9Club Situs Judi Online Terpercaya
Asus Togel online   Mandala Toto
RGO Online
Pasang iklan, hanya lewat Contact Us.
Waspada penipuan iklan. Klik di sini untuk melihat daftar penipu.

Di Negeri Orang

magnacharta83

Semprot Baru
Thread Starter
Daftar
23 Jul 2012
Post
37
Like diterima
255
Aku bernama Soleh, umurku sudah tidak muda lagi, sudah mencapai 70 tahun, tetapi kondisi pisik tubuhku boleh dikatakan masih segar bugar, dengan tubuh kekar masih berotot. Karena ketika masih muda aku rajin berolah raga entah itu joging atau renang, sebab itulah olah raga yang mudah dan murah meriah. Karena lingkunganku adalah tempat daerah pedesaan yang banyak sungai, dekat laut serta daerah lembah dan pebukitan. Aku tergolong keluarga kecil yang hanya mempunya satu saudara yang sekarang telah mempunyai anak dan cucu yang tinggal di kota lain di kawasan Jawa. Sehingga hubungan kami agak kurang kontak. Aku sendiri sudah mempunyai anak, sekarang telah berkeluarga dan tinggal di kota lain juga. Sedangkan aku sendiri setelah ditinggal istriku meninggal, hanya seorang diri tinggal di pedesaanku. Karena terlalu kesepian, apalagi daerah yang cukup terpencil aku memutuskan pingin mencari kegiatan baru. Aku memutuskan untuk merantau, entah itu kemana yang penting bisa mencari kerja yang layak. Maka sebelum aku merantau, aku membuat surat yang isinya memberitahukan bahwa aku sekarang sedang merantau, sehingga apabila anak dan cucuku datang atau saudaraku mereka tidak perlu mencariku. Surat itu ku bungkus dengan plastik bagus supaya tidak rusak dan kala itu usiaku 65 tahun. Maka jadilah aku merantau, aku tidak tahu pasti kemana yang penting berjalan. Dengan berjalan kaki menuju jalan raya aku naik mobil dan berhenti di sebuah kota, kota apa aku tidak tahu tetapi aku ingat kota itu dekat dengan pelabuhan kapal. Banyak sekali ada kapal yang berbentuk dari perahu ada yang dari besi. Ada juga pakai kain, mungkin namanya kapal layar. Aku yang tidak tahun arah dan tujuanku, kucoba bertanya-tanya kalau-kalau ada kerjaan untuku, apa saja yang penting bisa makan, mau digaji berapa sehari yang penting makan itulah dalam pikiranku.




Akhirnya aku bertemu dengan seseorang yang diketahui kapten kapal, dari situ aku tahu bahwa kapal itu ada membutuhkan seorang yang mau menjadi anak buah kapal. Aku terus menawarkan diri, dengan mencerita latar belakangku. Ternyata kapten kapal itu ngerti dan setuju atas kemauanku dan jadilah aku anak buah kapal. Maka seminggu kemudian kami berangkat mengarungi lautan samudera, entah beberapa hari kami berada ditengah laut lepas, yang pasti kepalaku terasa pusing dan perut mual, maklum baru kali ini aku berlayar dengan kapal besar ditengah lautan. Begitulah kehidupan sekarang, tidak terasa sudah satu setengah tahun aku hidup di laut dan kapal, berbagai kota telah aku kunjungi dan beberapa negara telah aku singgahi,baik asia tenggara, Timur Tengah, Eropa sehingga akupun sedikit sedikit bisa bicara berbagai bahasa walaupun tidak pase betul, namun bahasa Inggris yang dominan aku pelajari karena merupakan bahasa internasional.

Pahit getir aku hadapi, hujan panas tidak menjadi penghalang, susah dan senang tidak menjadi pikiranku. Hingga suatu kejadian, kami berlayar menuju sebuah negara yang baru pertama kali kami singgahi. Bahasanyapun seperti bahasa Eropa Timur. Kami berlabuh membawa muatan di negara tersebut, muatan kami banyak sekali sehingga sudah dua hari belum habis juga. Pada hari keempat baru selesai, karena tidak ada orang yang menurunkan muatan untuk yang punya barang, maka aku diajak oleh seorang kuli sopir truk untuk membantunya dengan ajakan bahasa tangan, karena aku tidak tahu bahasa mereka. Perjalanan cukup jauh, sehingga membuat aku khawatir. Kurang lebih setengah jam baru sampai di tujuan, yakni sebuah kota pasar kecil yang cukup ramai. Kami membongkar muatan, sudah selesai aku beristirahat. Entah karena kelelahan dan merasa capek, aku ketiduran tiba-tiba hari sudah gelap. Kulihat mobil dan seorang kuli angkutan tadi sudah tidak ada lagi. Aku semakin kebingungan, aku menanyakan kepada mereka, mereka juga tidak tahu. Aku berjalan kesana kemari tidak ada yang dapat memberikan penjelasan karena aku juga bingung bahasa mereka, bahasa Inggrisku kurang pasiv sehingga membuat mereka tambah tidak mengerti.



Aku tidak tahu lagi kemana, hari semakin larut dan akhirnya aku berhenti disebuah toko yang sudah tutup, disitu aku beristirahat dan tidak tahu hari sudah pagi. Aku seperti gelandangan tidak tahu arah dan tujuan, perut semakin lapar uang tidak punya, uangku ada tertinggal di kapal. Akhirnya aku berusaha bagaimana mengisi perutku dengan cara bekerja apa saja, asalkan bisa makan. Akhirnya aku menemukan pekerjaan yakni mengangkut barang dari toko ke mobil. Dan hasilnya aku dapat uang, ntah uang apa yang penting dapat gaji harian. Selanjutnya aku mencari makanan, makanan disini serba aneh tidak ada nasi ataupun sejenisnya yang ada adalah berbentuk dari roti dan gandum. Aku yang tidak tahu berapa harganya akhirnya membeli makan tersebut. Beberapa biji aku beli mungkin ada 10 biji buat makan siang. Aku berikan semua uang tersebut kepada pemilik toko roti, tetapi ada beberapa lembar di kembalikan oleh pemilik toko. Aku tanya dalam bahasa Inggris, akhirnya aku tahu dari mereka bahwa roti-roti tersebut agak murah. Aku berterima kasih dan bertanya kepada mereka dimana arah kepelabuhan kapal. Dari mereka aku tahu bahwa arahnya cukup jauh, bisa satu jam perjalanan.

Mereka bertanya mau kemana ? .....

Aku jelaskanlah perihal sebenarnya, sehingga aku tersesat kesini dan ditinggal oleh mobil truk angkutan barang yang mana aku ketiduran. Dari mereka juga aku tahu bahwa kapal asing yang berlabu di pelabuhan tersebut biasanya tidak lama-lama karena sudah ada aturan bahwa apabila barang sudah dibongkar dan kapal langsung berlayar kembali. Aku dapat memastikan bahwa pasti sudah ditinggal oleh kapten kapalku. Selanjutnya aku mencari tempat yang tidak ramai, agar aku dapat makan roti-roti yang aku beli. Aku menemukan tempat sebuah bangunan yang tidak lagi dipakai oleh orang, aku duduk disitu dan aku membuka bungkus roti dan air minum dan langsung memakannya. Roti-roti tersebut aku makan hingga mencapai 5 biji yang cukup besar, lagi asyik-asyik aku makan melintas orang didepanku sambil menatapku dan melihat kearah roti yang aku makan



Kupandangi mereka, ternyata mereka dua orang perempuan yang semuanya memakai kerudung dan berbaju terusan kebawa. Dari wajahnya aku dapat menaksir kalau yang dewasa berkisar kurang lebih 37 tahun sedangkan yang masih mudah berkisar 15 tahun.

Aku tahu keduanya pasti sedang lapar, karena kasihan melihatnya dan akhirnya aku memanggilnya ke arahku, mereka mendekat dan aku tanya dalam bahasa Inggris, mereka tidak bisa menjawab tetapi malah menjawab bahasa yang tidak aku ngerti, tetapi dari bahasanya aku bisa menduka, mereka ini dari daerah Timur Tengah atau daerah Arab. Lalu aku menawarkan roti-roti tersebut kepada mereka, mereka menyambutnya dan langsung dimakan dengan lahapnya. Aku berikan air mineral kepada mereka supaya tidak kesedak. Aku terharu melihat cara mereka makan, begitu lahap dan semangat sekali. Setelah habis 5 roti tersebut, secara bersamaan mereka mengucapkan terima kasih seperti menunduk, aku tersenyum lau menunduk juga. Aku berbicara dalam bahasa isyarat, tetapi cukup sulit juga kami saling mengerti. Tetapi aku bisa mengangkap dari bicaranya dan kesedihannya, bahwa mereka juga tersesat atau mungkin ketinggalan kapal atau apa, dari matanya dapat kulihat mereka menangis terseduh-seduh. Mungkin mereka sudah lebih lama dari aku, sehingga sangat lapar sekali dan juga bingung mau bagaimana. Dalam bahasa isyarat kami sedikit sedikit mulai mengerti, aku bilang nasip kita sama kesasar kenegeri ini ditinggal kapal. Aku perkenalkan bahwa aku bernama Saleh dari Indonesia, mereka menerangkan bahwa yang dewasa bernama Mashito dan yang mudah bernama Maisharo yang menjelaskan juga mereka dari Kuwait. Akhirnya aku memberikan bahasa isyarat, baiknya kita bersama saja karena sama-sama dari asia.Mereka mengangguk ternyata setuju, aku melihat di sekitar sini lumayan agak sepi dari keramaian dan terlihat banyak bekas tumpukan kardus bekas, sepertinya disini tempat pembuangan sampah kardus, koran. Aku melihat bangunan tua ini ada beberapa lantai, lalu aku naik keatas melihat keadaan, ternyata diatas agak bersih tidak ada tumpukan sampah dan koran. Lalu aku turun kembali dan mengambil beberapa tumpukan kardus dan koran lalu kubawa keatas. Disitu aku buat seperti kotak yang menjadi bilik kamar. Kulihat mereka berdua saling pandang, aku tersenyum sambil memberikan kode isyarat bahwa ini untuk tempat tidur kita bersama.Lalu aku menyuruh mereka istirahat, mereka mengangguk. Aku berkata kepada mereka bahwa aku akan kebawa mencari sesuatu, mereka seperti ketakutan. Lalu aku menenangkan kepada mereka bahwa aku tidak kemana-mana , aku hanya mencari makan dan minum untuk kita bersama. Mereka mengerti lalu mengangguk, aku pergi mencari roti seperti yang aku beli tadi, mereka tahu kalau aku yang beli tadi lalu mereka melayani aku, sambil bertanya kepada mereka kalau-kalau ada pekerjaan yang bisa membantu untuk kekedar mengisi perut, mungkin mereka kasihan kepadaku aku disuruhnya kembali besok pagi.



Selanjutnya ku kembali ke bangunan tua dimana disitu telah menunggu dura orang wanita yang baru aku kenal yakni Mashito dan Maisharo. Cukup lama aku dari membeli makanan, tampak dari wajahnya mereka terasa cemas dan ketakutan, belum lagi ketika melihat langkah kakiku dan ketika melihatku mereka merasa lega. Hari mulai kelihatan gelap, namun dimana tempat kami bermalam sedikit agak terang karena sinar lampu reklame dari seberang jalan memancar sehingga tidak terlalu gelap. Mereka kusuruh tidur dan istirahat, dengan beralasan mereka berdua berbaring lalu aku ambil koran bekas kututupi tubuh mereka supaya tidak kedinginan. Mereka bedua menatapku, aku tersenyum kepada mereka. Aku iba kepada wanita dari Timur Tengah ini, kupandangi wajah mereka satu persatu seperti dak ada perbedaan apakah keduanya ini adik dan kakak atau ibu dan anak. Paras mereka walau sedikit kumal terlihat cantik-cantik. Alis hitam tebal, bulu mata lentik, mata hitam dan bulat, hidung mancung-mancung serta bibir tipis. Tidak terasa akupun tertidur pulas dan tidak tahunya sudah kesiangan, kulihat mereka masih tertidur nyenyak sekali, aku bangkit melihat lihat keadaan ruangan. Aku melihat dari tempat kami tidur, terdapat ruangan yang seperti tidak terpakai, lalu aku ke sana dan ternyata bekas kamar mandi tetapi tidak ada baknya. Terlihat disana ada kran air, aku putar putar dan keluar air dan tampaknya air sangat jernih sekali ..... sepertinya ada shower yang tergantung lekat di pipa airnya. Karena badanku terasa lengket akhirnya aku memutuskan mandi, terpaksa aku membuka semua pakaianku seluruhnya dengan kata lain telanjang. Aku tidak peduli mau dilihat oleh kedua wanita dari Kuwait itu atau tidak, yang penting badan terasa lega dan seger. Walau tidak pakai sabun tidak jadi apa, kulihat kebawa penisku masih gagah kendati usiaku sudah mencapai 70 tahun.Selesai mandi aku berpakaian lagi dan mendekati kedua wanita itu. Lalu aku membangunan mereka berdua, mereka berdua bangun lalu mulai tersenyum kepadaku. Aku suruh mereka berdua mandi, mereka berdua bertanya mandi dimana, lalu aku katakan disana. Mereka ke sana dan masuk kedalam kamar mandi tersebut, memang kamar mandi itu tidak ada pintunya lagi. Sehingga kalau mandi bisa terlihat jelas dari tempat kami tidur.



Mereka berdua tampak ragu ragu, maklum pintu tidak ada dan pakaian mereka juga sama seperti aku, hanya melekat ditubuh. Aku seperti tidak melihat kebingungan mereka berdua, kulirik mereka mulai membuka kerudungnya, lalu baju jubahnya ......Dan saat itu aku dapat melihat keduanya tinggal mengenakan BH dan celana dalam masing-masing berwarna putih. Terangnya sinar matahari yang masuk ke dalam kamar mandi tersebut, terlihat jelas namun dari arahku duduk aga gelap karena sedikit tertubuh tembok diding.

Tubuh mereka berdua sangat putih bersih, mereka berdua masih takut melepaskan BH dan celana dalamnya, maka keduanya hanya mengguyur tubuh mereka dengan air keran tanpa melepas pakaian dalamnya, sehingga pakaian dalam Mashito dan Maisharo menjadi basah. Dengan tubuh putih dan bersih, rambut ikal sebahu dengan bentuh tubuh tinggi ramping dihiasi dengan buah dada yang sama kencangnya, ditambah pinggul bulat kencang, yang mau tidak mau darah kelakianku menjadi menggelegak. Aku tidak lepas dari pemandangan ini. Sungguh luar biasa, dua wanita sama-sama cantiknya, kulihat mereka berdua tampak selesai mandi, dan kini baru mereka melepaskan BH dan celana dalamnya, dadaku semakin berdebar .....Tampak olehku buah dada perempuan Kuwait ini begitu menantang, putih bersih kendati tidak begitu jelas dari tempatku duduk. Belum lagi tumpukan daging diselah kedua belah paha putih mulusnya, tampak ditutupi oleh rimbunnya ilalang berwana hitam legam hingga mendekati pusar mereka masing-masing.

Penisku semakin tegang dan keras saja melihat keindahan tubuh perempuan Kuwait itu. Sepertinya mereka bedua menjemur pakaian dalam mereka di kamar mandi itu, lalu keduanya mencuci kerudung dan dijemurnya didekat BH dan celana dalamnya. Selanjutnya Mashito dan Maisharo datang mendekatku, lalu aku menyuruh Mashito duduk di sebelah kiriku dan Maisharo di sebelah kananku. Mereka menurut, lalu aku membuka bungkusan plastik yang tampak masih hangat roti-roti yang aku beli. Berbagai rasa dan bentuk aku beli, tidak lupa air minum kemasan mineral. Lalu aku berikan kepada Mashito yang lebih tua dan Maisharo yang lebih mudah, mereka menyambutnya dengan wajah tersenyum bahagia. Mereka berdua memakannya, tidak seperti sebelumnya, sekarang mereka makan dengan pelan seperti menikmati makan tersebut.



Lalu dengan penuh perhatian kepada mereka berdua aku berikan lagi makan roti yang lebih enak, tampak mereka berdua saling tatap. Tanganku bergerak lalu keduanya aku rangkul, keduanya tampak terkejut, lalu aku mendaratkan ciuman kerambut mereka masing-masing yang tampak masih basa oleh air sehabis mandi tadi. Lalu aku elus rambut keduanya, tampak mata Mashito berkaca dan perlahan airmatanya mengalir di pipi mulusnya. Melihat Mashito menangis, Maisharopun sama, melihat keduanya menangis aku menjadi iba lalu kupeluk keduanya sambil kucium rambut dan kening mereka sebagai ungkapan perhatianku kepada mereka berdua. Lalu aku berkata kepada keduanya dengan bahasa isyarat, bahwa aku akan menjaga keduanya dari segala apapun, dan melindungi mereka sebagai keluarga. Kemudian mereka menatapku, lalu Mashito memberikan roti yang masih ada, sedangkan Maisharo memberikan air mineral kepadaku. Aku menyambutnya dengan senyuman,setelah makan aku bangkit beranjak ingin menemui pemilik toko roti. Tampak Mashito dan Maisharo memegang tanganku, lalu aku merangkulnya kembali, sehingga keduanya jatuh dipelukanku, lalu kupeluk dengan mesra keduanya. Kubelai rambutnya, punggungnya....Lalu aku berkata, aku akan cari kerjaan kalian tunggu aku disini saja dan jangan kemana-mana, tunggu aku kembali. Aku cari kerja untuk kita, siapa tahu ada kerjaan. Mereka menatapku sambil menangis, lalu aku menenangkan keduanya dan aku berjanji tidak akan meninggalnya, keduanya semakin erat memelukku. Aku cium kening dan pipi mereka, tak sengaja tanganku turun kebawa memegang kedua pinggul kencang mereka, mereka seolah takut kehilangan diriku, maklum mungkin selama ini belum ada orang asing yang begitu baik seperti diriku, tak terasa aku meremas kedua pinggul kencang mereka. Terasa kedua gunung kembar mereka terasa di dadaku, menempel begitu kuat dan kenyal sekali. Kuciumi kedua pipi mereka , lalu melepaskan pelukan mereka sedikit kuseka air mata keduanya lalu aku pergi kebawa untuk menemui pemilik toko roti tersebut. Tidak disangka ternyata aku dapat pekerjaan, yakni menjadi buruh angkut barang dan langsung bekerja hari itu seharian. Upah yang aku terima tidak jelas, namun pada hari itu aku mendapat uang yang banyak, karena kerja sistem harian. Dari mereka aku tahu bahwa, sekarang ini aku berada di sebuah negara yang dikenal dengan adu banteng dengan manusia yakni Spanyol.

Kebetulan pemilik toko roti itu begitu baik, sehingga aku di ajari cara menghitung uang negara mereka, lalu mereka menanyakan tempat tinggalku.



Sementara ini aku hanya tinggal bangunan tua yang tidak terpakai lagi, mereka mengangguk, kadang aku juga membantu apabila mereka banyak barang yang perlu diangkut. Kadang mereka memberikan aku uang, tetapi aku menolak alasannya karena mereka sudah mencarikanku perkejaan. Mereka bertambah baik, sehingga kalau aku membeli roti pasti dilebihkannya dua atau tiga potong, hingga menjelang sore aku selesai bekerja. Tetapi sebelumnya aku menanyakan dimana tempat membeli sabun mandi, sikat gigi dan odol. Lalu karena sudah sore mereka juga akan tutup toko, mereka membantu menemaniku ke toko serba ada. Disana aku tanya ini harga odol, sikat gigi, sabun dan handuk, ternyata uang yang aku terima masih lebih. Setelah berterima kasih dan berpisah dijalan, aku kembali kebangunan tua tersebut yang sudah mulai gelap. Sesampai disana kulihat Mashito dan Maisharo, cemas dan kwatir, tetapi setelah melihatku, wajah mereka gembira sambil menyambut dan memelukku. Aku semakin bahagia terasa lupa akan segala pristiwa yang terjadi, kupeluk kedua nya dengan penuh kebahagiaan, satu persatu baik Mashito maupun Maisharo. Peluk dan ciuman bahkan elusan mesra penuh kehangatan aku berikan kepada mereka, yang menjadi sasaranku kedua pinggul montok mereka menjadi remasanku. Keduanya juga seakan lupa, status peradaban dan sopan satun terhadap lawan jenis bagi negara mereka, yang ada hanya tumpuan dan harapan hidup. Aku ceritakan semua kepada mereka berdua, tentang pekerjaanku hari ini lalu aku dibantu oleh pemilik toko roti cara menghitung uang negara mereka dan belanja di swalayan. Mereka senang mendengar ceritaku, lalu aku berkata apa sudah mandi, mereka menjawab belum. Lalu aku menyuruh mereka mandi sambil memberikan peralatan mandi yang barusan ku beli. Mereka berdua senang dan mandi berdua, lalu kuperhatikan keduanya membuka busana baju kurungnya, tanpak sekali lagi pemandangan yang membuatku menjadi sesak napas, yakni keduanya sekarang mandi telanjang, keduanya menyabuni tubuh mereka masing-masing mulai dari rambut sampai kebawa., sampai akhirnya keduanya selesai.



Setelah mereka sedang memakai BH dan celana dalam, aku ke kamar mandi untuk mandi seolah aku tidak menyadari kalau mereka belum selesai. Sesampai di situ aku memanggil nama mereka berdua dan tiba...tiba mereka berdua menjerit dan terkejut akalu aku sedang berada di ambang kamar mandi .... lalu menutupi kedua buah dada dan daerah kemaluannya. Aku seolah sadar dan minta maaf kepada mereka kalau mereka belum selesai, lalu aku berbalik dan mereka cepat cepat memakai pakaian mereka. Lalu mereka menyerahkan sabun dan handuk serta yang lainnya, kemudian aku mandi dengan telanjang, memang aku sengaja mereka mau lihat atau tidak yang penting aku senang saja. Kulirik mereka, sepertinya melirik ke arahku, aku pura pura tidak tahu malah kuarahkan penisku yang tegak ke arah mereka. Selesai mandi aku duduk di antara keduanya, rambut mereka sedang basah membuat tampang mereka semakin menggairahkan. Aku mulai membuka bungkusan lalu sama-sama makan roti bersama, kami saling tersenyum. Kami makan kue dan roti bersama-sama, Mashito dan Maisharo begitu senang sekali, kebahagian terpancar dari raut wajah mereka yang sangat cantik cantik. Setelah selesai makan, kami duduk bersama keduanya bersandar di bahu kanan kiri, aku memeluk mereka berdua, kehangatan dan kebahagian menyatu pada diri kami. Sesekali aku mencium rambut mereka berdua bahkan kening dan pipi keduanya, kulihat keduanya agak malu, sebab aku dapat merasakan kalau bangsa Timur Tengah di negara Kuwait sangat menjunjung arti nilai kehormatan dan peradaban antara wanita dan pria, apalagi lelaki tersebut bukan saudara atau bapak atau suaminya. Tetapi dalam kondisi seperti sekarang adalah, kulihat dari mata mereka yang jernih mengharapkan suatu perhatian dan harapan untuk hidup. Entah kenapa saking sayangnya kepada kedua wanita cantik ini, aku merasakan kehangatan yang belum pernah aku rasakan. Kupeluk keduanya dengan mesra, hingga tanganku melingkar di pinggang ramping mereka berdua, keduanyapun semakin membenamkan kepalanya di dadaku, sambil kedua matanya dipejamkan.



Silih berganti aku mencium kedua wanita yang cantik ini, keharuman sabun mandi yang barusan di pakai ditubuhnya membuat aku menjadi semakin sayang saja. Hari semakin larut aku mengajaknya tidur, keduanya menurut lalu kubimbing keduanya sambil tetap berpelukan di tubuhku. Sekarang kami tidur semakin dekat, aku dipeluk kedua perempuan cantik dari Kuwait ini. Tubuh kami bertiga saling rapat di tubuhku. Keduanya kupeluk sambil mengelus punggung dan bergerak ke pinggang ramping dan berhenti di kedua pinggul montoknya. Disini tanganku mengelus pantat keduanya, kulihat keduanya malah diam dan semakin merapatkan badannya, sehingga gundukan kedua gunung kembar semakin terasa di dadaku. Aku sedikit meremas kedua pantatnya dengan lembut dan mesra, ada sedikit gerakan dari tubuh Mashito dan Maisharo ketika elusan lembutku di pantatnya sehingga pahanya bergerak gerak membuka. Akhirnya kami tertidur pulas hingga pagi dan tak terasa aku mendengar suara air gemericik, saat aku bangun kulihat keduanya sedang mandi di kamar mandi dalam kondisi telanjang bulat. Aku perhatikan kedua sedang mandi, hal ini membuat anak kecilku menjadi bangun. Sejauh ini aku belum berani menyentuh lebih jauh kedua tubuh perempuan Kuwait ini, maklum aku masih pingin memberikan tumpahan kasih sayang kepadanya, mungkin suatu saat nantinya.Setelah selesai mandi keduanya berpakaian seperti layaknya wanita Arab setelah itu keduanya duduk di dekatku, kemudian keduanya menyuruhku mandi. Aku kekamar mandi dan dengan berlagak tidak peduli aku mandi telanjang di kamar mandi, bukan aku tidak tahu kalau mereka tidak melirik ke arahku, mereka memalingkan muka ketika melihat kearahku dengan wajah memerah. Ketika selesai mandi aku duduk dekat keduanya, tetapi keduanya masih menunduk dengan wajah sedikit memerah, sambil tersenyum malu.

Aku pura pura bertanya ada apa ? .....Mashito ? ....

Dia menggeleng menjawab tidak ? ....

Aku berpaling ke Maisharo sambil kurangkul bahunya dan ku cium rambut lalu berkata ayo ada apa Maisharo ? ....

Dia juga menggeleng sambil menjawab tidak ! .....

Aku tidak mempermasalahkannya lalu kami sarapan pagi ....



Selesai makan aku berkata kepada mereka bahwa hari ini aku perjalan jauh yang mungkin satu dua hari sehingga aku dua hari tidak pulang. Mendengar itu kontan kedua menjadi sedih dan menatapku dengan tatapan yang luar biasa ketakutan dan kecemasannya. Aku memahami kekawatiran keduanya, lalu aku katakan bahwa ini adalah kulakukan tidak lain untuk kalian dan untuk kita bersama. Aku jelaskan bahwa pemilik toko roti beritikat baik bahwa dia akan membawa muatan barangnya yang akan di kirim keluar kota, dan tidak bisa aku tolak karena dari mereka juga kita dapat bertahan hidup. Kulihat baik Mashito maupun Maisharo bercucuran air mata diwajah putih mulusnya, lalu kuseka keduanya dengan tanganku lalu kucium pipi putih mulus itu. Lalu aku katakan lagi, bahwa pemilik toko roti tersebut mempunyai sebuah ladang yang cukup luas di luar kota, menurut mereka dia minta tolong ke aku untuk menunggunya. Disana juga telah ada rumah yang tidak terlalu besar dan cukup satu keluarga kecil. Siapa tahu kita bisa tinggal disana, jelasku ... akhirnya mereka mengangguk dengan berat hati melepaskan kepergianku. Maklumlah keduanya hanya berharap kepadaku untuk tumpuan hidup. Aku berdiri lalu aku memandang Mashito, dia memandangku lalu aku mendekatinya dan ku elus pipi mulusnya lalu kucium pipi itu dan kuberanikan diri mencium bibirnya, Mashito hanya diam, namun bibir terbuka, aku cium bibir merah merekah itu dengan lembut lalu kulumat dengan penuh kehangatan, kulihat dia hanya pasrah tidak ada respon. Sambil kucium tanganku bergerak turun sambil meremas kedua pantat yang montok itu, lalu aku katakan kepadanya, aku menyayangi kamu dan mencintai kamu dan jangan takut. Kemudian pelukan dan ciuman ku lepaskan, lalu aku bebalik ke arah Maisharo dan kuraih pinggang ramping itu, seperti halnya dengan Mashito, Maisharopun aku cium pipi dan bibirnya, Maisharo membalas ciuman bibirku dengan lembut tanganku juga bergerak ke pinggulnya dan kutarik pinggul itu sambil kuremas lembut, sambil berkata aku juga mencintai dan menyayangi kamu. Setelah itu aku memeluk keduanya lalu berkata, jangan takut aku akan kembali untuk kalian berdua, aku sayang kepada kalian dan aku mencintai kalian, aku tidak akan meninggalkan kalian. Lalu sambil berbarengan keduanya mendaratkan ciuman lembut di kedua pipiku, sambil mengangguk tanda rela menyuruhku bekerja.



Aku pergi bersama pemilik toko roti tersebut, hingga waktu dua hari dan juga dia pemilik toko roti bernama Helena yang berusia 35 tahun. Dia juga menunjukan tempat yakni ladang miliknya, lalu kebun dan rumah mungil diantara rimbunan pohon dan kebun bunga dan dibelakangnya ada sumur, setelah itu kami kembali, sebelum kembali aku sedikit belanja. Sebab Helena lagi menemui langganannya. Aku belanja baju, tetapi tidak ada baju seperti orang Timur Tengah, tetapi ada pakaian terusan lengan pendek berkancing didada sampai kepusar dan panjangnya sampai ke lutut, lalu aku beli dua buah. Kemudian aku melihat pakaian dalam wanita, kulihat bahanya dari katun halus tidak terlalu transfaran tetapi tipis, aku beli BH dan celana dalam warna putih masing-masing dua buah dan yang satunya lagi agak berwana pink Cuma tidak menyolok, jadi masih ada putihnya. Lalu aku beli selimut tidak terlalu tebal tetapi lebar, khusus kedua pakaian tersebut aku bungkus dengan rapi warna pink dan putih. Tidak lupa juga aku beli makan dan minuman serta kue kecil, selanjutnya Helana sudah menunggu di mobil dan kamipun pulang. Jalan cukup jauh, tetapi kami terus melanjutan perjalanan sehingga disuatu tempat yang agak sunyi kami berhenti sepertinya Helena kecapean, butuh istirahat. Suasana malam sangat terang karena lagi terang bulan, Helena mengantuk dan tertidur dan kuperhatikan Ibu Muda ini cukup cantik juga tubuh tinggi semampai kulit putih rambut pirang kehitaman, dia memakai baju terusan dengan agak ketat sehingga menampakan tonjolan buah dadanya yang cukup menantang dan mengintip dari balik kancing bajunya yang longgar masih dibalut oleh BH berwarna krem, aku tidak bisa tidur hingga paginya dan baru tersadar ketika mobil mulai berjalan ,baru sampai satu jam kemudian. Setelah berpamitan sama Helena, aku pulang. Tetapi terlebih dahulu aku belanja lagi ketoko furniture yang tidak jauh dari tempatku berada. Aku beli kasur busa lipat tipis ukuran nomor satu dua buah bantal tidur, dan juga belanja makanan dan minuman serta buah buahan. Kubawa semua barang-barang yang aku beli, secara diam-diam sehingga tidak menimbulkan suara, karena aku pingin memberikan kejutan.



Setelah dekat susunan kardus aku muncul, mereka serentak berteriak terkejut, namun ketika melihat siapa yang datang mereka berdua langsung berhamburan dan memeluk diriku. Aku yang juga sangat rindu kepada mereka berdua, langsung merangkul keduanya dengan ciuman kasih sayangku. Tak ubahnya seperti seorang suami dan istriku aku memeluk dan mencium Mashito dan Maisharo bergantian. Lalu aku mengajaknya duduk di tumpukan kardus yang menjadi bilik kamar tidur kami bertiga. Aku tidak sanggup melihat kecantikan dan bibir mungil yang penuh gairah mereka berdua langsung kucium bibir Maisharo dengan lembut, dan dibalas oleh Maisharo dengan hangatnya. Lumatan bibirku penuh kelembutan hingga Maisharo sedikit tersipu malu, ketika menatapku. Lalu aku beralih ke Mashito, kulihat bibir Mashito sedikit terbuka sambil menatapku. Aku lalu mendaratkan ciuman kebibir indah tersebut, kini Mashito menyambut kecupan bibirku dengan penuh kelembutan dan perasaan.Setelah keduanya mendapatkan ciuman sayang dariku, maka aku mengelus elus punggung kedua perempuan Kuwait itu. Sebentar sayang jawabku kepada mereka berdua ....Aku berdiri dan mengambil barang, barang yang kubeli ...... bukan main bahagianya hati mereka seperti tidak percaya. Dilihatnya ada kasur tipis lipat dari busa, ada bantal tidur dua buah, ada beberapa kardus yang aku bawa.

Aku bentangkan dulu kasur lipat diatas tumpukan kardus, lalu bantal aku taruh di belakang tembok dinding. Lalu aku membuka kardus pertama, yang berisikan kue kecil kiring dan basa, kue didalam kaleng, minuman coca cola dan beberapa liter air mineral ukuran 2,5 liter. Lalu ada buah buahan, seperti apel, jeruk dan anggur dibungkus dengan plastik, cangkir dan pisau untuk keperluan laiinya serta ada piring dan mangkok plastik.

Ada juga sandal jepit kalau akan mandi dan selimut untuk tidur. Mereka berdua sibuk menyusun barang yang aku beli di sudut dengan bilik tidur kami, selanjutnya aku membuka kardus kedua yang berisikan bungkusan berwarna pink dan putih. Pertama yang putih aku berikan kepada Mashito, Mashito menyambutnya dengan senyum lalu berikan ciuman kepadaku. Yang berwarna pink aku berikan kepada Maisharo, begitu juga Maisharo berterima kasih lalu memberikan kecupan di pipiku.



Aku bersandar di diding tembok dengan beralasan bantal yang barusan aku beli, lalu kulihat mereka berdua membuka bungkusan masing-masing, lalu ketika dibuka mereka terkejut melihat isi bungkusan. Lalu keduanya tersenyum dengan gembira melihat dua buah pakaian yang mereka terima masing masing, pertama sejenis pakaian untuk dibawa jalan-jalan atau dirumah saja dan yang kedua berupa daster untuk tidur. Lalu kemudian mereka terpana melihat bungkusan kecil yang berada dibawanya, lalu mengangkatnya dan keduanya memandangku, aku ternyum lalu berkata. Itu aku belikan untuk kalian, walaupun aku tidak tahu ukurannya namun aku bisa mengira berapa ukurannya, bukankah kalian berdua membutuhkannya karena yang kalian pakai selama ini sudah jarang diganti, mudah mudahan pas dan cocok untuk kalian berdua. Keduanya berkaca-kaca lalu memelukku dengan mesra sekali. Aku berbisik, itu aku lakukan karena rasa sayang dan cintaku kepada kalian berdua. Kendati umurku sudah lanjutnya apakah kalian masih suka kepadaku dan tidak merasa risih. Lalu Mashiro berkata, kami berdua tidak merasa risih, sebab yang kami inginkan adalah orang yang betul sangat memperhatikan kami dan sayang kepada kami. Karena itulah Bapak manjadi pelindung kami, selama ini kami selalu ketakutan dan tidak ada tempat untuk berlindung, atau untuk bertanya. Jadi dengan kami bertemu dengan Bapak saat lalu, adalah suatu berkah bagi kami bahwa dengan ketemunya dengan Bapak yang merupakan tempuhan hidup kami. Jadi seperti apa Bapak dan ntah itu bapak sudah berusia lanjut ataupun masih mudah, kami tetap menggantungkan hidup kami dengan Bapak, entah kapan. Harapan untuk berkumpul dengan keluarga kami di Kuwait sepertinya sangat jauh sekali. Bapak mau tanya, selama ini Bapak tidak tahu, kalian berdua ini mirip satu sama lain tetapi dari wajahnya sedikit bapak bisa menebak mana yang lebih tua dan muda. Saya Mashito adalah Ibu dari Maisharo usiaku 38 tahun dan Maisharo berusia 15 tahun. Oh pantes Bapak sudah yakin kalian pasti ada hubungan darah, ya bagi Bapak sudah jelas kita mungkin untuk pulang ke asal kita sangat sulit, cuma bukan tidak bisa sama sekali tetapi butuh waktu yang lama.



Nah bukan baju yang kamu pakai saat ini sudah lama dan tidak pernah dicuci , sebaiknya ganti dengan baju daster ini, dan baju itu kamu cuci dulu biar bersih.Mereka berdua ke kamar mandi dan mencuci baju yang mereka pakai dan tidak lupa mencuci pakaian dalam mereka, setelah itu baru mereka memakai pakai baru mereka tidak lupa dengan BH dan celana dalamnya. Setelah itu mereka menjemur di dekat kamar mandi tersebut, lalu kedua kembali ke dekatku. Dari dekat baru bisa memperhatikan mereka ketika mereka sedang memakai daster yang barusan kubelikan berikut pakaian dalamnya, nampak sekali kemulusan kulit keduanya disertai lekuk indah tubuh keduanya. Kami makan bersama-sama lalu sambil duduk di kasur yang baru ku beli, memang tampak empuk bila dibandingkan dengan kardus-kardus sebelumnya. Keceriaan tampak dikeduanya, belum lagi keduanya duduk diatas pahaku kiri dan kanan sambil menyandarkan kepalanya ke atas bahuku.

Aku berkata, Mashito dan Maisharo .....

Ya kenapa Pak ? .....

Kini kita hidup dalam kondisi gelandangan di negeri orang, pahit dan manis kita lalui bersama .....

Susah senang kita selalu bersama ,. .....

Jadi Bapak akan selalu bersama kalian, tidak akan pernah akan meninggalkan kalian berdua, ..... karena kalian berdualah menjadi semangat bapak dalam bekerja dan menemani bapak ketika pulang dari kerja.

Jadi bapak minta kalian berdua jangan saling iri atau merasa dilainkan,

tidak Pak jawab Mashito, .. kami berdua tidak akan saling iri tau cemburu dengan membedakan satu sama lain, kami akan menerima apa adanya.

Aku tersenyum, lalu aku berkata apakah BH dan celana dalam yang Bapak belikan untuk kalian enak dipakai, ... ? ....

Keduanya tersenyum malu, ..... lalu tertawa manja sambil menciumku ....

Mereka berkata, sedikit agak kebesar untuk celana dalamnya, tetapi BH nya sudah pas, tapi enak dipakai , lembut dan halus pak, jawan Maisharo ....

Beli dimana pak jawab Maisharo, di Kota Dalaz .... bapak juga tidak tahu dimana itu,

Bapak bisa sampai keperhatian sampai kepakaian dalam kami berdua sahut Mashito, ya bapak tahu kalian berdua membutuhkannya.



Dan rasanya itu perlu, sebab untuk menjaga kesehatan .....

Mashito, ada apa pak ? ..... kamu sayang kepada Bapak tidak ? ..... Mashito mengangguk .

Dan kamu Maisharo ? ..... Aku dan Umi sangat sayang pada bapak ......

Lalu aku mencium bibir mungilnya lalu melumatnya dengan lembut dan mesra, dibalas dengan Maisharo dengan mesra, mashito hanya melihat perlakuanku terhadap anaknya dengan hati yang bahagia sambil tersenyum, sambil menyandarkan kepalanya kepadaku. Lalu aku, mengecup leher jenjang putih hingga tampak bekas warna merah, Maisharo menjerit, auwwwww .... pakkkkkk ..... iiiiihhhh nakal. Sambil cemberut Maisharo mencubitku, ibunya tertawa melihat tanda merah dileher anaknya, ku akhiri dengan mencium gundukan gunung kembar milih Maisharo, Maisharo kembali terpekik kecil auww ..... ihh Bapak ...

Kududukan Maisharo dikasur sebelahku, .....

Lalu aku berbalik ke Ibunya Mashito ........ lalu kupeluk dia sambil kucium dan kulumat bibir merahnya, ........

Lumatanku dibalasnya dengan mesra dan lembut sambil kedua tangannya menggantung dileherku, ...... lalu kuakhiri dengan mengecup lehernya agak lama dan tangan mashito mencubit pinggangku, ..... meronta ...

Aaaaaahhhh ..... pak ..... geeeeelllliiii oooohhh ...

Aku tertawa di ikuti oleh Maisharo yang melihat uminya punya tanda merah juga di lehernya. Tak terasa senda gurau kami bertiga, saling cubit gelitik, saling peluk dan cium sehingga tidak ada rasa duka di dalam diri kami kendati kami terdampar di negeri orang, tanpa terasa juga hari merangkak naik hingga siang hari, kedua wanita Kuwait ini. Mashito dan Maisharo tertidur nyenyak, dengan daster yang mereka pakai ada yang naik terutama Mashito. Akupun tidak dapat menahan kantuk, karen baru saja datang dari kerja dan tertidur pulas. Terus .......... ???????
Aku terbangun karena merasa cuaca agak dingin, kulihat kearah luar agaknya turun hujan tidak begitu lebat, namun sangat gerimis. Oh... sudah malam ya....jam berapa ya sekarang? bathin bertanya. Mungkin jam 11 malam ya.... ya mungkin saja bathinku berkata.

Di sebelahku, kulihat Maisharo begitu lelapnya tidur, di sebelahnya lagi Mashito semakin erat memelukku. Kupandangi kedua wanita Kuwait ini silih berganti, kulit mereka begitu putih dan bersih, bisa dibilang agak kekuningan. Bulu-bulu halus menghiasi kulit mereka, baik tangan bahkan wajah dan tengkuknya. Kulit tangannya begitu halus dan licin bagaikan kaca, .... kupandangi wajah Mashito, ku elus wajah cantiknya, kemudian ku kecup keningnya. Raut wajahnya begitu damai" ....

Seakan tidak ada beban dari wanita ini. Sedikitpun tidak ada reaksi dari Mashito, ku ulangin kecupanku, dari kening ... pipi .... hidung mancungnya serta, duh bibir merahnya yang tanpa diolesi oleh lipstik begitu lembut. Pandangan mataku beralih ke bagian yang menonjol di dada Mashito, tampak sekali gundukan itu menjulang tinggi seperti gunung berapi yang dihiasi oleh mahkota puncak gunungnya yang jelas sekali terlihat dari daster yang dipakai oleh Mashito. Gunung kembar Mashito begitu menantang untuk di daki oleh seorang penakluk pendaki gunung, aku terpesona melihat pemandangan ini, apalagi kedua wanita Kuwait ini sangat jelita sekali, terutama godaan bukit kembar didepan mataku yang sedikit terlihat dari cela kancing daster yang dipakai oleh Mashito. Secara perlahan belaian lembut tanganku yang dari wajah turun kepundak Mashito, lalu lengan, lalu naik lagi ke lehernya dan sedikit sedikit bergerak turun dan menyentuh kancing-kancing baju dasternya, sesekali aku selipkan jariku diantara kancing-kancing baju dasternya. Terasa sekali permukaan kulit dadanya begitu lembut dan halus sekali. Aku memberanikan diri untuk membuka kancing atasnya, pelan sekali ... ya .... hupp ....... dadaku berdebar debar kencang.



Seakan tak sanggup melajutkan gerakanku pada kancing baju pertama. Manakala kancing baju kedua aku buka, tampak separuh lereng bukit kembar terlihat, kini kancing ketiga ku buka lagi dan kini semakin jelaslah, puncak gunung kembar milik Mashito yang masih ditutupi oleh secerca kain putih yang halus dan tipis. Mashito masih tertidur dengan nyaman di dalam pelukanku. Tanganku mulai bergerak kearah atas baju daster itu. Dengan perasaan takut dan gemetar, jari tanganku menyentuh bagian bahu baju daster Mashito, lalu dengan pelan sekali kusibakkan baju daster atasnya, dan...... alamak alangkah indahya, bergetar tanganku menyentuh kulit dada bagian atas itu. Bagian atas baju itu aku sibakan kiri dan kanan hingga.......ampun .....ccckkkk ooh tonjolan ini, ..... sangat indah sekali. Bagian ini saja sudah begini halus dan mulus" bagaimana yang masih terbungkus kain putih ini. Pangkal bukit kembar ini ditumbuhi bulu bulu halus, cocok sekali dengan orangnya yang sangat jelita. Dengan pelan sekali, ku belai pangkal buah dada Mashito, mulai dari pangkal dadanya trus bergerak keatas menggapai puncak gunungnya yang tampak menonjol sekali. Usapan halus dibuah dada Mashito yang ditumbuhi oleh bulu-bulu roma yang halus, sehingga kontras sekali dengan kulit tubuhnya yang agak putih kuning. Gila nian, sungguh karunia yang tidak ternilai, buah dada Mashito seukuran mangkok mie dengan puting susunya yang jelas sekali menonjol dibalik BH warna putih yang barusan aku belikan untuknya. BH ini tidak ada spon atau busa pelindung, sehingga tampak jelas mencuat di balik BH itu. Kalau kuperkirakan kira-kira pentil susu Mashito seukuran jempol orang dewasa. Atau memang orang orang negeri Arab memang bentuk puting susunya agak besar. Dan hampir rata rata wanita Arab baik pinggul dan dada lumayan besar kecuali kedua wanita ini persis istilah orang dulu "gitar Spanyol"



Gerakan tanganku semakin berani karena tanda tanda Mashito akan bangun tidak juga tampak. usapan usapan lembut jari tanganku beralih meremas pelan dengan lembut sekali, Woi .... piung .... kenyal dan kencang sekali, remasan jemari tanganku di kebuah dada Mashito kiri dan kanan, aku mendekatkan wajahku ke belahan buah dada Mashito, lalu kuciumin dengan lembut. Remasan remasan halus dan lembut terus aku lakukan, jemariku mulai bergerak masuk ke balik BH warna putih Mashito, Mashito masih tertidur dengan wajah kebahagiaan, wajah cantiknya semakin cantik ketika tertidur. Kendati sudah berusia 37 tahun, namun tidak menampakkan dia sudah mempunyai anak gadis yang kini berusia 15 tahun yang sama cantiknya. Tarikan nafasnya begitu halus, wajah tanpa dosa itu semakin membuatku tak tahan dibuatnya. Jemariku terus menyusup ke balik BH Mashito, kulit buah dadanya terasa halus sekali, begitu jemariku menyentuh pentil susunya, ada rasa penasaran dan menggoda untuk kulihat. Aku terus mengusap dan meremas dengan pelan, kadang agak kuat sedikit tetapi Mashito terus tertidur dengan lelapnya, tanpa ada rasa terganggu oleh aktivitas bejatku dimana buah dadanya aku gerayangi. Karena penasaran dengan bentuk buah dadanya, maka aku beranikan diri membuka sedikit BH Mashito, kuturunkan sedikit tali BHnya, lalu aku buka penutup kedua gunung kembarnya, dan walah makkk ...... oh tuhan " ... indah sekali, bentuknya memang mirip sekali gunung merapi yang belum aktif, dengan dihiasi sekeliling puncaknya berwarna merah kecoklatan dan agak menonjol dan diikuti oleh puting susunya sebesar ibu jariku tegak menghadap lagit. Ya tuhan, ucapku ...... sungguh luar biasa indahnya, memang hidupku sekarang cukup beruntung, sudah lama tidak melihat keindahan seperti ini, membuat hasrat kelakianku yang terpendam selama ini bangkit juga, yang memang sedari awal sering tegang kalau melihat kedua wanita Kuwait ini. Jemari terus meremas-remas kedua buah dada Mashito, kadang pentil susunya aku pilin pilin ..... aku memandang wajah Mashito sedikit berubah ketika pentil susunya aku remas dan pilin. Lalu aku sedikit bergeser kebawa, sehingga wajahku tepat berada di buah dada Mashito, dengan pelan dan lembut sekali, aku beranikan diri mencium pentil susunya, lalu lama-lama aku aku jilatin baik kiri dan kanan, dan tak puas dengan ini akhirnya aku mengulum pentil susunya, mataku tak lepas dari wajah cantiknya yang masih terlalap dengan mimpinya.



Isapan di kedua pentil susunya dengan nuansa meresapi membuat cucuku yang tidur dibawa mulai bangun dan semakin menegang , seperti minta ingin dikeluarkan, namun sejauh ini aku belum mau melakukannya. Puas dengan bermain di lereng gunung dan puncak gunung Mashito, mau tidak mau akupun penasaran dengan bagian bawa Mashito. Tanganku bergerak kebawa, terus menelusuri perut ........ terus kepinggulnya, disini aku sedikit meremas pinggul yang padat, bulat dan kencang itu, terus kembali jemari tanganku bergerak turun kembali. Terus gerakan tangan mencapai lututnya, kini tanganku bergerak naik kembali dan menyusup di balik dasternya. Dengan halus dan pelan sekali sembari menikmati dan meresapi halusnya kulit tubuhnya, tanganku bergerak naik menelusuri pahanya baik kiri dan kanan, bahkan dipaha Mashito justru lebih halus dan lembut sekali. Penasaran aku dibuatnya, aku letakkan kepala Mashito ke bantal bulu angsa yang ku beli, lalu aku duduk didekat pinggulnya. Kemudian aku menaikan bawahan dasternya dengan pelan tapi pasti. Jantungku semakin berdebar kencang, ketika perlahan demi perlahan kedua paha Mashito semakin terlihat. Dan semakin tinggi bawahan daster itu aku naikkan semakin berpacu jantungku dibuatnya., hingga akhirnya terbuka juga bagian bawa tubuh Mashito. Aku menelan air liur dibuatnya, melihat keindahan sepasang paha yang sungguh putih sekali dengan di hiasi bulu-bulu roma yang halus. Sepasang pahanya luar biasa indahnya, bagaikan granit batu alam saking licinnya.... tidak ada bekas luka atau goresan sama sekali. Dan yang lebih membuatkan tak berkedip adalah diantara kedua pahanya, ada daerah yang masih tertutup oleh secarik kain segitiga berwana putih halus, bentuknya seperti kue apem kalau di negara asalku, dari balik celana dalam warna putih milik Mashito terlihat dengan jelas, rambut rambut hitam yang sangat lebat sekali. Warnanya hitam dan keriting, itu bisa kulihat dari rimbunnya bulu-bulu kemaluan wanita Kuwait ini yang mana tidak tertampung oleh celana dalamnya sendiri, hingga mendekati pusarnya. Aku rasanya tidak kuat lagi melihat pemandangan ini, sepertinya mau pingsan aku dibuatnya, belum lagi tubuhku gemetaran ketika mau menyentuh kedua paha Mashito. Namun aku kuatkan bathinku agar tidak terlalu bernafsu, sebab kalau buru-buru bisa pingsan aku" ......

Bisa gagal hasrat ini kalau mokad, .......
 

magnacharta83

Semprot Baru
Thread Starter
Daftar
23 Jul 2012
Post
37
Like diterima
255
Aku tak kuasa menahan gerakan tanganku, dengan pelan dan agak gemetaran aku mengelus paha mulus Mashito, secara perlahan jemariku bergerak turun naik kiri dan kanan, kubelai, lalu jemariku mendekati daerah yang masih diselimuti oleh celana dalam warna putih, semakin dekat semakin panas dingin tubuhku dibuatnya, keringat di tubuhku mulai keluar. Sampai di daerah segi tiga itu, nafasku tertahan, lalu dengan pelan aku membelai daerah itu, sangat empuk sekali dan lembut, mungkin karena tebalnya dan rimbunnya daerah kemaluan Mashito sehingga daerah kemaluannya terasa lembut.

Gerakanku semakin berani, dengan sedikit menekan nekan usapanku semakin nakal, jemariku semakin lincah di daerah kemaluan Mashito. Usapanku semakin leluasa sebab Mashito masih tertdur lelap, secara lembut jemariku bergerak masuk melalui karet celana bagian atas, sebab celana dalam yang aku belikan tersebut sedikit pendek, namun walaupun pendek tetapi kebesaran juga. Hal ini terlihat dari ukuran celana dalam itu tidak sepenuhnya menutup rimbunnya bulu-bulu hitam nan lebat milik Mashito, sehingga bagian atas kemaluannya tidak tertutup oleh celana dalamnya. Pelan sekali jemariku masuk ke daerah itu, rasanya lembut dan empuk bagaikan kue apem..... duh mak tak kuat rasanya diriku ini. Kendati usiaku sudah lanjut usia, tetapi semangat mudahku dan kelakianku semakin tinggi, muda-mudahan cucuku punya semangat muda juga .......

Memang betul betul lebat sekali rambut kemaluan Mashito, usapanku terus berlanjut dan akhirnya jemariku menemukan daerah yang paling dicari cari oleh kaum lelaki, ya daerah gua suci bagi kaum hawa. Kutelusuri cela itu dengan jariku dan kupandangi wajah cantik Mashito, kulihat wajahnya sedikit berubah, entah menahan geli atau nikmat didalam tidur nyenyaknya. Kadang alis matanya bergerak" ...... kadang mulutnya bergerak.....Takut juga kalau dia bangun? .....



Perlan lahan jemariku ku gerakan turun naik di belahan vagina Mashito, terasa hangat dan lembut sekali belahan bibir vaginanya, terus jari tengahku bergerak dengan arus yang pelan namun teratur. Makin lama makin makin terasa panas dan jariku sedikit mulai masuk ke belahan bibir vaginanya dan lambat laun daerah mulai terasa agak licin, semakin aku gerakan jariku semakin licin permukaan gua tersebut. Pelan sekali aku masukan jari tengahku ke celah vagina Mashito, makin digerakan, makin terasa hangat dan lembab. Gerakan jariku maju mundur, sedangkan telapak tanganku sedikit meremas permukaan kemaluan Mashito. Jariku tak henti hentinya bergerak sehingga lembah dan gua Mashito tambah licin. Tak kuasa menahan ini aku tarik jariku dari dalam lubang vagina Mashito, lalu akulihat jariku penuh dengan lendir, lalu kucium lendir itu, dan terasa bau yang harum sekali bagaikan harumnya bunga apa aku tidak tau." Bunga yang bau lah " .... hi...hi...hi...Aku ketawa sendiri ....

Tak tahan aku dibuatnya, secara perlahan kuturunkan celana dalam Mashito sedikit demi sedikit. Dada semakin bergemuruh bak air bah yang mau meledak. Jantungku bedegap-bedegup " ...... woiiii mak ..... bisa lepas juga isi dadaku " .... kalau seperti ini ......

Celana dalam warna putih itu" ... mulai tertarik turun ....Terus .....dan terus ....... ooh ..... masih tersangkut dipinggul pesarnya. Aku menggerakan tanganku ke belakang bokongnnya dan menarik karet celana dalamnya. nah... tertarik juga. Terus ... pelan sekali, ...... terus ...... lewat dengkulnya ....... terus ...... lewat betisnya .... kemudian kuangkat kakinya.... dan huup ... lepas dah kau celana dalam. Kemudian pandangan tertuju kepada gundukan tanah sejengkal diantara kedua belah paha mulus Mashito. Sungguh ciptaan yang sempurna, bentuknya bagaikan kue apem...apa kue bolu ya? dihiasi oleh bulu nan lebat. Perut rata tampa kerutan ah, bikin darahku mau berhenti saja.

Tau aah .... memang ini diciptakan untuk bikin buat anak bathinku. Karena tekad sudah bulat, aku mulai menyentuh belahan kedua paha sang bidadari dari negeri Kuwait ini " .... elusan lembut sambil meremas remas jari-jari tanganku terus bergerak sehingga turun ke pangkal pahanya yang putih dan mulus.



Kupandangi lagi gundukan lembah hitam di antara kedua belah pahanya, memang sungguh mempesona, dipadu dengan paha yang putih mulus, pinggul bulat padat dan kencang ditambah pinggang yang ramping serta tanpa cacat sedikitpun. Belahan vagina Mashito terlihat lebar, mungkin karena bangsanya oran Arab jadi agak lebar? Tetapi aku belum bisa memastikan apakah dalamnya juga lebar? Aah peduli amat mau lebar atau sempit .... yang penting ada lobangnyalah ...Namun dicela cela bibir vaginanya terlihat genangan air yang bening, .... bertanda sudah ada gejolak didalam tubuh Mashito. Namun setelah dilihat, cukup terawat juga di sekitar daerah itu, bersih dan bibir vaginanya terlihat berwarna merah muda. Kulebarkan baik paha kiri maupun paha kanannya, lalu kembali aku mengusap usap rimbunnya rambut hitam diselangkangan Mashito, kuberanikan diri untuk membuka belahan vagina Mashito, woi makkkkk ....... sungguh membuatku menelan air liur, belahan bibir vagina Mashito bagian dalam berwarna pink disertai cairan bening yang licin disekitar gua itu. Duh mak, bunyi drum band didalam dadaku tak henti hentinya. Aku merebahkan diri di samping tubuh perempuan Kuwait ini, lalu kubelai rambutnya, kucium pipinya, lalu kubelai belai punggungnya. Kukecup bibir merah basahnya, Mashito belum menunjukan tanda tanda bangun. Mungkin selama ini agak sakit bila tidur di tumpukan kardus bekas, tetapi sekarang begitu nyaman dan enak tidur di kasur busa yang empuk, sehingga diapun tertidur lelap sekali dan tidak terusik oleh kegiatanku terhadap tubuh indahnya, walaupun bergerak, malah tangan Mashito memelukku dan kepalanya ditempelkan di samping leherku. Napsuku yang kuat, sekuat tenaga kutahan, sulit sekali mengekangnya dan pada akhirnya tubuh indah disampingku yang semakin terlelap dalam pelukkanku dan akihirnya terpaksa aku naiki dengan perlahan.

Dan ....... aduh cu kenapa kamu ? ......

Astaga kamu kok teler" ..........

Kenapa ini " ? ........

Nah " .... apa kataku" .......

Sudah kubilang jangan bergerak dulu" ..... ehhh .... kamu tidak sabaran !!!! ...

Ya" .... begini ni jadinya " .....



Aduh ...... ayo" ..... jangan tidur begitu " ...... waduh keburu" .....subuh nih ...

Ternyata cucuku ngambek, sedari tadi pingin keluar main.

Ya" ... sudah sekarang sudah aku keluarkan, ayolah!

Aku mengeluarkan cucuku dari kamarnya dan oohhh .... masih ngambek kamu ya" ....

Ya, tenang dulu ....tarik nafas dalam dalam" .... lalu hembuskan ....... terus ...... lagi ...... atur nafas .... dan tarik" .... lalu keluarkan ...... tenangggg .......... konsentrasi ..... dan bayangkan ....

Nah" ..... lalu " ..... ya .... kan bisa kamu" ......

Gitu" .... terus ...... ya ...... dan lagiii ........ jalan ...... terus ..... lagi .......

Dan ..... hup ...... ya ..... seppppp .....

Nah terima kasih ya cu" ...... itu baru cucuku ...... harus kuat dan kuat ya ????

Akhirnya mulusnya juga rencanaku. Kini kedua paha mulusnya aku geser dengan kedua pahaku sehingga sedikti terbuka. Lalu (cucuku) penisku yang sudah tegak kembali karena barusan aku keluarkan dari celana pendek dan colorku, aku tempelkan di mulut vagina Mashito. Kemudian aku gesek gesekkan batang penis di kemaluan Mashito, makin kutekan makin terasa enak dan nikmat rasanya. Walaupun terasa sekali bila orang menindih tubuhnya, tetapi Mashito tidak juga terbangun lalu aku mengangkat pinggulku dan tanganku bergerak turun. Lalu aku membimbing penisku mendekati , daerah lembah yang bergoa. Sudah hampir belasan tahun ini aku tidak pernah melakukan hubungan suami istri, yang pertama istriku sudah meninggal, kedua aku tinggal di pedalaman desa dan sekarang ini aku ikut berlayar dengan seorang nahkoda, namun nasib sial sehingga aku terdampar di negara ini. Dan baru kali ini aku bisa mengeluarkan hasratku ketika berhadapan langsung dengan wanita wanita cantik dari Kuwait ini, tanpa halang rintangan. Batang penisku memang cukup besar, panjangnnya kurang lebih 18 cm bila ukuran batangnya diukur dengan luas lingkaran kurang lebih 13 cm. Cukup lumayan juga besarnya, hal ini juga pernah diutarakan istriku ketika masih muda dahulu, yang menurutnya punyaku cukup besar. Kini batang penisku kembali aku tempelkan di kemaluan Mashito, mulailah aku beraktivitas, kugesekan di sana, permukaan vagina Mashito semakin licin oleh cairan dari dalamnya. Terasa kepala penis agak licin oleh cairan dari dalam vagina Mashito, aku mencoba memeluknya, kedua tangannya juga erat memelukku, entah apa dirasakan oleh wanita Kuwait ini, apa merasa nyaman mendekapku atau merasa perasaan lain. Karena tidak ada respon yang membuatnya terbangun dari tidurnya, aku terus menggesekan batang penisku di belahan bibir vagina Mashito.



Tak terasa kepala penisku menyentuh belahan bibir vagina Mashito yang sedikit mulai menyeruak terbuka, kurasakan kepala penisku menjadi panas. Aku menjadi panas dingin dibuatnya, sekian lama tidak menyentuh perempuan dan baru kali ini aku dibuat gemetaran. Namun aku menguatkan hati dan bathinku agar tetap tenang sehingga aktivitasku berjalan mulus serta jangan sampai dia ngambek lagi. Dengan gerakan perlahan aku terus menggesekan kepala penisku dan sedikit demi sedikit kepala penisku mulai masuk, bukan main terasa sempit sekali vagina Mashito. Walaupun terlihat kemaluannya cukup lebar, tetapi lubang vaginanya cukup sempit juga. Sedikit demi sedikit cela dan belahan bagian dalam vagina Mashito semakin terbuka, semakin kedalam kepala penisku semakin terjepit atau seperti diikat oleh karet gelang. Kini perubahan wajah Mashito mulai berubah. Aku mulai cemas, jangan-jangan dia terbangun karena daerah vagina terasa sakit atau terganjal oleh benda asing. Aku terus berusaha memajukan pantatku perlahan demi perlahan, sehingga penisku yang panjangnya mencapai 18 cm terus bergerak masuk. Makin lama lubang vagina Mashito bagian dalam telah melonggar sehingga cengkraman vagina Mashito terhadap penisku semakin menjadi walaupun sedikit mulai melonggar. Walaupun begitu masih terasa sempit juga, tapi ini cukup dibantu oleh cairan putih bening yang keluar dari dalam lubang vagina Mashito.

Tidak terasa semakin lama batang penisku semakin melesak masuk, dan akhirnya kepala dan batang penisku hilang ditelan oleh vaginanya, dan bulu bulu kami berdua menyatu bersama menyatunya juga kelamin kami berdua. Bertepatan dengan itu" ..... eeeehhhhh ....." sssssszzzzz ....suara desahan Mashito baru terdengar. Untuk beberapa saat, penisku aku diamkan sejenak di dalam lubang vaginanya, melihat reaksi selanjutnya " lalu selanjutnya secara pelan pantatku aku gerakan. Pelan tapi pasti penisku bergerak keluar masuk di dalam lubang vagina Mashito, lubang tersebut semakin lama semakin licin, terdengar suara crup .....cruuppp ..... cruuupp dan plop .... plop ... plop ....

Pacuanku semakin lama semakin aku tingkatkan, sungguh tidak pernah aku bayangkan dapat kenikmatan seperti ini ....... dapat dua wanita cantik dari Kuwait ..... sangat menggairahkan sekali.



Aku merasakan otot-otot vagina Mashito seolah mencengkram seluruh batang penisku dan sedikit berdenyut denyut. Otot dinding vaginanya seakan mengurut urut seluruh batang penisku. Cengkramannya semakin kuat, kurasakan pinggul Mashito sedikit-dikit bergerak kadang ke kanan dan ke kiri, kadang bergerak naik. Dan tiba-tiba desahan halus dari mulutnya keluar" ...... zzzzzzssss ........ di iringi oleh melentingnya tubuhnya ke atas dan tiba-tiba" .... selang beberapa detik kemudian terasa kedutan yang kuat sekali dari dinding vaginanya .... dan seeeeeeerrrr ....... ceeeerrrrrr ...... cairan panas keluar dari dalam lubang vaginanya. Gerakan penisku di dalam lobang vagina Mashito semakin lancar saja, karena pelumas dari dalamnya sudah keluar, dan akupun sepertinya merasakan sesuatu yang lain dan aku perkirakan sebentar lagi akan mengeluarkan spermaku. Dan memang benar, aku merasakan penisku semakin tegang lalu ....eeeeeehhhhhh ...... crottt .... croootttt ..... crrrooot .... aaaaahhhhhhh ...... erangan pelanku .... iiiihhhhhh ........ eeeeeeehhhhh ...........zzzzzzzzzzzzzzzhhhhhhh ...

Tumpah sudah air maniku didalam lubang vagina Mashito seakan tidak dapat tertampung semua, kendati gua itu cukup luas dan lebar. Kira kira sepuluh menit aku diamkan penisku didalam vagina Mashito" ... aku menikmati sensasi ini sambil memeluk tubuh indah Mashito, lalu setelah pulih kembali kondisi tubuhku , baru aku mencabut batang penisku dari dalam lubang vagina Mashito. Gerakan pelan dengan penuh penghayatan aku nikmati keluarnya seluruh batang penisku dari dalam vagina Mashito dan ooooohhhhh nikmat sekali. Aku berbaring sejenak" lalu kemudian aku membenarkan kembali posisi celana pendek dan celana kolorku dan kulihat cairan spermaku terlalu banyak, maklumlah sudah beberapa tahun aku tidak dapat menyalurkan hasrat laki-lakiku, mau ketempat tempat yang gituan tidak punya keberanian, dan barusan aku bisa menyalurkan hasrat biolgisku. Akibatnya spermaku menjadi banyak, dan tempat penyalurannya sudah ada sehingga spermaku banyak yang keluar dari dalam lubang vagina Mashito, mungkin tidak tertampung semuanya. Lalu aku membetulkan kembali celana dalam Mashito, kunaikan kembali seperti semula dan terlihat celana dalam putih itu sedikit sedikit mulai basah oleh cairan yang keluar dari dalam lubang vaginanya. Hanya saja aku tidak merapihkan daster bawanya, tetapi BH dan baju atasnya aku rapihkan kembali namun posisi kancing yang terbuka aku biarkan saja seolah-olah seperti tidak terjadi sesuatu.



Cukup lama juga aku terbaring mengembalikan tenagaku yang terkuras akibat menyetubuhi Mashito yang sedang tidur, kurang lebih 1 jam aku terbaring membayangkan kejadian yang barusan kualami. Tak lama kemudian kondisi tubuhku kembali prima, dan kembali normal seperti sedia kala. Aku melirik ke kanan dimana Maisharo terbaring telentang yang juga tidur dengan nyenyaknya. Secara perlahan aku juga memeluk wanita ini yang juga, seperti halnya Mashito, Maisharopun sangat cantik dan jelita, melebihi kecantikan ibunya. Akankah malam ini aku akan menggarap anaknya?

Laju? jangan? laju ? jangan ? Terus berkecambuk dalam diriku hingga tanpa sadar aku tertidur pulas sambil memeluk tubuh Maisharo, entah beberapa lama dan tiba tiba aku terbangun mendengar suara air menyiprat nyiprat (bahasa apa ini). Aku menoleh ke sampingku. Maisharo tertidur sambil membelakangiku dan aku melihat ke sebelah ternyata Mashito tidak disebelahku. Aku kaget !

Kemana tu perempuan " .... ?

Aku kembali mendengar seperti suara air

Hujan bukan" ....? apaa " ..... ?

Lalu aku mengintip ke suara air yang sepertinya dari dalam kamar mandi itu. Dan oooohhh...... Mashito lagi mandi......

Apakah karena sesuatu yang terjadi barusan..atau tubuhnya merasa gerah?

Tapi cuaca dingin atau hemmm ..... mungkin dikiranya dia mimpi basah lalu takut malu hingga dia mandi malam malam begitu. Tapi jam berapa sekarang? apa sudah subuh, tapi kok masih ya ?

Ah ..... kerjaku semalam kurang nikmat betul, habis yang dikerjain orangnnya lagi tidur, tapi kalau sama sama tidak tidur bagaimana ya. Tapi apa boleh buatlah, aku coba saja dikamar mandi, siapa tau rejezi dua kali. He...he...he..... bisa untung dan jadi terserah dah mau mau jadi apa ? Lalu aku bangkit berdiri sambil hanya mengenakan celana pendek dan masih memakai kolor, aku bergerak dan mendatangi kamar mandi dimana Mashito lagi mandi. Ternyata walaupun tengah malam dia mandi masih mengenakan BH dan celana dalam warna putih tadi" ...



Aku pura-pura masuk dan.....

Ahhhhh.... Mashito menjerit agak keras

Lalu aku berkata ma....maaafff...Mashito.... kamu mengapa?

Mashito lalu berbalik ke dindingsambil menyambar bajunya dan menutupi bagian depan tubuh yang setengah telanjang.

"Ba....baapak " ... sahutnya terbata-bata ...

"Ya.... kamu mandi malam?"

"Ehhhh ...... ak ...ku ...." jawabnya gugup.

Lalu aku berkata "Bapak kuatir..... kok kamu tidak ada, padahal kamu tidur di sebelah bapak tadinya...makanya bapak cari kamu....Kamu sudah selesai mandinya?"

Mashito menggeleng "belum pak"

"Sebetulnya tubuh bapak terasa gerah dan lengket.... Bapak mau mandi juga...Boleh bapak mandi sekalian nemani kamu?"

Mashito hanya terdiam tidak bisa berkata-kata

"Bapak tau perasaan kamu, kamu malu kan?"

Mashito mengangguk

"Baiklah kalau kamu tidak mau dan belum selesai mandi...Bapak cari tempat mandi lain, mungkin di bawah atau di mana lah, habis tubuh bapak lengkat sekali jawabku" lalu aku pergi melangkah.

Baru beberapa langkah aku berjalan....

"Pak!"Mashito memanggilku"

"Ya? Kenapa?"

"Ehhh ..... aaa .....Mandi disini saja" sahutnya

"Kamu?" jawabku

Mashito menggeleng "tidak apa-apa"

"Bener?" tanyaku lagi

"Ya" sahutnya

Aku mendekatinya lalu berkata "Bapak sangat kuatir kamu tidak ada makanya bapak cari kamu....Bapak sangat sayang padamu...Jangan malu-malu gitu.... anggaplah ..... ya apalah bapak ini...Dan lagian tidak ada orang yang lihat kalau kita mandi bersama, iya kan?" jawabku dibalas dengan anggukan Mashito dengan tersenyum malu "



Lalu kuulurkan tanganku mengajaknya mendekat, kuraih tanganya dan Mashito mendekat kearahku, lalu baju dasternya dengan perlahan aku ambil dan aku sangkutkan ke paku di dinding. Mashito masih terlihat malu

Aku berbisik "Tidak malu kan sama bapak?" sambil keraih pundaknya lalu kukecup keningnnya.

Terlihat matanya terpejam lalu kuraih pinggangnya dan kuajak mandi dibawa guyuran air shower, tapi sebelumnya aku lepaskan celana pendekku dan ku sangkutkan kepaku dinding dekat daster Mashito. Kini kami hanya mengenakan pakaian dalam saja, kembali aku meraih pinggang Mashito dan diapun menurut saja. Kami akhirnya mandi berdua dalam dinginnya suasana malam di kamar mandi. Aku minta Mashito menyabuni aku, ia tidak keberatan, mulai dari belakang hingga depan. Ketika dia menyabuni bagian kaki dan pahaku. Dia memalingkan mukanya ke arah lain, ternyata dia melihat cucuku yang mulai bangun di tengah guyuran air. Aku membelai rambutnya, dia menantapku, aku tersenyum dan diapun tersenyum sangat malu. Kini aku gantian menyabuninya, tapi Mashito menolak

"Ahhh ... tidak usah pak" tolaknya

"Tidak apa?" tanyaku "biar gak susah menyabuni sendiri...Ayo sini!"

Akhirnya dia mengangguk "ya"

Aku penyabuninya mulai dari punggung, bahu terus turun ke bawah ke bokong bulatnya sedikit ke bawah bagian pantatnya dan.... aahhhh ...... kenapa? tanyaku

"Geli.. pak ... oohhh"

"gak apa ntar biasa"

Kemudian aku berdiri lalu lalu menyabuni bagian leher dan terus ke depan. Ketika di pangkal dadanya dia menahan tanganku.

"Ja...janggaaann... pak" katanya.



"Kenapa?" tanyaku

"gak usah biar aku sendiri"

"Ah ..... tidak apa" jawabku "sekalian saja kan tanggung" ...

"Biar Mashito saja" balasnya

Aku berbisik "gak usah sayang.... biar bapak saja, lagian hanya disabuni" ...

Dengan kata-kata lembutku akhirnya sabunanku disekitar dada berjalan lancar. Namun tangannya masih memegang tanganku. Aku semakin merapatkan badanku ke badannya. Suasana dingin berubah menjadi panas, usapan lembut dari sabun mandi di seluruh dadanya semakin menambah gairahku. Sesekali tanganku menyusup kebalik BH nya, kadang tanganku dicekal manakala jemari tanganku menyentuh puting susunya. Sentuhan sentuhan lembut jariku pada kedua buah dadanya seakan memberikan kehangatan di dalam tubuh Mashito. Tidak banyak penolakan dari Mashito membuatku semakin bersemangat saja. Usapan lembut dan harumnya sabun mandi di kedua buah dadanya yang sangat montok, besar dan kencang bagaikan dua buah balon karet yang baru saja ditiup. Mashito tampak memejamkan matanya, lalu sambil menyabuni dan mengusap sambil meremas remas buah dada Mashito, satu tanganku bergerak ke belakang mencari pengait BH warna putih itu. Setelah ketemu, lalu dengan satu congkelan sedikit dan tessss ...... lepaslah pengait BH itu sehingga BH yang melekat di tubuh atasnya sudah mengendur. Dengan perlahan tali BHnya aku turunkan dari bahunya kiri dan kanan" ..... kemudian perlahan sekali melewati kedua lengannya, terus turun dan turun hingga lewat dari kedua telapak tangannya. Kedua tanganku pun menyusup dari bawa ketiaknya, lalu berhenti di kedua buah dadanya. Mashito hanya bisa terpejam dan tanpa penolakan dari aksi kedua tanganku. Buah dada indahnya aku remas dengan perlahan.



Namun seketika Mashito terkejut lalu berkata pelan " bapak ja.....jangan...tidak boleh pak"

"Kenapa tidak boleh sayang?" tanyaku

"aa....aku ..... sudah berkeluarga" sahut Mashito.

"Tapi bukannya kita jauh dari keluarga" jawabku

"Tapi pak, saya rasa ..... kurang baik....dan melanggar norma agama pak"

"Sudahlah nak" jawabku "tidak usah dipikirkan dengan serius ya"

Mashito tidak menyahut tangannya tetap memegang tanganku yang masih meremas remas buah dadanya. Kecupan lembut aku daratkan di leher bagian atasnya lalu kecupan juga aku daratkan di telinganya.

"Pak"

"ya kenapa sayang?"

"Mashito takut"

"Takut kenapa?" jawabku

"Entahlah, saya tidak tau"

"Tidak perlu takut" balasku "bukankah kita hidup di negeri orang yang entah kapan dapat kembali.... sudahlah lebih baik kita jalani saja apa yang terjadi" aku menghibur.

Mashito hanya diam, lalu tanganku kembali bergerak dan remasanku mulai beraksi kembali. Mashito tidak dapat menolak, malah terdengar desahan halusnya. Karena desahan halus dari mulut Mashito menandakan dia sudah dalam kondisi labil akankah menghentikan aksi dari aku atau hanya menerima dengan iklas? Rabaanku semakin intens kulakukan, tak lupa ciumanku ketengkuk dan lehernya terus berlanjut, hingga tekanan dari bagian bawa perutku semakin kuat. Rupanya si cucu sudah berontak juga, he .... he .... he ..... bentar dolo nanti kaya tadi malah kamu jadi teler ...... bathinku berkata sendiri kepada cucuku yang di bawah itu. Aksiku tidak kulakukan dengan terburu buru karena Mashito sedikit demi sedikit sudah dapat menerima perlakukan sehingga lambat laun apa yang aku inginkan dapat terwujud dengan kenikmatan yang abadi dan juga dapat sama sama kami mencapai kepuasan yang sejati.



Dengan perlahan tanganku bergerak turun ke bawah terus menelusuri bagian bawa dadany. Terus elusan dan usapan busa sabun wangi di sekujur tubuhnya bergerak ke arah perutnya. Usapan lembut dan elusan dengan penuh penghayatan semakin memicu gelora di dalam tubuh Mashito dan ketika jemari tangaku bergerak lagi ke arah kedua paha nan mulus bak batu pualam itu, seketika tubuh Mashito bergetar sambil berdesis lirih ssseeeezzzzzz.....mmmhhhhh.......Kiri dan kanan kedua paha itu menjadi sasaran remasan jari jari tanganku, tubuh Mashito semakin rebah ke belakang. Kepalanya tersandar di bahu kananku. Tangan kiriku masih terus meremas remas buah dadanya sebelah kiri yang mana titik klimaks bagi seorang wanita di dada kiri terutama puting susunya. Sedangkan tangan kananku bergerilya dibagian bawah. Namun ketika jari jariku menyentuh tumpukan secarik kain tipis di daerah selangkangan Mashito, seketika itu juga darahku menjadi bergetar hebat dan penisku semakin mengeras saja di belakang tepatnya di belahan pantat Mashito. Belahan pantat yang lumayan lebar ditunjang dengan bentuk pantat yang besar dan bulat serta kencang menonjol ke belakang, kalau ukuran orang Asia terutama Indonesia sudah cukup besar, tetapi tidak bagi orang Arab, karena itu sudah sesuai dengan tinggi badan Mashito 175 cm, berat badan 66 kg. Lain halnya dengan diriku tinggi hanya 170 cm sedangkan berat badan 60 kg. Gerakan jari tanganku sedikit menyentuh bulu bulu kemaluan berwarna hitam nan rimbun diatas karet celana dalamnya yang tidak cukup menampung celana dalam warna putih milik Mashito. Terus jariku bergerak turun ke bawah, tumpukan tanah sejengkal di balik celana dalam cukup empuk sekali. Lalu kembali jariku bergerak dan elusan lembut dengan halus jariku bergerak ke bawah. Tetapi tiba-tiba tanganku dipegang oleh jari tangan Mashito.

"Pak.... ja.... jangan, tolong ja.... jangan diteruskan pak...saya mohon" ia berkata pelan

"Kenapa sayang?" sahutku dengan bisikan mengundang nafsu

"Jangan sentuh, .. iii ..... tuuu Pak...ja...ngan , ooohhhh..... Pak."

"Tidak apa nak?" sahutku "tenang saja"



"Ooohhh...... pak, aku mohon jangan lagi" mohonnya lirih

Tapi jari tanganku malah semakin turun dan turun hingga menyentuh belahan vaginanya

"sssssszzzzzzzz..... aaaddddduuuu hhhhhhhh..... pak, sudahlah, aku...sudah bekeluarga pak, tidak boleh diteruskan, Uuuuuu ........... hmmmm" suara Mashito semakin jelas terdengar, apalagi usapan dan elusan jari jari kananku di bagian luar vaginanya yang masih ditutupi oleh celana dalam warna putih semakin intens

"iiiihhhhhh,,, aaaaaaauuuuuuuu ...... paaaaakkkkk" jari jari tanganku terus kugesek gesekan sambil sesekali kuremas gundukan tanah sejengkal itu.

Kemudian dengan perlahan jariku bergerak naik ke atas, lalu dengan pelan sekali mendekati karet atas celana dalamnya, dan jari telunjuk jari tengah, jari manis, jempol, terakhir jari keliking, menguakan karet celana warna putih, lalu masuk secara perlahan. Bertemunya jari dan telapak tanganku dengan bulu kemaluan Mashito yang lebat dan keriting terasa sangat kasar namun licin karena warnanya hitam legam. Mashito semakin erat memegang tangan kananku, usahanya untuk melarangku menyentuh kemaluan terus dia lakukan

"Bapak....jangan ya pak, Mashito mohon" dengan suara halus sambil berdesis "ssssssssssiiiiiissssss .... ooh"

Tapi aku sendiri tidak dapat kuat menahan nafsuku, jariku terus meluncur turun sambil mengusap rimbunya ilalang berwarna hitam itu hingga

"aaaahhhhh .... pakkkkkk , .... duuuhhhhh .... Bapak.... jangan!" bertepatan itu jariku menyentuh daging kecil yang terletak di sela-sela rimbunnya rambut yang tumbuh luas di sekitar selakangan dan di bawah pusarnya. Cengkraman tangan semakin kuat, gelitikan gelitikan dari jari jariku yang walaupun masih erat dipegang oleh tangannya cukup membuatnya merintih pelan

"paakkk....su ....ssuuu .....daaaaahhhhh.... tolong pakkk!"

Gelitikan jariku akhirnya mengendurkan cengkraman tangannya sehingga jari meluncur deras ke belahan bibir vaginannya.



Tak terasa dari celah bibir vaginannya mulai terasa hangat atau karena kami berdua masih dalam siraman air dan sabun. Kemudian keran air aku hidupan untuk membersihkan sisa sisa sabun mandi yang melekat ditubuh kami berdua dan jari jarikupun keluar dari celana dalam Mashito. Kemudian aku bersihkan semua busa busa sabun yang melekat di tubuh Mashito, bahkan didalam celana dalamnya aku bersihkan, Mashito menjerit kecil "aauuuuww ...Bapaaaakkk!"

Kemudian tubuh Mashito aku balikan menghadapku, kami berdua saling berhadap hadapan. Aku usap usapan dengan percikan air keran dari atas, Mashito memandangku dengan sorot mata yang tajam seakan mencari kebenaran dan kejujuran dari diriku.

Aku berkata "kenapa sayang jawabku dengan sedikit tersenyum" .....

Dia berkata, "ahhh , tidak apa apa"

Lalu aku mencium keningnya kemudian kupandangi wajah cantiknya, Mashito memalingkan wajah ke arah lain, lalu kuraih dagunya dan perlahan wajahku mendekat ke wajahnya. Dia menatap dengan tatapan sayu

"pakkkkk...eemm!" kecupan bibirku terhadap bibirnya membuatnya jadi terdiam, lalu ku ulangani lagi, bibirnyapun agak terbuka.

Tanpa kata kata lagi bibir merah merekah tersebut langsung aku lumat

"eehhhhh...hhmmmmmm" suara dari dalam mulut Mashito keluar

Kemudian Mashitopun membalas lumatan bibir dengan mesranya hingga kedua tangannya melingkar leherku. Lumatan kami berdua menjadi hangat, kini tanganku mulai beraksi, sasarannya adalah bukit salju yang tergantung menantang di dadanya. Remasan remasan di kedua buah dada Mashito ku lakukan secara lembut. Puas melumat bibir Mashito, aku beralih ke leher terus merambat turun hingga berhenti di kedua buah dadanya, lalu dengan santainya aku menjilati kedua puting susu yang cukup besar itu, yakni seukuran jempol orang dewasa. Jilatan sedotan aku lakukan dengan intens dan suara Mashito mulai terdengar.

Ooooooohhh" ..... Baaaa..pakkk...mm.....aaaauuuuuww...paaaakkkkkk"



Tak henti hentinya rintihan Mashito keluar dari mulutnya. Hingga kedua tanganya memegang leher dan kepalaku. Agar tidak terjatuh di kamar mandi tubuh Mashito aku sandarkan ke tembok kamar mandi lalu kuraih pinggang rampingnya. Lalu tanganku turun ke pinggul bulat besarnya, kuremas remas pantat yang sangat kencang itu. Rintihan dan desahan mulut Mashito terus terdengar. Secara perlahan aku menyentuh karet celana dalamnya dan lalu menurunkan celana dalam itu secara perlahan. Ternyata tidak ada perlawanan ataupun penolakan dari Mashito. Dengan leluasa celana dalam itu bergerak turun. Celana dalam itu semakin turun hingga telah mencapai kedua lututnya. Dengan sedikit menurunkan tubuhku, aku berjongkok di antara kedua pahanya, kemudian celana dalam itu terus aku tarik turun hingga jatuh di kedua telapak kakinya. Dengan mengangkat satu persatu kaki Mashito lepas sudah penutup akhir dari tubuhnya. Aku menatap padang rumput ilalang yang hangus terbakar oleh api yang berada di antara kedua belah paha mulusnya. Kudekatkan wajahku lalu kucium tercium bau harum sabun mandi dari rimbunan padang rumput itu.

Aku berdiri lalu berkata kepadanya "sayang, kamu tidak marahkan?"

Mashito terdiam, dia menatapku dengan tajam lalu menggeleng, "tidak pak" sahutnya.

Lalu aku menurunkan celana kolorku dan buuullll...sang penis telah keluar dari sangkarnya. Ya penisku telah tegak bagaikan sebatang tonggak yang tegak perkasa. Namun bagi Mashito hal itu merupakan suatu yang mencemaskan dirinya dimana sebagai orang yang masa kecil serta dewasa hidup di lingkungan negara yang taat beragama dan menjunjung nilai suatu kehormatan bagi kaum wanita. Belum lagi apa yang akan terjadi sekarang ini yang sudah jauh dari nilai nilai peradaban bagi wanita di negaranya.

Hingga dalam bathinya berkata "Ya tuhan...... apa yang akan terjadi? Baru kali ini aku berbuat seperti ini.... apa yang mesti aku lakukan? Selama ini aku selalu menjunjung norma dan kehormatan kaum hawa, tapi sekarang ini aku tidak dapat berbuat banyak, dalam diriku terjadi sesuatu yang tidak bisa aku hindari. Suamiku, maafkan aku...kalau tidak saja diantara kita tidak terjadi selisih paham, mungkin aku tidak menjadi seorang gelandangan di negeri orang berserta anak kita. Namun mungkin sudah takdir kita harus berpisah... mungkin kamu juga sudah melupakan aku dan anakmu. Disini aku menemukan orang yang sudah seperti orang tua sendiri, yakni BaPak Soleh, dialah menjadi pelindung aku dan anakku, memenuhi kebutuhan kami bertiga..kalau tidak hanya dia mungkin kami sudah menjadi apa....Mudah mudahan dia dapat memberikan perlindungan, kasih sayang, cinta kepada kami, dan tidak akan meninggalkan kami"



Namun akhir akhir ini, perubahanku terhadap bapak saleh kian tampak, apa lagi perhatiannya kepada aku dan anakku, bahkan kebutuhan materi dan moril dia tunjukan kepada kami. Belum lagi, kasih sayang yang diberikannya melebihi segalanya hingga rasa simpatikku kepada BaPak Soleh menjadi semakin kuat. Dan saat ini di tengah malam yang sunyi didalam kamar mandi.....aku telah terbuai dengan kelembutan atas sentuhan kasih sayang yang diberikan kepada tubuh ini. Akankah aku akan menerima belaian dan sentuhan yang akan diberikan oleh BaPak Soleh kepadaku? karena saat ini kami berdua telah dalam keadaan tidak mengenakan apa apa lagi yang melekat ditubuh ini....atau aku akan menolak dengan berteriak hingga aku akan lari, tapi tidak, biarlah keadaan waktu berjalan sesuai dengan porosnya. Kalau memang terjadi terhadap diriku mungkin sudah suratan takdir. Namun begitu mudah mudahan aku bisa mencegah agar tidak sampai terjadi. Selesai membathin, Mashito merasakan Pak Soleh mencium bibirnya. Antara takut, cemas, kuatir kalau anaknya tau apa yang terjadi saat ini. Disisi lain, gejolak birahi di dalam tubuh mulai membara. Tangan Pak Soleh bertambah nakal, buah dada Mashito diremas dengan lembut. Mashito tidak berbuat banyak, kecuali membalas ciuman dan lumat bibir Pak Soleh dengan lembut. Pak Soleh pun dengan senangnya mendapat respon dari bibir Mashito. Ciuman merambat turun hingga berhenti di kedua buah dada nan ranum milik Mashito. Mashito merasakan bibir Pak Soleh telah menyongsong kedua puting susunya. Desahan halus dan lembut dari mulut Mashito terdengar

"uuuhhhhh ..... aaauuuuuu ....... pakkkkkkk......sudaaaaaahhhhh..... sakittttttttt"

Wajah Pak Soleh menunduk, Mashito merasakan kulit perutnya dijilati oleh Pak Soleh' ..

Dan Mashito menjerit ketika lidah Pak Soleh menyapu bulu bulu kemaluannya. Terus lidah itu bergerak liar, dan berhenti di daging kecil disekitar atas bibir kemaluannya. "auuuuwwww ..... paaaakkkkk ....sudaahahhh geliiiiiii, ...... paaaaakakkkkk, .. jangan!"

Saking tak tahanya kepala Pak Soleh dipegang oleh tangan Mashito dan Mashitopun terduduk dilantai kamar mandi karena tak kuat menahan geli.
 

magnacharta83

Semprot Baru
Thread Starter
Daftar
23 Jul 2012
Post
37
Like diterima
255
Pak Soleh lalu meraih tubuh Mashito dengan secara perlahan dan lembut dia merebahkan tubuh mulus Mashito. Mashito hanya menuruti apa yang lakukan oleh Pak Soleh. Kini tubuh Mashito terbaring di lantai beralaskan keramik kamar mandi. Tubuh Mashito sunggu luar biasa indahnya dalam posisi polos tanpa sehelai benangpun bagaikan batu pualam yang licin dan halus. Dengan penuh kelembutan Pak Soleh mulai rebah di samping tubuh Mashito. Kecupan mesra di bibir itu seakan tidak ada puas puasnya. Mashito tak kuasa menolak keinginan Pak Soleh. Namun dari dalam diri punya keinginan untuk melarangnnya, tapi kekuatan lainnya juga turut mempengaruhinya, apalagi tangan Pak Soleh tak henti hentinya memberikan rangsangan ke dalam sanubarinya. Usapan lembut tangan Pak Soleh mulai dari dadanya, hingga bergerak turun dan turun dan sampailah ke belahan daging lembut di sela sela rimbunya rumput hitam itu. Gesekan gesekan jari Pak Soleh dibibir vaginanya membuat Mashito merintih rintih.

"Aaaaahhhhh , ...... aouuuuuuu ..... uuuuuhhhhh........ paaaakkkkkkk suuuu ddaaaaaahhhh, ..... jangan teruskan..... auwwwww!"

Belum lagi berhenti jari jari Pak Soleh bermain di belahan bibir vaginanya, Mashito sudah di derah lagi sesuatu yang basah menyapu bibir dan belahan vaginanya

"Pakkkkk" .... sudahhhhh, jangan dijilati.... aaaaaauuuu ..... aku tidak tahan.

Paaakkkkk" ...... jangaaaannn pak jiiiijiiiikkkkk...... ouuuuuu..... iiiiii tuuuu kotor pakkkk ...... ampunnnn" rintihan lirih Mashito sehingga pinggulnya yang besar melenting keatas.

Tampak cairan bening sedikit mengalir dari dalam lubang vaginanya. Akhirnya Pak Soleh menyudahi jilatannya, kini dia mulai naik ke tubuh Mashito. Mashito hanya pasrah dan menanti sesuatu yang akan terjadi pada dirinya. Matanya melirik sesuatu di bawah tubuh Pak Soleh, dalam hatinya ngeri juga menghadapi benda itu. Benda seperti itu seharusnya boleh masuk hanya punya suaminya. Akan tetapi saat ini sepertinya Mashito akan menerima benda milik Pak Soleh.

Dalam hatinya berkata lagi "aku merasa takut"



Pak Solehpun bertanya pada Mashito "bolehkan sayang?"

Mashito hanya menatap mata Pak Soleh kemudian matanya menutup, entah apa yang ada di dalam pikiran dan dadanya.

Pak Soleh berkata "sayang"

Ya pak" sahut Mashito.

"Kamu keberatan kalau bapak melakukan ini?"

Mashito masih terdiam, lalu ia merangkul tubuhku dengan erat lalu berkata "Pak.... aku sebenarnya takut!"

"Takut kenapa" tanyaku "takut kalau ketahuan orang? Kamu jangan kuatir tidak akan ada orang yang melihat! percayalah sama Bapak"

Mashito akhirnya mengangguk, secara perlahan lahan Mashito memberikan jalan kepada Pak Soleh. Dia membuka kedua belah pahanya ke kiri dan kanan sehingga posisi selangkangan agak membuka. Tak sekali di wajahnya yang jelita penuh keraguan dan kecemasan. Pak Soleh mendekatkan batang penisnya mendekati bibir vagina Mashito secara perlahan. Kepala penis Pak Soleh menyenggol belahan bibir vagina Mashito.

Hati Mashito berkata "Sudah terlanjur jauh dan kepalang basah, rasanya sulit untuk menghidari kejadian ini. Aku merasa merinding dan bergetar manakala kepala penis bapak ini menyentuh bibir vaginaku, namun apapun yang terjadi adalah resikoku sendiri" bathin Mashito.

Lain hal dengan bathin Pak Soleh. Dengan mata kepala sendiri aku baru bisa menikmati tubuh indah Mashito secara terang terangan. Kini impianku menjadi terwujud, khayalanku untuk menikmati tubuh Mashito secara sukarela benar menjadi kenyataan. Lalu kepala penisku kugesek gesekan kebelahan bibir kemaluan Mashito, terasa lembut dan hangat kepala penisku menyentuh belahan bibir vagina, cairan bening turun membantu melicinkan kepala penisku. Dengan dibantu jari tanganku, bibir vagina Mashito aku buka, belahan bibir vagina itu berwarna merah muda walaupun telah mengeluarkan anak yang sekarang telah berumur 15 tahun, tidak ada bekas gelambiran dari kedua belah bibir vaginanya. Apa mungkin orang Arab mempunyai ramuan khusus hingga bentuk vagina begitu montok seperti punya anak usia belasan tahun. Aaahhhh .... pusing mikirin itu, terserah ramuan apa yang penting rejekiku mendapatkan wanita Kuwait ini telah terwujud.



Dengan secara perlahan kepala penisku sedikit kutekan, dan

"aaaahhhhhh" rintih Mashito

lalu kucoba lagi, kutekan lagi

"iiiiiihhhhhhh" ...... paaaakkk " Rintih Mashito, kembali kucoba menekan dan suuuzzz kepala penisku terjepit "aaaaahhhhhh ..... paaakkkk..... sakittttt".

Dengan gerakan pelan dan tidak terburu buru, aku terus mencoba dan

"aaaddduuuhhh....paaaakkkkk, aaaaouuuuuuuwwww"

Kepala penisku mulai bergerak masuk hingga kepalanya sedikit hilang ditelan mulut vagina Mashito.Usahaku secara intens terus menekan masuk batang penisku

kembali desahan mulut Mashito "iiizzzzzzzzhhhhhhh ,....... uuuuuhhhhhh ... paaaakkkkk ....

Aku berbisik "sakit sayang?"

"ya" sahut Mashito

"Sempit" kataku"

Kucoba lagi menusuk batang penisku ke dalam lubang vagina Mashito. Usahaku tidak sia-sia sedikit demi sedikit batang penisku bergerak masuk, terus dan terussss, batang penisku bergerak masuk, hingga sudah separuhnya.

"Pakkk ....saaaakitttttt..... aaaduuuuhhh ...... eeeehhhhhh1" erangnya ketika berulang ulang aku menggerakan agar semua bantang penisku segera masuk semua.

Batang penisku yang cukup besar dan panjang 18 cm, terus dan terus bergerak masuk.

Hingga tinggal beberapa inchi lagi, dengan hentakan terakhir batang penisku menerobos masuk dan cruuuttt

"aaaahhhhhhh ...... baaaaapppppaakkkkkk ..... saaaaakiiitttt...Hukkkk ...huuukkkkkk .....huukkkk1" rupanya Mashito menangis sesegukan "Bapakkk sakit sekali ...... aku tidak tahan"

Aku kasihan kepadanya, lalu dengan penuh kasih sayang aku peluk tubuhnya dengan erat erat, sambil kubisikan kata mesra kepadanya

"Kenapa nak?"

"sakit sekali pak"

Ya" ..... sungguh sakit sekali.....tapi tidak apa sebentar lagi akan berkurang"



Kucium bibirnya dengan lembut dan mesra. Mashito menyambut bibirku, kini kami berdua saling lumat. Sedangkan kelamin sudah menyatuh seperti tidak ingin dipisahkan lagi. Lalu irama gerakan pantatku mulai aku lakukan, dengan tarikan perlahan lahan kutarik dan kutekan. hhhmmmmmm...suara mulut Mashito yang menyatu dengan bibirku. Aku melepaskan lumatan bibirku. Kini fokusku tertuju pada bagian bawah pantaku. Gerakan pinggulku mulai rileks aku lakukan, gerakan perlahan tapi terus berjalan. Di bawah Mashito semakin mendesah.

"Aaaaauuuuuwwww ....... zzzzzzssssssssshhhh....Baapakk...ouuuuuuuwww....... aaahhhhhh, yaaaaa" dengan gerakan irama dari pantatku, suara Mashitopun berdesah "Paaaakkkk ....... aaaaaahhh, pel .....laannnnn , ..... ouuwww .... bapppppaaaakkkkk, sudah .....aaahhh"

Gerakanku semakin cepat "pak.... too...looonggggg , ... pee ..lan , pelan. Iiiihhh....... sssshhhhhh!"

Tubuh Mashito ikut bergoyang karena genjotan dari pantatku. Pinggulnya seakan turut membantu lancarnya jalan batang penisku. Pinggang Mashito aku pegang lalu kutarik tarik seiring genjotan penisku di dalam lubang vaginanya. Tubuh Mashito melenting lenting ke atas sambil kepalanya menggeleng ke kiri dan kanan, serta suaranya terus merintih keluar

"aaahhhhh ..... aaauuuuw ....Yaa ..... sssszzzz ....... baaa, ..... paaaakkk!"

Hampir setengah jam persetubuhan terlarang ini kami lakukan di lantai kamar mandi, dan tubuh Mashito semakin melenting lenting. Erangan penuh birahi dari mulut Mashito membuat aku semakin bersemangat tetapi Mashito berteriat histeris, namun dengan suara yang pelan.



Dan aku merasakan sesuatu yang hangat keluar dengan deras dari dalam vagina Mashito, ceeeeerrrr .....seeeeerrrrrrrrrrrrrr ...... hhhhmm , ... yaaaaa ..Ternyata Mashito menyembur larvanya sangat banyak sehingga membanjiri lubang vaginanya, ia seperti ngos ngosan sambil menarik nafas. ku mendekati wajah dan kucium keningnnya,lalu aku berbisik

"kamu orgasme sayang?" Mashito hanya memalingkan mukanya yang memerah karena merasa malu akibat rangsangan hebat dari aku.

Ia hanya mengangguk "yaa pak aku tidak dapat menahannya."

Kini akupun semakin lincah mengayunkan pantatku, dimana penisku terus keluar masuk dari dalam lubang vagina Mashito yang sudah tergenang oleh banjir larva dirinya sendiri.

Aku merasakan batang penisku seolah dicengram karet gelang. Kulihat Mashito memandangku. Aku merasakan lubang vaginanya seolah semakin sempit padahal barusan dia telah menyemburkan air maninya. Gila kok seret sekali, batang penisku seolah dipijit pijit, auuuuu nikmat sekali.

"Uuuhhhh" erangku, manakala ketika menyodok lobang vaginanya terasa seret seret.

Aku terus menggenjot vagina Mashito. Pinggang dan pinggulnya aku cengkram, bukan main memang besar sekali bokong wanita Kuwait ini, sudah besar, bulat dan kencang lagi. Aku melihat wajah Mashito seperti melakukan konsentrasi. Sepertinya ia melakukan sesuatu, kupandangi juga wajah jelitanya, tak luput dari tanganku buah dada aku remas remas kemudian mulutku tak mau ketinggalnya menyosor kedua puting susunya yang memang cukup besar. Dihiasi oleh kelilingnya berwarna merah muda belum lagi bulu halus di sekitar buah dadanya, sungguh menambah kesempunaan bagi dirinya. Kini aku rasakan kembali dinding vagina Mashito seolah mengkerut dan saat itulah penisku seperti terjepit. Rupanya Mashito memberikan kenikmatan kepadaku melalui gerakan saraf perut dan langsung terhubung ke saraf saraf vaginanya, yang menghasilkan pijatan keras terhadap batang penisku.



Lubang vagina itu semakin lama semakin licin saja, sejauh ini belum juga merasakan akan mencapai puncak klimaksku. Dengan perlahan aku melepaskan batang penisku dari dalam liang vagina Mashito, dia sepertinya terkejut

"Ba.. baa..pakk.... ke....keeee..... napa?" Mashito seperti ada rasa penasaran dan tanda tanya.

Otot vaginanya seolah menahan keluar batang penisku, lalu brulll .... penisku keluar dari lubang vaginanya. Tampak seluruh batang penisku penuh belopotan oleh cairan putih dari dalam liang vaginanya. Air mani Mashito yang banyak menumpuk di ujung dan batang penisku. Aku lalu berbaring, Mashito bangkit lalu duduk menatapku

"ada apa pak?" matanyapun beralih ke bawah perutku.

Dia melihat tersenyum malu melihat batang penisku masih berdiri keras yang penuh oleh lendir dari tumpahan air maninya. Aku tersenyum kepadanya sambil kubelai pipi mulusnya lalu berbisik mesra.

"Sini, kamu naik keatas tubuh bapak!"

Mashito bingung "untuk apa?"

Namun iapun menurut dan menaiki tubuhku, lalu aku berkata angkat bokongnya. Mashito mengangkat pantatnya sedikit lalu dengan mengulurkan tanganku, aku menggenggam batang penisku dan mengarahkannya ke lubang vaginanya. Setelah posisi kepala penisku telah tepat dimulut vaginanya, lalu aku menyuruhnya menurunkan pantatnya dengan perlahan.

"Ooohhhh...... bappaaakkkkk, Ooohhhh ..... ooohhh!"

Dengan gerakan turun perlahan Mashito memejamkan matanya sendiri seolah baru pertama kali mendapat sensasi baru seperti ini. Setelah seluruh batang penisku masuk di dalam liang vaginannya dia malah duduk di kedua pahaku. Dia tampak terdiam masih menunggu apa yang harus dilakukan.



Lalu aku berkata "sayang, coba kamu gerakan pinggulmu!"

Mashito menurut apa kata-kataku. Dia menggoyangkan pinggulnya, mula-mula hanya digoyang dan diputar saja pinggul besarnya. Namun aku bilang

"Coba kamu angkat" ..... lalu turunkan lagi" ....

Dia menurut, kini pantatnya bergerak naik turun. Dengan sedikit kubantu mencengkram pinggangnya agar irama turun naiknya pantatnya, membuat sensasi pertemuan kelamin kami berdua menjadi nikmat.

"Ya.. uuuuu.... eeeeeehhhhh" rintihan Mashito semakin sering

Mashito akhirnya bisa sendiri melakukan goyangan pinggulnya. Aku memandang wajahnya yang sungguh luar biasa cantiknya, matanya jernih, alis matanya hitam dan tebal, bulu matanya lentik, hidungnya mancung, bibir merah tipis dan rambut lebat hitam sebahu. Belum lagi kulit tubuhnya yang putih mulus bersih tanpa ada bekas cacat. Buah dada yang kencang menantang terayun ayun menggantung indah di tubuhnya. Pinggang kecil dan ramping serta dua buah bokong bulat besar menghiasi bentuk tubuhnya. Belum lagi kedua belah pahanya yang memang tiada terkira mulus yang dihiasi oleh oleh rumput yang tersebar luas disekitar selangkangannya. Tak kuasa aku melihat buah dada yang menggoda itu. Kusedot dengan mulutku sambil tidak melepaskan pelukanku di pinggang rampingnnya. Gerakan Mashito semakin cepat. Desahan dan rintihan halus dari mulutnya semakin sering. Sepertinya dia mencapai klimaks yang kedua, tak lama kemudian...

"paaaakkkk...Aaaaakkkkhhhhh ......... eeehhhhhhhhh .....Seeeerrrr!"

Apa yang terjadi pada Mashito membuatku tubuh semakin tegang. Tulang tulang tubuh seperti mau ditarik, persendian tubuhku seolah mau lepas, otot penisku seperti semakin menegang. Kepala penisku terasa panas dan belum sempat aku berbuat banyak tiba-tiba

"Ooohhh!" aku mencepatkan dan mengoyangkan bokong Mashito sekuat kuatnya, "Aaahhhhh .... iiiiihhhhhhh ..... croooooorttttt....Crrrrooooootttttt!!"

Tumpah sudah air maniku ke lubang vaginanya, tidak tau lagi berapa banyak semprotan berkali kali mungkin menembus lubang vaginannya.



Mashito memelukku semakin erat akupun tak mau melepaskannya. Kupeluk dan kuelus elus punggungnya dengan rasa penuh kasih sayang. Mashito membenamkan kepalanya di bahuku, dengan hati hati aku berbaring sambil memeluk tubuhnya. Aku terlentang sedangkan Mashito tertelungkup di atas tubuhku dengan posisi alat kelamin kami masih menyatu. Aku mencium rambut dan keningnnya. Ungkapan ini menambah kehangatan di dalam diri kami. Di tengah malam yang dingin, di lantai keramik kamar mandi.... kami telah melakukan hubungan badani. Dinginnya air keran kamar mandi seolah tidak merasa dingin pada tubuh kami berdua. Dalam tertelungkup di atas dadaku, terasa buah dada Mashito mengganjal keras, batang penisku masih menancap di dalam lubang vaginanya.

"Sayang" kataku mesra, "Hhhhmmmm .... tidur ?"

"Tidaakk ... pakkk "

Kenapa " ...... tidak sahutnya ' ...

Capek , ...... hehhh .. sahut Mashito ...

"Yuk kita bersihkan badan!"

"Nanti pak" sahutnya

"Udahlah , .... cepat mandi... nanti baru enak tidur"

Mashito mengangkat wajahnya lalu dia memandangku, ia tersenyum dan berbisik

"Bapak nakal.... nekat dan jahat!"

"Jahat kenapa?" tanyaku

"Bapak memaksaku melakukan perbuatan terlarang ini"

"Jadi kamu merasa bapak perkosa"

"hhemmmmm" jawabnya mengangguk

"Marah?" tanyaku lagi yang dibalasnya dengan anggukan tapi tersenyum

"Kamu suka?" jawabku

"tidak juga" sahutnya

"Tapi kamu diam"

"ya diam saja" sahutnya

"Enak" kataku

"taauuuuu " .. ! sahutnya sambil tersenyum malu

"Yo, ... sudah kita mandi" kataku, Mashito mengangguk



Mashito berangkat dari atas tubuhku lalu dengan perlahan mengangat pinggulnya. Sensasi keluar penisku dari dalam vaginanya tidak lupa diresapinya dengan memejamkan matanya. Setelah keluar Mashito terduduk di lantai, aku bangkit berdiri sambil mengangkat tubuh wanita cantik jelita dari Kuwait ini, dan mengajaknya mandi bersama lagi. Kami saling menyabuni tubuh kami masing masing. Mashito dengan perhatian khusus menyabuni aku dengan lembut dan mesra sekali, setiap kulit tubuhku dibersihkannya tidak ketinggalan benda bulat di bawah perutku disabuninya, dia tersenyum malu, maklum benda inilah yang membuat dirinya lupa akan segalanya. Akupun tidak lupa menyabuni Mashito hingga ke seluruh tubuhnya, lubang vaginanya tidak luput dari sentuhan lembut jari tanganku. Agak sedikit menjerit kencil ketika menyentuh daerah kecil di atas bibir vaginanya. Setelah selesai baik pakaian dalam aku dan dia, dicuci oleh Mashito kemudian dijemurkannya di dekat ventilasi. Aku mengeringkan tubuh Mashito dengan handuk hingga tidak ada sama sekali air yang melekat ditubuhnya, begitu pula rambutnya. Mashitopun seolah penuh perhatian mengerikan tubuhku dengan handuk hingga kering. Setelah itu ia mengenakan dasternya kembali yang tersangkut di dinding kamar mandi, berarti dia tidak memakai pakaian dalam. Akupun begitu hanya memakai celana pendek yang juga tergantung di dinding kamar mandi. Setelah itu kami kembali ke bilik tidur yang terbuat dari kardus bekas untuk melindungi kami bertiga dari dinginnya cuaca malam.

"anakmu masih tidur nyenyak sekali" kataku

"Iya...mungkin dia agak nyaman dengan tidur di kasur baru dibandingkan tidur di kardus bekas."

Aku berbaring sambil telentang, sedangkan Mashito tidur memeluk tubuhku dengan kepalanya bersandar didadaku. Pahanya dinaikan pada kedua pahaku seolah bantal guling. Aku memeluk dan mengelus elus rambut dan punggungnya ...



"sayang, kenapa kamu mau melakukannya tadi?" aku berbisik pelan

"Entahlah" sahut Mashito, "ya...sebagai seorang wanita, aku butuh perlindungan dan kasih sayang, tempat curahan hati, tempat tumpuhan hidup. Apalagi kita sama sama berada di negara orang yang tidak tau sampai kapan kita disini. Hal yang barusan saja terjadi tadi..... aku juga tidak tau pak. Cuma sebagai orang wanita, mungkin hasrat dan keinginan itu bisa saja terjadi ....Ya, sekuat apapun wanita...pasti akan luluh juga pertahanannya. Memang di negara kami, kehormatan harus dijaga terutama kaum wanita yang telah bersuami, pakaian jilbab harus dipakai, namun ada juga yg tidak memakainya karena perkembangan jaman moderen" jelasnya

"Ooh .... begitu.... jadi kejadian yang barusan kita lakukan tadi, apakah kamu benci pada bapak?"

"Pak... seandainya aku benci dan marah pada bapak, tidak mungkin persetubuhan itu akan terjadi" sahut Mashito.

"Jadi kamu juga menginginkannya?" tanyaku

"Ya... mungkin...... hhhhkkkkmmmm hmmmmm"

"Suka tidak?" godaku

"aaahhhh bapak" sahut Mashito sedikit manja.

Bathin Pak Soleh, jadi dia menginginkannya juga, menikmatinya, dan menyukainya.

"Bapak" Mashito berkata

"Apa...apa?!" sahutku.

"Bapak sayang padaku?"

Kamu jangan kuatir sayang, bapak lebih dari sayang kepada kamu dan anakmu. Apapun yang akan terjadi bapak tidak akan melalaikan kalian berdua. Aku mengelus elus punggung hingga ke pinggul bulat Mashito sehingga ia kegelian.

"Iihhh .... bapak, .... sudah jangan lagi aaaahhhh!"

"Habis kamu menggoda bapak" sahutku.

"Iiihhh...... menggoda apa?" sahut Mashito

"Sudah .... sudah malem, mungkin sudah jam 3 dini hari ...Ayo sayang" rayuku.

"Gakkkk mau" ..... tapi tanganku terus meremas remas pantat bulat Mashito.

Lalu aku menurunkan celana pendekku hingga keluarga batang penisku yang sudah kembali tegak berdiri kokoh.



Mashito memalingkan mukanya ketempat lain, tapi tidak lama karena diapun tergoda ingin melihat batang penisku. Dengan lembut Mashito menyentuh batang penisku yang semakin mengeras, lalu ia berbisik

"Bapak bisa tahan lama?" tanyanya.

"Itukan masa muda bapak rajin olahraga dan makan makanan yang alami"

"Ohhh.... pantas kuat sekali."

"Bapak juga kagum padamu, kamu cantik jelita bagaikan bidari dari negeri Timur Tengah"

"iiiihhh...merayu" sahut Mashito.

"Benar sayang" jawabku, "cuma yang lebih bapak suka kenapa vagina kamu bisa memijit mijit batang penisku"

"Hiiiikkkkk ....hiiikkk ..... itu senjata rahasia bagi wanita dari negara kami. Kenapa pak? Sakit?"

"tidak, bapak sangat suka... nikmat sekali."

Mashito tersenyum "jadi bapak suka kan?"

"Ayo sayang kita punya waktu beberapa jam lagi....bapak tidak tahan lagi"

"Uuuhhhh ... dasar laki-laki kalau sudah ada maunya pasti ngejar terus. Apalagi laki-laki yang sudah lanjut usia, keinginanya paling kuat" sahut Mashito.

Namun karena orang tua ini adalah orang yang menjadi tumpuan hidupnya. Mashito dengan senang hati dan hati yang iklas bersedia melakukan untuk sang bapak. Pinggul Mashito mengangkangi bawahan Pak Soleh, dengan lembut ia menurunkan celana pendek yang dipakai Pak Soleh hingga ke lututnya. Lalu dengan perlahan tangan Mashito memegang batang penis Pak Soleh dan memasukan kedalam lubang vaginanya, dengan perlahan dia menurunkan pinggul besarnya hingga batang penis Pak Soleh tertelan penuh oleh vaginanya. Setelah itu Mashito punya inisiatif menggerakan pinggul naik turun .....

Keduanya secara bersamaan melihat kearah Maisharo yang tiba-tiba menggerakan badannya, keduanya seperti ketakutan. Tetapi Maisharo kembali tertidur pulas.



Akhirnya malam itu kami menikmati persetubuhan dengan dasar suka , penuh kasih sayang, gairah yang tidak terkirakan. Kami akhirnya terkulai lemas. Mashito rebah di dadaku dengan senyum kepuasan. Dengan tubuh dipenuhi keringat kami mencapai puncak klimaks. Tubuh kami menyatuh berikut dengan meyantuhnya alat kelamin kami berdua, kami tertidur pulas dengan tubuh Mashito masih di atas tubuhku. Hingga pagi hari kami tidak tahu lagi karena habis kelelahan dari pertandingan bola antar dua negara Indonesia vs Kuwait. Pertandingan itu dimenangkan oleh Indonesia dengan skor 3-2
 

magnacharta83

Semprot Baru
Thread Starter
Daftar
23 Jul 2012
Post
37
Like diterima
255
Suasana pagi hari yang cerah mengiringi keindahan kota Spanyol, hujan yang turun di malam hari tadi telah berubah menjadi cuaca yang cerah, matahari pagi bersinar dengan terangnya. Ketika aku bangun cuaca terasa panas, mungkin cerahnya sinar matahari pagi yang masuk ke dalam bilik kardus dimana kami bertiga tidur, membuat aku yang masih tidur menjadi terbangun. Mataku melirik ke kanan dan kiri, ternyata kedua wanita Kuwait itu telah bangun, dan dari tempat aku berbaring terdengar suara gemercik air dan suaranya terdengar dari dalam kamar mandi di sudut ruangan.


Aku berdiri dan menuju kamar mandi, ketika aku sampai dekat pintu kamar mandi, tiba tiba Maisharo menjerit kecil

"Aaahhhhh Ba pakkkkk, Jangan kesini, kami lagi mandi..Bapak kesana dulu" sahut Maisharo.

Ternyata Maisharo mandi hanya memakai BH dan celana dalam saja, sedangkan Mashito mandi dengan baju tidur yang dipakainya semalam (baju daster) , namun Mashito tidak memakai BH dan celana dalam, karena celana dalamnya masih belum kering waktu dijemur semalam. Tetapi ketika Mashito menoleh kearahku, dia sedikit terkejut dan matanya agak melotot , namun kemudian dia tersenyum manis tapi malu. Mungkin karena ingat kejadian semalam yang sulit dia lupakan, sehingga ketika aku mendekat kepintu kamar mandi seolah dia tidak begitu malu sekali. Demi menjaga rahasia, mau tidak mau dia mendelik juga ke arahku, tapi ekor matanya meng-isyaratkan aku untuk menghindar dari situ, karena di situ masih ada anaknya. Maisharo lagi mandi hanya menggunakan BH dan celana dalam saja. Akupun mengerti maksud isyarat itu, akan tetapi mau tidak mau akupun turut menikmati keindahan tubuh Maisharo. Dalam kondisi setengah telanjang, tubuh anak Mashito sangat luar biasa indahnya. Ibunya saja sudah begitu sempurna, apalagi anaknya yang aku nilai masih perawan, sangat luar biasa mulusnya. Untuk penilaianku, Maisharo mempunyai daya tarik tersendiri, selain wajahnya cantik jelita, sorot matanya lembut. Tapi yang lebih mempesona dari wajah jelitanya adalah, setitik tanda hitam sebesar ujung pena di pipi kanannya. Tanda itulah yang membuat daya pikat dari seorang darah perawan dari negara Kuwait ini, belum lagi kedua lekukan di kedua belah pipinya yang putih dan kencang itu, menambah kesempurnaan dirinya.



Akupun sadar atas isyarat ibunya, lalu aku menjauh dan menuju ke arah jendela serta melihat kebawa, disana terlihat suasana mulai ramai dengan aktivitas orang-orang negara ini.Tidak lama aku mendengar panggilan dari Mashito

"Pak.mandilah ´ kami sudah selesai."

Aku melihat kedunya memang sudah selesai dengan telah kembali memakai baju kerudungnya masing-masing. Akupun masuk kekamar mandi lalu mandi telanjang. Rasanya tubuhku sangat segar bugar pagi hari ini, apalagi disiram dengan air yang lumayan dingin. Rasa lelah semalam telah sirna karena telah istirahat dan tidur dengan nyenyaknya, sehingga pagi ini sungguh segar sekali. Setelah selesai, aku kembali ke bilik kamar, dan berganti pakaian dengan celana panjang serta baju kaos yang bersih.

Karna pagi ini aku mulai beraktifitas yakni bekerja mencari rejeki untuk memenuhi kebutuhanku dan kedua wanita itu. Setelah selesai berpakaian , kami betiga sarapan alah kadarnya, kalau sebelumnya aku tidak biasa kalau tidak makan nasi, namun karena sudah terbiasa akhirnya sarapan roti itulah menemaniku sebagai menu setiap pagi. Kami bertiga sarapan roti serta buah-buahan dengan air mineral yang ada, Mashito sepertinya sangat bahagia sekali, dari sorot matanya aku melihat dia seperti ingin mengatakan sesuatu, tapi suasana tidak menunjang, tetapi senyum manisnya dan gerak geriknya sudah dapat aku baca kalau dia sangat bahagia sekali. Hal lain dengan Maisharo, dia jadi pendiam seolah ada sesuatu yang ingin dikatakan. Lalu aku berkata

"Ada apa sayang?"

Maisharo tetap membungkam

"Ayo cerita ada apa nak?"

"Iabicaralah ada apa?" jawab Mashito ..

Maisharo malu "Mi! Sama Bapak"

"Malu kenapa?" sahut Mashito

"Malu tadi di kamar mandi"

"Ohitu yang menjadi pikiran kamu, kalau masalah yang tadi..Bapak minta maaf, kalau Bapak salah" kataku

"Iya sudah" sahut Mashito "Bapak kan sudah minta maaf, lagian Pak Soleh kan sudah kamu anggap sebagai Bapak sendiri"



"Benar kata ibumu, Bapak sudah menganggap kamu sebagai anak sendiri, mestinya tidak perlu malu lagi, Tempo hari kan seperti ini juga, ketika bapak tidak tahu kalian berdua mandi, malah kamu tidak marah sama Bapak."

Lalu aku mendekati Maisharo dan kurangkul bahunya lalu berkata sambil mencium rambut dan pipinya

"Bapak sangat sayang pada kamu, sudah jangan diam begitu terus, kalau kamu masih terus marah, nanti Bapak pergi ni, habis tidak mau memaafkan Bapak dan membenci Bapak"

Mashito berkata "jangan pak, kasihanilah kami, karena hanya permasalahan kecil saja Bapak jadi pergi. Jangan tinggal kami Pak" terlihat matanya berkaca.

Maisharo akhirnya sesegukan " huk ..huk hukk .. ternyata dia menangis juga.

Lalu dia memelukku" .maafkan Masiharo pak, Masiharo tidak bermaksud begitu" .. Maisharo hanya malu saja, saya tidak benci sama Bapak, juga tidak marah sama Bapak. Jangan tinggalkan kami Pak, tidak ada lagi tempat kami berlindung, bila Bapak pergi...Maisharo mohon Pak, huk ..huk ..huk!"

Aku mengusap rambut Maisharo

"Ya sudah, Bapak cuma bercanda saja, Bapak tidak mungkin meninggalkan kalian berdua, karena kalian berdua juga membuat Bapak bergairah dalam bekerja dan mencari nafkah. Kalian bagaikan teman, anak, bahkan istri-istri Bapak"

Lalu Mashito ikut memeluk tubuhku, sehingga kedua wanita ini menjadi sesegukan. air mata keduanya menetes di pipi mulusnya.

Lalu Maisharo berkata "Pak, Maisharo berjanji tidak akan marah lagi bila terjadi seperti itu lagi!"

Aku mengangguk pelan lalu mencium keduanya dengan penuh kasih sayang. Lalu aku berkata kepada mereka berdua

"Hari ini Bapak akan bekerja, doakan saja mudah-mudahan hari ini kita dapat rejeki yang banyak dan menurut keterangan majikan tempat Bapak bekerja Nyonya Helena. Dia akan menyuruh kita secepatnya tinggal di perkebunan tanah miliknya. Di samping itu dia juga akan memberikan kendaraan untuk kita. Jadi itulah doai Bapak biar semuanya berjalan dengan lancar sehingga kita dapat tempat tinggal yang layak, tidak lagi tidur di tempat seperti ini, di bangunan yang tidak terpakai hanya ditutupi oleh kardus kardus bekas. Orang sini sangat disiplin dalam perkataan dan perbuatan, mereka tidak suka dibohongi atau ditipu. Kalau sudah merasa ditipu atau dibohongi maka mereka tidak akan pecaya lagi sama orang. Jadi kebaikan mereka harus kita jaga, supaya mereka bertambah baik kepada kita."



Keduanya berkata kepadaku "Berangkatlah Pak, doa kami menyertai Bapak. Semoga rejeki selalu berada disekitar kita."

Aku tersenyum, lalu menyahut "terima kasih sayang" sambil satu persatu kucium pipi mereka masing masing.

Mashito berdiri lalu keluar dari bilik entah ada ursan apa, kemudian tinggal aku dan Maisharo berada dibilik kardus tersebut. Maisharo kusuruh pindah di pangkuanku. Maisharopun menurut dan pindah duduk di pangkuanku. Lalu aku berkata

"kamu ini cantik tapi manja"

Maisharo cemberut kemudian tersenyum kepadaku, tampak lesung pipitnya mengembang ketika tersenyum. Lalu kubelai pipinya dan bibirnya, ia menatapku

"Pak?"

"ya sayang" jawabku "ada apa?"

Maisharo tidak meneruskan kata-katanya. Aku memandangi bibirnya yang ranum, merah merekah. Secara perlahan wajahku mendekati wajahnya, dekat sekali wajahku. Matanya perlahan terpejam dengan semakin dekatnya wajahku dan bibirku menyentuh bibir ranum miliknya. Dengan kecupan lembut, aku merasakan hembusan nafas harumnya menerpa wajahku, hembusan seorang nafas remaja yang baru mekar, seolah harumnya setangkai bunga mawar merah. Gerakan halus bibirku membuat Maisharo menjadi terbuai, tanganya secara tidak sadar melingkar dileherku, seolah isyarat bahwa dia telah menerima kecupan lembut dariku. Bukan sekedar kecupan, namun lumatan lembut sudah dapat dirasakannya. Lumatan bibirku di bibir Maisharo semakin seru, ternyata gadis remaja nan cantik jelita dari negara Kuwait ini, sudah mulai berani membalas dengan gerakan perlahan. Bahkan kini kurasakan lumatan bibir Maisharo semakin kuat seolah dia menemukan pelajaran baru, yang baru pertama kali dia rasakan. Tanpa terasa tanganku bergerak ke leher jenjang Maisharo, lalu usapan usapan lembut tanganku semakin erat tangannya melingkar dileherku. Tanganku bagaikan seekor ular bergerak turun dan turun hingga berhenti digundukan bukit salju yang masih terbungkus baju kurungnya.



Ketika tanganku berhenti disitu dan tepat dipuncak gunung merapi yang belum aktif itu, secara reflek jemari Maisharo memegang tanganku dengan kuat. Aku tidak melakukan apa-apa, hanya saja jari-jariku saja yang secara nakal bergerak gerak mencuil-cuil (mencolek-colek), permukaan gunung kembar yang masih terbungkus oleh beberapa kain-kain penghalang. Namun lama kelamaan jari tangan Maisharo yang mencengram pergelangan tanganku mulai mengendur, tetapi tetap tidak melepaskan tanganya.

Gerakan jariku mulai bermain, tadinya hanya mencolek colek, sekarang gerakan mengusap dan remas lembut mulai aku lancarkan. Suara dari mulut Maisharo yang masih saling melumat, terdengar tersumbat oleh mulutku. Desahan yang tidak bisa keluar itu menadakan gadis remaja ini telah diselimuti gejolak darah mudanya. Usapan lembut dan remasan perlahan dari tanganku buah dada sebelah kirinya tidak mendapat perlawanan. Memang kencang sekali buah dada anak Mashito, lebih kencang dari ibunya. Remasan remasan lembut jari tanganku membuat tubuh Maisharo bergetar dan bergelinjang. Ingin rasanya aku meneruskan aktifitasku terhadap anak Mashito , namun aku masih berpikir, aku akan mulai bekerja, kemudian menjaga perasaan Mashito bagaimana seandainya dia tahu akupun menggarap anaknya. Remasan di buah dada Mashito masih aktif aku lakukan, lalu dengan perlahan tanganku bergerak turun dan turun hingga kepinggulnya.

Kemudian gerakan jari tanganku berpindah ke depan. Kini lumatan bibirku di bibir Maisharo kuhentikan.

"Hmmm...shhh!!" desahan halus keluar dari bibirnya ketika tanganku bergerak ke depan dan tepat di pertengahan pangkal pahanya.

"Pakkkk.." katanya menatapku, lalu ia menggelengkan kepalanya, "jangan" mulutnya berkata lirih.

Aku tersenyum dan kembali mengecup bibirnya. Setelah itu aku berkata "Ehmm" sambil mengangguk. Maisharo tersenyum malu, dan tampak rona merah pipinya. Kemudian aku bangkit berdiri dan diikuti olehnya yang berdiri juga, lalu aku keluar dari bilik kardus dan kulihat Mashito lagi membersihkan sampah sampah di sekitar tempat kami tidur. Ketika aku mendekatinya dia tampak tersenyum.

"Aku berangkat sayang" pamitku yang dibalasnya dengan ciuman di pipiku

"Cepat pulang ya Pak!" kata keduanya

"Ya" jawabku



Kupandangi keduanya, tampak di raut wajahnya memancarkan kebahagian, keduanya seolah menemukan keceriaan. Aku lalu turun kebawa menuju tempat aku bekerja yakni tuan majikanku Nyonya Helena pemilik toko roti terbesar di kota ini. Toko roti tersebut tidak terlalu jauh dari tempatku tinggal lebih kurang 300 M kalau jalan kaki. Aku berjalan santai, sambil menikmati suasana pagi yang cerah di pagi hari ini. Tak lepas mataku memandang keindahan bangunan dan kota negara orang ini, sungguh bersih sekali, di sudut-sudut kota dan tempat umum tidak ada satupun sampah yang berserakan, bahkan puntung rokok yang biasa diisap orang, tak tampak terlihat. Memang disiplin sekali orang-orang disini tingkat kesadaran kebersihan lingkungan memang diterapkannya sekali, jauh sekali dibandingkan dengan negaraku, membuang sampah semaunya saja, tidak lagi mengindahkan kebersihan dan kesehatan lingkungan.

Ah...susah ngomong, kalau mau memikirkan itu, yang terpikir hanya memenuhi kebutuhan perut saja, urusan itu pemerintah lah yang ngurus, itu kata-kata yang selalu diucapkan oleh kita. Yang tak lepas dari mataku adalah, orang-orang disini terkesan acuh. Pakaian mereka bagus bagus, tapi yang lebih membuatku greggg dan menelan air liur adalah perempuannya cantik-cantik. Sulit membedakan mana yang cantik, karena semuanya memang cantik. Pakaiannyapun sungguh membuat jantungku berdetak, ada yang tembus pandang, banyak belahan dadanya yang rendah, ada yang tidak pakai BH, belum lagi rok yang dipakai pendek-pendek, sehingga bentuk paha yang putih indah terbuka jelas. Anak-anak remajanya sungguh mempesona, cantik putih dengan rambut pirangnya namun banyak juga asli rambutnya hitam. Asyik berjalan dengan berbagai penglihatan, sampailah aku di toko roti majikanku Nyonya Helena. (Di sini percakapan diterjemakan dalam bahasa kita saja, biar lebih menyentuh dan masuk dalam alur ceritanya.)

"Pagi Nyonya Helena"

"Ow...Bapak Soleh, pagi juga, apa kabar Pak?"

"Baik, Nyonya sendiri bagimana?" sahutku

"Ha.ha baik juga" sahutnya dengan tawa.

"Apa yang dapat saya kerjakan hari ini Nyonya?" tanyaku.

"Ehmmmm...begini Bapak ke ruangan kerja saya, nanti saya beritahukan tugas tugas dan tanggung jawab Bapak, Ok"

"Baiklah Nyonya" jawabku"

"Ayo ke ruangan saya" sahutnya.



Aku mengikuti Nyonya Helena, majikanku dari belakang. Kulihat bentuk tubuhnya tinggi langsing, pinggang sedang ukuran orang sini, bokong besar kencang, paha tampaknya putih, kendati hanya memakai rok hitam rendah di atas lutut. Sedangkan baju kemeja lengan pendek warna putih menghiasi tubuh bagian atasnya. Waktu menyapanya di depan tadi, aku melihat bagian depannya agak rendah, inilah kebiasaan orang bule wanita, sepertinya sudah biasa memakai baju seperti itu. Sehingga cuek saja dengan lawan ngomongnnya, entah itu perempuan, laki-laki, tua muda, dll seolah hal biasa. Kalau dinegaraku, hal seperti ini pamali, malu, tidak bermoral, tidak dapat pendidikan dan sebagainya. Belum lagi yang melihat, bisa bisa leher melintir patah dibuatnya kalau lewat di depan muka. Jangankan yang terang-terangan, yang ngintip-ngintip dikit dari belahan dada dan selangkangan dilihat berulang-ulang, bahkan orang mandi dan tidurpun diintip saking pingin melihat yang ditutup BH dan celana dalam. Hehehe...itu kebiasan negeri kita. Belum tau kalau yang diintip tahu, bisa ke dokter mata kena siram air cabe Hihihi. Nyonya Helena tampak cantik sekali pagi ini, dengan rambut hitam bergelombang sebahu, mata indah berwana biru. Alis mata tebal menghiasi keningnya, hidung yang pasti pancung memang keturunan orang bule, serta bibir indah dihiasi lipstik yang tidak terlalu merah. Perhiasan baik telinga dan leher turut menyertai kecantikannya. Yang membuatku tidak dapat menahan napas adalah, bentuk dadanya yang membusung kencang ke depan, secara transparan terlihat memakai BH berwana putih, serta kulit tubuh yang lebih halus dari orang bule-bule yang lain. Beda dengan keturunan bule Eropa Barat dan Latin Spanyol keturunan dari negara latin jadi kulitnya lebih bagus dan indah.

Tangannya ditumbuhi bulu-bulu halus berwarna hitam, ditunjang dengan jari jari tangan yang lentik tanpa pewarna kuku. Orang bule memang postur tubuh tinggi-tinggi biarpun masih anak atau remaja tingginya sudah bisa mencapai 155 - 160 cm bahkan lebih, begitu juga Nyonya Helena kendati sepintas agak pendek, tetapi saat berdiri, postur tubuhnya tinggi dan perkiraanku lebih tinggi dari Mashito 178 cm dan beratnya kurang lebih 65 kg. Dibandingkan dengan tubuhku yang hanya 170 cm beratku 60 kg, memang jauh sekali hanya sebahunya saja. Banyaknya perkataan dan penilaianku membuat aku kaget ketika Nyonya Helena menegurku.



"Bapak Soleh!"

"I.iii ,.. iya Nyonya " . Aaaa.. ada apa?"

Nyonya Helena tersenyum memandangku "Ada apa Pak? Ngelamun?"

"Ehh...anu. Saya kagum suasana ruangan ini. Bagus, sejuk dan bersih..seperti kamar"



"Oh...itu" sahut Helena, "Ini ruang kerja saya. Beda dengan yang lantai dasar, di lantai dasar, namanya kasir" katanya sambil tersenyum.

"Oh... pantas ruangannya bersih Nyonya" jawabku, "ada kursi sofa besar berjumlah 3 buah, ada televisi besar, ada kulkas. Meja kerja pakai telpon, lantai pakai karpet berbulu, seperti kamar saja Nyonya" kataku lagi.

"Ha..ha.ha" Helena tertawa manis, menampakkan giginya yang rata bersih dan putih menambah keindahan senyum manisnya, "Ah Bapak bisa saja, inikan untuk kenyamanan dan bisa berkonsentrasi sahut Nyonya Helena...Eh Pak, kenapa dibuka sepatunya?"

"Aaaanu Nyonya nanti kotor" jawabku

"Tidak apa-apa jawabnya pakai saja."

Akupun memakai sepatu jelekku yang aku bawa waktu di kapal dulu.

"Nah, Pak Soleh, Bapak sekarang bekerja disini, tugas Bapak sekarang adalah mengawasi keluar masuknya barang di gudang ya. Jadi kalau ada barang yang masuk misalnya bahan-bahan untuk membuat roti, Bapak harus catat dan juga jika dipakai oleh anak buah saya lain, Bapak juga harus mencatatnya. Setiap hari Bapak harus melaporkannya kepada saya dan minta tanda tangan kepada yang memasukan barang dan yang minta barang. Mengerti maksud saya Pak?"

"Mengerti Nyonya" jawabku.

"Bagus" kata Nyonya Helena sambil tersenyum "Nanti kalau ada masalah Bapak bisa bicara pada saya, ok."

"Baik Nyonya" sahutku."kalau begitu saya akan mulai bekerja Nyonya"

"Ya silakan" sahutnya sambil tersenyum.

Akupun beranjak dari kursi sofa dimana di depan saya Nyonya Helena duduk, ketika duduk tadi kedua paha mulus tertangkap oleh mataku walaupun rok hitamnya tidak terlalu naik kepangkal pahanya, hanya sekilanan jari tanganku saja, sudah cukup membuat darahku berdesir.

Uh ala , dasar wong deso" memang ndak bisa liat yang mulus-mulus, dan pantangan melihat yang sedikit-sedikit terbuka sudah kasak-kusuk (Made in Indo).



Namun ketika aku akan melangkah Nyonya Helena berkata sambil berdiri

"Pak Soleh!"

"Ada apa Nyonya?" jawabku ..

"Begini, sesuai dengan janji saya tempo hari, saya minta tolong sama Bapak untuk tinggal di tanah perkebunan saya yang pernah saya tunjukan dulu itu. Masalah kebutuhan seperti biaya listrik, perlengkapan rumah tangga serta perbaikan-perbaikannya, saya yang akan tanggung semuanya. Bapak hanya menempati saja lahan perkebunan itu dan dijaga serta dibersihkan dan kalau Bapak sudah siap nanti setelah istirahat siang Bapak boleh pulang dan saya akan mengantar Bapak kesana, bagaimana?" Nyonya Helena menatapku

Akupun berkata" baiklah Nyonya saya setuju" ia tersenyum menatapku.

"Kamu sendirian saja?" sahutnya kembali

"saya bertiga" jawabku,

"Istri? Anak?" tanyanya.

"Saudara"

"ohh .. Ok Pak Soleh"

Kini aku mulai bekerja di toko roti Nyonya Helena dengan semangat dan tanpa terasa hari telah menunjukan pukul 01 siang waktu Spanyol. Tanpa aku sadari ternyata Nyonya Helena telah berada di gudang tempat aku bekerja

"Pak Soleh!" panggilnya

"oh Nyonya Helena!! Bisa mau ke tempat ini?"

"Tidak masalah" jawabnya sambil tersenyum "Bagaimana, apa semuanya sudah selesai?"

"Sudah Nyonya, saya tinggal mau mengunci gudang saja.

"Ok" saya tunggu di luar

Nyonya Helena keluar dengan lenggang lenggoknya. Sedangkan bokong besarnya turut bergoyang seirama dengan jalannya. Setelah aku mengunci gudang, akupun keluar menemui Nyonya Helena yang berdiri didekat mobil jenis Van miliknya. Ia membuka pintu mobilnya, lalu aku disuruhnya masuk. Setelah masuk, dia men-start mobilnya dan melaju kearah bangunan yang aku tinggali sekarang. Jalan masuk ke bangunan tempat tinggalku hanya bisa dilintasi 2 mobil, setelah sampai aku turun dan diikuti oleh Nyonya Helena. Aku masuk bangunan dan naik ke lantai dua, di sampingku Nyonya Helena ikut juga ke atas. Sesampai di atas lantai 2 aku memanggil Mashito dan Maisharo.

"Mashito! Maisharo!"



Dari balik kardus muncul dua perempuan cantik memakai baju terusan panjang. Keduanya memandangku dan Nyonya Helena, seperti tanda tanya. Lalu aku jelaskan kepada mereka berdua

"Mashito, Maisharo, ini kenalkan Nyonya Helena, dia majikanku yang mempunyai toko roti tempat Bapak bekerja sekarang.

Lalu keduanya berjabat tangan.

"Helena" sapanya sambil berjabat tangan dan tersenyum.

Mereka berdua balas memperkenalkan diri dan menjabat tangan Nyonya Helena dengan senyum manis.

"Jadi begini...Mashito dan Maisharo, Nyonya Helena ini pernah bilang ke Bapak bahwa dia punya tanah perkebunan yang cukup luas dan minta tolong kepada kita untuk menjaganya dan menempatinya. Di sana juga telah tersedia, sebuah rumah yang cukup untuk ditinggali oleh kita betiga. Sekarang ini Nyonya Helena akan membawa kita pindah rumah dan tanah miliknya."

"Ia betul" jawab Nyonya Helena.

"Jadi sekarang kalian siap-siap pindah ke sana, tempat ini tidak cocok untuk tempat tinggal. Masalah perabot rumah tangga, nanti saya yang mengurusnya, ok."

Lalu Mashito dan Maisharo berpelukan tanda gembira. Akhirnya aku, membereskan barang-barang yang ada untuk diangkut ke mobil van milik Nyonya Helena. Dibantu oleh Mashito dan Maisharo untuk membereskannya. Karena barang-barang kami hanya sedikit, jadi hanya beberapa menit saja sudah selesai. Setelah semua barang masuk kedalam mobil, kami berangkat ke lokasi yang dimaksud oleh Nyonya Helena. Lumayan jauh perjalannya, tetapi karena jalan tidak terlalu ramai oleh kendaraan dalam waktu kurang dari 25 menit sudah sampai. Aku Mashito dan Maisharo terpana dengan rumah yang akan kami tempati. Lumayan bagus, mungkin luas bangunannya 120 m2.

Sedangkan luas tanahnya, walah luas sekali. Sepertinya ada bangunan lagi, dan sepertinya gudang tempat barang-barang yang tidak terpakai atau tempat penyimpanan peralatan perkebunan, dari rumah ini ke sana hanya 100 meter.



Nyonya Helena turun dari mobil, lalu dia menuju rumah tersebut dan membuka pintu rumah. Akupun turun dan ikut masuk ke dalam rumah diikuti oleh Mashito dan Maisharo, rumah ini jauh lebih bagus , karena terbuat dari batu alam dan batu bata, dibandingkan rumahku di kampung halamannya, jauh sekali. Perabot seperti kursi sofa, meja dan kursi makan, lemari, makan, tempat tidur beserta kasurnya. Ada listrik, kamar tidur ada dua dan lengkap dengan tempat tidur dan lemari. Kamar mandi terletak di belakang, air menggunakan pompa manual yang ditarik dari sumur. Semua perabotan rumah ditutup menggunakan kain putih, sehingga tampak bersih dan tidak terkena debu. Walaupun begitu, rumah ini harus dibersihkan juga.

"Nah Bapak Soleh, Mashito dan Maisharo sekarang kalian tinggal disini, jagalah rumah ini serta pelihara kebun yang ada seperti apel, serta lainnya kalian urus dan hasilnya bisa kalian manfaatkan kalau masih bisa. Sebab kebun ini sudah cukup lama sudah hampir 10 tahun sejak orang tua saya meninggal, dan tidak ada yang mengurusnya sedangkan kami sibuk dengan bisnis masing-masing."

"Baik, Nyonya kami akan menjaga dan merawat rumah ini" sahutku

Tanpa diperintah olehku, Mashito dan Maisharo telah membuka penutup perabot dan membersihkan rumah dari debu-debu.

"Pak Soleh ikut saya!"

"Baik Nyonya."

Nyonya Helena keluar rumah, sedangkan Mashito menurunkan barang-barang dari mobil dan Maisharo sibuk membersihkan dalam rumah. Aku mengikuti Nyonya Helena,

dia menuju bangunan di belakang. Setelah sampai ditempat yang kami tuju, dia membuka pintu bangunan yang lumayan besar, kami masuk ke dalam. Di dalam ternyata ada mobil tua jenis truk yang sudah lama. Banyak peralatan perkebunan seperti mesin pembajak tanah, cangkul, dll. Mesin potong rumput, mesin untuk panen.



"Pak Soleh ini gudang peralatan, mungkin ada manfaatnya bagi Pak Soleh"

"Waduh, Nyonya Helena, jadi teringat waktu di kampung halaman saya di Indonesia, hanya saja alat-alat lebih bagus dan semua pakai mesin"

"Pakai saja Pak" sahut Helena.

"Tapi masalah mesin dan mobil ini...saya kurang paham Nyonya" sahutku.

"Nanti saya cari montir yang bisa perbaikan mesin-mesin ini dan mobilnya"

"Nyonya terus terang saya sangat berterima kasih sekali atas kebaikan Nyonya kepada saya, dan juga kedua saudara saya (agak berbohong sedikit masalah Mashito dan Maisharo), karena kebaiknya Nyonya Helena, kami dapat tinggal di rumah yang layak dengan semua perlengkapannya."

Helena tersenyum, "Pak Soleh daripada rusak dan tidak dihuni, lebih baik Bapak yang saya suruh menjaganya karena selama ini saya menilai Pak Soleh orangnnya baik dan jujur. Karena itulah saya memilih Pak Soleh untuk menjaga harta milik kami. Terus terang, melihat ketekunan Pak Soleh, saya teringat dengan almarhum papa saya yang giat bekerja di kebun, bertani menggunakan alat mesin itu. Saya melihat Pak Soleh seperti orang tua saya. Terkadang saya merasa sedih, mengenang Papa saya, dia orang ulet, pantang menyerah, dan selalu mendidik kami menjadi anak yang berhasil."

Kulihat Nyonya Helena meneteskan air mata di pipinya yang putih bersih. Tampak sekali mata biru bening itu berlinang air mata. Aku yang mudah ibah, lalu mendekat Nyonya Helena yang tersandar di tanduk depan mobil tua milik orang tuanya itu. Dengan keberanianku aku, aku mengusap air matanya. Nyonya Helena menatapku lalu dengan bola mata berkaca-kaca, dan diapun memeluk tubuh sambil menangis, tubuhnya terguncang-guncang menandakan kesedihan yang mendalam, mengenang alm papanya. Aku mengelus-elus punggunya, pelukannya pun semakin erat, terasa gunung kembarnya menempel kencang di dadaku. Dengan belaian lembut, tanganku terus mengelus penggungnya. Kemudian Nyonya Helena menatap wajahku, bola mata berwarna biru seolah menembus wajahku. Sorot matanya seakan mengharapkan sesuatu, tiada kata yang keluar dari mulutnya, dengan lembut tanganku menyekah air matanya.



Secara perlahan wajahku maju mendekati wajahnya, lalu dengan lembut bibir menyentuh keningnya. Matanya terpejam, kecupan lembut membuat hatinya damai. Air mata yang mengalir seakan berhenti, kesedihan yang mendalam seolah sirna. Mata terbuka terus menatapku, dengan gerakan perlahan bibirku mengecup hidungnya. Terus bergerak ke bawah ketika mendekati bibirnya aku berhenti. Mataku menatap bola mata birunya, ia pun menatapku. Bibirku mendekati lagi bibirnya dan ketika bibirku menempel di bibirnya, kecupan lembut aku berikan kepadanya. Nyonya Helena menyambut kecupan bibir dengan hati pasrah, suasana yang mendukung didalam gudang lama milik Papa Nyonya Helena, membuatku dan Nyonya Helena menjadi lupa akan status majikan dan bawahan. Kini bibirku mulai melumat bibirnya. Nyonya Helena menyambut lumatan bibirku dengan penuh bergairah. Pertemuan kedua bibirku dengan bibir Nyonya Helena, mengeluarkan suara 'cuupp...cupppp ssuuuppp .. cuuupppp , ciiippppp' Tanpa ada suara desahan yang keluar dari bibirnya. Birahiku mulai naik, tidak hanya bibirku yang melumat bibir Nyonya Helena, namun tanganku turut beraksi bergerak turun, hingga menyentuh benda bulat yang masih tertutup baju di bagian atas. Benda kenyal tersebut, seolah mau keluar dari sarangnya, baju putih Nyonya Helena memang agak ketat, sehingga kancing kancing bajunya seolah mau lepas. Benda itu aku rabah secara perlahan dan lembut, gerakan halus mengusap-usap permukaan gunung kembarnya terus berlanjut. Kini usapan kunaikan menjadi remasan remasan lembut dan baru terdengar secara perlahan suara Nyonya Helena berdesah. Lumatan bibirku secara perlahan aku lepaskan, kini bibirku bergerak menyusurih leher putih Nyonya Helena. Ciuman dan kecupan lembut bibirku di leher putihnya hingga penyentuh belahan baju atasnya. Jari tanganku berusaha melepaskan kancing-kancing baju tersebut, sedangkan kedua tangan Nyonya majikanku, merangkul pundakku. Satu kancing baju atas terbuka, tampak kulit putih bagian dada atas terbuka Lalu jariku bergerak lagi, kancing kedua terlepas, semakin tampak pangkal buah dada nyonya majikanku. Lalu kancing ketiga tertepas, muncul BH putih berendah masih menutupi bentuk buah dadanya. Kancing keempat terbuka, gunung kembarnya telah terlihat hampir semuanya. Kini gunung kembar milik Nyonya majikanku, Helena tampak sedikit terlihat, hanya saja belum semua terlihat, masih sebagian saja karena masih tertutup oleh baju putihnya



Aku hanya menciumi permukaan bukit salju itu. Rintihan halus terdengar di bibir nyonya majikanku, Helena.

"Oohhhhh, .. Aaahhhhhhh...sshhhhh!"

Sambil menciumi belahan dan pangkal bukit kembar itu, satu tanganku menahan tubuh Helena, sedangkan tangan kananku bergerak meremas-remas bukit kembar bagian kirinya. Jari tanganku merasakan kekenyalan bukit kembar Nyonya Helena, dan aku tidak tau sudah punya anak berapa majikkanku ini. Puas mencium bukit kembar milik majikkanku, tangan kananku bergerak turun kebongkahan daging bulat besar di bawah pinggangnya. Ketika menyentuh bongkahan itu, tanganku mulai meremas remas bongkahan itu terasa kenyal empuk dan lembut. Tanganku bergerak turun dan turun hingga menyentuh kulit paha bagian bawah atas dengkulnya lalu bergerak naik, usahaku untuk menaikan rok pendek itu berhasil. Rok pendek Nyonya Helena terangkat naik dan terus naik, seiring dengan pergerakan jari-jari tanganku yang mengusap lembut belahan pahanya. Rok pendek tersebut terus naik tidak sampai melewati pangkal pahanya.

Sekilat aku melihat keputihan kedua belah paha Helena, dan aku juga tadi melihat banyak tumpukan jerami di sekitar mobil tua yang ditutupi oleh kanvas yang lumayan lebar.

Melihat itu aku menggiring Nyonya Helena ke sana, lalu sambil melumat bibirnya, aku merebahkannya di tumpukan jerami yang ditutup oleh kanvas. Aku mulai meremas buah dada Nyonya majikanku Helena, silih berganti, tanganku bergerak turun meremas remas kedua paha mulusnya. Nyonya majikanku, memang cantik, tampak indah bentuk kedua belah pahanya. Usapan jariku di pangkal pahanya, samar-samar mengitip secarik kain putih di antaranya. Cucukupun semakin tegang, secara perlahan tubuhku bergerak menaiki tubuh nyonya majikkanku Helena, setelah berhasil menaiki tubuhnya, aku merangkulnya mesra. Desahan lembut terdengar dari bibir Nyonya Helena.

"Pakkk Solllllleeeeehhhh .Oooohhh.. Szzzzzzzzzzzzzz"

Penisku bertambah keras, aku berusaha membuka kancing dan reseliting celana panjangku. Setelah terbuka aku kembali menindih tubuhnya.

"Pakkkkk...Ooohhhhhh .. Tuhaaaannn, auuuuwwww!" desahnya panjang

Napsu birahi kami berdua telah membara. Namun saat yang diinginkan sebentar lagi akan terlaksana, tiba-tiba...

"Bapak...Pak...Pak Soleh!"

Aku tersentak diikuti oleh Nyonya Helena.

"Gawat Nyonya kita dicari" kataku kepada Nyonya Helena, "mari rapihkan...nanti kita ketahuan"

"Ok Pak, cepat nanti mereka datang kemari" Nyonya Helena tampak panik juga dibuatnya, tidak terlebih aku
 

magnacharta83

Semprot Baru
Thread Starter
Daftar
23 Jul 2012
Post
37
Like diterima
255
Ternyata suara itu adalah suara Maisharo memanggilku. Buru buru aku mengancingkan kembali celana dan menaikan reselitingku. Kubantu Nyonya Helena merapihkan kancing bajunya. Lalu kuraih tangannya, kemudian Nyonya Helena merapihkan rok hitamnya serta menurunkannya. Aku membersihkan jerami yang sedikit menempal dipakaian Nyonya Helena, baik di rambut baju serta roknya. Aku sendiri merapihkan tubuh dari kotoran jerami dan debu yang menempel ditubuhku dibantu juga oleh Nyonya Helena. Setelah rapih aku memandang wajah cantik majikanku, dari sorot matanya terbersit sesuatu yang tidak bisa diungkapkan, apa dia merasa bersalah atau merasa kecewa, sulit ditebak. Namun yang pasti diriku yang merasa kecewa

"Sial" omelku dalam hati agak dongkol terhadap Maisharo, "kalau tidak karena kamu mungkin siang ini aku sudah dapat bercinta sama nyonya majikkanku...was ya Maisharo"

Kemudian aku berkata "Nyonya maafkan saya, saya khilaf, saya tidak tahu diri Nyonya, saya telah melakukan kesalahan yang tidak mestinya saya lakukan"

Nyonya Helena berkata lembut sambil menggeleng

"Bapak Soleh tidak bersalah, Bapak baik, hal itu adalah rasa cinta dan sayang yang Bapak Soleh berikanan kepada saya dan hal itu adalah wajar, karena bagaimanapun dan dimanapun hal seperti pasti akan terjadi. Baik dari Bapak Soleh sendiri maupun dari diri saya sendiri"

Nyonya Helena mendekatiku lalu dengan kecupan lembut dia mengecup bibirku.

"Bapak tidak perlu merasa bersalah" jawabnya halus.

Karena yang melakukan adalah keinginan majikanku sendiri, secara reflek aku membalas kecupannya dengan lumatan. Beberapa detik kemudian lumatan bibir kami terlepas. Secara singkat aku mengecup leher putihnya dengan lembut. Lalu dengan senyum menghiasi bibirnya Nyonya Helena mengajaku keluar.

"Mari Pak Soleh...itu dipanggil saudaranya"

"Mari Nyonya" jawabku.

Ketika kami keluar dari gudang tua itu, Maisharo sudah berjalan ke arah gudang. Melihat kami keluar, ia berhenti dan terus berbalik menuju rumah. Tak lama Nyonya Helena berpamitan pulang untuk melihat tokonya. Dia berpesan kepada Mashito dan Maisharo untuk menjaga rumah mereka. Aku mengantarnya keluar dan sampai ke mobil, sedangkan ibu dan anak itu, kembali masuk rumah dengan kesibukannya.



Sesampai di mobilnya Nyonya Helena berkata

"Besok pagi, saya jemput Bapak"

"Tidak usah Nyonya biar saya berangkat sendiri saja." jawabku

"Dengan apa?" tanyanya sambil tersenyum

Aku berpikir, benar juga, pakai apa aku ke tokonya. Di sini jalannya saja, aku belum hafal betul. Kendaraan disini, juga jarang-jarang, entah ada atau tidak kendaraan umum.

Sedangkan rumah, dari rumah satu kerumah yang lain lumayan jauh 200 sampai dengan 500 meter.

"Bagaimana" tanya Nyonya Helena

"Baiklah Nyonya besok pagi saya menunggu Nyonya!"

Lalu ia masuk ke mobil, setelah menstater, dia melambaikan tangannya dari dalam mobil, mobil jenis van melaju meninggalkan perkarangan rumah miliknya itu, yang saat ini aku tempati bersama Mashito dan Maisharo. Aku masuk ke dalam rumah turut membantu membersihkan debu dan sarang laba-laba yang banyak di dalam rumah, maklum rumah ini sudah cukup lama tidak dihuni. Tidak terasa, hari sudah menjelang sore, matahari sudah hampir tenggelam dan sebentar lagi akan berganti malam. Usaha kami membersihkan rumah akhirnya selesai juga. Kulihat Mashito dan Maisharo tampak kelelahan, keringat membasahi baju kurungnya. Sedangkan debu dan sarang laba-laba lengket di baju dan wajahnya. Mereka duduk duduk di sofa lalu aku duduk di dekat mereka.

"Akhirnya kita mempunyai rumah juga ya"

Keduanya walaupun lelah, dapat tersenyum bahagia. Aku memeluk keduanya sambil mencium pipi mereka masing-masing. Keduanya membalas memeluk dan mencium pipiku.

"Sekarang sudah sore, kita mandi yuk!" ajakku.

"Baik Pak!" jawab mereka berdua.

"Tempat mandi ada di luar, jadi terpaksa kita mandi di sana. Air baknya masih kering, Bapak akan memompa airnya kalian bantu memasukan ke dalam bak ya"

"Baik pak!"



Setelah mengambil perlengkapan mandi, sabun, sikat gigi, dan handuk kami bertiga pergi ke kamar mandi diluar. Aku mengompa air, ternyata airnya cukup lancar dan jernih lagi.

Keduanya saling membantu mengisi bak, setelah cukup penuh baru mandi. Karena sudah lama tidak terpakai, pintu kamar mandi rusak sehingga tidak dapat ditutup atau dibuka, jadi terpaksa dilepas saja takut tertimpa pintu kamar mandi. Setelah keduanya masuk ke dalam, mereka tampak ragu

"Ayo mandilah!" kataku "Tidak perlu malu dan takut, Bapak akan jaga kalian berdua."

Keduanya lalu membuka pakaian masing-masing dan melirikku. Mereka saling pandang, keduanya tampak paham apa yang terganjal dihati dan pikiran mereka. Haruskah membuka baju di hadapanku? Lalu Mashito memandang anaknya seraya memberikan isyarat mengangguk. Kemudian mereka melepaskan baju kurungnya. Kini kedua hanya mengenakan BH dana celana dalam, Mashito berwarna putih sedangkan Maisharo agak putih tapi menjurus ke pink. Hari mulai semakin gelap, aku mencari saklar lampu. Aku mendekati kamar mandi, mataku melihat ke atas dan ke dinding

"Ada apa Pak?" tanya Mashito

"Ada sesuatu"

Mereka merasa curiga, lalu keduanya mendekati aku.

"Bapak melihat sesuatu yang aneh?"

Aku memandang keduanya, terlihat raut wajah kecemasan. Kuraih kedua pinggang ramping mereka, dan keduanya merapat ke tubuhku.

"Bapak cuma mancari saklar lampu...hari semakin gelap, jadi Bapak ingin menghidupkan lampu supaya mandi bisa kelihatan. Nah ini!" di balik pintu yang rusak ini saklarnya. setelah aku tekan 'Plazzz' suasana ruangan kamar mandi yang gelap kini menjadi terang.

"Nah sekarang mandilah! kamar mandinya sudah terang."

Mashito mulai mandi dan membersihkan tubuhnya, membasahi rambut hitamnya, menyikat gigi serta menyabuni tubuhnya. Sedangkan Maisharo mencuci bajunya dan ibunya.



Mashito sudah hampir selesai, tubuh setengah telanjangnya semakin putih mengkilat kena siraman air dan sinar lampu kamar mandi. Buah dada itu tampak menggoda, hutan rumput ilalang hitam itu yang tertutup kain segitiga putih di antara kedua belah pahanya yang putih mulus, sungguh membangkitan birahi. Mashito telah selesai mandi, kini dia mengelap tubuhnya dengan handuk lalu melilitkan handuk ke bagian atas tubuhnya, kemudian dia melepaskan BH serta celana dalamnya.

"Umi...sini pakai dalamnya, biar Maisharo yang cuci!"

Mashito menyerahkan BH dan celana dalamnya kepada anaknya kemudian dia keluar kamar mandi. Aku yang bediri diluar kamar mandi dihampiri olehnya lalu ia berkata

"Bapak sana mandi!"

Aku meraih pinggangnya

"Heiiiii!!" teriaknya kecil "bau...cepet mandi sana Pak!"

Sambil berlari menghindar dariku Mashito masuk ke dalam rumah. Aku berjalan mendekati pintu kamar mandi dan berdiri disitu.

"Mai!" sapaku

"Ya...ada apa Pak?" Maisharo menoleh ke arahku

"Bapak boleh mandi?"

"Ya boleh Pak, mandilah sini" sahutnya.

"Kamu tidak marah?" tanyaku.

Sambil tersenyum dan menggelengkan kepala Maisharo berkata "tidaklah Pak."

"Karena bapak jadi takut kalau kamu marah lagi seperti tempo hari" balasku.

"Ah...waktu itu, karena Mai kaget saja, karena malu terhadap Bapak, apalagi waktu itu umi ada di dekat Maisharo"

"Sekarang?" timpalku

"Kalau sekarang tidak lagi" jawabnya.

"Kenapa?"

"Takut"

"Takut karena apa?"tanyaku lagi

"Takut kalau Bapak meninggalkan Maisharo dan umi"

"Bapak tidak setega itu", jawabku "kamu sudah selesai nyucinya?"

"Sudah ni' , tinggal mandi saja" sahut Maisharo.

"Tuh wajah, tangan bagian tubuh kamu hitam semua"

"Iya Pak, banyak sekali debu dan kotoran rumah ini"

"Maklum lah sayang, rumah ini sudah lama tidak dihuni jadi wajar tidak terawat dan berdebu" jawabku.

"Pegel dan capek sekali rasanya badan Mai"

"Tapi walaupun capek dan pegal-pegal, kamu senang juga kan, punya rumah?"

"Ya pastilah Pak, dibandingkan kita tidur di bangunan tua itu."

"Makanya kita mesti beryukur, ada orang baik yang perhatian sama kita. Jadi kebaikanya mesti harus kita jaga"

"Iya' ya Pak" sahutnya



"Ayo mandi sini, tuh kotor semua tubuh kamu!"

Maisharo mendekat dan menyiramkan air ke tubuhnya.

"Uuuuhh . segar sekali rasanya" .

Akupun menyiramkan air ke tubuhku, memang terasa segar sekali habis bekerja seharian.

"Sini Bapak gosoki tubuh kamu dengan sabun"

Maisharo tidak banyak bicara, dia malah mendekatkan punggungnya ke dekatku. Akupun dengan senang sekali menyabuni serta mengosok noda-noda hitam di sekujur tubuhnya.

Rasanya tidak rela tubuh yang hanya berbalut BH dan celana dalam ini ditempeli oleh kotoran sedikitpun. Mulai dari leher dan tengkuk, kedua bahunya kemudian punggung, turun ke pinggang serta bongkahan bokong bulat nan kencangnya. Maisharo tidak terlalu banyak memprotes, ketika pantatnya kiri dan kanan aku sabuni sambil sesekali aku remas, hanya tubuhnya saja seperti bergoyang merasa geli. Tubuhnya aku tarik ke belakang sehingga punggung menempel di dadaku, sedangkan pantatnya yang bulat dan kencang menempel ketat tepat di celana pendekku. Kontan saja cucuku yang sedari tadi sudah menegang menjadi bertambah keras. Aku tak tahan menahan himpitan pantatnya terhadap batang penisku, secara perlahan celana pendekku aku pelorotkan hingga jatuh ke lantai kamar mandi. Kini yang hanya tinggal, hanyalah celana kolor warna putih miliku menutupi penisku yang tegang. Aku masih menyabuni punggung sambil memijit bahunya, dan Maisharo berkata pelan.

"Aduhhhh...enak Pak"

"Apa yang enak?" tanyaku

"Pijitannya" sahut Maisharo.

"Yang dimana sayang yang enak?" tanyaku kembali.

"Di bahu dan punggung" jawabnya "Bapak pinter sekali"

"Pinter apanya?"

"Mijitnya" sahutnya pelan.

Gerakan tangan dan jariku perlahan turun, Maisharo melenguh pelan.

"Oohhhhh .. addduhhhh . enak sekali pak...ilang rasa capeknya" sahutnya.

"Ah, baru sebagian saja, belum seluruhnya" jawabku.

"Iya, tapi tetap enak sekali pijitnya pak" katanya pelan.

"Bentar" tanganku yang sudah berada di pantatnya aku tekan dengan lembut dan pelan, seirama putaran kedua jemariku di bongkahan daging kenyal di tergantung di bawah pinggangnya.

Walaupun masih dihalangi oleh celana dalam putih sedikit merah mudah, tidak menyurutkan aktivitas tanganku sambil meremas pantatnya.

"Uuuuuuhh . pegal sekali di situ pak"

"Enak sayang?" bisikku.

Maisharo mendesah lirih sambil mengangguk. Pijitan lembut dipantat bulatnya membuatnya memejamkan matanya.



"Aduh...anak Bapak sayang, sampai tiduran begitu saking enaknya" kataku.

"Heeh" sahutnya lirih sambil tersenyum manis.

Ciuman lembut di antara telinga dan leher sampingnya semakin kepalanya direbahkan ke bahuku

"Paakkkk" desisnya lirih

"Kenapa sayang?" tanyaku

"geliiii aaahhh!"

"Bapak gemes sayang" sahutku

"Uu hhhh Bapakk" sahutnya manja.

Tanganku berpindah ke atas mengusap-usap lehernya putihnya hingga mengelus-elus bahunya. Kecupan lembut di bahu dan lehernya tidak pernah aku lewatkan, membuatnya semakin terbuai manja. Jemari tanganku terus bergerak turun dan turun hingga mendekati pangkal gunung kembarnya. Hati dan bathinku bergemuruh, semakin mendekati daerah gunung kembar itu, tangan dan jariku seolah keram dan gemetaran. Rasanya baru kali ini saja aku menyentuh kulit mulus seorang perempuan. Padahal ibunya Maisharo baru beberapa hari yang lalu aku garap. Apa karena yang aku gerayangi sekarang adalah seorang gadis perawan hingga semua tubuhku semakin gemetar terutama lututku. Dengan kekuatan hati , perlahan dan lembut aku perlakukan Maisharo dengan penuh kasih sayang, supaya tercipta kemesraan yang alami. Jemariku semakin bergerak perlahan hingga akhirnya mendarat juga dipuncak anak gunung berapi yang belum aktif. Pada saat kedua telapak tanganku mendarat di puncaknya, saat itu juga tangan Maisharo memegang kedua tanganku. Lalu di berkata pelan

"Pakkk!!!"

"Ia...ada apa sayang?" jawabku.

"Jangan!!" jeritnya pelan.

Aku diam saja tetapi telapak tanganku tetap mengusap sambil memijit pelan dengan penuh kelembutan.

"Ooohh Pa.aaa.kkk...sudah: .. jangannnn!"

"Kenapa?" tanyaku.

"Geliiiiiiii" balasnya

"Tidak apa-apa sayang...pelan-pelan saja" kataku.

"Aahhh, Bapak nakal!"

Gerakan tanganku mulai meremas pelan

"Sssszzzz . Paaaakkkkkkk suuuudaaahhh, nanti Umi melihat" pinta Maisharo memohon.

"Tidak sayang" jawabku

"iiihhhhh Bapak makin nakal aja ah" sahutnya .



Tangan Maisharo masih memegang tanganku yang masih dengan lembut meremas pelan kedua gunung kembarnya, tetapi tidak berusaha menepis dan memindahkan kedua tanganku. Tanganku semakin liar, respon yang tidak memberikan perlawanan membuatkan semakin gatal dan bersemangat. Remasan agak kutingkatkan, namun tetap dengan secara berirama dan pelan agar tidak menimbulkan paksaan di dalam diri Maisharo yang akhirnya dapat menimbulkan kenikmatan bagi dirinya. Jemariku terus dengan lembutnya meremas mesra kedua gunung kembarnya dan secara perlahan jari-jariku menyusup masuk ke dalam BHnya.

"Oohhh Pakkkkk!" suara Maisharo lirih

Dan ketika kedua telapakku telah menempel di seluruh permukaan buah dadanya barulah aku merasakan betapa kencangnya dan lembutnya kulit buah dada Maisharo.

"Oohhh tuhan! ini baru karuniamu. Kau ciptakan anak ini begitu sempurna sekali." Kataku dalam hati

Busa sabun yang menempel ditubuh kami berdua, menambah licinnya kulit tubuh Maisharo. Pada saat kedua telapak tanganku menempel dan mengusap serta meremas buah dadanya, terasa sekali puting susunya menegang. Belum dapat aku pastikan bentuk dan ukuran buah dada Maisharo serta keindahan kulit buah dadanya, karena masih menggunakan BH. Hanya saja tidak sebesar milik ibunya, cuma masih tergolong lumayan bila dibandingkan anak-anak di negara asalku.

"Oohhhh Pakkkkkk...sudaaahhh...aaahhhh...geeliiiiii...Pakkkkkk!" rintihan halus keluar dari mulut Maisharo.

Sambil mengusap dan meremas pelan buah dada Maisharo, tangan kananku meluncur turun dari salah satu buah dadanya, secara perlahan dan lembut, jemari tanganku bergerak menelusuri kulit perut dan pusarnya. Di bagian bawa pusarnya aku merasakan sesuatu yang kasar seperti rambut, ketika kulirik kebawa ternyata bulu-bulu kemaluan Maisharo tubuh subuh sampai melewati karet celana dalamnya. Memang tidak salah orang keturunan bangsa Arab mempunyai bulu-bulu yang sangat rimbun. Walapun masih tergolong muda pertumbuhan bentuk tubuh hormon anak perempuan sangat cepat.

Hal ini yang dialami oleh Maisharo, bulu-bulu kemaluan sangat lebat sama seperti ibunya Mashito.



"Iiii...Bapakkkk, ssssshhhh!" desahan mulut Maisharo semakin terdengar.

Jari tanganku semakin turun dan turun hingga menyentuh karet celana dalam milik Maisharo. Jari-jariku terus bergerak pelan dan turun, terasa empuk di permukaan celana dalamnya. Bentuk benda diantara kedua belah paha Maisharo hampir mirip dengan ibunya, empuk dan lembut. Dan begitu usapan dan remas lembut jari tanganku di bagian bawah selangkangannya, secara reflek jari tangannya mencengram kuat tangan kananku.

Maisharo berkata pelan"Pak...jangan" . ya Pak"

"Kenapa?" tanyaku

"Tidak boleh Pak"

"Ya kenapa sayang?" sahutku

"Mai takut...itu melanggar Pak"

"Kita bukan suami istri, tidak boleh melakukan hal-hal seperti ini. Sejauh ini, tidak seorangpun pernah melakukan hal semacam ini, baik orang tuaku bahkan orang lain."

"Ah, Mai...masa gitu sama Bapak" sahutku

"Ya betul pak" balasnya.

"Bapak cuma pingin meraba saja sayang, masa tidak boleh? Katanya Bapak sudah kamu anggap orang tua sendiri"

"Betul Pak" sahutnya, tangannya masih memegang kuat tanganku

"Mai sayang...bolehkan bapak merabanya? Bapak sudah lama tidak mengelus dan meraba benda itu, kamu tidak kasihan sama Bapak? Sejak istri Bapak meninggal, bapak sama sekali tidak pernah menyentuh perempuan sayang, apalagi meraba dan menyetuh tubuh kamu seperti hal sekarang ini"

"Mai...hmmmmmm" suaranya lirih.

"Bolehkan sayang?" pintaku, "Bapak mohon padamu sayang, ya bolehkan?"

"Pakkk... Mai takut Umi melihat...Mai juga takut kalau ada orang yang melihat, kita baru saja pindah ke sini, dan apa kata orang-orang di sini?" sahut Maisharo setengah berbisik.

"Kamu tidak usah kuatir, orang sini ramah ramah dan tidak mau mencampurin urusan orang lain, jadi kamu tenang saja" jawabku, "jadi gimana sayang? Bolehkan?"

"Heemmmmm" sahutnya pasrah



Suara heemnya sepertinya meng-isyaratkan boleh pikirku. Tanganku mulai bergerak lagi, walaupun tangan Maisharo masih menggenggam tanganku, tetapi gerakan tanganku di atas celana dalamnya hingga bagian bawa kemaluannya berjalan lancar, sepertinya Maisharo mengijinkan jari-jariku menari-nari disekitar situ. Karena sudah mendapatkan ijin, jari-jari tanganku bergerak kesana kemari dan ketika jariku naik keatas menyelinap di karet celana dalam Maisharopun tidak ada penolakan. Bulu kemaluan di sekitar bawah pusarnya tidak dapat ditampung oleh seluruh celana dalamnya. Dan ketika jari tanganku telah bergerak masuk kedalam celana dalam Maisharo, diapun tidak melakukan penolakan bahkan tangannya yang tadi mencengram tanganku, sekarang telah berpindah memegang paha kananku. Sama halnya seperti ibunya, bulu bulu kemaluan Maisharo sangat rimbun dan tebal manakala telapak tanganku bersentuhan dengan bulu bulu itu.

Jari-jariku semakin nakal, seolah ada mata saja jari tengahku mencari sesuatu yang selalu dicari oleh kamu laki-laki. Itu adalah sebuah lembah licin, di antara lembah terjal dan licin itu ada sebuah gua yang tersembunyi di antaranya. Gua itulah yang akan dicari oleh kaum adam untuk dijelajahi gerangan apa yang tersembunyi di dalamnya. Saat jariku menyentuh bukit kecil di antara rimbunan rumput hitam nan tebal itu, saat itu juga tubuh Maisharo bergetar, suara rintihan halus terdengar dari mulut mungilnya.

"Sssssszzzz...Uuuuuuhhhh .. Paaaaakkkkkkkk!"

Benda sebesar biji kacang kulit menonjol di antara bukit terjal itu semakin menegang, begitu juga tubuh Maisharo bagaikan tersengat aliran listrik ribuan watt, tubuhnya meliuk bagai cacing yang kena sinar matahari. Pekikan kecil keluar dari mulutnya

"Ahhh!!!! .. Bapakkkk !!! Auuuuwwwww...sudaaaahhhhhh Paaakkkkkk!"

Jariku terus menggelitik biji kacang itu sambil menelusuri belahan bukit karang yang semakin licin oleh rembesan air yang terdapat dari dalam gua suci itu. Semakin menahan gejolak dari dalam tubuhnya semakin tak kuasa Maisharo membendung derahan darah mudanya. Dan akhirnya secara tiba-tiba dan tanpa diduga, tubuhnya berbalik menghadapku dan sorot matanya tajam seolah menembus bola mataku. Aku melihat kilatan sinar matanya, seakan meminta kepastian dan kejujuran dariku. Lalu aku berkata pelan,

"sayang...jangan ragukan ketulusan kasih sayang Bapak, cinta dan sayang Bapak kepada kamu dan ibumu sangat tulus."

"Betulkah apa yang Bapak baru katakan?" tanyanya pelan.

"Betul sayang" jawabku



Tanpa sungkan lagi, Maisharo mencium pipiku dengan senyum mengembang dengan lesung pipitnya yang indah. Akupun langsung melumat bibir mungil itu, respon lembutpun aku terima dari bibirnya. Ia membalas lumatan bibirku dengan mesra.

Bongkahan pantat sang gadis perawan yang bulat padat, menjadi sasaran kedua tanganku. Remasan lembut terhadap kedua pantatnya menambah gairah kami berdua, tak terasa 30 menit sudah cumbu rayu yang kami lakukan. Suasana dingin di dalam kamar mandi tidak terasa oleh kami berdua, dinginnya air seolah berubah menjadi panas, sepanas membara dari dalam tubuh kami berdua. Suasana gelap terus merangkak malam, entah jam berapa sekarang ini, yang jelas nyamukpun ikut nimbrung dalam aktifitas acara kami berdua.

Sedangkan Mashito yang berada didalam rumah entah apa yang dia kerjakan, sehingga apa yang terjadi dikamar mandi saat ini seakan tidak peduli dengan rumah baru yang kami tempati. Lumatan bibir kami berdua semakin romantis, sedangkan tanganku juga tak tinggal diam. Buah dada dara yang masih perawan ini yang belum pernah disentuh oleh lelaki manapun menjadi sasaran kedua telapak tanganku. Gunung kembar ini memang sangat ranum dan kencang, tanpak puting susunya menonjol tegang dibalik BH tipisnya. Tanganku kembali bergerak turun dan langsung masuk kedalam celana dalam itu. Ia tidak lagi memprotes perlakuan jari-jariku di daerah kemaluannya, sekarang dia hanya pasrah terhadapku. Dengan gerakan halus celana dalamnya aku pelorotkan secara perlahan, secara perlahan celana dalam ini mulai melorot dari pantatnya, terus pangkal pahanya, terus kedua belah pahanya, lalu lutut dan akhirnya jatuh diantara kedua kakinya. Kini tanganku bergerak lagi ke punggungnya mencari-cari pengait BH nya, setelah dapat dengan gerakan pelan tezzz...pengait itu terlepas. Tanpa malu lagi, Maisharo dengan sendirinya turut membantuku melepaskan BHnya sendiri dengan menggerakan kedua tangannya kiri dan kanan dijatuhkannya ke lantai. Batang penisku yang sedari tadi belum juga keluar dari sarangnya, dengan menggerakan satu tangan saja kolorku berwarna putih melorot jatuh di kedua telapak kakiku.



"Iiiihhhh, Bapak apa itu!" jerit Maisharo pelan.

"Ini pisang raja, hehehe!" jawabku bercanda sambil ketawa

"Pisang raja?" wajah Maisharo berkerut tapi raut mukanya menjadi memerah, "masa pisang raja bisa berada di situ?" tanyanya tersenyum

"Suka suka dia mau di mana, mungkin mau ngintip Ratu Kerang, hihihi" jawabku bercanda.

"Ratu Kerang?" kembali dahi Maisharo berkerut, "memang ada Ratu Kerang?"

"Ya adalah" jawabku menggoda

"Mana? Mai mau lihat"balasnya memancing

"Tuh, di bawah sana!" jawabku

"Mana? tidak ada" sahut Maisharo sambil matanya mencari ke kiri, kanan dan belakang.

"Tidak ada Pak" kembali penasaran Maisharo dibuatnya.

"Ini" jawabku sambil satu tanganku menyentuh belahan vaginanya.

"Auuuuuwwww...Paaakkkkkkkk, iiiihhhhh Bapak jahat, nakal" salah satu tangan lembutnya mencubit perutku.

"Aduhhhhh...sakit sayang!" keluhku.

"Syukur, habis Bapak nakal" sahutnya manja.

"Mai" sambil kutarik pinggangnya ke arahku sehingga batang penisku nyelip di antara rimbunya rumput hitamnya.

"Kenapa Pak?" sahutnya pelan.

"Kita terusin di kamar saja ya?" tanyaku

"Mai takut Umi melihat kita" jawabnya pelan.

"Kita lihat situasi dan keadaan dulu" ajakku, "sampai saat ini ibu kamu tidak memanggil kita. Mungkin dia tertidur karena capek sekali, sehingga lupa terhadap kita" kataku lagi.

"Gimana sayang?" tak lupa tanganku meremas pantatnya.



Tubuh Maisharo sedikit agak maju, terasa kepala penisku menyentuh bibir vaginanya.

"Auuuwww...Pak .. geliiiii aahhh!" teriak Maisharo manja.

"Geli apanya?" godaku.

"Itunya...mengenai anunya Mai"

"Itunya yang mana?" balasku pura-pura tidak tahu "dan anunya Mai yang mana geli?" sahutku menggoda gadis perawan ini.

"Itu...pisang rajanya mengenai tempat kencing Mai"

"Ah itu belum apa-apa sayang. Mungkin si pisang pingin mengintip bagian dalam ratu kerang" jawabku bercanda hehehe..

Belum lagi kedua buah dadanya yang mencuat ke depan dengan puting susunya mengeras menggoda tepat di depan mukaku. Dengan penuh kelembutan dan kasih sayang, lidahku menjulur keluar menyentuh puting susu yang sudah mengeras itu. Belum sempat aku mengulum puting susu itu, kepalaku telah ditahan olehnya.

"Jangan...Bapak, ahhhhh!"

"Yuk kita ke dalam!" ajakku

Tanpa jawaban Maisharo melepaskan pelukanku. Aku membiarkannya, dia kembali mencuci celana dalamnya kemudian celana kolorkupun dia cuci. Setelah selesai, dia mengeringkan tubuhnya dengan handuk. Aku yang masih menyabuni tubuhku dan membersihkan kotoran yang melekat di tubuhku tidak lepas dari pemandangan indah di depan mataku. Sampai akhirnya Maisharo berkata

"Bapak, Mai duluan ya"

"Ya sayang" jawabku, "tunggu Bapak di kamar ya"

Maisharo tersenyum manis sekali, lalu diapun mengangguk dan masuk ke dalam rumah.
Aku mandi dengan sebersih-bersihnya. Kurang lebih 5 menit dan dirasakan sudah bersih tanpa secuilpun daki melekat di tubuhkku, akhirnya mandipun aku sudahi. Selesai mengeringkan tubuhku, akupun masuk rumah dan mengunci pintu belakang. Aku menuju kamar belakang. Ketika aku membuka gagang kunci, kulihat Mashito telah terbaring pulas sambil memeluk guling. Salah satu paha mulusnya terlihat hingga ke pangkal pahanya, sebab dia hanya mengenakan baju daster untuk tidur. Untuk saat ini aku tidak begitu tertarik dengan tubuh indahnya ibu Maisharo, yang ada di pikiranku adalah anaknya. Karena gadis perawan dari Kuwait inilah yang menjadi pikiranku, dan sebentar lagi aku akan memberikan kehangatan pada gadis belia itu. Kututup kembali pintu kamar itu. Kini aku ke bagian tengah rumah yang baru kami tempati. Rumah ini agak bertingkat tingkat, di kamar bawah agak rendah bersebelahan dengan ruang makan dan dapur. Sedangkan bagian depan, ruang tengah agak tinggi. Kalau diprediksikan antara ruang tengah/ruang keluarga dengan belakang kurang lebih 70-80 cm, jadi untuk naik turun dibentuk tangga sebanyak dua tingkat. Untuk bagian depan dan ruang tamu, bertingkat juga tetapi tidak tinggi kira-kira 30 cm. Untuk menuju kamar depan agak ke samping kanan kalau dari arah dapur, dan kamar depan inipun beritngkat juga sama seperti antara ruang depan dan keluarga 30 cm. Sehingga kalau dari luar mau masuk ke dalam rumah harus menaiki tangga yang dari satu anak tangga ke anak tangga lain sebanyak 5 buah. Dan memang rumah disekitar sini kebanyakan seperti itu walapun tanahnya datar bahkan jauh dari permukaan laut tetap seperti itu, karena sudah menjadi ciri khas suatu negara. Aku mendekati kamar depan. Ketika aku membuka pintu serta masuk. Setelah aku mengunci pintu kamar aku terkesimah. Suasana kamar depan ini sangat indah, maklum selama bersih bersih tadi aku tidak banyak melihat keadaan rumah dan ruangannya.


Walaupun ukuran kamarnya tidak seluas kamar belakang, kamar ini lumayan juga luasnya. Dengan kasur busa tebal beralaskan kain warna putih dan kalau ditiduri bisa muat orang tiga, ada meja rias, ada sofa panjang untuk dua orang serta lemari pakaian.

Lampu gantung yang antik cukup terang bak di siang hari, serta sebuah lampu tidur disisi tempat tidur.



Ruangan ini bernuansa coklat muda seperti halnya dengan lantai rumah. Kulihat di depan kaca cermin meja rias, duduk seorang gadis perawan barasal dari negara Kuwait. Dia duduk membelakangiku, rambutnya panjang sebatas pungung, hitam bergelombang bercahaya kena sinar lampu. Kulit tubuhnya putih bersih bak batu pualam. Pinggangnya kecil ramping serta dua buah bokong bulat besar duduk di atas kursi kecil di depan cermin. Sang gadis hanya mengenakan BH dan celana dalam warna putih karena saat ini dia tidak memakai baju kurungnya atau baju tidurnya. Apa karena belum selesai berdadan atau memang belum sempat memakai baju, sebab diatas meja rias terlihat seonggokan baju tidur warna putih sehingga kulit putih kekuningan tubuhnya sangat jelas terlihat. Dialah Maisharo gadis perawan anak dari Mashito. Aku memang sudah mengetahui kalau Maisharo memiliki tubuh yang indah melebihi ibu kandungnnya. Memang sudah kodrat, kalau seorang ibu mempunyai wajah cantik jelita disertai dengan kesempurnaan bentuk tubuhnya, maka secara lahiriah apabila mempunyai anak gadis, anak gadisnya itu akan melebihi kecantikan ibunya bahkan bentuk tubuhnya. Ketika tadi suara pintu aku buka dan menguncinya Maisharo melirik dari kaca cermin, dan waktu aku berjalan mendekati tempat tidur, Maisharo bangkit dari kursi duduknya lalu berbalik ke arahku. Entah kenapa ketika Maisharo berbalik memandangku, wajah dan bentuk tubuhnya bagaikan bidadari yang turun dari langit. Bau harum tubuhnya tercium sangat jauh dari tempatku berdiri. Sinar matanya lembut dan bercahaya, kulit tubuhnya putih sekali. Baru kali ini aku dibuat terpanah, pemandangan seperti ini bukan baru sekali ini aku alami dan lihat pada diri Maisharo, waktu masih di gedung tua itu ketika dia mandi, waktu dia tertidur di bilik kardus gedung tua itu dan barusan beberapa menit yang lalu aku bercumbu di dalam kamar mandi bersamanya tidak menampakan rasa kekuatiran ataupun apa. Tapi sekarang ini aku menjadi berkeringat dingin. Wajah jelitanya yang dihiasi tahi lalat yang menempel dipipinya, serta lensung pipit menambah ke rupawanan wajahnya. Bentuk tubuhnya indah bagaikan sebuah gitar. Buah dadanya mencuat kencang ke depan dengan puting susu yang mengeras tercetak jelas dibalik BH tipis warna putih. Terus kain segitiga yang menempel di bawah perutnya membuat tubuhku seperti patung sebab di atas kain segitiga putih itu telah berkeliaran rumput-rumput hitam yang tidak ke semuanya menutupi daerah terlarang itu. Bentuk kedua paha yang mulus dan licin serta kedua kaki yang kecil bak kaki belalang turut memperindah tubuhnya.



"Tuhan" suara hatiku berkata, "sesungguhnya siapa yang berdiri di hadapanku ini? Bidadari kah? Dewi dari negeri khayalankah? Atau memang seorang manusia? Kenapa aku seperti ketakutan?"

Darah dalam tubuhku seolah tidak mau mengalir, lututku dan bebrapa bagian lain dari tubuhku jadi gemetaran. Apa karena melihat wajah Maisharo yang sesungguhnya ini.

"Ohhh...Tuhan kuatkan hati dan jiwaku."
 

magnacharta83

Semprot Baru
Thread Starter
Daftar
23 Jul 2012
Post
37
Like diterima
255
Ternyata suara itu adalah suara Maisharo memanggilku. Buru buru aku mengancingkan kembali celana dan menaikan reselitingku. Kubantu Nyonya Helena merapihkan kancing bajunya. Lalu kuraih tangannya, kemudian Nyonya Helena merapihkan rok hitamnya serta menurunkannya. Aku membersihkan jerami yang sedikit menempal dipakaian Nyonya Helena, baik di rambut baju serta roknya. Aku sendiri merapihkan tubuh dari kotoran jerami dan debu yang menempel ditubuhku dibantu juga oleh Nyonya Helena. Setelah rapih aku memandang wajah cantik majikanku, dari sorot matanya terbersit sesuatu yang tidak bisa diungkapkan, apa dia merasa bersalah atau merasa kecewa, sulit ditebak. Namun yang pasti diriku yang merasa kecewa

"Sial" omelku dalam hati agak dongkol terhadap Maisharo, "kalau tidak karena kamu mungkin siang ini aku sudah dapat bercinta sama nyonya majikkanku...was ya Maisharo"

Kemudian aku berkata "Nyonya maafkan saya, saya khilaf, saya tidak tahu diri Nyonya, saya telah melakukan kesalahan yang tidak mestinya saya lakukan"

Nyonya Helena berkata lembut sambil menggeleng

"Bapak Soleh tidak bersalah, Bapak baik, hal itu adalah rasa cinta dan sayang yang Bapak Soleh berikanan kepada saya dan hal itu adalah wajar, karena bagaimanapun dan dimanapun hal seperti pasti akan terjadi. Baik dari Bapak Soleh sendiri maupun dari diri saya sendiri"

Nyonya Helena mendekatiku lalu dengan kecupan lembut dia mengecup bibirku.

"Bapak tidak perlu merasa bersalah" jawabnya halus.

Karena yang melakukan adalah keinginan majikanku sendiri, secara reflek aku membalas kecupannya dengan lumatan. Beberapa detik kemudian lumatan bibir kami terlepas. Secara singkat aku mengecup leher putihnya dengan lembut. Lalu dengan senyum menghiasi bibirnya Nyonya Helena mengajaku keluar.

"Mari Pak Soleh...itu dipanggil saudaranya"

"Mari Nyonya" jawabku.

Ketika kami keluar dari gudang tua itu, Maisharo sudah berjalan ke arah gudang. Melihat kami keluar, ia berhenti dan terus berbalik menuju rumah. Tak lama Nyonya Helena berpamitan pulang untuk melihat tokonya. Dia berpesan kepada Mashito dan Maisharo untuk menjaga rumah mereka. Aku mengantarnya keluar dan sampai ke mobil, sedangkan ibu dan anak itu, kembali masuk rumah dengan kesibukannya.



Sesampai di mobilnya Nyonya Helena berkata

"Besok pagi, saya jemput Bapak"

"Tidak usah Nyonya biar saya berangkat sendiri saja." jawabku

"Dengan apa?" tanyanya sambil tersenyum

Aku berpikir, benar juga, pakai apa aku ke tokonya. Di sini jalannya saja, aku belum hafal betul. Kendaraan disini, juga jarang-jarang, entah ada atau tidak kendaraan umum.

Sedangkan rumah, dari rumah satu kerumah yang lain lumayan jauh 200 sampai dengan 500 meter.

"Bagaimana" tanya Nyonya Helena

"Baiklah Nyonya besok pagi saya menunggu Nyonya!"

Lalu ia masuk ke mobil, setelah menstater, dia melambaikan tangannya dari dalam mobil, mobil jenis van melaju meninggalkan perkarangan rumah miliknya itu, yang saat ini aku tempati bersama Mashito dan Maisharo. Aku masuk ke dalam rumah turut membantu membersihkan debu dan sarang laba-laba yang banyak di dalam rumah, maklum rumah ini sudah cukup lama tidak dihuni. Tidak terasa, hari sudah menjelang sore, matahari sudah hampir tenggelam dan sebentar lagi akan berganti malam. Usaha kami membersihkan rumah akhirnya selesai juga. Kulihat Mashito dan Maisharo tampak kelelahan, keringat membasahi baju kurungnya. Sedangkan debu dan sarang laba-laba lengket di baju dan wajahnya. Mereka duduk duduk di sofa lalu aku duduk di dekat mereka.

"Akhirnya kita mempunyai rumah juga ya"

Keduanya walaupun lelah, dapat tersenyum bahagia. Aku memeluk keduanya sambil mencium pipi mereka masing-masing. Keduanya membalas memeluk dan mencium pipiku.

"Sekarang sudah sore, kita mandi yuk!" ajakku.

"Baik Pak!" jawab mereka berdua.

"Tempat mandi ada di luar, jadi terpaksa kita mandi di sana. Air baknya masih kering, Bapak akan memompa airnya kalian bantu memasukan ke dalam bak ya"

"Baik pak!"



Setelah mengambil perlengkapan mandi, sabun, sikat gigi, dan handuk kami bertiga pergi ke kamar mandi diluar. Aku mengompa air, ternyata airnya cukup lancar dan jernih lagi.

Keduanya saling membantu mengisi bak, setelah cukup penuh baru mandi. Karena sudah lama tidak terpakai, pintu kamar mandi rusak sehingga tidak dapat ditutup atau dibuka, jadi terpaksa dilepas saja takut tertimpa pintu kamar mandi. Setelah keduanya masuk ke dalam, mereka tampak ragu

"Ayo mandilah!" kataku "Tidak perlu malu dan takut, Bapak akan jaga kalian berdua."

Keduanya lalu membuka pakaian masing-masing dan melirikku. Mereka saling pandang, keduanya tampak paham apa yang terganjal dihati dan pikiran mereka. Haruskah membuka baju di hadapanku? Lalu Mashito memandang anaknya seraya memberikan isyarat mengangguk. Kemudian mereka melepaskan baju kurungnya. Kini kedua hanya mengenakan BH dana celana dalam, Mashito berwarna putih sedangkan Maisharo agak putih tapi menjurus ke pink. Hari mulai semakin gelap, aku mencari saklar lampu. Aku mendekati kamar mandi, mataku melihat ke atas dan ke dinding

"Ada apa Pak?" tanya Mashito

"Ada sesuatu"

Mereka merasa curiga, lalu keduanya mendekati aku.

"Bapak melihat sesuatu yang aneh?"

Aku memandang keduanya, terlihat raut wajah kecemasan. Kuraih kedua pinggang ramping mereka, dan keduanya merapat ke tubuhku.

"Bapak cuma mancari saklar lampu...hari semakin gelap, jadi Bapak ingin menghidupkan lampu supaya mandi bisa kelihatan. Nah ini!" di balik pintu yang rusak ini saklarnya. setelah aku tekan 'Plazzz' suasana ruangan kamar mandi yang gelap kini menjadi terang.

"Nah sekarang mandilah! kamar mandinya sudah terang."

Mashito mulai mandi dan membersihkan tubuhnya, membasahi rambut hitamnya, menyikat gigi serta menyabuni tubuhnya. Sedangkan Maisharo mencuci bajunya dan ibunya.



Mashito sudah hampir selesai, tubuh setengah telanjangnya semakin putih mengkilat kena siraman air dan sinar lampu kamar mandi. Buah dada itu tampak menggoda, hutan rumput ilalang hitam itu yang tertutup kain segitiga putih di antara kedua belah pahanya yang putih mulus, sungguh membangkitan birahi. Mashito telah selesai mandi, kini dia mengelap tubuhnya dengan handuk lalu melilitkan handuk ke bagian atas tubuhnya, kemudian dia melepaskan BH serta celana dalamnya.

"Umi...sini pakai dalamnya, biar Maisharo yang cuci!"

Mashito menyerahkan BH dan celana dalamnya kepada anaknya kemudian dia keluar kamar mandi. Aku yang bediri diluar kamar mandi dihampiri olehnya lalu ia berkata

"Bapak sana mandi!"

Aku meraih pinggangnya

"Heiiiii!!" teriaknya kecil "bau...cepet mandi sana Pak!"

Sambil berlari menghindar dariku Mashito masuk ke dalam rumah. Aku berjalan mendekati pintu kamar mandi dan berdiri disitu.

"Mai!" sapaku

"Ya...ada apa Pak?" Maisharo menoleh ke arahku

"Bapak boleh mandi?"

"Ya boleh Pak, mandilah sini" sahutnya.

"Kamu tidak marah?" tanyaku.

Sambil tersenyum dan menggelengkan kepala Maisharo berkata "tidaklah Pak."

"Karena bapak jadi takut kalau kamu marah lagi seperti tempo hari" balasku.

"Ah...waktu itu, karena Mai kaget saja, karena malu terhadap Bapak, apalagi waktu itu umi ada di dekat Maisharo"

"Sekarang?" timpalku

"Kalau sekarang tidak lagi" jawabnya.

"Kenapa?"

"Takut"

"Takut karena apa?"tanyaku lagi

"Takut kalau Bapak meninggalkan Maisharo dan umi"

"Bapak tidak setega itu", jawabku "kamu sudah selesai nyucinya?"

"Sudah ni' , tinggal mandi saja" sahut Maisharo.

"Tuh wajah, tangan bagian tubuh kamu hitam semua"

"Iya Pak, banyak sekali debu dan kotoran rumah ini"

"Maklum lah sayang, rumah ini sudah lama tidak dihuni jadi wajar tidak terawat dan berdebu" jawabku.

"Pegel dan capek sekali rasanya badan Mai"

"Tapi walaupun capek dan pegal-pegal, kamu senang juga kan, punya rumah?"

"Ya pastilah Pak, dibandingkan kita tidur di bangunan tua itu."

"Makanya kita mesti beryukur, ada orang baik yang perhatian sama kita. Jadi kebaikanya mesti harus kita jaga"

"Iya' ya Pak" sahutnya



"Ayo mandi sini, tuh kotor semua tubuh kamu!"

Maisharo mendekat dan menyiramkan air ke tubuhnya.

"Uuuuhh . segar sekali rasanya" .

Akupun menyiramkan air ke tubuhku, memang terasa segar sekali habis bekerja seharian.

"Sini Bapak gosoki tubuh kamu dengan sabun"

Maisharo tidak banyak bicara, dia malah mendekatkan punggungnya ke dekatku. Akupun dengan senang sekali menyabuni serta mengosok noda-noda hitam di sekujur tubuhnya.

Rasanya tidak rela tubuh yang hanya berbalut BH dan celana dalam ini ditempeli oleh kotoran sedikitpun. Mulai dari leher dan tengkuk, kedua bahunya kemudian punggung, turun ke pinggang serta bongkahan bokong bulat nan kencangnya. Maisharo tidak terlalu banyak memprotes, ketika pantatnya kiri dan kanan aku sabuni sambil sesekali aku remas, hanya tubuhnya saja seperti bergoyang merasa geli. Tubuhnya aku tarik ke belakang sehingga punggung menempel di dadaku, sedangkan pantatnya yang bulat dan kencang menempel ketat tepat di celana pendekku. Kontan saja cucuku yang sedari tadi sudah menegang menjadi bertambah keras. Aku tak tahan menahan himpitan pantatnya terhadap batang penisku, secara perlahan celana pendekku aku pelorotkan hingga jatuh ke lantai kamar mandi. Kini yang hanya tinggal, hanyalah celana kolor warna putih miliku menutupi penisku yang tegang. Aku masih menyabuni punggung sambil memijit bahunya, dan Maisharo berkata pelan.

"Aduhhhh...enak Pak"

"Apa yang enak?" tanyaku

"Pijitannya" sahut Maisharo.

"Yang dimana sayang yang enak?" tanyaku kembali.

"Di bahu dan punggung" jawabnya "Bapak pinter sekali"

"Pinter apanya?"

"Mijitnya" sahutnya pelan.

Gerakan tangan dan jariku perlahan turun, Maisharo melenguh pelan.

"Oohhhhh .. addduhhhh . enak sekali pak...ilang rasa capeknya" sahutnya.

"Ah, baru sebagian saja, belum seluruhnya" jawabku.

"Iya, tapi tetap enak sekali pijitnya pak" katanya pelan.

"Bentar" tanganku yang sudah berada di pantatnya aku tekan dengan lembut dan pelan, seirama putaran kedua jemariku di bongkahan daging kenyal di tergantung di bawah pinggangnya.

Walaupun masih dihalangi oleh celana dalam putih sedikit merah mudah, tidak menyurutkan aktivitas tanganku sambil meremas pantatnya.

"Uuuuuuhh . pegal sekali di situ pak"

"Enak sayang?" bisikku.

Maisharo mendesah lirih sambil mengangguk. Pijitan lembut dipantat bulatnya membuatnya memejamkan matanya.



"Aduh...anak Bapak sayang, sampai tiduran begitu saking enaknya" kataku.

"Heeh" sahutnya lirih sambil tersenyum manis.

Ciuman lembut di antara telinga dan leher sampingnya semakin kepalanya direbahkan ke bahuku

"Paakkkk" desisnya lirih

"Kenapa sayang?" tanyaku

"geliiii aaahhh!"

"Bapak gemes sayang" sahutku

"Uu hhhh Bapakk" sahutnya manja.

Tanganku berpindah ke atas mengusap-usap lehernya putihnya hingga mengelus-elus bahunya. Kecupan lembut di bahu dan lehernya tidak pernah aku lewatkan, membuatnya semakin terbuai manja. Jemari tanganku terus bergerak turun dan turun hingga mendekati pangkal gunung kembarnya. Hati dan bathinku bergemuruh, semakin mendekati daerah gunung kembar itu, tangan dan jariku seolah keram dan gemetaran. Rasanya baru kali ini saja aku menyentuh kulit mulus seorang perempuan. Padahal ibunya Maisharo baru beberapa hari yang lalu aku garap. Apa karena yang aku gerayangi sekarang adalah seorang gadis perawan hingga semua tubuhku semakin gemetar terutama lututku. Dengan kekuatan hati , perlahan dan lembut aku perlakukan Maisharo dengan penuh kasih sayang, supaya tercipta kemesraan yang alami. Jemariku semakin bergerak perlahan hingga akhirnya mendarat juga dipuncak anak gunung berapi yang belum aktif. Pada saat kedua telapak tanganku mendarat di puncaknya, saat itu juga tangan Maisharo memegang kedua tanganku. Lalu di berkata pelan

"Pakkk!!!"

"Ia...ada apa sayang?" jawabku.

"Jangan!!" jeritnya pelan.

Aku diam saja tetapi telapak tanganku tetap mengusap sambil memijit pelan dengan penuh kelembutan.

"Ooohh Pa.aaa.kkk...sudah: .. jangannnn!"

"Kenapa?" tanyaku.

"Geliiiiiiii" balasnya

"Tidak apa-apa sayang...pelan-pelan saja" kataku.

"Aahhh, Bapak nakal!"

Gerakan tanganku mulai meremas pelan

"Sssszzzz . Paaaakkkkkkk suuuudaaahhh, nanti Umi melihat" pinta Maisharo memohon.

"Tidak sayang" jawabku

"iiihhhhh Bapak makin nakal aja ah" sahutnya .



Tangan Maisharo masih memegang tanganku yang masih dengan lembut meremas pelan kedua gunung kembarnya, tetapi tidak berusaha menepis dan memindahkan kedua tanganku. Tanganku semakin liar, respon yang tidak memberikan perlawanan membuatkan semakin gatal dan bersemangat. Remasan agak kutingkatkan, namun tetap dengan secara berirama dan pelan agar tidak menimbulkan paksaan di dalam diri Maisharo yang akhirnya dapat menimbulkan kenikmatan bagi dirinya. Jemariku terus dengan lembutnya meremas mesra kedua gunung kembarnya dan secara perlahan jari-jariku menyusup masuk ke dalam BHnya.

"Oohhh Pakkkkk!" suara Maisharo lirih

Dan ketika kedua telapakku telah menempel di seluruh permukaan buah dadanya barulah aku merasakan betapa kencangnya dan lembutnya kulit buah dada Maisharo.

"Oohhh tuhan! ini baru karuniamu. Kau ciptakan anak ini begitu sempurna sekali." Kataku dalam hati

Busa sabun yang menempel ditubuh kami berdua, menambah licinnya kulit tubuh Maisharo. Pada saat kedua telapak tanganku menempel dan mengusap serta meremas buah dadanya, terasa sekali puting susunya menegang. Belum dapat aku pastikan bentuk dan ukuran buah dada Maisharo serta keindahan kulit buah dadanya, karena masih menggunakan BH. Hanya saja tidak sebesar milik ibunya, cuma masih tergolong lumayan bila dibandingkan anak-anak di negara asalku.

"Oohhhh Pakkkkkk...sudaaahhh...aaahhhh...geeliiiiii...Pakkkkkk!" rintihan halus keluar dari mulut Maisharo.

Sambil mengusap dan meremas pelan buah dada Maisharo, tangan kananku meluncur turun dari salah satu buah dadanya, secara perlahan dan lembut, jemari tanganku bergerak menelusuri kulit perut dan pusarnya. Di bagian bawa pusarnya aku merasakan sesuatu yang kasar seperti rambut, ketika kulirik kebawa ternyata bulu-bulu kemaluan Maisharo tubuh subuh sampai melewati karet celana dalamnya. Memang tidak salah orang keturunan bangsa Arab mempunyai bulu-bulu yang sangat rimbun. Walapun masih tergolong muda pertumbuhan bentuk tubuh hormon anak perempuan sangat cepat.

Hal ini yang dialami oleh Maisharo, bulu-bulu kemaluan sangat lebat sama seperti ibunya Mashito.



"Iiii...Bapakkkk, ssssshhhh!" desahan mulut Maisharo semakin terdengar.

Jari tanganku semakin turun dan turun hingga menyentuh karet celana dalam milik Maisharo. Jari-jariku terus bergerak pelan dan turun, terasa empuk di permukaan celana dalamnya. Bentuk benda diantara kedua belah paha Maisharo hampir mirip dengan ibunya, empuk dan lembut. Dan begitu usapan dan remas lembut jari tanganku di bagian bawah selangkangannya, secara reflek jari tangannya mencengram kuat tangan kananku.

Maisharo berkata pelan"Pak...jangan" . ya Pak"

"Kenapa?" tanyaku

"Tidak boleh Pak"

"Ya kenapa sayang?" sahutku

"Mai takut...itu melanggar Pak"

"Kita bukan suami istri, tidak boleh melakukan hal-hal seperti ini. Sejauh ini, tidak seorangpun pernah melakukan hal semacam ini, baik orang tuaku bahkan orang lain."

"Ah, Mai...masa gitu sama Bapak" sahutku

"Ya betul pak" balasnya.

"Bapak cuma pingin meraba saja sayang, masa tidak boleh? Katanya Bapak sudah kamu anggap orang tua sendiri"

"Betul Pak" sahutnya, tangannya masih memegang kuat tanganku

"Mai sayang...bolehkan bapak merabanya? Bapak sudah lama tidak mengelus dan meraba benda itu, kamu tidak kasihan sama Bapak? Sejak istri Bapak meninggal, bapak sama sekali tidak pernah menyentuh perempuan sayang, apalagi meraba dan menyetuh tubuh kamu seperti hal sekarang ini"

"Mai...hmmmmmm" suaranya lirih.

"Bolehkan sayang?" pintaku, "Bapak mohon padamu sayang, ya bolehkan?"

"Pakkk... Mai takut Umi melihat...Mai juga takut kalau ada orang yang melihat, kita baru saja pindah ke sini, dan apa kata orang-orang di sini?" sahut Maisharo setengah berbisik.

"Kamu tidak usah kuatir, orang sini ramah ramah dan tidak mau mencampurin urusan orang lain, jadi kamu tenang saja" jawabku, "jadi gimana sayang? Bolehkan?"

"Heemmmmm" sahutnya pasrah



Suara heemnya sepertinya meng-isyaratkan boleh pikirku. Tanganku mulai bergerak lagi, walaupun tangan Maisharo masih menggenggam tanganku, tetapi gerakan tanganku di atas celana dalamnya hingga bagian bawa kemaluannya berjalan lancar, sepertinya Maisharo mengijinkan jari-jariku menari-nari disekitar situ. Karena sudah mendapatkan ijin, jari-jari tanganku bergerak kesana kemari dan ketika jariku naik keatas menyelinap di karet celana dalam Maisharopun tidak ada penolakan. Bulu kemaluan di sekitar bawah pusarnya tidak dapat ditampung oleh seluruh celana dalamnya. Dan ketika jari tanganku telah bergerak masuk kedalam celana dalam Maisharo, diapun tidak melakukan penolakan bahkan tangannya yang tadi mencengram tanganku, sekarang telah berpindah memegang paha kananku. Sama halnya seperti ibunya, bulu bulu kemaluan Maisharo sangat rimbun dan tebal manakala telapak tanganku bersentuhan dengan bulu bulu itu.

Jari-jariku semakin nakal, seolah ada mata saja jari tengahku mencari sesuatu yang selalu dicari oleh kamu laki-laki. Itu adalah sebuah lembah licin, di antara lembah terjal dan licin itu ada sebuah gua yang tersembunyi di antaranya. Gua itulah yang akan dicari oleh kaum adam untuk dijelajahi gerangan apa yang tersembunyi di dalamnya. Saat jariku menyentuh bukit kecil di antara rimbunan rumput hitam nan tebal itu, saat itu juga tubuh Maisharo bergetar, suara rintihan halus terdengar dari mulut mungilnya.

"Sssssszzzz...Uuuuuuhhhh .. Paaaaakkkkkkkk!"

Benda sebesar biji kacang kulit menonjol di antara bukit terjal itu semakin menegang, begitu juga tubuh Maisharo bagaikan tersengat aliran listrik ribuan watt, tubuhnya meliuk bagai cacing yang kena sinar matahari. Pekikan kecil keluar dari mulutnya

"Ahhh!!!! .. Bapakkkk !!! Auuuuwwwww...sudaaaahhhhhh Paaakkkkkk!"

Jariku terus menggelitik biji kacang itu sambil menelusuri belahan bukit karang yang semakin licin oleh rembesan air yang terdapat dari dalam gua suci itu. Semakin menahan gejolak dari dalam tubuhnya semakin tak kuasa Maisharo membendung derahan darah mudanya. Dan akhirnya secara tiba-tiba dan tanpa diduga, tubuhnya berbalik menghadapku dan sorot matanya tajam seolah menembus bola mataku. Aku melihat kilatan sinar matanya, seakan meminta kepastian dan kejujuran dariku. Lalu aku berkata pelan,

"sayang...jangan ragukan ketulusan kasih sayang Bapak, cinta dan sayang Bapak kepada kamu dan ibumu sangat tulus."

"Betulkah apa yang Bapak baru katakan?" tanyanya pelan.

"Betul sayang" jawabku



Tanpa sungkan lagi, Maisharo mencium pipiku dengan senyum mengembang dengan lesung pipitnya yang indah. Akupun langsung melumat bibir mungil itu, respon lembutpun aku terima dari bibirnya. Ia membalas lumatan bibirku dengan mesra.

Bongkahan pantat sang gadis perawan yang bulat padat, menjadi sasaran kedua tanganku. Remasan lembut terhadap kedua pantatnya menambah gairah kami berdua, tak terasa 30 menit sudah cumbu rayu yang kami lakukan. Suasana dingin di dalam kamar mandi tidak terasa oleh kami berdua, dinginnya air seolah berubah menjadi panas, sepanas membara dari dalam tubuh kami berdua. Suasana gelap terus merangkak malam, entah jam berapa sekarang ini, yang jelas nyamukpun ikut nimbrung dalam aktifitas acara kami berdua.

Sedangkan Mashito yang berada didalam rumah entah apa yang dia kerjakan, sehingga apa yang terjadi dikamar mandi saat ini seakan tidak peduli dengan rumah baru yang kami tempati. Lumatan bibir kami berdua semakin romantis, sedangkan tanganku juga tak tinggal diam. Buah dada dara yang masih perawan ini yang belum pernah disentuh oleh lelaki manapun menjadi sasaran kedua telapak tanganku. Gunung kembar ini memang sangat ranum dan kencang, tanpak puting susunya menonjol tegang dibalik BH tipisnya. Tanganku kembali bergerak turun dan langsung masuk kedalam celana dalam itu. Ia tidak lagi memprotes perlakuan jari-jariku di daerah kemaluannya, sekarang dia hanya pasrah terhadapku. Dengan gerakan halus celana dalamnya aku pelorotkan secara perlahan, secara perlahan celana dalam ini mulai melorot dari pantatnya, terus pangkal pahanya, terus kedua belah pahanya, lalu lutut dan akhirnya jatuh diantara kedua kakinya. Kini tanganku bergerak lagi ke punggungnya mencari-cari pengait BH nya, setelah dapat dengan gerakan pelan tezzz...pengait itu terlepas. Tanpa malu lagi, Maisharo dengan sendirinya turut membantuku melepaskan BHnya sendiri dengan menggerakan kedua tangannya kiri dan kanan dijatuhkannya ke lantai. Batang penisku yang sedari tadi belum juga keluar dari sarangnya, dengan menggerakan satu tangan saja kolorku berwarna putih melorot jatuh di kedua telapak kakiku.



"Iiiihhhh, Bapak apa itu!" jerit Maisharo pelan.

"Ini pisang raja, hehehe!" jawabku bercanda sambil ketawa

"Pisang raja?" wajah Maisharo berkerut tapi raut mukanya menjadi memerah, "masa pisang raja bisa berada di situ?" tanyanya tersenyum

"Suka suka dia mau di mana, mungkin mau ngintip Ratu Kerang, hihihi" jawabku bercanda.

"Ratu Kerang?" kembali dahi Maisharo berkerut, "memang ada Ratu Kerang?"

"Ya adalah" jawabku menggoda

"Mana? Mai mau lihat"balasnya memancing

"Tuh, di bawah sana!" jawabku

"Mana? tidak ada" sahut Maisharo sambil matanya mencari ke kiri, kanan dan belakang.

"Tidak ada Pak" kembali penasaran Maisharo dibuatnya.

"Ini" jawabku sambil satu tanganku menyentuh belahan vaginanya.

"Auuuuuwwww...Paaakkkkkkkk, iiiihhhhh Bapak jahat, nakal" salah satu tangan lembutnya mencubit perutku.

"Aduhhhhh...sakit sayang!" keluhku.

"Syukur, habis Bapak nakal" sahutnya manja.

"Mai" sambil kutarik pinggangnya ke arahku sehingga batang penisku nyelip di antara rimbunya rumput hitamnya.

"Kenapa Pak?" sahutnya pelan.

"Kita terusin di kamar saja ya?" tanyaku

"Mai takut Umi melihat kita" jawabnya pelan.

"Kita lihat situasi dan keadaan dulu" ajakku, "sampai saat ini ibu kamu tidak memanggil kita. Mungkin dia tertidur karena capek sekali, sehingga lupa terhadap kita" kataku lagi.

"Gimana sayang?" tak lupa tanganku meremas pantatnya.



Tubuh Maisharo sedikit agak maju, terasa kepala penisku menyentuh bibir vaginanya.

"Auuuwww...Pak .. geliiiii aahhh!" teriak Maisharo manja.

"Geli apanya?" godaku.

"Itunya...mengenai anunya Mai"

"Itunya yang mana?" balasku pura-pura tidak tahu "dan anunya Mai yang mana geli?" sahutku menggoda gadis perawan ini.

"Itu...pisang rajanya mengenai tempat kencing Mai"

"Ah itu belum apa-apa sayang. Mungkin si pisang pingin mengintip bagian dalam ratu kerang" jawabku bercanda hehehe..

Belum lagi kedua buah dadanya yang mencuat ke depan dengan puting susunya mengeras menggoda tepat di depan mukaku. Dengan penuh kelembutan dan kasih sayang, lidahku menjulur keluar menyentuh puting susu yang sudah mengeras itu. Belum sempat aku mengulum puting susu itu, kepalaku telah ditahan olehnya.

"Jangan...Bapak, ahhhhh!"

"Yuk kita ke dalam!" ajakku

Tanpa jawaban Maisharo melepaskan pelukanku. Aku membiarkannya, dia kembali mencuci celana dalamnya kemudian celana kolorkupun dia cuci. Setelah selesai, dia mengeringkan tubuhnya dengan handuk. Aku yang masih menyabuni tubuhku dan membersihkan kotoran yang melekat di tubuhku tidak lepas dari pemandangan indah di depan mataku. Sampai akhirnya Maisharo berkata

"Bapak, Mai duluan ya"

"Ya sayang" jawabku, "tunggu Bapak di kamar ya"

Maisharo tersenyum manis sekali, lalu diapun mengangguk dan masuk ke dalam rumah.
Aku mandi dengan sebersih-bersihnya. Kurang lebih 5 menit dan dirasakan sudah bersih tanpa secuilpun daki melekat di tubuhkku, akhirnya mandipun aku sudahi. Selesai mengeringkan tubuhku, akupun masuk rumah dan mengunci pintu belakang. Aku menuju kamar belakang. Ketika aku membuka gagang kunci, kulihat Mashito telah terbaring pulas sambil memeluk guling. Salah satu paha mulusnya terlihat hingga ke pangkal pahanya, sebab dia hanya mengenakan baju daster untuk tidur. Untuk saat ini aku tidak begitu tertarik dengan tubuh indahnya ibu Maisharo, yang ada di pikiranku adalah anaknya. Karena gadis perawan dari Kuwait inilah yang menjadi pikiranku, dan sebentar lagi aku akan memberikan kehangatan pada gadis belia itu. Kututup kembali pintu kamar itu. Kini aku ke bagian tengah rumah yang baru kami tempati. Rumah ini agak bertingkat tingkat, di kamar bawah agak rendah bersebelahan dengan ruang makan dan dapur. Sedangkan bagian depan, ruang tengah agak tinggi. Kalau diprediksikan antara ruang tengah/ruang keluarga dengan belakang kurang lebih 70-80 cm, jadi untuk naik turun dibentuk tangga sebanyak dua tingkat. Untuk bagian depan dan ruang tamu, bertingkat juga tetapi tidak tinggi kira-kira 30 cm. Untuk menuju kamar depan agak ke samping kanan kalau dari arah dapur, dan kamar depan inipun beritngkat juga sama seperti antara ruang depan dan keluarga 30 cm. Sehingga kalau dari luar mau masuk ke dalam rumah harus menaiki tangga yang dari satu anak tangga ke anak tangga lain sebanyak 5 buah. Dan memang rumah disekitar sini kebanyakan seperti itu walapun tanahnya datar bahkan jauh dari permukaan laut tetap seperti itu, karena sudah menjadi ciri khas suatu negara. Aku mendekati kamar depan. Ketika aku membuka pintu serta masuk. Setelah aku mengunci pintu kamar aku terkesimah. Suasana kamar depan ini sangat indah, maklum selama bersih bersih tadi aku tidak banyak melihat keadaan rumah dan ruangannya.


Walaupun ukuran kamarnya tidak seluas kamar belakang, kamar ini lumayan juga luasnya. Dengan kasur busa tebal beralaskan kain warna putih dan kalau ditiduri bisa muat orang tiga, ada meja rias, ada sofa panjang untuk dua orang serta lemari pakaian.

Lampu gantung yang antik cukup terang bak di siang hari, serta sebuah lampu tidur disisi tempat tidur.



Ruangan ini bernuansa coklat muda seperti halnya dengan lantai rumah. Kulihat di depan kaca cermin meja rias, duduk seorang gadis perawan barasal dari negara Kuwait. Dia duduk membelakangiku, rambutnya panjang sebatas pungung, hitam bergelombang bercahaya kena sinar lampu. Kulit tubuhnya putih bersih bak batu pualam. Pinggangnya kecil ramping serta dua buah bokong bulat besar duduk di atas kursi kecil di depan cermin. Sang gadis hanya mengenakan BH dan celana dalam warna putih karena saat ini dia tidak memakai baju kurungnya atau baju tidurnya. Apa karena belum selesai berdadan atau memang belum sempat memakai baju, sebab diatas meja rias terlihat seonggokan baju tidur warna putih sehingga kulit putih kekuningan tubuhnya sangat jelas terlihat. Dialah Maisharo gadis perawan anak dari Mashito. Aku memang sudah mengetahui kalau Maisharo memiliki tubuh yang indah melebihi ibu kandungnnya. Memang sudah kodrat, kalau seorang ibu mempunyai wajah cantik jelita disertai dengan kesempurnaan bentuk tubuhnya, maka secara lahiriah apabila mempunyai anak gadis, anak gadisnya itu akan melebihi kecantikan ibunya bahkan bentuk tubuhnya. Ketika tadi suara pintu aku buka dan menguncinya Maisharo melirik dari kaca cermin, dan waktu aku berjalan mendekati tempat tidur, Maisharo bangkit dari kursi duduknya lalu berbalik ke arahku. Entah kenapa ketika Maisharo berbalik memandangku, wajah dan bentuk tubuhnya bagaikan bidadari yang turun dari langit. Bau harum tubuhnya tercium sangat jauh dari tempatku berdiri. Sinar matanya lembut dan bercahaya, kulit tubuhnya putih sekali. Baru kali ini aku dibuat terpanah, pemandangan seperti ini bukan baru sekali ini aku alami dan lihat pada diri Maisharo, waktu masih di gedung tua itu ketika dia mandi, waktu dia tertidur di bilik kardus gedung tua itu dan barusan beberapa menit yang lalu aku bercumbu di dalam kamar mandi bersamanya tidak menampakan rasa kekuatiran ataupun apa. Tapi sekarang ini aku menjadi berkeringat dingin. Wajah jelitanya yang dihiasi tahi lalat yang menempel dipipinya, serta lensung pipit menambah ke rupawanan wajahnya. Bentuk tubuhnya indah bagaikan sebuah gitar. Buah dadanya mencuat kencang ke depan dengan puting susu yang mengeras tercetak jelas dibalik BH tipis warna putih. Terus kain segitiga yang menempel di bawah perutnya membuat tubuhku seperti patung sebab di atas kain segitiga putih itu telah berkeliaran rumput-rumput hitam yang tidak ke semuanya menutupi daerah terlarang itu. Bentuk kedua paha yang mulus dan licin serta kedua kaki yang kecil bak kaki belalang turut memperindah tubuhnya.



“Tuhan” suara hatiku berkata, “sesungguhnya siapa yang berdiri di hadapanku ini? Bidadari kah? Dewi dari negeri khayalankah? Atau memang seorang manusia? Kenapa aku seperti ketakutan?”

Darah dalam tubuhku seolah tidak mau mengalir, lututku dan bebrapa bagian lain dari tubuhku jadi gemetaran. Apa karena melihat wajah Maisharo yang sesungguhnya ini.

“Ohhh...Tuhan kuatkan hati dan jiwaku.”
 

magnacharta83

Semprot Baru
Thread Starter
Daftar
23 Jul 2012
Post
37
Like diterima
255
Karena keterpanaanku sampai aku gagap disapa olehnya.

"Bapak....Aaa ..aaa kuuu...Aaa ... aannu"

"Iiiii ..... yaaaaa...kenapa Mai?"

"Kenapa Bapak jadi bengong dan gugup seperti itu? Bapak melihat apa?" tanya Maisharo.

"Aaa ...anu...Bapak tidak percaya...apakah di hadapan Bapak ini adalah kamu Mai"

"Lah iya Pak...ini Mai, Maisharo...anak Bapak! Memang kenapa Pak?" tanyanya lagi, "ada yang berbeda pada diri Mai?"

"Bapak tadinya memang tidak percaya kalau yang ada di hadapan Bapak adalah kamu, ternyata memang benar adalah Maisharo. Kamu sungguh cantik jelita sayang...beruntung Bapak mempunyai anak angkat sepertimu...kamu begitu rupawan sayang"

"Ahhh...Bapak bisa saja menggodaku" sahutnya.

"Betul sayang, kecantikanmu melebihi ibumu"

"Aaaah...bohong...Bapak bohong"

Bapak tidak pernah bohong sayang...kamu bagaikan bidadari"

"Uuuuuhhhh...rayunya selangit" katanya.

"La...memang kenyataan sayang" jawabku sambil kedua tanganku meraih pinggang rampingnya, "Mai sayang" rayuku

"Kenapa Bapak?" suaranya pelan terdengar.

"Gimana pembicaraan kita di kamar mandi tadi?"

"Yang manaaaa?" tanyanya manja.

"Tuh kan baru beberapa menit yang lalu sudah lupa" sambil ku elus pipi mulusnya lalu berbisik "Itu...waktu kita saling... ehem... ehem tadi" sahutku menggoda.

"Itu yang manaaaaa?" kembali bibirnya tersenyum manis menggoda.



Karena saat ini aku hanya mengenakan handuk tanpa memakai celana kolor, kontan saja dengan sekali tarik handukku lepas dan jatuh ke lantai. Memang penisku yang dari kamar mandi tadi sudah tegang mengeras, maka ketika handukku melorot jatuh, langsung mencuat bak tonggak kayu.

"Iiiihhhh...Bapak, pisang rajanya kelihatan."

"Biarin saja...paling ingin mencari Ratu Kerang, hehehe" jawabku sambil ketawa.

"Mai" bisikku

"Hmmmm" ..... jawabnya halus.

"Bapak seakan bermimpi melihat bidadari cantik, tak disangka dalam kondisi kamu seperti ini jauh lebih sempurna kecantikanmu."

"Ah, Bapak bisa saja" Mai jadi malu dibuatnya.

Kubelai rambut dan pipinya, dia tampak memejamkan matanya sebentar. Seulas senyum kecil terkuak dari bibirnya yang manis. Aku kecup keningnya, ia memejamkan matanya. Wajahku dan wajahnya hanya terpaut lima senti, hembusan nafas yang keluar dari mulut Maisharo terasa sejuk, sehingga membuat birahi di dalam dadaku semakin bergejolak.

Aku berbisik "Mai"

"Hmmmm" sahutnya.

"Kita berbaring yuk" ajakku

"Hemmm" jawabnya sambil mengangguk.

Aku membimbing tubuh indahnya ke tempat tidur, kuatur letak bantal di bawah kepalanya. Kubaringkan dengan pelan tubuhnya dengan penuh kelembutan dan kasih sayang aku membelai tubuhnya. Sambil berbaring matanya selalu memandang wajahku. Senyum manis dari bibinya tidak pernah berhenti. Ciuman lembut aku daratkan di bibirnya. Sambutan lembutpun aku terima dari bibir mungilnya.



Maisharo berkata pelan "Bapak"

"Ada apa sayang?"

"Selama ini perhatian Bapak terhadap Mai sangat terasa sekali. Mai seperti dimanjakan sekali. Terus terang, perhatian yang tulus seperti ini belum penah Mai rasakan baik dari Abi (bapak kandung) Mai, maupun dari seorang pria lain. Hanya Bapak Soleh lah yang perhatiannya membuat Mai sangat bahagia. Cinta, kasih sayang, belai kasih, bahkan hal-hal pribadi yang mestinya hanya Mai yang mengetahui, Bapakpun memenuhinya tanpa Mai minta. Mai berkata jujur, Mai belum pernah dekat sama lakl-laki manapun. Dekat dalam arti kata sebagai seorang kekasih."

Aku bertanya "Jadi kamu punya keinginan mempunyai seorang kekasih?"

"Iya" sahutnya sambil mengangguk.

"Terus di negaramu?"

"Memang aturan di negara kami sangat kuat. Kebanyakan anak gadis dijodohkan oleh orang tuanya jadi pernikahan kami tidak melalui proses berpacaran karena dari hasil perjodohan. Dan kamipun tidak bisa membantah atau menolak karena patuh kepada orang tua. Kenal dengan seorang pemudapun cukup terbatas hanya di sekolah atau kegiatan apa. Makanya hal seperti ini, tidak pernah terjadi di negara kami, kalau sempat ketahuan bisa dihukum berat bahkan dibuang dari keluarga." terangnya

"Jadi apa yang ada di dalam hati dan pikiranmu?" tanyaku lagi sambil mencium lembut bibirnya dan mengelus kulit tangannya yang banyak ditumbuhi oleh bulu halus.

"Sebagai seorang perempuan ada kalanya terlintas di hati Mai untuk berontak, pingin tahu keadaan dunia luar, terutama hal-hal yang tabu bagi diri Mai, kadang ada sesuatu yang bergejolak didalam tubuh ini, entah apa? Mai saja tidak tahu Pak"

"Ya" sahutku

"Sejak aku mengenal Pak Soleh, entah kenapa hati Mai selalu bahagia dan damai. Mai rasa seperti dilindungi, disayangi, dicintai. jujur Mai katakan....Mai sangat sayang pada Bapak. Mai rasa tentram bila didekat Bapak. Bila Bapak tidak ada, Mai seperti kehilangan.

"Mai...Bapakpun begitu sayang kepadamu, makanya malam ini Bapak akan bersamamu. Bapak ingin memberikan kebahagiaan dan kehangatan terhadapmu"



"Ohhh...Bapak" ia merangkul tubuhku.

Akupun memeluknya lalu melumat bibirnya. Pertemuan bibir antara aku dan Maisharo sekarang lebih romantis dan mesra. Tanganku mulai berani meremas gunung kembarnya. Tiada lagi penolakan darinya, remasan terhadap buah dadanya secara pelan dan lembut membuat mulutnya melepaskan lumatanku. Desahan halus keluar dari mulut mungilnya.

"Ahhhhh... Bapaaaakkkkk....Oohhhh ....pelan... pelan ya Pakkkkkk ...uuuhhh!"

Tanganku bergerak ke punggung mencari pengait BHnya. Dengan sedikit sulit, namun akhirnya aku dapat juga melepaskan pengait BH itu dengan sekali congkel 'tesss' lepas. Tali BH itu aku turunkan dari kedua bahu dan lengannya hingga lepas semua dan aku letakkan di lantai kamar. Kini aku baru benar-benar mengagumi keindahan buah dada Maisharo. Walaupun masih berusia 15 tahun, buah dadanya lumayan besar juga tetapi tidak sebesar ibunya. Sekepalan telapak tanganku sudah cukup merasakan kelembutan dan kehalusan kulit buah dadanya. Benar-benar ciptaan yang tak ternilai, sungguh anugrah Maishro mempunyai bentuk tubuh yang indah. Ohh...alamakkkk, memang ranum sekali buah dada gadis ini kata hatiku. Besarnya kurang lebih seukuran mangkok bakso. Bentuknya menyerupai gunung merapi, lingkaran warna merah terang mengelilingi puncaknya, sedangkan puncak gunungnya sebesar jari telunjuk berwarna merah juga. Bulu-bulu halus turut menghiasi sekeliling lereng gunung berapi itu. Inilah anak gunung merapi yang belum aktif dan belum pernah disentuh oleh tangan manapun. Kini sentuhan tangan akulah yang pertama kali menyetuh gunung berapi ini. Karena sentuhan oleh lelaki yang sangat disayanginya, mau tidak mau desahan halus keluar juga dari mulutnya.

"Pakkk...ooohh ....Bapakkkkk .....Eeeeeehhhhhh!!"

Dengan penuh kelembutan wajahku mendekati puncak gunung berapi itu, semakin dekat mulutku mencapai puncaknya itu, mulutku terbuka dan...

"Oohhhhhh ....Auuuuuuu.... Paaaaakkkkk.... Pe....laaannn-pelaaann!" erangnya

Mulutku langsung menyedot puncak gunung merapi itu yang tak lain adalah puting susu Maisharo.



Ada rasa yang lain terasa di lidahku. Rasa agak asam sepet yang terasa di lidahku. Inilah menandakan bila seorang gadis, wanita yang masih perawan, dari bentuk buah dadanya saja serta rasa puting susunya menandakan ia masih perawan tulen. Ya wajar Maisharo menjerit halus karena puting buah dadanya telah diperawani oleh seorang lelaki lanjut usia. Lelaki itu adalah Pak Soleh yang usianya hampir mencapai 70 tahun, kendati sudah usia lanjut, namun bentuk tubuhnya masih kekar dan berotot. Kulitnyapun belum menampakan banyak keriputan, entah apa yang dimakan oleh pak Soleh ini, sehingga tubuhnya masih segar bugar. Silih berganti kedua puting susu itu aku sedot, telapak tangankupun tidak pernah berhenti meremas remas buah dadanya yang lain. Selanjutnya tanganku bergerak turun, gerakan turun sambil mengelus hingga mendarat di kedua bokong bulat kencangnya. Sambil mulutku mengemut kedua puting susunya, tanganku sudah meremas remas kedua bokong kencangnya. Rintihan manjanya tak henti-hentinya keluar dari mulutnya

" Ooohhh ....... Hmmmmmm ... Pakkkkk...enak!!"

Remasan lembut di bokong kencang Maisharo semakin gencar aku lakukan. Dengan sentuhan sentuhan lembut tak terasa jari-jari tanganku telah mengait karet celana dalamnya. Secara pelan dan pelan, sentuhan halus jari tanganku menerpa kulit pinggulnya, sehingga geliatan-geliatan kecil mewarnai gerakan tubuhnya. Sedikit demi sedikit namun pasti, celana dalam bewarna putih itu secara terus melorot turun dari tempatnya semula, kini celana itu telah melewati kedua bokong kencangnya. Walaupun tersangkut diantara pangkal paha dan bokongnnya karena tertindih oleh paha satunya lagi, tetapi tidak terlalu sulit untuk melepaskannya. Setelah lewat dari pangkal pahanya, celana dalam itu semakin terus melorot melewati kedua lututnya dan terus, terus mendekati kakinya dan akhirnya lepas juga dari kedua telapak kakinya. Kini Maisharo tidak mengenakan apa-apa lagi menutupi tubuhnya. Jari dan tanganku semakin lancar, mulai dari kaki indahnya terus bergerak naik dan naik, mendekati lututnya. Lalu mulai naik menelusuri kedua belah pahanya yang putih mulus dan tiba-tiba entah kenapa aku melepaskan kenyotan mulutku di kedua puting susunya, lalu duduk di sampingnya yang masih terbaring terlentang dengan tubuh polosnya.



Aku tertegun memandangi tubuh Maisharo seolah tidak percaya, bidadari ini sungguh mempesona. Seluruh persendian tubuhku seakan lemas, aliran darahku seakan tidak mau berjalan, tubuh gemetaran. Tangan dan kakiku, tidak mau digerakan, jantungku berdegup tidak teratur, nafasku menjadi sesak, suaraku seakan tidak mau keluar, jakunku turun naik menelan ludah, tubuhku menggigil seperti kedinginan.

"Duhhh Tuhan.... rasanya tidak sanggup aku melakukan ini" suara hatiku terus berkata

Tidak ada cacat dan goresanpun yang menempel di tubuhnya dari ujung rambut sampai ke ujung kaki. Melihat wajahnya, kedua gunung kembarnya, serta hitamnya hutan diapit oleh kedua belah pahanya serta bentuk sempuna tubuh mulusnya. Lama aku memandanginya. Rasa tidak tega menyelimuti pikiran dan jiwaku. Kemudian mata Maisharo perlahan-lahan terbuka dan dia menatap wajah dan mataku, mungkin hati dan jiwanya bertanya kenapa tidak ada gerakan lanjutan dariku. Maisharo berkata pelan dan halus.

"Bapak? ada apa? Kenapa berhenti? Apa yang Bapak pikirkan?"

"Entahkah sayang...Bapak bingung...Bapak tidak dapat berbuat apa"

"Kenapa? Bapak tidak suka sama Mai? Bapak tidak sayang sama Mai lagi?" tanyanya lagi, "Bapak" suaranya halus, "bukankan Bapak tadi sudah meminta...dan Bapak juga sudah memohon, Mai juga sudah menyetujui, tidak perlu Bapak merasa cemas dan takut. Mai sayang sama Bapak"

"Bapak" panggilnya lembut.

"Iiiiii ... ya Mai" sahutku bergetar

"Lakukanlah apa yang Bapak inginkan, Mai akan siap lahir dan bathin asalkan Bapak sayang sama Mai"

"Mai" sahutku bergetar.

Hmmmmm...angguknya dengan senyum manis menyatakan dia bersedia. Aku sudah mendapatkan angin dan persetujuan dari Maisharo, akhirnya melajutkan juga keinginanku. Pandangan mataku tertuju kepada rimbunan rumput ilalang hitam yang terapit oleh kedua belahan pahanya yang putih mulus bak batu pualam. Mataku melirik wajah jelita Maisharo. Dia terseyum sambil menganggukan kepalanya. Wajahku mendekati rimbunan ilalang hitam itu. Bau wangi tercium dari rumput-rumput hitam yang hampir mendekati pusarnya. Bentuk perut yang rata tidak berlemak, kencang tanpa lipatan dan kerutan. Jari tangan kiriku menyibakkan rimbunan rumput-rumput hitam itu, sedangkan tangan kananku merenggakan paha kirinya. Aku semakin gemetaran saja ketika melihat satu garis lurus yang membelah di antara kedua selangkangannya.

Warnanya merah, kiri kanannya tebal. Rasa penasaran semakin menjadi, ingin melihat bentuk dibalik garis lurus itu. Maka paha kanannya aku geserkan juga, sehingga garis lurus itu semakin jelas tepat di tengah tengah.



Inilah bukti bahwa seorang wanita yang masih perawan, tidak ada gelambiran di bibir vaginanya, terus bentuk daging kecil di atas garis lurus sebesar biji kacang tanah. Mulutku terus menciumi bulu-bulu hitam itu, lalu bibirku mengecup kiri kanan antara garis lurus. Kini suara halus keluar dari bibir Maisharo

"Hmmmmmm...Sssssssshhhh!"

Bibirku terus mencium dan mengecup daging kecil itu membuatnya merintih nikmat ketika daging kecil itu dikecup oleh bibirku. Sedangkan di bawah pusarku penisku yang tadi tegang dan sempat melemah akibat respon dari dalam jiwa yang merasa kuatir. Namun sekarang penisku kembali tegang dan menjadi keras bagaikan tonggak menancap di tanah. Lidahku turut beraksi, jilatan halus diselingi kecupan membuat bunyi 'cup...cup' Dengan kedua jariku aku mencoba membuka garis lurus itu, pelan pelan sekali dan

"Oohhh...Pakkkk!"

Betapa indah bentuknya ketika aku membuka belahan daging itu, tampak bagian dalamnya bewarna merah muda. Dalam belahan vagina Maisahro terdapat lubang kecil sebesar jari telunjuk. Lubang inilah yang aku cari-cari dan sebentar lagi akan menjadi sejarah bagi diriku menggarap ibu dan anak warga negara Kuwait. Sedangkan Maisharo sendiri akan melepas masa gadisnya manakala penisku telah bersarang di liang vaginanya. Lidahku mulai beraksi, jilatan lembut naik turun secara berulang-ulang di belahan vaginanya bernuansa rilex membuat Maisharo berdesah halus.

"Aaaaahhhh....Paaakkkkkkk....Ouuuuuuuwwww.....ssssshhh....jangan Pakkkkkk...jiiiiiiii jiiiiikk... koottttoorrrr Pakkkkk...jangan lakukan Pakkkkkkk!" Maisharo semakin menjerit karena daging kecil di atas belahan vaginanya aku jilati dan kuemut-emut. Tubuhnya melenting lenting ke atas, sedangkan kepalanya menggeleng ke kiri dan kanan menahan rasa geli entah merasa nikmat. Jiltanku semakin gencar, bibir dan lubang vagina Maisharo yang tadinya tidak ada rasa dan hanya bau wangi semerbak dari bulu-bulu kemaluannya serta bau aroma dari dalam belahan vaginannya, kini sudah berubah rasa. Rasanya sudah menjadi asin dan gemuk. Tadinya kering, kini sudah mulai merembes air.

Air itu secara perlahan keluar dari lubang kecil seukuran jari tanganku. Air itu berwarna putih susu tetapi licin berlendir.



Ternyata darah muda sang perawan telah terbakar, letupan-letupan birahinya sudah menyeruak merasuki dirinya. Genangan lendir semakin lancar keluar dari dalam lubang vagina dan membasahi seluruh permukaan bibir vaginannya. Konsentrasiku kini sudah terfokus ke belahan ini, sedangkan tegangnya penisku sudah tidak bisa ditahan lagi.

Kepalaku kuangkat dari selangkanan Maisharo. Aku kemudian duduk. Matanya pelan terbuka, dadanya turun naik dengan nafas yang memburu, pandangan matanya sayu. Aku duduk tepat di posisi kedua belah pahanya. Ia memandangiku dan terpana melihat penisku yang besar berdiri tegak.

Suara hatinya berkata "Umi...Maafkan aku kalau aku salah. Bagaimanapun aku adalah manusia biasa. Ada rasa sayang, ada rasa cinta, ada rasa keinginan. Rasa keinginan itu tidak dapat kubendung. Di sisi lain aku takut bukan main, di sisi lain aku ingin tahu. Memang aku belum pernah merasakan cinta dari seorang laki-laki seusiaku, tetapi rasa cinta dan sayangku malah tumbuh terhadap Bapak Soleh, orang yang telah banyak membantuku dan Umi. Harapan hidupun bergantung kepada Pak Soleh, karena dialah aku dan Umi menjadi bertahan di negeri orang dan mendapatkan tempat tinggal yang layak. Aku tidak pernah tahu apa arti sayang bagi seorang laki-laki terhadap wanita sepertiku. Namun secara naluriku, aku telah melakukan kesalahan yang belum sepantasnya aku lakukan. Apalagi terhadap seorang lelaki yang bukan suamiku, karena memang aku belum bersuami. Membiarkan tubuhku dipeluk, dicium, dielus dan diraba. Daerah sensitif dan pribadiku kubiarkan di lihat dan dijamah. Hal seperti ini sebetulnya tidak boleh kulakukan. Akan tetapi desakan aneh dari dalam diriku membuatku tidak bisa menolak. Ada rasa damai, ada rasa nikmat ketika sentuhan lembut menerpa kulit tubuhku. Sebagai seorang wanita yang beragama adalah tabu bila tubuhku dilihat oleh lelaki. Apalagi kini aku juga melihat batang zakar seorang lelaki dewasa yang tak lain adalah zakar Bapak Soleh yang kini akan menjamah tubuhku yang juga akan menyegamai diriku. Seharusnya aku baru boleh melihat zakar lelaki bila telah bersuami, dah sah menurut aturannya, akan tetapi waktu kondisi berkehendak lain sehingga mau tidak mau aku telah melihatnya. Hatiku menjadi cemas, takut dan gelisah. Batang zakar itu besar sekali"



"Ya ampun...bagaimana ini? aku menjadi merinding dan ngeri dibuatnya.

zakar Pak Soleh berdiri tegang. Orang tua ini sungguh luar biasa, badannya tidak terlalu kurus dan juga tidak terlalu gemuk tapi mempunyai batang zakar sebesar itu. Ohhhh...Umi"

Aku melihat Pak Soleh, mendekatkan batang zakarnya kedaerah kemaluanku. Pelan tapi pasti batang zakar Pak Soleh mendekat dan mendekat hingga kepala zakarnya menyentuh belahan bibir vaginaku. (Zakar, adalah penis menurut kata orang Arab, karena suara hati Maisharo menyebut penis adalah zakar.) Akibat sentuhan kepala zakar Pak Soleh di belahan vaginaku, membuat darahku menjadi bergolak. Pak Soleh menguak belahan vaginaku dengan jari tangannya, sedangkan daerah belahan vaginaku telah lembab oleh air cintaku yang telah dulu keluar akibat jilatan Pak Soleh tadi. Tidak kusangka, Pak Soleh mau menjilati lubang vaginaku, padahal itu sangat kotor baik oleh air kencingku, maupun oleh darah kotor saat aku sudah selesai haid. Untuk bulan ini, aku memang belum datang bulan. Ya entahlah apa yang dirasakan oleh Pak Soleh ketika dia menjilati vaginaku, mungkin rasa enak atau gurih. Iiihhhhhh....aku geliiiiiii membayangkannya. Kepala zakar Pak Soleh menempel di belahan vaginaku, saraf-saraf vaginaku menjadi tegang. Kepala zakar Pak Soleh terus bergerak maju sehingga aku menjerit lirih.

"Aaaahhhhh...Pakkkkkk sakitttttt!!!"

Pak Soleh mulai mendorongkan pinggulnya. Dorongan pinggul Pak Soleh pertama itu membuatku meringis menahan sakit. Inilah yang membuatku takut selama ini, sakit yang teramat sangat sudah pastiku rasakan. Aku bersyukur Pak Soleh orangnya lembut dan romantis, dalam hal seperti ini dia dengan sabar memenuhi keingannya tanpa tergesa-gesa dan paksaan. Berhenti sebentar, kemudian dia mendorong lagi batang zakarnya. Kepala zakarnya terjepit di belahan vaginaku. Pak Soleh terus berusaha menerobos lubang vaginaku. Aku sepertinya mau berteriak ketika Pak Soleh mendorong kepala zakarnya. Namun aku tetap bertahan menahan teriakanku. Pinggul Pak Soleh maju dan mundur, dia berusaha menitih kepala zakarnya masuk kedalam lubang vaginaku. Otot vaginaku mulai berintegrasi dengan benda asing yang berusaha masuk. Sedikit demi sedikit lubang vaginaku membuka, namun belum cukup kepala zakar Pak Soleh masuk. Usaha maju mundurnya kepala zakar Pak Soleh terus bergerak, sehingga kepala zakar yang lumayan besarnya itu bisa juga membuat jalan bagi batang zakarnya agar masuk ke dalam liang vaginaku.

"Oohhhhh...Pakkkkkk, sakiittttt....Auuuuuuuuwwww!!" rintihku menahan sakit

Semakin lama kepala zakar Pak Soleh terus bergerak masuk, bukan main sakitnya. Aku rasanya main menjerit tidak tahan dibuatnya. Baru kepala zakar itu saja terjepit di antara lubang vaginaku, sakitnya minta ampun.



Kini suara hati Pak Soleh berkata juga,

"Ampun Mak...seret sekali!"

Sudah 15 menit aku berusaha menjebol gawang Maisharo, sejauh ini usahaku belum berhasil juga. Memang batang penis sangat besar, sedangkan lubang vagina Maisharo hanya sebesar jari telunjuk. Ohhhh...susah sesakali. Aku berupaya menarik, memajukan kepala penisku. Aku merasakan kepala penisku mulai bergerak masuk. Belahan lubang vaginanya sudah membuka, dan usaha memaju mundurkan pinggul dan penisku akhirnya berhasil juga. Kepala penisku telah hilang ditelan mulut vaginanya. Gua suci itu telah membuka, belahan bibir vagina Maisharo bagaikan kerang yang terbuka dengan dagingnya berwarna merah muda menjulur keluar. Lendir yang mulai membasahi lubang dan bagian bibir vaginanya turut melancarkan gerak maju batang penisku. Kepala penisku mulai kumajukan lagi, seret dan sempit dinding vaginanya membuat kepala penisku bagaikan diikat oleh karet gelang. Terasa mau putus akibat cengraman otot-otot vagina Maisharo. Usaha yang tidak kenal lelah akhirnya berhasil juga menerobos cengraman otot vagina Maisharo. Batang penisku sudah masuk ¼ dari batang penisku yang panjangnya 17 cm. Rintihan dan erangan dari mulut Maisahro keluar.

"Aahhhhhhhh...auuuuww...Baaaa..... pakkkkk...sakitttt tidak tahan Pakkkkkk!"

Dan ketika aku mendorong batang kepalaku, terdengar suara seperti kain robek 'sreeett....sreettt' dan seketika itu kepala penis semakin bebas masuk namun tetap seret dan sempit.



Suara hati Maisharo berkata "Ooohhhhhh....ampun sakitnya.

Aku merasakan di dalam lubang vaginaku tedengar suara seperti kain sobek, apakah itu perawanku? Benarkah? Kalau benar....selamat jalan gadisku...terbanglah engkau ke udara, jelajahilah angkasa, tembus langit bersama angan-anganku. Bersama hatiku yang kini penuh angan-angan, kebahagiaan, entah kenikmatan. Berjalanlah bagaikan air yang mengalir menuju muara, dan berenang mengarungi laut lepas, bersama deburan ombak, bersama nyanyian burung-burung camar. Hari engkau tidak bersamaku lagi, 15 tahun kita selalu bersama , kemanapun kita selalu berdua. Kini suasana baru yang akan menjalani hari-hariku, suasana bahagia ataukah suasana duka yang akan selalu bersamaku, akupun tidak tahu. Tak terasa setelah melepas kepergian kegadisanku, butir-butir bening air mengalir melalui kelopak mataku. Ya, itulah air mataku...entah airmata penyesalan, atau air mata bahagia, yang pasti aku tidak menagis, aku hanya menahan sakit yang teramat sangat dari dalam vaginaku. Zakar Pak Soleh semakin terus masuk ke dalam lubang vaginaku, rasa sesak akibat sodokan batang zakar yang tak henti hentinya maju mundur.

Pedih perih, sakit berbaur menjadi satu.



Kembali suara hati Pak Soleh "Akhirnya aku berhasil juga menjebol gua suci Maisharo" Aku merasakan tadi seperti kain robek dan ternyata itulah keperawanannya. Batang penisku sudah masuk setengahnya, aku terus memaju mundurkan batang penisku. Sedikit demi sedikit batang penis semakin tertelan masuk oleh gua suci ini. Suasana malam semakin sunyi, Mashito tidak terusik oleh mimpi-mimpi indahnya yang tidur di dalam kamar sebelah. Sedangkan aku dan Maisharo berpacu mengejar kenikmatan. Aku terus menekan pinggulku. Memang susah juga menjebol keperawanan seorang wanita, sudah sekian lama baru masuk ¾ nya saja. Di bawah sana, Maisharo merintih-rintih menahan nyerinya disetubuhi pertama kali. Tinggal beberapa centi lagi batang penisku akan amblas seluruhnya ke dalam liang vaginanya. Dengan gerakan lembut namun bertenaga, aku menekan batang penisku kuat-kuat. Dan

"Ahhhhhhhh...Pakkkkkkkkkkkkkkkkkk...sakiiiiiiittttt!!"

Batang penisku amblas seluruhnya mulai dari kepala sampai ke pangkal penisku bagaikan dijepit dan diikat oleh karet. Cengraman dari otot-otot dalam vagina Maisharo semakin kuat, penisku terjepit dan sulit untuk digerakan. Aku memeluk tubuhnya, iapun balas memeluk tubuhku. Dengan penuh kasih sayang aku membelai rambut hitamnya, kucium keningnya. Lalu aku berkata...

"Sakit sayang?"

"Hemm" jawabnya.

Kulihat matanya berkaca-kaca, butiran-butiran air mengalir di pipi mulusnya.

"Kamu menangis Mai?"

Dia menggeleng "tidak Pak"

"Kamu menyesal sayang?"

Dia menggeleng lagi.

"Terus kenapa kamu menangis?"

"Mai sangat bahagia sekali hari ini...bisa memberikan apa yang Mai punya serta yang Mai ada. Mai merasa menjadi wanita seutuhnya bisa membahagiakan Bapak, bisa menyenangkan Bapak.



"Betulkah sayang apa yang kamu katakan?" tanyaku

"Betul Pak" sahutnya tersenyum manis.

"Mai...kamu sekarang sudah siap sayang?" tanyaku

"Ya...Mai sudah siap Pak, Mai siap lahir dan bathin....lanjutkanlah Pak" suaranya lembut.

Sambil tersenyum dia membelai rambutku. Aku mulai menarik pinggul pelan-pelan dan mengayunkan pinggul secara intens. Gerakan turun naik yang rilek membuat sensasi kenikmatan memasuki jiwa ragaku. Jepitan dan cengkraman dari dalam dinding vagina Maisharo bagaikan sebuah tangan yang pintar mengurut otot yang tegang, sehingga menciptakan kenikmatan tiada tara.

Maisharo berdesis sambil memejamkan matanya.

"Ooohhh...Pakkkkk pelan-pelan ya Pakkkk...aaahhhhh"

Gerakan pantat besarnya membantu dengan gerakan ke kiri dan kanan bahkan diangkat naik.

"Pakkkk... ooohhh.... Pak....tadi terasa sakit sekali, tapi kenapa sakit itu tidak terasa lagi?" tanyanya sambil merintih,

"yang Mai rasakan sekarang seperti sayang?" tanyaku.

"Entahlah pak...Mai tidak ngerti, tapi rasanya berbeda...ada rasa geliiiii...ada juga terasa gatal, tapi mungkin yang lebih terasa enak sekali Pakk....ooohhhhhh...Pak!"

Suara hati Maisharo berkata "Inilah hal yang belum pernah aku alami dan rasakan, sebagai wanita yang awam dalam hal-hal beginian. Perasaan takut dalam menghadapi seperti sekarang yang sedang aku alami, ternyata kecemasan dan ketakutan hanya sebentar saja, begitu juga dengan rasa sakit yang teramat sangat, ternyata berkurang bahkan ilang sama sekali dan malah berganti enak dan nikmat. Biarlah ini terjadi dalam hidupku, biarkanlah waktu berjalan siang dan malam, mungkin ini akan menjadi kebahagiaan diriku. Ataupun sebagai pengalaman pertamaku bagiku. Ahhh...Maisharo, Bapak Soleh adalah bagian dari hidupmu, kau harus mencintainya menyayanginya" aku tersenyum meresapi suara hatiku.

Tapi baru selesai suara hatiku berkata "Ohhhh tuhan....apa yang terjadi dengan diriku? Mengapa...mengapa tubuhku tiba-tiba menjadi tegang? Otot-ototku terasa mengencang, sendi-sendiku seolah mau lepas...Ohhh Umi, apa yang akan terjadi pada diriku? Tapi kenapa dari dalam liang vaginaku berdenyut-denyut, otot vaginaku mengencang, persendian kaki dan paha seakan lemas.



"Ahhhh....Bapakkkkk, apa yang terjadi dalam diriku ini? Bapak...tolonggg aku Pakkkkkk!! Ahhhhhhhh!!" ada sesuatu yang keluar dari dalam liang vaginaku...seperti air, apakah aku kencing? Tapi kenapa air beda, dan otot dalam vaginaku berkedut-kedut tidak berhenti? Ohhhh....kenapa juga air ini terasa lain, rasanya enak dan nikmat sekali, apa artinya ini. Apakah ini bagian dari kebahagian dalam senggama? Oohhh...aku seakan melayang-layang...akhirnya aku juga tidak dapat mempungkiri diriku sendiri, aku juga akhirnya meresapi sensasi baruku. Sensasi pertama yang sangat nikmat ....ooooohhhhh. Sedangkan di atas tubuhku Pak Soleh terus menggoyangkan pinggulnya. Batang zakar yang menurutku lumayan besar untuk ukuran liang vaginaku, dengan lincahnya keluar masuk di dalam liang vaginaku. Aku yang masih lelah dan lemas, tak dapat berbuat banyak, mataku terpejam menghayati dan menikmati setiap gerakan keluar masuk batang zakar Pak Soleh. Aku tidak menyangka dengan pandanganku terhadap Pak Soleh. Kukira orang tua ini hanya sekedar mengumbar hawa bernafsu saja, juga hanya untuk menyalurkan hasrat lelakinya. Aku yang belum mengerti sama sekali perihal persegamaan antara laki-laki dan perempuan, secara naluri saja beranggapan Bapakk Soleh akan sebentar menyalurkan hasratnya. Akan tetapi kenyataan sangat lain dari yang kuperkirakan, sampai saat ini dia masih terus berada di atasku sambil mengayunkan batang zakarnya ke dalam liang vaginaku. Aku tersenyum dan kagum di dalam hati. Sungguh tangguh dan kuat juga kamu ya Pak! Mai bahagia sekali" kata suara hatiku.



Suara hati Pak Soleh berkata "Hemmm...ternyata darah muda gadis ini bergejolak juga, sedikit banyak dia telah merespon dan menikmati persetubuhan kami. Dari gerakan tubuhnya, desahan dan rintihannya bahkan gerakan pinggulnya yang turut membantu jalannya persetubuhan kami telah melecut birahinya. Dan barusan aku rasakan tadi ia telah mencapai orgamenya yang pertama bagi seorang gadis perawan. Air maninya terasa banyak dari bibir vaginanya ada yang merembes keluar dan setiap gerakan penisku keluar masuk, kepala penisku belepotan penuh dengan air maninya yang kuduga sangat kental dan banyak. Yang lebih membuatkan tercekat adalah di antara cairan kental dan putih itu ada cairan bewarna merah segar bahkan ada yang keluar dari selah selah bibir vaginanya. Akupun merasa iba melihat warna itu, namun karena nafsu dan keinginan yang kuat serta melihat kemulusan tubuhnya, ditunjang dengan bentuk buah dada yang montok kencang, pinggul yang bulat besar serta rimbunnya bulu-bulu kemaluannya belum lagi godaan gua suci yang menantang, akhirnya nafsulah yang mengalahkan semuanya. Goyangan pinggulku semakin kencang aku lakukan, desahan Maisahro kembali terdengar.

"Hhmmmmmm...pelannnn-pelannnnn Bapaaaakkkkk...Ahhhhhhh...ennnnakkk!!"

Aku semakin bersemangat dan tubuhku terasa menegang, kepala penisku seolah mau tertarik, tulang-tulangku terasa mau lepas, otot-ototku mengecang. Ini bertanda aku akan mencapai klimaks, namun aku belum mau menuntaskannya. Aku berhenti dan mengentikan goyangan pinggulku, lalu secara perlahan-lahan aku mencabut seluruh batang penisku. Walaupun lubang vagina Maisharo sudah longgar, akan tetapi masih cukup seret juga ketika batang penisku kutarik. Maisharo mengeluh kecewa ketika batang penisku keluar dari dalam lubang vaginanya.

"Bapak....kenapa dikeluarkan? Kenapa tidak diteruskan saja Pak?" keluhnya.

Nada lembut suaranya, menandakan rasa kecewa sekali. Disertai dia bangkit duduk dari baringnya. Wajah jelitanya masih tetap bercahaya dengan kondisi rambut yang acak-acakan tetap mempesona dari aura tubuhnya.



Aku mengatur tumpukan bantal dan bantal guling sehingga membentuk agak tinggi untuk menyandarkan punggungku. Lalu berbaring sambil tersenyum memandang Maisharo yang masih tampak kecewa sekali. Dia mendekati wajahku sambil berbisik

"Bapak...kenapa dihentikan dan tidak diteruskan?"

"Mai" sahutku.

"Iya...kenapa Pak?" jawabnya lembut.

"Sini kamu naik ke atas tubuh Bapak!"

"Kenapa?" sahutnya.

"Duduki paha Bapak sayang"

Maisharo merangkak naik ke tubuhku, lalu pantat bulat kencangnya langsung duduk di atas pahaku. Bulu-bulu lebat kemaluannya terasa menempel di kepala penisku.

"Mai" panggilku

"Iya Pak" sahutnya.

"Pegang batang itunya Bapak" perintahku

Tampak wajahnya memerah dan tegang.

"Iya" sahutku, "peganglah sayang, tidak usah malu...kan kamu sudah merasakannya."

Maisharo tersenyum lalu dia mengangguk. Dia sedikit grogi dan malu-malu memegang penisku. Lalu aku perintahkan

"Mai...punya Bapak itu, kamu masukan kedalam lubang vaginamu"

Dia tersenyum mengerti, lalu secara hati-hati mendekatkan kepala penisku dan diarahkannya kebelahan bibir vaginanya. Setelah kepala penisku terjepit di lubang vaginanya, Maisharo yang sudah mengerti, menurunkan pantat besarnya diiringi oleh desahan dari bibirnya sedangkan kedua matanya terpejam .

"Oohhhhh....Ssssssssssshhhh... Paakkkkkkkkk!"



"Mai" panggilku

"Hmmmmmm...Iayaaaaaa.... Paakkkkk"

"Naik turunkan pinggulmu lalu gerakan pinggulmu berputar-putar, nanti Bapak membantu menggerakan pinggulmu" perintahku

"Iya Pakkkk" bisiknya manja.

Maisharo menuruti perintahku, dia menaik nurunkan pinggulnya. Gerakan pelan namun teratur Maisharo menuruti perintahku, pinggul bulatnya naik turun. Aku memegang pinggang rampingnnya turut membantu menggerakan pinggul besarnya. Tak lupa benda bulat yang indah dengan puting merah muda tergantung di dadanya menjadi sasaran remasan tanganku. Maisharo semakin bersemangat, gerakan turun naik pinggulnya semakin kencang. Kepalanya mendongkak kebelakang dengan mata terpejam, sedangkan tubuhnya melenting kebelakang tanda dia menikmati gerakan pinggulnya sendiri menikmati batang penisku yang keluar masuk di dalam lubang vaginannya. Gerakannya semakin kencang, suaranyapun terdengar agak keras. Tak lama kemudian ia berteriak lirih.

"Eeeehehhhh....Pakkkk!" dan bersamaan dengan erangan Maisharo, persendian tubuhku menjadi ngilu, otot-oto pinggulku bertambang kencang, kepala seolah melayang-layang. Batang penisku seperti tertarik tarik dan....

"Ouuuuuuuuuwww...Maiiiiiiiiii!!" erangku.

Air maniku pun muncrat ke dalam liang vaginanya

"Bapakkkkkkk... Mai kencing lagiiiiiii...eeehhhhhhhhh!" ia mengerang, air maninyapun muncrat untuk yang kedua kalinya.

Tanpa kami sadari, tubuh kami banjir oleh keringat. Kulihat Maisharo ngos-ngosan, kuraih tubuhnya, kupeluk dengan penuh kasih sayang. Dia jatuh dalam pelukan dengan penuh kedamaian, kebahagiaan dan kepuasan. Kupeluk dia dengan erat, diapun memelukku dengan erat. Batang penisku masih tetap kokoh menancap didalam lubang vaginanya.



Aku mencurahkan kasih sayangku kepada gadis ini, ku belai belai rambut hitamnya, kuelus punggungnya dan kuremas remas pinggul besar kencangnya. Hampir setengah jam kami masih berpelukan, sedangkan alat kelamin kami tetap menyatuh seperti tidak mau saling melepaskan. Tak lama Maisharo berbisik manja

"Pak"

"Ya" sahutku.

"Kamu puas sayang?" tanyaku

"Tau aaahh"

"Ayo puas tidak sayang?" tanyaku kembali

Dia mengangkat kepalanya, tangannya diletakan di atas dadaku lalu bibirnya mengembang, senyum manis terkembang dari bibirnya ditambah lekuk lesung pipitnya lalu ia berkata

"Ya, Mai puas Pak. Terus terang Mai tadi sempat kecewa sama Bapak"

"Kenapa?" tanyaku.

"Habis lagi menghayati Bapak malah maen lepas saja, kan kecewa Mai jadinya."

"Terus sekarang gimana?", balasku menggoda.

"Hemmmmm...ya puaslah begitu" sahutnya malu-malu.

"Pak" panggilnya, "jujur Mai akui, Mai baru pertama kali berbuat seperti ini dan Mai masih agak gugup dan takut, tapi berkat bimbingan dari Bapak, Mai jadi percaya diri. Mai jadi mengerti dan tahu hal-hal yang semestinya baru Mai lakukan ketika Mai bersuami, tapiiiiii..."

"Tapi apa?" tanyaku

"Tapi karena Bapak, Mai rela berbuat seperti ini."

"Kamu menyesal Mai?"

"Tidak Pak, Mai tidak menyesal. Pak...Bapak bisa tahan lama tadi"

"Yah memang seperti itulah keadaannya" jawabku.

"Mai kagum sama Bapak, walaupun sudah tidak muda tapi tenaganya kuat dan lama" pujinya sambil bibirnya tersenyum menggoda.

"Tapi kamu suka kan?" balasku yang dijawab dengan anggukannya

"Iihhhhh...punya Bapak nakal ya, tidak tidur-tidur" sahutnya.



Maisharo mengangkat pinggulnya pelan-pelan, matanya terpejam meresapi keluarnya penisku dari dalam lubang vaginanya. Secara pelan dan pelan akhirnya penisku terlepas dari liang vaginanya.

"Aduuuhhhh" keluh Maisharo meringis.

"Kenapa sayang?" tanyaku.

"Sakit dan nyeri Pak"

"Oohh ...sini sayang baring dekat Bapak" ajakku.

Maisharo merangkak dan berbaring di dekatku. Kulihat ceceran darah di sekitar bibir vaginanya dan sekitar pahanya. Maisharo melihat ceceran darah perawannya di sekitar pahanya. Tapi hal itu tidak menjadi penyesalan bagi dirinya karena diapun telah merasakan kenikmatan yang diterima dari diriku yang tua ini. Ia berbaring di sebelahku sambil memeluk tubuhku, satu pahanya mengapit perutku. Aku memeluk tubuhnya dengan penuh kasih sayang, Maisharo tertidur dalam pelukanku dengan hati yang damai penuh dengan sejuta nikmat sejuta kepuasan. Hari terus merangkak malam, entah jam berapa yang pasti suasana terasa sunyi senyap.Akupun tertidur sambil mendekap tubuh Maisharo. Sekitar subuh kami terbangun berbarengan dan Maisharo terlihat meringis-ringis menahan nyeri di sekitar selangkangannya. Maklum saja dia habis menjalani bulan madu bersamaku, aku membelai tubuh dan rambutnya. Ciuman dan remasan di tubuh Maisharo membangkitkan kembali gairah dara muda dia, begitu juga dengan diriku penisku telah menegang. Dan subuh itu kami melakukannya dengan penuh gairah, tiada lagi rasa sesal tiada lagi rasa canggung, yang ada hanyalan desahan lembut dan rintihan manja dari mulut Maisharo. Kamipun mengalami orgasme sampai tiga kali, kepuasanpun tidak dapat kami sembunyikan. Selesai orgasme, kami beristirahat selama lima belas menit, kemudian kami berdua keluar dari kamar dan menuju kamar mandi dalam kondisi telanjang bulat, namun sebelumnya kami mengintip kamar sebelah, dan ternyata Mashito masih tertidur lelap tanpa terganggu. Kami mandi berdua saling gosok dan saling sabuni, aku membantu membersihkan tubuh Maisharo dari ceceran darah perawannya serta air surga yang menempel disekitar vagina dan pahanya. Begitu juga Maisharo membantu membersihkan, bekas air maniku dan dia yang menempel disekitar batang penisku.

Dia membersihkannya dengan penuh kelembutan, seolah barang berharga yang harus dijaga dan dirawat dengan baik. Setelah selesai mandi kami berpakaian rapih lalu duduk-duduk sambil menunggu pagi hari. Tidak terlalu lama, satu jam lebih kami ngobrol suasana pagi yang cerah datang menyambut kehidupan baru, pengalaman baru dan kegiatan yang baru.
 

the_judicator

Semprot Kecil
Daftar
28 Nov 2012
Post
96
Like diterima
1
Bagus suhu ceritanya.. tp diatas ada dopost tuh, trus tanda bacanya dibenerin, biasanya pada saat percakapan tuh, tanda kutipnya dibenerin biar gk bingung
msh ada lanjutannya gk nih bro? msh bisa dipanjangin loh ini ceritanya, mnurut ane dilanjutin aja, sampe ibu&anaknya saling mengetahui klo udh pernah ngesex sama si soleh, trus juga nyonyanya juga belom digarap tuh :D
 
Sbo Hoki Online   Senior Bola Online
Jav Toys
Gaple Online Indonesia   9 club
Pasang iklan hanya lewat CONTACT US
Top
Semprot is now part of PAGCOR