King 4D - Agen Bola   Poker Ace
9Club Situs Judi Online Terpercaya
Asus Togel online   Premier 189
Website Bandar Agen Taruhan Judi Bola Online Terpercaya   Game MM Bola Tangkas Online Indonesia
Situs Bandar Togel Online Resmi Terpercaya   Situs judi Deposit Pulsa
Situs Judi Deposit Pulsa Tanpa Potongan   Liga Dunia
Mandala Toto
Pasang iklan, hanya lewat Contact Us.
Waspada penipuan iklan. Klik di sini untuk melihat daftar penipu.

SHARE TENTANG BAHASA INDONESIA

Indosniper

begundan

Semprot Awal
Daftar
1 Sep 2015
Post
2
Like diterima
4
Halo bros... saya mau tanya nih, supaya artikulasi bagus gimana ya?

Masalahnya kalau saya bicara sering kali saya bicara enggak jelas, pelafalannya enggak jelas. Misalnya kejadian yang sering terjadi kalau saya bicara "ada di dalam", kalau orang dengan saya bilang "ada di dalam" kebanyakan dengernya cuma "ada dalam" atau "ada didi dalam". itu karena kadang-kadang saya terlalu cepet pelafalanannya (kata temen saya sih).

Tolong wejangannya suhu
 

merah_delima

Calon Dewa Semprot
Thread Starter
Daftar
29 May 2017
Post
7.746
Like diterima
34.100
Lokasi
Heaven
SINTAKSIS

Kata sintaksis berasal dari bahasa Yunani, yaitu sun yang berarti “dengan” dan kata tattein yang berarti “menempatkan”. Jadi, secara etimologi berarti: menempatkan bersama-sama kata-kata menjadi kelompok kata atau kalimat.



PELBAGAI ALIRAN DALAM SINTAKSIS

1). Aliran Strukturalisme Amerika
Aliran strukturalisme Amerika di tokohi oleh L. Bloomfiled yang berdiri sejak tahun 1920. Aliran ini sering disebut aliran taksonomi, aliran Bloomfieldian atau aliran Post Bloomfieldain. Menurut saya aliran ini termasuk ke dalam kajian sintaksis, karena dilihat dari cara kerjanya dari kaum struktural Amerika dicirikan oleh cara kerjanya yang lebih mementingkan contoh yang objektif untuk memberikan suatu bahasa, pendekatannya pun bersifat empirik, maksudnya itu harus sesuai dengan data yang ada dan cermat sehingga apa yang akan disampaikannya itu dapat dimengerti dan di pahami oleh orang lain. Lalu, bentuk – bentuk satuan bahasa seperti Fonologi, Morfologi, dan Sintaksis harus di klasifikasikan berdasarkan distribusi.

2). Aliran Struktural
Aliran Struktural ini lahir pada abad XX. Tepatnya setelah F. Saussure (1916) melahirkan karyanya yang berjudul Course de Linguistique general. Aliran structural adalah sebutan yang diberikan pada paham bahasa yang berlandaskan pada pemikiran Behavioristik, jadi dengan didasari kepada paham behavioristik hakikat bahasa itu dipandang dari perwujudan lahiriyahnya, jadi di dalam taksonomi gramatika disusun dari tataran terendah berupa fonem, morfem, kata, frasa, klausa, sampai tataran tertinggi yang berupa kalimat. Pada aliran structural dianut oleh M.Ramlan, Samsuri, dan sebagainya.

3). Aliran Tagmemik
Aliran Tagmemik adalah sebuah paham yang dikembangkan oleh pasangan suami istri, Kenneth Lee dan evelyen G. Pike. Dosen pada University of texas at Arlington dan sebagai direktur SIL ( Summer Institute of Linguistics) yang teori – teorinya di tuangkan dalam buku gramatikal analsys (1977), penamaan “Tagmemik” berangkat dari konsep tagmen, tagmen adalah bagian dari konstruksi gramatikal denagn empat macam kelengkapan spesifikasi analisis, yauitu: Slot (Gatra atau tempat kosong didalam struktur yang didisi oleh fungsi tagmen), kelas (wujud nyata dari slot berupa satuan lingual), peran (ciri atau benda penanda yang merupakan pembawa fungsi tagmen) dan kohesi (keutuhan atau ciri atau penanda tagmen yang menjadi pengontrol hubungan antar tagmen). Toeri tagmen ini bersifat universal dalam arti berlaku bukan hanya untuk semua bahasa tetapi, berlaku untuk semua bidang kehidupan manusia. Aliran tagmetik ini dianut oleh oleh Lee Pike, Evelyen G. Pike serta Dan Allen.

4). Aliran Tradisional
Pada aliran tradisional diberikan kepada para ahli bahasa yang menganut teori – teori bahasa yang dikemukakan ole Plato dan Aristoteles. Didalam aliran tradisional iniada konsep – konsep tata bahasa tradisional, yang mana konsep – konsep tata bahasanya itu disusun dengan mengikuti dengan pola – pola dan kaidah – kaidah tata bahasa latin yang lebih banyak melibatkan logika (filsafat). Mencampuradukan antara tuturan dan tulusan. Jadi, secara otomatis antara fonem dengan huruf itu menjadi satu, misalnya vokal dapat didefinisikan sebagai huruf mati. Vokal dan konsonan seharusnya berurusan dengan fonem yang dihasilkan dengan alat ucap, sedangkan huruf berurusan dengan pena dan kertas. Jadi, menurut kaum tradisional berkeyakinan bahwa bahasa sejajar atau sama saja dengan logika. Pada Aliran tradisional diautoleh beberapa tokoh seperti Madong Lubis, STA, Tarjan Hadidjaja dan sebagainya.

SATUAN DALAM SINTAKSIS

1. Kata
Kata adalah bagian kalimat yang nerupakan kesatuan yang terkecil, yang dapat berdiri sendiri dan mengandung suatu pengertian. Jika suatu kalimat kita penggal – penggal, kita akan mendapatkan penggalan yang terkecil, tetapi tetap memiliki arti dan dapat berdiri sendiri, penggalan atau bagian yang terkecil itulah yang disebut kata.
Misalnya: “Manusia membuat alat pengangkutan bermesin”
Bagian terkecil atau lata – katanya, misalnya, dalam kalimat diatas adalah manusia, membuat, alat, pengangkutan, dan bermesin. Jadi kata itu merupakan satuan yang bersama – sama dengan morfem termasuk kedalam wilayah kajian morfologi. Perbedaannya dapat dirumuskan oleh pernyataan bahwa morfem merupakan satuan terkecil dalam morfologi sedangkan kata merupakan satuan terbesar.

2. Frasa
Frasa merupakan satuan linguistik yang terdiri atas gabungan kata yang tidak predikatif dan dapat menduduki salah satu fungsi dalam kalimat, atau dengan kata lain satu konstruksi ketatabahasaan, yang terdiri atas dua kata atau lebih. Contohnya: “ hari ini panas seklali, ya?, dari ujaran tersebut yang mengandung satuan frasa “hari ini” dan panas sekali. Frasa dalam tataran ilmu bahasa termasuk kedalam wilayah kajian sintaksis.

3. Klausa
Kalusa merupakan satuan linguistik yang sekurang-kurangnya terdiri atas fungsi subjek (s) dan prediakt (p), dan berpotensi menjadi kalimat, dikatakan berpotensi menjadi kalimat karena sesungguhnya klausa jika diberi intonasi final (dalam konvensi tulis berupa tanda baca titik, tanda seru, dan tanda Tanya) akan berubah menjadi satuan kalimat, klausa dapat dibedakan berdasarkan distribusi dan satuannya, klausa dapat dibedakan menjadi klausa bebas dan klausa teriakat berdasarkan fungsinya, klausa dapat di bedakan menjadi klausa subjek, klausa objek, dan klausa keterangan dan klausa perlengkapan. Pada umunya klausa, baik tunggal maupun jamak berpotensi menjadi kalimat. Kalimat inti terdiri atas klausa tunggal, sedangkan klausa majemuk terdiri atas lebih dari satu klausa. Oleh karena itu, kalimat majemuk terdiri atas klausa – klausa yang saling berhubungan.

4). Kalimat
Kalimat adalah satuan bahasa yang secara relative berdiri sendiri, mempunyai intonasi final (kalimat lsan) dan secara actual ataupun potensial terdiri atas klausa, dapat dikatakan bahwa kalimat membicarakan hubungan-hubungan antara sebuah klausa dengan klausa yang lain. Jika di lihat dari fungsinya, unsur-unsur kalimat berupa subjek, predikat, objek, pelengkap, dan keterangan. Menurut bentuknya kalimat dibedakan menjadi kalimat tunggal, kalimat tunggal dan perluasannya serta kalimat majemuk. Kalimat majemuk dibedakan menjadi kalimat majemuk setara, kalimat majemuk bertingkat, dan kalimat majemuk campuran.

MORFOLOGI DAN SINTAKSIS
Sintaksis ialah ilmu yang mempelajari hubungan antara kata / frase / klausa / kalimat yang satu dengan kata / frase / klausa / kalimat yang lain. Sebagai contoh misalnya pada kalimat : “Ia akan mengadakan perjalanan jauh”, kata “ia” sebagai subyek dengan frase “akan mengadakan” sebagai predikat dengan frase perjalanan jauh sebagai obyeknya termasuk dalam bidang sintaksis. Dari satuan wacana, kalimat, klaus, frase dibicarakn dalam sinksis. Sedangkan kata dan morfem dibicarakan dalam morfologi. Dalam morfologi, morfem merupakan satuan terkecil dan kata sebagai satuan terbesarnya, sedangkan dalam sintaksis kata menjadi satuan yang terkecil yang membentuk satuan-satuan gramatikal yang lebih besar.

SINTAKSIS BAGIAN DARI GRAMATIKA

Morfologi bersama-sama dengan sintaksis merupakan bagian dari subsistem gramatika (grammar) atau tata bahasa. Dalam wawasan kebahasaan atau dalam studi linguistik, grammar mengacu kepada simpulan umum tentang keteraturan dan ketidakteraturan yang ada dalam bahasa.
 

rosie

Pertapa
Female
UG-FR
Daftar
26 Feb 2017
Post
8.151
Like diterima
36.946
Lokasi
Zona Merah
Halo bros... saya mau tanya nih, supaya artikulasi bagus gimana ya?

Masalahnya kalau saya bicara sering kali saya bicara enggak jelas, pelafalannya enggak jelas.

Nubi coba jawab ya.

Ini sudah terjadi dari suhu kecil atau pas sudah besar aja?
Kalo dari kecil, bisa jadi krn faktor keturunan atau anatomi lidah.
Kalo pas udah dewasa, bisa jadi krn faktor psikologis.

Contoh aja dr pengalaman, ya. nubie punya keturunan bicara cepat. Tapi sejak kerja yg menuntut bicara lebih lambat, jadi sekarang speed bicaraku normal, gak secepat awalnya.

Jadi coba aja diingat2 kapan suhu mulai bicara cepet.

Demikian.. Mungkin bawah nubie lebih paham.
 

merah_delima

Calon Dewa Semprot
Thread Starter
Daftar
29 May 2017
Post
7.746
Like diterima
34.100
Lokasi
Heaven

Kalimat majemuk adalah satu dari sekian jenis kalimat yang terdapat dalam bahasa indonesia. kalimat majemuk memiliki dua pola kalimat dan atau lebih. Setiap kalimat majemuk terdiri dari dua bagian yakni induk kalimat dan anak kalimat. Untuk dapat membedakan antara induk kalimat dan anak kalimat di dalam sebuah kalimat majemuk dapat dilihat dari letak konjungsinya. Di dalam kalimat majemuk hanya anak kalimatlah yang memiliki konjungsi, sedangkan induk kalimat tidak memuat suatu konjungsi didalamnya.

Berdasarkan jenis dan strukturnya kalimat majemuk dapat dibagi menjadi 4 jenis yakni kalimat majemuk setara, kalimat majemuk bertingkat, kalimat majemuk rapatan, dan kalimat majemuk campuran. Masing-masing kalimat majemuk ini memiliki perbedaan tersendiri sehingga dengan mudah kita dapat membedakannya.

Dalam kehidupan sehari-hari tanpa sadar kita telah menggunakan contoh kalimat majemuk baik itu majemuk setara, bertingkat, rapatan maupun campuran. Entah pada saat berbincang-bincang dengan teman, berbicara dengan orang tua atau guru dan sebagainya. Kalimat majemuk ini dapat ditandai dengan adanya kata sambung (dan, meski, walaupun dll) dalam kalimatnya.

Pada artikel kali ini kita akan membahas tentang pengertian kalimat majemuk, Ciri-ciri kalimat majemuk, Jenis Kalimat majemuk, Dan tentunya Contoh kalimat majemuk itu sendiri. Untuk dapat memahami apa itu kalimat majemuk maka simaklah materi di bawah ini.

Dalam artikel ini akan terbagi menjadi tiga sesi penjelasan yakni, Pengertian kalimat majemuk yang akan membehasa tentang apa itu kalimat majemuk yang sebenarnya. Yang kedua adalah ciri-ciri dari setiap jenis kalimat majemuk. Dan yang terakhir adalah contoh kalimat majemuk.

Pengertian Kalimat Majemuk

Didalam Bahasa Indonesia terdapat banyak sekali materi dan salah satunya adalah kalimat, kalimat sendiri adalah satuan gramatikal atau satuan bahasa yang memiliki intonasi final yang dapat berdiri sendiri karena memiliki subjek, predikat, dan objek. Sedangkan berdasarkan penjelasan saya diatas dapat disimpulkan bahwa kalimat majemuk adalah kalimat yang terdiri atas dua pola kalimat atau lebih yang masing-masing kalimat emiliki anak kalimat dan induk kalimat.

Berbeda dengan kalimat tunggal, kalimat majemuk memiliki kata pengubung untuk menghubungkan kalimat satu dengan yang lainnya. Umumnya kalimat majemuk setara, majemuk bertingkat, majemuk rapatan, dan majemuk campuran tersusun dari dua buah kalimat yang merupakan anak kalimat dan induk kalimat.

Sedangkan untuk membedakan induk kalimat dan anak kalimat dapat dilihat dari letak konjungsinya. Sebuah induk kalimat tidak memiliki konjungsi sedangkan anak kalimat memiliki konjungsi. Maka dari itu untuk membedakan anak kalimat dan induk kalimat dapat dilihat dari penggunaan kata penghubungnya.

Jenis Dan Ciri-ciri Kalimat Majemuk

Berdasarkan penjelasan diatas sudah dapat kita simpulkan bahwa kalimat majemuk terbagi menjadi 4 jenis berdasarkan strukturnya, yakni:

  1. Kalimat majemuk setara.
  2. Kalimat majemuk bertingkat.
  3. kalimat majemuk rapatan.
  4. kalimat majemuk campuran.
Masing masing kalimat majemuk tersebut tentunya memiliki ciri-ciri dan contoh kalimat yang berbeda antara satu sama lain. Untuk dapat memahami ciri-ciri setiap jenis kalimat majemuk maka simaklah penjelasan dibawah ini:

Kalimat Majemuk Setara

Kalimat majemuk setara memiliki dua kalimat tunggal atau lebih yang kedudukannya sejajar dan setara dan kemudian digabungkan menjadi satu buah kalimat dengan menggunakan kata konjungsi sebagai penguhubung (Dan, Bahkan, Atau, Lalu, Lantas).

Baca Juga : Contoh Kalimat Majemuk Setara Lengkap


Kalimat Majemuk Bertingkat

Berbeda dengan kalimat majemuk setara, Kalimat majemuk bertingkat adalah kalimat yang terbentuk dari penggabungan dua kalimat atau lebih namun kedudukan setiap kalimat ini berbeda. Didalam kalimat mejemuk bertingkat terdapat induk kalimat dan terdapat anak kalimat yang timbul akibat pola yang dihasilkan oleh induk kalimat.

Baca Juga : Contoh Kalimat Majemuk Bertingkat

Ciri-ciri dari kalimat majemuk bertingkat ini adalah penggunaan konjungsi yang seolah menghasilkan pola sebab dan akibat (agar, jika, supaya, bahwa, dengan, maka, tanpa, sehingga dsb.)

Kalimat Majemuk Rapatan

Kalimat majemuk rapatan adalah kalimat yang terbentuk karena menggabungkan dua atau lebih kalimat tunggal yang memiliki subjek, predikat atau objek yang sama. Maka dari itu pengucacapan bagian yang sama hanya dilakukan sekali saja.

Kalimat Majemuk Campuran

Kalimat majemuk campuran adalah kalimat yang terbentuk dari penggabungan kalimat majemuk setara dan kalimat majemuk bertingkat. Sekurang-kurangnya terdapat tiga kalimat untuk membentuk kalimat majemuk campuran.

Contoh Kalimat Majemuk

Pada dasarnya contoh kalimat majemuk dapat dengan mudah kita temuka dalam kehidupan sehari-hari kita karena memang kalimat majemuk sudah menjadi bagian dari percakapan kita. Seperti lahnya kita sedang bercakap-cakap dengan teman dekat kita maupun orang tua kita, tanpa kita sadari kita sudah mengucapkan contoh kalimat ini.

Contoh Kalimat Majemuk Setara

  • Kita harus lanjut bekerja menyelesaikan ini atau kita dapat beristirahat.
  • Fida ingin pulang ke kampung atau fida ingin di rumah.
  • Rendi bermain sepeda sedangkan ringgo bermain bola.
  • Leni menyukai boneka sedangkan Fino menyukai robot.
  • Boni ingin makan pisang dan bino ingin makan apel.
  • Adik mendapat hadiah gitar sedangkan kakak mendapat hadiah biola.
Contoh Kalimat Majemuk Bertingkat
  • Angga sedang pergi kepasar ketika fajar datang kerumahnya.
  • Rena membolos sebab tidak ada yang mengantar surat ijinnya.
  • Nining ingin pulang karena rindu dengan orang tuanya.
  • Agus harus tetap bekerja meskipun sebenarnya ia sangat lelah dan terlihat sakit.
  • Orang tua itu tetap berjalan meskipun kakinya sedang cidera parah.
  • Bapak disana sedang mendorong mobil walaupun ia sebenarnya masih kelelahan.
Contoh Kalimat Majemuk Rapatan
  • Kalimat (1) : Pekerjaan Roni hanyamakan.
  • Kalimat (2) : Pekerjaan Roni hanya Tidur.
  • Kalimat (3) : Pekerjaan Roni hanyabermain
Sehingga dirapatkan dengan mengulang subjek dan predikatnya saja menjadi Pekerjaan Roni hanyamakan, tidur, dan bermain.

  • Kalimat (1) : Gagas sedang belajar statistika.
  • Kalimat (2) : Gagas sedang belajar biologi.
  • Kalimat (3) : Gagaas sedang belajar kimia.

Sehingga contoh kalimat rapatan menjadi gagas sedang belajar statistika, biologi, dan kimia.

Contoh Kalimat Majemuk Campuran

  • Kalimat (1) : Roni makan di dapur.
  • Kalimat (2) : Rani bermain boneka di depan TV.
  • Kalimat (3) : Aku datang kerumah mereka untuk mengambil buku.
Ketiga kalimat di atas di gabungkan menggunakan kata konjungsi sehingga menjadi : Roni makan di dapur dan Rani sedang bermain boneka di depat TV ketika Aku datang kerumah mereka untuk mengambil buku.

Contoh lain dari kalimat majemuk campuran adalah:
Kalimat (1) : Maya sedang mandi
Kalimat (2) : Ibu sedang memasak.
Kalimat (3) : Rani datang kerumah.

Ketiga kalimat ini digabungkan hingga membentuk kalimat majemuk campuran, maya sedang mandi dan ibu sedang memasak ketika rani datang kerumah.
 

merah_delima

Calon Dewa Semprot
Thread Starter
Daftar
29 May 2017
Post
7.746
Like diterima
34.100
Lokasi
Heaven
KALIMAT MAJEMUK SETARA
Kalimat majemuk sendiri merupakan kalimat yang terbentuk dari penggabungan dua buah kalimat dan membentuk sebuah kalimat baru yang memiliki arti yang sama. Berbeda dengan kalimat tunggal, kalimat majemuk berfungsi untuk menyatakan dua kegiatan secara bersamaan.

Pada dasarnya terdapat banyak sekali contoh kalimat majemuk setara yang dapat kita temukan bahkan dalam kehidupan sehari-hari. Pada saat kita akan berangkat sekolah, pada saat kita berbincang-bincang dengan teman, dan pada saat kita sedang berdiskusi mengerjakan tugas bersama tanpa sadar kita sudah mengucapkan kalimat majemuk setara.


Contoh Kalimat Majemuk Setara

Hampir sama dengan kalimat pada umumnya, Berdasarkan strukturnya kalimat majemuk setara dapat dibagi menjadi beberapa jenis. setiap jenis kalimat tentunya memiliki ciri-ciri, struktur dan penggunaan yang berbeda-beda yakni: Kalimat majemuk setara sejalan, kalimat majemuk setara berlawanan, majemuk setara sebab-akibat, dan kalimat majemuk setara penguat.

Contoh Kalimat Majemuk Setara Sejalan
Kalimat majemuk setara sejalan adalah kalimat majemuk yang terdiri atas dua atau lebih kalimat tunggal yang memiliki situasi yang sama atau sejalan.

  1. Salvian pergi ke kampus dan Kumala pergi ke kantor sedangkan Putra pergi ke Dinas Pertanian.
  2. Aku sedang mencuci pakaian dan Adikku sedang mencuci gelas.
  3. Ibu sedang membaca kumpulan resep dan ayah sedang membaca koran mingguan.
  4. Astri sedang bermain ular tangga dan anang sedang bermain monopoli.
  5. Bu lurah membeli rumah dan Pak lurah membeli sawah.
  6. Ani suka handphone android dan ana suka iphone.
  7. Niko membeli kamera DSLR dan Dika membeli kamera digital.
  8. Ayahku seorang penjual saham dan ayah huda adalah makelar tanah.

Contoh Kalimat Majemuk Setara Berlawanan

Berbeda dengan kalimat majemuk setara sejalan, kalimat majemuk setara berlawanan adalah kalimat yang terbentuk dari dua kalimat tunggal yang berbeda situasi dan dihubungkan dengan konjungsi (namun, akan tetapi, dsb)
  1. Ayah suka beli mobil, Namun Ibu lebih suka beli motor.
  2. Ayah tidak ingin pengacara hebat, Namun ibu memberikan ayah pengacara dalam kasus persidangannya.
  3. Rino sangat nakal, Namun Adiknya rani sangat baik.
  4. Pengacara itu sangat hebat, Namun Jasa pengacara yang ditawarkan sangat murah.
  5. Angga adalah seorang pengacara terkenal, Namun Kakaknya Fajar adalah seorang kriminal.
  6. Aku suka Mobil BMW, Namun ayahku lebih suka Mobil Mercedez.
  7. Perangkat komputer itu sangat canggih, akan tetapi harganya juga sangat mahal.
Contoh Kalimat Majemuk Setara Sebab-Akibat

Kalimat majemuk setara sebab dan akibat adalah gabungan dari kalimat tunggal yang saling terkait dan menghasilkan sebab akibat secara berurutan.
  1. Karena menggunakan mobil yang cepat, Maka Rio hariyanto menang balapan.
  2. Komputer itu sangat canggih karena itu adalah komputer model terbaru.
  3. Karena kartu grafis dari komputer itu sangat mahal, maka komputer itu dapat memainkan game kelas atas.
  4. anggi mendapatkan hadiah laptop baru karena dia menang kejuaraan cerdas cermat.
  5. Angga menyewa pengacara karena dia terjerat kasus pencucian uang.
Contoh Kalimat Majemuk Setara Penguat

Kalimat majemuk setara penguat adalah kalimat yang terbentuk atas dua atau lebih kalimat tunggal yang digabungkan dengan konjungsi yang bertujuan untuk saling menguatkan makna atau isi dari masing-masing kalimat tunggal tersebut.

  1. Untuk mencapai cita-cita menjadi pengacara rani belajar giat, bahkan ia ikut kursus untuk jadi pengacara.
  2. Handphone keluaran terbaru itu sangat canggih, bahkan dilengkapi dengan headset bluetooth.
  3. Dia sangat mudah sakit, Terlebih lagi kalau hujan.
Sekian materi tentang contoh kalimat majemuk setara lengkap dengan ciri-cirinya, Semoga dapat menambah wawasan dan ilmu pengetahuan kita. Terimakasih.
 

merah_delima

Calon Dewa Semprot
Thread Starter
Daftar
29 May 2017
Post
7.746
Like diterima
34.100
Lokasi
Heaven
Kalimat majemuk bertingkat merupakan salah satu jenis kalimat majemuk disamping kalimat majemuk setara dan campuran. Setelah kita membahas pengertian kalimat majemuk, dan contoh kalimat majemuk. Kali ini kita akan membahas lebih dalam tentang contoh kalimat majemuk bertingkat beserta dengan ciri-ciri kalimat majemuk bertingkat.

Sebenarnya apa itu kalimat majemuk bertingkat? Berdasarkan artikel sebelumnya yang membahas pengertian kalimat majemuk bertingkat, Kalimat majemuk bertingkat merupakan kalimat majemuk yang memiliki hubungan antar unsur kalimat yang memiliki derajat yang berbeda atau tidak setara. Kalimat majemuk bertingkat memiliki susunan klausa yang berbeda berdasarkan perluasan makna yang terjadi pada salah satu klausa tersebut. Ciri-ciri kalimat majemuk bertingkat dapat diketahui dengan memperhatikan induk kalimat dan anak kalimat yang terdapat pada kalimat itu sendiri.

Contoh Kalimat Majemuk Bertingkat

Setelah kita mengetahui pengertian kalimat majemuk bertingkat, sekarang saatnya kita membahas tentang contoh kalimat majemuk bertingkat. berikut adalah contoh kalimat majemuk bertingkat:

  1. Ketika tengah memanggang ayam bersama teman-temannya, Agung pingsan tak sadarkan diri.
  2. Jika kamu rajin bersedekah maka rejekimu akan melimpah.
  3. Jika kamu rajin belajar, maka dengan mudah kamu akan dapat mengerjakan ujian kenaikan kelas.
  4. Andaikan siska datang lebih cepat kemarin, pasti aku bisa berjumpa dengannya.
  5. Seandanya aku tidak terlambat, pasti ini semua tidak akan terjadi.
  6. Kakekku tinggal bersama orang tuaku, agar orang tuaku dapat megnurus kakekku.
  7. Rini tinggal di desa, supaya dapat membantu orang tuanya.
  8. Meskipun aku baru saja mengalami kecelakaan, namun aku tidak merasakan sakit.
  9. Ririn tidak pernah menangis, meskipun hatinya sedang terluka hebat.
  10. Lebih baik belajar dari pada menghabiskan waktu untuk hal tidak penting.
  11. Mebantu orang tua lebih baik dari pada melamun.
  12. Berolahraga lebih baik, dari pada bengong.
  13. Makan malam di restoran itu dibatalkan, karena terjadi peristiwa tidak menyenangkan.
  14. Pelajaran ditiadakan, karena guru sedang mengadakan rapat mendadak.
  15. Dia bertingkah biasa, seolah tidak terjadi apa-apa.

Contoh kalimat majemuk bertingkat diatas adalah beberapa contoh yang dapat anda pelajari dan anda kembangkan. Untuk membuat contoh kalimat majemuk bertingkat hal yang terpenting yang harus kita ketahui adalah memperhatikan struktur kalimat yang harus mengandung induk kalimat sebagai kalimat utama dan anak kalimat sebagai perluasan dari induk kalimat itu sendiri.

Setelah membaca contoh kalimat majemuk bertingkat maka kita dapat mengidentifikasi ciri-ciri dari struktur kalimat itu sendiri. dan berikut adalah ciri-ciri dan struktur kalimat majemuk bertingkat.

Ciri-Ciri Kaliat majemuk bertingkat

Sama seperti kalimat pada umumnya. Kalimat majemuk bertingkat juga memiliki ciri-ciri khusus yang berfungsi untuk membedakannya dengan kalimat majemuk lainnya. Setelah melihat contoh kalimat majemuk di atas, sekaarang kita akan mempelajari ciri-ciri dan struktur kalimat majemuk bertingkat.

Materi kali ini akan dibagi menjadi 3 bagian yakni: contoh kalimat majemuk bertingkat, lalu kita akan mengidentifikasi struktur kalimat majemuk bertingkat dan akhirnya kita akan mempelajari dan menyimpulkan anak kalimat dan induk kalimat pada bagian penjelasan.

Contoh kalimat majemuk bertingkat:
Ketika tengah memanggang ayam bersama teman-temannya, Agung pingsan tak sadarkan diri.

Struktur kalimat majemuk bertingkat:
Anak kalimat: Ketika tengah memanggang ayam bersama teman-temannya.
Induk kalimat: Agung pingsan tak sadarkan diri.

Penjelasan:
Anak kalimat merupakan perluasan dari induk kalimat. "Agung pingsan tak sadarkan diri"merupakan induk kalimat, yang diperluas dengan menambah anak kalimat yakni "ketika tengah memanggang ayam bersama tema-temannya".

Itulah penjelasan tentang contoh kalimat majemuk bertingkat, ciri-ciri dan struktur kalimat majemuk bertingkat yang dapat anda pelajari.
 

begundan

Semprot Awal
Daftar
1 Sep 2015
Post
2
Like diterima
4
Nubi coba jawab ya.

Ini sudah terjadi dari suhu kecil atau pas sudah besar aja?
Kalo dari kecil, bisa jadi krn faktor keturunan atau anatomi lidah.
Kalo pas udah dewasa, bisa jadi krn faktor psikologis.

Contoh aja dr pengalaman, ya. nubie punya keturunan bicara cepat. Tapi sejak kerja yg menuntut bicara lebih lambat, jadi sekarang speed bicaraku normal, gak secepat awalnya.

Jadi coba aja diingat2 kapan suhu mulai bicara cepet.

Demikian.. Mungkin bawah nubie lebih paham.
Em, jadi sadar sekarang... ini kayaknya dari anatomi lidah atau kebiasaan.
Makasih mba.

Maaf momod dan TS, kalau keluar dari konteks thread.

Mba bisa tolong cek PM saya
 

RSP27

Ki Suwir Jagat
Banned
Donatur
Daftar
2 Feb 2018
Post
27
Like diterima
9.232
User di-banned, maka konten otomatis dihapus.
User is banned, content is deleted automatically.
 

praharabuana

Calon Suhu Semprot
Daftar
20 Oct 2015
Post
2.508
Like diterima
14.412
Lokasi
Bojongsoang, Kab. Bandung
Neng @merah_delima ...
Aku minta izin menyumbangkan sedikit ilmu, ya. :)


++++​


Cara Penulisan Judul yang Benar Sesuai dengan PUEBI​


Untuk membuat tulisan yang menarik, dibutuhkan rangkaian narasi, pilihan diksi, alur penceritaan, bahkan kepadatan riset. Tetapi, bagian yang tidak kalah penting adalah mencantumkan judul yang tepat. Judul yang tepat tidak hanya membutuhkan rangkaian kalimat yang unik dan menarik, tetapi juga rapi dan sesuai kaidah. Tata penulisan yang amburadul hanya akan membuat calon pembaca merasa penulis tidak memiliki kredibilitas yang terpercaya, sehingga jangankan lanjut membaca, melirik lagi saja belum tentu berkenan.

Nah, agar terhindar dari kesalahan tersebut, simak penjelasan cara penulisan judul yang tepat menurut Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI) berikut:


1. Setiap Huruf di Awal Kata Ditulis Dengan Huruf Kapital

Ada beberapa ragam cara penulisan judul, di antaranya adalah menulis keseluruhan huruf dengan huruf kapital (contoh: ANAK PERAWAN DI SARANG PENYAMUN). Cara itu tidak salah, tetapi menimbang dari segi kerapian, banyak yang lebih memilih cara konvensional. Cara penulisan judul yang benar adalah menulis setiap awal kata dengan huruf kapital, terutama huruf pada kata paling depan (perhatikan: Siti Nurbaya, Salah Asuhan, Ronggeng Dukuh Paruk). Aturan ini berlaku untuk hampir semua jenis kata termasuk nama, tempat, sifat, keterangan. Namun, ada beberapa pengecualian yang akan dijelaskan pada poin-poin berikut.


2. Gunakan Huruf Kecil untuk Preposisi, Konjungsi, dan Interjeksi

Yang dimaksud dengan preposisi adalah kata depan yang diikuti oleh kata lainnya. Dilihat dari fungsinya, kata ini memiliki fungsi untuk menjelaskan dan memberikan kesinambungan antara kata sebelum dan kata selanjutnya. Yang termasuk dalam preposisi adalah: di, ke, pada, dalam, yaitu, kepada, daripada, untuk, bagi, ala, bak, tentang, mengenai, sebab, secara, terhadap, dst.

Contoh judul menggunakan preposisi:

Tips Memasak Daging ala Chef Juna
Surat dari Praha
Anak Perawan di Sarang Penyamun


Sedangkan konjungsi adalah nama lain dari kata sambung. Kata ini memiliki fungsi untuk menghubungkan kata-kata, kalimat-kalimat, dan ungkapan-ungkapan dan tidak memiliki makna khusus jika berdiri sendiri. Kata-kata yang termasuk konjungsi termasuk dan, atau, tetapi, ketika, seandainya, supaya, pun, seperti, oleh, karena, sehingga, bahwa, kalau, untuk, kemudian.

Contoh konjungsi dalam suatu judul:

Si Jamin dan Si Johan
Dahulu Kaya, kemudian Miskin: Sebuah Antologi Kisah


Terakhir, interjeksi, adalah istilah lain untuk kata seru yang mengungkapkan isi hati dari si pembicara. Kata ini relatif jarang ditemui pada judul karya-karya tulis serius, tetapi banyak menjadi pilihan untuk narasi yang bersifat ekspresif. Contoh interjeksi adalah Alhamdulillah, duh, ih, cih, yuk, wah, wow, amboi, ah, lho, dan lain-lain.

Perhatikan judul-judul berikut:

Gaya Busana Adik Alyssa Soebandono Ini Tidak Kalah dengan Kakaknya, lho!
Jalan-Jalan ke Maldives, yuk!


Meskipun demikian, ketiga jenis kata partikel tersebut harus tetap ditulis dengan huruf kapital apabila letaknya di kata pertama sebuah judul, sesuai dengan kaidah awal. Kita bisa menjadikan sejumlah karya besar sebagai contoh pengecualian ini, termasuk Dari Ave Maria sampai Jalan Lain ke Roma, Kalau Tak Untung, atau judul-judul berita yang sering kita lihat seperti: Wow, Lihat Nasib Artis Ini Sekarang!


3. Perhatikan Kaidah Huruf Kapital pada Kata Ulang

Terkadang, kita menemukan kata ulang pada judul yang akan kita gunakan. Untuk mengetahui cara penulisannya, pertama-tama kita harus mengenali bentuk kata ulang tersebut. Pada dasarnya, kata ulang bisa didefinisikan sebagai kata yang telah mengalami pengulangan (reduplikasi) pada kata dasarnya. Kata ulang murni (dwilingga) dan kata ulang semu harus ditulis dengan huruf kapital di setiap awal kata karena sifatnya yang bisa dibilang tidak mengalami perubahan apapun. Seperti contoh-contoh berikut:

Pengalamanku Menyembelih Biri-Biri di Hari Raya Kurban
Hidup Si Kupu-Kupu Malam
Sayap-Sayap Kenangan
Kecil-Kecil Jadi Manten


Sedangkan bentuk kata ulang sebagian, kata ulang berimbuhan, kata ulang dwipurwa, dan kata ulang perubahan—semua yang sederhananya sudah mengalami perubahan bentuk—hanya ditulis kapital pada huruf pertama kata ulang. Seperti pada judul-judul berikut ini:

Kapolres Situbondo: Gerak-gerik Ibu Korban Mencurigakan
Berjalan-jalan di Kota Surabaya
Cerai-berai Negeriku


++++​


Secara umum, dalam membuat sebuah judul kita harus memerhatikan bentuk dan tata kalimat untuk memutuskan mana saja kata yang harus kita beri huruf kapital. Ini penting untuk membuat susunan kata yang elok dipandang dan terasa rapi, juga menarik. Nah, demikian paparan mengenai cara penulisan judul yang baik menurut PUEBI. Sedehana, bukan? Selamat berkarya. :)


++++​


sumber: https://typoonline.com/blog/cara-penulisan-judul-yang-benar/
 

winapura

Guru Semprot
Banned
Daftar
11 Jan 2018
Post
675
Like diterima
121
User di-banned, maka konten otomatis dihapus.
User is banned, content is deleted automatically.
 

merah_delima

Calon Dewa Semprot
Thread Starter
Daftar
29 May 2017
Post
7.746
Like diterima
34.100
Lokasi
Heaven
Tadi denger percakapan, "Kamu memandangnya harus objektif dong, jangan subjektif gitu!"

Yang jadi pertanyaan: apakah pengertian yg dicetak miring itu ada kemiripan arti dg subjek dan objek dalam SPOK? Pertanyaan sederhana dan sering membingungkan saya, tapi saya belum sempet nanya ke yg ahlinya, maksudnya bagaimana.
Negoisasi sama negosiasi?
Makin kesini, semakin terasa cetek banget pengetahuan saya tentang bahasa indonesia.
Warga negara Indonesia apakah saya ini?
Aah tampaknya saya mesti pindah dari Indonesia ke Sawer saja lah
Apa dan bagaimana manusia dikatakan berpikir secara objektif ataupun subjektif? Sejak SD kita telah mengenal kalimat yang bersifat objektif dan Subjektif tetapi kurang bahkan belum paham mengenai arti luas dari kata “subjektif” dan “objektif” ini. Tulisan ini pribadi dari pemikiran saya sendiri secara subjektif dan melakukan observasi untuk mendapatkan definisi ataupun pengertian yang objektif.

Kembali membuka halaman yang lalu (Sekolah Dasar), masih ingat S P O K (Subjek Predikat Objek dan Keterangan. Dalam pelajaran Bahasa Indonesia Sekolah Dasar (SD), objek ini digunakan dalam kalimat yang di dalamnya terdapat sesuatu yang diberikan tindakan (gaya, daya, dsb). Sedangkan Subjek sesuatu yang memberikan gaya atau apapun kepada sesuatunya. Tetapi bagaimana jika Subjek dan Objek ini diberikan akhiran -tif?

Kata “Pikir” yang merupakan kata sifat, dan kemudian diberikan imbuhan ber-, maka “berpikir” ini bukanlah kata sifat lagi, telah berubah makna menjadi kata kerja. Sama halnya dengan Subjektif (dari kata subjek) dan Objektif (dari kata objek) berubah makna dari kata dasarnya. Subjektif merupakan tindakan manusia dalam menilai sesuatu sesuai seleranya, hanya memacu pada penilaian dari sudut pandang satu dan berasal dari asumsi ataupun dugaan yang bersifat empiris (pengalaman). Sebagai Contoh, ketika seseorang menilai orang lain, jelas penilaiannya dari diri sendiri. Bisa saja dari 5 orang, 2 diantaranya menilai cantik /gagah, 2 diantaranya mengakatan biasa – biasa saja, dan bahkan 1 mengatakan jelek. Bisa saya katakan subjektif ini bersifat yang relatif / penilaian secara sendiri – sendiri (menilai dari feeling / perasaan).

Indah atau tidak jika suatu perkampungan dihiasai bunga melatih disetiap sudutnya?

Sedangkan Objektif lebih kepada keabsahan yang universal (umum), diterima banyak orang (pengabsahan dari orang banyak), dengan menggunakan patokan seperti ukuran dan sebagainya. Objektif ini biasa kita gunakan dalam metode penilitian dengan tujuan mendapatkan kepastian ilmu, termasuk dalam menghitung jumlah kadar asam di suatu daerah, menganalisa transaksi ekonomi dan sebagainya. Pada umumnya, manusia berpikir secara objektif agar dapat mendapatkan kepastian dalam berpikir dan bertindak, karena merupakan sifat yang konstan dalam artian tidak berubah – ubah (dalam artian ini adalah konsisten dan tidak bimbang terhadap pilihan yang ada). Cara yang bisa digunakan untuk menilai keobjektifan adalah dengan mencoba membandingkan buah penilaian beberapa orang. Jika hasilnya sama persis atau cenderung sama, maka bisa disebut penilaiannya bersifat objektif.

Penilaian ataupun Pemikiran yang Subjektif / Objektif, sulit menemukan perbedaan terang (yang mendasar) dari ke duanya. Jelasnya Subjektif itu masih berupa asumsi yang tidak akurat (masih dapat ditentang) sedangkan Objektif itu terkait asumsi yang berdasarkan data – data yang empirik yang nyata.
 

merah_delima

Calon Dewa Semprot
Thread Starter
Daftar
29 May 2017
Post
7.746
Like diterima
34.100
Lokasi
Heaven
Neng @merah_delima ...
Aku minta izin menyumbangkan sedikit ilmu, ya. :)


++++​


Cara Penulisan Judul yang Benar Sesuai dengan PUEBI


Untuk membuat tulisan yang menarik, dibutuhkan rangkaian narasi, pilihan diksi, alur penceritaan, bahkan kepadatan riset. Tetapi, bagian yang tidak kalah penting adalah mencantumkan judul yang tepat. Judul yang tepat tidak hanya membutuhkan rangkaian kalimat yang unik dan menarik, tetapi juga rapi dan sesuai kaidah. Tata penulisan yang amburadul hanya akan membuat calon pembaca merasa penulis tidak memiliki kredibilitas yang terpercaya, sehingga jangankan lanjut membaca, melirik lagi saja belum tentu berkenan.

Nah, agar terhindar dari kesalahan tersebut, simak penjelasan cara penulisan judul yang tepat menurut Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI) berikut:


1. Setiap Huruf di Awal Kata Ditulis Dengan Huruf Kapital

Ada beberapa ragam cara penulisan judul, di antaranya adalah menulis keseluruhan huruf dengan huruf kapital (contoh: ANAK PERAWAN DI SARANG PENYAMUN). Cara itu tidak salah, tetapi menimbang dari segi kerapian, banyak yang lebih memilih cara konvensional. Cara penulisan judul yang benar adalah menulis setiap awal kata dengan huruf kapital, terutama huruf pada kata paling depan (perhatikan: Siti Nurbaya, Salah Asuhan, Ronggeng Dukuh Paruk). Aturan ini berlaku untuk hampir semua jenis kata termasuk nama, tempat, sifat, keterangan. Namun, ada beberapa pengecualian yang akan dijelaskan pada poin-poin berikut.


2. Gunakan Huruf Kecil untuk Preposisi, Konjungsi, dan Interjeksi

Yang dimaksud dengan preposisi adalah kata depan yang diikuti oleh kata lainnya. Dilihat dari fungsinya, kata ini memiliki fungsi untuk menjelaskan dan memberikan kesinambungan antara kata sebelum dan kata selanjutnya. Yang termasuk dalam preposisi adalah: di, ke, pada, dalam, yaitu, kepada, daripada, untuk, bagi, ala, bak, tentang, mengenai, sebab, secara, terhadap, dst.

Contoh judul menggunakan preposisi:

Tips Memasak Daging ala Chef Juna
Surat dari Praha
Anak Perawan di Sarang Penyamun


Sedangkan konjungsi adalah nama lain dari kata sambung. Kata ini memiliki fungsi untuk menghubungkan kata-kata, kalimat-kalimat, dan ungkapan-ungkapan dan tidak memiliki makna khusus jika berdiri sendiri. Kata-kata yang termasuk konjungsi termasuk dan, atau, tetapi, ketika, seandainya, supaya, pun, seperti, oleh, karena, sehingga, bahwa, kalau, untuk, kemudian.

Contoh konjungsi dalam suatu judul:

Si Jamin dan Si Johan
Dahulu Kaya, kemudian Miskin: Sebuah Antologi Kisah


Terakhir, interjeksi, adalah istilah lain untuk kata seru yang mengungkapkan isi hati dari si pembicara. Kata ini relatif jarang ditemui pada judul karya-karya tulis serius, tetapi banyak menjadi pilihan untuk narasi yang bersifat ekspresif. Contoh interjeksi adalah Alhamdulillah, duh, ih, cih, yuk, wah, wow, amboi, ah, lho, dan lain-lain.

Perhatikan judul-judul berikut:

Gaya Busana Adik Alyssa Soebandono Ini Tidak Kalah dengan Kakaknya, lho!
Jalan-Jalan ke Maldives, yuk!


Meskipun demikian, ketiga jenis kata partikel tersebut harus tetap ditulis dengan huruf kapital apabila letaknya di kata pertama sebuah judul, sesuai dengan kaidah awal. Kita bisa menjadikan sejumlah karya besar sebagai contoh pengecualian ini, termasuk Dari Ave Maria sampai Jalan Lain ke Roma, Kalau Tak Untung, atau judul-judul berita yang sering kita lihat seperti: Wow, Lihat Nasib Artis Ini Sekarang!


3. Perhatikan Kaidah Huruf Kapital pada Kata Ulang

Terkadang, kita menemukan kata ulang pada judul yang akan kita gunakan. Untuk mengetahui cara penulisannya, pertama-tama kita harus mengenali bentuk kata ulang tersebut. Pada dasarnya, kata ulang bisa didefinisikan sebagai kata yang telah mengalami pengulangan (reduplikasi) pada kata dasarnya. Kata ulang murni (dwilingga) dan kata ulang semu harus ditulis dengan huruf kapital di setiap awal kata karena sifatnya yang bisa dibilang tidak mengalami perubahan apapun. Seperti contoh-contoh berikut:

Pengalamanku Menyembelih Biri-Biri di Hari Raya Kurban
Hidup Si Kupu-Kupu Malam
Sayap-Sayap Kenangan
Kecil-Kecil Jadi Manten


Sedangkan bentuk kata ulang sebagian, kata ulang berimbuhan, kata ulang dwipurwa, dan kata ulang perubahan—semua yang sederhananya sudah mengalami perubahan bentuk—hanya ditulis kapital pada huruf pertama kata ulang. Seperti pada judul-judul berikut ini:

Kapolres Situbondo: Gerak-gerik Ibu Korban Mencurigakan
Berjalan-jalan di Kota Surabaya
Cerai-berai Negeriku


++++​


Secara umum, dalam membuat sebuah judul kita harus memerhatikan bentuk dan tata kalimat untuk memutuskan mana saja kata yang harus kita beri huruf kapital. Ini penting untuk membuat susunan kata yang elok dipandang dan terasa rapi, juga menarik. Nah, demikian paparan mengenai cara penulisan judul yang baik menurut PUEBI. Sedehana, bukan? Selamat berkarya. :)


++++​


sumber: https://typoonline.com/blog/cara-penulisan-judul-yang-benar/
Hatur nuhun kang @praharabuana atas sumbangsihnya dalam dunia bahasa kita :ampun:
 
Sbo Hoki Online   Senior Bola Online
Jav Toys
9 club   Game MM Bola Tangkas Online Indonesia
Game MM Bola Tangkas Online Indonesia   Gaple Online Indonesia
Pasang iklan hanya lewat CONTACT US
Top
Semprot is now part of PAGCOR