Asus Togel online   Mandala Toto
Pasang iklan, hanya lewat Contact Us.
Waspada penipuan iklan. Klik di sini untuk melihat daftar penipu.

yakuza58

Semprot Lover
Thread Starter
Daftar
13 Aug 2016
Post
233
Like diterima
1.235


Kurebahkan kepalaku ke meja belajar. Mataku masih berat sekali. Semalam aku baru menamatkan Resident Evil 8 dan baru bisa memejamkan mata pukul tiga pagi. Kalau saja Mama tidak berteriak, tentu aku akan terlambat masuk sekolah.

Kupandangi ruangan kelas yang ramai. Hiro, Daiki, Seiko, Ren, dan semua teman-temanku tampaknya sudah duduk di bangku masing-masing.

Namun, ada satu yang kurang di kelas ini.

“Mana Toshiro?” tanyaku ke Daiki yang duduk di depanku.

“Kau tidak tahu?” dia balik bertanya.

Aku langsung menegakkan badan. “Kalau aku bertanya tentu saja karena aku tidak tahu.”

“Nanti kujelaskan saat istirahat nanti,” bisiknya. “Toshiro mungkin akan dikeluarkan dari sekolah.”

Rasa kantuk menguap sepenuhnya dari kepalaku. “Apa dia ketahuan mencuri majalah porno lagi?”

Daiki menggeleng. “Tidak. Tapi ini lebih buruk lagi. Ah, Pak Yamada sudah datang. Tunggu saja jam istirahat nanti.”

Di sepanjang jam pelajaran, pikiranku hanya membayangkan kemungkinan-kemungkinan kenakalan yang Toshiro lakukan. Anak itu sebenarnya cukup cerdas, tapi kekurangannya dia tidak bisa menahan kebandelannya.

Tahun lalu dia kena skors selama dua bulan karena ketahuan menaruh kamera kecil di toilet guru wanita. Setelah hukumannya selesai, tak lama kemudian dia kena skors dua bulan lagi karena mempermalukan Bu Fumiko di depan kelas.

Kejadian mempermalukan Bu Fumiko itu sebenarnya berkah bagiku dan siswa laki-laki di kelas. Sampai sekarang pun kami masih sering membahasnya.

Bu Fumiko adalah guru matematika kami yang kehadirannya selalu mengundang decak kagum dari siswa laki-laki maupun perempuan. Beliau cukup berumur, mungkin usianya sekitar empat puluh lima. Wajahnya memang sudah dihiasi keriput, tapi berkat perawatan rutin, dia masih tampak memukau. Rambutnya diwarna kecokelatan dan dipotong sampai sejajar bahu.

Namun, bukan wajah atau rambutnya yang membuat banyak siswa terpukau. Bu Fumiko memiliki ukuran tetek yang besar, mungkin sekitar 38C. Meski dia mengenakan seragam dan pakaian formal, dia sama sekali tidak bisa menutupi bagian dadanya yang menonjol. Keseksiannya itu ditambah lagi dengan kegemarannnya menggunakan rok pendek ketat yang juga menonjolkan bongkahan pantatnya. Semakin menjadi-jadilah libido siswa laki-laki yang melihatnya.

Waktu itu Bu Fumiko sedang mengajarkan kami tentang teori Aljabar. Hampir semua murid mendengarkan dengan baik, kecuali aku yang memang kurang berminat dengan matematika. Semua berjalan seperti biasa sampai Bu Fumiko menulis sebuah soal di papan tulis dan menatap ke semua siswa di kelas.


(Bu Guru Fumiko)

Kalau dia sudah menatap begitu, hanya ada satu kesimpulan: dia akan memanggil seorang siswa untuk maju dan mengerjakan soal di papan tulis.

Para siswa, termasuk aku, duduk diam dalam ketegangan.

“Toshiro...,” ujar Bu Fumiko. “Maju dan selesaikan soal itu.”

Siswa lain menghela napas lega. Bu Fumiko bukan guru yang galak, dia tidak pernah marah karena ada siswa yang salah mengerjakan soal. Hanya saja cukup memalukan kalau salah menjawab.

Toshiro bangkit dari tempat duduknya dan berjalan ke depan kelas. Anak itu menyengir. Aku sudah mengenal anak itu sejak sekolah dasar dan cengirannya itu menunjukkan dia sedang merencanakan sesuatu.

Toshiro mengambil spidol dan mengerjakan soal yang tertulis. Dia bukanlah anak bodoh sehingga soal itu selesai dalam waktu kurang dari semenit. Ia meletakkan spidol kembali ke tempatnya.

“Wah bagus sekali Toshiro. Kamu sebenarnya bisa lebih pintar kalau mau membaca buku pelajaran, bukannya majalah porno,” ujar Bu Fumiko.

Siswa lainnya tertawa. Toshiro hanya menyengir.

“Ya sudah. Kembali ke tempat dudukmu,” kata Bu Fumiko.

Tiba-tiba kaki Toshiro tersandung sesuatu dan tubuhnya jatuh ke arah Bu Fumiko. Sebelum menabrak lantai, kedua tangannya menjulur ke depan dan mencengkeram rok yang dikenakan Bu Fumiko. Guru matematika itu memekik. Roknya melorot sampai ke mata kaki, berikut dengan sempak yang ia kenakan.

Para siswa melotot memandangi ke depan. Bukan karena Toshiro yang sekarang tergeletak di lantai, tapi karena memek Bu Fumiko terlihat jelas.

Hari itu juga seluruh siswa di kelas tahu kalau memek Bu Fumiko sedikit ditumbuhi bulu jembut dan dia memiliki tanda lahir di paha kirinya.

Besoknya, orangtua Toshiro dipanggil ke sekolah dan dia kena skors selama dua bulan.

Bel istirahat berbunyi dan menyadarkanku dari lamunan. Kutepuk pundak Daiki yang sedang membereskan buku tulisnya.

“Ada apa dengan Toshiro?” tanyaku lagi.

Daiki berbisik. “Kita bicara di tempat sepi saja. Di sini masih ramai.”

Sikap misterius Daiki membuatku semakin bertanya-tanya, tapi aku yakin kalau Toshiro pasti melakukan hal yang lebih berbahaya ketimbang menurunkan rok guru.

Kami keluar dari kelas dan berjalan menuju gudang penyimpanan peralatan olahraga yang sepi. Daiki mengeluarkan smartphone-nya, membuka folder, dan menunjukkannya kepadaku. Rupanya file video.

“Apa ini?” tanyaku.

“Tonton saja dulu, nanti kamu mengerti kenapa Toshiro dikeluarkan dari sekolah,” jawab Daiki.

Video itu menunjukkan seorang wanita yang sedang berjalan sendirian di daerah perumahan yang sepi. Kamera berada di tempat yang cukup jauh sehingga aku bisa melihat lokasi di sekitarnya.

Aku kenal daerah itu. Rumah Toshiro tidak jauh dari jalan yang dilalui wanita tersebut. Daerah itu memang terkenal sepi dan lampu jalannya tidak seterang lampu jalan di daerah perumahan lain.

Kamera bergerak mendekati si wanita. Ketika semakin mendekat, aku menyadari ternyata wanita itu adalah Ibu Toshiro. Aku mengenalinya karena sudah sering ke rumahnya untuk bermain Playstation sejak kecil.

Seorang pria mengenakan pakaian serba hitam dan mengenakan masker muncul entah dari mana. Pria tersebut membekap mulut Ibu Toshiro dengan tangan kiri, sementara tangan kanannya membuka kancing pakaian Ibu Toshiro.

Darahku mendesir. Meski pria itu mengenakan masker, tapi aku kenal model rambutnya. Pria itu jelas-jelas Toshiro!

Ibu Toshiro meronta-ronta sementara anaknya sudah membuka semua kancing pakaiannya dan menarik behanya. Tetek Ibu Toshiro yang berukuran besar langsung bergelantungan keluar. Si pemegang kamera ikut membantu dengan memegang tangan Ibu Toshiro agar tidak melepaskan diri.

“Lepas celananya,” ujar kameraman. Aku tidak kenal suara itu.

Toshiro merobek celana ibunya dengan gunting dan melepasnya. Ia juga menurunkan sempaknya sampai ibunya benar-benar telanjang bulat.

“Tutup mulutnya pakai sempak itu,” ujar kameraman. Toshiro anehnya menurut saja dan ia menyumpal mulut ibunya dengan sempak.

Kameraman memberikan seutas tali tebal ke Toshiro dan memintanya mengikat tangan ibunya. Toshiro melakukannya tanpa bertanya.

“Sekarang kita akan jalan-jalan,” ujar Toshiro sambil menepok pantat Ibunya.

Ibu Toshiro dibiarkan berjalan di depan dalam keadaan telanjang bulat dan tangan terikat di belakang, sementara Toshiro dan kameraman mengikuti di belakang. Meski ibunya menangis, Toshiro tetap diam.

Yang membuatku merinding adalah mereka melintasi jalanan dengan banyak orang berlalu lalang. Ibu Toshiro menundukkan kepalanya saat orang-orang bersiul melihat tetek dan memeknya. Beberapa orang memelintir pentil Ibu Toshiro, dan Toshiro mengobrol dengan kameraman seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Mereka mengambil jalur yang tidak terlalu ramai untuk menghindari keributan.

Video itu berlangsung selama lima belas menit. Kuberikan smartphone itu ke Daiki.

“Video itu menyebar di internet dan polisi menangkap Toshiro,” ujar Daiki. “Kita tidak tahu dengan kehidupan Toshiro sebenarnya.”

“Dia memang aneh, suka sekali dengan wanita yang lebih tua,” ujarku. “Tapi gak kusangka dia bakal bertingkah sampai jadi penjahat begini.”

“Satoshi, kau kan cukup akrab sama dia. Jangan sampai ketularan tingkah lakunya,” ujar Daiki. Ia melirik ke arlojinya. “Yuk ke kantin. Aku lapar sekali.”

Di sepanjang jalan menuju ke rumah, aku terus memutar video itu di pikiranku. Ada sesuatu yang menarik perhatianku, yaitu kenekatan Toshiro memperlakukan ibu kandungnya sendiri.

Bagaimana kalau aku melakukan hal yang sama ke Mama?

Kutampar pipiku keras-keras. Anak macam apa aku ini sampai berpikir seperti itu! Aku melangkah cepat-cepat untuk mengusir pikiran kotor itu.

Rumahku hanya beberapa blok saja dari sekolah sehingga aku bisa mencapainya kurang dari lima belas menit. Kutekan tombol bel pintu. Hari ini pikiranku penuh sekali dan tidak sabar rasanya bersantai di kamar.

Pintu terbuka. Sebagian badan Mama keluar dari balik pintu. “Masuklah Satoshi.”

Untuk pertama kalinya aku melihat ke bagian dada Mama. Tetek Mama memang besar, bahkan mungkin lebih besar dari tetek Ibu Toshiro.

Mama memandangku. “Kenapa bengong? Masuklah.”

Aku mengerjapkan mata, lalu melangkah masuk.
 
Terakhir diubah:

pussydog

Semprot Addict
Daftar
23 Sep 2016
Post
433
Like diterima
154
waw, apa konsepnya beda dari cerita2 sebelumnya?
 
Sbo Hoki Online   Senior Bola Online
Jav Toys
Gaple Online Indonesia
Pasang iklan hanya lewat CONTACT US
Top
Semprot is now part of PAGCOR