Ada Yogya,
Yang tiap helai debu menyimpan kenangan dalam embunnya,
Ada Yogya,
Yang tiap warna udara berlarian memeluk dengan kerinduannya,
Ada Yogya,
Yang tiap celotehan ramah mentari pagi menyapa dengan sopannya,
Ada Yogya,
Yang tiap kikisan peluh mengusap dengan lengannya,
Ada Yogya,
Yang tiap milimeter sudut menanti mata kita untuk menyentuhnya..
11:07 PM; 17 Sept.26
˚⭑Dee⭑˚
Namun bagiku,
segala magis yang kau sebutkan itu luruh dalam sunyi.
Sebab tanpa kehadiranmu di sisikuku,
Yogya hanyalah sebuah ruang kosong yang terbentang luas,
sebuah bejana hampa tanpa nyawa,
tempat angin berhembus tanpa pernah membawa hangatnya sapaanmu.
Apa artinya tiap helai debu yang menyimpan kenangan dalam embun,
jika jemari kita tak lagi saling bertaut meresapi dinginnya?
Apa guna warna udara yang berlarian memeluk kerinduan,
jika bayangmu tak ada untuk bertukar tatap di bawah lengkung langitnya?
Mentari pagi boleh saja bernyanyi dengan celotehan paling sopan,
namun suaranya menjelma bising yang asing
saat bukan senyummu yang menjadi muara dari tatapan pertamaku.
Yogya bisa saja mengusap peluh dengan lengan ramahnya,
menawarkan kenyamanan di setiap celah batu bata dan sudut jalannya.
Namun bagiku, tiap milimeter sudut yang kau puji itu
hanyalah labirin bisu yang meratap,
menanti mata kita untuk menyentuhnya bersama,
sebuah penantian sia-sia yang kini menyisa perih.
Kota ini mungkin hidup bagi mereka yang menemukan cintanya,
tetapi bagiku, ia tak lebih dari bentangan kanvas pucat tanpa warna.
Tanpa hadirmu yang menyulut kembali ruh di balik arsitektur rindunya,
setiap sudut jalan, riak sudut senja, dan aroma sudut kotanya
hanyalah monumen kesepian yang menggemakan namamu tanpa jua bersahut.
Yogya tidak pernah benar-benar ada,
ia hanyalah nama bagi kehampaan yang kau tinggalkan.