9Club Situs Judi Online Terpercaya
Asus Togel online   Mandala Toto
RGO Online
Pasang iklan, hanya lewat Contact Us.
Waspada penipuan iklan. Klik di sini untuk melihat daftar penipu.

MISTERI Senja di Sebuah Desa (TAMAT)

Deriko

Tukang Semprot
Thread Starter
Daftar
29 Oct 2019
Post
1.160
Like diterima
8.606
Lokasi
Bawah Kaki Langit
***
Thread ini hanya berisi cerita Receh dan Ringan penambah bahan bacaan saja. Cerita ini anggap saja Fiktif dan tak terjadi di dunia nyata. Kesamaan nama, lokasi dan kejadian hanya sebuah kebetulan semata. Semoga semua yang membaca bisa menikmatinya.

***


Senja di Sebuah Desa

Post 1


Kabut lembah mulai tersibak oleh cahaya mentari. Suara pagi mengalun membawa suasana tenteram dalam hati. Demikian pula manusia-manusia di desa itu mulai menjalankan kegiatan sehari-hari. Sebuah desa yang nampak tak terlalu tersentuh dengan kemajuan teknologi. Inilah sepenggal kisah yang terjadi dan bisa saja kita anggap sebagai sebuah mimpi.

Para petani memanggul cangkul berangkat ke sawah. Para pedagang membawa gerobak berisi hasil tanaman ke pasar. Ibu-ibu rumah tangga menyapu halaman mereka, ada pula yang sedang memandikan anaknya. Begitu juga anak-anak berseragam berangkat ke sekolah mereka. Semuanya berjalan kaki, tanpa ada suara mesin mengganggu pendengaran kita.

Jalan setapak yang terbuat dari tumpukan batu kali nampak mengular indah sampai di lereng bukit. Pohon jati dan pohon mahoni pun setia menghiasi. Meski sudah lama merdeka, namun pemerintah hanya mengaspal jalan sampai batas desa, itupun hanya aspal siram yang kasar dan kualitasnya dipertanyakan. Namun begitu masyarakat desa itu hidup dengan nyaman dan tenteram.

“Bu, Nima berangkat dulu, daripada kesiangan” ucap seorang gadis kepada ibunya yang sedang memarut kelapa di dapur.

Nima Setyowati, seorang gadis berparas cantik dan berkulit kuning langsat khas perempuan desa. Dia tahun ini baru saja lulus sekolah menengah, meski sekolahnya hanya berkualitas pelosok desa. Sebenarnya Nima ingin sekali pergi merantau ke kota, tapi dia takut dan ragu saat mendengar cerita-cerita tentang kejahatan yang terjadi di kota. Akhirnya dia hanya tinggal di desa itu untuk membantu keluarganya bercocok tanam.

“Iyaa... jangan lupa bawa bungkusannya untuk kakakmu juga” balas seorang wanita berumur 40 tahunan sambil memberikan sebuah bungkusan pada Nima.

Kejadian seperti itu hampir terjadi tiap hari. Kala Nima berangkat ke ladang membantu kakak laki-lakinya pasti ibunya akan memberi makanan untuk dibawa serta. Ibu Nima bernama Tirasih, seorang permpuan yang telah lama ditinggal suaminya. Bukan karena mati atau cerai, tapi suaminya pergi entah kemana. Ada yang pernah cerita kalau bapaknya Nima itu telah kawin lagi dengan perempuan di kota. Meski Tirasih sudah berumur 40 tahun tapi wajahnya masih terlihat muda, karena dia rajin membuat ramuan dari akar tanaman dan bunga untuk bedak wajahnya. Demikian pula tubuhnya, Tirasih kerap membaluri sekujur badannya dengan tumbukan berbagai tanaman yang dikeringkannya.

“Nima, kasih tahu kakakmu suruh bawa rumput” ujar seorang lelaki tua yang muncul dari balik pintu belakang rumah.

“Iya mbah..” jawab Nima pada kakeknya.

Lelaki berumur 65 tahun itu melihat Nima pergi meninggalkan rumah. Pandangannya tak lepas dari gerakan gemulai tubuh Nima yang pagi itu berjalan menjauhinya untuk pergi ke ladang membantu kakaknya.

“Anakmu sudah dewasa Sih, cantik pula, pasti banyak yang ingin melamarnya” ucap Sargo pada anak perempuannya.

“Iya pak.. tapi kemarin ada yang bilang dia dekat sama anaknya pak Minto”

“Welahh.. kalau bisa jangan, berat baginya kalau jadi mantunya lurah, pasti tetangga banyak yang tidak suka Sih..”

“Aku juga sudah bilang begitu pak... tapi ya namanya anak muda, gak pernah mau nurut kata orang tua..” balas Tirasih pada perkataan bapaknya.

Sargo tak meneruskan lagi pembicaraannya dengan Tirasih. Dia lalu berjalan masuk ke dalam rumah dan duduk menghadap meja dengan segelas kopi hitam di atasnya. Tak berapa lama kemudian kepulan asap rokok mulai keluar dari mulutnya.

***

Nima dengan senang hati berjalan mendekati seorang pemuda yang sedang mencangkul tanah. Tubuh pemuda yang bertelanjang dada itu terlihat berotot, namun tidak begitu menonjol. Dadanya yang bidang dan perutnya rata berotot membuat aura laki-laki pada pemuda itu sangat terlihat. Apalagi wajahnya juga tak begitu mengecewakan, bisa dikatakan ‘ganteng ndeso’.

“Mas, yang sebelah utara sudah ditata semua apa belum?” tanya Nima pada kakaknya.

“Belum.. masih dapat separuh kemarin” balas Lingga pada adik perempuannya. Pemuda berumur 21 tahun itu menghentikan pekerjaannya untuk memperhatikan adiknya yang baru datang menyusulnya.

Lingga begitu terpesona dengan adik perempuannya yang sekarang sudah lebih matang dan dewasa. Baginya wajah cantik adiknya tak ada yang dapat menandingi di desa itu. Apalagi dengan bentuk tubuh yang kian hari kian matang membuat mata Lingga semakin terpikat pada setiap jengkal bagian tubuh Nima. Namun apa daya bagi Lingga, gadis yang dikaguminya adalah adik perempuanya sendiri. Takdir baginya hanya bisa mengagumi tanpa pernah bisa memiliki.

“Dek...”

“Apa mas?”

“Emm... ya sudah lanjutkan saja..” balas Lingga ragu pada ucapannya.

Sebenarnya Lingga saat itu mau bertanya pada Nima, apakah pagi itu adiknya tak memakai Bh. Itu karena mata Lingga melihat puting susu Nima membayang di permukaan kaos olah raga SMA yang dipakai Nima. Namun pertanyaan itu tak berani dia ucapkan, takut nanti Nima akan berpikir yang tidak-tidak pada kakaknya.

Sebenarnya di desa itu menjadi pemandangan yang wajar kalau perempuan tak memakai Bh, hanya saja saat itu pikiran Lingga dipenuhi rasa penasaran pada tubuh adiknya. Sudah sejak Nima menjadi dewasa, dia ingin sekali melihat tubuh telanjang Nima yang dulu saat mereka masih kecil sering dilihatnya. Rupanya dalam otak Lingga mulai muncul nafsu pada adiknya.

“Oya mas.. tadi mbah bilang jangan lupa bawa rumput..” ucap Nima sambil menata tanaman sesuai dengan lajurnya.

“Iya.. iya.. sudah aku siapkan..” balas Lingga yang terus mencangkul tanah.

Mereka berdua terus mengerjakan tanah yang penuh dengan tanaman sayuran dan cabai. Sebidang tanah itulah sumber penghasilan keluarga mereka. Sebidang tanah warisan dari mendiang nenek mereka yang meninggal dunia sepuluh tahun lalu. Kakeknya sudah tak bisa lagi menggarap sepenuhnya, hanya bisa membantu saat masa tanam dan panen saja.

Tengah hari yang terik, mereka berdua akhirnya pulang ke rumah. Sudah jadi tradisi di desa itu waktu tengah hari tak boleh ada orang yang bekerja di ladang. Bagi mereka, orang yang bekerja saat matahari ada di atas kepala adalah pamali.

“Dek, kamu duluan bersih-bersih ke belakang, aku mau kasih makan kambing” ujar Lingga pada adik perempuannya.

Nima dengan santai menuju ke sebuah tempat yang hanya tertutupi anyaman bambu. Bisa dikatakan tempat itu adalah tempat persediaan air di rumah itu. Fungsinya bukan untuk mandi, karena rata-rata di desa itu penduduk yang tak mampu membuat sumur pasti mandi dan mencuci pakaian di sebuah sendang yang berada di ujung desa.

Posisi Lingga yang berada di kandang kambing belakang rumah membuatnya bisa melihat apa yang tengah dilakukan adik perempuannya. Dari pinggir matanya dia bisa menangkap gerakan Nima yang melepaskan semua pakaian yang tadi dipakainya untuk berladang. Namun pandangan Lingga harus terhalang anyaman bambu yang menutupi bagian tubuh Nima dari pinggang ke bawah. Apalagi posisi Nima yang membelakanginya membuat Lingga harus kecewa dan malah semakin penasaran pada bentuk tubuh adik perempuannya.

“Suatu saat pasti aku akan melihat tubuhmu dek..” gumam Lingga.

Nima yang kini membelitkan kemben kain batik usang untuk menutupi tubuhnya berjalan masuk ke dalam rumah, tanpa mengetahui kalau sedari tadi gerak-geriknya ada yang mengamati. Sedangkan Lingga harus menelan kekecewaan dan meneruskan kegiatannya memberi makan kambing-kambing peliharaannya.

***

Suara adzan Dzuhur berkumandang dari sebuah surau kecil di pojok desa. Meski tak memakai pengeras suara tapi cukup bisa didengar hampir di semua penjuru desa karena suasananya yang sepi. Hanya tempat itulah yang menjadi tempat beribadah bagi umat beragama di wilayah itu. Rata-rata penduduknya masih menyembah dengan cara peninggalan orang-orang terdahulu. Itulah kenapa Kiyai Jamal bersusah payah datang ke desa itu untuk menyebarkan agama yang dianutnya.

Nima selesai membersihkan tubuhnya setelah datang dari ladang bersama kakaknya. Dia kini terlihat duduk di teras samping rumah hanya dengan membelitkan kain batik pada tubuhnya. Begitu juga ibunya yang duduk di sampingnya. Memang untuk perempuan di desa itu, pakaian mereka sehari-hari sudah umum kalau hanya memakai kemben kain batik saja.

“Nima.. panggil kakakmu, minta dia datang makan” ucap Tirasih pada anak perempuannya.

“Iya bu..”

Nima kemudian berdiri dan berjalan ke belakang rumah. Setelah beberapa saat kemudian dia datang lagi sambil diikuti oleh Lingga di belakangnya.

“Ayo makan...” ucap Tirasih.

“Mbah Sargo tidak ikut makan ya bu?” tanya Lingga pada ibunya karena tak melihat kakeknya ikut makan bersama.

“Ndak.. mbahmu lagi puasa tidak makan nasi..” jawab Tirasih sambil meletakkan makanan di atas lembaran daun jati.

“Sudah mas, ayo kita makan dulu..” ucap Nima mengingatkan kakaknya.

Lingga membalas ucapan adik perempuannya hanya dengan tersenyum. Matanya malah menangkap bulatan buah dada Nima yang menyembul dari ujung kain batik yang menutupi dada adiknya. Kulit Nima tidaklah putih, tapi bersih dan cerah, itulah yang menjadi daya tarik tersendiri darinya.

Tirasih sambil makan ikut memandang kedua buah hatinya itu. Meski dia sudah melupakan suaminya yang meninggalkan mereka kawin lagi, tapi saat dia melihat Lingga dan Nima hatinya jadi sedih. Dia harus bekerja keras menghidupi kedua anaknya. Untunglah sekarang mereka sudah besar dan dewasa. Ada rasa bangga pada diri Tirasih saat melihat Lingga dan Nima. Namun sebenarnya Tirasih mulai tertarik pada wajah anak laki-lakinya.

Wanita 40 tahun itu melihat ke arah anak laki-laki di depannya yang sedang makan. Dalam hatinya mulai ada rasa senang memandangi paras pemuda itu. Meski warna kulit Lingga sawo matang, tapi wajahnya ganteng dan bersih tanpa jerawat. Apalagi kumis tipis yang menghiasi wajahnya semakin membuat pemuda itu enak di pandang oleh lawan jenisnya. Dadanya yang bidang dan perut ratanya juga menambah kesan lelaki yang kuat pada dirinya. Tirasih hanya tersenyum memandang anak pertamanya itu.

“Habis makan nanti kalian di rumah saja, ibu mau bantu mbak Sumi mengupas kacang untuk benih..” ucap Tirasih sambil melipat daun jati di tangannya.

“Iya bu.. Nima capek hari ini” balas Nima yang ikut melipat daun di tangannya karena makanannya sudah habis.

“Aku juga ngantuk kok...” timpal Lingga.

Akhirnya setelah mereka selesai makan, Tirasih menuju pintu belakang rumah dan melewati jalan kecil menuju rumah tetangga. Nima yang merasa capek kini hanya berbaring pada dipan yang terbuat dari bambu di ruang depan. Dia dengan santainya berbaring di tempat itu tanpa mempedulikan tubuhnya yang hanya tertutup belitan kain batik karena dari dulu memang begitu kebiasaannya.

Lingga yang tadi berkata mengantuk malah sekarang dia duduk di depan pintu sambil mencari angin selepas berkeringat karena makan tadi. Matanya selain melihat ke luar rumah juga sering melihat ke arah adik perempuannya yang tengah tiduran berbaring di dekatnya. Dari posisi duduk Lingga, dia bisa dengan jelas melihat mulusnya paha Nima karena ujung kemben yang dipakainya agak tersingkap naik.

“Aduhh.. kenapa aku jadi penasaran begini?” gumam Lingga. Dalam bathinnya bergejolak antara keinginan beradu dengan norma kebaikan.

Akhirnya Lingga bergerak mendekati posisi adik perempuannya tengah berbaring. Matanya menatap tajam pada paha mulus Nima yang tak tertutupi kain batiknya. Apalagi gadis itu punya kebiasaan tak terlalu mengurusi auratnya yang terumbar. Asalkan yang terlihat bukan pangkal pahanya dan kedua payudaranya maka Nima akan cuek saja.

“Sial.. kenapa dia pake celana dalam..” gerutu Lingga dalam hatinya saat pandangan matanya menangkap sebentuk kain warna merah muda yang menutupi pangkal paha adik perempuannya.

Setelah sedikit terobati rasa penasarannya, Lingga kemudian menutup pintu depan rumahnya. Dia kemudian bergegas menuju ke belakng rumah. Di situ ada tempat seperti meja yang lebar, terbuat dari tumpukan papan kayu yang dulu didapat dari tempat bekerjanya. Sambil berangan-angan, Lingga berbaring di atas papan kayu itu sampai akhirnya diapun ketiduran.

Sore harinya, matahari sudah tergelincir ke ujung barat. Nima terhenyak bangun dari tidurnya lalu segera ke belakang untuk menemui kakaknya yang juga masih tertidur.

“Maass... sudah sore ini.. ayo antar adek ke sumber” ucap Nima sambil menggoyang tubuh kakaknya.

“Hoaaahhhh.... lhoh, sudah sore to dek??” Lingga menggeliat dan menyadari Nima sudah di sampingnya.

“Makanya itu, ayo antar adek, nanti keburu malam...”

Akhirnya dengan langkah yang cepat Nima dan Lingga menuju ke sebuah sumber mata air. Tempat itu biasanya memang digunakan oleh penduduk desa yang tinggal di sebelah lereng bukit untuk mandi dan untuk memasak. Tempatnya tidak terlalu jauh dari rumah Nima dan Lingga, mungkin sekitar 800 meter saja. Namun begitu jalannya agak terjal dan becek kalau terguyur hujan.

Beberapa waktu kemudian kedua kakak beradik itupun sudah sampai pada tujuan. Sebuah sumber mata air yang jernih dan bersih. Untuk mandi sudah disiapkan tempat sendiri yang letaknya di bawah aliran sumber mata air, jadi kalau ada orang yang mandi tidak sampai mengotori air yang baru keluar dari sumbernya. Juga untuk laki-laki dan perempuan sudah dibedakan tempatnya dengan dinding pemisah berupa tumpukan batu kali yang tingginya sebatas dada orang dewasa.

Karena sudah terlalu sore, hanya mereka berdua yang mandi di situ. Dengan santainya Nima melepas kemben batik yang dipakainya dan hanya menyisakan celana dalam saja pada tubuhnya. Lalu dengan cepat dia menyiramkan air di sekujur tubuhnya diikuti dengan sapuan sabun batang yang menimbulkan busa. Nima tak menyadari ternyata dari balik dinding pemisah tempat mandi itu ada sepasang mata yang mengamati tubuhnya.

“Ahhh... dekkk.... tubuhmu memang indah..” gumam Lingga mengiringi kocokan tangan pada batang penisnya.

Dari sebuah lobang yang tembus ke tempat mandi perempuan Lingga dengan bebas menikmati pemandangan kedua payudara Nima yang menggantung bebas dan bergoyang-goyang. Keadaan yang sepi mendungkungnya untuk mewujudkan fantasinya menikmati indahnya tubuh Nima, walau dia sadari kalau Nima itu adalah saudara kandungnya. Lingga sudah tak peduli. Dia terus mengocok penisnya sambil matanya memandang penuh nafsu pada tubuh Nima.

“Aaahhh... suatu saat aku harus bisa menikmati tubuhmu dek...” ucap Lingga dan hati.

Lalu tiba-tiba...

Crottt... Crottt... Croottt....

Tumpahlah sperma Lingga pada babatuan yang ada di depannya. Cairan putih kental yang menyembur dari ujung penisnya itu lumayan banyak, sampai membuat Lingga kebingungan untuk membersihkannya.

“Dekkk.. kasih gayungmu dulu, kakak mau gantian mandi..” ucap Lingga setengah berteriak pada adikknya. Sebenarnya dia ingin meminjam gayung dari Nima untuk menyiram sperma yang tak mau hilang dari bebatuan di depannya.

“Nih mas gayungnya...” ujar Nima sambil memberikan gayung dari plastik pada kakaknya.

“I-iya....” balas Lingga tergagap, matanya melihat Nima memberikan gayung pada dirinya tanpa mempedulikan buah dadanya yang ranum itu menggantung tanpa penutup apa-apa.

Sebaliknya Nima juga kaget saat melihat kakak laki-lakinya itu tengah telanjang bulat namun tubuhnya tak basah sedikitpun. Apalagi batang kemaluan Lingga masih tegak mengeras dan berkedut-kedut meski baru saja menyemprotkan spermanya. Nima cepat-cepat kembali pada tempat mandi perempuan. Dia langsung membilas tubuhnya dengan kain kembennya tadi sebagai handuk dan kemudian membelitkan kain batik yang kering sebagai gantinya. Tak lupa dia juga melepaskan celana dalam yang basah saat mandi tadi sehingga praktis di balik kemben yang dipakainya dia sudah tak memakai apa-apa lagi.

“Mas... mas Lingga... aku duluan yah...” ujar Nima saat sudah berjalan beberapa meter dari tempat mandi kakaknya.

“Ehh.. jangan.. sudah gelap ini.. tunggu aku sebentar” balas Lingga sambil terus mengguyur badannya dengan air yang mengalir dari sumber mata air di atasnya.

Akhirnya gadis cantik itupun menuruti ucapan kakaknya. Setelah beberapa saat kemudian Lingga selesai dan merekapun berjalan berdua menyusuri jalan setapak menuju rumah. Namun di tengah perjalanan mereka bertemu dengan Tirasih yang ternyata sedang menuju tempat mandi.

“Lho bu.. Lingga temani yah?” ucap Lingga saat berpapasan dengan Tirasih.

“Ndak usah, antar adekmu saja pulang, ibu sudah biasa sendirian..” balas wanita cantik itu.

Lingga masih menimbang antara mengantar ibunya atau mengantar Nima pulang. Tapi karena ibunya memaksa dirinya untuk mengantar Nima akhirnya Lingga berlalu meninggalkan ibunya yang berjalan menuju sumber mata air tadi.

Langit semakin gelap, cahaya kemerahan di barat sudah mulai pudar dan semakin meredup tanda malam akan segera tiba. Sebenarnya bagi masyarakat desa itu jadi pamali kalau ada yang mandi menjelang malam, kata mereka akan sering sakit dan berumur pendek. Namun Tirasih terus mengguyurkan air pada tubuh telanjangnya. Badannya yang berkeringat sehabis membantu tetangga mengupas kulit kacang untuk benih membuatnya tak nyaman.

Setelah memastikan tubuhnya bersih, Tirasih kemudian kembali melilitkan kain batik usang pada tubuhnya. Tak ada bra atau celana dalam yang dikenakannya, karena memang dia sudah lama tak mempunyainya. Hanya saat dia datang bulan saja Tirasih menutupkan kain di vaginanya. Dengan perlahan namun pasti wanita 40 tahun itu meninggalkan sumber mata air tempatnya mandi tadi. Meski hari sudah mulai gelap tapi matanya masih dapat melihat dengan jelas jalan setapak yang harus dilaluinya. Dia sudah sangat hafal jalan itu, karena memang sedari kecil dia sudah terbiasa melewatinya.

“Sih... mau kemana?” tiba-tiba suara seorang laki-laki menghentikan langkahnya.

“Heh!! Kamu jangan ganggu aku..!!” balas Tirasih sedikit membentak.

“Sih.. kamu ikut aku saja.. temani aku mandi.. hahaha..” ujar lelaki yang berdiri di hadapan Tirasih.

“Sudahalah Bardan.. kamu jangan ganggu aku lagi..” ucap Tirasih sambil merapatkan tangannya di depan dada.

“Kamu itu janda bukan.. istri orang juga bukan, sudahlah.. kamu jadi simpananku saja, lumayan buat garuk lobangmu yang gatel itu, Hahahaha....”

“Cuihh...!! dari dulu aku sudah bilang tak mau sampai kapanpun juga tak mau..” balas Tirasih semakin benci dengan lelaki bernama Bardan itu.

“Tirasih.. dulu saat kamu masih perawan aku melamar kamu tolak.. sekarang setelah anakmu dewasa kamu masih tetap keras hati juga.. kalau kamu masih menolakku apa lebih baik anak perempuanmu saja yang aku ambil.. ahahaha...” ujar Bardan sambil mendekati Tirasih yang masih berdiri mematung di tengah jalan.

“Kurang ajar kamu!! Lebih baik kamu mati saja Bardan...” balas Tirasih dengan wajah yang marah bercampur jengkel.

“Aku akan rela mati nanti setelah menikmati tubuhmu dan anak perempuanmu Sih.. hahaha..”

Tiba-tiba saja tangan Bardan mencengkram ujung kain batik yang dipakai Tirasih lalu menariknya dengan kuat. Langsung saja tubuh wanita cantik itu bugil di hadapan Bardan.

“Hahahahaa... masih tetap bagus tubuhmu Sih.. ndak rugi aku nekat seperti ini”

“Cuihh !!!” Tirasih berhasil meludahi muka Bardan. Dia tetap tenang di depan Bardan meski tiap jengkal tubuhnya bisa terlihat dengan jelas saat itu.

“Ayoo... sini kamu.. puasi aku Sih.. ayoo!!” tangan Bardan langsung menarik Tirasih yang telanjang bulat di tengah jalan. Suasana sore yang sepi membuat perbuatan Bardan tanpa ada halangan.

“Aaaakkhhhh..!!!” tiba-tiba lelaki 50 tahun bernama Bardan itu berteriak kencang. Lalu tubuhnya sempoyongan dan ambruk terjerembab ke atas tanah.

“Bangsattt..!! berani sekali kamu perkosa anakku!!” umpat mbah Sargo yang menarik tubuh Bardan dan mendorongnya kuat.

Kondisi Bardan yang terjerembab ke tanah itu dimanfaatkan oleh Tirasih untuk memakai kain kembennya lagi.

“Sargo.. dulu aku sudah baik-baik melamar anakmu, tapi kamu malah menikahkannya dengan Junaedi, lihat nasibnya sekarang..” ujar Bardan yang mencoba berdiri.

“Itu sudah nasibnya.. asal tidak punya suami seperti kamu.. sudah punya istri tiga tapi ada wanita simpanan di mana-mana” kata mbah Sargo dengan lantang.

“Hahaha.. sombong kamu Sargo.. orang melarat, kere.. tapi masih saja sombong” balas Bardan.

“Biar kere tapi punya kehormatan.. sekarang kamu pergi atau aku hajar lagi?” ancam mbah Sargo.

“Baik.. baik.. aku pergi.. tapi ingat, kamu sudah mempermalukan aku Sargo.. tunggu pembalasan dariku” setelah berkata begitu Bardan langsung melarikan diri dari hadapan mbah Sargo dan Tirasih.

“Nduk.. ndak apa-apa to kamu?”

“Aku baik-baik saja kok pak..” balas Tirasih pada bapaknya.

“Ya sudah, kita pulang saja, sudah mau malam”

Mbah Sargo kemudian menuntun Tirasih berjalan pelan menyusuri jalan setapak menuju rumahnya. Dalam hatinya masih mengingat kata-kata dari Bardan tadi. Ancamannya untuk membalas perbuatan mbah Sargo bukan candaan. Dia adalah seorang juragan hewan ternak yang punya harta dan anak buah banyak. Untuk itulah mbah Sargo mulai memikirkan jalan yang harus ditempuh keluarganya bila keadaan semakin memburuk.

***

Gaes.. ane coba bikin cerita ala-ala Misteri, moga kalian suka. Bersambung....... ^_^


***

INDEX :

Post 2 --> Page 3
Post 3 --> Page 6
 
Terakhir diubah:
Sbo Hoki Online   Senior Bola Online
Jav Toys
Gaple Online Indonesia   9 club
Pasang iklan hanya lewat CONTACT US
Top
Semprot is now part of PAGCOR