9Club Situs Judi Online Terpercaya
Asus Togel online   Mandala Toto
Pasang iklan, hanya lewat Contact Us.
Waspada penipuan iklan. Klik di sini untuk melihat daftar penipu.

CERBUNG Istriku Menikah Lagi (Session 2) UPDATE BAB BARU

Sebagai pembaca setia IML, kalian ingin

  • Andi dan Rina selalu bahagia, bersama selamanya

    Votes: 128 32,9%
  • Rina kembali poliandri dengan Andi dan Frans dengan cara apapun

    Votes: 108 27,8%
  • Andi poligami dengan Niken dan Rina

    Votes: 153 39,3%

  • Total voters
    389

apn3

Semprot Holic
Daftar
20 Jul 2019
Post
397
Like diterima
568
Akhirnya suhu mengabulkan permintaan utk tdk mematikan andi hahaha,mkasih suhu....tp jd penasaran apakah doni tau hubungan niken dg andi dan jika barang2 korban kecelakaan yg dibawa doni diberikan niken dan ternyata itu barang2 endi,reaksi niken pasti terkejut hahaha...dan endingnya polling poligami andi,rina dan niken yg akan menang 😄😄😄...mkasih update nya suhu
 

Modaldengkul

Semprot Kecil
Daftar
18 Aug 2017
Post
95
Like diterima
167
Lokasi
Riau
Kl Danar mmg anak nya Andi, bakalan gak cocok nih hasil DNA nya dgn Jenazah Endi. Sementara ketika dicek DNA nya Akbar, gak cocok juga.
Wah wah wah.
Makin puyeng tuh si Doni.
 

Dejafus

Semprot Lover
Daftar
10 Nov 2019
Post
274
Like diterima
719
Jad
Kl Danar mmg anak nya Andi, bakalan gak cocok nih hasil DNA nya dgn Jenazah Endi. Sementara ketika dicek DNA nya Akbar, gak cocok juga.
Wah wah wah.
Makin puyeng tuh si Doni.
Jadi tanda tanya besar buat doni. Danar anak siapa??? Niken pasti diintrogasi si doni. Ujung" nya nyangkut di emak" 2(Rina dan Niken) moga aja akur🤣
 

Chansky953

Suka Semprot
Daftar
23 Dec 2020
Post
18
Like diterima
45
SUPIR TRUK MENYERAHKAN DIRI


“Niken, kamu niken..” ucap doni, niken menatap doni, dia terkejut pria didepannya mengenali namanya, doni tiba-tiba teringat dia harus menelpon pak rudi untuk membawa akbar ke rumah sakit polri ini, “sebentar,” doni meletakkan keranjang yang dibawanya di meja dekat niken, lalu doni keluar dari ruangan.

“Pak rudi, tolong bawa akbar ke rumah sakit polri ya, soalnya mau tes ulang sampel dna, ya pak, secepatnya ya, biar segera jelas semuanya, ya yang kemaren katanya kurang, perlu sampel lagi, baik baik pak, oh ya bagaimana dengan kak rina, ohh syukurlah, pak, oh ya pak segera langsung kesini ya, naik taksi aja, ohh rombongan ibu sudah datang baik, saya tunggu ya pak,”

Doni menyimpan hpnya di kantong celananya, lalu kembali memasuki ruangan jenazaH, doni melihat niken sedang memperhatikan sesuatu yang seperti bentuk jam tangan yang telah hangus.

“Pak ini, ini apa pak,” tanya niken kepada doni, doni merasa niken sudah tak ingat padanya, “itu barang-barang yang melekat di tubuh korban,” jawab doni.

Niken menutup mulutnya, tiba-tiba dia menangis, “ini punya suami saya pak,” ucap niken ditengah isakannya, “ini juga cincin kawin suami saya,” niken menunjukkan cincin yang terlihat kusam.

“Maksud mbak, ini suami mbak,” tanya andi menunjuk ke kantong jenazah, “Bukan, ini ketemu dimana pak, jangan bilang ditemukan di jenazah itu,” tanya niken dengan suara tersendat terisak, doni menatap niken bingung.

“Apa maksud mbak, ya itu ditemukan di dekat jenazah, dan sebagian melekat di tubuh jenazah,” jawab doni, tiba tiba niken menghambur ke kantung jenazah, “paps...jangan bilang ini kamu paps, paps hhhaa, sss,” niken menangis meraung-raung, doni hanya berdiri bingung.

Niken jatuh berlutut, sedu sedannya terdengar menyedihkan, doni mendekati niken, “mbak niken,” ucap doni, niken menoleh ke arah doni, wajah cantik niken terlihat kuyu dan lusuh, matanya bengkak, “kok bapak tahu nama saya,” tanya niken

“Saya doni mbak, doni yang dulu bersama terus di halte, saat kita masih sekolah,” ucap doni, niken mencoba berdiri, dia mulai mengingat doni, “doni, kamu doni,” tanya niken tak percaya, dulu doni sangat kurus kini posturnya sangat atletis, doni memapah niken menuju tempat duduk.

“Apa maksudnya ini don, kenapa barang-barang suamiku ada disini, gimana ini don,” tanya niken pikirannya sedang kalut, dia tak ingat untuk bertanya kemana doni menghilang selama ini, pikiran niken kin sedang kalut, semua barang-barang yang hampir tak berbentuk ini adalah milik suaminya endi, niken bingung kenapa semua ada disini.

“Suami mbak? tapi..” doni tak jadi bicara, percuma saja dia mengatakan pada niken kalau jenazah yang ada di kantung mayat adalah andi.

“Mbak yakin? Apa mbak punya anak, atau suami mbak punya catatan gigi?” tanya doni, niken menatap doni berpikir sejenak, “maksud kamu don,” niken balik bertanya.

“Untuk identifikasi jenazah mbak, soalnya jenazah itu kita anggap adalah jenazah pak andi, beliau terlibat kecelakaan sore kemaren,” doni menjelaskan.

“Ya saya tau don, pak andi adalah mantan bos saya, saya baca di medsos kalau pak andi meninggal, makanya saya kesini, tapi kenapa barang-barang suami saya ada di jenazah itu,” ucap niken.

Doni melihat raut wajah niken mengatakan yang sebenarnya, “kalau gitu mbak bawa anak mbak kesini untuk di tes DNA nya sebagai perbandingan untuk jenazah, dan sekalian riwayat giginya,” ucap doni.

“Kalau riwayat gigi kayaknya ada di kantor suami saya, baik saya minta ibu saya untuk membawa anak saya kesini,” ucap niken, “tapi don itu bukan suami saya kan, bukan kan,” kembali niken terisak isak, kini andi mengajak niken untuk keluar dari ruangan , bau pengawet mayat sangat menusuk matanya.

“Untuk lebih jelas kita butuh data yang tadi saya sebutkan mbak,” ucap doni, “sekarang mbak coba telpon dulu ibunya, minta bawa anak mbak kesini, lalu untuk catatan gigi, saya minta nomor dokter gigi yang merawat, atau mungkin phak perusahaan, nanti kepolisian akan bantu,”

“Saya pun tidak tahu kalau ditanya apakah itu pak andi atau suami mbak, karena kita butuh data otentik untuk mengidentifikasi jenazah yang tak dikenali.” Ucap doni panjang lebar menjelaskan .

Lalu tanpa membuang waktu, niken meminta ibunya datang, tentu saja ibunya bingung kenapa tiba-tiba disuruh datang, niken dtengah tangisan hanya meminta ibunya datang ke rumah sakit membawa danar, ibunya yang mendengar tangisan niken menjadi panik, begitu pula bulik dewi, mereka segera berangkat ke rumah sakit.

***

1 jam kemudian

Akbar keluar bersama doni dari ruangan DVI, doni memastikan semua sample yang diambil sudah sesuai prosedur, doni tak ingin hal seperti semalam terulang lagi, hingga sample yang diambil tidak bisa diperbandingkan dengan jenazah.

Akbar menghampiri kakeknya yang duduk di ruang tunggu depan ruangan DVI, “kek, kok ayah gak datang ke kita ya, kata kakek kan ayah ada di surabaya, ayah kemana kek,” tanya akbar, anak sekecil itu belum paham situasi yang tengah terjadi, kakek pun bingung bagaimana caranya menjelaskan pada akbar kalau ayahnya meninggal.

“Akbar ikut om bobi yuk, kita beli makanan didepan, tadi kan ada kebab tuh, atau kita beli pizza ya,” bujuk bobi yang ikut mengantar kakek dan akbar.

“Ayah juga katanya janji mau beliin pizza om, beli pizza yang besar yang banyak cheese nya,” ucap akbar, “ya besok beli pizza ama ayah, kalo sekarang ama om bobi, kan jadi dobel ya kan,” ucap bobi, akhirnya akbar ikut dengan bobi.

“Itu jaket yang dikenakan bobi punya mas andi ya pak,” tanya doni memperhatikan jaket yang dikenakan bobi, jaket itu sama persis seperti yang ada di foto yang ditemukan doni

“Ehh mungkin ya, kayaknya sih, emang kenapa don,” tanya pak rudi heran dengan pertanyaan doni.

“Gak apa-apa pak, cuma dulu saya liat ada di rumah mas andi, saya suka banget model jaketnya,” ucap doni berkilah.

Akhirnya kakek juga pulang, doni meminta kakek pulang saja, menunggu hasil di rumah, karena hasil pemeriksaan DVI juga belum diketahui kapan selesai.

***

Niken kembali ke depan kamar jenazah, dia baru saja mengurus berbagai prosedur untuk melakukan pemeriksaan jenazah, tak lama ibu dan bulik datang, “kenapa nik, ada apa,” ibunya panik menyadari mereka berada di dekat kamar jenazah.

Niken senggukan berkata kalau endi mengalami kecelakaan, namun polisi belum bisa memastikan jenazah yang ditemukan apakah endi atau bukan, polisi perlu melakukan identifikasi.

“Loh kenapa harus bawa danar nik, bukannya dari wajahnya bisa keliatan,” ucap bu tati sambil menangis, niken memperhatikan ibunya, dia kembali menangis tersedu-sedu, ibunya bertambah bingung, doni keluar dari ruangan DVI.

“Mari mbak, silahkan masuk membawa danar,” ucap doni, niken menggendong danar mengikuti doni masuk ke rungan DVI, bu tati menangis tak menyangka dengan kejadian seperti ini, bulik merangkul bu tati mencoba menenangkan kakaknya itu.

***

Hanya beberapa menit saja bagi tim DVI mengambil sampel DNA danar, begitu pula hasil catatan perawatan gigi endi sedang disiapkan oleh dokter gigi, yang selama ini merawat gigi endi, dokter tersebut akan segera mengirimkan melalui email.

“Mbak niken dan ibu sebaiknya menunggu di rumah saja, soalnya kita gak tahu kapan pemeriksaan akan selesai, tak ada juga yang bisa kita lakukan disini, kasihan nanti dedek bayi.” ucap doni.

“Ya nik benar juga kata bapak polisi ini, sebaiknya kita menunggu di rumah, danar kan masih menyusu ama kamu,” ucap bulik.

Niken sebenarnya enggan untuk meninggalkan tempat ini, dia yakin mayat yang ada di kantong jenazah adalah endi dari barang-barang yang dikenakannya, namun niken juga harus memikirkan danar, akhirnya niken mengikuti ucapan bulik dan doni, setelah memberikan nomor hpnya pada doni, niken, ibu dan bulik meninggalkan tempat itu.

***

Setelah niken pergi, doni masuk kembali ke ruangan DVI, doni menuju meja kerja angga, doni bicara serius dengan angga, doni meminta bantuan angga untuk melakukan sesuatu, angga terlihat enggan dengan permintaan doni, namun akhirnya menganggukan kepala setelah mendengar penjelasan doni.

“Mohon bantuannya ya mas, minta tolong banget ini,” ucap doni, angga melihat ke wajah doni yang terlihat serius, “baik don, saya mengerti.” ucap angga singkat.

Doni meninggalkan ruangan DVI, dalam hatinya doni berdoa semoga bisa secepatnya diketahui hasilnya, doni kembali membayangkan wajah niken, “Kamu tidak banyak berubah nik, setelah sekian lama tak bertemu, tapi sepertinya dia tak terkejut melihatku, mungkin karena pikirannya sedang kalut dan sedih, tapi apa benar itu suami niken, kenapa kok semua jadi rumit seperti ini, apa..” suara getaran hpnya menghentikan lamunan doni.

Doni melihat siapa yang menelpon, ternyata dari kantornya, “halo ko, ada apa,” tanya dono, “siap pak, ini supir truk yang terlibat kecelakaan kemaren datang menyerahkan diri, sekarang berada di kantor sedang dimintai keterangan,” jawab sersan joko anak buah doni.

“Benarkah, baik saya segera kesana,” ucap doni, “siap pak,” balas sersan joko, doni segera berlari menuju mobilnya.

***

BERSAMBUNG
Sampel DNA Danar tdk sesuai dengan Endi...
Mungkinkah????
 
Sbo Hoki Online   Senior Bola Online
Jav Toys
9 club   Gaple Online Indonesia
9 club
Pasang iklan hanya lewat CONTACT US
Top
Semprot is now part of PAGCOR