Agen Terpercaya
Mandala Toto   Jackpot 86
Balaksix   Messipoker
Agen 18   Dunia Jackpot
IBO Play   CMD Play
JP Dewa
Pasang iklan, hanya lewat Contact Us.
Waspada penipuan iklan. Klik di sini untuk melihat daftar penipu.

CERBUNG Suamiku Lemah syahwat

indonesia123

Semprot Holic
Daftar
14 Aug 2012
Post
339
Like diterima
147
Part 1

Namaku Anisa, biasa dipanggil Nisa. Usiaku saat ini sudah menginjak 23 tahun. Aku menjalin hubungan dengan seorang pria yang dengan gigih menaklukan hatiku. Namanya Amiruddin biasa dipanggil Amir. Usianya sekitar 33 tahun selisih sepuluh tahun dari umurku. Dia bekerja di pemerintahan dan berstatus PNS. Sebagai kekasih dia amat bertanggung jawab dan melindungi aku. Makanya tidak salah aku menerima cintanya karena kegigihannya dan kedewasaan sikapnya. Lagi pula dari sekian banyak teman laki-laki yang aku kenal dan berusaha dekat dengan aku hanya Bang Amirlah yang sangat gigih dan dewasa, tidak seperti cowok-cowok lain yang amat memamerkan kekayaan orangtua dan jual tampang . Padahal semua itu aku tidak peduli,sebab aku tidak memandang harta mereka,lagi pula aku juga tidak kekurangan harta sebab aku sudah terbiasa menjadi orang biasa saja karena didikan orangtuaku,meski mereka amat berada. Lagipula bang Amir juga tidak terlihat sikap sombong atau status keluarganya. Dia orangnya biasa saja padahal ia adalah putra seorang mantan pejabat yang amat disegani di daerahku. Semua itu tidak tercermin dalam sikapnya. Ia amat sederhana dalam kesehariannya.

Tidak memerlukan waktu pacaran yang lama kamipun menikah. Kedua keluarga kami amat bahagia,terlihat dari raut wajah ayah dan ibu juga mertuaku. Kesibukan mengurusi pesta pernikahan mencapai puncaknya hari ini. Besok pagi hari H nya tiba. Akad nikah akan dilaksanakan dan disambung dengan pesta. Sebagai mempelai wanita, aku tidak diperbolehkan untuk membantu persiapan ini. Aku diharuskan untuk mendekam di kamar dengan alasan menjaga stamina dan penampilan untuk besok. Tetapi memang, persiapan-persiapan yang lainnya (baju, undangan, suvenir, pemilihan hiburan, menu masakan, tempat sewa peralatan dan yang lainnya) aku berdua Amir yang mengurus. Kami ingin mempersiapkan hari pernikahan kami sebaik-baiknya. Kami ingin merasakan kenikmatan mengurusi pesta ini.

“Nis, udah dong. Jangan mondar-mandir terus,” tegur Sita, sahabatku.
“Aku gugup Sit. Aku takut kalau semuanya nggak berjalan lancar besok,”
“Udah. Kamu tenang aja. Insyaallah semua berjalan lancar kok,”
“Tapi gimana bisa tenang Sit. Lihat, diluar sibuk banget. Sedangkan aku disini nggak tau mau ngapain. Kalau misalnya aku ada kerjaan kan lumayan, bisa ngalihin pikiran juga,”
“Emangnya kamu mau ngapain ha? Kamu harus jaga kondisi kamu supaya besok bisa tampil prima. Besok kamu yang jadi ratu pesta, semua mata tertuju padamu Nisa,”
“Hmm... mulai. Dasar korban iklan!” ejekku sambil melempar bantal ke Sita.

Untung ada Sita yang menemaniku disini. Kalau nggak, alamat suntuk banget aku. Mana HP disita lagi, supaya nggak bisa menghubungi Amir. Aneh ya, masa’ dipingit sampai segitunya segala? Apa memang aku-nya yang nggak tau soal ketentuan pingit memingit?

***

Hari H.

Alhamdulillah, acara akad nikah tadi berjalan lancar. Sekarang aku dan Amir sudah sah menjadi suami istri . Jam 20.00 WIB, pesta udah selesai. Tapi berhubung keluarga kami banyak yang nginap dirumah, jadi kalau mau mandi terpaksa ngantri. Untungnya jam 9 malam, aku udah mandi. Udah bersih semuanya, termasuk make up yang tebalnya minta ampun itu. Amir juga udah.


Berhubung udah capek seharian, pengen banget rasanya segera tidur, melepas lelah. Tapi segan juga sama keluarga yang lain kalau misalnya kami langsung tidur. Sedangkan mereka masih sibuk bercengkerama di ruang tamu. Akhirnya kami pun ikut bergabung dengan mereka.

Dan sialnya, berhubung yang ngobrol kebanyakan orangtua, trus karena jarang ngumpul jadi mereka manfaatin kesempatan ini untuk nostalgia. Terpaksalah kami mengikuti obrolan mereka yang nggak tau kapan selesainya. Mau menyela pembicaraan mereka untuk pamit tidur, segan juga rasanya.

Jam 11 malam tiba. Mata nggak bisa diajak kompromi. Kami mengikuti pembicaraan mereka sambil tidur-tidur ayam. Setengah jam kemudian barulah nenek menyuruh kami tidur karena sadar bahwa kami sudah sangat mengantuk.

Dengan hati penuh suka cita, kami pun masuk kamar dan mengunci pintu. Rasa kantuk perlahan berkurang. Setelah tiga hari dipingit, baru sekarang lah kami bebas bercengkrama berdua. Kalau seharian tadi kan masih kurang bebas karena banyak dikelilingi keluarga.

Dimalam pertama itu untuk pertama kalinya dalam hidupku aku sekamar dengan seorang laki-laki lain. Ia adalah suamiku. Sebelumnya aku mandi air panas agar tubuhku segar dan untuk menghapus segala make up juga pernak pernik yang menempel di sekujur tubuhku. Begitu juga dengan suamiku ia mandi juga,setelah berpakaian tidur barulah kami beranjak ke ranjang pengantin kami. Dengan hati yang berdebar debar aku menerima perlakuan Bang Amir padaku. Awalnya ia ciumi kening,lalu..kedua pipiku,lalu bibirku. Aku menurut saja saat itu. Maklumlah aku sedang melaksanakan kewajibanku sebagai istri. Kemudian jari-jariku ia ciumi,aku sempat menutupkan mata menunggu saat saat yang amat mendebarkan ini.Tidak lama kemudian iapun mulai melepaskan baju tidurku satu persatu hingga yang tersisa hanya bra dan celana dalamku saja. Syukurlah malam itu lampu kamar itu telah di setel meredup. Jadi rasa grogi dan takutku tidak terlalu terlihat bang Amir. Bang Amirpun terus dengan tindakannya karena memang itu adalah haknya pada tubuhku.Ia akan mengambil haknya sebagai suamiku malam itu. Dengan nafas yang berdebar debar aku menunggu apa yang akan ia perbuat padaku.

Ciuman dan rabaannya pada wilayah sensitif di tubuhku seakan menjadi cambuk untuk terus menaikkan gairahku. Memang selama ini aku belum pernah merasakan yang namanya telanjang atau raba rabaan dengan laki-laki lain. Selama pacaranpun aku hanya pernah di cium pipi dan genggam tangan saja.Malam itu aku pasrah, aku tidak kuasa untuk membalasnya,aku kuatir nanti di bilang agresif oleh suamiku,padahal ini adalah malam pertama kami.Aku ingin meberikan hal yang terbaik padanya.

Selama ia meraba dan merangsangi aku,membuat tubuhku panas dingin,bulu-bulu roma di tengkuk dan tanganku seakan berdiri semua, pori-poriku merinding, perasaan malu,nikmat dan gairah datang silih berganti.Hingga akhirnya bra dan celana dalamku lepas meninggalkan tubuhku dan terlempar ke lantai kamarku.Keringat dingin mulai membasahi tubuhku dan tubuh bang Amir. Yang terdengar hanya lenguhan dan rintihan aku malam itu. Kain sprei sudah kusut disana sini karena gerakan tubuh aku dan suamiku. Saat itu aku hanya sempat meremas kain sprey saja juga terkadang rambut suamiku disaat ia menjilati belahan payudaraku,juga memilinnya dengan mulutnya.Ia seakan sama persis seperti bayi yang ingin menyusu pada ibunya. Namun aku sudah amat kewalahan. Sampai-sampai aku merasakan ada rasa basah di celah kewanitaanku. Lalu Bang Amir terus melakukannya dengan intens menurun kearah perutku yang basah oleh keringat. Sedangkan kedua tangannya tetap terus meremas kedua payudaraku.

Tanpa aku duga suamiku menuju kearah kewanitaanku dan dengan kedua tangannya ia buka kedua pahaku. Aku menduga saat itu ia akan melakukan hal utama di malam pengantin ini. Namun aku salah kira.Ia lalu menjilat liang kewanitaanku. Aku kaget dan merapatkan kembali pahaku.

“Bang jangan digituin.”Sebab bagiku itu amat menjijikan.
“Gapapa dek itu bagian dari hubungan suami isteris sayang.” Ujarnya.
“Tapi...ahhhh.” Aku tetap berusaha agar ia jangan sampai melakukan itu.

Sebab aku amat menghormatinya sebagai suami,namun ia tetap tidak mau menuruti kata-kataku. Akhirnya dengan persaan malu,takut dan aku tidak tahu mau bilang apa,ia lalu menjilati liangku setelah sebelumnya ia telah membuka kedua pahaku kembali. Beberapa saat ia memasukan lidahnya dan menghirup liang kewanitaanku.

“Owh ahhhhh... shhhhhhh.”Desahku

Aku serasa terbang kelangit.Rasa geli,nikmat,dan rasa ada yang akan keluar membuatku menghentak hentak dan merapatkan pahaku yang aku saat itu masih ada kepala suamiku di sana. Tanpa bisa aku cegah lagi aku orgasme. Di celah kewanitaanku mengalir air cintaku ,namun suamiku tidak berhenti ia tetap disana. Yang membuat aku merasa amat salut dan takhluk padanya adalah ia menghirupnya dan menelannya hingga tandas. Aku tidak kuasa melarangnya,sebab saat itu tubuhku seakan lemas,dan tak ada bobot lagi untuk menggerakkan badanku.

Itulah yang pertama kali selama hidupku aku merasakan orgasme untuk yang pertama kalinya oleh suamiku. Ada berjuta juta rasa yang keluar dari tubuhku saat itu, jika mengingat orgasme yang aku alami ini. Pantas saja semua pasangan ingin selalu melakukan hal ini jika bersama pasangannya. Dan alangkah indah rasanya. Saat itu aku seakan terlambat,kenapa tidak dari dulu-dulu aku menikah, jika rasanya seperti saat ini.Padahal saat itu suamiku belum memasukan kelaminnya pada kewanitaanku. Begitu saja sudah membuatku menggelepar gelepar apalagi jika coitus telah terjadi.

Sensasi yang aku rasakan seolah membuatku kehausan,lalu aku minta izinnya untuk beristirahat sebentar.Suamiku mengizinkan dan ia juga merasakan haus.Lalu ia mengambil air minum yang tersedia di meja kecil dekat kaca riasku.Lalu ia bantu aku meneguk air minum,air itu aku minum sampai tandas,hingga kemudian suamiku menambah air lagi lalu meminumnya sendiri. Aku lihat didada masih banyak keringat. Hingga akupun mengelapnya dengan handuk kecil yang tersedia didekat pintu kamar mandi di kamar aku ini. Sedangkan saat itu aku masih bertelanjang bulat dan hanya menutupi tubuh putih mulusku dengan kain selimut yang ada di ranjangku. Padahal suamiku masih mengenakan celana dalam. Ia belum melepas celana dalamnya. Masih sempat aku lihat kemaluannya yang belum bereaksi. Biasanya dari buku yang aku baca selama ini,kalau laki-laki yang sedang atau akan melakukan hub sex pasti kemaluannya akan tegang atau berdiri namun aku tidak melihat kepunyaan bang Amir seperti itu.

Aku lalu kembali ke ranjang dan menarik tangan suamiku untuk naik ke ranjang kembali. Iapun menurut,lalu ia masuk kedalam selimut yang aku pakai menutupi tubuh telanjangku. Dengan naluri kelelakiannya iapun meraba raba titik titik sensitive di tubuhku. Aku saat itu,tahu akan keinginannya yaitu memasukan kontolnya dalam memekku. Aku kembali bergairah.Ini terasa saat ada lelehan lendir di liang kewanitaanku,juga payudaraku kembali mengeras oleh rabaan dan pilinan jari jari suamiku. Aku kembali mendesis dan melenguh. Lalu ia buka kedua kakiku,saat itu aku merasakan kemaluan suamiku mulai tegak karena gesekan dengan kulit pahaku. Akupun menurut dengan isyaratnya yang membuka pahaku. Suamiku lalu memposisikan kedua kakinya diantara pahaku yang terbuka. Ia lalu mengarahkan kemaluannya yang aku rasa saat itu mulai mengeras,liang sanggamaku. Aku menurut dan hanya memicingkan mataku. Mataku mulai berair,ada rasa sedih,juga rasa pengabdian pada suami yang beberapa saat lagi akan merubah statusku yang perawan menjadi seorang istri yang berbakti pada suami. Lelehan air mataku mulai membasahi pipiku dan bercampur keringat karena gairah nafsu yang mulai datang.

Perlahan suamiku mulai meretas jalan bagi kemaluannya memasuki diriku. Namun beberapa kali gagal,namun ia terus saja berusaha membobol benteng pertahananku. Namun disaat yang dia dan aku impikan itu,belum juga menampakkan hasil. Suamiku sekuat tenaga berusaha masuk,akupun terus memberinya jalan agar dengan mudah dimasukinya. Namun tanpa aku dan suamiku duga sebelumnya. Tiba tiba saja disaat kepala kemaluannya baru menyentuh bibir liang kemaluanku terjadi yang tidak kami inginkan. Aku sudah berusaha agar ia mendapatkan haknya saat itu. Namun diluar semua itu,gagal…Kemaluannya begitu menyentuh bibir kewanitaanku,tiba tiba saja,mengeluarkan sperma dan membasahi rambut-rambut halus di sekitar bibir kemaluanku. Juga aku rasakan kemaluan suamiku tiba-tiba mengecil dan melemah. Ia terlihat shock dan kecewa,aku juga merasakan hal yang sama dengannya. Padahal malam itu kami ingin sekali mereguk sepuasnya malam pengantin yang indah seperti yang dibilang oleh teman-temanku.

“Gapapa bang mungkin abang kecapean.”Kataku untuk menutupi rasa kecewaku malam itu. Memang siangnya kami telah melaksanakan acara yang cukup membuat tubuh capai. Hingga staminanya terkuras dan membuatnya gagal pada malam pengantin kami.

“Benar dek abng pikir demikian jug.” Suamikupun berpikiran begitu.

“Mungkin besok kalau sudah lebih fit baru bisa bang. Malam ini mending kita tidur dulu.” akupun menghiburnya agar besoknya kami melakukannya lagi dalam kondisi lebih segar.

“Oke dek kita istirahat saja malam ini.” Kata suamiku menyetujui usulku. Dan malam itupun kami lewati dengan berbagai pertanyaan dalam benakku apa yang sesungguhnya terjadi. Suamikupun tidur sambil memeluk tubuhku yang masih basah oleh keringat kami berdua.

Besoknya kamipun berangkat ke rumah peninggalan kakekku di sebuah kampung yang jaraknya kira-kira 60km dari kota tempat tinggal kami dan hanya menempuh sekitar 1 jam perjalanan jika. Keluargaku memiliki rumah disana,namun jarang ditempati. Rumah itu terbuat dari kayu yang cukup kuat. Memiliki 4 kamar, halaman yang luas dan dipenuhi pohon-pohon dan sawah yang cukup luas. Namun rumah ini tidak ada yang merawatnya,yang membersihkannya paling sebulan sekali itupun dengan mengutus pak Alex, yang sekarang masih tinggal bersama orangtuaku. Dialah yang selalu merawat dan membersihkan rumah peninggalan ini setiap bulan. Ia memang ditugaskan ayahku ke kampung untuk merawatnya. Jadi pohon-pohon dan halamannya masih terlihat indah meskipun disana sini masih ada dedaunan yang berserakan.

Rumah ini baru saja dibersihkan pak Alex minggu yang lalu karena aku bilang akan kesini setelah menikah. Disekitar rumah itu terlihat sepi. Tetangga-tetangga kami sudah tidak sebanyak dulu lagi. Sebab mungkin karena penghidupan yang mulai sulit di kampung maka mereka memilih merantau kebeberapa kota. Hingga kampung ini sangat sepi. Kaum mudanya banyak yang merantau,yang tinggal hanya orang orang yang berusia lanjut untuk menunggui rumah dan sawah juga ladang mereka. Tidak heran jika malam menjelang sangat sunyi dan yang terdengar hanya suara jangkrik dan kodok yang bersahut sahutan.


Memasuki rumah itu aku amat takjub karena amat bersih dan kamar-kamarnya juga bersih dan rapi. Hingga aku berencana suatu saat akan mengajak teman-teman atau keluarga berlibur ke kampung saja. Selain udaranya masih bersih,juga alamnya masih asli juga hamparan sawah memberi pemandangan yang amat indahnya. Setelah menurunkan perbekalan yang aku bawa dari mobil untuk beberapa hari disini. Akupun mulai memasak makanan yang akan kami makan maklum perutku mulai kerocongan juga suamiku. Tidak lama kemudian kamipun makan berdua. Sehabis makan itu lalu kamipun berjalan jalan keliling rumah . Suamiku amat kagum atas keindahan dan suasana rumah itu. Setelah senja menjelang rasa capai karena berkeliling kampung dan bersilaturrahmi dengan tetangga yang kebanyakan lansia dan anak-anak kecil. Kamipun pulang kerumah. Sampai dirumah kamipun lansung mandi.

“Dek mandi bareng yuk!”Ajak suamiku.

“Ih jangan bang. Aku masih malu. Lagian ini di kampung apa kata orang jika ada yang tahu.” Kataku beralasan.

“Oke deg saynag. “Suamiku maklum.

“Kalau di kota tidaklah masalah kita mandi bareng bang.” kataku menerangkan.

Selesai mandi,kami lalu makan lagi. Perut seolah lapar lagi sebab di daerah yang udaranya dingin ini,perut seringkali mudah lapar. Setelah perut terisi kamipun duduk-duduk berdua di ruang tengah sambil menonton televisi. Namun niat menonton itu seolah sarana saling mencumbu malam itu. Seakan tidak ada acara yang pantas ditonton selain berduaan dan bermesraan dengan suamiku. Maklum pengantin baru. Setelah mematikan tv dan memastikan pintu dan jendela terkunci,kamipun beranjak ke kamar. Di dalam kamar,kami saling melumat dan aku sudah berani membalas perlakuan dan rabaan suamiku. Kami lalu mulai naik keatas ranjang yang di tutupi oleh kelambu dan didalam kelambu diatas ranjang itulah akhirnya kami melanjutkan yang tertunda. Mungkin karena aku sudah tidak merasa canggung lagi,sebab dialah yang akan membimbing hidupku nantinya. Setiap cumbuan suamiku aku balas,ya meskipun masih agak pasif. Perlahan tapi pasti akhirya pakaian yang melekat di tubuh kami terlepas dari tubuh kami. Kamitidak lagi merasakan hawa dingin sebab,cumbuan dan rabaan jari tangan suamiku mampu membuat hangat tubuhku.

Kembali aku merasakan siap untuk menerima perlakuan dari suamiku.Ia kembali mengulang kejadian malam kemarin dengan mengeksportir wilayah kemaluanku,hingga aku orgasme.Tanpa merasa jijik sedikitpun ia hirup sampai tandas air cintaku.Lalu aku merasa lemah dan tak bertenaga. Suamikupun lalu kembali berusaha mencumbui aku,dengan harapan aku kembali bangun nafsuku. Aku juga merasakan alat kelaminnya mulai mengeras dan tegak. Alat itu seperti tonggak yang siap untuk menerobos segala penghalang,amat perkasa.Lalu ia buka kedua pahaku. Iapun meletakan sebuah bantal di pinggangku dengan harapan dapan menembus keperawananku yang gagal ia tembus malam kemaren.Bertahap ia berusaha menjejakan kepala kemaluannya pada belahan liang kemaluanku yang kembali basah,Aku merasakan kecemasan akan rasa sakit yang akan terasa jika benda milik suamiku itu masuk.Aku tahu rasa itu dari pengalaman teman2 wanitaku yang telah menikah.Kepala kemaluan suamiku lalu mulai merangsek masuk ke bibir kewanitaanku.Dadaku kembali berdebar debar,tentang yang akan terjadi saat itu.

Baru saja,kepalanya yang menyentuh belahan kewanitaanku,tiba-tiba kejadian malam kemaren terulang. Kemaluan suamiku langsung saja memuncratkan air maninya di sana, Hingga pintu kewanitaanku basah oleh spermanya yang kental. Aku belum merasakan apa apa,namun tidak ada lagi benda keras yang tadi mulai menerobos liang kewanitaanku. Aku agak kecewa,namun tidak aku perlihatkan pada suamiku.

“Yah gagal lagi dek ..” Kata suamiku dengan kecewa.

“Gapapa. Mungkin abang terlalu tergesa-gesa, biasa kita sama-sama belum berpengalaman bang…,”kataku kembali menghiburnya.

Ia masih terlihat kecewa juga,namun ia sudah merebahkan tubuhnya di samping tubuhku yang telanjang.

Sebagai istri aku hanya diam dan berusaha membantunya,mungkin karena rasa takut akan menyinggung perasaannya makanya aku berusaha sendiri. Dengan menghilangkan rasa malu dan norma norma sebagai wanita minang, aku tutupi semua rasa itu, aku berusaha membantunya dengan memegang kemaluannya dan menciumi bibir juga putting susunya. Tampaknya suamiku mulai bergairah.Ia aku lihat kembali bersemangat,dan kemaluannya kembali bereaksi. Kemudian aku rebah telentang sambil membuka kedua pahaku agar bisa dimasukinya dengan gampang. Ia berusaha kembali lalu dengan meretas jalan buat kemaluannya,namun alangkah kecewanya aku malam itu,dalam hati aku merasa tidak berarti. Suami yang aku cintai kembali tidak mampu melaksanakan kewajibannya sebagai seorang laki-laki sejati. Alangkah malangnya nasibku saat itu. Namun rasa kemanusiaanku kembali terusik,s ungguh piciknya aku yang amat mencintai suamiku. Aku juga merasakan beban psikologis suamiku saat itu. Ia amat terpukul karena ketidak mampuannya malam itu, melaksanakan kewajiban sebagai suami yang baik.

“Maafkakn aku dek ..” Dengan terbata bata suamiku meminta maaf padaku.” Aku amat menyesal kenapa hanya bisa kayak gini.”

“Jangan sedih bang. Kita akan terus coba sampai berhasil” kataku.

Sebagai seorang istri aku kana terus memberinya support agar jangan berhenti mencoba atau kalau bisa diobati. Apalagi zaman sekarang sudah banyak obat atau klinik pengobatan yang melakukan penyembuhan kelainan sexual ini.

“Aku harap kamu tidak meninggalkan abang karena ini.”Diapun memohon padaku.

“Gak akan bang. Aku kan sayang abang.”Aku pun memberinya rasa percaya diri. “Kita coba cari cara agar bisa menyembuhkan ini bang.

Aku memberinya jaminan bahwa aku tidak akan meninggalkannya. Bagiku jika saja aku meninggalkannya berarti aku telah gagal menjadi seorang istri dan amat mencoreng muka keluarga didepan orang banyak. Apalagi bagi suamiku,ia akan malu,keluarga besarnya akan merasa dilecehkan. Dan demi menjaga perasaan suamiku,maka akupun tetap melaksanakan kewajibanku pada malam malam tertentu dengan suamiku. Aku selalu dibantunya untuk orgasme. Namun setiap kali ia mencoba untuk melakukan tugas utamanya dalam hubungan suami isteri ,ia selalu gagal. Hingga ini berlangsung beberapa bulan dan berbagai cara pengobatan baik yang medis dan alternative telah dilakukan namun hasilnya tetap nihil.
bersambung
part1..........
 

indonesia123

Semprot Holic
Daftar
14 Aug 2012
Post
339
Like diterima
147
Part 2

Sampai pada akhirnya aku bisa memberikan keperawananku kepada suamiku, meski aku harus dengan susah payah mencoba memasukan kemaluan suamiku ke kemaluanku di saat bendanya itu tegak menantang. Saat itu berhasil masuk dan mampu merobek keperawanku. Tapi habis itu dia terkapar lemas dan tak mampu melanjutkannya. Setelah itu dia hanya bisa memuaskanku dengan oral sex saja dan untuk lebih dari itu dia tetap lemah.

Kehidupan rumahtangga kamipun tetap berlangsung seperti rumahtangga orang lain. Namun jauh dilubuk hatiku, juga suamiku, aku rasa hambar. Ia sering kali aku lihat termenung dan menyendiri. Sebagai istri yang baik aku terus menutupi kekurangannya itu,namun sampai kapan? Aku tidak mengetahuinya.

Selain ketidakmampuannya diranjang Amir suamiku sebenarnya adalah pria yang menyenangkan. Suamiku itu lebih suka menjadi pendengar paling baik saat kami terlibat percakapan. Dia akan betah duduk di depanku berlama-lama mendengar segala omonganku. Tidak hanya mendengar tapi memperhatikan. Dia akan menaruh handphonenya, bukunya, atau apa saja yang sedang dia pegang atau kerjakan, hanya untuk mendengar aku bercerita. Sampai-sampai dia bisa hapal apa yang kuceritakan saking perhatiannya.

Cukup menyenangkan, tapi belum cukup. Karena lama-lama, aku menjadi bosan. Aku masih ingin diberi lebih banyak tawa dan tentu saja kepuasan di atas ranjang.

***

Disaat aku dilanda kebosanan dengan kehidupan rumah tanggaku datanglah teman lama yang hadir tanpa pernah aku rencanakan. Aku yang mengisi hari-hari dengan bermain ponsel dan kadang mengembara di dunia maya akhirnya bertemu dengan teman masa SMA.

Pertama adalah menemukanmu di sosial media, kemudian bertemu di dunia nyata, berbicara sebentar, bercanda, dan kemudian kembali mengaguminya. Dia adalah mantanku Johan. Aku seakan kembali menemukan seseorang yang begitu menyenangkan dalam segala hal. Seperti menemukan sesuatu yang lain yang selama ini ingin aku temukan.

Akhirnya kami sering bertemu dan dengan frekuensi bertemu sesering itu dan kenyataan bahwa aku masih mengaguminya, sepertinya memang tinggal menunggu waktu sampai tahap aku akan kembali mencintainya. Kedatangannya seakan terlalu cepat. Hatiku yang sedang rapuh ini menunggu datangnya dia yang akan memberiku kebahagiaan.

Johan memang berkali-kali menyatakan tetap mencintaiku dan berharap cintanya berbalas. Aku mengatakan biarlah waktu yang memberi jawaban.

Kebodohanku adalah memberi Johan kesempatan. Kemudian membiarkan dia menunggu sampai aku bersiap menangkap hatinya yang telah jatuh cinta kepadaku setelah itu. Aku sampai menghitung hari, jam, dan detik; bertanya-tanya apakah sekarang waktunya aku menjawab perasaannya? Sejam kemudian bertanya lagi, apakah sekarang? Sehari kemudian masih bertanya lagi, apakah sekarang? Dan aku terus menunggu, hari, minggu, bulan. Semua terjadi sejak kedatangan Johan di hatiku.

Lalu aku ingat pada suatu hari saat aku berbincang dengan Amir suamiku. Dia melihat mataku berbinar ketika bercerita tentang seseorang. Tentang lelaki itu, lelaki yang dari masa lalu. Seperti biasa dia memperhatikan, tersenyum, dan berkata, "Kamu pernah punya cinta selainku dan kamu jadikan rahasia itu gak apa-apa. Bisa jadi, cinta itu ada karena kekuranganku atau kelebihan dia."

Aku terdiam. Jangan-jangan aku terlalu banyak bercerita tentang dia? Sial. Apakah kebahagiaanku ketika menceritakannya sebegitu kentara? Sampai berulang-ulang aku menceritakan dan aku tidak menyadarinya? Sial! Seharusnya aku lebih berhati-hati.

"Tapi jangan kamu pupuk," lanjut Amir suamiku, " terus kamu biarkan berkembang. Jangan terlalu dekat dengannya, jangan berusaha membuatnya jatuh cinta, seberapapun kamu ingin melakukannya. Dan jangan terlalu perhatian dengannya. Seorang lelaki yang diperhatikan perempuan, bisa membuatnya jatuh cinta. Dan jika kamu terlalu perhatian dengannya, cinta yang lain--aku, bisa-bisa tidak kamu perhatikan lagi dan lama-lama cintaku ini mati."

Ada jeda dalam percakapan kami berdua. "Bagaimanapun juga, suatu rasa yang diberi pupuk akan lebih bertahan daripada yang tidak. Yang diperhatikan, akan lebih kamu sayang. Jangan memupuk perasaan terpendammu dengan berlama-lama meluangkan waktu bersama dia. Hanya itu pesanku."


Aku terkejut. Dia tahu. Dia mengenali perasaan jatuh cintaku. Astaga jangan-jangan dia bisa membaca isi hatiku? Semoga tidak.

"Suatu hari nanti kamu akan mengerti." Katanya kemudian. Lalu dia mencium keningku, tersenyum, memelukku, dan tidur dengan membelakangiku. Seperti tidak boleh melihat wajahnya, matanya, atau lukanya malam itu. Aku tidak tahu. Karena semalaman aku merasa dia tidak tidur. Posisinya berubah terus sehingga membuatku terganggu. Aku juga sempat terbangun dan memergokinya hanya duduk di pinggir kasur, atau memandangiku yang sedang tertidur. Begitu tahu aku terbangun, dia hanya tersenyum.

Apa tatapan matanya itu sedang terluka? Sepertinya iya. Tapi aku terlalu mengantuk untuk memperhatikannya.

Kata orang, kita tidak akan pernah menyembunyikan kebohongan kepada orang yang kita cintai. Apakah itu benar? Apakah itu yang sekarang sedang terjadi? Dia tahu apa yang kututupi? Ya, Tuhan, jangan. Aku memuja lelaki itu, tapi aku juga tidak ingin melukai suamiku. Dua hal yang tidak mungkin, tapi aku usahakan agar mungkin.

Aku malah menenggelamkan diri dengan terus berhubungan dengan lelaki itu. Lelaki tempatku melakukan curhat. Cinta yang datang di masa lalu saat aku di landa cinta monyet. Ketika perasaan ini aku pupuk dengan selalu curhat kepadanya. Semakin intens mengobrol bersama lelaki itu hampir di banyak hari. Bertemu dan memperhatikannya dengan seksama. Menemani dia bercerita sampai tengah malam buta lewat ponsel, menemani dia sampai aku tertawa bahagia saking nyamannya. Aku memenuhi hatiku dengan dia, dan bukan suamiku. Seperti ABG yang sedang tergila-gila. Dan, pelan-pelan, bayangan suamiku memang menghilang.

Sekarang aku mengerti apa yang dimaksudkannya dengan jangan memupuk perasaan rahasiaku. Karena pada akhirnya, rasa itu jauh lebih bersemi dari cintaku kepada suamiku. Aku memupuk rasa yang lain dengan terus berpikir tentangnya, dan menemaninya bercerita. Sedangkan suamiku? Lama-lama aku makin bosan berbagi cerita dengannya. Apa-pun yang dia katakan menjadi tidak menarik lagi bahkan menyebalkan. Aku mulai rindu pada cinta rahasiaku, selalu. Dan, pelan-pelan, semua yang dilakukan suamiku sekarang terasa semakin menyebalkan. Apalagi yang aku butuhkan dari suamiku selain kesabarannya. Kemampuan suamiku dalam sex tidak bisa diperbaiki. Apa hal semacam itu bisa membuatku bertahan.

Mungkin ini yang dia katakan bahwa memiliki cinta rahasia itu tidak apa-apa, tapi jangan dilanjutkan dengan jangan berlama-lama meluangkan waktu bersamanya. Seperti melihat orang tampan ketika sedang jalan itu tidak apa-apa, asal jangan diteruskan dengan meminta nomor telepon dan berhubungan intens dengannya. Karena jika sebuah kekaguman dilanjutkan dengan kedekatan, lama-lama cinta yang lebih dulu datang akan berangsur menghilang, dan cinta baru yang akan menggantikan. Dan memang benar, cinta kepada suamiku sudah benar-benar tergantikan.

Intinya, cinta yang dulunya adalah rahasia menjadi semakin mendominasi hati dan pikiranku sampai aku memutuskan meninggalkan suamiku demi cinta rahasiaku itu.

Suamiku hanya tersenyum ketika itu. "Aku tahu hari ini akan datang." katanya. "Aku sudah mempersiapkan diri untuk memberi kamu kebebasan semenjak aku tahu aku tidak mampu memuaskanmu. Apalagi ketika kamu memiliki cinta rahasia di dalam hatimu. Sebenarnya aku berharap, itu hanya sebatas cinta rahasia, tidak kamu lanjutkan ke arah yang lebih dekat. Hanya kekaguman, lalu kamu hentikan. Tapi tidak apa. Carilah kepuasan bersama dia. Semoga kamu bisa peroleh kebahagiaan."

Aku belum pernah melihat seorang lelaki setabah itu. Mengizinkan isteri yang sangat dicintainya mencari cinta yang lain. Dia malah tersenyum dan mendoakanku berbahagia. Aku beruntung memiliki suami sepertinya.

"Bagaimana dengan kamu?" tanyaku getir. Meski aku nyata punya cinta rahasia yang lebih dari suamiku bukan berarti aku tidak lagi mencintainya, aku masih mencintainya meski aku tetap membutuhkan kepuasan sex.

"Jangan khawatirkan aku. Kebahagiaanku tidak pernah tergantung orang lain. Bersama siapa pun aku bisa bahagia, sendiri pun aku juga bisa. Kamu berbeda. Kamu hanya bisa berbahagia dengan seseorang yang kamu harapkan, yang kamu inginkan benar-benar.." Ujarnya tersenyum

Itu pahit. Aku merasa tersindir. Sial!

"Dan ingat," lanjutnya lagi. "Aku merelakanmu berhubungan dengan kekasih rahasiamu bukan karena aku tidak mencintaimu atau tidak berniat memperjuangkan. Aku melepaskan karena aku tidak sanggup memuaskanmu dalam sex."

Aku tahu, batinku.

Tetapi ada kenyataan yang tiba-tiba saja aku tahu. Dia tidak berubah. Bahkan ketika kecewa dan marah pun, dia selalu bisa mengucapkan apa pun dengan tenang. Tidak membentak atau berlaku kasar. Dia tetap sama. Pria paling tenang dan datar yang pernah kutemukan. Meski hatinya mungkin hancur lebur pada saat ini. Pada saat harus melepaskan perempuan yang dia pernah mengatakan kalau dia beruntung memilikiku ini.

Untuk ketenangan dan senyumnya itu, aku akan coba mempertahankannya sekedar sebagai suami.

Tapi untuk urusan sex lupakan. Aku sudah putus asa dan memilih untuk mengejar kepuasanku. Untuk bersama lelaki yang secara diam-diam aku sukai. Untuk bahagia yang sudah lama aku cari.

Dan kenyataannya, pilihanku benar. Aku lebih berbahagia bersama lelaki itu. Dia bisa membuatku tertawa, memelukku, memujiku, dan memberi aku bunga atau puisi cinta. Itu sangat menyenangkan. Meski kami belum sampai ke tahap hubungan sex.

Ya Tuhan. Aku jatuh cinta di saat telah bersuami. Ini memberi rasa yang entah apa namanya.

***

Hari ini aku kembali akan bertemu dengan Johan. Kali ini aku tidak akan menahan diri lagi. Aku akan mengungkapkan rasa sukaku padanya. Menjawab pertanyaan yang aku gantung dan belum kuberi jawaban.

Bersambung

Part 3

Aku memesan taxi online untuk menuju ke tempat aku dan Johan janjian buat bertemu. Tidak menunggu waktu lama kendaraan yang aku pesan tiba. Aku naik dengan perasaan campur aduk. Pertentangan batin muncul dikepalaku. Biar bagaimanapun aku adalah seorang wanita yang dibesarkan dari sebuah keluarga yang religius. Sejak SMP aku mengenakan Jilbab bila keluar rumah. Kalau di rumah ada tamu yang bukan muhrim aku juga akan mengenakan jilbabku kalau keluar kamar. Dengan latar belakang didikan keluarga yang agamis tentu aku tidak bisa gampangan untuk mengabaikan norma kesusilaan. Itulah mengapa sampai kemarin-kemarin aku masih menahan diri untuk tidak melewati batas. Tapi makin kesini aku makin tak berdaya melawan hasrat yang terus saja menggangguku.

Dalam kendaraan aku bbman dengan Sita sahabat dekatku.

“Kayaknya aku nyerah deh.” Kataku lewat pesan yang kukirim.

“Hahahaha aku maklum.” Jawab Sita.

“Tapi ini bukan nyari pembenaran loh. Kamu kan tahu gimana usahaku.” Kembali kukirim pesan pada sahabatku.

“Aku ngerti sih. Cuman miris juga yah kalau akhirnya seperti ini.” Kembali Sita membalas BBMku.

“Tapi ini bukan akhir baru awal kayaknya.”

Tapi aku kurang yakin dengan bunyi pesan yang aku kirim ke Sita. Bukankah langkah awal menghianati ikatan sakral pernikahan sudah kumulai sejak memenuhi keinginan Johan dan keinginanku sendiri untuk saling bertemu. Tapi aku masih merasa pertemuan itu dan pertemuan-pertemuan lainnya kemudian belum bisa dikatakan sebagai penyelewengan. Bukankan aku Cuma saling ngobrol, pegangan tangan dan pelukan saja.

Ah masa bodohlah, kataku dalam hati. Aku butuh nafkah batin dan aku harus bisa mendapatkannya. Karena tidak bisa kudapatkan dari suamiku maka aku merasa apa salahnya aku mencari dari orang lain yang kukenal. Hingga akhirnya hari ini aku memutuskan untuk pergi kencan dengan Johan. Selayaknya orang kencan, aku membayangkan kami akan mengobrol panjang lebar dan kemudian bercinta. Fantasi soal seperti itu membuat buluk kudukku merinding. Tapi aku menyadari bahwa kami sama-sama belum memiliki komitmen apa pun, apalagi aku walau bagaimanapun masih menyayangi suamiku, dan Johan sejauh yang aku tahu masih lajang.

Sampai juga aku di tempat kami janjian. Sebuah restoran yang lumayan bagus di kotaku. Pengunjungnya belum terlalu banyak. Aku melangkah masuk kedalam restoran itu dan memilih tempat yang kurasa nyaman. Johan lewat pesan BBMnya bilang dia sudah dekat.

Benar saja tidak berapa lama Johan telah datang.

“Kamu udah lama nunggu ya?”tanya Johan.

“Enggak kok baru saja.” Sahutku.

Kami segera memesan makanan yang akan kami santap.

“Gimana Nis? Kamu sudah bisa ngasih jawaban untuk pertanyaanku.” Ucap Johan kala dia telah usai menyantap makanannya.

“Sudah Jo.” Sahutku.

“Terus apa jawaban itu?” desak Johan.

“Aku tetap akan menjadi isteri dari suamiku Amir tapi aku menerima citamu.”jawabku.

“Jadi aku hanya akan tetap jadi selingkuhan kamu?”

“Sementara hanya bisa sampai segitu. Tapi aku terima cinta kamu. Kita akan jadi sepasang kekasih. Apa kamu tidak suka dengan jawaban seperti ini?”aku balik bertanya.

“Oke deh aku jalani dulu kalau gitu. Yang penting aku bisa menerima pembuktian cinta kamu.” Johan nampak kurang puas dengan jawabanku.

“Hmmmmm... pembuktian cinta?” tanyaku pura-pura tak mengerti.

“Iya layaknya sepasang kekasih.”

“Hahahhaha... kapan?”

“Secepatnya.”

Aku hanya bisa tersenyum. Memang tujuan utama aku menerima cinta Johan saat ini adalah untuk memenuhi hasrat yang sangat kuat dalam diriku. Johan mengibaratkan pemenuhan hasrat itu sebagai pembuktian cinta.

“Terus habis ini kita kemana Jo?” aku bertanya sekaligus memancing inisiatifnya untuk mewujudkan hasratku.

“Ke tempat yang nyaman untuk bercinta.” Jawab Johan tanpa basa-basi.

Aku menatap tajam mata Johan. Dia membalas tatapan mataku. Tatapan mata kami beradu, Aku melihat ada gairah disana, Dia meremas jemariku. Aku balas meremas jarinya, Sentuhannya dikulitku yang halus terasa menimbulkan percik-percik gairah di antara kami, Akhirnya dia beranikan diri untuk mengajakku.

“Nis, Bagaimana kalau kita nyari hotel dekat-dekat sini ?” suaranya terasa agak bergetar, mungkin agak canggung.

“Terserah kamu deh” jawabku manja sambil mencubit tangannya.

Pucuk dicinta ulampun tiba, dia segera membayar makanan kami dan langsung mencari hotel, sepanjang jalan ke hotel, jari-jari kami saling bertaut mengantarkan kehangatan ke jiwa kami, Dan setelah menemukan hotel yang tepat. Segera kami menuju kamar hotel yang asri, Kami langsung mulai. Meskipun awalnya agak canggung, Namun akhirnya kami dapat menikmati semuanya.

Inilah awal dari perselingkuhan berhiaskan hubungan sex itu. Berdebar-debar dadaku karena aku akan memulainya. Merasakan tubuh pria lain yang bukan suamiku akan menuntaskan dahaga akan sex yang sangat aku rindukan.

Masih dalam keadaan berpakaian, Johan memeluk tubuhku, bibir kami saling melumat lembut, kadang lidah kami saling kait dan saling dorong, sehingga gairah di dada kami semakin membuncah, Satu per satu pakaian kami bertebaran dilantai, seiring dengan nafsu kami yang semakin menggebu, Kini Seluruh organ tubuhku bekerja untuk memenuhi hasrat yang terpendam, aku rebahkan tubuh mulusku di ranjang, sungguh pemandangan yang indah dan mendebarkan, dengan kulit tubuh yang putih bersih kontras dengan bulu-bulu halus dipermukaan kulitku apalagi di kemaluanku yang juga halus tidak begitu lebat. Johan langsung mengelus buah dadaku dengan lembut, sementara mulut dan lidahnya menciumi dan menjilati centi demi centi tubuhnya tanpa terlewati,

“Tubuh kamu bagus sekali, Nis!” Johan merayuku.

Sementara Jilatannya sudah sampai pada memekku, Johan tidak kesulitanmenjilati selangkanganku karena bulunya tidak begitu lebat. Dengan lidahnya, dia mengemut lembut klitorisku, kadang lidahnya menusuk langsung memekku, Jari-jarinya ikut membantu memberi kenikmatan dengan memilin-milin puting buah dadaku yang semakin mencuat, Sehingga membuat aku mengerang dalam nikmat, Sementara akupun tidak tinggal diam, tanganku meremas-remas dan mengocok kontolnya sehingga semakin meregang kaku dalam genggamanku. Agak sedikit suprais sih melihat kontolnya yang hanya sedikit lebih besar dari milik suamiku, Gairah yang membuncah didadaku membuat aku tidak peduli dengan ukurannya. Yang penting dia keras dan tahan lama itu yang aku dambakan.

Tubuh kami berguling-guling dikasur saling memberikan rangsangan dan kenikmatan, hingga akhirnya Johan mengambil inisiatif, dia langsung mengangkangi tubuhku, dan langsung memegang senjatanya untuk dibimbing kedalam liang surgaku, Perlahan, centi demi centi, kontolnya memenuhi rongga memekku memberi rasa nikmat yang sangat aku dambakan. Gesekena kontolnya yang begitu kuat terus memompa memekku. Johan terus menggoyangkan pantatnya sambil terus memompa, Tangannya memilin kedua puting payudaraku, butir-butir keringat mulai membasahi tubuh kami berdua, tak lama aku berteriak histeris dan menggigit pundaknya, tubuhku mengejang kemudian berkelojotan karena meraih orgasmeku,

“Arghhhhhhhhh...” jeritku meraih kepuasan.

Sungguh diluar dugaan, mungkin karena baru kali ini aku meraih orgasme melalui pompaan kontol, aku menjadi begitu liar, hanya beberapa saat tubuhku bisa kembali untuk memulai pergumulan birahi. Aku mengambil posisi di atas tubuhnya. Aku akan bergoyang bak seorang penunggang kuda. Akhirnya hampir disetiap gaya aku bisa meraih orgasmeku begitu cepat, Mungkin ada empat kali aku orgasme tapi aku belum puas juga, sementara Johan sendiri bersusah payah menahan orgasmenya, Aku benar-benar ingin memuaskan dahagaku, Apalagi saat gaya doggy, sambil meremas buah pantatku yang bulat, Johan benar-benar tak kuat lagi menahan semprotan spermanya, sentuhan buah pantatku di pangkal kontolnya menambah sensasi tersendiri yang membuat lelaki itu tidak bisa menahan diri..

“Nis, aku mau keluar, di dalam atau di luar?” Kata Johan sambil dia mempercepat kocokannya.

“Di dalam aja Jo, cepat sodok yang kuat... Arghhhhhhhh!” erangku.

“Oh Nisa memekmu....arghhhhhhhhhhhhh.” Jerit Johan.

Akhirnya Seluruh tubuhku bagai tersetrum nikmat, aku melepas orgasmeku, menyemburkan cairan hangat yang menimpa kontol Johan yang juga menyemprotkan spermanya. Kemaluanku yang telah sangat basah mengeluarkan kedutan-kedutan kecil yang sangat nikmat.

Yah, kami orgasme berbarengan, Sungguh nikmat sekali.

Waktu sudah menunjukan pukul 10 malam, namun aku sebenarnya masih belum puas juga, tapi Johan terlihat sudah sangat lemas. Aku tidak bisa memaksa dia. Yang penting aku telah bisa merasakan nikmatnya orgasme akibat pompaan kontol yang sebelumnya tidak pernah aku rasakan.

bersambung
Part 2
Part 3
 

indonesia123

Semprot Holic
Daftar
14 Aug 2012
Post
339
Like diterima
147
Part 4

Aku terbangun saat jam sudah menunjukan pukul setengah sembilan pagi. Aku melihat di sampingku Johan yang masih tertidur dengan tanpa sehelai benangpun. Lelaki itu nampak kelelahan menandingi nafsuku semalam. Tidak sehebat khayalanku sih atau cerita Sita temanku tentang orgasme dahsyat yang sampai membuat wanita histeris, tubuh kelojotan sekian detik disertai lutut gemetaran dan memek menyemprotkan cairan kepuasan yang deras laksana pancaran air seni. Tapi tetap jauh lebih baik dari suamiku.

Segera saja aku mandi biar segar. Usai mandi aku memesan sarapan pagi. Sampai makananku habis Johan masih belum juga bangun dari tidurnya. Aku juga tidak tega membangunkannya yang terlihat begitu kecapean.

Aku hidupkan Ponsel yang sejak semalam aku non aktifkan. Ada beberapa pesan masuk dari sms dan juga dari aplikasi medsos semacam bbm dan WA. Kulihat ada pesan dari suamiku. Segera kubuka pesan dia.

“Dek kamu tidur di mana? Koq gak ngabarin? Padahal gapapa asal kasih tahu abang.”

Suamiku sudah pakai adek dan abang seperti itu berarti dia sudah tidak marah lagi. Kalau marah meski tidak meledak-ledak aku bakal tahu. Karena dia akan memakai kata aku dan kamu.

“Maaf ya bang aku gak sempat kasih tahu. Hp aku lowbat. Untung dapat pinjaman cars. Aku lagi ngumpul sama teman-teman sesama alumni sekolah sma ku dulu.”

Aku tentu saja tidak akan terbuka pada suamiku meski dia tahu aku telah menyeleweng. Aku tetap tidak tega ngomong terus terang bahwa aku telah sampai pada titik yang melampaui batas.

“Oh oke deh sayang. Kapan pulangnya?”

“Nunggu kesepakatan teman-teman kalau masih mau jalan lagi kemana. Entar adek kasih tahu ya bang.”

“Selamat bersenang-senang aja ya dek.”

“Makasih bang.”

Aku masih ingin menikmati persetubuhan dengan Johan mungkin semalam atau dua malam lagi. Maafkan aku suamiku. Kulirik Johan yang masih saja tenggelam dalam mimpi. Astaga padahal matahari sudah semakin meninggi.

"Johan bangun.." panggilku membangunkannya.

"Udah siang ya?" tanya Johan malas-malasan.

"Hmm.." jawabku pendek.

“Bangunin dong..”

Johan membuka matanya kemudian menatapku. Aku pura-pura ingin berbalik, tapi tangannya menarik badanku agar tetap menatapnya. Kami saling bertatapan. Lama. Ia mendekatkan wajahnya ke wajahku, sampai akhirnya bibirnya mencium bibirku yang ranum. Lembut. Aku tak kuasa lagi menolak hasrat yang kembali bangkit.

"Nisa.." bisiknya.

Aku teringat suamiku. Ah masa bodoh dengan dia, pikirku. Kalau ada kesempatan kenapa tidak dimanfaatkan? Kami berpagutan lama. Bibirnya seperti tidak puas-puasnya menyedot, menggigit-gigit bibirku. Lidahnya liar berkali-kali memasuki mulutku. Aku membalasnya dengan kegairahan yang sama. Terus tangannya berkeliaran kesana-sini sampai ke selangkanganku dan menyentuh miliku yang sudah basah. Ia kaget dan berhenti mengulum bibirku.

"Nggak pakai CD ya?" tanyanya kaget. Alisnya mengerut.

"Sengaja" jawabku seenaknya. Ia kembali memagutku dengan ganas sambil memasukkan tangan kirinya ke dalam trainingku, mempermainkan memekku dengan gemas. Lalu mengelusnya lembut. Aku membalas dengan meremas kontolnya.

"Gede mana dengan punya suami kamu?"

"Gedean ini. Lagian lebih panjang."

Kami tertawa dan meneruskan pagutan kami. Ciuman kami semakin ganas. Jarinya makin intens mengelus celah vaginaku. Menyelususp diantara bibir dua vaginaku yang menyembul indah, sambil mencari lubangnya. Kata orang, bibir vagina yang gembul ini menimbulkan rasa yang lebih nikmat terhadap zakar jika disetubuhi. Ketika jarinya menusukn lubang kemaluanku, kurasakan cairanku yang deras membasahi jarinya. Dia menusukku dengan satu jari. Bibirku sampai terbuka merasakan kenikmatannya.

"Ahh.." Desahku.

Johan mulai memaju mundurkan jarinya yang mulai basah oleh cairan vaginaku.Sementara tanganku jadi semakin keras mengurut kontolnya. Tiba-tiba ia berhenti. Lalu berdiri dan membuka seluruh pakaiannya sampai celana dalamnya sehingga bugil. Akupun tak mau ketinggalan. Kubuka seluruh pakaianku, sehingga ketika celana dalam kuperosotkan. batang kemaluan Johan menyembul keras. Aku tertawa melihatnya.

Ia lalu berbaring telentang dan mengajakku naik diatasnya. Aku menatapnya penuh nafsu. Jantungku terus berdegup kencang. Nafaskupun sudah memburu. Tubuhku yang langsing, putih-mulus dan padat. Payudaraku yang kencang tersaji indah di depan lelaki yang bukan suamiku. Mimpi apa aku sehingga aku yang alim ini bisa berzina dengan sadar. Tanpa nunggu waktu akupun naik ke atasnya. Memposisikan memekku untuk dimasuki kontolnya yang berdiri gagah. Meskipun memekku sudah basah, batang kontolnya agak susah masuk, karena agak sempit.

"Ahh.." Desahku.

"Teruss hh.... owww.. enak"

Aku amat menikmati persetubuhan ini. Aku bergerak turun naik mengayuh kenikmatan. Menunggangi kontol keras milik selingkuhanku. Tak terkatakan rasa nikmat yang kudapatkan. Dia yang terbaring meremas kedua payudaraku yang terguncang-guncang indah akibat gerakanku mengayun menikmati kontol.

"Ahh.. aw.. Ohh.. ohh. arghhhh." mengerang-ngerang tiada henti.

"Ahh.." Johan cuma mendesah nikmat.

Dengan lancar terus kukayuh batang kontolnya. Terasa begitu nikmat di vaginaku.

"Awww.. ahh ..owww.. eenakk.. aduhh.. teruss..shh..uhh.. uhh.. awww.."

Aku merasakan semakin geli dan enak. Tak terkira nikmatnya. Dan aku masih saja menggenjot dan menggoyang pinggulku berputar-putar menikmati batangnya.

Johan tahu cara menciptakan kenikmatan dan kepuasan bagi wanita. Sayang sekali Amir tidak bisa sepeti itu. Johan mengimbangi permainanku dengan menggoyang pinggulnya. Sambil menggoyang pinggulnya dia terus meremas buah dadaku. Tiba-tiba goyangannya berubah semakin kencang. Mulutku semakin keras mengerang. Nafasku semakin memburu. Keringat kami semakin banyak. Rupanya ia hampir orgasme. Akupun ingin keluar.

"Ahh.. teruss.. cepatt.. cepetiin.. awww.. ahh ..owww.. sstt.. aku.."

"Yahh.. ohh.. iyaahh.. ituu.. ahh.. keluarr.. aww!"

Serr.. serr.. Terasa batang kontolnya menyemburkan cairan hangat dalam vaginaku. Ia menyemprotkan air maninya begitu kencang bersamaan dengan semprotan dari dalam dariku. Badanku mengejang dan berkelojotan hingga akhirnya ambruk di atas tubhnya.

Serr! Serr! Serr! Air maninya dan cairan citaku terasa merembes keluar dari lubang memekku yang msih tersumpal kontol Johan. Aku memeluknya sekuat tenagaku. Bibirku pun mengenyot bibirnya. Ia membalasnya. Kenikmatanku telah mencapai puncaknya. Keringat membasahi tubuh kami di tengah cuaca pagi menjelang siang ini. Kami terbaring lemas akibat mencapai kenikmatan yang dahsyat.

"Enak mass Johan?" bisikku bertanya.

"Bukan enak tapi.. nikmat." Balasnya sambil mencium telingaku.

Aku tertawa dan balas mencium pipinya. Kami terdiam agak lama, menikmati sisa persetubuhan kami. Batang montolnya mulai mengerut tapi masih tertanam dalam memekku.

Dengan bertelanjang kami ke kamar mandi. Selesai mandi dan berganti pakaian kami memesan makanan untuk di antar ke kamar. Kami berbaring sambil menyalakan televisi. Tidak lama makanan yang kami pesan tiba kamipun makan dengan lahapnya. Mungkin akibat kami yang kelelahan memacu nafsu sehingga menjadi lapar.

Selesai makan aku merasa ngantuk dan memilih untuk tidur. Aku terbangun pukul setengah satu siang. Aku menengok seisi kamar hotel . Johan tidak ada di kamar hotel ini. Segera aku menghubunginya lewat Ponsel. Ternyata dia keluar untuk membeli makanan pavoritnya. Aku segera mandi. Usai mandi aku ingat sekarang waktu dzuhur. Aku langsung mengambil mukenaku di dalam tas. Aku memang selalu membawa mukena kalau keluar rumah untuk waktu lama. Aku mengenakan mukena tanpa memakai apapun dibalik mukenaku. Segera aku beribadah.

Selesai ibadah aku masih mengenakan mukenaku saat pintu kamar terbuka. Johan sudah sampai dengan membawa makanan dan minuman.

"Ngapain sih keluar beli makanan segala kan bisa pesan.” Kataku.

"ini makanan khas daerahku susah kalau pesan online." Sahut Johan.

"Makanan apaan sih. Kayaknya enak?"

"Hehehehhehe... kamu gak bisa makan . Haram loh.”

“Oh apaan sih ? babi ya?”tanyaku penasaran.

“heheheh iya. Tapi aku beli nasi padang buat kamu."


"Oh ..Kirain kamu bakal minta aku makan itu."

“Emang kamu mau?.. coba aja enak loh.”

“Enggak lah. Aku makan nasi padang aja.”

Sebenarnya aku penasaran juga. Tapi aku ingat bahwa itu haram. Lagian aku masih mengenakan mukena. Jadi aku makan nasi padang saja. Sementara Johan dengan lahap makan makanan khas daerahnya itu.

Usai makan Johan menatapku yang masih mengenakan mukena dengan tatapan horny.

“kamu cantik banget pakai itu. Namanya apa ya yang kamu pake?” tanya Johan.

“Mukena sayang.”

“Oh iya. Mukena.”
“Johan ... pengen..!” kataku tanpa malu-malu.

"Belum puas?" tanyanya.

"Kalau diberi lagi sih.., nggak nolak"

"Doyan ya..?"

"hehehhehehhe.."

Aku mencubit tangannya dengan keras.

"Nakal nih.." kataku.

Tanpa menunggu lama tangan Johan segera mengangkat mukena yang kupakai, sehingga sampai ke bagian dada. Terlihat tubuhku bugil dibalik mukena itu. Ia terpana melihatku seperti itu. Sementara bibirnya dengan ganas menciumi bibirku. Lidahnya mulai liar lagi menjelajahi bagian dalam mulutku. Aku tak mau ketinggalan.

Segera kulucuti pakain yang dipakai Johan hingga dia bugil. Aku segera memeluknya, meneruskan ciuman yang tertunda karena proses melucuti pakainya tadi dan melanjutkan belaian kami. Aku menggesekkan payudaraku yang kenyal, putih dan montok itu ke dadanya yang bidang. Johan membalasnya dengan menggesekkan kontol besarnya yang sudah berdiri tegak ke selangkanganku sambil meremas gemas kedua daging pantatku. Aku bergelinjang hebat dan melepaskan ciumannya. Kemudian aku memintanya duduk di sofa. Aku lalu berlutut di hadapannya. Tanpa malu aku mencengkeram batang kontolnya, menjilati kepalanya dan memasukkan kemulutku. Sekejap kemudian aku sudah asyik menghisap dan mengulum batang nikmat itu dengan lancar, tanpa rasa jijik sedikitpun.

Johan hanya bisa merintih dan bergumam merasakan kenikmatan dan kehangatan mulutku menghisap dan memelintir batang kontolnya. Terdengar kecipak ketika aku menarik batangnya dengan mulutku. Lalu aku masukkan kembali dengan semangat. Terkadang bagian bawah kemaluannya kusapu dengan lidahku, kemudian ujung lidahku berputar di atas kepala kontolnya. Johan terlihat kegelian dan menikmati.

Aku kemudian berdiri dan berbalik membelakanginya. Lalu dengan mengangkangi lututnya aku menurunkan pantatku. Johan memegang pinggangku. Dengan satu tangannya ia memegang batangnya yang sudah menegang dan mengarahkan ke kemaluanku.

Perlahan batang kemaluannya memasuki lubang vaginaku. Lubang memekku telah basah oleh cairanku sendiri, sehingga meskipun agak lambat, batang kontolnya masuk dengan lancar. Betapa nikmat kurasakan. Batangnya terasa diurut dan dihisap oleh kemaluanku. Dengan berpegang ke meja di hadapanku aku menggoyang pinggulku emngimbangi pompaannya dalam posisi nungging ini.

“Owh owh shhhhh... arhhhhhh.”

Mulutku mengerang tak henti-hentinya, menandakan aku terbawa dalam kenikmatan hebat. Ketika Johan tengah asyik mengayuh hebat, aku berhenti sejenak. Lalu berdiri dan berbalik menghadapnya. Dengan mengangkat sebelah kakiku ia kembali menancapkan kontolnya dalam posisi berdiri.

"Bless.." Kontolnya kembali masuk dengan ganas. Mulutkui mulai mencari mulutnya. Johan menyambut mulutku yang tetap ranum walaupun tidak memakai lipstik itu, dengan ciuman yang panas dan bergelora. Kami saling menjilat, mengulum dan tekadang menggigit. Eranganku makin hebat. Goyangan pantatkupun makin hebat. Nampaknya aku sudah mau orgasme. Aku memagut bibirnya dengan kasar dan kedua tanganku memeluk badannya erat-erat. Seiring enjotannya, badanku mengejang.

Serr.. srr.. crot! crot! Cairan cintaku menyembur batang kontolnya yang tengah tenggelam di lubang nikmatku. Aku menekan pantatku keselangkangan Johan untuk memaksimalkan kenikmatan yang aku dapatkan. Badanku kini berkeringat kemudian aku terkulai menyender di badannya, padahal batangnya masih tegak dan keras tertanam di lubang kewanitaanku. Aku memandangnya manja. Ia mencium pipiku.

"Belum keluar?" tanyaku

"Belum"

Aku lalu mengangkat pantatku sehingga batangnya keluar dari lubang memekku. Kontol itu masih tegak dan penuh cairan nikmat yang keluar dari memekku. Dalam sekejap kamipun berciuman dengan ganas. Aku meletakkan kedua tanganku memeluk lehernya. Aku bermain seakan tidak pernah puas. Aku ingin menikmati sepuas-puasnya kesempatan yang aku dapatkan kali ini.

Perjuangan mencari puncak kenikmatan kini dimulai lagi. Dengan beragam posisi kami saling bersetubuh. Kemudian aku mendudukinya sambil duduk Johan menggenjot kemaluannya. Dia memainkan batangnya sambil meremas-remas pantatku dan menjilati payudaraku. Aku kemudian berdiri. Sambil bersandar ke dinding kamar aku minta agar dia kembali menyetubuhiku sambil berdiri. Aku sangat menikmatinya karena Johan selalu mengikuti semua gaya yang kuminta tanpa komentar. Akhirnya aku minta disetubuhi dengan gaya biasa, tidur telentang dengan kedua kakiku diangkat ke pundaknya. Pada posisi inilah aku mengalami kembali orgasme.

“Erghhhhhhhhhhhhh...!”jeritku puas.

Sedangkan Johan masih terus menggenjotku, tapi kali ini aku tidak membiarkan kemaluannya muntah dalam vaginaku, tapi dalam mulutku.

“Johan lepaskan kontolmu. Aku mau mengulumnya.”

Aku tidak merasa jijik sedikitpun. Bahkan sebagian air maninya kutelan begitu saja bagai menelan air minum!

* * * *

Setelah dua hari dua malam bercinta penuh nafsu akhirnya kami harus kembali ke kehidupan normal. Segera kami bersiap-siap untuk cek out dari hotel. Setelah selesai merapikan semuanya, aku dan Johan menuju front office untuk menyelesaikan seluruh administrasi. Tidak lama kemudian kami berlalu meninggalkan hotel yang menjadi tempat kami memadu nafsu.
Part 4........
 

indonesia123

Semprot Holic
Daftar
14 Aug 2012
Post
339
Like diterima
147
Part 5

Tiba di rumah pukul setengah dua siang. Rumah sepi karena suamiku masih di kantor. Aku ingat aku belum ibadah zhuhur. Segera aku bersiap dan melaksanakan kewajibanku itu. Setelah selesai aku langsung berbaring di tempat tidur. Mungkin karena kecapean aku tertidur lumayan lama dan bangun saat suamiku sudah pulang kantor. Sudah jam lima lewat. Astaga aku benar-benar lelah karena dua hari dua malam memacu nafsu mengejar kenikmatan dunia.

“Sudah bangun sayang?” sapa suamiku yang kelihatan baru saja melepaskan pakaian dinasnya dan hendak mandi.

“Iya bang..” sahutku malas-malasan.

“Gimana asik acara reuninya dek?”

“Yah gitulah bang.”

“Aku mandi dulu ya dek.”

Aku mengangguk dan kemudian segera bangun. Aku ingat bahwa aku belum melakukan kewajibanku. Segera saja aku bersuci dan melakukan ibadah ashar. Suamiku terlihat biasa saja dan tidak menyiratkan kecurigaan terhadap aku yang secara nyata telah melakukan zina dibelakang dia. Kami ngobrol seperti biasa dan sholat berjaaah saat magrib. Setelah makan malam dan sholat isa berjamaah di imami oleh suamiku aku langsung tertidur karena masih dilanda kecapean dan terbangun dini hari. Kulihat waktu menunjukan pukul dua lewat sedikit. Suamiku tertidur lelap di sebelahku, aku mengamati dan memandangnya. Aku langsung tertegun dan ingat bahwa aku telah banyak menyakitinya, menghianatinya entah dia tahu atau tidak bahwa tingkat perselingkuhan kami sudah melewati batasan. Dilubuk hatiku aku merasa betapa diriku hina sekali dihadapannya. Sejujurnya terkadang ada perasaan bahwa aku tidak pantas memperlakukannya seperti ini. Tapi apa yang terjadi sudah tidak bisa kukendalikan.

Selingkuhanku Johan terkadang mengutarakan niatnya untuk memperistriku. Karena aku juga mencintainya kadang kala terbersit dipikiranku untuk memilihnya menjadi suamiku yang sebenarnya. Aku sampai berniat untuk meminta cerai talak kepada suamiku yang sekarang. Tapi setiap melihat suamiku aku menjadi tidak tega. Dia tidak memiliki kesalahan apapun untuk begitu saja kuceraikan. Kecuali dalam hal memberi nafkah batin. Hanya itu yang menjadi ganjalan hubungan rumah tanggaku.

Akhirnya aku memilih untuk menjalani saja hubungan dengan Johan tanpa ikatan dan tetap bertahan sebagai isteri dari Amir. Dengan keputusanku ini tak ayal berhubungan badan dengan Johanpun sudah menjadi suatu kebutuhan dan sebuah ungkapan untuk kami melepas hasrat. Meski aku harus berbohong kepada suamiku soal seringnya aku harus keluar rumah. Aku selalu membuat alasan kalau aku ada acara reuni atau acara pengajian dengan kelompok pengajian macam-macam. Dengan penuh kesabaran suamiku selalu mengizinkan aku jika aku mau keluar rumah sendiri tanpa ditemaninya. Aku yakin dia tau bahwa aku keluar rumah semata untuk bertemu dengan Johan.

***

Hari demi hari, bulan demi bulan pun berlalu, Aku dan Johan terus memadu kasih di antara perbedaan kami dan status aku sebagai seorang isteri dari Amir. Sampai aku tiba-tiba dikejutkan dengan kenyataan bahwa aku sudah berbadan dua. Suamiku sangat bahagia dengan kenyataan itu meski aku tahu dia pasti bertanya-tanya benih siapakah yang membuat aku hamil. Aku sangat yakin bahwa benih yang kukandung berasal dari Johan.

“Jo aku hamil.” kataku lewat telepon setelah semalam aku menerima hasil pemeriksaan dokter kandungan.
“Wah kabar bagus sayang. Pasti akulah bapaknya kan?” tanya Johan.

“Entahlah Jo tapi aku senang banget akhirnya bisa hamil.”

“Jaga baik-baik kandungan kamu sayang.”

“Iya jo . I love you.”

Sejak kehamilanku aku berusaha menjadi ibu rumah tangga yang baik di depan suamiku meski aku tidak setia kepadanya. Hubunganku dengan Johan pun terus berlanjut, tak berbeda dengan sebelum aku hamil. Dia tetap tidak berubah selalu membujuk aku untuk menceraikan suamiku dan menikah dengannya. Apalagi dengan kehamilanku yang dia yakini akibat dari hubungan sex kami.

Hari ke hari, bulan ke bulan, sampe akhirnya tiba waktu aku melahirkan. Suamiku yang setia menungguiku dari awal aku merasa kesakitan sampai saatnya aku bertaruh nyawa melahirkan anakku, anakku yang aku belum tahu siapa bapaknya. Dari pagi sampai pagi lagi suamiku dengan sabar mendampingiku, memberiku support dan semangat. Sampai dia tertidur di sebelahku, aku mengamatinya dan memandangnya ya Tuhan aku telah banyak menyakitinya, menghianatinya bahkan dengan sepengetahuannya. Seandainya dia melarang perbuatanku yang sangat bejat ini mungkin dia tidak akan pernah melihat aku hamil.

Rasa ibaku muncul, tiba-tiba aku ingat masa-masa awal aku menikah dengannya. Walau begitu susah dia memerawaniku kami jalani bersama tanpa mengeluh. Aku saat itu tetap menciantai suamiku, rasa iba yang datang saat ini membuat aku kembali menyayanginya, ya Tuhan betapa aku merasa diriku hina sekali dihadapan suamiku. Aku tidak pantas memperlakukannya seperti itu. Ternyata aku sadari bahwa masih ada setitik rasa cinta untuk suamiku.

Akhirnya aku pun melahirkan buah hatiku, yang banyak orang menantinya. Dia cantik, putih bersih, mungil. Wajahnya mirip sekali denganku, syukurlah dengan begitu maka tidak perlu ada pertanyaan yang membuat aku dilanda rasa bersalah jika wajahnya tidak mirip aku dan juga tidak mirip Amir suamiku.

Akupun mengirim pesan kepada Johan selingkuhanku lewat pesan WA untuk memberi tahu kabar baik ini kepadanya, aku yakin tentu ini adalah kabar menggembirakan buat dia. Setelah kuberi tahu, dia begitu antusias dan lagi-lagi merayuku untuk menikah dengannya dan meninggalkan suamiku.

“Aku sudah melahirkan Johan.” isi pesanku.

“Syukurlah... aku ikut bahagia.” Balasnya.

Johan pasti sangat bahagia karena dia yakin bahwa anakku adalah darah dagingnya. Sejak itu dia selalu menanyakan kabar anakku setiap dia menelponku. Dia juga ikut cemas jika si kecil sakit. Bahkan dia mengirimkan kado istimewa untuk si kecil. Tapi di sisi lain suamiku juga sangat bahagia dengan kelahiran anakku. Dia juga semakin cinta padaku. Aku tidak pernah tahu terbuat dari apakah cinta Amir buatku. Seperti apapun kondisiku dia tetap mencintaiku dan memujaku.

Ini menjadi dilema bagiku, aku tetap mencintai Amir suamiku dan mulai menyayanginya lagi. Tapi aku pun sangat mencintai Johan selingkuhanku yang aku yakini telah memberiku seorang anak perempuan yang cantik. Anak yang kuberi nama Anindya. Aku telah menjadi wanita seutuhnya karena telah bisa menjadi seorang ibu.

Aku menyayangi suamiku.. meski di hatiku sudah terbagi dengan yang lain. Maafkan aku, tapi aku berjanji aku tidak akan meninggalkan kalian suamiku dan anakku, kalian tetap bagian hidupku. Aku mencintai kalian, kalian adalah semangat hidupku. Kalian termasuk Johan di dalamnya.

***

Sudah lewat masa nifasku jadi aku sebagai wanita sudah bisa melayani suamiku dalam hubungan biologis. Tapi aku tidak tertarik melakukannya dengan suamiku. Aku merindukan melakukannya dengan Johan. Tapi beberapa minggu ini dia seakan sulit dihubungi. Bahkan lima hari terakhir praktis tidak bisa dihubungi. Ada apa gerangan dengan kekasihku Johan. Terakhir dia bilang sedang sibuk karena ada suatu urusan. Tapi aku seperti merasa tidak enak.

Sampai akhirnya datang kepastian itu. Awalnya, aku mengira Johan dengan rayuannya agar aku mau meninggalkan suamiku agar bisa menikah benar-benar tulus. Lagipula aku sudah mengorbankan segalanya untuk dia. Dia pasti mau melakukan yang sama.
Beberapa waktu kemudian, yang aku ketahui adalah bahwa Johan selingkuhanku ternyata tidak sungguh-sungguh mencintaiku, sepertinya. Dia hanya menganggapku perempuan seksi untuk selalu melayani nafsunya. Dia memuja tubuhku, bukan aku. Memuja kecantikanku, bukan aku. Memeluk tubuhku, bukan hatiku.

Tetapi, sebenarnya, seperti ini pun aku sudah senang. Cukup dia bisa sesering mungkin bersamaku. Memuaskan nafsuku yang tidak bisa kuperoleh dari suamiku. Tidak apa-apa kalau tanpa ikatan sekalipun. Dia datang untuk memuaskan dahagaku akan kenikmatan sex. Aku sudah tahu aku hanya jadi pelampiasan nafsunya, tapi aku tetap mau melakukannya karena aku membutuhkan itu. Kehadirannya sangat kubutuhkan.


Cintaku kepada Johan tak membutuhkan balasan yang besar selain kehadirannya. Kemampuannya memuasakan hasrat birahiku dan keperkasaanku menaklukan sisi liar dalam diriku itu saja yang kubutuhkan. Meski Johan merayuku seolah ingin menikahiku tapi bagiku cukuplah sebuah kehadiran dia. Ternyata selingkuhan yang sangat aku cintai itu akan menikah bulan depan dengan gadis lain. Dia merahasiakannya kepadaku selama ini. Kalau tidak karena temanku yang memberitahukan kabar itu dan mengirimiku foto undangan pernikahan dia lewat bbm, aku juga tidak akan tahu. Dan lelaki brengsek itu meninggalkanku begitu saja tanpa mengucapkan perpisahan atau secara jujur mengakui akan menikah agar kita bisa berpisah baik-baik.


Kenyataan yang aku alami ini tentu saja membuat hatiku galau. Aku begitu mencintai Johan dan sangat memerlukan dia untuk kebutuhan batinku dicampakan begitu saja. Aku sakit hati dan sangat kecewa.
Part 5.....
 

indonesia123

Semprot Holic
Daftar
14 Aug 2012
Post
339
Like diterima
147
Part 6

Melupakan hubungan asmara yang telah berakhir memang tidaklah mudah. Baik itu hubungan dengan pasangan,maupun dengan selingkuhan. Banyak wanita yang berusaha melupakan selingkuhan, namun ia semakin galau dan sulit move on. Aku termasuk wanita itu. Aku merasakan sendiri bahwa melupakan selingkuhan bukanlah sesuatu yang mudah. Semakin keras berusaha melupakan Johan, semakin aku teringat akan hal itu.

Aku sering berkata dalam hati 'sudah lupakan saja dia, jangan diingat-ingat lagi', justru yang terjadi aku akan semakin lama memikirkannya. Akibatnya malah semakin ingat, semakin rindu, dan malah timbul keinginan untuk tetap bisa berselingkuh dengan Johan meski dia telah beristeri.

Aku pasrah saja dengan tidak berusaha sekuat tenaga dalam melupakan mantan selingkuhan. Mending aku lakukan hal-hal yang bermanfaat bagi diri sendiri dan bernilai positif. Meski kehilangan Johan memang membuat aku frustasi. Dan memang benar sulit sekali untuk bisa melupakan selingkuhan. Apalagi selingkuhan yang bisa membuat rasa nyaman di hati dan sekaligus memberi kepuasan di ranjang. Tapi kehilangan Johan dengan cara menyakitkan tetap saja membuat hari-hariku menjadi sangat galau. Aku harus bisa mengatasinya. Mungkin dengan fokus mengurus rumah tanggaku terutama bayiku.

Untuk urusan melayani suamiku dalam urusan biologis aku tetap melakukannya. Tentu saja aku harus menahan diri agar melayaninya tidak dengan nafsu. Karena apabila aku ikut bernafsu malah akan membuatku pusing sendiri. Tentu saja bila itu terjadi maka hanya kekekcewaan yang aku dapatkan akibat nafsuku bangkit tapi Amir suamiku malah sudah tidak berdaya.

***

Setiap pagi aku suka jalan-jalan sambil mendorong kereta bayiku keliling komplex rumah. Sudah lima hari rumah di ujung kompleks rumahku yang kosong telah terisi. Setiap aku melewati tetangga baruku itu dia selalu menyapa sekedar mengucapkan selamat pagi. Tetangga baruku itu bapak-bapak umurnya menjelang 40an kayanya sih, seumuran Amir suamiku gitulah, cuma terlihat badannya tegap atletis, tinggi dan berkulit agak gelap. Rambutnya keriting khas orang dari daerah timur.

Tapi sepertinya aku pernah melihatnya, entah dimana. Meski dia baru di kompleks ini tapi aku tahu dari tetangga lain bahwa namanya pak Anton. Sampai satu pagi akhir pekan yang lain aku telat keluar rumah untuk jalan pagi. Sehingga ketika jalan didepan rumah pak Anton, dia keluar rumah dan menyapaku.

"Mau jalan pagi ya bu, hahahhaha tapi kok kesiangan?" sapanya berguarau.

"Iya ni pak, kesiangan, hehehhehe".

"Iya liat ibu jalan sendirian ya makanya aku keluar juga, jalan bareng yuk".

"Oke pak. Panggil aku Nisa aja deh pak, jangan bu segala, kan Nisa masi muda belon ibu-ibu banget.".

"Iya, masi muda, cantik, sexy".

"Masak si pak, apanya yang sexy sih?". Kataku agak risih. Baru kenal sudah ngomong sexy segala.

"Ya sexylah Nisa, body kamu proporsional banget, itu namanya sexy ".

Aku seneng senang juga dipuji gitu. Tapi ini oleh orang yang baru kenal jadi agak gimana juga sih. Apalagi dia langsung ngomong soal body. Astaga orang ini sungguh sangat percaya diri dalam berbicara dan merayu wanita.

"Hmmmm makasih ya pak." Aku hanya bilang begitu saja.

"Eh. Kamu kok gak jalan pagi ama suaminya".

"Dia sibuk persiapan buat berangkat kerja. Maklum PNS, bapak sendiri udah jam segini masih belum berangkat kerja?".

"Oh kebetulan minggu ini dapat giliran shif malam. Jadi setiap pagi ampe sore di rumah. Kalau giliran shif siang aku malam di rumah. Maklum kerjaan aku cuma sekuriti."

"Oh gitu ya. Terus ibunya mana pak.”

"Dia masih tinggal di rumah mertua. Di kota lain". Dia menyebutkan satu kota.

"Oh gak jauh dong".

"Iya si, tapi kalo bolak balik tiap hari mah cape lah, apalagi macetnya itu lo. Makanya aku nempatin rumah family yang ditinggal kosong."

Sejak itu aku makin sering bertemu dia. Orangnya sangat mudah akrab dengan siapa saja. Bahkan kemudai dia berani bertamu ke rumah saat siang hari ketika suamiku sedang di kantor. Aku sih segan juga menerima tamu lelaki saat aku hanya berdua saja dengan bayiku. Tapi gak sopan juga menolak tamu. Awalnya sikapnya sopan tapi makin lama koq makin kelewatan sikapnya. Bahkan bisa dibilang kurang ajar. Bagaimana tidak dia berani-beraninya merayu aku yang sudah bersuami. Sampai akhirnya aku tahu kenapa dia berani bersikap seperti itu.

“Ayolah Nisa. Aku tahu kamu pernah beberapa kali cek in di hotel Paradais. Aku kan sekuriti di sana.”

Aku sangat kaget dengan kata-kata pak Anton itu. Pantas saja aku merasa seperti pernah melihat dia sebelumnya. Memang aku sudah berapa kali pergi ke hotel paradais dengan Johan. Tapi aku tentu saja harus menolak untuk mengakuinya.

“Oh ya bapak salah orang.” Bantahku.

“Gak mungkin cantik. Aku tahu itu kamu dan laki-lakinya aku kenal. Si Johan langganan hotel kami.” Kata pak Anton dengan entengnya.

Aku makin kaget setelah pak Anton mengaku kenal Johan. Benar-benar sial hidupku menghadapi kenyataan tetangga baruku adalah orang yang mengenal Johan. Lebih parah lagi dia bilang Johan langganan hotel tempat dia bekerja. Johan ternyata lelaki brengsek yang doyan main cewek di hotel. Aku kembali harus membantah pak Anton.

“Aku tidak kenal Johan.”

“Hahahhaha jangan gitu Nisa. Masak laki-laki yang sudah meniduri kamu sampai puas dibilang gak kenal.”

“Bapak jangan sembarang omong ya? Apa buktinya kalau saya kenal yang namanya Johan?”

“Untung aku punya foto kalian berdua. Foto biasa saja. Tapi bisa menunjukan bahwa kalian dekat. Hehehehhe.!” Kata pak Anton sambil memperlihatkan foto di layar ponselnya.

Aku tertegun karena melihat foto itu. Foto adegan biasa saja antara dua orang. Foto selfi katakanlah. Tapi disana ada wajahku dan Johan yang terlihat mesra.

“Gimana masih ngaku gak kenal Johan?” tanya pak Anotn dengan nada mengejek.

”terus karena itu pak Anton mengira aku ini wanita murahan ya? Maaf pak aku gak semurah pikiran bapak.”

“Hmmmm.. Apa suami kamu tahu? Atau tetangga kamu tahu?”

“Maksud bapak? Bapak mau ngancam aku buat kasih tahu orang-orang?”

“Aku tidak bermaksud seperti itu kalau kamu bersikap baik padaku Nisa.”

“Apa selama ini aku tidak sopan sama bapak?”

“Aku ingin kita bisa bekerja sama Nisa. Sama-sama enak...hehehehehh!”

“Kalau bapak berpikir yang tidak-tidak mending bapak pergi dari rumah saya!” usirku.

“Jadi kamu tidak khawatir suami dan orang-orang tahu yang kamu lakukan di hotel.”

“Aku tidak takut. Mana ada yang percaya omongan bapak.”

“Oke deh, kita lihat saja.”

Pak Anton segera berlalu dari rumahku. Enak saja dia pikir aku ini wanita rendah yang bisa dirayu. Apalagi karena melihat aku pernah tidur dengan Johan di hotel lalu dia berpikir bisa juga meniduriku. Apalagi pakai mengancam segala. Aku bukan wanita murahan. Meski aku pernah selingkuh da tidur dengan lelaki lain bukan berarti aku bisa menerima lelaki lainnya lagi untuk tidur denganku.

Tapi Pak Anton tidak pernah putus asa. Besoknya kembali dia bertamu ke rumahku. Dia terus saja menggangguku. Syukurlah meski dia bermaksud buruk tapi dia tidak melakukannya dengan kasar apalagi memaksa. Dia tetap bersikap yang wajar-wajar saja. Meski kata-katanya boleh dibilang tidak sopan karena mengajak untuk berbuat zinah.

“Kalau bapak terus seperti ini aku bisa laporkan bapak!” ancamku.

“Please jangan laporkan aku Nis. Aku hanya ingin bersenang-senang. Kamu bisa dengan Johan kenapa dengan aku tidak.”

“Johan itu mantanku. Aku hanya mau melakukan itu dengan yang aku sukai. Jadi jangan paksa aku melakukan yang tidak aku sukai.”

“Aku tetap akan bersabar sampai kamu bersedia melakukannya.”

“Aku harap bapak segera menghentikan ini sebelum aku hilang kesabaran dan melaporkan bapak.”

“Aku tidak keberatan kau lapor sayang. Tapi aku kasihan hanya karena ini kamu malah akan menghancurkan diri kamu dan keluarga kamu. Padahal mending kamu terima saja ajakanku untuk bersenang-senang.”

“Cukup pak. Jangan sampai aku hilang kesabaran.”
“oke-oke.”

Sejujurnya dalam diriku selalu muncul hasrat birahi yang ingin dipuaskan. Tapi itu tentu harus aku dapatkan dari suamiku atau orang yang aku cintai. Sampai kini suamiku tetap saja dengan kondisinya. Tapi bukan berarti aku lantas mencari kepuasan dengan sembarang lelaki. Aku memang telah selingkuh tapi dengan orang yang aku cintai. Lagipula dia mantanku yang memang aku sukai. Karena itu aku merasa bahwa aku wanita gampangan. Kini selingkuhanku pergi menjauh maka aku harus bisa membuktikan pada diriku sendiri bahwa aku mampu menahan gejolak birahi dengan usahaku sendiri. Dengan begitu aku bisa membuktikan bahwa aku bukanlah wanita binal yang haus akan sex.

Untunglah kemudian Pak Anton mendapat giliran shift siang. Jadi untuk sementara aku aman dari gangguannya. Tapi aku tetap terpikir ancaman dia yang akan memberi tahu suamiku dan orang-orang tentang perselingkuhanku. Seandainya itu terjadi bagaimana aku menghadapinya. apa yang akan terjadi padaku saat semua orang tahu perselingkuhanku. Ketakutanku akan menghadapi hal itu bukan berarti aku akan menyerah dan mau saja menerima ajakan pak Anton. Aku sama sekali tidak tertarik untuk berhubungan intim dengan lelaki yang tidak aku cintai. Jadi meski aku takut dengan ancaman dia tetap tidak membuat aku rela untuk bisa ditiduri lelaki itu.

Aku akhirnya pasrah terserah dia mau bongkar aku sudah siap. Aku yakin suamiku akan tetap membelaku dan aku dengan dukungan suamiku akan bilang ke orang-orang bahwa pak Anton telah memfitnah aku. Bahkan pak Anton melakukan itu karena niatnya mengajak aku berbuat zina kutolak. Dengan berpikir seperti itu maka aku menjadi lebih tenang.

Part 7

Aku baru saja menemani bayiku sampai akhirnya ia terlelap. Akupun hendak tidur juga malam ini. Di rumah hanya kami berdua saja malam ini. Karena suamiku Amir sedang dinas keluar daerah. Tadi belum lama terlelap aku tersentak bangun mendengar suara setengah membentak dan merasakan benda dingin menempel di tenggorokanku.

“bangun, jangan berteriak atau kami bunuh.”suara keras laki-laki yang mengenakan tutup kepala warna hitam yang hanya mempunyai dua lubang di bagian mata untk melihat.

Kejadian ini membuatku gemetar panik,apalagi setelah melirik bahwa perampok itu jumlahnya dua orang. Satu memegang senjata api dan satu dengan sebilah celurit menempel di leherku. Aku sangat ketakutan apalagi ada anakku yang masih bayi.. “Bangun, “perintah salah seorang kawanan yang mengancamku.

Lalu mereka mengikat tanganku. Pria yang masih menempelkan celuritnya di leherku menarik lenganku dengan kasar. Sementara pria yang satu berdiri dekat bayiku. Nyaliku makin menciut mengingat keselamatan bayiku.

“Tunjukan di mana kamu simpan uang dan perhiasan, sekali lagi jangan macam-macam!” bentaknya sambil mendorongku. Aku berjalan gemetar kearah lemari. anakku. Dengan rasa taut yang amat sangat kubuka lemari pakaianku dan menyerahkan kotak perhiasanku kepadanya.

”Cuma segini? mana yang lain?” tanyanya.

”Maaf pak, hanya itu yang saya punya ini anting saya dan cincin silahkan ambil”, jawabku sambil melepaskan anting dan cincin kawinku, apa boleh buat.

”uangmana uang?”, bentak si perampok .

Dengan tergesa-gesa segera kuserahkan sebuah amplop dari balik tumpukan pakaian .

”Hanya 2 juta?mana yang lain?jangan buat saya kesal!” bentak si perampok kepadaku sambil menatapku tajam.

Dengan menangis terisak aku berkata,”Maaf pak, hanya itu yang kami punya..kami bukan orang kaya suami saya Cuma Pegawai negeri”.

” Ahh sudah sudah, saya gak mau tahu” bentaknya memotong perkataanku sambil menghempaskan tubuhku dengan kuat ke dinding kamar, tangannya yang kuat mencekik leherku sementara tangannya yang lain menyelipkan celurit di belakang punggungnya.

”ampun pak memang Cuma itu yang kami punya, bapak bisa ambil barang elektronik atau motor suami saya” kataku terbata-bata karena takut dan sesak nafas akibat cekikannya.

“Bagaimana kalo saya ambil ini saja”, jawabnya sambil sebelah tangannya hinggap tepat di salah satu payudara dan meremas-remasnya kasar.

“jangan..pak” ujarku lirih sambil menangis.

“jangan sok jual mahal, atau anakmu aku habisi”, ancamnya padaku.

Lututku serasa tak mampu lagi menopang tubuhku mendengar ancamannya, apalagi merasakan tangan kasarnya mengusap-usap selangkanganku.

“jangan pak,tolong, saya lagi datang bulan pak”, ujarku berdalih. Namun ia tidak mau begitu saja mempercayai tipuanku, segera tangannya menyingkap dasterku , tanpa ragu tangannya menyelinap dibalik celana dalamku.

”o..o..o, emang aku peduli? Aku tidak jijik dengan wanita yang lagi mens. Aku justru sangat suka... hahahhaha?”, ucapnya seraya mendekatkan dua jarinya yang baru saja menyentuh kehormatanku ke hidungnya ,”oohh, kamu terangsang ya dengan sentuhanku?..ha..ha..ha!?”, tawanya sinis usai mencium jemarinya.

Aku merasa seolah sudah tak bernafas lagi dan pasrah manakala upayaku membodohinya gagal.

”Baik cantik, kamu telah membuat aku terangsang, mari kita lihat, mana yang lebih perkasa..aku atau suamimu yang pasti lemah itu”

Dengan sekali tarik perampok itu merobek celana dalamku. prekk, suara robekan celana dalam itu terasa sangat mengerikan bagiku. Dan aku hanya bisa menangis terpejam sambil menggigit bibir merasakan jari jemarinya merogoh-rogoh rongga memekku dengan liar, menjambak-jambak rambut kemaluanku, sambil mulutnya menciumi wajah dan bibirku. Aku sangat jijik namun tak mampu berbuat apa-apa selain merintih kesakitan, sakit secara psikis dan fisik. Kemudian tangannya berhenti menyentuhku, namun meski mataku terpejam aku tahu kalau ia tengah melepaskan celananya.

“Pegang!”, perintahnya sambil mengarahkan tanganku kearah selangkangannya dan segera kudapati daging panjang besar dan telah mengeras, namun segera kulepaskan.

“Pegang bodoh, dan buka matamu”, bentaknya lagi sambil menampar wajahku, “ahhh”, aku berteriak kesakitan diiringi rasa terintimidasi yang teramat sangat. Mataku membuka namun tidak menunjukan keterkejutanku melihat betapa besarnya batang penis lelaki yang tengah menguasaiku itu. Jauh jika dibandingkan milik suamiku dan juga Johan selingkuhanku. Namun rasa takut yang mendera tak membuatku bergairah.

Dengan penuh rasa takut kembali tanganku menggenggam alat vitalnya dan tanpa perintah mulai mengocok-ngocoknya pelan,yah bagus begitu, katanya ditengah deru nafasnya yang semakin mendengus kencang.

”Hisap!”, perintahnya sembari menjambak rambutku, menariknya ke bawah agar aku berlutut. Segera kucium aroma khas kelelakiannya di samping bau apek celananya, dan kali ini, tanpa membantah lagi segera kumasukan kontol perampok tersebut ke mulutku meski dengan amat terpaksa, lalu mulai mengulumnya walau rasanya mulutku tidak cukup besar untuk menampungnya. Tatap aku, perintah sang perampok sesaat setelah tangannya yang masih menjambak rambutku mendongakan kepalaku. Perampok brutal itu melepas topengnya. Wajahnya sungguh seram dan kejam. Tatapan matanya begitu penuh berahi menatap wajahku dimana separuh batang kemaluannya tertelan dalam mulutku. Tangannya menarik kepalaku depan belakang sehingga penis tegangnya keluar masuk rongga mulutku dan acapkali membuatku tersedak. Kurasakan cairan asin mulai membanjiri lidahku. Perasaan jijik mengaliri setiap jaringan syarafku menyadari aku tengah disetubuhi lewat mulut oleh pria asing yang tak kukenal. Beberapa menit kemudian si perampok berkata.

“cukup!” dan sedetik kemudian kurasakan kepalaku di tarik ke atas.

Aku tak berdaya dalam tangisan,aku hanya diam dalam seribu bahasa,gerak pun untuk melawan juga percuma.Tiada lagi rasa ingin menjerit dalam kesunyian,tak bisa lagi aku meronta dan lari pergi dalam jeratannya.
Aku pasrah ,sungguh lemahku mencerminkan ketololanku sebagai wanita yang di cap banyak orang sebagai maklhuk tak berdaya.Tidak bertenaga hanya menangis dalam batin yang penuh siksa tanpa guna.Aku sesenggukan melampiaskan tangisku dalam sepi.
Tak ada suara dari mulutku , yang ada hanya air mataku yang meleleh deras. Aku memandang ke-langit-langit kamar. Aku merasa sakit atas ketidak adilan yang sedang kulakoni. Kini lelaki itu menatapku. Aku menghindari tatapan matanya. Dia menciumi pipiku dan menjilat air mataku.
“Kamu Sexy banget cantik….. ” Guman perampok itu dengan penuh nafsu.
Dia juga menciumi bibirku. Tangannya meraba pahaku dan mulai meraba-raba kulitku yang sangat halus karena tak pernah kulewatkan merawatnya. Perampok ini tahu kehalusan kulitku. Dia merabanya dengan kasar dan penuh nafsu.
Betapa aku dilanda perasaan marah dan malu yang amat sangat. Hanya suamiku Amir dan selingkuhanku Johan yang telah melihat auratku selama ini, tiba-tiba ada seorang lelaki asing yang demikian saja merabaiku dan menyingkap segala kerahasiaanku.
Aku merasakan betisku, pahaku kemudian gumpalan bokongku dirambati tangan-tangannya. Pemberontakanku sia-sia. Wajahnya semakin turun mendekat hingga kurasakan nafasnya yang meniupkan angin ke selangkanganku. Lelaki itu mulai menenggelamkan wajahnya ke selangkanganku.

Tiba-tiba aku sekilas melihat perampok yang berdiri dekat bayiku tumbang dengan kepala bocor mengeluarkan darah akibat hantaman seorang yang tiba-tiba masuk. Lalu pria itu yang mengejutkanku ternyata adalah pak Anton telah berhadap-hadapan dengan pria yang telah melecehkanku. Dalam situasi genting ini terpikir juga sedikit prasangka jangan-jangan ini rekayasa pak Anton. Tapi melihat pertarungannya yang berdarah-darah maka aku langsung merasa bersalah punya dugaan buruk itu. Pak anton yang menggunakan pentungan khas satpam bertarung dengan perampok yang memakai clurit.

Tidak berapa lama pak Anton bisa melumpuhkan si perampok meski beberapa bagian tubuhnya luka tersabet clurit. Perampok itu terkapar pingsan setelah beberapa hantaman tongkat itu mengena dengan telak ke kepalanya.Tapi ketika dia baru mau menoleh kearahku yang duduk meringkuk ketakutan terdengar letusan senjata api. Ternyata rekan perampok yang paling awal kena hantam dikepala sudah siuman dan melepaskan tembakan yang menerpa bahu pak Anton.

Tapi pak Anton masih bisa berdiri meski tubuhnya kena peluru dengan penuh kemarahan dia mendekati penembaknya dan menghantamkan tongkat berulang-ulang ke kepala musuhnya. Si perampok hendak melepaskan tembakan berikutnya tapi tenaganya sudah sangat lemah akibat kehilangan darah. Kemudian pak Anton dan perampok itu sama-sama pingsan.

Kemudian tetangga-tetanggaku yang terkaget dengan bunyi letusan dan keributan di rumahku mulai datang. Tidak berapa lama menyusul polisi yang tiba di rumahku. Aku yang masih shok hanya bisa terdiam tak berdaya.

***

Seminggu setelah kejadian perampokan itu aku masih saja dihantui rasa takut. Meski suamiku sudah ada didekatku. Sementara aku mendengar kabat bahwa pak Anton telah keluar dari rumah sakit setelah mendapat perawatan intensif akibat tubuhnya yang tertembus peluru dan luka-luka akibat terkena sabetan clurit. Aku harus berterima kasih kepada lelaki itu karena dia berhasil mencegah perampok itu menodaiku.

Aku mendatangi rumah pak Anton ditemani suamiku dan juga aku membawa Anindya bayiku.

“Makasih ya pak atas pertolongan bapak. Maaf juga ya pak Anton baru bisa jenguk sekarang.” Ujarku saat sudah duduk di ruang tamu rumah pria itu.

“Iya pak Anton kami masih disibukan urusan dengan Polisi.” Suamiku menambahkan.

“oh gapapa sudah kewajiban tetangga untuk saling tolong.” Sahut pak Anton yang terlihat sudah cukup sehat.

“Ini sebagai ucapan terima kasih pak.” Ujar suamiku sambil menyerahkan amplop.

“Ah jangan pak Amir. Gak usah.” Tolak pak Anton.

“gak boleh gitu pak Anton. Ini juga sebagai ganti ongkos perawatan bapak di rumah sakit.”

Akhirnya pak Anton menerima juga amplop itu. Aku merasa tidak enak juga mengingat apa yang aku alami dan juga apa yang di alami oleh pak Anton. Apalagi karena hubungan yang kurang enak sebelumnya akibat hasrat birahi pak Anton terhadap diriku. Aku takut pak Anton yang merasa telah menolongku akan makin nekad merayu. Dan aku yang telah ditolongnya menjadi tidak tega menolak.

Ternyata nasib buruk belum juga pergi dari diriku. Sesuatu yang tidak pernah aku bayangkan terjadi. Suamiku yang penyabar dan selalu bisa memaafkan kesalahanku tenyata mengajukan gugatan cerai terhadapku. Aku menduga penyebabnya adalah pak Anton yang membongkar perselingkuhanku. Benar saja alasan suamiku karena terkuaknya perselingkahanku dengan Johan. Tapi prasangkaku terhadap pak Anton keliru. Sebab terbongkarnya perselingkuhanku adalah karena isteri Johan mengupload foto-foto kebersamaanku dengan Johan di akun facebooknya. Mereka bertengkar hebat dan karena isteri Johan sangat marah suaminya itu masih saja mengingat ingat aku selingkuhannya.

“Aku tidak akan mengambil keputusan ini kalau kamu bisa menjaga rahasia. Aku selalu memaafkanmu. Tapi keluarga besarku tentu tidak menerima. Aku tidak peduli dengan harga diriku sebenarnya. Tapi aku tidak bisa menolak permintaan ayah ibuku yang memintaku menceraikan kamu.” Kata Suamiku.

Ada kemarahan tersembunyi jika suamiku berbicara menggunakan aku dan kamu.

“Adek mengira bang Amir akan membela adek bahkan dari keluarga abang.”

“Kalau saja kamu bisa menjaga diri tentu ini tidak akan terjadi. Kenapa juga kamu mesti berfoto-foto segala. Aku bisa menerima apa yang aku lakukan. Tapi mereka? Apalagi ini tersebar di grup-grup facebook.”

Astaga aku tidak menyangka akan begini jadinya. Memang saat itu aku dan Johan yang sedang dilanda cinta sempat melakukan foto-foto mesra. Tidak vulgar sih tapi tetap saja itu membuat marah keluarga. Karena foto itu dilakukan saat aku sudah menjadi isteri dari Amir.

Aku harus menerima kenyataan pahit ini. Aku yang baru saja dikaruniai seorang putri yang sekarang baru berusia enam bulan harus menghadapi sidang perceraian di Pengadilan Agama.
bersambung
Part 6
Part 7
 
Jav Toys
Gaple Online Indonesia
Pasang iklan hanya lewat CONTACT US
Top
Semprot is now part of LS Media Ltd