9Club Situs Judi Online Terpercaya
Asus Togel online   Mandala Toto
RGO Online
Pasang iklan, hanya lewat Contact Us.
Waspada penipuan iklan. Klik di sini untuk melihat daftar penipu.

DARK LANTERN (by Arczre)

Status
Thread ini sudah dikunci moderator, dan tidak bisa dibalas lagi.

Lin994

Tukang Semprot
Daftar
23 Sep 2014
Post
1.098
Like diterima
9
Lokasi
bekasi
kalo dipikir pikir gabungan semua elemen ray udah gabisa dikalahin nih

jadi ga sabar pengen tau kekuatan musuhnya hehee

sebagai contoh ray bisa bikin panah besi yg panas banget dipadu dengan kecepatan petir bahkan cahaya
nahh gimana cara lawannya tuh hehe

:beer:

kita serahkan saja pada takdir..
=))=))=))
 

kaisar84

Semprot Kecil
Daftar
1 Sep 2011
Post
54
Like diterima
8
kita serahkan saja pada takdir..
=))=))=))

:hammer:kita serahkan pada TS-nya...semoga endingnya bener wah, btw ane saranin buat TS, bikin versi no exe-nya, ane yakin ni bisa jadi novel yang menarik dibaca, apa lagi ada lanjutannya....
 

trace

Semprot Kecil
Daftar
19 Aug 2012
Post
51
Like diterima
7
Cara ray nguasain dark matter dan void mirip cara naruto dapetin tenaga tambahan dari kyubi y? :D
 

ahyau

Tukang Semprot
Daftar
17 Jun 2011
Post
1.448
Like diterima
813
Udah poligami aja dah..
Secara Maria udah ngebet banget sama Ray, dan perawan nya Michelle ud di embat Ray juga..
Ray harus tanggung jawab dunk..
 

amenhotep

Semprot Baru
Daftar
4 Sep 2014
Post
40
Like diterima
15
untung aja pas lagi exe michelle, mereka udah di syberia
coba di tempat yg gk ada saljunya
lagi asik main
berubah jd nenek2
:tidak:
 

arczre

Suhu Semprot
Thread Starter
Daftar
18 Jan 2014
Post
3.245
Like diterima
6.871
Lokasi
Sekarang di Indonesia
BAB XXVI

Elemental vs Elemental

NARASI ANDRE


Aku dan Puri berada di tempat Alex. Kami membahas tentang apa yang terjadi beberapa hari yang lalu. Kalau para aparat bisa membantu ATFIP sepeti itu, mengorbankan orang-orang yang tidak berdosa. Maka tinggal menunggu waktu saja hingga itu terjadi kepada para elemental ini. Mungkin memang ada sesuatu yang terjadi antara aku dan Puri. Mungkin karena rasa jengkelku kepada Maria, mungkin juga karena aku ingin pelarian, aku jadi makin dekat dengan Puri. Dia memang memperlakukanku dengan khusus, lebih tepatnya sangat spesial. Mungkin ibarat gayung bersambut, aku pun tidak menolak perlakuannya. Gila apa? Udah ngasih keperawanannya buat aku. Aku jadi nggak enak. Tapi berkali-kali ia mengatakan bahwa ia sadar aku masih suka ama Maria.

Dan ada kejutan khusus hari itu. Aku mengajak Detektif Johan dan Inspektur James ke tempat Alex. Ada yang ingin diberitahukan oleh Inspektur James. Kedantangan keduanya tentu saja membuat para elemental sedikit terkejut. Tapi mereka harus mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.

Tempat Alex ini merupakan sebuah gedung tua yang tidak terurus. Tapi karena para elemental tinggal di sini, akhirnya tempat ini pun sedikit terawat. Inspektur James tampak tertarik dengan para elemental itu, mungkin karena dia baru saja melihat hal ini. Atau mungkin saja tidak.

"Yo, detektif?! Apa kabar?" sapa Alex. Ia memang sedikit ugal-ugalan.

"Aku baik-baik saja. Bagaimana dengan kalian?" tanya Detektif Johan balik.

"Seperti yang kalian ketahui, kita siap perang," ujar Alex.

"Inspektur James ingin menyampaikan sesuatu," kata Detektif Johan.

"Hmm??" Alex menoleh ke pria berkumis yang ada di samping Detektif Johan.

"Ada apa inspektur?" tanya Alex.

"Mungkin kalian sudah tahu bahwa selama ini ATFIP disusupi oleh Dark Lantern. Sebuah sekte yang katanya sebagai pembawa kabar dari Mesiah. Dan mereka berusaha untuk menghabisi para elemental. Sebenarnya persoalannya tidak seperti itu, tapi lebih rumit," kata Inspektur James.

"Kami mendengarkannya inspektur," kata Alex.

"Ada sebuah ajaran bahwasannya barangsiapa yang bisa menumpahkan darah di lima titik yang terbentuk dengan pentagram, maka dia bisa memanggil Iblis. Itulah yang terjadi sekarang. Kalian memang tak pernah tahu atau memang tahu tapi tidak mengerti, tapi itulah yang terjadi. Dulu ada 8 Miles. Di mana di sana ada pembantaian yang dilakukan oleh Dark Lantern dengan berkedok untuk menghabisi para elemental. Tapi sebenarnya tidak demikian. Yang terjadi justru para elemental berusaha melindungi orang-orang yang tidak bersalah. Namun mereka semuanya dibantai dengan sadis oleh Dark Lantern. Peristiwa itu dikenal dengan nama 8 Miles. Polisi menandai kasus ini sebagai kasus yang tidak terpecahkan, karena tak ada saksi mata, tak ada barang bukti, karena tiba-tiba satu apartemen telah dibantai semua. Tidak tua, juga tidak muda, bahkan anak-anak tewas di tempat ini.

"Peristiwa berikutnya adalah di titik kedua, kejadiannya sama persis seperti 8 Miles. Kami menyebutnya 8 Miles kedua. Semuanya sama persis korbannya pun sama. Dan kejadian ketiga memang tidak melibatkan para elemental secara langsung, tetapi tetap sama adanya pertumpahan darah. Kejadian keempat yaitu teman kalian, berkedok penggerebekan terhadap teroris, kalian secara tak langsung terlibat di sana. Pertumpahan darah terakhir terjadi baru-baru saja. Itu adalah titik terakhir sebelum mereka akan menyambut sang Iblis."

"Jadi maksudmu Dark Lantern adalah kelompok yang ingin membangkitkan Iblis?" potong Alex.

"Dari semua peristiwa ini sebuah syarat yang harus dilakukan oleh Dark Lantern adalah mengorbankan anggotanya paling tidak lima anggota agar pesta darah itu bisa diterima oleh sang Iblis Azrael. Dulu kalian, para elemental yang berjuang mengurung sang Iblis. Namun sekarang sejarah adalah milik orang yang menang. Mereka sekarang di atas kemenangan. Karena itu mereka akan menggunakan momen ini untuk memuluskan maksud mereka memanggil sang Iblis, Azrael.

"Hari ini aku akan memperkenalkan kalian kepada orang yang disebut sebagai ibu dari semua elemental. Dia adalah Lili van Bosch seorang Balancer. Lilis, keluarlah!" kata Inspektur James.

Dari bawah bangunan, kami melihat seseorang wanita berambut panjang, bahkan sampai menyentuh lututnya. Wanita itu bermata teduh, wajahnya sangat cantik, gaunnya panjang sampai ia seret. Diakah wanita yang muncul waktu itu?

"Wanita itu...aku bisa merasakannya, dia yang kemarin datang melawan Robert," kata Puri. Ia tiba-tiba saja menangis. Kenapa?

"Puri? kenapa kamu menangis?" tanyaku.

"Entahlah, tiba-tiba saja aku menangis, seolah-olah ada rasa kerinduan di dalam dadaku," jawab Puri.

"Anak-anakku, semoga kalian selalu diberkati," kata Balancer.

"Ke..kenapa aku menangis?" kata Alex.

Semua para elemental yang ada di ruangan itu juga ikut menangis.

"Aku adalah Lili van Bosch, seorang Balancer. Akulah yang memberikan kekuatan elemental itu kepada kalian ketika kalian masih bayi. Aku memberkati kepada kalian semua kekuatan itu agar kalian bisa bersatu saat ini untuk mengalahkan Azrael. Aku terlambat untuk muncul, bukan berarti aku tak ingin menolong kalian, tapi aku ingin kalian lebih kuat lagi ketika bertemu denganku. Sekarang adalah saat yang tepat," kata Balancer.

"James, kamu tak pernah bicarakan tentang hal ini," kata Detektif Johan.

"Ada banyak hal yang tidak bisa aku jelaskan Piere," kata Inspektur James.

"Anak-anakku, aku sangat senang sekali bisa bertemu dengan kalian sekarang ini. Alex, kemarilah nak!" kata Balancer.

Alex entah kenapa ia menangis dan langsung memeluk Balancer, "Ibuuuu....huaaaaaaaa...!"

Dan kemudian diikuti oleh para elemental lainnya. Balancer menyapa mereka satu per satu. Puri juga ikut-ikutan, ada sebuah ikatan aneh di antara Balancer dan para elemental ini yang tidak bisa aku jelaskan. Tapi sungguh ini adalah pemandangan teraneh yang pernah aku lihat seumur hidupku.

****

Balancer menjelaskan kepada kami bahwa kurang lebih seminggu lagi saat planet-planet dan satelit-satelit sejajar saat itulah dimulainya kebangkitan Azrael. Kami semua sekarang seperti bersiap untuk berperang. Banyak dari kami berlatih, dan Balancer mengajari semua elemental untuk menggunakan kekuatan elemental mereka secara maksimal. Puri pun sekarang lebih kuat dari sebelumnya. Alex juga, aku bisa merasakan kekuatan mereka. Dan aku?

Aku cukup tertarik dengan sarung tangan yang robet pakai kemarin itu. Aku akhirnya mencoba membentuk sarung tangan sendiri seperti Robert. Kuutak-atik tongkat jolt yang aku bawa dari tangan orang-orang ATFIP itu, dan aku modif sendiri. Sekarang bentuknya aku modif seperti gelang agar aku lebih mudah untuk menggunakan kekuatan elementalnya.

Hari itu perasaanku tidak enak, seolah-olah akan terjadi sesuatu.

"Kita pergi yuk," ajak Puri.

"Kemana?" tanyaku.

"Kemana kek gitu, agak bosan aja di sini," jawabnya.

Aku setuju. Kami pun akhirnya jalan-jalan keluar dari gedung. Kami menyusuri halaman apartemen yang sudah tak terpakai itu. Halamannya cukup luas, tapi sudah ditumbuhi semak belukar dan ilalang. Beberapa orang elemental tampak sedang berlatih di luar gedung.

"Kamu kenapa sih?" tanya Puri. "Koq kaya'nya wajahnya suntuk?"

"Perasaanku nggak enak Pur," jawabku.

Puri mengangguk-angguk, "Aku juga. Sepertinya akan ada sesuatu yang datang."

Aku menggandeng tangannya sekarang. Puri tersenyum saja.

"Ndre, kamu punya wasiat nggak?" tanyanya.

"Wasiat?"

"Yah, kalau misalnya kamu tidak selamat dalam pertempuran terakhir kita nanti."

"Hmm...apa ya, mungkin wasiatku aku ingin minta maaf kepada ayah dan ibuku, karena aku terkadang membuat mereka susah."

"Itu saja?"

"Mungkin yang lainnya aku ingin bilang kalau aku suka ama Maria."

"Hmm..., kamu masih ada perasaan ama Maria?"

"Ya iyalah."

"Setelah semua yang dia lakukan kepadamu?"

Aku mengangguk.

"Setelah apa yang sudah kita lakukan?"

"I..itu..., soal lain."

"Dan yang kamu lakukan selama ini ke aku? Kamu masih mengingkarinya?"

"Mengingkari apa sih?" aku tak mengerti.

"Kenapa kamu menolongku waktu itu? Kenapa kita bercinta malam itu? Kenapa kamu memegang tanganku sekarang?"

Aku kaget dan melepaskan tangannya. Puri langsung memelukku.

"Sudahlah Ndre, fahamilah kalau kamu sekarang ini menyukaiku. Iya bukan? Karena aku sekarang ini merasakannya. Rasanya di dadaku sesak Ndre. Mungkin ini juga yang dirasakan oleh Maria kepada Ray sekarang. Ndre...jangan pergi pliiss."

Aku tak tahu harus berbuat apa. Puri sangat erat memelukku sekarang ini. Memang sih, ada yang aneh. Aku kenapa dulu menolong dia? Kenapa juga aku bisa bercinta dengan dia. Dan kenapa aku reflek memegang tangannya. Apa memang aku sekarang sudah menyukainya?

"Aku...mencintaimu Puri," kataku sambil membalas pelukannya.

"Aku juga Ndre, aku juga," katanya.

Kami berciuman hari itu, sungguh aku tak pernah merasakan ciuman seperti ini sebelumnya. Walaupun aku pernah berciuman dengan Maria, tapi tidak pernah sedalam ini, tidak pernah selembut ini. Rasanya nikmat, tak bisa aku lukiskan dengan kata-kata. Bahkan rasanya manis. Apakah ini karena kami sama-sama mencintai?

NARASI MARIA

"Maria, aku akan pulang," terdengar suaranya Ray.

"Iya Ray, aku tahu," kataku.

Semenjak sebulan terakhir ini aku mendengar bisikan Ray. Aku yakin itu Ray. Suaranya sangat jelas. Mungkin orang-orang mengira aku berhalusinasi, tidak ayahku, tidak juga Andre, sama saja semuanya. Tapi aku benar-benar mendengarnya. Sangat jelas.

"Maria, kemarilah. Aku datang," kata suara Ray lagi.

"Iya Ray, aku ke sana!" aku pun berlari. Mengejar suara Ray. Aku tahu itu dia, dia datang.


NARASI ANDRE

Kami semua mendengar keributan di luar sana. Segera aku, Puri, Alex dan Tim keluar, juga bersama beberapa elemental lainnya. Kami mendapati lima orang berseragam ATFIP sedang berdiri di depan apartemen. Apa yang terjadi? Mereka tak membawa tongkat Jolt, ataupun sarung tangan Jolt. Tapi aku melihat salah seorang dari mereka bisa memainkan bebatuan melayang-layang di tangannya.

"Siapa kalian?" tanya Alex.

"Kami dari ATFIP, namaku Fei," kata orang pertama.

"Namaku Black," kata orang kedua.

"Namaku Yuzak," kata orang ketiga yang bermain-main dengan batunya.

"Namaku Elena," kata orang keempat dia satu-satunya cewek.

"Namaku Mark," kata orang terakhir.

"Oh, dari ATFIP, punya nyali juga kalian hanya mengirim lima orang kemari," kata Alex.

"Sebenarnya kami tim penyapu ranjau. Anggap saja kami ini orang yang bekerja di balik layar. Tim berikutnya seolah-olah yang akan jadi pahlawan," kata Fei.

"Kalian ini tak memakai Jolt, apakah kalian elemental?" tanyaku.

"Wah wah, tepat sekali. Kamu siapa?" kata Black.

"Aku Andre," jawabku.

"Elemental? Elemental katamu? Bagaimana mungkin elemental bisa bergabung dengan ATFIP?? Kalian jangan bercanda!" kata Alex.

"Apakah ini tidak cukup?" tanya Black. Ia mengeluarkan kabut gelap di telapak tangan kanannya. "Elemenku adalah kegelapan."

"Lex, mereka sungguh-sungguh," kataku.

"Aku Fei, elemenku api," kata Fei. Dia mengibaskan tangannya, seketika itu juga di depannya langsung menyala kobaran api yang besar.

"Aku Elena, elemenku cahaya. Kalian tak akan bisa mengalahkan kami. Bersiaplah menemui ajal," ujar Elena.

Tanpa disangka-sangka sebelumnya kelima orang ini pun akhirnya mengeluarkan kekuatan elementalnya untuk menyerang kami. "Whoaaa!"

Puri dan aku langsung menghindar ketika sebuah bola batu raksasa melayang ke arah kami. BLAAR! Suaranya membuat gaduh semua orang. Alex sudah melompat ke udara dengan elemental anginnya. Aku memasang dua gelang Joltku di lengan. Elemen tanah dan air. Apa yang akan terjadi kalau aku memakai keduanya? Siapa tahu?

Tanpa disangka, di udara sudah ada orang di sana. Itu Mark. Ternyata dia memiliki elemen petir, karena aku bisa melihat kilatan cahaya listrik dari lompatan kakinya. Alex langsung disambut dengan pukulan keras ke perutnya. Pemuda bertato itu pun terpental menghantam tembok apartemen hingga remuklah tembok yang menahannya. Aku bingung sekarang harus melawan siapa. Puri menarikku, dia sekarang berhadapan dengan Fei.

Oh baiklah, ini lawan yang tepat sepertinya.

"Dua orang melawan satu, tak masalah," kata Fei.

Karena dia berelemen api, maka kelemahannya sudah pasti air. Aku sudah menyerap air dengan gelang Jolt di tangan kiriku. Kuputar-putar air itu hingga membentuk piringan yang siap menghantam siapa saja.

Fei mengulurkan tangannya dan membentuk beberapa bola api, kemudian melemparkannya kepada kami. Puri membentuk blokade dengan elemen tanahnya, aku menyerang Fei dengan elemen air. Piringan air itu pun bertabrakan dengan bola-bola api milik Fei, tapi bola-bola api itu lebih kuat. Aku hampir saja kena kalau saja tidak tanggap membuat perisai dengan tangan kananku yang punya elemen tanah. Sigh!

Puri melayang dengan tanah yang dia buat pijakan sekarang. Dia terbang dengan platform tanah itu ke arah Fei sambil menembakkan peluru-peluru dari kerikil ke arah Fei. Pemuda berelemen api itu menghirup nafas dalam-dalam. Nggak mungkin, emang bisa? Ya, tentu saja dia bukan seorang elemental biasa, dengan mulutnya ia menyemburkan nafas api yang sangat besar. Puri hampir saja terpanggang kalau saja aku tidak cepat tanggap menutupi tubuhnya dengan air. Alhasil, Puri terjatuh, segera ia kutangkap. HUP!

Wajah kami saling bertatapan untuk sesaat. Ia tersenyum kepadaku. Mungkin, saat itu boleh dibilang sesuatu yang paling romantis yang pernah aku lakukan kepada seorang cewek. Tapi, kami tak boleh bermelankolis ria. Itu di depan kami ada musuh. Segera Puri berdiri dan siap dengan elementalnya.

"Ndre, musuh kita ini bukan elemental biasa. Elementalnya lebih kuat. Bahkan mungkin Tim bukan apa-apanya," kata Puri.

"Aku bisa melihat itu," kataku.

"Ndre, tolong ulur waktu. Aku ada rencana!" kata Puri.

"Maksudnya melindungimu? Oke."

Fei berlari menuju ke arahku. Aku sudah bersiaga kalau-kalau ia akan mengeluarkan elemen apinya, ternyata aku keliru. Dia memukulku tanpa elemen apinya. Hah? DUESSH! Ughh..rahangku serasa mau copot. Keras sekali pukulannya. Kemudian perutku ditendangnya. Serangan ketiga sikunya menghantam pelipisku. Aku langsung ambruk ke tanah. Gila, apa orang ini jago kung fu juga? Pelipisku nyut-nyutan. Aku merabanya, beneran ini darah. Dia nggak cuma jago elemental tapi juga jago kung fu! Wadehel?

Puri sekarang yang diserang. Fei menghantamkan sikunya ke dada Puri. Puri mundur ke belakang namun tangannya ditarik lagi dan sebuah hantaman uppercut keras ke rahangnya membuat Puri harus ambruk ke tanah. Gila ini orang, nggak sadar apa yang dihajarnya itu cewek?

Emosi? Ya jelaslah. Itu cewek gua woi!

Aku sudah tak menghiraukan rasa sakit. Segera aku bangkit dan melempar batu ke arah Fei. Tanpa menoleh ke arahku, Fei memukul batu yang aku lempar hingga hancur. Hah? Dia menoleh ke arahku dan dengan jurus kung fu-nya dia menendangku. Aku bisa menghindar, tapi kaki yang satunya meluncur ke perutku. Dengkulnya sukses menghantam perutku lagi. Aku lalu menggerakkan tangan kananku untuk mengunci kakinya dengan kekuatan elemen tanah. Fei terjerembab. Dan sebuah batu melayang menghantam pipinya. DUASSHH!

Puri mengendalikan elemen tanah sambil sempoyongan.

"Arghh...aku bilang melindungiku, malah aku kena. Gimana sih?" katanya.

"Sorry, habis dia jago kung fu!" kataku. Aku masih meringis kesakitan. "Hajar saja udah, kalau yang seperti ini susah berpikir strategi."

Puri membersihkan bibirnya yang berdarah. Di depan tampak Fei sudah bangun lagi. Tiba-tiba dari bawah kakinya muncul api. Eh, mau apa dia? Belum sempat aku berpikir dan bersiap ia sudah melesat ke arahku dan menghadiahkan lututnya ke wajahku. Uh, sakit! Aku salto terkena hantaman lutut si Fei ini. Kuat sekali dia.

Setelah itu aku merasa dunia ini berputar-putar. Pusing sekali kepalaku. Entah apa yang terjadi, yang jelas aku hanya bisa mendengar dentuman tanah, suara listrik, kobaran api dan entah suara apa lagi. Pusing sekali soalnya. Aku perlu memulihkan diri beberapa saat hingga pandanganku bisa fokus. Dan aku agak terkejut ketika melihat banyak para elemental melawan lima orang elemental itu. Ternyata pertempurannya sudah dimulai.

Aku hanya bisa melihat pertarungan ini. Puri tampak dibantu oleh teman-temannya untuk menghadapi Fei. Si Fei ini cukup tangguh, dia bahkan mampu melawan enam orang sekaligus, bahkan ia sedikit sekali menggunakan elemen apinya. Sementara itu Alex dibantu oleh rekan-rekannya melawan Mark dengan kekuatan petirnya. Tapi ia tak bisa berbuat banyak karena kecepatan Mark sangat cepat. Dan Yuzak, orang ini lebih gila. Dia bisa membentuk sebuah tangan raksasa dan menghantamkan tangan raksasa itu ke lawan-lawannya seperti mengayunkan raket tenis. Beberapa elemental yang dihantam tampak terluka parah. Dan orang ini tertawa ketika melihat itu.

Elena dan Black, keduanya tampak hanya duduk bersantai sambil menikmati pertarungan yang tersaji. Apa? Kenapa mereka tak bertarung. Salah seorang elemental mencoba menyerangnya dan Black hanya menjentikkan jarinya ke arah elemental itu dan aneh, sang elemental itu tiba-tiba terjatuh. Ia meraung-raung memegangi matanya. Kenapa? Apa yang terjadi? sang elemental itu meraba-raba sekarang seolah-olah ia tak bisa melihat. Hah? Memangnya ada kemampuan seperti itu?

Dan, sesuatu yang tak kuduga terjadi. Di saat semuanya sibuk bertarung...tiba-tiba ada Maria di sana. Dia ...kenapa ada di sini?

"Ray?! Aku di sini Ray! Kamu di mana?!" kata Maria. Kenapa dia manggil-manggil Ray?

"Hoi cewek! Ngapain lo ada di sini??!" seru Alex. "Pergi! Ini bukan tempatmu!"

"MARIA PERGI!" seruku.

"MARIA! Jangan di situ!" seru sebuah suara. Itu Detektif Johan yang melihat pertarungan kami dari atas.

Lima orang elemental tadi menoleh ke arah Maria, terutama Black dan Elena. Mereka sepertinya ingin melukai Maria. Yuzak sudah bersiap dengan tangan raksasanya akan menghantam Maria.

"Celaka! Maria! Menghindar!" seru Balancer.

Sang Balancer tampak terkejut, dengan kekuatannya ia membentuk baju besi ke seluruh tubuhnya dan pergi ke arah Maria. Alex dengan kecepatan anginnya berusaha melindungi Maria. Puri juga membentuk tanah perlindungan ke sekeliling Maria. Sekarang hampir seluruh orang berusaha melindungi Maria. Tidak, sudah terlambat. Maria! TIDAAAAAKKKKK!
 

arczre

Suhu Semprot
Thread Starter
Daftar
18 Jan 2014
Post
3.245
Like diterima
6.871
Lokasi
Sekarang di Indonesia
BAB XXVII

Hello My Love

NARASI ALEX


ZRRRTTT! ZRRTTT! suara elemen petir di kaki Mark.

Gerakan orang yang bernama Mark ini sungguh cepat. Dia berelemen petir, tentu saja. Dengan gerakan kilatnya ia menghempaskanku ke dinding apartemen. Sialan. Bertubi-tubi pukulannya mengenai tubuhku. Beberapa orang membantuku seperti Tim. Tapi sama saja, dengan tubuhnya yang kecil dia jadi bulan-bulanan, belum sempat mengeluarkan apinya ia sudah dihajar sampai tidak bisa berdiri.

Dan, aku melihat pemandangan yang tidak biasa. Seorang cewek yang tak asing ada di tengah pertarungan ini. Maria?? Ceweknya Ray. Ngapain dia ada di sini??

"Ray?! Aku di sini Ray! Kamu di mana?!" kata Maria. Eh??? Di mana Ray??

"Hoi cewek! Ngapain lo ada di sini??!" seruku. "Pergi! Ini bukan tempatmu!"

"MARIA PERGI!" seru Andre yang kelihatannya masih sulit berdiri akibat dihajar oleh Fei.

"MARIA! Jangan di situ!" kulihat Detektif Johan berteriak dari atas gedung.

Yuzak menoleh ke arah Maria. Tidak, apa yang akan kamu lakukan brengsek? Dia tak bisa bertarung. Yuzak dengan tangan raksasanya mencoba menghantam Maria. Dia mengayunkan tangan raksasanya itu ke arah Maria. Ibu kami sang Balancer pun turun dengan baju besinya. Mencoba menyelamatkan Maria. Arrggh...shit! Aku juga dengan dorongan angin dari kakiku berusaha menolong Maria. Terlambat. Tidak, ini tak mungkin terjadi. AKu sudah bersumpah kepada Ray akan melindungi Maria. ARrrgghh!

ZAPP! ZAPP! Tiba-tiba sebuah petir menyambar-nyambar di sebelah Maria. Tangan raksasa Yuzak tiba-tiba saja hancur menjadi debu. Aku terjerembab di atas tanah. Anginku...hilang?? Elemen anginku hilang? Balancer juga merasakan sesuatu yang sama. Baju besinya tiba-tiba lepas. Tiba-tiba kami semua para elemental kehilangan kekuatan kami.

ZAP! ZAPP! Sekali lagi dua petir menyambar di tempat yang sama. Tepat di sebelah Maria.

"Mariaaa!" seru ayahnya.

"Ray, kamu datang!" kata Maria. Apakah itu Ray??

ZAP! ZAP! ZAPP! ZAP! Bagaimana mungkin petir menyambar di tempat yang sama selama delapan kali?? Dan ZAP! Sekali lagi, tapi kali ini ada seorang pemuda. Berdiri di dekat Maria. Brengsek! Ray!? Itu benar dia???

"Ray?!" sapa Maria.

"Hello My Love, you missed me?" tanyanya. Hah?

"Yes, off course!" Maria langsung memeluk Ray.

Hei, ada apa ini? Kenapa aku tidak bisa bicara dengan angin?? Kenapa ini??

"Ray, aku sangat merindukanmu. Aku dengar seluruh suaramu Ray. Aku dengar semuanya. Dengar seluruh pesanmu," kata Maria.

"Aku tahu kamu mendengarkan semuanya," kata Ray.

"Kenapa? Kenapa aku tak bisa bicara dengan elemenku!" kata Yuzak. "Siapa kau? Siapa kau ini?"

"Maria, pegangan sebentar ya!" kata Ray.

Maria langsung memeluk Ray dengan erat. Dari punggung Ray tiba-tiba terbentuk sesuatu. Seluruh elemen air dan udara bersatu di punggungnya, lambat laun di pungungnya tumbuh sepasang sayap. Ray mendekap kekasihnya itu dan dia terbang ke atas. Hah? Bagaimana ia melakukannya? Ia terbang ke atas atap apartemen. Dia....kuat sekali. Aku bisa merasakannya. Ray benar-benar menjadi kuat sekarang.

"Kamu di sini saja, sekarang aku punya kekuatan untuk melindungimu," kata Ray.

Tampak sang ayah, Detektif Johan naik ke atap untuk menemui putrinya. Tentu saja sebagai seorang ayah ia sangat khawatir sekarang.

"Aku akan di sini Ray, aku percaya kepadamu," kata Maria.

Ray kemudian terbang lagi dan turun ke bawah. Setelah itu sayapnya menghilang menjadi kristal-kristal salju yang berterbangan di sekeliling tempat pertarungan ini. Ia menghirup nafas dalam-dalam. Ia membentangkan tangannya seolah-olah sudah lama tak pernah menghirup nafas.

"Maaf, terpaksa aku menyuruh seluruh elemen melepaskan diri dari kalian. Aku tak ingin Maria disakiti. Sekarang kalian bisa menggunakannya lagi," kata Ray.

Apa dia bilang? Menyuruh elemen? Emang bisa seperti itu??? Dan benar. Aku bisa merasakan, elemen angin kembali mengelilingi tubuhku. Ray, kekuatanmu benar-benar mengerikan.

"Kamu ini siapa?" tanya Black.

Ray kemudian berjalan dengan tenang ke arah Balancer. Balancer dengan tatapan teduh tersenyum kepadanya.

"Ibu," Ray memeluk Balancer.

"Selamat datang kembali, Ray," kata Balancer.

"Ibu, aku merindukan ibu," kata Ray.

"Iya, ibu tahu," kata Balancer.

"Ibu pergi dulu ya, biar aku yang akan menghadapi mereka semua," kata Ray.

Balancer mengangguk. Ray melepaskan pelukannya. Dan Balancer dengan tenang berjalan meninggalkan Ray.

"Teman-teman, menyingkirlah. Mereka berlima akan menjadi lawanku," kata Ray.

"Ray, kau yakin?" tanya Purple.

"Sombong sekali kamu," kata Fei. Kini Fei, Yuzak, Mark mengepung Ray.

"Kawan-kawan! Mundur!" perintahku. "Ray kini lebih kuat dari pada yang dulu."

"Kau ini siapa?" tanya Mark.

"Aku seorang Creator," jawab Ray.

"Creator? Hahahahaha, kami telah membunuh empat orang Creator. Apakah kamu mau jadi yang kelima?" tanya Mark.

"Aku tahu, kalian membunuh mereka semua. Tapi kalian main keroyokan. Seperti saat ini," ujar Ray. "Tapi sayang sekali, Creator yang kalian bunuh belum tahu kekuatan mereka seperti apa. Sekarang kalian sedang berhadapan dengan seorang Creator yang memahami kekuatan dirinya."

"Serang dia!" seru Elena.

Fei menghirup nafas dalam-dalam kemudian, menghembuskan nafas apinya ke arah Ray. Mark melemparkan petirnya ke arah Ray, dan Yuzak membentuk sebuah tangan raksasa lagi kemudian dia hantamkannya juga ke arah Ray. DUARRR! Gabungan kekuatan itu mengenai Ray. Apakah Ray selamat? Aku pun jadi ikut berdebar-debar. Dari tempat Ray berdiri hanya terlihat kepulan debu. Dan setelah itu tak ada bayangan Ray di sana. Di mana dia?

"Kalian tak akan bisa melawanku," kata Ray. Dia tiba-tiba sudah berada di dekat Andre. Sejak kapan??

Semuanya terkejut. Dia menolong Andre berdiri.

"Kau tak apa-apa Andre?" tanya Ray.

Andre lalu melayangkan sebuah tinjunya ke arah Ray. BUAK! Ray bergeming.

"Sialan lo, itu buat Maria! Gara-gara lo pergi dia jadi senewen! Huh, puas gue sekarang," kata Andre.

Ray tersenyum, ia mengusap pipinya. "Terima kasih telah menjaga Maria selama ini."

"Sigh! Dasar, ngerebut cewek orang," kata Andre. "Awas, kalau sampai kamu nyakiti Maria lagi, gue nggak akan ngampunin lo."

Ray tersenyum. Dia menepuk pundak Andre, kemudian berjalan dengan tenang ke arah tiga orang elemental tadi.

"Fei, kamu tahu siapa nama elemen apimu?" tanya Ray.

Fei mengerutkan dahi.

"Kurasa tidak, elemen apimu bernama Fury. Dan dia sedang marah kepadamu, karena kamu menggunakannya untuk kejahatan. Sama, kalian semua, elemen-elemen yang kalian gunakan sekarang marah," kata Ray.

Tangan Ray menyala dan mengeluarkan cahay berwarna biru.

"Apa gunanya mengetahui nama elemen? Aku toh tetap bisa menggunakan mereka," kata Fei.

"Kamu ingin lihat kemarah elemenmu? Lihatlah tanganku," kata Ray sambil mengangkat tangan kanannya ke atas. Dan di atas tangan kanannya tampak sebuah api meliuk-liuk. Apinya makin lama makin besar, nyalanya berkobar dan sangat terang. Api itu kemudian membentuk sebuah bola. Makin lama bola api itu makin besar, besar dan besar. Bahkan hawa panasnya sampai terasa di kulitku.

Apa ini? Kekuatan api sebesar ini.

Fei tampak terkejut. Ia kebingungan, "Kenapa aku tak bisa mengeluarkan apiku? Kenapa?"

"Karena seluruh apimu ada di sini, dan mereka sangat marah kepadamu!" kata Ray. "Bersiaplah menerima kemarahan mereka."

Yuzak dan Mark segera berlari menjauh ketika Ray melemparkan api itu ke arah Fei. Fei hanya melotot melihat elemennya sendiri menghantam tubuhnya. BLAAAARRRRRR! Hangus sudah tubuhnya. Fei tampak meronta-ronta dalam api itu. Benar-benar api itu membakar tubuhnya.

Ray, inikah kekuatanmu? Benar-benar mengerikan.

Melihat temannya hangus terbakar oleh elemennya sendiri, Yuzak kemudian mengeluarkan seluruh kekuatannya. Ia membuat sebuah bola raksasa. Sebagian besar tanah dan bebatuan yang ada di tempat itu ia satukan seluruhnya, melayang di atas kepalanya. Terus ia timbun dan makin lama makin besar makin besar. Bahkan sekarang tanah itu sudah sebesar kendaraan bus.

"Siapapun kau, aku akan menghantammu dengan ini!" kata Yuzak.

"Stop! Gugu jangan lagi patuh kepadanya!" kata Ray.

Yuzak terkejut. Ia yang tadinya mengangkat tanah itu ke atas tiba-tiba kebingungan sendiri. "Hei, aku...kau apakan aku? Kenapa elemenku tidak bicara lagi denganku?"

"Karena aku menyuruh mereka untuk berhenti patuh kepadamu. Namanya Gugu, dan dia sangat ingin menimpamu sekarang," kata Ray.

Yuzak menoleh ke atas. Tanah dan bebatuan yang ada di atasnya pun terjun bebas menimpanya. BUUUMMM! Dia terkubur sendiri oleh elemennya. Fuck! RAY! YOU'RE AWESOME!

Mark yang mengetahui kekuatan Ray masih nekat saja melawan. Kini ia memegan sebuah tombak yang terbuat dari petir. Dia tak takut kepada Ray. "Aku tak takut kepadamu."

"Aku tahu Mark, engkau orang yang pemberani. Bahkan Kraz nama elemenmu mengakuinya. Kamu orangnya sebenarnya baik, tapi karena kamu mengikuti teman-temanmu akhirnya kamu seperti ini. Kraz...kemarilah!" kata Ray.

Lagi-lagi, Ray mengulurkan tangannya. Tiba-tiba tombak yang ada di tangan Mark berpindah ke tangan Ray. Kemudian seluruh tubuhnya mengeluarkan kilatan listrik dan kesemuanya menuju ke Ray. Semuanya menyatu di tangan Ray. Ray kemudian membentuk sebuah busur dan anak panah yang mengarah ke Mark.

"Tidak, tidak mungkin! Bagaimana bisa? Bagaimana bisa??!" Mark sekarang menjadi ketakutan. Dia pasti terkejut karena tak bisa mengendalikan elemennya lagi.

"Selamat tinggal Mark!" kata Ray. Dia pun melepaskan panah petirnya dan dengan telak Mark merasakan panah itu. Tubuhnya tersengat listrik berjuta-juta volt dan ia pun kalah dengan elemennya sendiri.

Tinggal Black dan Elena. Keduanya menelan ludah. Tak menyangka bertemu dengan Ray.

"Ray, aku pernah diberitahu bahwa ada seorang Creator bernama Ray. Tak kusangka engkau orangya. Baiklah, kamu sudah menunjukkan kekuatanmu yang sebenarnya. Aku sadari itu. Aku tak bisa melawanmu. Tapi....Aku bisa menghancurkan apapun dengan kekuatan elemen kegelapanku," kata Black.

"Kuro," kata Ray.

"Apa?"

"Nama elemenmu, Kuro. Dia sedang bersedih," ujar Ray. "Dia sedang bersedih karena kamu menggunakannya untuk menyakiti orang-orang yang tidak bersalah."

"Hehehehe, kamu tahu apa? Baiklah, aku akan menghukummu Ray. Inilah kekuatanku yang sesungguhnya. Lawanlah aku kalau kamu bisa," Black mengangkat tangannya ke udara. Dari telapak tangannya muncul sebuah kilat berwarna hitam. Makin lama dia pun membentuk sebuah bola yang sangat besar.

"Black, kamu mau membunuh kita?" kata Elena. "Oh, tidak. Aku harus pergi dari sini."

Elena tampak segera berlari menjauh. Ray tetap tegak berdiri tak bergeming. Ini tidak bagus. Bola hitam itu makin besar, bahkan sekarang mungkin besarnya sudah separuh lapangan sepak bola. Ray, apa yang akan kamu lakukan?

"Sejujurnya, aku tak pernah bicara dengan elemen kegelapan. Satupun tidak pernah. Tapi...aku bisa merasakan kesedihan mereka sekarang. Black, hentikanlah!" kata Ray.

"Aku tidak bisa berhenti Ray, ini adalah kekuatanku yang sesungguhnya!" kata Black.

Aku melihat Bola hitam raksasa itu hampir saja menghantam apartemenku. Ray menaikkan tangannya, lalu ia seperti menyerap seluruh bola hitam itu. Black tentu saja terkejut. Ray menyerap kekuatan elemen hitam itu hingga bola yang besar tadi sekarang menjadi kecil di tangan Ray. Black langsung lemas ketika bola hitam di atasnya tadi sudah hilang diserap oleh Ray semuanya.

"Kamu....apa yang kamu lakukan?" tanya Black.

Ray berjalan ke arah Black.

"Tidak! Kamu mau apa?" tanyanya.

"Aku hanya mengembalikan kepunyaanmu," ujar Ray. Tangan kanannya yang ada sebuah titik kecil energi elemen kegelapan tadi disentuhkan ke badan Black.

Black tampak terkejut. Ray memasang pelindung dari elemen es. Dan sebuah pemandangan yang membuat perut mual terjadi di hadapanku. Tubuh Black meledak, semuanya tercerai berai. Ray dengan pelindung esnya sengaja demikian agar tak terkena cipratan darahnya. Tubuh Black tak akan mungkin bisa disatukan lagi. Ia telah tewas lagi-lagi dengan kekuatannya.

Elena yang melihat itu semua jadi berang. Ia berlari ke arah Ray melemparkan cahaya-cahaya putih ke arah Ray. Pemuda ini pun membuat langkah Elena terhenti. Kakinya sudah dibekukan oleh Ray. Tangan kanannya Ray menangkap cahaya putih itu.

"Aku tahu kemampuanmu mengerikan. Kamu bisa meledakkan satu kota dengan cahaya sekecil ini. Sayangnya itu tak berlaku kepadaku. Seharusnya kamu bisa memanfaatkan kekuatan ini untuk kebaikan. Maafkan aku," kata Ray. Ray pun mengembalikan kekuatan elemen yang dia tangkap tadi ke wajah Elena. Elena pun menjerit. Melengking. Lengkingannya sangat menyakitkan.

"Aarrghhh....Tidaaaaakkk...! Aku buta! Aku buta!" kata Elena. Sekarang matanya berwarna putih semua, pupil hitamnya sudah tidak terlihat lagi.

Ini pertarungan yang tidak seimbang, benar-benar sinting. Ray telah jauh lebih kuat. Jauh dari apa yang aku perkirakan sebelumnya.

NARASI RAY

Setelah aku menghabisi kelima elemental tadi. Aku kembali menemui Maria. Kali ini detektif Johan ada di sampingnya.

"Siang detektif," sapaku.

"Kamu....hrrgghhh!" Detektif Johan tampak gemas sekali lalu ia memelukku. Setelah itu ia melepaskanku.

"Piere!" panggil Inspektur James.

"Ya?"

"Biarkan mereka berdua," kata Inspektur James sambil memberikan kode.

"Oh iya," Detektif Johan mengerti. "Kamu sekarang udah bertemu dengan dia, sudah sana melepas rindu. Tapi jangan kelewatan!"

Detektif Johan mengedipkan mata ke arah Maria. Lalu dia dan Inspektur James pergi meninggalkan kami berdua yang ada di atap gedung. Setelah itu Maria langsung berlari memelukku. Ia memukul-mukul dadaku.

"Jahat! Jahat! Jahat!" katanya. "Kenapa kamu meninggalkanku begitu saja?"

"Aku sudah ada di sini. Aku tak akan meninggalkanmu lagi," kataku.

Kami saling berpandangan. Maria tersenyum kepadaku. Senyuman yang paling manis yang pernah aku lihat. Kembali lagi aku mencium bibirnya. Maria memanggutku, kami berciuman mesra sekali, seolah-olah dunia milik berdua. Aku mencintainya, sangat mencintainya. Kami habiskan siang hari itu dengan berciuman di atas atap. Bodo amat. Emang udah kangen koq.
 

arczre

Suhu Semprot
Thread Starter
Daftar
18 Jan 2014
Post
3.245
Like diterima
6.871
Lokasi
Sekarang di Indonesia
BAB XXVIII

The Days Before The Doomsday Part I


Hari-hari menjelang kebangkitan Azrael. Aku sendiri tak tahu seperti apa kekuatan Azrael itu. Michele sendiri tak memberitahkanku seperti apa kekuatan Azrael. Tapi, katanya kekuatannya lebih dari sekedar Creator. Apalagi Thomas van Bosch, kakak dari ibuku. Sudah pasti akan menyerap seluruh kekuatan Azrael.

Apa yang kami lakukan menjelang akhir zaman ini? Semua orang tampaknya tenang-tenang saja. Jelas, mereka tak tahu apa yang terjadi. Dari bentuk Pentagramnya, lokasi yang mana tepat di tengah adalah Tugu Monas. Di sanalah Azrael akan dibangkitkan. Siapa yang menyangka tempat itu nantinya yang akan dipilih oleh Dark Lantern.

Aku akhirnya bertemu dengan ayah dan ibuku. Detektif Johan tampak shock ketika mengetahui bahwa Inspektur James adalah ayahku dan Lili van Bosch sang Balancer adalah ibuku. Tapi Detektif Johan pun berkata, "Semuanya masuk akal sekarang"

"Masuk akal bau parfumnya Lili sama seperti bau parfum di mayat William van Bosch. Dan kamu bilang tidak menciumnya sebenarnya kamu ingin menghilangkan jejak istrimu bukan?" tanya Detektif Johan. "Pantas saja. Dan disaat kami sibuk menyelidiki mayat itu, istrimu menitipkan bayinya ke panti asuhan. Dan William van Bosch itu dibunuh oleh Thomas dan kamu berada di sana menyaksikannya. Lalu kamu memanggilku untuk meyakinkan diri bahwa ditemukan mayat orang yang tidak dikenal. Sialan kamu James. Dan aku pun jadi tahu kenapa cek-cek itu tidak bisa diketahui alamatnya oleh polisi, semuanya karena kamu yang memang tak ingin orang-orang tahu siapa yang memberikan Ray uang. Arghh...James, kamu benar-benar membuatku kesal."

"Maaf, Piere. Aku terpaksa melakukannya untuk melindungi dia dari Dark Lantern," ujar ayahku, inspektur James sambil menepuk pundakku.

Kami semua sekarang berada di rumah Detektif Johan. Aku berbaring di pangkuan ibuku. Ia membelai rambutku. Aku nyaman sekali dibelai seperti itu. Karena sudah lama aku tak pernah mendapatkan belaian seorang ibu.

"Baiklah, kalau begitu hari ini sepertinya aku harus mentraktirmu Piere, sebagai permohonan maafku," kata ayahku.

"Hahahaha, siapa takut?" kata Detektif Johan. "Aku perlu mengajak istriku kalau begitu."

"Silakan saja!" kata ayahku.

"Sayang! Ayo kita pergi ditraktir oleh James!" katanya.

"Kamu ikut sayang?" tanya ayah ke ibuku.

Ibuku menggeleng. "Ray masih kangen dibelai seperti ini."

Aku lalu bangkit. "Nggak apa-apa ibu, kalau ibu ingin pergi dengan ayah. Aku akan di sini saja."

"Di sini?" gumam ibuku.

"Iya."

"Mau berduaan ama Maria?" goda ibuku.

"Tahu aja," aku nyengir.

"Ya sudah, ayo James, sepertinya anak kita tak ingin diganggu," kata ibuku.

"Hahahaha!" ayahku lalu berdiri menggandeng ibuku.

Mereka seperti tak menyadari bahwa sebentar lagi akan terjadi peristiwa besar. Tapi paling tidak mungkin ini saat-saat terakhir mereka bisa bergembira. Detektif Johan mengajak istri dan Justin. Aku dan Maria berada di rumahnya. Hubunganku dengan Maria tampaknya direstui oleh mereka, apalagi Detektif Johan dan ayahku sudah menjadi teman akrab sejak lama. Aku dan Maria berada di kamarnya.

Rumah sangat sepi. Yah, mau bagaimana lagi. Emang semuanya keluar koq. Dan kalau sepi seperti ini pasti akan terjadi hal-hal yang....ehm..apalagi kita sama-sama muda, saling dimabuk cinta.

Saat itu aku duduk di lantai kamarnya memeluk Maria dari belakang. Tanganku kulingkarkan di perutnya. Dan ia memeluk lenganku.

"Kamu...selama di Syberia ngapain aja?" tanya Maria.

"Latihan, hampir tiap hari," jawabku.

"Ketemu wanita lain?"

"Iya, satu-satunya wanita itu cuma guruku."

"Ohh...cantik orangnya?"

"Cantik."

"Berapa usianya?"

"Seribu tahun kurang lebih."

"Hah? Bohong!"

"Nggak bohong."

"Hmm...."

"Kamu cemburu?"

Maria mengangguk.

"Nggak apa-apa kalau kamu cemburu. Aku makin yakin kamu cinta kepadaku."

"Ray, kenapa kamu kembali?"

"Karena ada kamu di sini dan ini adalah rumahku."

Aku menciumi rambut Maria yang wangi. Sambil sesekali kuciumi pundaknya. Maria menoleh ke arahku. Kami lalu berciuman. Hangat. Tapi cuma dua detik. Saat itu Maria memakai rok tipis selutut, dan kaos berwarna putih. Ia pasti sudah merasakan sesuatu yang mengganjal di belakangnya.

"Aku koq merasa ada yang keras ya?" tanyanya.

"Kenapa? Kan ya wajar aku juga cowok," jawabku.

"Hihihihi, iya iya," katanya. "Aku ngerti koq. Ray, kamu cemburu nggak sih waktu aku jalan sama Andre?"

"Sangat, aku cemburu sekali."

"Oh ya?"

"Iya."

"Aku mengerti semuanya sekarang, kamu selama ini sangat perhatian kepadaku. Kamu yang selalu menjagaku selama ini, peduli kepadaku. Aku jadi mengerti semua perasaanmu ketika kamu sendiri, ketika kamu menjauhi teman-temanmu lantaran kekuatan yang engkau punyai. Tapi aku sadar Ray, kamu orang yang baik."

"Aku boleh menciummu lagi Mar?"

Maria mengangguk. Aku menciumnya lagi. Kali ini agak lama dan basah. Masih dalam posisi membelakangiku. Maria sekarang bersandar di dadaku sepenuhnya. Ciumanku beralih ke lehernya, Maria mendesah.

"Ray...oohhh," desahnya.

Aku belaikan jari telunjukku ke lehernya, lalu menurun ke dadanya. Aku ciumi lehernya, lalu jakunnya, turun ke bawah. Lalu naik lagi ke dagunya. Kembali lagi ke bibirnya. Maria lalu berbalik menghadapku. Kedua kakinya ditaruh di atas pahaku dan kini selakangannya berada di depan selakanganku. Ia merangkul leherku dan menciumiku.

"Ray...kalau memang besok akan jadi kiamat, aku ingin menghabiskan malam ini bersamamu," kata Maria.

"Kamu yakin?" tanyaku.

Dia mengangguk. "Aku sangat rindu kamu Ray, aku juga mencintaimu. Aku tak akan menyesal melakukan ini denganmu. Aku juga tak takut kalau ayah dan ibu tahu. Aku sudah cinta mati ama kamu. Kamu gunain pelet apa sih sampai aku seperti ini?"

Aku mengangkat bahuku. Kening kami kembali bertemu. Maria mencari-cari bibirku lagi. Kukecup manis bibirnya. Ia makin mepet ke tubuhku. Karena roknya tipis, jadi tak begitu menghalangi dia untuk makin merapat ke tubuhku. Punggungku menempel di ranjangnya sekarang. Didorongnya halus diriku untuk bersandar. Ia mengusap-usap dadaku. Dan menciumiku. Ia kemudian menarik kaos itu dari pinggangku ke atas dan melepaskannya. Aku bantu dia untuk melepas kaosku. Ia benamkan wajahnya ke dadaku. Ia ciumi dadaku. Dihirupnya aroma tubuhku.

"Aku suka baumu Ray," katanya.

"Aku juga suka baumu Mar," kataku.

"Aku siap bercinta denganmu malam ini," katanya.

"Maria," desahku. Maria memejamkan matanya. Kuciumi kedua kelopak matanya, hidungnya, pipinya dan bibirnya. Aku perlahan-lahan menaikkan kaosnya. Ia sudah faham, membantuku melepaskan kaosnya. Tangannya ke atas. Kaos putih itu pun lolos dari tubuhnya. Kulihat sebuah bra berwarna krem terpasang melindungi sebuah gundukan daging kenyal yang kulitnya putih. Saking putihnya aku bisa melihat urat-uratnya yang berwarna hijau kebiru-biruan di sana.

"Tubuhmu indah Mar, apakah kamu ini bidadari?" tanyaku.

"Aku bidadarimu Ray, peluklah aku!" katanya.

Aku pun memeluknya.

"Ohh...Ray..," desah Maria. Kami masih posisi duduk dan saling berhimpit. Aku berciuman lagi dengannya. Hangat tubuhnya, terasa sangat nyaman memeluk Maria. Kemudian aku mendorongnya sejenak. Kami kemudian berdiri. Setelah itu dalam posisi berdiri kami berciuman lagi, sasaran kami adalah merebahkan diri di atas ranjang. Dan kami pun berada di atas ranjang. Ranjang tempat tidur Maria tepatnya.

Di atas ranjang aku mengusap-usap tubuhnya. Jari telunjukku menelusuri dahinya, hidungnya, lalu bibirnya. Ia menghisapi jariku itu. Kemudian jari telunjukku terus turun ke leher ke dada dan masuk ke belahan toketnya yang sekal. Lalu jariku bergerak ke samping, mengintari buah dadanya, menyentuh putingnya yang sedikit tercetak di branya yang menutup rapat buah dadanya itu.

"Kamu ingin melihatnya?" tanyanya.

"Kalau diperbolehkan," jawabku.

"Tentu saja Ray, boleh," katanya.

Dia menggerakkan tangan kanannya ke belakang punggung, lalu terlepaslah bra yang menutupi buah dadanya itu. Ia lalu membuang bra itu. Ohh..sungguh indah buah dada Maria. Bentuknya bulat sempurna, putingnya terlihat berwarna pink. Aku tak henti-hentinya melihat pemandangan indah ini. Inilah buah dada orang yang aku cintai. Aku lalu menyentuhnya. Maria memejamkan mata. Tanganku mulai meremasnya, putingnya pun aku sentuh dengan seluruh jari-jariku. Ku usap dengan lembut. Maria menggelinjang.

"Geli Ray," bisiknya.

Aku ulangi lagi mengusap putingnya, dan kali ini dengan pijatan-pijatan lembut di putingnya.

"Ahhkk....Rayyy....kamu nakal...ohh..," keluh Maria.

Aku kemudian menurunkan wajahku ke dadanya. Kupegang buah dadanya lalu bibirku sudah mencium putingnya. Kuhembuskan nafasku melalui hidung ke sekeliling putingnya.

"Raayy...hhhhmmmhhh...," desahnya.

Lalu kupegang puting itu dengan kedua bibirku. Lidahku mencolok-colok putingnya yang sudah mengeras itu. Lalu mulutku kubuka sedikit, kumasukkan puting susu itu ke dalam mulutku lalu kuhisap. Lidahku pun menari-nari menyentil-nyentil puting susu itu di dalam mulutku.

"Aahhh....aahhh...Ray...enak...enak Ray, ohh..cintaku....aku sayang ama kamu.....Terus Ray....hhhmmm....geli....tapi enak," kata Maria.

Aku gembira sekali. Dan makin bersemangat melakukannya. Aku pun bergantian melakukannya kiri dan kanan. Maria mengeluh sambil meremas kepalku. Kuhisap dan kucupangi buah dadanya itu. Dua sampai tiga cupangan tampak membekas di buah dadanya.

"Rayy...itu tadi enak banget," katanya.

"Aku juga puas menikmati dadamu Mar," kataku.

"Oh...Ray, lepas yuk!" katanya.

Aku menurut. Aku melepaskan seluruh pakaianku yang tersisa. Maria juga. Ia agak lama melihat kemaluanku. Sekarang kemaluanku sudah mengeras dan tegak menantang. Kami duduk dan sama-sama saling melihat tubuh kami. Maria perlahan-lahan memegang batangku. Ia mengelus-elusnya. Aku tentu saja enak banget digituin. Ia tersenyum melihatku yang merem melek.

"Ray, enakkah?" tanyanya.

"He-eh," jawabku.

"Keras banget punyamu," katanya. Dia lalu menggenggam batangku dan mengocoknya lembut. Buah pelerku tak luput pula dari remasannya.

"OHhhh...Marr enak!" kataku.

Ia menciumi dadaku lagi, lalu turun ke bawah dan ia menghentikan kocokannya. Lidahnya sekarang diletakkan di kepala pionku. Iya, cuma diletakkan begitu saja. Perlahan-lahan air liurnya menetes. Lalu lidahnya mengitari kepala pionku, kemudian seluruh kepalaa pionku masuk ke mulutnya.

"Ohh....Marrr....hhmmhh," keluhku.

"Enak Ray?" tanyanya sambil melirik ke arahku.

"Iya Mar, enak," kataku.

"Slluuuurrrppp.....Cruk! Cruk! CRuk...! Sluuurrrpp.....ahhh...batangmu manis Ray," ujarnya.

"Masa' sih?" tanyaku.

"Hm-hmm ...," ia mengangguk sambil mengulum pionku. Kepala Maria naik turun kadang ia benamkan batangku sedalam-dalamnya ke mulutnya. Lalu ia naik turun lagi. Kemudian ia cukupkan dengan mengulum kepala pionku sambil mengocok batangku dengan jarinya yang lembut.

"Mar, kamu belajar di mana sih?" tanyaku.

Maria menyudahi sepongannya. "Ada deh."

Aku kemudian menciuminya lagi. Bibir kami berpanggut, kami berfrench-kiss sebelum giliranku yang mengerjai dia. Aku mulai menghisap dan menjilati kemaluannya yang berbulu tipis di atasnya itu. Liang senggama Maria sangat merah. Rasanya pun manis. Entah kenapa rasanya manis. Lidahku mulai menggelitik bibir vaginanya yang merekah itu. Rongga vaginanya kucolok-colok dengan lidahku.

"Raayyy...hhhhmmmmhhh.., kamu apain itu? Enak gilaaak...ahhh...!" katanya.

Lidahku lalu menari-nari di klitorisnya, kemudian kuhisap tonjolan daging itu.

"Raaayy....udah Ray, aku nggak kuat,...ahhh...Rayy....udah...aku mau pipis niih..ahh...Ray, koq dijilati terus sih....yahh..yaaahhh ahahah....duuuhhh..enak Ray...hhmmm....Ray...Ray udah...udah...pipis...aku pipisss.....Rayyy cintaku...hhmmm pipis aku sayang enak bangeetttt.....aaahhkkk!" pantat Maria terangkat dan bersamaan itu ada sesuatu yang keluar. Lendirnya yang menyemprot. Kuhisap semua yang keluar dari tempat itu.

"Rayy...koq disedot sih...aduhhhh....udah Ray....jangaan! HHmmm....aahhhkkk...aku tambah keenakan Ray! Masukin Ray, masukin!" kata Maria mengiba.

Aku lalu menciumi pahanya, kuhisap-hisap lembut kedua pahanya. Aku kemudian sudah berada di atasnya lagi. Kuposisikan batang pionku ke belahan kemaluannya. Hal itu membuatku geli-geli nikmat. Tangan Maria membantuku untuk memposisikannya dengan pas. Pahanya terbuka lebar. Ia sudah siap dimasuki.

"Ray,...janji ya, jangan ninggalin aku lagi," katanya.

"Aku janji Maria. Aku tak akan meninggalkan kamu," kataku.

"Ohh...Ray, aku senang sekali. Aku ingin bisa menikah denganmu Ray. Aku ingin bisa punya banyak anak denganmu. Aku ingin jadi ibu dari anak-anakmu. Kamu mau kan Ray?"

"Tentu saja, aku mau. Aku akan berikan segalanya untukmu Maria. Segalanya."

"Ray, masukanlah! Aku akan tahan seluruh rasa sakitnya. Buatlah dirimu puas sayangku. Gagahi aku malam ini!"

"Aku cinta kamu Maria, aku akan selalu ada untukmu."

Aku dorong perlahan kemaluanku. Rongga vagina Maria sudah sangat becek, membuatku sedikit mudah untuk masuk. Sekarang sudah seperempat. Seluruh kepala pionku sudah masuk. Hhhgggkkk...sempitnya. Rasanya seperti dijepit dengan kuat. Aaaghh...aku tarik perlahan, lalu aku dorong lagi.

"Raayy...ayo Ray! Aku akan tahan rasa sakkhh...aahhhgghh...periihh...Aahgghh....Heegghhhh!" keluh Maria.

Kemaluanku berusaha menerobos sesuatu yang sangat rapat. Aku tarik lalu dorong perlahan, kutarik, dan kudorong perlahan. Dengan dorongan seluruh tenaga pantatku pun akhirnya menerobosnya. SREEETTTT! Langsung seluruh kemaluanku seperti tiba-tiba masuk ke sebuah lubang yang hangat, basah dan nyaman. Kemaluanku semuanya tenggelam ke dalam lubang memeknya.

"Aaaggggkhhh...Rraayyy....Ohhhhh......rrrRraaayyyhh!" Maria memelukku eraaat sekali.

"Aku sudah merobeknya Maria," kataku.

"Ayo Ray, siramkan benih-benih cintamu. Ayo, jadilah ayah buat anak-anakku Ray!" kata Maria.

"Maria....aku goyang ya," kataku.

Kami lalu berciuman hangat sebelum aku menggenjotnya. Kutarik pantatku perlahan, lalu kudorong, tarik perlahan, lalu dorong, teruss,,teruuuusss dan teruuuss...makin lama aku makin cepat. Karena aku sudah tidak lagi melihat Maria kesakitan. Ia sudah terbiasa menerima kemaluanku yang baru saja merobek kemaluannya. Cepat dan makin cepat seperti ngedrill. CLEK! CLEK! CLEK! CLEK! Suara kami sangat becek.

"Ray...basah sekali ya di bawah sana?" tanya Maria.

"Iya Mar, memekmu enak banget," kataku.

"Kamu juga Ray, batangmu gedhe...penuh banget rasanya. Tanggung jawab ya kalau aku ketagihan," katanya.

"Tentu saja sayang," kataku. "Sebab aku cinta kamu."

"Aku juga Ray. Ayo Ray...cepat!" katanya.

Aku pun menggenjotnya lebih cepat.

"Aaahh...ahhh...Mar...enak banget ...aahhh....aahhh,"

"Raaay...hhmmmm....terus....burungmu enak Ray.....menerobosku...aahhhkkk...!"

Aku bergoyang naik turun, mulai lama mulai cepat. Aku sudah hampir klimaks ternyata. Hal itu juga dirasakan oleh Maria.

"Rrray...batangmu makin keras....mau keluar ya?"

"Iya Mar...mau keluar."

"Ayo Ray, aku juga kaya'nya mau keluar, udah mentok....gatel banget!"

"Mar...Mar...ini Marr...sampe...sampe."

"Aku juga Ray...ahhh....sampe...aku nyampe...Ohhh...Ray....batangmu enak Ray...menyodokku....aaahhh....Ahh...iyaaa....aahhh...aku disemprot, aaduuuhh....banyak banget Raayy..."

"Aaahhhkk.....Maarrriaaa....aaahhh...ohhh....penisku berkedut-kedut, enak. Memekmu juga meremasku. Aku keluar banyak Mar...uuuhhh!"

Aku kemudian menciumi Maria. Persenggamaan yang hebat. Aku lalu ambruk di samping tubuhnya, tanpa kucabut kemaluanku. Sebab Maria tak ingin aku mencabutnya dulu. Setelah ia puas, aku mencabutnya. Kemaluanku sekarang bercampur cairan putih dan bercampur darah merah. Nafas Maria ngos-ngosan. Matanya terpejam menikmati sisa-sisa orgasmenya. Aku lalu menyelimuti tubuh kami berdua. Maria kemudian tidur di dalam pelukanku. Bagaimana kalau nanti ayahnya datang? Ah masa bodoh.

****

NARASI DETEKTIF JOHAN

"Sebaiknya kita tak mengganggu mereka," kataku.

"Lho, koq begitu?" tanya istriku.

"Sudahlah, sayangku. Mereka sedang dimabuk cinta," jawabku.

"Jadi ayah sengaja ya membiarkan mereka?" tanya istriku.

"Iya. Asal itu membuat putriku bahagia, aku akan melakukan apa saja," kataku.

"Ya sudah deh, hari ini kita nginap di hotel," kata istriku.

"Aku setuju. Apalagi Justin sudah tidur di kursi belakang," kataku.

"Yuk," kata istriku sambil menciumku.

(bersambung.....)

Next cerita-cerita sebelum perang besar dimulai. ;)

stay tuned on Semprot tv. :D
 

garpitman

Semprot Kecil
Daftar
8 May 2011
Post
78
Like diterima
10
bravo bravo bravo
makin kesini skill suhu mkin meningkat drastis
keren suhu
ini sih udh bisa ane sejajarin ama suhu jayporn yg udh pensiun
:beer:
 

Lin994

Tukang Semprot
Daftar
23 Sep 2014
Post
1.098
Like diterima
9
Lokasi
bekasi
Pngen bgt penjabaran stiap situasi kejadiannya lbh detil lg (bkn SSnya loh)..pasti mantap tuh suhu..
 
Status
Thread ini sudah dikunci moderator, dan tidak bisa dibalas lagi.
Sbo Hoki Online   Senior Bola Online
Jav Toys
Gaple Online Indonesia   9 club
Pasang iklan hanya lewat CONTACT US
Top
Semprot is now part of PAGCOR