9Club Situs Judi Online Terpercaya
Asus Togel online   Mandala Toto
RGO Online
Pasang iklan, hanya lewat Contact Us.
Waspada penipuan iklan. Klik di sini untuk melihat daftar penipu.

LINGKARAN TABOO update Lanjutan Part 06

Status
Thread ini sudah dikunci moderator, dan tidak bisa dibalas lagi.

Neena

Guru Semprot
Thread Starter
Daftar
16 Aug 2019
Post
664
Like diterima
69.059
Part 06



K
alau sudah bertugas di kantor cabang, mau tinggal di mana ?” tanya Yuli setelah duduk di ruang keluarga kembali.

“Niken memintaku untuk tinggal di sini aja. Biar sekalian menemani Mama katanya, “ sahut Rey.

“Kalau Niken sudah selesai tugas belajarnya, di mana dia mau ditempatkan ?” tanya Yuli lagi.

“Tetap di Jakarta. Jabatannya pasti naik. “

“Wah ... bakalan LDR juga dong sama Niken. “

“Iya sih. Gak apa lah. Kan Mbak bisa mewakili Niken nanti. “

“Siap Rey. Kapan pun kamu mau, aku siap meladenimu, “ sahut Yuli disusul dengan kecupan mesra di bibir Rey.

“Mbak mau nginap di sini sekarang kan ?”

“Nggak. Setelah Mama datang, aku mau pulang Rey. Nggak enak sama Mas Bono kalau aku nginap segala di sini. “

“Anak Mbak baru seorang kan ?” tanya Rey.

“Iya. Kamu mau nambahin ?”

“Hahahaa ... nanti kalau anaknya ngikutin aku gimana ?”

“Iya ya ... kalau anaknya kebule - bulean kayak kamu, bisa bingung Mas Bono nanti. Tadinya sih aku ingin juga punya anak dari kamu, biar bagus anaknya. Tapi ... jangan dulu bikin anak deh. Kita bikin enak aja dulu. “

Pembicaraan itu terputus, karena Rey berdiri setelah mendengar bunyi langkah orang di teras depan. “Mama datang ... “ ucapnya sambil membuka pintu depan.

Memang benar Mama Hilda yang datang. dengan banyak kantong - kantong plastik berisi bahan makanan di kedua tangannya.

Rey spontan mengambil alih bawaan mertuanya sambil berkata, “Belanjaannya banyak bener Mam. “

“Kan persediaan untuk makan sang Pangeran, “ ucap Mama setengah berbisik.

Sementara Yuli malah bersiap - siap untuk pulang.

“Mama udah pulang, sekarang giliranku yang akan pulang, “ kata Yuli sambil bangkit dari sofa dan menghampiri mamanya yang masih di dekat pintu depan.

“Kok mau pulang Yul ? Bukannya mau nginep di sini ?” tanya Mama Hilda.

“Kasian Mas Bono Mam. Kalau si kecil pengen netek nanti, pasti Mas Bono kerepotan. “

“Kan ada babysitter. Kasih sufor, selesai. “

“Sudah terbiasa kalau malam si kecil suka dikasih ASI Mam. “

“Owh ya udah. Ati - ati di jalan ya. “

“Iya Mam, “ sahut Yuli yang lalu cipika - cipiki dengan mamanya. Kemudian Yuli melambaikan tangannya kepada Rey, “Aku pulang Rey. “

Rey menyahut, “Iyaaa. Ati - ati di jalan Mbak, “ sahut Rey sambil melangkahke teras depan, sementara Yuli sudah masuk ke dalam sedan kecilnya.

Kemudian Yuli menggerakkan sedannya sambil melambaikan tangan kepada Mama Hilda dan Rey yang masih berdiri di teras depan.

Setelah sedan Yuli lenyap dari pandangan, Rey mendekap pinggang Mama Hilda dan mengajaknya masuk ke dalam rumah sambil berkata, “Mama belanja bahan makanan banyak benar. Siapa yang mau makan Mam ?”

“Uang darimu kan banyak sekali Sayang. Makanya mama belanjain semuanya. Kan bisa disimpan di dalam freezer. Disimpan dua-tiga bulan juga akan tetap bagus, “ sahut Mama Hilda sambil melangkah ke arah freezer besar yang ternyata kosong. Hanya ada beberapa buah mangga gedong gincu, yang selalu dihidangkannya tiap hari untuk menantu tercintanya.

Rey pun membantu Mama Hilda memasukkan bahan makanan yang akan dimasukkan ke dalam freezer.

Anehnya, dalam saat seperti itu, Rey tetap bergairah untuk mendekap perut Mama Hilda dari belakang. Padahal sejam yang lalu ia baru selesai menyetubuhi kakak iparnya.

Ketika Mama Hilda baru selesai memasukkan bahan - bahan makanan ke dalam freezer, Rey tetap mendekap perut sang Mertua dari belakang. Bahkan tangan kanannya turun dari perut Mama Hilda, menarik gaunnya ke atas dan menyelinapkan tangannya ke balik celana dalam sang Mertua ... bahkan lalu menggerayangi tempik Mama Hilda.

“Pangeranku ... mama kan mau masak dulu untukmu Sayang ... kamu pasti lapar kan ?” ucap Mama Hilda tanpa menepiskan tangan Rey yang sedang menggerayangi kemaluannya.

“Aku sudah makan siang di kantorku tadi Mam. Tinggal si dede nih yang pengen main di lubang surgawi Mama yang selalu bikin kangen ... “

“Mama mau mandi dulu Sayang. “

“Nggak usah Mam. Nanti aja kalau sudah ena - ena ... “ sahut Rey sambil menurunkan celana dalam Mama Hilda sampai terlepas dari kedua kakinya.

Mama Hilda selalu mengerti apa yang diinginkan oleh menantunya. Maka setelah celana dalamnya terlepas, Mama Hilda membungkuk sambil menyingkapkan gaun bagian belakangnya, sehingga bokong gedenya terbuka sepenuhnya. Memek tembemnya pun langsung nyempil di bawah mulut anusnya yang tak pernah digunakan untuk seksual kecuali untuk BAB doang.

Mama Hilda membungkuk sambil berpegangan freezer besar setinggi hampir 1 meter itu. Sementara bokong dan memek Mama Hilda yang sudah fully open itu menandakan sudah siap disodok saat itu juga.

Inilah yang membuat Rey terkesan pada mertuanya itu. Bahkan Rey bertekad untuk tetap memelihara hubungan rahasia itu sampai kapan pun. Karena Mama Hilda punya kesan istimewa di hati Rey.

Tanpa banyak bicara lagi, Rey menurunkan kancing zippernya, lalu menyembulkan batang kemaluannya yang dipegangnya dengan tangan kiri, sementara tangan kanannya mengusap - usap celah memek Mama Hilda yang ternyata sudah basah.

Maka Rey letakkan moncong penis ngacengnya di mulut memek Mama Hilda. Kemudian mendorongnya sekuat mungkin. Dan ... blesssssssssskkkk ... batang kemaluan Reynaldo membenam ke dalam liang memek Mama Hilda. Yang disambut dengan desahan sang Mertua, “Ooooh ... Reeeeey ... kamu selalu mampu membangkitkan gairah mama ..... “

Sambil menepuk - nepuk bokong gede Mama Hilda, Rey menyahut, “Mama juga selalu membuat kontolku ngaceng .... “

Lalu Rey mulai mengentot mertuanya, sambil berdiri di depan bokong yang nungging seksi itu.

Baik Mama Hilda mau pun putri keduanya (Yuli) sama - sama punya keistimewaan di hati Rey. Meski pun Mama Hilda tidak muda lagi, fisiknya selalu memancarkan pesona birahi bagi Rey.

Bahkan Rey bisa melupakan istrinya yang sedang mengikuti tugas belajar di negeri sakura itu.

“Biarlah Niken tekun mengikuti pendidikannya sampai selesai. Karena aku punya mamanya yang punya memek luar biasa enaknya ini, “ kata Rey di dalam hatinya ketika batang kemaluannya mulai gencar memompa liang memek Mama Hilda.

“Sayang ... mama suka sekali posisi begini ... ayo entot sepuasmu Sayang ... oooohhhh ... ini luar biasa enaknya ... “ celoteh Mama Hilda ketika liang kewanitaannya mulai gencar “dipompa” oleh batang kemaluan menantunya.

Tampaknya Mama Hilda sangat menikmati genjotan penis menantunya. Saking menikmatinya, Mama Hilda hanya mampu bertahan belasan menit dientot sambiol berdiri dan membungkuk di depan freezer besar itu. Kemudian ia memekik lirih, “Rey ... mama udah mau lepas .... aaaaaaaaaaah .... “

Bokong Mama Hilda bergetar - getar. Lalu terdiam dan terkulai lunglai.

Melihat kenyataan itu Rey pun tidak terlalu memaksakan nafsunya. Lalu mencabut batang kemaluannya dari liang memek sang Mertua yang sudah basah kuyup itu.

“Mama mau mandi dulu. Nanti kita lanjutkan ya, “ ucap Mama Hilda sambil membetulkan gaunnya yang tersingkap lebar itu.

“Aku juga mau mandi Mam. Bareng aja sama Mama ya. Biar bisa saling nyabunin. “

“Iya, “ sahut Mama Hilda sambil tersenyum. Dan menduga bahwa Rey akan menyetubuhinya lagi di dalam kamar mandi.

Lalu mereka melangkah ke dalam kamar mandi di dalam kamar Mama Hilda. Dan menelanjangi diri masing - masing di situ.

Tepat seperti dugaan Mama Hilda, di dalam kamar mandi itu Rey tak sekadar ingin menyabuni tubuh bohay sang Mertua. Ketika tubuh Mama Hilda sudah dipenuhi busa sabun, termasuk kemaluannya, Rey membenamkan lagi batang kemaluannya ke dalam liang memek sang Mertua. Sambil berdiri di dekat dinding kamar mandi.

Dan Mama Hilda menyandar ke dinding kamar mandi, sambil membiarkan Rey mengentotnya lagi. Karena di dapur tadi Rey memang belum ngecrot.



Kejadian yang serupa terjadi dan terjadi lagi di hari - hari berikutnya. Sehingga tiada hari tanpa hubungan seksual bagi mereka.

Ketika Mama Hilda datang bulan, barulah “kegiatan” khusus itu diistirahatkan.

Pada saat itulah Rey menerima telepon dari Tante Nadine.

Ternyata Tante Nadine sudah menyetujui Rey untuk menjadi direktur cabang di kota kecil itu.

Setelah menerima telepon dari Tante Nadine, bahwa ia sudah menyetujui Rey untuk menjadi direktur cabang di kota kelahiran Niken itu, semangat Rey semakin menggebu - gebu. Untuk menampung barang dari seluruh Jatim yang lalu dikirimkan ke Jakarta secara bergelombang.

Memang sejak Rey memimpin kantor cabang itu, perusahaan Tante Nadine jadi menggeliat dan berkembang sangat positif.

Tadinya Rey seolah diuji dulu oleh tantenya untuk memimpin kantor cabang di kota kecil itu. Tapi belum resmi diangkat sebagai direktur cabang. Tapi setelah Rey membuktikan kemampuannya memimpin kantor cabang itu, Tante Nadine pun lalu mengontak Rey dan mengangkatnya sebagai direktur cabang wilayah Jatim.

Tentu saja Reynaldo senang sekali menerima jabatan itu. Karena di kota kecil yang suasananya santai itu, Rey bisa menjalankan tugasnya tanpa harus menguras keringatnya.

Dan yang terpenting bagi Rey, adalah bahwa Rey bisa mengisi kesepiannya bersama mertua tercinta dan juga Yuli, kakak iparnya.

Itulah sebabnya, setelah mendengar berita bahwa Rey diangkat menjadi direktur cabang perusahaan Tante Nadine, Rey langsung membedah kamar pribadinya di kantor. Karena kamar itulah satu - satunya bagian yang mesti dibenahi. Agar terasa nyaman kalau Yuli datang nanti.

Tapi setelah kamar itu selesai dibenahi, yang datang justru Lana, anak sulung Mama Hilda, sekaligus kakak ipar Rey ... !

“Mbak Lana ... dari mana Mbak tau kalau aku berkantor di sini sekarang ?” tanya Rey setelah mengajak Lana duduk berdampingan di sofa ruang tamu kantornya.

“Dari Mama, “ sahut Lana yang berperawakan mirip mamanya. Tinggi montok. Hanya bedanya sang Mama sudah berusia menjelang limapuluhan, sementara Lana baru tigapuluhan.

“O, tadi sudah ke rumah Mama dulu ?” tanya Rey.

“Iya Rey. Aku sengaja ke sini karena aku sedang membutuhkan pertolonganmu, “ tanya Rey.

“Pertolongan apa Mbak ?”

“Aku butuh pekerjaan Rey. Kamu bisa kan menempatkanku di sini ?”

“Setau aku, Mbak kan berwiraswasta. “

“Itu semasa aku belum bercerai dengan Mas Herman. Sekarang aku janda Rey. “

“Tunggu ... tunggu ... kapan Mbak bercerai dengan Mas Herman ?”

“Sebenarnya sudah lama. Sudah hampir setahun. Tapi baru sekarang aku ngomong sama Mama ... dan kamu ... “ Lana menunduk dengan sikap murung.

“Terus anak Mbak dibawa ?”

“Nggak, “ Lana menggeleng, “Diambil sama mantan mertua. “

“Anak Mbak cuma seorang kan ?” tanya Rey.

“Iya. Sekarang sudah kelas satu SMP. “

“Mmm ... terus kalau bekerja di sini, Mbak mau tinggal di mana ?”

“Di rumah Mama aja. “

“Baguslah. Biar Mama tidak kesepian, karena ada Mbak dan aku. “

“Iya Rey, “ sahut Lana lirih. Dan tiba - tiba saja ia bercucuran air mata, sambil memeluk Rey. “Aku memang salah langkah Rey ... hiks ... tadinya aku takut terlangkahi oleh Yuli dan Niken. Makanya aku terima saja lamaran Mas Herman untuk menjadi istrinya. Ternyata aku salah pilih ... hikssss ... “

Rey mengusap - usap punggung kakak iparnya yang masih memeluknya sambil terisak - isak.

Tapi tahukah Lana bahwa pada saat itu Rey sedang merasakan desir - desir nafsu di dalam batinnya, karena kakak iparnya itu bohay dan seksi abis ?

“Bagaimana caranya agar aku bisa meredakan kesedihan dan kekecewaan Mbak ?” tanya Rey sambil merapatkan pipinya di pipi Lana.

“Ka ... kasih aku pekerjaan dan penghasilan tetap Rey. Hiksss ... “ sahut Lana.

“Mbak butuh pekerjaan dan penghasilan. Aku juga membutuhkan sesuatu ... yang Mbak juga pasti mengerti. “

“Maksud Rey ?” Lana menatap Rey dengan mata basah.

“Sekarang kita sama - sama kesepian Mbak. Soal pekerjaan, oke ... aku akan menempatkan Mbak di kantor ini. Tapi ... mmm ... Mbak juga tau kalau Niken sedang di Jepang kan ... ” ucap Rey sambil menarik kertas tissue dari meja kecil di depan sofa, lalu menyeka air mata Lana yang mengalir ke pipi dan bibirnya.

“Terima kasih, “ ucap Rey sambil mempererat pelukannya, “Gampang soal itu sih. Aku siap mewakili Niken untuk mengisi kesepianmu Rey. Aku sendiri memang membutuhkannya. Kita saling bagi kehangatan aja. Asalkan Mama dan Niken jangan sampai tau. “

“Serius Mbak ?” Rey mengepit sepasang pipi Lana dengan kedua telapak tangannya.

Lana mengangguk sambil tersenyum. Sehingga wajahnya semakin manis di mata Rey.

“Kita lanjutkan ngobrolnya di sana yuk, “ ajak Rey sambil menunjuk ke sebuah pintu. Pintu kamar pribadinya yang baru dibenahi selama berhari - hari itu.

Meski masih terisak - isak, Lana mengikuti ajakan Rey. Masuk ke dalam kamar yang tidak berantakan lagi itu.

“Lho ... ini kamar tidur Rey ?!” cetus Lana setelah berada di dalam kamar yang sering dipakai untuk istirahat oleh Rey itu.

Sebagai jawaban, Rey mendekap pinggang kakak iparnya dari belakang, sambil berkata, “Iya. Aku sudah gak sabar, ingin secepatnya membuktikan bahwa kita ini sebenarnya saling membutuhkan Mbak. “

“Rey ... aku jadi merinding nih ... “ sahut Lana yang membiarkan pinggangnya didekap erat oleh suami adik bungsunya.

“Merinding takut apa merinding horny ?”

“Dua - duanya. “

“Apa yang Mbak takutkan ?”

Lana memutar badannya, jadi berhadapan dengan suami adik bungsunya. Dan berkata, “Aku tak mau munafik, bahwa aku masih sangat membutuhkan sentuhan lelaki. Apalagi sentuhan lelaki muda seganteng Rey. Tapi aku tak bisa membayangkan apa yang bakal terjadi seandainya Niken tau kelak ... “

Rey memegang kedua bahu Lana sambil berkata, “Yang penting kita rapi menjalin hubungan rahasia kita Mbak. Lagian Niken masih lama di Jepang. “

Lana menatap wajah Rey yang memang tergolong langka di negeri ini. Wajah lelaki muda blasteran yang bisa disejajarkan dengan kaum selebriti. Lalu dibiarkannya Rey Lana menatap wajah Rey yang bisa disejajarkan dengan kaum selebriti. Lalu dibiarkannya Rey memagut bibirnya dengan hangat. Bahkan lalu ditanggapinya dengan lumatan hangat pula.

Beberapa saat kemudian, mereka mulai melepaskan busananya masing - masing. Rey hanya menyisakan baju kaus merah di tubuhnya, sementara ke bawahnya blank alias telanjang.

Lana pun sama. Hanya baju kaus hitam dengan corak ungu yang tersisa di badannya. Sehingga keindahan sebagian besar tubuh bohay itu mulai tampak jelas di mata Rey. Termasuk kemaluannya yang sedang diusap - usap oleh Lana sendiri, sambil duduk di sebuah kursi anyaman bergaya rotan (tapi terbuat dari plastik hitam).


[URL=https://imgbox.com/SFNIknmk]
 
Status
Thread ini sudah dikunci moderator, dan tidak bisa dibalas lagi.
Sbo Hoki Online   Senior Bola Online
Jav Toys
Gaple Online Indonesia   9 club
Pasang iklan hanya lewat CONTACT US
Top
Semprot is now part of PAGCOR