Agen Terpercaya
 
 
 
 
 
 
Pasang iklan, hanya lewat Contact Us.
Waspada penipuan iklan. Klik di sini untuk melihat daftar penipu.

CERBUNG AKU GURU BERHIJAB TAPI BINAL

ErnaAstuti

Suka Semprot
Thread Starter
Daftar
12 Sep 2022
Post
22
Like diterima
860
Bimabet
Ini repost dari thread di Latihan Posting... atas usulan para suhu agar dilanjut di Cerbung... Mohon maaf kalau masih mentah cara mengisahkannya... baru belajar.. semata karena ini sejauh yang masih bisa diingat adalah kisah nyata.

AKU DAN TEMAN-TEMAN GURU

Saat itu tahun 1994, sudah lebih dari setahun aku mengajar di sekolah itu. Aku menikmati pekerjaanku, dan cepat akrab dengan semua pengajar disana, baik yang wanita maupun pria. Aku merasa teman-teman guru pria umumnya lebih senang ngobrol dan bercanda dengan aku dibanding dengan teman wanita yang lain. Mungkin karena aku termasuk yang termuda di antara guru-guru wanita dan juga tercantik (kata mereka sih).

Umurku saat itu 27 tahun. Tinggal bersama kakakku dan suaminya. Suamiku masih tinggal di Bandung menyelesaikan studinya. Saat itu anakku baru dua orang. Yang tertua perempuan umur 7 tahun dan adiknya lelaki umur hampir 2 tahun. Banyak orang yang menganggap wajahku mirip Meriam Belina. Kulit putih, rambut ikal, tinggiku 163 cm. Buah dadaku ukuran 34C. Bodiku masih kencang dan sexy, walau sudah punya 2 orang anak. Dan yang cukup menonjol adalah boncengan alias pantatku yang lumayan bohay. Tentu saja aku selalu berbusana muslimah yang sejak SMA kukenakan.

Guru-guru pria umumnya senang bercanda yang agak miring-miring ke seks kepadaku. Dan aku tidak keberatan untuk menanggapi candaan mereka. Di antara mereka terdapat dua orang yang kurasa memiliki perhatian khusus kepadaku. Yang pertama, Pak Joko, umur 46 tahun, guru olah raga, seorang yang sudah setahun menduda. Tampang Pak Joko bisa dibilang jauh dari ganteng, tapi tubuhnya sangat atletis dan cukup tinggi. Pak Joko sudah cukup lama di sekolah ini. Yang kedua, Pak Endi, umurnya lebih muda dariku, 25 tahun, bergabung di sekolah ini bareng denganku. Guru bahasa Inggris. Masih bujangan.

Boleh dibilang mereka berdua selalu ada diseputarku setiap ada kesempatan. Pak Joko lebih agresif mendekatiku, candaannya juga selalu menjurus ke hal yang berbau seks. Sedangkan Endi lebih malu-malu. Para pria di sekolah ini memang suka menggoda ke guru-guru wanita hal-hal yang berbau seks, dan itu biasa mengingat kami semua, kecuali Pak Endi semua sudah berkeluarga.

Tapi Pak Joko terasa jauh lebih intens mendekatiku melalui candaan-candaannya yang menjurus porno. Aku sendiri juga sering menimpali candaan tersebut. Mungkin karena itu dia menjadi sangat akrab denganku.

Suatu saat Pak Joko memanggilku ketika sedang berkumpul di ruang guru. Aku menoleh melihatnya menghampiriku dengan sehelai kertas yang dilipat-lipat.

“Bu Erna, coba kesinikan jempol Bu Erna,” sapanya. Aku mengernyitkan alisku, tetapi tetap kusodorkan jempol tanganku.

Pak Joko mengukur kuku jempol tanganku dengan kertas yang sudah dilipat-lipat, lalu merobeknya. Ternyata membentuk lubang di kertas tersebut. Pak Joko mengamati lubang di kertas itu.

“Wah.. Bu Erna sempit juga ya lubangnya,” katanya. Mengertilah aku bahwa tentu lubang di kertas itu dianggap sebagai ukuran lubang kewanitaanku. Kamipun semua tertawa.

Tentu saja akupun membalas melakukan hal yang sama. Mengukur kuku jempol tangannya dengan kertas yang sudah dilipa-lipat, lalu merobeknya sesuai ukuran sehingga membentuk sebuah lubang.

“Waaahhh… gede juga diameternya punyanya Pak Joko,” kataku membalas. Pak Joko cengengesan.

“Masa sih Pak… segede itu? Ah bohong kali,” kejarku.

“Gak percaya?” sanggahnya balik. Aku menggelengkan kepala, sambil mencibirkan bibirku.

“Periksa sendiri,” katanya seraya menarik tanganku kearah selangkangnya. Tentu saja aku menarik tanganku sambil memakinya. Gila!

Tetapi kemudian aku mencocokan antara ukuran lubang milikku dan diameter kemaluannya versi kedua kertas tersebut. Aku melihat ukuran lubangnya sedikit lebih besar dari lubangku.

“Wah… Gak muat nih Pak Joko. Gak jadi ah… Tadinya sih pengen nyobain,” godaku. Aku sendiri kaget atas godaanku kepadanya.

“Belum tentu loh Bu Erna. Kan kalo dah becek jadi muat,” katanya.

“Huuu ngarep. Enak aja..” ledekku… sambil berlalu ke WC guru karena kebelet pipis.

Bukan hanya candaan omongan, Pak Jokopun berani menyentuh bagian-bagian tubuhku. Awalnya, Pak Joko sering secara bercanda menggandeng lenganku, yang tentu saja segera aku tepis sambil melototkan mataku kea rah. Biasanya dia Cuma ketawa saja. Tapi Pak Joko tidak pernah jera, terusnya menggandeng lenganku setiap ada kesempatan. Akhirnya bosan menepis tangan, kadang-kadang aku membiarkannya cukup lama.

Merasa aku biarkan, lama-lama Pak Joko makin berani. Bila tidak terlihat oleh guru yang lain, dia suka menggandeng pinggangku. Lama-lama Pak Joko berani mencolek pantatku bahkan menepoknya. Tentu saja sambil bergaya bercanda. Kadang-kadang secara ‘tidak sengaja’ menyenggol buah dadaku.

Tentu saja aku berlagak marah kepadanya. Tapi entah mengapa aku tidak pernah serius marah kepadanya. Mungkin karena aku benar-benar menganggapnya tidak sengaja atau hanya bercanda.



INSIDEN WC GURU

Tempat paling sering dimana Pak Joko mencolek pantatku adalah di WC guru. Seperti sudah direncanakannya, aku selalu berpapasan dengannya ketika mau masuk WC ataupun sekeluar dari WC.

WC guru terletak di ujung kelas dekat ruang peralatan olah raga yang sekaligus gudang. Masuk ke Kamar kecil khusus guru sendiri ada pintu koboi langsung bertemu washtafel. Lalu ada dinding penyekat yang memisahkan ruang WC tersebut. Ada dua ruang WC guru.

Aku sendiri mulai terbiasa dengan keisengannya mencolek pantatku. Paling-paling aku cuma bergumam lirih, “Dasar gila.”

Rupanya merasa mendapat angin dariku, Pak Joko semakin berani. Saja.

Suatu saat begitu aku membuka pintu WC setelah pipis, Pak Joko tepat di depan pintu menghadangku.

Belum sempat aku berfikir, Pak Joko langsung merangkul pinggang merapatkan tubuhku ke tubuhnya. Secara reflek aku langsung menggunakan kedua tanganku menahan dadanya, sehingga hanya bagian pinggang kami saja yang merapat.

“Pak Joko apa-apan sih?” tanyaku.

“Pengen ngerasain meluk Bu Erna,” jawabnya sambil cengengesan.

“Lepasin ah.. jangan kelewatan becandanya,” sahutku. Bukannya melepaskan pelukannya, Pak Joko malah menyosorkan bibirnya ingin menciumku tentu saja aku menarik wajahku menjauh.

“Ntar ada yang lihat ah..,” sungutku sambil meronta. Lepas dari pelukannya aku segera keluar dari WC guru kembali ke kelas.

Kejadian serupa sempat terulang kembali sekali. Aku dapat melepaskan diri dengan mudah. Tetapi merasa aman-aman saja dengan kelakuannya terhadap Pak Joko semakin berani. Seperti hari itu.

Waktu itu begitu aku membuka pintu WC, ada Pak Joko menghadang. Karena sudah dua kali mengalami hal serupa, aku tidak kaget lagi. Tapi ternyata kali ini berbeda. Dia langsung menarik tanganku masuk kembali ke dalam WC.

Di dalam WC, Pak Joko langsung mengunci pintu, lalu kembali memeluk pinggangku. Dirapatkannya bagian pinggangku ke pinggangnya. Tangannya meremas-remas pantatku.

“Iiihhh… mau apa sih Pak Joko,” tanyaku pelan sambil memelototkan mataku mencoba menunjukkan kemarahanku.

“Mau meluk Bu Erna. Abisnya Bu Erna ngegemesin sih,” jawabnya.

“Enak aja pelak-peluk. Ada yang punya tau,” sahutku masih separuh menganggap ulahnya sebagai becandaan.

“Biarinlah… Yang punyanya jauh,” sahutnya.

“Udah ah. Ntar ada yang liat, dikiranya ngapain lagi,” jawabku sambil mencoba meronta untuk melepaskan diri dari pelukkannya. Aku berharap seperti biasa dia akan melepaskanku.

Di luar dugaanku. Pak Joko tidak melepaskanku. Malah mendorongku kea rah dinding WC. Aku terkejut beberapa saat.

Dan saat terkejut itu tiba-tiba tangan kanan Pak Joko memegang bagian kepalaku dan mendekatkan wajahnya ke wajahku. Sadar bahwa Pak Joko mau mencium bibirku, aku segera memalingkan wajah. Ciumannya mendarat di pipi membuatku geli karena kumisnya. Detik berikutnya Pak Joko telah menempelkan bibirnya di leher belakang telingaku, daerah yang lumayan sensitif buatku sehingga aku lemas dan dimanfaatkannya untuk menyudutkanku ke dinding WC Guru. Pak Joko juga menciumi leherku bagian depan. Untuknya aku memakai kerudung jadi ciumannya tidak langsung menyentuh kulit sensitifku.

“Pak Joko apaan sih..lepaskan Erna, Pak Joko.. lepasin..!”, rontaku. Aku mencoba mendorong dadanya dengan kedua tanganku sekaligus melindungi dadaku dari himpitan dadanya. Tapi Pak Joko tak mau bergeming.

“Lepasin gak… Erna teriak nih,” ancamku. Tapi sepertinya Pak Joko tahu bahwa aku tidak akan berteriak di suasana ini karena akan mempermalukan semua orang.

Dengan satu gerakan pelan Pak Joko mencium bibirku lagi. Mataku terpejam karena malu. Ciumannya terasa begitu bernafsu. Aku tak mengelak dan tidak menolak, aku pikir gak ada gunanya juga. Dia tidak akan berhenti sebelum mendapatkan apa yang diinginkan. Satu – satunya yang bisa aku lakukan adalah membiarkannya mendapatkan yang dimauinya.

Kepasrahanku membuat Pak Joko leluasa mengulum bibirku. Aku mencoba tidak bereaksi. Kubiarkan bibirnya dengan gemas melumat bibirku. Dia tak mau berhenti begitu saja, Pak Joko mengeluarkan lidahnya untuk menerobos bibirku . Lidah itu bergerak liar bagai seekor ular menggeliat, menjilat dan menusuk mencoba masuk kedalam. Lidah Pak Joko berusaha menemui pasangannya yang masih bersembunyi di dalam mulut, yakni lidahku.

Ternyata aku takmampu bertahan lama. Aku membuka mulutku, membalas ciuamannya. Langsung saja lidah Pak Joko untuk menemukan lidahku, keduanya langsung bertaut dan menarik pasangannya, berpagut bagai saling merindu. Aku tidak menduga, bahwa aku akan menerima saja malah membalas dicumbu seperti ini.

Tanpa kusadari tanga kananku sudah berpindah ke belakang kepala Pak Joko, seakan takut kepalanya menjauh dan ciuman kami akan terlepas. Aku harus berjinjit untuk mengimbangi tingginya.

"Sekarang, turunkan tanganmu," katanya, dan aku melakukannya, kali ini tanpa sepatah kata pun aku menurunkan tangan kiriku yang masih menahan dadanya. Saya pikir saya tidak mau, tetapi pada titik ini hampir seolah-olah saya tidak lagi mengendalikan tubuh saya. Dia berbicara, dan saya menurutinya seperti robot. Tangan kanannya berpindah merangkul pundakku, membuat tubuh kami semakin merapat. Tangan kirinya masih setia di pinggulku. Meremas-remas bongkahan pantatku.

Napasku menjadi cepat dan dangkal, hampir seperti anjing yang terengah-engah. Buah dadaku terhimpit dadanya. Selangkangannya merapat ke perutku. Aku pun tersadar Pak Joko sudah dilanda birahi. Walaupun aku tidak bisa melihatnya, tetapi aku merasakan perutku terganjal sesuatu yang mengeras pada bagian selangkangannya.

“Aaaahhh Pak Joko,” desahku ketika kurasa tangan Pak joko membimbing tangan kiriku ke benda mengeras di selangkangannya.

Aku mencoba menarik tanganku, tapi tangan Pak Joko menahannya. Akhirnya aku menurutinya. Memegang batang kejantanannya yang teras semakin keras di dalam celananya. Setelah yakin aku akan tetap memegang kontolnya, dia kemudian dia meletakkan tangannya di atas kemeja safariku. Tangannya meremas buah dadaku sebelah kanan. Rasanya seperti sengatan listrik melewati tubuhku, dan aku menggigil.

“Pak Joko jangan Pak,” pintaku. Tapi aku tidak mencegahnya sama sekali. Kedua tanganku punya kesibukan sendiri.

“Sssstt… Paakk… mmmppphh… pppaakk… apa sssst yang Bapak… aaaahh lakukan,” tanyaku keluar terputus-putus diselingi desahan dari bibirku di sela-sela ciuman Pak Joko. Nafasku semakin tersengal-sengal. Tangannya seperti berusaha menangkup seluruh bukit kenyal kiriku semuanya. Birahiku mulai bangkit.

"Udah Pakk… Jangan… Saya sudah bersuami..?" bisikku tersengal, ketika berhasil melepaskan ciumannya. Tapi tanganku tidak melepas genggaman di kejantanannya.

"Bu Erna tenang aja," jawab Pak Joko, "Saya sudah lama gemas pengen ngeremas."

“Aufft… udah Pak… ntar ketahuan orang?” bisikku.

“Makanya jangan berisik Bu. Biar gak ketauan yang lain,” bisiknya. Tangannya kini meraih kancing atas kemeja safariku.

“Jangan Pak.. Dari luar aja,” larangku spontan. Berarti aku tidak keberatan lagi dia meremas-remas tetekku asal dari luar kemeja. Tapi mana mungkin Pak Joko menuruti omonganku. Tangannya berhasil melepas satu kancing kemejaku dan berusaha membuka satu lagi.

Tiba-tiba…

“Bu Erna ya?” terdengar suara Bu Tuti dari luar WC. Aku terdiam bingung apakah harus menjawab atau diam saja.

“Bu Erna? Bu?” tanya Bu Tuti lagi. Kudengar dia masuk ke WC sebelah. Aku berpikir cepat. Inilah kesempatan untuk molos dari Pak Joko.

“Iya Bu,” jawabku. Segera ku dorong tubuh Pak Joko. Dan selagi dia tidak mengira, aku segera meraih slot pintu WC dan langsung membukanya. Dan keluar dari WC.

“Bu Tuti, saya duluan,” pamitku langsung keluar.

“Ehh.. Pak Joko. Silahkan Pak,” aku berpura-pura melihat Pak Joko baru memasuki WC.

Hari itu aku masih selamat dari serangan Pak Joko. Demikian juga hari-hari berikutnya, aku berhasil menghindari upaya Pak Joko, menyeretku kembali ke dalam WC. Dan aku selalu berhasil melepaskan diri keluar di luar WC karena sepertinya Pak Joko juga gak berani terlalu nekat.
 
Jav Toys
Gaple Online Indonesia
Pasang iklan hanya lewat CONTACT US
Top
Semprot is now part of LS Media Ltd