9Club Situs Judi Online Terpercaya
Asus Togel online   Mandala Toto
RGO Online
Pasang iklan, hanya lewat Contact Us.
Waspada penipuan iklan. Klik di sini untuk melihat daftar penipu.

CERBUNG SDS - Syahwat di Sekolah (No SARA)

Greenie2

Semprot Kecil
Thread Starter
Daftar
31 Jul 2020
Post
53
Like diterima
1.637
Apa kabar suhu-suhu sekalian. Kali ini ane kembali melanjutkan cerita ane sebelumnya yaitu "MI ASY SYAHWATI" yang sudah ane edit agar bisa diterima oleh penghuni forum ini khususnya penikmat Cerita Bersambung. Selamat membaca 😁

JANGAN LUPA LIKE NYA YA HUU!! :Peace:

Untuk reader cerita saya yang dulu, ada lebih baiknya membaca cerita ini dari ulang karena selain untuk mengingat cerita yang sudah lupa, juga karena ada beberapa cerita yang dirubah demi menyesuaikan alur cerita dan untuk menghindari SARA.

Ada juga perubahan ilustrasi beberapa karakter.


Magdalena (Lena, 34)
Guru Kelas 3, ibu dua anak yang memiliki suami pengusaha kaya raya.

Siti Farhah (Farhah, 23)
Guru Kelas 4, wanita alim yang merupakan guru baru menggantikan Bu Nisa yang sekarang menjadi Guru Kelas 6.

Mutiah Huzaimah (Muti, 23)
Guru Kelas 5B, yang selalu ceria dan suka bercanda.

Annisa Putri (Nisa, 32)
Guru Kelas 6, sudah menikah lama namun belum memiliki momongan.

Putri Rahmadini (Putri, 25)
Guru Agama, anak dari Pak Bashir (Guru Agama juga di SDS), menjadi guru ngaji di rumahnya dan sedang dekat dengan Pak Rizki.

Sinta Dewi Kartika (Sinta, 25)
Karyawan TU, selalu dimanfaatkan oleh Pak Hendra sebelum kehadiran Jaka.

 
Terakhir diubah:

Greenie2

Semprot Kecil
Thread Starter
Daftar
31 Jul 2020
Post
53
Like diterima
1.637
Part 1

"Assalamualaikum, Pak. Ada tamu."

"Lah. Suruh masuk toh, Bu."

__-__

"Assalamualaikum, Pak."

"Waalaikum salam. Jadi ini toh yang dibilang Pak Hendra ada yang mau magang."

"Pak Hendra itu siapa ya, Pak?"

"Itu, Tata Usaha."

"Bukannya TU nya itu Bu Sinta, Pak."

"Yo sama saja, TU nya kan ada dua. Jadi nama kamu siapa?"

"Saya Jaka, pak."

"Oalah, saya Bapak Sulaiman, Kepala Sekolahnya. Panggil saya Pak Sulai saja, asal jangan Sule. Kalo panggil Sule tak jewwer kupinge."

"Ii, iyaa, Pak."

Hari ini, gw datang ke sekolah yang akhirnya menerima lamaran kerja Gw. Setelah mencari ke beberapa sekolah SD sederajat di sekitar rumah gw, akhirnya gw dapet juga, walaupun akhirnya dapet yang lumayan jauh.

Btw, Gw baru lulus kuliah beberapa bulan lalu, setelah sedari sekolah bercita-cita menjadi guru akhirnya Gw mengambil jurusan PGSD karena gw tergolong orang yang mudah akrab dengan anak kecil.

"Jadi, kamu tau sekolah ini darimana, Jak?" tanya Pak Sulaiman.

"Dari Bu Sinta pak, dia teman pengajian saya."

"Oh, gitu. Jadi udah kenal?"

"Belum pak, saya cuma kenal nama. Jadi waktu itu saya nanya ke guru saya, dan dia bilang ke saya kalo Bu Sinta kerja disini, jadi saya disuruh tanya ke Bu Sinta."

"Bu Sinta masih single loh, Jak."

"Terus kenapa ya pak? Hehehe" tanya Gw heran mendengar info dari Pak Sulai.

"Kamu kalo mau deketin, deketin aja. Asal jangan pacaran disini. Enggak bagus kalo diliat anak-anak."

"Hahahaha. Saya enggak mikir ke situ pak. Saya mah kerja aja dulu yang bener, kalo rejekinya udah bagus kan gampang nyarinya."

"Iya iya. Bener kamu, Jak. Nih, saya langsung aja ya kasih tau tugas-tugas kamu disini."

"Iya, Pak. Bagaimana?" tanya Gw sambil mengeluarkan sebuah buku catatan dan sebuah pulpen.

"Jadi, dua bulan yang lalu guru kelas 6 resign dari sini. Katanya ada masalah ekonomi. Akhirnya, guru kelas 4 yaitu Bu Nisa yang menggantikan. Dan karena kosong, kelas 4 kami carikan guru pengganti, dan sebulan yang lalu Bu Farhah masuk menggantikan Bu Nisa menggajar di kelas 4. Jadi tugas kamu adalah ... "

Gw mendengarkan dengan seksama dan bersiap untuk menulis.

" ... Kamu membantu Bu Farhah, karena dia kan guru baru. Walaupun sama-sama baru, seenggaknya kamu harus membantunya karena juga dia lagi belajar sama guru-guru yang lain. Terus, ini yang utama nih. Kamu bantu Bu Nisa di kelas 6, karena kan sebulan lagi sudah akan USMBN, kelas 6 lagi sibuk-sibuknya nih. Kamu bantu back up yah, segala sesuatu yang dikerjakan Bu Nisa kamu bantu, jadi kan kerjanya berdua, enggak kerasa capeknya."

"Siap pak. Sudah saya catat dan akan saya kerjakan."

"Yasudah, kamu temui Bu Nisa di kelas 6 sana, kalau enggak ada mungkin lagi di ruang guru."

"Baik pak, saya permisi." Gw bangkit dari sofa dan meninggalkan ruang kepala sekolah.

_____-----_____

Sebelumnya, izinkan gw untuk menggambarkan sekolah ini. Jadi, sekolah ini adanya di perkampungan penduduk, lumayan padat tapi tidak kumuh. Dan juga sedikit jauh dari jalan alternatif jadi lumayan sulit ditemukan. Gedung ini mempunyai dua lantai. Lantai pertama ada Ruang Kelas 1, 2A dan B serta Kelas 3 berjejer. Dan dipojoknya adalah WC Siswa Laki-laki, Perempuan dan WC Guru, lalu ada jalan kecil untuk masuk ke Kamar Petugas Kebersihan. Ada juga Lapangan untuk Upacara dan Olahraga, tapi bedanya adalah lapangannya tidak tembus ke langit, karena dibagian atasnya terdapat Lantai 2, maklum keterbatasan lahan. Dan juga ada Kantin diseberang WC. Di depan pintu masuk kantin terdapat tangga untuk menuju lantai dua.

Nah, di Lantai Dua ini yang paling enak menurut Gw. Enggak tau kenapa, mungkin karena ada Pantry nya dan di pojok ada tempat guru laki-laki untuk ngerokok. Jadi gini, setelah kita naik tangga ke lantai dua, di depan kita langsung terdapat Ruang Kelas 4, 5 A dan B serta Kelas 6 berjejer ke arah kanan. Di sebelah kiri kelas 4 itu ada Pantry seperti yang gw bilang tadi. Isinya, ya alat-alat dapur untuk guru dll ngeteh atau ngopi sekedar untuk bersantai. Nah, kalo kita masuk ke Pantry, disana ada pintu 2 yang bisa ditutup setengah badan. Disana tempat terbuka untuk guru merokok, jadi bisa ngerokok tanpa ketahuan murid. Didepan pantry ada Ruang Guru dan Tata Usaha, disela oleh Tangga, lalu Ruang Kepsek. Disamping Ruang Kepsek ada Aula yang juga dipakai sebagai Musholla untuk anak-anak melaksanakan Sholat Dzuhur berjamaah. Dan dipojok ujung lorong terdapat gudang. Begitu lah tadi sedikit room tour yang diberikan Bu Sinta sambil kami berjalan menuju Ruang Kepala Sekolah.

_____-----_____

*tok tok tok

"Assalamualaikum." Gw ketuk pintu kelas 6 untuk menemui Bu Nisa.

Tidak ada jawaban, gw memberanikan diri untuk melongok sedikit ke dalam kelas. Ya, itu ada Bu Nisa yang sedang sibuk fokus di depan laptopnya. Sebagai penggambaran, dia nampak seperti mamah-mamah muda dengan seragam guru yang nampak pas dengan dia. Sedikit lipatan pinggang terlihat, wajar sajalah bila sedikit gemuk. Tapi itu tidak menutup kecantikan wajahnya yang terlihat seperti muka orang arab itu. Dan toket, besar mengguntai. Gw yakin kalo dipegang pasti empuk kayak Squisy.

*Tok tok tok

"Assalamualaikum, Bu Nisa?"

"Eh, iyaa. Masuk." Bu Nisa nampak kaget karena konsentrasinya dipecahkan oleh pemuda yang akan membantu menyelesaikan pekerjaannya itu.



"Ini bu, saya ... "

"Jaka kan?" Dengan cepat Bu Nisa melanjutkan kalimat yang akan Gw ucapkan.

"Jadi, kamu disuruh Pak Sulai bantuin saya kan yah?" lanjutnya.

"Iya bu. Jadi, bantuin apa yah??"

"Saya sih enggak tau mau nyuruh kamu apa. Cuman ini, saya bingung nih." kata Bu Nisa sambil menggeser laptopnya agar Gw bisa melihat apa yang dia sedang kerjakan.

"Ada apa bu?"

"Saya kan disuruh masukin nilai anak kelas 6 dari mereka masih kelas 4. Dan kemarin saya udah minta Pak Hendra masukin data identitas anak-anak, tapi pas saya buka, entah kepencet apa jadi rusak semua rumusnya. Terus kan saya minta backupnya ke Pak Hendra, tapi dia bilang enggak nyimpen, soalnya disimpen langsung ke flashdisk saya. Terus saya minta tolong masukin lagi dianya kayak begitu, enggak mau gitu. Akhirnya ini saya kerjain sendiri manual semuanya." Bu Nisa menceritakan detail alasan mengapa ia tadi sangat fokus ke layar laptopnya.

"Ohh, kalo ini mah bu saya bisa."

"Ehh, bener kamu bisa??!!" tanya Bu Nisa dengan nada penuh harap.

"Iya bu, tapi kita mesti masukin rumusnya ke tiap-tiap cell ke tiap-tiap sheet."

"Yaudah ayo kita kerjain."

Saat itu, hampir semua anak-anak sudah meninggalkan sekolah. Tetapi beberapa guru masih ada yang mengerjakan pekerjaan di sekolah. Gw dan Bu Nisa sedang duduk berdua di kelas 6 mengerjakan pekerjaannya yang dia sebut-sebut sebagai aplikasi penilaian itu. Dan sambil mengerjakan, kami pun terlibat obrolan untuk saling mengenal satu sama lain.

"Itu, Jaka. Kelewat satu."

"Oh iya bu, yang ini ya?"

"Iya tuh. Kamu bisa komputer, Jak?"

"Lumayan bu, basic mah bisa. Asal jangan mentang-mentang bisa sedikit dikira bisa semua ajah. Hahaha."

"Ya seenggaknya bisa gitu. Kamu kuliah kan, Jak?"

"Iya bu, baru lulus bulan lalu."

"Ohh, bagus bagus. Akhirnya ada lagi generasi muda yang mengajar disini"

" .... " Gw tetap mengerjakan aplikasi itu, karena bingung mau jawab apa.

"Rumah kamu dimana, Jak?"

"Enggak jauh setelah mall situ, Bu. Ibu tau ga?"

"Oalah, deket rumah Bu Farhah itu. Kesanaan dikit itu rumah saya."

"Bu Farhah guru baru ya, Bu? Yang gantiin ibu di kelas 4?"

"Iya. Dia bagus tuh kerjanya, semua guru gantian diminta ajarin segala macamnya biar dia cepet ngerti. Dia juga suka bawain guru-guru kue buat sarapan, bikinan ibu nya katanya."

"Tapi saya belum ketemu dia bu tadi."

"Nanti aja kalo kamu mau pulang juga palingan dia lagi di Ruang Guru."

"Tiap hari sore terus tuh bu pulangnya?"

"Iya tuh anak. Salut saya sama dia. Nanti deh saya kenalin sama dia. Cantik loh anaknya, kalem enggak ganjen kayak Muti."

"Muti siapa, Bu?"

"Itu, guru kelas 5B."

"Saya belum kenal, Bu. Hehehe."

"Jadi, yang udah kamu kenal disini siapa aja?"

"Bu Sinta, Pak Sulai sama ibu."

"Tapi tadi papasan sama yang lain gak?"

"Kayaknya sih, tapi enggak tau itu guru atau bukan."

"Yaudah, nanti saya kenalin deh."

Segala rumus yang rusak di Aplikasi Penilaiannya sudah Gw perbaiki. Akhirnya, kelar juga. Gw kira bakalan lama, ehh enggak taunya sebentar. Di samping Gw Bu Nisa sedang mengabari suaminya.

"Bu ... "

"Kenapa, Jak." tanya Bu Nisa karena tadi dia sedang mengabari suaminya bahwa dia akan pulang agak sore untuk menyelesaikan pekerjaannya. Jadi dia meminta untuk menjemput sekitar jam 5 nanti. Begitulah kira-kira isi chat yang tadi Gw intip.

"Ini udah rapih." kata Gw sambil menggeser laptopnya agar ia bisa melihat hasil pekerjaan Gw.

"Ehh, iya. Makasih ya, Jak." kata dia tersenyum menatap laptopnya.

"Kan udah jadi tugas saya bu bantuin ibu sama Bu Farhah."

"Ehh, iya. Yuk ke Ruang Guru. Biar saya kenalin kamu ke guru-guru yang lain."

Bu Nisa mematikan laptopnya, Gw pun membantu mencabut charger laptop dan membantu menggulung kabelnya. Lampu, AC, Bu Nisa matikan. Sudah menjadi kewajiban untuk para guru melakukan hal itu bila meninggalkan ruangan.

Dari belakang, Gw bisa melihat bentuk pantatnya Bu Nisa yang aduhaii. Sebenernya badannya tuh biasa aja, enggak gendut, enggak langsing juga. Cuma agak berisi. Montok, cuma enggak ditonjolin kemontokannya. Tapi sampe sini gw enggak ada niat apa-apa sama Bu Nisa, orangnya baik kok. Asik dahh lebih tepatnya.

"Assalamualaikum." ucap Bu Nisa memasuki Ruang Guru.

"Waalaikumussalam."

"Nih, Jak."

"Waalaikumussssss salaaamm." terdengar suara jawaban salam. Beda, ini beda dengan yang tadi. Tadi terdengar sangat lemah lembut, yang ini terdengar sangat ceria.

"Mut, jaga sikap ih ada perjaka nih."

"Ehh, ... " ketika aku masuk, Gw melihat ada dua perempuan. Yang satu sedang duduk menghadap laptopnya, dan yang satu lagi membalikkan badannya ke arah kaca dan membenarkan jilbabnya.

"Assalamualaikum, akhi." sapa wanita yang menyisipkan jilbabnya menutupi hidung dan mulutnya agar menjadi seperti cadar sambil melakukan salam jarak jauh 🙏 yang Gw yakini ia adalah Muti. Dan satu lagi, yang sedang fokus didepan laptopnya Gw yakin adalah Farhah.

"Hahahaha. Tuh, bener kan. Muti tuh yang anaknya genit. Kalo ini Farhah, kalem kan."

"Ya setiap orang kan beda-beda, Bu. Jangan dibanding-bandingin gitu juga. He-he-he." jawab gw sekenanya.

"Subhanallah, akhi. Kamu baik sekali belain aku." kata Muti dengan senyum rayunya. Farhah juga ku liat dia tersenyum ke Gw.

"Hahaha, bukan apa-apa kok."

"Muti, Farhah, ini kenalin guru bantu kita, Pak Jaka. Baru masuk sehari udah saya repotin tadi. Hahahaha." kata Bu Nisa memperkenalkan Gw ke Muti dan Farhah.

"Jaka udah ada yang punya beluuum?" tanya Muti sekenanya.



"Ehh,, hahh??,, Belumm, heheh."

"Tuh Bu Farhah juga belum. Siapa tau kalian jodoh." oceh Muti sesukanya. Emang nih guru satu ember banget mulutnya. Belum pernah diyasinin kali nih yaa.

"Wusss, Muti. Orang baru banget kenalan udah digituin aja. Malu atuh Jakanya." kata Bu Nisa menegur Muti.

"Lah, gapapa toh, Bu. Siapa tau mereka jodoh. Lagipula Bu Farhah juga enggak keberatan tuh digodain. Hahahaha."

"Hehh, kenapa?? Aku lagi fokus nih, maaf enggak nyimak obrolan kalian." ucap Farhah yang mulai bergabung dalam room chat nyata kami.



"Katanya Jaka suka sama kamu tuh, Far." ucap Muti.

"HAHH??!!" Jaka dan Farhah kaget bersamaan.

"Muti!! Kamu kok orang baru sehari disini udah diisengin ajaaaa." kata Bu Nisa.

"HAHAHAHAHA." tawa Muti.

"Ohh, jadi ini Pak Jaka ya??" tanya Farhah.

"Iya, Bu. Saya jadi guru bantu disini. Tadi siang ditugasi sama Pak Sulai untuk membantu tugas-tugas Bu Nisa sama ... "

" ... sama kamu, Far." kata Bu Nisa melanjutkan.

"Ohh, iya. Tadi aku dibilangin sama Pak Sulai kalo aku bakal dibantu sama guru baru. Jadi tolong yah, soalnya aku harus mengejar ketertinggalan aku disini." ucap Farhah.

"Iya bu, akan saya bantu." jawab Gw.

"Aseeekkkk,, jadi deket dah nih,,, *aduhhhh." ucap Muti yang seketika itu langsung disambut oleh pulpen yang dilemparkan oleh Bu Nisa.

"Kamu ini ya, Mutiii!!" ucap Bu Nisa.

____-----_____

"Yah, udah jam 4. Aku harus pulang nih, udah kesorean." ucap Muti kala itu. Memang, waktu telah menunjukkan pukul 16:15. Tidak terasa waktu berjalan cepat disaat aku mengobrol dengan mereka semua.

Muti yang merupakan guru kelas 5 itu memang sangat asik, tetapi mulutnya juga lupa kalau dia adalah seorang guru. Baginya, dia akan menjadi seorang guru saat di dalam kelas dan saat berada diantara murid-muridnya. Sedangkan disaat-saat seperti ini, dia adalah sosok wanita riang yang akan selalu membuat suasana hati orang disekitarnya ceria.

Farhah, sosok wanita alim yang sangat lembut. Dia jarang berbicara, dan lebih banyak tersenyum. Tingginya Gw taksir kira-kira 150an cm. Terlihat chubby dengan wajah cantiknya itu. Senyumnya juga manis, mungkin bakal selalu bisa jadi mood booster kalau melihat senyumannya.

"Aku balik duluan ya, semuanya." ucap Muti sambil dia membereskan meja kerja.

"Iyaa." jawab Gw.

"Iya, kak. Hati-hati." ucap Farhah.

"Kamu bawa motor, Mut?" tanya Bu Nisa

"Bawa, Mams. Kenapa?"

"Kalo enggak bawa nih dianterin sama Jaka aja."

"Jangan, Mams. Dia kan buat Farhah. Masa saya ngerebut gitu aja sihh. Hahaha."

"Ihh, apa-apaan." protes Farhah

"Udah, kamu mah bikin orang malu aja. Gihh, sana." suruh Bu Nisa.

"Dadaaaaa, assalamualaikum." ucap Muti sambil melangkahkan kaki keluar dari pintu Ruang Guru.

"Wa'alaikum salam." jawab kami berbarengan.

"Terus kalian kapan pulangnya?" tanya Bu Nisa

"Ini aku dua soal lagi." jawab Farhah.

"Kamu bikin soal ulangan, Far?"

"Iya nih, Bu. Buat UH3 besok."

"Ohh, kalo kamu Jak?"

"Kenapa, Bu?"

"Kapan mau pulangnya?"

"Nungguin ibu sama Bu Farhah pulang. Enggak enak kalo saya duluan."

"Yeh, gak usah gitu. Tapi gapapa sih, temenin kita disini. Hahahaha."

"Yeayy, selesai." ucap Farhah

"Wih, udah? Terus pulang dong?" tanya Bu Nisa

"Iya, Bu. Ayuk kita pulang." ajak Bu Farhah

Lalu kami bertiga turun san pindah menuju ke depan kelas 2A, menunggu ojol yang dipesan Bu Farhah dan suami Bu Nisa datang menjemput. Tolakan, itu yang Gw dapat saat Bu Nisa menawarkan Farhah agar Gw antarkan pulang. Takut ngerepotin katanya, padahal rumah kami terbilang dekat.

"Tuh ojol saya kali ya, Bu?" tanya Bu Farhah.

"Iya, mungkin. Coba kamu lambai-lambai." suruh Bu Nisa.

"Siti Farhah?" tanya Abang Ojol mengkonfirmasi bahwa itu adalah customernya.

"Iya mas, bener."

Lalu Abang Ojol itu memberikan helm kepada Farhah untuk dipakainya.

"Bu Nisa, Jaka, aku duluan ya. Assalamualaikum." ucap Farhah.

"Wa'alaikum salam." jawab kami berdua.

Lalu Abang Ojol itu pergi meninggalkan kami berdua, pergi mengantarkan penumpang ke tempat tujuannya.

"Ibu masih lama?" tanya Gw ke Bu Nisa.

"Gak tau nih, susah dihubungin. Udah di jalan mungkin."

"Padahal kan dari tadi ya."

"Iya nih. Suami ku gimana sih."

Tiba-tiba suara notifikasi WA Bu Nisa masuk, dari MyHubby Gw lihat. Gw curi-curi pandang ke layar hp itu, sedikit tulisan terlihat.

" ... nggak bisa jemput." tulis Suaminya.

" ... dari tadi. Terus gimana ... " jawab Bu Nisa.

" ... naik ojol ... bayarin." tulis Suaminya lagi.

"Ahh, ... jemput ... begini." tulis Bu Nisa.

"Yaudah, ... sana." tulis Suaminya.

Dari potongan chat yang sedikit terbaca itu, aku menebak kalo suami Bu Nisa tidak bisa menjemputnya dan menyuruhnya untuk naik ojol saja.

"Suamiku enggak bisa jemput, ada urusan katanya."

"Lah, ibu udah tungguin dari tadi kan, kok baru ngabarin sekarang?" tanya Gw.

"Emang gitu orangnya. Biarin lah."

"Yaudah, Bu. Ayo saya anter."

"Ehh, gak usah lah saya sama ojol aja. Ngerepotin kamu tau, udah tadi saya repotin masa ngerepotin lagi."

"Gapapa bu, tugas saya kan bantuin ibu. Nganter pulang juga kan bagian dari bantuin ibu. Hehehe."

"Tapi bener gapapa?"

"Iya bener bu.".

"Yaudah deh, hayuk."

Singkat cerita, akhirnya telah sampai ke rumah Bu Nisa. Rumahnya lumayan jauh, tapi bisa dibilang deket juga dari rumah Gw. Kira-kira 15 menit waktu tempuhnya. Rumahnya berukuran sedang, terlihat rapih tapi agak berantakan. Ulah suaminya katanya. Selama perjalanan, dia cerita kalau suaminya itu dulu pengusaha penjual pakaian di Tanah Abang. Tetapi setelah ada penggusuran waktu jaman gubernur Ahok, dia jadi bangkrut dan jadi sering berjudi dan mabuk-mabukan. Segala cara udah Bu Nisa lakukan agar suaminya kembali ke jalan yang benar, tetapi nihil hasilnya.

"Yaudah, ibu yang sabar ya. Ibu harus tetep semangat membawa suami ibu ke jalan yang benar lagi." ucap gw menenangkan Bu Nisa.

"Iya, Jaka. Makasih banyak ya. Udah dianterin, jadi tempat curhat juga.

"Ahh, gapapa bu. Kan biar tambah kenal biar kerjanya enak. Hahaha."

"Ini, Jak. Buat jajan." Bu Nisa memberi uang 50 ribu untuk Gw.

"Ehh, jangan begini Bu. Nanti saya jadi sering nganterin. Hahaha." kata Gw untuk membercandainya.

"Ya bagus dong, saya jadi sering curhat. Hahahaha." timpalnya.

"Tapi beneran, Bu. Enggak usah."

"Ehh, jangan gitu. Anggap aja perkenalan."

"Ihh, udah enggak usah. Saya langsung pulang ya, Bu. Assalamualaikum." kata Gw langsung menyalakan motor dan siap untuk pergi

"Ihh, nih anak ya." tiba-tiba Bu Nisa langsung memasukkan uang itu ke dalam kantung celana Gw. Tapi mungkin karena Gw sedang berdiri untuk memundurkan motor, jadi tangan Bu Nisa menyentuh kontol Gw..

"Ehh, kena itu. Maaf ya, Jak." kata Bu Nisa.

"Tuh kan, ibu. Dibilang enggak usah, malah jadi dapet rejeki tambahan."

"Abis kamunya dikasih malah nolak terus."

"Yaudah deh saya terima. Terimakasih banyak ya, Bu. Nanti kalo gini sayanya jadi ketagihan tau."

"Kegihan dikasih uang atau dipegang nih?? Hahahaha."

"Anjirr, dia malah mikir kesitu. Malu Gw jadinya kan." pikir Gw dalam hati.

"Ehh, ibu. Saya langsung pulang ya. Terimakasih banyak, assalamualaikum."

"Waalaikum salam. Hati-hati, Jak."
 
Terakhir diubah:

Greenie2

Semprot Kecil
Thread Starter
Daftar
31 Jul 2020
Post
53
Like diterima
1.637
Part 2

Esoknya...

Di sekolah...

Bu Nisa menawarkan aku untuk mengajar di kelas, soalnya dia ingin memasukkan nilai-nilai anak kelas 6 ke aplikasi yang kemarin kami kerjakan. Tetapi, Gw masih malu buat ngajar, jadi Gw menawarkan diri ke Bu Nisa untuk memasukkan nilai saja. Sedangkan Bu Nisa tetap mengajar di kelas.

Pukul 12.30 siang, anak-anak berbondong-bondong meninggalkan sekolah setelah selesai sholat dzuhur berjama'ah.

"Gimana, Jak? Udah selesai? Duh, ibu jadi ngerepotin lagi." kata Bu Nisa.



"Kan emang saya ditugasin Pak Sulai untuk direpotin Bu Nisa. Hahahaha."

"Udah selesai berapa, Jak?"

"24 dari 31 nih, Bu."

"Hahh, kok cepet banget, Jak?"

"Emang yah??" tanya Gw heran karena bingung dengan respon Bu Nisa. Padahal input ini gampang-gampang aja bagi Gw.

"Hebat kamu, Jak. Nanti saya traktir deh."

"Wahh, okedehh. Jadi semangat nih."

"Hahahaha. Ayo sini saya bantu."

Hingga pukul 2 sore, Gw melakukan input nilai bersama Bu Nisa. Selesai juga pekerjaan itu dalam satu hari. Padahal, Bu Nisa bilang kalau guru kelas 6 sebelumnya kasih tau input ini bisa-bisa selesai dalam 4 hari. Tapi karena Gw yang kerjain, bisa cuma sehari saja selesainya.

"Ya ampun, Jak. Ini mah saya harus traktir kamu yang mahal-mahal nih."

"Ya enggak gitu juga dong, Bu. Santai aja."

"Kamu mau pulang, Jak?" tanya Bu Nisa.

"Kalo udah selesai, ayo aja deh, Bu."

"Udah sih ini mah. Orang gara-gara kamu kerjaannya jadi cepet banget selesai."

"Yaudah deh, ibu mau pulang juga? Ayo bareng."

"Ayo deh. Sebentar ya, saya beresin dulu."

Setelah selesai berberes, Bu Nisa berpamitan pada guru-guru yang masih berada di Ruang Guru.

"Pak Rizki, Bu Farhah, Bu Muti, Bu Putri. Saya pulang duluan, ya."

"Ibu udah dijemput?" tanya Bu Putri. Guru Agama kedua setelah Pa Basyir yang juga adalah ayahnya.

"Ini bareng Jaka. Ojek baru saya."

"Wihh, ojeknya berondong. Hihihii." ucap Muti.

"Ehh, jangan digituin. Nanti Bu Putri cemburu." jawab Bu Nisa.

"Enggak dong. Bu Putri kan hatinya udah buat saya, Bu." timpal Pak Rizki. Memang, rumor berkata bahwa Pak Rizki akan menjalin hubungan dengan Bu Putri, bahkan akan melamarnya tahun ini.

"Wuss, emangnya hati aku sate di bubur apa bisa kamu milikin." ucap Bu Putri.

"Aku enggak ikut-ikut yaa. Lagi fokus." saut Bu Farhah.

"Iyaa, kamu mah mana pernah mau dideketin sama cowok. Nanti jadi perawan tua loh. Hahaha." kata Muti membalas perkataan Farhah.

"Aku sih mau-mau aja kalo cowoknya datengnya bukan ke aku, tapi ke ibu aku. Hahahaha." jawab Farhah.

"Udah udah, jangan ribut gara-gara ngerebutin Jaka. Saya pulang dulu yah, assalamualaikum."

"Iya, semuanya. Assalamualaikum."

"Waalaikum salam." jawab mereka serempak.

Lagi, Gw mengantarkan Bu Nisa lagi untuk yang kedua kalinya. Kali ini dia bercerita kalau ternyata kemarin suaminya itu diajak untuk bertanding judi dengan agen judi yang lumayan besar hadiahnya. Makanya suaminya tidak jadi menjemputnya. Kemarin suaminya menang berjudi, dapat uang 10 juta. Tapi Bu Nisa tidak sudi untuk menggunakan uang itu.

Setelah sampai di rumah Bu Nisa, datang berita tidak mengenakkan. Suami Bu Nisa tertangkap sedang berjudi lagi oleh Ketua RT di kecamatan sebelah. Dan sekarang dia sedang ditahan di polsek. Kamipun segera datang ke polsek untuk menemui suaminya. Tapi Bu Nisa menyuruh aku untuk segera pulang saja, biar dia yang mengurus suaminya, dia tidak mau Gw direpotkan nantinya, katanya.

Esok harinya Bu Nisa tidak masuk kerja, Gw menggantikannya mengajar di kelas 6. Dari pagi hingga siang Gw mengisi kegiatan pembelajaran di kelas. Lelah, itu yang Gw rasakan. Karena Ruang Guru pasti ramai, dan Ruang Kepsek tidak mungkin Gw bersantai di sana. Jadi, kayaknya Gw bersantai di Ruang TU saja. Sekalian mau ngucapin terima kasih ke Bu Sinta karena udah ngasih info tentang lowongan di sekolah ini.

"Assalamualaikum." Gw masuk ke Ruang TU. Dan ternyata Pak Hendra baru saja keluar dari toilet dengan kemeja terbuka sambil mengenakan celananya kembali.

"Ehh, Jaka!!" Pak Hendra terperanjat kaget dengan kedatangan Gw. Dan juga terlihat Bu Sinta berada di dalam toilet tanpa mengenakan pakaian. Sontak, Gw langsung mengeluarkan hp untuk merekam kejadian itu, siapa tau bisa dijadikan alat bukti untuk dilaporkan ke Pak Sulaiman.

"Apa apaan kamu, Jak." kata Pak Hendra yang kembali masuk ke toilet. Jelas salah, karena makin membuat mereka terlihat seperti benar melakukan hal itu.

"Pak, Bu, keluar. Kalo enggak saya panggil guru-guru biar pada tau semua nih." ancam Gw. Entah kenapa semua mengalir begitu aja di pikiran Gw.

"Iya, Jak. Iya. Nih keluar." kata Pak Hendra.

Lalu mereka berdua keluar. Pak Hendra kembali mengenakan celananya dan Bu Sinta juga mengenakan seluruh pakaiannya. Sudah terekam jelas ketelanjangan mereka berdua, terutama Bu Sinta, tubuh bugilnya sudah terekam masuk kedalam rekaman kamera hp Gw.

"Jangan gitu dong, Jak." ucap Pak Hendra.

Pak Hendra terus-terusan meyakinkan Gw untuk tidak melaporkan kejadian ini, sedangkan Bu Sinta hanya tertunduk malu sambil menangis.

"Jak, kamu mau minta apaan juga Gw kasih. Tapi jangan laporin ya, Jak. Tuh Bu Sinta sampe nangis gitu." tiada hentinya Pak Hendra meyakinkan Gw.

"Iya udah, video ini tetap saya simpan untuk jaga-jaga tapi ya. Udah Bu Sinta, jangan nangis lagi. Malah nanti yang lain pada curiga."

"Iya, Jak. Saya mohon jangan ya." ucap Bu Sinta dengan air mata yang masih membasahi wajahnya.



"Iya Bu, Pak. Saya juga enggak berani macam-macam. Tapi kalo dibutuhkan, saya akan melaporkan hal ini ke Pak Sulai. Kalo begitu saya permisi dulu."

Setelah kemarin Gw memergoki Pak Hendra dan Bu Sinta yang bugil di toilet ruang TU, sikap mereka ke Gw menjadi berbeda. Pak Hendra yang biasanya tidak pernah negur, tadi dia menegur Gw saat berpapasan. Begitu juga Bu Sinta. Aneh memang, tapi lucu juga. Kira-kira, video ini Gw pakai mengancam untuk ngapain ya?? Bingung deh Gw.

Saat sedang melamun, tiba-tiba Gw dapet notif chat dari Bu Nisa.

Bu Nisa :
"Assalamualaikum, Jak."

Jaka :
"Waalaikum salam, Bu Nisa."
"Ibu kemana ajaa. Jadi kangen saya, wkwkwk."

Bu Nisa :
"Suami saya, Jak."
"Kena pasal KUHP perjudian."
"Dia dihukum 1 tahun penjara."
"Stres aku."

Jaka :
"Ya ampun, ibu. Yang sabar yah."
"Ibu pasti kuat."

Bu Nisa :
"Iya, Jak. Terimakasih."
"Besok saya udah masuk kok. Tenang aja. Kamu enggak perlu kangen."
"Besok kita bertemu lagi. Hahaha."

Jaka :
"Alhamdulillah, akhirnya."

__--__

"Jaka." Bu Nisa menyapa Gw ketika berpapasan di lorong kelas pada waktu jam pulang.

"Besok bantuin saya yah." tambahnya Bu Nisa

"Bantuin apa, Bu?"

"Persiapan US/M BN. Ribet banget ini. Banyak yang harus dikerjain."

"Emang kenapa enggak minta bantuan TU aja, bu?"

"Pak Hendra mah pelit orangnya. Gak bakal mau bantu. Kalo Bu Sinta, kasian. Banyak kerjaan dia."

"Loh, emang beda ya kerjaannya?"

"Sama, tapi Pak Hendra selalu nyuruh Bu Sinta yang ngerjain pekerjaannya."

Sejenak Gw berpikir. Mungkin ini saat yang tepat untuk memanfaatkan video waktu Gw memergoki Pak Hendra dan Bu Sinta.

"Yaudah bu, serahin sama saya. Nanti saya bujuk mereka." kata Gw meyakinkan.

"Hahaha. Mana bakal bisa kamu, Jak. Enggak bakal mau. Emang gimana cara kamu bujuknya?"

"Mohon-mohon aja buat dibantuin."

"Gabakal bisa." kata Bu Nisa meremehkan.

"Ngasih duit?"

"Tetep aja. Kecuali kamu kasih dua juta baru dia mau." katanya masih meremehkan.

"Yaudah, kalo saya bisa ibu mau kasih apa?"

"Hmm. Ini tantangan?" tanya Bu Nisa.

"Iya. Biar saya semangat mohon-mohon nya. Hahaha." kata Gw berbohong ke Bu Nisa. Padahal caranya mah tinggal nyuruh aja. Video ada di tangan. Hahahaha.

"Yaudah, kalo bisa saya traktir makan."

"Kan kemarin udah janji juga mau traktir makan. Yang lain dong bu."

"Hmmm. Masa nonton?"

"Yaudah kalo ibu maksa mah. Hahahaha."

"Ehhh," Bu Nisa tampak kaget.

"Kamu mau nonton sama ibu?" tanya Bu Nisa.

"Ya mau-mau aja. Kenapa enggak. Hehehe."

"Yaudah deh, belum tentu juga Pak Hendra mau kan. Hahaha."

"Yehh, jangan salah." kata Gw sambil menepuk-nepuk dada.

__--__

"Assalamualaikum."

"Waalaikum salam." jawab mereka.

"Ehh, ada Jaka." kata Pak Hendra. Sedangkan Bu Sinta hanya menunduk malu melakukan pekerjaannya.

"Pak, besok tolong urusin persiapan USMBN ya. Sampe kelar." kata Gw.

"Siap. Gampang." kata Pak Hendra. Tapi pada saat itu juga Gw melihat ke arah Bu Sinta. Dia terlihat mengerutkan alisnya. Gw ingat kata Bu Nisa kalo semua pekerjaan Pak Hendra dikerjakan sama Bu Sinta, jadi ...

"Tapi Bapak yang kerjain sendiri ya, Bu Sinta enggak usah." kata Gw.

"Hahh?? Kok gitu?" protes Pak Hendra.

"Iya lah, suka-suka saya. Kan saya yang punya video."

Disaat itu, Bu Sinta terlihat tersenyum kepada Gw. Gw enggak tau maksudnya, tapi Gw yakin itu tanda terima kasih dari dia untuk Gw. Hingga suatu ketika

*Zzttt zzttt

Tanda chat masuk dari hp gw. Bu Sinta mengirim pesan ke Gw.

Bu Sinta :
"Jaka."
"Terimakasih banyak."
"Hampir aja saya pingsan karena mikir kalo saya bakal tambah kerjaan. Tapi ternyata kamu ngerti."
"Terimakasih banyak, Jak."

Jaka :
"Iya bu, sama-sama."
"Tenang aja selama masih ada saya. Hehehehe."
"Saya yakin kalo ibu adalah korban. Jadi ibu kalo butuh apa-apa ngomong aja ke saya."
"Tapi bu, maaf sebelumnya."

Bu Sinta :
"Maaf untuk apa?"

Jaka :
"Saya nontonin terus video yang itu. Karena saya bisa ngeliat ibu lagi bugil. Hehehe."

Bu Sinta :
"Ya mau gimana lagi. Gapapa jak. Kamu kan cowok, wajar demen yang begitu. Lagian juga saya yang salah. Kenapa mau dipaksa sama Pak Hendra."

Jaka :
"Oke deh buu. Saya lanjutin nonton yaa."

Bu Sinta :
"Lah, kamu lagi nontonin video aku bugil tadi?"

Jaka :
"Iyaaa. Hehehe."

Bu Sinta :
"Dasar."
"Wkwkwk."

__--__

"Gimana, enak gak?"

"Biasa aja bu."

"Yeeehh. Tendang nih."

"Hahaha. Bercanda."

Hari ini, Bu Nisa mentraktir Gw makan makanan favorit dia di mall yang lumayan dekat dengan rumah Gw. Dekat sama rumah dia juga sih. Mumpung hari minggu, karena sekolah kami tetap masuk di hari sabtu. Wajar, sekolah swasta. Tetapi di hari sabtu kegiatan belajarnya hanya beberapa jam saja. Karena dari pagi hingga jam 9, sekolah mengadakan kegiatan senam bersama.

"Akhirnya ibu bisa traktir kamu makan yah. Hutang ibu udah lunas deh." kata Bu Nisa.

"Yehh, kata siapa. Belum. Masih ada utang nonton."

"Yaudah deh, hayuk."

Setelah kami makan, kami lanjut untuk menggugurkan hutang Bu Nisa yaitu mentraktir Gw menonton. Kalian pasti tau kan kenapa Gw bisa hutang nonton?? Ya, bantuin Bu Nisa mempersiapkan USMBN. Dan kalian tau kan gimana caranya Gw bisa menyelesaikan itu semua?? Ya, nyuruh Pak Hendra. Dan tau kan kalian kenapa Gw bisa nyuruh-nyuruh Pak Hendra seenaknya?? Ya, video ena-ena nya sama Bu Sinta.

"Ibu yakin mau nonton film ini?"

"Hmm. Enggak sih, tapi coba dulu deh."

"Yaudah deh, saya mah ikutin bos nya aja. Hahaha."

"Iya, wajib itu nurut sama bos, hahahaha. Tuh bangku kita."

Kamipun menonton film itu. Film yang buruk bisa dibilang, hanya bagus di poster aja. Gw enggak terlalu menikmati film itu, tetapi Gw memperhatikan Bu Nisa yang sedari tadi melirik-lirik Gw.

"Makasih ya bu traktirannya." kata Gw mengawali pembicaraan di tengah film yang sangat membosankan itu.

"Saya yang makasih, Jak. Gara-gara kamu saya jadi enggak banyak kerjaan di kelas 6. Tapi malah suami saya yang nambahin kerjaan."

"Yah ibu. Gapapa, semoga aja suami ibu di dalam sana nemuin hidayah terus jadi berubah."

"Aamiin Ya Allah. Tapi kenapa enggak kamu aja yang jadi suami saya."

"Ehh, bu."

Gila, Bu Nisa ngomong kayak gitu sama Gw di dalem bioskop yang sepi dan film yang boring. Gw enggak tau mau ngapain sampe

"Jak."

"Iya bu."

Dengan perlahan wajah Bu Nisa mendekat ke wajah Gw. Gw bingung Bu Nisa mau ngapain. Mungkin Bu Nisa mau bisikin sesuatu ke Gw. Lalu dengan PD nya gw mengarahkan telinga Gw mendekat ke Bu Nisa. Dan dengan sigap dia raih tangan Gw dengan tangan kanannya lalu dia menempelkan bibirnya ke pipi Gw.

*Cuppps
Dia mencium pipi Gw.

"Makasih banyak, Jak." kata Bu Nisa sambil tersenyum. Senyum yang sangat tulus yang pernah Gw lihat.

Gw deg degan, bingung harus ngapain. Bu Nisa baru saja mencium Gw.

*Cups cuppssss
Bu Nisa mencium Gw lagi. Gila, Gw enggak nyangka hal itu.

"Kamu kok baik banget sih, Jak. Aku enggak nyangka dengan kehadiran kamu masalah aku terbantu. Aku enggak kepikiran, bagaimana nanti kalau kamu enggak ada. Aku yang lagi sibuk di kelas 6, ditambah suami aku bikin masalah kayak gini." ucapnya.

Gw enggak tau harus membalas apa. Yang bisa Gw lakukan cuma tersenyum ke Bu Nisa.

"Kamu pernah ciuman gak, Jak?"

"Bel,, belum,, belumm bu."

"Mau coba gak?"

Gw pun mengangguk tanda setuju.

Lalu Bu Nisa kembali mendekatkan wajahnya ke Gw. Dan Gw sambut dengan bibir Gw. Tertutup.

Bu Nisa mengarahkan Gw cara French Kiss. Dia buka bibirnya dan menyapu bibir bagian luar Gw. Kaget, Gw jilat juga bibir luar Bu Nisa. Setelah lidah kami bersentuhan, Bu Nisa memajukan wajahnya lagi dan menempelkannya bibirnya ke bibir Gw sambil memainkan lidahnya di dalam mulut Gw.

*Slurrpss slurrpsss

Gw kaget ternyata ciuman itu seenak ini. Bu Nisa bahkan menyedot lidah Gw dan memaju mundurkan kepalanya. Gilaa, enak banget rasanya.

"Mmmphhhh,"

*slrppsss slrpps
"Mhhh"

*plup
Bu Nisa melepaskan ciumannya

"Kamu suka gak?"

"Iyaa, bu"

*Splurrpss slurppss

Bu Nisa melanjutkan ciumannya ke Gw.

Bibir dan lidah gw dimainkan layaknya dot anak bayi. Suara nafasnya menggebu-gebu, bahkan hingga Gw bisa mencium aroma nafasnya yang menggairahkan itu. Hingga permainan lidahnya diselesaikan dengan Bu Nisa menjilat ujung hidung Gw.

"Enak gak?"

"Iyaa, bu. Enak banget. Baru pernah ngerasain ciuman kayak gini saya."

"Mau yang lebih enak gak, Jak?"

"Apa bu?"

Bu Nisa membuka dua kancing atas bajunya.

"Kamu boleh pegang susu saya."

"Hahh??"

Gw kaget enggak kebayang. Baru aja abis dapet rejeki nomplok di kissing mamah muda, sekarang dapet lagi rejeki bisa megang toketnya.

"Bener bu, boleh?"

"Iyahh. Kamu belum pernah ya?"

"Iya, bu."

"Nih, pegang aja. Saya tau kok kamu orang baik, makanya saya mau berbuat baik sama kamu."

Lalu dengan perlahan Gw sentuh toketnya. Kenyal, itu yang Gw rasain. Gw enggak tau ukurannya semana, tapi ini tangan Gw enggak muat untuk memegang seutuhnya. Gw hanya menggoyang-goyangkannya aja.

"Hahahaha. Kamu polos banget sih, Jak."

Lalu tangan Bu Nisa menuntun tangan Gw untuk memasukkannya ke dalam bajunya.

"Kamu bebas mainin, Jak."

"Kalo sambil ciuman gimana bu?"

Lalu Bu Nisa kembali mendekatkan wajahnya ke wajah Gw. Kami bersilaturahmi bibir dan lidah kembali sambil aku meremas-remas toketnya.

Karena gemas, aku meremas-remas toketnya dengan cepat dan menggoyang-goyangkannya. Lalu aku pilin-pilin pentilnya hingga dia mendesah dalam keadaan mulut yang tertutup mulut Gw.

"Mmpphhh."

Lanjut lagi gw pilin-pilin pentilnya hingga Bu Nisa memejamkan mata untuk menikmatinya.

"Mmpphhh,, mmpphhhhh, mmphh mmphh."

Suara nafasnya pun menjadi lebih cepat dibanding yang tadi. Terdengar jelas oleh Gw. Lalu Bu Nisa melepaskan ciumannya.

"Hebat kamu yah, udah bikin ibu basah."

"Ohh, ini bu tisu." lalu Gw mengelap mulutnya yang penuh dengan air liur kami berdua yang telah menyatu.

"Bukan basah yang itu, Jaka. Kamu mau ngerasain gak?"

Tanpa persetujuan Gw, tangan Gw dituntun untuk masuk ke dalam rok panjang Bu Nisa. Bukan, ini celana dalamnya!!

"Rasanya apa, Jak?"

"Ada bulu-bulu halus gitu."

Lalu terus Bu Nisa memasukkan tangan Gw lebih ke bawah.

"Terus?"

"Anget,,, ada jendolan,, "

"Mmmpphhhhhhhh. Huhh huhhh."

Teruuus, tangan Gw lanjut mengarah turuh ke memek Bu Nisa.

"Iya, Bu. Basah. Memek ibu basah??"

"Huhh, huhhh. Iya, Jak. Kamu mainin terus yahh memek ibu."

"Mainin giman... "

*Slurrrpppppl slurppp
Lalu gw menggesek-gesekan jari tengah Gw di garis gitu. Hanya memaju mundurkan dan memasukkan lalu mengeluarkannya.

"Huhhh, huhhh. Mmmpphhhh."

"Kenapa, Bu?" tanya Gw bingung.

"Hennhaaakk, Jhaakk."

Lalu Gw lanjut memasukkan jari Gw dan mengeluarkannya dengan tempo cepat. Semakin cepat Gw menggerakkan jari Gw, semakin cepat pula tempo nafas Bu Nisa.

Hingga Bu Nisa menyedot seluruh isi mulut Gw semuanya, bahkan gigi kami sedikit beradu. "Mmmppphhhhh." erangnya.

"Lanjutin terus, Jakk. Enak banget inii."

*Cplokk cplokk cplokk

"Ahhh, Jaakk. Lebih cepet!!" suruh Bu Nisa.

Gw mempercepat gerakan tangan Gw didalam CD nya. Gw enggak tau apa yang membuat Bu Nisa terlihat sangat menikmati ini.

"Dikit lagi Jaaakk."

Gw terus memainkan memek Bu Nisa hingga Gw merasakan ada air hangat keluar dari dalam memek Bu Nisa. Gw kaget karena mengira itu air kencing sampai Gw mancabut tangan Gw dari celana dalam Bu Nisa.

"Hahhhh, hahhhh. Makhasihh Jhaakkhh."

Bu Nisa menggenggam lengan Gw lalu bersandar diatasnya. Nafasnya masih terengah-engah. Keringat keluar dari pori-pori tubuhnya. Bu Nisa mencium Gw lagi sambil mengancingi dan membenarkan pakaianku agar tidak ada yang curiga.

"Makasih, Jak. Suatu saat aku akan balas kamu yaa."

*Mmuachhh

Bu Nisa mencium Gw lagi

Lalu kami lanjutkan menonton film boring itu sambil berpegangan tangan bagaikan pasangan yang baru saja merasakan indahnya jatuh cinta.
 
Terakhir diubah:

Greenie2

Semprot Kecil
Thread Starter
Daftar
31 Jul 2020
Post
53
Like diterima
1.637
Part 3

"Assalamualaikum, Jaka." Bu Farhah menyapa



"Waalaikum salam, Bu Farhah. Cantik banget pagi ini."

"Apa ihh, gombal-gombal. Gak suka ah." kata Bu Farhah tersipu malu.

"Kenapa bu?"

"Nanti setelah jam mengajar kamu tolongin saya bisa gak, Jak?"

"Tolong apa?"

"Tolong bantu masukin nilai UH1-3 sama UTS."

"Nanti sore?"

"Iyaa."

"Oke dehh."

Gw pun meninggalkan Bu Farhah di depan kelas 4. Lalu Gw penasaran, bagaimana keadaan Bu Nisa setelah kejadian kemarin. Setelah dia merasakan pipis enak karena Gw mainin memeknya.

"Assalamualaikum, Bu."

"Waalaikum salam, Jak."

"Anak-anak pada kemana, Bu?"

"Lagi istirahat, Jak. Palingan pada ke kantin."

"Oohh. Ibu tetap masih mau saya anterin pulang kan?"

"Ya masih doong. Malah saya mau dianterin kamu terus."

"Serius, Bu?"

Bu Nisa hanya menjawab dengan mengangguk sambil menggigit bibir bawahnya.

Ternyata, hal itu malah membuat Bu Nisa semakin dekat dengan Gw.

__--__

"Saya yang masukin ya." kata Gw.

"Iya. Tapi pelan atau cepet nih." tanya Farhah.

"Sedang saja. Takutnya nanti gimana gitu."

"Okedeh. Mulai nih?"

"Iya."

"80, 78, 92, 91, 79, 87, 88, 95, ... "

Seperti perjanjian kami tadi, Gw membantu Bu Farhah memasukkan nilai ke Excel. Setelah anak-anak pulang, kami memulai pekerjaan kami. Guru-guru sudah banyak yang pulang, bergelut dengan urusannya yang lain. Pak Hendra dan Bu Sinta sepertinya belum pulang, tapi yang saya tau mereka sudah tidak pernah ngentot lagi. Bu Sinta yang bercerita kepada Gw. Bukan karena Pak Hendra yang tidak mau, tetapi Bu Sinta yang sudah berani menolaknya.

"Assalamualaikum." Bu Nisa mengucapkan salam saat memasuki ruang guru.



"Walaikum salam." jawab kami berdua.

"Kalian lagi apa?" tanyanya.

"Ini, saya minta tolong Jaka buat masukin nilai ke Excel. Ini udah rapih tinggal saya hitung pake rumus." jawab Bu Farhah.

"Ohh, gitu. Abis ini kamu mau langsung pulang, Far?" tanya Bu Nisa.

"Iya bu, selesai ini langsung pulang."

"Yaudah deh saya tungguin dulu, biar bareng kita pulangnya."

"Boleh, deh. Aku juga takut sendirian disini. Hehehe."

Lalu Bu Nisa duduk disebelah Gw. Bu Farhah yang sedari awal duduk di depan Gw pun tetap melanjut pekerjaannya.

Lalu karena iseng, gw mulai melakukan permainan itu lagi. Dengan pelan, tangan gw bergerak menuju memek Bu Nisa. Karena sadar, Bu Nisa melotot kaget ke Gw. Tetapi Gw masih tetap melanjutkannya.

Tangan Gw sudah berada di dalam CD Bu Nisa, Gw sudah merasakan garis lipatan memek Bu Nisa di jari tengah Gw. Perlahan Gw meraba-raba memek itu hingga jari Gw bisa masuk ke dalamnya. Bu Nisa terlihat menggigit jari tengahnya. Nafasnya mulai tidak teratur.

Karena takut dicurigai, Bu Nisa menidurkan kepalanya di atas meja. Setelah menemukan benjolan kecilnya, Gw memaju mundurkan jari Gw di dalam memek Bu Nisa. "Mphh .. " Bu Nisa mendesah pelan.

"Ehh, Bu Nisa kenapa, Jak?" tanya Bu Farhah.

"Ngantuk mungkin." jawab Gw sambil tetap menggesek-gesek jari Gw di dalam memek Bu Nisa.

"Ihh, kenapa enggak pulang aja. Enggak enak aku sama kalian."

"Enggak apa-apa. Lagi pula kalo kami pulang nanti kamu disini sama siapa? Nanti kamu takut." kata Gw sambil membenamkan seluruh jari tengah Gw ke dalam memek Bu Nisa.

"Ihh, kamu baik banget sih. Yaudah ini hampir selesai."

Lalu Gw menggerakkan jari Gw masuk dan keluar memek Bu Nisa dengan cepat. Hingga Bu Nisa bisa pipis enak lagi. Gw tau itu karena Gw merasakan ada air hangat yang keluar dari dalam memek Bu Nisa. Dan juga Bu Nisa merapatkan kedua pahanya dengan kencang.

Gw pun mengeluarkan tangan Gw dari dalam CD Bu Nisa. Lalu mengelap jari Gw yang basah ke celana Bu Nisa. Melihat hal itu, dia mencubit paha Gw. Lalu dia pura-pura sudah bangun tidur.

"Ehh, udah bangun, Bu?" tanya Bu Farhah

"Enggak tidur sih sebenernya, cuma memejamkan mata. Hahaha."

"Aku udah rapih nih. Pulang yuk, atau masih mau disini?"

"Ayo pulang bu, kangen rumah saya." ajak Gw ke Bu Nisa

"Ayo deh."

Udah dua kali Gw membuat Bu Nisa merasakan kenikmatan seperti itu. Dan ternyata dia sangat menyukai itu. Tapi, apakah Gw bisa meminta Bu Nisa untuk menikmati tubuhnya dia? Gw masih perjaka, belum pernah merasakan itu semua. Jadi Gw harap Bu Nisa bisa membuat Gw jadi tau semuanya.

"Kamu naik ojol, Far?" tanya Bu Nisa.

"Iya, ibu sama Jaka kan?"

"Jadi ojek saya nih Jaka sekarang. Hahaha."

"Itu ojol aku. Aku duluan ya Bu, Jak."

"Iyaa." jawab kami bersamaan.

Gw mengantarkan Bu Nisa ke rumahnya seperti biasa. Tetapi si tengah perjalanan, Bu Nisa bilang ...

"Jak, kamu udah bikin aku orgasme dua kali."

"Orgasme itu apa bu?"

"Pipis enak gitu."

"Ohh. Terus kenapa bu? Saya salah ya? Maaf ya bu, maaf."

"Enggak kok. Malah, saya yang merasa salah karena belum ngasih apa-apa ke kamu."

"Jadi ibu mau traktir saya lagi?"

"Bukan gitu maksudnya. Kita ke hotel yuk?"

"Hah? Terserah ibu deh. Hotel mana?"

"Yang deket-deket sini aja. Pintu Merah deket sini."

Gw enggak nyangka Bu Nisa ngomong kayak gitu. Dengan blak-blakan Bu Nisa mengajak Gw buat check in untuk membalas perbuatan Gw.

"Dimana bu?" tanya Gw.

"Kamar nomer 3. Itu."

Kami pun masuk ke dalam kamar yang kami sewa. Aku tidak tahu harus berbuat apa selain duduk-duduk grogi di kasur. Dan Bu Nisa pun membuka obrolan.

"Aku ngajak kamu kesini untuk membalas kebaikan kamu, Jak. Selain kamu bantuin aku dalam hal kerjaan, kamu juga bantuin aku dalam hal syahwat. Udah lama aku enggak ditiduri sama suami aku, dia selalu aja judi dan mungkin uangnya digunakan untuk mabuk sama ngentot dengan lonte."

"Jadi, biarkan aku yang ngelayanin kamu ya, Jak." lanjut Bu Nisa.

Lalu Bu Nisa membuka pakaiannya satu per satu. Dimulai dari jilbabnya, ikat rambutnya dilepas sehingga rambutnya jatuh menjuntai sepunggung. Lalu kancing kemejanya dicopot satu persatu hingga semuanya terbuka. BH ungu bercoraknya terlihat jelas, Gw tidak tahu ukurannya berapa. Yang pasti Gw suka ukuran toket segitu. Lalu Bu Nisa membuka celananya dan memperosotkannya kebawah. Perlahan Bu Nisa menghampiri Gw. Dia mendekatkan wajahnya ke telinga Gw untuk berbisik.

"Sisanya kamu yang buka, yah."

Lalu gw bangun dan memeluk Bu Nisa. Gw cium lehernya, dadanya, lalu Gw membuka kaitan BH nya. Jatuhlah benda penutup itu ke lantai dan terpampang jelas toket indah itu dihadapan Gw. Gw pegang dengan kedua tangan Gw dan menciuminya satu persatu.

"Kamu suka, Jak?"

"Iyaa."

Gw jilatin pentil coklatnya yang mengacung itu. Seperti seorang anak yang kehausan meminta susu kepada ibunya.

"Kamu belum pernah kayak gini yah, Jak?"

"Iyaa bu."

"Kamu mainin pakai lidah, Jak. Terus gigit-gigit kecil."

Gw pun menurut. Gw gerakkan lidah Gw ke atas dan ke bawah lalu memutari pentil Bu Nisa. Lalu sedikit Gw gigit dan Gw tarik diikuti desahan Bu Nisa.

"Aahhhh, iya Jaka, begitu. Mpphhhh,, ahhhh."

Lalu tanpa disuruh, Gw melorotkan CD Bu Nisa ke bawah. Bu Nisa pun mengangkat kakinya lalu menendang CD nya itu entah kemana. Sambil menyedot-nyedot toket Bu Nisa. Tangan Gw kembali memainkan memek Bu Nisa. Kali ini Gw masukin jari tengah dan telunjuk Gw kedalam memek Bu Nisa.

"Iyaaa Jakkk. Enakk banget ihhhh."

Lalu Gw ciumi wajah Bu Nisa. Dari pipinya, lalu hidungnya, dagunya, lalu lehernya. Gw enggak bisa pindah dari lehernya Bu Nisa. Aromanya dan rasanya lebih enak dari yang lain.

"Jak, kamu udah nemuin G Spot akuuu."

"G spot itu apa, Bu?"

"Daerah di tubuh yang paling bikin nikmat."

"Bukannya di memek, Bu?"

"Iyaa, tapi di tempat lain ada. Dan setiap manusia beda-beda G Spot nya."

Dengan begitu gw kembali menciumi leher Bu Nisa. Dengan tangan kanan mengobok-obok memek Bu Nisa dan tangan kiri meremas-remas toket Bu Nisa. Dia pun memeluk Gw dengan mata terpejam dan mulut terbuka.

"Nikmat banget, Jak."

Lalu Bu Nisa mengeraskan pelukannya dan menyandarkan kepalanya ke bahu Gw.

"Aaahhhhhhh, aku keluar Jak."

Gw pun melepaskan tangan Gw dari memek dan toket Bu Nisa. Bu Nisa menatap Gw sambil tersenyum. Lalu entah kenapa Gw mencium keningnya.

Bu Nisa kaget, lalu dia tersenyum sambil meneteskan air mata.

"Jaka, tau gak?"

"Kenapa Bu?"

"Kamu telah melakukan kesalahan. Kamu cium kening aku, aku jadi cinta sama kamu Jak."

Gw kaget. Ternyata Bu Nisa suka sama Gw.

"Aku juga cinta sama ibu. Tapi sayang ibu udah punya suami."

"Sekarang aku lagi enggak punya suami."

"Jadi aku bisa milikin ibu?"

"Iyaaaaa."

Lalu Bu Nisa mencium bibir Gw, tidak lupa dengan permainan lidahnya.

"Sekarang giliran aku yang puasin kamu." kata Bu Nisa sambil membuka kancing baju Gw.

"Ajarin aku ya, Bu. Saya belum pernah beginian soalnya."

"Kalo dosa kenapa kamu lakuin, Jak?" lanjut Bu Nisa membuka kaos Gw.

"Karena nikmat dan aku melakukannya sama ibu."

"Ibu kamu?" tanya dia bercanda. Lalu Bu Nisa menjilati dan menyedot pentil Gw.

"Bukan. Tapi Ibu Annisa Putri."

Bu Nisa mulai berlutut. Dia membuka gesper Gw. Lanjut dengan celana serta kolor Gw.

"Kamu enggak pake CD, Jak?"

"Enggak suka, Bu."

"Tuh kan bener, gede."

"Apanya, penis aku bu?"

"Kontol, Jak. Kontol."

"Iya, Bu. Kontol aku gede?"

"Iyaa. Lebih besar dari rata-rata kontol orang lain."

"Emang ibu pernah ngeliat kontol siapa aja?"

"Baru suami aku sama kamu doang. Tapi dari bokep-bokep asia, kontol kamu lebih besar."

Lalu Bu Nisa berdiri dan melangkah maju untuk menuntun Gw agar tiduran di kasur.

"Di kasur aja, Jak."

Gw pun naik ke kasur dan merebahkan diri. Bu Nisa berlutut di atas Gw dan menciumi bibir Gw.

"Kita mulai ya, Jak."

" ..... "

Lalu Bu Nisa berdiri dan melangkah maju untuk menuntun Gw agar tiduran di kasur.

"Di kasur aja, Jak."

Gw pun naik ke kasur dan merebahkan diri. Bu Nisa berlutut di atas Gw dan mencium bibir Gw.

"Kita mulai ya, Jak."

Dia menyedot seisi mulut Gw dengan nikmatnya. Bahkan kadang hingga Gw sesak untuk bernafas. Lalu dia turun ke leher dan dada Gw. Disini Gw mulai mengerti. Disaat Gw ciumin leher Bu Nisa dia merasakan keenakan, tetapi disaat Bu Nisa menjilati leher Gw, Gw merasa biasa aja.

Turun ke dada, dia menyedot puting Gw bergantian. Kontol Gw semakin tegang atas perbuatannya. Mengetahui hal itu, dia pun meraih kontol Gw lalu dikocoknya perlahan.

Gilaa. Ini enak banget. Gw belom pernah ngerasain yang kayak begini. Lanjut Bu Nisa turun menjilati perut hingga ke bawah. Dan akhirnya sampailah Bu Nisa turun ke kontol Gw.

"Aku sepong ya, Jak."

Bu Nisa menjilat kepala kontol Gw sekali. Dua kali. Empat kali. Lalu memasukkannya kedalam mulutnya seperti memakan es krim. Dimasukkannya lagi. Lalu yang ke tiga, dia tidak hanya memasukkan, tetapi juga menyedotnya.

"Uhh, Buu."

Gw pun menggelinjang kegelian. Bu Nisa hanya tersenyum melihat hal itu. Dia kembali menjilati kontol Gw dari kepala hingga bawah lehernya. Dia masukkan lagi ke dalam mulutnya dan menyedotnya sambil menaik turunkan kepalanya.

"Bu, enak banget sih."

"Hmmmmm phmmmhh." kata Bu Nisa yang tidak terdengar karena mulutnya dipenuhi oleh kontol Gw.

Selesai dengan itu, dia melepaskan isapannya dari kontol Gw. Lalu dia genggam kontol Gw dan mengangkatnya keatas. Bu Nisa menurunkan kepalanya menuju biji Gw dan dijilatinya.

"Hahahaha. Gelii buuu."

Lalu dia sedot dan masuklah salah satu biji Gw kedalam mulutnya. Dia sedot dan diputar-putarkannya dengan lidahnya.

"Udah, Bu. Udah. Ganti ahh yang lain."

Lalu Bu Nisa bangkit dan berjongkok di hadapan kontol Gw sambil mengocoknya.

"Kamu masih perjaka kan, Jak?"

"Iyaa, Bu."

"Perjakanya saya yang ambil, boleh?"

"Malah saya tanya, boleh gak saya lepas perjaka saya sama Bu Nisa?"

Bu Nisa hanya tertawa lalu dia kecup kepala kontol Gw. *cuppss

"Aku masukin ya, Jak?"

Bu Nisa pun memposisikan memeknya agar berada tepat di atas kontol Gw. Lalu dengan pelan dia menurunkan memeknya hingga menyentuh kepala kontol Gw. Perlahan dia gesekkan kontol Gw ke memeknya, terasa basah.

"Gedenya itu loh, bikin deg degan."

"Emang kenapa, Bu?"

"Saya udah lama enggak ngentot sama suami saya. Jadi bisa kaget kalo baru ngentot lagi langsung ketemu yang kayak gini."

Dengan perlahan Bu Nisa menurunkan memeknya agar dimasuki kontol Gw. Kepala Gw sudah masuk ke dalam memeknya. Gw merasakan basah dan hangat. Lalu dia membenamkan seluruh kontol Gw kedalam memeknya. "Aaaghhhhkh." erangnya.

"Enak bangettt buuu." ucap Gw merasakan kenikmatan itu.

"Kamu udah enggak perjaka sekarang. Wleee" canda Bu Nisa.

"Rasanya gimana, Jak?" tanyanya.

"Enaakkk, Buu. Anget, basah, gelii. Gitu deh."

"Bukan, maksudnya abis aku bikin enggak perjaka itu gimana."

"Enggak gimana-gimana, Bu. Malah enak."

"Karena kamu laki-laki, Jak. Coba kalo perempuan, dia bakal ngerasain sakit banget, kayak kamu ngerasain sunat tapi enggak pake suntik bius. Dan juga bakal mengeluarkan darah, karena selaput dara nya robek. Jadi, kalo kamu mau perawanin orang, pelan-pelan ya."

"Iya Bu Guru Nisa." ucap Gw.

Lalu Bu Nisa mulai menaik turunkan pinggulnya. Ini baru nikmat rasanya. Dia menaik turunkan pinggulnya dengan tempo yang pelan.

"Huhhh huhhh, enak Jak?"

"Bangettt."

Lalu Bu Nisa mulai mempercepat gerakannya. Gw pegang pinggulnya lalu dia tersenyum.

"Lakukan aja apa yang kamu mau, Jak."

Gw pun meremas-remas toketnya dari bawah. Toket yang bergoyang-goyang itu makin membuat Gw bernafsu.

"Bu."

"Kenapa, mau keluar ya?"

"Enggak tau ini, rasanya enak banget."

"Iyaa. Saya juga mau keluar nih. Bareng yuk."

"Ahhh ahhhh, huhh huhhh huhh huhh." Bu Nisa mengerang keenakan sambil menaik turunkan pinggulnya.

"Kontol kamu enak banget, Jakkk."

"Memek Bu Nisa enaakk."

"Aku mau keluar, Jak."

Bu Nisa semakin cepat menaik turunkan pinggulnya.

"Huh huh huh huh. Aaaagghhhhhhhhh."

"Bu Nisaaa. Saya keluaar."

Entah kenapa Gw merasa kenikmatan dan keenakan sekaligus. Tanpa sadar Gw menaikkan pingul Gw menekan memek Bu Nisa keatas. Bu Nisa juga terlihat seperti sedikit kejang menikmati pipis enaknya. Bukan, orgasme yang dia bilang tadi.

"Haahhhhh." Bu Nisa menjatuhkan tubuhnya ke badan Gw.

"Makasih banyak, Jak." kata Bu Nisa.

"Enak banget, Bu. Tadi."

"Kontol kamu enak banget, Jak."

"Memek ibu juga enak."

"Main lagi yuk."

"Sekarang?"

"Nanti, saya masih capek."

"Iyah, saya juga lemes, Bu"

"Hahahaha."

Lalu Bu Nisa menidurkan badannya disamping Gw. Bu Nisa memiringkan tubuhnya menghadap Gw dan Gw pun demikian. Bu Nisa membelai rambut Gw sambil tersenyum-senyum.

"Saya enggak nyangka kamu baik banget, Jak."

"Oo ya jelas. Hahahaha."

Bu Nisa pun tertawa lalu mencubit paha Gw.

"Baru juga dipuji sedikit udah sombong."

"Bu Nisa juga baik sama saya. Jadi saya baik sama Bu Nisa."

"Kamu jadi pacar saya ya, Jak."

"Hah??!! Gimana, gimana?"

"Bukan pacar beneran sih. Saya tau suatu saat kamu akan punya pacar beneran dan menikah, saya juga masih cinta sama suami saya, hanya butuh sedikit hidayah agar dia sadar. Jadi, selama hanya kita berdua dan suasana mendukung. Kamu jadi pacar saya ya?"

"Iyaaa, sayang." kata Gw yang diteruskan dengan mengecup bibirnya.

*cupppss

*cuppsss

*cupppsss

*slruurppp

*slruuurpp

Bu Nisa memainkan lidahnya di dalam mulut Gw. Gw pun membalasnya, Gw sedot lidahnya naik turun seperti saat di bioskop kemarin. Bu Nisa menyedot seluruh air liur Gw hingga Gw sesak. Gak mau kalah, Gw pun menyedot air liurnya. Hingga kamu bertukar air liur secara bergantian.

*Glukkk Bu Nisa menelan air liur kami bedua

"Main lagi, yuk."

"Ayoo Bu."

"Tapi kamu yang diatas ya."

"Okeee."

Gw pun bangkit berlutut diatas tubuh Bu Nisa. Sebelum Gw mulai mengentoti Bu Nisa, Gw memandangnya cukup lama. Bu Nisa tersenyum sambil memainkan toketnya. Gw tertawa melihat tingkahnya.

Karena gemas, Gw pun menciumi toketnya yang lumayan besar itu. Gw jilat, Gw sedot, Gw mainin pakai lidah, lalu Gw gigit-gigit kecil pentilnya.

"Masukin ya, Bu?"

Bu Nisa hanya mengangguk. Gw masukkan kontol Gw ke memek Bu Nisa. Tetapi sulit sekali menemukan lubang kenikmatan itu.

"Kenapa? Enggak ketemu ya? Hahaha." ledek Bu Nisa.

Akhirnya Bu Nisa menuntun kontol Gw menuju memeknya. Dia menggenggam kontol Gw, menempatkan kepala kontol Gw menuju tepat di depan liang senggamanya. Lalu Gw menyodok kontol Gw masuk ke dalam memeknya.

"Aaihhhhh. Pelan-pelan, Jak."

Lalu dengan cepat Gw pompa keluar masuk kontol Gw dengan cepat.

*Plok plok plok plok

"Aahhhhhhh, ahhhh, mphh mphhhhhh, ahhhhh Jaaaakkkkkk. Gilaaa kamu Jakkkk."

"Huhh huhhh, henaakk ghaaakk Bhuuuu??"

"Maaantepppp Jaaakkk. Aaaahhhhh, aahhh. Mpphhhhhh, Jaaakkk."

Sambil memompa kontol Gw, Gw juga bermain-main dengan toket dan mulutnya. Sekali-kali jua Gw jilati wajahnya.

"Aahhhhh, Jaaakkk. Mheemeekkk,, shayaaaa, bhasaahhhhh. Thookeettt shaamaaa mhuukaaa shaaaayaaa khaamuu bhuaatt bhasaahhh juughaaaaa. Aaahhhh aahhhh."

"Huhh huhh, henakk khann Bhuu?"

"Jaakk jaaakk, bhentarrr."

Gw pun menghentikan laju kontol Gw. Terasa sanyat hangat di dalam memek Bu Nisa yang Gw tebak itu adalah orgasmenya.

"Saya keluar, Jak. Haaahhhh, haahhhhh." Bu Nisa menikmati masa-masa orgasmenya.

"Lagi gak, Bu?"

"Ayo deh."

Gw pun kembali memaju mundurkan kontol Gw di dalam memek Bu Nisa. Kali ini, sangat basah terasa di dalamnya. Menjadi sangat licin rasanya.

*Cret cret cret cret

"Memek ibu banjir banget. Hahaha."

"Kamuu abisnyaa bikin saya enak."

"Langsung aja ya Bu. Saya langsung keluarin."

"Iyaa."

*Plok plok plok plok

"Aahh ahhhhh Jaaakaaa."

"Kenapa Bu. Enak nih, saya lagi enak."

"Iyaaa Jakkk, saya jugaaaa."

*Plok plok plok plok plok

"Bu, saya mau keluar."

"Iyaa Jakk. Keluarin ajaaa."

Gw pun mempercepat tempo gerakan kontol Gw menghajar memek Bu Nisa. Disaat-saat yang seperti ini terasa sangat enak, kenikmatan yang berdosa besar. Zina itulah namanya.

"Buu, saya keluaaarrr."

"Iyaaa Jakk, samaaa."

*Crotttt crottt bressssss.

Semprotan air mani Gw bercampur dengan cairan orgasme Bu Nisa didalam liang kenikmatan itu. Kamu bedua pun merasa lemas, dan berbaring bersebelahan bagaikan pasangan suami isteri.

Bu Nisa menatap hampa ke langit-langit ruangan. Gw hanya bisa tersenyum karena telah menikmati perzinahan ini bersama Bu Nisa.

"Bu?"

"Iya, Jak?"

"Kalo ibu hamil, gimana?"

"Gapapa, Jak. Toh suami saya enggak bisa ngehamilin saya. Hihihi."

"Ohh, jadi selama ini ibu belum punya anak karena suami ibu ... "

"Mandul. Iya." Bu Nisa melanjutkan perkataan Gw.

"Terus kalo nanti ibu hamil padahal suami ibu lagi di penjara, gimana bu?"

"Ya enggak dong Jak. Nanti ibu coba minum pil KB atau nanti ibu pasang alat KB supaya kalo ngentot lagi sama kamu kita enggak usah khawatir."

"Oke dehhh."

*Slurppp slurppp

"Ehh, masih haus apa Jak? Hahahaha." Bu Nisa menertawakan Gw yang masih saja netek padahal baru selesai ngentot dengannya.

LANJUT
 
Terakhir diubah:
Sbo Hoki Online   Senior Bola Online
Jav Toys
Gaple Online Indonesia   9 club
Pasang iklan hanya lewat CONTACT US
Top
Semprot is now part of PAGCOR