Agen Terpercaya  
 
 
Pasang iklan, hanya lewat Contact Us.
Waspada penipuan iklan. Klik di sini untuk melihat daftar penipu.

DRAMA TAMAT ANCAMAN YANG SEMPURNA

Status
Please reply by conversation.
endingnya kya maksa bnget ya, ....... tpi nice work Suhu, terus berkarya, Salam crot dari SR yang cmn bisa mencela ini,
 
epilognya jangan cuma 1 chapter hu.
masih butuh kejelasan tentang soraya, banu ama Cece Alexa. Plus keluarga Sobari.
SEMANGAT!!!!
 
Semangat suhu..
Menunggu rpilog soraya dengan anto nih..tokoh ini yg bisa membuat panas dingin..semoga soraya diceritakan detailnya diperlakukan dengan anto dan menikmatinya..
Ditunggu suhu..
 
ANCAMAN YANG SEMPURNA
EPILOG:
***
Sebuah rumah panggung sangat sederhana di lereng sebuah bukit yang masih termasuk ke dalam wilayah Kabupaten Bandung. Rumah panggung tersebut letaknya sangat terpencil dari sebuah kampung terisolir, persis di tepi hutan belantara dengan suasana khas daerah-daerah pegunungan yang sangat sejuk dan menyegarkan.
Jarak antar kampung yang berada di sekeliling lereng bukit itu bisa mencapai berkilo-kilo meter jauhnya, dan harus menempuh jalan setapak berbatu tak beraspal, kadang berlumpur yang sangat licin dan terjal apabila memasuki musim penghujan. Beberapa kampung tersebut bahkan ada yang masih belum tersentuh listrik, penerangan hanya mengandalkan lampu tempel dengan bahan bakar getah pohon, karena minyak tanah untuk jaman sekarang harganya bahkan lebih mahal dari bahan bakar kendaraan, selain mahal juga sulit didapatkan. Kemajuan jaman juga pemerataan pembangunan, berjalan sangat lambat dan seperti omong kosong untuk wilayah-wilayah seperti itu. Sungguh sebuah ironis yang sangat menyedihkan.
Senja datang lebih cepat di tempat itu, karena kabut tipis dengan suhu dingin telah turun menyelimuti lereng bukit tersebut. Rumah panggung itu dihuni oleh tiga orang manusia dewasa. Yang bukan lain adalah Ridwan, Maya dan juga Alexa. Entah bagaimana ceritanya mereka sampai terdampar di tempat tersebut yang bahkan tak terpetakan di statistik wilayah Kabupaten Bandung.
Tiga orang tersebut memang buronan-buronan yang sengaja menghilangkan jejak dari jangkauan hukum ibukota. Ridwan yang kabur dari tahanan, Alexa yang telah menusuk mati bapaknya sendiri, kecuali mungkin hanya Maya yang agak bersih. Namun dengan menghilangnya perempuan itu dari tempat tinggalnya, tak tertutup kemungkinan apabila ia pun akan dikenai pasal menyembunyikan terdakwa. Yang tentulah akan berujung dengan hukuman tahanan.
Sebelum menghilangkan jejak, ketiganya sempat menyewa dan menginap di sebuah wisma di Lembang-Bandung. Saat itu Ridwan sedang dalam posisi yang sangat sulit, membawa serta dua orang perempuan dengan tanpa tujuan.
Sesungguhnya, Ridwan lebih suka hanya dia berdua Maya pergi sejauh-jauhnya, tanpa harus melibatkan Alexa, namun ternyata gadis itu sangat keras kepala. Berkali-kali dia membujuk agar gadis itu kembali ke Jakarta dan menyuruh Alexa agar mengarang sebuah cerita, menyatakan bahwa dirinya lah yang menusuk papa gadis itu karena hendak mencuri sejumlah uang.
“Tidak, Mas! Aku tidak akan pernah menjerumuskan orang lain untuk menyelamatkan diri sendiri. Kalau pun nanti tertangkap, biasa aku saja yang ditangkap!” jawab Alexa ketika meereka bertiga sedang berada di dalam kamar wisma yang disewanya.
Ridwan menghela napas panjang dengan hati bingung. Menangkap kebingungan pemuda itu, Alexa kembali berkata;
“Kalau ternyata Mas Ridwan merasa terbebani dengan adanya aku, aku akan kembali ke Jakarta, mengakui semua pembunuhan orang tuaku, mengakui pembunuhan bapak Mas Ridwan sekalian. Dengan memberi alibi, saat malam meninggalnya bapak mas, saat itu..., saat itu mas semalaman berdua denganku di kamar apartemen,” ujar Alexa menundukkan wajahnya.
“Mana bisa? ..., mana boleh?” seru Ridwan sambil menggengggam tangan gadis itu dengan suara tercekat.
“A-apa lagi yang bisa aku lakukan, Mas. Aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi, aku juga tidak ingin membebani Mas Ridwan dengan adanya diriku yang selalu mengikuti mas sementara mas sendiri tidak menghendaki diriku,” terdengar isak tertahan dari gadis itu.
Sesak napas Ridwan mendengar kata-kata gadis itu.
“Namun..., tapi...., ahhh,” pemuda itu menghembuskan napasnya.
“Sudahlah, Mas. Aku pamit, semoga Mas Ridwan dan ibu selalu ada dalam keselamatan dan lindungan dari Tuhan,” pelan sekali kata-kata Alexa tersebut, ia segera berdiri dengan wajah masih tertunduk lesu.
“Jangan! Jangan pergi! Tunggu dulu,” Ridwan segera meraih tangan gadis itu dan menuntunnya untuk duduk kembali.
“Apalagi, Mas?” Mata bening yang tersaput air mata itu menatap Ridwan dengan sedih.
Ridwan tak berani menatap lama-lama.
“Aku seorang buronan, Al. Aku orang yang tidak mempunyai apa-apa, hidupku penuh dengan bahaya, mana boleh aku membahayakan kalian dengan segala ketidakpastian yang akan aku hadapi selanjutnya? Mana bisa aku harus menyengsarakan kalian?” ujar Ridwan dengan suara lemah.
“Untuk seseorang yang kusayangi, kenapa aku harus memperdulikan kesengsaraan untuk mendampinginya?” balas Alexa sambil melengos dengan wajah merona merah.
“A-apa?” Ridwan melongo kebingungan.
Gadis itu tak menjawab, ia hanya memberi sebuah lirikan manis.
Maya yang sejak dari tadi terdiam menyimak percakapan muda-mudi itu ikut menghela napas. Dia sudah dapat menduga dari jauh-jauh hari, bahwa gadis itu tentu ada apa-apanya ketika membela Ridwan mati-matian bahkan sampai menawarkan sejumlah uang yang sangat besar untuk membebaskan Ridwan saat ditahan.
Sebagai seorang perempuan, ia mengerti benar, ketika seorang gadis telah menjatuhkan hati dan pilihannya kepada seorang pria, maka hati dan matanya akan dibutakan. Apa pun akan dikorbankan untuk kebahagian pria tersebut.
“Dia mencintaimu, Wan,” kata Maya kepada Ridwan, ia mencoba tersenyum.
“A-apa, tapi..., kita..., aku...,” Ridwan seolah kembali duduk menjadi pesakitan di depan dua orang hakim yang siap mengetok palu hukuman kepadanya.
“Sudahlah, Mas. Aku memang tidak layak untukmu. Aku pamit, jaga diri kalian baik-baik!” kata Alexa dengan hati sangat pedih.
“Jangan! Tunggu dulu. Ada yang ingin kukatakan kepada kamu, Al!” kata Ridwan setelah menetapkan hatinya.
Alexa yang sudah bangkit berdiri, terdiam dan menunggu.
Sebelum berkata-kata, pemuda itu kembali menyuruh gadis itu untuk duduk kembali.
Ketika Ridwan menceritakan semuanya dengan kata-kata perlahan namun sangat jelas. Wajah gadis itu berubah-ubah, merah kemudian pucat, air mata kepedihan mengalir tak tertahan di sepasang mata bening sipitnya, menatap berganti-ganti antara wajah Ridwan yang tak mau menatapnya lalu berpindah menatap wajah Maya.
Singkatnya, Ridwan terpaksa mengarang cerita, bahwa Maya diakuinya sebagai istrinya yang terpaksa disamarkan sebagai ibunya ketika mereka mengontrak rumah di Jakarta. Rudi diceritakannya memang sebagai suami syah dari Maya, namun mereka mempunyai hubungan terlarang ketika Rudi terserang stroke beberapa tahun lamanya. Hubungan yang terus berlanjut sampai saat ini.
“Itulah..., itulah kenyataan yang sesungguhnya, Al. Aku yang sangat tidak layak untuk disayangi gadis baik-baik seperti kamu. Aku adalah pendosa, aku tidak ingin menyeret kamu untuk hidup dalam lingkaran gila penuh dosa ini,” kata Ridwan mengakhiri ceritanya.
“Ahhh...,” hanya itu yang sanggup dikatakan gadis itu mendengar penjelasan dari Ridwan. Sungguh tak pernah terlintas dibenaknya ada kejadian seperti itu. Walau pun diam-diam, kini ia seperti melihat sesuatu yang janggal, kalau seandainya perempuan itu memang ibu Ridwan, namun secara fisik masih terlihat seperti masih muda, bahkan dengan Ridwan lebih cocok menjadi kakak adik daripada ibu dan anak.
Analisa yang keliru sebetulnya, Maya memang melahirkan Ridwan dalam usia yang sangat muda sekali, akibat hamil diperkosa Rudi dulu. Dan memang, perempuan itu lebih cepat dewasa namun lebih lambat tua dibandingkan dengan pria. Seperti itulah yang kini dilihat oleh Alexa.
“A-aku yang salah..., aku..., aku yang buta. Aku mohon maaf, semoga kalian berbahagia!” seru gadis itu yang segera berdiri hendak meninggalkan kamar. Hancur sudah hatinya melihat kenyataan tersebut.
Namun sebelum gadis itu benar-benar keluar kamar, Maya segera beranjak menghadang. Meraih tangan gadis itu yang terasa dingin berkeringat dan menggigil.
“Jangan dulu pergi, Nak Alexa. Ibu mau bicara dulu! Dan kamu, Wan. Tolong keluar kamar dulu!” kata Maya sesaat kemudian sambil menatap tajam Ridwan yang segera mengangguk, walau pun bingung sambil garuk-garuk kepala terpaksa keluar kamar.
Lama sekali rasanya Ridwan menunggu di luar kamar. Dia seperti orang yang sedang menunggu istrinya lahiran, berjalan mondar-mandir tak jelas.
Alexa..., ahhh. Begitu benak Ridwan berkata-kata. Alexa, gadis cantik berpendidikan tinggi jatuh cinta kepada dia? Pemuda buronan, miskin dan tak punya apa-apa? Mimpi apa dia.
Pria mana pun akan cepat jatuh cinta kepada gadis itu. Gadis yang sangat cantik dengan kulit putih licin, dengan tubuh semampai. Sungguh satu ciptaan Tuhan yang sangat sempurna yang harus mendapat pasangan yang sempurna pula, bukan dirinya! Dirinya bukanlah apa-apa. Dia hanyalah seorang pemuda sinting yang mencintai dan menghamili ibunya sendiri.
Entah berapa lama Ridwan menunggu. Hingga kemudian pintu kamar terbuka dan Maya berseru menyuruhnya masuk ke dalam kamar.
Dengan langkah ragu-ragu, pemuda itu masuk ke dalam kamar sambil menutup pintu kamar.
Di tepi pembaringan, duduk dua orang perempuan itu, Alexa dan Maya. Alexa menundukkan wajahnya dengan pipi kemerah-merahan, sementara Maya duduk setenang perempuan yang sudah matang dalam menghadapi masalah.
“Bagaimana! ..., apa?” kata Ridwan tergagap sambil menarik sebuah kursi untuk kemudian duduk menghadapi ke dua orang perempuan itu.
“Kami merdua sudah membuat sebuah kesepakatan, Wan!” kata Maya kemudian.
“Apa itu?” potong Ridwan penasaran.
“Kami..., kami sepakat untuk berbagi cinta. Dan kami tidak akan memberi pilihan apa pun untuk kamu. Kamu hanya boleh memilih kami atau tidak memilih salah satu dari kami. Kalau kamu memilih aku, maka aku dan Alexa akan pergi meninggalkanmu, begitu juga sebaliknya. Singkatnya, kita bersama, atau kami yang meninggalkan kamu!”
Ridwan ternganga.
Sungguh sebuah ancaman yang luarbiasa hebatnya. Ancaman yang selevel dengan buah simalakama.
“Tapi..., tapi aku...,” Ridwan tergagap.
“Jangan jadi lelaki pengecut, Wan. Kami sudah siap dengan segala resiko yang akan kita tanggung bersama! Buatlah keputusan yang tegas. Sehingga kami merasa terlindungi dengan mendampingimu!”
Sebuah tantangan yang akhirnya mampu membangkitkan kelelakian Ridwan.
Dia menatap penuh kasih sayang ke dua perempuan itu, kemudian mengangguk-angguk kecil.
“Baiklah! Aku akan bertanggung jawab sepenuhnya atas keselamatan kalian. Aku berjanji, untuk membahagiakan kalian sekuat tenaga yang aku mampu. Seuruh jiwa dan ragaku kupersembahkan hanya untuk kalian!” ujarnya dengan penuh tekad, menatap bersemangat ke dua perempuan itu yang dalam pandangan matanya mempunyai kelebihan masing-masing. Alexa yang segar, Maya yang matang.
Tanpa diduganya, seselai ucapannya, ke dua perempuan itu menghambur ke pelukannya yang segera disambutnya dengan penuh cinta.
“E..., eh!”
“Bruk!”
Kursi yang diduduki pemuda itu terjungkal, tak mampu menahan dorongan dari tiga orang yang membebaninya.
Tiga tubuh saling tindih di atas lantai kamar, Ridwan mengap-mengap ditindih dua tubuh montok di atasnya. Namun dia malah makin mempererat pelukannya, mebagi ciuman ke pipi masing-masing perempuannya. Alexa agak malu-malu membalas ciuman Ridwan, karena sebagai gadis perawan, walau pun pernah berciuman, namun tidak dengan sepenuh hati seperti sekarang ini.
Setelah bermesra-mesraan sejenak di atas lantai kamar. Ridwan segera meminta mereka bangun karena dia ingin membicarakan nasib mereka di kemudian hari.
“Kita harus mencari sebuah rumah tinggal yang jauh dari keramaian, yang terasing untuk menghilangkan jejak dari aparat kepolisian yang tentu mencari-cari kita!” katanya sambil mentap tajam ke dua perempuan tersebut.
“Aturlah, kami akan mengikutimu ke mana pun kamu pegi!” kata Maya sambil memeluk bahu Alexa yang kini sudah menjadi madunya.
*
“Kamu sungguh mau berbagi, Bu?” tanya Ridwan kepada Maya, di suatu ketika mereka sedang berduaan tanpa ada Alexa.
“Aku sudah sangat ikhlas, Wan. Suatu saat nanti, aku tentu sudah tak sanggup lagi mengurus kamu, di saat itulah Alexa yang akan mengambil bagian menjadi penggantiku. Sayangi ia seperti kamu menyayangi aku. Bahagiakan ia,” jawab Maya merebahkan tubuhnya di pelukan anaknya itu.
“Hatimu sungguh sangat baik, Sayang!” bisik Ridwan dengan penuh kasih sayang. Dibelainya rambut panjang ibunya itu, kemudian dikecupnya bibir empuk dan basah yang segera membalasnya dengan hangat.
“Ahhh,” rintih Maya, ketika jari-jari Ridwan mengelus dan meremas payudaranya dari balik pakaiannya. Matanya terpejam menikmati belaian lembut dari pemuda itu.
Ridwan terus mengecup dan menelusuri leher dan tengkuk ibunya. Kancing demi kancing dibukanya, sampai tersibak seluruhnya. Tubuh montok itu kini tergeletak pasrah di atas pembaringan, menunggu. Ridwan tersenyum sambil membuka celananya, lalu celana dalamnya. Penis besar berurat miliknya telah mengacung kaku.
“Emmhhh, kangeeen...,” rengek Maya manja sambil meraih batang penis besar itu. Tubuhnya segera bangkit, meletakkan kepala penis itu di mulutnya. Lidah merah basah perempuan itu menjilat dan berdecap-decap. Ridwan membiarkan ibunya asik dengan penisnya. Terasa ngilu-ngilu enak, ketika penisnya berada di dalam mulut ibunya yang menghisap dan barisan giginya menggaruk-garuk batang penisnya.
Ridwan pun tak tinggal diam, dia membuka seluruh baju yang dipakai ibunya, jari-jarinya mengelus punggung lau turun, jari-jarinya menyelip di bokong bulat itu. Mengorek dan menggelitik anusnya. Sampai kedua bongkah padat padat itu berkedut-kedut kegelian.
Di dorongnya tubuh ibunya agar kembali berbaling telentang, dengan posisi penisnya masih dihisap-hisap mulut Maya, Ridwan segera memutar badan sampai dalam posisi enam sembilan. Punggungnya sampai melengkung demi agar dia bisa puas mecucup-cucp perut ibunya yang putih itu, lidahnya menari-nari menggelitik pusarnya. Sementara jari-jarinya sudah terlebih dahulu menelusuri dan membelah biibir-bibir vagina ibunya yang membusung dan dirimbuni bulu-bulu halus sedikit keriting.
Vagina yang cepat basah. Ketika lidah pemuda itu sudah mencapai klitorisnya, reflek pantat Maya terangkat dengan rintihan halus.
Ke dua tangan Ridwan melingkar ke dua paha ibunya, di saat lidah dan hidungnya menggesek-gesek vagina gemuk itu dibantu jari-jarinya membuka lebar-lebar bibir-bibir vagina tebalnya, jari-jarinya yang lain tak menganggur, ikut berdemonstrasi mencolok dan menggaruk anus Maya yang hampir saja menggigit penis Ridwan yang masih di dalam mulutnya, saking nikmatnya di oral oleh anaknya itu.
Ridwan merasakan hisapan di penisnya makin kuat, ketika hidungnya mengendus-endus makin dalam ke lubang vagina ibunya yang sedikit terbuka, basah dan mengap-mengap. Lidah dan hidungnya juga sudah sangat basah oleh cairan lendir birahi yang terus dieksplorasi sehebat-hebatnya.
Maya merasakan gelegak gelombang birahi berdebur hingga ke ubun-ubunnya, cumbuan Ridwan yang luar biasa membuatnya hampir mencapai klimak dari orgasmenya.
Dalam satu tusukan dua jari pemuda itu, yang satu di lubang anus, yang satu lagi di lubang basah, disertai hisapan kuat mulut Ridwan di klitorisnya, bokong berkeringat Maya yang sejak tadi bergerak-berak mengimbangi cumbuan anaknya itu menyentak secara tiba-tiba ke atas.
“Akkkhhhhk!” erang Maya. Mulutnya ternganga melepaskan penis Ridwan yang basah oleh air liurnya. Mata perempuan itu terbeliak sampai hampir tinggal putihnya saja.
Maya seakan terbanting kemudian melayang-layang ringan di awang-awang kenikmatan. Seluruh buku-buku jarinya terasa kebas, punggungnya mengejang kaku dengan perut berkontraksi menekan semburan dahsyat yang terlontar dari vaginanya menyemburkan cairan orgasme ke muka Ridwan.
Ridwan mendiamkan sejenak ibunya yang tengah menikmati orgasmenya itu. Dia mengambil kain sembarangan untuk mengelap mukanya yang berlumur lendir orgasme ibunya, lalu mengelap penuh kasih sayang vagina gemuk itu dari cairan yang merembes dan membanjir hingga ke paha.
Setelah itu, dia segera memutar tubuhnya menindih ibunya, mengelus-elus pipinya yang berkeringat.
“Lanjut ya,” bisik pemuda itu sambil menggelitik kuping ibunya.
“Heemmhhh,” sahut Maya menatap sayu.
Ridwan mengecup bibir merah basah itu, sebelum kemudian turun ke sepasang payudara putih montok itu untuk menggigit dan menghisapnya habis-habisan.
Maya kembali merintih-rintih, birahinya kembali bangkit dengan cepat oleh cumbuan Ridwan, klitorisnya masih terasa ngilu-ngilu ketika tergesek-gesek penis Ridwan yang membelah bibir-bibir vaginanya yang sudah mulai merekah kembali.
Entah kenapa, tiba-tiba saja pemuda itu malah teringat bahwa vagina ibunya itu telah dimasuki penis lain, penis Sobari, musuh besarnya. Mendadak dia merasa sangat marah dan sakit hati sekali. Dengan geraman marah, tanpa peringatan dulu, penisnya segera memaksa masuk, menghunjam dalam tanpa belas kasihan. Menggenjotnya dengan kemarahan yang makin meledak-ledak. Tubuh Maya sampai tersentak-sentak hebat.
“Wannn..., owhhhh..., pelan-pelan, Sayaaanghhh. Sakiiit,” rintih Maya yang tidak mengetahui bahwa kekasaran anaknya itu diakibatkan rasa cemburu hebat mengingat vagina ibunya itu pernah disinggahi penis musuh besarnya.
Ridwan hanya menggeram-geram macam singa murka. Sepasang payudara montok ibunya, habis digigiti dan dihisap-hisap kasar.
Walau pun hatinya heran dengan sikap kasar menjurus menyakitinya, namun Maya malah mendapat sensasi istimewa dari kekasaran anaknya itu. Entah kenapa, ia sangat menikmati sikap menyakiti Ridwan yang tanpa pegal terus menyodokan penisnya sedalam-dalamnya, seolah-olah ingin menumpahkan semua rasa marah juga cemburunya ke vagina yang pernah di jamah penis lelaki lain itu.
Dalam satu posisi misionaris seperti itu saja, Maya sudah kembali orgasme hebat, luluh lantak rasanya menikmati rangsangan dan cumbuan liar juga kasar anaknya itu.
“Waaannn..., akhkhhh. Istirihata dulu, Sayang. Capeee...., enghhhh!” rintih Maya kelelahan.
 
Namun Ridwan seolah tidak perduli, tanpa belas kasihan untuk memberi ibunya sekedar menarik napas menikmati orgasmenya yang ke dua, pemuda itu segera membalikkan badan montok yang tidak berdaya tersebut agar menungging. Menyeret bokong padatnya ke tepi pembaringan, lalu dengan posisi berdiri, tanpa berniat mengelap vagina ibunya dari lendir yang membanjir, dia segera menyodok kembali vagina gemuk yang terjepit paha tersebut.
“Ughhhh!” sesak ulu hati Maya mendapat hunjaman dalam penis besar anaknya itu. Dalam ketidak mengertian akan sikap kasar Ridwan, Maya hanya merasa bahwa Ridwan sangat rindu kepadanya karena lumayan lama menahan hasratnya di dalam tahanan.
Dengan kasih sayang seorang ibu, Maya yang merasakan seluruh persendiannya seakan luluh lantak, mencoba mengimbangi apa yang dimaui anak muda itu. Dua bongkah bokong padat itu bergoyang lemah, berusaha menyelaraskan ritme dengan sodokan-sodokan maut anaknya yang terus membombardir liang vaginanya yang sudah sangat becek sekali. Penis Ridwan sudah sangan licin terlumuri cairan birahi vagina ibunya.
“Cplak-cplok...! cplak-cplok!” begitu bunyi yang terdengar setiap pantat Ridwan mendorong penis besarnya membor vagina gemuk yang sudah merah merekah itu. Punggung Ridwan sampai melengkung ke depan, agar dia bisa meraih sepasang payudara montok ibunya dan meremas-remasnya sekuat tenaga. Geraman dan dengusannya benar-benar sudah mirip singa lapar yang sedang mengunyah habis mangsanya. Punggung dan tengkuk ibunya digigit dan dihisap, meninggalkan bercak-bercak merah yang tak mungkin lenyap dalam satu dua hari ke depan.
“Waaannnhhh..., ibu ke-lu-arrrr, lagiiiii...., hhhssshhh!” teriak Maya kembali. Punggungnya mengejang kaku, dinding-dinding vaginanya berkedut-kedut hebat, meremas dan memilin batang penis besar Ridwan. Namun luar biasanya, Ridwan belum merasakan akan segera mencapai puncaknya. Sementara Maya sudah tiga kali melayang di nirwana birahi. Habis sudah tenaganya, tubuhnya ambruk di atas pembaringan yang sudah acak-acakan.
“Sudahhhh...., sudah, Sayang. Ampuuunnnn..., hhhssshhh!” desis Maya, merintih lelah, ketika Ridwan mengangkat tubuhnya dengan posisi penis masih tenggelam di dalam vagina banjir ibunya.
Ridwan tetap tidak perduli. Dia segera memangku ibunya dengan posisi badan perempuan itu membelakanginya, dia sendiri segera bersandar di kepala ranjang, lalu memaksa ibunya untuk menaik-turunkan pantatnya, tanpa memperdulikan ibunya itu yang merintih-rintih minta ampun.
Rasa cemburu dan marah yang membakar hati pemuda itu, ternyata mampu meningkatkan keperkasaannya dan bisa menahan semburan air maninya. Beberapa kali tubuh Maya hampir ambruk kalau tidak cepat dipeluk pemuda itu. Tubuh ibu Ridwan seakan menjadi lemas tak bertulang, hanya bersandar tak berdaya ke tubuh anaknya yang terus menggeram-geram.
Maya benar-benar tak berkutik sudah. Ketika dia diberingkan dalam posisi miring meringkuk, vaginanya tergencet oleh ke dua pahanya yang sudah basah oleh keringat bercampur lendir orgasme yang merembes dan meleleh sampai menetes ke kasur.
Penisnya yang terlepas dari liang vagina yang sudah melonggar, kembali diselipkan ke vagina gemuk yang sedang terjepit itu. Dengan posisi seperti itu, dia merasakan jepitan lumayan dari liang vagina ibunya itu. Penisnya terasa diurut-urut oleh dinding-dinding lunak namun bisa menghisap itu.
Maya memang sudah habis tenaganya, namun vaginanya masih bisa bereaksi otomatis mengimbangi penis anaknya yang kembali memompa kenikmatannya itu. Entah beberapa kali genjotan, ketika Ridwan kemudian mendengus keras sambil menekan dalam-dalam penisnya yang segera menyemburkan sperma yang luar biasa banyaknya di dalam vagina ibunya yang kembali berkedut lemah namun masih bisa meremas dan menghisap batang penisnya, pertanda perempuan itu pun mengalami orgasmenya yang keempat dalam keadaan tubuh tak berdaya seperti itu.
Seusai menyemburkan spermanya yang saking banyaknya sampai meleleh, merembes ke luar dari bibir-bibir vagina yang sudah merah itu, Ridwan ambruk dengan napas terengah-engah di atas tubuh Maya yang banjir keringat.
Sementara itu, di luar pintu, sesosok tubuh tinggi semampai ikut ambruk dengan tubuh gemetaran dan muka panas, tangannya yang terselip di balik celana dalamnya sudah banjir oleh lendir kepuasan akibat mengintip persetubuhan panas dua orang di dalam kamar tersebut.
Sosok tubuh tinggi semampai itu bukan lain adalah Alexa. Ia memang pernah sesekali menonton film porno dan hanya sekilas-sekilas saja di internet, namun menyaksikan persetubuhan langsung di depan matanya sendiri, baru kali ini ia melihatnya, bahkan sampai selesai. Gairah dan birahinya terlampiaskan sendiri dibantu oleh jari-jarinya yang mengocok-ocok vaginanya. Membayangkan nanti akan tiba gilirannya untuk merasakan hal seperti yang sudah disaksikannya barusan. Berdebarlah hatinya, namun tidak ada rasa cemburu dihatinya melihat Ridwan bersetubuh dengan Maya, ia sudah ikhlas, bahwa tentu ia akan berbagi cinta pemuda itu dengan Maya yang diakui Ridwan sebagai istri pertamanya tersebut. Bagaimana pun, ia sangat berbahagia, rasa cintanya yang teramat besar kepada Ridwan, mampu mengalahkan rasa cemburunya.
*
Begitulah akhirnya. Ridwan bertemu dengan seseorang yang menunjukkan sebuah rumah yang sangat jauh yang bisa dibelinya sekalian dengan beberapa petak kebun palawija di sekeliling rumah tersebut.
Di rumah panggung itu lah mereka kini tinggal. Walau pun kurang terbiasa dengan keadaan serba sederhana. Namun dengan tekad dan kemauan yang keras, mereka akhirnya bisa betah tinggal di wilayah tersebut, apalagi wilayah tersebut sangat menyenangkan untuk ditempati. Dikarenakan mereka berada di situ sebagai pelarian, tentulah mereka juga harus membatasi pergaulan dengan penduduk, khawatir sampai bocor ke mata-mata polisi tentang keberadaan mereka berada di situ.
Malam telah datang. Kabut tebal telah menyelimuti lereng bukit tersebut. Lampu tempel di dalam rumah berkerlap-kerlip menerangi tiga sosok tubuh yang sedang duduk beralaskan tikar, mereka baru saja habis bersantap malam dengan lauk pauk sederhana. Malam itu adalah malam pertama mereka menghuni rumah panggung di tepi hutan tersebut.
“Ssshhh..., pengantin baru sudah sana masuk kamar,” goda Maya sambil menepis tangan Alexa yang hendak memberesi bekas makan dan minum.
“Apaan sih, Mbak,” sahut Alexa dengan wajah memerah, matanya melirik Ridwan yang tersenyum simpul, balas menatap sayang kepadanya.
“Ih, kan udah diajarin caranya. Udah sana, Wan. Gendong istrimu ke dalam kamar, biar mbak yang membereskan makanan mah,” kata Maya tertawa renyah melihat gaya kemalu-maluan perawan yang menjadi madunya itu.
“Idihhh, apaan sih, ..., awww, Masss. Maluuu,” jerit Alexa manja, ketika ia hendak berdiri, tapi ditarik hingga jatuh dipelukan Ridwan yang segera menggendongnya. Diiringi tawa menggoda dari Maya, Alexa cepat menyusupkan wajahnya di dada bidang Ridwan yang menggendongnya masuk ke dalam kamar.
“Masss...,” Alexa menengadah dengan mata sayu, ketika Ridwan membaringkan tubuhnya di atas ranjang yang berupa bale kayu dengan kasur busa murahan yang dibeli mereka dengan mengupah kepada orang kampung.
“Ssshhh..., pengantin perempuan dilarang menjerit-jerit,” goda Ridwan sambil ikut berbaring di samping tubuh gadis itu yang mendadak menggigil dan merinding, ketika perlahan-lahan dibelai lembut kekasihnya itu.
“Nakal ih,” desis Alexa sambil memejamkan matanya, menikmati sentuhan-sentuhan lembut dari pemuda itu. Mendadak matanya membuka lebar ketika merasakan sentuhan basah di bibir tipisnya. Ternyata, bibir Ridwan sudah menempel rapat. Lidahnya pemuda itu mengelus dan menggelitik bibir Alexa yang merah alami, dengan hati deg-degan, Alexa menyambut ciuman Ridwan dengan segenap rasa yang dipunyainya kepada pemuda itu.
“Ahhh...,” rintih gadis itu ketika jari-jari nakal Ridwan menyelinap ke balik pakaiannya. Mengelus, menggaruk lembut.
Alexa merinding hebat. Apalagi ketika jari-jari tersebut sudah mencapai putingnya yang segera mengeras begitu tersentuh dan dipilin-pilin.
Alexa saat itu memang mengenakan daster yang bertali, sehingga Ridwan dengan mudah saja, bisa menyibakkan sehelai kain itu.
Mata Ridwan seolah menjadi silau oleh tubuh yang putih licin milik Alexa yang segera merapatkan ke dua pahanya saking malunya dilihat oleh Ridwan. Dalam cahaya temaram lampu tempel, sepasang payudara Alexa membusung bulat sempurna, dengan puting kecil kemerah-merahan, menantang untuk dihisal dan dipilin. Pemuda itu merasakan napasnya sesak ketika menelusuri tubuh selicin sutra itu dari perut yang rata, pinggang seramping capung dan membulat di bagian pinggul yang padat, lalu sampailah ke bukit rapat yang terjepit paha jenjang, bukit yang memiliki sedikit bulu-bulu halus. Ridwan memperlakukan Alexa seolah-olah tubuh gadis itu terbuat dari porselen yang mudah pecah.
“Masss...,” rengek Alexa manja, menarik kepala Ridwan untuk kemudian mereka berpagutan lembut. Tangan Ridwan makin nakal menelusuri seluruh tubuh putih mulus gadis itu. Mengelus, membelai tubuh mulus yang menggelinjang kegelian. Birahinya gadis itu menanjak dengan cepat, tubuhnya yang harum khas perawan mulai berkeringat. Lidah Ridwan turun ke dagu, leher, menjilat dan menghisap.
“Masssnghhh..., nakalll..., hhhhh,” Rintih Alexa memejamkan matanya, menikmati cumbuan lembut Ridwan yang ke dua bukit montok nan kencang miliknya tengah diremas-remas oleh tangan kasar pemuda itu. Tapi dari telapak tangan kasar itulah, setiap usapan yang menggesek kulit halusnya, membuat Alexa merasakan sensasi merinding yang membuatnya seakan melayang-layang di kelembutan awan di angkasa.
Sampailah lidahnya di sepasang bukit bulat tersebut. Ridwan memainkan lidahnya di puting kecil kemerah-merahan itu sementara tangannya ikut meremas-remas lembut, jari-jarinya yang lain menggaruk dan menggelitik di aerola bukit yang satunya lagi. Perlakuan yang membuat Alexa sampai menggigit bibirnya keras-keras, menahan erangan lepas dari bibirnya. Ke dua tangannya hanya bisa meremas-remas rambut Ridwan seiring cumbuan pemuda itu disekujur tubuhnya yang terus menggeletar hebat.
Tangan Ridwan yang lain pun tak menganggur, sibuk mengelus dan meremas-remas pinggul bulat nan padat gadis itu. Yang bergoyang-goyang gelisah menahan kenikmatan yang baru pertama kali dirasakannya.
Ridwan terus melakukan cumbuan lembutnya, menelusuri seluruh tubuh putih halus itu dengan menjaga ritmenya. Hingga sampailah dia di bukit rapat yang masih sedikit tertahan oleh sepasang paha jenjang yang menjepit bukit tersebut.
Jari-jari Ridwan menggelitik dan menggesek belahan bokong mengkal gadis itu yang segera menggelinjang kegelian sekaligus merenggangkan ke dua pahanya. Di kesempatan itulah, Ridwan segera menyerbu.
“Akhhkkk,” jerit Alexa tanpa sadar, ketika merasakan sapuan panas lidah pemuda itu yang membelah bibir-bibir vagina rapatnya. Ke dua pahanya reflek menjepit kepala Ridwan yang tak memperdulikan jambakan-jambakan Alexa ketika jari-jarinya membantu membuka lebar-lebar bibir-bibir vagina yang berwarna merah muda itu.
Klitorisnya tampak menonjol kecil sebesar biji kedelai, sewarna dengan liang vaginanya yang masih tertutup rapat. Cairan bening mulai merembes keluar, yang segera dihisap dan direguk Ridwan tanpa rasa jijik, cairan perawan sedikit kesat dan sedikit asin.
“Enggghhh..., massshhh,” erang Alexa ketika klitorisnya dijilat-jilat dan diggigit-gigit lembut. Bokongnya naik-turun dengan cepat seiring gesekan dan jilatan lidah pemuda itu.
Telunjuk Ridwan mencoba mencolok liang vagina yang masih sangat rapat itu, sambil dia berpikir, bagaimana penisnya yang sangat besar itu bisa masuk ke dalam liang yang begini kecil? Sementara jari telunjuknya saja agak susah menembusnya, katanya dalam hati dengan sangat khawatir. Kalau dipaksa tentulah akan sangat menyakiti gadis itu.
Colokan kecil jari Ridwan itu ternyata berdampak besar kepada Alexa. Tubuhnya melambung sambil merintih keras, jambakan keras pada rambut Ridwan terasa pedas, sampai pemuda itu menyeringai kesakitan.
“Ss-sakit, Mas? Maaf, sayang,” kata Alexa ketika menyadari refleknya itu.
Ridwan hanya menggeleng sambil tersenyum sebelum dia kembali tenggelam mengeksplorasi vagina rapat gadis itu.
Alexa terus merintih-rintih, tubuhnya tidak bisa diam, menggelinjang sambil sesekali bokongnya melambung-lambung seiring hunjaman lidah dan permainan jari-jari Ridwan di daerah paling sensitifnya.
Dan dalam lambungan yang kesekian kalinya, mendadak gadis itu berseru;
“Masss..., akkhhuuu mahuuu pipiiiissshhh,” lengkingnya, lalu:
“Serrr!”
Kuyup muka Ridwan cairan bening sedikit kental yang menyemprot secara tiba-tiba dari liang vagina gadis itu.
Walau pun agak lemas, Alexa segera bangun dengan wajah merah dan perasaan bersalah karena merasa telah mengencingi wajah kekasihnya itu.
“Mm-maaf, Mas. Habisnya...,” katanya dengan malu sambil mengambil dasternya, lalu dipakainya mengelap muka Ridwan dengan penuh rasa sayang.
“Habisnya apa?” Ridwan tersenyum menggoda.
“Habisnya nakal sih,” Alexa mencubit manja.
“Kirain habisnya..., enaaak,” kekeh Ridwan sambil merunduk dari cubitan-cubitan Alexa.
Saat itu Ridwan memang masih berpakaian lengkap, setelah selesai bercanda, dia dengan santai membuka seluruh pakaiannya.
“Idih, tak tau malu,” seru Alexa dengan wajah merah.
“Ih, kalo nggak gini di mana enaknya,” sahut Ridwan cengengesan.
“Apanya yang enak?” cibir Alexa melirik ke sebatang benda besar berurat yang menggantung di selangkangan pemuda itu yang sengaja berdiri di atas lututnya tepat di hadapan gadis itu.
“Loh, ini kan yang enak. Coba pegang deh,” kata Ridwan mengedipkan matanya.
“Ihhh, ga mauuu!” seru Alexa meraih bantal, sambil menutup wajahnya.
Namun mendadak keadaan sepi, dengan rasa heran, ia menurunkan bantal;
“Aihhh,” gadis itu langsung terpekik ketika benda besar berurat itu mengacung tepat di depan wajahnya.
“Ha-ha-ha...,” Ridwan terbahak-bahak senang, “Ayolaaah, pegang, Sayang. Elus-elus, kocok-kocok,” katanya sambil mempermainkan alisnya.
“Ikh, apaan sih,” sahut Alexa dengan hati sangat berdebar-debar, namun tangannya segera ditarik paksa Ridwan untuk menyentuh penisnya.
Dengan badan menggigil panas dingin, Alexa dengan takut-takut menyentuh batang besar kaku itu yang terasa berdenyut-denyut hangat, dicobanya untuk menggenggam, namun tangan mungilnya hampir tidak bisa menggenggam batang hidup yang berdenyut-denyut itu.
“Kocok, Sayang,” bisik Ridwan sedikit terengah, menyibakkan rambut panjang gadis itu sambil menggelitik belakang kupingnya, kemudian turun meraih sepasang payudara bulat kencangnya, meremas-remas sambil memilin-milin putingnya.
Dengan birahi yang mulai naik lagi, Alexa menurut, dengan kedua tangannya ia mengocok dan mengurut-urut batang besar itu dengan hati-hati.
“Jilat ya sayang ya...,” pinta Ridwan lagi sambil mendorong penisnya sampai menyentuh bibir tipis gadis itu.
“Dasarrr...,” kata Alexa mencubit gemas perut Ridwan, namun ia segera menjulurkan lidahnya yang merah dan hangat, menjilat-jilat lembut helm penis besar tersebut. Ridwan memejamkan mata sambil melenguh keenakan.
“Emut ya,” Ridwan minta tambah.
“Nggak muat, Sayaaang,” desis Alexa mencoba memasukan tersebut, namun sia-sia, bibirnya terlalu mungil untuk dimasuki penis sebesar itu.
“Ha-ha-ha, ya udah,” kata Ridwan sambil menunduk, mencium lembut bibir empuk nan basah gadis itu. Dia segera membaringkan kembali tubuh putih mulus itu, kembali melakukan rangsangan dan cumbuan ke sekujur tubuh sehalus sutra tersebut.
Ketika tiba saatnya melakukan penetrasi, Ridwan menatap mata sayu penuh kepasrahan dari gadis itu.
“Agaknya nggak bakalan muat, Sayang,” ujarnya khawatir. Penisnya hanya digesek-gesekkan dalam cengkraman bibir-bibir vagina rapat Alexa yang sudah basah dan licin.
“Engghhh, kata-kata Mbak Maya..., pertama kalinya memang akan sakit sekali, namun..., terusnya jadi enak,” sahut Alexa dengan wajah merah sekali, entah menahan rangsangan birahi atau karena malu.
“Nggak apa-apa kan sakit dulu?” tanya Ridwan meyakinkan kembali.
“Heemhhh,” angguk Alexa sambil mencoba memposisikan tubuhnya senyaman mungkin.
“Tahan dulu ya sayang,” desis Ridwan dengan suara berat, dia merendahkan tubuhnya mencium bibir gadis itu yang segera menyambutnya, mereka berpagutan sejenak.
Alexa memejamkan matanya ketika Ridwan melebarkan ke dua pahanya, sambil sesekali iseng menciumi dan menggigit paha jenjang gadis itu. Dibantu jari-jarinya, dia merekahkan selebar mungkin bibir-bibir vagina yang sudah sangat basah tersebut.
Ridwan mencoba memasukkan jari telunjuknya untuk pembukaan penetrasi,
“Akh!” Alexa menjerit pendek, napasnya terengah-engah, keringat mulai mengucur.
Dengan sangat hati-hati, Ridwan meletakkan kepala penisnya di lubang vagina yang sangat kecil itu, yang secara logika tak mungkin bisa ditembus penis sebesar kepunyaannya.
Kepala penis yang sudah licin oleh lendir perawan vagina Alexa, perlahan-lahan ditekan. Sangat sulit sekali. Berkali-kali dicoba malah meleset oleh licinnya lendir keperawanan vagina gadis itu.
Namun setelah berkali-kali ditekan, dengan keringat yang bercucuran, akhirnya bisa juga kepala penisnya menembus liang yang kecil tersebut.
“Prrrrttt!”
Begitu bunyinya ketika kepala penis Ridwan berhasil masuk.
“Hhhhssshhh,” lenguh Alexa sambil menggigit bibirnya. Liang vaginanya terasa seakan-akan diterobos benda keras yang sangat besar.
“Shhhakkiiittt!” lenguhnya Alexa, tubuhnya bagian atas sedikit tersentak ke atas. Ada dua tetes air mata turun membasahi ke dua pipinya yang pucat pasi.
Ditengah napasnya yang memburu, Ridwan sangat kasihan sekali. Dia pun menghentikan tekananannya.
“Jangan dulu ya sayang, aku nggak tega, sakit banget kayanya,” bisik Ridwan sambil membelai lembut pipi gadis itu.
Alexa membuka matanya yang sejak tadi terpejam erat. Mencoba tersenyum;
“Ngak apa-apa sayang, ayo lanjut...,” katanya dengan napas terengah-engah.
Ridwan mengangguk, dia segera berkonsentrasi penuh, kepala penisnya yang baru masuk, sedikit dimaju mundurkan, agar liang vagina gadis itu bisa menerima tekanan selanjutnya.
Lalu;
“Prrrt!”
“akhkhkk!”
“Prrrrtttt!”
Alexa hampir pingsan ketika penis besar kekasihnya itu telah sepenuhnya berada di dalam. Dada dan selangkangannya terasa sangat sesak, gadis itu terlihat mengap-mengap seperti kehabisan napas.
Ridwan segera menggenggam telapak tangan gadis itu, jari-jari mereka saling bertaut dan saling remas.
“Maafkan aku, Sayang,” bisik Ridwan dengan perasaan bersalah. Memberi semangat dan kekuatan kepada gadis itu.
“Nggak apa-apa,” Alexa memberi senyuman, pemuda itu segera menunduk, memberi kecupan sayang kepada gadis itu.
“Tahan ya sayang ya,” bisik Ridwan kembali.
Alexa mengangguk sambil memejamkan matanya, Ridwan merasakan batang penisnya seperti diremas kuat-kuat oleh vagina gadis itu, perlahan penuh kehati-hatian, dia mulai memaju mundurkan penisnya. Terasa kesat dan peret.
Diiringi rengekan Alexa, akhirnya dibantu lendir yang terus merembes dan melicinkan dinding-dinding vagina gadis itu, akhirnya bisa lancar Juga. Perlahan namun pasti, Alexa pun merasakan rasa perih dan sakit yang tadi berganti kenikmatan yang teramat sangat dengan tusukan-tusukan penis besar Ridwan.
Keringat bercucuran dari ke duanya, Ridwan mencumbu gadis itu dengan sedikit liar, yang membuat Alexa semakin terangsang hebat.
Rintihan dan erangan serta dengusan mulai ramai mengisi keheningan malam di rumah panggung tersebut.
Vagina seret dan peret seorang perawan memang mempunyai sensasi tersendiri.
Begitu juga dengan yang dirasakan oleh Ridwan yang biasanya sangat perkasa, kini dia mulai merasakan kedutan-kedutan di kantung penisnya, pertanda sebentar lagi dia akan menyemburkan spermanya.
Begitu juga Alexa, kepalanya terasa bergejolak oleh desakan birahi yang luar biasa, bokongnya terasa berkedut-kedut kebas.
“Ooohkkkhhh, aku keluar, sayaaanghhsss,” geram Ridwan sambil menekan dalam-dalam.
“Enggghhhhhkhhh!” punggung Alexa melengkung kaku, perutnya berkontraksi ketika dua kelamin itu saling menyemburkan cairan kenikmatan masing-masing.
“Ahhhsssh!”
Ke duanya ambruk bersamaan dengan tubuh banjir keringat.
Ada senyum dalam air mata yang menetes dari gadis itu sambil memeluk erat tubuh Ridwan yang teengah-engah menindih tubuhnya.
Ke duanya saling berpagutan panas. Lalu;
“Plop! Akh!”
Penis Ridwan pun terlepas, Alexa yang merasakan selangkangannnya seakan-akan masih terganjal oleh batang besar itu. Vaginanya terasa perih dan ngilu.
Selanjutnya, kehidupan sederhana mereka bertiga seakan penuh warna. Ridwan merasa sangat beruntung sekali didampingi dua perempuan yang sangat dicintai dan mencintainya itu. Dia mulai belajar bercocok tanam dengan berkebun palawija dari para tetangganya yang sangat baik dan ramah.
Dan ada kegilaan lain dari ke tiga orang tersebut.
Mereka mulai bermain cinta bertiga, walau pun awalnya saling menolak dan malu-malu, Ridwan lah yang berinisiatif untuk mencoba hal yang baru yang dirasakannya bisa melampiaskan birahinya yang selalu menggebu-gebu. Yang tentu takan sanggup kalau hanya dilayani oleh salah seorang dari istri-istrinya itu.
Dua balai yang mengisi dua kamar di rumah panggung tersebut kini disatukan, dengan menjebol kamar yang satu lagi agar ruangan kamar mereka lebih luas untuk ditiduri bertiga.***

PENUTUP

***
Dua sosok tubuh pejantan saling berhadapan dengan sepasang mata berapi-api.
Yang satu singa yang satu macan.
Mereka bukan lain adalah Ridwan dan Anto. Dua musuh besar yang dipertemukan oleh nasib di tepi hutan tersebut.
Sore itu Ridwan baru saja menjual hasil pertaniannya ketika tengah berjalan sambil bersiul-siul, dia lewat di sebuah rumah permanen yang bagus sekali dibandingkan rumah-rumah penduduk kebanyakan di kampung tersebut. Ridwan memang sempat mendengar kabar, bahwa ada penduduk baru yang membangun rumah mewah yang mempunyai tembok tinggi disekeliling rumah di kampung tersebut dari tetangganya.
Dia sempat terheran-heran melihat ada orang yang mau-maunya membangun rumah di tempat terpencil seperti itu, namun ketika sesosok tubuh melintas dari arah berlawanan Ridwan mendadak menghentikan langkahnya dengan mata tercengang, begitu juga dengan sosok itu.
“Mbak Aya?!”
“Ridwan?!”
Mereka saling terbelalak.
Sosok itu bukan lain adalah Soraya! Bekas tetangga Ridwan di Jakarta dulu. Ada perubahan besar-besaran dari perempuan itu, setahu Ridwan, perempuan itu bertubuh montok dengan wajah cantik serta lesung pipit yang selalu menghiasi wajahnya apabila tersenyum.
Namun yang dilihat Ridwan sekarang adalah sesosok tubuh kurus dengan wajah pucat dan sorot mata kosong. Sorot mata yang kini terlihat berbinar-binar begitu mereka saling bersua tatapan.
“Apa-apaan ini?” terdengar bentakan dari dalam rumah tersebut. Sesosok tubuh bertelanjang dada dengan tato tak karuan, berdiri di beranda rumah dengan tangan bertolak pinggang.
“Wan, tolooong,” terdengar suara menghiba dari perempuan itu sambil menatap penuh permohonan.
Ridwan segera melangkah mantap masuk ke dalam tembok pagar rumah tersebut. Dia mengenal sosok lelaki yang berdiri itu.
“Kau bajingan!” desisnya dengan sangat marah.
“Elu anjing kudisan kenapa bisa berada disini, Anjing!” maki sosok itu yang bukan lain adalah Anto!
“Kita lihat! Siapa yang nanti akan merangkak menjadi anjing!” geram Ridwan tanpa takut.
Dua pejantan saling mengepalkan ke dua tangannya siap saling hantam.
Mengambil kesempatan Anto sedang berkonsentrasi kepada Ridwan, Soraya segera berlari masuk, sebentar saja ia sudah keluar lagi dengan menggendong seorang anak kecil yang sama kurusnya.
“Ridwan jangan dilawan, dia itu iblis! Aku sudah dapat anakku, ayo kita pergi!” seru Soraya di tepi pagar.
“Sekali kau keluar pagar, akan kuncincang habis kalian berdua!” teriak Anto penuh kebencian.
“Tidak semudah itu, Bajingan!” kata Ridwan sambil meludah.
“Anjing kudisan!” bentak Anto sambil menerjang mendahului.
Ridwan yang sudah siap, segera balas menerjang.
“Buk! Buk!”
Mereka berdua saling jual beli pukulan.
Segera ketahuan siapa yang unggul dan siapa yang kalah.
Ridwan masih berdiri gagah wapau pun dengan darah menetes di sudut bibirnya yang terhantam kepalan Anto. Namun Anto mengalami yang lebih naas, kepalan keras Ridwan berhasil menghantam telak telinganya. Tubuhnya sempoyongan dengan kuping berdenging dan mata berkunang-kunang.
Ridwan yang sudah menjadi petani tulen, tentulah mempunyai tubuh yang jauh lebih kuat dibandingkan dengan Anto yang masih sering mabuk juga hati was-was, khawatir dengan polisi juga kecemasan berlebih Soraya akan kabur. Secara stamina saja, mereka berdua sudah beda jauh.
“Keparat!” seru Anto penuh kebencian, dia berlari masuk, saat keluar lagi pemuda itu telah kembali dengan sebilah samurai.
“Ridwaaan, lariii!,” jerit Soraya ketakutan.
Namun tak ada kesempatan Ridwan untuk mengikuti seruan Soraya. Dia segera melempar tubuhnya ke samping ketika sebuah sabetan sepenuh tenaga mengarah lehernya. Tubuh pemuda itu berguling-guling menghindari sabetan-sabetan penuh nafsu dari Anto. Di saat sedang berguling-guling tersebut, tangannya meraih sebuah batu sebesar kepalan, dengan sepenuh tenaga dilemparkannya ke Anto yang terus mengejarnya.
Anto berusaha menghindar, namun lontaran batu itu terlalu cepat datang menghantam jidatnya.
“Duk!”
Anto menggerung kesakitan, tubuhnya terhuyung. Dalam kesempatan itulah Ridwan menerjang nekad, mencoba merebut samurai dari genggaman Anto. Mereka berkutat sejenak, yang satu berusaha merebut yang satu berusaha mempertahankan. Namun Ridwan tidak kurang akal, disaat dia mencoba menarik, Anto tentu bertahan sekuat tenaga, meminjam pertahanan tersebut Ridwan mendorong ke belakang.
“Ahhh!” Anto berseru kaget, tubuhnya terjengkang oleh gaya tarikannya sendiri. Ridwan segera membalikan genggamannya di gagang samurai dengan ujung tajamnya berbalik menghunjam dada Anto yang terjatuh dengan keadaan badan terlentang.
“Jangaaan!” Soraya berteriak panik sambil memburu. Namun terlambat;
“Bressshhh!” ujung tajam samurai telah melesak masuk ke dada bertato Anto.
Terdengar teriakan ngeri dari pria itu disertai mata yang membeliak besar. Darah segar menyembur dari luka tusukan tersebut.
Terdengar suara mengorok dari tenggorokan Anto, matanya menatap Ridwan dengan sorot mata gelap, sorot penuh kebencian dan dendam yang dalam sekali. Sampai Ridwan pun bergidik ngeri sambil bersurut mundur. Sorot mata gelap itu berangsur-angsur lenyap, berganti dengan kekosongan abadi ketika nyawanya lepas dari raganya.
Soraya jatuh berlutut dengan air mata bercucuran, sementara Wildan, anaknya mulai menangis ketakutan.
“Mbak, Mbak Aya, sudahlah. Dan kenapa Mbak bisa berada di sini dengan bajingan itu?” tanya Ridwan selepas reda rasa kagetnya, menyentuh bahu perempuan itu.
Soraya bangkit lalu menjatuhkan dirinya di pelukan Ridwan, yang sedikit mundur agar bayi yang digendong Soraya tidak tergencet.
“harusnya jangan mati..., dia jangan mati!” kata Soraya disela-sela isak tangisnya.
“Lho? Dia bajingan mbak, bukannya Mas Donny...,”
“Betul! Betul! Dia layak mampus. Mas Donny dia yang bunuh, menculikku, tapi..., tapi aku...,” isak Soraya makin keras.
“Kenapa, Mbak?”
“Aku..., aku mengandung anaknya...!”
Selesai berkata seperti itu, tiba-tiba tubuh Soraya menggelosoh akan jatuh kalau tidak cepat-cepat Ridwan meraih pinggangnya.
Ridwan menghela napas dalam dengan kepala menggeleng-geleng keheranan.
Beberapa saat kemudian, Ridwan berhasil membuat siuman perempuan itu, setelah membujuknya, akhirnya perempuan itu mau juga ikut dengan dirinya untuk pulang ke rumah panggungnya di tepi hutan sana.
Sementara mayat Anto, di saat Soraya pingsan, diseret Ridwan, kemudian diceburkan ke sumur di belakang rumah.
Dengan tubuh lemah akibat menahan tekanan batin selama berbulan-bulan, Ridwan yang memangku Wildan, membawa mereka melalu jalan setapak menghindari jalan kampung untuk menghindari pertanyaan-pertanyaan dari warga kampung yang ingin tahu.
Dalam perjalanan tersebut, Soraya meminta kembali untuk menggendong sendiri anaknya sambil menceritakan segalanya sesuatunya dari mulai dia diculik Anto sampai harus mengikuti pemuda itu berpindah-pindah tempat di bawah ancaman Anto. Hingga sampailah mereka di kampung tersebut yang tanpa sengaja bertemu dengan Ridwan yang baru pulang menjual hasil pertaniannya.
“Kamu sendiri kenapa ada di sini, Wan?” tanya Soraya menatap wajah pemuda yang disukainya itu.
“Panjang ceritanya, Mbak. Nanti akan aku ceritakan di rumah!” sahut Ridwan sambil tersenyum.
“Kamu punya rumah di sini? Sejak kapan? Lalu Bu Maya?” berondong Soraya ingin tahu.
“Nanti saja!” sahut Ridwan pendek. Tiba-tiba dia khawatir bahwa Soraya nanti akan menceritakan bahwa Maya itu sebenarnya ibu kandung Ridwan kepada Alexa.
Sesampainya mereka di pagar rumah Ridwan, hati pemuda itu mendadak menjadi tidak enak. Dia merasakan firasat aneh yang membuat jantungnya berdebar-debar tak karuan.
“Jangan bergerak! Angkat tangan!” terdengar bentakan keras dari belakang mereka. Diikuti beberapa sosok berpakaian preman muncul dari tiap sudut.
Ridwan menjadi panik, kepanikan itu membuatnya berpikir pendek. Dengan tenaga dadakan, dia mencabut tiang pagar lalu membantingnya ke arah suara bentakan berasal.
“Bugh!”
“Ahhhh!”
“Dor! Dor! Dor!”
“Jangaaaannnn...!”
Ridwan merasakan kakinya, dadanya juga otaknya bergolak panas seperti mendidih. Sebelum matanya mendelik, samar-samar dia melihat tiga raut wajah pucat yang menghambur ke arah tubuhnya yang jatuh bebas ke atas tanah, sebelum semuanya menjadi gelap. Menjadi kegelapan abadi yang panjang tak bertepi.***



PROMOSI SERIAL TERBARU BERJUDUL : ‘BADAI NAFSU”
-----
Karena cinta itu seperti angin musim yang lembut;
Dan hati yang patah itu seperti ranting di musim gugur.
Maka di manakah akan ku temukan kembali hati yang telah membeku?
____

Rangga terbangun dari tidurnya ketika merasakan kasurnya bergoyang-goyang. Dalam keremangan kamar orang tuanya, ia mendengar mamanya merintih-rintih aneh. Ada sesosok tubuh sedang bergerak-gerak menindih tubuh mamanya itu sambil menggeram-geram. Papanya jelas bukan, dia tidur di situ karena papanya sedang bertugas luar selama beberapa hari. Dan ini adalah malam pertama papanya tidak di situ.
“Paaak..., ahhh,” mamanya terdengar merintih-rintih lagi.
“Ohhh, sayaaang. ssshhhrrrhhh...!” terdengar geraman panjang dari sosok yang sedang menindih ibunya itu.
Rangga menarik napas lega. Yang sedang menindih ibunya itu ternyata kakeknya sendiri. Papa dari mamanya itu. Ngapain mereka bermain kayak anak kecil aja, kirain mama lagi ditakut-takutin hantu, gumam Rangga dalam hatinya sambil memejamkan matanya kembali.
***
 
Jiah mati wkwkwk,pandai kali TS mainin emosi pembacanya,tp biar adil emang bagusnya ridwan dimatiin biar semua gak dapat hahaha, selamat atas tamatnya suhu,ditunggu cerita berikutnya
 
Status
Please reply by conversation.
Gaple Online Indonesia
Pasang iklan hanya lewat CONTACT US
Back
Top
We are now part of LS Media Ltd