9Club Situs Judi Online Terpercaya
Asus Togel online   Mandala Toto
RGO Online
Pasang iklan, hanya lewat Contact Us.
Waspada penipuan iklan. Klik di sini untuk melihat daftar penipu.

LINGKARAN TABOO update Lanjutan Part 06

Status
Thread ini sudah dikunci moderator, dan tidak bisa dibalas lagi.

Neena

Guru Semprot
Thread Starter
Daftar
16 Aug 2019
Post
664
Like diterima
69.059
Untuk pertama kalinya Reynaldo mandi bareng dengan ibu mertuanya. Ibu mertua yang telah “menghadiahkan” sejuta kenikmatan itu.

Untuk pertama kalinya pula Reynaldo tidur seranjang dengan sang Mertua. Sambil seling peluk pula.

Esok paginya, Reynaldo terbangun ketika Mama Hilda sudah bangun duluan. Bahkan sedang membuatkan makanan untuk sarapan pagi Rey.

Reynaldo mengeluarkan sebuah amplop tebal berisi sejumlah uang yang lalu diserahkannya kepada Mama Hilda di dapur.

“Ini untuk biaya makanku selama tinggal di sini Mam, “ ucap Rey waktu menyerahkan amplop tebal itu.

“Eeee ... Rey ! Apa - apaan ini ? Kamu tinggal di rumah mertuamu sendiri. Masa harus ngasih duit segala ?” Mama Hilda menepiskan amplop tebal itu.

“Aku ke sini kan tugas dari kantor. Ini uang untuk nginep di hotel sekaligus untuk konsumsiku selama tinggal di kota ini. Jadi wajar kalau aku memberikannya kepada Mama, karena aku bakal tinggal lama di sini. “

“Mau tinggal setahun juga di sini gak apa - apa. Mama malah senang kalau kamu lama tinggal di sini. Tapi gak usah ngasih duit segala Rey. “

“Kata orang tua, gak boleh menolak rejeki Mam. Lagian itu duit dari kantor, bukan dari kas pribadiku. Terima ya Mama Sayang, “ ucap Rey sambil memasukkan amplop tebal itu ke dalam saku daster Mama Hilda.

Mama Hilda tak dapat menolak lagi. Lalu mengucapkan, “Terima kasih deh kalau gitu sih Rey. Padahal mama gak lagi kekurangan duit kok. Kan dua hari yang lalu habis panen mangga. “

“Ogitu ya. Buah mangganya abis dong. “

“Nggak. Masih ada yang belum dipanen, mangga gedong gincu. “

“Wow ... aku paling suka mangga gedong gincu Mam. Nanti pulang kerja aku mau ke kebun ya. “

“Iya. Sarapan dulu sebelum berangkat. Sudah mama buatkan roti bakar isi daging keju kesukaanmu, ” ucap Mama Hilda sambil menuntun tangan Rey ke ruang makan.

“Mama kok ingat kalau aku suka roti bakar isi daging keju, “ kata Rey sambil duduk di depan meja makan. Kemudian disantapnya roti bakar yang terhidang di meja.

Mama Hilda pun duduk di kursi yang berdampingan dengan kursi Rey.

“Aku punya surprise untukmu Rey, “ bisik Mama Hilda di dekat telinga menantunya.

“Surprise apa Mam ?” tanya Rey yang baru menghabiskan roti bakarnya.

“Pejamkan dulu matamu, “ sahut Mama Hilda.

Rey mengangguk. Lalu memejamkan matanya sambil menengadah.

Mama Hilda naik ke atas meja makan dan duduk dipinggirannya sambil menyingkapkan dasternya tinggi - tinggi. Sambil berkata, “Bukalah matamu sekarang ... !”

Rey pun membuka matanya. Dan melotot ke arah kemaluan Mama Hilda yang tidak mengenakan celana dalam. Dan terbuka jelas, karena dasternya sudah disingkapkan sampai ke perutnya. Masalahnya adalah ... kemaluan Mama Hilda jadi bersih dari bulu. Bersih sekali ... !

“Memek Mama ini dibersihkan pakai apa ? Sampai gak ada bintik - bintik hitamnya sama sekali ?!” ucap Rey sambil mengusap - usap memek mertuanya.

“Diwaxing, “ sahut Mama Hilda.

“Di salon ?! Memangnya ada salon yang buka di sepagi ini ?”

“Mama sendiri yang waxing. Kan sekarang bisa beli lem waxing atau dalam bentuk kertas seperti sticker. Tinggal tempelin kertasnya, lalu tarik setelah lemnya mengering. “

Rey menggeser kursinya ke dekat pinggiran meja. “Mmmm ... jadi makin menggiurkan ... jadi pengen jilatin, “ ucapnya sambil mendekatkan wajahnya ke kemaluan mertuanya.

Tapi Mama Hilda mendorong wajah Rey agar menjauh dari kemaluannya, “Jangan sekarang ... kan kamu mau kerja ... “ cegahnya.

“Kerja telat sejam dua jam gak apa - apa Mam. Aku gemes nih ... pengen jilatin dulu sebelum berangkat, “ sahut Rey sambil berkeras mendekatkan mulutnya ke memek Mama Hilda yang sudah gundul plontos itu.

Mama Hilda tidak bisa menolak lagi. Lalu ia mengangkangkan sepasang paha gempalnya di atas pinggiran meja makan, dengan kedua kaki menginjak pinggiran meja, dengan memek plontos tembemnya agak maju kedepan. Sementara Rey mulai asyik menjilati memek mertuanya sambil duduk di kursi makan.

“Kamu nakal Rey ... nanti kalau mama jadi kepengen lagi gimana ?” tanya Mama Hilda sambil mengusap - usap rambut menantunya yang langsung lahap menjilati memeknya.

Rey menjauhkan mulutnya sejenak, untuk menjawab, “Kalau Mama pengen ya kita main aja sekarang Mam. “

Lalu Rey menyerudukkan mulutnya ke memek mertuanya lagi. Lalu menjilati memek yang sudah dibersihkan itu. Bahkan kemudian Rey mulai intensif menjilati kelentit Mama Hilda yang tampak menonjol sebesar kacang kedelai. Sehingga Mama Hilda mulai menggeliat dan mengejang sambil meremas - remas sepasang bahu menantunya.

“Aaaaa ... aaaaaaah .... Reeeeey ... ini enak sekali ... enaaaaak ... Reeeey ... tapi mama jadi horny berat nih Reeeey .... ooooohhhh .... masukin aja kontolmu Reeeey ... biar sama - sama enaaaaak .... “ rintih Mama Hilda yang tampak sudah horny berat.

Reynaldo menilai emmek mertuanya sudah cukup basah. Maka dengan sigap celana denimnya dan celana dalamnya diturunkan sampai ke lutut. Lalu Rey meletakkan moncong penisnya di ambang mulut memek sang Mertua.

Dan penis Rey yang sudah ngaceng berat itu didorong ... lalu membenam sedikit demi sedikit ke dalam liang memek Mama Hilda yang sudah basah akibat jilatan Rey barusan.

Mama Hilda tetap duduk mengangkang di pinggiran meja. Sambil merengkuh leher Rey ke dalam pelukannya.

Dan Rey tetap berdiri sambil mendekap pinggang mertuanya yang masih mengenakan daster putihnya, yang disingkapkan. Sementara celana denim dan celana dalam Rey hanya diturunkan sampai ke lututnya, tidak dilepaskan. Namun meski mereka tidak telanjang, mereka bisa menikmati lagi nikmatnya gesekan alat vital mereka. Bahwa dengan sepenuh gairah Rey mulai mengentot lagi liang sanggama mertuanya yang terasa sensasional itu.

Tapi Rey tetap ingat pada tugas kantornya. Karena itu, ketika Mama Hilda berbisik, “Rey ... mama udah mau lepas .., “ maka Rey pun mempercepat entotannya.

Lalu ketika Mama Hilda mengejang tegang, Rey pun menancapkan batang kemlauannya, tanpa digerakkan lagi.

Lalu ... ketika liang memek Mama Hilda berkedut - kedut kencang, disusul dengan gerakan yang seperti spiral ... memilin batang kemaluan Rey dengan kencangnya ... pada saat itu pula penis Rey mengejut - ngejut sambil memuntahkan lendir kenikmatannya.

Crooootttt ... crotttt ... croooooootttttttttt ... crooooooooooooooootttttt ... crottttt ... croooooooooooooooooooooooooooottttt ... !

Lalu terdengar desah Mama Hilda, “Aaaaaaaahhhh .... pagi - pagi sudah sarapan spermamu Rey ... terima kasih ya Sayang. “

Rey tersenyum dan menyahut, “Sama - sama. Selama aku berada di sini, mungkin aku akan minta jatah kepada Mama setiap hari. “

“Sapa takut ? “ sahut Mama Hilda sambil tersenyum, “Mau sehari tiga kali juga, akan mama ladeni. “

“Hihihihiii ... entar kalau kubuktikan jangan kabur ya, “ ucap Rey sambil mencabut batang kemaluannya dari liang sanggama sang Mertua.

“Emang kuat gitu main tiga kali sehari ?” tanya Mama Hilda sambil menyeka kemaluannya dengan kertas tissue.

“Belum tau juga. Sama Niken paling sering juga sehari sekali. Niken gampang letih sih. Kalau sudah orgasme langsung tepar sampai pagi. “



Beberapa saat kemudian Reynaldo berlalu. Meninggalkan Mama Hilda dengan batin yang lebih ceria dari biasanya.

Sejak ditinggal mati oleh suaminya, Mama Hilda seolah padang rumput di musim kemarau panjang. Gersang dan kering kerontang.

Lalu hidupnya seolah hanya untuk merawat dan menyayangi ketiga putrinya, Lana, Yuli dan Niken.

Setelah si bungsu Niken menikah, Mama Hilda merasa lega. Tugasnya seolah telah selesai. Tapi Mama Hilda tetap aktif mengurusi kebun buah - buahan di belakang rumahnya, sebagai harta peninggalan suaminya yang sangat berharga.

Kebun buah - buahan itu memang cukup luas, sekitar 10 hektar . Sertifikatnya pun memakai nama almarhum, Mama Hilda dan ketiga putrinya. Karena kepemilikan tanah pribadi paling luas hanya bisa 2 hektar.



Setelah Reynaldo berlalu, Mama Hilda mengganti pakaiannya dengan pakaian yang biasa digunakan ke kebun. Memakai celana jeans dan kemeja tangan pendek, dengan sepatu boot yang biasa dipakai ke pasar becek.

Kemudian ia keluar dari pintu belakang rumahnya. Menuju ke luar, ke kebunnya yang sangat luas itu.

Ada tiga orang lelaki dan empat orang wanita yang biasa mengurus kebunnya itu. Kemudian Mama Hilda menghampiri salah seorang wanita yang biasa “nyambi” disuruh ke pasar.

“Belanja ke pasar ya. Beliin daging paha dan dada kambing yang ada tulangnya, “ kata Mama Hilda kepada salah seorang wanita yang biasa dipanggil Nining itu.

“Iya Bu, “ sahut Nining, “Berapa kilo ?”

“Sekilo aja. Tapi pilih paha dan iga kambing muda ya. Ohya, mulai hari ini, sebelum ngurus kebun, belanja dulu ke pasar ya. Menantuku sedang tugas di sini, mungkin sekitar sebulan akan tinggal di rumahku, “ kata Mama Hilda sambil menyerahkan uang kepada Nining.

“Siap Bu. Bumbunya gak usah beli ?“

“Gak usah. Bumbunya sih masih lengkap di kulkas. “

Setelah Nining berangkat ke pasar, Mama Hilda melangkah semakin jauh di kebunnya.

Kebun peninggalan suaminya itu sudah mengalami perombakan. Tadinya hanya pohon mangga dan jeruk yang tumbuh subur di lahan luas itu. Mama Hilda menanam beberapa jenis pohon cangkokan di lahan yang masih kosong. Ada durian, manggis, sawo, dukuh, jambu batu, jambu air dan sebagainya.

Mama Hilda tidak pernah memasarkan buah - buahan dari kebunnya ke pasar. Karena calon pembeli selalu datang sendiri ke kebun itu. Sehingga Mama Hilda merasa kebun itu mendatangkan hasil tanpa harus berpayah - payah memasarkannya.

Tapi pagi itu Mama Hilda meski sedang berada di dalam kebunnya, pikirannya tidak tertuju kepada kebunnya.

Mama Hilda cuma duduk di bangku kayu yang biasa dipakai untuk istirahat itu. Sambil menerawang pada segala yang telah terjadi bersama Rey tadi malam dan tadi pagi.

Mama Hilda tidak mau munafik. Ia merasakan semangat hidupnya jadi bangkit kembali. Semangat yang tadinya seolah telah padam.

Dan apa yang telah dinikmati oleh Mama Hilda bersama Reynaldo itu, teramat indah bagi Mama Hilda. Bahkan jauh lebih indah daripada malam pertamanya bersama almarhum suaminya dahulu.

Karena itu Mama Hilda merasa wajib memanjakan menantunya itu.

Setelah Nining pulang dari pasar, Mama Hilda menyiapkan sate dan gulai kambing. Untuk gulainya, dia menggodok daging dan tulang iga kambingnya di dalam presto. Supaya dagingnya benar - benar empuk nanti. Sementara untuk satenya, Mama Hilda hanya memotong - motong daging yang sudah disisihkan, lalu ditusuk - tusuk dengan tusukan sate. Dan disimpannya dahulu, karena akan dibakar nmanti setelah Rey datang. Hanya gulainya yang dimasak sampai selesai. “Nanti kalau Rey sudah datang, satenya akan kubakar dan gulainya akan kupanaskan, “ kata Mama Hilda di dalam hatinya.

Kemudian Mama Hilda masuk ke kamar mandi dan mandi sebersih mungkin.

Lalu dikenakannya gaun rumah yang paling seksi. Gaun berwarna orange dengan belahan di kanan kirinya. Sehingga kalau duduk di sofa sambil bertumpang kaki, pasti paha putih mulusnya akan terpamerkan sampai pangkalnya.

Mama Hilda pun bermake up di depan cermin meja riasnya, sambil tersenyum - senyum.

Sejak suaminya meninggal, sangat jarang Mama Hilda memoles wajah dan bibirnya dengan bahan dan peralatan kecantikan. Tapi siang itu dia ingin kelihatan secantik mungkin di depan mata sang Menantu. Karena diam - diam dia sudah menganggap Reynaldo laksana pangeran yang diturunkan dari langit, untuk mengucurkan keindahan dan kenikmatan baginya.

Tiba - tiba hanphonenya berdering. Ternyata call dari Reynaldo.

Jantung Mama Hilda berdegup kencang waktu memegang handphonenya. Lalu terdengar suara Reynaldo, “Mama lagi ngapain ?”

Mama Hilda menyahut, “Lagi bikinin sate dan gulai kambing. Kamu senang makan sate dan gulai kambing kan ?”

“Iya Mam. Aaaah ... Mama sangat peduli sama aku ya ? Kalau gitu aku takkan makan siang di luar. Ini sebentar lagi juga mau pulang. Aku ingat terus sama Mama tercinta. “

“Sama Sayang. Mama juga ingat terus sama kamu, Pangeranku ... “

“Hmmm ... jadi pengen nyium bibir Mama ... bibir Bidadariku ... emwuaaaaah .... “

“Emwuaaaaaah ... “

“Seperempat jam lagi juga aku tiba di rumah Bidadariku ... “

“Iya Pangeranku ... “

“Aku cinta Mama. “

“Mama juga cinta kamu Pangeranku ... “

Setelah hubungan seluler ditutup, cepat Mama Hilda menuju dapur. Untuk memanaskan gulai kambingnya. Kemudian menyalakan tempat pembakaran sate sambil menyiapkan bumbu satenya. Bumbu yang sudah jadi, dapat beli dari minimart. Tinggal mencampurnya dengan air panas dan kecap manis saja.

Ketika terdengar bunyi mesin mobil Rey di depan, cepat Mama Hilda mencuci tangan. Dan berlari ke kamarnya, untuk menyemprotkan parfum kiriman Rey kemaren, ke setiap lekuk “penting” di tubuhnya.

Barulah kemudian Mama menghampiri Reynaldo yang baru masuk dari pintu depan.

Mereka saling pandang sambil berpegangan tangan. Harum parfum mahal yang Mama Hilda kenakan mulai tersiar ke penciuman Reynaldo.

“Wooow ... Mama semakin cantik aja siang ini ?!” ucap Rey perlahan.

Mama Hilda cuma tersenyum manis. Ya ... manis sekali senyum Mama Hilda di mata menantunya saat itu. Maka spontan Rey memagut bibir sensual mertuanya, yang disambut dengan lumatan hangat sang Mertua.

Mereka terlena beberapa saat di ruang depan. Saling peluk dan saling lumat bibir dengan segenap kehangatan dari fisik mereka.

“Langsung makan siang ya, “ ucap Mama Hilda setelah bibirnya terlepas dari bibir menantunya.

“Iya Mam. Aku mau ganti pakaian dulu ya, “ sahut Reynaldo.

“Oke. Mama mau nyiapkan dulu makanannya, “ ucap Mama Hilda sambil melangkah ke dapur.

Mama Hilda menuangkan gulai kambing yang sudah mendidih lagi dari panci ke mangkok besar. Kemudian menaburinya dengan bawang goreng. Sate kambingnya pun tampak sudah matang. Lalu disusunnya di atas piring lodor dan dituangi bumbu kacangnya. Dikeluarkannya acar ketimun, nanas dan cabe rawit dari dalam kulkas. Acar itu dibuatnya tiga hari yang lalu, sehingga tampak sudah benar - benar jadi acar seperti yang biasa dihidangkan di restoran bintang lima. Tak lupa Mama Hilda mengeluarkan goreng emping dari dalam lemari makan, yang sudah tersedia di dalam stoples.

Kemudian semuanya itu diangkut ke ruang makan.

Reynaldo pun muncul dengan mengenakan baju dan celana piyama putihnya, ketika makanan sudah terhidang di atas meja makan. “Wooow ... sate dan gulai kambing kesukaanku sudah terhidang. Beli dari mana Mam ?” tanya Reynaldo.

Mama Hilda menyahut, “Mama sendiri yang masak semuanya ini, untuk Pangeranku. “

“Waaaah ... pasti enak sekali kalau buatan Bidadariku sih ... “

“Mudah - mudahan sesuai dengan selera Pangeranku, “ Mama Hilda mengerling sambil mengambilkan nasi untuk piring Rey. Kemudian Mama Hilda mengambil nasi untuk dirinya sendiri.

Kemudian mereka duduk berdampingan dan makan bersama.

“Gulainya lezat sekali Mam ... terimakasih Bidadariku, “ komentar Rey setelah mencicipi kuah gulai kambingnya sesendok.

“Satenya cobain Pangeranku, “ ucap Mama Hilda sambil mendekatkan setusuk sate ke dekat mulut Reynaldo.

Rey memagut dan mengunyah sate itu sepotong demi sepotong. Lalu berkomentar, “Wah ... ternyata Mama bukan hanya enak anunya. Masakannya pun enak semua. “

“Anunya itu apa ?”

Reynaldo menjawabnya dengan bisikan di dekat telinga mertuanya, “Tempiknya ... “

Mama Hilda menahan tawanya. Lalu melanjutkan makannya, menemani sang Menantu yang berdarah campuran indo - bule itu.

“Makan sate kambing gede - gede begini, abis makan pasti ngaceng lagi Mam, “ ucap Reynaldo setelah menghabiskan sate yang terhidang.

“Turunin dulu isi perutnya. Jangan langsung main ya. “

“Iya Mam. “

“Oh iya ... itu mangga gedong gincunya untuk makanan penutup, “ ucap Mama Hilda sambil berdiri dan melangkah ke dapur. Dan kembali lagi dengan sepiring mangga gedong gincu yang sudah dikupas dan dipotongin kecil - kecil.

Lalu diletakkannya piring itu di depan Reynaldo.

“Makanan penutupnya mau dimakan di sana aja ya, “ ucap Reynaldo sambil menunjuk ke ruang keluarga.

Mama Hilda mengangguk. Rey membawa piring mangga yang sudah dipotong kecil - kecil itu ke ruang keluarga. Lalu menikmatinya di sofa depan sebuah meja kecil.

Mama Hilda membereskan dulu bekas makan. Dan mengangkut piring - piring kotornya ke tempat cuci piring di dapur.

Tak lama kemudian Mama Hilda muncul di ruang keluarga. Lalu duduk di samping Rey yang sedang menyantap mangganya. “Manis gak mangganya ?” tanya Mama Hilda.

“Manis Mam, “ sahut Rey.

“Manis mana sama mama ?” tanya Mama Hilda lagi.

“Manisan Bidadariku dong, “ sahut Reynaldo sambil mengusap - usap betis Mama Hilda.

“Kamu juga manis Sayang, “ ucap Mama Hilda yang disusul dengan kecupan di pipi menantunya.

Kecupan itu spontan membangkitkan gairah birahi Rey. Spontan ia memeluk pinggang mertuanya dengan lengan kiri, lalu memagut bibir sang Mertua ke dalam lumatannya. Sementara tangan kanannya menyelusuri paha gempal mulus sang Mertua lewat belahan gaun rumahnya yang seksi itu.

Spontan pula Mama Hilda merenggangkan kedua belah paha gempalnya. Dan membiarkan tangan Rey menggerayangi kemaluannya yang tak bercelana dalam.

Rey serasa dikasih kejutan. Bahwa ternyata di balik gaun orange itu Mama Hilda tidak mengenakan celana dalam. Seolah sudah menyiapkan sesuatu yang sudah diduganya.

Bahkan pada suatu saat Mama Hilda melepaskan gaun orangenya. Sehingga tinggal beha biru muda yang masih melekat di badannya.

Tanpa basa basi lagi, Rey menanggalkan baju dan celana piyamanya. Ternyata di balik celana piyama itu Rey pun tak mengenakan celana dalam. Sehingga penisnya yang sudah mulai ngaceng lagi itu tampak jelas di mata Mama Hilda.


[URL=https://imgbox.com/lk2SdduI]
[/URL]



Tapi Rey tidak langsung menusukkan penisnya ke dalam liang memek Mama Hilda. Rey bersila dulu di atas karpet, di antara kedua kaki Mama Hilda yang direnggangkan. Lalu dengan lahapnya Rey menjilati memek Mama Hilda yang bersih plontos itu.

Mama Hilda mulai terpejam - pejam lagi ketika Rey menjilati memek dan kelentitnya. Gairahnya memang sudah bangkit lagi, karena tadi pagi Rey tidak lama menyetubuhinya.

Sambil mendesah - desah Mama Hilda mengusap - usap rambut Rey yang agak kecoklatan itu.

Tapi beberapa menit kemudian Mama Hilda merengek manja, “Udah Sayang ... udah ... masukin aja punyamu Pangeranku Sayang ... mama udah gak tahan ... “

Rey pun menjauhkan mulutnya dari memek sang Mertua. Lalu sambil berlutut Rey meletakkan moncong penisnya di ambang mulut vagina Mama Hilda yang sudah ternganga.

Lalu Reynaldo mendorong penis ngacengnya sekuat tenaga. Dan ... blesssssss .... penis lelaki muda itu membenam ke dalam liang memek mertuanya.

Mama Hilda meringis sambil meremas kulit sofa. Reynaldo pun mulai mengentotnya dengan mantapnya.

Ya ... sambil berlutut Rey mulai mengayun penisnya, bermaju - mundur di dalam liang memek mertuanya yang duduk bersandar di sofa, dengan kemaluan dimajukan ke depan.

“Oooo ... ooooh ... Reeeey ... kamu memang sudah menjadi Pangeran buat mama. Mama ingin selalu dekat denganmu Sayaaaang ... oooooohhhh ... indah sekali Sayaaaang ... indaaaaaah ... aaaaaah .... aaaaa ... aaaaaaah ... entot terus Pangerankuuuu ... entooot teruuuussss sepuasmuuuuu ... entooottttttt ... entoooottttttttt .... iyaaaa ... iyaaaaa ... iyaaaa ... ini luar biasa enaknya Pangerankuuuuu .... luar biasa indah dan nikmatnyaaaaa ... aaaaa ... aaaaaaaahhhhh ... aaaaaaahhhhh ... kontolmu seperti mengandung magnet yang luar biasa kuatnya ... mama sudah bukan cuma sayang lagi padamu Rey ... mama cinta kamuuuu ... cintaaaaaa .... aku cinta kamuuuuu ... cintaaaaaaaaaa .... “ Mama Hilda berceloteh terus, tak dapat mengendalikan diri lagi dalam suasana nikmatnya surga dunia itu.

Reynaldo pun mendengus - dengus terus, sementara penisnya bermaju mundur terus di dalam liang memek mertuanya yang empuk, licin tapi legit itu.

Dan ketika Mama Hilda mulai klepek - klepek berkelojotan, Reynaldo pun mempercepat entotannya.

“Sayang ... ooooh ... sayaaaang ... mama udah mau lepassss ... “

“Aku juga mau lepas Mam ... “

“Kalau gitu, ayo barengin Sayanhg ... biar nikmaaaaaat ... “

“Iya Mam ... iyaaaaaa ... ugggghhhh ... “ Rey mempercepat entotannya. Sampai akhirnya ia membenamkan penisnya sedalam mungkin. Moncong penisnya sampai menyundul dasar liang memek Mama Hilda yang tengah berkedut - kedut kencang.

Pada saat yang sama penis Rey pun mengejut - ngejut sambil memuntahkan lendir kenikmatannya.

Crotttt ... croooooooottttttt ... crottt ... crooooooooootttt ... crooooooooooooootttttttttttttttttt ... crotttttt ... croooooooooooooooooooooooooootttttttt ... !

Tapi pada waktu crot kedua, Rey mencabut batang kemaluannya. Lalu dipegangnya penis yang sedang memuntahkan lendir pejuh itu di depan memek mertuanya. Dan crot crot selanjutnya dimuntahkan di permukaan memek dan mulut memek sang Mertua.

Sengaja Rey ngasih creampie, yang membuat mertuanya melotot sambil tersenyum.

“Rey ... ada - ada aja. Nanti malam masih kuat ngentot mama lagi gak ?” tanya Mama Hilda.

“Kuat deh, “ sahut Rey, Tapi sekarang kita istirahat dulu. Biar produksi spermaku penuh lagi. “

“Ayo, “ Mama Hilda mengangguk.

[URL=https://imgbox.com/TcsINoAZ]
[/URL]







(Bersambung)







Sex is more than an act of pleasure, it’s the ability to be able to feel so close to a person, so connected, so comfortable that it’s almost breathtaking to the point you feel you can’t take it. And at this moment you’re a part of them.
THOM YORK




Seks lebih dari sekadar tindakan kesenangan, itu adalah kemampuan untuk merasa begitu dekat dengan seseorang, begitu terhubung, begitu nyaman sehingga hampir menakjubkan sampai Anda merasa tidak dapat menerimanya. Dan saat ini Anda adalah bagian dari mereka.
THOM YORK
 
Status
Thread ini sudah dikunci moderator, dan tidak bisa dibalas lagi.
Sbo Hoki Online   Senior Bola Online
Jav Toys
Gaple Online Indonesia   9 club
Pasang iklan hanya lewat CONTACT US
Top
Semprot is now part of PAGCOR