9Club Situs Judi Online Terpercaya
Asus Togel online   Mandala Toto
Pasang iklan, hanya lewat Contact Us.
Waspada penipuan iklan. Klik di sini untuk melihat daftar penipu.

DRAMA Nafsu Para Lelaki Paruh Baya

petercarey

Kakak Semprot
Thread Starter
Daftar
14 Jul 2016
Post
188
Like diterima
1.028

Para Pemain


Eyang Rohimin


Nia Puspitasari



Daftar Isi

PERMULAAN CERITA
KENA VIRUS
ADA YANG LEBIH SERIUS
BERTAHAN DI RUMAH
DINODAI AYAH MERTUA
DIJERAT UTANG (UPDATE)



PERMULAAN CERITA


Di bawah sinar matahari Selasa pagi, rumah beralamat di Tangerang Selatan tampak rimbun dengan pepohonan rindang yang sesekali terhembus oleh angin. Lalu lalang kendaraan yang biasanya melintas di depan rumah itu, begitu lengang karena portal keluar masuk kendaraan ditutup, dialihkan melalui portal lain. Keadaan yang dipicu oleh Wabah CORONA, sehingga perumahan memperketat akses wilayah, dimanfaatkan oleh Pak Rohimin yang kebetulan sedang tandang ke rumah anaknya untuk berolah raga. Lain dari orang seusianya, Pak Rohimin tidak begitu menyukai olahraga senam apalagi lari pagi. Kendati usia akan memasuki 60 tahun, Pak Rohimin masih terlihat segar dan bugar. Oleh karena itu tak heran ia masih lumayan lincah saat bermain bulu tangkis bersama cucunya, Ardian (14 tahun).

"Eyang kenceng banget SMASH nya"
"Jangan di-SMASH muluk dong, eyang..."
"Gak seruu..."

"Memangny kamu ndak bisa SMASH eyang balik?"
"Katanya di sekolah jago main bulu tangkisnya? Hayo..."

"Bukan begitu, eyang..."
"SMASH aku belum sekeras, eyang"

"Nanti eyang ajarin..."
"Sekarang kita lanjut lagi..."

"Serius beneran eyang?"

"Iya...."

"Yesss, tapi sekarang jangan main SMASH-SMASH-an dulu yah?"

"Siyaaaphh, kali ini eyang nungguin kamu SMASH aja..."

"Nah gitu dongggg!!"

Pak Rohimin kembali menggoyangkan raket, memukul kok yang melambung ke langit. Cucunya, Ardian kini lebih bersemangat karena kakeknya berjanji tidak akan melancarkan pukulan SMASH sehingga permainan tidak lekas berakhir cepat. Pada saat permainan itu berlangsung, menantu Pak Rohimin sekaligus Mama Ardian, Nia (39 tahun) baru pulang dari membeli sarapan. Sambil menenteng plastik berisi nasi uduk dan gorengan, Nia melintas di antara permainan. Entah disengaja atau tidak, arah KOK yang dipukul Pak Rohimin mengena bokong Nia yang kebetulan sedang memakai rok pendek selutut. Ardian yang menyadari hal itu justru tertawa.

"Aduh, sakit!"

"Hahahaha, Mama kena KOK!", sahut Ardian dengan gelak tawa"

"Haduh Maaf, Nia, Bapak ndak sengaja...", timpal Pak Rohimin sedikit tersenyum.

"Oh eyang yang mukul. Kirain kamu?!"
"Kalau kamu, udah mama jewer!", jawab Nia mencandai putranya, Ardian.
Nia tak menanggapi hal itu serius, ia lanjut berjalan lalu masuk ke dalam rumah.

"Gak mungkin aku lah..."
"Aku aja ada di sini, masa iya bola KOK nya muter balik gitu, Mah..."

"Yaudah, kamu sama Eyang sarapan dulu gih"
"Mama bentar lagi mau berangkat kerja"

"Entar aja ah, lagi seru nih..."

"Hayo Sarapan dulu, biar ada tenaga...", Eyang berjalan ke arah pintu pagar rumah.

"Yah, eyang, entar aja..."
"Biar nanti habis olahraganya, gak lapar lagi..."

"Eyang udah laper, masa gak boleh makan..."

"Kamu ikut sarapan ja, sayang"
"Kalau lapar lagi, nanti mama beliin lagi nasi uduknya..."

"Huh, yodah degh, aku ikutan sarapan...", gerutu Ardian dengan langkah malas menenteng raket dan mengambil bola KOK yang masih tergeletak di atas aspal jalan.

Putra Pak Rohimin, Lukman (40 tahun) sudah berangkat kerja sebelum pukul 06.00 pagi. Ia bekerja di Jakarta sehingga harus menggeber sepeda motornya lebih pagi supaya tidak terlambat. Sebaliknya Nia, menantu Pak Rohimin, masih bekerja di sekitaran Tangerang sehingga Ia masih ada waktu untuk mengurusi suami, anak, bahkan mertuanya lebih dulu. Pak Rohimin sebetulnya tinggal di kampung, daerah Purwokerto. Ia mengurusi pekerja dan lahan miliknya yang cukup luas untuk bercocok tanam di desa. Sebab tinggal seorang diri semenjak istrinya meninggal dunia, Pak Rohimin sering menghabiskan waktunya untuk menengok Ardian selaku cucunya tersayang di Tangerang. Dalam sebulan ada dua kali Pak Rohimin melepas rindu kepada anak dan cucunya. Ia bisa menghabiskan tiga sampai dengan empat hari di Tangerang, lalu baru kembali ke kampung.

Bagi Ardian, kehadiran Pak Rohimin, eyangnya, membikin suasana rumah jadi ramai. Apalagi situasi pandemi seperti ini Ardian terpaksa belajar daring di rumah. Ia sebentar lagi masuk SMA. Oleh karena itu, Orang tuanya harus tetap giat mencari nafkah, sementara Ardian bisa dibiarkan sendiri atau bersama Eyangnya berdua.

"Ardian! Tolong Mama dong...!"

"Iya, Apa Maaa?! Sebentar aku lagi ambil piring", Ardian bergegas ke kamar orang tuany setelah meletakkan sepasang piring di atas meja makan.

"Tolong ambil BH sama celana dalam mama di kamar mandi dong, Mama udah keburu buka baju nih..."

"Oh, oke, aku ambilin sebentar...", jawab Ardian yang hanya bertemu muka di depan pintu kamar orang tuanya. Nia sekadar menampakkan mukanya karena ia sudah tidak berbusana di kamar, hendak berganti pakaian kerja.

Ketika akan masuk ke kamar mandi, Ardian menyadari ada eyangnya di dalam, "Eyang! eyang lagi di dalem ya?!"

"Iya?! kenapa?! Kamu mau buang air?"
"Dikit lagi! Eyang udah nih!"

"Eyang tolong ambilin pakaian dalem mama dong!"

"Apa?!"

"Tolong ambilin pakaian dalam Mama, eyang!"
"Ada di dalam kamar mandi"

Mendengar apa yang diucapkan Ardian, Pandangan Pak Rohimin lekas mencari-cari barang yang dimaksud. Ia dapati menggantung di belakang pintu kamar mandi.

"Weleh weleh, gede juga tetek kepunyaan menantuku ini..."
"Huh, Lukman menang banyak"
"Sementara ayahnya masih belum juga punya pendamping baru", Pak Rohimin menggamit bra krem agak kecoklatan dan berenda di sekitar pinggir cupnya. Tak ketinggalan celana dalam yang warnanya serupa.

"Ada gak eyang?!", sahut Ardian.

"Ada!...", pintu kamar mandi kemudian terbuka. Pak Rohimin keluar seraya memberikannya kepada Ardian. Tak berlama-lama Ardian lalu melesat dan segera memberikan pakaian dalam itu ke mamanya.

Sejak pertama kali memegang pakaian dalam menantunya sendiri, Pak Rohimin jadi kian bertanya-tanya bagaimana bentuk fisik Nia apabila tidak mengenakan pakaian. Pak Rohimin paham dari luar Nia mempunya bentuk tubuh yang gempal dan berisi. Tapi Pak Rohimin dibikin gelisah dan gamang setelah menyadari Nia memiliki buah dada yang tergolong besar.

"Kamu baik-baik di rumah sama Eyang ya..."
"Mama mau berangkat kerja dulu..."

"Pulang jam berapa?", tanya Ardian memulai sarapan bersama eyangnya.

"Jam 5an seperti biasa"

"Hati-hati kamu, Nia"
"Virus lagi bertebaran di mana-mana", Pak Rohimin mengingatkan sekaligus pandangannya tajam ke arah bagian dada Nia.

"Iya, Ayah..."

"Yuk, Mama berangkat dulu...", Nia menyadari taksi yang dipesannya sudah tiba di depan rumah.

 
Terakhir diubah:
Sbo Hoki Online   Senior Bola Online
Jav Toys
9 club   Gaple Online Indonesia
9 club
Pasang iklan hanya lewat CONTACT US
Top
Semprot is now part of PAGCOR