Agen Terpercaya
Mandala Toto   Jackpot 86
Balaksix   Messipoker
Agen 18   Dunia Jackpot
IBO Play   CMD Play
JP Dewa
Pasang iklan, hanya lewat Contact Us.
Waspada penipuan iklan. Klik di sini untuk melihat daftar penipu.

CERBUNG PEMULUNG CANTIK - Jelmaan Sang Bidadari

PoliGemek77

Semprot Addict
Thread Starter
Daftar
3 Aug 2016
Post
465
Like diterima
16.814
CHAPTER 9
MENGAJAK MEREKA



Hari berganti minggu...

Minggu berganti bulan...

Setelah kepulanganku dari Lombok, tak terasa waktu telah berlalu sebulan lamanya. Aku kini mulai di sibukkan dengan berbagai pekerjaan yang mempunyai dateline yang cukup singkat.

Oh ya, aku kini memekarkan bisnisku bukan hanya di bidang penjualan distribusi jam tangan, melainkan, aku menerima ajakan kawan kuliahku dulu di Jakarta untuk bermain di bisnis properti. Kejadian ini, sudah beberapa bulan lamanya, di saat aku masih sulit melepaskan diri dari bayang-bayang Rani, aku mencoba untuk menambah kesibukanku. Dan tercetuslah ide tersebut, mulai merambat ke bisnis yang lain.

Tapi…

Aku tak perlu menjelaskan mengenai ini, karena gak penting juga menurutku. Ini hanya akan menjadi konsumsi pribadiku semata. Asal kalian juga paham, aku sekarang bukan hanya sebagai Indra pebisnis jam tangan original, melainkan memiliki bisnis properti hasil dari kongsi dana dengan kawanku, sebut saja bapak Alpratama.

Aku sebagai pemain baru di bidang properti dan developer tentu harus seprofesional mungkin untuk menyelesaikan setiap tahap dari persyaratan dalam bentuk perjanjian bersama yang telah kami tanda tangani.

Bagaimana kabar, Rani dan putraku?

Aku selalu menghubunginya, jika bukan via pesan WA atau kadang menelfonnya langsung. Intinya, hubunganku dengannya semakin membaik. Namun aku sampai sekarang belum menyinggung, akan di bawa kemana hubungan kami ini.

Apalagi kami memiliki putra…

Tentulah, tanpa terucap Rani juga paham ujungnya akan seperti apa. Yang anehnya, Rani tidak pernah sama sekali menghubungiku duluan. Dia type wanita yang pasif.

Aku sejenak berfikir dalam diamku sekarang ini. Duduk berpangku dua tangan, menatap hampa ke depan, aku malah teringat lagi dengan Rani dan putraku, Tama.

Sedang ngapain mereka?

Ku tarik laci pada meja kerjaku ini. Ahhh ini dia, foto kecilku. Sejak kepulanganku dari Lombok dua bulan lalu, aku sengaja mencari-cari album foto di rumah orang tuaku, album foto kecilku di kala seumuran dengan Tama. Dan kini foto itu aku menyimpannya di laci meja kantorku.

“Hi ganteng...” ujarku sendiri, seakan berbicara dengan anak yang ada di foto yang tengah ku pegang. Meski ini adalah fotoku sendiri di kala aku seumuran dengan Tama, namun entah mengapa aku bagai melihat foto itu adalah Tama.

Persis... nyaris 100% kesamaannya. Yah! Tentu bedanya pasti ada, mulai dari style rambut jaman dulu dan jaman sekarang berbeda. Jamanku masih kecil, 33 tahun yang lalu, anak seumuran ku pasti di cukur seperti unyil. Namun anak sekarang cukurnya bagus-bagus. Udah kayak artis-artis di TV. Serta cara berpakaiannya.

Kala itu, aku masih hidup di kondisi keuangan orang tua serba pas-pasan. Ayah, yang hanya seorang petani, tentu saja tak mampu memberikan kehidupan yang lebih bagus terhadap anak-anaknya.

Semoga...

Tama akan berbeda dariku.

Ting!

Sebuah notif pesan masuk di Iphone terbaruku ini, sedikit mengalihkan perhatianku dari foto kecilku. Sebuah pesan masuk dari bank BRI.

Tunggu dulu...

Aku langsung jadi teringat, kalo aku memberikan ATM rekening BRI ini ke Rani. Dan aku juga baru menyadari, jika sejak sebulan yang lalu, baru kali ini ada SMS banking masuk.

Bukan sms itu yang langsung mengalihkan perhatianku sepenuhnya. Adalah sebuah notif pesan WhatsApp yang juga hampir bersamaan masuk.

Pesan WA dari Rani. Jantungku langsung berdegub cukup cepat. Kenapa denganku ini...

Mungkin ini hanya perasaan spontan, terkejut biasa karena setelah sekian lama, aku baru di WA olehnya.

“Assalamualaikum, kak Indra... maaf jika Rani mengganggu”

Ya Allah... sopan sekali wanitaku ini.

Aku menarik nafas untuk sesaat, sebelum membalas pesan darinya.

“Wa’alaikumsalam, kebetulan lagi santai... ada apa An?”

“Alhamdulillah... Rani mengganggu gak?”

“Tidak sama sekali... ada apa? Kakak baru lihat, ada pesan masuk dari BRI banking, Cuma kakak belum buka sih”

“Hehehe, maaf kalo Rani lancang kak... tadi Rani kepepet mau bayar uang sekolahan Putri, ketika Rani bingung, Rani teringat ada ATM pemberian kak Indra itu hari di Lombok... makanya Rani langsung meminjam dana di dalam rekening kakak, 500 ribu. Kalo Rani ada rejeki, Rani akan menggantinya kak... kak Indra jangan marah ya.”

Astgfrullahhhhhhhhhhhhhhhhhh....

See?

Bagaimana tidak, aku langsung merasakan sekujur tubuhku gemetar. Membaca pesan ini, sungguh makin membuka kedua mataku ini, jika Rani memang wanita yang berbeda dari wanita-wanita yang selama hidup aku kenal.

Aku yakin, jika wanita lain tentu akan langsung menggunakan dana dalam rekening ini, karena aku telah ikhlas memberinya. Namun tidak bagi Rani. Pun setelah aku iseng membuka mobile bankingku, rupanya saldonya memang terkurang hanya 500 ribu. Semakin membuatku tak mampu untuk mengungkapkan dengan sebuah kalimat, bagaimana perasaanku sekarang ini.

“Kakak marah? Sampai gak balas pesan Rani lagi?”

Tepok jidat! Dia ternyata menunggu pesan balasan dariku.

Tanpa menunggu lama, aku langsung menelfonnya saja...

“Assalamualaikum... kak Indra” Rani langsung mengucap salam ketika menjawab panggilan telfon dariku.

“Wa’alaikum salam...” balasku. “An... sumpah demi Allah, kakak tidak marah sama sekali. Kakak malah kesal yang ada” ku lanjutkan ucapanku, serta sedikit menggantungnya.

“Kesal karena Rani kak?” tanyanya.

“Iya kesal pake banget... mengapa, setelah sebulan lamanya, dana itu baru kamu gunakan pun... pake acara izin segala”

“Kan baru sekarang Rani butuhnya, kak” balasnya. Dari nada suaranya, aku yakin dia mulai santai, mungkin kematian Pak Yusuf sudah mulai tak lagi membuatnya sedih berlarut-larut.

“Hmm... gunakan saja semuanya, itu hak kamu... itu hak anak-anak, bukan hanya Tama saja... itu hak buat Putri.”

“Kak Indra terlalu baik... tapi maaf kak. Rani bu-” belum juga dia menyelesaikan ucapannya, aku menyela dengan cepat.

“Jangan menolaknya... seperti yang kakak udah jelasin, kakak akan tersinggung jika kamu menolaknya. Sama kakak sendiri, tak perlu malu. Apalagi aku tak mungkin tinggal diam, jika hidup Tama tak baik nantinya. Maaf, aku tak bermaksud menyinggung, tapi aku yakin kamu paham dengan maksudku ini. bukan hanya Tama, aku gak mau... hidup Putri tidak seperti yang aku harapin nantinya” oh ya, Putri itu nama anak titipan almarhum Pak Yusuf. Anak dari istrinya yang juga sudah wafat. Aku rasa kalian tentu paham, tanpa ku jelaskan detailnya, bukan?

“I-iya kak” aku lalu mendengar suara isak tangis wanitaku ini di telfon.

Aku sungguh, semakin gak kuat jika harus membuat air matanya keluar dari bola mata indah miliknya itu.

Tapi...

Bagaimana cara agar dia tetap bisa tersenyum?

“Bagaimana kabar Tama dan kakaknya. An?”

“His... his... alhamdulillah sehat semua kak”

“Tama sedang ngapain sekarang?” tanyaku lagi.

“Tuh lagi bobo di temenin Putri”

“Eh... padahal ayahnya baru mao ngomong” ujarku kemudian, sambil memberikan kata ayah agar Rani paham kalo aku juga punya hak untuk anak itu. karena aku ayahnya. Maka dari itu, aku punya hak, tentu membiayainya selama aku masih bisa memberikannya biaya hidup.

“Mau Rani bangunin kak?”

“Gak usah An. Kasihan, hehehe..” balasku dengan cepat. “Ya udah... intinya, kamu cepat ganti rekening baru, terus kamu pindahin semua dana di rekening sebelumnya. Jangan lupa infoin ke kakak nomer rekening baru kamu, jadi jika dana itu telah habis akan kakak transferkan lagi.”

“His... his... ya Allah, kenapa kak Indra selalu baik terhadap Rani kak... kenapa kak?”

“Karena...” ahhhh, aku malah bingung mau jawab apa. “Karena... mungkin sudah seharusnya seperti itu” g00blok... malah kalimat itu yang terucap.

“Gak kak... ini terlalu baik malahan kak. Kak Indra itu, sejak dari pertama bertemu... Rani bagai melihat sosok malaikat yang berubah wujud sebagai kak Indra...”

“Ahh kamu bisa aja memuji An... aku... tidak sebaik yang kamu kira.”

“Rani tidak memuji kak... memang kakak terlalu baik untuk Rani. Terlalu baik bagi keluarga Rani... dan Rani gak tahu, harus bagaimana membalasnya”

“Balaslah dengan, memastikan hidup Tama dan Putri akan baik-baik saja... cukup dengan itu saja, An.”

“His... his” yahhh... malah mewek lagi nih betina.

“Udah jangan nangis... tersenyumlah, wahai adindaku Anhe Khaerani. Karena ketika kamu tersenyum, maka ada satu orang pria di dunia fana ini, yang akan ikut tersenyum... akan ikut bahagia, ketika kamu dan anak-anak bahagia.”

“I-iya kak... makasih, kak”

“Sama-sama, An”

“Ya sudah kak... Rani izin pamit, mau melanjutkan pekerjaan rumah”

“Oh ya udah... kamu, sehat-sehat di sana. Jangan kebanyakan bersedih, kasihan anak-anak kalo bundanya sedih melulu. Malah mereka nanti akan ikutan sedih” ujarku. Sengaja aku tak menekankan kata ‘Umi’ disini. Karena bagiku, kata bunda sangat layak buat anakku. Entahlah, mungkin karena pemahaman agamaku masih bobrok. Maklum Islam KTP.

“Assalamualaikum...”

“Wa’alaikumsalam...”

Setelah menyudahi obrolan singkatku via phone dengan Rani, maka aku mulai bersiap-siap untuk balik ke rumah.


==================================


Dua hari telah berlalu….

Semakin hari aku semakin saja memikirkannya. Semakin aku menepis pikiranku, dan ingin melupakannya, maka kesulitan semakin besar yang aku temui.

Sulit untuk melupakannya...

Dan kerinduanku terhadapnya semakin membesar, bagai gunung yang membebani pikiranku. Sebetulnya aku bisa saja datang ke Lombok, dengan alasan untuk menemui Tama. Namun, aku masih belum berani mengungkapkannya langsung ke Rani.

Bagaimanakah jika kita sangat merindukan seseorang? Rindu yang bukan hanya sekedar rindu, tapi kerinduan yang kini aku rasakan, sampai-sampai membuatku keseringan mengepalkan kedua tangan, mengencangkan urat leher, karena menahan segala rasa kecamuk dalam diriku ini.

Pasti teman-teman berfikir, kenapa aku tak kesana saja?

Kenapa aku tak menelfonnya saja?

Percayalah kawan, itu bukan hal yang mudah. Apalagi mengingat sikap Rani yang pasif, tertutup itu sungguh membuatku tak tau harus bagaimana bersikap. Kerap kali aku mengirimkannya pesan WA untuk sekedar mengajaknya mengobrol, dia bukan terkesan menghindar, cuma memang dia lagi banyak banget kerjaan.

Ada aja alasan dia untuk meminta izin untuk tidak lagi membalas pesanku kala itu.

“Kak... Rani izin, mau kasih mandi Tama”

“Kak... Rani izin, mau sholat... gak apa-apa kan?”

Dan satu pertanyaan lagi, mengapa dia harus izin untuk tidak membalas atau memperpanjang obrolan via chat Wa kami? Gak usah balas aja gak apa-apa bukan? nah, itulah bedanya Rani dengan wanita-wanita lain.

Dia sangat berbeda...

Dia tidak pernah ada niat untuk membuatku kecewa sedikitpun. Mungkin seperti itu lah jika aku boleh menebaknya.

...

...

Ayolah Indra, pikirkan cara agar kamu bisa melepas rasa rindumu terhadap wanita itu. Dan ketika pandanganku mengarah ke kalender di atas meja, hadiah dari salah satu bank yang menjadi tempatku menabung, satu ide langsung tercetus begitu saja di kepalaku ini.

Seminggu lagi...

Yah seminggu lagi, waktunya anak sekolah pada libur.

Mengapa aku tidak mencoba mengajaknya ke Denpasar?

Ataukah aku yang ke Lombok saja?

Good Idea...

Baiklah, aku harus dan wajib memberanikan diri untuk menelfon Rani sekarang. Ku lihat waktu pada arloji di lengan, masih jam 11 pagi, yang artinya dia mungkin sedang tak sibuk lagi seperti biasanya. Bukan juga waktu Tama, putra kami untuk tidur.

Ku raih ponselku, mencari nomor Rani...

Begitu layar ponsel berponi milikku dari besutan buah apel kegigit dikit, ahhh apaan sih. Lupakan aja, joke nya garing.

Layar ponsel menunjukkan nama Rani, jantungku berdegub kencang. Jari-jariku bergetar sendiri, kayak ada yang gerakin. Namun aku harus bisa, dan harus menelfonnya sekarang, kalo tidak aku akan semakin di buat gak nyaman dengan perasaan jahannam bernama kerinduan ini.

“Assalamualaikum, kak Indra”

Uhhh senangnya mendengar suara Rani. Rasanya seperti baru saja menemukan oase di gurun pasir nan luas. Menghilangkan dahagaku seketika.

“Kak... kak Indra”

“Astaga... Wa’alaikumsalam, iya maaf An. Tadi ngambil sesuatu” cetusku bohong, padahal aslinya lagi ngelindur saking senangnya.

“Iya kak... kenapa?”

“Ohh tidak, cuma pengen nelfon nanya kabar.”

“Ohh... kabar kami sekeluarga Alhamdulillah baik-baik saja. Apalagi si bungsu kak, bentar lagi dia genep setahun” balas Rani, pun sedikit membuatku terkejut.

“Oh ia?”

“Hehe, Rani gak pernah ngasih tau kapan Tama lahir ya kak?” tanyanya.

“Seingatku gak pernah, sih” balasku.

“Kak Indra yang gak pernah nanya”

“Oia? Oke sekarang aku tanya... kapan ultahnya?”

“Seminggu lagi, tanggal 7 Juli kak”

“Oh kebetulan... hehehehe”

“Kebetulan kenapa kak?”

“Kebetulan juga… Niat aku nelfon mau ajak kalian, Putri dan Tama untuk liburan”

“Liburan kemana kak?” tanyanya lagi.

“Terserah kalian”

“Harus ya kak?”

“Gak ada keharusan An... tapi ini suatu permohonan. Permohonan seorang ayah, yang sangat merindukan sosok putranya. Aku tidak meminta lebih, cuma ingin melihatnya saja itu sudah cukup bagiku... pun aku tak akan memaksa jika kamu, kalian tak menyetujui itu.”

Betul... aku tak boleh memaksanya. Kalo mereka tak ingin liburan bersama, maka aku yang akan berangkat ke Lombok.

“Mungkin… hmm, Rani tanya ke anak-anak dulu, boleh, kak?”

“Silahkan... mau tanya kapanpun silahkan, kakak akan dengan sabar menunggu kabar baik kalian”

“Ini kebetulan anak-anak lagi di rumah”

“Gak sekolah?”

“Kan udah masuk musim liburan sekolah kak, lagian Putri juga masih TK kok, kak….”

“Ohh iya... maklum, lupa”

“Heheheh bagaimana kak, mau berbicara dengan mereka?” tanpa menunggu lama, aku langsung mengiyakan dengan secepat kilat.

“Oh boleh dong... sini, speaker aja. Biar ayah yang ngomong” Ups! Keceplosan, tepok jidat mode on.

“Hehehe, kak Indra bisa aja” balasnya, kemudian terdengar sayup-sayup suara Rani memanggil anak-anak.

Dan pada akhirnya, obrolan dengan anak-anak terjadi. Aku menanyakan kabar mereka, Putri sih jawab sendiri, sedangkan Tama yang aku tanya, tentu Rani yang akan jawab. Hingga selesai bersapa, berbicara dan saling melepas kangen melalui telfon, maka Rani mengambil alih kembali telfonnya.

“Bagaimana An? Anak-anak sepertinya setuju untuk berlibur... mumpung Putri juga lagi liburan sekolah”

“Rencananya mau kemana, kak?”

“Ke Denpasar aja... biar kakak akan siapkan segalanya di sini”

“Hmm... tunggu kak...” Ujar Rani sesaat, “Put, bagaimana, mau liburan bersama om Indra?”

“MAUUUUUUU...”

Terdengar suara Putri di seberang, hingga ku sorakkan dalam hati satu kata, “YESSSSHHHHHHHHHHHHHH!!!” sambil lengan yang tertekuk ku kepal, ku tarik ke bawah seperti sedang memperagakan gerakan orang yang baru mendapatkan hadiah atau kemenangan dalam suatu lomba.

“Halo kak” kembali suara Rani terdengar.

“Ya... bagaimana, An?”

“Rani gak punya alasan lagi untuk tidak bilang... Rani akan ikut kemana kakak ajak berlibur”

“ALHAMDULILLAAAAAAAHHHHHHHH!”


...

...

Kalo gak sabar nunggu, yuk mampir ke sebelah. Disana udah full version sampai tamat.


BERSAMBUNG CHAPTER 10
JADWAL UPDATE : MINGGU 2 OKTOBER 2022

 

gentonklez

Semprot Holic
Daftar
28 Sep 2016
Post
331
Like diterima
1.212
Muantulll updatenya suhu. .
Matur Nuwun 😁

Gass poll rem blong pak indra ati2 di tikung . .

"Perawan memang menawan, Tapi janda lebih menggoda." Wkwkwk

Si janda rani nunggu di santunin lahir batin tu pak indra 😍😍

G sabar nunggu liburannya 😁😁
 
Jav Toys
Gaple Online Indonesia
Pasang iklan hanya lewat CONTACT US
Top
Semprot is now part of LS Media Ltd