Agen Terpercaya   Advertise
 
 
 
Pasang iklan, hanya lewat Contact Us.
Waspada penipuan iklan. Klik di sini untuk melihat daftar penipu.

FANTASY Love Is More - The Organization

reinhartreno

Kakak Semprot
Daftar
3 Sep 2019
Post
166
Like diterima
293
Bimabet

Chapter 1 - Have We Met Before??

November 2013, Minggu pertama

"Engghh.... mmmphh terus Ren, terus.. Mppphhh"

"Ini enak banget sayang... Mmmpphhhh" ujarnya sambil memaju-mundurkan pinggangnya menghujam lubang surgawi milik gadis tersebut.

"Ahhh... terus... Mpppphhhh...Bentar lagi aku sampai.. Engghhh" lenguhan gadis itu membuatnya menaikkan tempo gerakan pinggulnya

"Aaaakuuu jugaaaaa... sebentar lagiii... Mmmmppppphhhh"

"Kkkkkyaaaaaaaaaaa....." teriak gadis itu yang diikuti dengan tubuhnya yang menggelinjang hebat




27729626577e7b5d2b49b65d15c6cd188f5c50e5.jpg





"KRIIIINGGGGG......KRIIIIIIINGGGGGG......KRIINNGGGGGGGGG!!"


Suara dering telepon membangunkannya, laki-laki dengan rambut lurus dan potongan shaggy berwarna hitam itu tampak sedikit kecewa karena menyadari bahwa yang terjadi sebelumnya adalah ingatan tentang mantan kekasihnya di dalam alam mimpi. Hari itu masih terlihat terang saat laki-laki tersebut beranjak dari kursi malas yang membuatnya tertidur karena semalaman mengerjakan tugas kuliah yang tidak kunjung selesai dan terus menghantuinya. Setelah sedikit sadar, dia menuju sumber suara telepon tersebut.

"Gila, kenapa kejadian dengan Acha kembali berputar di ingatanku" ujarnya dengan langkah gontai menuju meja dengan telepon rumah di atasnya

"Gimana kabarnya ya?? Terakhir kali seperti itu memang dengan dia seorang" gumamnya yang terduduk di kursi dan terdiam sejenak, mengacuhkan dering telepon yang terus berbunyi sedaritadi

"Halo" akhirnya dia mengangkat panggilan itu

"Selamat siang, benar ini dengan rumah keluarga Reinhart?"

"Iya kenapa?"

"Bisa bicara dengan kak Reno?"

"Iya saya sendiri, maaf ini dengan siapa ya??"

"Ini dari kantor majalah Rhythm ingin menkonfirmasi jadwal wawancara"

"oh, baiklah"


Laki-laki itu bernama Reno Navle Reinhart, seorang mahasiswa di salah satu kampus yang tidak terlalu terkenal, namun tetap memiliki kebanggan tersendiri bagi mereka yang berhasil menjadi bagian daripadanya.


"Begini mas cuma mau mengkonfirmasi nanti jam 8 malam ke kantor untuk wawancara di lantai 3, kalau bisa personel bandnya harus lengkap ya."

"Oh begitu ya, baik kak nanti saya sampaikan kepada teman-teman"

"Baik kak ditunggu kedatangannya. Terima kasih."


Sambungan telepon terputus dan Reno kembali ke teras samping rumahnya. Dia duduk di lantai yang menggunakan perkerasan batu alam dan memandang ke arah kolam ikan yang terdapat beberapa ikan hias. Suara gemericik air dan juga hembusan angin menemani Reno siang itu.


"Hai ikan, apakah kau tak punya masalah?? Kau berenang seperti itu membuatku iri.." ujar Reno seakan mengajak ngobrol ikan-ikan tersebut. Namun mereka tetap diam membisu dan berenang berkelompok. Ditengah-tengah lamunan Reno terdengar bunyi panggilan dari ponselnya yang sempat membuat kaget. Dengan wajah sedikit kesal dia menjawab panggilan itu.


"Halo sob lama amat angkat teleponnya, lagi terjebak kenangan mantan?"

"Ya seperti itu kira-kira, ada apa??" jawab Reno dengan sedikit bercanda

"Hahaha, gini sob nanti wawancaranya jadi jam berapa? Sepertinya aku enggak bisa bareng harus nganter nyokap dulu"

"Oh iya tadi orang dari majalah itu menghubungiku dan bilang kalau wawancaranya jam 8. Tapi mungkin aku sudah standby di sana jam 7."

"Baiklah aku akan kesana tidak sampai jam 8. Sudah dulu ya sob."


Reno menutup panggilan dan melempar ponselnya ke sofa yang berada di sampingnya. Tidak lama berselang dia kembali mengambil ponselnya dan menghubungi teman-teman yang lainnya.


"Halo Putri? Nanti jadi wawancara ya jam 7. Kumpul di rumahku jam 6 ya."

"Oke siap pak boss." jawab Putri melalui panggilan ponsel Reno.

"Oke sekarang tinggal Bahari yang belum ku kabari." ujar Reno


Sesaat setelah menghubungi Putri, Reno langsung mencari kontak Bahari, teman satu fakultas dan satu jurusan dengan Reno dan Kira, sedangkan Putri merupakan mahasiswi Desain Komunikasi Visual di fakultas yang sama dengan mereka.


"Ah aku lupa, ponsel Bahari sedang rusak. Apa aku ke tempat kosnya sekarang aja ya sekalian jemput dia?. Sepertinya lebih baik begitu." ujar Reno dalam hati.


Reno segera bersiap-siap dan langsung menuju tempat kos Bahari yang terletak cukup dekat dengan rumahnya. Setibanya dari menjemput Bahari, tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 6 lebih 15 menit, mereka duduk di ruang tamu sambil menikmati secangkir kopi sambil menunggu Putri yang rencananya akan datang jam 6 sore.


"Hampir setengah 7 ini sob, dimana Putri?" tanya Bahari

"Entahlah, kita tunggu sebentar lagi" ujar Reno sambil mencoba menghubungi Putri


Tidak lama berselang terdengar seperti suara memanggil Reno dari luar. Reno dan Bahari segera beranjak keluar rumah dan mendapati Putri tengah berdiri di depan gerbang Rumah Reno. Tanpa pikir panjang Reno segera mengambil mobil dan mereka segera menuju ke tempat wawancara tersebut. Setelah perjalanan sekitar 30 menit akhirnya mereka sampai juga di sebuah gedung berlantai 5 yang merupakan tempat wawancara dengan sebuah majalah di kota itu.


"Jam 7 lewat 5 menit. Kalian ke atas dulu saja aku mau menunggu Kira" ujar Reno kepada Bahari dan Putri


Bahari dan Putri hanya mengangguk dan langsung menuju ke lantai 3 tempat wawancara itu berlangsung, sedangkan Reno duduk di loby gedung sambil memainkan ponselnya. Tidak lama berselang karena rasa lapar yang menyerang Reno beranjak keluar dari gedung tersebut dan memutari komplek gedung sambil berharap ada penjual makanan yang lewat.


"Aah .." tiba-tiba langkah Reno terhenti pada sebuah halte bis yang tidak jauh dari gedung tersebut


Matanya tertuju pada senyum manis seorang gadis di halte bis.


"Kak, nunggu bis juga?" uja Reno basa-basi seraya menghampirinya

"Mmm iya, kakak nunggu bis juga?" dia menjawab dengan senyum kecil di bibirnya.

"Ah jangan panggil kak, kita seumuran deh kayaknya. Panggil saja Reno", seloroh Reno sok kenal.

"Ah iya kak Reno", jawab gadis itu

"Lho sudah dibilang jangan panggil kak, Reno aja. Kalau si cantik ini namanya siapa?" tanya Reno

"Melody. Panggil aja Melody" jawab gadis itu

"Ooh Melody, pantes aja " jawab Reno sambil melihat sekeliling

"Kenapa emangnya?" tanya Melody

"Kayak pernah lihat deh, eh bukan maksudku.." jawab Reno dengan sedikit gugup


Selang beberapa menit mereka berdua mulai asik mengobrol sampai terdengar bunyi panggilan dari ponsel mereka berdua. Melody segera menjawab panggilan tersebut namun Reno tetap membiarkan ponselnya berdering.


"Mel, aku udah di depan kampusmu, kamu balik ke kampus ya pulang sama aku", suara dari telepon itu terdengar oleh Reno karena mereka berdekatan

"Gak usah aku bisa pulang sendiri. Jangan hubungi aku lagi!!", begitu perkataan yang keluar dari mulut Melody. Tak lama berselang Melody segera menutup panggilan tersebut dan memasukkan ponselnya ke dalam tas.

"Mmm dari pacarnya ya,Mel?", tanya Reno memulai pembicaraan lagi


Gadis itu tidak menjawab dan memalingkan wajahnya dari hadapan Reno.


"Eh maaf kok bukan bermaksud apa-apa, sori-sori Mel".

"Oh gak apa-apa kok..", jawab Melody sambil berusaha tersenyum


Setelah kejadian itu mendadak suasana canggung, Reno tidak tahu harus memulai pembicaraan dari mana lagi karena takut salah. Begitu juga dengan Melody yang hanya diam. Tidak lama berselang bis yang ditunggu Melody pun tiba. Dia hanya tersenyum lalu masuk menuju bis meninggalkan Reno yang masih terpana, entah karena senyuman gadis itu begitu menawan atau karena Reno masih bingung dengan kejadian yang baru saja terjadi.


"Aaaah bodoh kenapa aku tidak meminta nomor ponselnya..", gerutu Reno


Senyumannya begitu sedap dipandang, menyejukkan hati orang yang melihatnya..


Itu awal pertemuan mereka. Pertemuan yang akan membawanya melalui pengalaman baru yang tidak pernah dia bayangkan sebelumnya. Namun dia tidak tahu, yang sudah dia ketahui untuk saat ini adalah seorang gadis yang bernama Melody berserta senyumnya yang paling indah. Dan sejak saat itu dia memanggilnya dengan "Si Senyum Renyah"


2772963427a92b46f04bbf51abb7ebeb37d9eef0.jpg





November 2013, Minggu kedua


"Melody, panggil aja Melody.."


Suara itu terus terngiang di pikiran dan membuatnya tidak bisa tidur dengan tenang selama 3 hari terakhir. Tampak rasa penasarannya bertambah besar seiring dengan hilangnya jejak gadis itu. Sedikit penyesalan di hatinya bahwa pada hari itu mereka bertemu untuk berpisah.


"Sudah pagi ternyata. Sepertinya aku benar-benar butuh tidur lebih" ujarnya seraya mengusap matanya yang masih lengket dan melihat jam dinding yang menempel pada dinding sisi kanan dari tempat tidurnya. Dia terbelalak dan kaget melihat jam dinding yang menunjukkan pukul 7 lewat 15 menit. Dengan tergesa-gesa dia pergi ke kamar mandi dan pergi ke kampus, karena hari itu adalah deadline pengumpulan tugas.

Sesampainya di kampus, dia dan temannya yang bernama Kira yang memilih untuk melewati lobby gedung fakultas mereka karena tertarik dengan kerumunan mahasiswa disana.


"Desain Agriculture dan Desain Agrobisnis 2013 bersama Univ.Atmakarya Sentosa", ucap Kira membaca spanduk di loby fakultas

"Atmakarya Sentosa? Sepertinya aku pernah tahu universitas itu" ujar Reno

"Kampusnya beberapa blok di sebelah kampus kita. Seharusnya kau menyadarinya" ujar Kira sedikit sinis

"Oh benar kah? Sepertinya aku kurang fokus haha." ujar Reno tertawa

"Sepertinya kau butuh hiburan sob." ujar Kira masih dengan nada sinis


Reno tidak menjawab perkataan Kira, dia diam termenung seperti memikirkan sesuatu.


"... Mel aku udah di kampusmu„ cepet balik ke kampus..." tiba-tiba kalimat itu terlintas di pikirannya.

"Eh sob, gedung tempat kita wawancara kemarin letaknya di sekitar kampus??" tanya Reno kepada Kira

"Iya sob, tepatnya di seberang kampus kita. Kemarin kan kita lewat jalan yang baru saja di perbaiki, jadi enggak lewat jalanan depan kampus" jelas Kira

"Gedung yang ada halte bis itu diseberang kampus kita?" tanya Reno penasaran

"Iya sob, coba aja cek pake peta yang ada di ponsel pintarmu." ujar Kira sambil memainkan ponselnya


Tanpa menjawab perkataan Kira, Reno langsung membuka ponsel pintarnya dan mengecek peta sekitar kampus mereka. "Hahaha aku baru sadar kalau gedung kemarin, kampus kita dan Universitas Atmakarya Sentosa itu masih satu kawasan" ujar Reno pada Kira

"Makanya kalo ngampus itu yaa lihat sekitar„ jangan wanita saja yang kau lihat." seloroh Kira sambil menuju ke kelas.

"Namanya juga jomblo sob hahaha" timpal Reno sambil tertawa


Mereka berdua masuk ke dalam kelas dan setelah mengumpulkan tugas, Reno mengajak Kira untuk melihat-lihat pameran yang berada di loby fakultas. Pameran itu sendiri bisa dibilang cross major study karena melibatkan 2 program studi yang berbeda dalam hal disiplin ilmu. Sambil melihat-lihat, perhatian Reno tertuju pada sosok seorang gadis dengan rambut yang dikuncir dan memakai kemeja putih serta dipadukan dengan celana skinny jeans. Karena penasaran Reno akhirnya mendekati gadis tersebut.


"Maaf kak kalau boleh tahu ini pameran apa ya?" tanya Reno kepada gadis tersebut

"Ini pameran..." jawab gadis itu dengan sedikit wajah terkejut setelah mengetahui bahwa Reno yang bertanya

"Kok bengong aja kak? Mmm maksudku Melody" ujar Reno yang memastikan apakah pikiran gadis tersebut masih berada ditempat itu atau tengah berjalan-jalan ke dalam ingatannya sendiri.

"Kamu yang waktu itu ya? Di halte bis??" ujar Melody sambil menunjukkan ekspresi wajah tidak percaya

"Iya aku yang di halte bis waktu itu. Kamu kuliah di Universitas Atmakarya Sentosa??" tanya Reno

"I..iya. Kamu kuliah disini?? Jurusan apa?" tanya Melody dengan sedikit gugup

"Ya begitulah, aku kuliah jurusan arsitektur. Ini acara mu ?" tanya Reno

"Wah calon arsitek ya kereeen!! Iya ini acaraku ayo ramein ya haha ." ujar Melody sambil tertawa

"Kalau gitu boleh join nih??" tanya Reno sambil mengambil bolpoint dan menuliskan namanya di form yang tertera di atas meja

"Boleh-boleh ayo join ajak teman-teman mu. Nanti siang ada seminarnya juga loh dan pembicaranya juga orang keren!!" ujar Melody merayu


Reno hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya tanda bersedia. Setelah menulis namanya di form tersebut dia memberikannya kepada Melody.


"Loh aku pikir namamu Reno, kok ditulis Rein Hart??" tanya Melody dengan heran

"Ah benarkah? Maaf maaf aku pikir kamu lupa namaku." ujar Reno sambil menambahkan kata 'Reno' di depan kata Reinhart.

"Aku bukan tipe orang yang pelupa kok. Kamu tenang aja" ujar Melody sambil mengecek kembali nama yang ditulis oleh Reno

"Baguslah, sekarang susah cari cewek yang cantik dan daya ingatnya kuat. Oh ya berarti kamu sampai sore disini??" tanya Reno


Wajah Melody tiba-tiba memerah karena perkataan Reno barusan. "Iya sampai sore kok aku Ren" jawabnya


"Kalau gitu nanti habis seminar aku ajak lihat-lihat kampusku ya, siapa tahu kamu berminat untuk pindah supaya kita gampang ketemunya" ujar Reno seraya tersenyum

"Bisa aja kamu Ren, iya deh aku mau nanti aku tunggu disini aja ya" jawab Melody sambil tersenyum

"Kita tukeran nomor ponsel aja Mel biar enak, biar gak nyari-nyari gitu nanti." usul Reno

"Boleh, nih nomorku" ujar Melody sambil mengeja nomor ponselnya Setelah mereka bertukar nomor ponsel, Reno pergi meninggalkan Melody karena dia harus melanjutkan kelas kuliahnya.

Acara seminar telah berakhir, Reno mengajak Melody untuk melihat-lihat kampusnya hingga akhirnya mereka berhenti di kantin pusat dan memesan makanan dan minuman. Mereka mulai mengobrol dan bercanda seperti sudah saling kenal sejak lama.


"Oh iya waktu itu ngapain kamu ada di halte bis, Ren??" tanya Melody sambil menikmati waffle pesanannya

"Oh itu aku lagi nyari kunang-kunang, Mel" jawab Reno singkat

"Ha? kunang-kunang?? terus dapet gitu ??" tanyanya dengan rasa penasaran

"Enggak sih„ tapi aku nemu sesuatu" cerita Reno yang rupanya membuat Melody sedikit penasaran

"Nemu apaan???" tanyanya dengan penasaran

"Nemu gadis cantik penunggu bis" ujar Reno setengah meledek

"Hiii, apaan yaa penunggu bis. Situ juga penunggu bis ah" ujarnya tak mau kalah

"Hahaha bercanda-bercanda, Mel" kata Reno menenangkan


2772964414d8955454646d61edd2f87fc9c242cc.jpg


Mereka berdua mengobrol sampai hari menjelang gelap. Tanpa mereka sadari, sepasang mata tengah menatap dan mengamati mereka. Seseorang yang sudah lama mengenal Reno, yang datang dengan sebuah maksud dan tujuan.​



**To Be Continued**
 

Chapter 2 - Cause And Effect

November 2013, Minggu kedua

Beberapa hari setelah pertemuan mereka yang kedua, membuat mereka saling mengenal satu sama lain dan terlihat sangat dekat. Mereka sering menyempatkan bertemu untuk sekedar makan siang ataupun mengobrol entah itu di kampus ataupun di luar.

"Hari ini makan di mana Ren??" terdengar suara Melody dari seberang

"Ada cafe enak di dekat sini sih, baru buka juga. Gimana??" jawab Reno

"Okee. Tapi aku enggak bisa lama-lama ya Ren, ada janji" ujar Melody

"Beres, aku jemput sekarang ke kampusmu ya" kata Reno

"Siap bosku" jawab Melody


Reno menutup panggilan melalui ponselnya dan bergegas menuju parkiran namun kali ini ponselnya berdering kembali. Sebuah panggilan dari seseorang membuat Reno cepat-cepat menjawab panggilan tersebut.


"Halo ada apa ma??" ujar Reno

"Halo kamu lagi di mana nak?" bunyi suara dari ponsel Reno yang ternyata adalah mamanya

"Di kampus nih ma, Mama lagi dimana??" tanya Reno

"Oh Mama masih dirumah nak, nanti anterin mama ke airport ya jam 4 sore"

"Mama mau kemana emang nya??"

"Kakakmu di Sydney ada pertemuan orangtua di kampusnya, jadi terpaksa mama yang datang, papamu kan masih di Singapura"

"Oh iya ma nanti Reno anter kok"

"Oke nak, kuliah yang rajin yah"

"Siap boss!!" ujar Reno sambil menutup panggilan dari mamanya


Reno kembali menuju mobilnya yang diparkir di dekat aula serbaguna. "Aku hampir lupa jika mempunyai seorang kakak perempuan,, yaa sudah hampir 5 tahun dia berada di Australia melanjutkan studi S-2 nya, tapi belum selesai juga, entah apa yang dia kerjakan disana" gumam Reno dalam hati.

- Trap & Fusion Cafe -
Nama yang unik untuk sebuah cafe yang memadukan pernak pernik sulap dan juga didukung oleh suasana yang comfort untuk ukuran cafe yang tidak terlalu merogoh kocek anak kuliahan. Dengan wallpaper bermotif hijau horizontal dan dipadukan dengan warna coklat mampu membuat betah customer mereka. Begitu juga Reno dan Melody yang larut dalam obrolan mereka hingga waktu menunjukkan pukul 2 lebih 5 menit.

"Loh udah jam segini aja, kita balik yuk Ren. Aku ada janji sama dosen buat presentasi hasil pameran kemarin di kampusmu" ujar Melody sambil membereskan tasnya dan kemeja putihnya serta kembali memakai blazer warna coklatnya

"Oh iya udah jam segini gak kerasa. Ayo deh aku juga nanti sore mau nganter nyokap. Eh Mel itu pin mu hampir lepas" ujar Reno seraya beranjak menuju kasir lalu membayar billnya.

"Eh Ren, kali ini aku yang traktir ya" ujar Melody sambil menyodorkan uang kepada kasir

"Eh ngapain gak usah" ujar Reno sambil menyingkirkan tangan Melody dari hadapan kasir

"Udah kali ini aku yang traktir ya. Oke kamu harus nurut!!" ujar Melody dengan wajah sedikit jutek

"Hahaha oke oke baik boss kamu yang traktir hari ini" jawab Reno sambil memasukkan uangnya kembali

"Nah gitu dong" ujar Melody sambil tersenyum

Akhirnya mereka berdua kembali ke kampus Melody dan setelah itu Reno menuju Member Cafe yang merupakan cafe langganannya. Sembari menghabiskan waktu menunggu janjinya untuk mengantarkan mamanya ke airport.


277296684491d7d8eaa376c9b5f90ebb18c8818f.jpg




- Member Cafe -
Sambil menunggu pesanan, Reno membaca majalah musik yang terletak di rak majalah di sudut ruangan cafe tersebut. Tidak lama berselang ponsel Reno berbunyi, dan rupanya pesan singkat dari Kira.


"Dimana sob? Enggak feel latihan?" begitu isi pesan dari Kira

"Boleh, tapi diatas jam 6 ya aku mau nganter nyokap dulu" balas Reno

"Oke" balas Kira dengan singkat


Tidak lama berselang pesanan Reno datang, hot chocolate kesukaannya langsung tersedia di atas meja. Sambil membaca majalah musik sayup-sayup terdengar pembicaraan dari seseorang di balik kursi tempat Reno duduk.


"Fotonya sudah aku terima. Gadis dengan kemeja putih dan memakai rompi coklat ini sasaranku? Apa? Aku hanya perlu menakutinya? Baiklah, lalu kau akan datang? Hahaha klasik sekali. Baiklah serahkan padaku"

"Gadis dengan kemeja putih dan rompi coklat?? Melody? Ah bukan. Mungkin orang lain" gumam Reno dalam hati


Reno berusaha mengacuhkan apa yang barusan dia dengar, namun tidak dapat dipungkiri bahwasanya rasa penasaran Reno muncul karena ada yang berusaha melakukan hal yang tidak baik pada seseorang. Dia termenung beberapa saat sambil berpikir hingga akhirnya dia menuju ke tempat kasir dan memesan sebuah minuman dingin yang cukup menyegarkan. Namun setelah memesan Reno tidak langsung kembali ke tempat duduknya melainkan menunggu minumannya selesai dibuat. Setelah selesai dia membawa minumannya ke tempat duduknya dan melewati tempat duduk dari orang yang berada di balik mejanya.

Bruaaaakkkk!!

"Hey nak!! Apa-apaan kau!! Kalau jalan yang bener lihatlah celanaku jadi basah seperti ini!!" terdengar bunyi suara parau dan berat serta sedikit menakutkan memecah keheningan yang ada

"Maaf maaf pak saya tidak sengaja maaf pak.." ujar Reno sambil mengambil tisu yang berada di meja orang tersebut

Beberapa pelayan datang untuk melihat kondisi orang tersebut. Sambil Reno terus berusaha membersihkan celana orang tersebut, seseorang staf cafe datang dan membantu Reno serta meminta maaf pada orang tersebut

"Maaf ya pak, ini kejadian yang tidak disengaja.." ujar staff tersebut kepadanya

"Sudah sudah!! Saya mau keluar dari sini!!" teriak orang itu seraya beranjak dan pergi meninggalkan cafe tersebut

"Wah dia orangnya temperamen ya.." ujar staff yang membatu Reno tersebut

"Ya, dan terimakasih atas bantuannya. Dia belum membayar pesanannya? Masukkan di billku saja ya.."ujar Reno kepada staff tersebut

"Beres mas Reno tenang saja. Gimana apa bener dia mau ngelakuin kejahatan??" tanya staff tersebut

"Sepertinya memang begitu. Maaf ya mas Haris harus kehilangan pengunjung hari ini" ujar Reno meminta maaf kepada staff tersebut

"Gak usah dipikirin mas, pengunjung yang lain masih banyak kok. Ada lagi yang perlu dibantu?" tanya staff tersebut

"Gak ada kok mas, terima kasih banyak mas Haris.." ujar Reno seraya kembali ke mejanya. Beberapa pelayan membereskan meja orang yang pergi tersebut dan menemukan secarik kertas dan memberikannya kepada Reno "Mas ini ada secarik kertas mungkin bisa membantu. Saya temukan tadi waktu bersih-bersih meja orang itu." ujar seorang pelayan .kepada Reno. "Ah terima kasih.." jawab Reno sambil membuka kertas tersebut yang ternyata berisi sebuah tulisan.


"Universitas Atmakarya Sentosa"


"Ternyata memang benar. Aku harus melakukan sesuatu.." gumam Reno dalam hati


Segera Reno mengambil ponselnya dan mengirim pesan singkat kepada Melody. Tak lama berselang balasan dari Melody datang dan Reno langsung menghubunginya


"Mel, kamu pulang dari kampus jam berapa??" tanya Reno

"Mungkin jam 6 Ren, kenapa??" tanya Melody

"Pulang naik apa Mel??"

"Bareng temenku sih, ada apa sih Ren??"

"Ah enggak aku cuma tanya aja kok. Hati-hati ya nanti pulangnya.."

"Siap boskuu" jawab Melody seraya menutup panggilan dari Reno


Reno hanya terdiam dan tertunduk seperti tidak ada yang bisa dia lakukan. Tapi dia tahu, sesuatu akan terjadi sore ini. Dan itu sangat tidak diharapkan olehnya.



**To Be Continued**
 
Terakhir diubah:

Chapter 3 - False Hopes (Part - 1)

"Jaga rumah baik-baik ya nak, Mama berangkat dulu.." ujar wanita separuh baya sambil memeluk Reno

"Ma Reno sudah gede pasti beres semuanya, lagian Mama enggak lama-lama kan di Sydney.." jawab Reno menenangkan wanita itu.


Reno melepas pelukan mamanya dan melambaikan tangan seiring dengan hilangnya wanita itu menuju pesawat yang akan terbang menuju Sydney.


"Oke sekarang ngapain nih? Oh iya latihan. Tapi gimana sama Melody ya.." gumam Reno sambil menuju parkiran. Reno masih memikirkan tentang kejadian yang terjadi di Member Cafe sebelum mengantarkan mamanya ke airport, seseorang yang hendak berbuat buruk pada Melody. Tanpa pikir panjang Reno segera memacu mobilnya menuju Universitas Atmakarya Sentosa tempat Melody menimba ilmu. Dalam waktu kurang dari setengah jam Reno sudah berada di depan kampus. Dia memarkirkan mobilnya dan keluar menuju warung-warung yang berada di sekitar kampus untuk memantau keadaan sambil memesan minuman.

Hari semakin gelap, waktu sudah menunjukkan pukul 18.30 dan Melody belum terlihat keluar dari kampusnya. Reno yang mulai cemas seakan ingin sekali menghubungi Melody, namun dia berpikir dengan tenang jika dia menunjukkan rasa khawatir yang berlebih hal ini akan membuat Melody curiga.

Akhirnya dua orang gadis keluar dari dalam kampus dan menuju ke arah halte bis yang terletak tidak jauh dari kawasan kampus. Satu gadis bisa dipastikan adalah Melody dan yang satunya merupakan teman kuliah Melody. Reno hanya melihat dari arah warung yang terletak cukup jauh dari halte namun masih bisa melihat dengan jelas apa yang terjadi di halte bis tersebut.

Dan seperti yang sudah Reno tebak, 2 orang laki-laki dengan tubuh yang tegap tinggi mendatangi Melody dan temannya. Mereka tampak biasa saja pada awalnya namun semakin lama semakin menunjukkan tingkah yang tidak sopan. Laki-laki yang memakai topi koboi coklat segera menodongkan pisau ke arah teman Melody sedangkan Melody ditodong pistol oleh laki-laki yang satunya. Reno yang melihat itu segera berdiri dan hendak menghampiri Melody namun belum sampai Reno di halte bis muncul sosok laki-laki yang memukuli kedua penjahat tersebut. Dipukulnya tangan penjahat yang menodongkan pistol ke arah Melody dan dengan sekali tendangan membuat penjahat tersebut jatuh tersungkur, begitu juga dengan penjahat yang membawa pisau segera berhasil dilumpuhkannya dengan mudah.
Melody jatuh terduduk dengan wajah penuh ketakutan.


"Meellll!!!" teriak Reno


Laki-laki tersebut terkejut dengan teriakan Reno dan hampir memukul Reno tepat di ulu hati namun Reno dengan sigap menangkisnya


"Aku teman Melody!" ujar Reno yang sempat menangkis pukulan laki-laki tersebut sebelum akhirnya dia berhenti

Melody segera tersadar dan melihat Reno berada di tempat itu. "Reno?!!" ujar Melody setengah berteriak

"Sayang kau gak kenapa-kenapa?" ujar laki-laki tersebut sambil membantu Melody untuk berdiri

"I..iiya aku gak apa-apa.." jawab Melody setengah ketakutan

"Ayo aku antar kamu dan temanmu pulang. Terima kasih karena telah membantu berteriak" ujar lelaki itu kepada Reno yang hanya terdiam


Melody tidak berkata apa-apa kepada Reno, dia hanya diam dan dengan wajah ketakutan dibantu berjalan oleh lelaki tersebut.


"Tunggu siapa kau? Mau kau bawa kemana Melody?!!" ujar Reno

"Aku kekasihnya, dia aman bersamaku.." jawab lelaki itu

"Sudah Ren aku gak apa-apa, aku pulang sama dia aja" jawab Melody dengan nada bergetar sambil sesenggukan

Reno hanya terdiam melihat Melody ikut bersama lelaki yang mengaku sebagai pacarnya tersebut. "Ada apa ini??!!" gumam Reno



November 2013, Minggu kedua - akhir pekan

Setelah kejadian kemarin malam, Reno menghubungi Melody dan bertanya mengenai keadaannya. Mereka berdua membuat janji untuk bertemu di Member Cafe sore harinya.


"Mbak, udah ada meja atas nama Melody??" tanya Reno kepada pelayan yang bekerja di Member Cafe

"Oh mas Reno toh ini, cakep bener mau kencan ya" kata pelayan

"Ah mbak ini bisa saja, biasa mbak cuma temen kok, gimana ada meja atas nama Melody??" tanya Reno

"Melody.. Ada kok mas, di lantai 2 di meja view yang menghadap kolam. Oh namanya Melody ya. Wah sepertinya dia pintar mencari tempat dan suasana untuk berdua lho mas Ren", candanya setengah menggoda


Reno hanya mengangguk sambil tersenyum simpul mengiyakan perkataan mbak itu dan segera menuju ke lantai 2, mencari meja yang dimaksud..

Setibanya di lantai 2 Reno melihat sekeliling dan pandangannya terhenti pada sosok seorang gadis bergaun putih, cantik anggun. Berambut hitam terurai memanjang sepanjang punggung, dan tangan yang terlihat putih lembut halus. Namun tangan itu tidak sendirian, dilihatnya tangan itu tengah memeluk pundak seseorang sambil berdansa diiringi lagu Right Here Waiting For you milik Richard Max..

Apa yang Reno pikirkan saat itu adalah mencoba melihat kepada pundak siapa tangan itu memeluk, namun yang terlihat hanyalah slayer merah melingkar di leher tubuh besar itu.


"Reno!!", teriakan itu menyadarkan pikirannya

Segera gadis bergaun putih itu mendatangi Reno dengan senyuman merekah di wajahnya

"Kamu lama, sudah jam berapa ini", kata Melody dengan nada sedikit kecewa

"Ah maaf jalanan macet tadi Mel. Aku pikir hanya kita berdua, ternyata salah" ujar Reno sambil melihat ke arah laki-laki yang berada di belakang Melody

"Oh dia, Brian sini ada yang mau aku kenalin" panggil Melody

Segera laki-laki itu mendatangi Reno dan mereka berjabat tangan serta berkenalan..

"Reno"

"Brian, pacarnya Melody" kata laki-laki itu

"Ini Reno temen aku yang waktu kejadian kemarin ada di sana, Reno ini Brian." ungkap Melody



Alunan nada indah terbesit perlahan-lahan menghilang diserap nada-nada distorsi..

Tangga nada yang sebelumnya terlihat jelas kini mulai nampak samar-samar..

Terhadir olehnya bayangan-bayangan gelap menghapus si putih..

Si putih bersih lembut nan suci..

Tanpa noda..


Tanpa dosa...

"Oh iya aku teman Melody yang kemarin. dan juga dari kampus sebelah", ucap Reno mencoba tersenyum

"Aku mendengar banyak dari Melody, kamu calon arsitek dan anak band ya?? wah hebat-hebat. Tapi sayang sekali Melody tidak suka sama anak band" ujarnya sambl tertawa

"Ah apasih enggak kok Ren cuma bercanda itu Brian" ujar Melody menanggapi omongan Brian


Reno hanya bisa tersenyum kecut mendengar percakapan itu. Jauh di lubuk hatinya dia tidak tahu apa yang akan terjadi setelah ini karena ini diluar perkiraannya. Akhirnya mereka bertiga duduk di tempat yang telah di pesan oleh Melody. Mereka mulai mengobrol dan Brian mulai menyombongkan pekerjaannya sebagai salah satu direktur di perusahaan ternama meskipun usianya bisa dibilang tidak terpaut jauh dari Reno dan Melody.

Setengah jam berlalu dengan obrolan-obrolan ringan, hingga semua terdiam dan suasana menjadi hening. Reno berinisiatif membuka obrolan lagi.


"Sering kesini juga ya Mel?? Kok tau pemandangan dari sini bagus??" tanya Reno

"Sering sih enggak, ya dulu diajak sama Brian ini" ujar Melody

"Iya bagus ya sayang??" Brian menimpali seraya mencubit pipi Melody

"Oh" ujar Reno singkat

"Kamu sering kesini juga??" tanya gadis itu

"Lumayan, sering nongkrong sama teman-teman" jawab Reno singkat


Ditengah kecanggungan mereka bertiga, seseorang staff cafe memecah keheningan dengan berdiri di atas stage dan mengejutkan beberapa pengunjung.


"Teman-teman yang saya hormati, disini ada salah satu personil Band yang sering live perform disini, bagamana kalo kita panggil dia untuk menyanyikan satu lagu saja malam ini?? setuju??" ujar staff tersebut

"Setuju..!!!"sorak para pengunjung sambil memberikan tepuk tangan

"Nah ayo mas Reno, silahkan" kata staff tersebut mempersilahkan

"Oke baiklah jika kalian memaksa" ujar Reno sambil malu-malu


Pada awalnya Reno hendak mengambil gitar yang berada di samping sound itu, tapi diurungkan niatnya dan dia menuju ke arah piano klasik yang berada di sudut panggung.


"Lagu ini kupersembahkan kepada semua wanita yang telah hadir disini, dan juga telah mengisi sebuah hati dengan kelembutan dan kasih sayang. " ujar Reno seraya duduk di kursi di depan piano hitam besar itu.


Not sure if you know this
But when we first met
I got so nervous I couldn't speak
In that very moment
I found the one and
My life had found its missing piece
So as long as I live I love you
Will have and hold you
You look so beautiful in white
And from now til my very last breath
This day I'll cherish
You look so beautiful in white
Tonight
What we have is timeless
My love is endless
And with this ring I
Say to the world
You're my every reason
You're all that I believe in
With all my heart I mean every word
So as long as I live I love you
Will have and hold you
You look so beautiful in white
And from now til my very last breath
This day I'll cherish
You look so beautiful in white
Tonight
Oooh oh
You look so beautiful in white
So beautiful in white
Tonight
And if a daughter is what our future holds
I hope she has your eyes
Finds love like you and I did
Yeah, and when she falls in love, we'll let her go
I'll walk her down the aisle
She'll look so beautiful in white
You look so beautiful in white
So as long as I live I love you
Will have and hold you
You lo.ok so beautiful in white
And from now til my very last breath
This day I'll cherish
You look so beautiful in white
Tonight
You look so beautiful in white
Tonight



- Shane Filan, Beautiful in White -



Dengan bermain piano Reno bernyanyi dan Melody tampak antusias melihat dan mendengarkan. Sesekali tampak dia tersenyum kepada Reno.


Sebuah malam yang indah.. Untuk sesorang yang indah.. Dari hati yang terluka..


Setelah selesai membawakan sebuah lagu, Reno kembali ke tempat duduknya diiringi dengan riuh tepuk tangan para pengunjung yang hadir. Sambil tersenyum dia mengucapkan terima kasih kepada pengunjung dan juga kepada Member Cafe tentunya.


"Lagunya bagus Ren!! Aku pikir kamu cuma bisa main gitar" ujar Melody sesaat setelah Reno kembali ke tempat duduknya

"Sebetulnya sih bukan cuma gitar, piano dan biola juga sering aku mainkan kalau pas lagi bosan.."tukas Reno

"Sepertinya bakatmu memang di dunia seni ya" jawab Melody


Reno hanya tersenyum seraya meminum minumannya yang berada di atas meja. Brian yang sedari tadi sibuk memainkan ponselnya menyela obrolan Melody dan Reno.


"Sudah jam setengah sepuluh malam ya" ujar Brian.

"Kenapa memangnya??" tanya Melody

"Aku lupa ada janji jemput papa di airport" ujar Brian

"Oh kalau gitu kamu jemput papa dulu aja", kata Melody

"Kamu gimana??" tanya Brian

"Aku bisa pulang naik taksi kok" jawab Melody

"Jangan, ehm Reno bisakah aku minta bantuanmu? Daripada naik taksi sendirian malam-malam, tolong antar Melody pulang" pinta Brian

"Oh bisa kok tenang aja" sahut Reno

"Baiklah, kapan-kapan kita nongkrong lagi. Aku duluan ya sayang " ujar Brian

"Hati-hati ya" jawab Melody

"Hati-hati sob" tukas Reno


Setelah beberapa saat Brian meninggalkan Melody dan Reno suasana menjadi hening kembali, tampak raut wajah Melody yang berubah. Raut wajah yang sedari tadi tampak sedikit tertekan kini perlahan mulai rileks dan tampak tenang.


"Sudah malam Mel, kamu gak mau pulang??" tanya Reno

"Nanti aja yaa" pinta Melody

"Baiklah, sepertinya ada yang mau kamu ceritakan" ujar Reno memancing

"Sebenernya, kami berdua tidak mendapat restu dari papa Brian. Aku juga agak ragu sama Brian. Dia sering ketangkap basah jalan dengan wanita lain. Belum lagi gaya hidupnya yang jauh dari kata sehat. Dia seorang perokok berat dan peminum" ujar Melody panjang lebar

"Bukannya kalian kemarin sempat putus? Terus kenapa sekarang balikan Mel??" tanya Reno dengan wajah penasaran

"Kalau soal itu karena kejadian kemarin di halte bis" ungkap Melody

"Soal dia yang menyelamatkan kamu??" tanya Reno

"Iya, setelah itu aku diantar pulang kerumah. Besok siangnya dia ngajak balikan. Entahlah waktu itu aku gak bisa nolak." cerita Melody

"Karena kamu ngerasa hutang nyawa sama dia? Mungkin kamu bisa meminta waktu untuk memikirkannya lagi" saran Reno

"Iyah sih. Aku mau minta tolong bisa??" pinta Melody

"Apapun deh demi gadis penunggu bis ini hehe" kata Reno setengah meledek

"Selama aku masih belum yakin sama Brian, kamu masih mau nemenin aku?" tanya Melody

"Jangan khawatir, aku akan selalu ada kok, tinggal kamu hubungi pake ponsel and i'll be there" ujar Reno seraya tersenyum

"Makasih ya Ren, you're such a good person." jawab Melody sambil tersenyum

277297135bcd854f593d62bf2dbc2c30f2d9d964.jpg



"Nah gitu dong senyum, cantik." jawab Reno


**To Be Continued**
 
Terakhir diubah:

Chapter 4 - False Hopes (Part - 2)


November 2013, awal Minggu ketiga

Sinar matahari pagi masuk melalui celah jendela dan membangunkan Reno yang tengah terlelap di tempat tidurnya. Setelah membersihkan diri dia segera menuju ke dapur karena rasa lapar mulai menyerang dirinya. Namun ternyata tidak ada apa-apa di dapur karena dia lupa bahwa mamanya sedang di Sydney untuk beberapa hari. Sehingga akhirnya dia memutuskan untuk mencari makan di Member Cafe.
Setibanya di Member Cafe, Reno segera memesan makanan dan sedikit penasaran dengan kerumunan orang di seberang Member Cafe. Terlebih lagi terdapat mobil ambulans dan mobil polisi.


"Mbak di depan itu ada apa sih kok rame" tanya Reno kepada pelayan yang mengantarkan pesanannya

"Oh, tadi pagi ditemuin mayat laki-laki gantung diri" cerita pelayan itu

"Mayat??!! " ujar Reno sedikit kaget

"Iya mas, dengar-dengar sih dia depresi karena banyak hutang ke rentenir" jawabnya

"Kasian, jaman sekarang masih ada rentenir ya mbak" tukas Reno

"Begitulah mas, laki-laki itu sering kesini juga minta uang keamanan" jawabnya

"Benarkah? Aku kok gak pernah kelihatan ya mbak?" tanya Reno

"Sering kok mas, cuma mungkin mas enggak sadar, mereka pakai baju biasa kayak pengunjung yang lainnya" jawabnya

"Wah, lain kali bilang mbak kalau ada yang begituan. Saya ada teman di kepolisian mungkin bisa membantu" jawab Reno seraya meminum hot chocolate pesanannya

Pelayan itu menggangguk dan membereskan meja yang berada disebelah meja Reno.

"Ehh mbak nitip bentar yah, aku mau beli majalah di depan nanti balik lagi" kata Reno terburu-buru

"Iya mas" jawabnya

Reno mendatangi lokasi tempat mayat itu ditemukan dan dengan susah payah akhirnya dia berhasil menerobos kerumunan warga yang tertarik melihatnya. Tiba-tiba seseorang menepuk pundak Reno

"Mas Reno yah?? Anaknya Pak Carlo Reinhart??"

"I..iya. Maaf bapak siapa ya??" tanya Reno sedikit bingung

"Saya Penyidik dari pusat mas, temennya Pak Carlo dulu waktu masih di Pusat Forensik" jawab lelaki itu

"Ooh Pak Anthony yaa saya ingat pak" kata Reno mencoba mengingat-ingat, padahal dia sempat melirik kartu tanda pengenal yang dikalungkan di leher lelaki itu

"Benar mas, gimana kabar bapak?? sehat??" tanya Pak Anthony

"Sehat kok pak, sekarang lagi di singapura katanya ada beberapa operasi besar disana" jawab Reno

"Wah sukses ya, salam buat bapak ya mas" kata Pak Anthony

Papa Reno seorang dokter ahli bedah ternama, sebelum ke Singapura dia bekerja di penyidik forensik pusat.

"Saya jadi teringat waktu pak Carlo masih di forensik pusat, mas Reno menjalani berbagai macam pelatihan. Dan untuk seumuran mas waktu itu sama sekali tidak mengeluh, bahkan terlihat sangat menikmati" lanjut pak Anthony

"Ah iya, waktu itu hampir 2 tahun yang lalu sebelum kembali ke kota ini. Nanti saya salamkan kepada beliau. Ngomong-ngomong ini ada apa ya pak??" tanya Reno

Anthony bercerita bahwa ditemukan mayat laki-laki yang tewas gantung diri. Namanya Ryan, penduduk sekitar sini dan merupakan seorang pengangguran. Sementara ini motif masih mengarah ke beban psikis karena banyaknya hutang. Orang yang pertama kali menemukannya adalah Rizal, salah satu temannya yang sama-sama menganggur.

"Sudah di otopsi pak??" tanya Reno

"Ini mau kami bawa ke lab. Saya duluan ya mas" pamit Pak Anthony

"Iya pak hati-hati.", kata Reno sambil tersenyum

Dengan diam-diam Reno mencoba mengakses tempat kejadian perkara yang telah dikelilingi oleh garis polisi. Dia menemukan 3 botol minuman yang telah kosong dan juga sebuah kaleng bir berbeda merk yang masih setengah. Lalu dia menuju ke tempat sampah yang berada di sudut ruangan, dengan menggunakan saputangan yang selalu dibawanya, dia tidak menemukan apa-apa selain kotak bekas makanan, 3 tutup botol, dan sebotol air mineral yang terbuka namun hanya berkurang tidak hampir separuhnya. Kemudian Reno keluar sambil menoleh kanan-kiri untuk memastikan tidak ada yang melihatnya, namun seseorang ternyata tengah memperhatikannya sejak awal dan menegurnya.

"Kalau orang biasa seharusnya tidak diperbolehkan untuk memasuki tempat kejadian perkara. Dan beruntung aku yang memergokimu" sebuah suara mengagetkan Reno

"Ah maaf aku hanya berjalan-jalan sebentar karena...". Reno terdiam dan berusaha mengingat-ingat seseorang yang berada di hadapannya.

Seorang wanita yang terlihat lebih dewasa dari Reno namun ternyata seumuran

"Apa yang kau cari, Ren??" ujar wanita itu sambil tersenyum

"Ra-Ratu??!!" ujar Reno yang kembali teringat akan sosok wanita yang ada di depannya

"Kau masih ingat??" tanya wanita itu

"Bagaimana bisa lupa, kau teman SMA ku yang paling bisa diajak untuk duel soal teka-teki" ujar Reno sambil mengulurkan tangannya dan dibalas oleh wanita itu

"Kau sudah menemukan sesuatu di dalam sana??"

"Belum, hanya beberapa barang yang terbuang. Kamu kerja di kepolisian sekarang??" tanya Reno

"Begitulah, aku di bagian intelijen. Sebenarnya aku gak ada niatan menangani kasus ini, berhubung lagi gk ada kerjaan ya aku ambil"

"Begitu ya, hebat-hebat. Ngomong-ngomong aku lagi makan di cafe seberang, mungkin jika ada waktu gabung aja ada banyak hal yang ingin aku tanyakan"

"Tentu saja dengan senang hati, but not today"


277297213e7bb43fa83d06443b55156df9ea557a.jpg



Setelah beberapa saat mereka berpisah dan Reno kembali ke Member Cafe. Ketika hendak menuju tempat duduknya Reno melihat seseorang telah duduk di tempatnya, seseorang yang begitu di kagumi oleh Reno pada waktu tahun pertama di SMA.
Reno yang melihat seseorang berada di tempatnya segera menegurnya, "Maaf, apa anda tidak salah tempat??" tegur Reno. Laki-laki tersebut beranjak dari tempat duduknya dan berdiri menghadap Reno yang terkejut dengan kehadirannya. "Kak Angga??!!" ujar Reno terkejut dan langsung menyalami laki-laki tersebut. Ternyata laki-laki tersebut adalah Angga, kakak dari seseorang yang pernah ada di hati Reno sewaktu masih menduduki bangku sekolah menengah atas. Mereka bertukar kabar hingga pembicaraan mengarah ke arah yang lebih serius.


"Jadi kedatanganku kesini hendak memberikan mu ini.." ujar Angga seraya menyodorkan sepucuk surat.

"Apa ini kak??" tanya Reno

"Buka dan bacalah" jawab Angga


Maret 2010

Halo,, bagaimana kabarmu disana? aku dsini sedang mengalami masa yang sulit. Sebetulnya aku berharap bisa bertemu kamu lagi.. Tapi apa mungkin??
Aku ingin bercerita banyak hal denganmu. Tapi untuk sekarang aku tidak bisa.
Dan yang bisa kulakukan untuk saat ini hanya banyak berdoa untukmu. Semoga kamu baik-baik saja disana.
Dan jika kau sudah membaca surat ini, mungkin kau bisa mengunjungi ku, kak Angga akan memberitahu tempatku beristirahat.

Salam rindu, Acha"



Seketika Reno terdiam dan surat itu mampu membawanya kembali ke memori tahun 2010. Memori saat dia harus pergi meninggalkan seseorang dan lingkungannya serta teman-temannya. Ketika itu...


Januari 2010, Minggu ketiga


".. kamu akan kembali kesini kan??.."

"...aku tidak bisa berjanji apa-apa sama kamu..."

"...tapi kenapa??.."

"...aku juga tidak tahu.."

"..kembali yah selagi kamu bisa... dan juga.."

"..dan apa..??"

"...dan selagi kamu ingat..."



"Sepertinya kau mulai mengingat sesuatu", ujar Angga membuyarkan lamunan Reno

"Ya, bagaimana kabar Acha?? Aku pikir dia sudah melupakanku" ujar Reno

"Itu adalah hal tersulit yang pernah adikku coba. Dan sepertinya tidak bagimu" jawab Angga

"Aku sudah tidak tahu harus bagaimana lagi saat itu, entahlah aku hanya mengatakan apa yang seharusnya kukatakan. Hanya saja waktu itu Acha terus menahan ku. Maafkan aku kak Angga, dan juga untuknya" ujar Reno dengan sedikit menahan kekecewaan.

"Saat kau pergi, Acha sering sakit-sakitan. Dia terus menanyakanmu. Aku sempat ke kota ini selang beberapa bulan kau pergi, hanya saja kota ini begitu besar dan aku tidak berhasil menemuimu." ujar Angga

"Ya, waktu pertama kali pindah ke kota ini aku dikirim ke Amerika Serikat untuk mengikuti beberapa pelatihan yang papaku pilih selama hampir 1 tahun, selanjutnya aku pergi ke London. Sedangkan keluargaku tinggal di apartemen untuk beberapa bulan hingga akhirnya papaku mendapatkan rumah baru. Dan sekarang rumahku tidak cukup jauh dari cafe ini. Lalu bagaimana kau bisa menemukanku kak??" tanya Reno

"Aku browsing semua hal tentang dirimu di internet hingga kutemukan akun sosial mediamu, dan akhirnya aku tahu kau sedang melanjutkan study di kampus Veteran. Semua hal ada di internet. Waktu itu aku sempat heran karena kau terdaftar sebagai mahasiswa angkatan 2012. Dan ternyata selama 2 tahun kau berada di negeri orang" jelas Angga

"Begitu rupanya, aku ingin bertemu dengan Acha. Bisa kah??" tanya Reno

"Dia masih berada di kota yang sama semenjak kau meninggalkannya. Hanya saja" Angga terdiam dan tidak meneruskan ceritanya

"Kenapa kak??" tanya Reno penasaran


Angga mengeluarkan ponsel dari sakunya dan menunjukkan sebuah foto dirinya dan beberapa orang tengah jongkok dan menunduk ke arah sebuah gundukan tanah dengan batu nisan di salah satu sisinya.


"Kenapa?" ujar Reno yang tertegun seakan tidak percaya dengan foto yang barusan dilihatnya. Sebuah nama tertulis di atas batu nisan tersebut.


Alicia Chanzia
24-5-1992
20-11-2010


Reno kembali terdiam dan larut dalam pikirannya. Memori lamanya kembali terbuka dengan jelas dan terlihat di matanya.


Februari 2010, Minggu kedua

"..Kamu tahu?? kenapa kembang api dinyalakan pada malam hari??.."

"..Nggg... Enggak.. kenapa emang??.."

"..Ya supaya nyalanya jadi terang..hehehe.."

"..ooh.."

"...Tapi kamu gak perlu malam hari untuk menjadi terang.."

"..Kenapa??.."

"...Karena dimanapun kamu berada, sinarmu yang terang akan selalu terlihat olehku..."



"Aku ingin bertemu Acha, bisa kah mengantarku??" pinta Reno

"Kita berangkat sore ini" ujar Angga seraya beranjak dari tempat duduknya dan diikuti oleh Reno


Mereka berdua terbang dengan pesawat sore pada hari itu, di sepanjang perjalanan Reno hanya terdiam dan memandang kosong ke arah luar melalui jendela pesawat yang kecil. Angga berusaha menghibur Reno dengan berbagai cerita mengenai gadis itu sebelum mengenal Reno, sampai saat terakhir dia bersama adik kesayangannya.

Sesampainya di depan tempat peristirahatan terakhir gadis itu, Reno bertumpu pada lututnya. Kesedihan tampak dari wajahnya, penyesalan dan amarah berbaur menjadi satu berkecamuk di dalam hatinya.


"Hei Cha, i'm back. Seperti janjiku. Dan maaf sepertinya aku sangat sangat terlambat" ujar Reno sambil melepaskan kalung cincin di lehernya yang berbentuk pick gitar dari batu safir. Kalung yang didapat dari papanya di Singapura itu di kalungkan pada batu nisan.

"Kau tidak perlu melakukannya, barang itu berharga bagimu bukan??" tanya Angga

"Tak ada yang lebih kuyakini selain menyatukan sesuatu yang sangat berharga walaupun harus melepaskannya" jawab Reno



277297309b86fbcf5d09e04d24da5bce70f0678f.jpg




Hiduplah selagi kau bisa hidup..
Dan matilah setelah kau merasa hidup..

Karena kehidupan setelah mati akan kekal dalam hidup yang sebenarnya..





**To Be Continued**
 
Chapter 5 - False Hopes (Part - 3)


November 2013, Minggu ketiga

Hari ini tepat 3 hari setelah kedatangan Angga. Kedatangannya terasa begitu menyakitkan terlebih lagi dengan membawa berita yang tak pernah terlintas di benak Reno.

Siang itu Reno, Putri, Kira dan Bahari berada di Member Cafe karena kebetulan mereka sudah selesai kuliah pagi. Reno duduk di sofa panjang di sebelah Putri sedangkan Kira berada di sofa kecil yang berhadapan dengan Bahari di seberangnya. Putri tampak menikmati pancake durian kesukaannya dengan toping 2 cup es krim coklat dan jus melon. Sedangkan Reno sesekali meminum hot chocolate kesukaannya dan sesekali ngobrol dengan Kira perihal rencana lagu mereka. Bahari sendiri terlihat sedang asyik mendengar lagu melalui earphone yang menempel di telinganya.


"Coklat ini tidak manis" ujar Reno kepada Putri

"Mana sini aku cobain" ujar Putri seraya mencoba hot chocolate Reno. "Manis gini loh Ren" lanjut Putri.


Reno hanya tersenyum simpul untuk menandakan bahwa dia sedang berbohong untuk menghibur hatinya yang masih sedikit bingung dan terluka.


"Kenapa di dunia ini harus ada yang namanya kehilangan" ujar Reno seraya menghela nafas panjang

"Setiap pertemuan akan berujung dengan dua hal, perpisahan atau kebersamaan" jawab Putri

"Apakah aku akan berpisah dengan kalian juga??" tanya Reno seraya melihat ke arah Putri


Putri hanya tersenyum dan melanjutkan menikmati pancake kesukaannya, sedangkan Reno kembali terdiam. Dari raut wajahnya terlihat bahwa bukan jawaban seperti itu yang ingin Reno dengar.


"Kehilangan ada supaya kamu menyadari betapa penting arti sesuatu itu bagi dirimu" tiba-tiba suara yang Reno kenal menyahuti dari belakang


Reno terdiam dan larut dalam pikirannya, sedangkan Putri dan Kira melihat ke arah sumber suara tersebut. Putri dan Kira yang tahu siapa yang bersuara tersebut lantas kembali diam dan berpura-pura tidak mendengarkan.


"Kamu kenapa Ren??" suara itu bertanya lagi

"Mel?? Sejak kapan ada disini??!!" tanya Reno yang tersadar

"Udah lama sih, kamu aja yang gak sadar" jawab Melody

"Haha iya tuh Mel, Reno lagi galau" timpal Putri tiba-tiba sambil tertawa

"Maaf Mel, aku beneran gak sadar. Lagian kamu juga bilang ada kuliah kan hari ini" ujar Reno

"Sudah selesai kok. Hayo kamu kenapa?? Gak mau cerita nih?" ujar Melody seraya mendekatkan wajahnya kebelakang kepala Reno

"Gak ada apa-apa kok Mel, kamu tenang aja. Oh ya kesini sama siapa Mel??" tanya Reno sambil memalingkan wajahnya ke arah Melody

"Sama temen-temen kok" jawab Melody singkat seraya kembali ke teman-temannya, sedangkan Reno kembali terdiam, sesekali Putri dan Kira bercanda berusaha membuat Reno terhibur, begitu juga dengan Bahari yang dengan joke-joke nya yang terkadang sama sekali tidak terpikirkan oleh orang lain sehingga terkesan garing.

Tidak lama berselang disaat mereka tertawa, Melody datang menghampiri Reno seraya berbisik di telinganya.

"Nanti jemput aku di rumah yaa, ada yang mau aku omongin" bisik Melody. Reno hanya mengangguk dan tersenyum, kemudian Melody berpamitan kepada Putri, Kira, dan Bahari serta Reno.



*****
Sang surya telah menutup mata sinarnya untuk hari ini dan digantikan senyuman dari bintang-bintang dan tawa sang rembulan. Malam ini Reno dan Melody sekedar berjalan-jalan di sebuah taman kota yang cukup terkenal. Terlihat sebuah ornamen yang berbentuk persegi panjang sehingga menyerupai sebuah balok dan tersusun sehingga membentuk sebuah pola. Lalu dengan sorotan cahaya yang mengenai balok tersebut membuat ornamen terlihat seperti sebuah pelangi karena tiap balok yang tersorot cahaya memiliki cahayanya sendiri-sendiri.
Setelah lebih kurang 15 menit berkeliling akhirnya mereka menemukan orang penjual es krim dan Reno membelikannya untuk Melody, sedangkan dia sendiri sedang tidak ingin apa-apa untuk dimasukkan ke dalam perutnya.


"Kamu beneran gak mau Ren??" ujar Melody menawarkan es krimnya pada Reno yang tengah duduk di pusat taman tersebut.

"Emm enggak kok Mel" jawab Reno singkat

"Padahal ini enak lho, bisa balikin mood yang hilang" timpal Melody


Reno hanya terdiam dan seraya tersenyum sambil melihat jauh ke arah tanaman yang berada di seberang mereka. Melihat Reno yang kembali terdiam dan melamun kali ini dia mencoba untuk menyuapi Reno. Tanpa basa-basi Reno membuka mulut dan mencoba menikmati es krim tersebut namun tatapannya tetap kosong memandang jauh ke tempat yang sama, bersama alunan suara burung-burung malam yang menderu hampir bersamaan dengan suara hembusan angin malam.

"Mmm enak kan" ujar Melody setengah meledek Reno

"Haha iya, aku mau lagi Mel" pinta Reno seperti rengekan seorang bayi

"Sssst.. tunggu sebentar" kata Melody


Dia mengambil tisu di dalam tasnya, dan membersihkan sisa es krim yang tak sengaja menempel di mulut Reno. Belum selesai Melody membersihkan sisa es krim, Reno tersadar dan memegang tangan Melody. Kali ini mereka bertatapan mata dengan jarak yang dekat, terlihat wajah Melody yang mulai memerah.


"Kenapa Ren??" kata Melody

"Aku baru sadar kalau mata kamu terlihat indah, cantik" ujar Reno singkat.


Entah siapa yang memulai duluan, namun yang terjadi saat itu kedua bibir mereka saling bersentuhan. Ya, mereka berciuman. Namun bukan ciuman penuh nafsu yang menggelora, bukan. Bibir mereka hanya saling menempel, nafas mereka sempat tertahan. Tidak ada penolakan dari Melody ketika tangan Reno mulai melingkar di belakang tubuhnya. Perlahan namun pasti Reno berusaha membuka bibir Melody, mencari lidah lembut miliknya.

"Ren..." gumam Melody di sela-sela nafasnya yang terengah-engah

Reno tersadar dan melepas ciuman itu, ditatapnya kedua mata Melody penuh arti. Dia menunduk, perasaannya masih tidak karuan. Beberapa menit mereka terdiam, tersadar yang mereka lakukan mungkin salah. Reno mulai bercerita semua hal yang mengganggu pikirannya beberapa hari ini mengenai kematian Acha yang disampaikan oleh Angga. Melody hanya diam dan mendengarkan sambil tetap memandang ke wajah Reno yang bercerita penuh dengan gurat kesedihan dan kekecewaan.


"Kamu kehilangan banget ya Ren" ujar Melody singkat


Reno terdiam dan memandang ke arah Melody. Wajahnya tampak bingung dan tidak bisa berkata apa-apa. Perkataan Melody mengandung sejuta arti yang tidak bisa dia tafsirkan


"Aku hanya tersadar, aku bukan orang baik" ujar Reno singkat

"Kamu orang baik kok Ren, sangat baik" ujar Melody membesarkan hati Reno

"Apa perasaanku salah Mel??" tanya Reno kembali


Melody terdiam dan berpikir sebentar, sementara Reno menunggu jawaban Melody sambil melihat ke arah bulan yang terlihat cukup terang malam ini.


"Kalau menurutku sih perasaan itu gak pernah salah kok, mungkin cuma waktunya aja yang kurang tepat" jelas Melody

"Begitu ya.." jawab Reno dengan sedikit perubahan di wajahnya.

"Kamu inget-inget aja perkataanku tadi siang" lanjut Melody.


Reno tersenyum kepada Melody seraya berdiri dan menggandeng tangannya.


"Jalan yuk Mel" ajak Reno


Mereka menyusuri jalan setapak yang menuju ke tempat parkir, diiringi dengan cuitan hewan malam serta hembusan angin. Mereka bergandeng tangan dengan erat dan sesekali Melody melihat ke arah Reno yang berjalan sambil melihat ke arah langit. Dari genggaman tangannya Melody tersadar, bahwa genggaman tangan Reno merupakan tanda bahwa dia tidak ingin kehilangan dirinya.


"Kamu jangan galau lagi. Aku gak suka lihatnya" ujar Melody manja

"Iya enggak kok" jawab Reno sembari tersenyum

"Fotoin aku" pinta Melody yang tiba-tiba berhenti di salah satu sudut taman


277297342b815ae801dc08600aa7ce8f2f6caa5d.jpg


Melody segera mengambil pose dan dengan cekatan Reno segera mengambil foto Melody yang di sinari oleh sinar Rembulan


"Indah sekali.." gumam Reno


Sesaat setelah melihat foto tersebut Reno tersadar akan satu hal, di telah kehilangan sesorang yang pernah berharga di hatinya.


"Cukup sekali. Tak kan kubiarkan yang satu ini juga menghilang dan membuatku seperti ini lagi.." gumam Reno dalam hati



Terkadang sesuatu yang kamu miliki sekarang tak akan terasa artinya bagimu..
Namun jika itu telah menghilang, kau akan sadar arti dari sesuatu yang saat itu kamu miliki..
Namun tidak untuk sekarang...



**To Be Continued**
 
Mpssh Ahh ini mah openingnya, tandain dulu gayn
RIP Acha btw
:( #saveacha
Berat sebenarnya mematikan karakter ini diawal2. Karena ada rencana untuk buat spin off waktu SMA dengan karakter Acha. Terimakasih sudah mampir :D
 
Jav Toys
Gaple Online Indonesia
Pasang iklan hanya lewat CONTACT US
Back
Top
We are now part of LS Media Ltd