King 4D - Agen Bola   Poker Ace
9Club Situs Judi Online Terpercaya
Asus Togel online   Premier 189
Mandala Toto
Pasang iklan, hanya lewat Contact Us.
Waspada penipuan iklan. Klik di sini untuk melihat daftar penipu.

merah_delima

Semprot Sejati
Thread Starter
Daftar
29 May 2017
Post
10.244
Like diterima
46.081
Lokasi
Heaven
Unsur-Unsur Pembangun dalam Puisi

Puisi, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, adalah ragam sastra yang bahasanya terikat oleh irama, matra, rima, serta penyusunan larik dan bait. Selain itu, puisi juga diartikan sebagai sajak atau gubahan dalam bahasa yang bentuknya dipilih dan ditata secara cermat sehingga mempertajam kesadaran orang akan pengalaman dan membangkitkan tanggapan khusus lewat penataan bunyi, irama, dan makna khusus. Biasanya puisi dibuat untuk mengungkapkan pikiran dan perasaan si pengarang dengan mengutamakan keindahan kata-kata.

Menurut Indrawati (2009), puisi memiliki beberapa karakteristik, di antaranya adalah sebagai berikut.

  1. Dalam puisi terdapat pemadatan semua unsur kekuatan bahasa.
  2. Dalam penyusunannya, unsur-unsur bahasa itu dirapikan, diperindah, dan diatur sebaik-baiknya dengan memerhatikan irama dan bunyi.
  3. Puisi mengungkapkan pikiran dan perasaan penyair berdasarkan pengalamannya dan bersifat imajinatif.
  4. Bahasa yang digunakan bersifat konotatif.
Dari karakteristik puisi di atas dapat disimpulkan bahwa puisi dibangun oleh unsur-unsur puisi yaitu unsur fisik dan unsur batin. Yang dimaksud dengan unsur fisik adalah unsur pembangun puisi yang dapat dikenali langsung oleh pembaca karena sifatnya yang tersurat. Unsur fisik pembangun puisi meliputi majas, irama, rima, kata-kata konotasi, kata-kata berlambang, dan kata-kata konkret. Sementara itu, yang dimaksud dengan unsur batin adalah unsur pembangun puisi yang yang tersembunyi di balik unsur-unsur fisik. Adapun yang termasuk dalam unsur batin puisi adalah tema, amanat, perasaan penyair, dan nada atau sikap penyair terhadap pembaca.

Dengan demikian, unsur-unsur pembangun dalam puisi adalah sebagai berikut.

Majas

Majas merupakan salah satu unsur fisik pembangun dalam puisi yang sejatinya termasuk dalam gaya bahasa. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, yang dimaksud dengan majas atau disebut juga dengan kiasan adalah cara melukiskan sesuatu dengan jalan menyamakannya dengan sesuatu yang lain. Para penyair banyak menggunakan majas dalam karya-karya pusinya dikarenakan majas memiliki beberapa kelebihan, yaitu sebagai berikut.

  • Majas dapat memberikan kesenangan imajinatif.
  • Majas memberikan imaji tambahan dalam puisi.
  • Majas membuat sesuatu yang abstrak dalam puisi menjadi lebih konkret.
  • Majas merupakan cara penyair mengekspresikan perasaan dan sikapnya.
  • Melalui majas, makna yang akan disampaikan menjadi lebih terkonsentrasikan.
  • Melalui majas, sesuatu dapat disampaikan dengan tepat dengan bahasa yang singkat.
Terdapat macam-macam majas yang kerap digunakan dalam puisi yaitu majas perbandingan, majas pertentangan, majas perulangan, dan majas pertautan.

a. Majas perulangan

Macam-macam majas perulangan yang kerap digunakan dalam puisi di antaranya adalah sebagai berikut.

  • Repetisi adalah majas yang menggunakan kata, frasa atau klausa yang sama secara berulang. Contoh majas repetisi : Kau datang dan pergi semaumu, datang lagi, pergi lagi, datang lagi pergi lagi,
  • Aliterasi adalah majas yang mengulang konsonan pada awal kata secara berurutan. Contoh majas aliterasi : Bukan beta bijak berperi (baris sajak karya Rustam Effendi)
b. Majas pertentangan

Macam-macam majas pertentangan yang kerap digunakan dalam puisi di antaranya adalah sebagai berikut.

  • Ironi adalah majas yang digunakan untuk menyembunyikan fakta yang sebenarnya dengan tujuan untuk memberikan sindiran. Contoh majas ironi : Rumah ini rapi sekali hingga saya susah sekali untuk duduk.
  • Hiperbola adalah majas yang digunakan untuk mengungkapkan suatu kenyataan secara berlebihan sehingga menjadi tidak masuk akal. Contoh majas hiperbola : Air matanya terkuras habis meratapi kepergian kekasihnya.
  • Litotes adalah majas yang digunakan untuk mengungkapkan sesuatu fakta dengan cara mengecilkan fakta tersebut dengan tujuan untuk merendahkan diri. Contoh majas litotes : Jika berkenan, mampirlah ke gubuk kami sebentar.
c. Majas pertautan

Macam-macam majas pertautan yang kerap digunakan dalam puisi di antaranya adalah sebagai berikut.

  • Eufemisme adalah majas yang digunakan untuk mengungkapkan sesuatu secara lebih halus menggantikan ungkapan yang dirasa cukup kasar, merugikan, dan tidak menyenangkan. Contoh majas eufemisme : Tunanetra merupakan bentuk halus dari buta.
  • Sinekdoke adalah majas yang menyebutkan nama keseluruhan sebagai pengganti nama bagian atau sebaliknya. Contoh majas sinekdoke : Kata-katanya menyakiti hatiku.
  • Metonimia adalah majas yang menggunakan nama benda atau yang lainnya untuk menyatakan sesuatu yang berkaitan dengan benda tersebut. Contoh majas metonimia : Peristiwa bangkrutnya Merpati menunjukkan buruknya manajemen perusahaan itu.
d. Majas perbandingan

Macam-macam majas perbandingan yang kerap digunakan dalam puisi di antaranya adalah sebagai berikut.

  • Metafora adalah majas perbandingan yang dilakukan untuk mengungkapkan sesuatu dengan cara membandingkan dua hal yang berbeda secara implisit. Contoh majas metafora : Bunga desa itu pergi.
  • Alegori adalah majas perbandingan yang dilakukan untuk menyatakan sesuatu dengan cara kiasan atau penggambaran. Contoh majas alegori: Hidup kita bagaikan rollercoaster, kadang naik kadang turun.
  • Personifikasi adalah majas perbandingan yang menyematkan sifat-sifat manusia pada benda tak bernyawa atau ide yang abstrak. Umumnya majas jenis ini digunakan untuk memberikan gambaran serta citra yang konkret. Contoh majas personifikasi : Daun-daun berbisik ditiup angin.
  • Simile adalah majas perbandingan yang dilakukan untuk mengungkapkan sesuatu dengan cara membandingkannya dengan sesuatu yang lain yang dianggap sama secara eksplisit. Contoh majas simile : Wajahnya bersemu merah bagai buah delima.
2. Irama

Selain majas, yang termasuk unsur fisik pembangun dalam puisi adalah irama. Kamus Besar Bahasa Indonesia mengartikan irama dalam konteks sastra sebagai ritme atau alunan yang tercipta oleh kalimat yang berimbang, selingan bangun kalimat, dan panjang pendek serta kemerduan bunyi (dalam prosa). Dengan demikian, yang dimaksud dengan irama dalam puisi menurut Kosasih (2008) adalah pengulangan kata, frase, atau kalimat dalam bait-bait puisi. Adapun fungsi irama dalam puisi adalah membuat kata-kata menjadi lebih berjiwa atau bernyawa sehingga siapapun yang membaca atau mendengarkan puisi turut merasakan apa yang dirasakan oleh penyair.

3. Rima

Rima menurut Kosasih (2008) adalah pengulangan bunyi dalam puisi. Pengulangan ini ditujukan untuk menciptakan kegembiraan dan kesenangan atau euphony dan membawa suasana kesedihan atau cacophony. Terdapat berbagai macam jenis rima yang dibedakan berdasarkan jenis dan letaknya. Berdasarkan jenisnya, rima dibedakan menjadi rima sempurna, rima tidak sempurna, rima mutlak, rima terbuka, rima tertutup, rima aliterasi, rima asonansi, dan rima disonansi. Sedangkan, berdasarkan letaknya rima dibedakan menjadi rima awal, rima tengah, rima akhir, rima tegak, rima datar, rima sejajar, rima berpeluk, rima bersilang, rima rangkai atau rima rata, rima kembar atau berpasangan, dan rima patah.

4. Kata-kata konotasi

Konotasi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah tautan pikiran yang menimbulkan nilai rasa pada seseorang ketika berhadapan dengan sebuah kata. Konotasi juga diartikan sebagai makna yang ditambahkan pada makna denotasi. Dari beberapa puisi yang telah kita kenal dapat disimpulkan bahwa pada umumnya penyair banyak menggunakan kata-kata yang mengandung makna kias atau konotasi. Misalnya, lelaki hijau mengandung makna lelaki yang masih muda dan belum punya banyak pengalaman.

5. Kata-kata berlambang

Jika kita cermati, puisi banyak menggunakan kata-kata berlambang yakni menggantikan sesuatu dengan sesuatu yang lain. Terdapat berbagai macam kata berlambang yang disesuaikan dengan sifatnya yakni lokal, kedaerahan, nasional atau universal. Misalnya, kata “kandang” yang merujuk pada rumah.

6. Kata konkret

Yang dimaksud dengan kata konkret dalam puisi adalah kata-kata yang secara denotatif sama namun secara konotatif memiliki makna yang berbeda sesuai dengan situasi dan kondisi pemakaiannya. Kata-kata konkret ini bertujuan untuk membangkitkan daya imajinasi pembaca, dalam arti pembaca dapat membayangkan apa yang dilukiskan oleh penyair melalui kata-kata yang digunakan oleh penyair dalam puisinya.

7. Tema

Kamus Besar Bahasa Indonesia mengartikan tema sebagai pokok pikiran atau dasar cerita (yang dipercakapkan, dipakai sebagai dasar mengarang, menggubah sajak, dan sebagainya). Tema dalam puisi mengacu pada ide atau gagaan penyair yang dituangkan dalam puisinya. Terdapat beberapa jenis tema puisi seperti tema ketuhanan, tema kemanusiaan, tema patriotism atau kebangsaan, tema kedaulatan rakyat, dan tema keadilan sosial (Waluyo, 1987 dalam Kosasih, 2008).

8. Amanat

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, yang dimaksud amanat dalam konteks sastra secara umum adalah gagasan yang mendasari karya sastra. Selain itu, amanat juga dimaknai sebagai pesan yang ingin disampaikan pengarang kepada pembaca atau pendengar. Dengan demikian, yang dimaksud dengan amanat dalam puisi adalah pesan-pesan yang ingin disampaikan oleh penyair.

9. Perasaan

Perasaan merupakan salah satu unsur batin pembangun puisi yang merujuk pada perasaan penyair. Seorang penyair umumnya mengekspresikan apa yang dirasakannya melalui rangkaian kata-kata dalam puisi. Perasaan ini dapat berupa rasa gelisah, rindu, kesal, marah, atau pengagungan terhadap Tuhan, alam, dan sebagainya.

10. Nada

Nada adalah salah satu unsur pembangun dalam puisi yang merupakan sikap penyair terhadap pembaca seperti menggurui, menasehati, mengejek, menyindir atau lugas. Nada ini dapa menimbulkan perasaan tertentu di hati pembaca. Nada biasanya terkait dengan tema dan perasaan.

demikian uraian singkat tentang unsur-unsur pembangun puisi.

sumber: dosenbahasa
 
Indosniper

merah_delima

Semprot Sejati
Thread Starter
Daftar
29 May 2017
Post
10.244
Like diterima
46.081
Lokasi
Heaven
SASTRA INDONESIA MODERN

A. PENGERTIAN SASTRA INDONESIA MODERN
1. Arti Modern
Kata modern pada sastra Indonesia modern dipergunakan tidak dalam pertentangan kata klasik. Bahkan sebenarnya, istilah sastra Indonesia klasik sebagai pertentangan dengan sastra Indonesia modern tidak ada. Kata modern dipergunakan sekedar menunjukkan betapa intensifnya pengaruh Barat pada perkembangan dan kehidupan kesusastraan pada masa itu. Sebelum berkembangnya sastra Indonesia modern kita mengenal sastra Melayu lama/klasik untuk membedakan dengan sastra Melayu modern yang berkembang di Malaysia.
2. Pengertian Sastra Indonesia
Ada beberapa pendapat mengenai apa yang disebut sastra Indonesia. Ada yang berpendapat bahwa suatu karya sastra dapat dinamakan dan digolongkan ke dalam pengertian sastra Indonesia apabila:
a. Ditulis buat pertama kalinya dalam bahasa Indonesia;
b. Masalah-masalah yang dikemukakan di dalam nya haruslah masalah-masalah Indonesia;
c. Pengarangnya haruslah bangsa Indonesia (Soemawidagdo, 1966: 62).
Berdasarkan pendapat di atas, pengertian sastra Indonesia mencakup tiga unsur persyaratan, yaitu bahasa, masalah yang dipersoalkan, dan pengarangnya. Ada pendapat lain yang mengatakan bahwa sastra Indonesia adalah “sastra yang aslinya ditulis dalam bahasa Indonesia, mengingat sastra dan bahasa erat saling berjalin” (Enre, 1963: 10). Berdasarkan pendapat ini, persyaratan cukup dibatasi pada bahasanya.
Pada dasarnya, kami cenderung pada pendapat pertama, hanya menurut kami, unsur persyaratan yang kedua dan ketiga dapat disatukan. Berhubungan dengan itu, kami berpendapat bahwa yang dimaksud dengan sastra Indonesia adalah sastra yang aslinya di tulis dalam bahasa Indonesia yang isinya memancarkan sikap dan watak bangsa Indonesia. Jadi, unsur persyaratan ada dua, yaitu:
a. Media bahasanya bahasa Indonesia dan
b. Corak isi karangannya mencerminkan sikap watak bangsa Indonesia di dalam memandang suatu masalah.
Berdasarkan uraian di atas, kiranya perlu dibedakan dan ditegaskan beberapa pengertian istilah-istilah tertentu. Sastra yang asliny di tulis dalam bahasa asing atau bahasa daerah di Indonesia kemudian diterjemahkan atau disadur dalam bahasa Indonesia, kita sebut sastra Indonesia terjemahan atau sastra Indonesia saduran. Kemudian sastra yang aslinya di tulis dalam bahasa asing meskipun pengarangnya bangsa Indonesia hendaknya tetap kita pandang sebagai sastra asing, misalnya Airlangga dan Enzame Gareodaylucht yang keduanya berbentuk drama yang asinya ditulis oleh Sanusi Pane dalam bahasa Belanda.
Adapun sastra yang ditulis dalam bahasa-bahasa daerah di Indonesia kita sebut saja sastra daerah atau sastra Nusantara. Jika disebut sastra di Indonesia, pengertiannya dapat mencakup sastra Indonesia dan sastra Nusantara.
Dengan demikian, menjadi jelaslah pengertian istilah-istilah sastra Indonesia, sastra Indonesia saduran, sastra Indonesia terjemahan, sastra asing, sastra Nusantara, dan sastra di Indonesia.

B. PERMULAAN SASTRA INDONESIA MODERN
Seperti halnya dengan pengertian sastra Indonesia, masalah permulaan sastra Indonesia modern ini pun menimbulkan beberapa macam pendapat. Dalam garis besarnya ada 4 macam pendapat, yaitu:
1. Slametmuljana (1953: 17) dalam sebuah artikelnya yang berjudul “Ke Mana Arah Perkembangan Puisi Indonesia?” berpendapat bahwa sastra Indonesia yang resmi haruslah dimulai dari tahun 1945. Pengertian tentang sastra Indonesia tidak dapat dipisahkan dari Indonesia sebagai nama satu negara. Negara Republik Indonesia baru ada sejak diumumkannya Proklamasi Kemerdakaan Republik Indonesia pada tahun 1945 dan baru pada tahun itu pulalah bahasa Indonesia ditetapkan sebagai bahasa resmi negara Republik Indonesia dan dicantumkan di dalam UUD 1945. Slametmuljana dengan tegas berpendapat bahwa berbicara tentang Indonesia sebagai suatu istilah dewasa ini tidak dapat terlepas dari masalah politik.

“Indonesia sebagai nama negara memang soal politik. Segala hal bersangkut paut dengan Indonesia sebagai nama negara tak dapat lepas dari soal politik. Kesusastraan Indonesia bersangkut paut dengan Indonesia sebagai nama negara. Oleh karena itu, bagaimanapun batas waktu 1945 merupakan batas pembagian kesusastraan pula. Di samping itu, haruslah diakui bahwa gerakan Pujangga Baru merupakan persiapan kesusastraan Indonesia. Hal ini penting karena Pujangga Baru memang menuju arah Indonesia merdeka.” (1953: 17)

Sebagai akibat dari pendapat di atas, Slametmuljana menganggap bahwa semua hasil sastra sebelum tahun 1945 harus dipandang sebagai sastra daerah. Novel “Sitti Nurbaya, Salah Asuhan”, dan kumpulan puisi “Percikan Permenungan” drama bersajak “Bebasari” dan bahkan hasil-hasil sastra Pujangga Baru semuanya adalah sastra daerah, yaitu sastra Melayu.
Terhadap pendapat Slametmuljana ini banyak orang merasa berkeberatan karena sastra sebagai suatu aspek kebudayaan tidak selamanya sejalan dengan politik. Peristiwa-peristiwa kenegaraan tidak selalu bersamaan dengan kehidupan kebudayaan suatu bangsa dan demikian pula sebaliknya.
Sastra suatu bangsa tidak mesti dimulai dari saat bangsa itu memperoleh kemerdekaannya. Di samping itu tampaknya Slametmuljana mencampuradukkan pengertian bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi dengan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional, dan kemudian mengaitkan kehidupan sastra Indonesia dengan saat ditetapkannya bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi. Padahal, kenyataannya bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional sudah berkembang sebelum Proklamasi Kemerdekaan.

2. Umar Junus di dalam karangannya yang berjudul “Istilah dan Masa Waktu Sastra Melayu dan Sastra Indonesia” yang termuat dalam majalah Medan Ilmu Pengetahuan 1/3 Juli 1960 berpendapat bahwa sastra Indonesia baru mulai berkembang pada sekitar 28 Oktober 1928, yaitu saat diikrarkannya Tri Sumpah Pemuda. Sebagai seorang linguis, Umar Junus beranggapan bahwa sastra terikat erat sekali dengan bahasa. Tidak ada bahasa maka sastra pun tidak akan ada juga. Oleh karena itu, kriteria penamaan suatu hasil sastra, harus terutama berdasarkan media bahasa yang dipergunakan. Suatu hasil sastra disebut sastra X karena bahasa yang digunakan ialah bahasa X.
Berdasarkan pemikiran tersebut, perkembangan sastra Indonesia dimulai sejak adanya bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional. Karena menurut Umar Junus bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional lahir sejak tahun 1928 maka perkembangan sastra Indonesia harus dimulai sejak tahun 1928, yang dapat maju atau mundur dari tahun tersebut asal disertai dengan suatu tanggung jawab. Jika ditarik garis mundur sebelum tahun 1928, kita akan bertemu dengan hasil-hasil sastra Balai Pustaka, yang dianggapnya tidak tepat untuk digolongkan sebagai hasil sastra Indonesia karena hasil sastra tersebut tidak mengandung unsur nasional.
Sebaliknya, jika ditarik garis maju sesudah tahun 1928, kita akan bertemu dengan hasil sastra Pujangga Baru. Menurut Umar Junus, sastra Pujangga Baru sudah dengan tegas membawa suara Indonesia, sudah bercorak nasional sehingga pada tempatnyalah apabila hasil-hasil sastra pada masa itu dipandang sebagai sastra Indonesia. Dengan keterangan di atas, kemudian ia menyimpulkan bahwa sastra Indonesia baru berkembang sekitar tahun 1928 dan tepatnya pada thuan 1930-an.
Ada beberapa keberatan terhadap pendapat Umar Junus tersebut, antara lain sebagai berikut:
a. Dalam kenyataannya hubungan antara sastra dengan bahasa tidak selalu bersifat mutlak. Banyak sastra dari beberapa negara yang ditulis dalam bahasa yang sama, misalnya bahasa Inggris untuk sastra Amerika, Inggris, Australia, dan sebagainya.
b. Perkembangan sastra sebelum tahun 1928 tidak terbatas hanya pada kegiatan dan hasil-hasil Balai Pustaka. Beberapa pengarang di luar Balai Pustaka banyak yang menulis ketika itu, misalnya Moh. Yamin, Sanusi Pane, Rustam Effendi, dan yang lain.
c. Andai kata Balai Pustaka satu-satunya badan yang berperan dalam perkembangan sastra pada masa itu, kita juga mengajukan beberapa persoalan:
(1) Apakah tidak ada satupun karya Balai Pustaka yang bercorak nasional, meski masih secara tersirat atau samar-samar? Jika kita dengan teliti membaca novel “Salah Asuhan” karangan Abdul Moeis, kita menyangsikan kesimpulan di atas. Pada akhir cerita novel itu kita dapati kata ibu Hanafi: “Sekalipun ia sudah bersekolah, tetapi pelajaran agama kita janganlah ditinggalkan. Salah benar ibu mengasuh Hanafi masa dahulu karena sedikitpun ia tidak diberi pelajaran agama. Sedangkan kecilnya ia sudah mengasingkan diri daripada perjuangan bangsanya.”
(2) Sutan Takdir Alisjahbana, seorang yang sering disebut pelopor Pujangga Baru, adalah seorang pengarang yang banyak berperan dalam kegiatan Balai Pustaka. Ia pernah menjabat hoofdredacteur majalah Panji Pustaka, sebuah majalah Balai Pustaka. Dengan demikian, bagaimanakah halnya dengan karangan Sutan Takdir Alisjahbana sebelum tahun 1928, seperti “Tak Putus Dirundung Malang”?
3. Nugroho Notosusanto, seorang sarjana Ilmu Sejarah, berpendapat bahwa berbicara tentang sastra Indonesia, bukan berarti berbicara tentang bahasa Indonesia, melainkan tentang sastra Nasional Indonesia. Dengan demikian, prinsip sastra Indonesia adalah prinsip kebangsaan. Kapankah kesadaran kebangsaan bangsa Indonesia mulai bangkit? Karena kita telah menetapkan tanggal 20 Mei 1908 sebagai Hari Kebangkitan Nasional maka berarti bahwa setiap kegiatan bangsa Indonesia sejak saat itu sudah didorong oleh aspirasi nasional. Sastra Indonesia sebagai bagian kebudayaan bangsa Indonesia, seharusnya sudah pula memancarkan unsur kebangsaan itu. Dengan demikian, sastra Indonesia sebagai sastra Nasional Indonesia sudah berkembang sejak permulaan abad ke-20.
Terhadap pendapat Nugroho Notosusanto tersebut ada satu keberatan. Meskipun dasar pemikirannya benar, pendapat itu tidak berlandaskan hasil-hasil sastra yang konkret. Pada permulaan abad ke-20 kita belum dapat menunjukkan karangan-karangan yang dapat dipandang sebagai hasil sastra yang bernilai atau bercorak nasional.
Kecuali itu, teori yang dikemukakan oleh Nugroho Notosusanto tersebut ternyata tidak sesuai dengan periodisasi yang dibuatnya. Nugroho Notosusanto dalam periodisasi sastranya memulai perkembangan sastra Indonesia modern pada tahun 20-an, bukan pada permulaan abad ke-20.
4. Pendapat yang terakhir menyatakan bahwa sastra Indonesia modern mulai berkembang sekitar tahun 20-an.
Mereka yang berpendapat demikian itu antara lain: Fachruddin Ambo Enre, Ajip Rosidi, H.B. Jassin, dan A. Teeuw. Alasan yang mereka kemukakan tidak sama, tetapi pada dasarnya menyangkut dua hal, yaitu:
a. Media Bahasa yang Dipergunakan
Meskipun bahasa Indonesia itu secara formal diakui sebagai bahasa persatuan pada tahun 1928, realitasnya bahasa tersebut sudah pasti sudah berkembang pada tahun-tahun sebelumnya. Tahun 1928 adalah sekedar tahun peresmiannya saja atau tahun pemandiannya (menurut istilah A. Fokker) menjadi bahasa Nasional. Kenyataan kehadirannya harus kita cari beberapa tahun sebelumnya. Apabila kita perhatikan buku-buku hasil sastra Balai Pustaka sekitar tahun 20-an, misalnya novel “Azab dan Sengsara, Sitti Nurbaya”, dan juga puisi-puisi Moh. Yamin, Sanusi Pane, dan Rustam Effendi, yang termuat dalam majalah Yong Sumatra, majalah Timbul, nyatalah bahwa bahasa yang dipergunakan dalam karangan-karangan tersebut tidak jauh berbeda dengan bahasa yang kemudian diresmikan menjadi bahasa persatuan pada tahun 1928. Berdasarkan kenyataan itu, kita beralasan untuk mengatakan bahwa bahasa Indonesia sudah ada sekitar tahun 20-an.
b. Corak Isi yang Terdapat Didalamnya
Corak isi karya sastra sudah mencerminkan sikap watak bangsa Indonesia, artinya mengandung unsur kebangsaan. Pada bagian sebelumnya sudah dikemukakan, bahwa hasil-hasil sastra sekitar tahun 20-an sudah mengandung unsur kebangsaan. Terlebih apabila kita perhatiakan hasil sastra di luar Balai Pustaka, unsur itu amat jelas. “Tanah Air” kumpulan puisi Moh. Yamin temanya ialah kecintaan penyair pada tanah air dan bangsanya yang pada waktu itu hidup dalam penjajahan.

“Memang tanah air yang dinyanyikan pemuda yamin dalam sajak-sajaknya itu belum lagi tanah air Indonesia dalam arti geografis yang sekarang. Tetapi hal tersebut akan berkembang dengan dia sendiri (turut) memagang peranan utama: enam tahun kemudian ia sendiri mempelopori pengakuan bahasa, tanah air, dan bangsa Indonesia sebagai dasar persatuan nasioanal Indonesia. Keberatan yang bisa kita kemukakan dalam memandang “Tanah Air” Yamin yang belum lagi meliputi Indonesia Raya melainkan baru Sumatra, Andalas, Pulau Perca, Tanah Melayu, dan lain-lain adalah keberatan yang juga bisa kita ajukan kepada pengakuan Boedi Oetomo yang bersifat sosial dan bercita-cita kejawen yang sekarang telah diresmikan sebagai perintis kebangkitan kesadaran nasional Indonesia.” (Rosidi, 1964: 7-8).

Ternyata bahwa kesadaran kebangsaan Yamin pada “Tanah Air” (1922) yang masih terbatas pada Pulau Andalas itu kemudian mengalami perkembangan dan pada “Indonesia Tumpah Darahku” (1928) kesadaran kebangsaan itu sudah meluas meliputi seluruh Indonesia Raya.
Dua hal itulah yang kita pergunakan sebagai dasar untuk menetapkan bahwa sastra Indonesia modern mulai berkembang sekitar tahun 1920-an.
 

merah_delima

Semprot Sejati
Thread Starter
Daftar
29 May 2017
Post
10.244
Like diterima
46.081
Lokasi
Heaven

Aturan Penulisan Dialog​


Dialog menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah percakapan (dalam sandiwara, cerita, dan sebagainya) atau karya tulis yang disajikan dalam bentuk percakapan antara dua tokoh atau lebih.

Dialog sering kita temui dalam cerita pendek ataupun novel. Tujuannya adalah untuk membuat sebuah karya dan cerita menjadi hidup. Tanpa dialog rasanya bagai sayur tanpa garam. Pasti akan sangat membosankan, apalagi kalau narasi tidak dikemas secara apik. Dijamin orang yang membaca akan melewatkan cerita tersebut.

Namun, penulisan dialog tidak boleh sembarangan. Ada aturannya, yaitu kita harus berpedoman pada PUEBI (Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia) yang di dalamnya terdapat pedoman tentang bagaimana cara menggunakan tanda baca yang baik dan benar.

Secara umum, dialog itu sesudah tanda petik pertama selalu diawali dengan huruf kapital dan sebelum tanda petik kedua, dibubuhi berbagai tanda baca sesua sesuai konteks kalimat dalam dialog. Berikut 6 aturan tentang penulisan dialog yang perlu kita perhatikan.

1. Koma sebelum petik terakhir

Apabila kita menggunakan dialog tag, maka dialog diakhiri dengan tanda koma dan dialog tag selalu diawali dengan huruf kecil.

Contoh:

- "Kopinya enak," kata Hamdi.
- "Iya," kataku.

Catatan tambahan: Dialog tag adalah frase yang mengikuti dialog, bertujuan untuk menginformasikan identitas si pengucap dialog.
Ada dialog tag yang netral seperti ujar, ucap, kata, cetus, tutur, ungkap, tandas, tanya, sapa, panggil, pungkas, tegas, ajak, dan pinta.
Ada lagi dialog tag yang netral sebagai respons seperti sahut, jawab, balas, terang, jelas, sela, tukas, dan potong.
Dan ada pula dialog tag yang menunjukkan emosi seperti sindir, ejek, hina, cela, kelakar, canda, teriak, jerit, raung, seru, sergah, murka, bisik, gumam, dan lirih.


2. Titik sebelum petik terakhir

Apabila tidak ada kalimat lain setelah dialog, maka dialog diakhiri dengan tanda titik. Begitu juga apabila menggunakan kalimat aksi, maka dialog diakhir dengan tanda titik dan kalimat aksi diawali dengan huruf kapital.

Contoh:

- "Dia tega meninggalkanku." Matanya terlihat mulai berkaca-kaca.

- "Begitulah hidup."

3. Tanda tanya dan tanda seru sebelum petik akhir

Contoh:
- "Apakah kau bersedia menikah denganku?" tanya Hamdi.
- "Dasar kampungan!" Fitri hanya diam.

4. Tanda elipsis

Contoh:
- "Aku ... minta maaf."
- "Ibu tiriku sangat kejam dan ...." Aira tak sanggup melanjutkan ceritanya.

Catatan tambahan: Tanda elipsis dipakai untuk menunjukkan bahwa dalam suatu kalimat atau kutipan ada bagian yang dihilangkan. Cara penulisannya adalah sebelum dan sesudah tanda elipsis diberi spasi, tapi apabila di akhir kalimat, maka tambah satu titik sebagai tanda kalimat berakhir.

5. Dialog sambungan

Huruf pertama di awal dialog menggunakan huruf kapital dan saat melanjutkan dialog, menggunakan hutuf kecil.

Contoh:
- "Aku," matanya sayu, "sangat mencintainya."

6. Dialog sapaan

Kata sapaan digunakan untuk menyapa lawan bicara. Cara penulisannya adalah dengan menggunakan koma sebelum kata sapaan.

Contoh:
- "Ayah sudah datang, Bu?"
- "Belum, Nak."

Nah, itulah 6 aturan yang perlu kita perhatikan dalam penulisan dialog. Semoga tulisan ini memberikan manfaat bagi yang berkeinginan menulis cerpen atau novel dan semoga menambah wawasan dalam hal berliterasi. Apabila terdapat kesalahan, mohon kesediaannya untuk memberikan masukan dan kritikannya.

Terima kasih.

Sumber rujukan:
https://kbbi.web.id/
https://puebi.readthedocs.io
 
Sbo Hoki Online   Senior Bola Online
Jav Toys
9 club   Gaple Online Indonesia
Pasang iklan hanya lewat CONTACT US
Top
Semprot is now part of PAGCOR