King 4D - Agen Bola   Poker Ace
9Club Situs Judi Online Terpercaya
Asus Togel online   Premier 189
Website Bandar Agen Taruhan Judi Bola Online Terpercaya   Game MM Bola Tangkas Online Indonesia
Situs Bandar Togel Online Resmi Terpercaya   Situs judi Deposit Pulsa
Situs Judi Deposit Pulsa Tanpa Potongan   Liga Dunia
Mandala Toto
Pasang iklan, hanya lewat Contact Us.
Waspada penipuan iklan. Klik di sini untuk melihat daftar penipu.

CERBUNG MAJELIS SYAHWAT [NO SARA]

Tim manakah kalian yang paling menantikan background karakter Majelisnya dibahas?

  • Tim Husna

    Votes: 51 25,1%
  • Tim Farida

    Votes: 15 7,4%
  • Tim Sofia

    Votes: 34 16,7%
  • Tim Khansa

    Votes: 9 4,4%
  • Tim Ustadzah Alya

    Votes: 132 65,0%

  • Total voters
    203
  • Poll closed .
Status
Thread ini sudah dikunci moderator, dan tidak bisa dibalas lagi.
Indosniper

NTR_Hinelle

Kakak Semprot
Thread Starter
Daftar
13 May 2020
Post
188
Like diterima
2.354
Lokasi
Pinggiran Dusun Agak Sanaan Dikit
Bagian Pertama
~ Berlomba Mereguk Kenikmatan Part A ~


Ustadzah Alya Ummu Safiyyah

“Jadi, namanya tadi siapa, mbak?” tanya Ustadzah Alya yang menyadarkan lamunanku.

“Husna Nadya Al-Humaira, Ustadzah. Panggilannya Nana. Soalnya lebih feminim gitu,” jawabku sedikit malu.

Aku bukanlah orang yang berbakat dalam bergaul dengan orang-orang baru, ini adalah pengalaman pertamaku masuk ke grup seperti ini.

“Loh, kok gitu? Jangan karena feminim dong alasannya, karena lebih enak dipanggil misalnya. Nama Husna itu bagus kok artinya,” puji Ustadzah Alya sembari memutar setir mobilnya, aku hanya tersipu mendengarnya.

“Makasih, Ustadzah.” Perlahan aku mulai tak canggung lagi berada di dekatnya.

Aku melirik tubuh Ustadzah Alya dibalik gamisnya. Dia tampak langsing dari luarnya. Atau mungkin hanya karena jenis pakaiannya. Aku tak mengerti, hanya saja kalau aku telusur baik-baik ketika napasnya naik turun terlihat dadanya cukup proporsional di tangan, setidaknya 32D, lebih sedikit dariku yang berbadan montok ini.

“Yuk, cemilan mana aja yang kamu mau beli?” Ustadzah pun memarkirkan mobilnya.

Saat mendengar Ustadzah Alya ingin keluar beli cemilan sebelum acara mulai, aku inisiatif ikut pergi bersamanya. Beruntung Mas Dani ngga neko-neko kalau teman jalannya perempuan.

Aku mengambil beberapa krim susu cair, oreo, dan juga soda ukuran sedang, sedangkan Ustadzah Alya membeli beberapa jenis keripik kentang, camilan coklat busa yang lumer di mulut, juga sprite ukuran sedang.

“Total semuanya Rp92.000 ya, kak. Kembaliannya Rp8.000, silahkan kak.” Kasir yang merupakan remaja ABG itu tampak tersenyum saat mengembalikan uangnya dan sengaja melamakan tangannya satu detik di atas jemari Ustadzah Alya.

“Mas, jangan sembarangan! Kita ini, bukan mahram tahu!” protes Ustadzah Alya, padahal kejadian itu terasa hanya sekilas bagiku dan tangan Ustadzah Alya pun terbalut sarung tangan, namun Kasir tersebut tampak panik dan Manajer Indoapril memandangi kami dari kejauhan.

“M-Maaf mbak, ngga sengaja!” Kasir itu menunduk panik bahkan sepeninggal kami dari mini market tersebut ia masih tampak gelisah.

Ustadzah Alya melepaskan sarung tangannya dan mengeluarkan uang Rp10.000 dari dalam tasnya lalu melambai ke tukang parkir yang terlihat sedang ngadem di jalan. Pria tua itu pun bergegas bangun dan datang menuju Ustadzah Alya.

“Makasih, nduk!” jawab tukang parkir tersebut menyambut uang Ustadzah Alya.

“Nah ini khusus dari saya pak, semoga bisa bantu ngademin sedikit …” Ustadzah Alya spontan memasukkan tangannya ke celana training tukang parkir tersebut dan mengelus-elus kemaluannya langsung dari dalam.

Aku terkejut melihat standar ganda Ustadzah Alya, bagaimana bisa ia protes saat disentuh orang lain dengan alasan bukan mahram, sedangkan ia malah melakukan hal tidak senonoh semacam itu di parkiran.

Jangan-jangan dari awal ia sudah memikirkan hal ini?

Kalau punya mobil pasti paham, bayar parkir itu ngga perlu sampai repot-repot keluar, cukup lewat jendela saja.

“Bantu mobil saya keluar ya, pak!” Ustadzah Alya meninggalkan tukang parkir yang masih bengong di tempatnya, ia pun baru tersadar saat aku dan Ustadzah Alya masuk ke mobil kami.

Suara peluit itu pun perlahan mengecil saat mobil kami menjauh dari Indoapril. Aku masih tak bisa bicara, melihat sikap Ustadzah Alya beberapa menit yang lalu.

“Kenapa, Na?” tanya Ustadzah Alya padaku.

“Ustadzah beneran … Ustadzah?” tanyaku balik dengan nada tidak yakin, ia pun sontak tertawa mendengarnya.

“Iya beneran kok, nih leaflet acaraku waktu ngisi pengajian di Pesantren Kota A dulu,” ucapnya sembari menyodorkan leaflet acara pengajian dan sharing motivasi kehidupan di dasbor mobilnya padaku.

Aku menatap lekat leaflet itu. Mustahil dia Ustadzah gadungan kalau bisa mengisi acara di tempat besar seperti ini pikirku.

“Kok bisa … Ustadzah—“

“Megang kontol orang? Ya bisa lah, Ustadzah manusia, bukan malaikat, masih bisa bikin dosa. Masih bisa ikut grup beginian,” potong Ustadzah Alya.

Kami pun tiba kembali di villa, namun anehnya kali ini, kami parkir cukup jauh dari pintu depan villa. Aku sedikit heran saat Ustadzah Alya memilih parkir di sini, bukan dekat pintu, biar ngga jauh jalan.

“Yuk, turun!” Ustadzah Alya membawa kantung belanjaannya, aku pun turun bersamanya dengan kantung belanjaan berisikan cemilanku.

Ustadzah Alya tidak langsung berjalan. Ia menaruh kantung plastik belanjaan itu di tanah terlebih dahulu lalu menyingsing gamis miliknya sampai pinggul hingga memperlihatkan celana dalam thong miliknya yang hanya melindungi bagian vaginanya saja.

Dibalik gamis syar’i miliknya, ternyata Ustadzah Alya hanya mengenakan celana dalam dengan model seperti itu yang membalut pantat sekalnya.

Ustadzah Alya lalu melilit gamisnya dengan simpul sehingga nampak menggantung di pinggangnya.

Aku tersadar lalu terkejut dibuatnya, spontan aku pun menjerit, “Ustadzah!! Ustadzah ngapain!!”

“Lho kamu ngga denger kataku pagi tadi pas briefing. Kalau di area villa kamu wajib ikut code dress grup. Parkiran ini udah masuk area villa. Kamu mau angkat gamisnya atau mau Ustadzah hukum?” ancamnya dengan nada nakal, ia nampak tersenyum dibalik cadarnya dan mengerling ke arahku.

Sekarang aku paham kenapa Ustadzah Alya memilih parkir jauh dari pintu. Dia ingin aku merasakan sensasi ekshibis dengan ikatan aturan grup Majelis Syahwat. Benar-benar cara yang gila, pikirku.

Aku masih sedikit terpana, pakaian Ustadzah membuatnya tampak kurus, namun dibalik semua itu tubuhnya lumayan proporsional. Pantat sekalnya begitu putih dan kenyal, jangan-jangan dia rajin workout untuk mengelola asetnya itu. Tapi apa bisa seorang Ustadzah nge-gym dan pakai baju ketat ala gym buat workout, kemelut hatiku.

Dengan begitu tenang tampak ia menyisir jalan parkir, pantat putihnya melenggak-lenggok ke kiri dan kanan, seolah berteriak minta diremas.

Aku meneguk sedikit air liurku, kenyal sekali kelihatannya, ingin kucoba gigit sedikit untuk memastikan apakah pantat itu pemiliknya seorang manusia.

Aku menggeleng menyadarkan diri dari lamunanku.

Aku ikut menyingsing gamisku dan menyimpulnya sama seperti Ustadzah Alya, hanya saja celana dalamku tidak seberani miliknya, celana dalamku hanya celana dalam lace biasa berwarna putih dengan tali kecil berbentuk pita di kiri dan kanan sebagai pengikatnya.

Aku menggunakan plastik belanja untuk menutupi bagian depanku sedangkan bagian belakangku kurelakan karena celana dalamku masih menutup belahan pantatku.

Aku mengikuti Ustadzah Alya dari belakang sambil menahan nafsuku, tentu saja celana dalam jenis itu mana mungkin menyembunyikan belahan pantatnya.
DEG!
Benar saja, ternyata ada seorang kakek-kakek penjual gorengan lewat jauh di samping jalan masuk vila yang kini melihat diriku dan Ustadzah sedang ekshibis ria.

“Ustadzahhh … ada orangggg!!” panggilku cemas, ia melirik sejenak kakek yang sedang mengayuh sepeda itu dari kejauhan.

“Kakek-kakek doang, paling matanya udah rabun. Kamu sange sama yang modelan gitu?” tanyanya balik, menghiraukan kepanikanku.

Kakek itu nampak mencoba memastikan pandangan pada kami, mungkin ia tak rabun karena tepat setelah ia memastikan tindakan gila kami, sepedanya menabrak pohon dan kakek tua itu tersungkur di jalan, membuat gorengan jualannya berhamburan.

“Tuh, udah K.O. Yuk, tinggalin aja,” ajak Ustadzah Alya tanpa rasa kasihan sedikitpun.

Aku menggigit bibir bawahku.

Mengapa aku merasa kesal dengan kepercayaan dirinya serta cara ia mendominasi suasana.

Mengapa dalam hatiku aku merasa kalah telak saat ini, kalah berani, dan kalah segala-galanya.

Namun dalam kemarahan hatiku, celana dalamku juga mulai lembab saat mendapat perlakuan seperti ini.

Merasakan ada warga sekitar yang melihat seorang akhwat ekshibis, menjadi pengalaman baru bagiku. Jadi begini rasanya saat tubuhmu yang terbiasa dibalut gamis dan hijab dinikmati orang banyak, menantang namun tak bisa dijamah.

Ada perasaan senang yang sedikit muncul, ada takut, ada geli, ada rasa tegang takut ketahuan, semua bercampur menjadi satu.

Setibanya kami di lobi, sebagian anggota sudah mengenakan code dress mereka sesuai arahan Ustadzah Alya sebelumnya.

Mas Dani masih mengenakan kemeja flanel awalnya dan sekarang ia hanya mengenakan celana dalam. Bisa kulihat bayangan penis Mas Dani dari luar, terjiplak di celana dalamnya. Penis Mas Dani ukurannya sedang, sekitar 17 cm dengan lebar mungkin 4-5 cm. Aku sungguh kurang bersyukur jika tidak puas dengan ukuran standar pria itu.

Hanya saja, aku mengakui, dibalik gamis dan hijabku, fetishku adalah ketika aku haus melayani pria lain, terutama di depan Mas Dani.

Sedangkan Mas Rifky yang diajak ngobrol Mas Dani juga hanya mengenakan kaus kemeja berkerah dan celana dalam. Sehingga penisnya juga ikut menjiplak di balik celana dalamnya. Hanya saja aku tak tahu ukurannya, walaupun dari luar aku menduga seukuran dengan Mas Dani.

“Kalau udah pada Shalat Dzuhur, nanti balik lagi ke lobi ya, kita pasang plat buat pasangan swinger ikhwan dan akhwat harian. Langsung aja dijamak shalatnya biar banyak waktu bebasnya,” sapa Ustadzah Alya pada mereka berdua.

Seketika keduanya terpana saat melihat kami, khususnya Mas Dani. Aku melihat Mas Dani tampak membetulkan letak penisnya yang ereksi saat melihat Ustadzah Alya yang mengenakan celana dalam menantang.

Begitupula dengan Mas Rifky, ia sedikit gelisah melihat celana dalam yang hanya mampu menutupi bibir kemaluan Ustadzah Alya, seorang akhwat alim dan bercadar.

Aku menunduk dan menyingkirkan sedikit kantung plastik belanjaanku, untuk memperlihatkan celana dalamku. Kenapa tidak ada yang memandangku dengan mata yang sama seperti memandang Ustadzah Alya, pikirku.

Hatiku sedikit teriris, saat tunanganku sendiri malah tampak horny dengan akhwat lain.

“Halo? Ngerti ‘kan? Nanti aku pos di grup WA aja deh ya kalau gitu?” goda Ustadzah Alya sedikit mengerling pada mereka dan meninggalkan kami bertiga.

Mas Rifky masih memandangi pantat semok Ustadzah Alya yang melenggang ke kiri dan kanan di kejauhan, sementara Mas Dani sedikit mengerti perasaanku dan menggandengku menuju kamar kami.

Aku menaruh kantung plastik belanjaan itu di kamar dan sedikit mengusap air mataku. Mas Dani menyentuhku namun aku menepisnya.

Aku tak mau bicara sepatah katapun ketika ia meminta padaku buat mengimami Shalat Dzuhur lanjut Ashar kami. Aku pun bergegas meninggalkannya sendirian di kamar menuju lobi setelah selesai Shalat dan merapikan mukenaku.

Aku kembali memakai code dressku untuk acara selanjutnya.

Satu-persatu seluruh anggota mulai berkumpul dengan mengenakan code dress masing-masing.

Lobi mulai terasa panas karena baik kami para akhwat maupun para ikhwan horny melihat diri masing-masing. Terkecuali Ustadzah Alya yang tampak tenang dengan celana dalam thong miliknya.

Dibalik atasan gamisnya, dada Sofia terjiplak jelas bulat seolah meneriaki sang pemilik bahwa pakaiannya tidak muat. Celana dalamnya yang ketat pun menampilkan jiplakan belahan vaginanya begitu tegas membuat para ikhwan di sana horny.

Sedangkan Farida justru lebih berani, ia tak mengenakan beha samasekali sehingga putingnya terlihat jelas di balik gamis ketatnya, dan sedikit rambut daerah kewanitaannya yang halus bahkan mengintip nakal dari balik celana dalamnya. Mas Rifky yang jelalatan matanya, berusaha menelanjangi Farida dengan tatapan cabulnya.

Pak Marwan sedikit banyak jadi sorotan aku, Farida, dan Sofia. Beliau hanya mengenakan kaus kutang dan celana dalam bokser pendek, akan tetapi dibalik bokser itu penisnya yang berukuran jumbo melenggak-lenggok saat ia duduk, membuatku menelan air liurku.

Aku tak bisa membayangkan penis sebesar itu mengaduk-aduk liang vaginaku, bisa-bisa aku mati di ranjang kalau harus melayaninya, pikirku.

“Nah, sekarang kita mulai dengan pasangan swinger kita dulu. Plat ini akan terus berganti setiap kali pertemuan. Jadi, untuk setiap hari ikhwan bernama ini berhak berzina dengan akhwat bernama ini. Kalau setelah zina dengan pasangan harian mereka dan mereka masih kuat serta mau lanjut threesome sama akhwat yang lain diperbolehkan, asal bukan sama pasangan aslinya,” jelas Ustadzah Alya.

Aku bersanding dengan Mas Ridwan.

Farida dengan Mas Rifky.

Sofia dengan Pak Marwan, dan

Ustadzah Alya dengan tunanganku Mas Dani.

Ketika Ustadzah Alya selesai meletakkan plat nama kami satu-persatu, Sofia tampak paling kaget dari kami semua karena mendapati namanya bersanding dengan Pak Marwan hari ini. Yang artinya penis buas Pak Marwan akan mengaduk-aduk liang vaginanya dari siang ini sampai besok pagi kami check-out villa.

Sementara aku sendiri, meski dari luar nampak tenang, sejujurnya hatiku pun gundah.

Pertama, dari siang ini sampai besok pagi tubuhku harus siap dipakai oleh suami sahabatku sendiri, Mas Ridwan.

Kedua, tunanganku akan bersama dengan Ustadzah Alya yang tampak menang dari segala aspek dibanding diriku. Mulai dari bentuk tubuh sampai pengalaman ranjang.

“Kalau udah, silahkan lanjut beraktivitas masing-masing ya. Siang sampai sore ini kita selalu awali dengan zina wajib dulu, untuk setelah Maghrib bagi yang mau melanjutkan zina sunnah dipersilahkan. Bagi yang mampu aja ya, jangan dipaksakan. Tuhan tidak mau kita beribadah karena terpaksa,” jelas Ustadzah Alya sembari tersenyum nakal dan bubar dengan membawa tunanganku ke kamarnya.


Husna Nadya Al-Humaira

Mas Ridwan menggandengku yang masih malu-malu dan menjatuhkan tubuhku yang bagian atasnya masih tertutup hijab dan gamis di ranjang kamar.

“Dek Husna, kamu cantik,” rayu Mas Ridwan sambil mencolek nakal vaginaku dari luar celana dalamku.

Sejujurnya Ustadzah Alya masih membuat hatiku bete. Tapi, gerakan Mas Ridwan memulihkan nafsuku kembali karena bercinta dengan lelaki lain selain dari pasanganku adalah fetish kesukaanku.

“Panggil Nana aja kak Ridwan,” bisikku.

Aku terbiasa memanggil Mas Ridwan dengan sebutan kakak jikalau kami hanya bicara berdua. Semua itu berlangsung sejak lama bahkan selagi Farida dan Mas Ridwan masih berpacaran.

“Nana….” bisiknya di telingaku dan menggigitnya, aku mengaduh geli saat ia menggodaku di sana dari luar hijabku.

Kami bertatapan sesaat sebelum Mas Ridwan bergerak memagut bibir mungilku.

“Mmmmmpppssshh … mmmmmhhhhh … eummmmm ehh kaaakkkkkhh …” desahku di sela-sela ciuman kami, berusaha mengambil napas namun ia tak membiarkannya.

Kurasakan putingku mengeras di bawah behaku saat Mas Ridwan mencubit nakal dadaku dari luar gamisku tanpa melepas lumatannya.

“Mmmshhhhh … Sssllrppphhh … Slrupphhhhh … Mmmmmh …. Ohhhh …”

“Sllllruphhh … Cccchhppphh … Cccpphhhh … Mmmhhh … Ahhh … Hhaaahhh … “

Aku bernapas lega saat Mas Ridwan akhirnya melepaskan lumatannya, namun hanya sesaat sebelum kemudian ia lanjut mengecup dan menghisap dadaku dari luar gamisku. Tingkahnya itu membuat listrik serasa mengaliri sekujur tubuhku dan membuatku kelojotan.

Aku mendesah kencang, saat mulut Mas Ridwan menghisap dalam-dalam putingku bagaikan vakum. Tubuhku terbakar api birahi, dan syahwatku mengalir sampai ke ubun-ubun. Celana dalamku dialiri cairan kewanitaan hingga aku benar-benar basah di bawah sana.

Semua ini hanya dari ciuman semata?

Oh Tuhan, ampunilah aku. Ampunilah aku yang terangsang dengan suami sahabatku sendiri.

Maafin Umi, Abi.

Maafin Umi, jeritku dalam hati.

Mas Ridwan berhenti menciumku, ia bergerak menarik retsleting belakangku dan menarik lepas baju gamisku. Aku menatap sayu wajahnya menuruti keinginannya.

“Tubuh kamu juga … bagus dek,” puji Mas Ridwan yang membuat hatiku berbunga-bunga mendengarnya. Untuk sesaat aku lupa kekesalanku pada Ustadzah Alya berkat pujiannya.

Mas Ridwan menghisap putingku dari luar beha, sementara kedua tangannya bergerilya ke belakang tubuhku untuk mencari pengaitnya. Setelah terlepas ia pun melemparnya ke sudut ruangan.

Ia memandangi dadaku dan tangannya meremas-remas nakal payudara kiri dan kananku bergantian.

“Dadaku kecil ya mas?” tanyaku sedikit mengeluh.

“Pas kok di tangan, gede-gede juga buat apa?” jawab Mas Ridwan ringan. Ohh~ sungguh pujian yang mengembalikan kepercayaan diri serta harga diriku.

“Clllrppphhhhhhhh … Clllrppphhhhhhhh … ”

Suaranya menghisap putingku membuatku terangsang maksimal, aku tak bisa berpikir jernih hingga akhirnya tubuhku menegang saat jari telunjuk kanannya dengan nakal menekan puting kiriku bersamaan dengan bibirnya yang menyedot puting kananku.

“Kaaaaakhhhh … akkkhuuuu … sampaaaai … “ jeritku dan tubuhku pun menegang meraih orgasme pertamaku.

Crrrrrrrrrttthhhhhh … Crrrrrrrrrttthhhhhh …

Mas Ridwan sedikit menyingkap hijabku yang sempat beberapa kali menutupi dadaku, kakiku masih menggantung di pinggir ranjang, ia mundur melepaskan tindihan tubuhnya.

“Kamu, udah becek banget, dek.” Mas Ridwan terus menerus mengkobel-kobel area kewanitaanku dengan dua dan tiga jari bergantian tanpa melepas celana dalamku—menghiraukan teriakanku yang memenuhi kamar ini.

“Mmmmmmmhhhh … eunggghhhhhhhhh … ohhhhhkkk … kaaaaaaakh … akkhhuuuu … masihhhh … lemeshhhhhh … jangannnnhh … orrghhhhh … orgghhhhh … ” jeritku menjawab tindakan Mas Ridwan.

Mataku tak lagi dapat memandang dengan jelas, rasanya pupilku terputar ke atas, tatapanku memutih merasakan fetish favoritku yakni ketika tubuh alimku dijamah lelaki lain yang bukan haknya.

Mas Ridwan menghentikan sesaat aksi nakalnya dan melepaskan celana dalamku yang sudah basah kuyup. Menampilkan vaginaku yang agak tembem membecek disebabkan perbuatannya.

Kepalaku yang sempat miring ke samping kembali menengadah ke atas saat Mas Ridwan malah mendekatkan jarinya yang penuh lendir cintaku ke bibirku.

“Sllllrphhhhhh … Slrrrphhhhhhhh … Slrrrprpppphhh …” reflekku kala menyambut suguhan jarinya.

Aku paham apa yang ia inginkan, aku menjilati lendir cintaku yang ada di tangannya sampai bersih sebelum kemudian Mas Ridwan meloloskan celana dalam dan melepas bajunya—menampakkan batang kejantanan miliknya yang ukurannya sedikit lebih besar dari Mas Dani. Namun ia tak langsung memasukkan senjatanya ke dalam organ kewanitaanku.

“Kamu bikin aku sange, dek!” lirihnya.

Mas Ridwan ternyata tidak langsung membuang celana dalamku yang basah tadi. Ia menggenggamnya erat dan sedikit memerasnya di wajahku lalu melumuri setiap senti wajahku dengan cairanku sendiri.

“Kaaaaaaakkhhhhh … kaaaakkaakkkhhh … ngaphhhaain …” desahku di kala tangannya yang satu kembali bergerilya di dalam lubang vaginaku.

“Kakak mau tandain wajah alim kamu dek, pakai cairan kamu. Muka alim kamu yang banyak lendir bikin kakak sange,” bisik Mas Ridwan.

Aku orgasme kecil saat ia mengatakan hal itu dan tangannya kembali mengobel sisa-sisa cairanku. Ia terlihat mengoleskan cairan cintaku di penisnya sebagai pengganti pelicin ditambah dengan ludahnya sendiri dan mempersiapkan penisnya di depan tubuhku.

“Aku tahu kamu ngga suka nyepong, dek. Jadi, aku giniin aja. Gimana? Udah siap?” tanya Mas Ridwan penuh pengertian aku mengangguk pelan.

Aku masih berbaring terlentang dengan posisi sama, kakiku menggantung di pinggir ranjang. Mas Ridwan berdiri di pinggir ranjang dan menarik betisku hingga pantat dan vaginaku bergeser mendekati kontol miliknya.

“Ahhhhhkkkkkk … Eummmhhhhhhhhh … Haaahhhhhhhh …” rintihku meresapi masuknya kontol Mas Ridwan setiap sentinya ke dalam vagina milikku.

“Uuuuuhkkkkkk … memekmu masih ada seret-seretnya dekkkkkhhh …” balas Mas Ridwan yang kelihatannya juga menikmati jepitan area kewanitaanku.

Ketika penis Mas Ridwan sudah mentok semuanya di dalam diriku, aku menepuk tangan kanannya yang menahan dadaku, memintanya untuk diam sejenak agar vaginaku bisa menyesuaikan diri. Mas Ridwan mengerti hal itu.

Namun aku salah jika berpikir ini akan kulalui dengan mudah.

Rupanya celana dalamku yang banjir belum juga dicampakkan oleh Mas Ridwan. Sementara aku menyesuaikan diri dengan kontolnya, ia merentangkan celana dalamku yang basah lalu menutupi wajahku dengan pakaian dalamku yang berlumuran cairan cintaku sendiri.

Aku menepuk-nepuk tangannya berusaha melawan, namun sia-sia. Aroma vaginaku tercampur dengan cairan cintaku masuk jauh ke dalam penciumanku. Mas Ridwan terus menekan celana dalam basahku, seolah tak rela jika aku tak menghirup habis hasil usahanya.

Crrrrrrrrrrrrttttttshh … Crrrrrrrrrrrrttttttshh …

Aku menegang dan mendapatkan orgasme kedua dalam keadaan sesak napas dan dinding vagina yang terisi penuh oleh penis Mas Ridwan, dia bahkan belum mulai menggenjotku.

Ah, kenapa aku begini? Kenapa aku malah jadi wanita murahan? Apakah karena fetishku? Atau karena perlakuan Mas Ridwan yang pengertian padaku?

Pertanyaan itu hanya berkunang-kunang di kepalaku saat Mas Ridwan menggenjotku.

Plopppphhhhh ... Cplapppphhhh ...
Cplapppphhhh ... Cplapppphhhh ...
Cplapppphhhh ... Cplapppphhhh ...

Suara kelamin kami bertemu dengan pelan namun teratur. Mas Ridwan mengerti aku perlu mengumpulkan gairahku dulu agar bisa menikmati ini.
Beberapa saat ketika napasku mulai berat dan wajahku kembali panas Mas Ridwan pun mempercepat genjotannya.

Plokkkkkkk … Plokkkkkkk … Plokkkkkkk …
Plokkkkkkk … Plokkkkkkk … Plokkkkkkk …
Plokkkkkkk … Plokkkkkkk … Plokkkkkkk …

Suara kelamin kami terbentur makin keras membuatku menjerit-jerit dibuatnya. Aku mencengkram sedikit tangan Mas Ridwan mencoba mendapatkan orgasmeku. Tepat saat aku hampir berada di puncak, Mas Ridwan malah berhenti.

“Balik dek! Nungging! Aku pengen lihat pantat kamu,” ucapnya.

Aku yang sudah horny berat menuruti kemauannya. Aku menatap sayu wajahnya sesaat sebelum membalikkan tubuhku, menunggingkan pantatku, dan menukikkan bagian dadaku ke bawah, memberikan sajian terindah dari memek becekku padanya.

Dia bahkan sempat menjilat nakal anusku, membuatku mengaduh dan gairahku terbakar. Dua hingga tiga jari ia colokkan ke dalam sana dan anusku seolah tak menolak kehadirannya dan lugas berkedut lebar.

Namun penetrasi yang ia ingin lakukan di vaginaku bukan berupa tusukan. Mas Ridwan sengaja memasukkan hanya bagian kepala penisnya di bibir vagina milikku sebelum kemudian—

PLAAAKKKKKK!!!

Tamparan keras di pantatku membuatku kaget dan vaginaku rileks. Dalam keadaan lengah itu sodokan Mas Ridwan ia luncurkan masuk bak roket terbang meninggalkan landasan pacu terus sampai ke pintu rahimku dan membuat air liur menetes membanjiri bibirku serta membasahi hijabku.

“Orgggghhhhhh … Okkkkkkhhh … Okhhhhhhhh …” racauku yang terkumur air liurku sendiri kala kenikmatan tusukan Mas Ridwan meresapi tubuhku.

Plokkkkkkk … Plokkkkkkk … Plokkkkkkk …
Plokkkkkkk … Plokkkkkkk … Plokkkkkkk …
Plokkkkkkk … Plokkkkkkk … Plokkkkkkk …

Gempuran demi gempuran kontol Mas Ridwan menghantam keras pantatku tanpa ampun. Ia pun nampak gelisah dan mempercepat gerakannya lagi.

“Aaaakhhh … Aaaakhhh … Aaaakhhh … Kencengin jepitanmu dek. Aku mau keluar!!!” racau Mas Ridwan dengan tubuhnya yang sedikit menegang.

Aku mengerahkan tenagaku yang tersisa untuk mengencangkan urat vaginaku hingga menjepit kontol Mas Ridwan lebih kencang. Mas Ridwan berteriak dan—

Crrrrrrrrrrrrttttttshh … Crrrrrrrrrrrrttttttshh …

Ia mengeluarkan maninya di dalam rahimku.

“Sedikit lagi, padahal….” pikirku yang menangis dalam hati. Andaikan Mas Ridwan bertahan sedikit lebih lama lagi aku pasti bisa keluar bareng dia dan kita sama-sama dapet.

Aku meremas sedikit sprei ranjangku, menahan kekecewaan. Meski begitu, aku tak ingin menyakiti Mas Ridwan yang sudah memperlakukanku dengan penuh pengertian.

“Kamu memang lonteku, dek!” bisik Mas Ridwan yang kemudian mengecup leher belakangku.

PLOPPHHHH!!

Suara kontol Mas Ridwan sedikit terdengar kala ia melepaskannya dari vaginaku, dan peju Mas Ridwan pun terasa mengalir keluar dari vaginaku hingga membasahi pangkal pahaku.

TOK! TOK! TOK!

“Permisi, Pak! Buk! Saya masuk ya!”

Aku menggunakan sebagian tenagaku yang baru terkumpul untuk balik badan, sekedar menatap sayu pintu kamarku yang terbuka, terlihat Mas Ridwan tampak kaget saat melihat Pak Marwan masuk ke kamar kami dengan keadaan telanjang.

“Loh, Pak Marwan ngapain ke sini? Ini ‘kan belom Maghrib pak,” tanya Mas Ridwan heran.

“Ya mau ngentot lah, eh zina maksud saya. Hehe. Itu si non yang teteknya gede mainnya kayak anak bau kencur. Colok dikit keluar. Colok dikit keluar. Baru jalan satu jam udah tepar, ngga gerak lagi. Ya udah lah saya tinggal aja, sekalian silaturahmi kelamin ke sini,” jawab Pak Marwan yang bergerak mendekat ke arahku.

“Tapi Husna baru keluar habis aku pejuin tadi, pak. Kasih dia istirahat dulu,” pinta Mas Ridwan.

“Belum pak,” potongku singkat dan menatap penuh harap kepada Pak Marwan.

“Dia keluar duluan … hhh … ngga ngajak-ngajak aku …hhh …” jawabku sedikit tersengal, Pak Marwan pun tertawa terbahak-bahak mendengarnya.

“Tuh dengerin! Akhwat lonte ini aja bilang sendiri, bapak ngga bisa muasin dia. Mending bapak duduk manis aja di sana, biar saya yang lanjutin, hakhakhak,” balas Pak Marwan dengan tawanya yang terkesan khas bagi para kalangan bawah.

“Husna … ternyata kamu …” Mas Ridwan menatap sayu wajahku dan beralih duduk di salah satu kursi kamar kami, menonton aku dan Pak Marwan.

Pak Marwan menarik tubuhku dan mendekatkan wajahku ke pinggir ranjang. Mataku menatap lekat-lekat kontolnya yang besar dan memegangnya pelan seolah masih tak percaya, ini ukurannya mungkin 20 cm, lebarnya kira-kira 6 cm. Masuk kriteria jumbo menurutku.

Aku menatap penuh harap kepada penis jumbo Pak Marwan agar sekiranya bisa mengantarkanku menuju kepuasan yang sempat tertunda.

“Nih kontolnya ya lonte, kalau mau dimasukin kasih licin dulu!” perintah Pak Marwan seraya menyodorkan kontol besarnya ke bibirku.

“Kloqqqqqqqq … Hoohkloqqqqq … Ookkloqqqqq … Okloooqqqqhh …” Mulutku tersumpal oleh penis jumbo milik Pak Marwan, air liur mengalir di sudut bibirku setiap Pak Marwan menghujamkan sesekali kejantanan miliknya.

Aku berusaha keras mengulum penis miliknya, namun bagaimana pun aku berusaha, mulutku hanya bisa mencapai seperempat dari penisnya, itu pun sudah kucoba mentokkan sampai air mataku keluar.

Tapi aku tak habis akal, meski lemah, tangan kananku bergerak mengocok pangkal batangnya. Dengan gerakan kombinasi mulut dan tangan, aku mulai memaju mundurkan kepalaku, memainkan lidahku, menghisap-hisap kontol Pak Marwan seperti vakum, dan terus mengganti variasi permainanku.

“Ahkkkkkkkkk … uhhhhkkkkkkk … hahhhhhhhh … akhwat lonte memang toppphh … servisnyahhhh … uhhhhhh … pasthiiii kamuu … haahhhh … rajin ikuttth pengajiannnnnhh … masalah ngelonte yahhhhhh … akkkkkkkhhhh …” racau Pak Marwan namun aku hanya menghiraukannya.

Yang jadi perhatianku sekarang adalah Mas Ridwan yang duduk di belakang Pak Marwan sembari mengocok penisnya sendiri. Ia menatap penuh kecewa padaku.

Dari dulu memang aku selalu cerita padanya aku tidak pernah suka kalau Mas Dani minta oral seks. Sekarang akunya malah memberikan servis oral, bukan ke Mas Dani, bukan ke dia, tapi sama orang asing yang ngga jelas asal-usulnya.

Aku tersenyum dan bertambah semangat mengoral penis Pak Marwan, saat wajah Mas Ridwan tampak lebih horny melihatku.

“Orggggghhhhh … Orggggghhhhh … Lonteeeeeeeeeee!!!!” teriak Pak Marwan sembari memegang hijabku dan menahan kepalaku yang berontak.

Croooooootttttttttth Croooooootttttttttth

“Gulp … gulp … hoooqqllokkhhhh …” Pandanganku rasanya kembali memudar saat Pak Marwan mengeluarkan banyak peju dalam tenggorokanku hingga aku nyaris kehabisan napas.

“Ahhhhhhhhhhh … nah gini kan kerasa dikit mainnya. Itu lonte akhwat yang sebelumnya modal toket gede doang. Colek dikit ngecrot. Cium dikit ngecrot. Tusuk dikit ngecrot. Mau dizinahin malah pingsan. Ngga ngotak memang memeknya,” protes Pak Marwan sambil menarik lepas penisnya dari mulutku.

Pejunya yang begitu banyak mengalir keluar melewati bibirku dan membasahi hijabku, bercampur dengan air liurku. Mas Ridwan yang melihatku mempercepat kocokannya, ketika cairan mani terlihat muncrat di ujung penisnya aku pun tersenyum penuh kemenangan.

Rasa menggelitik muncul di dadaku, saat berhasil memainkan perasaan Mas Ridwan.

Mas Ridwan mencuriku dari Mas Dani, sekarang Pak Marwan mencuriku dari Mas Ridwan. Ahhh~ Surga apa yang kumasuki sekarang ini. Aku dilanda fetishku dua kali dalam sehari.

Sedikit banyak aku mulai mengerti mengapa Ustadzah Alya merekrut Sofia ke dalam grup Majelis ini. Dari cerita Pak Marwan sepertinya Sofia memiliki sedikit kelainan dalam urusan seks.

Tapi masa bodoh lah. Kenapa aku mesti memikirkan Sofia sekarang. Yang penting gimana caranya aku mencapai kepuasan duniawiku di kamar ini bersama Pak Marwan.

“Pak … zinahi aku,” pintaku pada Pak Marwan. Hijabku yang sudah awut-awutan dengan peju di sana-sini rasanya sudah tidak bisa lagi mengekang ucapan kotorku.

“Hakhakhak, bukan gitu cara mintanya akhwat lonte,” hina Pak Marwan.

Pak Marwan membelai wajahku lalu menarikku hingga berdiri. Ia duduk di pinggir ranjang dan memangku tubuhku montokku menghadap Mas Ridwan.

“Bayangin dia itu suamimu, terus minta izin ke dia supaya aku jadi tuanmu dan bersedia ngontolin memek kamu, biar hubungan kita ini ngga dosa sayang,” lanjut Pak Marwan.

Tatapanku berubah penuh kebahagiaan membayangkan harus melakukan itu ke Mas Ridwan.

Ini benar-benar fantasi seksku yang terwujud menjadi kenyataan. Fantasi seks yang sampai kapanpun ngga bakal bisa kuraih selama aku mamakai hijab dan gamis di bawah naungan agama.

“Masshh Ridwan … emhh … suamiku sayanggh ... Husna pengen Pak Marwannh … uhmm ahhh … jadi tuannya Husna … memek Husna pengennhhh … dikontolin sama diaahhh … ya sayang yahhhhh … izinin yahhh … aku mau zina sama diahhh … suamikuhhh …” racauku tak karuan, karena Pak Marwan meremas payudaraku dengan tangan kirinya dan tangan kanannya mengobel memekku, selagi memaksaku untuk mengucapkannya.

“Ohhhhhhhh … akhuuu izinin … sayanggkuuuhhhh … ahhhhhhhh …” Mas Ridwan kembali mempercepat kocokannya dan orgasme sendirian untuk ke sekian kalinya di kursi itu—membuat hatiku menari bahagia.

Dimana pun kita berada, hukum alam selalu berlaku. Seorang perempuan pada akhirnya akan selalu memilih pria yang lebih dominan sebagai pendamping hidupnya. Seperti aku sekarang meninggalkan Mas Ridwan demi Pak Marwan.

“Hakhakhak, yaudah ya sayang, akhwat lonte macam kamu memang pantes dihadiahi kontolku. Tapi berhubung yang perlu ini kamu, maka kamu yang mesti nyolok, dan kamu yang goyang ya sayang. Aku modalin kontol doang … huakhakhak,” leceh Pak Marwan yang kemudian menyosor bibirku lewat belakang sambil terus meremas kedua payudaraku. Bau nikotin di mulutnya meresap masuk dalam penciumanku.

“Slllrupppph … Cuppphhh … Ahhhhh … tuannnhhh … H-Husnahhhh … Pinjammhh kontolnyyahhh … tuannnhh …” rintihku tak karuan yang berusaha menggapai dan memposisikan kontol Pak Marwan di vaginaku sementara pria tua itu tak henti-hentinya meremasi payudaraku.

“Akkkkkkkhhhhhhhhhhh … Enahkkkkkkkkk … Ahhkkkkkkkkkkk …” jeritku meresapi senti demi senti penis jumbonya masuk seiring dengan pantatku yang mendorong ke bawah.

Meski vaginaku sudah basah dan licin, namun tetap saja penetrasi Pak Marwan membuat setiap dinding kelaminku menjepit erat dirinya. Aku kembali merasakan nikmat di sebuah dunia yang baru hanya karena sebuah penetrasi.

Tepat ketika penis itu masuk seutuhnya dalam vagina basahku, aku sadar aku telah jatuh sepenuhnya di pelukan Pak Marwan.

“Udah masuk nih, tuan. Husna goyang ya?” tawarku pada Pak Marwan sembari tersenyum remeh kepada Mas Ridwan—lelaki menyedihkan yang tengah sibuk mengokang batang kejantanannya di depanku saat ini.
.
.
Bersambung…
.
.
Ngga sesuai ekspektasi?
Nunggu lama-lama Exe-nya malah kentang?

Weleh, weleh, sabar dong, suhu-suhu semua, untuk “Rangkuman Bagian Pertama” dari Majelis Syahwat ini memang sengaja Nubie bagi jadi Dua Part ya, hu.

Exe di Bagian Pertama Part A ini memang masih kentang dan terkesan nanggung karena belum ada elemen-elemen Majelis Syahwat masuk agenda kegiatan. Baru adegan swinger wajib ya suhu semua. Adegan pamungkas Nubie simpen di Bagian Pertama Part B atau Chapter depan.
:ngeteh:

Soalnya kalau Nubie lanjutkan post adegan-adegan serunya sampai habis di Chapter ini entar thread Nubie malah ngga difollow dan dikasi sundul lagi.
Ngga semangat lagi dong Nubie ngetiknya kalau cuman liat orang pasang patok, pasang tenda, nitip gundam, sama nitip power ranger habis coli gila-gilaan wkwkwk
:senam2:

Nubie ngga nyangka baru Prolog udah bisa mengantar masuk ke HT, maka Nubie menepati janji Nubie di Prolog sebelumnya, bahwa update akan dipangkas lebih awal.
:beer:


Taaaapiiiiii … tidak semudah itu ferguso. Ngga boleh langsung keluarin kartu AS dong di Chapter ini. Nubie hanya sekedar menepati janji saja….hehe
;)

Yaaah, nunggu lagi dong?
Oiya jelas laaaah, senjata utama ‘kan ngga boleh dikeluarin langsung di awal-awal. Masa iya power ranger langsung keluarin megazord di awal-awal, ‘kan ngga mungkin laa….hehehe
:kangen:

– Ok pembahasan selanjutnya –

Buat beberapa suhu yang rada kecewa karena para karakternya malah binal, tenang saja ... untuk Chapter 1-3 hanyalah hidangan pembuka.
Tempo cerita akan segera diturunkan, serta background masing-masing karakter mengapa memiliki penyimpangan seksual akan dibahas mulai Chapter 4....
:baca:

Maka dari itu nantikan update selanjutnya ya suhu-suhu semua!! Khusus chapter ini masih kentang dulu ya hu. Nubie masih kepingin disundul-sundul dulu dikit postnya sedikit demi sedikit gitu….muehehe!!
;)

Ayo kasih like, cendol, kasih sundul, biar cepet masuk ke part yang ngga kentang deh [NO QUOTE]

:banzai:
 
Terakhir diubah:

NTR_Hinelle

Kakak Semprot
Thread Starter
Daftar
13 May 2020
Post
188
Like diterima
2.354
Lokasi
Pinggiran Dusun Agak Sanaan Dikit
Q : Kapan update selanjutnya?
A : Nunggu seminggu ya, hu. Wkwkwk
Jadi buat yang nitip sendal, nitip beha, nitip patok tenda, nitip gundam, nitip power ranger, silahkan nantikan kelanjutannya di Kamis depan.

:ngeteh:

Q : Lah kok lama banget? Udah masuk Hot Thread masih minta sundul juga?
A : Ok ada beberapa alasan,

Pertama, update selanjutnya nyampe 7k jadi silahkan siapin tisu banyak-banyak karena adegan terliar sekaligus pamungkas di Pertemuan Pertama Majelis Syahwat akan dikupas habis di chapter depan.

Kedua, ngedit 7k solo-work kalau dituntut 4 hari slese Nubie tepar juga. Inilah yang membedakan seorang Nubie dengan para suhu, staminanya masih loyo. Jadi Nubie cicil 1k sehari ngeditnya, karena kalau banyak typo entar suhu colinya malah ngga fokus lagi.

Jadi, entah ini HT atau bukan, ngga ngaruh samasekali bagi Nubie.
Yang terpenting adalah gimana cerita ini bisa Nubie sajikan sedetail mungkin.

Kalau udah tahu tanggal mainnya, Nubie mohon agar tidak ngejunk/spam nanya update, atau komen tidak-tidak yang mengharuskan Nubie terpaksa lock thread atau menyebabkan Admin/Momod turun dari singgasananya.

Itu memperlambat kerjaan Nubie karena bacanya bikin ngga semangat.


Mari jaga agar situasi thread ini selalu kondusif.
~
Silahkan pasang patok, pasang tenda, dan kasih alarm biar bisa follow up terus.

Mau pada update cepet? Kasi like & sundul doloooo dong wkwkwk mungkin dengan begitu Nubie bakal berubah pikiran dan lebih produktif lagi ngeditnya, karena seperti yang Nubie janjikan di prolog awal, kalau banyak komen bagus dalam kondisi kompi nubie fine-fine aja akan nubie percepat dari waktu tempo…..kalo dipangkas jadi 5 hari boleh juga tuh….

Ok, ok, sampai ketemu Kamis depan, suhu semua!!
Itupun kalau sanggup nunggu chapter pamungkas selanjutnya….muehehe!!
:ngeteh:
 
Terakhir diubah:

Rondick_blue3

Adik Semprot
Daftar
30 Dec 2017
Post
106
Like diterima
96
Anjirrr..klo dia emang uztadzah beneran..emang joss...bisa sampe ikut group sex gini...undercover bangettt
 

NTR_Hinelle

Kakak Semprot
Thread Starter
Daftar
13 May 2020
Post
188
Like diterima
2.354
Lokasi
Pinggiran Dusun Agak Sanaan Dikit
Anjirrr..klo dia emang uztadzah beneran..emang joss...bisa sampe ikut group sex gini...undercover bangettt
Dan suhu apakah sampe skrng uztadzah tsb masih aktif dlm group sex ini?
Sekali lagi ane sampaikan....
Ane terikat kontrak dengan Narasumber.
Segala pertanyaan ttg detail karakter tidak bisa ane salahkan ataupun benarkan.

Silahkan gunakan imajinasi suhu, suhu, masing2....
;)
 
Status
Thread ini sudah dikunci moderator, dan tidak bisa dibalas lagi.
Sbo Hoki Online   Senior Bola Online
Jav Toys
9 club   Game MM Bola Tangkas Online Indonesia
Game MM Bola Tangkas Online Indonesia   Gaple Online Indonesia
Pasang iklan hanya lewat CONTACT US
Top
Semprot is now part of PAGCOR