Agen Terpercaya   Advertise
 
 
 
 
Pasang iklan, hanya lewat Contact Us.
Waspada penipuan iklan. Klik di sini untuk melihat daftar penipu.

Four Calamities [LKTCP 2021]

darksatan

Adik Semprot
Lomba Cerpan
Daftar
15 Nov 2012
Post
142
Like diterima
227
Lokasi
Neraka gang 13
Bimabet


Seorang anak kecil duduk sendirian di sudut lapangan, menatap iri teman-temannya yang tengah berlarian ke sana kemari, saling mengejar dengan wajah penuh senda gurau. Mereka terlihat begitu gembira tanpa mempedulikan keberadaan anak itu. Bukan hari ini saja anak itu duduk sendirian di sana. Hampir setiap hari dia dikucilkan oleh teman-temannya hanya karena dianggap berbeda. Kesedihan yang tergurat di wajahnya terlihat begitu jelas.

"Kek, kenapa aku tidak pernah diajak mainan ya?" ujarnya kepada seorang lelaki tua berpakaian serba hitam. Kontras dengan rambut dan jenggotnya yang putih.

"Karena kamu spesial, nak," lelaki tua itu tersenyum penuh kehangatan.

"Aku tidak mau jadi spesial, kek. Aku cuma ingin diajak mainan," anak kecil itu kembali memandang penuh minat ke arah teman-temannya.

"Percayalah, nak. Kelak hidupmu akan penuh dengan permainan," tutup kakek itu, sementara si anak kecil tidak menggubrisnya. Dia terlalu asyik melihat keriangan teman-temannya.

###
 
Dalam sebuah pernikahan, permasalahan yang terjadi selalu klise. Ada yang diuji dengan buruknya kondisi ekonomi, ada yang belum juga punya anak setelah bertahun-tahun menikah, ada yang tidak terpenuhi kebutuhan seksualnya karena pasangan terlalu sibuk dengan dirinya sendiri, dan masih banyak lagi permasalahan rumah tangga sejenisnya.

Slavina Alexandra, 27 tahun, merasa kurang beruntung dalam hidupnya karena ditimpa beberapa permasalahan sekaligus. Sudah 3 tahun pernikahannya bersama Rafa, 30 tahun, pekerja serabutan dengan gaji pas-pasan, namun sampai sekarang belum dikaruniai anak. Kondisi ekonomi mereka juga kurang baik meskipun keduanya sama-sama bekerja. Tidak hanya itu, dalam hal seksual pun tidak ada kecocokan diantara keduanya. Alhasil makin lama hubungan mereka pun makin renggang.

Dalam kondisi demikian, keduanya malah memilih untuk makin larut dengan dunianya masing-masing. Vina memilih untuk menghabiskan waktu liburan akhir pekannya di mall, jalan-jalan dan cuci mata bersama teman-temannya. Sementara Rafa lebih memilih untuk nongkrong dengan koleganya di warung kopi. Tidak ada solusi, tidak ada upaya perbaikan, maka bukan hal yang mengejutkan jika hubungan keduanya semakin terabaikan dan tinggal menunggu waktu saja untuk tercerai-berai.


###


VINA​


Tak seperti biasanya, sabtu siang itu Vina pergi ke mall sendirian karena beberapa sahabatnya tengah berhalangan. Tapi itu tidak menjadi masalah baginya, cuci mata di mall meski seorang diri rasanya tetap sama saja. Bahkan momen itu ternyata menjadi pembuka dalam babak baru kehidupannya.

Ketika tengah asyik berjalan, tanpa sengaja Vina bertatapan dengan seorang sales mobil yang lumrah ditemui di bagian tengah mall. Lelaki berpakaian rapi itu tengah memantau sekeliling untuk membidik calon pembeli yang potensial. Begitu bertemu pandang dengan Vina, lelaki itu merasa familiar, sama seperti yang tengah dirasakan Vina. Lelaki itu dengan sigap mendekati Vina, sementara yang bersangkutan memilih diam menunggu di posisinya.

"Vina?" lelaki itu mencoba memastikan.

"Iya. Kamu Roy, kan?" Vina balik bertanya. Lelaki itu mengangguk. Seketika pikiran Vina berkelana pada momen dimana mereka bersama dahulu kala. Kenangan indah saat keduanya berpacaran semasa SMA, sebelum dipisahkan dengan perayaan kelulusan sekolah.

"Boleh minta nomor whatsapp-mu?" Roy memberanikan diri langsung mengutarakan maksudnya.

"Oh, boleh. 081-234-567-890," Vina dengan lancar menyebutkan nomor cantiknya. Lelaki itu segera mencatat di ponselnya, lalu mencoba menelponnya untuk memastikan.

"Udah masuk, nih," Vina menunjukkan tanda panggilan yang masuk di ponselnya, lelaki itu tersenyum senang begitu melihatnya.

"Oke, kalau gitu aku balik kerja dulu ya. Nanti aku hubungi lagi," Roy melambaikan tangan sebelum kembali ke tempat kerjanya.

Baru saja sampai rumah, Vina sudah mendapatkan pesan dari Roy. Tidak butuh waktu lama bagi keduanya untuk kembali akrab. Berawal dari pembahasan nostalgia masa SMA dulu, mengingat momen-momen manis saat masih bersama, berujung ke saling curhat kondisi kehidupan saat ini. Berbeda dengan Vina, ternyata Roy sampai sekarang masih melajang. Belum menemukan pengganti yang lebih baik dari Vina katanya, sungguh gombalan yang jadul. Namun sangat akurat menyerang hati Vina yang tengah rentan.

Tentu saja Vina akhirnya menceritakan bagaimana suaminya yang mulai kurang perhatian kepadanya, tidak seperti waktu awal-awal pernikahan dulu. Obrolan yang kerap terjadi pada awal sebuah perselingkuhan, ketidakpuasan dengan pasangan yang sekarang dan membandingkannya dengan kondisi dari lawan selingkuhnya.

Makin hari percakapan mereka makin intens, meski mulai jarang membahas tentang suami Vina. Percakapan mereka mulai mengarah ke perhatian dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari menanyakan sedang apa, sudah makan apa belum, mau ngapain, dan beragam pertanyaan template yang biasa muncul dalam kehidupan berpacaran.

Tanpa terasa akhir pekan kembali datang, momen yang pas untuk kembali berjumpa dengan gebetan. Sabtu itu Vina pergi ke mall agak sore, menyesuaikan dengan jam pulang Roy. Begitu sampai di sana, Roy segera mengajaknya makan di food court. Lagi-lagi bernostalgia masa mereka pacaran dulu, membahas makanan apa saja yang sudah pernah mereka cicipi.

Tak berhenti di sana, Roy kemudian mengajak Vina jalan-jalan mendatangi tempat-tempat yang pernah mereka datangi sewaktu masih bersama. Mobil Roy melaju cepat membelah jalanan yang mulai diselimuti petang. Beberapa tempat hanya dilewati saja sembari membahas apa saja yang pernah mereka lakukan di sana. Sampai akhirnya mobil Roy berhenti di sebuah taman, tempat dimana dia pertama kali menyatakan perasaannya kepada Vina dulu.

Mereka berjalan santai sembari bergandengan tangan layaknya orang yang tengah berkencan. Ketika sampai di sebuah lokasi dimana momen indah mereka terjadi dahulu kala, Vina mulai berkaca-kaca mengingat kenangan indahnya, sementara Roy dengan tanggap langsung memeluknya. Keduanya pun berpelukan erat untuk beberapa saat, sebelum Vina melepaskan pelukannya dan mengajak Roy untuk segera pergi dari sana.

Mereka berdua berjalan dalam keheningan sampai masuk ke mobil. Vina bimbang tidak tahu harus berkata dan berbuat apa, sementara Roy terlihat sudah siap menghadapi segala kemungkinan. Roy melajukan kembali mobilnya, sementara Vina masih terdiam dengan kecamuk di pikirannya.

"Are you okay?" Roy membuka obrolan di tengah keheningan yang canggung.

"No," balas Vina singkat.

Roy menepikan mobilnya. Menatap Vina lekat-lekat. Setelah beberapa saat beradu pandang, entah siapa yang memulai, keduanya ganti beradu lidah. Tangan mereka saling merangkul, sementara bibir dan lidah terus bergerak mengeksplorasi tiap inci mulut lawannya.

Tak lama berselang keduanya sigap berpindah ke bagian tengah mobil, Roy telah menanggalkan kaosnya, begitu juga Vina. Percumbuan kembali berlanjut, kali ini diiringi saling raba dan saling remas.

"Are you ready?" pertanyaan basa-basi dari Roy. Bagaimana mungkin belum siap, keduanya sudah sama-sama hampir telanjang bulat.

Roy langsung mencumbu sekujur tubuh Vina setelah dia mengangguk. Diawali dari kecupan lembut di bibir, lalu menyisir turun ke leher sampai bagian atas dada. Kedua tangan Roy mulai aktif meremas gundukan montok di dada Vina yang kini terbebas dari penutupnya.

Desahan demi desahan Vina mulai mengalir perlahan, seiring pergerakan Roy yang semakin menurun. Usai melewati area perut dan pusar, fokus Roi tertuju ke bibir bawah Vina yang tembem dan mulus tanpa dikelilingi bulu.

Lidah dan jari jemari Roy kini fokus menyerang satu titik saja, area kewanitaan Vina yang makin lama makin basah dibuatnya. Racauan Vina kala bagian intimnya dimainkan membuat Roy makin bersemangat. Sekitar belasan menit terlewat sebelum Vina melenguh keenakan dan dari liangnya merembes keluar cairan putih kental. Setelah 3 tahun pernikahannya, baru kali ini Vina merasakan nikmatnya orgasme, sayangnya itu berasal dari hubungan dengan lelaki lain, bukan suaminya.

Roy terlihat sudah tidak sabar, batangnya yang sedari tadi mengacung tegak segera diarahkan ke liang kenikmatan Vina. Dalam hitungan detik batangnya segera merasakan kehangatan yang telah lama dinanti. Adrenalin keduanya semakin terpacu karena posisi mobil yang berada di pinggir jalan. Meski bukan jalan yang ramai, namun sewaktu-waktu tetap saja ada kemungkinan orang yang lewat.

Untungnya pergumulan mereka berdua tidak berlangsung lama, setelah beraksi sekitar 5 menit Roy sudah tidak kuasa membendung desakan ejakulasinya. Roy sigap mencabut batangnya dan menumpahkan cairannya di perut Vina.

Tanpa banyak bicara keduanya segera merapikan diri dan membersihkan bekas pergumulan mereka. Suara nafas terengah-engah memenuhi seisi mobil. Roy memacu mobilnya lagi dan beranjak pergi dari sana untuk mengantarkan Vina pulang.

###

"Apa? Kamu berhubungan intim dengan mantanmu? Di mobil? Gila ya kamu!" bentak seorang wanita di sebuah ruangan kantor. Vina memberikan isyarat kepadanya agar mengecilkan suaranya.

"Ya nggak usah teriak-teriak gitu juga kali, Yu," balas Vina sembari menatap sekeliling, memastikan tidak ada yang mendengar teriakan sahabatnya yang bernama Ayu itu.

"Aku paham kamu mulai bosan dengan kehidupan pernikahanmu, tapi ya ga gini juga dong caranya," lanjut Ayu bersiap menceramahi sahabatnya.

"Mulai deh," balas Vina acuh. Dia sudah terbiasa dengan respon sahabatnya itu karena setiap ada permasalahan dia selalu bercerita kepada Ayu dan sahabatnya itu memang selalu seperti itu, namun pada akhirnya nanti dia tetap akan didukung oleh sahabatnya itu.

"Emang kayak apa sih dia?" Ayu agak melunak karena melihat kemalasan di raut wajah Vina. Ditanya demikian, Vina segera mencarikan foto Roy di hapenya dan menunjukkannya ke Ayu.

"Hmm, lumayan juga sih, pantes aja kamu kesengsem," komentar Ayu setelah melihat foto Roy. Vina tersenyum melihat perubahan sikap dari sahabatnya itu. Dan sesuai dugaannya, sahabatnya itu langsung kepo dan menginterogasi tentang mantannya itu. Waktu istirahat mereka dihabiskan dengan pembahasan tentang Roy.

"Dia ngajak main ke luar kota, nih," ujar Vina di sela percakapan mereka.

"Oh, ya? ngajak ke mana emang?" sahut Ayu lebih antusias dari yang diajak.

"Katanya sih mau ke kota B," balas Vina sembari menatap layar hapenya dan membalas pesan dari Roy.

"Terus gimana? udah kamu iyain? mau naik apa?" tanya Ayu bertubi-tubi, tingkat kekepoannya semakin meninggi.

"Ya ini mau aku iyain. Naik mobilnya lah, males banget kalau naik bus atau kereta," Vina masih fokus berbalas pesan di hapenya, sementara Ayu menatapnya penuh rasa penasaran.

"Enak juga ya kamu, ketemu mantan yang lumayan ganteng, mobilnya bagus pula," gumam Ayu pelan.

"Ini namanya rejeki anak solehah," balas Vina sembari menyibakkan rambut hitamnya yang mulai panjang.

"Solehah kok selingkuh," sahut Ayu dengan nada bercanda. Keduanya terbahak serempak sebelum menutup mulut hampir bersamaan karena mendapat tatapan tajam dari teman kantor yang lain.


###

Mobil Roy melaju kencang membelah jalanan di sabtu siang yang cerah. Hotel sudah dipesan, rute liburan sudah disiapkan, segala persiapan sudah dirancang sedemikian rupa oleh Roy. Kini dia tengah asyik menyetir sembari bersenda gurau dengan istri orang di mobilnya.

Hubungan Roy dan Vina semakin akrab, bahkan mungkin lebih dekat dibanding sewaktu mereka masih pacaran jaman SMA dulu. Candaan mereka juga semakin mesum dan menjurus ke arah vulgar. Meski tengah menyetir, tangan Roy tak ragu untuk sesekali mengelus paha mulus Vina atau mencolek putingnya yang menjeplak di kaos tanpa bra.

"Sengaja ya nggak pake bra," ledek Roy dengan raut wajah mesum.

"Awas loh ya, fokus lihat jalanan," balas Vina sambil sesekali menggoyangkan kedua gundukan montoknya yang hanya terbalut kaos.

Sayangnya keceriaan mereka tak berlangsung lama. Di tengah perjalanan tiba-tiba angin kencang datang dari kejauhan. Makin lama angin itu makin mendekat dan menerbangkan apa saja yang dilaluinya. Pohon-pohon besar bertumbangan, atap rumah beterbangan, dan mobil-mobil yang tengah berjalan saling bertabrakan.

Kondisi semakin kacau disertai teriakan orang dimana-mana. Semua orang panik karena tidak tahu harus berbuat apa. Ada yang menghentikan laju mobilnya, tapi tertabrak oleh kendaraan di belakangnya, ada yang tetap memaksa melaju kencang tapi langsung dihantam kendaraan di depannya.

Nasib mobil Roy tak jauh berbeda, remuk diterjang kendaraan lain, lelaki yang telah menyiapkan berbagai rencana itu rupanya tak mampu melawan rencana alam. Roy meninggal di tempat, sementara Vina tak sadarkan diri.

"Puluhan wong mati, atusan ciloko amarga angin pentil muter seng dumadakan teka nang kota B," suara reporter dengan bahasa Jawa berkumandang nyaring di salah satu stasiun televisi lokal. Rafa tengah serius menyimak siaran berita dari layar televisi di rumah sakit.

Sudah beberapa hari semenjak bencana angin puting beliung yang menewaskan puluhan orang. Korban terluka masih banyak yang sedang dirawat di rumah sakit hingga sekarang, dimana salah satunya adalah Vina.

Setelah tak sadarkan diri selama beberapa hari, Vina membuka matanya dan mendapati suaminya, Rafa berada di sebelahnya. Perasaannya tak menentu melihat suaminya yang tertidur pulas sembari duduk di atas kursi dan bersandar di tepi ranjangnya.

Hari-hari berikutnya dilalui Vina bersama suaminya di rumah sakit. Bencana yang menimpa rupanya membawa hal positif berupa membaiknya hubungan mereka. Vina terharu melihat ketelatenan suaminya yang menunggu dan merawatnya selama di rumah sakit. Wanita itu merasa bersalah dengan perselingkuhannya dan merasa layak mendapat hukuman berupa rasa sakit di sekujur tubuhnya akibat bencana itu.

Tidak sampai sebulan Vina bisa kembali pulih seperti sedia kala. Hubungan dengan suaminya juga ikut pulih dan kembali menghangat. Sayangnya ada hal lain yang memburuk setelah Vina keluar dari rumah sakit, kondisi ekonomi keluarga mereka.

Biaya rumah sakit selama berhari-hari nyatanya telah menguras uang tabungan mereka, bahkan Rafa terpaksa harus meminjam uang ke aplikasi pinjaman online. Suatu keputusan yang agak blunder, karena dalam sekejap tagihan dari pinjaman online semakin membengkak dan membuat mereka berdua terlilit hutang yang cukup besar.

Jalan satu-satunya adalah mencari pinjaman ke tempat lain, dan yang paling memungkinkan tentunya dari kantor masing-masing. Sayangnya kantor Rafa tidak berkenan memberikan sejumlah pinjaman. Untung saja Vina bisa mendapatkan pinjaman uang dalam jumlah cukup besar dari kantornya, lumayan lah untuk menutupi sebagian besar hutangnya.

Setelah kembali masuk kantor, Vina segera mencurhatkan kondisinya kepada sahabatnya, Ayu. Seperti biasa Ayu memberikan tanggapan yang baik dan sesuai dengan kebutuhan Vina. Meski tidak bisa membantu dari segi keuangan, tapi bantuan Ayu dari segi dukungan moral cukup membantu perkembangan kondisi psikis dari Vina.

Saat semuanya sedikit membaik, lagi-lagi ujian datang menerpa. Kondisi ekonomi yang tiba-tiba memburuk membuat Vina dan Roy kelimpungan mencari cara untuk membayar hutang mereka di kantor Vina. Masalah demi masalah yang berkaitan dengan keuangan pun muncul dan kembali menimbulkan perselisihan diantara mereka berdua.

###

Sore itu Vina tidak langsung pulang karena mendapat panggilan dari atasannya. Sebelum dia masuk ruangan, dia sudah tahu bahwa panggilan ini terkait hutangnya di kantor yang sampai saat ini belum bisa dilunasinya. Vina telah menyiapkan mentalnya untuk menghadapi apapun yang nanti menimpanya.

"Bagaimana kabarnya, bu Vina?" atasan sekaligus pemilik kantor tempatnya bekerja bertanya dengan ramah.

"Syukurlah sekarang sudah sehat, pak," balas Vina agak takut-takut.

"Santai saja, tidak perlu tegang begitu. Kita bicarakan baik-baik gimana penyelesaiannya," lelaki bertubuh bongsor dan bermata sipit itu masih tersenyum ramah.

"Saya sendiri juga tidak tahu bagaimana bisa membayarnya dengan cepat, pak," kali ini Vina membalas dengan tegas.

Suasana hening sesaat, sebelum lelaki itu mengajukan penawarannya, "Bagaimana kalo saya memberikan penawaran cara membayarnya? Jika tidak ada uang, kamu bisa membayarnya dengan hal lain yang saya butuhkan," lanjutnya setengah berbisik.

"Hal lain apa itu, pak? Saya bersedia melakukan apa saja. Misalnya jam kerja saya ditambah atau porsi pekerjaan saya ditambah juga tidak masalah," sahut Vina cepat.

"Bukan, ini bukan masalah pekerjaan, saya lebih butuh bantuan dalam hal lain," lelaki itu masih berkata dengan nada pelan.

"Apa itu, pak?" firasat Vina mulai tidak enak dan dia mulai menduga kemana pembicaraan ini akan berlanjut.

"Seks," balas lelaki itu singkat, jelas, dan sesuai perkiraan Vina. Suasana kembali hening dan canggung, Vina tidak tahu harus menjawab apa. Dia merasa dilema karena di satu sisi sangat ingin segera melunasi hutangnya, tapi di sisi lain dia tidak mau selingkuh lagi, apalagi dengan orang yang tidak disukainya.

"Tenang, tidak harus kamu jawab sekarang, saya beri waktu maksimal 3 hari lah, nanti silakan ke sini lagi untuk memberikan keputusannya," lelaki itu memecahkan keheningan diantara mereka.

"Baik, pak," balas Vina cepat sebelum dia pamit meninggalkan ruangan tersebut. Lelaki itu memandang bagian belakang tubuh Vina dengan penuh hasrat.

###

Setelah seharian berpikir keras, Vina membulatkan tekadnya dan tidak membutuhkan waktu 3 hari untuk menentukan pilihannya.

Sekarang dia sudah berada di sebuah kamar hotel bintang lima, salah satu hotel termewah di kotanya. Saat pulang kerja tadi, dia langsung ke ruangan atasannya dan menyampaikan keputusannya. Tanpa banyak bicara atasannya langsung memesan satu kamar hotel mewah saat itu juga.

Vina duduk di atas ranjang hotel sembari memandang sekelilingnya, menikmati pemandangan mewah yang baru pertama kali ini dia rasakan. Sementara atasannya tengah mandi sambil bernyanyi riang.

Usai atasannya mandi, gantian Vina yang mencicipi keindahan kamar mandi hotel mewah itu. Bathtub besar berada di tengah kamar mandi yang begitu estetik, dengan pemandangan langsung ke jalanan perkotaan yang ramai. Namun posisi kamar di lantai tertinggi hotel membuat pemandangan itu terasa begitu kecil.

Setelah menyegarkan diri dengan guyuran shower, Vina keluar dari kamar mandi dengan memakai handuk saja. Atasannya ternyata telah menunggunya tanpa busana. Batang lelaki itu segera menegak begitu melihat tubuh Vina yang hanya terbalut handuk.

Entah terbawa suasana hotel atau memang sisi nakalnya mulai bangkit, Vina tiba-tiba melepaskan handuknya sembari bergoyang menggoda atasannya. Lelaki itu tentu saja langsung menerkam tubuh mulus Vina yang tak tertutup sehelai benang pun.

Lelaki itu menindih tubuh Vina di atas ranjang. Tangannya menggerayangi sekujur tubuh Vina yang memancarkan wewangian menggoda. Lidahnya berlari cepat menyusuri setiap jengkal tubuh Vina mulai dari leher sampai ke kaki.

Meski tidak menyukai atasannya, birahi Vina tetap bangkit akibat rangsangan yang diberikan lelaki itu. Tak mau berdiam diri saja, Vina balas menyerang dan memainkan batang atasannya yang tidak lebih besar dari milik suami dan mantannya.

Lelaki paruh baya itu merem melek keenakan menikmati sepongan Vina. Tangan dan mulut Vina bergerak intens memainkan kejantanan atasannya yang makin lama makin berkedut.

"Ah, nggak kuat aku, Vin. Enak banget mulutmu," racau lelaki itu sebelum menumpahkan cairan kentalnya di mulut dan tangan Vina. Wanita itu tersenyum penuh kemenangan karena dengan oral saja sudah bisa membuat atasannya takluk.

Namun dugaannya salah, lelaki itu ternyata belum mau berhenti dan ingin melanjutkan permainan karena batangnya masih berdiri tegak meski sudah mencapai klimaksnya yang pertama.

"Tenang saja, Vin. Aku udah minum obat khusus untuk malam ini," ujarnya menjawab rasa penasaran yang timbul di wajah Vina.

Tanpa memberikan kesempatan kepada Vina untuk membersihkan wajahnya, lelaki itu kembali menindih tubuh Vina, kali ini dia menggesek-gesekkan batangnya yang pendek tapi gemuk ke bibir bawah Vina. Puas merasakan bibir atas, kini dia ingin mencoba bibir bawah wanita itu.

"Buruan dong, pak," ujar Vina tak tahan hanya digesek di bagian luarnya saja. Lelaki itu malah tersenyum dan mengabaikan perkataan Vina.

"Buruan apa nih?" lanjutnya menggoda.

"Buruan masukin lah," Vina agak kesal juga dipermainkan begitu.

"Masukin apanya?" lelaki itu terus menggoda Vina.

"Itunya bapak," balas Vina agak malu-malu.

"Itu apa sih?" lelaki itu terus menggiring Vina agar mengucapkan kata-kata vulgar.

"Penisnya bapak," Vina akhirnya menyerah dan menuruti keinginan lelaki itu.

"Masukin kemana emangnya?" lelaki itu belum mau berhenti.

"Masukin ke memekku sini," balas Vina dengan nada agak manja, dia memutuskan untuk mengalah dan mengikuti segala permainan lelaki itu agar segera selesai urusannya.

"Nah, gitu dong dari tadi," lelaki itu mulai menjebloskan batangnya yang gemuk ke liang Vina. Meski perutnya agak tambun, goyangannya masih lincah dan membuat Vina mulai keenakan.

"Gimana, enak kan penisku?" racau lelaki itu lagi.

"Iya, pak. Enak banget, lebih enak dari suamiku," Vina sengaja berdusta untuk memenuhi harapan lelaki itu. Meski dia merasa keenakan, tapi bila dibandingkan dengan suami atau mantannya ya tetap saja belum sebanding.

"Gila, rapet banget memekmu," goyangan lelaki itu makin cepat, keringat mulai menetes dari dahinya, sementara Vina terus berusaha mengimbangi gerakannya.

"Aduh, aku mau keluar lagi, nih," gumamnya pelan. Benar saja, sejurus kemudian dia bergegas mencabut batangnya dari liang Vina. Setelah itu dia menumpahkan cairan kental keduanya ke tubuh Vina. Setelah cairan pertama mengotori wajah Vina, kali ini area dada dan perut Vina juga berlumuran cairan kental lelaki itu.

"Ayo lanjut ke kamar mandi, bersihkan dulu itu badanmu," perintah lelaki itu setelah puas memandangi tubuh polos Vina yang berlumuran cairannya.

Keduanya berjalan beriringan menuju kamar mandi. Vina mulai membilas tubuhnya dengan air shower, sementara lelaki itu asyik menatap aksi Vina. Menikmati pergerakan wanita itu kala mengusap setiap inci tubuhnya dengan busa.

Menit demi menit berjalan, lelaki itu sudah tidak tahan lagi. Segera saja dia memeluk tubuh Vina dari belakang. Kali ini dia mencumbu tubuh Vina dalam posisi berdiri. Saat cumbuannya mulai turun sampai di bagian bawah, dia meminta Vina untuk membungkuk dan berpegangan di bathtub.

Lelaki itu menjilati dengan ganas liang kewanitaan Vina, berbeda dengan aksinya sebelumnya, kini dia lebih fokus untuk mengoral area sensitif Vina. Di luar perkiraan Vina, permainan oral lelaki itu ternyata tidak kalah jago dengan mantannya. Vina dibuat kelabakan hanya dari pergerakan tangan dan lidahnya saja, sampai akhirnya Vina bisa mencapai klimaksnya yang pertama malam itu.

"Akhinya keluar juga ya kamu," sindir lelaki itu sembari menjilati cairan kental Vina dengan rakus.

Tidak berhenti di sana, lelaki itu kembali menghujamkan batangnya ke liang Vina yang masih membungkuk membelakanginya. Lelaki itu memegangi kedua pinggul Vina untuk membantu aksinya menyodok liang kenikmatan yang telah membuatnya ketagihan.

Posisi doggystyle ternyata membuat lelaki itu lebih bersemangat dan bisa bertahan lebih lama dari sebelumnya. Di sisi lain, Vina sudah mendesah tak karuan sedari tadi, tak menyangka penis lelaki paruh baya itu mampu membuatnya keenakan juga.

Sayangnya ketika Vina mulai keenakan dan bersiap menyongsong klimaksnya lagi, ternyata daya tahan lelaki itu sudah mencapai batasnya. Setelah menumpahkan cairan kentalnya di pantat Vina, batang lelaki itu terkulai lemas, padahal Vina masih merasa nanggung.

Lelaki itu berbaring tak berdaya di dalam bathtub. Vina belum mau menyerah dan kembali memainkan batang lelaki itu dengan berbagai upaya. Mulai dari permainan tangan dan mulutnya, menjepitnya dengan kedua payudara montoknya, sampai menggeseknya di bibir vaginanya. Namun semua usahanya gagal dan dia terpaksa menutup malam itu dengan masturbasi karena lelaki paruh baya itu sudah terkapar kelelahan.

###

"Semuanya lunas, pak?" paginya Vina dibuat terkejut ketika menerima surat kontrak terkait hutangnya yang telah ditandatangani oleh atasannya.

"Iya, ini bayaran atas aksimu semalam. Saya merasa sangat puas," lelaki itu telah berpakaian rapi dan bersiap meninggalkan hotel.

"Terima kasih banyak, pak," Vina sedikit membungkuk untuk memberikan hormat kepadanya.

"Tapi kalau kamu butuh uang tambahan, jangan sungkan untuk mampir ke ruangan saya," lelaki itu mengedipkan matanya memberikan kode.

Setelah lelaki itu pergi, Vina masih mengumpulkan nyawanya yang belum genap. Pagi-pagi sekali dia sudah dikejutkan dengan surat tentang pelunasan hutangnya. Dia masih belum yakin dengan situasi yang dialaminya sekarang. Setelah semalaman berduel dengan lelaki lain, bahkan tidur berdua dengan lelaki yang bukan suaminya, kini tiba-tiba hutangnya sudah lunas, belum lagi suasana hotel mewah yang masih bisa dinikmatinya sendirian beberapa jam lagi, pikirannya terasa penuh dengan berbagai hal.

"Ini bukan mimpi, kan?" Vina menepuk pipinya sendiri, rasa hangat yang menjalar di wajahnya membuatnya yakin bahwa ini nyata. Dia bergegas berganti pakaian dan bersiap untuk menikmati sarapan mewah di hotel bintang lima.

###

"Emang wanita gila ya kamu, bisa-bisanya main sama atasan sendiri," tegur Ayu seperti biasa. Siang itu Vina baru saja bercerita panjang lebar terkait kejadian tempo hari di hotel.

"Ya gimana lagi, tuntutan karir," canda Vina.

"Tuntutan hutang lebih tepatnya," sahut Ayu, keduanya terbahak bersama.

"Gimana emang aksinya pak bos? Jago, nggak?" Ayu kembali kepo seperti biasa.

"Kemarin lumayan sih, tapi katanya pake obat, jadi aku nggak tau normalnya gimana," balas Vina sembari mengingat kejadiannya.

"Terus ada acara lanjutan, nggak?" lanjut Ayu.

"Belum tau sih, katanya pak bos kalo aku butuh uang ya langsung aja ke ruangannya," Vina mengulang perkataan atasannya.

"Lah kamu butuh uang nggak, loh?" Ayu semakin penasaran.

"Ya butuh lah, mana ada orang nggak butuh uang," sahut Vina cepat.

"Iya juga sih, tapi kan," Ayu tidak melanjutkan omongannya.

"Dalam waktu dekat sih kayaknya nggak. Hutang lunas ini udah cukup sih bagiku. Selanjutnya ya waktunya cari uang sendiri," Vina memahami maksud sahabatnya itu dan menenangkannya.

"Nah, gitu dong," Ayu mengacungkan dua jempolnya.

"Tapi ya gatau lagi kalo tiba-tiba pak bos yang nyuruh ke ruangannya," potong Vina cepat.

"Ah, dasar kamunya juga doyan," Ayu membatalkan acungan jempolnya. Vina terbahak tanpa peduli tatapan tajam dari orang di sekitarnya.

###

Celotehan Vina ternyata benar-benar terjadi. Sekitar dua minggu setelah kejadian itu, Vina dipanggil menghadap atasannya lagi. Kali ini Vina lebih santai karena sudah paham apa yang akan terjadi. Bahkan Vina sengaja datang di sore hari, di saat jam pulang kantor.

"Kok baru datang jam segini?" tegur atasannya ketika Vina sampai di ruangannya.

"Kan lebih enak soalnya sepi, pak," goda Vina. Raut wajah atasannya langsung berubah dari tegang menjadi mesum.

"Dasar ya kamu, beberapa hari nggak ke sini saya kira sudah tobat, ternyata masih doyan," nada lelaki itu mulai melunak.

"Kok jadi saya? Ya bapak lah yang doyan sama saya," Vina semakin berani melawannya.

"Iya juga sih, emang saya yang pengen ini," lanjut lelaki itu terus terang.

"Jadi gimana, pak? Mau ke hotel lagi?" Vina malah yang mengajak.

"Nggak dulu, hari ini saya lagi pengen main di kantor," lelaki itu terlihat sudah tidak sabar. Dia segera mendekati Vina dan mencium tengkuknya.

Tanpa menunggu aba-aba, kedua insan yang tengah dimabuk birahi itu segera saling meraba lawan mainnya. Pakaian kerja sudah mereka tanggalkan, menyisakan dalaman saja. Gemuruh libido mereka segera meletup kembali, namun situasi tidak berpihak pada mereka, gemuruh yang lain tiba-tiba mendatangi. Secara mendadak terjadi goncangan cukup keras di sana seperti ada gempa. Keduanya serempak menghentikan aksinya, mencoba mencari tahu apa yang sedang terjadi.

Alarm tanda bahaya tiba-tiba berbunyi nyaring, disusul teriakan-teriakan dari para pegawai yang belum pulang. Keduanya bergegas memakai pakaian mereka kembali dan berlari keluar dari sana.

Goncangan lebih dahsyat tiba-tiba muncul, gedung belasan lantai itu serasa goyah dan hampir ambruk. Suara teriakan orang saling bersahutan bersamaan dengan suara barang terjatuh. Vina dan atasannya berlari bersama para pegawai yang lain di tangga darurat karena lift sudah tidak bisa dipakai lagi.

"Cepat, cepat. Tanah longsor," teriakan keras dari luar gedung membuat para pegawai yang masih di dalam semakin panik. Mereka saling berebut untuk keluar dari sana, saling sikut dan saling tabrak tanpa peduli teman lagi. Beberapa yang terjatuh bahkan telah terinjak-injak oleh temannya yang lain, membuat situasi semakin tak terkendali.

"Tolong, pak," jerit Vina yang tiba-tiba terjatuh karena kecapekan berlari. Atasannya hanya menoleh sejenak, lalu kembali berlari tanpa mempedulikan Vina yang tak kuasa untuk berlari lagi. Wanita itu merasa sangat terpukul, lagi-lagi bencana alam membuatnya tersadar bahwa orang lain tidak benar-benar peduli kepadanya. Mereka hanya akan peduli jika ada butuhnya saja.

Hanya dalam hitungan detik tanah longsor terjadi dan membuat gedung belasan lantai itu ambruk. Beberapa orang sudah berhasil keluar dengan selamat, namun masih banyak yang terkurung di dalamnya entah dalam kondisi seperti apa.

Petugas penyelamat berdatangan untuk melakukan evakuasi dan menyelamatkan beberapa korban yang masih bernyawa. Hampir seharian mereka melakukan evakuasi, belasan orang mengalami luka-luka, namun puluhan lebih korban meninggal di tempat. Atasan Vina termasuk salah satu korban yang meninggal, sementara Vina lagi-lagi berhasil selamat dari bencana.

###

Potret Vina yang berhasil selamat dari bencana alam tiba-tiba menjadi viral di media sosial. Ada yang mengunggah potret saat Vina lolos dari angin puting beliung dan menyandingkannya dengan potretnya saat selamat dari tanah longsor tempo hari. Banyak yang merasa salut dengan keberuntungan Vina yang telah lolos dari dua bencana alam, tapi lebih banyak lagi yang merasa iba dan menggalang donasi untuk membantu proses penyembuhan Vina.

Dalam waktu sekejap jumlah donasi yang terkumpul lebih dari cukup untuk membayar segala biaya rumah sakit. Vina sangat terkejut dengan kedatangan salah satu netizen yang membawa uang hasil penggalangan donasi. Kondisi Vina sudah mulai membaik kala perwakilan netizen itu datang dan merekam momen haru kala Vina menerima hasil donasi dari para netizen. Segera saja nama Vina menjadi viral di sosial media dan mendapat julukan The Woman Who Lived.

Berbagai macam dukungan membanjiri akun media sosial Vina yang semakin bertambah banyak pengikutnya. Berkat dukungan dan bantuan mereka, masa penyembuhan Vina berjalan lancar dan bisa pulih lebih awal dari perkiraan. Setelah benar-benar pulih, Vina tak lagi bingung mencari pekerjaan akibat kantor lamanya yang telah ambruk, sebuah peluang kerja terbuka baginya sebagai konten kreator di media sosial.

Vina membagikan konten-konten motivasi dan bercerita tentang pengalaman hidupnya pasca melewati dua bencana alam. Namanya semakin naik dan kondisi ekonominya mulai membaik akibat banyaknya tawaran iklan dan endorse yang masuk ke media sosialnya. Vina semakin bersemangat untuk mengembangkan kontennya dan berniat terjun sepenuhnya ke media sosial. Apalagi dia juga memiliki cukup kemampuan dalam hal desain grafis.

Seiring berjalannya waktu, Vina semakin banyak menghabiskan waktu untuk membuat kontennya, sementara suaminya juga lebih fokus dengan pekerjaannya sendiri. Kondisi ekonomi keluarga mereka semakin meningkat akibat kerja keras dari keduanya, bahkan kini mereka sudah memiliki rumah sendiri meski masih mengangsur tiap bulannya.

Namun hubungan mereka masih tetap diuji, di kala kondisi ekonomi membaik, kondisi yang lain ganti memburuk. Akibat terlalu fokus dengan dunia masing-masing, hubungan Vina dan Rafa kembali merenggang, ditambah lagi mereka hampir tidak pernah berhubungan intim karena disibukkan oleh urusan masing-masing.

Seperti biasa, Vina mencurhatkan masalahnya ke sahabatnya, Ayu. Setelah mendengar cerita Vina, sahabatnya menyarankan untuk berlatih di gym bersama suaminya. Selain untuk menjaga kebugaran, diharapkan hal itu bisa meningkatkan hubungan intim juga. Vina langsung sepakat dengan saran itu, apalagi hari-hari ini dia mulai kehabisan konten motivasi dan berniat mencari konten lain yang bisa dibagikan. Kebetulan konten tentang olahraga mulai populer akhir-akhir ini. Ibarat sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui, Vina pun memutuskan beralih ke konten olahraga.

###

Hampir sebulan Vina dan Rafa menjalani kegiatan baru mereka di gym. Mereka dilatih oleh salah satu instruktur yang bernama Ahmad, lelaki bertubuh kekar yang sedikit lebih tua dari Rafa. Berkat rutin berlatih di gym, kondisi kebugaran keduanya meningkat dan berimbas ke hubungan intim yang mulai membaik.

Entah akibat rutin berolahraga atau gara-gara pengalaman yang dialaminya, libido Vina makin hari makin meninggi saja, sementara suaminya justru menurun akibat kelelahan bekerja ditambah aktifitas di gym yang cukup intens. Semakin hari Vina semakin bersemangat untuk berlatih karena konten olahraganya ternyata menarik lebih banyak pengikut dibanding konten sebelumnya, cuan yang didapatkan pun semakin membengkak. Sebaliknya Rafa semakin kelelahan dalam menjalani kesehariannya.

Setelah menahan diri selama beberapa bulan, Rafa akhirnya tumbang akibat kelelahan. Iba dengan kondisi suaminya, Vina pun menyarankan agar suaminya mengurangi aktifitas di gym dan lebih banyak beristirahat di rumah. Suaminya sepakat dan sejak saat itu Vina lebih sering berangkat ke gym sendirian, suaminya hanya menemani sesekali saja.

Awalnya itu terlihat sebagai solusi yang tepat untuk hubungan rumah tangga mereka. Namun lama kelamaan hubungan mereka kembali merenggang dan waktu mereka bersama makin berkurang. Konten Vina di media sosial semakin laris manis, pengikutnya makin membanjir, begitu pula cuan yang didapatkan. Rafa pun demikian, pekerjaannya semakin membaik dan pundi-pundi uang yang dihasilkan semakin menjulang.

Lagi-lagi hubungan intim mereka semakin berkurang, dan andai dilakukan pun tidak berjalan maksimal karena Rafa sudah kecapekan duluan sebelum Vina sempat merasa terpuaskan. Perbedaan kondisi fisik akibat intensitas olahraga yang berbeda semakin terasa diantara mereka. Tubuh Vina semakin aduhai dan memanjakan para pengikutnya di media sosial, dia pun tak malu lagi memakai busana yang seksi dan memamerkan auratnya. Apalagi tawaran endorse yang berdatangan lebih banyak berhubungan dengan hal-hal yang seperti itu.

Lama tak terpuaskan libidonya, Vina mengalami perubahan sudut pandang kala berada di gym. Dia yang dulunya hanya fokus berlatih dan membuat konten, kini mulai merasa tertarik dengan penampakan para lelaki kekar yang berseliweran dengan santai di depan matanya. Seiring berjalannya waktu, Vina baru menyadari jika instrukturnya termasuk paling tampan dan paling atletis di sana. Lelaki berjambang tebal khas timur tengah itu makin hari makin mempesona Vina.

Hampir setiap hari Vina memberikan kode-kode kepadanya. Mulai dari merajuk manja kala latihannya agak berat, sesekali melakukan skinship seperti menyentuh tangan atau bahunya, dan mulai mencurhatkan tentang masalah hidupnya.

Lelaki itu ternyata cukup peka dengan perubahan perhatian yang diberikan Vina. Lelaki yang masih single itu balas memberikan perhatian yang sama kepada Vina. Tidak perlu menunggu lama keduanya semakin akrab layaknya gym couple. Hanya tinggal menunggu waktu saja sampai keduanya benar-benar terlibat cinta lokasi.

###

Momen itu akhirnya datang. Malam itu hanya mereka berdua yang tersisa di gym, selain penjaga gym dan petugas keamanan yang menjaga pintu masuk. Keasyikan membuat konten, mereka berdua tidak sadar jika sudah tidak ada orang lain lagi di sana. Setelah menyelesaikan konten, mereka segera bersiap untuk mandi dan berganti pakaian di ruang ganti masing-masing.

"Waduh, shower di kamar ganti wanita rusak ini, mas," protes Vina ke penjaga di lobby gym.

"Iya kah, mbak?" tanya penjaga yang cukup akrab dengan Vina.

"Iya mas, gimana ini?" Vina kebingungan karena tidak mungkin dia langsung pulang dalam kondisi pakaian yang penuh keringat.

"Ada apa ini?" Ahmad keluar dari kamar ganti dengan berkalung handuk.

"Shower kamar ganti wanita rusak, mas," penjaga itu memberikan penjelasan ke Ahmad.

"Oalah. Di kamar ganti pria bisa kok. Di sana aja, lagian udah ga ada orang kok," Ahmad langsung memberikan solusi. "Aku jagain di depan deh biar nggak ada yang masuk," tambahnya untuk menenangkan Vina.

"Nah, sementara gitu aja deh, mbak. Nanti saya laporkan masalah shower ke pemiliknya," sahut si penjaga.

"Iya deh, daripada nggak bisa ganti," balas Vina agak terpaksa. Dia pun menuju ke kamar ganti pria diantarkan oleh Ahmad. Sementara si penjaga kembali ke lobby depan.

"Jangan sampai ada yang masuk loh, ya," ujar Vina kala berada di salah satu bilik kamar ganti Pria. Ahmad berdiri menunggu di pintu masuk kamar ganti seperti petugas keamanan.

"Kalau aku yang masuk gimana?" goda Ahmad.

"Ya gpp sih kalo kamu," balas Vina antara bercanda dan serius, namun mereka berdua sama-sama tertawa.

Vina mulai menyalakan shower dan membilas tubuhnya sampai bersih. Beberapa menit suasana hening diantara mereka, hanya ada suara guyuran air yang memenuhi ruangan. Ahmad sengaja diam untuk membiarkan Vina fokus membersihkan tubuhnya. Tak lama Vina akhirnya keluar dari bilik dengan memakai baju ganti.

"Cepat juga ya mandimu," ujar Ahmad setengah menyindir. Lelaki itu gantian masuk ke dalam bilik yang lain.

"Loh, kamu tadi belum mandi toh," Vina tak menanggapi sindiran Ahmad dan memilih membahas hal lain.

"Ya belum lah," balas Ahmad santai sembari mengguyur tubuhnya dengan air. Libido Vina terpancing akibat melihat Ahmad yang mandi di depannya, meski tidak dalam kondisi telanjang bulat.

"Ngapain lihat-lihat? Sana keluar kalo udah selesai. Tapi kalo mau gabung ya sini," goda Ahmad lagi.

"Yee, ngarep nih ya," balas Vina sembari menjulurkan lidahnya.

"Jadi kamu nggak ngarep nih?" ujar Ahmad sembari melepaskan celananya, satu-satunya kain yang tersisa di tubuhnya.

Vina terhenyak melihat batang Ahmad yang berukuran di atas rata-rata, jauh lebih besar dibanding batang-batang lelaki lain yang pernah dilihatnya sebelumnya. Rambut lebat di sekelilingnya membuatnya semakin terlihat garang dan seolah tak tertandingi.

"Sini kalo mau pegang," goda Ahmad sembari mengacungkan batangnya ke arah Vina.

Meski agak ragu, perlahan namun pasti Vina mulai mendekati Ahmad. Semakin dekat dia semakin menyadari bahwa ukuran batang lelaki itu memang di atas rata-rata ukuran pada umumnya. Ahmad menuntun tangan Vina untuk memegang batangnya yang hampir menegang sempurna. Begitu tangan Vina menyentuh dan mengusapnya, batang Ahmad jadi semakin menegang dan memamerkan urat-uratnya.

Tanpa diperintah, Vina segera berjongkok di depan Ahmad seperti orang yang terhipnotis. Wanita itu segera beraksi memainkan batang raksasa di depannya. Beberapa menit terasa berjalan begitu cepat, namun berbagai upaya yang dikerahkan Vina nyatanya tak mampu membuat batang itu memuntahkan laharnya.

"Tidak semudah itu, Ferguso," sahut Ahmad jumawa. Lelaki itu ganti melucuti pakaian Vina dan meletakkannya di gantungan. Dua insan yang tengah terbuai asmara itu segera saja saling mencumbu satu sama lain dengan liar. Diawali dengan adu ciuman yang ganas, diakhiri dengan permainan oral Ahmad yang ternyata lebih mahir daripada semua lelaki lain yang pernah menyerang Vina.

Tidak butuh waktu lama bagi Ahmad untuk membuat Vina mencapai klimaksnya yang pertama dari permainan oralnya. Setelah liang Vina sudah siap, barulah Ahmad menghujamkan batangnya yang perkasa ke dalam liang kehangatan Vina. Hanya beberapa sodokan saja Vina sudah merasakan kenikmatan yang belum pernah dia rasakan sebelumnya.

Entah berapa lama waktu berjalan, belasan menit sudah terlewat tanpa ada tanda-tanda Ahmad akan mencapai klimaksnya. Sementara Vina sudah meraih klimaksnya yang ketiga berkat pergantian posisi yang mahir dilakukan oleh Ahmad meski dalam bilik kamar ganti yang agak sempit. Mulai dari posisi standar, doggystyle, sampai posisi Ahmad membopong tubuh Vina. Semua dilakukan dengan begitu mudahnya oleh Ahmad, benar-benar terasa layaknya sedang membintangi film bokep. Satu-satunya yang mengakhiri permainan mereka hanyalah suara penjaga gym yang bersiap untuk pulang dan menutup tempat itu. Si penjaga gym tersenyum penuh arti kala mereka berdua berpamitan pulang.

###

Nama Vina semakin terkenal sebagai salah satu konten kreator kesehatan. Untuk merayakan pencapaiannya, Vina dan suaminya mengajak beberapa orang yang terlibat dalam keberhasilan mereka untuk berlibur ke kota B yang terkenal dengan pantainya. Mulai dari Ahmad sebagai instruktur gym, Ayu sahabat Vina, dan tentu saja keluarga mereka.

Perjalanan ke kota B berjalan lancar, cuaca cerah seakan menyambut kedatangan mereka. Begitu sampai di sana, mereka segera bersantai di hotel untuk mengistirahatkan diri sebelum menjalani kegiatan esok. Vina mengajak suaminya keluar sebentar untuk belanja beberapa kebutuhan mereka selama di sana, namun Rafa yang tengah kecapekan sudah terlanjut terkapar di atas ranjangnya.

"Yauda sama aku aja," Ahmad menawarkan diri yang disambut dengan senang hati oleh Vina.

Mereka berdua sekalian berjalan-jalan di salah satu mall yang kebetulan dekat dengan hotel. Sembari cuci mata, mereka berdua berjalan santai layaknya pasangan yang tengah berkencan.

Perjalanan membawa mereka ke salah satu gerai pakaian, dimana Vina berulangkali memilih pakaian dan menanyakan ke Ahmad apakah pakaian itu cocok untuknya.

"Semua pakaian cocok aja kalo kamu yang makai," balas Ahmad menggombal. Wajah Vina memerah, dia akhirnya memilih salah satu yang paling sesuai seleranya.

Ahmad mengantarkan Vina mencoba pakaian di kamar ganti. Namun saat Vina membuka kaosnya untuk diganti dengan pakaian yang hendak dicobanya, Ahmad tiba-tiba memojokkan Vina. Lelaki itu sudah tidak tahan begitu melihat tubuh mulus Vina.

Kedua tangan Vina diangkat tinggi, bibir Ahmad langsung menyosor ketiak mulus Vina yang beraroma menggoda.

"Eh, jangan di sini dong," bisik Vina cemas.

"Udah, santai aja," balas Ahmad sembari terus mencumbu dan menjilati ketiak Vina.

"Ihh, geli tau," desah Vina manja. Ahmad justru semakin bernafsu untuk menggagahi wanita itu.

Tak mau membuang waktu, Ahmad bergegas melorotkan celana dalam Vina dan berpindah menjilati bibir bawahnya. Secara reflek Vina langsung menutup mulutnya sendiri dengan tangan agar desahannya tidak terdengar keluar.

Hanya dalam hitungan detik Vina sudah menyemburkan cairan kentalnya, mungkin efek adrenalin yang lebih tinggi akibat beraksi di tempat umum. Ahmad tersenyum puas dengan aksinya, namun dia tidak berhenti begitu saja.

Ahmad mendorong tubuh Vina ke bawah agar bergantian memainkan batangnya yang sudah dikeluarkan dari sarangnya. Wanita yang tadinya ragu itu kini dengan sepenuh hati memainkan batang kesukaannya. Tak seperti biasanya, Ahmad pun terdampak dengan situasi dan batangnya mulai berkedut pertanda ejakulasinya hampir datang.

Tak mau keluar di mulut Vina, lelaki itu meminta Vina menghentikan aksinya dan berbalik menungging ke arahnya. Begitu Vina menuruti permintaannya, Ahmad langsung menghujamkan batangnya ke dalam liang Vina yang masih becek.

Kali ini Ahmad memang ingin bermain cepat, setelah menyodok liang Vina dari belakang secara perlahan, Ahmad bergegas mempercepat iramanya agar batangnya segera mencapai ejakulasinya.

Hanya dalam hitungan menit, Ahmad akhirnya mencapai puncaknya, dan ternyata pada saat bersamaan Vina juga meraih klimaksnya yang kedua. Cairan kental dari keduanya bercampur dan meleleh keluar dari liang Vina.

"Gila memang kamu," bisik Vina sembari mendaratkan kecupan di bibir Ahmad. Lelaki itu kembali tersenyum puas.

###

Selama beberapa hari di sana, Ahmad berulangkali mencari kesempatan dalam kesempitan untuk bisa melakukan quickie bersama Vina. Bahkan selama di sana Vina tidak pernah berhubungan intim dengan suaminya sama sekali.

Puncaknya adalah pada malam terakhir mereka di sana. Vina mengajak Ahmad untuk jalan-jalan di pantai yang agak jauh dengan hotel di saat yang lain sudah tidur semua. Perjalanan romantis mereka di pantai tentu saja berujung ke hubungan seks penuh gairah di ruang terbuka. Dan ternyata tidak hanya mereka saja yang melakukan itu, ada beberapa pasangan baik bule maupun lokal yang juga berbuat hal yang sama di sana.

Malam semakin larut, namun pantai malah semakin ramai. Keramaian yang di luar prediksi tiba-tiba datang. Ombak besar datang menyapu semua pasangan mesum yang tengah asyik bercumbu di sana. Entah sudah bisa dikategorikan tsunami atau tidak, ombak besar itu menggulung tak hanya para manusia di pesisir pantai saja, namun bangunan-bangunan yang ada di dekatnya juga mengalami nasib yang sama.

Dalam hitungan menit puluhan korban berjatuhan di sepanjang pantai. Ahmad yang berupaya melindungi Vina turut terseret ombak dan hilang entah ke mana. Sementara Vina yang menyadari datangnya bencana lagi malah merekamnya dan menjadikannya konten. Lagi-lagi wanita itu berhasil selamat, begitu juga semua anggota keluarganya yang ada di hotel. Untungnya ombak itu tidak mencapai lokasi hotel keluarganya.

Berita tentang ombak besar itu akhirnya sampai di hotel keluarga Vina. Ayu dan hampir semua keluarga Vina kecuali anak-anak bergegas mendatangi pantai itu. Begitu mereka sampai di sana, Rafa ternyata sudah lebih dulu di sana.

Ombaknya sudah tidak ada, menyisakan bangunan yang hancur dan puluhan korban yang bergelimpangan. Rafa bersama keluarganya dan juga Ayu bergegas mencari Vina. Di luar dugaan mereka, Vina tidak terlihat shock layaknya orang yang terkena bencana.

Vina malah asyik mengunggah konten rekamannya tadi di media sosial. Semua orang lega karena kondisi Vina baik-baik saja, mereka belum menyadari jika ada satu korban dari mereka yaitu Ahmad, sang instruktur gym yang malang.

Baru esoknya mereka tahu ketika hendak pulang, ruang hotel Ahmad kosong, hanya tersisa barang-barangnya saja. Info dari salah satu petugas keamanan menyatakan bahwa semalam Ahmad keluar dari hotel bersama dengan Vina dan belum kembali lagi sejak saat itu.

Vina langsung berpura-pura menangis dan menceritakan bahwa semalam Ahmad mengantarnya ke pantai, namun mereka terpisah akibat ombak yang tiba-tiba muncul.

"Sepertinya dia jadi korban ombak semalam juga," ujar Rafa datar, namun matanya menatap Vina seolah tidak mempercayai ucapannya, begitu juga dengan Ayu.

Usai berkabung sejenak atas hilangnya Ahmad, mereka pun meninggalkan hotel dan kembali pulang. Perjalanan yang diawali dengan niatan untuk bersenang-senang ternyata berakhir agak tragis.

Ketika sampai di kota asal dan hendak berpamitan, Ayu memandang Vina dengan sorotan yang seolah-oleh mengatakan bahwa Vina berhutang penjelasan kepadanya.

###

Beberapa hari setelah kejadian itu, Vina terkejut saat memeriksa media sosialnya. Pengikutnya di media sosial tiba-tiba berkurang drastis. Tidak hanya itu, video yang diunggahnya tempo hari terkait rekaman aksinya lolos dari gulungan ombak rupanya mendapatkan banyak sekali hujatan alih-alih dukungan.

Ada yang menyebutnya settingan, ada yang mengecapnya tidak tahu diuntung, ada juga yang menyebutnya sebagai pembawa sial. Hanya dalam hitungan hari julukannya berubah dari The Woman Who Lived menjadi Calamity Girl.

Setelah beberapa hari mendapat serangan dan hujatan dari netizen, Vina akhirnya tidak kuat dan menutup akun media sosialnya. Bahkan dia juga tidak lagi berkeluh kesah kepada sahabatnya, Ayu. Sejak kejadian di kota B, hubungan Vina merenggang dengan sahabatnya. Kini Vina merasa sendiri tanpa ada yang menemani.

Namun di kala kondisinya terpuruk seperti itu, suaminya lagi-lagi menjadi satu-satunya orang yang mendukung dan memberinya semangat. Vina kembali tersentuh dengan kebaikan suaminya sampai akhirnya dia mengakui tentang semua perselingkuhan yang dia lakukan.

Vina berlutut meminta maaf kepada suaminya. Setelah perjalanan panjangnya mengejar kenangan bersama mantan, mengejar harta dari atasannya, serta mengejar seksualitas dari instrukturnya, ternyata semua itu hanyalah fana belaka dan pada akhirnya tetap saja hanya suaminya lah yang akan selalu ada untuknya.

"Aku juga minta maaf ya, sayang. Aku tidak bisa memenuhi kebutuhan seksualmu, aku belum bisa mencukupi ekonomi keluarga kita, aku bukan suami yang baik buat kamu," Rafa memeluk Vina yang tengah berlutut.

"Tapi kamu sudah berusaha, mas. Sementara aku malah selingkuh sana sini. Aku janji tidak akan mengulangi lagi, mas. Maafkan aku," Vina melanjutkan tangisannya dalam pelukan suaminya.

"Gpp sayang, kita jadikan ini pelajaran bersama. Mari kita mulai hubungan kita dari nol lagi," Rafa menenangkan istrinya yang terisak.

Hari itu seolah menjadi titik balik dalam hubungan rumah tangga mereka. Sejak saat itu hubungan mereka kembali seperti awal pernikahan dulu. Harmonis dan lengket kayak perangko. Komunikasi mereka juga membaik dan lebih terbuka dibanding sebelumnya.

Kondisi itu berjalan berbulan-bulan, bahkan makin hari hubungan mereka makin membaik. Ekonomi juga mulai stabil. Satu-satunya hal yang menjadi kekhawatiran mereka hanyalah bagaimana persiapan mereka untuk segera mendapatkan momongan.

###

"Mas, aku kok kayaknya kecapekan ya," ujar Vina suatu hari.

"Mau dipanggilkan tukang pijet, kah?" tanya suaminya yang tengah serius memeriksa pekerjaannya.

"Boleh deh," balas Vina sembari memegangi punggung dan bahunya.

"Oke, aku sekalian ikut pijet, deh," Rafa segera memesan tukang pijat untuk dia dan istrinya.

Beberapa jam kemudian datanglah 2 orang yang dipesan oleh Rafa. Vina agak terkejut karena tukang pijat yang datang tidak seperti tukang pijat pada umumnya. Satunya lelaki berkulit hitam berbadan kekar, satunya lagi bule.

"Mas, bener ini tukang pijetnya?" bisik Vina kepada suaminya.

"Bener kok, yang. Sesuai aplikasi," Rafa menenangkan istrinya.

Setelah berbasa-basi sejenak dengan keduanya, Rafa menugaskan si bule yang bernama Tony untuk memijat Vina di dalam kamar, sementara Andre yang berkulit hitam kebagian memijat Rafa di ruang tamu.

"Tukang pijetnya laki-laki gini, gpp ta mas?" Vina merasa agak cemas.

"Ya gpp lah, kan cuma pijet tangan, kaki, sama punggung toh," Rafa kembali menenangkan istrinya.

Prosesi pemijatan segera dimulai sebelum terlalu malam. Vina berganti pakaian dengan dalaman saja dan memakai sarung untuk menutupi tubuhnya. Tony mulai mengoleskan minyak ke area tangan dan kaki Vina. Lalu lelaki bule itu mulai memijat tangan dan kaki Vina.

Vina mulai merasa nyaman dengan pijatan lelaki itu yang pas baginya, tidak terlalu sakit namun tetap terasa. Nyaris saja Vina ketiduran saking enaknya pijatan lelaki itu.

Namun feeling Vina tidak enak kala Tony mulai mendekati area-area sensitifnya. Dan ternyata dugaan Vina terbukti, Tony dengan berani memijat gundukan pantat Vina dan menyerempet ke belahan pantatnya.

Vina bimbang dengan situasi yang dialaminya, dia sudah bersumpah akan setia dengan suaminya, namun tidak bisa dipungkiri dia juga agak tertarik dengan lelaki bule itu. Apalagi sudah lama dia tidak dipuaskan seperti saat terakhir bermain dengan Ahmad.

Di saat Vina tengah bergelut dengan pikirannya, Tony sudah semakin berani dan terang-terangan menggosok bibir bawah Vina. Wanita itu masih bingung dengan dilemanya, dia hanya pasrah saat jari lelaki itu mengobel liangnya.

Melihat Vina yang tidak melakukan perlawanan, Tony segera melorotkan celana dalam Vina dan semakin intens memainkan area kewanitaannya.

Desahan Vina mulai keluar perlahan, pertanda wanita itu sudah menyerah dengan nafsunya dan membiarkan Tony melanjutkan aksinya. Sarung sudah tergeletak di lantai, berikut bra dan celana dalam Vina. Sekujur tubuhnya telah berlumur entah minyak apa, Tony telah memijat sekaligus menggrepe sekujur tubuhnya.

Setelah itu, Tony dengan santainya melepas pakaian seolah sedang berada di rumahnya sendiri. Batangnya yang besar dan mengacung tegak mengingatkan Vina kepada Ahmad, hanya saja kali ini warnanya putih, berbeda dengan Ahmad yang kecoklatan.

Tanpa diminta, Vina langsung bangkit dari tidurnya dan berjongkok di lantai untuk mengoral batang Tony. Seperti binatang yang dilepaskan ke alam bebas, Vina beraksi liar memainkan batang si bule dengan tangan dan mulutnya.

Setelah beberapa menit berjalan, Vina sudah tidak kuasa menahan libidonya lagi. Dia mendorong Tony ke ranjang, lalu Vina naik ke atas tubuh lelaki itu dan menghujamkan batang besar itu ke dalam liangnya.

Vina bergoyang penuh semangat seperti pengendara kuda yang tengah memacu kudanya. Dalam posisi wot, Vina bebas bergerak sesuka hatinya. Tony berbaring dengan santai dan mengikuti irama permainan Vina.

Tanpa sepengetahuan Vina, suaminya ternyata sedang mengintip dari luar kamar bersama Andre. Meski Vina menutup mulutnya agar suaranya tidak terdengar keluar, tetap saja sia-sia karena suaminya sudah melihatnya langsung.

Andre tiba-tiba memberikan kode kepada Rafa, lelaki itu mengangguk dan membiarkan Andre ikut masuk ke dalam kamar, sementara Rafa tetap mengintip dari celah pintu.

Kedatangan Andre yang telanjang bulat membuat Vina semakin kebingungan. Pertama dia terkejut melihat batang Andre yang hitam dan kekar, dan lebih besar dari milik Ahmad maupun Tony. Kedua dia mempertanyakan dimana keberadaan suaminya.

Andre mendekati mereka dan memberikan isyarat bahwa ini semua perintah dari suaminya. Tentu saja Vina merasa girang karena menganggap suaminya sedang memberikan hadiah entah perayaan ulang tahun atau apa kepadanya, yang sebenarnya sudah jauh terlewat.

Vina tak lagi menutup mulutnya dan meracau keenakan kala dihajar secara bergantian oleh dua orang yang perkasa. Bagaikan pergantian shift, setiap lima menit Tony bergantian dengan Andre untuk menyodok liang kenikmatan Vina. Entah sudah berapa kali Vina mencapai klimaksnya malam itu.

Setelah beberapa kali bermain dengan mode shift, kemudian mereka beraksi bersama untuk menyerang Vina. Tepat di bagian tengah ruangan, Vina berjongkok di lantai dan disodok dari belakang oleh Andre, sementara Tony berdiri di depan Vina dan tengah dioral batangnya.

Vina tak lagi bisa meracau karena mulutnya juga sibuk bermain dengan batang Tony. Sementara Andre di belakangnya terus menyodok dengan kecepatan penuh. Dua lelaki itu seperti robot seks yang tidak mengenal kata lelah, bahkan sampai sekarang keduanya belum juga mencapai klimaksnya. Padahal Vina sudah tidak terhitung lagi jumlahnya.

Tanpa terasa puluhan menit sudah terlewati. Berbagai macam posisi sudah dicoba oleh ketiganya sampai mereka tidak tahu lagi posisi apa yang belum diterapkan.

Semakin malam, suasana semakin panas di ruangan itu, bahkan tiba-tiba beberapa barang di dalam kamar terbakar oleh api. Makin lama api semakin membesar dan mengepung tiga insan yang tengah beradu peluh. Saat itulah Vina baru menyadari bahwa dia tidak lolos dari ujian yang diberikan oleh suaminya. Kondisi tubuh yang sama-sama kepayahan membuat ketiganya tidak berdaya untuk pergi dari sana.

"Ampuni aku, suamiku. Maafkan aku yang telah melanggar janjiku," teriak Vina berulang-ulang. Namun dalam hitungan detik teriakannya itu tak lagi terdengar. Kobaran api melahap mereka bertiga dan membakar rumah besar itu sampai tak tersisa apapun di dalamnya.

###
 
"Gimana? Hidupmu sudah penuh permainan kan, nak?" ujar seorang lelaki tua yang familiar.

"Iya, kek. Ternyata begini ya kehidupan sebagai Rafathar sang pengendali empat elemen alam," balas Rafa santai sembari mengingat momen dimana dia mengendalikan beberapa elemen dan menyebabkan bencana alam.

"Semua orang memiliki perannya masing-masing dalam kehidupan," lanjut lelaki itu.

"Begitu juga dengan Slavina ya, kek. Sesuai namanya, dia benar-benar menjadi sex slave," sahut Rafa, ada kegetiran dalam nadanya. Lelaki tua itu tersenyum sebelum pergi menghilang begitu saja.

Rafa berjalan gontai meninggalkan bekas rumahnya. Seorang wanita sudah menunggu kedatangannya di ujung jalan.

"Gimana?" tanya wanita itu dengan nada lembut, nada yang tidak pernah didengar oleh Rafa dari istrinya.

"Kali ini aku sudah tidak bisa menyelamatkannya lagi, semua sudah berakhir," Rafa menunduk lesu.

"Jangan terlalu menyalahkan diri sendiri, ingatlah kamu sudah berulang kali berbaik hati menyelamatkan istrimu, walau dia tidak layak diselamatkan," lanjut wanita itu untuk membesarkan hati Rafa.

"Terima kasih ya sudah bersabar menungguku," Rafa tersenyum sembari memeluk wanita itu.

"Bila memang takdirnya begitu, aku pasti tetap menunggu selama apapun itu," bisik wanita itu mesra. Rafa menatap mata indah wanita itu, yang kini mulai berkaca-kaca.

"Apa kamu sudah benar-benar melepaskan ikatan dengan istrimu?" lanjut wanita itu agak terbata-bata akibat menahan tangis.

"Mantan istri," Rafa mengkoreksi perkataan Ayu sebelum mencium bibirnya.

- END -
 
Jav Toys
Gaple Online Indonesia
Pasang iklan hanya lewat CONTACT US
Back
Top
We are now part of LS Media Ltd