Agen Terpercaya   Advertise
 
 
 
 
Pasang iklan, hanya lewat Contact Us.
Waspada penipuan iklan. Klik di sini untuk melihat daftar penipu.

Kemurnian Keluarga

Bimabet
Kemurnian Keluarga
Part 05 | Mendapatkan Ibu



***​


AH ******.
“Bodohnya kau Rama…” Sungutku dalam hati karena lupa untuk mematikan lampu flash handphone ketika hendak merekam persetubuhan Ayah dan Teh Ratih. Membuat kedua orang yang sedang birahi tinggi itu, seketika tersadar akan keberadaanku.

“Rama…?” Suara Ayah lantang terdengar dari belakang telingaku. Untuk sepersekian detik, aku menengok kearah lelaki kekar yang tanpa berpikir panjang, langsung menarik pinggulnya mundur. Mencabut batang penis besarnya dari liang senggama Teh Ratih.

PLOPPP
“Uhh. Masss… Pelan-pelan, Aaaahhh….” Pekik Teh Ratih yang seketika itu, merasakan kekosongan pada lubang kemaluannya, setelah Ayah menarik lepas kemaluannya dari vagina Teh Ratih.

“RAMA…” Suara lantang Ayah yang tanpa berpakaian sama sekali Ayah langsung melompat kesamping dan bergerak cepat kearahku. Ia sama sekali tak mempedulikan penis besarnya yang masih belepotan lendir kenikmatan Teh Ratih, menabrak-nabrak paha dan perutnya ketika berlari. Mungkin dipikirannya, ia harus segera menghentikan kepergianku.
“Mas… Tunggu…” Ucap Teh Ratih kebingungan.

Merasa Ayah mengejarku, otakku memerintahkan supaya aku buru-buru mempercepat langkahku. Aku harus segera meninggalkan tempat itu. Namun, sebelum tubuhku sempat merespon, tiba-tiba aku merasa ada tepukan keras di pundak kananku.

“RAMA…. Kamu mau kemana?” Hardik Ayah dengan suara beratnya, dengan tangan yang sudah mencengkram erat pundakku. Aku berusaha menepis tangan kekar itu. Namun sia-sia. Tangan Ayah seperti sudah menempel erat di tubuhku. Tak mampu kulepas, sekuat apapun tepisan tanganku.
Dan, tanpa bertanya sedikitpun, Ayah menyeretku. Membawa tubuhku kembali, ke tempat dimana ia menyetubuhi Teh Ratih di kandang kuda tadi.

Teh Ratih, yang setelah melihat kepergian Ayah, hanya duduk termenung. Bersimpuh diatas selimut yang masih terhampar di tumpukan jerami. Wanita cantik nan semok itu mematung, tak bergerak sedikitpun. Seolah memikirkan langkah yang harus ia jalani semisal perselingkuhan ini diketahui banyak orang.

“Eh Mas…? Rama…?” Kaget Teh Ratih ketika melihat kedatangan kami. Adik Ibu itu buru-buru merangkak dan menarik ujung selimut yang baru saja ia gunakan sebagai alas bersetubuh, untuk menutupi sebagian tubuh telanjanganya.
“Udah kamu disitu aja…” Ucap Ayah memerintahkan Teh Ratih yang sepertinya ingin segera beranjak dari posisinya berada. “Mas mau ngobrol sebentar dengan Rama…”

“Teehh…” Ucapku sambil menganggukkan kepala. Entah kenapa, aku bersikap seperti itu. Yang masih saja berusaha menjaga kesopanan dihadapan wanita perebut suami Ibuku.
“Ehh.. Iya…” Jawab Teh Ratih yang juga membalas, sapaan dariku.

Lucu, sekaligus merasa TOLOL.
Aku dan Teh Ratih, sama-sama merasa sungkan karena perjumpaan aneh yang tak pernah kami duga sama sekali. Semburat rona merah, seketika itupun menghiasi wajah cantik Teh Ratih. Karena wanita cantik dihadapanku itu terlihat kebingungan untuk menutupi tubuh telanjangnya, mau tak mau aku membuang muka darinya. Sekedar menghormati privasi adik kandung Ibuku.

Hanya saja, meskipun aku melengos, aku masih bisa mendapati keseksian tubuh dari wanita semok itu dari ekor mataku. Karena sedari tadi, ia terlihat bingung, celingak-celinguk mencari sesuatu.

“Mas.. Lihat kancut dan beha-ku ga, Mas…?” Tanya Teh Ratih kepada Ayah.
Ayah tak menjawab, hanya melirik kearah selingkuhannya, lalu menatap kearahku.

Mendengar kalimat lembut Teh Ratih yang menanyakan mengenai kancut dan behanya, otomatis membuatku penasaran. Mencari dimana letak dua pakaian penutup auratnya. Hahaha. Betapa bodohnya aku.

Dan makin bodohnya lagi, ketika aku merasakan, jika batang penisku perlahan ikut mengembang. Karena meskipun dalam keremangan malam, aku masih bisa ikut menikmati kemolekan tubuh adik kandung Ibu itu.

“Aduh… Dimana sih…?” Ucap Teh Ratih lagi. Karena tak mendapat respon dari Ayah, wanita cantik itu buru-buru bangkit dan mencoba mencari penutup auratnya itu sebisa mungkin. Dan karena masih telanjang bulat dan hanya bermodalkan selimut kotor sebagai penutup tubuh, gerak tubuh wanita seksi itu menjadi begitu terbatas.

Sebenarnya, aku tak menyangka, jika dibalik wajah ayu nan kalemnya, Teh Ratih memiliki asset tubuh yang begitu menawan. Matanya bulat, hidungnya mancung, dan bibir mungilnya yang selalu terlihat basah. Kulitnya putih, yang terlihat mengkilap terkena siraman cahaya lampu kuning kandang.

Meskipun hanya dari sekelebatan mata, aku bisa langsung menilai jika tubuh wanita satu itu begitu sempurna. Pundaknya sempit, sehingga membuatnya enak untuk dipeluk. Lengannya mulus dengan warna area sikut yang cerah, membuat pikiranku langsung bisa menebak, seperti apa warna bibir kemaluannya. Ketiak tanpa bulu, yang sepertinya sedap untuk dicium-cium.

Tubuhnya Teh Ratih, yang meskipun sudah memiliki 2 orang anak, juga terlihat masih menggiurkan. Meskipun tak selangsing tubuh Ibu, akan tetapi bentuk tubuhnya masih terlihat seksi. Teteknya benar-benar penuh dan bulat, menggelantung indah hingga ke arah perut. Selalu ikut bergoyang kesana kemari seiring gerak kebingungan sang pemilik, ketika mencari penutup auratnya.

Pinggangnya berisi, dengan pinggul yang terlihat meliuk. Pantatnya terlihat begitu membulat besar, khas wanita dewasa yang telah matang. Paha yang jenjang dengan betis lencir tanpa bulu, benar-benar membuat membuat sosok cantik dihadapanku itu, seolah menjadi bidadari yang tak boleh terlewatkan oleh terkaman srigala mesum seperti Ayah.

“Rama…” Hardik Ayah ketika ia mendapati tatapan mataku yang tak berkedip sama sekali kearah tubuh selingkuhannya.

Bagaimana tidak, dalam kebingungan Teh Ratih yang mencari keberadaan celana dalam dan behanya, aku bisa melihat lelehan lendir yang turun di paha dalamnya. “Apakah itu pejuh Ayah…?” Batinku menerka-nerka.

“Jaga matamu… ” Bentak Ayah mencoba memperingatkanku sambil buru-buru mengenakan pakaiannya sendiri.

Mendengar kalimat Ayah, Teh Ratih melirik kearahku. “Mas… Lihat kancut dan beha-ku nggak ya…?” Ulang Teh Ratih yang masih sibuk kesana-kemari mencari penutup auratnya.

Ayah melirik kearah Teh Ratih, dan menunjuk kesudut kandang dengan mulutnya.
“Nggak ada Mas…” Ucap adik kandung Ibu itu kebingungan, “Mas.. Bantu aku dong…” Ucap Teh Ratih yang melihat ketidak pedulian Ayah.
“Ehh.. Ini kancut kamu ada disaku celana, Mas…” Ucap Ayah tersipu malu sambil menyerahkan sepotong kain supermungil berwarna biru kepada selingkuhannya.
“Ahh. Kamu gimana sih…?” Sewot Teh Ratih yang buru-buru menyambar celana mini itu secepat mungkin dan berusaha mengenakannya.

Namun, karena kedua tangan Teh Ratih masih sibuk memegangi selimut kotor guna menutupi tubuh telanjangnya, wanita cantik itu beberapa kali kehilangan keseimbangan ketika hendak mengenakan penutup selangkangannya.

“Ihhh… Selimut sialan…” Gerutu Teh Ratih yang akhirnya membiarkan selimut itu jatuh dan segera memakai celana dalamnya. Sepertinya ia sudah bodo amat akan tatapan mataku yang tak henti-hentinya merekam ketelanjangan tubuhnya.

Lucu sekali dua orang ini. Ditengah kepanikannya, mereka seolah lupa dengan segala kemesraan yang baru saja terjadi diantara mereka berdua. Ayah cuek memakai pakaian, sementara Teh Ratih sibuk mencari sisa penutup ketelanjangan tubuhnya. Sumpah, mereka tak kompak sama sekali.

Hingga akhirnya, Teh Ratihpun mendengus kesal. Setelah beberapa saat ia berputar-putar ke seluruh penjuru kandang dan tak menemukan pakaiannya sama sekali, wanita semok itu memutuskan untuk pergi meninggalkan kami berdua, dengan hanya mengenakan celana dalam mininya.

BRAAAAKK
Pintu kandang terbanting keras.

Kemudian hening.

“Rama…” Dengus Ayah kesal sambil kembali menatapku.

Aku lupa, ternyata ditengah pertunjukan konyol nan seksi dari adik Ibuku, aku masih punya satu masalah serius yang harus kuhadapi. Masalah dari sosok kekar yang terlihat begitu murka yang masih mencoba menahan emosinya kepadaku.

Seumur hidupku, aku sama sekali tak pernah melihat, wajah Ayah yang begitu merah seperti itu. Entah, rona merah itu antara malu ataupun marah, aku tak tahu. Yang jelas, setelah selesai berpakaian, Ayah kembali mendekatiku dengan tatapan tajam yang begitu murka.

Matanya terlihat begitu berapi-api. Melotot dan memicing kearahku . Rahangnya terkatup rapat, dan tangannya mengepal dengan erat.

“ANJIMMM… Mati aku…” Ucapku spontan dalam hati ketika merasakan hawa membunuh Ayah, terpancar jelas dari dirinya.

“Duh. Gimana nih….? Aku tak mungkin lari dari sini….” Ucapku yang mencoba mencari jalan keluar dari situasi ini. Aku harus bisa bertahan diri. Mataku, dalam sepersekian detik, menyapu seluruh penjuru ruangan. Memperhitungkan segala sesuatu yang bisa kujadikan sebagai penyelamat di situasi yang genting seperti ini.

“RAMA…” Mata ayah melotot, gigi ayah ber-gemeretak-an. Suaranya menggelegar.

Buru-buru, aku mengambil kuda-kuda dan mempersiapkan seluruh kemampuan bertarungku. Yah, semisal harus berkelahi menghadapi Ayah. Aku sudah benar-benar pasrah, jika nanti aku dan Ayah beradu kanuragan. Aku tahu, semua resiko yang bakalan aku dapatkan, ketika aku harus melawan Ayah. Dan aku tahu, seberapa besar kemungkinanku untuk bisa mengalahkan dirinya.

“Aku pasti bakalan mendapat luka yang serius….” Batinku bergemuruh ketika melihat posisi Ayah yang semakin mendekat. Dan secara reflek, aku memundurkan tubuhku beberapa langkah.
“SINI KAU…!!!…” Bentak Ayah begitu lantang.

“SUWEEEEE… Mati aku… Mati aku… Mati aku…” Bingungku dalam hati ketika punggungku menyentuh dinding dii sudut kandang, dan tak bisa bergerak kemana-mana. “SIAAALL… Aku harus bisa mengalahkan Ayah… “ Sambungku lagi dalam hati. Dengan pikiran kalut yang tak pernah terbayangkan seumur hidupku.

“RAMA…” Gelegar suara Ayah sebelum menjulurkan tangan kekarnya kearah leherku.
“Aduh.. Siap-siap patah nih leher…” Panikku dalam hati berusaha menangkap tangan Ayah.

SET SET SET.
Beberapa kali, aku berusaha menepis tangan besar Ayah. Namun, karena perbedaan ketangkasan diantara kami berdua, Ayah dengan mudah berkelit dan mematahkan semua gerakan pertahananku.

SREEEEGGG.
Sia-sia, kemampuan Jawara memang beda. Terlebih tenaga Ayah juga begitu besar. Karena sekuat apapun kucoba menghalau sergapan tangannya, kerah leherku berhasil ia dapatkan.

”RAMA…” Mata Ayah melotot. Menarik kerahku dan mendekatkan kearah wajahnya. Setelah itu, ia berkata padaku, “Kamu ga akan bilang ke Ibumu khan…?” Sambungnya lagi dengan suara yang tiba-tiba melunak.

“HAAH…?”
Mendengar pertanyaan Ayah, otakku mendadak membeku.
Tak mampu mencerna kalimat yang baru saja didengar oleh telingaku.

Aku terpaku beberapa saat.

“Ke… Kenapa, Yah…?” Tanyaku dengan nada yang begitu gugup.
”Kamu… Ga bakalan bilang…Apa yang barusan kamu lihat tadi… Ke Ibu, kan…?”

Kutatap mata Ayah yang membulat besar itu. Meskipun ada emosi yang begitu meledak-ledak dihatinya, namun aku bisa melihat, jika ada sedikit rasa takut dimatanya. Bukan sedikit, aku melihat seperti ada ketakutan besar, yang tak dapat ia sembunyikan dibalik kharakter kuat dan kekarnya.

Iya, aku melihat, didalam matanya, seperti ada sosok Ibu disana.

“Apakah Ayah takut dengan Ibu….?” Heranku.

TING
Tiba-tiba, aku seperti mendapat sebuah pencerahan.

“Aku bisa menfaatkan ini….” Ucapku dalam hati begitu merasa, ada celah yang bisa kumanfaatkan untuk membalik situasi yang ini. “Ini kesempatanku. Supaya bisa membuat Ayah mengabulkan keinginan terpendamku…”

“E… Emang kenapa… Yah…?” Tanyaku belagak bego.
“Gausah banyak nanya… “ Gertak Ayah, “Bilang aja… Kamu ga bakalan bilang ke Ibu, khan…?”
“Bilang apa Yah…?”
“Gausah belagak bego deh…” Ucap Ayah makin mengeraskan cengkraman tangannya pada kerah bajuku, “Kamu tadi ngelihat kan…?”

“Oohhh… Ngelihat Ayah ama Teh Ratih…?” Ucapku dengan nada tercekat, karena cekikan kerah pada leherku, “Rama.. Uhhh.. Gabisa janji sih Yah…”
“Kamu mau mati…?” Ancam Ayah makin menarik kerahku keatas. Membuatku sedikit berjinjit karena separuh tubuhku melayang diatas tanah.

“Kalopun itu.. Yang bakalan Rama terima karena harus memberitahukan kebenaran.. Rama rela mati kok Yah… Demi Ibu… “ Ucapku sedikit sombong, memberanikan diri, “Yang jelas.. Rama tak bisa membiarkan Ibu menderita karena Ayah…”

“Belagu banget kamu jadi anak…” Kesal Ayah makin menaikkan genggaman tangannya keatas.
“Uhhh… Hhgggg… Khan Ayah sendiri yang bilang… Untuk menjaga Ibu…” Ucapku dengan nafas makin menipis.
“Apa coba hubungannya…”
“Hhhggg….. Banyak Yah…” Potongku dengan nada sedikit emosi, “Karena Ayah pergi, Ibu jadi gelisah… Karena Ayah jarang kasih kabar.. Hhhggg… Ibu jadi kebanyakan pikiran… Dan karena Ayah selingkuh dengan Teh Ratih… Hhhggg… Rama… Rama ga tau, apa yang bakalan Ibu lakukan nanti… “

“Jadi.. Kamu mau sok pahlawan buat Ibumu…?”
“Bukan Yah.. Hhhggg… Daripada aku melihat Ibu menderita seperti itu… Lebih baik bunuh Rama aja Yah…” Tantangku, “Biar Ayah dan Teh Ratih bebas selingkuh seperti tadi…”
“Aaasshhh… ANAK SIALAN…” Teriak Ayah yang kemudian menghempaskan tubuhku ketumpukan rumput di sudut kandang.

BRUUUGGGG
Aku tak menjawab.
Hanya buru-buru manghirup nafas dalam-dalam guna mengisi kekosongan paru-paruku. Sambil menggeser tubuh, aku menjauh dari Ayah, mencoba mengumpulkan staminaku secepat mungkin.

“SIAL. Ternyata, Ayah begitu kuat…” batinku sambil mencoba mengatur siasat untuk bisa memutar keadaan ini.

“Punya bukti apa kamu…? Sampai bisa menuduh Ayah selingkuh dengan Teh Ratih…?” Ucap Ayah sambil berkacak pinggang.

“Meskipun kata Ayah Rama bukan anak pintar, tapi Rama juga nggak bego-bego amat Yah… “ Jelasku dengan nafas masih setengah-setengah, ”Udah jelas-jelas Ayah tadi Ayah bermesraan bersama Teh Ratih atas diselimut itu…”
“Ayah mendesah…”
“Teh ratih melenguh…”
“Dan berkali-kali loh… Rama melihat…”
“KONTOL BESAR AYAH… Bergerak keluar masuk dengan cepat… “
“Di LIANG PERANAKAN Teh Ratih.. “

“AAARRRGGHHH… CUKUUUUPPP….“ Teriak Ayah menendang tumpukan jerami disekitaran kakinya.
“Emang kalo seperti tadi itu… Bukan selingkuh ya namanya…?” Tanyaku mencoba makin membuat kacau emosi Ayah.
“Itu namanya selingkuh, Yahhh…” Ucapku lagi, “Ayah udah ngentot…”
“CUKUPPPP…”
“AYAH… UDAH NGENTOTIN MEMEK ADIK KANDUNG IBU…”

DUUUUGGGG

Tiba-tiba, suasana disekitarku mendadak menjadi gelap gulita.
Hanya ada titik-titik putih, yang beterbangan, dipandangan mataku.
Lalu, semuanya hening.

***​

Ketika ku membuka mata, kucium aroma wangi yang menggelitik hidung.
“Nih Makan…” Ucap Ayah dengan nada tak lagi marah.

Perlahan, kucoba membuka mata. Terang sekali. Alisku bertaut erat, seolah berusaha beradaptasi dengan suasana aneh yang baru saja kurasakan. Bibir dan rahangku terasa begitu ngilu. Lalu tercium aroma anyir yang sangat kukenal.
BUSYET
Aku merasakan darah didalam mulutku.
“ARRGGGHH…” Erangku ketika merasakan ngilu tubuh yang sering kurasakan dulu, kembali terasa.

Rupanya, barusan aku pingsan. Ayah dengan emosinya yang tak sanggup ia bendung lagi, tiba-tiba menghajarku. Satu tonjokan supercepat, mendarat tepat diwajah. Dan membuatku seketika tak sadarkan diri. Namun, beruntungnya Ayah tak membuat diriku cedera, karena hidung ataupun gigiku tak ada patah.

“Buruan makan… nanti keburu dingin…” Ulang Ayah sok cuek namun masih tetap peduli. Didepanku, tersaji dua piring bakmi goreng, satu ember ayam kulit, satu piring lalapan, semangkuk sup, lima gelas teh hangat dan tiga minuman soda. Dan tanpa menunggu lama, aku segera melahap habis semua makanan yang disajikan dihadapanku. Aku baru sadar, jika sejak berangkat dari rumah, perutku masih belum terisi apa-apa. Pantas saja, aku dengan mudah dikalahkan oleh Ayah.

“Kamu tuh ya… Sotoy amat jadi anak…” Ucap Ayah sambil mengunyah makanan dimulutnya.
“Bodo…” Jawabku acuh.

“Bisa-bisanya kamu nyusul Ayah kesini…”
“Abisan Rama kasihan ama Ibu…”
“Kasihan…?”
“Iya… Ibu kepikiran Ayah terus…” Jelasku, “Dan Ibu punya firasat yang ga bener mengenai Ayah…”

“Ahhh… Dasar Riani…”
“Dan bener khan… Ayah ternyata sedang ngelakuin hal yang ga bener…”
“Sok tahu…”
“Yaaaahh.. Kalo ngentotin adik ipar Ayah bilang bener, berarti kita beda perguruan” Sindirku terang-terangan.

Ayah menghentikan kunyahan mulutnya. Lalu menatapku dalam-dalam.
Sekilas, aku tak lagi merasakan aura emosi dalam tatapannya. Lelaki kekar itu hanya menap kearahku sambil berpikir keras.

“Emangnya, Ayah cinta dengan Teh Ratih…?” Tanyaku berusaha mengalihkan topik pembicaraan
“Hmmm…. Belajar jadi wartawan lagi…?” Sindir Ayah yang kemudian kembali mengunyah makanan di mulutnya, “Sepertinya, Ayah ga perlu menjawab pertanyaan itu deh… Ga relevan…”

“Oke Oke… Rama coba ganti pertanyaannya…” Ucapku yang kali ini mulai mencoba bermain kata. “Apa yang bakalan Ayah rasakan… Jika ternyata… Ibu juga ada main seperti yang baru saja Ayah lalukan… Dengan lelaki lain..?”
“Maksudnya…?”
“Iya… Ketika Ibu mulai disukai oleh lelaki lain.. Apa yang Ayah bakal lakukan…?”
“Cuman disukai…?” Tanya Ayah balik, “Ga masalah… Ibumu tuh memang kembang desa… Banyak lelaki kok yang jatuh cinta dengannya…”
“Ayah tahu itu…?”
“Tahu bangetlah…”

“Tapi… Semisal Ibu yang suka lelaki lain…?”
“Itu juga ga masalah… Toh ujung-ujungnya Ibu masih jadi istri Ayah…”
“Oke… Kalo gitu… Semisal Ibu mulai melangkah lebih jauh…? Apa Ayah akan melarang…?”
“Melangkah lebih jauh...? Maksud kamu selingkuh…?”

“Iya, kalo misal Ibu mulai selingkuh gimana…?”
“Ga mungkin… Ibumu… Bukan wanita seperti itu…”
“Yaaaahh.. Ini khan hanya misal… Toh Ayah nggak pernah tahu khan… Apa yang bakalan terjadi keesokan harinya…” Tanyaku mulai menyinggung kearah yang tabu, “Semisal Ibu dengan sukarela menerima kontol lelaki lain mengaduk-aduk memek sempitnya…
“Akan Ayah bunuh mereka berdua tanpa ampun…” Jawab Ayah tanpa berpikir, “Eehh…? Kenapa kamu bertanya seperti itu…?” Emangnya Ibumu selingkuh…?”

“Ya nggak-lah.. Ini khan hanya misal… “ Sahutku spontan, “ Lagian, Ibu khan nggak sebejat Ayah…”
“Ayah bejat…?” Jaga kalimatmu, Le…” Sewot Ayah.
“Kalo selingkuh dengan Ipar bukan disebut bejat… Lalu apa sebutannya…?”

Ayah tak menjawab. Ia hanya mengunyah dalam diam.

“Ibu wanita terhormat, Yah…” Ucapku pelan.
“Tahu apa kamu dengan wanita terhormat? Asal kamu tahu, ya… Ibumu tak sesuci itu, Le…”

“Hah? Maksud Ayah…?” Kagetku berusaha mencerna lagi kalimat Ayah, “Emangnya Ibu pernah berbuat hal seperti yang Ayah lakukan barusan…?”
“Lupakan… Ntar juga kamu tahu…”
“Lalu, apa maksud dari kalimat Ayah tadi..?”
“Ayah bilang LUPAKAN…” Bentak Ayah yang kemudian, menenggak segelas teh hangat yang ada didekatnya hingga habis.

“Jadi…? Kamu nggak bakalan bilang khan? Ke Ibu atau Mang Darto…?” Ulang Ayah untuk kesekian kalinya padaku. Memastikan supaya aku benar-benar tak membocorkan aib Ayah barusan ke Ibu atau suami Teh Ratih.
“Hmmm… Kalo Ayah ingin Rama tutup mulut… Okelah… “
“Anak Bagus…” Ucap Ayah lega.

“Hanya saja… Rama punya sedikit syarat buat Ayah…” Balasku sambil tersenyum
“Hah..? Syarat..?”
“Iya… Syaratnya gampang kok… Rama cuman minta sedikit kebebasan… Ketika bersama Ibu…”
“Kebebasan seperti apa…?”
“Apa saja…”

“Memangnya kamu mau ngapain?” Tanya Ayah sambil mengerutkan alis.
“Entahlah. Rama belum kepikiran… “ Jawabku, “Mungkin, Rama juga mau ngelakuin hal yang seperti Ayah dan Teh Ratih barusan…”

“Hah…? Kamu pengen ngentotin Ibumu…?” Sahut Ayah.

YESSSS.
“Kalimat itu muncul lagi dari mulut Ayah…” Girangku dalam hati.

“Entahlah…” Jawabku sedikit menahan rasa girang didada sambil menaikkan kedua pundakku bersama-sama.

Ayah terdiam sebentar. “Tapi khan… Dia Ibumu…”
“Apa bedanya dengan Ayah…? Teh Ratih khan juga adik Ibu, Ipar Ayah… Toh Ayah embat juga…” Balasku sedikit menyindir, “Emang memek Ibu udah nggak enak lagi, Yah..?”

“Diam. Jaga mulutmu!!” Bentak Ayah.
“Memek Teh Ratih lebih ngejepit dari memek Ibu ya, Yah?”
“Ayah bilang DIAM!” Sahut Ayah lagi.

Sejenak, Ayah gelisah. Ia duduk termenung sambil mengusap-usap janggutnya yang tebal. Setelah itu, ia bangun dan berdiri. Kemudian berjalan mondar-mandir mengelilingiku. Sepertinya Ayah berpikir keras. sekaligus bertanya-tanya dalam hatinya, mengenai apa yang akan kulakukan bersama Istrinya.

“Tapi…? Kalo Ibumu nggak mau, gimana…?” Bingung Ayah.
“Gausah Ayah pikirin hal itu, Yah… Ibu mau atau engga, itu urusan Rama…”
“Kamu mau memaksa Ibumu ya..?”
“Enak aja… Enggaklah…” Jawabku tak terima, “Rama lelaki gentlement Yah…”

“Pasti kamu pake obat tidur atau obat perangsang…?”
”Udahlah, Yah… Rama bukan lelaki licik yang pake hal-hal seperti itu… “ Sindirku, “Tenang aja.. Rama ga bakalan macem-macem kok, Yah… Yang Rama butuhin… Cuman ijin dari Ayah.. Udah, itu aja…”
“Kaya Ibumu bakal mau aja…”

“Hehehe… Maka dari itu, Yah… Kalo Ayah yakin Rama nggak bisa dapatkan Ibu, berarti apa yang perlu Ayah khawatirin..?” Sindirku, “Aku cuman minta ijin, untuk bisa…”
“Nggak…. Ayah ga bakalan ijinin…” Potong Ayah.

“Ayah ga boleh berlaku seperti itu dong, Yah…” Lagi-lagi aku mencoba bermain psikologis, “Itu namanya nggak Adil. Ayah disini senang-senang… Ibu dirumah, sedih, gelisah, dan tak bisa tidur dengan tenang…

Disini kontol Ayah enak-enakan ngentotin memek Teh Ratih…
Disana Ibu stress, tenggelam dalam pemikirannya…

Rama ga ngelarang Ayah kok, sama sekali ga ada tujuan kesana. Lagipula, itu bukan hak Rama buat ngatur apa yang boleh atau tidak. Semua terserah Ayah. Ayah bebas, mau ngentotin Teh Ratih, atau wanita lainnya. Yang jelas, kalo Ayah pengen Rama tutup mulut mengenai kebejatan yang Ayah lakukan tadi, maka Ayah HARUS ijinin Rama untuk bisa dekat dengan Ibu…

Ayah senang, Rama juga senang. Dan semoga saja Ibu, bisa ikutan tenang karenanya… “

“BANGSAT… Kamu memang ANAK ANJIM…!!”
”Kalo Rama anak anjim… Berarti Ayah anjimnya siapa dong…?”
“BANGSAT kamu ya…”
“Hehehe… Sepertinya, Rama memang bener-bener anak kandung Ayah ya… Karena buah jatuh, tak jauh dari pohonnya …”

“Awas aja ya… Kamu bakalan Ayah cincang kalo ini semua bocor ketahuan Ibumu…”
“Percaya sama Rama. Yah… Kita bisa kok.. Sama-sama pengen nyenengin Ibu… Istri Ayah..“ Jelasku sambil tersenyum lebar, “Sekarang, Ayah bisa tenang…. BEBAS… Kalo mau main dengan siapa aja…”
“Okelah kalo begitu…” Ucap Ayah dengan nada yang berat.

“Jadi, Rama dapet ijin ya dari Ayah…?” Ucapku sambil menjulurkan tangan kearah Ayah
“Terserah…” Jawab Ayah menyambut tanganku dengan satu tamparan kencang di telapak tanganku.

PLAAAAK
Suaranya nyaring sekali.
Saking nyaringnya, aku merasakan telapak tanganku berdenyut panas karenanya.

Setelah itu, Ayah berjalan menjauh. Meninggalkanku dibelakangnya.
“Jadi Oke ya-Yah… Ayah bolehin Rama deketin Ibu, dengan segala kemungkinan yang terjadi..”
“Soklah…” Jawab Ayah sambil terus melangkah pergi.
“Meskipun nanti, Ibu bakalan Rama ENTOTIN…”
“Lu atur-atur ajalah…” Teriak Ayah semakin jauh. Hingga akhirnya tak terlihat lagi dari pintu kandang.

***​

Dalam perjalanan pulang kerumah, terasa begitu cepat. Motor yang ku tunggangi juga serasa terbang. Dan setelah kuperhatikan, 9 jam waktu perjalanan berangkat, menjadi terpangkas hampir separuhnya. Karena hanya dalam waktu 5 jam perjalanan, aku sudah hampir sampai dirumah.

“Kamu mau ngentotin Ibumu…?” Lagi-lagi, aku membayangkan kalimat Ayah tadi.
“Iya… Rama pengen ngentotin Ibu…” Jawabku dalam hati dengan senyum mengembang lebar. Aku tak pernah mengira sama sekali, bisa membuat Ayah setuju dengan keinginanku tadi. Bahkan, aku yang semula mengira bakalan mati ditangan Ayah, bisa mendapat ijin ‘sakral’ seperti itu darinya.

“Kamu mau ngentotin Ibumu…?”
“Iya, Yah. Rama pengen ngentotin Ibu…”
“RAMA PENGEN NGENTOTIN IBUUUU….” Teriakku kencang sambil memutar habis talli gas motorku

- - - - - - -​

Beberapa saat sebelum tiba dirumah, aku sengaja mampir ke mall terdekat. Menggunakan sedikit uang dari bekal Ayah sebelum berangkat lomba kemarin, untuk membelikan Ibu beberapa set pakaian. Aku ingin sedikit merubah penampilan Ibu, dengan meniru pakaian yang ada di majalah pria dewasa. Dress mini, baju tidur berbahan satin, lingerie warna-warni, beha super mungil, dan G-string yang benar-benar seksi.

Aku pasti bisa mendapatkanmu, Bu.
Rama pasti bisa mengambil hatimu…

- - - - - - -

“Buu.. Aku pulang…” Sapaku begitu tiba dirumah
“Ibu didapur, Nak…” Balas Ibu

Saat Ibu melihatku tiba dirumah, ia sepertinya kaget dengan banyaknya tas belanja yang aku bawa pulang. Terlebih ketika Ibu membuka isi tas belanja yang kuberikan padanya, ada sedikit tanda tanya dan penolakan yang terlihat langsung darinya.

Namun, bukan Rama namanya jika aku tak sanggup membuat pikiran Ibu terbuka. Karena, dengan kuatnya konsistensi dan segala kemampuan bicaraku, aku yakin bisa membuat Ibu menerima pemberianku. Bahkan jika ditambah dengan segala bujuk manis dan rayuan mulutku, aku yakin bisa membuat Ibu berubah untuk mengikuti segala kemaianku

Pelan tapi pasti, aku mulai mengakrabkan diri ke Ibu. Menemani segala waktu luangku bersama Ibu. Bahkan, ketika Ayah sedang ada dirumah, Ibu lebih sering memilih berkomunikasi kepadaku ketimbang suaminya. Dan seiring perjalan waktu, Ibu pun mulai lengket padaku.

Aku juga sering mengajaknya jalan berdua. Entah hanya belanja mingguan di supermarket, makan bersama di cafe pinggir jalan, nonton bioskop, ataupun sekedar ngemil-ngemil ke mall. Yang jelas, hampir sepanjang waktu, aku terus bersama Ibu.

Selain ituperlahan-lahan, aku juga mulai mengenalkan Ibu, dengan cara ‘pamer kemesraan’ di khalayak umum. Saling pegangan tangan, saling peluk, saling rangkul, hingga saling cium. Intinya, aku benar-benar pengen supaya Ibu tak memiliki jarak sedikitpun denganku.

- - - - - - -​

“Yuk naik, Bu…” Ucapku setelah membuka pijakan kaki kanan dan kiri motorku. Mempersilahkan wanita seksi yang ada disampingku untuk naik.
“Tahan sebentar ya…” Ucap Ibu berpegangan di pundakku. Lalu ia mengangkat satu kaki ke sisi kananku, lalu menghempaskan pantat bulatnya di jok motor yang kukendarai.

“Mau kemana kita pagi ini…?” Tanyaku menepuk kedua lutut putih Ibu dengan kedua tanganku.
“Bebas…” Jawab Ibu yang kemudian memeluk pinggangku erat-erat. Membuat kedua payudara bulatnya yang begitu lembut, menempel rapat di punggungku
“Mumpung masih pagi… Kita ke turnamen balap kuda yuk, Bu…” Ucapku memberi ide sambil mengusap paha mulusnya.
“Turnament balap kuda..?” Ucap Ibu cuek karena usapan tanganku di pahanya.
“Iya… Nonton pertandingan Ayah…”
“Tumben…?” Jawab heran.


“Ya kita khan udah jarang banget maen kesana…” Jelasku sedikit beralasan, “Dan juga, disana ada bubur ayam yang enak buat sarapan…”
“Hmmm.. Gitu ya…?”
“Dan juga, sesekali lah kita kasih Ayah sedikit surprise…” Sambungku sambil meraih tangan Ibu, dan menyabukkannya di pinggang.
“Ohhh. Okelah kalo gitu…”

Sebenernya, nonton pertandingan balap kuda hanyalah alasanku semata. Karena tujuanku kesana, adalah ingin menunjukkan ke Ayah, mengenai hubungan kedekatanku bersama Ibu. Disana, aku juga ingin memamerkan keberhasilanku merubah Ibu, dari wanita pengurus rumah tangga, menjadi wanita yang bisa menuruti semua permintaanku.

Selain itu, aku ingin sekali lagi meminta ijin kepada Ayah, supaya aku bisa memiliki Ibu, seutuhnya.

GILA.
Ideku benar-benar GILA.

Aku menjadi benar-benar ingin mendapatkan Ibu.
Aku begitu terobsesi terhadap Ibu.
Dan aku menjadi seorang yang sangat tergila-gila terhadap Ibu

“Uhhh. Ibu…” Desahku dalam hati sambil membayangkan Ibu yang menuruti segala kemauanku. Terlebih ketika melihat senyum lebarnya yang tak henti-hentinya terekam dimataku, membuat batang penisku menggeliat.

Sejenak, aku ingin Ayah menyesal telah memberiku ijin mendekati Ibu.
Karena itu artinya, aku mendapatkan Ibu.

Dan ketika aku udah mendapatkan Ibu, itu artinya, aku bisa NGENTOTIN Ibu.

Sepuas-puasnya


Bersambung,
By Tolrat

***​
 
Jav Toys
Gaple Online Indonesia
Pasang iklan hanya lewat CONTACT US
Back
Top
We are now part of LS Media Ltd