9Club Situs Judi Online Terpercaya
Asus Togel online   Mandala Toto
Pasang iklan, hanya lewat Contact Us.
Waspada penipuan iklan. Klik di sini untuk melihat daftar penipu.

LINGKARAN TABOO update Part 04

Neena

Guru Semprot
Thread Starter
Daftar
16 Aug 2019
Post
657
Like diterima
65.950
[/URL]

INDEX :



Part 01 ----- page 001
Part 02 ----- page 005
Part 03 ----- page 011








































Pembaca yang budiman,



Kisah ini 80 % real. Sisanya adalah pendramatisiran belaka, untuk memuluskan jalannya cerita semata.

Tapi untuk menjaga nama baik semua pihak, nama para pelaku dan tempat kejadian sudah diubah semua.
Jika ada kemiripan dengan nama dan tempat kejadian, hanya kebetulan semata.

Selamat mengikuti.

Neena Maureen.
 
Terakhir diubah:

Neena

Guru Semprot
Thread Starter
Daftar
16 Aug 2019
Post
657
Like diterima
65.950
Lingkaran Taboo



Part 01



M
enjelang malam Reynaldo tiba di kota kecil di derah Jatim. Kota yang cukup berarti baginya. Karena di kota itulah istrinya yang bernama Niken itu dilahirkan dan dibesarkan. Di kota itu pula pernikahan Rey dengan Niken dilaksanakan. Pernikahan muda usia, karena setahun yang lalu Reynaldo baru berusia 24 tahun, sementara Keni baru berusia 21 tahun.

Ketika mobil Reynaldo berhenti di depan rumah mungil berpotongan minimalis itu, seorang wanita tinggi montok baru mau masuk dari teras depan ke dalam rumahnya. Itu Mama Hilda, ibu mertuanya Rey.

Ketika Reynaldo turun dari mobilnya, Mama Hilda berseru, “Rey ... ?!”

“Iya Mam, “ sahut Rey sambil mencium tangan ibu mertuanya. Kemudian seperti biasa mereka cipika - cipiki.

“Mana Niken ?”

“Niken sekarang sedang di Jepang Mam. Baru kemaren dia terbang ke sana. “

“Lho ... ke Jepang mau ngapain ?”

“Dia dapet tugas belajar dari perusahaan tempatnya bekerja. Dia sangat terburu - buru, sehingga mungkin belum sempat ngasih tau Mama. “

“Memang belum ngasih tau. Tiga hari yang lalu Niken nelepon. Dia bilang Rey ada tugas dari kantornya di sini. Tapi dia gak bilang mau ke Jepang tuh. Ayo masuk Rey, “ Mama Hilda menuntun tangan menantunya ke dalam rumah.

“Kamu dari Jakarta ke sini pakai mobil ?”

“Iya Mam. Sambil menguji ketahananku aja. Ternyata memang capek sekali nyetir sejak dinihari tadi baru nyampe malam begini. “

“Berarti lebih dari duabelas jam nyetir tadi ya,” ucap Mama Hilda sambil mengajak Rey duduk di ruang keluarga. Ruang yang cukup terang, sehingga Rey terhenyak menyaksikan betapa seksinya sang mertua yang awet muda itu.

“Iya Mam, “ sahut Rey sambil duduk di sofa ruang keluarga.

“Mau makan ?” tanya Mama Hilda.

“Gak Mam. Barusan makan dulu di jalan. Kalau ada sih minta kopi hitam aja yang panas, “ sahut Rey.

“Iya. Kamu kan senengnya kopi arabica ya ?”

“Iya Mam kalau ada sih boleh juga. “

Lalu Mama Hilda melangkah ke arah dapur. Tanpa menyadari bahwa daster putihnya terlalu tipis, sehingga Rey bisa melihat samar - samar bentuk paha dan betis Mama Hilda di balik daster putih tipis yang tersorot sinar lampu ruang keluarga itu.

Rey bergulat dengan batinnya sendiri. Membayangkan tubuh tinggi montok itu kalau sudah ditelanjangi. Tapi membayangkan pula ibu mertuanya murka dan menganggap Rey sebagai menantu yang kurang ajar.

Namun dengan batin yang masih bergulat itu, Rey melangkah mengikuti ibu mertuanya.

Lalu diperhatikannya Mama Hilda yang tengah membuatkan secangkir kopi panas untuk Rey.

Pada saat itulah Rey mendadak nekad. Mendekap pinggang mertuanya dari belakang, sambil berkata, “Mama keliatannya tambah seger aja sih ?”

Mama Hilda tersentak. Tapi tidak meronta. “Seger gimana ?” tanyanya tanpa menoleh ke arah Rey yang masih mendekap pinggangnya dari belakang.

“Delapan bulan yang lalu aku ke sini sama Niken. Tapi malam ini Mama kelihatan lebih segar dari waktu itu. “

Mama Hilda menyipitkan matanya. Seperti ada sesuatu yang dipikirkannya. Tapi Rey tidak tahu itu. Rey cuma tahu secangkir kopi itu diberikan kepada Rey di dapur. Lalu Rey menerima secangkir kopi itu dan membawanya ke ruang keluarga kembali.

Rey duduk di sofa, Mama Hilda pun duduk di sampingnya.

“Kamu kenapa senyum - senyum terus Rey ?” tanya Mama Hilda sambil menepuk lutut menantunya.

“Seneng aja Mam. Seneng bisa deket sama Mama, “ sahut Rey.

“Deket sama ibu mertua gitu, “ ucap Mama Hilda

“Iya, deket sama ibu mertua yang cantik, yang seksi dan sebagainya. “

Mama Hilda ketawa kecil sambil mencubit pangkal lengan Rey yang kekar.

Rey cuma tersenyum. Lalu meneguk kopinya sedikit.

“Udah sekarang mandi dulu gih. Biar badanmu bersih dan segar lagi, “ ucap Mama Hilda sambil menepuk lutut Rey lagi.

“Kamar yang boleh dipakai yang mana Mam ?” tanya Rey, dengan senyum tetap tersungging di bibirnya.

“Kamar Niken dan kamu kan yang di depan itu. “

“Owh ... kirain ... “

“Kirain apa ?”

“Kirain di kamar Mama. Hihihiiiii ... “ ucap Rey sambil bangkit dari sofa. Menjinjing tas pakaiannya dan melangkah ke kamar depan.

Mama Hilda tercenung sendiri di ruang keluarga. Dengan senyum yang seperti mengandung makna. Lalu ia bangkit dari sofa dan melangkah masuk ke dalam kamar depan, ingin melihat apa yang sedang dilakukan oleh menantunya.

Rey memang sedang membuka tas pakaiannya yang cukup besar. Begitu melihat ibu mertuanya muncul, Rey mengeluarkan sebuah kotak parfum, berisi 6 botol parfum Made in France.

“Mam ... aku hanya bawa ini oleh - oleh untuk Mama, “ ucap Rey sambil menyerahkan kotak besar itu (untuk ukuran parfum, karena isinya memang 6 botol).

“Aduuuuh ... ini parfum mahal dan langka Rey ... ! “ Mama Hilda menyambut kotak parfum itu dengan ceria, “Kamu kok tau kalau mama suka sekali parfum ini ?! Tapi di sini susah nyarinya. Di Surabaya juga gak ada. “

“Itu sengaja kupesan pada teman yang tinggal di Perancis, karena istrinya orang sana. Niken pernah bilang Mama suka sekali parfum itu, “ ucap Reynaldo.

“Terima kasih Rey, “ kata Mama Hilda yang dilanjutkan dengan mencium pipi Rey.

Pada saat itulah Rey merasa dihembus angin baik. Maka ia pun jadi nekad. Membalas ciuman di pipinya dengan merangkul leher Mama Hilda, lalu mencium bibirnya yang teramat sensual di mata Rey.

Mama Hilda tersentak dan mendorong dada Rey. “Kok nyium bibir ... kayak nyium pacar aja ih ... !”

Rey ketawa cekikikan. Kemudian mengambil handuk dan peralatan mandi. “Aku mau mandi dulu ya Mam, “ ucapnya sambil melangkah ke kamar mandi yang ada di kamar depan itu.

Mama Hilda tidak menyahut. Lalu bersikap seolah - olah sedang mengamati kotak parfum pemberian menantunya itu.

Rey malah tersenyum - senyum di dalam kamar mandi. Bahkan ketika ia menyabuni batang kermaluannya, ada khayalan istimewa yang ia bayangkan.

“Harus berjuang sekarang, mumpung ada kesempatan, “ pikir Rey, “Dua minggu berada di rumah mertuaku ini harus menjadi sesuatu yang indah. Sesuatu yang akan kukenang kelak. “

Waktu Rey keluar dari kamar mandi, ibu mertuanya sudah tidak ada di kamar depan itu. Lalu Rey mengenakan celana training dan baju kaus dengan bahan dan warna yang sama, hijau army.

Setelah menyisir rambutnya Rey keluar dari kamar depan. Terdengar bunyi gemericik dari penggorengan. Ternyata Mama Hilda sedang menggoreng pisang.

“Duh Mama tau aja kalau aku suka pisang goreng, “ ucap Rey sambil mendekap pinggang ibu mertuanya dari belakang.

“Tentu aja mama tau kesukaan mantu kesayangan, “ sahut Mama Hilda yang membiarkan Rey mendekap dari belakangnya.

“Terima kasih Mama sudah menganggapku mantu kesayangan. “

“Sejak pertama kali melihatmu, mama sudah merasa suka padamu Rey. “

“Ohya ?! Sama dong. Aku juga suka melihat Mama yang seksi dan awet muda begini, “ sahut Rey sambil mempererat dekapannya.

“Suka dalam artian umum. Sebagai seorang ibu kepada suami anak bungsunya, “ kata Mama Hilda sambil menepiskan kedua lengan Rey dari pinggangnya. Lalu memindahkan pisang goreng yang sudah masak ke atas piring lonjong. “Mau bikin kopi baru ?” tanyanya.

“Gak usah Mam. Itu kopinya baru diminum seteguk tadi, “ sahut Rey sambil membawa piring pisang goreng itu ke ruang keluarga, karena Mama Hilda sudah mematikan kompornya.

Lalu mereka duduk di ruang keluarga lagi. Tapi kali ini Mama Hilda duduk di sofa yang berhadapan dengan Rey, tidak berdampingan lagi. Duduk dengan bertumpang kaki, sehingga bagian bawah paha putih mulusnya tampak jelas di sudut mata Rey.

“Kata Niken, kamu akan tinggal di sini selama dua minggu ya Rey ?” tanya Mama Hilda.

“Iya Mam. Tapi kalau tidak selesai dua minggu, bisa aja waktunya diperpanjang. Ohya Mam ... di sini ada tukang pijit ?”

“Emang kenapa ? Pegel - pegel abis nyetir seharian ya ?”

“Iya Mam. “

“Nanti mama pijitin deh. “

“Serius Mam ?”

“Iya. Tapi gantian. Setelah pegel - pegelmu berkurang, mama juga pengen dipijit. Tadi siang mama membersihkan kebun yang udah banyak sekali rumputnya. Jadi sebenarnya mama juga pegel - pegel. Ayo makan pisang gorengnya tuh. “

“Heheheee ... masih panas Mam. “

Mama Hilda berdiri, lalu mengambil piring kecil dan pisau, berikut sebuah garpu kecil pula dari lemari barang pecah belah. Kemudian memberikan semua itu kepada Rey sambil berkata, “Kalau terlalu panas, potong kecil - kecil aja pisangnya. “

“Iya, terima kasih Mam. “

Lalu Rey mulai menikmati pisang goreng panas yang sudah dipotong kecil - kecil seperti yang dianjurkan oleh Mama.

“Serasa diingatkan, dulu Mama kan suka mijatin Niken ya, “ ucap Rey sambil menyeka bibirnya yang berminyak dengan kertas tissue.

“Iya. Sejak kecil Niken senang dipijat. Terutama punggungnya. Niken memang manja sih. Maklum anak bungsu. “

“Ohya ... bagaimana kabar Mbak Lana dan Mbak Yuli Mam ?”

“Lana udah bisnis sendiri, karena gaji sang Suami kecil. Kalau Yuli sih nyaman - nyaman aja. Karena suaminya tajir, meski usianya jauh lebih tua. “

Lalu mereka ngobrol ke barat ke timur ke utara ke selatan.

Sampai akhirnya Mama Hilda berkata, “Ayo ... bukannya mau dipijit ?”

“Iya Mam, “ Rey mengangguk, “Di mana mijitnya Mam ?”

“Di kamar mama aja. Ayo. “

Rey mengangguk dan hatinya berkata, “Akhirnya ... ! “

Lalu ia mengikuti langkah ibu mertuanya, masuk ke dalam kamar yang tercium harum. Kamar Mama Hilda memang selalu harum. Meski pun suaminya sudah meninggal beberapa tahun yang lalu, kamarnya selalu dibuat harum oleh aroma therapy.

“Mau pakai obat gosok ?” tanya Mama Hilda setelah mereka berdua sudah berada di dalam kamar sang Mama mertua.

“Nggak usah Mam. Aku gak suka dipanasin. Kalau ada sih pakai lotion natural aja, “ sahut Reynaldo sambil duduk di sofa tanpa sandaran. Karena Rey tahu, Mama Hilda biasa memijit Niken di situ dahulu.

“Ada lotion juga. Lepasin dong baju dan celananya, “ ucap Mama Hilda dengan sorot datar.

“Tapi aku gak pakai celana dalam Mam, “ sahut Rey sambil melepaskan baju kausnya.

Mama Hilda mengernyit. Lalu mengeluarkan sehelai handuk putih bersih. Dan menyerahkannya kepada Rey sambil berkata, “Belitkan aja handuk ini di badanmu. “

Sesaat kiemudian Rey sudah menelungkup di atas sofa tanpa sandaran itu. Dengan handuk membelit badannya dari perut sampai pahanya.

Mama Hilda tersenyum sendiri ketika melihat menantunya sudah menelungkup dengan handuk putih membelit badannya dari perut sampai pahanya.

Lalu wanita berbadan tinggi montok dan berkulit putih bersih itu mengambil botol lotion yang dahulu suka dipakai untuk mengurut dan memijat mantan suaminya.

Lotion itu disemprot ke sepasang telapak kaki dan sepasang betis Reynaldo yang sedang telungkup.

Lalu Rey merasakan enaknya telapak kaki dipijat oleh Sang Mertua.

Mama Hilda pun diam - diam semakin mengagumi melihat atletisnya tubuh menantunya. Namun ia menindas perasaan yang aneh - aneh itu dengan serius memijat dan mengurut - urut.

Mama Hilda tidak tahu bahwa sebenarnya Rey sedang memikirkan apa yang harus dilakukan selanjutnya, sementara hasrat birahinya semakin menggodanya.

“Enak sekali pijitan Mama ... terasa menyentuh urat - urat pentingnya Mam, “ kata Rey.

“Tapi kalau ada Niken, pasti dia marah melihat mama mijitin kamu Rey. “

“Niken kan lagi di Jepang Mam. Apa pun yang terjadi di sini takkan diketahuinya. “

Mama Hilda tidak bicara lagi. Memang dia sudah mulai tergoda oleh Rey dan suasana yang serba memungkinkan. Tapi Mama Hilda tetap berusaha untuk menepiskan pikiran yang bukan - bukan. Lalu berusaha bersikap dan berperilaku sebagai seorang ibu kepada anaknya.

Tapi ketika Mama Hilda sedang mengurut sepasang paha Rey, tanpa sengaja ia menyentuh “sesuatu” di antara kedua pangkal paha Rey. Meski tertutup oleh handuk, Mama Hilda tahu bahwa yang tersentuh olehnya itu, adalah kantung biji peler menantunya ... !

Darah Mama Hilda tersirap. Hasrat birahinya mulai menggoda lagi. Tapi cepat ia mengalihkan aksi pijitan dan urutannya. Ke arah punggung Rey yang sudah disemprot lotion dulu secara merata. Untuk melakukan urutan dan pijitan di punggung Rey itu Mama Hilda menduduki bokong menantunya. Sambil mengusir jauh - jauh hasrat birahinya.

Sementara Reynaldo tetap menunggu datangnya celah kesempatan untuk melakukan sesuatu yang sudah cukup lama diidamkannya secara diam - diam.

Bentuk tubuh Mama Hilda memang bertolak belakang dengan anak bungsunya (Niken). Niken bertubuh tinggi semampai, sementara ibunya bertubuh bohay. Ya, selain tinggi montok, Mama Hilda itu punya sepasang toket gede dan bokong yang semok abis.

Beberapa saat kemudian Mama Hilda sudah selesai memijat dan mengurut menantunya. Kemudian Rey berkata, “Terima kasih Mam. Pegel - pegelnya sudah berkurang sekali. Sekarang giliran Mama yang akan kupijit dan kuurut kan ?”

“Iya, “ sahut Mama Hilda sambil membersihkan kedua telapak tangannya yang berminyak - minyak, “Tapi kalau kamu mau istirahat, istirahat aja dulu. “

“Nggak ah. Semua perjanjian harus ditepati. Tapi sebentar, mau bersih - bersih dulu di situ, boleh ?” Rey menunjuk ke arah pintu kamar mandi pribadi Mama Hilda.

“Iya, silakan Rey. “

Reynaldo melangkah ke dalam kamar mandi. Akhirnya ia malah mandi lagi, karena ingin menghilangkan lapisan minyak di sekujur tubuhnya. Setelah merasa bersih, ia melilitkan lagi handuk putih itu ke badannya. Menutupi perut sampai pahanya.

Kemudian ia keluar dari kamar mandi. Tampak Mama Hilda sudah telungkup di atas sofa tanpa sandaran yang dipakai oleh Rey tadi.

Mama Hilda menutupi bokongnya dengan handuk lain yang dilipat dua. Dan ... Rey melihat bahwa ibu mertuanya tidak mengenakan beha saat itu. Dari samping memang kelihatan toket gede yang tergencet oleh dada Mama Hilda sendiri, karena saat itu dia sedang menelungkup.

Dalam keadan cuma dililit handuk putih itu Rey mengambil botol lotion yang tadi isinya dipakai untuk melicinkan permukaan kulit tubuh dan anggota badannya.

“Mau pakai lotion juga kan Mam ?” tanya Rey.

“Iya, “ sahut Mama Hilda tanpa menoleh.

Kemudian Rey melakukan hal yang sama seperti perlakuan Mama Hilda padanya tadi. Rey menyemprotkan lotion ke sepasang telapak kaki dan sepasang betis Mama Hilda. Lalu dipijit - pijitnya telapak kaki Mama Hilda dengan telaten. Namun pada saat itu pandangan Rey tertuju ke arah sepasang paha gempal ibu mertuanya.

Ingin Rey merayapi paha gemp[al yang putih mulus itu. Tapi ia ingin melakukannya secara step by step. Ia baru mulai memijat dan mengurut betis ibu mertuanya.

“Betisnya begini padat dan kencangnya, “ pikir Rey, “ pasti karena Mama rajin berolah raga. “

Tiba - tiba terdengar suara Mama Hilda, “Gak nyangka kamu pandai juga memijat Rey. Semua sentuhan tanganmu terasa enak sekali. “

“Kan mengikuti cara Mama memijatku tadi, “ sahut Rey merendah. Padahal di dalam perguruan bela diri Rey dahulu, massage memang diajarkan oleh pelatihnya. Untuk menyembuhkan rekan - rekan seperguruan yang keseleo dan sebangsanya.

Mama Hilda percaya saja bahwa Rey mengikuti cara si Mama waktu memijat Rey tadi. Dan tanpa disadari, tangan Rey sudah mulai merayap ke paha Sang Mama, sampai pangkalnya. Sampai menyentuh celana dalam Mama Hilda ... !

Hal itu membuat Reynaldo mulai degdegan. Dan berkata, “Bagusnya sih celana dalam Mama dilepasin, supaya lebih leluasa aku memijatnya. Lagian kalau celana dalamnya tidak dilepaskan, bisa terbasahi oleh lotion Mam. “

Di luar dugaan Rey, ibu mertuanya menyahut, “Lepasin aja sama kamu. Tapi jangan macem - macem ya. Anggap aja kamu ini dokter yang sedang mengobati pasiennya. “

Rey tidak menyahut. Karena ia spontan menyingkapkan handuk yang menutupi bokong ibu mertuanya. Lalu dipelorotkannya celana dalam putih bersih Mama Hilda itu.

Handuk itu pun terjatuh ke samping kanan Mama Hilda. Sehingga bentuk bokong wanita setengah baya itu terbuka sepenuhnya di mata Reynaldo. Bahkan sekujur tubuh bagian belakang Mama Hilda sudah telanjang bulat.

Dan ketika Reynaldo menyemprotkan lotion ke bokong semok dan pangkal paha Mama Hilda, diam - diam ada yang bangun di balik handuk putih yang masih melilit di badan Rey itu. Terlebih lagi setelah sepasang paha gempal itu direnggangkan, sebentuk kemaluan tembem itu ... oooo ... Rey semakin degdegan melihat semuanya itu.

Tapi Rey berusaha untuk menenangkan dirinya, kemudian mulai memijit dan mengurut buah pantat semok yang sudah dilumuri lotion itu.

Namun Rey tak kuasa menahan nafsunya. Sehingga ia mulai nekad. Ia tak cuma mengurut dan memijat pangkal paha dan belahan memek mertuanya. Pikir Rey, kalau dia menegur kenapa menyentuh belahan kemaluan Mama, aku mau pura - pura bego aja.

Ternyata bokong semok itu spontan bergerak - gerak, seiring dengan elusan - elusan Rey di belahan memek yang sudah berminyak - minyak dan sangat licin itu.

Hal itu membuat Rey semakin berani menyelinapkan jemarinya ke belahan memek tembem Mama Hilda. Dan bokong semok itu semakin bergerak - gerak, mengikuti gerakan jemari Rey di celah memeknya yang sudah sangat licin oleh lotion itu.

Meski degdegan, Rey sudah merasa nyaman. Karena Mama Hilda tidak complain dengan apa yang tengah dilakukannya itu.

“Bagian depannya mau dipijit Mam ?” tanya Rey pada suatu saat.

Dan sebagai jawaban, Mama Hilda membalikkan badannya, jadi menelentang.

Wow ... semakin jelas di mata Rey kini. Semakin jelas betapa gedenya sepasang toket mertuanya itu. Semakin jelas pula bahwa memek mertuanya itu tercukur, tapi bulu - bulu jembutnya mulai tumbuh sekitar 1 atau 2 milimeteran.

Rey berusaha untuk menguasai diri. Ia tidak langsung menyentuh kemaluan mertuanya. Ia berdiri di dekat kepala mertuanya. Lalu menyemprotkan lotion ke sepasang toket gede itu. Disusul dengan gerakan tangan Rey di sepasang toket gede itu. Gerakan yang lebih tepat disebut remasan, namun dilakukan secara “profesional” agar terasa seperti sedang mengurut sepasang toket gede itu.

Kini giliran Mama Hilda yang tak bisa menguasai dirinya lagi. Tangannya bergerak ke arah handuk putih yang membelit badan Rey itu. Lalu merenggutnya sampai terjatuh ke lantai. Dan pandangan Mama Hilda tertuju ke arah penis Rey yang sudah ngaceng berat itu.

Lalu Rey biarkan penis ngacengnya dipegang oleh mertuanya. Dan ketika penisnya ditarik, Rey pun berlutut di samping sofa tanpa sandaran itu. Lalu membiarkan penisnya dikulum dan diselomoti oleh mertuanya ... !

Maka semakin bergejolaklah nafsu birahi Reynaldo dibuatnya. Ketika Mama Hilda semakin lahap menyelomoti dan mengurut - urut penisnya, Rey pun tak kuasa menahan keinginannya untuk menyentuh memek mertuanya yang tampak seolah sedang menantang itu.

Kebetulan vagina Mama Hilda sudah terlicinkan oleh lotion, sehingga Rey bisa mengelus dan menyelinapkan jarinya ke dalam celah memek mertuanya. Lalu jari tengah Rey digerak - gerakkan dalam liang memek Mama Hilda.

Apa yang Rey lakukan itu, membuat Mama Hilda menyerah kepada nafsunya sendiri. Lalu melepaskan selomotannya sambil berkata, “Mama udah gak kuat menahannya. Masukin aja ke sini. “ Mama Hilda menunjuk kemaluannya sendiri.

“Iya Mam, “ Rey spontan bergerak ke antara sepasang paha mertuanya yang sudah direnggangkan. Bahkan kedua kaki Mama Hilda sampai terjuntai ke lantai.

“Langsung masukin aja Mam ?” tanya Rey yang sudah meletakkan moncongpenisnya di ambang mulut memek mertuanya.

“Iya, “ sahut Mama Hilda, “Tapi ingat ... jangan sampai Niken tau ya. “

“Iya Mam. Rahasia dijamin takkan bocor kepada siapa pun kecuali untuk kita berdua aja, “ sahut Rey sambil berusaha membenamkan penis ngacengnya ke dalam liang memek mertuanya yang sudah lama Rey khayalkan.

Celah memek Mama Hilda sudah sangat licin oleh lotion, sehingga tanpa kesulitan penis Rey melesak masuk ke dalamnya ... blessssss ......

“Ooooh ... akhirnya kita melakukannya juga Rey ... tapi ... jangan dilepasin di dalam ya. “

“Kenapa ? Takut hamil Mam ? Jangan takut, aku bawa pil kontrasepsi kok. “

“Kok bawa - bawa pil kontrasepsi segala ?”

“Persediaan untuk Niken. “

“O, pantesan Niken belum hamil - hamil. Rupanya kalian sengaja ya ?”

“Iya Mam. Kami kan sama - sama bekerja. Sama - sama sibuk. Jadi sebaiknya jangan punya anak dulu. “

“Ogitu ... ayo entotin. Jangan direndem terus. Nanti tititnya keburu jadi ager. “

“Hihihiii ... Mama ada - ada aja. Masa titit bisa jadi ager. “

Lalu Rey mulai mengentot ibu mertuanya yang montok seksi abis itu.

Mama Hilda pun merangkul Rey sambil menciumi bibirnya.

“Memek mama masih enak gak Rey ? “ bisik Mama Hilda ketika entotan Rey masih pelan - pelan.

“Luar biasa enaknya Mam. Memek Mama legit sekali. Gak nyangka kalau aku akan bisa mewujudkan angan - angan lamaku. “

“Memangnya sudah lama kamu punya keinginan untuk memiliki mama ?”

“Iya Mam. Bahkan sebelum menikahi Niken juga aku sudah punya hasrat yang kusimpan di dalam hati. Soalnya Mama sangat seksi di mataku. “

“Jujur ... sejak awal kita dipertemukan oleh Niken, mama juga sudah punya perasaan suka padamu Rey. Tapi mama selalu menindasnya, karena mama sadar diri. Bahwa kamu terlalu muda bagi mama. Dan kamu sudah milik anak bungsuku sendiri. Makanya mama simpan aja perasaan suka itu di salam hati. Tapi sekarang ... mama bisa memilikimu Rey ... “

“Aku juga memiliki Mama sejak saat ini ... terima kasih Mam ... ini sesuatu yang luar biasa bagiku, “ ucap Rey yang dilanjutkan dengan mempercepat ayunan penisnya di dalam liang memek Mama Hilda yang empuk, licin dan legit sekali.

Reynaldo memang merasakan sensasi yang lain pada diri mertuanya ini. Rasanya sangat berbeda dengan Niken. Berbeda dengan perempuan - perempuan yang pernah Rey rasakan.

Yang paling Rey rasakan adalah betapa luasnya “medan perang” Mama Hilda ini. Selain daripada itu, Rey merasakan ada semacam isapan dari liang memek mertuanya. Jadi pada saat penis Rey ditarik, terasa liang memek wanita setengah baya itu seperti menyedot dan mempertahankannya. Itulah yang dimaksudkan legit oleh Reynaldo

Setelah entotan penis Rey mulai massive, Mama Hilda pun mulai merintih - rintih histeris. ‘Ooooo ... ooooo ... ooooohhhhh .... Reeeeey .... ini luar biasa nikmatnya Reeeeey ... oooooh .... bertahun - tahun mama gak merasakan indahnya sentuhan lelaki ... sekalinya merasakan kembali ... yang menyentuh mama adalah lelaki belia yang sejak setahun yang lalu telah merebut hati mama ... iyaaaaa ... entot terus Reeeeey ... iyaaaa ... iyaaaa ... indah dan nikmat sekali Rey Sayaaaaang .... “

Dan penis Reynaldo maju mundur terus di dalam cengkraman liang vagina ibu mertuanya. Kedua manusia berlainan jenis itu pun semakin terlena di dalam buaian surgawi ........





(Bersambung)



"It was after sex, when there was still heat and mostly breathing, when there was still touch and mostly thought... it was as if the whole world could be reduced to the sound of a single string being played, and the only thing this sound could make me think of was you. Sometimes desire is in the air; sometimes desire is liquid. And every now and then, when everything else is air and liquid, desire solidifies, and the body is the magnet that draws its weight.”

― David Levithan




"Itu setelah berhubungan seks, ketika masih ada panas dan sebagian besar bernapas, ketika masih ada sentuhan dan sebagian besar pikiran ... seolah-olah seluruh dunia dapat direduksi menjadi suara satu senar yang dimainkan, dan satu-satunya hal suara ini bisa membuat saya berpikir adalah Anda. Terkadang keinginan ada di udara; terkadang keinginan adalah cair. Dan sesekali, ketika segala sesuatu yang lain adalah udara dan cair, keinginan membeku, dan tubuh adalah magnet yang menarik bobotnya. ”

― David Levithan
 

Neena

Guru Semprot
Thread Starter
Daftar
16 Aug 2019
Post
657
Like diterima
65.950
Para suhu yang budiman,

Nubie sedang sangat jauh dari rumah. Sementara flashdisk yang berisi naskah garapan nubie tertinggal di rumah. Sehingga nubie jadi bingung sendiri.

Karena itu untuk mengurangi kekecewaan para suhu, ini nubie hidangkan judul lain lagi yang tak kalah bagusnya. Kebetulan naskah baru ini tersaving di laptop dan belum dicopas ke flashdisk.

Nanti kalau nubie sudah pulang ke tanah air, garapan nubie yang belum selesai, pasti akan dilanjutkan. Karena target nubie akan menyelesaikan semua karya nubie di tahun 2021 ini.

Mulustrasinya akan ditampilkan di Part 2.

Neena Maureen
 

Ferina1997

Semprot Lover
Daftar
2 Jul 2019
Post
229
Like diterima
137
Senang hati kami karena Sis @Neena bisa berkarya meski jauh dari tanah air.
Berarti Sista dalam keadaan sehat walafiat. Itu yang lebih penting bagi kami
 
Sbo Hoki Online   Senior Bola Online
Jav Toys
9 club   Gaple Online Indonesia
9 club
Pasang iklan hanya lewat CONTACT US
Top
Semprot is now part of PAGCOR