengen ngamuk dan nonjok mukanya Randi.

Gua gak jawab pertanyaan Randi sama sekali, dan setelah dia naro gelas kotor di wastafel. Gua ngeliat dia naik ke lantai dua, gua diem beberapa menit setelah Randi naik ke atas. Setelah 3 menit gua diem, gua langsung ikut jalan naik ke lantai dua.

Sampai di atas, perkiraan gua bener dan terbukti. Farisha lagi dientot bokap gua dan Randi di ruang keluarga lantai dua. Gua ngeliat Farisha lagi digenjot kontolnya Randi dari belakang, dengan posisi doggy style. Sambil mulut Farisha di sumpel sama bokap gua pakai kontolnya dia.

Farisha ngelepasin kontol bokap gua dari mulutnya, dan dia bertanya. “Aaahhh… Aaaahhh… Aaaahhh… Ra-Rangganya di mana? Na—Nanti kalo dia naik ke atas gimana Randi? Nanti kalo dia ngeliat aku lagi dientot sama kalian berdua gimana? A-Aku takut Paaah.”

“Iya emang kenapa kalo dia ngeliat kita lagi ngentotin kamu? Setiap hari dia juga liat kamu dientot sama Papa kan? Kenapa kamu mikirin dia banget? Kaya dikasih makan sama dia aja kamu,” jawab Papa yang maksa masukin lagi kontolnya ke mulutnya Farisha.

Randi yang lagi on fire genjot memeknya Farisha dari belakang, dia juga ikut berkomentar. “Yang ngasih makan kamu kan kita berdua sekarang. Ngapain kamu harus mikirin Bang Rangga, sayang? Dia cuma suami kamu sebagai status doang, jalanin tanggung jawab juga enggak!”

Gua emosi bukan main, gua udah berniat buat ngelabrak dan berantem sama mereka berdua. Gua coba turun ke bawah, buat ambil golok buat mampusin mereka sama Farisha sekalian. Tapi waktu gua turun ke bawah, gua langsung disamperin sama pacarnya Randi.

Alisa, pacarnya Randi. Dia nyamperin gua waktu lagi ngambil golok di gudang. “Bang Rangga? Randinya kemana ya? Tadi aku lagi keluar sebentar beli jajanan. Pulang-pulang kok dia udah gak ada di ruang tamu? Apa dia lagi di kamar, atau dia lagi pergi kemana, Bang?”
 

mainputing

Semprot Addict
Thread Starter
Daftar
17 Feb 2022
Post
484
Like diterima
14.041
Chapter 5

Kebetulan posisi gudang, ada di samping halaman depan. Jadi harus keluar dari pintu rumah dulu, terus jalan ke samping kanan. Dan di sebelah kanan itu ada gudang, ruangan khusus buat nyimpen barang-barang. Alisa datang sambil megang kantong plastik hitam.

Dia memandangi gua sambil menunggu jawaban dari gua. Gak pakai pikir panjang, langsung gua tarik tangannya Alisa dan gua bawa masuk ke dalam gudang. Gua tutup pintu gudang dan telanjangin Alisa di sana. Dia keliatan agak kaget dan berusaha sedikit berontak.

“Ba—Bang, nanti ketauan Randi gimana? Kita kan biasanya main kalo Randi lagi pergi keluar beli makanan.” Gua gak peduli sama perkataan Alisa, gua pojokin badan Alisa ke tembok gudang. Gua singkap kaos warna merah yang dia gunakan sekaligus bra hitamnya.

Dan langsung gua kenyot toket sebelah kirinya Alisa. “Aaaahhh… Baangg… Baangg… Pelan-pelan aja, Baangg. Abang kenyot toket aku ganas banget, geli banget Baang. Aku habis ini janjian mau ngewe sama Randi di kamarnya. Nanti dia curiga kalo toket aku bau mulut Abang.”

“Slrrrppp… Slrrrpp… Slrrrppp… Aaaahh, aku gak peduli. Kita udah lama gak ngentot kan? Udah sekitar dua minggu kita gak ada kesempatan ngentot. Mumpung ada kesempatan, biarin aku nikmatin tubuh kamu,” jawab gua yang langsung ngenyot toketnya Alisa lagi.

Alisa sama sekali gak tau, kalo cowonya itu lagi ngentotin bini gua. Bahkan dia juga gak tau, kalo Randi sama Farisha ada hubungan khusus di belakang dia. Yang dia tau, Randi cowo baik-baik yang cuma ngentot sama dia doang. Tapi dianya diem-diem suka ngentot sama gua.

“Mmmmhhh… Mmmhhh… Mmmhhhh… Bang Rangga cepet banget bikin aku sange. Kita main cepet aja yaa, Bang. Sebisa mungkin 15 menit kelar, aku takut banget ketauan. Teruss… Teruss Baangg… Isep yang kenceng toket aku, Baang. Aaaahhh… Aaaahhh… Aaaahhh…”

Alisa adalah cewe keturunan chinese, usia dia masih 22 tahun. Kulit dia kuning langsat, tapi halus dan mulus banget. Rambut dia panjangnya sebahu bawah. Rambutnya lebih pendek ketimbang Farisha, tinggi badan dia sekitar 155 cm. Ukuran toketnya gua sama sekali gak tau.

Tapi kalo gua taksir mungkin 34C, gak terlalu besar tapi toketnya lebar ke samping. Gak kaya punya Farisha, yang memang menonjol banget ke depan dan kenceng. Toketnya Alisa lebih lebar, aerolanya berwarna coklat muda. Dia juga langsing, badan dia lebih kecil dari Farisha.

Mungkin berat badannya sekitar 47 atau 48 kg. Dari segi wajah memang cantikan Farisha sih, wajah Farisha itu lebih sensual dan menggoda. Kalo Alisa lebih lugu, imut, dan cute. Gua fokus ngenyotin toket Alisa kiri kanan secara bergantian. Gua marah tapi juga gua horny berat.

“Baanggg… Baaangg… Aaahhh… Aaahhh… Enak bangeet. Isepan mulut Abang lebih ganas ketimbang Randi. Aaaahhh… Aaaahh… Aku suka banget. Aku suka banget sama cara kamu ngisep toket akuu. Aaaahh… Aaaahhh… Teruss lebih ganas, Baang. Lebih kuat lagi! Aaaahhh…”

Tangan kanan gua gak tinggal diem, gua langsung masukin tangan kanan gua ke celana jeansnya Alisa. Gua mainin memeknya dia yang masih terbungkus celana dalem, sengaja gua belum masukin tangan gua ke celana dalemnya. Gua gesek-gesek jari gua di memeknya.

“Aaaahhh! Aaaahhh! Enaak bangeet! Enaak bangeeet! Kocok terus memek aku, Bang. Masukin tangan kamu ke celana dalem aku! Jangan nanggung Bang, aku udah sange ini! Aaaahhh! Aaaahh! Aaaahhh! Memek aku cepet banget basahnya kalo sama Abang. Aaahh…”

Udah dapet lampu hijau, buat ngocok memeknya. Langsung gua masukin tangan gua ke celana dalemnya Alisa. Memeknya udah basah, tapi gak becek banget. Gua mainin klitorisnya pakai jari tengah gua, sambil mulut gua masih ngisep kedua toketnya Alisa yang lebar itu.

“Aaaahhh! Aaaahhh! Aaaahhh! Aku gak tahaan! Aku gak tahaan! Entotin aku, Baang! Tolong langsung entotin aku ajaa! Aku udah gak tahan! Aku pengen dientot Abaang. Aku lepas celana dulu, Baangg. Aku bener-bener udah gak tahaan,” desah Alisa minta dientot secepatnya.

Randi ngentotin istri gua, mungkin balasan paling tepat gua ngentotin balik pacarnya. Biasanya gua kalo ngentot sama Alisa, gua selalu ngecrot di mulut atau perut. Sekarang gua pengen ngecrot di dalem memeknya Alisa. Biar bunting sekalian, ribut dah mereka berdua.

Karena emang udah sama-sama sange berat, akhirnya foreplaynya gak berujung lama. Gua langsung pelorotin celana jeans yang dipakai Alisa, sekalian sama celana dalemnya warna hitamnya. Dia bener-bener udah bugil di depan gua sekarang, mantep bener emang.

Sisa kaosnya aja yang cuma gua singkap doang, tapi ternyata sama Alisa kaos sama branya juga dilepas. Gua juga langsung lepas kaos, celana pendek, dan celana dalem gua. Kami berdua sama-sama telanjang di gudang, karena badannya Alisa ini cukup ringan.

Gua akhirnya angkat dan gendong badannya Alisa pakai kedua tangan gua. Dan tangan Alisa megangin kontol gua, ngarahin kontol gua ke memeknya dia. “Se—Seriusan, Bang? Mau ngentotin aku sambil digendong gini? Emangnya Abang kuat? Randi gak kuat loh gendong aku.”

“Kuaat lah, badan kamu kecil begini masa gak kuat. Dia mah emang lemah, bisanya ngentotin di kasur atau cewenya harus tiduran. Belum pernah ngerasain dientot sambil digendong gini yaa?” tanya gua ke Alisa, sambil senyum dan ketawa licik di depan dia.

“Be—Belum pernah, Bang. Aku perawan pecah pertama kali sama Randi. Belum pernah main kecuali sama Abang dan Randi. Aaahhh… Aaaahhh… Gilaa kontol Abang keras bangeet.” Akhirnya Alisa berhasil masukin kontol gua ke memeknya dia, dia langsung menjerit kecil.

Kedua tangan Alisa memeluk leher gua, dan kedua kakinya mengalungi pinggang gua. Karena memeknya udah basah, dan dia keliatan udah gairah banget. Langsung gua genjot kenceng memeknya dia, Alisa sampai memejamkan matanya dan mendesah keras.

“Aaaahhh! Aaaahhh! Gilaaa! Gilaaa! Terusss, Bang! Teruuss, Baangg! Entot aku lebih kenceng lagiii! Lebih kenceng lagiii! Aaaahhh! Aaaahhh! Aaaahhh! Kontol Abang panjang dan keras bangeet.” Gua semakin semangat ngeliat raut wajah Alisa yang keenakan.

“Enakan mana kontol aku atau Randi? Lebih suka dientot sama aku atau dientot Randi? Hah?” tanya gua sambil terus ngehantam memeknya Alisa pakai kontol gua. Seenggaknya gua gak sakit hati amat bini gua dientot. Kalo pada akhirnya gua juga bisa ngentotin pacar Randi.

“A-Aku suka lebih suka… Aaahhh… Aaahhh… Aaahhh… Aku lebih suka dientot sama Abang. Kak Farishaa… Kak Farishaa… Aaahhh… Aaahhh… Kak Farisha beruntung banget punya suami kaya kamu, Baang. Yang bisa muasin perempuan kaya gini,” jawabnya memuji gua.

“Plaakk… Plakk… Plakk… Plakk… Plakk… Plakk… Plakk…” Suara benturan kontol gua di memeknya Alisa bener-bener terdengar renyah. Suara hentakannya keras, dan ada suara beceknya dari cairan memeknya Alisa. Seneng banget gua, bisa digenjot brutal juga dia.

Alisa tiba-tiba langsung nyium bibir gua, gua langsung bales cipok bibir dia seganas mungkin. Kami berdua cipokan dengan begitu mesra, gua anggep Alisa bini gua sendiri pas lagi gua entot kaya gini. Biar gak ada beban mental, biar gak ada rasa bersalah sama sekali.

“Slrrrpp… Slrrrpp… Mmmhhh… Mmmhhh… Mmmhhh… Slrrrpp… Slrrppp… Slrrrpp…” Suara desahan Alisa yang terbungkam oleh bibir gua. Dan suara hisapan air liur kami berdua, bikin suasana ngentot makin menggairahkan. Gua ngerasa memeknya Alisa udah becek banget.

Alisa ngelepasin ciumannya di bibir gua, dan dia memandangi wajah gua dengan raut wajah yang sange parah. “Akuuu... Akuuu… Aaahhh… Aaahhh… Aaahhh… Aku pengen dientot Abang lagi. Ayoo Bang, kita main dua ronde. Aku gak cukup satu ronde aja, Bang.”

“Gak bisa, sayang. Kalo main dua ronde yang ada ketauan. Nanti kalo ada kesempatan lagi, kamu aku entot lagi yaa. Makanya sering main ke sini, kalo perlu main pas Randi lagi kerja. Biar bisa aku entot terus,” jawab gua yang gak berani ngentotin sampai dua ronde.

Terlalu beresiko, gua juga udah kehilangan keinginan untuk berkonflik sama mereka berdua. Kali ini gua maafin aja, karena gua udah dapet jatah ngentot dari pacarnya Randi. Meskipun ini gak impas banget, tapi seenggaknya bisa bikin gua lega dan gak terlalu sakit hati.

Setelah 10 menit gua ngegenjot memeknya Alisa sambil gendong dia. Tangan gua udah pegel, kontol gua juga udah pegel nahan sperma kelamaan. Udahlah, sperma gua udah diujung. Gua crotin aja ke dalem memeknya Alisa, gak usah minta izin langsung crotin aja biar puas.
 

mainputing

Semprot Addict
Thread Starter
Daftar
17 Feb 2022
Post
484
Like diterima
14.041
Chapter 6

“Aaaahhh!! Aaaahhh!! Aaaahhhh!!” Gua hentakin kontol gua sekeras mungkin ke memeknya Alisa. Sambil numpahin semua sperma gua di dalam memeknya dia. Alisa keliatan ngos-ngosan dan agak bingung. Anjiir enak banget bisa ngecrot di dalem memeknya Alisa.

Yang enak itu bukan ngecrotnya, tapi puas banget bisa balas dendam, hahaha. Kalo masalah ngecrot di dalem memek mah gua udah sering. Iyaa kalo sama Alisa baru pertama kali sih, seringnya sama cewe lain. Entah bini gua, atau sama temen satu kantor sewaktu kerja dulu.

Gua akhirnya berhenti genjot memeknya dia, Alisa keliatan udah kecapean. Nafasnya ngos-ngosan udah kaya habis lari ratusan meter. “Haaahhh… Haaahhh… Haaahhh… Aku lemes banget, Bang. Aku tadi sempet orgasme sekali, jarang banget aku dapet orgasme kaya gini.”

“Emang Randi gak pernah bikin kamu puas? Lah kirain kamu sering ngewe sama dia, karena bisa puasin kamu,” tanya gua ke dia. Sambil nurunin badannya Alisa pelan-pelan, gua ngelepasin kaki kanannya dulu. Sampai antep kaki kanannya napak ke lantai gudang.

“Jarang, Bang. Randi itu cepet banget keluar, kadang 2-3 menit udah keluar duluan. Aku biasanya dapet big o, kalo dia pakai tissue magic atau minum viagra. Lega banget sumpah rasanya. Kaya beban pikiran itu langsung ilang,” jawab Alisa yang berhasil berdiri lagi.

Gua rada bingung, kenapa Alisa kaya gak nyadar kalo gua ngecrot di dalem memeknya dia. Tapi sebelum dia nyadar, gua minta maaf duluan. “So—Sorry yaa, Alisa. Aku tadi keluar di dalem, kelepasan sumpah serius. Semoga kamu gak panik, kalo jarang gak jadi anak kok.”

“Hahaha, santai aja kali, Bang. Anggep aja bonus dari aku, karena kamu bikin aku puas dan lega. Yang penting kita jangan sampai ketauan sama Randi. Soalnya aku gak pernah ngizinin Randi keluar di dalem memek aku,” ujarnya yang keliatan santai banget kaya gak ada apa-apa.

Sambil pakai baju, gua coba tanyain kenapa dia gak marah gua crot di dalem. “Lah? Kalo Randi gak boleh, kenapa aku gak masalah? Kamu bukannya gak bolehin Randi, karena takut hamil kan? Karena kamu baru masuk kerja dan lagi ngejar karir kamu? Bukan begitu?”

“Kenapa? Karena kamu ganteng, hahaha. Makanya aku sering godain bang Rangga, kalo Randi lagi keluar beli makanan. Dan ternyata kamu gampang banget digoda. Makanya aku bilang Kak Farisha beruntung banget.” Hahaha, anjir sumpah gua mau ketawa ngakak rasanya.

Gila selera dia rendah banget, muka kaya gua aja dianggap ganteng, hahaha. Udah selesai pakai baju, gua minta Alisa untuk keluar duluan dan masuk ke rumah. Sedangkan gua keluarnya nunggu 5 menitan, biar gak dicurigain kalo tiba-tiba masuk rumah bareng.

Udah 5 menit Alisa keluar dari gudang, gantian gua yang keluar dan masuk ke rumah. Gua ngeliat bokap sama adek gua udah di ruang keluarga. Iyaa pertempuran mereka bertiga udah selesai, sementara Farisha lagi nyuci piring di dapur. Mereka juga kayanya baru kelar sih.

Gua berjalan ke dapur buat makan siang, dan pas di dapur gua ngeliat Alisa keluar dari kamar mandi. Gua langsung lirik-lirikan sama dia. Dan ngejek dia sambil bisik-bisik. “Habis nyuci memek yaa? Hahaha, takut ketauan dia di dalem memeknya ada sperma orang lain, hahaha.”

“Iyaalah takut, Bang. Aku kan belum ngasih jatah ke Randi hari ini. Takut tau-tau diajak masuk ke kamar terus dientot sama dia. Kalo izin ke kamar mandi dulu yang ada dia curiga nanti,” jawab Alisa ketawa termehek-mehek di samping gua. Dan dia lanjut jalan ke ruang tamu.

Pas Alisa udah sampai di ruang tamu, bokap udah masuk ke dalam kamar. Gua coba ngintip dan ngeliat Randi sama Alisa ciuman bibir. Buahahaha, mampus noh rasain bekas jigong sama kontol gua. Dasar adek kurang ajar, yang sukanya ngentotin bini abangnya sendiri.

Gua yang pura-pura gak tau apa-apa, kembali ke dapur dan pura-pura bego. “Kamu nyuci piring kayanya dari tadi gak selesai-selesai? Perasaan kamu tadi nyuci piring jam 3 sore. Sekarang udah mau jam 4 masih belum selesai? Nyuci piring apa nyuci kontol papaku kamu?”

Farisha ketawa kecil mendengar gua bertanya kaya gini. “Hehehe, dua-duanya sayaang. Tadi papa kamu ngajak aku naik ke atas, dan minta jatah ke aku lagi. Tapi aku udah bilang itu jatah terakhir hari ini. Cape aku hari ini dientot papa kamu sampai 5 kali, perih memek aku.”

“Kalo memek kamu perih, aku gak bisa ngentotin kamu dong malem ini? Gak dapet jatah lagi aku? Harusnya tadi pagi aku entot habis-habisan aja kamu. Biar papaku yang gak dapet jatah,” jawab gua yang agak dongkol. Tapi untungnya hari ini gua udah 2 kali ngecrot.

Si Joni sudah gak rewel, kayanya juga udah gak sanggup bertarung. Tadi udah ngecrot disepong sama Farisha, dan ngecrot di memeknya Alisa. Yang sedih itu kalo gua belum ngecrot sama sekali. Tapi bini gua udah dicreampie bolak balik sama bokap dan adik gua.

Lah ini jadi gua yang nikahin, tapi bokap dan adik gua yang ngentotin. Gua yang suami sahnya malah sering gak dapet jatah. Masalahnya mereka kalo ngentot suka gak pake perasaan. Bini gua dihentak keras bener, iyaa jelas aja baru dientot 5 kali udah perih memeknya dia.

Untung aja dia udah jadi bini yang binal, coba kalo masih amatiran, trauma habis dia dientot sampai memeknya perih. Sambil menaruh piring yang baru dicuci ke rak piring, Farisha pun minta maaf sama gua. “Maaf yaa, sayaang. Besok deh habis ngentot sama papa, aku kasih jatah kamu ngentot.”

“Iyaa kenapa gak pagi aja ngentot dulu sama aku? Aku punya hak dong untuk ngentotin kamu duluan? Mereka berdua kan cuma numpang minjem kamu doang?” tanya gua yang ngerasa ini gak adil. Besok kan gak ada Alisa, karena besok hari senin. Sedih lagi nasib gua.

“Papa suka marah, sayaang. Kalo aku ngentot sama dia setelah aku ngentot sama kamu. Dia itu keras kepala, gak boleh aku dipake kamu sama Randi. Kecuali dia dulu yang pakai sampai puas. Baru setelahnya kamu boleh ngentotin aku,” jawab Farisha yang bikin gua emosi habiis.

Gua langsung ngelus dada, berusaha sabar takutnya gua khilaf. Nonjokin bini gua juga gak bikin selesai apapun. Nonjokin bokap gua baru ini masalah selesai. Gua akhirnya mutusin untuk mandi sore sekalian keramas. Biar badan seger dan pikiran rada ringanlah.

Selesai mandi, makanan untuk makan malam sudah selesai dimasak Farisha. Bokap ngajak gua makan bareng sama dia, Randi, Alisa, dan Farisha. Iyaa gua tau kenapa gua diajak makan malam bareng di meja. Dia pengen ngomong ke gua, dia mau Farisha kerja jadi sekretaris dia.

Gua akan menolak dan bilang enggak, karena momen kebahagiaan gua sama Farisha. Hanya bisa terjadi ketika Randi dan bokap gua kerja. Kalo mereka berdua libur, udah gak ada kesempatan gua buat mesra-mesraan sama bini gua. Bini gua dikekep di kamar mereka.

Gua duduk di kursi makan, nunggu Farisha ngambilin nasi dan lauk buat gua. Setelahnya kami berlima makan bersama. Dan sambil makan ini, bokap memulai perbincangannya. “Rangga, kamu kan gak kerja. Papa rencananya minggu depan, mau mempekerjakan Farisha di kantor.”

“Hah? Farisha mau kerja di kantor Papa? Kenapa gak aku aja yang Papa tawarin kerjaan?” tanya gua yang pura-pura ******. Padahal udah dikasih tau duluan sama Farisha.

“Ngapain Papa ngasih kerjaan kamu? Dulu waktu lulus sekolah, Papa suruh kamu kuliah di perhutanan atau pertanian. Malah masuknya ke fakultas IT. Emangnya kalo kamu kerja di kantor Papa, kamu bisa apa? Hah?” tanya bokap dengan raut wajah nantang ngajak gelut.

“Bisa apa? Lah? Kan sistem data management perusahaan Papa pakai server kan? Papa bahkan punya database sendiri. Untuk menghitung data kayu dan tanaman yang terjual. Aku bisa ngurusin itu,” jawab gua yang ngasih tau kalo banyak yang bisa gua kerjain di kantornya.

Bokap malah ketawa miris, dia kaya ngeremehin banget gua. “Hahaha, aduuh Rangga. Yang sekarang posisinya lagi dibutuhin, itu orang yang ngerti tentang tanaman dan jenis-jenis kayu. Posisi buat pekerjaan seperti itu, udah ada orangnya yang kerja di perusahaan Papa.”

“Terus, kalo Farisha kerja di perusahaan Papa. Yang ngurusin kerjaan rumah siapa? Kan aku nikahin Farisha, biar dia yang megang kerjaan di rumah ini. Lagian Farisha itu kan latar belakangnya perawat. Emang bisa jadi sekretaris?” Sumpah ini gak masuk akal banget.

“Jadi sekretaris mah bisa pendidikan apa aja. Yang penting cantik, rapi, seksi, dan juga bisa ngurus dokumen perusahaan. Yang ngurusin kerjaan rumah kamu, lah! Masa kamu mau seenaknya leye-leye di sini? Mau jadi apa kamu? Hah? Mau jadi sampah di rumah ini?”
 

mainputing

Semprot Addict
Thread Starter
Daftar
17 Feb 2022
Post
484
Like diterima
14.041
Chapter 7

Ada Alisa, Farisha, dan Randi di meja makan ini. Dan bokap gua malah niat banget mempermalukan gua kaya gini. Dia ngatain gua sampah? Dan gua disuruh ngurus kerjaan rumah? Udah gilaa ini bapak-bapak tua! Sintingnya udah sampai ke ubun-ubun nih orang!

“Aku? Aku yang ngerjain kerjaan rumah? Paah, nanti kalo semua kerjaannya berantakan gimana? Aku gak pernah ngurus kerjaan rumah sama sekali. Dari kecil kan dididik untuk bisnis dan cari uang,” jawab gua yang berusaha tetap bicara baik-baik sama si Tua Bangka ini.

“Gini aja deh, kamu disuruh cari uang gak bisa. Ngurus rumah juga gak mau. Terus mau kamu apa? Kan udah bagus kalo kamu lagi gak kerja, terus istrimu kerja. Bener gak Alisa perkataan Papa?” tanya bokap yang mulai nyari dukungan dari orang lain, hahaha.

Alisa yang sedang makan, dia langsung mengambil sikap yang cukup bagus. “Kalo menurut aku ya, Pa. Lebih baik Bang Rangga yang dimasukin ke kantor. Masuk-masukin aja ke lowongan apa gitu. Kak Farisha biar tetap di sini aja, soalnya dia kan latar belakangnya perawat.”

Bokap kaya gak terima, dan malah ngejulid sama si Alisa. “Halah, kamu mah mikirnya kok kaya gitu! Udah! Pokoknya Papa memutuskan untuk Farisha yang kerja di perusahaan Papa. Kalo kamu gak mau ngurusin kerjaan rumah, kamu pergi aja udah dari rumah ini, Rangga!”

Randi langsung ketawa cekikikan, dia keliatan seneng banget gua mau diusir dari rumah ini. “Hahahaha, aduuuh perutku sakit saking kerasnya ketawa. Buahahahaha, gak logis cara berpikirnya Bang Rangga. Udah minggu depan Kak Farisha masuk aja ke kantor lah!”

Ini bukan diskusi, tapi pemaksaan secara sepihak! Kalo diskusi itu, ada pihak yang keberatan kita coba obrolin! Ini enggak, gua keberatan malah diserang secara personal. Emang mereka berdua ini tainya udah kebangetan. Gua sama sekali gak bisa ngelawan kalo begini.

Mereka berdua bener-bener gak mau, mendengarkan pendapat gua. Siap-siap aja gua jadi Bapak rumah tangga. Akhirnya setelah makan malam selesai, gua gak bisa ngapa-ngapain lagi. Farisha udah fix, senin depan bakal masuk kerja di perusahaan yang dibangun bokap.

Minggu depan pula, gua harus mulai cuci baju, cuci piring, nyapu, ngepel, nyetrika, dan lain-lain. Karena gua udah gondoknya bukan main, gua akhirnya langsung masuk ke kamar. Gua fokus main handphone aja udah, yang belum gua pegang lagi sejak tadi siang.

Gua buka whatsapp, dan ada satu nomor gak dikenal yang ngechat gua. Kayanya sih ini Rahma yang ngechat, soalnya dia kan baru aja gua kasih nomor whatsapp. “Ranggaa, save yaa ini nomor aku, Rahma. Akhirnya aku dapetin nomor kontak kamu lagi, seneng deh rasanya.”

Dia ngechat dari jam 3 sore, dan belum gua bales sampai jam 7 malem. Bini gua masih di luar, lagi nyuci piring bekas makan malam barusan. Aman kali yaa kalo gua bales chatnya si Rahma. Sebenarnya bini gua gak pernah ngecek-ngecek handphone gua sih.

Tapi buat jaga-jaga aja, takutnya dia curiga gua chattingan sama orang lain. Gua coba save nomornya Rahma dan gua bales chat dari dia. “Ohh, iyaa aku save yaa. Emangnya kenapa, kok bisa kamu seneng dapet nomor kontak aku? Udah kaya dapet nomor kontak pejabat aja.”

Hahaha, sok lembut banget gua ngomong sama si Rahma. Baru bales chatnya dia, beberapa detik kemudian dia langsung on dan bales chat gua. “Kamu lagi sibuk gak, Rangga? Aku lagi bete dan sepi banget nih. Video call yuk? Aku pengen ngeliat muka kamu yang sekarang.”

“Hah? Video call? Iyaa boleh aja sih, aku juga lagi gak sibuk kok. Kalo kamu mau nelfon, yaa telfon aja. Kalo aku lagi gak sibuk yaa aku angkat,” balas gua ke Rahma. Iyaa bolehlah, meskipun gua rada was-was juga sih. Biasanya kalo udah malem, Farisha masuk ke kamar.

Dia biasanya istirahat karena cape udah ngurusin rumah seharian. Tapi gak apa-apa lah, sebentar aja ini. Dan dia langsung nelfon gua via video call. Tanpa basa basi, langsung gua angkat telfonnya dari Rahma. Dan gua langsung ngeliat Rahma yang lagi tiduran di kasur.

Dan gebleknya lagi, gua ngeliat Rahma cuma pakai sport bra warna abu-abu. Sama celana dalem dengan warna yang sama. “Haloo, Ranggaaa. Ohhh, my goodness! Kamu ganteng banget, sekarang. Dulu perasaan waktu sekolah sampai kuliah, kamu gak seganteng ini deh.”

“Hah? Ganteng apaan sih? Kamu lebay banget, hahaha. Kamu lagi di kamar? Kok video call cuma pakai sport bra sama celana dalem gitu? Nanti akunya kesenengan gimana? Hahaha,” jawab gua ngegodain dia secara halus. Anjiirlah, jackpot parah langsung ngeliat yang mulus.

“Loh? Kamu seneng ngeliat aku pakai baju kaya gini? Iyaa gak apa-apa dong, bagus kalo kamu seneng. Kan kata orang nyenengin orang lain pahalanya gede, hahaha. Eh iyaa, kamu sekarang kerja di mana Rangga?” tanya Rahma yang langsung nanyain tentang kerjaan.

Daripada ngebohong nyari-nyari alesan, udah gua jawab jujur ajalah. “Lagi gak kerja aku, Rah. Baru 3 bulan kemarin dicut sama kantor karena pandemi. Duuuhh, pusing banget aku ini. Makanya aku mau video call sama kamu juga minder. Akunya lagi gak punya duit.”

Di luar dugaan, ternyara Rahma biasa aja dengan gua nganggur. “Yaa ampun, hahaha santai aja kali Rangga. Aku juga gak minta uang kamu kok. Emangnya aku cewe mata duitan? Ihh serius kamu sekarang gemesin banget. Farisha pinter banget yaa ngurusin kamu. Hebat dia loh.”

“Hahaha, jangan berlebihan gitulah. Aku ngerasa biasa aja kok. Orang stress karena gak kerja begini. Ganteng dari mana coba? Kamu katanya kemarin gagal nikah? Coba sini cerita sama aku?” jawab gua yang coba-coba cari topik obrolan sama si Rahma ini.

“Nahh, aku emang pengen curhat sama kamu. Tapi kalo bisa, aku pengen ketemu aja. Kita ngobrol di Ibis Jakarta aja gimana? Tempatnya kan nyaman itu? Istri kamu curigaan dan rewel gitu gak sih, Rangga?” Anjiirr gua diajak check in sama si Rahma. Seriusan nih?

Gua gak langsung nerima ajakannya, pura-pura polos dan ****** adalah jalan ninja gua, hahaha. “Astaga, hahaha. Ngapain ngobrol aja sampai ke Ibis Jakarta? Ngobrol yaa ke kafe, ke restaurant, ke taman. Lah ini ngobrol ke Ibis Jakarta? Yang ada kita berdua khilaf nanti.”

Rahma langsung senyum genit sambil mempertanyakan kepolosan gua ini. “Yakiin gak mau? Hahaha, aku yang bayarin hotelnya kok. Kamu cukup bawa badan aja, sama nyetirin mobil aku. Kita kan sahabat lama dulu, kenapa aku harus takut sama kamu coba?”

Gaaslah! Dia udah terang-terangan kaya begitu mah. Rahma emang dari dulu orangnya frontal banget. Alasan gua suka dan ngincer Rahma, bukan karena dia cakep, seksi, dan montok doang. Tapi karena anaknya enak banget diajak ngobrol, sama orangnya frontal dan berani.

Mungkin kalo sambil nginep begitu, gua bisa terbuka dan cerita tentang permasalahan hidup gua juga ke dia. Gua gak berharap dia bisa bantu sih, seenggaknya gua bisa ngerasa lega aja. Karena udah cerita masalah hidup gua, ke orang yang menurut gua bisa dipercaya.

“Iyaudah kalo gitu, tentuin aja waktunya kapan. Tapi jangan minggu ini yaa, soalnya istri aku di rumah terus minggu ini. Minggu depan Farisha udah mulai kerja di tempat bokap. Bisa tuh pas kerja kita ketemuan,” jawab gua yang menerima ajakan dia untuk check in bareng.

“Okee deh, siaap! Nanti aku kabarin lagi yaa waktunya. Seenggaknya kita ngobrol-ngobrol santai dulu aja. Aku lagi pusing dan mumet, pengen ngobrolin hal-hal ringan sama kamu.” Gua sama Rahma akhirnya ngobrol panjang via video call, meskipun bukan hal penting.

Lebih ngebahas hal-hal tentang masa-masa sekolah dan kuliah kita berdua. Gua sama Rahma ngobrol sekitar 1 jam, tapi kok Farisha gak masuk-masuk ke kamar? Astaga gua harus nyariin keberadaan Farisha lagi, di rumah bokap gua yang luasnya hampir 500 meter ini.

Udah 1 jam ngobrol sama Rahma, gua mutusin untuk minta izin akhiri telfon. Dan gua keluar buat nyari di mana keberadaan Farisha. Dan pas gua keluar, gua ngeliat ruang tamu kosong. Gak ada siapa-siapa, gua denger suara desahan perempuan. Tapi bukan suara Farisha.

Ini kayanya suaranya Alisa yang lagi dientot sama Randi. Gua akhirnya berjalan menuju dapur, dan gak ada siapa-siapa juga di sana. Tapi samar-samar, gua denger suara desahan cewe lain. Dan ini kayanya suara Farisha, di dapur gua denger dua suara desahan yang cukup pelan.

Karena keduanya berasal dari jarak yang jauh, gua coba ikutin asal suaranya Farisha. Dan ternyata suara desahannya Farisha ada di halaman belakang. Gua coba intip sedikit halaman belakang, seketika gua ngeliat Farisha lagi dientot sama bokap, di kursi santai kolam renang.
 
Jav Toys
Gaple Online Indonesia
Pasang iklan hanya lewat CONTACT US
Top
Semprot is now part of LS Media Ltd