Prolog 1
Bejo menamatkan Stellar Blade untuk yang keseratus kalinya. Layar gelap. Napasnya pendek. Matanya terasa berat. Ia tidak ingat kapan terakhir kali tidur. Tubuhnya ambruk di kursi gaming, tangan masih memegang controller.
Ketika ia membuka mata lagi, yang ia lihat bukan langit-langit kamarnya.
Ruang putih tanpa batas. Cahaya lembut. Di depannya berdiri sosok wanita yang wajahnya tidak bisa digambarkan dengan kata-kata manusia biasa—cantik, dingin, dan agak sedih.
“Bejo,” suara dewi itu tenang. “Kamu mati karena kelelahan. Tubuhmu di dunia lama sudah berhenti. Sekarang aku akan memindahkanmu.”
Bejo langsung sadar. Ia tahu ini isekai. Tanpa panik, ia bilang, “Kirim aku ke dunia Stellar Blade.”
Dewi itu menatapnya lama. “Dunia itu… sangat tidak layak dihuni. Manusia asli hanya tersisa Adam. Sisanya Andro-Eidos dan Naytiba. Kau yakin?”
“Aku tahu. Aku mau dikirim sebelum EVE diturunkan. Saat manusia masih hidup, masih bersembunyi dari Naytiba. Aku mau cegah Adam mengorbankan mereka, dan cegah Mother Sphere memusnahkan manusia.”
Dewi itu menghela napas. “Kau paham sekali. Biasanya aku hanya memberi satu skill. Tapi… kau membuatku kasihan. Aku beri tiga.”
Bejo tidak berpikir lama.
“Perfect Human—regenerasi cepat, kecerdasan tinggi, vitalitas tinggi.
Weapon Expert.
Easy Speaking.”
Dewi mengangguk. Cahaya menyelimuti tubuh Bejo. “Semoga kau tidak menyesal.”
Bejo terbangun di atas pasir panas. Angin wasteland menerpa wajahnya. Bau logam dan debu. Langit merah keabu-abuan. Ia langsung berdiri, tubuhnya terasa jauh lebih kuat, lebih tajam, lebih hidup.
Ia mencari cover. Di kejauhan, ia menemukan sisa-sisa pasukan—Squad 6. Andro-Eidos yang nonaktif karena kehabisan energi. Bejo meraih blade mereka. Senjata itu terasa natural di tangannya, seolah sudah bertahun-tahun digenggam.
Tanpa ragu ia berjalan menuju Abyss Levoire.
Penjaga di pintu masuk menyerang. Bejo bergerak seperti sudah hafal setiap pola. Skill Weapon Expert membuat setiap ayunan blade-nya presisi. Perfect Human membuat luka yang sempat muncul langsung menutup. Ia menang. Pintu terbuka.
Di dalam laboratorium yang hampir mati, hanya ada satu manusia yang masih bernapas.
Raphael Mark.
Pria itu tergeletak di lantai, darah mengalir dari luka tusuk di dada. Matanya terbuka lebar saat melihat Bejo.
“Siapa… kau…?”
Bejo berlutut di sampingnya. “Aku datang untuk mencegah apa yang akan terjadi.”
Raphael tertawa kecil, pahit. “Terlambat. Adam… sudah mengambil chip salinan otakku. Dia akan pakai itu untuk melawan Mother Sphere… dengan mengorbankan kita semua.”
Tangannya yang gemetar menyodorkan sebuah keycard. “Epsilon Tower. Markas tersembunyi. Tidak ada di data mana pun. Pergilah… sebelum…”
Napasnya berhenti. Mata Raphael kosong.
Bejo menutup mata pria itu. Kemarahan dingin merayap di dadanya. Ia tahu siapa Adam. Penipu. Pengkhianat. Manusia yang rela mengorbankan seluruh spesiesnya demi “kemenangan”.
Ia berdiri dan berjalan ke ruang core.
Adam sudah menunggu. Tubuhnya sudah setengah berubah—kulit pecah, energi Naytiba merayap di ototnya. Saat melihat Bejo, ia tersenyum dingin.
“Penyusup.”
Adam menyerang duluan. Blade-nya hampir menancap di leher Bejo. Bejo menangkis. Benturan logam menggema di ruang core.
Pertarungan itu brutal. Adam terus berubah, semakin cepat, semakin kuat. Bejo tertusuk dua kali, tulang rusuknya retak, darah membasahi lantai. Tapi Perfect Human bekerja. Luka menutup. Tulang menyambung. Ia terus maju.
Ketika Adam mengeluarkan bentuk terakhirnya—tubuh hampir sepenuhnya Naytiba—Bejo sudah siap. Ia menunggu celah sepersekian detik, lalu menusuk tepat di titik yang ia hafal dari ratusan kali gameplay.
Adam terhuyung. Darah hitam mengalir dari mulutnya. Ia jatuh.
Bejo berdiri di atas tubuhnya, napas berat, tubuh penuh goresan yang perlahan menghilang. Ia menatap mayat Adam tanpa emosi.
“Kau tidak akan mengorbankan siapa pun lagi.”
Ia mengambil pesawat Adam yang tertambat di luar. Mesin menyala. Bejo menatap peta.
Matrix 11.
Di sana masih ada kemungkinan manusia tersisa. Atau setidaknya, petunjuk berikutnya.
Pesawat lepas landas, meninggalkan Abyss Levoire yang sudah menjadi kuburan.
Bejo menatap langit wasteland yang merah.
Ia baru saja membunuh Adam.
Dan cerita sebenarnya baru saja dimulai.
Bejo menamatkan Stellar Blade untuk yang keseratus kalinya. Layar gelap. Napasnya pendek. Matanya terasa berat. Ia tidak ingat kapan terakhir kali tidur. Tubuhnya ambruk di kursi gaming, tangan masih memegang controller.
Ketika ia membuka mata lagi, yang ia lihat bukan langit-langit kamarnya.
Ruang putih tanpa batas. Cahaya lembut. Di depannya berdiri sosok wanita yang wajahnya tidak bisa digambarkan dengan kata-kata manusia biasa—cantik, dingin, dan agak sedih.
“Bejo,” suara dewi itu tenang. “Kamu mati karena kelelahan. Tubuhmu di dunia lama sudah berhenti. Sekarang aku akan memindahkanmu.”
Bejo langsung sadar. Ia tahu ini isekai. Tanpa panik, ia bilang, “Kirim aku ke dunia Stellar Blade.”
Dewi itu menatapnya lama. “Dunia itu… sangat tidak layak dihuni. Manusia asli hanya tersisa Adam. Sisanya Andro-Eidos dan Naytiba. Kau yakin?”
“Aku tahu. Aku mau dikirim sebelum EVE diturunkan. Saat manusia masih hidup, masih bersembunyi dari Naytiba. Aku mau cegah Adam mengorbankan mereka, dan cegah Mother Sphere memusnahkan manusia.”
Dewi itu menghela napas. “Kau paham sekali. Biasanya aku hanya memberi satu skill. Tapi… kau membuatku kasihan. Aku beri tiga.”
Bejo tidak berpikir lama.
“Perfect Human—regenerasi cepat, kecerdasan tinggi, vitalitas tinggi.
Weapon Expert.
Easy Speaking.”
Dewi mengangguk. Cahaya menyelimuti tubuh Bejo. “Semoga kau tidak menyesal.”
Bejo terbangun di atas pasir panas. Angin wasteland menerpa wajahnya. Bau logam dan debu. Langit merah keabu-abuan. Ia langsung berdiri, tubuhnya terasa jauh lebih kuat, lebih tajam, lebih hidup.
Ia mencari cover. Di kejauhan, ia menemukan sisa-sisa pasukan—Squad 6. Andro-Eidos yang nonaktif karena kehabisan energi. Bejo meraih blade mereka. Senjata itu terasa natural di tangannya, seolah sudah bertahun-tahun digenggam.
Tanpa ragu ia berjalan menuju Abyss Levoire.
Penjaga di pintu masuk menyerang. Bejo bergerak seperti sudah hafal setiap pola. Skill Weapon Expert membuat setiap ayunan blade-nya presisi. Perfect Human membuat luka yang sempat muncul langsung menutup. Ia menang. Pintu terbuka.
Di dalam laboratorium yang hampir mati, hanya ada satu manusia yang masih bernapas.
Raphael Mark.
Pria itu tergeletak di lantai, darah mengalir dari luka tusuk di dada. Matanya terbuka lebar saat melihat Bejo.
“Siapa… kau…?”
Bejo berlutut di sampingnya. “Aku datang untuk mencegah apa yang akan terjadi.”
Raphael tertawa kecil, pahit. “Terlambat. Adam… sudah mengambil chip salinan otakku. Dia akan pakai itu untuk melawan Mother Sphere… dengan mengorbankan kita semua.”
Tangannya yang gemetar menyodorkan sebuah keycard. “Epsilon Tower. Markas tersembunyi. Tidak ada di data mana pun. Pergilah… sebelum…”
Napasnya berhenti. Mata Raphael kosong.
Bejo menutup mata pria itu. Kemarahan dingin merayap di dadanya. Ia tahu siapa Adam. Penipu. Pengkhianat. Manusia yang rela mengorbankan seluruh spesiesnya demi “kemenangan”.
Ia berdiri dan berjalan ke ruang core.
Adam sudah menunggu. Tubuhnya sudah setengah berubah—kulit pecah, energi Naytiba merayap di ototnya. Saat melihat Bejo, ia tersenyum dingin.
“Penyusup.”
Adam menyerang duluan. Blade-nya hampir menancap di leher Bejo. Bejo menangkis. Benturan logam menggema di ruang core.
Pertarungan itu brutal. Adam terus berubah, semakin cepat, semakin kuat. Bejo tertusuk dua kali, tulang rusuknya retak, darah membasahi lantai. Tapi Perfect Human bekerja. Luka menutup. Tulang menyambung. Ia terus maju.
Ketika Adam mengeluarkan bentuk terakhirnya—tubuh hampir sepenuhnya Naytiba—Bejo sudah siap. Ia menunggu celah sepersekian detik, lalu menusuk tepat di titik yang ia hafal dari ratusan kali gameplay.
Adam terhuyung. Darah hitam mengalir dari mulutnya. Ia jatuh.
Bejo berdiri di atas tubuhnya, napas berat, tubuh penuh goresan yang perlahan menghilang. Ia menatap mayat Adam tanpa emosi.
“Kau tidak akan mengorbankan siapa pun lagi.”
Ia mengambil pesawat Adam yang tertambat di luar. Mesin menyala. Bejo menatap peta.
Matrix 11.
Di sana masih ada kemungkinan manusia tersisa. Atau setidaknya, petunjuk berikutnya.
Pesawat lepas landas, meninggalkan Abyss Levoire yang sudah menjadi kuburan.
Bejo menatap langit wasteland yang merah.
Ia baru saja membunuh Adam.
Dan cerita sebenarnya baru saja dimulai.









