Asus Togel online   Mandala Toto
Pasang iklan, hanya lewat Contact Us.
Waspada penipuan iklan. Klik di sini untuk melihat daftar penipu.

Halo! September

Status
Thread ini sudah dikunci moderator, dan tidak bisa dibalas lagi.

RaGnORak

Semprot Kecil
Thread Starter
Daftar
18 Feb 2014
Post
67
Like diterima
0
[size=+2]BAB I - Goodbye, Surabaya[/size]

Part 1. Cerita Dibalik Cerita



Seperti biasanya, cuaca Surabaya hari ini cerah cenderung panas. Setelah memarkir sepeda motor ditempat yang kuanggap cukup teduh, kulepas helm yang sedari tadi menutupi kepalaku.

"Nih, mas helmnya. Untung ga kena macet tadi", ucap Dita sambil memberikan helm kepadaku.

"Iya, bawel.. Semacet-macetnya Surabaya juga ga seperti Jakarta", sahutku.

"Dah, buruan! Panas nih", gerutu Dita sambil mengibas-ngibaskan telapak tangannya di depan mukannya.

"Ok, yuk!"

Akupun segera meninggalkan tempat parkir menuju gedung Delta Mall.Delta Mall itu Plaza Surabaya ya? Begitulah mungkin pertanyaan sebagian orang yang mungkin baru mengenal Surabaya dan tempatku kerja ada di dalamnya. Aku berkerja sebagai penjaga konter handphone atau bahasa kerennya Pramuniaga, mungkin..


~***~​


Hari ini pengunjung agak sepi. Mungkin karena masih awal minggu kali ya?

Untuk mengusir kebosanan, kumainkan salah satu game MMO favoritku, Warspear Online. Mungkin game ini kurang terlalu populer dibanding game lain sejenis. Tapi game ini termasuk game legendaris yang telah kumainkan sejak Symbian berada di puncak kejaannya. Dan mungkin cuma game ini pula yang masih memberikan update untuk Symbian.

"Yah.. yah.. Sialan! Siapa nih?", runtukku kesal karena saat berada di dalam Dungeon tiba-tiba ada panggilan masuk di handphoneku.


"Halo.. Siapa nih?"

"Halo! Jon. Ni gue Sinyo."

"Sinyo?", aku sedikit mengingat nama-nama Sinyo yang kukenal.

"Wah.. Lu Nyo. Apa kabar? Tau darimana lu nomer gue?", jawabku setelah mengingat suara dan logat bicaranya.

"Kabar baik, Jon. Lu dimana sekarang? Kerja apa?"

"Ebuseett.. Lu nanya nyantai woi! Ga perlu ngegas kayak bini lu gue buntingin aja. Hahaha. Gue di Surabaya Nyo. Kerja di konter hape. Lu sendiri gimana?"

"Ya itu dia kenapa gue hubungin lu. Gue adalah usaha kecil-kecilan main alat-alat fitness. Lu mau ga pegang punya gue?"

"Ihh.. Ogah gue! emang gue cowok apaan pegang punya lu", sahutku bercanda dengan logat dibuat kemayu.

"Eh.. lu bocah sableng. Maksud gue pegang usaha gue. Gue mau buka cabang ni di Semarang. Nah lu kan orang asli situ. Daripada gue suruh megang orang lain, ya mending lu pegang aja. Kan itung-itung kita bisa kumpul lagi kayak dulu. Soal kerjaan li disana lu pamit aja. Ga perlu nunggu gaji keluar. Nanti gajilu berapa gue ganti dua kali lipat. Hahaha"

"Wuih.. songong lu sekarang mentang-mentang udah jadi boss. Oke lah, seminggu lagi gue pulang. Gue kelarin dulu urusan disini. Nanti ngobrol dirumah gue aja", jawabku mengiyakan.

"Ok , deh. Sampai ketemu di Semarang. Udah dulu ye. Gue agak sibuk ni, bye bro!"

"Bye", ucapku sambil memutuskan panggilan dari Sinyo.

Sinyo adalah temanku dulu waktu di Jakarta. Dulu kita sama-sama kerja sebagai Marketing alat-alat fitness. Nama aslinya Harry Saputra, seorang pria tambun keturunan Chinesse. Berasal dari keluarga kaya tidak menghalanginya buat berkerja dan berbaur dengan orang-orang yang katanya "Pribumi". Pernah ada seorang teman iseng bertanya kepada dia apakah dia tidak malu sebagai anak orang kaya kumpul bareng, nongkrong di warung Angkringan, makan ditempat yang mungkin lebih pantas disebut tempat makannya orang berkantong tipis. Dia ketawa terbahak-bahak dan berkata, "Gue lahir dan besar di negeri ini, men. Gue pribumi! Cuma gue beruntung aja berasal dari keluarga kaya jadi kulit gue putih. Coba lu bayangin saat kita masih kecil. Gue asik main game di kamar ber-AC, kalian panas-panasan main layangan. Ya jelas gue putih, lu item dekil. Hahaha".

Mungkin sedikit orang-orang seperti Sinyo punya pemikiran seperti itu, atau cara pandang kami yang katanya "pribumi" yang keliru? entahlah..


~***~​


"Siapa mas?"

Pertanyaan dari Dita memecah lamunanku.

"Oh, teman dulu waktu di Jakarta. Eh, Dita. si bos jam berapa datang?", ucapku sambil menghadap Dita.

"Katanya sih jam empat-an, ini dah jam empat lebih tiga menit. Paling sebentar lagi. Emang kenapa mas?", tanya Dita.

"Ga kenapa-kenapa sih, cuma ada yang pengen aku omongin ama bos", jawabku.

"Soal?", taya Dita lagi.

"Nanti deh pulang kerja aku ceritaiin", ucapku mencoba mencari aman dengan jawabanku.

Yah, buat kalian ketahuin. Hubunganku dengan Dita complicated, hubungan tanpa status yang agak berlebihan, se-enggaknya mulai tadi malam, saat...


~***~​


Surabaya, Kemarin


"Waktunya pulang!", teriakku sambil mencabut kunci dari gembok yang aku gunakan untuk menutup rolling door konter. Sebenarnya masih jam 20.00 dan belum jam pulang kerja. Tapi karena Dita libur dan bos kasian sama aku, jadi disuruh tutup lebih awal.

Aku pun berjalan meninggalkan konter hape sembari melempar senyum sapaan ketetangga konter yang belum tutup.

"Tumben Jon jam segini dah tutup. Sendirian ta? Si Dita libur?", kata pak Marno, sekuriti yang biasa berjaga di meja sekuriti di depan Handphone Center.

"Iya, pak. Dita libur, katanya ngantar ibunya pulang ke Gresik. Terus tadi bos nelpon suruh nutup lebih awal aja soalnya kasihan saya sendirian. Mari pak pulang duluan", jawabku

"Mari.. Mari.. Hati-hati", ucap pak Marno.

"Nggeh (Iya)", sahutku lagi.

Aku pun bergegas turun menuju parkiran motor.

PING!

Mas, jangan lupa mampir dulu ke rumah.

kubaca BBM dari Dita, aku tidak berniat membalasnya karena sebelumnya sudah kupastikan pada Dita bahwa aku bakal mampir dulu ke rumahnya di daerah Kapas Krampung. Aneh bukan? Dari Delta ke Kapaskrampung, sedangkan kosanku di Gubeng. Tapi ya begitulah, dari pada Dita yang harus ke kosanku dan menimbulkan gosip yang tidak-tidak.

Kupacu sepeda motorku dengan kecepatan sedang. Entah kenapa aku sangat suka suasana malam di Surabaya. Tak panas seperti waktu siang? mungkin. Tapi yang jelas suasana malam ini cuaca agak mendung. Angin bertiup cukup kencang seolah memperingatkan manusia bahwa hujan akan segera datang, membawa butiran air beserta kenangan.

Semarang, Suatu Hari Di Masa Lalu

"Nih.. Mungkin sedikit bisa menenangkan pikiranmu", ucapku sambil memberikan secangkir Torabika Moka kepada Ratna.

"Makasih, Jon. Taruh aja disitu", jawabnya tanpa menoleh.

Ratna masih saja memandang kedepan, seoalah menikmati sajian tetes tiap tetes air hujan membasahi jalanan. Kutaruh cangkir di meja dan duduk disebelahnya. Hening, tidak ada percakapan sepatahkatapun yang terucap untuk beberapa saat. Kupandang wajah Ratna, datar dan sayu.

"Kamu sayang ga sama aku?", tiba-tiba Ratna membuka suara sambil menatapku.

"Sayanglah", kataku mantap.

"Aku ini siapamu?", tanya dia lagi.

"Calon istriku. Hehe", ucapku sambil cengingisan dan menggaruk kepalaku yang tidak gatal.

"Gombal.. ", ucapnya lirih sambil kembali menatap kedepan. Kulihat Ratna sedikit tersenyum, walau kesannya dipaksakan.

"Tapi kenapa kamu harus pergi?", dia berkata tanpa mengubah arah pandangannya. Ada sedikit air mata menetes kepipinya setelah itu.

Tiiinn.. tiiiinnn..

"Woi! Ijo mas jangan melamun!", teriakan seseorang membuyarkan lamunanku.

Segera kupacu lagi motorku kerumah Dita.


~***~​


Tok.. tok.. tokk..

Kuketuk pintu rumah Dita. Aku hampir tiap hari kesini, tapi sekedar untuk mengantar dia pulang. Dan ini kali pertama aku mampir ke rumahnya.

"Eh? mas. Kok udah kesini? Kan belum jam pulang?", Dita sedikit heran.

"Iya, tadi si bos telpon katanya disuruh tutup lebih awal. Soalnya dia kasihan aku jaga konter sendiri. Kan dia masih di Bandung. Biasanya kalau salah satu dari kita libur dia yang nemenin", jawabku sembari membuka jaket yang kupakai.

"Ga disuruh masuk nih?", sambungku.

"Eh iya. Sini mas masuk. Hahaha. Kunjungan perdana nih ya? Mas kan selalu menolak kalau aku ajak mampir. Maaf mas rumahnya jelek", Dita mempersilahkan aku masuk.

"Alah, rumah gini kok jelek. Masih jelekan rumahku", jawabku sambil duduk di sofa ruang tamu.

"Bisa aja mas. Eh, mau minum apa? Dita bikinin", tawarnya.

"Torabika Moka aja, gelas kecil"

"Yah ga ada mas.. Dita ke warung dulu deh kalau gitu"

"Ga usah. Nih pake ini aja", kuberikan satu sachet ke Dita. Aku memang terbiasa membawa beberapa untuk bekal.

"Ya udah Dita bikinin dulu", Dita pun beranjak ke dapur.

Dita, Dita Kumalasari nama lengkapnya. Anak tunggal di keluarganya. Ayahnya seorang PNS di Dinas Pariwisata Provinsi, sedangkan ibunya adalah guru disalah satu SMA negeri di Surabaya. Mungkin orang tidak akan mengira kalau saat ini usia Dita menginjak 21 tahun. Perawakannya yang kecil berbanding terbalik dengan aset yang dia miliki. Dita sangat manja denganku, sekaligus galak! Makanya aku sering menyebut dia monster melon. Haha. Pernah satu kali aku bercanda dengan dia, karena saking gemesnya aku towel bongkahan payudaranya. Dan kalian tahu apa yang terjadi? Seperti di film-film atau kisah yang sering aku baca, satu pukulan Jab telak bersarang di perutku. Dita memang bukanlah cewek yang bisa ilmu beladiri, tapi soal urusan membeladiri jangan tanya, dia jagonya!

Tak lama berselang Dita datang membawa minuman yang tadi aku suruh buat. Tapi ada yang berbeda, pakaiannya berbeda. Kali ini dia memakai celana kain pendek setengah paha warna Soft Brown dipadu dengan kaus kedodoran warna Cream. Selama memgenal Dita, aku belum pernah melihat dia memakai baju yang ketat. Mungkin karena dia kurang pede dengan asetnya yang "berlebihan", atau mungkin dia menjaga agar terhindar dari pikiran cowok mesum macam aku. Hahaha. Well, aku akui. Aku bukanlah. cowok munafik yang sok suci. Aku cowok mesum, tapi bukan cabul!

"Kok ganti baju, Dit?", iseng aku bertanya.

"Iya tadi habis mandi, belum sempet ganti denger pintu diketuk", jawabnya.

"Tahu gitu tadi bilang dulu", ucapku sambil menerima gelas kopi yang diulurkan Dita.

"Emang kenapa mas? Ga suka ya lihat Dita pakai pakaian begini?", tanya Dita.

"Bukan, kan aku bisa bantu makein. Aduhh duhh, ampun", aku mengerang kesakitan.

"Rasain, dasar mas mesum! Berani macam-macam tak potong itumu", kata Dita melepas cubitannya sambil melirik kearah senjata biologisku.

"Iya ampun, salah sendiri jadi cewek imut kok seksi", aku meringis sambil mengusap pinggangku yang sakit karena cubitan Dita.

Kulihat Dita tersipu. Suasana jadi hening.

"Emangnya aku seksi mas?", tanya Dita sambil menatapku.

"Banget!", ucapku sambil melirik ke arah tonjolan dadanya.

"Dasar, mesum! Awas macem-macem", ucap Dita sambil memeluk bantal sofa.

"Emang semua cowok itu suka yang gede ya mas?", ucap Dita sambil merubah posisi duduknya menjadi lurus menghadapku sambil tetap memeluk bantal.

"Ga juga sih, kalau aku ga pengaruh besar kecilnya. Yang penting cantik", ucapku.

"Huu.. dasar cowok, tetap aja selalu mengutamakan fisik. Yang penting tu hatinya, mas"

"Coba Dita bayangin. Ada cowok super baik hatinya, tapi kurus kering botak matanya lebar idungnya pesek bibirnya ndomble kalau jalan kakinya diseret satu udah kayak zombie, Emang mau? Mungkin untuk sekedar hormat dan kagum sama kebaikannya sih bisa aja, tapi kalau sampe cinta, bisa emang?", ucapku sinis.

"Hmm, betul juga mas. Walaupun mesum mas pinter juga", ucap Dita sambil manggut-manggut.

"Kalau Dita cantik ga mas?", tanya dia lagi.

Ku ubah posisi dudukku menghadap Dita. Kebelai rambutnya yang panjang sebahu, kuselipkan di telinganya.

"Cantik.. sangat cantik", ucapku lirih.

Dita menunduk tersipu. Kugeser dudukku mendekati dia. Kubelai pipinya. Dita menatapku. Kudekatkan wajahku kewajahnya, sangat dekat sekarang. Dita terpejam saat kukecup lembut bibirnya. Kecupan singkat, ku ulangi lagi. Kali ini Dita merespon kecupanku. Semakin lama semakin panas kita saling mengecup, kepegang pipinya. Perlahan tapi pasti kuturunkan belaianku, menyusuri leher jenjangnya. Lidah kami sekarang sudah saling menyapa, saling mengulum. Kuakhiri dengan kecupan lembut, berpindah pipi. kukecup secara intens dan semakin turun kearah leher.

"Uhhgg.. Mas", desah Dita lirih saat kugigit lembut lehernya. Peganganku dipundak Dita kuturunkan kelenganya, ku usap lembut. Merambat ke punggung Dita sambil tetap kukecup dan gigit lembut lehernya. Peganganku dipundak Dita kuturunkan kelenganya, ku usap lembut. Merambat ke punggung Dita sambil tetap kukecup dan gigit lembut lehernya. Meninggalkan beberapa jejak meraha disana. Kupindah telapak tanganku ke punggungnya. Ku usap dengan perlahan. Kini Dita merangkulku. Desahan Dita seolah-olah menyemangati ku bertindak lebih jauh. Kutarik telapak tanganku kebawah dan kususupkan kedalam kaos Dita yang kedodoran. Kuusap punggungnya, sangat lembut kulinya. Tak mau berlama dipunggung kuarahkan telapak tanganku kedepan dengan usapan menyusuri pinggiran diarea sekitar ikat branya hingga sampai pinggiran payudaranya, kuremas lembut.

"Kyaaaaa..!"


~BDL~
 
Terakhir diubah:

RaGnORak

Semprot Kecil
Thread Starter
Daftar
18 Feb 2014
Post
67
Like diterima
0
*pertamax punya ts, maaf buat typo2. :Peace: Baru sadar kalau hape ane panjang copasnya terbatas :bata:

Maaf kalo kurang berkenan dengan tulisan saya :ampun:
 

DPWU

Semprot Kecil
Daftar
27 May 2016
Post
92
Like diterima
17
bajigurr koe cak ... :kentang:

:galak:

lanjutkan cak ....

ono sing demo macem2 lapor aku yo cak, tak tempeleng nanti satu2 pake pisangku :papi:

____________________ :ngacir:
 
Status
Thread ini sudah dikunci moderator, dan tidak bisa dibalas lagi.
Sbo Hoki Online   Senior Bola Online
Jav Toys
Gaple Online Indonesia
Pasang iklan hanya lewat CONTACT US
Top
Semprot is now part of PAGCOR