Ini tiba tiba layarku gelap ..kenapa ya?
Lanjut Part 3 ya!
Setelah kejadian di malam keempat itu, nubie akhirnya udah nggak tahan lagi.
Setiap malam rasanya selalu gelisah kalau mau tidur. Mata udah ngantuk, badan juga capek, tapi pikiran terus waswas. Takut kalau sosok itu datang lagi—atau malah menunjukkan sesuatu yang lebih parah.
Nubie sempat cerita dan minta solusi ke teman sekamar. Sayangnya, mereka juga nggak punya ide.
Mereka termasuk tipe yang jarang bergaul dengan warga lokal + NOLEP . Jadi yang kehidupannya benar-benar cuma kerja, pulang ke mess, tidur, terus kerja lagi. Jadi mereka juga nggak tahu harus bertanya atau minta bantuan ke siapa.
Akhirnya, nubie nekat cari bantuan sendiri.
Masalahnya, tempat penugasan nubie waktu itu cuma sebuah daerah kecil yang mirip pedesaan. Hampir nggak ada warga lokal yang bisa berbahasa Inggris, sementara kemampuan bahasa Khmer nubie saat itu masih nol besar.
Jadilah nubie keliling sambil mengandalkan Google Translate dan bahasa isyarat. Pokoknya modal nekat aja dulu.
Kebetulan, transportasi yang paling gampang ditemukan di sana adalah kendaraan mirip bajaj. Kalau disini, orang-orang menyebutnya
tuk-tuk.
Nubie lalu menghampiri salah satu driver tuk-tuk dan mencoba bertanya:
“Di mana saya bisa menemukan orang yang paham soal dunia perhantuan?”
Pertanyaannya tentu disampaikan lewat Google Translate, ditambah gerakan tangan yang entah bisa dipahami atau malah bikin bingung.
Entah bagaimana, ternyata driver itu paham maksud nubie.
Tanpa banyak bicara, nubie langsung dibawa ke sebuah pagoda—semacam tempat ibadah umat Buddha. Dari yang nubie lihat, bentuk dan suasananya punya banyak kemiripan dengan pagoda-pagoda di Thailand.
Sesampainya di sana, nubie diarahkan untuk menemui salah satu biksu.
Dengan segala keterbatasan bahasa, nubie mencoba menjelaskan semua kejadian yang dialami: mulai dari sosok perempuan berbaju putih, kemunculannya selama beberapa malam, sampai mimpi tentang kematian dan prosesi pemakamannya.
Setelah mendengar cerita nubie, si biksu malah tertawa kecil.
Nubie juga nggak tahu dia tertawa karena menganggap ceritanya biasa, karena sudah paham apa yang terjadi, atau karena penjelasan nubie lewat Google Translate terdengar aneh.

Setelah itu, nubie didoakan. Si biksu juga memercikkan semacam
holy water ke tubuh nubie.
Sebelum pulang, nubie diberi sebuah gelang doa. Gelang itu langsung dipasangkan ke tangan nubie dan diminta untuk terus dipakai.
Saat keluar dari pagoda, perasaan nubie memang sedikit lebih tenang.
Tapi pertanyaannya cuma satu....
Apakah setelah memakai gelang itu gangguannya benar-benar berhenti?
Lanjut ke part berikutnya nggak, nihh?
