9Club Situs Judi Online Terpercaya
Asus Togel online   Mandala Toto
Pasang iklan, hanya lewat Contact Us.
Waspada penipuan iklan. Klik di sini untuk melihat daftar penipu.

Kisanak87

Pendekar Semprot
Thread Starter
Daftar
19 May 2017
Post
1.792
Like diterima
94.913
BAGIAN 51
IBLIS MATA MERAH



Pop Badai

Badai Ihsan Narendra

Hiufftt, huuu.

Aku menarik nafasku dalam – dalam, lalu mengeluarkannya perlahan. Dan bersamaan dengan itu aku mengeluarkan semua pikiran yang mengganjal dikepalaku saat ini, lewat hembusan nafasku.

Bisa.? Ya gak bisalah, bodoh banget sih. Mana ada masalah yang bisa keluar dari hembusan nafas. Hembusan nafas itu hanya membantumu untuk bertahan hidup, dan kalau kamu masih terus diberi kesempatan hidup, baru kamu bisa menyelesaikan masalahmu. Itu pun kamu harus berpikir dengan keras.

Tapi entar dulu, berarti hembusan nafas itu awal mula dalam menyelesaikan suatu masalah dong. Anjing, kok pikiranku jadi makin gila sih.? Bodoh banget aku ini.

Kalau boleh jujur, masalah terbesar yang ada dikepalaku saat ini, tentu saja statusku sebagai anak dari Ayah Sandi. Walaupun masalah ini sudah aku bicarakan bersama Ayah Sandi, Angger dan Dede, tapi tetap saja ada yang mengganjal didalam hatiku.

Hatiku ini seperti tergantung dimenara telekomunikasi, yang jaringannya lagi gangguan. Padahal saat ini aku butuh seseorang untuk aku hubungi, tapi HPku gak bisa digunakan. Kan bangsat banget kalau begitu.? Sebagus – bagusnya Hp dan secanggih – canggihnya HP, kalau gak ada sinyal bagaimana.? Kan gak berfungsi juga.

Dan Hp itu aku ibaratkan seperti otak yang ada dikepalaku ini. Ada, tapi gak bisa berfungsi saat ini. Anjing, anjing.

Kalian paham gak sih apa yang aku tulis ini.? kalau gak paham mending diam aja, dari pada aku tinju satu – satu. Kalau pikiranku sudah gila dan gak berfungsi seperti ini, bawaannya pengen berkelahi aja. Jadi mending kalian diam dan baca tulisan ini sampai selesai. Kalau gak paham, mending kekamar mandi, terus ambil sabun, terus coli, terus baca tulisan ini lagi. Siapa tau kalau habis coli, kalian paham dengan tulisan yang gila ini. Hehehe. Gila ya aku.?

Sudahlah, kembali lagi kepermasalahanku yang ada dikepalaku.

Hiufftt, huuu.

Ibu, kenapa Ibu membuat suatu janji yang dipegang teguh Ayah Sandi sampai saat ini.? Janji yang membuat bibir Ayah Sandi terkunci dan tidak mau mengucapkan kalau aku ini anaknya. Ada apa ini.? Apa karena ini sebagai hukuman karena mereka telah melakukan kesalahan yang begitu besar.?

Perselingkuhan. Ya, ini pasti karena mereka telah berselingkuh, karena posisi mereka pada saat itu sudah memiliki pasangan. Ibu melakukannya pasti setelah menikah dengan Ayahku, dan Ayah Sandi pasti juga sudah memiliki pasangan saat itu. Tapi apa benar Ayah Sandi sudah punya pasangan waktu itu.? Entahlah. Kalau Ibuku pasti selingkuh, karena usia pernikahan Ibu dengan Ayahku saat ini, lebih tua daripada usiaku.

Apa Ayahku tau kalau aku ini bukan anak kandungnya.? Tapi kalau Beliau tau, kenapa Beliau tidak marah dengan Ibuku.? Ada apa ini.? Atau jangan – jangan, Ayah tidak bisa memiliki keturunan, dan merasa sangat bersalah sekali kepada Ibu.?

Anjing, kok pikiranku semakin ngelantur begini sih.? Tapi walaupun ngelantur, mungkin ada benarnya pikiran gilaku ini. Buktinya, aku tidak memiliki adik atau kakak dari Ayahku.

Arrghhh. semakin ngelantur dan liar aja pikiranku ini. Kelihatannya aku harus pulang ke propinsi seberang dan meminta kejelasan dari Ibuku. Aku tidak mau terus – terusan dibayangi pikiran seperti ini, bisa mati gila aku. Bangsat.

Aku lalu melihat jam dinding dikamarku. Pukul satu siang.

Kalau aku berangkat kepropinsi seberang sekarang ini, sore atau menjelang malam pasti aku sudah berada dirumah. Iya, kelihatannya aku harus berangkat sekarang.

Tapi entar dulu, kalau aku sudah sampai rumah, aku harus memulai dari mana pertanyaanku kepada Ibu.? Apa aku langsung bertanya tentang statusku.? Terus kalau Ibu terkejut dan tiba – tiba pingsan lalu sakit, apa aku gak makin gila.? Terus iya kalau Ayahku beneran tau dan menyembunyikan kenyataan bahwa aku ini bukan anaknya, kalau Beliau tidak tau bagaimana.? Apa gak makin besar masalah yang aku timbulkan.

Arrgghhh. Bisa gila beneran aku ini.

Ibu pasti menderita dengan semua ini dan menahannya sampai saatnya tiba, Beliau mengatakan kebenarannya kepadaku. Beliau saja bisa menahannya, kenapa aku tidak bisa menahannya sih.? Kenapa aku tidak bisa bersabar dengan keadaan ini.? Ibu pasti sangat – sangat tersiksa, seperti yang Ayah Sandi rasakan.

Argghhh. Bodoh kamu dai, bodoh. Sabar sedikit lah. Pasti tiba kok waktunya. Sekarang lebih baik kamu memejamkan mata aja, dari pada pikiranmu makin menggila dan kamu lampiaskan kepada orang yang salah.

Kalau seandainya emosimu kamu lampiaskan sama tukang plagiat cerita yang bergentanyangan diluar sana, gak apa – apa sih. Mau kamu hajar, mau kamu bakar, atau mau panggang bijinya, terserah.

Sudah, sudah, sudah. Lebih baik sekarang aku memajamkan mataku sebentar, supaya mendinginkan kepalaku yang panas ini.

Akupun mulai merebahkan kepalaku diatas bantal, lalu meluruskan kedua kakiku dan mencari posisi nyaman diatas kasur yang empuk ini.

Pelan, pelan dan pelan, kedua mataku mulai terpejam, dan.

“Nak.” Samar – samar terdengar suara Ibu dan kedua mataku langsung terbuka.

“Ibu.” Ucapku lalu aku duduk dan melihat kearah pintu kamarku yang tertutup.

Akupun langsung cepat bangkit dari kasurku dan berlari kearah pintu kamarku. Aku lalu membuka pintu kamarku dengan terburu – buru dan tidak ada Ibu didepan kamarku. Ruang tengah pun tampak kosong dan pintu kosan tertutup. Sebagian teman – temanku kuliah dan sebagian lagi mungkin sedang beristirahat dikamar masing – masing.

Bangsaatt. Apa aku tadi mimpi ya.? Bajingaan.

Kembali aku menutup pintu kamarku lalu berjalan kearah kasurku, lalu aku merebahkan tubuhku lagi. Kali ini aku merebahkan diriku dengan posisi tengkurap dan wajah sampingku menoleh kearah dinding kamarku.

Cukup lama aku diposisi seperti ini dan aku susah untuk memejamkan kedua mataku lagi. Aku membalikkan tubuhku dan tidur terlentang, lalu tidur menghadap kesamping kanan, kesamping kiri, tengkurap dan terlentang lagi, begitu seterusnya.

Kenapa mata ini susah dipejamkan ya.? Apa lebih baik aku pulang saja kepropinsi seberang.? Bukannya untuk bertanya kepada Ibu tentang kebenaran semua ini, tapi aku hanya ingin meluapkan kerinduanku dan aku butuh pelukan hangat Ibu saat ini.

Tapi kenapa aku bisa ragu ya.? kenapa.?

Beberapa saat kemudian, mataku mulai berat lagi dan perlahan aku memejamkan kedua mataku. lalu,

“Dai.” Suara Devi terngiang ditelingaku dan aku langsung terbangun lagi.

Aku kembali berlari kearah pintu kamarku dengan tergesa – gesa, lalu membukanya. Lagi dan lagi tidak ada orang yang berdiri didepan pintu kamarku.

Tiba – tiba dadaku berdetak dengan cepat dan diikuti dengan ketakutan yang sangat luar biasa. Pikiranku seperti dihantui dan itu membuat seluruh tubuhku bergetar dengan hebatnya.

DAG, DUG, DAG, DUG, DAG, DUG, DAG, DUG, DAG, DUG.

Jantungku berdetak dengan cepatnya dan keningkupun langsung dipenuhi keringat.

Ada apa denganku saat ini.? Kenapa bisa jantungku berdetak dengan cepat dan aku merasakan ketakutan seperti ini.? Apa ini ada hubungannya dengan panggilan Ibu dan Devi tadi.? Ada apa dengan mereka berdua.? Apa ada sesuatu yang terjadi dengan mereka.? Atau.?

Bangsat. Aku harus kepropinsi seberang dan aku harus pulang sekarang juga.

Aku lalu menutup pintu kamarku dan mengganti pakaianku. Celana levis yang robek dilutut, kaos dan dilapisi jaket levis. Setelah itu aku mengambil Hp dan dompetku, lalu aku keluar kamarku tanpa membawa pakaian ganti sama sekali.

“Mau kemana Bang.?” Tanya Dede yang baru keluar dari kamarnya.

“Pulang.” Jawabku singkat.

“Pulang kemana.?” Tanya Dede dengan terkejutnya.

“Kerumahku. Oh iya, kamarku gak aku kunci, kamu tidur aja dikamarku.” Jawabku sambil melihat kearahnya, yang terlihat kebingungan.

“Ada apa Bang.? Aku temanin ya.?” Ucap Dede dan aku hanya menggelengkan kepalaku, lalu aku berjalan kearah pintu kosan.

“Aku antar keterminal kalau gitu.” Ucap Dede dan dari arah pintu kosan, Kenzie baru datang dengan menggunakan sepeda motornya.

“Aku sama Kenzie De.” Jawabku.

“Mau kemana kamu njing.?” Tanya Kenzie yang juga terlihat bingung dengan sikapku ini.

“Antar aku keterminal utama dan kamu gak usah banyak tanya lagi.” Ucapku dengan seriusnya.

“Tapi.” Ucap Kenzie terpotong.

“Putar motormu pakai kakimu, bukan pakai mulutmu.” Ucapku dan Kenzie pun langsung memutarkan motornya, dengan wajah yang agak ketakutan. Dia tau kalau aku seperti ini, sudah tidak bisa dibantah lagi.

“Bang.” Panggil Angger yang juga keluar dari kamarnya.

“Aku balik dulu kepropinsi seberang De.” Ucapku.

“Sudah pegang tiket.?” Tanya Angger dan aku hanya menggelengkan kepalaku, lalu naik sepeda motor Kenzie.

“Entar aku WA tiketnya.” Ucap Angger dan aku langsung menoleh kearahnya, sambil menganggukan kepalaku.

“Jalan Zie.” Ucapku sambil menepuk pundak Kenzie.

Motor Kenzie keluar kosan menuju gang, lalu setelah itu berjalan cepat digang sempit ini. Dan ketika keluar gang kosan.

CITTT. CITTT. CITTT.

Sebuah mobil jeep berhenti mendadak didepan gang, dan membuat Kenzie menginjak remnya dengan cepat.

“BANGSAATTT.” Maki Kenzie dengan emosinya, dan ujung ban sepeda motornya, sedikit lagi menyentuh mobil mahal itu.

Kaca mobil jeep bagian depan sebelah kiri terturun, dan wajah Om Satria langsung terlihat. Beliau melihat kearah kami dengan menggunakan kacamata hitam.

“Hehe, Om.” Ucap Kenzie yang langsung ketakutan sambil mengangguk pelan.

“Aku yang antar kamu Dai.” Ucap Om Satria sambil melihat kearahku, dan tidak menjawab ucapan Kenzie tadi.

Ada apa lagi ini.? Kenapa Om Satria mau mengantarkan aku.? Apa memang ada suatu kejadian dipropinsi seberang dan Om Satria sudah mengetahuinya dari anggotanya disana.? Tapi kejadian apa.? Kok jantungku makin berdetak dengan cepat seperti ini sih.?

Hiufftt, huuu. Aku menarik nafasku dalam - dalam, lalu mengeluarkannya perlahan.

“Aku sama Om Satria aja Zie.” Ucapku sambil menepuk pundak Kenzie, lalu turun dari sepeda motornya.

“Kamu beneran pulang Dai.?” Tanya Kenzie.

“Iya.” Ucapku singkat lalu aku membuka pintu mobil jeep bagian kiri depan, lalu naik dan menutup lagi pintu mobil pelan.

Kenzie masih terus melihatku dengan wajah yang sangat khawatir. Aku lalu tersenyum kepadanya dan kaca mobil pun tertutup lagi, lalu mobil berjalan pelan.

Aku dan Om Satria sama - sama berdiam diri, dengan pandangan lurus kearah depan. Aku belum berbicara, karena aku masih dilanda ketakutan yang sangat luar biasa tanpa aku tau penyebabnya. Kelihatannya aku harus merokok dan menenangkan diriku sejenak.

Aku lalu menurunkan kaca mobil bagian kiri, setelah itu aku meraih rokokku dan mengambilnya sebatang, lalu menghisapnya.

“Huuuppp.” Aku menghisap dalam – dalam rokokku, lalu mengeluarkan asapnya perlahan.

“huuuuu.” Gumpalan asap putih keluar dari mulutku, lalu terbuai tertiup angin.

“Kenapa Om mau mengantarkan saya.?” Tanyaku yang membuka obrolan, tanpa melihat kearah wajah Om Satria.

“Gak apa – apa.” Jawab Om Satria dengan santainya, lalu Beliau menurunkan kaca mobil bagian kanan, setelah itu mengambil rokoknya dan membakarnya.

“Beneran gak ada apa – apa.?” Tanyaku sambil melirik kearah Om Satria.

“Kok pertanyaanmu aneh begitu.?” Tanya Om Satria, sambil membalas melirikku.

“Ya bagaimana gak aneh, tiba – tiba Om muncul dan mau mengantarkan aku. Emang Om tau saya mau kemana.?” Tanyaku dan tiba – tiba, sebuah pesan masuk kedalam Hpku.

Aku lalu membuka Hpku dan melihat sebuah pesan lewat WA yang dikirim Angger kepadaku. Sebuah pesan yang berisi tentang kode boking pesawat dari pulau ini ke propinsi seberang atas namaku. Dan ketika aku melihat jam penerbangannya, jadwalnya dua jam lagi pesawatnya akan terbang.

Bangsat nih Angger. Apa nutut dua jam perjalananku kebandara.? Mana aku belum check in lagi. Bajingan. Dan yang lebih bajingannya lagi, dia memesankan aku tiket melalui bandara diibukota propinsi, bukan bandara yang ada dipinggiran kota pendidikan. Gila gak.? Bangsat, bangsat.

Aku sih memang terburu – buru, tapi gak secepat ini juga kali. Gak berpikir apa dia.? Om Satria paling mengantarkan aku ke terminal utama kota pendidikan, dan aku melanjutkan naik bus patas keibukota propinsi, lalu aku lanjut naik bus kota kearah bandara. Nutut gak kira – kira waktunya kalau begitu.? Bajingan.

“Hati - hati Bang.” Sebuah kalimat ucapan penutup dari Angger.

“Iya, terimakasih.” Jawabku singkat lalu aku menyimpan Hpku.


“Kamu mau balik kepropinsi seberang kan.?” Tiba – tiba Om Satria mengejutkanku dari lamunan.

“Kok Om tau.? Akukan gak membawa tas pakaian ganti.” Tanyaku sambil menoleh kearahnya.

“Emangnya aku gak bisa baca tiketmu.?” Ucap Om Satria, sambil melirik kearah Hpku lalu focus pada menyetirnya lagi.

“Sebelum saya menerima pesan ini, emang Om tau kalau saya mau ke propinsi seberang.?” Tanyaku yang masih penasaran dengan kehadiran Om Satria ini.

“Sebelumnya aku hanya menebak, kalau kamu akan pulang kerumahmu sana. Tadi itu kebetulan aja aku lewat. Melihat dari cara berpakaianmu dan wajahmu yang kebingungan, serta temanmu yang mengendarai sepeda dengan terburu – buru, gak mungkin kalau kamu mau kekampus. Tinggal menyebrang jalan aja, kok pakai diantar sepeda motor.” Ucap Om Satria dengan santainya, lalu Beliau menghisap rokoknya.

Hiufftt, huuu.

Rupanya Om Satria datangnya kebetulan saja. Akunya aja yang terlalu diselimuti kekhawatiran yang tidak jelas, sampai berkesimpulan yang macam – macam. Bagaimana aku bisa seyakin itu.? Karena wajah Om Satria tidak menampakan sedikitpun sesuatu yang disembunyikan kepadaku.

Dan ketika mobil kami sudah dekat dengan terminal utama kota pendidikan, Om Satria mengambil jalur lewat fly over dan bukannya lewat bawah yang menuju kearah dalam terminal.

“Loh, Om mau antar saya kemana.?” Tanyaku sambil menoleh ke arah Om Satria.

“Kebandara ibukota propinsilah, emang mau kemana lagi.? Keterminal.? Emang nutut waktunya kalau kamu naik bus.?” Ucap Om Satria.

“Ya, ya ga nutut sih Om. Cuman saya gak enak kalau Om ngantar sampai kebandara.” Ucapku pelan.

“Kalau gak enak, lebih baik kamu turun di bawah sana, terus tunggu bus yang kearah ibukota propinsi.” Ucap Om Satria sambil menunjuk didepan jalan turunan sana.

“Masa Om tega lihat saya naik Bus.?” Tanyaku, sambil membuang puntung rokokku.

“Telek.” (Taik) Gerutu Om Satria, lalu membuang puntung rokoknya juga. Om Satria lalu menaikan kaca mobil bagian kanan dan kiri.

“Maaf ngerepotin Om.” Ucapku.

“Cok. Sekali lagi kamu ngomong gitu, aku suruh naik Bus loh.” Ucap Om Satria dan aku pun langsung terdiam mendengarnya.

Beberapa saat kemudian, setelah melewati lampu merah didepan sebuah pabrik rokok terkenal, mobil Om Satria belok kearah kanan dan masuk kedalam tol. Semoga saja waktunya masih nutut.

“Kenapa kamu pulang.?” Tanya Om Satria ketika kami sudah melaju didalam tol.

“Gak tau Om, perasaanku gak enak.” Jawabku, lalu aku menarik nafasku dalam – dalam.

“Kamu memikirkan hal yang itu ya.?” Tanya Om Satria dan aku paham maksud arah pertanyaan Om Satria ini.

“Siapa yang gak kepikiran dengan masalah seperti ini Om.? Ini masalah darah yang mengalir diseluruh tubuhku, yang selama ini ditutupi oleh kedua orang tuaku.” Ucapku dengan suara yang bergetar.

“Iya, aku paham dengan apa yang kamu rasakan. Bahkan mungkin kamu lebih sakit lagi merasakannya, dari apa yang aku pikirkan.” Ucap Om Satria dan aku hanya melirik Om Satria.

“Tapi asal kamu tau. Ada sesuatu hal yang harus diungkapkan dan ada sesuatu yang harus disembunyikan, karena belum waktunya untuk diungkapkan. Bukannya aku membela Sandi, tapi aku kenal dia sudah lama dan pasti dia mempunyai alasan yang kuat dengan keadaan ini.” Ucap Om Satria lagi.

“Aku sudah membicarakannya dengan Ayah Sandi Om, dan sampai detik ini Ayah Sandi belum mengucapkan sepatah katapun kalau aku ini anak kandungnya.” Ucapku.dan tiba – tiba aku terbawa suasana hatiku saat ini. Padahal aku sudah tidak memikirkan hal itu, karena aku tau alasan kenapa Ayah Sandi tidak mengucapkan hal itu.

“Apa kamu tau alasannya kenapa Ayahmu itu tidak mengungkapnya.?” Tanya Om Satria.

“Iya Om.” Jawabku pelan.

“Terus apa tujuanmu pulang sekarang.? Apa mau minta kejelasan kepada Ibumu.?” Tanya Om Satria lagi.

“Gak tau Om, lihat kondisi nanti. Aku takut menyakiti perasaan Ibuku dengan pertanyaanku. Mungkin aku menunggu kesiapan Ibu untuk mengucapkannya sendiri. Aku tau Ibu pasti sakit memendamnya dan sulit mencari waktu yang tepat untuk membicarakan hal itu kepadaku.” Ucapku sambil menyandarkan kepalaku disandaran kursi mobil.

“Kamu luar biasa dewasa dan kuat dalam menyikapi masalah besar ini Dai.” Ucap Om Satria.

“Aku gak sedewasa seperti yang Om pikirkan dan mungkin aku juga gak sekuat yang Om lihat.” Ucapku pelan sambil memejamkan mataku.

Kami berdua berdiam diri lagi beberapa saat.

“Dari pada kamu tidur, lebih baik kamu check in online aja. Jadi nanti tinggal laporan dan langsung masuk kedalam bandara.” Ucap Om Satria dan aku langsung membuka kedua mataku dan meraih Hpku, untuk melakukan check in online.

Ternyata tiket yang dibelikan Angger ini, tiket kelas bisnis. Pasti mahal nih harganya. Duduknya aja hanya dua kursi dibagian kanan dan dua kursi dibagian kiri, terus kursinya agak besar dari pada kursi kelas ekonomi. Baik banget adekku itu.

Dan setelah beberapa lama perjalanan kami, akhirnya mobil yang kami tumpangi keluar tol dan langsung masuk kedalam area bandara di ibukota propinsi. Mobil pun akhirnya berhenti didepan gedung penerbangan domestic.

“Terimakasih Om.” Ucapku sambil melihat kearah Om Satria.

“Turunlah, dua puluh menit lagi pesawat yang kamu tumpangi akan terbang.” Ucap Om Satria dan aku langsung menjulurkan tangan kananku kearah Beliau.

Om Satria menyambut tanganku dan aku mencium punggung tangannya, setelah itu aku membuka pintu mobil lalu turun.

“Tetap tenang dalam menghadapi masalah ya Dai.” Ucap Om Satria, ketika aku akan menutup pintu mobilnya.

“Semoga aku bisa Om.” Jawabku, lalu aku menutup pintu mobilnya.

Mobil Om Satria berjalan pelan meninggalkan aku, dan aku langsung masuk kedalam gedung penerbangan domestic. Setelah laporan ke loket penerbangan, aku langsung menuju keruang tunggu penumpang bisnis.

Beberapa saat kemudian, gate penerbangan dibuka dan aku menuju ke pesawat yang akan membawaku ke propinsi seberang.

Dan ketika aku berjalan dilorong menuju ke pesawat, dadaku kembali berdetak dengan cepat dan rasa ketakutan kembali menyelimuti tubuhku. Kedua kakiku bergetar dan keringat mulai keluar dari keningku.

Anjing. Kenapa seperti ini sih.? Bukannya rasa takutku ketika naik pesawat sudah lama hilang.? Kenapa sekarang muncul lagi.?

Aku berjalan sempoyongan sampai didekat pintu pesawat, lalu aku disambut seorang pramugari yang cantik dengan senyum manisnya.

“Pak, Bapak kenapa.?” Tanya pramugari itu sambil memegang pundakku pelan.

“Gak apa – apa Mba.” Ucapku dan aku menguatkan kedua kakiku, agar tidak terlalu gemetar.

“Kok wajahnya pucat.?” Tanya pramugari itu.

“Gak apa – apa Mba, cuman saya takut terbang aja.” Jawabku.

“Oh gitu, tapi Bapak yakin gak apa – apa.?” Tanyanya lagi.

“Iya Mba, saya sebelumnya juga beberapa kali terbang dan aman aja.” Jawabku, lalu aku masuk kedalam pesawat.

Pramugari itu mengikuti aku dibelakangku dan aku langsung berhenti di salah satu kursi kelas bisnis. Kelihatannya yang duduk dikelas bisnis ini hanya aku sendiri. Akupun langsung duduk di kursi sesuai dengan nomor tempat dudukku.

Aku menyandarkan kepalaku dan mendangakkannya, sambil meluruskan kedua kaki kedepan bagian bawah.

Hiuffttt, huuuu.

Aku menarik nafasku dalam – dalam, lalu mengeluarkannya perlahan. Aku menenangkan hatiku yang dilanda ketakutan ini.

“Mohon maaf Pak, safety beltnya dikenakan dulu. Setelah itu Bapak bisa melanjutkan istirahatnya.” Ucap pramugari yang masih berdiri didekatku.

“Iya Mba.” Jawabku sambil mengangkat sedikit pinggulku, lalu mengambil sabuk pengaman dan memakainya.

“Nanti setelah pesawatnya sudah terbang, kursinya bisa dimiringkan agar Bapak lebih nyaman istirahatnya.” Ucap pramugari itu lagi dan aku langsung melihatnya, sambil menganggukan kepalaku.

Beberapa saat kemudian, getaran mulai sedikit terasa dan pesawat mulai berjalan pelan. Para pramugari mulai berkeliling dan mengecek penumpang. Karena dikelas bisnis ini aku seorang diri, hanya satu pramugari yang ada disini dan sisanya kekelas ekonomi dibelakang sana.

Dadaku makin bergetar dengan cepat dan kedua tanganku menyengkram pegangan kursi dengan kuatnya.

“Bagaimana Pak.? Apa baik – baik saja.?” Tanya pramugari itu dan berdiri didekat kursi sebelahku, sedangkan aku duduk didekat jendela.

“Iya Mba. Saya baik – baik saja.” Jawabku dengan suara yang bergetar.

Pramugari itu langsung duduk disebelahku dan memegang punggung tanganku pelan.

“Beneran Bapak gak apa – apa.?” Tanyanya karena tanganku terasa agak bergetar.

“I, iya Mba.” Jawabku dan aku langsung membalikkan telapak tangan kananku, dan meraih telapak tangan kiri pramugari itu.

Jari – jariku masuk disela – sela jarinya, lalu aku menggenggamnya dengan erat. Aku melakukan itu sambil memejamkan kedua mataku. Pramugari itu tidak berontak atau melepaskan pegangan tanganku ini.

“Len.” Terdengar suara dari pramugari lain, tapi aku tetap memejamkan kedua mataku.

“Tolong pasangkan safety beltku.” Ucap pramugari yang duduk disebelahku.

Beberapa saat kemudian, terdengar bunyi pesawat yang bersiap untuk take off. Suara mesin pesawat yang bergerumuh pelan, berbanding terbalik dengan gemuruh dihatiku yang sangat terasa berdebar.

Aku merasa tangan kananku diangkat sedikit oleh pramugari itu dan telapak tangan kanannya langsung bersandar dipegangan kursi, lalu memegang punggung tanganku. Dan sekarang telapak tanganku ini diapait oleh kedua telapak tangannya dengan sangat lembut.

Aku menarik nafas panjangku, ketika pesawat mulai take off dari landasan.

“Hiuuttttt.” Ucapku sambil meremas telapak tangan kiri Pramugari itu, dan dia juga meremas tangan kananku dengan kedua telapak tangannya yang mengapit tanganku.

“huuuuu.” Aku mengeluarkan nafas panjangku, lalu menarik nafas dalam – dalam lagi.

Dan setelah aku merasa kondisi pesawat mulai stabil, aku membuka kedua mataku lalu menoleh kearah pramugari yang duduk disampingku. Dia menatapku sambil tersenyum, dan aku langsung melemaskan remasan tanganku ditangannya.

“Ma, maaf Mba.” Ucapku.

“Gak apa – apa Pak.” Ucapnya tanpa melepaskan pegangan tangan kami.

“Len.” Panggil teman pramugari itu dan kami berdua langsung melepaskan pegangan tangan kami.

“Ya Din.?” Tanya pramugari itu.

“Gak ditawari minum.?” Tanyanya.

“Oh iya aku lupa. Bapak mau minum apa.?” Tanya pramugari itu kepadaku, sambil melepaskan safety beltnya.

“Kopi aja mba. Tanpa gula ya.” Jawabku.

“Iya Pak.” Jawab pramugari itu lalu memasang meja dihadapanku, setelah itu berdiri dan berjalan kearah kotak besi tempat penyimpanan makanan.

Lalu beberapa saat kemudian, pramguri itu berjalan kearahku sambil membawa segelas kopi hitam. Teman pramugari itu berjalan kearah kelas ekonomi lagi, dan sekarang tinggal kami berdua saja diruangan bisnis ini.

“Diminum Pak,” ucapnya sambil membungkukan tubuhnya kearahku.

“Terimakasih Mba.” Jawabku sambil mengambil gelas diatas nampan itu.

“Bapak mau makan apa.?” Tanyanya sambil menegakkan tubuhnya.

“Enggak, aku cuman butuh teman ngobrol. Boleh gak kalau Mba duduk disini lagi.” Ucapku sambil melirik bangku kosong disebelahku.

Anjing, kok jiwa merayuku balik lagi ya.? Apa ini imbas dari pegangan tangan kami tadi.? Bajingan.

“Boleh Pak, saya taruh nampan ini dulu ya.” Ucap Pramugari itu, lalu membalikan tubuhnya dan meletakkan nampan dikotak penyimpanan makanan tadi.

Pramugari itu langsung berbalik lagi, lalu duduk disebelahku.

Sruuppp.

Aku menyeruput kopi ini pelan dan menikmati sensasi pahitnya yang menambah ketenangan pikiranku.

“Badai, nama saya Badai Mba.” Jawabku sambil melihat kearahnya.

“Badai.?” Ucapnya sambil memiringkan sedikit kepalanya, lalu tersenyum dengan manisnya.

“Kenapa Mba.? Nama saya garang ya.? Garang tapi takut naik pesawat, itu yang ada dipikiran Mba kan.? Sruuppp.” Tanyaku lalu aku menyeruput kopi ini lagi.

“Emang Bapak bisa baca pikiran saya.?” Tanyanya.

“Bisa gak kalau manggilnya jangan Bapak.? Serasa tua aja aku Mba.” Ucapku dan dia langsung tersenyum dengan manisnya.

“Oh iya, nama saya Elen.” Ucapnya memperkenalkan dirinya kepadaku.



Elen

“Elen.? Pantas aja cantik.” Jawabku dan dia langsung melebarkan kedua matanya, dan itu menambah kecantikan diwajahnya.

Tuhkan, jiwa merayuku yang bangsat akhirnya keluar juga. Arrgghhh. Iblis apa yang mulai merasuki pikiranku ini.? Masa iblis cinta.? Memangnya ada jenis iblis cinta gitu.? Bajingan.

“Maksudnya.?” Tanya Elen kepadaku.

“Elen itu berarti cantik. Ada juga yang mengartikan bidadari dan ada juga yang mengartikan puisi. Tapi kalau boleh aku simpulkan, Elen itu Bidadari yang memancarkan kecantikan, lewat puisi yang terpancar diwajahnya.” Ucapku dan Elen langsung tertunduk sejenak lalu menatap kearah wajahku.

Bangsattt. Enak banget sih mulut ini bicara.

“Ternyata selain dukun yang bisa membaca pikiranku, kamu juga seorang penggombal yang handal.” Ucap Elen lalu kembali tersenyum dengan manisnya.

Terdengar dari nada bicara dan kata – kata yang keluar dari bibir manisnya, Elen mulai nyaman berbicara kepadaku dan tidak sekaku tadi. Anjing, ampuh juga ucapanku. Bajingan.

“Gombal itu, hanya untuk melebihkan kata – kata rayuan, supaya bisa lebih menarik perhatian pasangan. Padahal kenyataannya gak sesuai dengan apa yang diucapkan. Kalau kamu gak perlu digombal, karena kamu memang seperti bidadari.” Ucapku yang terus mengeluarkan kata – kata rayuan, dan dia hanya menggelengkan kepalanya pelan.

“Kamu itu lebay Dai. Aku bukan bukan bidadari dan aku tidak bersayap.” Ucapnya yang sudah mulai memanggil namaku saja.

“Tapi kamu bisa terbang. Buktinya kamu sekarang telah membawa aku melayang 36.000 kaki di udara atau antara 6 hingga mendekati 8 mile di atas permukaan laut.” Ucapku sambil meletakan gelas dimeja dihadapanku.

“Hehe.” Elen hanya tertawa pelan.

“Sudah berapa wanita dikampusmu yang kamu taklukan hatinya.?” Tiba – tiba Elen bertanya, dan membuat aku langsung menundukan kepalaku sejenak.

“Berarti kita ini cocok ya.” Ucapku sambil mengangkat wajahku dan menatapnya. Sengaja aku tidak menjawab pertanyaanya, karena itu sama saja aku membuka aibku sendiri. Hehe.

“Maksudnya.?” Tanya Elen.

“Kamu bilang aku tadi dukun dan dukun itu pasangannya juga dukun.” Jawabku.

“Kok bisa.?” Tanyanya lagi.

“Kamu tau kalau aku ini seorang mahasiswa, padahal aku tidak pernah mengucapkannya kepadamu. Apa bukan dukun kalau seperti itu.” Ucapku dengan santainya.

“Pemuda seusia kamu dengan style seperti ini dan duduk dikursi kelas bisnis, sudah cukup bagiku untuk menilai kamu mahasiswa atau bukan. Gak perlu jadi dukun.” Ucapnya sambil terus menatapku.

“Mengatakan kamu cantik seperti bidadari, bagiku gak perlu memakai gombalan kata – kata, apalagi sampai menjadi seorang dukun juga.” Ucapku dan kembali Elen menggelengkan kepalanya pelan, dengan kedua pipi yang langsung memerah.

“Oh iya, kenapa kamu mau jadi seorang bidadari.?” Tanyaku.

“Ha.?” Ucapnya yang terkejut, dengan mata yang terbuka lebar dan tatapan yang mempesona.

“Astaga, maaf. Tatapanmu mengacaukan pikiranku. Maksudku tadi itu, kenapa kamu mau jadi seorang pramugari.?” Tanyaku.

“Oooo. Aku itu suka berpetualang dan menikmati keindahan semesta yang luas ini.” Jawab Elen.

“Sama, aku juga suka menikmati keindahan mahluk ciptanNya.” Ucapku.

“Gak sama dong. Akukan suka pemandangan alam semesta, bukan mahluk seperti yang ada dipikiranmu.” Sahut Elen.

“Tapikan sama – sama indah.” Jawabku.

“Dan hasilnya, mahluk – mahluk yang kamu taklukkan hatinya lewat tatapan dan rayuan gombalmu, hanya menjadi persinggahan sementara hatimu yang suka berpertualang. Kamu jadikan mereka seperti bandara, untuk mengistirahatkan hatimu sejenak, lalu setelah itu kamu terbang dan singgah ke bandara hatimu yang lain lagi.” Ucap Elen sambil memalingkan wajahnya, lalu menyandarkan kepalanya dikursi sebelahku. Nada berbicaranya terdengar sedikit kecewa dan diakhiri dengan helaan nafas yang panjang.

“Emang aku sejahat itu ya.? Sampai seorang wanita yang baru aku kenal, langsung menilai aku seperti itu.?” Tanyaku dan aku juga memalingkan wajahku, lalu aku bersandar disandaran kursiku.

“Gak tau.” Jawabnya singkat tanpa melihat kearahku.

“Gak tau, tapi sudah bisa menyimpulkan. Hehe.” Ucapku lalu aku tertawa pelan.

Elen lalu menegakkan tubuhnya dan menatap kearah wajahku. Dia lalu mengambil gelas kopiku yang sudah kosong, setelah itu melipat lagi meja yang ada dihadapanku.

Dan ketika dia berdiri.

“Jadi kamu yang akan pergi meninggalkan aku.?” Tanyaku dan dia langsung menoleh kearahku.

“Enggak, aku balik lagi kok. Aku akan menemanimu sampai tiba dibandara nanti.” Ucap Elen lalu dia memalingkan wajahnya dan berjalan kearah kotak penyimpanan makanan. Dan setelah itu, Elen tidak berbalik kearahku, tapi berjalan kearah alat radio yang digunakan untuk menyampaikan pengumuman di dalam pesawat.

"Para penumpang yang terhormat, saat mendarat sudah dekat. Namun hati ini terasa pekat, mendengar rayuan yang mengalir begitu cepat. Sudah lama jiwa ini merindu dengan kata – kata yang manis terucap, tapi diri harus sadar dan tidak boleh berharap, walau hati telah didekap" Ucap Elen dengan pandangan lurus kedepan dan tidak menoleh kearahku sedikitpun.

Anjing. Bisa begitu ya kata – katanya.?

“Waaaaaa.” Terdengar teriakan dari para penumpang dibelakangku sana.

“Galau airline, hahaha.” Sahut yang lain lagi.

"Silahkan tetap ditempat duduk. Jangan lupa jaga jarak dengan dia, karena sadar dia bukan siapa – siapa. Kencangkan sabuk pengaman dan harus tetap menerima kenyataan, bahwa dia bukan milik anda" Ucap Elen lagi.

“Oooooo.” Terdengar teriakan yang bernada sedih dari semua penumpang.

"Tegakan sandaran kursi anda, agar kuat melihatnya turun dan menjemput cintanya. Melipat hati yang telah pupus, akibat dia tak lagi menoleh dan memilih melupakan Anda. Buka penutup jendela, tapi jangan buka folder kenangan. Semua perangkat elektronik dimatikan, termasuk rasa yang mulai tersimpan."

“Terimakasih atas pilihan terbang bersama kami, wahai hati yang baru saja saling menatap, tapi sudah ingin menetap.” Ucap Elen lalu meletakkan alatnya ditempat semula, setelah itu berjalan kearahku tapi tidak melihat kearahku.


“Wooooo.”

Prok, prok, prok.

Terdengar teriakan lagi dan diakhiri dengan tepuk tangan yang bergemuruh.

Elen lalu duduk disebelahku dan menggunakan safety beltnya, tanpa mengucapkan sepatah katapun untukku.

“Maksud dari ucapanmu tadi, itu untuk aku ya Len.?” Tanyaku menggodanya, karena suasana sedikit kaku. Aku tidak ingin meninggalkan pesawat ini dengan hati yang sama – sama terganjal.

“Gak usah ge er, aku biasa mengucapkan kata – kata itu setiap akan mendarat.” Ucap Elen tanpa melihat kearahku.

“Oooo.” Ucapku dan pandanganku langsung kearahkan kedepan, karena aku merasa pesawat sudah mulai menurun ketinggiannya.

Kembali aku memejamkan kedua mataku, lalu aku menarik nafas dalam – dalam. Dan sekarang aku tidak berani menyentuh tangan Elen lagi, karena takut disalah artikan olehnya.

Pesawat yang mulai turun inipun, kembali membuat dadaku berdetak dengan cepat. Aku sampai menggenggam pegangan kursi dengan eratnya dan mataku benar – benar aku pejamkan dengan kuat.

Tap,

Perlahan aku merasakan punggung tanganku digenggam dengan lembutnya.

“Bukalah matamu dan jangan biarkan ketakutan menguasai dirimu.” Ucap Elen dengan suara lembutnya.

Perlahan aku membuka kedua mataku, lalu menoleh kearah Elen. Wanita yang duduk disampingku inipun, langsung memberikan senyuman termanisnya.

Gruduk, gruduk, gruduk.

Goncangan mulai terasa, ketika pesawat ini membelah tebalnya awan. Mungkin guncangan ini terjadi karena perbedaan temperature udara. Mungkin loh ya. Tapi yang jelas, guncangan itu terasa sampai didalam hatiku bahkan lebih dasyat, ketika tatapan mataku dan mata Elen bertemu.

Anjing, kenapa bisa seperti ini sih.? Apa aku melupakan janjiku ketika bertemu dengan Devi, dibawah alam sadarku waktu itu.? Kok mudah sekali aku berucap semanis tadi, ketika berhadapan dengan seorang wanita cantik.? Apa memang yang diucapkan Elen tadi benar, tentang aku yang tukang gombal dan meninggalkan mereka dengan luka hati yang terdalam.? Bangsat.

Goncangan hatikupun semakin terasa kuat, ketika tatapan mataku menatap lebih dalam kearah mata Elen dan dia juga membalasnya dengan tatapan yang sama.

Pelan, pelan, dan pelan, wajah kami saling mendekat dan terhenti beberapa centi saja. Tanganku langsung berbalik dan jari - jariku kembali masuk kesela - sela jarinya, lalu saling menggenggam dengan erat.

Tatapan mata Elen perlahan berubah menjadi sayu, dan aroma nafasnya yang terasa dihidungku makin cepat dan memburu. Wajah kami berdua saling memiring dengan berlawanan arah dan kedua mata tetap saling beradu.

CUPPP.

Bibir kami saling bertemu, tapi tidak ada gerakan melumat sedikitpun. Kami berdua saling diam dan aku bingung dengan momen – momen yang sangat membangsatkan ini. Terus terang hatiku bergejolak dengan hebatnya. Disatu sisi ingin melepaskan ciuman, tapi disisi lain ingin meneruskan.

Dan ditengah kebimbanganku, bibir kami saling terbuka sedikit, lalu saling melumat dengan perlahan.

CUPPP, CUPPP, CUPPP, HEMMMM.

Ciuman yang pelan dan lembut ini, akhirnya membuat sisi lain hatiku yang ingin meneruskan ciuman ini, menang dengan telaknya.

CUPPP, CUPPP, CUPPP, HEMMMM.

Lumatan kami semakin dalam dan kekenyalnya bibir tipis Elen, membuat hatiku yang tadinya ketakutan, serasa mendapatkan belaian ketenangan.

CUPPP, CUPPP, CUPPP, HEMMMM.

Bruk, bruk, bruk.

Suara ketika ban pesawat mulai mendarat dilandasan, langsung mengejutkan kami berdua. Ciuman kami langsung terlepas dan Elen langsung memalingkan wajahnya kearah depan dan menunduk sejenak.

“Len.” Panggilku dan dia tidak menjawabnya.

“Ma, maaf ya.” Ucapku terbata dan bertepatan dengan kecepatan pesawat yang mulai menurun, karena akan berhenti didepan sana.

Elen langsung melepaskan safety beltnya, setelah itu berdiri dan berjalan kearah ruang pilot tanpa mengucapkan sepatah katapun.

Bangsat. Masa seperti ini sih akhirnya.? Apa arti ciuman ini kalau hanya seperti itu akhirnya.? Ini sama aja dia yang memperlakukan aku sebagai bandara persinggahan hatinya, bukan seperti apa yang dituduhkannya kepadaku tadi.

Terus emangnya kalau gak seperti ini akhirnya, aku mau apa.? Aku mau melanjutkan kehubungan yang lebih serius gitu.? Apa aku siap dengan semua ini.? Terus bagaimana dengan Devi, kalau dia memang benar melahirkan anakku.? Seperti tanda – tanda ketika dia menemui aku dibawah alam sadarku waktu itu.

Bukannya aku harus senang dengan situasi seperti ini ya.? Aku turun dari pesawat dan tidak meninggalkan luka hati untuk Elen, karena justru dia yang meninggalkan aku. Ahhh. Gila.

Satu persatu pramugari mulai keluar dari arah belakangku, tapi Elen tidak menampakan dirinya dan dia masih ada didalam ruangan pilot. Salah satu pramugari membuka pintu pesawat, ketika pesawat ini sudah terhenti dan terparkir dengan sempurna.

Elen akhirnya keluar dan berdiri didekat pintu bersama temannya, tapi tidak melihat kearahku. Aku tetap duduk disini dan membiarkan seluruh penumpang turun lebih dulu. Aku ingin melihat wajah Elen, sebelum dia terbang lagi dan benar – benar meninggalkan aku.

Dan ketika seluruh penumpang telah turun, aku langsung berdiri dan melangkah kearahnya, lalu berhenti dihadapannya temannya.

“Terimakasih sudah terbang bersama kami Pak.” Ucap temannya, lalu diakhiri dengan senyuman. Elen tetap tidak melihat kearahku dan dia hanya melihat kearah lorong diluar sana.

“Iya Mba. Saya juga mengucapkan terimakasih, karena penerbangan ini telah mendaratkanku pada bandara persinggahan ‘sementara’, yang ternyata sakit juga rasanya.” Ucapku sambil melirik kearah Elen, yang perlahan melirikku dengan tajam.

“Pasti Bapak galau karena ucapan Mba Elen waktu pengumuman tadi ya.?” goda teman Elen dan aku hanya tersenyum lalu melangkah kearah Elen.

Dia tampak merogoh sesuatu dari kantong didadanya, setelah itu menjulurkan tangannya itu kepadaku.

“Selamat jalan Pak.” Ucap Elen dengan dinginnya dan aku menyambut jabatan tangan Elen ini.

“Terimakasih Mba.” Jawabku lalu aku melepaskan jabatan tangan ini, dengan senyum yang sangat senang dan bahagia.

Bagaimana aku tidak senang dan bahagia, kalau Elen memberikan sebuah lipatan kertas kecil kepadaku ketika bersalaman tadi.

Entah apa isi kertas itu. Kata – kata perpisahan atau mungkin nomer telponnya. Aku sih berharap nomer telponnya. Hehehe.

Aku terus berjalan menuju kearah ruang kedatangan, sambil mengantongi kertas pemberian Elen tadi. Dan ketika sampai didepan pintu kedatangan, aku berjalan kearah taksi – taksi yang terparkir sambil mengambil kertas tadi.

Terus terang aku sangat penasaran, dengan isi kertas pemberian Elen ini.

Aku menghentikan langkahku, lalu menunduk dan membuka lipatan kertas dengan perlahan. Sederet nomer cantik, secantik orangnya, tertulis dengan rapi dan kedua mataku langsung berbinar bahagia.

“Sianjing ini dapat nomer telpon siapa Roy.” Ucap seseorang yang berdiri tidak jauh dari aku.

“Menurutku ada dua kemungkinan Mir. Kalau bukan nomor telpon penumpang, pasti nomor telpon pramugari.” Jawab orang yang bernama Roy.

Aku lalu mengangkat wajahku dan melihat kearah dua orang yang bersuara tadi. Dan disana, dua orang manusia berdiri dengan senyuman yang sangat membangsatkan sekali. Mereka adalah Amir dan Roy sahabatku ketika STM dulu.

“Bangsat. Pasti Kenzie yang kasih tau kalian, kalau aku datang.” Ucapku.

“Emang kenapa.? Kamu gak suka kalau kami jemput.? Kalau gak suka kami jemput, kami balik sekarang. Tapi mana nomer telponnya.” Ucap Amir sambil menyodorkan tangannya dan meminta kertas yang ada ditanganku.

“Tai lasomu Mir.” Makiku sambil mengantongi kertas ini lagi.

“Hahahaha.” Mereka berdua lansung mendekat dan memelukku bersama – sama.

“Anjing, kayak hom – hom aja pakai acara pelukan. Bangsat.” Ucapku sambil membalas pelukan mereka berdua.

“HAHAHAHA.” Tawa mereka makin keras terdengar, sambil melepaskan pelukan yang menganjingkan ini.

“Ayo kita makan.” Ucap Roy yang sekarang makin gempal aja.

“Makan aja yang kamu pikir Roy, Roy. Coba tanya kabar dulukah.” Ucapku sambil menggelengkan kepala, lalu kami bertiga berjalan kearah parkiran.

“Lihat kamu masih hidup begini, perutku langsung lapar Dai.” Sahut Roy.

“Mulutmu Roy, barusan kamu sudah makan bakso sama mie ayam, masih juga bilang lapar.” Ucap Amir.

“Itu cemilan njing.” Jawab Roy.

“Taik, bakso sama mie ayam dibilang cemilan.” Gerutu Amir.

“Makanan utama Roy itu, harapan yang selalu pupus dan ditolak sebelum menyampaikan perasaan cintanya.” Sahutku dengan cueknya.

“ANJING.” Maki mereka berdua, lalu.

“SEMONGKO.!!!.” teriakku dengar kerasnya.

“Woi, woi. Ini cerita apa sih.? kok ada semongkonya.?” Tanya Roy.

“Oh iya. Salah ucap aku, itu dilapak sebelah ya.?” Ucapku malu – malu.

“HAHAHAHA.” Kembali kami tertawa bersama.

Kami bertiga tertawa dengan senangnya, lalu kedua sahabatku itu berhenti didepan sebuah mobil pajero sport keluaran terbaru.

“Mobil siapa ini.?” Tanyaku.

“Mobil juragan tambanglah.” Sahut Amir sambil menunjuk kearah Roy.

“Bangsat, tambah sukses aja kamu Roy.” Ucapku.

“Untuk mainan dijalan lumpur aja ini.” Ucap Roy dengan sombongnya, lalu berjalan kearah bagian sopir dan membukanya.

“Taik.” Sahutku dan Amir barengan, lalu kami berdua masuk kedalam mobil bagian tengah.

“Bangsat kamu berdua ini. Kamu kira aku sopir.?” Ucap Roy ketika aku dan Amir tidak ada yang menemaninya duduk didepan.

“Duduk depan Mir.” Ucapku kepada Amir.

“Enggak ah, aku gak mau duduk sama orang yang suka main lumpur. Entar bajuku kotor.” Ucap Amir dengan gaya yang centil.

“Taik kamu Mir.” Ucap Roy dengan emosinya.

“Duduk depan kamu Day.” Dan sekarang Roy berbicara kepadaku.

“Iya, iya. dari pada kamu makan lumpur nanti.” Ucapku sambil membuka pintu bagian tengah, lalu aku duduk dibagian kiri depan mobil.

“Mulutmu Day. Mulutmu.” Gerutu Roy sambil menyalakan mobilnya.

“Terus kemana kita ini.?” Tanya Amir.

“Makan.” Jawab Roy.

“Antar aku pulang dulu ya.” Ucapku dan sekarang nadaku mulai serius.

“Emang ada apasih.? Kok aneh betul kamu itu Day.?” Tanya Amir.

“Sudahlah, antar aku pulang dulu.” Ucapku lalu aku memalingkan wajahku, kearah bagian kiri mobil.

“Iya, iya.” Jawab Roy lalu dia mulai menjalankan mobilnya, keluar parkiran bandara.

Kedua sahabatku ini pun tidak bersuara lagi, karena aku juga diam sambil melihat pemandangan disebelah kiri.

DAG, DUG, DAG, DUG, DAG, DUG, DAG, DUG, DAG, DUG.

Kembali jantungku memompa dengan cepatnya. Entah apa yang terjadi dengan diriku saat ini. Kangen dengan Ibuku, membayangkan ekspresi Ibu ketika membuka semua kebenaran tentang diriku, kangen dengan Devi, atau aku memikirkan kejadian dengan Elen dipesawat tadi.

DAG, DUG, DAG, DUG, DAG, DUG, DAG, DUG, DAG, DUG.

Duh, kenapa makin cepat seperti ini detak jantungku.? Ada apa ini.? Apa ada suatu kejadian yang akan menimpaku, atau memang sudah ada kejadian dan aku belum mengetahuinya.?

“Hu, hu,hu, hu.” Sekarang nafasku ikut cepat juga.

“Hiuffttt, huuuu.” Aku menarik nafasku panjang, lalu mengeluarkannya pelan.

Dan beberpa saat kemudian, kami sudah sampai didepan rumahku. Memang rumahku ini jaraknya tidak terlalu jauh dari bandara.

“Kita masuk yo.” Ucapku ketika mobil sudah parkir didepan rumahku.

“Nanti malam aja kita ketemu lagi.” Ucap Roy pelan.

“Kalian gak mau main kerumahku.?” Tanyaku sambil melihat kearah Roy, lalu kearah Amir.

“Bukan begitu, kelihatannya ada sesuatu yang harus kamu selesaikan. Kami gak ingin mengganggu.” Jawab Amir.

“Oke, nanti malam aku hubungi kalian.” Ucapku sambil membuka pintu mobil.

“Terimakasih ya.” Ucapku sambil melihat kearah mereka lagi.

“Anjing, pakai acara ngomong terimakasih lagi.” Gerutu Amir dan aku langsung turun dan menutup pintu mobil pelan.

Aku lalu berjalan kearah pagar rumah dan membukanya pelan, setelah itu aku menutup pintu pagar lagi, dengan dada yang terus berdebar.

DAG, DUG, DAG, DUG, DAG, DUG, DAG, DUG, DAG, DUG.

Langkahku kearah pintu rumah yang tertutup, diiringi detakan jantungku yang cepat.

Dan ketika sudah berdiri didepan pintu, aku mengangkat tangan kananku yang bergetar ini pelan. Tangan kananku ini terasa berat sekali diangkat, dan aku seperti tidak memiliki tenaga sama sekali.

Tok, tok, tok.

Aku mengetuk pintu rumah pelan.

Kletek.

Pintu rumah langsung terbuka pelan dan sepertinya orang yang ada dibalik pintu ini, sudah tau kedatanganku.

Pelan, pelan, dan pelan, daun pintu rumahku ini terbuka dengan lebarnya. Sosok seorang wanita setengah baya yang berhijab, berdiri menatapku dengan tatapan yang begitu menyedihkan. Kelopak matanya membengkak, wajahnya memucat dan tubuhnya seperti tidak terurus.


Tiara Wulandari

Gila. Wanita dihadapanku ini adalah Ibuku dan Beliau terlihat sedikit mengurus. Ada apa dengan Ibuku.? Apa ada masalah dengan Ayahku.? Atau ada masalah yang lain.? Kemana wajah cantik Ibuku dan dimana senyum cerianya.? Kenapa Ibuku terlihat menyedihkan seperti ini.? Kenapa.?

Perlahan kelopak mataku mulai dipenuhi air mata, dan tiba – tiba langsung mengalir dengan derasnya membasahi kedua pipiku.

“I, I, I, Ibu.” Ucapku dengan terbata.

“Sayang, Hiks, hiks, hiks.” Jawab Ibu lalu Beliau menangis sesenggukan.

Akupun langsung merangkul tubuh Ibuku yang mulai menua dan melemah ini. Aku dekap dan tangiskupun langsung meledak dipelukan ini.

“HIKS, HIKS, HIKS. Ada apa Bu.? Ada apa dengan Ibu.? Kenapa kondisi Ibu seperti ini.? hiks, hiks, hiks.” Ucapku dengan berlinang air mata.

“Ibu gak apa – apa nak, Ibu gak apa – apa. Hiks, hiks, hiks.” Jawab Ibu, lalu diakhiri dengan tangis yang menyayat hati.

“Gak apa – apa bagaimana Bu.? Tubuh Ibu lemah dan wajah Ibu memucat, Ibu kenapa.?” Tanyaku sambil melepaskan pelukanku dan memegang pundaknya, dengan kedua tanganku.

Air mataku semakin mengalir deras, melihat wajah Ibu dari dekat seperti ini.

Bajingan aku ini. Anak seperti apa aku.? Kenapa aku tidak tau kalau kondisi Ibuku seperti ini.? Aku yang terkenal merayu wanita dan perhatian dengan wanita yang ada disekitarku, malah tidak mengetahui kondisi wanita yang melahirkan aku ini.

Memang aku sering memberi kabar lewat telpon, tapi jarang sekali melakukan video call. Dan setiap aku menelpon, Ibu selalu mengatakan kondisinya baik – baik saja. Tapi kenyataan hari ini, benar - benar membuat hatiku seperti disayat memakai silet. Perih dan sangat sakit sekali.

Apa karena kondisi Ibu yang seperti ini, dadaku bergetar dan aku diselimuti ketakutan yang sangat luar biasa dari tadi.? Apa karena kondisi Ibu yang seperti ini, aku mendengar sayup – sayup suara Ibu yang memanggilku ketika aku dikosan.?

Sakit didadaku ini benar – benar sakit dan aku sekarang seperti menjadi anak yang tidak berbakti kepada orang tua. Bangsat.

“Bagaimana kabarmu nak.?” Ucap Ibu dengan suara yang bergetar, sambil membelai rambutku dengan sangat lembutnya. Ibu tidak menjawab pertanyaanku tadi, justru malah bertanya kabarku.

“Sakit Bu, Sakit hati Badai melihat kondisi Ibu seperti ini.” Ucapku dengan suara yang bergetar dan air mata yang terus mengalir.

“Jangan berucap seperti itu Nak, jangan. Ibu akan makin merasa bersalah kepadamu. Hiks, hiks, hiks.” Ucap Ibu lalu menangis lagi dan kembali memelukku.

Makin bersalah kepadaku.? Maksud Ibu ini apa.? Apa Ibu seperti ini karena memikirkan bagaimana caranya berbicara kepadaku, tentang kebenaran siapa Ayahku.? Apa benar seperti itu.?

Bangsat. Kok bisa seperti ini sih.? kalau memang seperti itu permasalahannya dan aku tidak datang hari ini, pasti kondisi Ibu semakin parah dan bisa saja terjadi sesuatu yang bisa membuatku menjadi anak yang durhaka.

Anjing.

Tiba – tiba tubuhku bergetar dengan hebatnya dan emosiku mulai merambat menguasai kepalaku. Aku marah kepada diriku sendiri dan aku mengutuk diriku sendiri, karena aku hanya memikirkan diriku tanpa memikirkan perasaan Ibuku.

Ibuku pasti sangat - sangat bersedih dan menanggungnya seorang diri. Air matanya pasti tidak berhenti mengalir, karena terlihat kelopak matanya yang membengkak. Ibu pasti tidak mau makan, karena tubuhnya sangat lemah seperti ini.

Sementara aku disana, masih bisa menikmati dunia dan makan dengan se enaknya. Bajingaann.

Merah, meredup, merah, meredup, lalu gelap. Begitu pandangan mataku sekarang ini. Tubuhku pun memanas dan bergetar dengan hebatnya. Kedua tanganku yang menjuntai kebawahpun, langsung terkepal dengan kuatnya.

“Nak, nak, nak.” Ucap Ibu sambil melepaskan pelukannya dan menatap wajahku.

Aku diam dan tubuhku semakin dikuasai emosi yang menggelora.

“Jangan seperti ini nak, jangan. Hiks, hiks, hiks.” Ucap Ibuku sambil memegang kedua pipiku.

“BADAI. Hiks, HIKS, HIKS.” Teriak Ibuku dan langsung menyadarkan aku.

Pandanganku kembali terang benderang, apalagi mendengar jerit tangis Ibu barusan.

“Maaf Bu, maaf.” Ucapku lalu aku memeluk Ibuku lagi.

“Tenangkan hatimu nak, tenangkan. Hiks, hiks, hiks.” Ucap Ibu sambil membalas pelukanku dan membelai rambutku dengan lembutnya.

Rasa bersalah kembali menyelemuti hatiku, karena aku membuat Ibuku semakin bersedih.

“Maaf Bu, maaf.” Ucapku yang tidak berhenti meminta maaf.

“Nak, ajak Ibumu makan. Sudah beberapa minggu kemarin Ibumu jarang makan dan beberapa hari ini malah tidak makan sama sekali.” Ucap seorang laki – laki setengah baya kepadaku, yang berdiri diruang tengah.

“A, A, Ayah.” Ucapku terbata dan aku masih memeluk Ibuku.

Yang berdiri itu adalah Ayahku, yang membesarkan aku mulai dari kecil, yang kutahu bahwa Beliau itu Ayah kandungku. Beliau yang selalu memberikan kasih sayang kepadaku dan membesarkan aku dengan segala perhatiannya.

Tiba – tiba rasa bersalahku kepada Beliau, langsung menghantam diriku. Aku tidak pernah memikirkan keadaan Beliau beberapa hari ini, karena aku selalu memikirkan Ayah Sandi dan Ibuku. Aku melupakan orang yang sangat – sangat berjasa didalam seluruh kehidupanku ini. Bajingaann.

Tubuh Ayah juga terlihat agak mengurus, dan wajah Beliau seperti sedang menanggung beban kehidupan yang begitu beratnya. Ayah, dia Ayahku.

Ibu melepaskan pelukannya dan aku langsung mendekat kearah Ayah, lalu aku memeluk Beliau dengan eratnya.

“Ma, ma, maaf yah. Maafkan Badai yang tidak pernah menelpon dan menanyakan kabar Ayah.” Ucapku dan Beliau langsung membalas pelukanku ini.

“Gak apa – apa nak. Yang penting kamu sehat.” Ucap Ayahku, sambil membelai rambutku pelan.

Anjing. Ucapan Ayahku pun semakin membuat rasa bersalahku semakin besar kepada Beliau, dan kembali air mataku mengalir dipelukan Ayahku ini.

“Ayah. Hiks, hiks, hiks.” Ucapku dan diakhiri dengan tangisanku.

“Ayah tidak ingin mendengar tangismu nak. Kamu anak Ayah yang kuat, Kamu Badai Ihsan Narendra yang perkasa, dan kamu semangat hidup Ayah.” Ucap Ayahku dengan suara yang bergetar.

“HIKS, HIKS, HIKS.” Terdengar tangis Ibu dengan kerasnya, lalu memeluk kamu berdua dengan eratnya.

Ayah melepaskan pelukan tangan kirinya kepadaku, lalu merangkul tubuh Ibuku dengan tangan kiri dan tangan kanan Beliau tetap memelukku.

“Sudah, sudah. Jangan ada yang menangis lagi. Hari ini kita bertiga sudah berkumpul dan kita harus merayakannya dengan senyum dan tawa.” Ucap Ayahku dengan penuh kesabarannya.

“Yah.” Ucapku, sambil mengangkat wajahku dan menatap wajah Ayah yang tersenyum.

“Ayah lapar, dan tangismu ini tidak bisa mengenyangkan perut Ayah.” Ucap Ayah kepadaku, lalu melihat kearah Ibu.

“Kita pesan makan diluar aja ya Bu.” Ucap Ayah kepada Ibu dengan mesranya.

“Jangan Yah, biar Ibu aja yang memasak.” Ucap Ibuku, sambil membersihkan air matanya.

“Ibu loh lemas seperti ini, kita pesan makan diluar aja ya.” Ucap Ayahku dan melepaskan rangkulannya kepada kami.

Ayah menepis pelan tangan Ibu dari wajah Ibu, dan tangan Ayah yang menggantikan membersihkan air mata Ibu.

Tatapan mata kedua orang tuaku ini, terlihat penuh cinta dan kasih sayang.

“Kalau pesan makanan diluar itu memang enak, tapi masaknya gak pakai cinta.” Jawab Ibu pelan, tapi masih terdengar manjanya.

“Iya sudah, yang penting Ibu nanti makan ya.” Ucap Ayah lalu Beliau mencubit mesra pipi Ibuku.

Uhh, gila. Aku disuguhkan pemandangan yang penuh cinta dan kasih sayang saat ini. Kalau aku merasa, Ayah pasti sudah tau kalau aku ini bukan anak kandungnya. Itu tersirat dari setiap ucapannya tadi dan Ibu langsung histeris mendengarnya. Tapi walaupun Ayah tau tentang semua itu, Ayah terlihat sangat mencintai Ibu dan menerima Ibu dengan segala kasih sayangnya. Luar biasa sekali Ayahku ini.

Aku lalu membersihkan sisa air mata yang mengambang dikelopak mataku. Aku sekarang seperti terlahir kembali, dan aku mempunyai kekuatan baru didalam tubuhku. Kekuatan yang didasari oleh cinta yang sangat luar biasa dihadapanku ini. Gila.

Ayah membelai mesra pipi Ibuku dan Ibuku membalasnya dengan tatapan cintanya. Ini adalah pemandangan yang sangat luar biasa, yang pernah aku lihat seumur hidupku.

“Ehem. Kok pacarannya dihadapan Badai sih.?” Ucapku dan kedua orang tuaku ini, langsung melihat kearahku.

“Apasih Nak.” Ucap Beliau berdua dengan kompaknya.

“Katanya tadi Ayah lapar, katanya Ibu mau masak, kok malah pacaran.?” Ucapku yang terus menggoda.

Ayah lalu mencubit pipi kananku dan Ibu mencubit pipi kiriku.

“Terus ya, terus.” Ucap Beliau berdua bergantian.

“Ampun Yah, ampun Bu.” Ucapku yang merengek manja.

“Hehehe.” Dan tawa yang begitu bahagianya, menutup tangis kami disore menjelang malam ini. Kami bertiga tertawa lalu saling berpelukan lagi.

Kebahagiaan kami dilanjutkan dengan memasak bareng. Tawa dan canda menemani kami bertiga didalam dapur ini. Ibu memasak nasi goreng special, tapi special kali ini sangat luar biasa. Nasi goreng special cinta.

Setelah makanan jadi, kami bertiga makan dengan lahapnya dan sesekali saling menyuapi. Tidak terlihat kesedihan lagi diwajah Ibu dan Ayah, lalu perlahan wajah Beliau berdua terlihat agak segar dan tidak sekusut tadi.

Setelah makan malam, kami bertiga berkumpul diruang tengah sambil menikmati kopi. Suasana kehangatan dan kebahagian, terus mangalir sampai detik ini didalam rumahku dan semoga sampai selamanya.

KRING, KRING, KRING.

Hpku berdering dan aku langsung melihat kelayar Hpku. Terlihat nama Amir yang menelponku dan aku langsung mengangkat telponnya.

“Halo.” Ucapku.

“Dimana kamu.?” Tanya Amir dengan nada yang sangat serius.

“Dirumahlah. Oh iya Mir, besok aja ya keluarnya. Aku masih kangen sama Ibuku.” Ucapku sambil merangkul pundak Ibuku, yang duduk disebelahku.

“Tapi kita harus ketemu malam ini.” Ucap Amir dan nadanya makin terdengar serius.

“Kenapa sih.?” Tanyaku.

“Ini masalah Devi.” Ucap Amir dan aku langsung terdiam mendengar ucapannya itu.

“Siap – siap. Roy sudah dalam perjalan kerumahmu.” Ucap Amir lalu dia menutup telponnya.


Adapa lagi ini.? Kok sepertinya ada sesuatu yang sangat serius dan disembunyikan oleh Amir. Biasanya kalau aku menolak untuk berkumpul, dia pasti akan memaklumi dan tidak akan memaksaku bagaimanapun kondisinya. Tapi kenapa malam ini dia begitu memaksa.? Padahal dia tau aku baru datang dan ini saat – saat aku melepas kangen dengan keluargaku.

“Ada apa Nak.?” Tanya Ibuku.

“Amir ngajak ketemuan Bu, kelihatannya ada masalah penting.” Ucapku.

“Ya sudah, keluar aja. Tapi jangan malam – malam pulangnya.” Ucap Ibuku sambil membelai rambut sampingku.

“Iya Nak, mungkin teman – temanmu kangen sama kamu.” Ucap Ayahku yang ikut bersuara.

TIN.

Terdengar bunyi klakson dari depan rumahku dan mungkin itu mobil Roy yang menjemputku.

“Dijemput nak.?” Tanya Ibu.

“Iya Bu.” Jawabku.

“Ya udah, pergilah. Kasihan temanmu menunggu.” Ucap Ibuku.

“Iya Bu, saya pamit ya.” Ucapku sambil meraih tangan Beliau, lalu mencium punggung tangan Beliau.

Cuupp.

Ibu mengecup keningku dengan lembut.

“Hati – hati ya sayang.” Ucap Ibuku dan aku mengangguk sambil tersenyum.

Aku lalu berjalan kearah Ayah, lalu meraih tangan kanan Beliau dan menciumnya.

“Hati – hati Nak.” Ucap Ayahku sambil membelai rambutku.

Aku lalu menegakkan tubuhku dan tersenyum kepada kedua orang tuaku, lalu aku melangkah kearah pintu rumahku.

Ketika aku sudah berada diluar rumah, lagi dan lagi dadaku berdetak dengan cepat. Lalu beberapa saat kemudian, kembali aku diselimuti rasa takut yang sangat luar biasa dan lebih takut dari pada tadi siang. Ada apa ini.? Apalagi masalah yang sedang menantiku saat ini.? Kok aku jadi seperti ini.?

Hiufftt, huuu.

Aku menarik nafasku dalam – dalam, lalu mengeluarkannya perlahan. Aku menenangkan diriku sejenak, sambil melihat kearah mobil Roy yang menungguku.

Beberapa saat kemudian, aku sudah berada didalam mobil Roy yang melaju kearah kota. Roy diam saja, mulai aku masuk kedalam mobilnya tadi sampai sekarang.

“Kita mau kemana Roy.?” Tanyaku dan Roy tidak menjawab pertanyaanku.

“Roy.” Panggilku dan dia langsung melihatku dengan wajah yang terlihat ketakutan sekali.

“Kamu itu kenapa.?” Tanyaku.

“Gak apa – apa.” Ucapnya lalu melihat kearah depan lagi.

“Kalau gak ada apa – apa, kenapa wajahmu begitu.? Emang ada apa sih.? Terus kita mau kemana.?” Tanyaku dengan penasarannya.

“Kita kerumah sakit.” Ucap Roy, lalu terlihat dia menelan ludahnya dengan sangat berat sekali.

“Rumah sakit.? Siapa yang sakit.? Katanya Amir tadi kita mau temuin Devi. Kok malah mau kerumah sakit sih.?” Tanyaku dengan nada yang mulai meninggi.

Roy semakin ketakutan dan sekarang mobil kami, sudah dekat dengan rumah sakit yang ada ditengah kota.

“Ah, taik.” Ucapku dengan emosinya.

Aku marah dan emosi seperti ini, bukan kepada Roy. Aku hanya mengeluarkan kepanikan yang mulai hinggap dikepalaku. Aku tau Roy pasti tidak berani mengatakan kepadaku, karena pasti masalah ini sangat berat sekali. Dia pasti hanya ingin membawaku kepermasalahan itu, supaya aku bisa melihatnya sendiri.

Tapi masalah apa.? Kok sampai seorang Roy yang sahabat dekatku ini, takut untuk menyampaikannya kepadaku. Apa ini ada hubungannya dengan Devi.? Apa Devi sakit.? Sakit apa.?

Arrghhh. Setelah satu masalah yang membuat hatiku berdebar – debar selesai, sekarang aku harus menghadapi sesuatu yang aku tidak tau masalahnya. Tapi jujur, sekarang ini aku lebih panik dari sebelumnya.

Kenapa aku jadi panikan seperti ini sih.? Aku yang biasa tenang dan santai dalam menghadapi masalah yang sangat besar sekalipun, kenapa hari ini jadi seperti ini.? Bangsat.

Perasaanku makin tidak karuan, ketika mobil yang dikendarai Roy ini masuk kedalam area rumah sakit.

DAG, DUG, DAG, DUG, DAG, DUG, DAG, DUG, DAG, DUG.

DAG, DUG, DAG, DUG, DAG, DUG, DAG, DUG, DAG, DUG.

Jantungku berdetak dengan kencangnya.

Aku menarik nafasku sambil memejamkan kedua mataku, lalu membukanya perlahan, sambil mengeluarkan nafasku.

“Devi sakit apa Roy.?” Tanyaku, ketika mobil ini sudah terpakir.

“Aku gak bisa ngomong Day. Lebih baik sekarang kita turun dan kamu lihat sendiri di ruang ICU. Devi dalam keadaan koma sekarang ini.” Ucap Roy dengan suara pelan dan bergetar.

“Anjing. Kenapa kamu gak bilang dari tadi.” Ucapku dengan emosinya, lalu aku membuka pintu mobil dan berlari kearah ruang ICU.

Bangsat. Ada dengan Devi.? Kenapa bisa dia koma.? Dia sakit atau habis kecelakaan sih.? Bajingan.

Aku terus berlari dengan perasaan yang sangat kacau sekali. kenapa hari ini aku menghadapi ujian – ujian yang begitu besarnya.? Kenapa.?

Aargghhhhh.

Ketika aku sudah sampai didepan ruang ICU, terlihat Amir berdiri sambil melihat kearahku. Tampak banyak sekali aparat yang memakai pakaian dinas, maupun berpakaian preman diarea depan ICU ini. Aku pun tidak menghiraukan kehadiran para aparat itu. Aku hanya berjalan cepat kearah Amir.

“Mana Devi.? Hu, hu, hu.” Ucapku dengan diiringi nafas yang cepat dan memburu.

“Di, di dalam Day.” Ucap Amir yang terbata.

Aku pun langsung berjalan cepat kearah pintu ruang ICU dan salah aparat langsung menghalagi jalanku.

“Bapak siapa.? Ada keperluan apa.?” Tanya Aparat itu kepadaku.

“Saya tidak ada urusan dengan Bapak atau siapapun yang ada disini. Saya hanya mau menemui Devi.” Ucapku dengan nada yang tinggi.

“Bapak ini suami Bu Devi Andarwati ya.? Bapak ini Ayah dari balita bernama Arcano.?” Tanya aparat itu, yang langsung membuatku terkejut dan melotot.

Ayah dari balita.? Apa balita yang dimaksud aparat ini, anak laki – laki yang datang bersama Devi ke alam bawah sadarku ketika itu.? Jadi beneran aku sudah punya anak dari Devi.?

Bangsat.

Perasaan senang, sedih, gembira dan marah, langsung mengaduk - aduk perasaanku saat ini. Pikiranku makin kacau dan buntu seketika.

Tenang Day, tenang. Kamu harus tenang dalam kondisi seperti ini.

Aku lalu menarik nafasku dalam – dalam lagi, lalu mengeluarkannya perlahan.

“Iya Pak.” Ucapku dengan suara yang bergetar.

“Benar Pak.” Sahut Amir dibelakangku dan aparat itu langsung melihat kearah Amir.

“Oke. Bapak boleh masuk, tapi Bapak harus tenang dan tidak boleh membuat keributan didalam sana.” Ucap Aparat itu.

“Iya Pak, iya. Sekarang tolong ijinkan aku masuk.” Ucapku yang langsung menyanggupi ucapan aparat itu.

Aparat itu langsung membuka pintu ICU dan aku langsung melangkah masuk kedalam ruangan, dengan kedua kaki yang bergetar.

TIT.. TIT.. TIT.. TIT.. TIT.. TIT..

Bunyi alat ventilator yang terdengar dari arah sebelah kiriku, langsung membuat langkahku terhenti dan aku menoleh kearah suara itu perlahan.

Akupun langsung disambut dengan pemandangan yang sangat menggetarkan hatiku, dan sempat membuat jantungku terasa berhenti berdetak sesaat. Seorang wanita tergolek lemah, dengan wajah dipenuhi luka lebam, serta sebagian tubuh yang ditutupi selimut. Kedua tangannya dipasang selang – selang yang entah apa gunanya, dan dihidungnya dipasang selang untuk bantuan pernafasan.

Sementara itu dikasur sebelahnya, seorang balita juga tergolek dengan wajah yang membiru dan juga ada lukanya.

Bangsat. Apa wanita itu Devi.? Apa anak laki – laki itu Arcano anakku.? Tapi kenapa bisa kondisi kedua orang ini menyedihkan sekali.? Apa mereka habis kecelakaan.? Atau ada yang berbuat sesuatu yang biadab, kepada kedua orang yang kusayangi ini.?

Bukan, bukan. Ini pasti bukan Devi dan Arcano. Ini pasti orang lain.

Pandanganku langsung tertuju pada papan nama yang berada ditepi ranjang dan aku bisa melihatnya dengan jelas. Devi Andarwati dan diranjang satunya tertulis Arcano.

Anjing. Anjing. Anjing.

Mereka benaran orang yang sangat aku sayangi njing. Bajingaann.

Tubuhku langsung bergetar dengan hebatnya dan kedua tanganku langsung terkepal dengan kuatnya. Aku melangkah kearah Devi dan Arcano dengan pelan, dan diiringi emosi yang mulai membakar seluruh tubuhku.



Devi Andarwati

“Herg, herg, herg, herg.” Nafasku mengerang dan terasa sangat berat sekali.

Pandanganku berubah menjadi merah, lalu meredup, merah lagi, lalu meredup lagi.

Aku lalu menguatkan langkahku dan aku buat setegar mungkin, dengan pemandangan yang sangat membangsatkan ini.

Dan ketika aku sudah berdiri diantara kedua kasur ini, pandanganku semakin jelas kewajah ke kedua orang ini. Tampak wajah cantiknya, leher putihnya, bagian atas dada yang mulus dan tangan Devi yang tidak tertutup selimut, membiru dan penuh luka sayatan, bekas penganiayaan yang sangat kejam sekali. Pemandangan itu terlihat begitu menusuk – nusuk jantungku.

Aku lalu mengalihkan pandangku kearah Arcano, dan terlihat ada bekas benturan dikeningnya. Hidung dan mulut bayi mungil itu terluka, dan sekujur tubuhnya yang tidak tertutup selimut, terlihat membiru.

BANGSATTT.

Pandanganku langsung berubah menjadi merah seperti darah, disertai air mata yang langsung menetes dengan derasnya. Akupun sudah tidak sanggup lagi melihat pemandangan yang sangat - sangat menyedihkan ini. Aku sampai mendongakkan kepalaku keatas, sambil mengutuk diriku sendiri.

Bajingan, anjing, bangsat, tai lasso.

Kenapa semua ini terjadi dan kenapa aku tidak bisa melindungi mereka.? Percuma namaku Badai, kalau aku tidak bisa melindungi orang - orang yang ada disekitar pusaranku yang menggila ini.

Aku harus segera mencari siapa pelaku kebiadaban ini dan aku harus membalasnya lebih kejam lagi. Bajingann.

TIT.. TIT.. TIT.. TIT.. TIT.. TIT..

Bunyi alat ventilator yang terdengar, membuat emosiku semakin menjadi. Aku harus segera keluar ruangan ini, sebelum aku menggila dan menghajar siapapun yang ada disekitarku. Aku harus segera mencari para pelakunya, sebelum kedua orang yang aku sayangi ini tersadar dari komanya.

Dan ketika aku membalikkan tubuhku dan akan melangkahkan kakiku,

“De, De, De, Dai.” Terdengar suara Devi yang lemah dan terbata.

Aku yang terkejut, langsung berbalik lagi dan pandangan mataku langsung berubah menjadi seperti biasa, tidak memerah seperti darah.

“Devi.” Ucapku sambil melangkah kearahnya.

Aku menggenggam tangan kanannya dan kedua lututku langsung terjatuh, sampai bertumpu pada lantai.

Buhhggg.

“Dev, ada apa dengan mu.? Siapa yang melakukan ini padamu.?” Tanyaku sambil mengelus rambutnya dengan tangan kiri, dan telapak tangan kananku memegang telapak tangan kanannya. Akupun menguatkan hatiku untuk melihat wajah Devi yang dipenuhi luka sayatan itu.

Devi berusaha tersenyum dengan bibir yang penuh luka dan mencoba melebarkan kedua kelopak matanya yang bengkak.

“Dev, Devi. Hiks, hiks, hiks.” Dan akupun langsung menangis dihadapannya.

“I, i, i, itu. A, a, anak. Ki, ki, kita Dai.” Ucap Devi sambil mengkodeku untuk melihat kearah Arcano.

“Ja, jaga dia. Da, dan ber, berikan dia kasih sayangmu.” Ucap Devi yang semakin melemah.

“Enggak, enggak. Aku mau menjaganya bersamamu dan kamu gak boleh kemana – mana. Kamu harus kuat dan kamu harus cepat sembuh.” Ucapku pelan tapi sangat tegas sekali.

Devi menggeleng pelan.

“Se, se, sekarang waktunya, huuuuuu. Waktunya kamu yang menjaga, hiuufftttt, huuu. Arcano.” Ucap Devi yang sangat sulit berbicara dengan lancar.

“Enggak, enggak, enggak Dev. Kita harus menjaga putra kita ini bersama – sama. Kita harus memberikan kasih sayang kita kepada Arcano, sampai dewasa nanti. Aku sayang kamu Dev, aku sayang kamu. Hiks, hiks, hiks.” Ucapku dan baru kali ini aku berbicara jujur tentang perasaanku kepada Devi.

TIT.. TIT.. TIT.. TIT.. TIT.. TIT..

Bunyi alat ventilator yang terdengar makin cepat dan aku langsung melihat kearah alat itu sambil berdiri.

“Dev, Dev, kamu harus kuat kuat sayang, kamu harus kuat.” Ucapku yang panik ini.

“Ma, ma, maaf. Sayang. Huuuuuuu.” Ucap Devi sambil mengelurkan nafasnya yang agak panjang, lalu.

TIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIITTTTTTT.

Bunyi alat itu terdengar panjang dan garis lurus terlihat dilayar monitor yang kecil. Pegangan tangan Devi ditelapak tangankupun, mulai melemas dan terlepas.

Aku lalu melihat kearah wajah Devi yang seperti sedang tertidur dengan dengan nyenyaknya.

A, a, apa maksudnya ini.? Apa Devi sudah pergi.? Apa Devi beneran sudah meninggalkan aku.? Ini bercanda kan.? Ini bercanda kan njing.? INIKAN BERCANDA KAN. INI BERCANDA KAN NJING.? ANJING.!!!

“Dev, Dev, Devi. Bangun sayang. Bangun.” Ucapku sambil menggoyang pelan tangannya, karena aku takut dia kesakitan dengan sentuhanku ini.

“Dev, jangan bercanda sayang, jangan bercanda. Bangunlah Dev. Aku janji gak akan meninggalkan kamu lagi sayang, aku janji.” Ucapku dengan suara yang begetar dan butiran air mata yang menetes dengan bangsatnya.

Devi tetap tidak bangun dan semakin tertidur dengan nyenyaknya.

Aku lalu mengecup keningnya yang penuh dengan sayatan luka.

Pelan, perlahan dan sangat - sangat lembut sekali aku mengecupnya. Dan sekali lagi aku tidak ingin dia kesakitan dengan sentuhanku, yang sekarang aku lakukan dengan bibirku ini.

Cupp.

“Dev, Devi.” Panggiku dan sekarang suaraku mulai terdengar mengeras.

“Dai, Badai.” Terdengar suara Amir dibelakangku dan aku tidak menghiraukannya.

“Iklaskan Devi Dai, iklaskan Devi.” Giliran Roy yang bersuara dengan diiringi tangisnya.

Mendengar ucapan Roy itu, kedua mataku langsung memerah darah lagi dan aku langsung melihat kearahnya.

“Apa yang harus aku ikhlaskan.? Apa.? Jangan kamu berbicara lagi, kalau tidak aku akan membantaimu ditempat ini.” Ucapku dengan nada yang sangat berat dan suara yang bergetar.

Dipandanganku yang memerah darah ini, terlihat bayangan Amir, Roy dan beberapa orang disekitarnya, mundur perlahan dengan ketakutan.

Aku lalu melihat kearah wajah Devi lagi.

“Dev, mereka berbohongkan.? Apa yang harus aku ikhlaskan.? Kamu gak pergi kan.? kamu gak meninggalkan aku kan.?” Ucapku.

“Dev, Devi, DEVIIIII.” Ucapku pelan lalu aku berteriak, tapi Devi tidak bangun juga.

“ARGGHHHHHHH.” Aku berteriak dengan kencangnya.

Suarakupun langsung menggema diruangan ini dan membuat sebagian orang didalam ruangan ini, lari keluar dan ketakutan.

Dan ketika aku melihat kearah pergelangan tangan kiri Devi, aku melihat inisial dua huruf tersayat ditangannya. Walapun pandanganku memerah darah seperti ini, huruf itu terlihat dengan jelasnya. BD.

Seketika itu darahku langsung mendidih dan tubuhku memanas sejadi – jadinya. Emosikupun terbakar dengan hebatnya, dan jiwa membunuhku bangkit lalu meminta tumbal atas kedatangannya ini.

BD, BD, BD. Aku akan membunuh kalian satu persatu, dengan cara yang sangat keji sekali.

Setiap darah yang menetes dari tubuh Devi, akan kalian bayar dengan seluruh darah yang ada didalam tubuh kalian. Aku akan membuat darah kalian mengalir sampai tetesan darah yang terakhir, keluar dari tubuh kalian.

Setiap luka yang tergores ditubuh Devi, akan kalian bayar dengan luka disekujur tubuh kalian. Aku akan menguliti kalian hidup – hidup, sampai tidak terdengar jerit kesakitan keluar dari mulut kalian.

“BeDe, BeDe, BeDeeeeeeeee.” Teriakku dengan emosinya, lalu tiba – tiba,

BUHHGGGG, JEDUK, BUUMMM.

Tubuhku melemah dan aku roboh kelantai rumah sakit ini.

Anjing, kenapa tubuhku bisa melemah dan kenapa bisa roboh kelantai.? Harusnya dengan kondisiku yang sedang dikuasai emosi yang menggila seperti ini, aku memiliki kekuatan yang sangat dasyat. Tapi kenapa justru aku roboh dan tergeletak tidak berdaya seperti ini.? Jangankan bergerak, bersuara saja aku sudah tidak sanggup saat ini. Aku hanya bisa diam dan terkurung didalam kegelapan mata yang terpejam.

Apa puncak dari segala emosi itu, ketika mulut sudah tidak sanggup mengeluarkan kata – kata dan tubuh sudah tidak memiliki tenaga.? Apa puncak dari segala emosi itu, hanya diam dan tidak melakukan apa – apa.? Apa puncak dari segala emosi itu, hanya menikmati kesakitan.? Tidak ada balas dendam dan hanya memaafkan.?

TAIK.!!! Tidak ada kalimat seperti itu, didalam buku perjalanan hidup Badai Ihsan Narendra.

Air mata dibalas air mata, siksaan dibalas siksaan, darah dibalas darah, nyawa dibalas nyawa. Setiap detail penderitaanku dan detail penderitaan orang - orang tersayangku, harus mereka bayar tunai didunia ini. Itu janjiku, janji seorang Badai yang sudah terusik.

Dan sekarang, didalam kondisiku yang terpejam dan tertidur ini, tiba – tiba aku merasa seluruh tubuhku diselimuti hawa panas yang sangat luar biasa. Lantai yang aku tiduri dan harusnya dingin, juga terasa sangat panas sekali.

“Tolong – tolong.”

“Sakit, sakit, sakiittttt.”

“Ampun, ampun. Bunuh saja aku, dari pada aku harus disiksa seperti ini. Bunuhhh.”

Tiba – tiba terdengar jeritan orang – orang yang ada disekelilingku. Ada yang kesakitan, minta tolong dan minta ampun.

Dimana aku ini.? Kenapa dalam kondisi seperti ini, aku selalu saja terdampar ditempat terasing dan seperti dineraka.? Apa aku sekarang berada di rumah iblis yang bermata merah itu lagi.?

Aku lalu menarik nafasku yang berat ini perlahan, dan dengan sisa - sisa kekuatanku, aku membuka kedua mataku pelan.

Hawa panas yang sangat menyengat, langsung menyambut pandangan kedua mataku. Dan ternyata, aku tertidur disebuah batu yang sangat besar sekali. Aku lalu berusaha duduk dan pemandangan yang mengerikan, kembali terlihat dimataku.

Banyak orang yang disiksa dan dikuliti hidup – hidup diatas batu ini, lalu kulitnya dibuang ketepi batu.

Lalu dengan bersusah payah aku berdiri, setelah itu aku melihat kearah sekelilingku. Dan ternyata, batu yang aku injak ini dikelilingi lautan lahar panas yang menyala dan mendidih. Sejauh mataku memandang, hanya terlihat lautan lahar dan diselimuti langit yang berwarna hitam pekat diatas sana.

Bajingan. Apa sekarang aku berada didalam perut gunung berapi.? Atau aku sekarang berada dineraka sisi bagian lain.? Gila, ini gila banget.

“Apa kabar anak muda.? Kita bertemu lagi disalah satu rumahku.” Suara sesosok mahluk, terdengar dari arah belakangku.

Aku lalu membalikan tubuhku dan melihat kearah asal suara itu. Sesosok mahluk berdiri dihadapanku ini, sambil memegang gagang pedangnya, yang bagian ujungnya tertancap ditanah


Mahluk Mata Merah Badai

Gila, dia ini kan mahluk yang mendatangi aku, ketika aku membantai Hegor dan Modus dihari itu. Kenapa dia sekarang muncul lagi dan kenapa aku berada dirumahnya.? Mahluk ini sekarang terlihat lebih mengerikan dan tubuhnya memerah seperti darah. Dia memang mahluk yang kutemui hari itu, tapi sekarang dia terlihat lebih kuat dan tatapan matanya yang memerah, terlihat lebih buas dan lebih kejam.

“Hiuffttttt.” Mahluk itu terdengar sedang menarik nafasnya.

“Aku mencium aroma balas dendam yang begitu nikmatnya dari tubuhmu. Aku melihat aura kemarahan yang sangat luar biasa dari tatapan matamu. Aku merasakan detakan jantungmu yang begitu merdu, dan mengalirkan darah – darah kebencian keseluruh tubuhmu.” Ucap Mahluk itu dengan suara yang sangat menyeramkan.

“Apa urusanmu dengan kehidupanku.?” Tanyaku dengan suara yang berat, sambil menatapnya dengan tajam.

“Aku suka tatapan matamu ini, karena pasti ada pertumpahan darah setelah itu. Aku cinta dengan nada bicaramu ini, karena yang keluar pasti amarah yang menggila. Aku ingin bermesraan dengan balas dendammu, Aku ingin membelai kemarahanmu, dan aku ingin menari bersama kebencian yang menguasai tubuhmu.” Ucap mahluk itu, sambil menggerakan kepalanya kekanan dan kekiri pelan.

“Tidak usah mencampuri urusanku dan biarkan aku yang menyelesaikan ini sendiri.” Ucapku pelan tapi sangat tegas.

“Aku tidak perduli kamu bersedia atau tidak, dengan keterlibatanku ini. Aku telah menyatu didalam tubuhmu, aku berada didalam aliran darahmu, aku tinggal di denyutan nadimu dan aku hidup didetak jantungmu.” Ucap Mahluk itu dengan tatapan matanya yang semakin memerah.

“Bicaralah semaumu dan sesuka hatimu. Tapi ingat, aku bukan budakmu.” Ucapku lalu aku tersenyum dengan bengisnya.

“Jaga ucapanmu anak muda. Aku adalah tuanmu, aku tuan hawa nafsumu, aku tuan balas dendammu, aku tuan kemarahanmu dan aku tuan kebencianmu. Kamu akan mengikuti semua kemauanku dan kamu adalah budakku.” Ucap Mahluk itu dan terdengar dia sangat marah sekali.

“Juihhh. Taik.” Aku meludah dihadapannya, lalu memaki kearahnya. Sengaja aku melakukan itu, karena dia pasti akan merasuki tubuhku dan kekuatanku pasti akan lebih menggila. Seperti waktu aku membantai Hegor dan Modus bersama Dede waktu itu.

“BANGSAAATTT.” Teriaknya sambil mengangkat pedangnya yang panjang.

Mahluk itu lalu mengayunkan pedangnya dari arah belakang tubuhnya dan mengarahkan keatas kepalaku, tepat ditengah ubun – ubunku.

Aku merentangkan kedua tanganku, lalu mendangakkan kepalaku keatas. Mata pedang yang tajam itu terlihat mengarah kekeningku dan aku menyambutnya dengan senyuman.

JRABBBBB.

Gelap.




“Hiks, hiks, hiks.” Tangisan dari anak kecil terdengar begitu menyedihkannya ditelingaku.

Kesedihan, ketakutan, kerinduan, dan butuh pelukan kasih sayang, menyatu didalam tangisan anak kecil itu.

Suara siapa itu.? Apa itu suara Arcano.? Apa dia berada ditempat gelap ini.? Apa dia sedang mencari dan menyusul Devi.?

Tidak, tidak mungkin. Aku belum menyentuh anakku dan aku belum menimangnya. Aku belum memeluk anakku dan aku belum menciumnya. Aku belum memberinya kasih sayang dan aku belum menjalankan kewajibanku sedikitpun sebagai Ayah.

Arcano tidak boleh pergi dan dia tidak boleh meninggalkan aku. Aku harus cepat bangun dari kegelapan ini dan mencari Arcano sekarang juga.

“ARACANO, ARCANOOO, ARACANOO..” Teriakku sambil membuka kedua mataku sekuat tenaga, dan aku menegakkan tubuhku. Aku terduduk dan ternyata sekarang aku berada diranjang rumah sakit.

Ayah, Ibu, Amir, Roy, serta kedua orang tua Devi, berada disekelilingku dan melihatku dengan wajah yang sangat sedih sekali. Pandangankupun sudah tidak memerah lagi, dan aku merasa dadaku tidak sesesak tadi.

“Nak, nak, kamu sudah sadar sayang.?” Ucap Ibuku sambil membelai rambut dan aku langsung menatap wajah Ibu.

“Dimana Arcano Bu.?” Tanyaku dan air mata Ibu langsung mengalir dengan derasnya.

“HIKS, HIKS, HIKS.” Ibu menangis dengan kerasnya.

“Bu, kenapa Bu.? Dimana Arcano.?” Tanyaku sekali lagi, dengan rasa ketakutan yang sangat luar biasa.

“Hiks, hiks, hiks.” Terdengar tangis anak kecil dari ranjang sebelah, dan aku langsung melihat kearah ranjang, tapi tertutup tubuh Ibuku ini.

“Bu, itu suara siapa.? Apa itu Arcano.?” Tanyaku dengan suara yang bergetar.

“Hiks, hiks, hiks.” Ibu hanya menangis sambil menganggukan kepalanya pelan.

Kedua mataku langsung terbuka dengan lebarnya, lalu kaki kananku aku turunkan kelantai dan dilanjut dengan kaki kiriku.

Ibu menggeser tubuhnya kekanan, sampai tubuh mungil Arcano terlihat jelas olehku.

“Hiks, hiks, hiks.” Arcano menangis sambil menoleh kearahku. Luka diwajahnya sudah mengering dan tubuhnya sudah tidak membiru seperti tadi.

Aku lalu berdiri dengan kaki yang bergetar, lalu berjalan pelan kearah Arcano yang terus menangis.

Gila, tubuh laki – laki mungil ini adalah anakku dan tubuh mungil ini adalah darah dagingku.

Aku tidak menyambutnya, ketika dia pertama kali keluar dari Rahim Ibunya. Dia anakku dan tidak pernah melihat wajahku sampai detik ini.

Betapa nelangsanya hatiku, ketika membayangkan Devi melahirkan dan aku tidak ada disisinya. Aku adalah laki – laki pendosa dan aku hanya menikmati tubuhnya, lalu pergi meninggalkannya, dengan benih cinta kami yang tertanam dirahimnya.

Ini bukan salah Devi yang tidak memberi tahu aku, tapi ini kesalahanku yang terlalu angkuh dengan kerasnya hatiku.

Harusnya aku yang mencari kabar tentang Devi, walaupun aku berada di Kota Pendidikan. Bukannya aku membiarkannya hilang tanpa jejak.

Bodoh, bodoh, dan Bodoh. Ini adalah kesalahan dan dosa terbesar dikehidupanku.

Tapi cukup, aku tidak boleh larut dalam kesalahanku, karena Devi telah menitipkan buah hati kami ini kepadaku. Sekarang giliran aku yang akan merawatnya.

Hiuffttt, huuuu.

Aku menarik nafasku pelan, sambil menatap mata anakku tersayang.

“Hiks, hiks, hiks.” Tangis Arcano semakin menjadi dan aku langsung memasukkan kedua tanganku dibawah ketiaknya.

Aku lalu mengangkat tubuh anakku perlahan, sampai tubuhnya terangkat diatas kepalaku sedikit.

“Arcano Arsa Badai.” Ucapku dengan suara yang bergetar.

Tangis Arcano perlahan terhenti dan aku langsung menggendongnya didadaku, lalu mendekapnya dengan penuh kasih sayang.

Arcano Arsa Badai.

Dia adalah putraku, dia kebanggaanku, dia belahan jiwaku dan dia adalah nyawaku. Aku akan menjaga dengan sepenuh hatiku dan aku tidak akan membuatnya kekurangan kasih sayang, walau aku seorang diri yang merawatnya.

Tapi sebelum itu, aku akan menuaikan janjiku. Aku akan mencari pembunuh istriku dan orang yang melukai putra mungilku ini. Aku tidak akan tenang seumur hidupku, kalau aku tidak segera menemukan manusia – manusia biadab itu. Darahku akan terus mendidih dan tawa iblis mata merah itu, pasti akan terus menggema diseluruh isi ruang kepalaku.







#Cuukkk. Aku Badai. Aku akan mengguncang dunia ini dengan iblis mata merah yang menyatu dengan badai amarahku. Aku akan menggulung dan meremukkan tubuh para manusia biadab itu, dengan kekuatan yang maha dasyat. Tidak ada yang bisa menghentikannya, kecuali aku telah menemukan ‘senyum’ Arcano. BAJINGAANN.!!!
 
Terakhir diubah:

Kisanak87

Pendekar Semprot
Thread Starter
Daftar
19 May 2017
Post
1.792
Like diterima
94.913
Saya mau tanya @Kisanak87 apakah ide penulisan dan alur cerita ini murni dari pemikiran anda sendiri......?
Kalau seumpama ada yang membantu di balik layar, tolong hu di perkenalkan kepada kami.....
Karena agar lebih mengenal lebih dekat
Selamat siang menjelang sore.

Update pertama MATAHARI Bagian 3, sekaligus menjawab pertanyaan om @Boogeman
Pertanyaan seperti ini sering di lempar kepada saya dan sekarang saya akan menjawabnya.
Semua cerita yang saya tulis, hasil pikiran dan rangkuman saya sendiri.
Idenya dari mana.?
Dari kejadian yang ada disekitar,
Dari pengalaman pribadi atau pun pengalaman orang terdekat,
Dari saran dan masukan kawan - kawan yang berkomentar disetiap saya update,
Terus semua digabung, dirangkum dan ditambahi bumbu imajinasi yang sedikit menjacukkan.

Mungkin itu jawaban dari saya dan semoga memuaskan.

Cerita MATAHARI 3 ini mungkin agak lambat Updetnya, Karena saya juga harus konsentrasi untuk cerita IMPIAN.

Dan mohon dimaafkan, karena dikedua cerita saya yang masih berjalan ini, adegan 'enak - enaknya' kurang banyak.

Terimakasih atas sambutan yang sangat luar biasa,
Semoga updetan kali ini sedikit memuaskan.
Jangan lupan saran dan masukannya.

Salam Hormat dan Salam Persaudaraan.

:beer::beer::beer:
 
Terakhir diubah:
Sbo Hoki Online   Senior Bola Online
Jav Toys
9 club   Gaple Online Indonesia
9 club
Pasang iklan hanya lewat CONTACT US
Top
Semprot is now part of PAGCOR