Agen Terpercaya
Mandala Toto   Jackpot 86
Balaksix   Messipoker
Agen 18   Dunia Jackpot
IBO Play   CMD Play
JP Dewa
Pasang iklan, hanya lewat Contact Us.
Waspada penipuan iklan. Klik di sini untuk melihat daftar penipu.

CERBUNG - TAMAT Kesepianku sebagai Istri

Mbak_lilis

Semprot Baru
Daftar
16 Mar 2021
Post
49
Like diterima
100
Wah kalo gini ga ngeuwe2 dong, ada tokoh datang - kenalan - ngilang, ada tokoh datang lagi - kenalan lagi - ngilang lagi, udah 3 tokoh nih, mau nyampe berapa ya, atau rencanaya mo bikin plot gangbang rame2 nih, jadi dikumpulin dulu kenalanya?
 

Abee_ny

Pendekar Semprot
Daftar
21 Jan 2021
Post
1.901
Like diterima
2.168
Tetangga Baru

Kendati kerabat telah pergi, bukan berarti tempat kos ini lekas sepi. Ia tetap dihuni oleh beberapa orang, sayangnya aku tak kenal satu per satu dari mereka, sekedar bertatap muka dan menyapa lalu menata kehidupanku kembali. Tak lama berselang beberapa hari, kamar sebelahku sudah diisi oleh seorang perempuan bernama Viona yang berusia 36 tahun. Dia samahalnya denganku seorang perantauan dari luar ibukota yang sedang mencari nafkah untuk keluarga. Viona berasal dari Tasikmalaya. Berbedanya denganku, ia mengajak putranya kemari. Viona dan suaminya memiliki 2 orang anak, laki-laki dan perempuan. Laki-laki ikut dengan dia, sedangkan perempuan ikut suaminya. Viona adalah seorang pegawai di sebuah perusahaan farmasi plat merah. Ketika pagi, ia berangkat lebih awal dariku karena tempat kerjanya masih cukup jauh dari rumah kos ini.

Kami berdua berkenalan. Aku terhibur dengan kehadiran mereka, termasuk kehadiran anak laki-laki Viona, mengingatkan aku kepada anak laki-lakiku sendiri di kampung. Dari segi usia memang berbeda. Fadli, putra Viona, berusia 12 tahun, sedangkan anakku masih balita. Kedekatan anak dan ibulah yang justru membuatku cemburu. Mereka sering makan bersama di kamar kos. Akhir pekan, mereka sering berpamitan berlibur atau pulang ke kampung halaman walaupun harus diakui jarak Tasikmalaya dan Yogyakarta dari ibukota beda jauhnya. Aku berupaya menenangkan diriku agar tidak tertekan secara batin dengan kebahagiaan keluarga lain. Ditambah ucapan Mas Johari beberapa waktu yang lalu.

Sebaliknya aku justru harus bisa belajar dari Viona. Ketika situasi batin terguncang dan menyibukkan diri tak sedang mempan, biasanya ada Mba Rini pelarianku bercerita. Awalnya sungkan, namun karena kedekatan secara latar belakang sebagai perempuan perantauan mendekatkan hubunganku dengan Viona. Ia sering mengajakku bergabung untuk makan malam atau berlibur. Terlebih, Viona memiliki mobil pribadi yang bisa membawanya kemanapun. Menurut Viona, menyenangkan diri sendiri ada baiknya bersama teman-teman, kalau sendirian tak akan menghilangkan rasa kesepian sama sekali. Barangkali itu penyebab aku tertekan secara batin, menikmati kesendirianku, kesepianku. Yang berujung menikmati stresnya jiwaku. Stres kok dinikmati? Ucap Viona. Karena kedekatan itu juga, aku mengajak Viona dan putranya ke museum tempat aku bekerja saat akhir pekan. Apalagi Fadli, putra Viona, memiliki hobi merekam tempat-tempat wisata atau hal menarik lainnya.

Beberapa bulan kehadiran mereka rasa kesepianku perlahan hilang, Viona menjadi teman berceritaku untuk melepas segala tekanan batin. Kami sering berbagi. Menurut Viona segala kegundahan pikiran dan batin jangan dipendam karena akibatnya akan menjadi penyakit mental yang entah kapan bisa muncul tiba-tiba. Ceritakan kepada seseorang yang memang bisa kamu percayai dan mau mendengarkan, lebih baiknya lagi bisa memberi solusi.

"Kamu sudah bicarakan baik-baik dengan suami kamu, mau dia apa?"
"Menurutku, dia merasa kamu sudah serba bisa tanpa dia, jadi dia beranggapan tidak perlu ada yang dikhawatirkan dari kamu"

"Belum, aku belum bicara berdua dengannya, yang kurasa adalah suamiku senantiasa sibuk dengan dunianya"

"Iya, May. Dia menyibukkan diri dengan dunianya karena dia merasa sudah tidak diperlukan lagi, dia merasa lemah"
"Kamu bantu ingatkan suami kamu, salah satu fungsi seorang suami adalah menjaga rasa aman dan nyaman bagi istri dan anaknya"

"Aku telepon dia?"

"Kamu mesti temui dia, ingatkan kembali komitmen berumah tangga kalian, bicarakan yang ringan dan manis dulu"

"Aku akan coba, selain itu, aku ingin suamiku bekerja mencari nafkah dengan begitu aku merasa layak diperjuangkan"

"Untuk itu nanti dulu, sekarang upayakan dulu suami kamu mau peka dan peduli kepadamu"

"Anakku? Bagaimana?"

"Termasuk, untuk kali ini kamu bersabar dulu yaa"
"Satu per satu"

"Iyaaa"

"Suamimu merasa tertekan, dia merasa sudah putus asa untuk bekerja lagi apalagi harus bersaing di Jakarta. Dia cemas kamu akan menjadikan dia mengurus anakmu saja, sedangkan mencari kerja pastinya sulit"

"Tidak, aku tidak pernah berniat menuntut dia menjaga dan mengurus anak"

"Pikirmu begitu, suami kamu, siapa yang tahu?"

Tak hanya bicarakan hal yang ringan dan berat, Viona kadang menyentuh pembicaraan masalah seks denganku. Ia mengatakan ketika pulang menengok suaminya ke Tasikmalaya. Viona membawa nafsu birahi yang akan diluapkan kepada suaminya. Begitu juga suaminya di sana. Mereka tidak terlalu mempermasalahkan soal seks. Namun selama di perantauan. Viona terbiasa menggunakan alat bantu seks sebagai pemuas nafsunya.

"May, kalau boleh tahu, dengan jauh dari suami begini kebutuhan seks kamu bagaimana?", Aku dan Viona sedang ngobrol di kamarku malam hari karena di kamar Viona, putranya sudah tertidur.

"Aku? Ya enggak bagaimana-bagaimana"

"Loh kok begitu? Misalnya kamu suka teleponan sama suami sambil masturbasi atau kamu juga menggunakan alat bantu seks?"

"Sebelum ke aku, kamu sendiri bagaimana?"

"Kamu ya, ditanya malah balik tanya"

"Kalau aku sih begitu, emang enggak biasa masturbasi, enggak greget banget karena biasanya dimasukkin suami"

"Menderita banget kamu"

"Enggak menderita sih, aku lebih perhatian suamiku, bukan perkara burungnya"

"Hahahaha bisa aja guyonnya kamu"

"Kalau kamu gimana? Hayo belum dijawab"

"Iya, kalau aku loh ya, masturbasi pakai alat bantu. Sebentar, aku ambilkan..."

"Eitssss, udah gak usah diambilkan"

"Biar kamu tahu, siapa tahu kan kamu tertarik"

"Kamu sales alat bantu seks selama ini ya?"

"Isssshhh bukan, May!"

"Eh iya, kamu risih gak sih dengan penampilan fisikmu itu?", tanyaku ke Viona kami berbicara hadap-hadapan selonjoran di atas tikar yang aku gulirkan. Secara Fisik, Viona menang banyak atasku. Kulitnya yang putih, rambut panjangnya yang terurai bergelombang sebahu, dan wajahnya berparas awet muda tanpa harus dandanan yang berlebihan. Dari segi tubuh hingga ke bawah, mungkin kami sedikit mirip. Sama-sama dikaruniai tubuh sintal dan bentuk payudara yang mengundang birahi untuk menerkamnya. Kalau kata Viona tubuh kami seperti ini yang digilai laki-laki, jadi aku tak perlu risih jika dibilang gemuk atau gendut. Sepatutnya beruntung.

"Ukuran payudara kamu berapa?"

"Aku? Enghh, lebih besar kamu", sahut Viona.

"Aku tanya ukuran, bukan lebih besar mana"

"Penting banget yaa?"

"Enggak juga sih"

"Aku sudah menyusui dua anak, kamu bisa simpulkan sendiri"

"Hahahaa, kamu ini yaaah, jawabnya kok begitu"

"Males aja kalau ditanya ukuran, untuk apa? Untuk diikutsertakan lomba payudara terbesar? Enggakkan?"

"Hahaha"
"Aku suka risih, kalau cowok merhatiin bagian dadaku"

"Ya bagus, berarti kamu jadi perhatian"

"Apa yang bagus kalau di otaknya jadi kotor"

"Di otak cowok, banyak kotornya kalau soal cewek, May"

"Eemmmh gitu yaaa"

"Ya enggak semuanya sih, kalau menurutku enggak usah terlalu dipusingkan, kecuali kamu sudah dilecehkan baru beda ceritanya"

Bulan demi bulan kedekatanku dengan Viona sudah seperti teman karib. Kami sering ghibah bersama tak kenal waktu dan tempat hingga larut malam. Fadli kadang ikut nimbrung atau sekedar mendengarkan pembicaraan kami. Namun satu hal yang aku sedikit terganggu soal Viona adalah dia memiliki seorang teman laki-laki bernama Andre. Usia mereka sepertinya tidak begitu jauh. Viona mengaku Andre adalah teman mesra-mesraannya dia. Andre yang berperawakan sebagaimana laki-laki pada umumnya dengan lengan gempal dan perut sedikit ke depan, tinggi kurang lebih 173 cm adalah rekan kerja Viona. Mereka telah menjalin hubungan 2 bulan tanpa sepengetahuan Fadli. Bahkan Andre beberapa kali mengunjungi Viona ke rumah kos ini

Viona mengatakan hubungannya dengan Andre sekedar teman berbagi perhatian. Walau sudah bersahabat karib denganku, Viona merasa perhatian laki-laki tetap utama. Dia punya pandangan berbeda soal rumah tangga. Suaminya juga punya teman perempuan mesra-mesraan dan berbagi perhatian juga. Namun, Viona dan Suami terbuka secara hubungan dekat dengan siapa, asalkan hubungan rumah tangga mereka tetap nomor 1, termasuk anak-anak. Bahkan aku pernah memergoki Viona dan pasangannya, Andre di kamarnya sedang asyik dalam lautan birahi. Ketika itu, Fadli sudah diantarkan ke sekolah. Aku kembali ke kamar kos untuk mengambil barang yang tertinggal. Karena merasa ada kegaduhan di kamar sebelah, menarik perhatianku untuk mencari tahu. Pada saat itu, Viona sedang bergumul dengan Andre.

"Kamu enggak tertarik ikutin jejak aku?"

"Enggak deh, terima kasih"

"Uhhhh gayamu, May, kayak enggak butuh aja"

"Emang betul"

"Kamu gak pernah ada yang deketin? Masa sih? Bohong banget"

"Ada, banyak, malahan"

"Ya satu orang enggak ada gitu yang bisa diajak jadi temen mesraan kamu?"

"Enggak ada deh, aku dari dulu menghindari laki-laki begitu karena niatnya macam macam doang sama aku"

"Ya cari dong yang pengen berbagi perhatian dengan kamu, bukan temen asal mau itu doang"
"Itu sama aja kita diperlakukan kayak pelacur sama mereka"

"Siapa?"

"Kamu yang lebih tahu, kok tanya aku"

"Aku takut suamiku cemburu"

"Cemburu bagaimana, suami kamu aja jarang telepon dan nanyain kabar kamu"
"Lebih baik kamu cari yang bisa isi kekurangan itu"

"Hhmmmm....."

"Enggak apa, May, daripada kamu berharap terus-terusan dapat perhatian suami kamu? Bisa-bisa kamu stres kepikiran itu melulu"
"Kalau kamu punya teman cowok yang bisa berbagi perhatian dan kalian bersepakat tetap saling dukung rumah tangga masing-masing, bagus banget. Kayak aku dan Andre."

"Iya, siapa?"

"Mau dicariin?"

"Enggak, terima kasih"

Ucapan Viona membekas dalam benakku. Aku sejujurnya tidak mau punya teman yang disebut Viona teman mesra-mesraan. Bukankah itu sama aku mengkhianati suamiku? Namun, untuk sekedar berbagi perhatian apa salahnya? Terlalu lama aku mengemis perhatian dari suamiku. Sikap dan tingkah lakunya sudah demikian. Sebagai istri, aku harus siap menerima kekurangan suami. Berharap dia berubah, entah sampai kapan. Lalu kekurangannya bagaimana? Itu yang bikin aku sangat menderita dari kejauhan. Itu yang membuat mentalku tak sehat. Haruskah aku punya teman berbagi perhatian? Aku ingat aku punya Ilham, tetapi itu dulu. Sekarang? Ilham? Tidak dia sudah punya istri yang sangat sayang dengan dia. Aku tidak mau mengusik hubungan Ilham dan Winda.
Aduh, kesepianku memang terkesan sudah usai dengan keberadaan Viona. Akan tetapi, itu semu. Hilangnya rasa sepi itu semu. Sejatinya kesepian itu masih ada. Kesepian yang berwujud kepekaan dari pasangan yang memahami dan mengerti salah satu pasangannya perlu diperhatikan dan disayang. Oh suamiku, bagaimana menyadarkanmu....

"May, jadi kapan kita bisa duduk ngopi-ngopi?"
"Oh ya, kamu blokir kontakku ya?"

"Blokir? Enghh, coba nanti aku cek ya, ponselku di ruangan"

"Iya, buktinya aku kirim whatsapp ke kamu cuman ceklis satu, profpic kamu mendadak hilang"

"Nanti aku coba cek ya"

"Iya, santai aja, May, aku cuman laporan aja ke kamu"

"Untuk bagian desain publikasi pameran bulan juli, kamu yang kelola ya konten dan desainnya"

"Beres"

"Sudah termasuk teasernya kan?"

"Dokumentasi pun sudah termasuk, cuman kita perlu bahas detail pembuatan video pamerannya"
"Skenario atau skripnya sudah jadi?"

"Itu yang belum, kamu tahu kantorku seperti apa, saking semua dikerjain, banyak yang terlewatkan"

"Hahahhaaha ngerti banget, May, selaaaaww, biar aku yang bikin skenarionya"

"Eh beneran?"

"Iya"

"Budget enggak nambah kan?"

"Enggak, asalkan"

"Asalkan apa?"

"Yuk ngopi"

"Iyaaaa sabaaar, ngajakin ngopi mulu perasaan deh"

"Aku sudah sabar semenjak kamu blok aku dan belum dapat jawaban, masih senyum-senyum aja kan?"

"Kamu sehat?"

"Sehat, aku kira senyum ini aku gila ya?"

"Iya, hehe", tawaku mencandai Bimo.

"Parah kamu, bisa-bisanya"

Bicara teman dekat selain Ilham, aku mempunyai seorang teman dekat bernama Bimo. Kantor kami biasa menjalin kerja sama untuk kegiatan pameran. Bimo biasa menjadi partnerku untuk sesi dokumentasi dan publikasi. Usianya 33 tahun. Bimo adalah seorang duda beranak 1. Ia tinggal di daerah Bogor. Seandai tidak diblokir oleh Ilham, mungkin pembicaraanku dengan Bimo akan semakin intens. Apakah aku harus menjadikan Bimo sebagai pengganti Ilham? Bimo tak ada yang menunggu di rumah, kecuali putra semata wayangnya. Namun, apakah dia berbahaya? Kami sering bertemu dalam kerja sama kegiatan untuk apa aku khawatir. Aduh, apa yang disampaikan Viona mengganjal pikiranku.

Aku belum mengiyakan janjian ngopi dengan Bimo berhari-hari setelah penyelenggaraan kegiatan dimulai sekalipun. Kami bekerja secara profesional dan Bimo tak pernah menyentuh privasiku sama sekali. Setelah aku membuka blokir Bimo dalam rangka kami bekerja untuk suatu kegiatan, ia sering menjawab statusku yang kerap jalan ke sebuah Mall atau berolah raga sendiri. Terusik? Iya, namun ia sekadar mengatakan.

"Kapan-kapan, bareng May, aku juga suka kelayapan sendiri"
"Hehehe, siapa tahu kalau bareng, galaunya jadi berjamaah"

Karena hubungan kemitraan kerja yang kerap terjadi itu, aku menjadi tahu siapa Bimo dan karakternya yang mudah bergaul. Menjelang tidur, apabila rindu berbalas chat dengan suami. Aku menuntaskannya dengan sering berbalas chat dengan Bimo, karena juga sudah jarang sekali berbalas chat dengan Ilham. Kami biasa bahas seputar pekerjaan kami berdua yang mirip-mirip. Bahas projek yang sedang dia kerjakan dan bahas kesibukanku yang tak pernah selesai. Kemudian,

"Ehem, ngopinya kapan Nona?"

"Kapan yaaa"

"Aku kirimin kopi aja ke kamu deh, kita ngopinya virtual gimana?"

"Boleh banget tuh"

"Ini☕"

"😑 Kirain beneran"

"Kalau beneran, ya beneran kita ngopi bareng"
"Hahaha"
"Aku yang traktir loh, padahal"

"Iya boleh, kamu mau kapan?"

"Besok, lokasinya deket kantor kamu aja"

"Bener nih?"

"Beneran, aku motoran, daripada kamu harus jauh-jauh. Lagi musim hujan juga"

"Oke, berarti kita ketemuan aja ya?"

"Iya"

"Sampai jumpa besok, Nona"

"Namaku, Maya"

"Iya Nona Maya"

"Ckckck"

Besoknya, tiba-tiba Ilham menodong sebuah pertanyaan kepadaku. Pertanyaan yang tidak kusangka-sangka bagaimana dia tahu bahwa aku akan jalan dengan Bimo. Ternyata ia tahu dari memata-matai ponselku lagi. Ia tidak kehabisan akal. Mulai detik itu, aku memproteksi seluruh ponsel dan alat elektronikku agar tidak diketahui oleh orang-orang tidak bertanggung jawab, khususnya Ilham. Parahnya, Ilham berupaya mencegahku untuk bertemu Bimo. Ia menuduh Bimo punya niat macam-macam denganku. Ilham lagi dan lagi berspekulasi. Padahal, aku dengan dia sudah tidak dekat lagi. Aku sudah punya beberapa kawan dekat, satu di antaranya adalah Bimo.

Ilham tidak menyerah. Bahkan Ia mengancam akan memberitahu suamiku bahwa aku berniat bertemu laki-laki lain, berduaan. Meledak amarahku ke Ilham. Aku menegaskan kepada Ilham jangan ikut campur urusanku lagi. Atau, perkara hubunganku dengan dia dahulu kubocorkan kepada Winda. Aku menggertak balik supaya Ilham mundur, tak menghalang-halangi.
Setelah gertakan itu, aku sedikit merasa bersalah, namun tidak terlalu kuhiraukan. Aku biarkan Ilham berpikir dan betul fokus dengan rumah tangganya. Bukan lagi tentang aku. Tentang dia dan istrinya.

Parahnya Ilham lupa sesuatu tentang hari ini, serupa dengan suamiku. Yang beberapa kali kucoba ingatkan ada hari istimewa hari ini. Rekan-rekan kantor juga demikian. Mereka biasanya mengingatkan perihal hari ulang tahun para pegawainya. Namun, kosong. Aku ingin mengingatkan suamiku, pastinya tak akan spesial lagi. Biarlah ia ingat sendiri dan mengucapkannya padaku. Kalau lupa, ya sudah.

Menjelang sore, aku lihat langit mendung. Aku bingung pertemuanku dengan Bimo jadi atau tidak. Yang jelas, Viona menghubungiku. Dia kuajak agar tidak sekedar berduaan obrolan aku dan Bimo. Sedihnya, baik Viona dan Bimo memintaku berangkat duluan menuju sebuah cafe di daerah Jakarta Pusat. Terlebih jadwal pulang jam kerjaku lebih awal dari mereka.

"Kamu di mana?"

"Aku berangkat 15 menit lagi, lagi nanggung sama kerjaan dadakan, May"
"Sabar yaaah"

"Haduh kamu, aku jadi cumaan berduaan dong dengan ini cowok"

"Ya enggak apa-apa, siapa tahu bisa jadi teman mesra-mesraannya kamu hihihi"

"Viona, kamu ya omongannya"
"Yaudah buruan, aku tunggu"

Sesampainya di kafe, aku memesan secangkir cokelat panas sembari menunggu dua orang kawanku. Aku juga mengelap beberapa bagian tubuh, terutama rambut dan tangan yang kebasahan karena kehujanan. Blazerku basah, jaket tak bawa. Tersisa kemeja biru lengan panjang yang aku kenakan. Aku berharap semoga Bimo bukan laki-laki ngeres karena tonjolan bukit kembarku yang menyorot membentuk lekukan tubuh bagian dada. Sejauh ini, apa yang kami bicarakan lurus-lurus saja. Aku tanyakan sudah di mana. Dia sudah berada di parkiran.

Jantungku berdegup tak normal. Padahal, kami terbiasa bicara berdua di kantorku. Barangkali karena momennya berbeda, suasana dingin ruangan yang kurasakan jadi sedikit membuatku gugup.

"Maaf ya, agak telat, macet tadi di jalan"
"Kamu ke sini naik apa?"

"Ojek online, enggak apa-apa kok"

"Kamu sudah mesen?"

"Sudah, kamu mau dipesenin?"

"Oh gak usah biar aku pesen sendiri aja", ujar Bimo. Setelah melepas jaketnya, ia pergi memesan langsung ke pelayan tanpa harus melihat-lihat menu terlebih dulu.

"Gak kelamaan nunggu kan?"

"Enggak Bimo, aku baru juga datang"

"Aku enggak enak aja kalau kamu sudah kelamaan nunggu"
"Jangan ngomongin pekerjaan ya di sini"
"Hahaha"

"Karena kamu rekan kerja, ya omongin kerjaan, habisan mau omongin apalagi"

"Omongin yang ringan-ringan aja"

"Yang ringan itu bagaimana?"

"Yang ringan itu yang bikin kita tersenyum bahagia, gak mumet di pikiran"
"Kayak kita ini pegawai/pekerja kantoran"

"Kamu pekerja kantoran? Kukira pekerja proyek"

"Proyek kantormu"
"Puas?!"

"Hehehe, iya....."

Perbincangan dengan Bimo menyenangkan sekali. Dia sering menyelipkan guyon dalam obrolan kami. Yang serius diolahnya menjadi ringan, termasuk perihal pekerjaan. Bimo bercerita sebagai orang tunggal bagi anaknya yang berumur 4 tahun merupakan pekerjaan berat. Istrinya pergi meninggalkan dia dengan menikahi pria lain. Bimo tangguh menerima kenyataan pahit rumah tangganya ambruk. Ditambah ia membesarkan putranya tanpa kasih sayang seorang ibu. Kini putranya dititipkan kepada orang tuanya di kampung. Bimo di Jakarta tinggal kos sendirian sembari mengumpulkan uang untuk anak tercinta kendati bekerja serabutan. Ini berbanding terbalik dengan suamiku. Aku tertegun dengan cerita Bimo menafkahi putranya.

Setelah menceritakan kehidupannya, aku perlahan menceritakan kehidupanku yang tak kalah berlikunya sebagai seorang ibu yang tinggal jauh dari suami dan anak. Bimo bersimpati dengan rumah tanggaku dan tak berharap kandas sepertinya. Kemudian kami makan malam bersama hingga aku lupa mengundang Viona datang. Viona menyesali tidak bisa datang karena hujan yang lebat dan lekas pulang ke tempat kos.

"Alhamdulillah kenyang, tenkyu ya, Bimo"

"Sama-sama May, ditunggu giliran traktirannya kamu"

"Oh, jadi traktirannya perlu dibalas nih?"

"Enggak, bercanda. Heheh"
"Maksudnya kapan-kapan kita ngobrol lagi"
"Nanti malam boleh kutelepon kan?"

"Boleh, kalau belum ketiduran ya..."

"Oke, eh itu..."

"Itu apa?"

"Kancing baju kamu"

"Astaghfirullah, duh maaf...", kancing kerah kemejaku bagian tercopot satu, sedikit terlihat belahan dadaku entah semenjak kapan.

"Untung aku yang lihat"

"Kalau yang lain kenapa?", tanyaku sebelum beranjak meninggalkan kafe.

"Ya enggak kenapa-kenapa, untung aku yang lihat, jadi bisa kasih tahu kamu langsung"
"Hehehe"

"Ih gak jelas deh..."

"Besok kamu kerja?"

"Sebagai salah satu pegawai rajin, tentunya ya aku harus kerja"

"Seneng bisa makan malam bersama pegawai rajin"

"Terima kasih traktirannya"

"Mau dianterin gak?"

"Enggak usah, deket biar aku pesen ojol aja"

"Beneran nih?"

"Bener"

Tiba-tiba Bimo membuka jok motornya dan mengeluarkan jaket hitam yang diletakkan ke badan belakangku. Aku tersipu dengan perhatian Bimo. Dalam hati bertanya, apakah maksud ia memperlakukanku begitu. Ah, sebagai teman apa salahnya. Kemudian Bimo berkata di hadapanku.

"Selamat Ulang Tahun, Maya"

Sampai jumpa di bagian berikutnya. Harap bersabar ya untuk bagian yang ada ehem ehemnya hehe
Kalem n lancrotkan suhuu
 
Jav Toys
Gaple Online Indonesia
Pasang iklan hanya lewat CONTACT US
Top
Semprot is now part of LS Media Ltd